Anda di halaman 1dari 21

BAB I

LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. S

Usia : 56 Tahun

Jenis kelamin : Perempuan

Alamat : Arjawinangun

Status : Menikah

Pekerjaan : Wiraswasta

Agama : Islam

Tanggal Masuk RS : 8 Januari 2018 Pukul 13.30

II. ANAMNESA (ALOANAMNESA)


Keluhan Utama
Terdapat benjolan dianus yang tidak dapat dimasukan kembali sejak 1 minggu SMRS

Riwayat Perjalanan Penyakit

Pasien datang ke IGD RSUD Arjawinangun dengan benjolan dianus yang tidak dapat
dimasukan kembali sejak 1 minggu SMRS. Pasien mengatakan benjolan awalnya kecil
semakin lama benjolan membesar. Pasien mengatakan keluhan tersebut disertai dengan
BAB berdarah dan nyeri pada benjolan. Darah tidak bercampur dengan kotoran dan
darah berwarna merah segar. Pasien mengaku benjolan sudah lama ada tetapi dapat
dimasukan kembali sehingga pasien tidak mau berobat ke puskesmas maupun rumah
sakit. Pasien mempunyai riwayat BAB tidak lancar, BAB keras sehingga pasien sering
mengedan pada saat BAB. Pasien merasa nafsu makan pasien berkurang. Mual dan
muntah (-), demam (-), nyeri kepala (-), batuk (-), BAK tidak ada keluhan.

1
Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat keluhan yang sama : disangkal


Riwayat penyakit ginjal : disangkal
Riwayat penyakit jantung : disangkal
Riwayat Hipertensi : disangkal
Riwayat kencing manis : disangkal
Riwayat penyakit kuning : disangkal
Riwayat alergi : disangkal

Riwayat Penyakit dalam keluarga

Riwayat penyakit jantung : disangkal


Riwayat Hipertensi : disangkal
Riwayat kencing manis : disangkal
Riwayat alergi : disangkal

III. PEMERIKSAAN FISIK


Status generalis

Keadaan sakit : Tampak sakit sedang


Kesadaran : Composmentis
Tekanan Darah : 120/90 mmHg
Nadi : 98 x/ menit
RR : 20 x/ menit
Suhu : 36,7 oC

Keadaan Spesifik

i. Kepala : Normocephal, rambut hitam distribusi merata dan tidak mudah


rontok.
ii. Mata : Eksopthalmus dan endopthalmus (-), edema palpebra (-),
Conjunctiva palpebra anemis (+/+),injeksi siliar -/-,sklera ikterik
(-/-), pupil isokhor.
iii. Hidung : Normoseptal, epistaksis (-/-)

2
iv. Telinga : Normotia, meatus akustikus normal (+/+), lubang telinga cukup
bersih, nyeri tekan proc. Mastoideus (-/-).
v. Mulut : Mukosa bibir lembab, lidah deviasi (-), pembesaran tonsil (-/-),
gusi berdarah (-)
vi. Leher : Pembesaran KGB (-)

vii. Dada

 Paru-paru

Inspeksi: statis & dinamis simetris kanan sama dengan kiri


Palpasi: fremitus taktil dan vocal kanan sama dengan kiri
Perkusi : sonor di kedua lapang paru
Auskultasi : vesikuler (+) kanan kiri, ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
 Jantung

Inspeksi : iktus kordis tidak terlihat


Palpasi : iktus kordis teraba di ICS V linea midclavicula sinistra
Perkusi
- Batas Jantung Kanan : ICS V linea sternalis dextra
- Batas Jantung Kiri : ICS V linea midclavicula sinistra
- Batas Atas Jantung :ICS III linea Parasternalis sintra

Auskultasi : Bunyi Jantung I II reguler, Murmur (-), Gallop (-)


 Abdomen
Inspeksi : Bentuk abdomen datar, lembut
Palpasi : Nyeri tekan (-), hepar tidak teraba, lien tidak teraba, Ballotment(-)
Perkusi : Terdengar suara timpani di seluruh lapang abdomen
Auskultasi :Bising usus (+) normal

viii. Genital : tidak diperiksa

ix. Ekstremitas : Ekstremitas atas : akral dingin, edema (-).


Ekstremitas bawah : akral dingin, edema (-).

x. Pemeriksaan Status Lokalis

3
Inspeksi : tampak benjolan diameter ±6 cm, warna merah kecoklatan, abses (-),
mucus (-) proleps rectum (-).
Rectal Toucher: tidak dilakukan karena pasien menolak dan kesakitan.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Tanggal : 8 Januari 2018

LAB RESULT UNIT NORMAL

Darah Rutin
WBC 12,0 103/uL 5.2-12.4

RBC 3,08 106/uL 4,4-6,0


HGB 8,6 g/dL 12-16
HCT 21.2 % 37-47

MCV 68,8 Fl 79-99


MCH 21,8 Pg 27-31
MCHC 31,6 g/dL 33-37
RDW 14,6 % 39,3-64,7

PLT 289 103/ul 150-450

Segmen 78,9 % 50-70


Limfosit 16.8 % 20-40
Monosit 4,3 % 2-8

Eosinophil 0 % 0-3

4
Basophil 0 % 0-1

Luc 110 % 70-140

EKG: Sinus Rhythm, HR 68

IV. RESUME

Pasien datang ke IGD RSUD Arjawinangun dengan benjolan dianus yang


tidak dapat dimasukan kembali sejak 1 minggu SMRS. Pasien mengatakan
benjolan awalnya kecil semakin lama benjolan membesar. Pasien mengatakan
keluhan tersebut disertai dengan BAB berdarah dan nyeri pada benjolan. Darah
tidak bercampur dengan kotoran dan darah berwarna merah segar. Pasien
mengaku benjolan sudah lama ada tetapi dapat dimasukan kembali sehingga
pasien tidak mau berobat ke puskesmas maupun rumah sakit. Pasien mempunyai
riwayat BAB tidak lancar, BAB keras sehingga pasien sering mengedan pada saat
BAB. Pada pemeriksaan inspeksi tampak benjolan diameter ±6 cm, warna merah
kecoklatan, abses (-),mucus (-) proleps rectum (-).

V. DIAGNOSIS
DIAGNOSIS KERJA
Hemorroid Interna gr IV

DIAGNOSIS BANDING
Prolaps Rectum

VI. PENATALAKSAAN
Non Medikamentosa:
- puasa
- Kompres benjolan dengan kassa Nacl 3%

Medikamentosa
- IVFD RL 20 tpm
- Ketorolac Inj 3x1 amp iv
- Ranitidin Inj 2x1 amp iv
- Vit K inj
- Kalnek 3x1 iv

5
RENCANA PEMERIKSAAN

Rontgen Thorax
Hemoroidektomi

VII. PROGNOSIS
- Quo ad vitam : Dubia ad Bonam
- Quo ad functionam : Dubia ad Bonam
- Quo ad sanationam : Dubia ad Bonam

6
TINJAUAN PUSTAKA
HEMORROID

I. Pendahuluan

Hemorhoid adalah pelebaran pleksus hemorrhoidalis yang tidak merupakan keadaan


patologik. Hanya jika hemorhoid ini menimbulkan keluhan atau penyulit sehingga diperlukan
tindakan. Kata hemorrhoid berasal dari kata haemorrhoides (Yunani) yang berarti aliran darah
(haem = darah, rhoos = aliran) jadi dapat diartikan sebagai darah yang mengalir keluar.

Hemorhoid adalah pelebaran pleksus hemorrhoidalis yang tidak merupakan keadaan


patologik. Hanya jika hemorhoid ini menimbulkan keluhan atau penyulit sehingga diperlukan
tindakan. Hemoroid dapat menimbulkan gejala karena banyak hal. Faktor yang memegang
peranan kausal ialah mengedan pada waktu defekasi, konstipasi menahun, kehamilan, dan
obesitas.

II. Anatomi

Canalis ani panjangnya sekitar 4 cm dan berjalan ke bawah dan belakang dari ampulla
recti ke anus. Kecuali defekasi, dinding lateralnya tetap teraposisi oleh m.levator ani dan
sphincter ani. Canalis ani dibatasi pada bagian posterior oleh corpus anococcygeale, yang
merupakan massa jaringan fibrosa yang terletak antara canalis ani dan os coccygis. Di lateral
di batasi oleh fossa ischiorectalis yang terisi lemak. Pada pria, di anterior dibatasi oleh corpus
perineale, diafragma urogenitalis, urethra pars membranacea, dan bulbus penis. Pada wanita,
di anterior dibatasi oleh corpus perineale, diafragma urogenitalis dan bagian bawah vagina.

Bantalan hemoroid adalah jaringan normal dalam saluran anus dan rectum distal Untuk
fungsi kehidupan bersosial yang normal dapat berfungsi sebagai Fungsi kontinens yaitu
menahan pasase abnormal gas, feses cair dan feses padat Fungsi lainnya adalah efektif sebagai
katup kenyal yang “watertight”. Bantalan vaskuler arterio-venous, matriks jar. ikat dan otot
polos. Bantalan hemoroid normal terfiksasi pada jaringan fibroelastik dan otot polos
dibawahnya. Hemoroid interna dan eksterna saling berhubungan, terpisah linea dentate.
Jaringan hemorrhoid mengandung struktur arterio-venous fistula yang dindingnya tidak
mengandung otot, jadi pembuluh darah tersebut adalah sinusoid, bukan vena

7
Gambar 1. Bantalan hemorrhoid

Mukosa paruh atas canalis ani berasal dari ektoderm usus belakang (hind gut).
Gambaran anatomi yang penting adalah :

1. Dibatasi oleh epitel selapis thoraks.


2. Mempuyai lipatan vertikal yang dinamakan collum analis yang dihubungkan satu sama
lain pada ujung bawahnya oleh plica semilunaris yang dinamakan valvula analis (sisa
membran proctedeum.
3. Persarafannya sama seperti mukosa rectum dan berasal dari saraf otonom pleksus
hypogastricus. Mukosanya hanya peka terhadap regangan.
4. Arteri yang memasok adalah arteri yang memasok usus belakang, yaitu arteri rectalis
superior, suatu cabang dari arteri mesenterica inferior. Aliran darah vena terutama oleh
vena rectalis superior, suatu cabang v. Mesenterica inerior.
5. Aliran cairan limfe terutama ke atas sepanjang arteri rectalis superior menuju nodi
lympatici para rectalis dan akhirnya ke nodi lympatici mesenterica inferior.

Mukosa paruh bawah canalis ani berasal dari ektoderm proctodeum dengan struktur
sebagai berikut :

1. Dibatasi oleh epitel berlapis gepeng yang lambat laun bergabung pada anus dengan
epidermis perianal.
2. Tidak mempunyai collum analis

8
3. Persarafan berasal dari saraf somatis n. rectalis inferior sehingga peka terhadap nyeri,
suhu, raba, dan tekan.
4. Arteri yang memasok adalah a. rectalis inferior, suatu cabang a. pudenda interna. Aliran
vena oleh v. rectalis inferior, muara dari v. pudenda interna, yang mengalirkan darah
vena ke v. iliaca interna.
5. Aliran cairan limfe ke bawah menuju nodi lympatici inguinalis superficialis medialis.

Selubung otot sangat berkembang seperti pada bagian saluran cerna, dibagi menjadi
lapisan otot lar logitudinal dan lapisan dalam sirkular. Lapisan sirkular pada ujung atas canalis
ani menebal membentuk spincter ani internus involunter. Sphincter internus diliputi oleh
lapisan otot bercorak yang membentuk sphincter ani ekstenus volunter.

Gambar 2. Skema Penampang Memanjang Anus

Pada perbatasan antara rectum dan canalis ani, penggabungan spincter ani internus
dengan pars profunda sphincter ani eksternus dan m. Puborectalis memebentuk cincin yang
nyata yan teraba pada pemeriksaaan rectum, dinamakan cincin anorectal.

Gambar 3. Anal Kanal dan organ di anterion

9
Secara skematis, gambaran anatomis dapat terlihat pada gambar berikut.

Gambar 4. Anal Kanal

III. Patofisiologi

Kebiasaan mengedan lama dan berlangsung kronik merupakan salah satu risiko untuk
terjadinya hemorrhoid. Peninggian tekanan saluran anus sewaktu beristirahat akan menurunkan
venous return sehingga vena membesar dan merusak jar. ikat penunjang Kejadian hemorrhoid
diduga berhubungan dengan faktor endokrin dan usia.

Hubungan terjadinya hemorrhoid dengan seringnya seseorang mengalami konstipasi,


feses yang keras, multipara, riwayat hipertensi dan kondisi yang menyebabkan vena-vena
dilatasi hubungannya dengan kejadian hemmorhoid masih belum jelas hubungannya.

Hemorhoid interna yang merupakan pelebaran cabang-cabang v. rectalis superior (v.


hemoroidalis) dan diliputi oleh mukosa. Cabang vena yang terletak pada colllum analis posisi
jam 3,7, dan 11 bila dilihat saat paien dalam posisi litotomi mudah sekali menjadi varises.
Penyebab hemoroid interna diduga kelemahan kongenital dinding vena karena sering
ditemukan pada anggota keluarga yang sama. Vena rectalis superior merupakan bagian paling
bergantung pada sirkulasi portal dan tidak berkatup. Jadi berat kolom darah vena paling besar
pada vena yang terletak pada paruh atas canalis ani. Disini jaringan ikat longgar submukosa
sedikit memberi penyokong pada dinding vena. Selanjutnya aliran balik darah vena dihambat
oleh kontraksi lapisan otot dinding rectum selama defekasi. Konstipasi kronik yang dikaitkan
dengan mengedan yang lama merupakan faktor predisposisi. Hemoroid kehamilan sering
terjadi akibat penekanan vena rectalis superior oleh uterus gravid. Hipertensi portal akibat

10
sirosis hati juga dapat menyebabkan hemoroid. Kemungkinan kanker rectum juga menghambat
vena rectalis superior.

Hemoroid eksterna adalah pelebaran cabang-cabang vena rectalis (hemorroidalis)


inferior waktu vena ini berjalan ke lateral dari pinggir anus. Hemorroid ini diliputi kulit dan
sering dikaitkan dengan hemorroid interna yang sudah ada. Keadaan klinik yang lebih penting
adalah ruptura cabang-cabang v. rectalis inferior sebagai akibat batuk atau mengedan, disertai
adanya bekuan darah kecil pada jaringan submukosa dekat anus. Pembengkakan kecil
berwarna biru ini dinamakan hematoma perianal.

Kedua pleksus hemoroid, internus dan eksternus, saling berhubungan secara longgar
dan merupakan awal dari aliran vena yang kembali bermula dari rectum sebelah bawah dan
anus. Pleksus hemoroid intern mengalirkan darah ke v. hemoroid superior dan selanjutnya ke
vena porta. Pleksus hemoroid eksternus mengalirkan darah ke peredaran sistemik melalui
daerah perineum dan lipat paha ke daerah v. Iliaka

IV. Tipe Hemorrhoid

Hemoroid dibedakan atas hemorrhoid interna dan eksterna.

Tingkat I I Tingkat II I Tingkat III Tingkat IV

Gambar 6 Derajat Pada Hemorrhoid Interna

Tabel I. Klasifikasi Hemorrhoid Interna

Classification Treatment Options

1st Degree – No rectal prolapse  Diet


 Local & general drugs
 Sclerotherapy

11
 Infrared coagulation

2nd Degree – Rectal prolapse is  Sclerotherapy


spontaneously reducible  Infrared coagulation
 Banding [recurring banding may
require Procedure for Prolapse and
Hemorrhoids (PPH)]

3rd Degree – Rectal prolapse is manually  Banding


reducible  Hemorrhoidectomy
 Procedure for Prolapse and
Hemorrhoids (PPH)

4th Degree – Rectal prolapse irreducible  Hemorrhoidectomy


 Procedure for Prolapse and
Hemorrhoids (PPH)

V. Gejala Klinis

Banyak kasus anorectal , termasuk fissura, fistulae, abses, atau iritasi dan gatal (pruritus ani),
memiliki gejala yang minimal dan akan menimbulkan kearah diagnosa hemorrhoid yang
keliru. Hemorrhoids biasanya tidak berbahaya.Tetapi pada kenyataanya pasien dapat
megalami perdarahan yang terus menerus sehingga dapat menimbulkan anemia bahkan
kematian.

A. Hemorrhoid Eksterna

Pada fase akut, hemorrhoid eksterna dapat menyebabkan nyeri, biasanya berhubungan dengan
adanya udem dan terjadi saat mobilisasi.Hal ini muncul sebagai akibat dari trombosis dari
v.hemorrhoid dan terjadinya perdarahan ke jaringan sekitarnya. Beberapa hari setelah timbul
nyeri, kulit dapat mengalami nekrosis dan berkembang menjadi ulkus., akibatnya dapat timbul
perdarahan.

12
Pada beberapa minggu selanjutnya area yang mengalami thrombus tadi dapat mengalami
perbaikan dan meninggalkan kulit berlebih yang dikenal sebagai skin tag . Akibatnya dapat
timbul rasa mengganjal, gatal dan iritasi.

B.Hemorrhoid Interna

Gejala yang biasa adalah protrusio, pendarahan, nyeri tumpul dan pruritus. Trombosis atau
prolapsus akut yang disertai edema atau ulserasi luar biasa nyerinya. Hemoroid interna bersifat
asimtomatik, kecuali bila prolaps dan menjadi stangulata. Tanda satu-satunya yang disebabkan
oleh hemoroid interna adalah pendarahan darah segar tanpa nyeri perrektum selama atau
setelah defekasi.

Gejala yang muncul pada hemorrhoid interna dapat berupa:

1. Perdarahan

Merupakan gejala yang paling sering muncul; dan biasanya merupakan awal dari penyakit ini.
Perdarahan berupa darah segar dan biasanya tampak setelah defekasi apalagi jika fesesnya
keras. Selanjutnya perdarahan dapat berlangsung lebih hebat, hal ini disebabkan karena
vascular cushion prolaps dan mengalami kongesti oleh spincter ani.

2. Prolaps

Dapat dilihat adanya tonjolan keluar dari anus. Tonjolan ini dapat masuk kembali secara
spontan ataupun harus dimasukan kembali oleh tangan.

3. Nyeri dan rasa tidak nyaman

Nyeri biasanya ditimbulkan oleh komplikasi yang terjadi (seperti fisura, abses dll) hemorrhoid
interna sendiri biasanya sedikit saja yangmenimbulkan nyeri.Kondisi ini dapat pula terjadi
karena terjepitnya tonjolan hemorrhoid yang terjepit oleh spincter ani (strangulasi).

4. Keluarnya Sekret

Walaupun tidak selalu disertai keluarnya darah, secret yang menjadi lembab sehingga rawan
untuk terjadinya infeksi ditimbulkan akan menganggu kenyamanan penderita dan menjadikan
suasana di daerah anus.

13
VI. Diagnosa

A. Inspeksi
Dilihat kulit di sekitar perineum dan dilihat secara teliti adakah jaringan / tonjolan yang
muncul.

B. Palpasi

Diraba akan memberikan gambaran yang berat dan lokasi nyeri dalam anal kanal. Dinilai juga
tonus dari spicter ani.. Bisanya hemorrhoid sulit untuk diraba, kecuali jika ukurannya besar.
Pemeriksaan colok dubur diperlukan menyingkirkan adanya karsinoma rectum. Jika sering
terjadi prolaps, maka selaput lendir akan menebal, bila sudah terjadi jejas akan timbul nyeri
yang hebat pada perabaan.

C. Anoskopi

Pada anoskopi dicari bentuk dan lokasi hemorrhoid, dengan memasukan alat untuk
membuka lapang pandang. Telusuri dari dalam keluar di seluruh lingkaran anus. Tentukan
ukuran, warna dan lokasinya.

D. Proktosigmoidoskopi

Dilakukan untuk memastikan bahwa keluhan bukan disebabkan oleh proses radang atau
keganasan di tingkat yang lebih tinggi, karena hemorrhoid merupakan keadaan yang fisiologis
saja ataukan ada tanda yang menyertai

E. Pemeriksaan Feses

Dilakukan untuk negetahui adanya darah samar.

VII. Diagnosa Banding

Jika terjadi rasa nyeri akut di daerah anus, harus dipikirkan adanya fisura ani, rasa nyeri pada
hemorrhoid jarang terjadi kecuali sudah timbul trombosis atau prolaps. Fisura ani dapat dilihat
di daerah anterior atau posterior dan anses perianal tampak sebagai masa lunak yang
berfluktuasi.

VIII. Tatalaksana

14
1. Hemorrhoid eksterna

Trombosis akut pada hemorrhoid eksterna merupakan penyebab nyeri yang konstan
pada anus. Penderita umumnya pederita berobat kedokter pada fase akut ( 2- 3 hari pertama).
Jika keluhan belum teratasi, dapat dilakukan eksisi dengan local anestesi.Kemudian dilanjutkan
dengan pengobatan non operatif. Eksisi dianjurkan karena trombosis biasanya meliputi satu
pleksus pembuluh darah. Insisi mungkin tidak sepenuhnya mengevakuasi bekuan darah dan
mungkin menimbulkan pembengkakan lebih lanjut dan perdarahan dari laserasi pembuluh
darah subkutan . Incisi tampaknya lebih sering menimbulkan skin tag daripada eksisi.

2. Hemorrhoid Interna

A. Non InvasiveTreatment

Diperuntukan bagi penderita dengan keluhan minimal.Yang disampaikan meliputi

a. nasehat

- jangan mengedan terlalu lama


- mengkonsumsi makanan yang berserat tinggi
- membiasakan selalu defekasi, jangan ditunda
- minum sekira 8 gelas sehari
b. Obat-obatan vasostopik

Obat Hydroksyethylen yang dapat diberikan dikatakan dapat mengurangi edema dan
inflamasi. Kombinasi Diosmin dan Hesperidin (ardium) yang bekerja pada vascular
dan mikro sirkulasi dikatakan dapat menurunkan desensibilitas dan stasis pada vena
dan memperbaiki permeabilitas kapiler.

Ardium diberikan 3x2tab selama 4 hari kemudian 2x2 selama 3 hari dan
selanjutnya1x1tab.

B. Ambulatory Treatment

1. Skleroterapi

Adalah penyuntikan larutan kimia yang merangsang, misalnya Fenol 5 % dalam minyak nabati,
atau larutan quinine dan urea 5% yang disuntikan ke sub mukosa dalam jaringan areolar

15
longgar di bawah jaringan hemorrhoid. Sclerotheraphy dilakukan untuk menimbulkan
peradangan steril yang kemudian menjadi fibrotik dan meninggalkan parut pada hemorrhoid.
Secara teoritis, teknik ini bekerja dengan cara mengoblitersi pembuluh darah dan
memfiksasinya ke lapisan mukosa anorektal untuk mencegah prolaps. Terapi ini cocok untuk
hemorrhoid interna grade I yang disertai perdarahan banyak. Kontra indikasi teknik ini adalah
pada keadaan inflammatory bowel desease, hipertensi portal, kondisi immunocomprommise,
infeksi anorectal, atau trombosis hemorrhoid yang prolaps. Komplikasi sklerotherapy biasanya
akibat penyuntikan cairan yang tidak tepat atau kelebihan dosis pada satu tempat. Komplikasi
yang paling sering adalah pengelupasan mukosa, kadang bisa menimbulkan abses.

2. Infrared Coagulation

Teknik ini dilakukan dengan cara memberikan radiasi infra merah dengan lampu tungsten-
halogen yang difokuskan ke jaringan hemorrhoid dari reflector plate emas melalui tabung
polymer khusus. Sinar koagulator infra merah (IRC) menembus jaringan ke submukosa dan
dirubah menjadi panas, menimbulkan inflamasi, destruksi jaringan di daerah tersebut. Daerah
yang akan dikoagulasi diberi local anestesi terlebih dahulu. Komplikasi biasanya jarang terjadi,
umumnya berupa koagulasi pada daerah yang tidak tepat.

3. Bipolar Diatheraphy

Teknik ini menggunakan listrik untuk menghasikan jaringan koagulasi pada ujung cauter. Cara
ini efektif untuk hemorrhoid derajat III atau dibawahnya.5

4. Cryotheraphy

Teknik ini didasarkan pada pemebekuan dan pencairan jaringan yang secara teori menimbulkan
analgesia dan perusakan jaringan hingga terbentuk jaringan parut.

5.Rubber Band Ligation

Merupakan pilihan kebanyakan pasien dengan derajat I dan II yang tidak menunjukkan
perbaikan dengan perubahan diet, tetapi dapat juga dilakukan pada hemorrhoid derajat III.
Hemorrhoid yang besar atau yang mengalami prolaps dapat diatasi dengan ligasi menurut
Baron ini. Dengan bantuan anoskop, mukossa diatas hemorrhoid yang menonjol dijepit dan
ditarik atau dihisap kedalam lubang ligator khusus. Rubber band didorong dan ligator
ditempatkan secara rapat di sekeliling mukosa pleksus hemorrhoidalis. Nekrosis karena
iskemia terjadi dalam beberapa hari. Mukosa bersama rubber band akan lepas sendiri. Fibrosis

16
dan parut akan terjadi pada pangkalnya. Komplikasi yang sering terjadi berupa edema dan
trombosis.

Untuk pasien dengan terapi laser dengan prolaps, Rubber Band Ligation adalah cara
terpilih di AS untuk terpi hemorrhoid internal. Prosedur ini , jaringan hemorrhoid ditarik ke
dalam double-sleeved cylinder untuk menempatkan karet disekeliling jaringan. Seiring dengan
jalannya waktu, jaringan dibawahnya akan mengecil.

Gambar 7.Rubber Band Ligation

C. Surgical Approach

Hemorrhoidectomy

Merupakan metoda pilihan untuk penderita derajat III dan IV atau pada penderita yang
mengalami perdarahan yang berulang yang tidak sembuh dengan cara lain.Penderita yang
mengalami hemorrhoid derajat IV yang mengalami trombosis dan nyeri yang hebat dapat
segera ditolong dengan teknik ini. Prinsip yang harus diperhatikan pada hemorrhoidectomy
adalah eksisi hanya dilakukan pada jaringan yang benar-benar berlebihan, dengan tidak
mengganggu spincter ani. Langkah-langkahnya adalah, pertama, anoderm harus dijaga
selama operasi dan hemorrhoidectomy tidak pernah dilakukan sebagai ekstirpasi radikal.
Jaringan yang patologis diangkat. Spincter dengan hati-hati diekspos dan ditinggalkan
selama pengankatan hemorrhoid. Kepastian hemostasis harus benar-benar diperhatikan.

Di Amerika, teknik tertutup yang digambarkan oleh Ferguson dan Heaton lebih dikenal
karena

- mengambil jaringan patologis

17
- perbaikan jaringan cepat
- lebih nyaman
- gangguan defekasi minimal
Hemorrhoidectomy terbuka dipopulerkan oleh Milligan-Morgan, tahun1973.

Ada 2 variasi daras tindakan bedah hemorrhoidectomy, yaitu:

1. Open hemorrhoidectomy
2. Closed hemorrhoidectomy
Perbedaannya tergantung pada apakah mukosa anorectal dan kulit perianal ditutup atau
tidak setelah jaringan hemorrhoid dieksisi dan diligasi

Open Hemorrhoidectomy

Dikembangkan oleh Milligen- Morgan, dilakukan apabila terdapat hemorrhoid yang telah
mengalami gangrenous atau meliputi seluruh lingkaran ataupun bila terlalu sempit untuk
masuk retractor.

Teknik Open Hemorrhoid (Miligan-Morgan)

1. Posisi lithotomy
2. Infiltrasi kulit perianal dan submukosa dengan larutan adrenalin: saline = 1 : 300.000
3. Kulit diatas tiap jaringan hemorrhoid utama dipegang dengan klem arteri dan ditarik
4. Ujung mukosa setiap jaringan hemorrhoid diperlakukan serupa diatas.
5. Insisi bentuk V pada anoderma dipangkal hemorrhoid kira-kira 1,5 – 3 cm dari anal
verge.
6. Jaringan hemorrhoid dipisahkan dari spincter interna dengan jarak 1,5 – 2 cm
7. Dilakukan diatermi untuk menjamin hemostasis
8. Dilakukan transfixion dengan chromic/catgut 0 atau 1-0 pada pangkal hemorrhoid.
9. Eksisi jaringan hemorrhoid setelah transfiksi dan ligasi pangkal hemorrhoid

Closed Hemorrhoidectomy

Dikembangkan oleh Ferguson dan Heaton. Ada 3 prinsip pada teknik ini, yaitu:

1. Mengangkat sebanyak mungkin jaringan vaskuler tanpa mengorbankan anoderm.

18
2. Memperkecil serous discharge post op dan mempercepat proses penyembuhan dengan
cara mendekatkan anal kanal dengan epitel berlapis gepeng (anoderm)
3. Mencegah stenosis sebagai komplikasi akibat komplikasi luka terbuka luas yang diisi
jaringan granulasi.
Indikasi :

1. Perdarahan berlebihan
2. Tidak terkontrol dengan rubber band ligation.
3. Prolaps hebat disertai nyeri.
4. Adanya penyakit anorectal lain.

Teknik-Teknik Closed hemorrhoidectomy

Ferguson Hemorrhoidectomy

- Posisi LLD
- Jaringan hemorrhoid diidentifikasi dan di klem
- Kulit diatas analverge diincisi sampai anal kanal diatas jaringan hemorrhoid
- Jar hemorrhoid external maupun internal dibebaskan dari bagian subcutan
spincter interna maupun eksterna dan dieksisi seluruhnya.
- Jaringan hemorrhoid yang tersisa diangkat dengan undermining mukosa.
- Ligasi dengan cat gut 2 – 0 atau 3 – 0, bias dengan dexon 4-0 atau 5 – 0 dengan
vicril

-
Gambar 8. Ferguson Hemorrhoidectomy

19
IX. Pencegahan

dapat dilakukan dengan:

• Konsumsi serat 25-30 gram sehari. Makanan tinggi serat seperti buah-buahan, sayur-
mayur, dan kacang-kacangan menyebabkan feses menyerap air di kolon. Hal ini
membuat feses lebih lembek dan besar, sehingga mengurangi proses mengedan dan
tekanan pada vena anus.

• Minum air sebanyak 6-8 gelas sehari

• Mengubah kebiasaan buang air besar. Segera ke kamar mandi saat merasa akan buang
air besar, jangan ditahan karena akan memperkeras feses. Hindari mengedan.

X. Prognosis

• Kebanyakan hemoroid menghilang secara spontan atau dengan terapi


konservatif.Namun, komplikasi dapat mencakup trombosis, infeksi sekunder, ulserasi,
abses, dan inkontinensia. Tingkat kekambuhan dengan teknik non bedah adalah 10-
50% selama periode 5 tahun, sedangkan dari hemorrhoidectomy <5%.

• Bila ditangani dengan cepat dan dapat menghindarkan komplikasi, maka prognosisnya
akan baik.

20
DAFTAR PUSTAKA

Bullard KM, Rothenberger DA. 2006. In: Brunicardi FC, Andersen DK, Billiar TR, Dunn
DL, Hunter JG, Pollock RE. Schwartz Manual of Surgery. 8th ed. New York: McGraw Hill.

Nelson, Heidi MD., Roger R. Dozois, MD. 2001. Sabiston Text Book of Surgery.
Phyladelphia: Saunders Company.
Sjamsuhidayat,R,Wim de Jong. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2 : Hemoroid. Jakarta :
EGC.
Welton ML, Chang GJ, Shelton AA. 2006. Hemorrhoid. Current Surgical
Diagnosis&Treatment. 12th ed. New York: McGraw-Hill.

21