Anda di halaman 1dari 8

Hand-Out

Kuliah Agama Islam III/Fisipol-UMY/HI/Semester Genap/2005-2006

PROBLEM EPISTEMOLOGIS DALAM MEMAHAMI ISLAM

Pada 1980-an akhir, seorang ulama dan mantan Ketua


Komisi Fatwa MUI Pusat, Prof. Ibrahim Hosen, Lc., sempat
mengajukan saran-saran bagi pembaruan pemikiran Islam di
Indonesia. Beberapa sarannya itu ialah: (1) tinggalkan penafsiran
harfiah terhadap al-Quran; digantikan dengan pemahaman pada
semangat dan jiwa al-Quran; (2) mengambil sunnah Rasul dari
segi jiwanya dan memberi keleluasaan penuh untuk
menyelesaikan berbagai masalah keduniawian; (3) mengganti
pendekatan ta'abbudi terhadap nash-nash dengan pendekatan
ta'aqquli; (4) melepaskan diri dari masâlikul 'illah gaya lama dan
mengembangkan perumusan illat hukum baru; (5) menggeser
perhatian dari masalah pidana yang ditetapkan nash; (6)
mendukung hak pemerintah untuk men-takhshish umumnya
nash dan membatasi muthlaq-nya.

Selain Hosen, ada juga Munawir Sadzali, Harun Nasution,


dan Nurcholis Madjid, termasuk Gus Dur. Di Pakistan ada Fazlur
Rahman dan Ali Abul Razik di Mesir. Pemikiran mereka hampir
sejalan yang berpangkal tolak pada upaya Islam menyesuaikan
diri dengan perubahan zaman. Dengan kata lain, bagaimana teks
al-Quran dan as-Sunnah bisa "ditundukkan" ke dalam realitas
sosilogis yang empiris. Tesisnya, bila teks tak sesuai lagi dengan
semangat dan jiwa al-Quran dan as-Sunnah, gugurlah teks itu
kendatipun qath'i (pasti). Abu Yusuf, misalnya, salah seorang
murid kinasih Imam Hanafi sempat berfatwa, "Nash sekalipun,
bila dahulu dasarnya adat dan adat itu sudah berubah, gugur
pula hukum yang terkandung dalam nash itu."

Pemikiran semacam itu bukanlah hal baru dalam tradisi


pemikiran Islam klasik. Jauh sebelum itu, Umar bin Khattab --
yang menjadi inspirator kelompok pemikiran Islam Liberal --
sudah lama melakukan pengambilan hukum yang lebih
menekankan semangat dan jiwa al-Quran dan as-Sunah daripada
teks. Dalam ijtihad Umar, misalnya, posisi akal menempati
tempat yang utama sehingga Ahmad Amin dalam "Fajar Islam"
menjuluki Umar sebagai pembawa mazhab ra'yi (akal). Hingga
kini ijtihad Umar masih dipandang cukup kontroversial. Umar,
misalnya, pernah menghentikan (tidak memberikan) zakat bagi
muallaf, padahal secara tekstual diharuskan dalam surat at-
Taubah, 9: 60; menggugurkan hukuman potong tangan bagi
pencuri, padahal sudah diatur dalam al-Mâidah, 5: 38; tidak

Yogyakarta, 11 Maret 2006 1


Hand-Out
Kuliah Agama Islam III/Fisipol-UMY/HI/Semester Genap/2005-2006

membagikan rampasan perang, padahal sudah diatur dalam al-


Anfâl, 8: 41.

Salahkah Umar? Nanti dulu! Para mufassir justeru


menyatakan sebaliknya. Dalam kasus-kasus ijtihad di atas, Umar
secara lahiriah keluar dari teks, tetapi secara esensial justru
berpegang teguh pada esensi al-Quran. Zakat bagi muallaf tidak
dibagikan Umar karena umat Islam sudah kuat, sedangkan pada
zaman Nabi s.a.w. umat (Islam) belum kuat. Karena illat-nya
sudah hilang, gugurlah perintah itu. (Hukum) “Potong Tangan”
tidak dilaksanakan Umar, mengingat kala itu tengah terjadi
peceklik panjang dan banyak orang kelaparan. Khalifah Agung ini
juga tak membagikan rampasan perang demi kepentingan rakyat
yang lebih besar. Itulah ijtihad Umar yang selalu
mempertimbangkan konteks historis turunnya ayat dan
pertimbangan kepentingan umum (al-mashlahah al-mursalah).

Dengan Rasul s.a.w. pun, Umar sering "berbeda" pendapat


dalam berbagai urusan. Namun, pendapat Umar sering
dijustifikasi al-Quran. Ada hadis Nabi s.a.w. yang menyatakan,
"Umar mengemukakan satu pendapat, maka turunlah al-Quran
dengan pendapatnya itu" (Mujahid dan al-Mardawiyah). Dari sini
ditariklah simpulan, untuk urusan-urusan duniawi, Rasul s.a.w.
bisa khilaf. Rasul sendiri bersabda, (Antum a’lamu bi amri
dînikum) "Urusan duniamu, kalian lebih tahu". Oleh karena itu,
Imam Hanafi yang juga "dekat" dengan model ijtihad Umar,
pernah berkata, "Seandainya Rasulullah berjumpa denganku,
beliau akan banyak mengambil pendapatku." Di sini akan muncul
kontroversi sekitar ushûl fiqh, yakni istinbâth al-ahkâm
(metodologi pengambilan hukum).

Kritik pada Islam Liberal

Bila Ulil Absar Abdalla bilang: tidak ada "hukum" Tuhan, Nabi
Muhammad s.a.w. perlu dikritisi karena ia juga manusia biasa
dan semua agama "sama", itu bukan hal aneh. Hukum dalam
terminologi Islam disebut syariat yakni berbagai ketentuan atau
aturan yang ditarik dari al-Quran dan as-Sunah. Sampai di situ
Muslimin sepakat tanpa ikhtilâf. Namun apa kandungan syariat
itu, fikih saja atau plus muamalah dan akidah, orang bisa
berbeda. Begitu juga, pemaknaan tentang syariat, apakah syariat
sebagai tujuan yang sudah baku atau sebuah metodologi atau
cara untuk mencapai kebenaran Tuhan Yang Mahamutlak, di situ
pun orang bisa berbeda.

Yogyakarta, 11 Maret 2006 2


Hand-Out
Kuliah Agama Islam III/Fisipol-UMY/HI/Semester Genap/2005-2006

Ketika Rasulullah s.a.w. ditempatkan sebagai manusia biasa


yang harus dikritisi terus-menerus, di balik itu ada satu asumsi
bahwa Rasul s.a.w. atau as-Sunnah, termasuk al-Quran, turun
dalam sebuah konteks sejarah yang bersifat nisbi. Al-Quran pada
dasarnya adalah respons atau petunjuk dalam menghadapi
masalah yang dihadapi masyarakat waktu itu. Wahyu yang
diterima Nabi secara gradual pada abad ketujuh untuk
masyarakat Arab kala itu, tentu saja berbeda dengan kondisi
sekarang. Implikasinya akan ada banyak kemungkinan nash
(secara tekstual) tidak relevan lagi dengan semangat zaman.
Kalau begitu, bagaimana Islam bisa mempertahankan klaim
keabadian dan keuniversalan nilai-nilainya?

Oleh karena itu, demi mempertahankan keabadian, Islam


menghadapi gempuran zaman itu, ada mazhab yang
menawarkan upaya ijtihad dengan memerhatikan aspek
pertama, maqâshid al-syarî’ah, yakni tujuan diterapkannya
sesuatu hukum. Kedua, pertimbangan al-mashâlih al-murshalât
yakni kemaslahatan umum bagi umat. Hasilnya pendekatan
metodologi ijtihad ini melahirkan misalnya, tidak pentingnya
Muslimah meakai jilbab, Islam tidak mengatur urusan negara,
hukum potong tangan tidak relevan, SDSB bukan judi, "syariat"
Islam itu tidak ada.

Tentu saja tidak semua sepakat dengan metodologi ‘model’


Umar atau Imam Hanafi -- yang dipahami oleh kelompok Islam
Liberal -- yang menempatkan akal di atas nash (teks al-Quran
dan as-Sunnah). Permasalahannya, pendekatan ini menyimpan
kemusykilan-kemusykilan yang berimplikasi besar bagi bangunan
hukum Islam. Kritikan terhadap metodologi ini -- sebut saja kaum
Islam Liberal -- di antaranya kata Jalaluddin Rakhmat dalam
"Dahulukan Akhlak di atas Fikih" (2002), adalah kecenderungan
untuk mengabaikan nash-nash yang qath'i sekalipun, termasuk
kecenderungan "menyimpangkan makna nash (tahrif)". Zakat itu
misalnya, boleh jadi tidak wajib lagi ketika pemerintah sudah
melakukan pemerataan ekonomi dan memberi santunan bagi
fakir miskin. Bukankah esensi zakat adalah pemerataan? Puasa
juga tidak perlu dilaksanakan ketika banyak orang sibuk mencari
nafkah atau tengah membangun bangsa? Bukanlah Rasul s.a.w.
pernah menyuruh (untuk) tidak harus berpuasa – sebagai
rukhshah -- ketika para para sahabat siap menghadapi perang di
bulan Ramadhan? Ketika kesulitan (masyaqqah) yang sepadan
dihadapi oleh umat Islam di masa sekarang dan akan dating,
apakah (juga) tidak mungkin kita izinkan kepada umat Islam
untuk tidak berpuasa, karena adanya masyaqqah itu, dengan

Yogyakarta, 11 Maret 2006 3


Hand-Out
Kuliah Agama Islam III/Fisipol-UMY/HI/Semester Genap/2005-2006

‘cara’ : membayar fidyah atau mengqadha’ pada saat yang tepat


untuk melaksanakannya?

Masdar F. Mas'udi dalam "Polemik Reaktualisasi Ajaran


Islam" (1988) juga mengkritik pendekatan kaum liberal dengan
melihat implikasi relativisme yang labil terhadap teks al-Quran
dan as-Sunnah yang berakibat pada desakralisasi wahyu Tuhan
yang mutlak benarnya. Padahal, teks-teks dalam al-Quran
seringkali punya makna dan pengertian yang jelas, akurat, dan
tidak ambigu. Bila hukum harus mengakomodasi realitas,
bagaimana sikap kaum liberal misalnya ketika menghadapi
masyarakat yang sudah jadi "pencoleng" semua, apakah syariat
harus mengakomodasi masyarakat itu sehingga ‘mencoleng’
(yang) halal?

Pendekatan Skripturalis

Kemusykilan pendekatan Islam Liberal lalu memunculkan


apa yang disebut pendekatan Islam “scriptural”, yakni sebuah
metodologi pemikiran yang lebih menyandarkan pada bunyi teks
(alQuran dan as-Sunnah) secara lafzhiyyah atau sebagaimana
yang tersurat dalam bunyi teks. Makna hanya bisa ditangkap
sejauh yang diungkapkan teks. Oleh karena itu, pendekatan ini
pun sering juga dikenal dengan pendekatan literal. Dalam tradisi
klasik Islam misalnya, Ibn Hazm atau Daud al-Dhahiri dan
belakangan Ibnu Taymiyah (dianggap) sebagai tokoh-tokoh yang
secara kontras sangat setia pada pendekatan tekstual. Mereka
misalnya, menolak ta’wil dan menerima hadis secara harfiah.

Di kalangan mazhab, Imam Ahmad bin Hanbal merupakan


tokoh peletak dasar pemikiran skripturalis. Yang diutamakan
mazhab ini adalah dalil al-Quran dan Sunnah Nabi s.a.w. harus
lebih diutamakan daripada akal. Bahkan, hadits dhaif jauh lebih
legitimate daripada (menggunakan) akal. Oleh karena itu, ia
menolak qiyas sebagai salah satu proses metodologi
pengambilan hukum dalam Islam. Bagi mazhab ini, kembali
kepada al-Quran dan as-Sunnah adalah satu-satunya jalan untuk
memecahkan segala persoalan yang dihadapi umat. Massa
"salaf" dilihat mereka sebagai model guna menghadapi berbagai
gempuran kehidupan masa kini.

Dalam gerakan, mazhab atau kelompok ini lebih bersifat


radikal, militan, dan fundamentalis. Hampir semua persoalan
dilihat dari perspektif tauhid sehingga cara melihat persoalan
juga berbeda dengan kelompok-kelompok lainnya. Khamami

Yogyakarta, 11 Maret 2006 4


Hand-Out
Kuliah Agama Islam III/Fisipol-UMY/HI/Semester Genap/2005-2006

Zada dalam "Islam Radikal" (2002) misalnya, melihat


kemunculan kelompok ini dari dua sisi, eksternal dan internal.
Tantangan eksternal yakni peradaban Barat yang membawa
westernisasi, sekularisi, dan globalisasi merupakan benih bagi
membiaknya Islam radikal. Peradaban Barat dilihat sebagai
sumber pendangkalan akidah dan pihak yang selalu memusuhi
Islam. Oleh karena itu, mereka lebih resisten terhadap segala hal
yang berbau Barat, maka gagasan semacam solidaritas Islam
dunia atau semacam Pan Islamisme merupakan wacana yang
sering diangkat mereka.

Secara internal, peminggiran umat Islam oleh rezim Orde


Baru dan krisis politik, ekonomi, dan sosial di era reformasi ini,
juga telah membangkitkan suburnya Islam berwarna "salafi" ini.
Ternyata Demokrasi Pancasila maupun Demokrasi "Liberal" di era
reformasi ini tak mampu menjawab krisis multidimensi yang
dihadapi bangsa. Kekecewaan inilah yang kemudian melahirkan
isu pentingnya pencantuman kembali Piagam Jakarta,
pemberlakukan Syariat Islam, pemberantasan tempat-tempat
maksiat, dan konflik agama.

Bila "Forum Ulama-Umat Jawa Barat, Tengah, dan Jawa


Timur" membuat beberapa rekomendasi pendangkalan akidah,
penghinaan terhadap Islam dan Nabi sebagai respons atas
tulisan Ulil Absar Abdalla sehingga ditafsirkan "tokoh utama"
forum tersebut -- secara syariat -- sudah sah dihukum mati,
sesungguhnya kelompok ini tengah merisaukan dan
mengkhawatirkan kemungkinan Islam dan syariatnya dibawa ke
arah relativisme akal yang bisa "liar" tak terkendali, apalagi yang
diwacanakan menyangkut persoalan fundamental dalam Islam
semacam hukum Allah yang "dinafikan" Ulil Absar Abdalla. Ini --
yang oleh Herman Ibrahim -- disebut sebagai proses
pendangkalan akidah.

Bukankah kata mereka, al-Quran dan as-Sunnah ini


merupakan perangkat hukum Islam? Bukankah Nabi s.a.w. itu
amat perlu dihormati betapa pun Nabi s.a.w. punya kemungkinan
keliru sebagai manusia? Tetapi mana mungkin orang yang
dijamin al-Quran ucapan dan perilakunya senantiasa dibimbing
wahyu harus disamakan dengan Karl Marx? Bagaimana mungkin
agama, khususnya Islam, harus disamakan dengan agama-
agama lain, bukankah itu inklusivitas yang eskesisif (Jawa:
kebablasen)? Padahal, al-Quran secara tekstual sudah menjamin
bahwa Islamlah yang bakal diterima Tuhan?

Yogyakarta, 11 Maret 2006 5


Hand-Out
Kuliah Agama Islam III/Fisipol-UMY/HI/Semester Genap/2005-2006

Respons "forum" terhadap Ulil sangat bisa dipahami dan


benar secara tekstual, tapi apakah secara esensi dan substantif
Ulil -- dengan tulisan itu -- hendak menghina dan merendahkan
Islam? Dalam konteks apa Ulil berbicara semua agama sama? Di
sinilah salah satu kemusykilan pendekatan skripturalis. Kesetiaan
yang menonjolkan "makna teks" sambil melupakan "makna
konteks" yang melatarbelakangi munculnya tulisan Ulil dengan
segala tendensi "provokatifnya". Ucapan "patut dihukum mati",
betapa pun bukan fatwa dan bersifat pandangan pribadi, juga
memunculkan kontroversi yang sama tak dikehendakinya oleh
para pihak yang "berseberangan".

Bila pendekatan kaum Islam Liberal punya "kemusykilan"


pada relativisme yang labil pada makna teks, kaum skripturalis
bisa terjebak pada "kemusykilan" absolutisme makna teks.
Absolutisme akan berujung pada ekslusivisme pemahaman yakni
pihak yang tidak sepaham bisa dianggap keliru, keluar dari Islam
atau menghina Islam. Akibatnya secara politis akan melahirkan
sikap penguatan dan "perlawanan" yang bisa mengatasnamakan
jihad. Oleh karena itu, darah yang keluar pun menjadi halal
adanya demi jihad di jalan Tuhan. Akibatnya, skisma (perpecahan
dalam agama) di kalangan umat akan tak terhindarkan dan
semakin lebar.

Absolutisme pemahaman akan berimplikasi juga pada


kurang kondusifnya wacana intelektual Islam karena setiap
"kekuatan logika" yang dikedepankan, akan dibalas oleh "logika
kekuatan" sehingga pemikiran-pemikiran Islam alternatif pun
“mandul”. Padahal berbagai persoalan kontemporer, "syariat",
lebih tepatnya fikih Islam, belum seluruhnya bisa menjawab
problematika kekinian. Secara metodologi, pemahaman yang
bersandar hanya pada teks akan melahirkan kemusykilan dalam
memberikan dalil-dalil hukum dari nash. Bagaimana menghadapi
teks yang bermakna lughâwi, majâzi, ‘urfi, ‘âm, dan khash,
muthlaq dan muqayyad? Dalam hal mashail lafzhiyah ternyata
teks tidak bermakna tunggal, tetapi lebih cenderung “plural”.

Meskipun kedua pendekatan -- baik Islam Liberal maupun


Skripturalis -- mempunyai ketidaklengkapan, keduanya bisa
saling melengkapi (komplementer) dan dibutuhkan umat. Oleh
karena itu, hak hidup keduanya patut diapresiasi, mengingat
keduanya memberikan kontribusi terhadap perkembangan Islam
dan umatnya. Setidak-tidaknya, kehadiran kedua kelompok ini
bakal mampu "menjinakkan" ekstrimitas potensial di antara

Yogyakarta, 11 Maret 2006 6


Hand-Out
Kuliah Agama Islam III/Fisipol-UMY/HI/Semester Genap/2005-2006

keduanya, lewat dialog dan wacana publik. Yang jelas, kehadiran


mereka kita butuhkan.

Karena Apa Kedua Mazhab Pemikiran Keislaman itu


Dibutuhkan?

Pertama, pada Islam Liberal, kekuatannya untuk senantiasa


mencari afinitas dengan perkembangan zaman, akan
menemukan relevansi Islam dengan soal-soal kontemporer,
termasuk dengan Barat sebagai sebuah fakta peradaban dan
kebudayaan. Kedua, eksperimen tentang wacana metodologi
Islam akan terus hidup dan berkembang dalam konteks ijtihad.
Ketiga, dalam konteks global, Islam akan memberikan kontribusi,
bahkan mungkin terbesar bagi perdamaian umat manusia dan
kemanusiaan bersama agama-agama lainnya. Keempat,
pluralitas dan inklusivitas inter dan antarumat beragama akan
tumbuh subur sehingga agama, khususnya Islam akan memberi
kontribusi dalam upaya mengeliminasi berbagai konflik sosial
dan keagamaan di tengah bangsa yang tercabik konflik. Islam
pun akan berwajah rahmatan lil 'alamin.

Sementara kaum skripturalis, pertama: akan memberikan


kontribusi pada semangat untuk memelihara akidah Islam dari
gempuran Barat yang secara faktual bukan hanya sebagai fakta
sosiologis dalam arti peradaban dan kebudayan, tetapi Barat
sebagai kekuatan hegemonik-politik yang terus-menerus
mendangkalkan akidah dan mendistorsi Islam. Kedua, secara
metodologi, Islam skriptruralis akan lebih memelihara tradisi
hukum Islam yang lebih autentik dari sudut teks sehingga makna
tidak terlalu jauh menyimpang. Ketiga, penguatan amar ma’ruf
nahi munkar akan lebih mengemuka dan sangat relevan
mengingat berbagai ekses peradaban seperti intensitas
kemaksiatan dan penyakit sosial yang multidimensional dewasa
ini. Keempat, kontribusi pada solidaritas Islam baik lokal,
nasional, maupun global akan menjadi perekat bagi upaya-upaya
menyelesaikan berbagai persoalan umat di mana pun. Islam
sebagai entitas umat yang "satu" akan menjadi energi bagi
perjuangan umat itu sendiri dan kemanusiaan.

Marilah kita terima kedua kelompok ini sebagai fakta


sosiologis dengan sikap berimbang, penuh ta’zhîm
(penghormatan) dan rendah hati, termasuk sikap kritis terhadap
keduanya. Semoga wacana mereka menjadi bagian dari
perbedaan yang penuh rahmat bagi umat manusia pada

Yogyakarta, 11 Maret 2006 7


Hand-Out
Kuliah Agama Islam III/Fisipol-UMY/HI/Semester Genap/2005-2006

umumnya, khususnya bagi umat Islam yang selalu diharap


menjadi khairu ummah.

Yogyakarta, 11 Maret 2006 8