Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Meskipun sudah banyak cara dan usaha untuk mencegah kecelakaan,


tetapi masih saja dapat terjadi kecelakaan dalam laboratorium. Oleh karena itu,
untuk menghindari akibat buruk diperlukan usaha-usaha pertolongan pertama bila
terjadi kecelakaan. Meskipun banyak pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K)
yang umumnya cukup luas, tetapi P3K dalam laboratorium kimia dapat diarahkan
pada kecelakaan berupa: luka bakar, luka pada mata, dan keracunan.

Fungsi perlindungan berarti penurunan kemungkinan kecelakaan dan


bahaya ketingkat terendah yang mungkin dicapai. Penyediaan sarana untuk
mengatasi kecelakaan dan penyediaan peralatan untuk pertolongan pertama pada
kecelakaan. Bahaya laboratorium kimia terutama berasal dari listrik, bahan kimia
beracun dan berbahaya, gas dan air. Bentuk bahaya yang sering terjadi adalah
kebakaran. Untuk mengatasi bahaya ini, maka persyaratan utama laboratorium
kimia adalah ketersediaan dan keamanan sistem utilitas (listrik, gas, air dan
pemadam kebakaran). Sistem ruang asam dan cara kerja yang selalu berusaha
menghindari kecelakaan.

Biasanya pertolongan pertama selalu diikuti pengobatan dengan pemberian


antidote. Pemberian antidote kimia biasanya dihindarkan dan pemberian obat
hanya dapat diberikan oleh dokter. Tetapi dokter jaga atau dirumah sakit
memerlukan informasi jelas sebab-musabab kecelakaan. Terutama bila terjadi
keracunan perlu diberitahukan agar dokter yang bersangkutan dapat memberikan
obat dengan tepat.

Respon terhadap tumpahan bahan kimia atau buangan lain mungkin


mengandung banyak kegiatan yang berbeda dan mungkin terkait dengan syarat
peraturan yang bermacam-macam. Kegiatan dan prosedur respon juga tidak akan
terduga tergantung dari sifat alamiah dan jumlah bahan yang terbuang. Bila

1
perusahaan menyimpan bahan kimia dalam jumlah besar yang dikirim dengan
tempat yang besar (truk tanker atau kereta), maka harus disiapkan tindakan untuk
merespon insiden atas bahan dalam jumlah besar. Bahan yang terbuang dalam
jumlah besar mungkin memerlukan evakuasi laboratorium, tempat tumpahan, dan
pembersihan dan pembuangan bahan sisa limbah. Jumlah bahan yang terbuang
dalam jumlah kecil mungkin hanya memerlukan sedikit persiapan lanjutan.

Secara umum, prosedur tanggap darurat harus ditargetkan untuk bahan


kimia yang disimpan dalam tangki besar atau digunakan secara luas di
perusahaan, dengan persyaratan terdapat semua pelaporan peraturan yang spesifik
pada saat terbuangnya bahan kimia, dan pada bahan berbahaya yang akut,
walaupun dalam jumlah kecil. Apakah insiden mengandung tumpahan bahan
berbahaya atau terbuangnya gas atau uap, koordinasi masyarakat merupakan hal
yang kritis bila terbuangnya bahan kimia mungkin memiliki dampak keluar
laboratorium. Karenanya, perusahaan yang mungkin mengalami terbuangnya
bahan kimia dengan potensi berdampak keluar perusahaan harus memiliki suatu
mekanisme dalam memberikan peringatan dini yang memberitahukan bangunan
lain disekitarnya dan masyarakat. Menggunakan sensor dan detektor kebocoran
bahan kimia yang tepat dapat membantu memberikan peringatan dini saat terjadi
terbuangnya bahan kimia.

Persiapan-persiapan ini harus menjamin bahwa prosedur yang efektif


dilakukan untuk mengendalikan setiap potensi keadaan darurat akibat bahan kimia
ini. Rencana ini memberikan alat bantu yang penting untuk mengevaluasi bahaya
bahan kimia di laboratorium dan menjamin cara-cara yang tepat ditempat untuk
mengontrol bahan kimia tersebut pada situasi darurat.

Hal inilah melatar belakangi penulis untuk mengkaji makalah ini, agar
pembaca dapat memahami dan mengerti tentang recana tanggap darurat terutama
bagi pembaca yang berkecimpung di dunia yang berkaitan erat dengan bagan-
bahan kimia yang berbahaya.

2
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan kesiapan tanggap darurat?
2. Apa saja macam-macam keadaan darurat dan rencana tanggap
daruratnya?
3. Bagaimana rencana tanggap darurat ?
4. Bagaimana tahapan Penyusunan Prosedur Tanggap Darurat
Kebakaran dan Implementasinya
5. Bagaimana cara menanggulangi keadaan darurat?

1.3 Tujuan Penelitian


1. Untuk mengetahui pengertian kesiapan tanggap darurat.
2. Untuk mengetahui macam-macam keadaan darurat dan rencana
tanggap daruratnya.
3. Untuk mengetahui rencana tanggap darurat.
4. Untuk mengetahui tahapan Penyusunan Prosedur Tanggap Darurat
Kebakaran dan Implementasinya
5. Untuk mengetahui cara menanggulangi keadaan darurat.

3
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Kesiapan tanggap darurat

Kesiapan tanggap darurat (emergency plan) adalah kesiapan pada semua


fasilitas laboratorium, daerah laboratorium dan manusia yang terlibat di dalamnya.
Kesiapan ini menyangkut peralatan, pelatihan dan tenaga terampil guna
melindungi lingkungan, manusia, dan reputasi laboratorium. Komitmen dan
partisipasi semua pihak sangat diperlukan dalam kesiapan tanggap darurat.

“Keadaan Darurat” (Emergency) terkait dengan bahan kimia, adalah suatu


kejadian yang tidak diinginkan di dalam laboratorium dan fasilitas pendukung
sekitarnya dari suatu kondisi yang tidak normal dengan ketentuan yang ada,
seperti kebocoran, tumpahan, kebakaran dan peledakan dari bahan bahan-bahan
kimia.

Tujuan kesiapan dan tanggap darurat dapat dilihat sebagai berikut:

 Untuk mencegah dan mengurangi kemungkinan sakit,cedera serta kerusakan


peralatan/asset yang disebabkan oleh situasi tersebut.
 Mencegah timbulnya sumber bahaya
 Mencegah menjalarnya bahaya
 Memberikan jalan keluar/ perlindungan terhadap manusia.

2.2 Macam-Macam keadaan darurat dan rencana tanggap daruratnya

a. Kebocoran bahan kimia


kebocoran bahan kimia dikategorikan menjadi 3 yaitu : Ceceran bahan
kimia, Kebocoran bahan kimia dan tumpahan bahan kimia. Ceceran bahan kimia
biasanya berupa tetesan-tetesan bahan kimia yang tercecer ketika kemasannya
dipindah dari satu tempat ke tempat lainnya (volume sangat kecil). Kebocoran
bahan kimia dapat berupa tetesan yang diam di satu tempat atau kebocoran yang

4
mengucur namun tidak terlalu deras dan mudah dikendalikan (volume sedang).
Tumpahan biasanya kebocoran dalam jumlah besar dan sulit dikendalikan volume
material yang tumpah juga besar.
Tujuan dari penanganan tumpahan bahan kimia diantaranya sebagai berikut
:
1. Mencegah paparan bahan kimia terhadap manusia
2. Mencegah pencemaran lingkungan
3. Mencegah kebakaran
4. Mencegah kerugian materi
5. Estetika dan keindahan.
Biasanya peralatan penanganan tumpahan ditempatkan di dekat area-area
yang berpotensi mengalami tumpahan. Dibagi 3 kategori peralatan :
1. Untuk Ceceran/ tumpahan non B3 : tujuannya untuk menangani tumpahan
bahan kimia yang tidak begitu berbahaya, biasanya berupa drum atau timba
yang berisi serbuk kayu atau pasir yang ditempatkan tersebar di titik rawan
kebocoran atau tumpahan. Namun perlu di ingat serbuk kayu tidak boleh
digunakan sebagai penyerap bahan kimia mudah terbakar, karena serbuk
kayu termasuk bahan mudah terbakar juga, sehingga lebih mudah tersulut
api apabila keduanya bercampur. Drum bekas berisi serbuk kayu dan pasir
2. Untuk Kebocoran B3 : Tujuannya untuk menangani kebocoran bahan kimia
dengan level sedang (kategori irritant, pollutant, reaktif). Berupa lemari
Biasanya terdiri : PPE Level C, Absorbent (pillow, lembaran, serbuk kayu,
pasir) jumlah sesuaikan dengan kebutuhan, bahan kimia penetral umumnya
untuk tumpahan bahan kimia Basa Kuat penetralnya Asam lemah, untuk
tumpahan Asam Kuat penetralnya basa lemah. Jenis penetral khusus
biasanya di peroleh dari MSDS atau supplier namun tidak semua bahan
kimia perlu penetral. Lemari emergency penanganan kebocoran B3
3. Untuk tumpahan B3 : Tujuannya untuk menangani tumpahan sekala besar
atau B3 yang sangat berbahaya (sangat beracun, Sangat korosive dll),
Bentuknya berupa lemari terdiri dari : PPE level A, SCBA, Absorbent
(jumlah lebih banyak), Salvage drum, 1 set peralatan penyumbat kebocoran.

5
Dan peralatan lainnya, Peralatan pemadam biasanya juga dibutuhkan dalam
penanganan tumpahan misalkan APAR, Hydrant, Foam dan lain-lain.

b. Kebakaran dan ledakan karena bahan kimia


1. Bahan peledak (Eksplosif Materials)
Bahan kimia berbahaya mudah meledak adalah bahan kimia yang
karena pengaruh tertentu seperti panas, benturan atau pencampuran dengan
bahan kimia lain dapat menimbulkan peledakan. Peledakan terjadi karena
adanya reaksi penguraian yang cepat dengan membebaskan gas atau panas
yang banyak sekali sehingga terjadi tekanan hebat terhadap udara
sekitarnya. Contoh bahan kimia ini adalah dinamit, blasting gelatino,
formaldehyde dan diamino diphenylamine.
2. Bahan mudah terbakar (Flamable Materials)
Bahan kimia berbahaya mudah menyala dan terbakar adalah bahan
kimia yang apabila berkontak dengan oksigen dan api akan mudah
menimbulkan nyala api atau kebakaran. Nyala atau kebakaran dapat terjadi
lebih ngeri apabila didahului dengan pemanasan. Pada umumnya bahan
dalam bentuk gas akan lebih mudah terbakar bila dibandingkan dengan
bentuk padat atau cair. Contoh bahan kimia ini adalah methanol, amoniak,
asotilen, garam azo dan naphthol, pentaerythritol, cyclohexanone, gas alam,
nitrosellulose, formaldehyde, vinyl chloride monomer, styrene monomer,
sulfur (padat/leburan), larutan resi dalam air dan methyl methacrylate
monomer.
3. Bahan yang mudah meledak dan terbakar karena air (water sensitive fire
and eksplosion hazards)

Bahan kimia ini bila terkena air, uap atau larutan yang
mengandung air akan mengeluarkan panas dan gas yang mudah terbakar
atau mudah meledak. Contoh bahan kimia ini adalah lithium, sodium,
potassium, calcium, anhidrit asam, asam pekat dan alkali pekat.

Kegiatan di laboratorium jelas tak bisa lepas dari kemungkinan kecelakaan


kerja, bahaya yang sering terjadi adalah kebakaran. Aspek bahaya ini menjadikan

6
petugas laboratorium akan membuat dan menciptakan suatu system keselamatan
kerja. Selain itu perlu dipahami pula bagaimana proses terjadinya kebakaran,
bahan-bahan kimia apa saja yang mudah terbakar serta bagaimana cara
penanggulangannya secara benar. Aspek proteksi sudah bukan merupakan
paksaan yang harus dijalankan oleh petugas, namun harus menjadi budaya yang
mengakar sebagai kebutuhan dasar akan keselamatan kerja.

Ada perbedaan mendasar antara proteksi dan pencegahan. Kedua hal ini
memang berhubungan, namun berbeda. Dari perspektif pencegahan kebakaran,
dianggap bahwa sebuah insiden dapat terjadi dan diupayakan agar tidak terjadi.
Sistem proteksi beranggapan bahwa sesuatu insiden telah terjadi dan dengan
menggunakan taktik dan strategi, serta mengkoordinasikan sumber daya, dampak
insiden kepada jiwa manusia dan properti akan dapat diminimalisasi melalui
proteksi pasif, aktif dan pengendalian. Dalam konteks kebencanaan, maka konsep
ini dianalogikan dengan mitigasi dan pengurangan resiko. Dalam konsep
manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), maka konsep ini
dianalogikan dengan manajemen resiko Hazard Identification Risk Assessment
Risk Control (HIRARC).

c. Keadaan darurat medis


Menurut American Collenge of Emergency physicians, berikut tanda-tanda
peringatan dari keadaan darurat medis yaitu seperti pendarahan yang tidak akan
berhenti, permasalahan pernapasan, perubahan status mental, sakit dada, tersedak,
batuk atau muntah, pusing mendadak, kecelakaan, menelan zat beracun, dan lain
sebagainya.
Yang harus di lakukan yaitu:
1. Menentukan lokasi terdekat, dan tercepat ke gawat darurat sebelum keadaan
darurat terjadi.
2. Menyimpan nomor telepon darurat di posting oleh telepon.
3. Semua yang ada di sekitar harus tahu kapan harus menghubungi nomor
tersebut.
4. Ketika terjadi sesuatu, tetap tenang dan hubungi nomor darurat terdekat.

7
2.3 Rencana tanggap darurat

Rencana Tanggap Darurat merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh


seluruh orang yang terlibat dalam laboratorium yang bertujuan untuk
mengantisipasi datangnya keadaan darurat sehingga semua orang pada saat itu
mengetahui hal-hal apa saja yang harus dilakukan untuk selamat.

Keadaan Darurat biasanya timbul oleh sebab – sebab alamiah seperti


kecelakaan atau disengaja yang sebenarnya tidak pernah kita harapkan terjadi dan
biasanya akan membuat orang jadi panik sehingga tidak tahu harus berbuat apa
dan bagaimana. Akan tetapi hal ini harus ditangani secara cepat dan tepat agar
tidak berubah menjadi bencana serta tidak berdampak negative.

Yang termasuk kegiatan tanggap darurat antara lain:


 Tindakan penyelamatan penghuni bangunan dan aset laboratorium.
 Evakuasi penghuni bangunan dan penyelamatan korban.
 Pemberian pertolongan pertama

Usaha–usaha untuk mengurangi kemungkinan timbul dampak negative


kerugian dan bencana adalah dengan melakukan training penyuluhan latihan dan
demonstrasi secara berkala baik oleh pengelola laboratoriu, maupun asisten dosen
sehingga kita dapat terhindar dari hal – hal yang tidak kita inginkan terutama
BENCANA. Kategori keadaan darurat:

a. Keadaan Darurat Tingkat I (Tier I)

Merupakan keadaan darurat yang berpotensi mengancam nyawa manusia


dan harta benda (asset), yang secara normal dapat diatasi oleh personil jaga dan
suatu laboratorium dengan menggunakan prosedur yang telah dipersiapkan, tanpa
perlu adanya regu bantuan yang dikonsinyir. Keadaan darurat kategori ini
mempunyai satu atau lebih karakter sebagai berikut:

 Kecelakaan skala kecil atas suatu daerah tunggal atau satu sumber saja
 Kerusakan asset atau luka korbannya terbatas
 Praktikan yang bertugas dengan alat yang tersedia dibantu regu tanggap
darurat sudah cukup untuk menanggulanginya

8
b. Keadaan Darurat Tingkat II (Tier II)

Merupakan suatu kecelakaan besar dimana semua praktikan yang bertugas


dibantu dengan peralatan dan material yang tersedia di laboratorium tersebut,
tidak lagi mampu mengendalikan keadaaan darurat tersebut, sehingga
mengakibatkan terjadinya beberapa korban manusia. Karakteristiknya sebagai
berikut:

 Meliputi beberapa unit atau beberapa peralatan besar yang dapat


melumpuhkan kegiatan laboratorium.
 Dapat merusak harta benda pihak lain didaerah setempat (diluar daerah
laboratorium).
 Tidak dapat dikendalikan oleh tim tanggap darurat itu sendiri, bahkan harus
minta bantuan pihak luar.

c. Keadaan Darurat Tingkat III (Tier III)


Merupakan keadaan darurat berupa malapetaka/bencana yang dahsyat
dengan akibat lebih besar dibandingkan dengan Tier II, dan memerlukan bantuan,
koordinasi pada tingkat nasional.

Kesiap-siagaan pada tahap sebelum darurat dilakukan dalam rangka


mengantisipasi suatu bencana akibat, untuk memastikan bahwa tindakan yang
dilakukan dapat dilaksanakan secara cepat, tepat dan efektif pada saat dan setelah
terjadi kebakaran. Dalam tahap ini berikut hal-hal yang perlu dilakukan:

 Menyiapkan prosedur darurat kebakaran yang mencakup organisasi


pelaksana darurat, tindakan yang harus dilakukan secara cepat dan tepat
dalam keadaan darurat, serta sarana yang digunakan (Siapa melakukan apa
dalam keadaan darurat dan peralatan apa yang digunakan).
 Koordinasi baik secara internal maupun eksternal.
 Bagaimana mengevakuasi penghuni bangunan secara cepat, tepat dan
selamat.

9
 Bagaimana memberikan pertolongan pertama pada orang yang terluka saat
terjadi darurat.
 Upaya-upaya yang dilakukan untuk pemulihan secara cepat.
 Pelatihan simulasi darurat yang bertujuan untuk menilai kesiapan personil,
ketepatan prosedur dalam mengansipasi keadaan darurat dan keandalan
sarana darurat.

2.4 Tahapan Penyusunan Prosedur Tanggap Darurat Kebakaran dan


Implementasinya

Rencana tanggap darurat dalam bentuk prosedur tanggap darurat merupakan


acuan bagi pelaksanaan penanggulangan keadaan darurat. Perencanaan
kesiapsiagaan tanggap darurat untuk industri maupun untuk bangunan sangat
bervariasi. Faktor yang mempengaruhi adalah:

 Karakteristik hunian, kegiatan dan mobilitas penghuni. Semakin tinggi


bangunan, semakin kompleks dalam perencanaan kesiapsiagaan tanggap
darurat. Ketersediaan sarana darurat, perencanaan kesiapan darurat harus
menyesuaikan dengan kondisi ketersediaan sumber daya yang ada.

 Lokasi geografi bangunan, faktor letak geografi perlu dipertimbangkan


dalam kesiapan tanggap berkaitan dengan bencana alam. Lingkungan
bangunan gedung dan instalasi proses, tata letak bangunan dan gedung yang
berkaitan dengan kepadatan lingkungan merupakan faktor yang perlu
dipertimbangkan. Dalam keadaan darurat, untuk area dengan tingkat
mobilitas lalu lintas yang tinggi, akses bantuan luar seperti Dinas Pemadam
atau Departemen Pemadam menuju ke bangunan akan mengalami
hambatan, sehingga sumber daya yang tersedia harus mampu untuk
menanggulangi keadaan secara mandiri.

10
Perhatikan Alur berikut ini

Tahap 1: Bentuk Tim Penyusun Rencana Tanggap Darurat

Tim Penyusunan dengan kriteria antara lain :


 Memahami filosofi K3
 Mengenal kegiatan unit kerja
 Memahami peralatan/sarana darurat secara operasional
 Memahami tata laksana kerja organisasi
 Semua anggota tim harus mampu berkomunikasi dan berinteraksi secara
aktif
Tahap 2: Membuat/Menentukan Tujuan Dan Ruang Lingkup
Tentukan Tujuan dan Lingkup yang jelas dan tertulis yang disesuaikan
dengan kebijakan dan komitmen laboratorium, sesuai dengan karakteristik hunian
dan konstruksi bangunan serta sesuai dengan ketersedian sistem/sarana/peralatan
darurat yang tersedia.
Tahap 3: Identifikasi dan Penilaian Risiko Kebakaran

 Identifikasi Evaluasi potensi bahaya yang dapat mengakibatkan keadaan


darurat dalam bentuk penilaian resiko serta skenarionya.

 Identifikasi potensi bahaya meliputi kemungkinan-kemungkinan yang dapat


terjadi seperti ;

11
 Jenis keadaan darurat yang mungkin akan terjadi baik bahaya
internal maupun external.
 Pertimbangan keadaan darurat seperti : Kebakaran. Ledakan,
Ancaman Bom, Bencana alam, seperti banjir, gempa dll

 Dalam Penilaian Resiko atau Risk assessment akan dapat teranalisa


besarnya tingkat kejadian, seperti Luas/Volume bahan yang dapat terbakar
potensi ledakan dan luas kebakaran, dan dampak kejadian seperti tingkat
kerusakan, potensi terjadinya korban, dampak terhadap sekitar dan lamanya
kejadian.

Tahap 4 : Menyusun Kesiapsiagaan Tanggap Darurat

Berdasarkan identifikasi & penilaian risiko bahaya, akan dapat ditetapkan


kemungkinan potensi bahaya kebakaran yang dapat terjadi dan mitigasi yang
sudah dilaksanakan bagaimana metoda atau prosedur untuk respon yang cepat,
tepat dan terarah, siapa yang harus melaksanakan dan sarana peralatan apa yang
dibutuhkan.

Pekerjaan yang harus dilakukan pada tahap ini adalah :

1. Identifikasi Sumber Daya


Identifikasi sumber daya bertujuan untuk menilai antara apa yang
dibutuhkan dan apa yang tersedia untuk menanggulangi keadaan darurat sehingga
memperkecil tingkat kerugian.
Contoh sumber daya yang perlu diidentifikasi antara lain seperti:
 Kapasitas sumber daya manusia yang dibutuhkan dalam penanggulangan
keadaan darurat, sistem, sarana, prasarana dan peralatan yang dibutuhkan
dalam penanggulangan, dll
 Merencanakan organisasi, tugas dan kewajiban petugas penanggulangan
keadaan darurat serta metoda yang digunakan untuk mempersempit
dampak kondisi darurat seperti taktik dan strategi yang digunakan melalui
berbagai skenario.
2. Menyusun organisasi tanggap darurat.

12
Penyusunan organisasi didasarkan atas kondisi struktur organisasi yang
sudah ada (kondisi normal) secara prinsip bahwa organisasi ini hanya berjalan
pada kondisi darurat.

3. Menyusun prosedur tanggap darurat.


Susun prosedur tetap tanggap darurat secara lengkap dan tertulis yang
nantinya menjadi dokumen resmi yang telah disetujui oleh pimpinan dan selalu di
perbaiki secara berkala melalui berbagai skenario.

Tahap 5: Susun rencana untuk pelatihan simulasi atau emergency drill


 Prosedur keadaan darurat hanya dokumen tertulis, jika tidak pernah
dilaksanakan dalam bentuk pelatihan yang biasa disebut pelatihan simulasi
darurat atau Emergency Drill .
 Tujuan pelatihan simulasi darurat adalah agar tim tanggap darurat dan
semua praktikan memahami dan terlatih dalam menghadapi keadaan darurat
serta untuk memastikan semua sarana/peralatan darurat selalu dalam
keadaan siap pakai dan berfungsi dengan baik.

 Agar pelaksanaan pelatihan simulasi darurat berjalan dengan baik, perlu


disiapkan skenario kejadian secara rinci yang memuat siapa berbuat apa dan
sistem/peralatan/sarana yang digunakan.

Tahap 6: Susun Organisasi Tanggap Darurat

Organisasi darurat adalah pengelompokan orang-orang serta penetapan


tugas, fungsi, wewenang, serta tanggungjawab masing-masing dengan tujuan
terciptanya aktifitas yang berdaya guna dan berhasil dalam mencapai tujuan yang
berkaitan dengan kedaruratan.

Tahap 7: Susun Prosedur Tanggap Darurat


Dalam menyusun prosedur darurat tentunya harus mampu menjawab
pertanyaan yang terkait dengan kesiapsiagaan tanggap darurat yaitu :

 Tindakan apa yang harus dilakukan dalam keadaan darurat?


 Kapan tindakan itu harus dilaksanakan?

13
 Dimanakah tindakan itu harus dikerjakan?

 Siapakah yang akan melaksanakan tindakan?

 Bagaimanakah caranya melaksanakan tindakan itu?

Tahap 8: Simulasi Tanggap Darurat


Keadaan darurat tidak bisa diketahui kapan dan dimana akan terjadinya,
namun yang ada adalah bagaimana kesiapsiagaan dalam menghadapi keadaan
darurat. Untuk mengetahui sampai sejauh mana kesiapsiagaan menghadapi
keadaan darurat yang meliputi perencanaan dan pengorganisasian, pemahaman
personil terhadap pelaksanaan prosedur ketika terjadi keadaan darurat. Simulasi
tanggap darurat sebisa mungkin simulasi yang persis dengan bahaya yang paling
besar kemungkinannya terjadi di lingkungan kerja.

Tahap 9: Evaluasi dan Pemutakhiran


Rencana tanggap darurat dapat dievaluasi dan diupdate setelah
dilakukannya simulasi keadaan darurat, terjadinya keadaan darurat, serta
perubahan sistem dan struktur yang ada di lingkungan kerja.
Tujuan evaluasi adalah untuk mengidentifikasi kelemahan rencana tanggap
darurat yang ada sehingga dilakukanlah perbaikan dalam kesiapsiagaan tanggap
darurat. Berbagai parameter dapat digunakan untuk menilai tentang hasil
pelaksanaan pelatihan simulasi tanggap darurat seperti prosedur tanggap darurat
Kualitas Sumber Daya Petugas Pelaksana Simulasi Kebakaran & Evakuasi
Terpadu Kesadaran Penghuni Gedung dalam menyikapi keadaan darurat
Kehandalan Sistem Proteksi Bangunan, dan lain-lain.

2.5 Cara penanggulangan keadaan darurat


Berikut merupakan cara penanganan keadaan darurat yaitu sebagai berikut:
1) Terkena bahan kimia:
a. Jangan panik.
b. Mintalah bantuan rekan anda yang berada didekat anda.
c. Lihat data MSDS (Material Safety Data Sheet) dekenal dengan
informasi data keamanan bahan, berupa informasi cara pengendalian
B3.

14
d. Bersihkan bagian yang mengalami kontak langsung tersebut (cuci
bagian yang mengalami kontak langsung tersebut dengan air apabila
memungkinkan).
e. Bila kulit terkena bahan Kimia, janganlah digaruk agar tidak tersebar.
f. Bawa ketempat yang cukup oksigen.
g. Hubungi paramedis secepatnya (dokter, rumah sakit).

2) Kebakaran:
a. Jangan panik.
b. Ambil tabung gas CO2 apabila api masih mungkin dipadamkan.
c. Beritahu teman anda.
d. Hindari mengunakan lift.
e. Hindari mengirup asap secara langsung.
f. Tutup pintu untuk menghambat api membesar dengan cepat (jangan
dikunci).
g. Pada gedung tinggi gunakan tangga darurat.
h. Hubungi pemadam kebakaran.

Bahan kimia yang mudah terbakar yaitu bahan – bahan yang dapat memicu
terjadinya kebakaran. Terjadinya kebakaran biasanya disebabkan oleh 3 unsur
utama yang sering disebut sebagai segitiga API :
Keterangan :
A : Adanya bahan yang mudah terbakar
P : Adanya panas yang cukup
I : Adanya ikatan Oksigen di sekitar bahan

Jenis – jenis atau kelas-kelas kebakaran atau penyebab terjadinya api supaya
jenis APAR yang dipergunakan efektif dalam mengendalikan kebakaran tersebut.
Berikut ini adalah kelas-kelas kebakaran :

Kebakaran Kelas A

Kebakaran Kelas A merupakan kelas kebakaran yang dikarenakan oleh


bahan-bahan padat non-logam seperti kertas, plastik, kain, kayu, karet dan lain
sebagainya. Jenis APAR yang cocok untuk memadamkan Kebakaran Kelas A

15
adalah APAR jenis cairan (water), APAR jenis busa (foam) dan APAR jenis
tepung kimia (dry powder).

Kebakaran Kelas B

Kebakaran Kelas B merupakan kelas kebakaran yang dikarenakan oleh


bahan-bahan cair yang mudah terbakar seperti minyak (bensin, solar, oli), alkohol,
cat, solvent, methanol dan lain sebagainya. Jenis APAR yang cocok untuk
memadamkan kebakaran Kelas B adalah APAR jenis Karbon Diokside (CO2),
APAR jenis Busa (Foam) dan APAR jenis Tepung Kimia (Dry Powder).

Kebakaran Kelas C

Kebakaran Kelas C merupakan kelas kebakaran yang dikarenakan oleh


Instalasi Listrik yang bertegangan. Jenis APAR yang cocok untuk memadamkan
kebakaran Kelas C adalah APAR jenis Karbon Diokside (CO2) dan APAR jenis
Tepung Kimia (Dry Powder).

Kebakaran Kelas D

Kebakaran Kelas D merupakan kelas kebakaran yang dikarenakan oleh


bahan-bahan logam yang mudah terbakar seperti sodium, magnesium, aluminium,
lithium dan potassium. Kebakaran Jenis ini perlu APAR khusus dalam
memadamkannya.

Kebakaran Kelas K

Kebakaran Kelas K merupakan kelas kebakaran yang dikarenakan oleh


minyak masak (minyak sayur, minyak hewan) ataupun lemak yang biasanya
dipergunakan dalam dapur masak. Jenis APAR yang cocok untuk memadamkan
Kebakaran Kelas K adalah APAR jenis Busa (Foam) dan APAR jenis Karbon
Diokside (CO2).

Cara Menggunakan APAR (Alat Pemadam Api Ringan)

Untuk mempermudah dalam mengingat proses ataupun cara penggunaan Alat


Pemadam Api, kita dapat menggunakan singkatan T.A.T.A. yaitu :

1. TARIK Pin Pengaman (Safety Pin) APAR


2. ARAHKAN Nozzle atau pangkal selang ke sumber api (area kebakaran)
3. TEKAN Pemicu untuk menyemprot
4. AYUNKAN ke seluruh sumber api (area kebakaran)

16
3) Tertelan bahan kimia :
1. Jika penderita muntah-muntah, beri minum air hangat agar muntah terus dan
mengencerkan racun dalam perut.
2. Jika korban tidak berhasil masukkan jari ke dalam tenggorokan korban agar
muntah.
3. Jika korban pingsan, pemberian sesuatu lewat mulut dihindarkan.
4. Segera bawa korban ke dokter/rumah sakit.

4) Tersengat listrik
1. Segera bertindak dengan mematikan aliran listrik. Cabut steker,atau matikan
sekring/MCB pusat.
2. Kemudian minta seseorang untuk mencari bantuan,memanggil
ambulans,atau pertolongan lain.
3. Jauhkan penderita dari sumber listrik. Untuk dapat memegang penderita
tanpa kesetrum anda memerlukan benda yang tidak bisa mengantarkan
listrik. Gunakan misalnya, sarung tangan karet yang kering (air juga dapat
mengantarkan listrik), atau tongkat sapu.
4. Setelah itu, segera pindahkan korban ke tempat aman serta bersirkulasi
udara lancar.
5. Baringkan korban lalu evaluasi kesadaran penderita apakah sadar atau tidak.
6. Periksa denyut nadi di lehernya. Jika tidak ada tanda-tanda setelah 5 detik,
tekan dadanya sebanyak 5 kali dengan kedua telapak tangan. Periksa
lagi,jika tetap tidak ada. Ulangi.
7. Lakukan pernapasan buatan, jika diperlukan.
8. Bila penderita masih bernapas dengan normal baringkan penderita dengan
memiringkan penderita ke sisi kanan, tangan kiri penderita letakkan di pipi
kanan. Hal ini dilakukan supaya penderita bisa bernapas spontan.

5) Terhirup bahan kimia:


Untuk keracunan bahan kimia berupa gas maka sebaiknya memberikan
udara segar sebaik-baiknya. Dan untuk pencegahan keracunan bahan kimia berupa
gas sebaiknya sejak awal menggunakan masker. Sebab gas berupa klorin,

17
hidrogen sulfida, fosgen, hidrogen sianida adalah bahan kimia gas yang sangat
beracun.

6) Jika terjadi gempa bumi :


a. Jangan panik.
b. Sebaiknya berlindung dibagian yang kuat seperti bawah meja, kolong
kasur, lemari.
c. Jauhi bangunan yang tinggi, tempat penyimpanan zat kimia, kaca.
d. Perhatikan bahaya lain seperti kebakaran akibat kebocoran gas,
tersengat listrik.
e. Jangan gunakan lift.
f. Hubungi pemadam kebakaran, polisi dan lain – lain.

18
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kesiapan tanggap darurat (emergency plan) adalah kesiapan pada semua
fasilitas laboratorium, daerah laboratorium dan manusia yang terlibat di dalamnya.
Macam-Macam keadaan darurat seperti kebocoran bahan kimia, keadaan darurat
medis, dan kebakaran & ledakan karena bahan kimia.
Yang termasuk kegiatan tanggap darurat antara lain:
 Tindakan penyelamatan penghuni bangunan dan aset laboratorium.
 Evakuasi penghuni bangunan dan penyelamatan korban.
Pemberian pertolongan pertama
Yang perlu diperhtikan dalam kesiapan tanggap darurat adalah 9 tahapan
penyusunan prosedur tanggap darurat kebakaran dan implementasinya. Dan ada
cara-cara penanggulangan keadaan darurat pada saat terkena bahan kimia,
kebakaran, dan gempa bumi. Kepala laboratorium, asisten, maupun pratikan harus
mengetahui cara menghadapi keadaan darurat.

3.2 Saran
Dari makalah ini, maka penulis menyarankan agar pembaca lebih dapat
memahami tentang perencanaan tanggap darurat, terutama bagi yang kegiatan
kesehariannya berada di laboratorium, seperti praktikum atau melakukan suatu
penelitian, karena di dalam laboratorium kimia begitu banyak bahan-bahan
berbahaya sehingga pembaca haru memahami bagaimana cara penanganan darurat
jika terjadi.

19
DAFTAR PUSTAKA

Ersom, Taskin dan Rustamsyah. 1985.Kimia bahan berbahaya. ITS. Surabaya.

Narkawi.1989. Bahan Kimia yang tidak di perbolehkan dipadamkan dengan air.


ITS. Surabaya.

Nedved, M., dan Imam khasani, S.1991. Dasar-dasar Keselamatan Keraj Bidang
Kimia dan Pengendalian Bahaya Besar, ILO. Jakarta.

Wahyudi.1976.Pengelolaan barang-barang berbahaya. UI. Jakarta.

20