Anda di halaman 1dari 19

Hand-Out

Kuliah Agama III/Fisipol-UMY/HI/Semester Genap/2005-2006

RELASI ISLAM DAN DEMOKRASI

Pada sekitar tahun 60-an seorang orientalis pernah


memprediksikan bahwa Islam akan menjadi salah satu kekuatan
politik yang sangat penting di dunia.[1] Pengamat yang lain
memberikan sinyalemen adanya 'kebangkitan' Islam sebagai
gerakan yang semakin go public, yang semakin inklusif. [2] Pada
kenyataannya dapat dilihat bahwa Islam begitu marak dalam
menentukan identitasnya. Begitu banyak aspek kehidupan yang
dicarikan dasarnya dari akar Islam, baik yang sekunder (hadis)
maupun yang primer (al-Quran). Ada kesan bahwa di setiap aspek
kehidupan ini Islam harus memiliki kekhasannya sendiri.

Bersamaan dengan dinamika itu, dalam percaturan politik


dunia, kehancuran ideologi komunis menyisakan demokrasi
sebagai satu-satunya peradaban politik yang dewasa ini semakin
kuat. Kesulitan untuk menyebut demokrasi sebagai ideal type
membuka peluang bagi setiap wilayah di dunia ini untuk mencari
sosok demokrasi yang operasional. Demokrasi di negara yang
satu, kalau boleh dikatakan demikian, berbeda dari demokrasi di
negara yang lain. Singkatnya, setiap kekuatan politik
mengupayakan cita-cita demokrasi yang realistis bagi negaranya
sendiri.

Dalam pengertian ini, Islam sebagai suatu kekuatan politik


memiliki peluang besar untuk menggali kaedah-kaedah yang
bernuansa demokratis. Di situlah kiranya dapat dilihat hubungan
antara Islam dan demokrasi. Tulisan ini dimaksudkan untuk
memberikan gambaran secukupnya tentang relasi antara Islam
dan demokrasi.

Sebelum membahas relasi tersebut, perlu dicatat bahwa


demokrasi dalam tulisan ini tidak mengandaikan polemik yang
begitu mendetail. Demokrasi di sini cukup dimengerti sebagai
suatu kesetaraan politik, perimbangan kekuasaan. Sedangkan
Islam dalam hal ini perlu dilihat sebagai suatu kekuatan politik
yang, lebih dari sekadar ideologi, memiliki deep driving force
untuk menciptakan suatu iklim demokratis. Untuk melihat relasi
antara Islam dan demokrasi, baiklah dilihat dahulu Islam sebagai
suatu kekuatan politik; lalu, pokok-pokok gagasan tentang
demokrasi; dan akhirnya landasan Islam bagi pokok-pokok
tersebut, serta kesimpulan yang dapat ditarik tentang relasi
antara Islam dan demokrasi.

Islam: Satu Kekuatan Politik

Yogyakarta, 20 Mei 2006 1


Hand-Out
Kuliah Agama III/Fisipol-UMY/HI/Semester Genap/2005-2006

Memandang Islam sebagai suatu kekuatan politik


mengandaikan pengertian bahwa Islam memiliki pemahaman
integral akan yang duniawi dan yang ukhrawi. [3] Secara historis
dapat dipahami bahwa Islam menghidupi aspek integral antara
yang duniawi dan ukhrawi, antara yang ruhani dan jasmani. Di
sini pantas dicatat bahwa gerakan Nabi (Muhammad) s.a.w.
sendiri pada awalnya tidak memiliki relevansi politis yang jelas.
Akan tetapi, pada akhirnya gerakan religius Nabi s.a.w. ini
disegani juga oleh pedagang-pedagang besar di Mekah. Gagasan
religius Nabi s.a.w. menjawab situasi Mekah secara total
sehingga lambat laun gerakan Nabi s.a.w. sungguh-sungguh
memiliki relevansi bagi kegiatan politik di tanah Arab itu.[4]

Dari perjuangan Nabi s.a.w. dapatlah dilihat bahwa gerakan


religiusnya memang memiliki relevansi politis. Keterbukaan dan
penghormatan kepada sesama manusia makhluk Allah, misalnya,
baginya cukup menjadi basis penggerak untuk membuat
komunitas pluralistik (dengan Piagam Medina). Hal inilah yang
memungkinkan munculnya pemahaman bahwa Islam sebagai
kekuatan politik tidak terlepas dari Islam sebagai suatu gejala
teologis. Apa yang dihayati, dihidupi sebagai bagian keruhanian
itu terwujud pula dalam kejasmanian. Dengan kata lain, Islam
sebagai gejala teologis pun secara historis terimplementasi
dalam Islam sebagai gejala ideologis. Itu berarti bahwa Islam
memiliki ideologi-ideologi yang mendasari bagaimana ia hidup
dalam tatanan sosial politik.

Lebih radikal lagi, dalam arti luas, dari sini juga dapat
diterima bahwa agama (Islam) memiliki kaitan yang istimewa
dengan negara.[5] Dalam arti tertentu, Islam menawarkan
landasan yang kokoh sebagaimana ideologi lainnya memberikan
dasar untuk penyelenggaraan negara.

Secara teoretis, dengan pola hubungan tujuan-sarana,


mutlak-relatif, hubungan antara Islam dan negara tidak dapat
dimengerti sebagai suatu pola hubungan statis. Artinya,
keharusan adanya negara (Islam) tidak sekuat keharusan adanya
agama Islam. Misalnya, kalau dari segi historis dapat ditemukan
adanya negara Islam dalam arti sebagaimana dialami oleh Nabi
s.a.w., tidak dapat dimutlakkan bahwa tatanan negara Islam itu
diwujudkan dalam masa sekarang ini. (Hal itu akan serupa
dengan pencarian demokrasi yang mengimpikan demokrasi
asali: demokrasi Athena).

Yogyakarta, 20 Mei 2006 2


Hand-Out
Kuliah Agama III/Fisipol-UMY/HI/Semester Genap/2005-2006

Pola hubungan yang dinamis antara Islam dan negara itu


memungkinkan munculnya beberapa penafsiran dan gerakan
dalam Islam sendiri. Kelompok yang lebih moderat tentu saja
tidak memutlakkan institusi negara Islam sebagaimana
ditafsirkan oleh kelompok fundamental. Bahkan, mungkin
kebanyakan para tokoh muslim tidak menolak adanya kompromi
bahwa negara Islam perlu dimengerti sebagai suatu negara yang
dijiwai oleh nilai-nilai Islam. Istilah negara Islam tidak perlu
dimengerti sebagai negara yang segala-galanya diatur menurut
kaedah Islam.[6]

Dengan penafsiran yang lebih terbuka itu (kalau tidak


dapat dikatakan bahwa al-Quran dan hadis sendiri tidak
menyebutkan soal negara Islam) Islam tidak dapat tidak perlu
menemukan ide dasar dalam syari'ah bagi demokrasi. Harus
diakui, demokrasi per se bukanlah gagasan Islam[7] tetapi tidak
berarti bahwa Islam tidak compatible dengan gagasan itu. Islam
justeru harus terbuka pada gagasan demokrasi yang sudah
diakui secara universal sebagai satu peradaban yang layak
diupayakan demi di dunia yang lebih baik. Kiranya dapat
disebutkan di sini apa saja elemen-elemen demokrasi yang perlu
ditemukan basisnya dalam Islam.

Demokrasi: Suatu Kesetaraan Politik

Begitu banyaknya ulasan tentang demokrasi memang


dapat menimbulkan kesulitan kalau di antara ulasan itu ada
pertentangan. Seorang penulis besar seperti Robert A. Dahl pun
bahkan terkesan memakai pendekatan tesis-antitesis-sintesis
yang cukup menimbulkan pertanyaan besar tentang apa itu
sebenarnya demokrasi. Misalnya, gagasannya tentang poliarki
menempatkan demokrasi pada tahap terakhir setelah poliarki.
Sementara negara-negara yang dianggap sudah mengalami
poliarki pun tidak mengalami apa-apa meskipun dikenal sudah
sebagai negara demokratis. Di sini pengertian demokrasi seolah-
olah dikaburkan juga.[8]

Akan tetapi, dari sekian banyak diskusi tentang demokrasi,


kiranya ada saja pokok-pokok yang selalu dibahas sebagai
elemen penting dalam demokrasi atau elemen penting yang
perlu diupayakan oleh demokrasi. Dapat disebutkan di sini
elemen demokratis itu sebagai berikut.[9]

1. Ada pengakuan kesetaraan antara seluruh


individu.

Yogyakarta, 20 Mei 2006 3


Hand-Out
Kuliah Agama III/Fisipol-UMY/HI/Semester Genap/2005-2006

2. Nilai-nilai yang melekat pada individu


mengatasi nilai-nilai yang melekat pada
negara.
3. Pemerintah merupakan pelayan masyarakat.
4. Ada aturan-aturan hukum.
5. Ada pengakuan atas nalar, eksperimentasi dan
pengalaman.
6. Ada pengakuan mayoritas atas hak-hak
minoritas.
7. Ada prosedur dan mekanisme demokratis
sebagai cara mencapai tujuan bersama.

Dari prinsip-prinsip demokratis ini, kiranya dapat diterima


bahwa demokrasi pada akhirnya mengandaikan adanya suatu
kesetaraan atau keseimbangan politis. Itu berarti setiap elemen
masyarakat memiliki kesempatan dan kemampuan yang relatif
seimbang untuk memperjuangkan kepentingan politisnya. Dalam
beberapa kajian tentang demokrasi, hal ini dapat dipahami
sebagai salah satu unsur demokrasi tetapi mungkin juga justeru
tidak dianggap sebagai padanan demokrasi.[10] Akan tetapi,
akhirnya prinsip kesetaraan diterima sebagai basis demokrasi.

Dari paham kesetaraan inilah dapat diturunkan berbagai


macam teori demokrasi yang akomodatif bagi gagasan Islam.
Artinya, Islam sendiri memiliki basis yang kuat yang mendukung
prinsip kesetaraan tersebut. Dengan seiringnya gerak
rasionalitas dan inklusivisme Islam, Islam dapat memperkuat
basis demokratis tersebut dengan syari'ahnya. Tentu saja, karena
Islam memiliki syari'ah yang bersumber pada al-Quran, baiklah di
sini sedikit saja disajikan kaedah-kaedah yang dapat dipakai
sebagai legitimasi untuk demokrasi sebagaimana digagas oleh
Kuntowijoyo.[11]

Kaedah-kaedah Demokrasi

Kaedah-kaedah demokrasi di sini kiranya perlu


dikembalikan kepada pengertian demokrasi yang mengandaikan
prinsip kesetaraan. Prinsip ini dapat diderivasikan pada QS al-
Hujurât (49): 13

َ‫ن ذ هك هننرر وهأ سن مث هننى‬‫م‬ ‫نن‬


‫م‬
‫إ‬ ‫م‬
‫م‬ ‫س‬ ‫ك‬ َ‫ننا‬
‫ه‬ ‫ن‬ ‫م‬ ‫ق‬ ‫ه‬ ‫ل‬ ‫خ‬
‫ه‬ َ‫ننا‬‫ن‬ ‫ن‬ ‫إ‬
‫س إ‬‫س‬ َ‫ننا‬
‫ن‬ ‫ن‬ ‫ال‬ َ‫ها‬
‫ه ه‬
‫ي‬ ‫ي‬‫ياَأ ه‬
‫ل ل إت ههعننناَهرسفوُا إ إ ن‬
‫ن‬ ‫شنننسعوُبباَ وهقههباَإئننن ه‬ ‫جعهل مهنننناَك س م‬
‫م س‬ ‫وه ه‬
‫خإبيِمر‬ ‫م ه‬ ‫ه ع هإليِ م‬‫ن الل ن ه‬ ‫م إإ ن‬‫قاَك س م‬ ‫عن مد ه الل نهإ أ هت م ه‬
‫م إ‬ ‫مك س م‬‫أك مهر ه‬
‫ه‬

Yogyakarta, 20 Mei 2006 4


Hand-Out
Kuliah Agama III/Fisipol-UMY/HI/Semester Genap/2005-2006

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu


dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan
menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku
supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya
orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah
ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha
Mengenal,

yang menunjukkan teosentrisme dalam Islam yang menyatakan


kesatuan sebagai awal eksistensi manusia. Pluralitas kebangsaan
yang terjadi pada akhirnya harus dikembalikan kepada prinsip
asali dengan kaedah ta'arruf (saling mengenal). Kaedah ini jelas
mengandaikan adanya kesamaan, kebebasan, dan juga
komunikasi dialogis tanpa dominasi satu kelompok terhadap
yang lain. Hal ini jelas sangat penting bagi suatu demokrasi
yang efektif.

Kaedah yang kedua diasalkan pada QS asy-Syûrâ (42): 38

‫صننهلة ه‬ ‫ال‬ ‫موُا‬ ‫ه‬


َ‫قننا‬ ‫وانلننذين اسننتجاَبوُا ل إربهننم وأ ه‬
‫ن‬ ‫س‬ ‫ه بإ م ه‬ ‫إ ه م ه ه س‬ ‫ه‬
‫ه‬
‫م‬‫مننناَ هرهزقمن هننناَهس م‬
‫م ن‬ ‫م وه إ‬ ‫م س‬
‫شنننوُهرىَ ب هيِ من ههسننن م‬ ‫مسرهسننن م‬‫وهأ م‬
‫ن‬‫قوُ ه‬‫ف س‬‫ي سن م إ‬
Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi)
seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan
mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara
mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki
yang Kami berikan kepada mereka,

dan Âli 'Imrân (3): 159

َ‫ظا‬‫ت فه ظ‬ ‫م وهل هوُم ك سن م ه‬ ‫ت ل ههس م‬‫ن الل نهإ ل إن م ه‬ ‫م ه‬‫مةر إ‬ ‫ح ه‬‫ماَ هر م‬ ‫فهب إ ه‬
‫ف‬‫ك فهنناَع م س‬ ‫حوُمل إنن ه‬‫ن ه‬ ‫منن م‬ ‫ضننوُا إ‬ ‫ف ي‬ ‫ب هلن م ه‬ ‫قل منن إ‬ ‫ظ ال م ه‬ ‫غ هل إيِنن ه‬
‫ه‬
‫مننرإ‬‫م فإننيِ امل م‬ ‫شنناَوإمرهس م‬ ‫م وه ه‬ ‫فمر ل ههسنن م‬ ‫سننت هغم إ‬
‫م هوا م‬ ‫ع هن مهس م‬
‫ب‬ ‫حن ي‬ ‫ه يس إ‬‫ن النلن ه‬ ‫ل ع ههلىَ الل نهإ إ إ ن‬ ‫ت فهت هوُهك ن م‬ ‫م ه‬ ‫فهإ إهذا ع ههز م‬
‫ال م س‬
‫مت هوُهك بإليِ ه‬
‫ن‬
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku
lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu

Yogyakarta, 20 Mei 2006 5


Hand-Out
Kuliah Agama III/Fisipol-UMY/HI/Semester Genap/2005-2006

bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka


menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu
ma`afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi
mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam
urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan
tekad, maka bertawakkallah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang
bertawakkal kepada-Nya,

yang mengungkapkan kewajiban musyawarah dalam Islam. [12]


Prinsip rupanya juga diperkuat oleh sumber sekunder syari'ah,
yaitu penghayatan yang dilakukan oleh Nabi s.a.w. sendiri.
Kaedah musyarawah ini (syura) sifatnya inklusif karena terbuka
juga bagi kelompok non-muslim.

Kaedah berikutnya adalah ta'awun yang didasarkan pada


QS al-Mâidah (5): 2

‫شهعاَئ إهر الل نهإ وههل ال ن‬ ‫حيلوُا ه‬ ‫مسنوُا هل ت س إ‬ ‫ه‬


‫شهمهر‬ ‫ن هءا ه‬ ‫ذي ه‬ ‫هياَأي يههاَ ال ن إ‬
‫ت‬‫ن ال مب هيِ منن ه‬‫ميِنن ه‬ ‫قهلئ إنند ه وههل هءا ب‬ ‫م وههل ال مههنند ميه وههل ال م ه‬ ‫حننهرا ه‬ ‫ال م ه‬
‫ذا‬‫وُابناَ وهإ إ ه‬
‫ضنن ه‬
‫م وهرإ م‬ ‫ن هرب بهإنن م‬ ‫منن م‬ ‫ضننبل إ‬ ‫ن فه م‬ ‫م ي هب مت هغسننوُ ه‬ ‫حننهرا ه‬ ‫ال م ه‬
‫ه‬
‫ن‬‫ن قهننوُمم ر أ م‬ ‫شننهنآَ س‬ ‫م ه‬ ‫من نك سنن م‬‫جرإ ه‬ ‫دوا وههل ي ه م‬ ‫صنن ه‬
‫طاَ س‬ ‫م هفاَ م‬ ‫حل هل مت سنن م‬ ‫ه‬
‫ه‬
‫دوا وهت ههعنناَوهسنوُا‬ ‫ن ت هعمت ه س‬‫حهرام إ أ م‬ ‫جد إ ال م ه‬ ‫س إ‬‫م م‬ ‫ن ال م ه‬ ‫م عه إ‬ ‫دوك س م‬ ‫ص ي‬ ‫ه‬
‫م‬ ‫ه‬ ‫ه‬ ‫م‬ ‫ه‬
‫وُىَ وهل ت هعهننناَوهسنوُا ع هلنننىَ ال إمثننم إ‬ ‫قننن ه‬ ‫ع هلننىَ الإبننبر هوالت ن م‬
‫ب‬‫قاَ إ‬‫ديد س ال معإ ه‬ ‫ش إ‬ ‫ه ه‬ ‫ن الل ن ه‬ ‫ه إإ ن‬ ‫قوُا الل ن ه‬ ‫ن هوات ن س‬ ‫هوال معسد مهوا إ‬
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
melanggar syi`ar-syi`ar Allah, dan jangan melanggar
kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu)
binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-
id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang
mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari karunia
dan keredhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah
menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan
janganlah sekali-kali kebencian (mu) kepada sesuatu
kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari
Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada
mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam
(mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-
menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan
bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah
amat berat siksa-Nya,

Yogyakarta, 20 Mei 2006 6


Hand-Out
Kuliah Agama III/Fisipol-UMY/HI/Semester Genap/2005-2006

yang menyatakan adanya tuntutan untuk kerja sama demi


'kepentingan' Tuhan dan kepentingan manusia sendiri. Di sini
prinsip untuk demokrasi dimengerti secara positif sebagai prinsip
untuk membangun iklim yang 'bajik' (yang mendatangkan
kebaikan) bagi kehidupan “umat” (komunitas). Untuk itulah
diperlukan kerja sama juga secara positif baik dalam level
komunitas kecil maupun dalam level makro. Prinsip ini bermanfaat
sebagai proses demokratisasi di setiap tingkat komunitas.

Kaedah berikutnya banyak dijumpai dalam al-Quran


sebagai padanan akar kata 'shahîh', yaitu mashlahah. Kaedah ini
berfungsi sebagai suatu moral force supaya setiap individu
berbuat baik dan menghindari keburukan (al-amr bi al-ma'rûf wa
an-nahy ‘an al-munkar), sehingga menguntungkan pihak lain. Di
sini Islam berperanan secara tidak langsung, dalam arti melalui
individu atau kebudayaan (meskipun Kuntowijoyo menyatakan
bahwa sebenarnya agama juga berperan langsung dalam proses
demokratisasi).

Kaedah lainnya adalah 'Adl atau adil, yang ditemukan


dalam QS an-Nisâ' (4): 58

َ‫ت إ إهلىَ أ ههمل إهها‬ ‫ه‬ ‫إن الل نه يأ ممرك س ه‬


‫ماَهناَ إ‬ ‫ن ت سؤ هيدوا امل ه‬ ‫مأ م‬ ‫ه ه س س م‬ ‫إ ن‬
‫ه‬
‫ل‬‫مننوُا إباَل معهنند م إ‬
‫حك س س‬ ‫ن ته م‬‫سأ م‬ ‫ن النناَ إ‬ ‫م ب هيِ م ه‬ ‫حك ه م‬
‫مت س م‬ ‫وهإ إهذا ه‬
َ‫ميِبعا‬ ‫سنن إ‬‫ن ه‬ ‫ه ه‬
‫كاَ ه‬ ‫ن الل ن ه‬ ‫ماَ ي هعإظ سك س م‬
‫م ب إهإ إ إ ن‬ ‫ن الل ن ه‬
‫ه ن إعإ ن‬ ‫إإ ن‬
‫صيِبرا‬
‫به إ‬
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan
amanat kepada yang berhak menerimanya, dan
(menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara
manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.
Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-
baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha
Mendengar lagi Maha Melihat,

dilanjutkan juga pada QS al-An'âm (6): 152. Tentu saja prinsip


keadilan ini self-evident penting sebagai elemen demokrasi.
Keadilan di sini mencakup keadilan sosial (distributive justice)
maupun keadilan ekonomi (productive justice). Cakupan ini diulas
lebih lanjut dalam kajian tentang demokrasi sosial dan demokrasi
ekonomi oleh Kuntowijoyo.

Yogyakarta, 20 Mei 2006 7


Hand-Out
Kuliah Agama III/Fisipol-UMY/HI/Semester Genap/2005-2006

Kaedah demokrasi terakhir yang disebutkan oleh


Kuntowijoyo adalah Taghyîr atau perubahan. Kaedah ini dapat
ditemukan dalam QS ar-Ra'd (13): 11 yang menyatakan bahwa
manusia berperan besar dalam menentukan perubahan hidup.
Kaedah ini mengingatkan sejarah demokrasi di Athena yang
diwarnai oleh tuntutan pergantian anggota “Dewan Lima Ratus”.
Elemen ini tidak dapat dihindari oleh demokrasi yang tidak
mengakomodasi kecenderungan status quo.[13] Demokrasi
menuntut suatu perubahan yang memang sejalan dengan
perkembangan kesadaran manusia yang selalu ingin
mengadakan perbaikan. QS al-Insyiqâq (84): 19

‫ق‬ ‫قاَ ع ه م ه‬
‫ن ط هب ه ب‬
‫ل هت همرك هب س ن‬
‫ن طب ه ر‬
sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat
(dalam kehidupan). sesungguhnya kamu melalui tingkat
demi tingkat (dalam kehidupan),

mendukung peran manusia dalam berproses untuk berubah,


bagaimanapun perubahan itu akan berlangsung.

Tentu dari sekian sumber syari'ah itu tidak ada satu pun
yang menyebutkan demokrasi.[14] Dalam batas tertentu memang
kaedah ini terkesan menjadi rasionalisasi untuk menyatakan
bahwa Islam itu compatible dengan demokrasi. Akan tetapi, hal
itu memang perlu dilakukan sebagai upaya kontak dengan arus
perkembangan tetapi tetap berbasis. Di sini diperlukan 'dialog'
antara Islam sebagai satu kekuatan politik yang besar dan
demokrasi sebagai suatu sistem peradaban yang diakui secara
universal menjadi cita-cita. Bagaimana sebaiknya Islam
'berdialog' dengan demokrasi?

Islam dan Demokrasi: Suatu Nisbah

Sebelum meninjau nisbah antara Islam dan demokrasi,


kiranya perlu disampaikan terlebih dahulu setidak-tidaknya dua
catatan penting yang harus diperhatikan. Pertama, Islam dan
demokrasi tidak dapat diperbandingkan dalam level yang
setingkat. Artinya, Islam sebagai kekuatan politik tidak dapat
dilihat dengan mengesampingkan aspek-aspek keagamaan yang
meliputi cult, creed, code, community. Demokrasi tidak memiliki
elemen-elemen seperti itu sehingga tidak seimbanglah kalau
dibandingkan dengan Islam secara keseluruhan. Dalam hal ini,
demokrasi hanyalah bagian kecil dari sistem kepercayaan dalam
Islam.

Yogyakarta, 20 Mei 2006 8


Hand-Out
Kuliah Agama III/Fisipol-UMY/HI/Semester Genap/2005-2006

Kedua, demokrasi sendiri tidak memiliki arti yang secara


tepat disetujui bersama. Kalau demikian, artinya tidak ada basis
pijakan yang mutlak wajib dipakai sebagai penentu kajian relasi
antara Islam dan demokrasi. Demokrasi tidak dapat menentukan
suatu ideal type bagi dirinya sendiri baik dalam definisi maupun
dalam implementasinya. Sebagai implikasinya, Islam pun dapat
memberi pengertian, memberi isi kepada apa yang disebut
demokrasi sesuai dengan kerangka pemahaman yang
bernafaskan Islam. Dengan demikian, Islam juga berhadapan
dengan instansi lain yang juga memiliki kans untuk memberi
penafsiran atas demokrasi.

Kedua catatan ini cukup penting titik tolak untuk melihat


sifat relasi antara Islam dan demokrasi. Islam dan demokrasi
bukanlah dua entitas yang dapat dipertentangkan begitu saja
atau sebaliknya, dianggap 'satu blok'. Di satu sisi, dapat
dikatakan demokrasi itu compatible dengan Islam, tetapi, di lain
sisi, harus diberi catatan bahwa kecocokan itu ada dalam batas-
batas tertentu. Islam tetap memiliki aspek yang dapat memberi
kesan ketidaksesuaian demokrasi. Baiklah diungkapkan di sini
beberapa penjelasan sebagai berikut.

Islam versus Demokrasi?

Berkenaan dengan catatan pertama, bahwa Islam dan


demokrasi tidak dapat dibandingkan dalam level yang setingkat,
kiranya perlu diakui adanya pola hubungan subordinatif dalam
paradigma Islam. Pola hubungan subordinatif ini menempatkan
Islam sebagai substansi mutlak sedangkan negara menjadi
relatif. Di hadapan negara, Islam bersifat mutlak dalam arti
bahwa negara dapat menjadi ekspresi nilai-nilai perenial Islam.[15]

Dari pola hubungan yang demikian juga dapat dimengerti


bahwa Islam menjadi tujuan sedangkan negara merupakan
sarana saja (betapapun pentingnya sarana itu). Padahal,
demokrasi hanyalah satu dari sekian piranti penyelenggaraan
negara. Karena itu, dalam batas tertentu dapat dikatakan bahwa
Islam pun bersifat mutlak terhadap demokrasi. Kemutlakan Islam
kiranya terletak pada kompleksitas dan kelengkapan (setidak-
tidaknya menurut klaim agama) sistem gagasannya. Dengan
klaim ini Islam memiliki legitimasi untuk memberikan kerangka
hidup yang lebih menyeluruh daripada demokrasi. Perbedaan
keluasan ini akan menempatkan demokrasi di hadapan hukum
dan ajaran Islam. Dengan kata lain, demokrasi dihadapkan pada
teologi Islam.

Yogyakarta, 20 Mei 2006 9


Hand-Out
Kuliah Agama III/Fisipol-UMY/HI/Semester Genap/2005-2006

Relasi antara demokrasi dan gagasan teologis Islam


(konsisten dengan prinsip tauhîd) juga bersifat subordinatif.
Artinya, aspek teologis Islam menjadi otoritas tertinggi dan itu
berarti demokrasi pun harus menyesuaikan diri dengan "jiwa dari
hukum yang diwahyukan".[16] Kalau demikian, memang harus
diakui bahwa antara Islam dan demokrasi ada perbedaan
esensial. Demokrasi yang muncul sebagai hasil olah pikir
manusia membuka peluang besar bagi perubahan nilai oleh
masyarakat dan dapat saja perubahan ini justeru merongrong
nilai abadi dalam Islam.[17]

Kiranya di sinilah letak potensi pertentangan antara Islam


dan demokrasi, yaitu ketika gagasan-gagasan teologis dalam
Islam sendiri berhadapan dengan gagasan demokrasi (yang
tentunya tidak dilandasi perwahyuan transendental). Kasus
Mahmud Mohamed Taha (yang dihukum gantung karena
menyuarakan hak untuk berpindah agama) dapat menjadi
contoh jelas untuk menggambarkan betapa institusi keagamaan,
biar bagaimanapun, memiliki sistem kepercayaan yang dapat
bertentangan dengan gagasan demokrasi.[18]

Demokrasi Islami

Berkenaan dengan catatan kedua, bahwa demokrasi tidak


memiliki arti secara tepat yang disetujui bersama, dapat
dikatakan bahwa demokrasi compatible dengan Islam. Hal ini
dapat dimengerti karena adanya kemungkinan bagi Islam untuk
memberi pemaknaan terhadap demokrasi. Memberi makna
kepada demokrasi berarti menginklusikan demokrasi dalam Islam
atau lebih tepatnya memberi warna islamiah pada demokrasi. Di
sini dapat dipahami bahwa syari'ah demokratis menjadi deep
driving force yang menentukan pola tingkah laku manusia.
Demokrasi tidak dipandang sebagai satu 'budaya' luar (Barat
misalnya) tetapi memang secara internal ada dalam Islam
sehingga harus dieksternalisasikan dalam semangat syari'ah
Islam. Dengan demikian, mungkin akan tampak bahwa
demokrasi diberi atribut Islam: “demokrasi islami”.

Dalam hal ini, demokrasi tidak lagi menjadi kutub yang


dihadapi Islam sehingga tidak ada konflik antara keduanya. Kalau
ada konflik, hal itu hanya akan memposisikan demokrasi sebagai
medium antara Islam dan kekuasaan politik lainnya. Hal ini
misalnya ditunjukkan dalam pergumulan Islam dengan kekuatan
militer di indonesia.[19] Demokrasi menjadi medium pergulatan
interpretasi antara aspek-aspek teologis Islam dan aspek-aspek

Yogyakarta, 20 Mei 2006 10


Hand-Out
Kuliah Agama III/Fisipol-UMY/HI/Semester Genap/2005-2006

kekuatan politik yang lain. Kedua kekuatan politik ini memang


memiliki hak untuk menginterpretasikan demokrasi dan dengan
interpretasi itulah keduanya dapat bersitegang.

Dengan demikian, letak konflik bukan antara Islam dan


demokrasi, melainkan antara Islam dan kekuatan politik lain.
Islam dan demokrasi, biara bagaimanapun, dalam batas catatan
kedua tadi, bertalian kuat sehingga dapat dikatakan bahwa Islam
compatible dengan demokrasi dan sebaliknya. Syari'ah
demokratis memberi legitimasi pada demokrasi untuk disebut
sebagai sistem gagasan yang islamiah. Selain itu, secara historis
Islam sendiri memiliki tradisi yang menunjukkan ciri-ciri
demokrasi. Keadaan bahwa kepemimpinan ditetapkan atas dasar
achievement, proses pemilihan terbuka, hak dan kewajiban
rakyat yang sama, pengakuan hak pada golongan agama lain,
secara historis menunjukkan keunggulan Islam sebagai kekuatan
politik yang luar biasa pada masanya.[20] Keadaan ini menjadi
salah satu gambaran bagaimana Islam mewujudkan demokrasi
dengan ciri-ciri demokratis yang dimilikinya. Aspek historis yang
menjadi tradisi pada masa awal perkembangan Islam itu
menunjukkan peluang adanya Islam demokratis.

Islam Demokratis: Suatu Antisipasi

Dari uraian tersebut di atas, dapatlah dilihat bahwa


sebenarnya potensi pertentangan antara Islam dan demokrasi
terletak pada bagaimana kedua substansi itu ditafsirkan. Tentu
saja tidak dapat disangkal bahwa menyebut Islam berarti
menunjukkan unsur teologis, sedangkan menyebut demokrasi
(sebagai istilah umum tanpa atribut Barat atau pun Islam) berarti
mengacu pada sistem gagasan 'sekular' yang tanpa gagasan
teologis pun dapat bertahan. Jika salah satu, apalagi keduanya,
substansi itu dibatasi secara kaku, terjadilah kontradiksi antara
Islam dan demokrasi.[21]

Demokrasi memang menimbulkan banyak pertanyaan


filosofis untuk menentukan batasan-batasannya.[22] Kerumitan
titik pijak diskusi demokrasi ini memberi kesan bahwa demokrasi
memang tidak dapat diidentikkan dengan atribut-atribut
tertentu. Dalam hal ini, demokrasi memang kiranya tidak perlu
diidentikkan dengan demokrasi liberal Barat (walaupun dalam
banyak kesempatan diklaim bahwa peradaban yang mutakhir
dewasa ini adalah demokrasi liberal Barat). Kembali ke awal
tulisan ini, sebagai prinsip dasar cukuplah diandaikan bahwa
demokrasi adalah perimbangan politik.

Yogyakarta, 20 Mei 2006 11


Hand-Out
Kuliah Agama III/Fisipol-UMY/HI/Semester Genap/2005-2006

Dalam pelaksanaannya, variasi akan terjadi di mana-mana


sehingga memang tidak dapat ditentukan model negara
demokrasi yang akurat. Dengan demikian, Islam dapat
berinteraksi dengan demokrasi. Akan tetapi, interaksi itu pun
akan mengalami stagnasi kalau Islam ditafsirkan secara kaku
atau tradisional. Dengan kata lain, dialog Islam dan demokrasi
akan mengalami kebuntuan kalau teologi Islam sendiri tidak
mengalami transformasi. Kebuntuan ini disebabkan bukan oleh
sifat statisnya demokrasi, melainkan oleh kemacetan Islam
dalam merumuskan kembali identitasnya, yang dalam hal ini
teologinya.

Masa depan Islam sedikit banyak akan ditentukan oleh


bagaimana teologi Islam dapat memberi makna pada arus
kemajuan.[23] Untuk itulah Islam tidak dapat tidak mengupayakan
suatu teologi transformatif sehingga Islam memberikan ruang
kebebasan yang diperlukan untuk menanggapi perkembangan
zaman[24]. Di sini, Islam perlu merumuskan pandangan-
pandangan terhadap misalnya sekularisasi, martabat manusia,
solidaritas, kerja sama antar agama mengingat adanya pluralitas
agama.

Termasuk di dalamnya juga Islam perlu menjadi terbuka


untuk memegang syari'ah secara wajar. Artinya, sumber-sumber
syari'ah itu perlu dilihat secara proporsional, yang berarti
mempertimbangkan aspek historis. Dengan demikian, dapatlah
ditemukan mana yang sungguh-sungguh perenial dan mana
yang bersifat spasial dan temporal. [25] Jadi, dapat dibedakan
antara yang mutlak dan relatif sehingga tidak ada pemutlakan
antara keduanya (yang cenderung menimbulkan ciri ideologis
dalam Islam).

Usaha ini akan menghindarkan Islam dari bahaya stagnasi


dan arogansi sebagaimana pernah dialami oleh institusi Gereja.
Sebut saja salah satu gagasan teologisnya yang seringkali
dijadikan contoh landasan kemandegan Katolik, yaitu gagasan
extra ecclesiam nulla salus.[26] Aksioma teologis semacam ini
memandulkan Gereja sebelum Konsili Vatikan II secara resmi
memberi angin segar keterbukaan. Gereja lambat laun
memperbaharui diri menggumuli hidup bermasyarakat,
berbangsa, bernegara. Keadaan kondusif itu memerlukan suatu
reinterpretasi terhadap gagasan-gagasan dasar teologis maupun
gagasan-gagasan dasar sekularisasi dunia.

Yogyakarta, 20 Mei 2006 12


Hand-Out
Kuliah Agama III/Fisipol-UMY/HI/Semester Genap/2005-2006

Usaha reinterpretasi terhadap Islam atau membuat


semacam teologi transformatif itu juga akan memantapkan
kekuatan politis Islam baik dalam tataran teori maupun dalam
implementasinya. Secara teoretis dapatlah disimpulkan bahwa
Islam tetap memandang demokrasi sebagai bagian penting
peradaban manusia.[27] Dalam ungkapan yang lebih lugas bahkan
dapat dikatakan Islam dan demokrasi tidak dapat dipisahkan
(meskipun tentu saja dapat dibedakan), sebagaimana doktrin
Islam menunjuk adanya keterkaitan yang begitu kuat antara
Islam dan negara. Karena itu, secara teoretis hubungan Islam
dan demokrasi tidak pernah dicemaskan. Relasi antara Islam dan
demokrasi juga lebih bersifat positif. Setidak-tidaknya, syari'ah
demokratis lebih menonjol jika dibandingkan dengan syari'ah
nondemokratis.[28]

Praksis Islam Demokratis

Lain halnya kalau pola hubungan Islam dan demokrasi


ditilik dari sisi politik praktis. Kadang kala yang terjadi justeru
syari'ah yang nondemokratis lebih menonjol. Setidak-tidaknya
penghayatan syari'ah itu tidak sesuai dengan semangat
demokrasi.[29] Kalau sudah pada taraf implementasi, biasanya
pertimbangan pragmatis akan lebih banyak berperan. Usaha
teoretis untuk secara murni menghayati Islam dapat saja
direduksi sebagai suatu kegiatan politik belaka. Padahal,
sebagaimana ditekankan sebagai prinsip tawhid, kegiatan politik
sebenarnya menjadi manifestasi Islam sebagai gejala teologis. [30]

Dalam hal ini, dapat dimengerti bahwa manifestasi Islam


tersebut memang tidak dapat dibakukan dalam satu wadah.
Sejarah Indonesia menyaksikan bahwa Islam di Indonesia
memiliki kekayaan wadah yang seringkali oleh pengamat
disederhanakan sebagai Islam kultural dan Islam skriptural.
Lepas dari polemik penyederhanaan itu, dapat dikatakan di sini
bahwa praktik yang dilakukan oleh Islam memiliki implikasi yang
besar bagi perkembangan demokrasi di Indonesia. Tentu saja,
pertama-tama karena Islam memiliki basis masa yang sangat
besar.

Dapat dikatakan bahwa perkembangan demokrasi di


Indonesia bergantung pada soliditas Islam. Kalaupun
dimasukkkan juga unsur militer, militer pun (karena sebagai
angkatan bersenjata secara teoretis tidak memiliki legitimasi
untuk suatu demokrasi) akan bergantung juga pada gerak Islam.
Kalau demikian, tidak dapat tidak Islam harus menjadi promotor

Yogyakarta, 20 Mei 2006 13


Hand-Out
Kuliah Agama III/Fisipol-UMY/HI/Semester Genap/2005-2006

bagi perjuangan demokrasi. Akan tetapi, peran ini tidak akan


efektif selama Islam tidak membuka dialog dengan kekuatan
politik lainnya. Karena itu, Islam tetap dituntut menjadi Islam
yang demokratis.

Dalam praktik sehari-hari, agaknya Islam demokratis


bukanlah realitas semu di kalangan grass-root. Nilai-nilai
demokratis sudah dihayati oleh kelompok besar Islam. Kalau
pada kenyataannya suasana demokrasi itu tidak terjadi dalam
percaturan politik di Indonesia, itu berarti bahwa di tingkat elitlah
Islam mengalami kemacetan.[31] Elit Islam tidak perlu dibatasi
pada pimpinan di pemerintahan, karena termasuk juga dalam
kelompok ini para kaum terpelajar, pers, maupun tokoh
(pemimpin) umat lokal.

Dengan mengandaikan bahwa budaya politik demokratis


(bukan sekadar penghayatan nilai-nilai demokrasi, melainkan
juga soal institusi) lahir dari atas,[32] kiranya dapatlah ditegaskan
perlunya konsolidasi di tingkat elit Islam. Tentu saja, karena
begitu ragamnya elit Islam ini, konsolidasi bukanlah sesuatu
yang mudah dan cepat dicapai. Pada kenyataannya, konsolidasi
itu juga perlu dilakukan justeru dengan membangun jaringan
lintas agama. Di sini, diperlukanlah suatu dialog antar agama.

Dialog itu tidak cukup dilakukan dalam tataran teologis


(sehingga yang berdialog hanyalah para teolog) tetapi juga perlu
mencakup tingkat politis. Dalam hal ini, diperlukan semacam
koalisi yang dapat menunjang penyelenggaraan demokrasi di
Indonesia sebagai negara yang mau tidak mau dikategorikan
sebagai negara Dunia Ketiga.[33] Dengan strategi ini, Islam tetap
memiliki peluang untuk mewujudkan syari'ah demokratis, sambil
sendiri mengembangkan Islam yang demokratis. Dengan
demikian, semakin berterimalah bahwa jalan menuju demokrasi
bagi Islam di Indonesia adalah jalan yang sangat panjang, yang
tidak mungkin ditempuh dengan semangat eksklusif. Karena itu,
wanted: Islam inklusif, Islam demokratis.

Bahan Bacaan:

Agus Edi Santoso (ed.) 1997. Tidak Ada Negara Islam (Surat-Surat
Politik Nurcholish Madjid-Mohamad Roem). Jakarta: Penerbit
Djambatan.

Yogyakarta, 20 Mei 2006 14


Hand-Out
Kuliah Agama III/Fisipol-UMY/HI/Semester Genap/2005-2006

Ahmad Suaedy. et al. (ed.). 1994. Spiritualitas Baru: Agama dan


Aspirasi Rakyat. Yogyakarta: Penerbit Institut
Dian/Interfidei.

Arief Afandi (ed.). 1997. Islam: Demokrasi Atas Bawah.


Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Dahl, Robert A. 1989. Democracy and Its Critics. New Haven &
London: Yale University Press.

Djohan Effendi dan Ismed Natsir (ed.). 1981. Pergolakan


Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib. Jakarta:
LP3ES.

Dunn, John (ed.). 1992. Democracy The Unfinished Journey. New


York: Oxford University Press.

Esposito, John & John O. Voll. 1996. Islam & Democracy. New York:
Oxford University Press.

Fahmy Huwaydi. 1996. Demokrasi, Oposisi dan Masyarakat


Madani: Isu-Isu Besar Politik Islam. Bandung: Penerbit
Mizan. Terjemahan oleh Muhammad Abdul Gofar E.M.

Hamid Enayat. 1982. Modern Islamic Political Thought. Austin:


University of Texas Press.

Harrison, Ross. 1993. Democracy. London and New York:


Routledge.

Kuntowijoyo. 1997. Identitas Politik Umat Islam. Bandung:


Penerbit Mizan.

Lewis, Bernard. 1994. Bahasa Politik Islam. Jakarta: PT Gramedia


Pustaka Utama. Terjemahan oleh Ihsan Ali-Fauzi.

Lijphart, Arend. 1977. Democracy in Plural Societies. New Haven:


Yale University Press.

Mahmoud Mohamed Taha. 1996. Syari'ah Demokratik. Surabaya:


ELSAD. Terjemahan oleh Nur Rachman.

Mardiatmadja, B.S. 1997. "Sosiologi Agama". Diktat perkuliahan


"Agama dan Masyarakat" pada Sekolah Tinggi Filsafat
Driyarkara.

Yogyakarta, 20 Mei 2006 15


Hand-Out
Kuliah Agama III/Fisipol-UMY/HI/Semester Genap/2005-2006

Maulana Muhammad Ali. 1996. Islamologi (Dinul Islam). Jakarta:


Darul Kutubil Islamiyah. Terjemahan oleh R. Kaelan dan H.
M. Bachrun.

M. Imam Aziz. et al. (ed.). 1993. Agama, Demokrasi & Keadilan.


Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Muhammad AS Hikam. 1996. Demokrasi dan Civil Society.


Jakarta: LP3ES.

Nurcholish Madjid. 1995. Islam Agama Kemanusiaan. Jakarta:


Yayasan Wakaf Paramadina.

Ramage, Douglas E. 1996. Politics in Indonesia: Democracy, Islam


and Ideology of Tolerance. New York & London: Routledge.

Watt, W. Montgomery. 1968. Islamic Political Thought. Edinburgh:


Edinburgh University Press.

Catatan:

Bandingkan: “Introduction”, W. Montgomery Watt,


[1]

Islamical Political Thought (Edinburgh: Edinburgh University Press,


1968)

Bandingkan: Bagian kesimpulan Douglas E. Ramage,


[2]

Politics in Indonesia: Democracy, Islam and the Ideology of


Tolerance (New York and London: Routledge, 1996)

Bandingkan:
[3]
Nurcholish Madjid, Islam: Agama
Kemanusiaan (Jakarta: Yayasan Wakaf Paramadina, 1995), hlm.
188. Lihat juga Kuntowijoyo, Identitas Politik Umat Islam
(Bandung: Penerbit Mizan, 1997), hlm. 4-6.

Bandingkan: W. Montgomery Watt, op.cit., hlm. 3-30.


[4]

Menarik untuk diperhatikan bahwa relatif banyak literatur


[5]

membahas soal interpretasi terhadap suatu negara Islam


(Islamic state). Bandingkan: Bernard Lewis, Bahasa Politik Islam
(Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1994), hlm. 3-4 tetapi juga
Bandingkan: Nurcholish Madjid, op.cit., hlm.188-189.

Yogyakarta, 20 Mei 2006 16


Hand-Out
Kuliah Agama III/Fisipol-UMY/HI/Semester Genap/2005-2006

Gagasan tentang tidak adanya negara Islam disampaikan


[6]

oleh Amien Rais yang mendapat dukungan dari Mohamad Roem.


Bandingkan: Agus Edi Santoso (ed.), Tidak Ada Negara Islam:
Surat-Surat Politik Nurcholish Madjid-Mohamad Roem (Jakarta:
Penerbit Djambatan, 1997), hlm. 1-11.

Bandingkan: M. Imam Aziz, et. al. (ed.), Agama,


[7]

Demokrasi & Keadilan (Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka


Utama, 1993), hlm. 63-66.

Bandingkan: Robert A. Dahl, Democracy and Its Critics


[8]

(New Haven & London: Yale University Press, 1989), hlm. 213-
224.

Mahmoud
[9]
Mohamed Taha, Syari'ah Demokratik
(Surabaya: Lembaga Studi Agama dan Demokrasi, 1996), hlm.
232-233.

Bandingkan: John Dunn (ed.), Democracy The Unfinished


[10]

Journey (New York: Oxford University Press, 1992), hlm. 73, 115.
[11]
Kuntowijoyo, op.cit., hlm. 91-105.
[12]
Lihat juga Bernard Lewis, op.cit., hlm. 194-202.
[13]
Bandingkan: John Dunn (ed.), op.cit., hlm. 1-16.
[14]
Bandingkan: M. Imam Aziz, loc. cit.

Hal ini juga dapat dibandingkan dengan pola hubungan


[15]

Islam dan budaya misalnya. Budaya dapat merupakan ekspresi


hidup keagamaan, karena itu sub-ordinate terhadap agama, dan
tidak pernah sebaliknya. Lih. Nurcholish Madjid, op. cit., hlm. 36.

Maulana Muhammad Ali, Islamologi: Dinul Islam (Jakarta:


[16]

Darul Kutubil Islamiyah, 1996), hlm. 106.

Lihat: Ahmad Suaedy, et al. (eds.), Spiritualitas Baru:


[17]

Agama dan Aspirasi Rakyat (Yogyakarta: Penerbit Institut


Dian/Interfidei, 1994), hlm. 271-273.
[18]
ibid.

Dalam sejarah Indonesia dapatlah dilihat bagaimana


[19]

konflik muncul antara militer dan Islam. Kelompok militer

Yogyakarta, 20 Mei 2006 17


Hand-Out
Kuliah Agama III/Fisipol-UMY/HI/Semester Genap/2005-2006

cenderung melihat Islam sebagai kekuatan politik yang


mengancam kesatuan bangsa Indonesia. Bandingkan: Douglas E.
Ramage, op. cit. khususnya sub-bab "The armed forces as
defenders of Pancasila".

Bandingkan: Nurcholish Madjid, op. cit., hlm. 188-189.


[20]

Bandingkan: John L. Esposito & John O. Voll, Islam &


[21]

Democacy (New York: Oxford University Press, 1996), hlm. 21.

Bandingkan: Ross Harrison, Democracy (London & New


[22]

York: Routledge, 1993), hlm. 1-13.

Bandingkan: B.S. Mardiatmadja, "Sosiologi Agama", hlm.


[23]

34.

Bandingkan: Muhammad AS Hikam, op. cit., hlm. 216-


[24]

228. Juga Ahmad Suaedy, op. cit., hlm. 273.

Bandingkan: Djohan Effendi dan Ismed Natsir (eds.),


[25]

Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib


(Jakarta: LP3ES, 1981), hlm. 26.

Aksioma yang sudah kadaluwarsa ini dipakai sebagai


[26]

penegasan pentingnya keanggotaan dalam Gereja. Dengan


interpretasi baru terhadap Gereja, aksioma ini memang tidak
menyangkal adanya keselamatan orang yang berkehendak baik
meskipun tidak menjadi anggota Gereja (pada tahun 1949 Pius
XII mengeluarkan surat kepada Uskup Agung Boston berkenaan
dengan kasus imam Leonard Feeney yang membuat ajaran sesat
berkenaan dengan aksioma ini; lih. J. Neuner & J. Dupuis (ed.),
The Christian Faith in The Doctrinal Documents of The Catholic
Church (Bangalore: Theological Publications in India, 1982), hlm.
240-241). Dengan demikian, Gereja tidak memiliki hambatan
untuk berdialog, kerja sama dengan kelompok lain dalam
menanggapi dunia yang terus berkembang ini.

Amien Rais menegaskan bahwa demokrasi menjadi satu-


[27]

satunya cara untuk membangun masyarakat yang lebih baik.


Umat Islam hanya bisa aman membangun masa depan jika
menerapkan demokrasi. Bandingkan: Arief Afandi (ed.), Islam:
Demokrasi Atas Bawah (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997), hlm.
122-123.

Yogyakarta, 20 Mei 2006 18


Hand-Out
Kuliah Agama III/Fisipol-UMY/HI/Semester Genap/2005-2006

Gagasan positif tentang relasi antara Islam dan


[28]

demokrasi dipaparkan secara komprehensif dalam Fahmy


Huwaydi, Demokrasi, Oposisi dan Masyarakat Madani: Isu-Isu
Besar Politik Islam (Bandung: Penerbit Mizan, 1996), hlm. 7-14
dan 151-257.

Bandingkan: Ahmad Suaedy, et. al. (eds.), op. cit., hlm.


[29]

273.

Dalam arti ini jugalah dikatakan bahwa Islam compatible


[30]

dengan demokrasi, yaitu bahwa Islam mendapatkan nilai-nilai


dasar demokrasi itu dalam Al-Quran. Dengan kata lain,
demokrasi mendapatkan legitimasi teologis dari Islam.
Bandingkan: Hamid Enayat, Modern Islamic Political Thought
(Austin: University of Texas Press, 1982), hlm. 125-129.

Bandingkan: Arief Afandi, op. cit. hlm. 118-119.


[31]

Gagasan serupa dikemukakan dalam laporan seminar


[32]

Franz Magnis-Suseno berjudul "Bangun Institusi Demokratis",


KOMPAS, Jumat, 4 Desember 1998, hlm. 9.

Pluralitas negara Indonesia menuntut adanya koalisi


[33]

yang crosscutting, yang melibatkan seluruh elemen-elemen


penting dalam masyarakat sehingga penyelenggaraan negara
memperkecil kuantitas bahwa sekelompok masyarakat tidak
dapat menikmati proses demokrasi. Bandingkan: Arend Lijphart,
Democracy in Plural Societies (New Haven: Yale University Press,
1977), hlm. 1-31.

Yogyakarta, 20 Mei 2006 19