Anda di halaman 1dari 73

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Sumber daya energi merupakan kebutuhan yang sangat penting dalam memajukan
suatu negara. Sumber daya energi menjadi kekayaan alam yang bernilai strategis
dan sangat penting dalam mendukung keberlanjutan kegiatan pembangunan
daerah khususnya di sektor ekonomi. Mengingat peran strategis sumber daya
energi,pengelolaan energi yang meliputi penyediaan, pemanfaatan dan
pengusahaannya harus dilakukan secara optimal agar dapat memberikan nilai
tambah yang sebesar-besarnya bagi kesejahteraan rakyat.Batubara merupakan
salah satu sumber energi yang penting bagi manusia. Saat ini kebutuhan energi
batubara semakin meningkat pesat. PT. Bukit Asam (Persero) Tbk merupakan
perusahaan energi penghasil batubara terbesar di Indonesia yang sahamnya 65%
dimiliki oleh pemerintah Indonesia.
Meningkatnya permintaan batubara di skala lokal dan internasional
menuntut pelaku usaha untuk semakin meningkatkan kapasitas produksi. Dalam
menjalankan kegiatan pertambangan batubara, PT. Bukit Asam (Persero), Tbk
menerapkan sistem open pit mining atau tambang terbuka. Motode penambangan
terbuka dilakukan dengan pembukaanlahan (land clearing) dan penggalian tanah
penutup (Over burden). Kegiatan penambangan dengan metode open pit mining
dapat berpotensi terbentuknyaair asam tambang. Hal ini disebabkan karena
material sulfida (pyrite) yang berhubungan langsung dengan oksigen dan air
sehingga terjadi oksidasi yang menghasilkan air asam. Untuk menghindari
kerusakan lingkungan akibat air asam tambang dapat dilakaukan pengelolaan.
Selama empat tahun berturut- turutPT. Bukit Asam (Persero), Tbk telah berhasil
mendapat Proper Emas dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Program ini adalah capaian kinerja unggul perusahan dalam upaya pengelolaan
lingkungan.Salah satu faktor keberhasilan dalam mendapatkan proper emas
adalah dengan upaya PT. Bukit Asam (Persero), Tbk untuk melakukan
pengelolaan dan pemanfaatan air asam tambang. Metode yang diterapkan PT.

1
Bukit Asam (Persero), Tbkuntuk memenuhi standar Baku Mutu Lingkungan air
buangan adalah dengan metode active treatment dan passive treatment.
Banyaknya masyarakat yang masih memanfaatkan air sungai untuk memenuhi
kebutuhan di berbagai aktivitas seperti mandi, cuci, kakus. Sehingga sangat
penting melakukan evaluasi terhadap keberhasilan PT. Bukit Asam (Persero), Tbk
dalam melakukan pengelolaan air asam tambang. Adapun penulis memilih air
asam tambang sebagai bahan bahasan agar dapat menambah pengetahuan dan ikut
terlibat secara langsung dalam menangani air asam tambang hingga memenuhi
baku mutu sebelum dibuang ke sungai.

1.2 Maksud
Melakukan analisis terhadap keberhasilan PTBA dalam upaya pengelolaan air
asam tambang sesuai dengan Baku Mutu Lingkungan mengacu kepada Per Gub
SumSel No 8 Tahun 2012.
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari kegiatan kerja praktek ini adalah sebagai berikut :
1. Memenuhi persyaratan kurikulum Program Studi Teknik Kimia
Universitas Muhammadiyah Palembang.
2. Mengembangkan pemahaman Mahasiswa Teknik Kimia mengenai proses
dan operasi serta aspek-aspek keteknikan dalam skala industri, khususnya dalam
bidan industri pertambangan.
3. Menjalin hubungan dengan baik antara Program Studi Teknik Kimia
Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Palembang dengan PT. Bukit Asam
(Persero) Tbk.
4. Mengetahui sumber dari terbentuknya Air Asam Tambang dari kegiatan
tambang batubara
5. Mengetahui cara pengelolaan air asam tambang secara active dan passive
treatment yang dilakukan di PT. Bukit Asam (Persero) Tbk.
6. Mengetahui kualitas air asam tambang yang bersumber dari galian dan
limpasan stockpile setelah dilakukan pengelolaan secara aktif dan pasif .

2
1.4 Batasan Masalah
PT. Bukit Asam (Persero), Tbk memiliki beberapa lokasi sumber air asam
tambang, meliputi minesump, timbunan, TLS dan Stockpile. Batasan masalah
dalam analisis ini terkait dengan metode pengendalian, kualitas air buangan
setelah proses pengolahan dilakukan yang air tambangnnya bersumber dari
minesump dan stockpile.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Sejarah Perusahaan


PT. Bukit Asam (Persero) Tbk mengawali kegiatan eksplorasi pada tahun 1918
dan mulai memproduksi pada tahun 1919. Sejarah pertambangan batubara di
Tanjung Enim dimulai sejak zaman kolonial Belanda tahun 1919 dengan
menggunakan metode penambangan terbuka (open pit mining) di wilayah operasi
pertama, yaitu di Tambang Air Laya (TAL). Selanjutnya mulai 1923 beroperasi
dengan metode penambangan bawah tanah (underground mining) hingga
tahunn1940, sedangkan untuk produksi kepentingan komersial dimulai pada tahun
1938. Seiring dengan berakhirnya kekuasaan kolonial Belanda di tanah air, para
karyawan Indonesia kemudian berjuang menuntut perubahan status tambang
menjadi pertambangan nasional.
Pada 1950, pemerintah Republik Indonesia kemudian mengesahkan pembentukan
Perusahaan Negara Tambang Arang Bukit Asam (PN TABA). Pada 1981, PN
TABA kemudian berubah status menjadi Perseroan Terbatas dengan nama PT.
Tambang Batubara Bukit Asam (Persero),Tbk yang selanjutnya disebut perseroan.
Dalam rangka meningkatkan pengembangan industri batubara di Indonesia, pada
1990 Pemerintah menetapkan penggabungan Tambang Batubara dengan
Perseroan sesuai dengan program pengembangan ketahanan energi nasional, pada
1993 Pemerintah menugaskan Perseroan untuk mengembangkan usaha briket
batubara. Pada tanggal 23 Desember 2002, Perseroan mencatatkan diri sebagai
perusahaan publik di Bursa Efek Indonesia dengan dengan kode “PTBA”.
PT. Bukit Asam (Persero), Tbk adalah Badan Usaha Milik Negara yang didirikan
pada tanggal 02 Maret 1981 berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 42 Tahun
1980. Berikut lembaga-lembaga yang mengurus Tambang Batubara Bukit Asam
antara lain:
1. Tahun 1919-1942 oleh Pemerintah Hindia Belanda.
2. Tahun 1942-1945 oleh Pemerintah Militer Jepang.
3. Tahun 1945-1947 oleh Pemerintah Republik Indonesia.
4. Tahun 1947-1949 oleh Pemerintah Belanda (Agresi II).

4
5. 1949-sekarang oleh Pemerintah Republik Indonesia.
6. Tahun 1959-1960 oleh Biro Urusan Perusahaan Tambang Negara
(BUPTAN).
7. Tahun 1961-1967 oleh Badan Pimpinan Umum (BPU) Perusahaan
Tambang Negara.
8. Tahun 1968-1980 oleh PN. Tambang Batubara.
9. Tahun 1980-sekarang oleh PT. Bukit Asam (Persero) Tbk.
Sebagai sebuah perseroan dengan status Badan Usaha Milik Negara (BUMN), PT.
Bukit Asam (Persero), Tbk turut melaksanakan dan menunjang kebijakan serta
program pemerintah dibidang ekonomi nasional. PT. Bukit Asam (Persero), Tbk
komitmen tinggi untuk melakukan kegiatan penambangan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan serta prinsip-prinsip pertambangan yang
baik (good mining practices) dalam mencapai tujuan pebangunan
berkelanjutan,yang terdiri dari tiga dimensi yang saling terkait yaitu ekonomi,
lingkungan dan sosial. Untuk menunjukan komitmen tersebut PT. Bukit Asam
(Persero), Tbk melakukan kegiatan usaha sebagai berikut :
1. Mengusahakan pertambangan, meliputi : penyelidikan umum, eksplorasi,
eksploitasi, pengolahan, pemurnian, p engangkutan dan
perdagangan bahan-bahan galian terutama batubara.
2. Mengusahakan pengelolaan lebih lanjut atas hasil produksi bahan-bahan
galian terutama batubara.
3. Memperdagangkan hasil produksi didalam dan diluar negeri, sehubungan
dengan usaha perseroan, baik hasil sendiri maupun hasil produksi pihak lain.
4. Mengusahakan atau mengoprasikan pelabuhan dermaga khusus batubara,
baik untuk kebutuhan sendiri atau kebutuhan pihak lain.
5. Mengusahakan atau mengoprasikan Pembangkit Listrik Tenaga Uap
(PLTU), baik untuk keutuhan sendiri maupun kebutuhan pihak lain.

5
2.2. Data Umum Perusahaan
Nama :PT. Bukit Asam (Persero)Tbk
Alamat :Jalan Parigi No. 1, Talang Jawa, Tanjung Enim, Kecamatan
Lawang Kidul, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan, Kode Pos
31716
Telp : 0734-451096
Website : http://www.ptba.co.id

2.3. Visi, Misi dan Nilai Perusahaan


1) Visi PT. Bukit Asam (Perseroan)Tbk adalah :
Menjadi perusahaan energi kelas dunia yang peduli lingkungan.
2) Misi
Mengelola sumber energi dengan mengembangkan kopetensi koorporasi dan
keunggulan isani untuk memberikan nilai tambah maksimal bagi stakeholder dan
lingkungan.
3) Nilai
a. Visioner
Mampu melihat jauh kedepan dan membuat proyeksi jangka panjang dalam
pembangunan bisnis.
b. Integritas
Mengedepankan perilaku terpercaya, terbuka, positif, jujur, berkomitmen dan
bertanggung jawab.
c. Inovatif
Melaksanakan semua tugas sesuai dengan kompetisi, dengan kreaktivitas penuh
keberanian komitmen penuh, dalam kerjasama untuk keahlian yang terus menerus
meningkat.
d. Professional
Melaksanakan semua tugas sesuai dengan kompetisi, dan kreaktivitas, penuh
keberanian komitmen penuh, dalam kerjasama untuk keahlian yang terus menerus
meningkat.

e. Sadar biaya dan lingkungan

6
Memiliki kesadaran tinggin dalam setiap pengelolaan aktifitas dengan
menjalankan usaha atau asas manfaat yang maksimal dan kepedulian lingkungan.

2.4. Struktur Organisasi Perusahaan


1) Struktur Organisasi Umum
Struktur organisasi perusahaan dibuat untuk meningkatkan kinerja dari setiap
divisi penyongkong dalam suatu perusahaan diharapkan mampu mendukung
pencapain target di setiap tahunnya. Penyusunan sturuktur organisasi dibuat
berdasarkan spesifikasi dan fungsi kinerja yang ada sehingga dapat di
pertanggung jawabkan. Untuk tugas operasionalnya, pengoprasian PT. Bukit
Asam (Persero) Tbk dipimpin oleh Dewan Direksi. Berdasarkan Rapat Umum
Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) tanggal 27 Desember 2006, anggota
direksi berubah dari lima orang menjadi enam orang, dan dalam organisasi baru
ini terdapat dua direktorat yang tugasnya menjadi lebih fokus, yaitu Direktorat
Niaga dan Direktorat Pengembangan Usaha. Direktur Niaga fokus pada upaya
peningkatan pendapatan dan efisiensi biaya melalui proses pengadaan barang dan
jasa berdasarkan prinsip Good Coorporate Governance (GCG). Berikut struktur
organisasi PT. Bukit Asam (Persero) Tbk.

7
Direktur
Utama

Direktur Direktur Direktur Direktur Direktur SDM


Keuangan Op. Produksi Peng. Usaha Niaga Umum

SM Akuntansi & Keuangan PH. SM. Per. Korporat

SM Perbendaharaan & Pendanaan SM Pengembagan Korporat

SM SDM
SM Teknologi Informasi
SM Hukum & Perizjinan
SM Program Kesehatan
SM Pemasaran

Sekertaris Perusahaan SM Sarana & Prasarana

Satuan Pengawas Intern


SM Pengelolaan Aset Tanah &
SM Manajemen Perusahaan Bangunan

SM Analisis, Evaluasi &


SM Pemasaran
Optimasi

SM Logistik

GM. Unit GM Unit GM. Unit GM. Unit


Pertambangan Tanjung Pelabuhan Tarahan Dermaga Pertambangan
Enim Kertapati Ombilin

SM
Penambangan

Man. BWE Man Man Ma


Sistem Wasnamtor Swakelola

Asman Poha
Banko

Asman
Tal 1

Asman
Tal 2

Asman
MTB

Gambar 2.1 Struktur Organisasi PT Bukit Asam (Persero) Tbk


( Sumber : Satuan Kerja Pengelolaan Lingkungan PTBA)

8
2) Stuktur Organisasi Pengelolaan Lingkungan

SM. PLPT

Wisjnoe Adjie

AM. Evaluasi &


Administrasi
Pelaporan
Tuska Yanuar R

Manajer Manajer
Pengelolaan Penunjang
Lingkungan Tambang
Arief Hadi Suryadi

Manajer
Penunjang Tambang
Suryadi

AM. AM. Pemboran AM. Sipil AM. Sipil


Penambangan Peledakan Tambang Blok Tambang Blok
Batu Gunung Timur Barat

Ketut Junaedi Andryusalfikri Prayoga Aditia Zainudin

Manajer
Pengelolaan Lingkungan
Arief Hadi
AM. AM.
Pengendalian Pengendalian
AM. Perawatan AM. Penanganan AM. Rehabilitasi
Lingkungan Lingkungan AM. Revegetasi
Vegetasi Air Tambang DAS
Tambang Blok Tambang Blok
Barat Timur

Febriantoro Margono Dedy Saptaria Sugiarto K Sarip Jasmi B Subir Amarudin

Gambar 2.2 Struktur Organisasi Pengelolaan Lingkungan UP Tanjung Enim


( Sumber : Satuan Kerja Pengelolaan Lingkungan PTBA)

Satuan kerja pengelolaan lingkungan merupakan satuan kerja yang bertugas


dalam mengawasi dan menangani permasalahan lingkungan yang terjadi akibat
dari proses penambangan sampai pada pasca penambangan.

9
2.5. Satuan Kerja di PT. Bukit Asam (Persero) Tbk
Secara umum satuan kerja yang terdapat di PT. Bukit Asam (Persero)Tbk cukup
banyak dan setiap satuan kerja mempunyai tugasnya masing-masing, diantaranya
sebagai berikut :
1. Satuan Kerja Swakelola
Satuan kerja ini mempunyai peranan penting dalam melakukan produksi batubara
ataupun tanah penutup (overburden) serta interburden. Satuan ini mempunyai
kerja sama dengan perusahaan kontraktor PT. BKPL (Bangun Karya Pratama
Lestari) untuk menyewa alat berat milik PT. BKPL tersebut. Satuan kerja ini
melakukan pekerjaannya mulai dari menambang (eksploitasi) sampai dengan
temporary stock atau langsung ke stockpile untuk memproduksi batubara maupun
tanah penutupdan juga melakukan pengawasan terhadap pihak PT. BKPL serta
turun langsung ke lapangan untuk memberikan arahan serta informasi terkait
dengan produksi yang dilakukan.
2. Satuan Kerja Pengawasan Penambangan Kontraktor
Satuan Kerja Unit Pengawasan Penambangan Kontraktor (Wasnamtor)
merupakan satuan kerja yang memiliki satuan kerja khusus untuk
mempertahankan stabilitas kerja penambangan yang dilakukan kontraktor yang
berfungsi untuk mengawasi dan mengarahkan sistem kerja yang dilakukan
kontraktor untuk proses penambangan. Satuan kerja ini bekerja sama dengan PT.
Sumber Mitra Jaya (SMJ) dan PT. Pama Persada Nusantara yang menjadi
kontraktor dalam proses penambangan di wilayah penambangan Bangko Barat Pit
3 Timur dan TAL.
3. Satuan Kerja BWE System
Pekerjaan yang dilakukan melalui metode penambangan continous mining dengan
BWE (Bukcet Operasi Excavator).
4. Satuan Kerja Rencana Operasi (Renop)
Satuan kerja ini bertugas untuk merencanakan operasi jangka panjang dan pendek.
Untuk rencana jangka panjang yaitu berupa rencana tahunan dan untuk rencana
jangka pendek yaitu berupa triwulan. Dalam proses perencanaan operasi jangka
panjang biasanya diserahkan ke satuan kerja POHA (Perancanaan Operasi Harian)
untuk dibuat rencana harian pada satuan kerja yang akan dierikan.

10
5. Satuan Kerja POHA (Perencana Operasi Harian)
Merupakan satuan kerja yang bertugas untuk membuat rancangan harian terhadap
rencana tahunan yang telah ditetapkan oleh satan kerja Renop.
6. Satuan Kerja PAB (Penanganan Angkutan Batubara)
Satuan kerja ini ditugaskan dalam memonitoring peralatan dan proses handling
batubara baik pada jalur kereta api maupun dengan menggunakan dumptruck
untuk diangkut menuju pelabuhan ataupun stockpile batubara.
7. Satuan Kerja Keloling (Pengelolaan Lingkungan)
Satuan kerja ini ditugaskan dalam mengawasi dan menangani permasalahan
terhadap lingkungan yang dapat terjadi dari hasil proses aktivitas penambangan
selama dan atau sesudah pasca tambang.
8. Satuan Kerja K3
Merupakan satuan kerja yang bertugas untuk memberikan rasa aman terhadap
pekerja dari kondisi lingkungan kerja yang tidak aman serta bertanggung jawab
untuk keselamatan dan ksehatan pekerja.

2.6. Ruang Lingkup dan Proses Produksi Perusahaan


PT. Bukit Asam (Persero) Tbkdi Unit Pertambangan Tanjung Enim (UPTE)
beberapa site di Wilayah Izin Usaha Pertamangan (WIUP) yaitu sebagai berikut :
1. Tambang Muara Tiga Besar
Tambang Muara Tiga Besar (MTB) menggunakan sistem penambangan dengan
shovel and truck. Semuanya dikerjakan oleh pihak ketiga yaitu PT. Pama Persada
Nusantara. Di MTB ada dua wilayah penambangan, yaitu Muara Tiga Besar Utara
(MTBU) dan Muara Tiga Besar Selatan (MTBS). Cara kerja sistem penambangan
MTB dimulai dengan land clearing (pembersihan semak-semak dan pepohonan),
pengupasan topsoil (tanah pucuk), pengupasan overburden (tanah penutup)
dengan shovel, lalu diangkut dengan dump truck. Tanah diangkut menuju lokasi
penimbunan sedangkan batubara ditumpuk di stockpile.
2. Tambang Air Laya (TAL)
Pada lokasi Tambang Air Laya terdapat dua metode penambangan utama yaitu
metode shovel dan truck (menggunakan exavator dan dump truck) serta
memanfaatkan Buket Wheel Exavator (BWE) system untuk mengangkut batubara

11
dari temporary menuju ke stockpile. Pada metode BWE System ini sepenuhnya
dilaksankan oleh PT. Bukit Asam, sedangkan pada metode shovel dan truck
dilaksanakan oleh pihak ketiga (kontraktor). Semua hasil penggalian batubara
dengan metode shovel and truck akan ditampung di temporary stockpile dan TLS
1 dan TLS 2. Melalui TLS ini kemudian batubara dimuat digerbong untuk dikirim
ke pelabuhan Tarahan (Lampung) dan dermaga Kertapati (Palembang)
menggunakan kereta api yang memiliki 40-60 gerbong sekali jalan, dengan
kapasitas 30-50 ton untuk satu gerbong kemudian dipasarkan baik untuk
keperluan domestik maupun keperluan ekspor.
3. Bangko Barat
Tambang Bangko Barat memiliki luas WIUP 4500 Ha. Tambang Bangko Barat
yang terdiri dari Pit 1 dan Pit 3, dimana pada masing-masing Pit telah dibagi lagi
Pit 1 Barat dan Pit 1 Timur, sedangkan pada Pit 3 dibagi menjadi Pit 3 Timur dan
Pit 3 Barat dipegang oleh kontraktor yaitu PT. SMJ (Sumber Mitra Jaya) dan Pit 3
Timur oleh PT. BKPL (Bangunan Karya Pratama Lestari). Pada Pit 3 Timur,
pengelolaan dipegang oleh PT. SMJ, di Pit 1 Barat oleh Swakelola PT. Bukit
Asam (Persero) Tbk.
Untuk mendukung produktivitas dan efisiensi kerja PT. Bukit Asam (Persero) Tbk
mengoperasikan tiga pelabuhan khusus batubara, yaitu :
1) Pelabuhan Tarahan (Lampung)
2) Pelabuhan Kertapati (Sumatera Selatan)
3) Pelabuhan Teluk Bayur (Sumatera Barat)

Gambar 2.3 Peta Pelabuhan Khusus Batubara


(Sumber : Dokumen Perusahaan)

12
2.7. Lokasi dan Kesampaian Daerah
PT. Bukit Asam (Persero) Tbk, berlokasi di daerah Tanjung Enim, Kecamatan
Lawang Kidul, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan. Jarak temput
lewat jalan raya ± 200 kilometer dari kota Palembang atau ± 190 kilometerdengan
kereta api kearah Barat Daya. Untuk bisa sampai ke lokasi penelitian jika dimulai
dari kota Palembang ditempuh dengan transportasi darat menuju ke kota Tanjung
Enim, membutuhkan waktu tempuh selama 4-5 jam.
Wilayah Izin Usaha Penambangan (WIUP) PT. Bukit Asam (Persero) Tbk terletak
di daerah Tanjung Enim, Kecamatan Lawang Kidul, Kabupaten Muara Enim,
Provinsi Sumatera Selatan pada posisi 30 42’ 30” LS – 40 47’ 30” LS dan 103045’
00’ BT – 1030 50’ 10” BT atau garis bujur 9.583.200 – 9.593.200 dan lintang
360.600 – 367.000 dalam sistem koordinat internasional. Untuk selengkapnya
dapat dilihat peta regional PT. Bukit Asam (Persero) Tbk UPTE.

Gambar 2.4 Peta Regional PT Bukit Asam (Persero) Tbk


(Sumber : Satker Eksplorasi PT Bukit Asam)

13
Gambar 2.5Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP)PT. Bukit Asam
(Sumber :Satuan Kerja Eksplorasi Rinci PT. Bukit Asam (Persero) Tbk)

2.8. Keadaan Topografi


Secara umum daerah tambang PT. Bukit Asam (Persero) Tbk mempunyai
topografi yang bervariasi mulai dari daratan rendah, hingga perbukitan. Dataran
rendah menempati sisa bagian Selatan, yaitu daerahyang terdapat aliran sungai-
sungai kecil yang bermuara di Sungai Lawai dan Sungai Lematang dengan
ketinggian ± 50 meter di atas permukaan laut. Daerah perbukitan terdapat bagian
Barat dengan elevasi tertinggi ± 282 meter di atas permukaan laut.

2.9. Keadaan Geologi


Struktur geologi yang berkembang adalah antiklin yang membentuk kubah, secara
normal, sesar-sesar minor dengan radial, dan sesar yang tidak menerus sampai
dengan bagian bawah dari lapisan bantuan yang ada. Hal ini terjadi sebagai akibat
dari intrusi andasit di daerah cadangan dan juga dipengaruhi adanya gaya tektonik
pada zaman pliosen dengan arah utama utara – selatan. Secara regional wilayah
penambangan PT. Bukit Asam (Persero) Tbk termasuk dam Sub Cekungan
Palembang yang merupakan bagian dari cekungan Sumatera Selatan dan
terbentuk pada jaman Tersier. Sub cekungan Sumatera Selatan yang diendapkan
selama jaman Kenozoikum terdapat urutan litologi yang terdiri atas dua kelompok
besar, yaitu kelompok Telesia dan kelompok Palembang.

14
Kelompok Telesia terdiri dari formasi lahat, formasi talang akar, formasi baturaja
dan formasi gumai. Kelompok Palembang terdiri dari Formasi Air Bekanat,
Formasi Muara Enim dan Formasi Kasai.
1) Formasi Lahat
Formasi Lahat diendapkan tidak selaras di atas batuan pra tersier pada lingkungan
lahat. Formasi ini berumur Oligosen bawah, tersusun oleh tuffa breksi, lempung
tuffan, breksi dan konglomerat. Pada tempat yang lebih dalam fasiesnya berubah
menjadi serpih tuffan, batu lanau dan batu pasir dengan sisipan batubara.
Ketebalan formasi ini antara 0-300 meter.
2) Formasi Talang Akar
Formasi Talang Akar diendapkan tidak selaras di atas formasi Lahat. Formasi ini
berumur Oligosen atas dan Oligosen bawah, tersusun oleh batu pasir, batu
sampingan, batu lempung dan batu lempung sisipan batubara. Formasi Talang
Akar diendapkan dilingkungan fluviatil, delta dan laut dangkal dengan ketebalan
berkisar 0 – 400 meter.
3) Formasi Baturaja
Formasi Baturaja diendapkan selaras di atas formasi Talang Akar. Formasi ini
berumur Miosen bawah yang tersusun oleh napal, batu gamping terumbu.
Ketebalan formasi ini berkisar antara 0 – 400 meter.
4) Formasi Gumai
Formasi Gumai diendapkan selaras di ats Formasi Baturaja yang berumur miosen
bawah sampai miosen tengah. Formasi ini tersusun oleh serpih dan sisipan napal
dengan batu gamping di bagian bawah. Lingkungan pengendapan formasi ini
adalah laut dalam dengan ketebalan 300 – 2200 meter.
5) Formasi Air Bekanat
Formasi Air Bekanat diendapkan selaras di atas Formasi Gumai yang berumur
Miosen tengah tersusun oleh batu lempung pasiran dan batu pasir Glaukonitan.
Formasi Air Berkanat diendapakan pada lingkungan laut neritic dan berangsur
menjadi laut dangkal, dengan ketebalan antara 100 – 800 meter.

6) Formasi Muara Enim

15
Formasi Muara Enim diendapkan selaras di atas Formasi Air Bekanat. Formasi ini
berumur Miosen atas yang tersusun oleh batu pasir lempungan dan batubara.
Formasi ini merupakan pengendapan lingkungan laut neritic sampai rawa, dengan
ketebalan berkisar anatar 150 – 750 meter.
7) Formasi Kasai
Formasi Kasai diendapkan selaras di atas Formasi Muara Enim. Formasi ini
tersusun oleh batubara tuffan yang dicirikan berwarna putih, batu lempung dan
sisipan batubara tipis seperti yang tersingkap di daerah suban. Lingkungan
pengendapan formasi ini adalah darat sampai transisi.

Gambar 2.6 Foto Satelit Area Penambangan PT Bukit Asam.


(Sumber : Satker Geologi PT Bukit Asam)

2.10. Keadaan Statigrafi


Pola struktur stratigrafi Tambang Air Laya (TAL) dipengaruhi faktor utama akibat
proses intrusi batuan beku endesit. Litologi yang utama dijumpai di daerah
Tambang Air Laya termasuk dalam Formasi Muara Enim. Litologi yang ada di
daerah Tambang Air Laya adalah sebagi berikut :
1) Lapisan Tanah Penutup (Overburden)
Berupa material yang terdiri dai top soil, batu pasir halus, batu lanau, bentonit,
dan tanah timbunan bekas tambang lama, sedangkan ketebalan lapisan tanah
penutup ini berkisar antara 85 – 120 m.
2) Lapisan Batubara Mangus A1

16
Umumnya dicirikan dengan adanya pengotoran berupa tiga pita tanah liat,
ketebalan lapisan berkisar antara 6,5 – 10 m.
3) Lapisan Antara (interbuden) A1 dan A2
Terdiri dari batu lempung dan batu pasir tuffan dengan ketebalan berkisar antara
0,5 – 2 meter.
4) Lapisan Batubara Mangus A2
Lapisan ini dicirikan oleh adanya silika di bagian atas dan ketebalnnya berkisar
9,0 – 12,9 m.
5) Lapisan antara (interbuden) A2 dan B1
Lapisan ini mengandung satu lapisan tipis batu lempung lanauan yang ketebalan
lapisan berkisar 15 – 23 meter.
6) Lapisan Batubara B1
Terdiri dari batu lempung dengan ketebalan lapisan berkisar 2 -5 meter.
7) Lapisan Batubara B2
Lapisan ini mengandung satu lapisan tipis batu lempung dan mempunyai
ketebalan berkisar antara 4 – 5 meter.
8) Lapisan antara (interburden) B2 dan C
Lapisan ini terdiri dari batu pasir, batu lanau lempungan dan ketebalannya
berkisar 25 - 40 meter.
9) Lapisan Batubara C
Lapisan ini merupakan lapisan tunggal dan umumnya memiliki lapisan pengotor
dengan ketebalan berkisar 7 – 10 meter. Penampang stratigrafi daerah Tambang
Air Laya.

17
.........
Interval di atas A.1, batupasir ......... Lapisan batubara Gantung (Hanging )
..........
dijumpai adanya nodul clay ......... dengan tebal 0,3 - 3,0 meter.
ironstone. ..........
v-v -v-v-v-v
..........
v-v -v-v-v-v
Pita Pengotor (batulempung tufaan/
Batubara A.1, dijumpai adanya tuffaceous claystone) dengan tebal
lapisan pengotor sebanyak 2 - 3
A1U v-v -v-v-v-v
1 - 15 cm.
lapis dan dibagian "base" kadang-
kadang dijumpai lensa-lensa batu-
lanau. Mengalami pemisahan men- . -_-.-_- .- _- .- _
- . Dijumpai lensa-lensa batulanau/silt-
._._._._.
jadi A.1U (4 m) dan A.1L (3 m). ._._._._. stone (kadang-kadang silikaan) pada
v-v -v-v-v-v
posisi 1 meter dari "base"
Tebal lapisan ini 6, 5 - 9 meter. A1L dengan tebal 2 - 15 cm.
v- v - v- v - v- v
Interval A.1 - A.2, berupa -v- v - v- v - v-
batulempung / batupasir tufaan. v. v. v . v . v. v.
Tebal 2 - 4 meter.
Batubara silikaan (silicified coal)
sangat keras, tebal 20 - 40 cm.

Batubara A.2, dijumpai adanya -------- Pita pengotor (batulempung karbon-


batubara silikaan pada bagian an / carbonaceous claystone)
"top" dan kadang-kadang dijum- A.2 Tebal 2 - 15 cm.
pai pita pengotor batulempung
karbonan serta dijumpai lensa- Dijumpai lensa-lensa batulanau/silt-
lensa batulanau. stone (kadang-kadang silikaan) pada
Tebal 7,5 - 11,5 meter. 1 - 2 meter dari "base" dengan
tebal 1 - 15 cm.
Interval A.2 - B.1, perulangan . -_-.-_- .- _- .- _
- .
batupasir dan batulanau dengan si- .......... "Suban Marker" berupa batubara /
sipan tipis batubara / batulempung
-------- batulempung karbonan dengan
karbonan ("Suban Marker"). ._._._._. tebal 15 - 40 cm.
..........
Tebal 15 - 20 m. --------
._._._._. Pita pengotor (batulempung lanauan
Batubara B.1, dijumpai adanya karbonan/carbonaceous silty clay-
lapisan pengotor sebanyak 2 - 3 ._._._._. 1 - 15 cm.
lapis berupa batulempung lanauan
karbonan. B.1 . _ . _ . _ . _ .
Tebal 9,1 - 14,1 meter. Dijumpai lensa-lensa batulanau / silt-
stone (kadang-kadang silikaan) pada
1 - 2 meter dari "base" dengan
tebal 2 - 15 cm.

Interval B.1 - B.2, selang - seling . -_-.-_- .- _- .- _


- .
batulempung dan batulanau. --------
Tebal 2 - 5 meter. ._._._._.
Batubara B.2, dijumpai adanya Pita pengotor (batulempung lanauan
pita pengotor berupa batulempung B.2 . _ . _ . _ . _ . karbonan/carbonaceous silty clay-
lanauan karbonan kadang-kadang .......... stone) dengan tebal 2 - 8 cm dengan
dalam bentuk lensa. ._._._._. posisi 0,8 - 1, 0 meter dari "base".
Tebal 4,35 - 5,55 meter. ..........
......... Dijumpai lensa-lensa batulanau / silt-
._._._._. stone (kadang-kadang silikaan) pada
Interval B.2 - C, perulangan ..........
batupasir dan batulanau. ......... 1 - 2 meter dari "base" dengan
._._._._. tebal 2 - 15 cm.
Tebal 38 - 44 meter. ..........
.........
Pita pengotor (batulempung / clay-

Gambar 2.7 Penampang Litologi Tambang Air Laya


C
(Sumber : Dokumen Laporan Eksplorasi PT. Bukit Asam (persero), Tbk).

2.11. Iklim dan Curah Hujan


Daerah Desa Tanjung Enim, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan memiliki
iklim yang sama dengan iklim di daerah Indonesia pada umumnya, yaitu iklim
tropis dengan kelembaban dan temperatur tinggi, seperti kebanyakan daerah
Tanjung Enim Memiliki iklim tropis dengan kelembaban dan temperatur tinggi,
yaitu berkisar antara 230C sampai dengan 360C.
Dengan metode penambangan terbuka seluruh aktivitas pekerjaan berhubungan
langsung dengan udara bebas, sehingga iklim yang ada berdampak langsung pada

18
operasional. Daerah ini memiliki dua musim yaitu musi kemarau dan musim
hujan.

2.12. Cadangan dan Kualitas Batubara


Jumlah cadangan batubara yang terdapat di lokasi pertambangan PT. Bukit Asam
(Persero), Tbk. Tanjung enim adalah sebesar 3126,94 juta ton untuk cadangan
terukur, 142221 juta ton untuk cadangan terunjuk dan 335.00 juta ton untuk
cadangan tereka (Tabel 2.1)

TABEL 2.1Cadangan Batubara di Daerah Konsensi PT Bukit Asam UPTE


Cadangan (juta ton)
Nama Daerah Terukur Terindikasi Tereka
Jumlah
(Measured) (Indicated) (Inferred)
Air Laya 236,74 12,62 0,00 249,36
Arahan Utara 180,00 40,00 10,00 230,00
Arahan Selatan 272,00 86,00 0,00 358,00
Air Selero 49,04 0,69 0,00 49,73
Banko Barat Laut 554,75 116,35 0,00 671,10
Banko Tengah 480,39 308,91 0,00 789,30
Banko Selatan 273,41 184,40 0,00 457,81
Banjar Sari 242,14 42,90 0,00 285,04
Bukit Bunian 20,67 0,00 0,00 20,67
Bukit Kendi 14,67 30,77 0,00 45,44
Kungkilan 105,20 41,19 0,00 146,39
Muara Tiga Besar
308,40 23,00 0,00 331,40
Utara
Muara Tiga Besar
215,36 33,38 0,00 248,74
Selatan
Muara Tiga Besar
174,17 0,00 0,00 174,17
Timur
Suban Jeriji Timur 0,00 0,00 325,00 325,00

19
Suban Jeriji Utara 0,00 502,00 0,00 502,00
Total 3126,94 1422,21 335,00 4884,15
(Sumber : Eksplorasi Rinci dan Perencanaan Jangka Panjang PT. Bukit Asam
Tanjung Enim)

Penggolongan mutu Batubara dibuat oleh ASTM (American Standard for Testing
Materials) (Tabel 2.2). Badan ini melakukan penelitian terhadap batubara yang
terdapat di wilayah penambangan PT Bukit Asam. Setelah melakukan penelitian
terhadap batubara yang terdapat di daerah penambangan PT Bukit Asam. Badan
ini mengeluarkan suatu ketetapan mutu batubara yang ada di setiap daerah yang
akan ditambang dengan menggunakan parameter kualitas batubara (Tabel 2.3)
oleh PT Bukit Asam dan subkontraktor yang ada di PT Bukit Asam.

TABEL 2.2Penggolongan Batubara PT. Bukit Asam (Persero), Tbk Berdasarkan


ASTM

Kelas Group Group Keterangan

1 Meta Anthracite -
Antrasit 2 Anthracite Suban
3 Semi-Anthracite Air Laya
1 Low Volatile Bituminous -
2 Medium Volatile Bituminous -
Air Laya
High Volatile Bituminous
3 dan
Coal A
Bituminous Bukit Kendi
High Volatile Bituminous
4 -
Coal B
High Volatile Bituminous
5 -
Coal C
1 Sub-Bituminous Coal A Air Laya
Sub-
2 Sub-Bituminous Coal B Muara Tiga Besar
Bituminous
3 Sub-Bituminous Coal C Banko Barat
Sumber: Eksplorasi Rinci PT BukitAsam Tanjung Enim

20
TABEL 2.3Parameter Kualitas Batubara
Parameter Kualitas Batubara
CALORIFIC VALUE (CV) Kcal /Kg VOLATILE MATTER (VM)
adb % adb
KLAS RENTANG KLAS RENTANG
TE-59 (-) Maks. 5.600 High Min. 30
TE-59 5.600 ≤ X < 6.100 Low Maks. 30
TE-63 6.100 ≤ X < 6.500 TOTAL SULPHUR (TS)
TE-67 6.500 ≤ X < 6.800 % adb
TE-70 6.800 ≤ X < 7.300 KLAS RENTANG
Low Maks. 0,7
TE-73 / ANS Min. 7.300
High Min. 0,7
( Sumber : Geologi PT Bukit Asam)

Produk batubara yang siap dipasarkan diklasifikasikan dalam beberapa kelompok


berdasarkan nilai kalori dan total sulfurnya, adapun jenis market brand tersebut
yaitu :
1. .BA 55
Merupakan jenis batubara yang siap dipasarkan dengan nilai kalori antara 5400-
5600 kkal/kg (adp), total moisture 28-32% (ar), dan total sulfur antara 0,14-1,01%
(adp).
2. BA 59
Merupakan jenis batubara dengan nilai kalori 5701-5900 kkal/kg (adp), total
moisture 28-32% (ar), dan total sulfur antara 0,1-0,95% (adp).
3. BA 61
Merupakan jenis batubara dengan nilai kalori antara 6001-6200 kkal/kg (adp),
total moisture antara 24-27% (ar) dan total sulfur antara 0,2-1,2% (adp). Batubara
jenis BA 61 ini biasanya di gunukan untuk PLTU.

21
4. BA 63
Merupakan jenis batubara dengan nilai kalori antara 6201-6400 kkal/kg(adb),
Batubara jenis ini di gunakan untuk industri semen serta ekspor ke jepang maupun
china.
5. BA 67
Merupakan batubara dengan nilai kalori antara 6601-6800 kkal/kg (adb), total
sulfur 0,21- 0,93% (adb) dan kadar abu 2,30 – 6,93 (adb). Batubara ini biasanya
diekspor ke jepang dan negara asia lainnya.
6. BA 70LS
Merupakan batubara dengan nilai kalori antara 6901-7100 kkal/kg (adb) dan total
sulfurnya yaitu 0,6- 1,0% (adb).
7. BA 70HS
Merupakan batubara dengan nilai kalori antara 6901-7100 kkal/kg (adb) dan total
sulfurnya yaitu 0,8 – 1,4% (adb).
8. BA 76/ANS
Merupakan batubara dengan nilai kalori antara 7501-8167 kkal/kg (adb), total
moisture antara 2,14-6,61% (ar), kadar abu 3,48 – 9,85 % (adb) dan total sulfur
0,23 – 1,82% (adb).

22
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1. Pengertian Air Asam Tambang


Air Asam Tambang atau dalam istilah asing dikenal dengan Acid MineDrainage
(AMD) merupakan air yang terbentuk akibat terpaparnya batuan yang memiliki
potensi keasaman di lokasi penambangan dengan pH rendah. Air asam tambang
ini menimbulkan masalah bagi kualitas air, dimana terbentuknya dipengaruhi oleh
tiga faktor utama yaitu air, oksigen, dan batuan yang mengandung mineral
mineral sulfida. Air asam tambang terbentuk dari proses terpaparnya batuan yang
mengandung mineral mineral sulfida (table 3.1) bereaksi dengan air dan udara.
Tabel 3.1 Mineral Sulfida Pembentuk Air Asam Tambang
Rumus Kimia Nama Mineral
FeS2 Pyrite
Cu2S Chalcosite
CuS Cuvellite
CuFeS2 Chalcopyrite
MoS2 Molibdenite
NiS Millerite
PbS Galena
ZnS Sphalerite
FeAsS Arsenopyrite
Sumber : A. Asyeani, 2014

3.2. Proses Terbentuknya Air Asam Tambang


Air yang berasal dari tambang batubara akan memiliki karakteristik berwarna
merah kecokelatan, kuning, dan kadang kadang putih. Air tersebut bisa saja
bersifat asam maupun basa tergantung dari tingkat konsentrasi sulfat (SO42-), besi
(Fe), mangan (Mn) juga dipengaruhi elemen elemen seperti : calsium, sodium,
potassium dan magnesium. Air asam tambang timbul apabila mineral mineral
sulfide yang terkandung dalam batuan terpapar sebagai akibat pembukaan lahan
atau pembongkaran batuan pada saat penambangan berlangsung dan bereaksi

23
dengan air dan oksigen. Bakteri yang ada secara alami dapat mempercepat reaksi
yang bisa menyebabkan terjadinya air asam. Tanpa kehadiran mineral sulfide pada
batuan (seperti pyrite atau besi sulfida), udara dan air, air asam tambang tidak
akan muncul. Secara umum reaksi pembentukan air asam tambang adalah sebagai
berikut:
4FeS2 + 15O2 +14H2O  4Fe(OH)3↓ + 8H2SO4
Pyrite + Oxygen + water  “Yellowboy” + Sulfuric Acid
Reaksi antara pyrite, oksigen dan air akan membentuk asam sulfat dan endapan
besi hidroksida. Warna kekuningan yang mengendap di dasar saluran tambang
atau pada dinding kolam pengendap lumpur merupakan gambaran visual dari
endapan besi hidroksida (yellowboy). Didalam reaksi umum pembentukan air
asam tambang, terjadi 4 reaksi. Adapun reaksi reaksi tersebut adalah sebagai
berikut:
1) Reaksi pertama adalah reaksi pelapukan dari pyrite disertai proses
oksidasi. Sulfur dioksidasi menjadi sulfat dan besi fero dilepaskan. Dari reaksi ini
dihasilkan dua mol keasaam dari setiap mol pyrite yang teroksidasi.
2 FeS2 + 7 O2+ 2 H2O  2 Fe2+ + 4 SO42-+4H+
Pyrite + oxygen + water  Ferrous Iron + Sulfate + Acidity
2) Reaksi kedua terjadi konversi dari besi ferro menjadi besi ferri yang
mengkonsumsi satu mol keasaman. Laju reaksi lambat pada pH < 5 dan kondisi
abiotik. Bakteri thiobacillusakan mempercepat proses oksidasi.
4Fe2++O2 + 4H+ 4Fe3+ + 2H2O
Ferrous Iron + Oxygen + Acidity  Ferric Iron + Water
3) Reaksi ketiga adalah hidrolisasi dari besi. Hidrolisasi adalah reaksi yang
memisahkan molekul air. Tiga mol keasaman dihasilkan dari reaksi ini.
Pembentukan presipitat ferri hidroksida tergantung pH, yaitu lebih banyak pada
pH diatas 3,5.
4Fe3+ + 12H2O  4Fe(OH)3++12H+
Ferric Iron + water +  Ferric Hydroxide (yellowboy) + Acidity
4) Reaksi keempat adalah oksidasi lanjutan dari pyrite oleh besi ferri. Ini
adalah reaksi propagasi yang berlangsung sangat cepat dan akan berhenti jika
pyrite atau besi ferri habis. Agen pengoksidasi dalam reaksi ini adalah besi ferri.

24
FeS2 + 14Fe3+ + 8H2O 15Fe2+ +2 SO42- +16H+
Pyrite +Ferric Iron + Water  Ferrous Iron + Sulfate + Acidity

3.3. Faktor terbentuknya air asam tambang


Air asam tambang terbentuk akibat beberapa faktor adapun faktor-faktor
yang dapat mempengaruhi terbentuknya air asam tambang adalah sebagai berikut:
1) Sifat Sulfur Pyrite
Bentuk sulfure ini sangat potensial umumnya terdapat dalam batubara
ataupun batuan yang berkaitan dengan batubara. Sulfure organic dan sulfat
biasanya dijumpai dalam jumlah kecil pada batuan dan batubara serta kurang
reaktif dalam pembentukan air asam tambang.
2) Pengaruh pH
Pada harga pH antara 4-7 maka reaksi oksidasi pyrite akan berlangsung
lambat dan jumlah Fe3+ yang dihasilkan sangat terbatas karena rendahnya
kelarutan Fe(OH)3. Penambangan tingkat keasaman akan meningkatkan kelarutan
Fe3+. Pada saat pH turun sampai 1,5-2 adalah kondisi yang paling efektif untuk
bakteri sebagai katalisator pada oksidasi pyrite.
3) Pengaruh Sufrace Area
Dari penelitian umumnya pembentukan asam tambang dari surface area
pyrite yang terekspos menjadi larutan, serta sifat kristal dan kandungan kimia dari
pyrite. Hal tersebut akan berpengaruh pada pH yang lebih besar dari 2,5.
Umumnya batuan yang mengandung jumlah pyrite lebih banyak akan
menghasilkan asam yang lebih cepat dibandingkan dengan yang mengandung
pyrite lebih sedikit. Untuk jenis kristal pyrite, perbedaan kapasitas ruang kosong
di pyrite lebih sedikit. Untuk jenis kristal pyrite, perbadaan kapasitas ruang
kosong di Kristal atau Pyrite akan menimbulkan perbedaan kecepatan rata-rata
oksidasi, ini berhubungan dengan sifat mengendap dan sifat hydrothermal pyrite.
4) Pengaruh Oksigen
Oksigen yang tersedia di atmosfer sebanding dengan oksigen yang
dibutuhkan untuk mengoksidasi pyrite untuk membentuk Fe3+ pada tekanan udara
1 atm kandungan O2 terlarut berjumlah 7,5 mg/l (pada suhu 300 C ) dan 12,4 mg/l
(pada suhu 50C)

25
5) Pengaruh Mikro Environtment (Lingkungan Mikro)
Karena proses oksidasi pyrite sangat dipengaruhi oleh jumlah pyrite yang
bereaksi pada kondisi air dengan tingkat kejenuhan tertentu maka lingkungan
miko yang menimbulkan efek seperti konsentrasi Fe, pH, O2 perlu dikaji secara
spesifikasi tergantung dengan kondisi tambang.
6) Pengaruh Temperatur
Reaksi pembentukan air asam tambang akan meningkat seiring
meningkatnya temperatur, sehingga pembentukan air asam tambang akan lebih
cepat pada material yang mengandung pyrite dengan suhu tinggi. Akan tetapi
bakteri akan mati pada suhu 550C dan bekerja optimal pada suhu 250C - 350C.

3.4. Sumber Air Asam Tambang


Air asam tambang dapat terjadi pada kegiatan penambangan baik itu
tambang terbuka maupun tambang dalam, umumnya keadaan ini terjadi karena
unsur sulfur yang terdapat di dalam, umumnya keadaan ini terjadi karena unsur
sulfur yang terdapat di dalam batuan teroksidasi secara ilmiah didukung juga
dengan curah hujan yang tinggi semakin mempercepat perubahan oksida sulfur
menjadi asam.
Sumber sumber air asam tambang berasal dari kegiatan sebagai berikut:
1). Air Dari Tambang Bawah Tanah
Merupakan air yang dapat mengalir dibawah permukaan tanah. Jenis ini
meliputi air tanah dan air rembesan. Jenis air ini mudah dikenali karena pH nya
rendah. Air ini akan mempengaruhi peralatan tambang sehingga menjadi masalah
tersendiri dalam pengoperasiannya.
2). Air Dari Tambang Terbuka
Air yang terdapat dan mengalir diatas permukaan tanah biasanya berada
didalam suatu cekungan akibat galian tanah. Jenis air ini bersifat asam karena
terbukanya lapisan batuan akibat terkupasnya lapisan tanah penutup, sehingga
sulfur yang terdapat dibatuan sulfide akan mudah teroksidasi dan bila bereaksi
dengan air akan membentuk air asam tambang.
3). Air Dari Unit Pengelolaan Batuan Buangan

26
Mineral yang banyak terdapat pada limbah kegiatan penambangan adalah
batuan buangan (wast rock). Jumlah batuan ini semakin meningkat seiring
dengan meningkatnya kegiatan pertambangan sehingga batuan buangan yang
banyak mengandung sulfur akan banyak berhubungan langsung dengan udara
terbuka membentuk senyawa sulfur oksida. Selanjutnya dengan adanya air akan
membenuk air asam tambang.
4). Air Dari Lokasi Penimbunan Batubara (Stock Pile)
Timbunan batubara ditempat terbuka kemungkinan besar akan tercuci oleh
air hujan sebagaimana diketahui bahwa batubara mengandung sulfur, maka air
hujan tersebut akan mengalami penurunan pH.

3.5. Sumber Air Asam Tambang (AAT) di PT. Bukit Asam (Persero), Tbk
Adapun kondisi umum air asam tambang di PT. Bukit Asam (Persero),
Tbk dilihat dari sumber air asam tambang dan kualitas air asam tambang.
Beberapa sumber air asam tambang di PT. Bukit Asam (Persero), Tbk adalah :
3.5.1. Galian ( Mine Sump)
Galian tambang (mine sump) merupakan lokasi yang sangat berpotensi
terbentuknya air asam tambang. PT. Bukit Asam (Persero), Tbk memiliki 4 galian
tambang yaitu 1 galian tambang yang berada di IUP TAL, 1 galian tambang
berada di IUP MTB dan 2 galian tambang yang berada di Bangko Barat. Kelima
air asam tambang berasal dari galian yang umumnya memiliki pH rendah dan
nilai TSS yang rendah. Proses pengelolaan air asam tambang di galian dilakukan
pada kolam pengaduk lumpur (KPL). Pada galian tambang terdapat proses pompa
terapung untuk memompa air asam tambang menuju ke KPL dengan masing
masing pompa memiliki debit 720 liter/menit.
Karakteristik air asam tambang pada sumber Mine Sump memiliki nilai pH
relatif asam sehingga untuk membuat nilai ph menjadi sesuai baku mutu maka
perlu dilakukan pengelolaan dengan metode active treatment dan passive
treatment agar pada saat air masuk kesaluran inlet KPL ALP air asam tambang
akan langsung dinaikan nilai pH nya menggunakan bahan-bahan active sehingga
pada saat dikeluarkan ke sungai melalui saluran outlet maka nilai ph nya sudah
sesuai baku mutu yaitu 6-9.

27
Sumber : Dokumentasitasi Pribadi, 2017
Gambar 3.1. Mine Sump

3.5.2. Stockpile
Stockpile merupakan alat untuk penyimpanan batubara sebelum dikirm ke
pelabuhan. Kegiatan pengolahan batubara di stockpile berpotensi terbentuknya air
asam tambang dari kegiatan penyiraman batubara. Penyiraman batubara dilakukan
untuk mencegah terjadinya swakarsa. Pada kodisi hujan debit air asam tambang
yang berasal dari stockpile akan bertambah dikarenakan adanya air limpasan
hujan dari area stockpile. Air asam tambang yang muncul akibat dari kegiatan
penyiraman memiliki pH rendah.
Jumlah stockpile di IUP TAL PT. Bukit Asam (Persero), Tbk ada dua
yaitu stockpile 1 dan stockpile 2. Masing-masing air asam tambang yang berasal
dari stocpile dialirkan ke KPL yang berbeda yaitu ke KPL Stockpile 1 (Cik Ayib)
dan ke KPL Stockpile2. Sumber air asam tambang di Stocpile yaitu berasal dari
limpasan air pencucian batubara dan air hujan dari jalan angkut yang merupakan
clay stone dan sand stone berasal dari pelapisan B2C yang mengandung unsur
Fe2S. Pada KPL Stockpile 1 nilai pH air tidak begitu rendah sehingga tingkat
keasaman air masih dalam kategori baik namun kandungan TSS di inlet cukup
tinggi akibat debu batubara yang berasal dri Stockpile 1.

28
Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2017
Gambar 3.2.Stockpile

3.5.3. Timbunan
Timbunan batubara dapat menghasilkan air asam tambang karena pada
baubara terdapat sulfur dan mineral sulfida, batubara yang ada di timbunan akan
terkontak langsung dengan udara yang kemudian terjadi perlarutan oleh air
sehingga terbentuklah air asam tambang.

Sumber : Dokumentasi Perusahaan, 2017


Gambar 3.3. Timbunan

3.5.4. Train Loading Station (TLS)


Train Loading Station (TLS) merupakan tempat pengisian batubara untuk
diangkut menggunakan kereta. Pada TLS, air asam tambang dapat terbentuk

29
dikarenakan adanya tumpahan-tumpahan batubara tersebut dapat bereaksi dengan
udara dan air sehingga membentuk air asam tambang.

Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2017


Gambar 3.4. TLS

3.6. Sumber Air Asam Tambang (AAT) di PT. Bukit Asam (Persero), Tbk
Adapun kondisi umum air asam tambang di PT. Bukit Asam (Persero),
Tbk dilihat dari sumber air asam tambang dan kualitas air asam tambang.
Beberapa sumber air asam tambang di PT. Bukit Asam (Persero), Tbk adalah :
3.6.1. Galian ( Mine Sump)
Galian tambang (mine sump) merupakan lokasi yang sangat berpotensi
terbentuknya air asam tambang. PT. Bukit Asam (Persero), Tbk memiliki 4 galian
tambang yaitu 1 galian tambang yang berada di IUP TAL, 1 galian tambang
berada di IUP MTB dan 2 galian tambang yang berada di Bangko Barat. Kelima
air asam tambang berasal dari galian yang umumnya memiliki pH rendah dan
nilai TSS yang rendah. Proses pengelolaan air asam tambang di galian dilakukan
pada kolam pengaduk lumpur (KPL). Pada galian tambang terdapat proses pompa
terapung untuk memompa air asam tambang menuju ke KPL dengan masing
masing pompa memiliki debit 720 liter/menit.
Karakteristik air asam tambang pada sumber Mine Sump memiliki nilai pH
relatif asam sehingga untuk membuat nilai ph menjadi sesuai baku mutu maka
perlu dilakukan pengelolaan dengan metode active treatment dan passive
treatment agar pada saat air masuk kesaluran inlet KPL ALP air asam tambang

30
akan langsung dinaikan nilai pH nya menggunakan bahan-bahan active sehingga
pada saat dikeluarkan ke sungai melalui saluran outlet maka nilai ph nya sudah
sesuai baku mutu yaitu 6-9.

Sumber : Dokumentasitasi Pribadi, 2017


Gambar 3.1. Mine Sump

3.6.2. Stockpile
Stockpile merupakan alat untuk penyimpanan batubara sebelum dikirm ke
pelabuhan. Kegiatan pengolahan batubara di stockpile berpotensi terbentuknya air
asam tambang dari kegiatan penyiraman batubara. Penyiraman batubara dilakukan
untuk mencegah terjadinya swakarsa. Pada kodisi hujan debit air asam tambang
yang berasal dari stockpile akan bertambah dikarenakan adanya air limpasan
hujan dari area stockpile. Air asam tambang yang muncul akibat dari kegiatan
penyiraman memiliki pH rendah.
Jumlah stockpile di IUP TAL PT. Bukit Asam (Persero), Tbk ada dua
yaitu stockpile 1 dan stockpile 2. Masing-masing air asam tambang yang berasal
dari stocpile dialirkan ke KPL yang berbeda yaitu ke KPL Stockpile 1 (Cik Ayib)
dan ke KPL Stockpile2. Sumber air asam tambang di Stocpile yaitu berasal dari
limpasan air pencucian batubara dan air hujan dari jalan angkut yang merupakan
clay stone dan sand stone berasal dari pelapisan B2C yang mengandung unsur
Fe2S. Pada KPL Stockpile 1 nilai pH air tidak begitu rendah sehingga tingkat
keasaman air masih dalam kategori baik namun kandungan TSS di inlet cukup
tinggi akibat debu batubara yang berasal dri Stockpile 1.

31
Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2017
Gambar 3.2.Stockpile

3.6.3. Timbunan
Timbunan batubara dapat menghasilkan air asam tambang karena pada
baubara terdapat sulfur dan mineral sulfida, batubara yang ada di timbunan akan
terkontak langsung dengan udara yang kemudian terjadi perlarutan oleh air
sehingga terbentuklah air asam tambang.

Sumber : Dokumentasi Perusahaan, 2017


Gambar 3.3. Timbunan

3.6.4. Train Loading Station (TLS)


Train Loading Station (TLS) merupakan tempat pengisian batubara untuk
diangkut menggunakan kereta. Pada TLS, air asam tambang dapat terbentuk

32
dikarenakan adanya tumpahan-tumpahan batubara tersebut dapat bereaksi dengan
udara dan air sehingga membentuk air asam tambang.

Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2017


Gambar 3.4. TLS

3.7. Dampak Air Asam Tambang


Seperti yang telah diketahui sebelumnya, nilai pH yang rendah (pH<6)
pada air asam tambang menyebabkan mudahnya logam logam tertentu larut dalam
air. Hal ini jika tidak ditangani dan jika dibiarkan begitu saja, pada konsentrasi
tertentu akan sangat membahayakan bagi ligkungan, sebab hasil oksiasi dari
sulfide oleh media airakan terangkut sehingga mencemari lokasi sekitarnya.
Adapun dampak negatif dari air asam tambang adalah:
1) Dampak Terhadap Masyarakat Disekitar Wilayah Tambang
Masyarakat diwilayah tambang tidak merasakan secara langsung dampak
air asam tambang akan tetapi beberapa tahun kemudian karena air yang
terkontaminasi dengan air asam tambang banyak mengandung logam berat seperti
Fe, Mn, yang mana bila dikonsumsi oleh masyarakat secara terus menerus maka
dapat menyebabkan keracunan dan dapat mengakibatkan iritasi kulit bagi
penduduk yang menggunakan air tersebut.
2) Dampak Terhadap Biota Perairan
Dampak negatif untuk biota perairan adalah terjadinya perubahan
keanekaragaman biota perairan seperti plankton dan benthos, kehadiran benthos
dalam suatu perairan dapat digunakan sebagai indiktor kualitas perairan. Pada

33
perairan yang baik dan subur benthos akan mengalami pelimpahan sebaliknya
pada perairan yang kurang subur benthos tidak akan mampu bertahan hidup.
Selain itu terhadap makhluk hidup, air asam tambang dapat mengganggu
kehidupan flora dan fauna pada lahan bekas tambang maupun kehidupan yang
berada disepanjang aliran sungai yang terkena dampak dari aktivitas
penambangan.
3) Kualitas Air Permukaan
Terbentuknya air asam tambang hasil oksidasi pirit akan menyebabkan
menurunnya kualitas air permukaan. Parameter kualitas air yang mengalami
perubahan diantaranya adalah pH, padatan terlarut, padatan tersuspensi, COD,
BOD, sulfat, besi, mangan.
4) Kualitas Tanah
Logam berat seperti besi, tembaga seng terkandung dalam tanah yang
asamnya banyak, yang pada dasarnya merupakan unsur hara mikro yang
dibutuhkan tanaman, sementara unsur hara makro yang dibutuhkan tanaman
seperti fosfor, magnesium, kalsium, sangat kurang. Akibatnya keracunan pada
tanaman karena kelebihan unsur hara mikro, ini ditandai dengan membusuknya
akar tanaman menjadi layu.

3.8. Pencegahan Air Asam Tambang


Pencegahan terjadinya air asam tambang dapat dilakukan dengan
menghindari faktor-faktor pembentuk air asam tambang, seperti mineral-mineral
sulfida. Adapun cara yang dapat dilakukan untuk mencegah air asam tambang
menurut Jeffrey G. Skousen et.al (2000) adalah :
1. Preventif
Cara preventif atau pencegahan dilakukan sebelum air asam tambang terbentuk,
berikut beberapa cara yang bisa dilakukan.
a. Hidrologi
Pergerakan terhadap air di atas atau yang melewati daerah timbunan merupakan
faktor yang menentukan dalam upaya pencegahan dan pengendalian air asam
tambang. Pada umunya prioritas dan hantaran hidrolik (konduktivitas hidrolik)
material pada daerah timbunan lebih besar dari pada batuan pada tanah penutup

34
sebelum digali. Selain itu juga akibat penggalian juga akan mengubah pola dan
kecepatan aliran.
b. Pelapisan dan Penutupan
Pelapisan dan penutupan dimaksudkan untuk mencegah masuknya air ke dalam
timbunan. Bahan-bahan yang dapat digunakan sebagai pelapis atau penutup
adalah material liat atau bahan sintetik.
c. Kandungan Oksigen
Pemakaian nitrogen, metana atau karbon sebagai gas penyelimut dapat
mengurangi terjadinya air asam tambang, tetapi air asam tambang (AAT) masih
dapat terjadinya akibat adanya oksigen terlarut dalam air. Penempatan material
tanah diatas material sulfida tidak seluruhnya dapat mencegah difusi oksigen.
Akan tetapi tingkat ketebalan dan kepadatan permukaan secara efektif dapat
mengurangi jumlah dan laju masuknya oksigen. Pelapisan material sulfida dengan
lapisan pengkonsumsi oksigen (tanah pucuk yang mengandung mikro organisme
yang aktif) merupakan strategi yang baik untuk mengurangi kandungan oksigen.
d. Bakterisida
Surfaktan anion, asam organik alam pengawet makanan sudah umum digunakan
sebagai senyawa anti bakterial. Surfaktan bekerja dengan pelapesan ion hidrogen
ke dalam membran sel bakteri sehingga menyebabkan kerusakan sel dan matinya
bakteri. Salah satu jenis surfaktan sodium laurit sulfat (SLS) mampu mengurangi
terbentuknya air asam tambang 60% - 90% dalam percobaan lapanangan pada
timbunan batubara buangan (coal rifusi). Kebanyakan dari surfaktan anionik
bersifat sangat mudah larut.
2. Kuaratif
Pengolahan air asam tambang harus dilakukan sebelum air tersebut dibuang ke
badan air, sehingga nantinya tidak mencemari perairan di sekitar lokasi tambang.
Pengolahan air asam dapat dilakukan dengan cara penetralan. Penetralan air asam
dapat menggunakan bahan kimia atau dengan cara aktif di antarnya seperti
limestone (Calcium Carbonat). Hydrate Lime (calcium hydroxide), Caustic Soda
(Sodium Hydroxide), soda Ash Briquettes (Sodium Carbonate), Anhydrous
ammoni.
a. Dengan Cara aktif

35
1. Limestone (Calcium Carbonat)
Limestone atau biasa dikenal dengan batu gamping telah digunakan selama
berpuluh-puluh tahun menaikan pH dan mengendapkan logam di dalam air asam.
Penggunaan limestone merupakan penanganan yang termurah, teraman dan
termudah dari semua bahan-bahan kimia. Kekurangan dari limestone ini ialah
mempunyai keterbatasan karena kelarutan yang rendah dan limestone terlapisi.
2. Hydrate Lime (Calcium Hydroxide)
Hydrate Lime adalah suatu bahan kimia yang sangat umum digunakan untuk
menetralkan air asam. Hydrate Lime sangat efektif dari segi biaya dalam yang
sangat besar dan keadaan acidity yang timggi. Bubuk Hydrate Lime adalah
hydrophobic, begitu lama pencampuran diperlukan untuk membuat hydrate lime
dapat larut dalam air. Hydrate Lime mempunyai batasan ke efektifan dalam
beberapa tempat dimana suatu pH yang sangat tinggi diperlukan untuk mengubah
logam seperti mangan.
3. Caustic Soda (Sodium Hydroxide)
Caustic Soda merupakan bahan kimia yang biasa digunakan dan sering dicoba
lebih jauh (tidak mempunyai sifat kelistrikan), kondisi aliran yang rendah. Caustic
menaikkan pH air dengan sangat cepat, sangat mudah larut dan digunakan dimana
kandungan mangan merupakan suatu masalah. Penggunaannya sangat sederhana,
yaitu dengan cara meneteskan cairan caustic ke dalam air asam, karena
kelarutannya akan menyebar di dalam air. Kekurangan utama dari penggunaan
cairan caustic untuk penanganan air asam ialah biaya yang tinggi dan bahaya
penanganannya. Penggunaan caustic padat lebih murah dan lebih mudah dari
pada caustic cair langsung ke air asam tambang.
4. Soda Ash Briquettes (Sodium Carbonate)
Soda abu umumnya digunakan untuk menangani air asam tambang di daerah
terpencil dengan aliran rendah dan jumlah rendah keasaman dan logam. Soda abu
biasanya digunakan dalam debit kecil dengan kandungan besi yang rendah.
Pemilihan soda abu untuk menangani air asam tambang biasanya didasarkan pada
kenyamanan dari pada biaya kimia.
5. Anhydrous Ammonia

36
Anhydrous Ammonia digunakan dalam beberapa cara menetralkan acidity dan
untuk mengendapkan logam-logam di dalam air asam. Ammonia diinjeksikan ke
dalam kolam atau ke dalam inlet, kelarutan tinggi, reaksi sangat cepat dapat
menaikkan pH. Ammonia memerlukan asam (H+ ) dan juga membentuk ion
hydroxyl (OH-) yang dapat bereaksi dengan logam-logam membentuk endapan.
Aspek yang paling menjanjikan menggunakan ammonia untuk penanganan air
asam tambang adalah biaya, terutama dibandingkan dengan caustic soda.
6. Penggunaan Tawas Sebagai Bahan Koagulan
Air asam tambang dalam kegiataan penambangan juga bisa dipastikan akan
memiliki kekeruhan yang sangat tinggi, oleh karena itu untuk menurunkan
kekeruhannys dapat bahan kimia seperti alumunium sulfate atau lebih dikenal
dengan tawas atau rumus kimianya (Al2SO4)3. Tawas merupakan bahan koagulan
yang paling banyak digunakan karena bahan ini paling ekonomis, mudah
diperoleh dipasaran serta mudah penyimpanannya. Jumlah pemakaian tawas
tergantung kepada turbidity (kekeruhan) air. Semakin tinggi turbinity air maka
semakin besar jumlah tawas yang dibutuhkan. Makin banyak dosis tawas yang
ditambahkan maka pH akan semakin turun,karena dihasilkan asam sulfat sehingga
perlu dicari dosis tawas yang efektif antara pH 5,8- 7,4. Apabila alkalinitas alami
dari air tidak seimbang dengan dosis tawas perlu ditambahkan alkalinita.
b. Dengan Cara Pasif
Cara pasif atau passive treatment adalah suatu metode dalam upaya proses
biologi, geokimia dan gravitasi. Proses ini dilakukan dengan mengacu pada proses
yang terjadi pada sistem wetland (lahan basah) atau proses-proses alami lainnya.
Sistem ini dapat meningkatkan pH dan menurunkan konsentrasi Fe yang dianggap
dapat menimbulkan permasalahan karena dapat menimbulkan efek bagi
lingkungan. Pengolahan pasif yang efektif diawali dengan karakteristik air asam
tambang baik kimia, topografi maupun alirannya. Hal ini berkaitan dengan
pemilihan metode yang tepat pada sistem tersebut. Secara umum Aerobic Wetland
dapat mengolah air asam tambang yang bersifat alkali, Anoxic Limestone
Discharge (ALD) mengolah Fe, Al dan DO konsentrasi tinggi. Lahan basah alam
ditandai dengan air tanah jenuh atau sedimen dengan vegetasi pendukung yang
disesuaikan untuk mengurangi kondisi di rizosfer mereka. Surfaktan bekerja

37
dengan pelepasan ion hidrogen ke dalam membran sel bakteri sehingga
menyebabkan kerusakan sel dan matinya bakteri. Salah satu jenis surfaktan
sodium laurit sulfat (SLS) mampu mengurangi terbentuknya air asam tambang
60% - 90% dalam percobaan lapangan timbunan batubara buangan (coal rifusi).
Kebanyakan dari surfaktan anionik bersifat sangat mudah larut.
1. Aerobic Wetland
Aerobic Wetland hanya cocok untuk kondisi air yang alkali,karena sistem ini akan
memberikan aerasi pada air limbah oleh adanya zona perakaran dari vegetasi.
Vegetasi yang biasanya dipakai umumnya adalah Typha sp, Pharagmites
Australis, Salvania Natans dan beberapa vegetasi lokal. Aerasi menyebabkan
oksidasi besi dan Mn dan mengalami prespitat yang akan tetap dipertahankan
dalam lahan basah.
2. Anaerobic Wetland
Selain aerobic Wetland terdapat sistem Anaerobic Wetland. Sistem ini mampu
meningkatkan pH dan mempercepat presipitasi logam berat. Sistem ini merupakan
modifikasi dari sistem aerob. Modifikasinya terletak pada penambahan limestone
di bawah lapisan organik atau tanah Wetland. Desain ini mampu mencetus
pembentukan ion karbonat (HCO3-)oleh reduksi sulfat oleh mikroba pereduksi
sulfur (Desulfovibrion sp dan Desufvotomaculum sp) secara anaerob dan pelarutan
limestone.Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :

2CH2O + SO42- H2S + 2HCO3-
CaCO3 + H+ → Ca+ + HCO3-
Ion-ion bikarbonat menetralisir asam dari air asam tambang sehingga terjadi
peningkatan pH dan presipitasi metal seperti Fe. Faktor utama yang menjadi
pembatas dalam efektifitas proses tersebut adalah lambatnya percampuran antara
air yang bersifat asam pada permukaan dengan substrat yang bersifat alkalin.

38
3.9. Penanganan Air Asam Tambang
Pengelolaan air asam tambang dikelompokkan menjadi dua yaitu pengelolaan
secara aktif dan pasif. Pengelolaan secara aktif dilakukan dengan menambahkan
bahan kimia untuk menetralisir bahan asam. Penggunaan bahan kimia sangat aktif
dalam penanganan air asam tambang tetapi memerlukan biaya yang sangat besar
dan menghasilkan lumpur limbah sangat banyak.bahan penetralisir yang banyak
digunakan yaitu kapur, kalsium karbonat, kalsium oksida, magnesium oksida dan
magnesium hidroksida (Yusron et al., 2009). Polutan dari proses pengolahan
batubara dapat diantisipasi dengan sistem pengolahan aktif. Jumlah kalsium
hidroksida yang diberikan sesuai dengan aliran air asam (marningrum,
2010).Adapun bahan-bahan yang dipakai dalam metode ini adalah sebagai berikut
:
3.9.1. Kapur Tohor (CaO) sebagai penetralisir pH
Kapur tohor adalah salah satu batuan yang dapat dipergunakan untuk
meninglatkan pH secara praktis, murah dan aman sekaligus dapat mengurangi
kandungan logam berat yang terkandung dalam air asam tambang. Ada beberapa
macam kapur yang dapat digunakan yaitu kapur pertanian (CaCO3), kapur tohor
(CaO) dan batu dolomite. Kapur tohor secara umum dikenal dengan kapur mentah
atau kapur bakar adalah senyawa kimia yang digunakan secara luas. Kapur tohor
merupakan Kristal basa, kaustik, zat padatan putih. Kapur lebih sering digunakan
untuk dunia pertambangan dikarenakan mudah menaikan pH yang sangat asam.
Proses pengapuran dilakukan dua kali yaitu pertama di saluran KPL
Undongan dan yang kedua di saluran KPL Air Laya Putih (ALP). Air asam
tambang yang terbentuk di saluran ini bersumber dari minesump yang di pompa
dan dialirkan ke KPL Undongan lalu diberikan kapur sebanyak 3 karung/jam yang
setiap karungnya berisi 25 Kg kapur. Pada KPL Undongan terdapat 9 kolam yang
sengaja dibuat dengan bentuk zig-zag dikarenakan untuk mengurangi kecepatan
debit air agar proses pengapuran yang kedua kalinya dengan dosis yang sama
yaitu 3 karung/jam. Air asam tambang yang telah dilakukan pengelolaan dan
sesuai dengan baku mutu dapat langsung dialirkan ke sungai.
Sampel pada Inlet KPL Saluran ALP pada tanggal 21 Februari 2017:
Diketahui :

39
- Debit aliran Rata-rata = 0,41 m3/s
- Dosis kapur 0,05 gr/liter.
Penyelesaian :
Debit air yang masuk adalah sebesar 0,41 m3/s atau 410 liter/detik maka untuk
kebutuhan kapurnya adalah :
Kebutuhan kapur = 410 liter/detik x 0,05 gr/liter = 20,5 gr/liter
= 73,8 kg/jam
Pengapuran di KPL saluran ALP maksimal dalam sehari adalah 24 jam sehingga
kapur yang dibutuhkan adalah sebanyak 73,8 kg/jam. Sedangkan kebutuhan air
untuk melarutkan kapur adalah dengan perbandingan 100ml : 1 gr maka
kebutuhan air dapat dihitung seperti dibawah ini :
Kebutuhan air = 100ml/1gr x 73800 gr = 7380000 ml
= 7380 liter
= 7,38 m3
Sumber utama air yang masuk ke sistem KPL undongan TAL utara adalah
dari Mine Sump Tambang Air Laya (Blok Barat 1). Air ini dipompakan keatas
menuju Sistem KPL undongan. Pada operasi ini digunakan empat Unit Pompa
Sulzer (milik PT. Bukit Asam (Persero), Tbk. dengan satu unit pompa (PP97SZ)
menggunakan tenaga Usaha mesin dieseldan tiga unit pompa (PP67SZ, PP95SZ,
PP98SZ) menggunakan tenaga motor listrik. Dengan disusun secara seri, sehingga
akan menghasilkan dua sistem keluaran air, dan juga dibantu oleh satu unit pompa
(MFV 420 E) yang dioperasikan oleh kontraktor PT. Pama Persada.

Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2017


Gambar 3.5. Proses Pengapuran

40
3.8.2 Kuriflock menurunkan nilai TSS (Total Suspended Solid)
Kuriflock digunakan untuk proses kuagulasi air tambang yang memiliki
tingkat kekeruhan yang tinggi. Pada KPL saluran ALP dan Stockpile I terdapat
isntalasi kuriflok yang dipasang setelah proses netralisasi. Kuriflok berfungsi
untuk menurunkan nilai TSS (Total suspende solid) yang bersumber dari material
batubara dan tanah. Penggunaan kuriflock PC-702 memiliki dosis 1% dapat
dilakukan dengan dosis minimum yaitu 2 ppm ketika musim kemarau dan dosis
maksimum 0,8 ppm larutan kuriflock ketika hujan. Kuriflock dialirkan ke air asam
tambang dengan cara dibuatkan instalasi pipa.
Pada konsentrasi 1%Kuriflock PC-702 sama persis dengan yang akan
diterapkan dilapangan yaiu melarutkan 10 Kg Kuriflock PC-702 ke dalam 1000 L
air yang ditampung didalam tedmond. Dalam hal ini dapat dihitung dosis kuriflock
yang tersedia dalam 1 liter air seperti berikut :
1% = 10 Kg/1000 L
= 10.000.000 mg/1000 L
= 10.000 mg/L

Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2017


Gambar 3.6. Gudang Penyimpangan Kuriflock PC-702

Pada pemberian 0,005 mi larutan Kuriflock PC-702 menurunkan kadar


TSS air 1033 mg/L menjadi 24 mg/L. Hal ini diketahui setelah melakukan analisa
pengujian TSS secara gravimetric. Adapun dosis yang dihunakan dalam 1%
larutan Kuriflock PC-702 dapat dihitung :
1% larutan Kuriflock PC-702 = 10.000 mg/L
1% = 0,05 ml larutan kuriflock/500 ml air

41
10.000 mg/L = 0,01 ml/1L air
10.000 mg/L = 0,1 ml/1000 ml
Maka dosis yang digunakan dalam 1% 0,1 ml larutan kuriflock per 1 liter
0,1 𝑚𝑙 𝑥 10.000 𝑚𝑔/𝐿
air adalah : = 1 𝑝𝑝𝑚
1000𝑚𝑙

Pada pemberian 0,04 ml larutan kuriflock PC-702 menurunkan kadar TSS air dari
833 mg/L menjadi 29 mg/L. Hal ini diketahui setelah melakukan analisa
pengujian TSS secara gravimetric. Adapun dosis yang digunakan dalam 1%
larutan Kuriflock PC-702 dapat di hitung :
1% larutan Kuriflock PC-702 = 10. 000 mg/L
1% = 0,04 ml larutan Kuriflock/500 ml air
10.000 mg/L = 0,08 ml/1 L air
10.000 mg/L = 0,08 ml/1000 ml
Maka dosis yang digunakan dalam 1% 0,08 ml larutan Kuriflock per 1 liter
air adalah :
0,08 𝑚𝑙 𝑥 10.000 𝑚𝑔/𝐿
= 0,8 𝑝𝑝𝑚
1000 𝑚𝑙

Pada pemberian 0,02 ml larutan kuriflock PC-702 menurunkan kadar TSS


air dari 833 mg/L menjadi 41 mg/L. Hal ini diketahui setelah melakukan analisa
pengujian TSS secara gravimetric. Adapun dosis yang digunakan dalam 1%
larutan Kuriflock PC-702 dapat di hitung :
1% larutan Kuriflock PC-702 = 10. 000 mg/L
1% = 0,02 ml larutan Kuriflock/500 ml air
10.000 mg/L = 0,04 ml/1 L air
10.000 mg/L = 0,04 ml/1000 ml
Maka dosis yang digunakan dalam 1% 0,04 ml larutan Kuriflock per 1 liter
air adalah :
0,02 𝑚𝑙 𝑥 10.000 𝑚𝑔/𝐿
= 0,4 𝑝𝑝𝑚
1000 𝑚𝑙

Pada pemberian 0,01 ml larutan kuriflock PC-702 menurunkan kadar TSS


air dari 521 mg/L menjadi 81 mg/L. Hal ini diketahui setelah melakukan analisa
pengujian TSS secara gravimetric. Adapun dosis yang digunakan dalam 1%
larutan Kuriflock PC-702 dapat di hitung :
1% larutan Kuriflock PC-702 = 10. 000 mg/L

42
1% = 0,01 ml larutan Kuriflock/500 ml air
10.000 mg/L = 0,02 ml/1 L air
10.000 mg/L = 0,02 ml/1000 ml
Maka dosis yang digunakan dalam 1% 0,02 ml larutan Kuriflock per 1 liter
air adalah :
0,02 𝑚𝑙 𝑥 10.000 𝑚𝑔/𝐿
= 0,2 𝑝𝑝𝑚
1000 𝑚𝑙

Berdasarkan hasil analisa penggunaan pemberian dosisi maka penulis


sarankan bahwa penggunaan kuriflock PC-702 dapat di lakukan dengan dosis
minimum yaitu 2 ppm ketika musim kemarau dan apabila tingkat kekeruhan yang
terjadi pada saluran outlet mencapai kadar TSS 1000 mg/L bisa di gunakan dosis
maksimum 0,8 pp larutan kuriflock ketika hujan, karena dari hasil analisa bahwa
pengaruh kuriflock dalam membantu pengurangan kadar TSS air memiliki tingkat
ke efektifan yang tinggi oleh karena itu pada pemberian dosis 0,08 pp ketika hujan
sudah bisa menurunkan TSS air sesuai dengan standar baku mutu lingkungan
tambang.
Setelah dilakukan dosis minimum dan maksimum pada uji laboraturium,
maka dilakuan proses instalasi yang berguna untuk menentukan dosis pemakaian
kuriflock PC-702 dengan melakukan pegkalibrasian dosis. Pada proses instalasi,
tedmont yang digunakan yaitu tedmont ukuran 1000 ml air. Dengan volume air
yang dapat di tampung oleh tedmont ini nantinya akan menghasilkan larutan
kuriflock PC-702 dengan konsentrasi 1%.

3.8.3 pH Adjuster
pH adjuster adalah produk chemical yang efektif digunakan untuk
menetralkan air asam tamabang dan dapat menurunkan kadar logam. Penggunaan
chemical ini tidak perlu adanya pengadukan dan langsung larut dalam air karena
sifatnya koloidal, tetapi stabil walaupun berada pada suhu rendah. Bahan kimia ini
tidak mengndung formaldehyde, mengandung logam berat, mempunyai dosis
yang rendah dan dapat digunakan di close syste (saluran tertutup) dan open system
(saluran terbuka).

43
Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2017
Gambar 3.7. pH adjuster di Lahan KPL Stockpile 1
.

Pengelolaan limbah secara pasif dilakukan dengan memanfaatkan area


lahan basah (wetland). Pengembangan teknologi yang besumber dari alam
memanfaatkan media penyaring seperti lahan rawa dan vegetasi air dikenal
sebagai suatu teknologi yang disebut fitoremediasi. Dalam proses pengelolaan air
asam tambang secara biologis, dilakukan secara lebih efisien dan ekonomis yaitu
dengan menambahkan bahan organik dari sedimen lahan basah atau lumpur
wetland. Bahan organik ini secara alami terdapat bakteri pereduksi sulfat,
kandungan bahan organik yang tinggi dalam sedimen wetland menyediakan
lingkungan yang ideal untuk populasi bakteri pereduksi sulfat. Untuk membuat
rawa buatan berdasarkan kebutuhan pengelolaan air limbah dengan biaya yang
murah (Herniwati, 2012).
Adapun jenis jenis tanaman yang dapat digunakan pada passiv treatment
antara lain: kiambang, vetiveria, dan kiapung. Sistematika dan morfologi tanaman
tersebut adalah sebagai berikut:
3.8.4 Kiambang (salvinia auriculata)
Adapun sistematika dari taman kiambang adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Filum : Pteridophyta
Klas : Pteridopsida
Ordo : Salviniales
Famili : Salviniaceae

44
Genus : Salvinia
Spesies : Salvinia Auriculata

Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2017


Gambar 3.8. Kiambang (Salvinia Auriculata)

Kiambang (dari pohon, tumbuhan, dan kiambang: mengapung) merupakan


nama umum bagi tamnaman paku air dari genus salvinia. Kiambang memiliki dua
tipe daun yang sangat berbeda. Daun yang tumbuh di permukaan air berbentuk
cuping agak melingkar, beklorofil sehingga bewarna hijau dan permukaannya
ditutupi rambut berwarna putih agak transparan. Rambut-rambut ini mencegah
daun menjadi basah dan juga membantu kiambang mengapung. Daun tipe kedua
tumbuh didalam air berbentuk sangat mirip akar, tidak berklorofil dan berfungsi
menangkap hara seperti akar. Orang awam menanggap ini sebagai akar kiambang.
Kiambang sendiri akarnya (dalam artian anatomi) tereduksi. Kiambang tidak
menghasilan bunga karena termasuk golongan paku-pakuan.
Sebagaimana tanaman paku lainnya, kiambang juga bersifat heterospor
memiliki dua tipe spora yaitu: makrospora yang akan tumbuh menjadi prolatus
betina dan mikrospora yang akan tumbuh menjadi prolatus jantan. Kiambang
yang telah lama dipakai atau mati dapat didaur ulang menjadi pupuk kompos agar
dapat menguangi limbah.

45
3.8.5 Rumput akar wangi (Vetiveria Zizanoides)
Berikut ini klasifikasi dari akar wangi yaitu:
Kingdom : Plantae
Filum : Magnoliophyta
Klas : Liliopsida
Ordo : Cyperales
Famili : poaceae
Genus : Vetiveria bory
Spesies : Vetiveria Zizanioides

Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2017


Gambar 3.9. Rumput Akar Wangi (Vetiveria Zizanioides)

Akar wangi atau narwastu (serai wangi, rumput akar wangi, vetiver,
Chrysopogon zizanioidessyn.Vetiveria zizanioides, Andropogon zizanioides)
adalah sejenis rumput yang berasal dari India. Tumbuhan ini dapat tumbuh
sepanjang tahun, dan dikenal orang sejak lama sebagai sumber wangi-wangian.
Tumbuhan ini termasuk dalam famili Poaceae, dan masih sekeluarga dengan
serai atau padi. Pertumbuhan tanaman ini dapat mencapai tingg 1,5 m dan hidup
berkoloni padat. Memiliki bunga berwarna ungu-kecokelatan dan termasuk dalam
tanaman growthfrom atau dapat tumbuh diberbagai kondisi lingkungan. Ciri
morfologi tanaman ini adalah memiliki batang berukuran panjang, daun sejajar
dan tipis serta agak ripih.

46
3.8.6 Kiapu (Pistia Stratiotes)
Adapun klasifikasi tanaman kiapu adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Filum : Magnoliophyta
Klas : Liliopsida
Ordo : Arales
Famili : Araceae
Genus : Pistia
Spesies : Pistia Stratiotes

Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2017


Gambar 3.10. Kiapu (Pistia Stratiotes)

Kiapu (Pistia Stratiotes) merupakan tumbuhan yang hidup mengapung


dipermukaan air yang tenang atau air yang mengalir dengan aliran yang pelan.
Daunnya merupakan daun tunggal dan ujung daun membulat namun pangkal daun
runcing, tepi daun berlekuk-lekuk dan ditutupi dengan rambut tebal dan lembut.
Panjang daun sekitar 2-10 cm sedangkan lebar daun sekitar 2-6 cm. Rambut-
rambut akarnya membentuk suatu struktur berbentuk seperti keranjang dan
dikelilingi gelembung udara, sehingga meningkatkan daya apung tumbuhan itu.
Akar dapat tumbuh panjang hingga mencapai 80 cm.

3.8.7 Eceng gondok (Eichhornia crassipes)


Kingdom : Plantae
Filum : Magnoliophyta

47
Klas : Liliopsida
Ordo : Commelinales
Famili : Pontederiaceae
Genus :Eichhornia
Spesies : E. crassipes

Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2017


Gambar 3.11. Eceng Gondok (Eichhornia crassipes)

Eceng gondok hidup mengapung di air dan kadang-kadang berakar dalam


tanah. Tingginya sekitar 0,4 - 0,8 meter. Tidak mempunyai batang. Daunnya
tunggal dan berbentuk oval. Ujung dan pangkalnya meruncing, pangkal tangkai
daun menggelembung. Permukaan daunnya licin dan berwarna hijau. Bunganya
termasuk bunga majemuk, berbentuk bulir, kelopaknya berbentuk tabung. Bijinya
berbentuk bulat dan berwarna hitam. Buahnya kotak beruang tiga dan berwarna
hijau. Akarnya merupakan akar serabut. Eceng gondok tumbuh di kolam-kolam
dangkal, tanah basah dan rawa, aliran air yang lambat, danau, tempat
penampungan air dan sungai. Tumbuhan ini dapat beradaptasi dengan perubahan
yang ekstrem dari ketinggian air, arus air, dan perubahan ketersediaan nutrien, pH,
temperatur dan racun-racun dalam air. Pertumbuhan eceng gondok yang cepat
terutama disebabkan oleh air yang mengandung nutrien yang tinggi, terutama
yang kaya akan nitrogen, fosfat dan potasium (Laporan FAO). Kandungan garam
dapat menghambat pertumbuhan eceng gondok seperti yang terjadi pada danau-
danau di daerah pantai Afrika Barat, di mana eceng gondok akan bertambah
sepanjang musim hujan dan berkurang saat kandungan garam naik pada musim
kemarau.

48
Walaupun eceng gondok dianggap sebagai gulma di perairan, tetapi
sebenarnya ia berperan dalam menangkap polutan logam berat. Rangkaian
penelitian seputar kemampuan eceng gondok oleh peneliti Indonesia antara lain
oleh Widyanto dan Susilo (1977) yang melaporkan dalam waktu 24 jam eceng
gondok mampu menyerap logam kadmium (Cd), merkuri (Hg), dan nikel (Ni),
masing- masing sebesar 1,35 mg/g, 1,77 mg/g, dan 1,16 mg/g bila logam itu tak
bercampur. Eceng gondok juga menyerap Cd 1,23 mg/g, Hg 1,88 mg/g dan Ni
0,35 mg/g berat kering apabila logam-logam itu berada dalam keadaan tercampur
dengan logam lain. Lubis dan Sofyan (1986) menyimpulkan logam chrom (Cr)
dapat diserap oleh eceng gondok secara maksimal pada pH 7. Dalam
penelitiannya, logam Cr semula berkadar 15 ppm turun hingga 51,85 persen.

3.10. Kolam Pengendapan Lumpur (Setting Pond) IUP TAL


Kolam pengendapan adalah suatu daerah yang dibuat khusus untuk
menampung air limpasan sebelum dibuang langsung menuju dearah pengaliran
umum. Sedangkan kolam pengendapan untuk daerah penambangan adalah kolam
yang dibuat untuk menampung dan mengendapkan air limpasan yang berasal dari
daerah penambangan. Nantinya air yang telah sesuai dengan baku mutu tersebut
akan dibuang menuju tempat penampungan air umum seperti sungai, maupun
danau.
Kolam pengendapan berfungsi untuk mengendapkan lumpur-lumpur atau
material padatan yang bercampur dengan air limpasan yang disebabkan adanya
aktivitas penambangan maupun karena erosi. Setiap kolam pengendapan lumpur
ada selalu ada 4 zona penting yang terbentuk karena proses pengendapan material
padatan. Keempat zona itu adalah sebagai berikut :
1. Zona masukan
Adalah tempat masuknya aliran air berlumpur kedalam kolam pengendapan
dengan anggapan campuran antara padatan dan cairan terdistribusi secara merata.
2. Zona pengendapan
Tempat dimana partikel akan mengendap, materian padatan disini akan
mengalami proses pengendapan disepanjang saluran masing-masing ceck dam.
3. Zona endapan lumpur

49
Tempat dimana partikel padatan dalam cairan mengalami sedimentasi dan
terkumpul pada bagian bawah saluran pengendap.
4. Zona keluar
Tempat keluarnya buangan cairan yang relatve bersih, zona ini terletak pada akhir
saluran.
PT. Bukit Asam (Persero), Tbk memiliki 27 unit kolam pengendapan
lumpur (KPL) yang tersebar di semua IUP Tambang Air Laya (TAL), IUP Muara
Tiga Besar (MTB), dan IUP Banko Barat. Kolam Pengendap Lumpur yang
termasuk pada wilayah IUP Tambang Air Laya adalah sebagai berikut:

3.10.1. KPL Stockpile 1


KPL Stockpile 1 mempunyai luas 3,7 Ha dan sumber tangkapan air
(Catchment area) seluas 34 Ha dengan daya tampung maksimal 35.000 m3.
Sumber air yang masuk ke kolam pengendapan lumpur stockpile 1 berasal dari
aliran air keramba ikan yang mengalir masuk ke Inlet 2 KPL Stockpile 1,
sedangkan inlet 1 mendapatkan sumber airnya dari sisa penyiraman batubara pada
Stockpile, hasil coal handling facility, air larian penyiraman jalan, air penyiraman
utility pada pembersihan belt conveyor yang mengandung sulfur sehingga
meyebabkan pH air menjadi turun.
KPL Stockpile 1 mempunyai total keseluruhan 11 kolam dan satu saluran
titik penaatan. Pada kompartemen pertama sampai kompartemen ke 3 pada KPL
stockpile 1 ini merupakan kolam pengendapan lumpur. Hal ini dalam perencanaan
pengelolaan lingkungan tambang PT. Bukit Asam (Persero), Tbk dibuat untuk
memberi kesempatan material-material tersuspended seperti mineral lumpur,
debu, partikel-partikel batubara yang terbawa setelah kegiatan penyiraman untuk
mengendap. Selanjutnya pada kompartemen ke 4 hingga kompartemen ke 9
merupakan pengendalian air asam tambang berupa media Wetland secara biogenic
dengan pemanfaatkan kemampuan akar kiambang dan vetiferia untuk menyerap
unsur logam berat seperti Fe dan Mn. Adapun sketsa dari KPL stockpile 1 dapat
dilihat seperti gambar dibawah ini :

50
Sumber : Dokumentasi Perusahaan, 2017
Gambar 3.12. KPL Stockpile 1

3.10.2. KPL Saluran Air Laya Putih


KPL Saluran Air Laya Putih merupakan salah satu kolam pengendapan
lumpur di PT. Bukit Asam (Persero), Tbk yang menggunakan metode active
treatment sebagai metode pengendalian air asam tambang agar sesuai dengan
Baku Mutu Lingkungan Hidup yaitu dengan cara pemberian kapur tohor tiap 3
jam sekali dalam 24 jam.
KPL Saluran Air Laya Putih memiliki luas 0,6 Ha dengan kapasitas 6000
m3 , dengan area tangkap 285 Ha, dan kedalaman kolam pengendapan lumpur 6
meter dan volume kolam adalah 1569,6 m3. Pada saluran ALP pengapuran
dilakukan secara rutin disebabkan sumber air langsung berasal dari galian Pit
TAL. Selanjutnya proses pengapuran dilakukan dengan metode aktif
menggunakan kapur tohor. Pengapuran menggunakan bak pengaduk kapur
memiliki volume 37,000 liter.

51
Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2017
Gambar 3.13. KPL ALP

Air yang telah melewati proses pengapuran dialirkan kembali ke kolam


pengontrol sehingga terjadi pencampuran antara air asam yang diberi kapur dan
air asam tanpa diberi kapur. Air asam yang masuk pada pH 4 sampai 5 kemudian
masuk ke dalam proses pengapuran dengan menggunakan mesin pengaduk
(mixer). Kemudian air dialirkan menuju titik penaatan. Pada saluran ALP
dipasang batuan dengan jarak tertentu, batuan ini berfungsi untuk membantu
proses torbulensi alami agar air asam yang telah bercampur dengan kapur teraduk
kembali dan menjadi lebih homogen. Setelah melalui proses pengapuran air asam
yang akan dibuang ke Sungai Enim telah mencapai pH 6 sampai 9 sesuai dengan
baku mutu lingkungan hidup Peraturan Gubernur Sumatera Selatan No 8 Tahun
2012.
Jika dilakukan konsentrasi kapur dilakukan dengan melihat volume yang
dimiliki setiap lumpur maka :
Volume 1 kolam lumpur pengendapan lumpur = 1569,6 m3
1 Kg kapur dapat menetralkan = 15,386 m3
1569,6 𝑚3
Jadi, 1 kolam pengendapan lumpur dapat menetralkan = 15,385 𝑚3

= 102,021 Kg kapur.

PT. Bukit Asam (Persero), Tbk memiliki satu buah mixer pengaduk
kapur di wilayah IUP TAL yaitu Mixer di SAL ALPdengan ukuran diameter 5
meter, kadalaman 2,3 meter dan bervolume 45137,5 liter. Pemberian kapur tohor
pada KPL ini diberikan setiap tiga jam sekali selama 24 jam dengan ketentuan
tiga karung yang berisi 40 Kg kapur tohor per-karungnya. Air kapur yang telah

52
mengalami proses pengadukan di mixer ini lalu dialirkan ke air asam tambang
dengan satu buah pipa panjang yang diberi lubang kecil di setiap bagiannya. Hal
ini dibuat agar kapur dapat menyebar dengan menyeluruh di saluran air asam
tambang dan nilai pH air asam tambang dapat sesuai dengan Standar Baku Mutu
Lingkungan Hidup.

3.11. Kriteria Baku Mutu Air


Baku mutu air adalah ukuran batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi
atau komponen yang ada tau harus ada dan atau unsur pencemar yang ditenggang
keberadaannya di dalam air. Untuk itu kualitas air tetep terjaga maka setiap
kegiatan yang menghasilkan limbah cair yang akan dibuang ke perairan umum
atau sungai harus memenuhi standar baku mutu atau kriteria mutu air sungai yang
dan menjadi tempat pembuangan limbah cair tersebut, sehingga kerusakan air atau
pencemaran air sungai dapat dihindari atau dikendalikan.
Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 tahun 2001 tentang
Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air menyebutkan bahwa
klasifikasi mutu air ditetapkan menjadi 4 (empat) kelas yaitu :
1. Kelas Satu :Air yang peruntukkannya dapat digunakan untuk air baku
air minum atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama
dengan kegunaan tersebut.
2. Kelas Dua :Air yang diperuntukkan dapat digunakan untuk sarana
rekreasi air, pembudidayakan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi
pertanaman dan peruntukkan lain yang sama dengan kegunaan tersebut.
3. Kelas Tiga :Air yang peruntukkannya dapat digunakan untuk
pembudayaan air ikan, peternakan, air untuk mengairi pertanaman, dan
peruntukan lain yang sama dengan kegunaan tersebut.
4. Kelas Empat :Air yang peruntukkannya dapat digunakan untuk mengairi
pertanaman atau peruntukan lain yang sama dengan kegunaan tersebut.
Dalam kegitan penambangan batubara, pemerintah telah menetapkan Baku Mutu
Lingkungan Cair Tambang Batubara melalui keputusan menteri Lingkungan
Hidup Nomor 113 tahun 2003 tentang baku mutu air limbah bagi usaha atau

53
kegiatan pertambangan batubara pada pasal 2 ayat (1). Parameter yang diamati
antaranya adalah pH, TSS, kadar Fe total dan kadar Mn total.

Tabel 3.2. Parameter dan Baku Mutu untuk pH, TSS, Logam Fe dan Mn pada Air
Asam Tambang
Parameter Satuan Kadar Maksimum
pH 6-9
TSS Mg/l 400
Fe Mg/l 7
Mn Mg/l 4
( Sumber : Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 113, 2003 )

a. pH
pH adalah derajat keasaman yang digunakan untuk menyatakan tingkat
keasaman atau kebasaan yang dimiliki oleh suatu larutan. Ia didefinisikan sebagai
kologaritmaaktivitasion hidrogen (H+) yang terlarut. Air murni bersifat netral,
dengan pH-nya pada suhu 25 °C ditetapkan sebagai 7,0. Larutan dengan pH
kurang daripada tujuh disebut bersifat asam, dan larutan dengan pH lebih daripada
tujuh dikatakan bersifat basa atau alkali.
b. TSS
Total Suspended Solid atau padatan tersuspensi total (TSS) adalah residu
dari padatan total yang tertahan oleh saringan dengan ukuran partikel maksimal
2μm atau lebih besar dari ukuran partikel koloid. Yang termasuk TSS adalah
lumpur, tanah liat, logam oksida, sulfida, ganggang, bakteri dan jamur. TSS
umumnya dihilangkan dengan flokulasi dan penyaringan.
c. Mangan (Mn)
Logam Mangan (Mn) adalah logam berwarna abu-abu keputihan yang
mempunyai sifat mudah retak, mudah terosidasi, dan merupakan logam keras.
Mangan termasuk unsur logam golongan VII yang memiliki berat atom 54,93
dengan titik lebur 1247℃ dan titik lebur 2032 ℃. Konsentrasi mangan biasanya
jurang dari 0,1 mg/l.
d. Logam besi (Fe)

54
Besi (Fe) merupakan logam transisi dan memiliki nomor atom 26. Fe
memiliki berat atom 55,845 g/mol dengan titik leleh 1.538℃ dan titik didih
2.861℃. Didalam air mineral yang sering ditemuakan dalam jumlah besar adalah
kandungan besi (Fe)

3.12. Jadwal Kegiatan


Adapun jadwal kegiatan kerja praktek yang telah dilaksanakan pada tanggal 13
Februari – 13 Maret 2017 adalah sebagai berikut :

Tabel 3.3. Jadwal Kegiatan Kerja Praktek


Minggu
Kegiatan 1 2 3 4
Administrasi, Induksi dan K3
Orientasi Lapangan
Pengumpulan Data di Lapangan
Penyusunan Laporan

55
BAB IV
TUGAS KHUSUS
“Penanganan Air Asam Tambang dengan Metode Active Treatmentdi Kolam
Pengendap Lumpur Suban oleh Pengelolaan Lingkungan PT. Bukit Asam
(Persero), Tbk.

4.1. Latar Belakang


Active treatment adalah metode pengelolaan air asam tambang dengan
menggunakan bahan-bahan aktif yang secara langsung dapat mengubah kualitas
air asam tambang sesuai dengan baku mutu sebelum dikeluarkan ke daerah aliran
sungai. Sedangkan Passive Treatment adalah metode yang digunakan untuk
mengelola air asam tambang menjadi sesuai baku mutu dengan bahan yang
melibatkan proses biologi, geokimia, dan gravitasi yaitu dengan menggunakan
metode wetland. Lahan wetland merupakan lahan basah baik alami atau buatan
yang bervegetasi tanaman-tanaman air yang memiliki kemampuan menyerap
logam-logam berat di air. Adapun kegunaan dari kedua metode ini yaitu untuk
menghasilkan air dengan baku mutu yang sesuai dengan klasifikasi Baku Mutu
Lingkungan Peraturan Gubernur Sumatera Selatan No 8 Tahun 2012.

4.2. Permasalahan
Dalam penyusunan laporan ini akan membahas kinerja dalam Metode
Active Treatment. Hal ini diambil untuk lebih memperjelas proses kinerja metode
tersebut dalam menangani air asam tambang

4.3. Tujuan
Tujuan dari dilakukannya penelitian penanganan air asam tambang
dengan Metode Active Treatment dan yaitu untuk mengetahui seberapa besar
pengaruh kapur tohor sebagai penetralisir pH, TSS, Besi(Fe), Mangan(Mn). pada
air asam tambang sebelum dan sesudah dilakukan penanganan.

56
4.4. Metode Pengambilan Data
Dalam melaksanakan kegiatan di KPL Suban, penulis melakukan
pengambilan data yang mencangkup data primer dan data sekunder.
4.4.1Data Primer
Data primer merupakan data yang diperoleh secara langsung dari hasil
pengamatan dilapangan, adapun data-data yang diambil, antara lain :
1. Data Pengolahan Air Asam Tambang: Merupakan cara serta sistem yang
digunakan dalam pengolahan air asam tambang sehingga Ph air nya bagus dan
dapat di alirkan ke sungai.
2. Data Jar test: Data yang didapat dari pengecekan pH menggunakan alat
pengecek Ph digital (Jar Test) setelah di lakukan pemberian kapur tohor maupun
sebelum di lakukan pemberian kapur tohor.
4.4.2 Data Sekunder
Berupa data pendukung yang berhubungan dengan pengamatan hasil
observasi orang lain, laporan-laporan teknik, maupun hasil publikasi terdahulu.
Adapun data-data tersebut, antara lain :
1. Curah Hujan
2. Literatur
3. layout Tambang
4. Profil PerusahaanSHU

4.5. Kondisi Awal Sampel Uji pH


4.5.1 Hasil Uji Pertama pH pada Inlet di KPL Suban
Pada penelitian ini telah dilakukan uji sampel kondisi awal pH pada KPL
Suban di PT Bukit Asam, Tbk. Sampel uji dilakukan pada inlet saluran KPL
Suban dilakukan pada tanggal 17 Februari 2017. Sampel uji yang digunakan
dalam penelitian ini diambil sebanyak 10 liter menggunakan derigen ukuran 10 L.
Selanjutnya, sampel langsung dibawah kelaboratorium untuk dilakukan tes uji
sampel pH. Berikut hasil uji sampel kondisi awal pH pada inlet saluran KPL
Suban dapat dilihat pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1 Hasil Penelitian Pertama Kondisi Awal pH pada Inlet Saluran KPL
Suban dengan Uji Jar Test (dalam penentuan dosis kapur).

57
pH setelah kontak
Dosis
Volume
No pH Awal Kapur
Sampel
(gram) 5 10 30 menit 60 menit
menit menit
1. 5,13 0.05 1000/ml 6.15 7.50 7.30 8.30
2. 5,13 0.07 1000/ml 7.99 7.20 7.40 8.40
3. 5,13 0.10 1000/ml 8.00 7.40 8.10 8.80
Sumber : Hasil Penelitian Lapangan di PT Bukit Asam,Tbk, Februari 2017

Pada penelitian ini kondisi awal pH pada inlet saluran KPL Suban yang
digunakan adalah sebesar 5.13. Kondisi pH awal tersebut mengindikasikan bahwa
kualitas air asam tambang belum memenuhi baku mutu lingkungan. Oleh karena
itu, perlu dilakukan proses pencampuran kapur agar dapat memenuhi kualitas pH
yang sesuai dengan baku lingkungan. Berdasarkan hasil penelitian pada Tabel 4.1
dapat dilihat bahwa setelah dilakukan pengujian menggunakan kapur perubahan
pH sangat signifikan. Hasil pH terkecil sebesar 6.15 dengan waktu uji selama 5
menit dan dosis kapur yang digunakan sebanyak 0,05 gram sedangkan pH terbesar
yaitu sebesar 8.80 dengan waktu uji sampel selama 60 menit dan dosis kapur yang
digunakan sebanyak 0.10 gram. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas pH tersebut
telah memenuhi baku mutu lingkungan karena hasilnya memenuhi kriteria yaitu
berkisar antara 6-9 sehingga dapat dialirkan langsung ke badan sungai.
Hal ini menunjukkan bahwa kualitas pH tersebut telah memenuhi baku
mutu lingkungan karena hasilnya memenuhi kriteria SK PERGUB No. 08 Tahun
2012 tentang pertambangan batu bara dan SK PERGUB No. 16 Tahun 2005
tentang baku mutu air sungai yaitu berkisar antara 6.0- 9.0. Dapat disimpulkan
bahwa kondisi awal inlet dan outlet pada saluran KPL Suban hasil pengujiannya
sangat signifikan dengan menggunakan kapur untuk menaikkan kualitas pH.
Berdasarkan hasil keduanya juga telah memenuhi kriteria baku mutu lingkungan.

4.5.2. Hasil Uji Kedua pH pada Inlet di KPL Suban


Pada penelitian ini telah dilakukan dua kali pengujian sampel kondisi
awal pH pada KPL Suban di PT Bukit Asam, Tbk pada tanggal 09 Maret 2017.
Tujuannya adalah untuk melihat perbandingan hasil penelitian sebelumnya

58
dengan penelitian kedua mengenai uji pH air asam tambang pada inlet dan outlet
dengan tingkat dosis kapur tohor dan kondisi awal pH yang berbeda dari
pengujian sebelumnya. Berikut hasil penelitian kedua uji kondisi air awal pH pada
inlet Saluran KPL Suban pada Tabel 4.2.
Tabel 4.2 Hasil Penelitian Kedua Kondisi Awal pH pada Inlet Saluran KPL
Suban dengan Uji Jar Test (dalam penentuan dosis kapur).
pH setelah kontak
Dosis
Volume
No pH Awal Kapur
Sampel
(gram) 5 10 30 menit 60 menit
menit menit
1. 5,00 0,04 1000/ml 5,56 6,28 7,46 8,23
2. 5,00 0,06 1000/ml 6,13 6,57 7,63 8,51
3. 5,00 0,10 1000/ml 6,67 6,91 7,78 8,92
Sumber : Hasil Penelitian Lapangan di PT Bukit Asam,Tbk, Februari 2017

Berdasarkan hasil uji kedua kondisi awl pH pada inlet dan outlet di KPL
Suban tidak memenuhi standar baku mutu lingkungan dapat dilihat pada Tabel
4..3 dan Tabel 4.4 dimana kondisi awal pH pada inlet di KPL Suban adalah
sebesar 5,00. Hal ini menunjukkan bahwa hasil tersebut dibawah standar pH <6
artinya belum dapat dialirkan ke badan sungai. Oleh karena itu, perlu dilakukan
penanganan pH air asam tambang dengan cara mencampurkan kapur tohor.
Setelah dilakukan pencampuran kapur tohor dengan dosis yang berbeda-beda
dapat dilihat bahwa hasilnya signifikan dimana semakin meningkatkan dosis yang
ditambahkan serta semakin lamanya waktu pengadukan dengan menggunakan jar
test hasilnya sangat efektif dan memenuhi standar baku mutu lingkungan.
Jika dibandingkan dengan uji penelitian sebelumnya dimana pencampuran
dengan menggunakan kapur tohor juga sangat efektif. Perbedaanya dari kedua
penelitian ini adalah kondisi awal inlet sampel kedua jauh dibawah pH inlet
pertama dimana pH sampel inlet kedua berkisar 5,0 sehingga pencampuran kapur
tohor pada inlet di KPL Suban harus dilakukan penanganan dan pengecekan pH
air asam tambang yang lebih ekstra agar dapat menghasilkan air yang memenuhi
baku mutu lingkungan yang dapat dialirkan ke badan sungai.

59
4.6. Kondisi Awal Sampel Uji TSS, Fe, dan Mn
Sampel uji yang digunakan dalam peneltian ini dilakukan pada inlet dan
oulet dari KPL Suban di Tambang Air Laya. Pengambilan sampel pertama
dilakukan pada tanggal 17 Februari 2017 dan pengambilan sampel kedua pada
tanggal 09 Maret 2017. Sampel uji yang digunakan dalam penelitian TSS diambil
sebanyak 100 ml sedangkan sampel uji Fe dan Mn sebanyak 100 ml, namun
dilakukan lagi proses reduksi sehingga volume larutan menurun menjadi 50 ml,
tetapi dilakukan lagi pencampuran aquades hingga volume larutan mencapai 100
ml. Berikut hasil penelitian uji penelitian sampel uji TSS, Fe dan Mn dapat dilihat
pada Tabel 4.3.
Tabel 4.3 Hasil Penelitian Pertama TSS, Fe, dan Mn pada Inlet dan Outlet
Saluran KPL Suban di Tambang Air Laya.
Lokasi Dosis Hasil Pengujian Keterangan
Kapur
(gram) TSS Fe Mn
- 179 3.4378 9.4813 Inlet Awal
0.05 180 3.6998 7.6947 Inlet Jartest 1

0,07 333 7.6720 6.3679 Inlet Jartest 2


KPL
Suban 0,10 136 2.5424 7.3031 Inlet Jartest 3

- 23 1.5363 7.1425 Outlet Awal

0,01 18 4.5442 7.5673 Outlet Jartest 1

0,02 16 1.0046 6.9817 Outlet Jartest 2

0,04 82 3.0449 7.6216 Outlet Jartest 3

Sumber : Hasil Penelitian Lapangan di PT Bukit Asam,Tbk, Februari 2017

Berdasarkan Tabel 4.3 dapat dilihat bahwa hasil penelitian menunjukan


bahwa perubahan TSS, Fe, dan Mn mengalami penurunan setelah dicampurkan
dengan kapur tohor. Pada hasil uji TSS dan Fe setelah dilakukan pencampuran
kapur hasilnya sesuai dengan standar SK PERGUB NO. 8 Tahun 2012 tentang
pertambangan batu bara yaitu standar TSS berkisar antara ≤ 300 dan standar Fe
berkisar antara ≤ 7,0000. Akan tetapi, pada Inlet jartest 2 hasil uji penelitian TSS

60
dan Fe belum sesuai dengan standar yaitu TSS dan Fe sebesar 333 dan
7,6720.Sedangkan pada hasil uji Mn setelah dilakukan pencampuran dengan
kapur tohor hasilnya tidak sesuai dengan standar SK PERGUB NO. 8 Tahun 2012
tentang pertambangan batu bara. Hal ini dikarenakan kapasitas kapur tohor tidak
bisa menurunkan Mn dengan signifikan. Penurunan Mn dapat dilakukan dengan
metode pasif yaitu dengan menggunakan tanaman yang dapat menurunkan Mn
secara signifikan.
Selanjutnya, penelitian kedua untuk uji TSS, Fe, dan Mn dilakukan pada
tanggal 9 Maret 2017. Pengujian kedua ini dilakukan tujuannya adalah untuk
melihat perbandingan dengan pengujian pertama. Adapun hasil penelitian kedua
uji sampel TSS, Fe dan Mn dapat dilihat pada Tabel 4.4.
Tabel 4.4Hasil Penelitian Kedua TSS, Fe, dan Mn pada Inlet dan Outlet Saluran
KPL Suban di Tambang Air Laya.
Lokasi Dosis Hasil Pengujian Keterangan
Kapur
(gram) TSS Fe Mn
- 36 0.5304 9.1466 Inlet Awal
0.04 59 0.9530 8.5568 Inlet Jartest 1

0,06 82 0.3527 8.2569 Inlet Jartest 2


KPL
Suban
0,10 125 1.2614 8.7898 Inlet Jartest 3

- 31 0.6071 9.0993 Outlet Awal

0,03 50 0.5835 8.1151 Outlet Jartest 1

0,05 54 1.0332 9.0695 Outlet Jartest 2

0,06 72 1.2855 9.3787 Outlet Jartest 3

Sumber : Hasil Penelitian Lapangan di PT Bukit Asam,Tbk, Maret 2017

Berdasarkan hasil penelitian dapat dilihat pada Tabel 4.6. menunjukkan


bahwa hasil uji sampel TSS dan Fe sangat baik dan sudah sesuai dengan standar
SK PERGUB NO. 8 Tahun 2012 tentang pertambangan batu bara. Artinya,
pencampuran dosis kapur tohor telah sesuai dan dapat menurunkan kandungan

61
TSS dan Fe. Akan tetapi, pada penelitian kedua untuk uji Mn hasilnya sama juga
dengan penelitian pertama dimana hasilnya masih tidak sesuai dengan standar SK
PERGUB NO. 8 Tahun 2012 tentang pertambangan batu bara.Hal ini disebabkan
karena kapur tohor tidak bisa menurunkan Mn dengan signifikan. Penurunan Mn
dapat dilakukan dengan metode pasif yaitu dengan menggunakan tanaman yang
dapat menurunkan Mn secara signifikan.

4.7. Pemanfaatan Air Asam Tambang


Air asam tambang merupakan salah satu limbah cair yang dihasilkan dari
proses penambangan, air asam tambang pada umumnya mengandung zat-zat yang
berbahaya bagi lingkungan maupun manusia sehingga membutuhkan proses untuk
mengolah air asam tambang agar dapat di manfaatkan dengan baik. Meskipun air
asam tambang merupakan limbah berbahaya tetapi volume yang dialirkan cukup
besar sehingga memerlukan penanganan yang baik.
Di PT.Bukit Asam, Tbk air asam tambang sendiri dapat dimanfaatkan
sebagai sumber air kelas 1, kelas 2, kelas 3, dan kelas 4. Tetapi untuk
memanfaatkannya diperlukan proses agar pemanfaatan air asam tambang sebagai
air bersih bisa digunakan dengan baik.
1. Air sumber kelas 1
Air kelas 1 adalah air yang digunakan untuk keperluan sanitasi, rekreasi
air, dan peruntukkan lain yang mempersyaratkan baku mutu yang sama dengan
kegunaan tersebut. Di PT. Bukit Asam (Persero), Tbk. Selama ini unutk keperluan
sanitasi mengambil air dari sungai yang kemudian dilakukan treatment di WTP
(Water Treatment Plant),biaya yang dikeluarkan untuk mengambil air dari sungai
cukup besar sehingga apabila air asam tambang dapat dimanfaatkan sebagai
sumber air kelas 1 maka dapat menekan biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan.
Untuk dimanfaatkan sebagai sumber air kelas 1 perlu dibuat water
treatment plant dimana pada water plant ini akan dilakukan pengolahan air asam
tambang yang telah sesuai baku mutu untuk dibuang ke sungai menjadi air kelas
1. Bisa dilihat pada Bagan Alir 4.1. dimana proses pengolahan air baku menjadi
air bersih yang kemudian siap untuk di alirkan.

62
Berikut mekanisme proses pengolahan air baku menjadi air bersih di PT Bukit
Asam, Tbk dapat dilihat pada Bagan Alir 4.1.

Air Baku dari kali Enim

Prasedimentasi

Bak Pengaduk Cepat

( Dicampurkan Tawas )

Bak Pengaduk Lama

(Flokulator)

Bak Pengendapan

(Sedimentasi)

Penyaringan

(Filter)

Backwash

Reservoir

Bak Kontrol

63
Bagan Alir 4.1 Mekanisme Proses Pengolahan Air Baku Menjadi Air Bersih

Pada bagan alir 4.1 dapat dilihat proses pengolahan air baku menjadi air
bersih, air yang berasal dari sungai kali Enim diambil untuk di masukkan kedalam
proses prasedimentasi yang merupakan tempat penampungan sementara. Pada
proses prasedimentasi air yang baru diambil dari sungai dialirkan langsung ke
dalam bak pengaduk cepat yang dicampurkan dengan kandungan tawas.
Kemudian air diproses ke bak pengaduk lama (flakulator) tujuannya untuk
mengikat kadar lumpur sebelum memasuki proses bak pengendapan
(sedimentasi). Selanjutnya, air yang telah masuk kedalam bak pengendapan
(sedimentasi) dilakukan pula proses penyaringan (filter) dan Backwash
(penyaringan lumpur), pada dua proses ini terdapat pasir kuarsa dan batu koral
yang berfungsi untuk menghambat lumpur yang terdapat didalam air agar
mendapatkan kualitas air yang baik. Air yang telah disaring tersebut langsung
diproses pada bak kontrol untuk dicampurkan dengan kaporit tujuannya untuk
menghilangkan bakteri. Pada tahap terakhir adalah proses reservoir dimana air
yang telah bersih siap dikirimkan untuk dapat digunakan oleh para konsumen
yang ada di lingkungan PT Bukit Asam (Persero), Tbk.

64
Sumber : Dokumentasitasi Perusahaan, 2017
Gambar : 4.16 Alur Pengolahan Air Kelas 1 dari WTP

2. Sumber air kelas 2


Air kelas 2 merupakan air yang diperuntukan untuk budidaya
ikanpeternakan dan penyiraman tanaman dan di peruntukan lain yang
mempersyaratkan sesuai baku mutu yang sama dengan kegunaan tersebut. Untuk
di KPL stockpile 1 air asam tambang dapat di manfaatkan sebagai air untuk
tambak ikan. Selain dapat mengurangi beban limbah cair yang dibuang ke
sungai,langkah ini juga dapat meningkatkan value perusahaan. Untuk
dimanfaatkan sebagai air kelas 2 air yang ada di kompartemen terakhir sebelum
titik penataan dipompakan menuju tempat penampungan recycle air asam
tambang dan dipompakan kembali menuju tambak.
3. Sumber air bersih kelas 3 dan 4

65
Air kelas 4 merupakan air yang digunakan untuk proses penyiraman debu,
penyiraman tanaman dan diperuntukan untuk mempersyaratkan baku mutu yang
sama dengan kegunaan tersebut. Untuk dimanfaatkan sebagai air kelas 4,air asam
tambang di area tambang air laya terdapat di KPL stockpile 1 dimana pengisisan
air melalui water tank hanya dilakukan di KPL stockpile 1 karena letak lokasi
KPL memungkinkan untuk melakukan pengisian air melalui water tank. Air
sumber kelas 4 di KPL stockpile 1 tidak perlu penanganan khusus karena
persyaratan air kelas 4 adalah 5-9, Turbidity 2000 mg/1 dan TSS 400 mg/1.
Sedangkan kualitas air asam tambang yang berada di KPL stockpile 1 berdasarkan
SHU (Sertifikat Hasil Uji) air bulan Januari-Februari 2017 telah memenuhi
persyaratan tersebut.
Untuk pemanfaatan air di KPL stockpile 1 sebagai sumber air kelas 4
difokuskan untuk mensuplai air untuk penyiraman debu di area tambang atau
tempat pengisian air (water filling). Penyiraman debu tambang mejadi hal yang
sangat penting dalam operasional tambang, karena intensitas debu yang ada di
tambang cukup tinggi sehigga perlu dilakukan penanganan debu dengan cara
melakukan penyiraman secara berkala.
KPL stockpile 1 menjadi solusi sebagai tempat pengisian air untuk
penyiraman debu tambang, karena KPL stockpile 1 satu-satunya yang bisa
melakukan pengisian air melalui water tank dikarenakan KPL yang ada di TAL
yang lain mempunyai akses yang bisa di lalui water tank. Terlebih jarak pit
tambang air laya dengan KPL stockpile 1 cukup dekat, air yang berasal dari kolam
nantinya akan dipompakan menuju water tank menggunakan pipa besi. Air yang
akan diambil dari kompartemen pertama KPL stockpile 1.
Water tank yang digunakan mempunyai kapasitas 20000 L, pengisian
diusahakan dilakukan dalam waktu 15 menit. Instalasi pengisian water tank ini
dapat digunakan untuk pengisian 2 water tank.

66
Sumber : Dokumentasitasi Pribadi, 2017
Gambar 4.17 Water Tank

67
BAB V
PENUTUP

5.1. KESIMPULAN
Adapun kesimpulan dari kerja praktek yang dilakukan di PT. Bukit Asam
(Persero), Tbk adalah sebagai berikut:
1. Air Asam Tambang terbentuk dari proses galian (mine sump), Stockpile,
Timbunan, dan TLS. AAT timbul akibat mineral sulfida terpapar dengan oksigen
dan air.
2. Penanganan Air Asam Tambang dilakukan dengan dua metode yaitu active
treatment dan pasive treatment. Penggunaan Kapur Tohor (CaO), Kuriflock PC-
702 dan ph Adjuster termasuk kedalam metode active treatment.Metode passive
treatment dilakukan dengan menggunakan weetland dan floating system.Tanaman
yang digunakan pada lahan wetland adalah Kiambang, Kiapu, Eceng Gondok dan
Vetiveria.
3. Air Asam Tambang yang telah melewati metode active treatment dan pasive
treatmentmenghasilkan air dengan baku mutu yang sesuai klasifikasiBaku Mutu
Lingkungan Peraturan Gubernur Sumatera Selatan No 8 Tahun 2012.

5.2. SARAN
Adapun saran yang diberikan pada saat pelaksanaan kerja praktek ini
adalah sebagai berikut :
1. Sebaiknya penanaman tumbuhan yang lebih dominan dalam menyerap
logam berat lebih di maksimalkan lagi. Dan penambahan jumlah floating system.
2. Sebaiknya tanaman liar di KPL dapat lebih diperhatikan terutama dibagian
inlet KPL Stockpile 1.
3. Bahan kimia yang efektif dan efisien untuk digunakan di KPL stockpile 1
adalah kapur tohor namun akan lebih baik bila diletakan mixer agar dapat
mempermudah menghomogenkan kapur tersebut. Hal tersebut juga dapat
menambah nilai ekonomis karena tidak banyak kapur yang terendap di dasar KPL

68
DAFTAR PUSTAKA

69
LAMPIRAN

70
Pengukaran pH outlet di Papan Pengukuran pH Harian di
KPL Stockpile 1 KPL Stockpile 1

Stick pengukur debit air di pH adjaster di KPL Stockpile 1


KPL Stockpile 1

Lahan Wetland Kiambang Lahan Wetland Enceng Gondok di


Di KPL Stockpile 1 KPL Stockpile 1

71
Lahan Wetland Rumput Akar Wangi Kiambang yang telah terpakai
Di KPL Stockpile 1

Instalasi Kuriflock di Saluran Air Kapur di


KPL Stockpile KPL ALP

Papan Pengukuran pH Harian di


Mixer Pengaduk Kapur di
KPL ALP
KPL ALP

72
Stick Debit Air di KPL ALP

73

Anda mungkin juga menyukai