Anda di halaman 1dari 3

A.

Latar Belakang
Indonesia merupakan negara tropis sehingga kaya akan sumber daya alam yang
tersedia termasuk kekayaan flora dan fauna. Indonesia sebagai negara tropis yang
menjadikannya negara agraris tidak hanya berfokus pada masalah pertanian tetapi
mulai mengembangkannya ke bidang lain seperti bidang peternakan. Kebutuhan
masyarakat menurut teori maslow ada dalam 5 tingkatan, salah satunya adalah
kebutuhan fisiologis. Kebutuhan fisiologis bermacam-macam salah satunya adalah
kebutuhan akan asupan makanan yang nantinya akan diolah oleh tubuh menjadi energi
yang dibutuhkan oleh tubuh untuk beraktifitas sehari-hari. Asupan makanan yang
masuk ke tubuh perlu diperhatikan gizi seimbangnya seperti kebutuhan akan protein
hewani yang dihasilkan oleh hewan. Indonesia meskipun merupakan negara tropis yang
banyak sumber daya alamnya, untuk pemenuhan akan kebutuhan daging masih belum
bisa memenuhinya sehingga dilakukan impor dari luar negeri.
Pangan asal hewan sangat dibutuhkan untuk kesehatan manusia sebagai sumber
protein fungsional maupun pertumbuhan, terutama pada anak-anak usia dini yang
karena laju pertumbuhan dan perkembangan sel-sel otak sangat tinggi. Protein hewani
penting karena mengandung asam amino yang lebih mendekati susunan asam amino
yang dibutuhkan manusia sehingga mudah dicerna dan lebih efisien (Bahri dkk., 2006).
Rata-rata konsumsi produk peternakan yang mengalami peningkatan terbesar tahun
2016 terhadap 2015 yaitu daging dari makanan jadi untuk ayam/daging yang digoreng
atau dibakar sebesar 32,17 persen sedangkan yang mengalami penurunan terbesar yaitu
telur ik/ik manila sebesar 7,32 persen. Sementara untuk konsumsi daging sapi, daging
ayam kampung, daging diawetkan (sosis, nugget, daging asap, kornet), tetelan, susu
bubuk, dan susu bubuk bayi dak mengalami perubahan dari tahun 2015 terhadap 2016
(Data Susenas maret 2016). Kebutuhan akan produk yang berasal dari hewan
diperkirakan akan trus meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk,
pendapatan per kapita, daya beli masyarakat, pola hidup, dan kesadaran masyarakat
akan gizi. Menimbang kebutuhan akan produk hewan yang meningkat maka penting
untuk memperhatikan keamanan pangan. Pentingnya keamanan pangan sejalan dengan
meningkatnya kesadaran masyarakat akan pangan asal hewan yang berkualitas, artinya
selain nilai gizinya tinggi, produk tersebut aman dan bebas dari cemaran mikroba,
bahan kimia atau cemaran yang dapat mengganggu kesehatan. Oleh karena itu,
keamanan pangan asal hewan selalu menjadi isu aktual yang perlu mendapat perhatian
dari produsen, aparat, konsumen, dan para penentu kebijakan, karena selain berkaitan
dengan kesehatan masyarakat juga mempunyai dampak ekonomi pada perdagangan
lokal, regional maupun global (Bahri, 2011).
Pangan asal hewan seperti daging, susu dan telur serta hasil olahannya
umumnya bersifat mudah rusak (perishable) dan memiliki potensi mengandung bahaya
biologik, kimiawi dan atau fisik, yang dikenal sebagai potentially hazardous foods
(PHF). Oleh sebab itu, penanganan produk tersebut harus higienis. Salah satu produk
olahan pangan asal hewan adalah kerupuk kulit. Pemanfaatan kulit sapi kini sedang
marak dilakukan diantaranya dapat digunakan sebagai bahan baku dalam industry
tekstil. Dalam industri tekstil, kulit dimanfaatkan dengan cara penyamakan untuk
membuat sepatu, tas, dan jaket. Sebagian kulit sapi juga diolah menjadi bahan baku
untuk kerupuk kulit. Kerupuk kulit merupakan salah satu makanan yang digemari untuk
dikonsumsi. Secara kuantitatif belum ada data yang dapat menggambarkan berapa besar
jumlah kerupuk yang dikonsumsi di Indonesia. Namun demikian, dapat diperkirakan
bahwa jumlah konsumsi kerupuk relatif tinggi karena makanan olahan ini digemari oleh
hampir seluruh lapisan masyarakat (Permana, 2010). Karena kerupuk kulit ini
dikonsumsi oleh masyarakat maka harus adanya jaminan keamanan pangan sehingga
masyarakat terhindar dari risiko dan bahaya biologis, kimia, dan atau fisik yang dapat
mengganggu kesehatan manusia karena selain itu pangan asal hewan juga dapat
membawa agen penyakit hewan yang dapat menular ke manusia atau yang dikenal
dengan zoonosis). Salah satu daerah yang terkenal dengan industri olahan kulit adalah
Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat, di Garut banyak sekali terdapat industri kerupuk
kulit dan telah menjadi salah satu makanan khas asal garut bahkan kerupuk kulit asal
Garut ini di ekspor ke luar negeri seperti Brunei Darussalam, Korea Selatan, Hongkong,
dsb.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana cara pemilihan bahan baku kerupuk kulit?
2. Bagaimana proses pembuatan kerupuk kulit?
3. Bagaimana pengelolaan limbah yang dihasilkan pada proses produksi?
4. Bagaimana Higiene dan Sanitasi Produknya dalam setiap tahapan produksi?
C. Tujuan
1. Mengetahui dan menganalisis cara untuk memilih bahan baku yang digunakan
untuk kerupuk kulit
2. Mengetahui proses pembuatan kerupuk kulit
3. Mengetahui pengelolaan limbah yang dihasilkan pada proses produksi
4. Mengetahui dan menganalisis Higiene dan Sanitasi Produknya dalam setiap
tahapan produksi