Anda di halaman 1dari 9

Sebuah Studi Prospektif Tentang Insersi AKDR Segera

Setelah Melahirkan Di Rumah Sakit Tingkat Tersier

Arti Sharma1*, Vineeta Gupta1, Neeta Bansal1, Utkarsh Sharma2, Archna Tandon1

1
Departemen Obstetri & Ginekologi, SGRR Medical College, Dehradun, Uttarakhand, India
2
Departemen Pediatri, SGRR Medical College, Dehradun, Uttarakhand, India

Korespondensi
Dr. Arti Sharma,
E-mail: artishubh@yahoo.com

Diterima : 19 November 2014


Disetujui : 8 December 2014

ABSTRAK

Latar Belakang: Di India terdapat kebutuhan kontrasepsi yang tidak terpenuhi yaitu Alat
kontrasepsi dalam rahim yang merupakan metode reversibel jangka panjang. Penelitian ini
dilakukan untuk mengetahui keampuhan dan keamanan segera Post-Partum Intrauterine
Device (PPIUD) dan untuk membandingkan hasil pemasangan PPIUD setelah persalinan per
vaginam dan operasi caesar.
Hasil: Pada 61,45% wanita tidak ada keluhan. Gangguan haid ditemukan pada wanita
16,66% dan nyeri panggul pada 13,54% wanita. Tingkat pengeluaran discharge sebesar
5,20% dan pelepasan AKDR dilakukan pada 13,54% wanita. Insiden pelepasan IUD lebih
banyak pada pasien yang dipasang pada persalinan pervagina daripada persalinan caesar dan
perbedaan ini signifikan secara statistik. Tingkat kelanjutan pemakaian setelah 6 bulan adalah
81,25%.

Kesimpulan: pemasangan AKDR segera setelah persalinan adalah metode yang aman,
nyaman dan efektif.

Kata kunci: Segera setelah persalinan, AKDR, seksio sesarea, tingkat pengeluaran discharge

1
PENDAHULUAN

Periode pasca persalinan merupakan salah satu masa kritis ketika seorang wanita
membutuhkan layanan kesehatan khusus yang optimal karena tingkat komplikasi cukup
tinggi selama periode ini dan juga wanita rentan terhadap kehamilan yang tidak diinginkan.
Di India, 65% wanita di tahun pertama melahirkan memiliki kebutuhan keluarga berencana
yang tidak terpenuhi. Hanya 26% wanita yang menggunakan metode keluarga berencana
selama tahun pertama pascapersalinan.1 Alasan penggunaan tidak menggunakan kontrasepsi
banyak, termasuk kurangnya kesadaran, tidak tersedianya layanan keluarga berencana yang
mudah diakses dan keterbatasan mobilitas perempuan karena sebagian besar untuk faktor
budaya atau geografis.

Alat kontrasepsi dalam rahim (IUD) telah digunakan oleh wanita di India selama
beberapa dekade untuk menunda kehamilan. Copper IUD adalah jenis AKDR yang paling
umum digunakan dan Cu T 380A telah terbukti sebagai IUD yang paling efektif.2 Untuk
mengatasi kebutuhan yang tidak terpenuhi selama periode pascapersalinan Kementerian
Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga, Pemerintah India mengembangkan sebuah strategi
negara untuk memperluas layanan Post-Partum Intrauterine Device (PPIUD) di antara
fasilitas sektor publik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi keamanan,
efikasi, efek samping, komplikasi dan pengusiran yang terkait dengan PPIUD dan untuk
membandingkan hasil pemasangan PPIUD setelah persalinan per vaginam dan operasi caesar.

METODE

Penelitian prospektif ini dilakukan di departemen kebidanan dan ginekologi, SGRR


IM & HS dari bulan September 2011 sampai Agustus 2012. Penelitian ini dilakukan terhadap
wanita yang melahirkan di rumah sakit kami dan menjalani pemasangan PPIUD. Semua ibu
hamil yang menghadiri klinik antenatal kami atau dirawat di bangsal tenaga kerja diberi KIE
untuk metode keluarga berencana pascapersalinan yang berbeda. Wanita yang memilih
PPIUD diberitahu mengenai kelebihan, keterbatasan, efektivitas dan efek samping yang
terkait dengan AKDR. Setiap wanita diskrining untuk situasi klinis sesuai kriteria kelayakan
medis WHO pada periode antenatal, serta pemasangan segera setelah melahirkan.

2
Kriteria inklusi: Wanita dalam periode pasca pengeluaran plasenta segera (dalam waktu 10
menit setelah dikeluarkannya plasenta), periode post partum segera (<48 jam setelah
melahirkan) atau saat operasi caesar.

Kriteria eksklusi: Wanita dengan discharge purulen akut, kemungkinan terkena paparan
gonore atau chlamydia yang tinggi, penyakit trofoblastik ganas atau jinak, menderita AIDS
dan tidak sehat secara klinis atau terapi antiretroviral, antara 48 jam dan 6 minggu
pascapersalinan, korioamnionitis, ruptur berkepanjangan membran> 18 jam, endometritis
postpartum / metritis dan perdarahan post partum yang tidak beraturan.

Informed consent diperoleh pada semua klien sebelum pemasangan. PPIUD (CuT-380A)
ditempatkan dalam waktu 10 menit setelah melahirkan plasenta, atau dalam waktu 48 jam
setelah kelahiran anak menggunakan forsep plasenta Kelly untuk memastikan penempatan
alat (Gambar 1). Pemasangan intra caesar dilakukan secara manual.

Gambar 1: forsep plasenta Kelly

Catatan rekam medis pasien mengenai penggunaan dan layanan PPIUD oleh penyedia
disimpan. Follow up kunjungan pada 6 minggu pascapersalinan dan pada 6 bulan kemudian
direkomendasikan dan selanjutnya dilanjutkan bila diperlukan. Selama kunjungan follow up,
responden ditanya apakah mereka memiliki keluhan dan pemeriksaan spekulum dilakukan
untuk menilai apakah IUD turun ke dalam vagina. Pada beberapa wanita yang senar tidak

3
terlihat dalam ultrasonografi vagina dimana USG dilakukan untuk mengkonfirmasi posisi
AKDR. Temuan kunjungan tindak lanjut dicatat pada semua klien termasuk pengeluaran
discharge, gangguan haid, nyeri panggul, pelepasan IUD, kejadian infeksi dan efek samping
lainnya. Jika tidak datang untuk follow up, mereka dihubungi melalui telepon. Metode
statistik untuk analisis adalah persentase, proporsi dan uji Chi Square.

HASIL

Sebanyak 113 wanita termasuk dalam periode penelitian satu tahun. Tabel 1
menunjukkan karakteristik demografi wanita yang termasuk dalam penelitian kami. Seperti
yang terlihat pada Tabel 2, 58 (51,32%) wanita melakukan pemasangan AKDR dalam waktu
10 menit setelah persalinan plasenta setelah kelahiran vagina, sementara 51 (45,13%) wanita
melakukan pemasangan AKDR saat operasi caesar. Pada 4 (3,53%) pemasangan AKDR
perempuan dilakukan antara 10 menit sampai 48 jam persalinan per vaginam. Semua wanita
ini diminta datang untuk follow-up setelah 6 minggu dan kemudian setelah 6 bulan di masa
post partum. Seperti yang terlihat pada Tabel 3, hanya 57 (50,44%) wanita yang datang untuk
dilakukan follow up di poli rawat jalan, dimana sebanyak 39 (34,51%) wanita dihubungi
melalui wawancara lewat telepon. Dan terdapat 17 (15,04%) wanita tidak bisa di lakukan
follow up. Jadi hasil follow up dihitung pada 96 (84,95%) wanita dan hasilnya dibandingkan
pada tiga kelompok sesuai dengan jenis pemasangan PPIUD.

Table 1: Karakteristik Demografi (n=113).

Karakteristik Jumlah (orang) Persentase (%)


Umur
20-25 51 45.13
26-30 49 43.36
31-35 13 11.50
Agama
Hindu 85.84
Muslim 8.84
Lainnya ( Sikh dan Buddha) 5.30
Anak yang hidup
1 50 44.24
2 55 48.67
3 atau lebih 8 7.07

Table 2: Jenis Insersi PPIUD (n=113).

4
Tipe Jumlah %
1. Post plasenta (dalam 58 51.32
waktu 10 menit setelah
melahirkan plasenta
setelah persalinan per
vaginam)
2. Segera pascapersalinan 4 3.53
(10 menit sampai 48 jam
setelah kelahiran anak)
3. Operasi sectio saesaria 51 45.13

Table 3: Jenis Follow up (n=113).

Follow up Jumla Persentase


h
Di klinik 57 50.44
Melalui telepon 39 34.51
Tidak dilakukan follow up 17 15.04

Temuan tindak lanjut diberikan pada Tabel 4. Pada 59 (61,45%) perempuan tidak ada
keluhan mengenai PPIUD. Secara keseluruhan 16 (16,66%) wanita mengeluhkan gangguan
menstruasi dan 13 (13,54%) wanita mengalami nyeri di perut bagian bawah dan sakit
punggung. Gangguan haid terjadi pada 10 (19,23%) wanita setelah pemasangan post plasenta
sedangkan mereka hanya ditemukan pada 6 (14,63%) wanita dengan pemasangan saat SC.
Nyeri panggul ditemukan pada 7 (13,46%) wanita setelah pemasangan post plasenta dan pada
5 (12,19%) wanita setelah pemasangan saat SC.

Table 4: temuan saat follow up (n=96).

Variabel Setelah Segera Saat Total P


lahir setelah SC value
plasent melahirka
a n (n=3)
(n=52)

5
Jumlah % Jumlah % Jumla % Jumla %
h h
Tidak ada 31 59.6 2 66.6 26 63.4 59 61.4 <0.0
keluhan 1 6 1 5 5
Gangguan 10 19.2 0 0 6 14.6 16 16.6 >0.0
menstruasi 3 3 6 5
Dilepas 9 17.3 1 33.3 3 7.31 13 13.5 <0.0
0 3 4 5
Nyeri 7 13.4 1 33.3 5 12.1 13 13.5 <0.0
panggul/nyeri 6 3 9 4 5
pinggang
Pengeluaran 4 7.69 0 0 1 2.43 5 5.20 -
discharge
Infeksi 1 1.92 0 0 0 0 1 1.04 -
Dilanjutkan 39 75 2 66.6 37 90.2 78 81.2
setelah 6 bulan 6 4 5

Perbedaan secara statistik tidak signifikan (nilai P <0,05). Tabel 5 menunjukkan


alasan penghentian. Pelepasan IUD dilakukan pada 13 (13,54%) perempuan. Berbagai alasan
untuk menghilangkannya adalah nyeri pelvis, menorrhagia, PPH dan infeksi. Penghapusan
AKDR dilakukan pada 10 (18,18%) wanita yang memiliki persalinan vagina tetapi hanya
pada 3 (7,31%) wanita yang melakukan pemasangan intra sesarea dan perbedaan ini
bermakna secara statistik (nilai P> 0,05). Tingkat kelanjutan pemakaian adalah 81,25%
setelan 6 bulan.

Table 5: Alasan Dihentikan (n=18).

Alasan Setelah Segera Saat SC Total


lahir setelah
plasenta melahirka
(n=52) n (n=3)
Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah %
Pengeluaran 4 7.69 0 0 1 2.43 5 5.20

6
discharge
Dilepas karena
a) Nyeri 4 7.69 1 33.33 1 2.43 6 6.25
panggul
b) Menoragia 3 5.77 0 0 2 4.87 5 5.20
c) Perdarahan 1 1.92 0 0 0 0 1 1.04
postpartum
d) Infeksi 1 1.92 0 0 0 0 1 1.04
Total 13 25 1 33.33 4 9.7 18 18.76

PEMBAHASAN

Pemasangan AKDR pada periode post partum memberikan kesempatan yang baik
untuk mencapai kontrasepsi jangka panjang dengan ketidaknyamanan minimal pada wanita.
Kami menyelidiki 6 bulan pada wanita yang memiliki sisipan IUD Cu-T 380A pada periode
pasca-persalinan dan selama operasi caesar.

Efek samping utama dari penggunaan AKDR yang mengandung tembaga adalah
perdarahan yang berkepanjangan atau berlebihan dan nyeri perut. Dalam penelitian ini,
16,66% wanita mengalami gangguan menstruasi dan 13,54% wanita mengalami nyeri pada
perut bagian bawah dan sakit punggung. Terdapat kasus keputihan dan infeksi. Dalam sebuah
studi oleh Shukla et al.3 yang menggunakan Cu T 200 B pada periode post partum, ditemukan
27,23% wanita mengalami pendarahan berat selama menstruasi. Tak satu pun dari responden
dalam penelitian mereka mengeluhkan rasa sakit di perut bagian bawah atau keputihan
abnormal dan juga tidak ada tanda-tanda PID namun tingkat follow up dalam penelitian ini
hanya 11,3% pada 6 bulan sementara dalam penelitian kami pada 6 bulan adalah 84,95%.
Dalam sebuah tinjauan sistematis oleh Kapp dan Curtis 4, membandingkan hasil pemasangan
IUD pasca persalinan pada interval waktu yang berbeda. Hasil penelitian mereka
menunjukkan tidak ada peningkatan risiko komplikasi pada wanita yang memiliki AKDR
yang dimasukkan selama periode pascapersalinan. Pasca pemasangan plasenta selama operasi
caesar dikaitkan dengan tingkat pengeluaran discharge yang lebih rendah daripada insersi
vagina pasca persalinan, tanpa peningkatan komplikasi lainnya.

Welkovic dkk.5 meneliti pendarahan pascapersalinan dan infeksi setelah pemasangan


AKDR pascapersalinan dan tidak menemukan perbedaan dalam kejadian pendarahan yang
berlebihan. Dalam review oleh Anita L. Nelson6 dilakukan penelitian keamanan, kegunaan
dan penerimaan pasien pada AKDR Cu T 380A. Hasil penelitian tersebut menunjukkan

7
bahwa PPIUD adalah metode yang aman dan nyaman namun pemasangan pervagina yang
dikaitkan dengan tingkat pengeluaran discharge yang lebih tinggi. Sedangkan hasil
pemasangan saat SC telah menunjukkan tingkat retensi IUD dan tingkat komplikasi yang
rendah.

Dalam studi kami, tingkat pengeluaran discharge adalah 5,2 persen. Pelepasan IUD
dilakukan pada 13,54% wanita. Penyebab umum pengangkatan IUD adalah nyeri panggul
dan menoragia. Dalam sebuah penelitian dilakukan Fernandes JHA dkk. Penulis
menggunakan IUD Multiload Cu 375 segera setelah persalinan per vaginam dan operasi
caesar. Studi ini menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam tingkat pengeluaran
discharge / pelepasan alat pada pemasangan AKDR pasca plasenta setelah persalinan per
vaginam dan operasi caesar. Tingkat pengeluaran discharge / pelepasan IUD adalah 32% di
antara subjek dalam kelompok persalinan per vaginam, namun tidak ada pengeluaran
discharge atau pelepasan IUD pada pasien yang dilakukan operasi caesar. Dalam penelitian
ini, kami juga tingkat pengeluaran discharge lebih banyak pada pemasangan AKDR setelah
persalinan per vaginam (7,69%) dibandingkan dengan operasi caesar (2,43%) pada akhir 6
bulan. Dalam penelitian lain dengan pemasangan Celen S et al.8 Cu T 380A dilakukan selama
operasi caesar. Tingkat kumulatif pengeluaran discharge, IUD karena perdarahan / nyeri
panggul dan alasan medis lainnya masing-masing adalah 17,6, 8,2 dan 2,4 per 100 wanita per
tahun. Shukla et al.3 melaporkan tingkat pengusiran sebesar 10,68% pada akhir 6 bulan. Jose
A, Lopez F et al.9 membandingkan sistem intrauterine levonorgestrel (LNG-IUS) dengan
pemasangan Cu T 380A selama operasi caesar. Tingkat pengeluaran discharge IUD adalah
4,5% di masing-masing kelompok.

Shereen Z. Butta et al.10 menentukan keamanan pemasangan multiload Cu 375 pada


operasi caesar dalam hal infeksi, konsepsi dan perforasi. Dalam studi mereka luka terinfeksi
pada 10% wanita, lochia berat pada 4% wanita dan 82% wanita bersedia untuk melanjutkan
AKDR dan mereka menganggapnya sebagai metode yang aman dan efektif. Dalam penelitian
kami juga AKDR intra caesar dikaitkan dengan tingkat komplikasi, keparahan dan
pengeluaran discharge yang lebih rendah. pada operasi caesar juga lebih banyak ditawarkan
pemasangan alternatif untuk praktik umum ligasi tuba jika terjadi beberapa operasi caesar
berulang. Wanita yang telah memiliki beberapa operasi caesar pada interval pendek yang
diikuti oleh ligasi tuba, pada usia yang relatif lebih muda mungkin akan menyesal nantinya
terutama jika memandang dari segi tingkat kematian perinatal dan bayi yang tinggi di negara-
negara berkembang seperti India. Oleh karena itu metode reversibel namun berjangka

8
panjang seperti AKDR pada kelompok wanita ini merupakan pilihan yang tepat. Pada
penelitian kami ini pemasangan AKDR segera setelah persalinan tidak mengalami komplikasi
serius, perforasi uterus atau AKDR yang malposisi dalam penelitian kami, yang serupa
dengan hasil penelitian kami oleh Xu J et al.11 yang juga tidak menunjukkan adanya
komplikasi serius dalam pengamatan mereka dan menemukan AKDR pasca persalinan
sebagai metode kontrasepsi yang aman.

KESIMPULAN

Pemasangan IUD pasca persalinan memiliki kelebihan motivasi tinggi, kemudahan


pemasangan dan kenyamanan baik bagi klien maupun penyedia layanan. Pemasangan Alat
kontrasepsi dalam rahim postpartum segera menunjukkan metode kontrasepsi yang
bermanfaat dan aman. Selanjutnya, penggunaan metode kontrasepsi yang aman, diberikan
segera setelah melahirkan dan sebelum pulang dari rumah sakit adalah teknik kesehatan
reproduksi yang jangkauannya lebih luas jika kita mempertimbangkan angka kejadian
puerperium yang berulang setelah menggunakan kontrasepsi

RINGKASAN

Akses terhadap layanan kontrasepsi yang aman dan efektif pada periode
pascapersalinan sangat penting bagi wanita untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan
/ abnormal. Pemasangan AKDR segera setelah melahirkan adalah metode yang efektif dan
aman yang dapat diterima oleh wanita segera setelah melahirkan.

Pendanaan: Tidak ada sumber pendanaan


Konflik kepentingan: Tidak ada yang diumumkan
Persetujuan etis: Penelitian ini disetujui oleh komite etika kelembagaan