Anda di halaman 1dari 8

MAKALAH KIMIA MEDISINAL II

“ANTIDEPRESAN”

Dosen pengampu : Wahyunita Yulia Sari, M.Farm.Apt

Disusun Oleh :

1. Oktafiani wulandari : 15.02.00052


2. Pradita fifiana : 15.02.00054
3. Kurnia Rahayu : 15.02.00045
4. Anantia sari : 15.02.00032
5. Dimas wisnu : 15.02.00038

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN PAGUARMAS MAOS-CILACAP

PRODI S1 FARMASI

2017/2018

A. Tinjauan Pustaka
1. Depresi Depresi merupakan bentuk gangguan jiwa pada alam perasaan (afektif, mood ) yang
biasa ditandai dengan kemurungan, kesedihan, kelesua, kehilangan gairah hidup, tidak ada semangat,
merasa tidak berdaya, perasaan bersalah, tidak berguna, dan putus asa (Yosep, 2007). Mekanisme
terjadinya yaitu, depresi berkaitan dengan kadar nurotransmitter terutama norepinefrin dan serotonin di
dalam otak. Kadar norepinefrin da serotonin yang rendah dapat menyebabkan depresi (Prayitno, 2008).
Reseptor serotonin atau 5-Hydroxytriptamine (5-HT) merupakan senyawa neurotransmitter monoamine
yang terlibat pada penyakit depresi. Serotonin di otak disekresikan oleh raphe nuclei di batang otak.
Serotonin disintesis oleh perkusornya yaitu triptofan dengan dibantu enzim triptofan hidroksilase dan
asam amino aromatic dekarboksilase, serotonin yang terbentuk kemudian disimpan di dalam monoamine
vesikuler, selanjutnya jika ada picuan serotonin akan terlepas menuju celah sinaptik. Serotonin yang
terlepas akan mengalami berdifusi menjauh dari sinaptik, dimetabolisir oleh MAO, mengaktivasi reseptor
presinaptik, mengaktivasi reseptor post-sinaptik dan mengalami re-uptake dengan bantuan transporter
serotonin presinaptik ( Ikawati, 2008). Berbagai gambaran klinis gangguan depresi yakni gangguan
episode depresi, gangguan distimia, gangguan depresi mayor dan gangguan depresi unipolar serta bipolar
( Depkes, 2007). Depresi mayor dan distimia atau minor merupakan sindrom depresi murni, sedangkan
gangguan bipolar dan gangguan siklotimik merupakan tanda depresi yang diasosiasikan dengan mania
( Potter dan Hollister, 2002)

Antidepresan adalah senyawa yang dapat menimbulkan efek antidepresi,digunakan secara luas
untuk pengobatan pasien yang depresi oleh berbagai macam sebab.

Antidepresan dibagi menjadi tiga kelompok yaitu penghambat monoamin oksidase,antidepresan trisiklik
dan golongan lain-lain.

1. Penghambat Monoamin Oksidase (MAO)

Monoamin oksidase(MAO) adalah enzim yang berperan dalam proses deaminasi dari amin
sekunder dan tersier,seperti amin-amin transmiter,tiramin dan benzilamin,membentuk akdehid, amonia
dan hidrogen peroksida. Penghambatan enzim monoamin oksidase secara umum dapat mencegah
deaminasi oksidatif dari senyawa amin biigenik, seperti dooamin, epinefrin, norepinefrin,serotonin,
triptamin dan tiamin,sehingga kadar amin biogenik dalam tubuh meningkat,termasuk kadar serotonin dan
noepinefrin di otak. Peningkatan kadar monoamin biogenik dalam sistem saaf pusat inilah yang diduga
mnimbulkan efek antidepresi. Penghambat monoamin oksidase mempunyai aktivitas antidepresi yang
lebih rendah dibanding turunan depresan trisiklik dan menimbulkan efek samping yang lebih serius.

Efek samping golongan ini antara lain mulut kering , pusing, mual, konstipasi, postural hipotensi,
hepatotoksik dan leukopenia.

Mekanisme kerja

Penghambat monoamin oksidase bekerja sebagai antidepresi dengan caa memblok reuptake
dopamin dengan mencegah proses oksidasi amin tersebut sehingga menyebabkan peningkatan kadar
dopamin dalam tubuh.
Hubungan struktur dan aktivitas

1). Aktivitas analeptik penghambat MAO akan maksimal bila mempunyai struktur mirip
amfetamin.Contoh: feniprazin,isosterik nitrogen dari metamfetamin,adalah senyawabyang aktif sebagai
penghambat enzim monoamin oksidase dan mempunyai aktivitas analeptik sebanding dengan amfetamin.

2). Subtitusi inti aromatik,misal dengan gugus metoksi/metil dan hidrogenasi cincin akan
menurunkaan aktivitas Penghambat MAO dan analeptik.

3). N-asilasi dan N-alkilasi dari gugus hidrazin akan menurunkan aktivitas.

4). Penggantian gugus fenil dg beberapa cincin heterosiklik akan mengurangi aktivitas MAOI dan
menghilangkan aktivitas analeptik.

5). Penambahan atau pengurangan panjang rantai antara gugus fenil dan hidrazin sebabkan variasi
dari aktivitas MAO dan analeptik. Contoh : benzilhidrazin dan feniletilhidrazin, pada percobaan dengan
tikus menimbulkan efek penghambat MAO yang cukup bermakna tetapi tidak menimbukan efek
analeptik.

2. Antidepresan trisiklik

Antidepresan trisiklik digunakan secara luas untuk pengobatan pasien depresi oleh berbagai
macam sebab. Hal ini disebabkan antidepresan trisiklik dapat meningkatkan suasana hati, meningkatkan
aktivitas fisik dan kesiapan mental, serta memperbaiki nafsu makan dan pola tidur.

Antidepresan trisiklik lebih efektif dibanding senyawa penghambat monoamin oksidase dan
menimbulkan efek samping yang lebih rendah. Efek samping tersebut adalah kering, mata kabur,
konstipasi, takikardia dan hipotensi.

Mekanisme kerja

antidepresan trisiklik belum sepenuhnmya diketahui.Diduga bahwa efeknya disebabkan oleh


penghambatan reuptake dari pelepasan biogenik mono amin,seperti norepinefrin dan serotonin,diujung
saraf pada sistem saraf pusat.

Hubungan struktur dan aktivitas

Sejumlah sistem cincin trisiklik, seperti cincin dibenzamin, dibenzosiklohepten dan fenotiazin dengan
modifikasi tertentu dapat menimbulkan efek antidepresi.

1). Modifikasi pada rantai samping


a. Senyawa menunjukkan aktivitas yang tinggi bila jumlah atom C pada rantai samping=2 atau 3
(etilamin atau propilamin).Bila jumlah atom C=1 atau lebih besar dari 3 dan adanya percabangan pada
rantai samping akan menyebabkan senyawa menjadi tidak aktif.

b. Gugus amin pada rantai samping biasanya amin sekundee,tidak amin tersier seperti pada
antipsikotik.Senyawa akan aktif bila atom N tidak tersubtitusi dengan gugus metil. Subtitusi dengan
gugus etil atau gugus alkil yang lebih tinggi akan menurunkan aktifitas secara drastis dan menimbulkan
toksisitas.Jumlah atom C makin besar toksisitasnya makin meningkat pula.

2). Modifikasi pada cincin trisiklik

a. Adanya subtituen 3-CL,10-metil dan 10,11-dimetil dapat meningkatkan aktivitas.

b. .Jembatan pada posisi 10,11 dapat terbentuk dari -CH2-CH2- (dihidrodibenzazepin,misal


despiramin), -CH=CH- (dibenzazepin) atau -S- (fenotiazin,misal desmetilpromazin) dan
ketiganya aktif sebagai antidepresi.Hilangnya jembatan 10,11 (difenilamin) juga tidak
menghilangkan aktivitas antidepresi.Diduga bahwa jembatan pada posisi 10,11 tidak penting
untuk aktivitas antidepresi.

c. Atom N pada cincin despiramin dapat diganti dengan atom C (nortriptilin) dan tetap aktif sebagai
antidepresi. Penghilangan salah satu cincin benzen akan menghilangkan anidepresi.

d. Dari 20 turunan fenotiazin,setelah diuji hanya desmetilpromazin dan desmetiltriflupromazin yang


aktif sebagai antidepresi.

Imipramin dan amitriptilin adalah pra obat ,aktivitasnya relatif rendah, dalam tubuh mengalami
metabolisme (N-demetilasi)membentuk metabolisme aktif despiramin dan nortrriptilin dengan
potensi relatif yang cukup tinggi.

C. Terapi Tambahan

Digunakannya terapi tambahan yang untuk meningkatkan efek antidepresan.

1). Mood Stabilizer Lithium dan Lomotrigin biasa digunakan sebagai mood stabilizer. Litium adalah
suatu terapi tambahan yang efektif pada pasien yang tidak memberikan respon terhadap pemberian
monoterapi antidepresan. Lomotrigin adalah antikonvulsan yang mereduksi glutamateric dan juga
digunakan sebagai agen terapi tambahan pada depresi mayor (Barbosa et al., 2003) dan juga digunakan
untuk terapi dan pencegahan relapse pada depresi bipolar (Yatham, 2004). Beberapa mood stabilizer
yang lain yaitu Valproic acid, divalproex dan Carbamazepin ini semua digunakan untuk terapi mania
pada bipolar disorder. Divalproex dan Valproate digunakan untuk mencegah kekambuhan kembali
(Mann, 2005).

2) Antipsikotik Antipsikotik digunakan untuk meningkatkan efek antidepresan. Ada 2 macam


antipsikotik yaitu typical antipsikotik dan atypical antipsikotik. Obat – obat yang termasuk typical
antipsikotik yaitu Chorpromazine, Fluphenazine, dan Haloperidol. Antipsikotik typical bekerja memblok
dopamine D2 reseptor. Atypical antipsikotik hanya digunakan untuk terapi pada depresi mayor resisten
(Kennedy, 2003) dan bipolar depresi (Keck, 2005). Obat – obat yang termasuk dalam Atypical
antipsikotik clozapine, olanzapine, dan aripripazole (Mann, 2005).

Tabel 1. Antidepresan Yang Tersedia Saat Ini dan digunakan Untuk Terapi ( Teter et al.,2007 ).

Nama Generik Terapi plasma konsentrasi (ng/ml) Dosis lazim (mg/hari) Selective Serotonin Reuptake
Inhibitor Citalopram 20 – 60 Escitalopram 10 – 20 Flouxetine 20 – 60 Fluvoxamine 50 – 300
Paroxetine 20 – 60 Sertraline 50 – 200 Serotonin/Norepinefrin Reuptake Inhibitor Venflaxine 75 -225
Doloxetine 30 – 90 Aminoketon Bupropion 150 – 300 Triazolopyridines Nefazodone 200 – 600
Trazodone 150 – 300 Tetracyclics Mitazapine 15 – 45 Tricyclics - Tertiary amines Amitriptyline 120
– 250b 100 – 300 Clomipramine 100 – 250 Doxepin 100 – 300 Imipramine 200 – 350c 100 – 300 -
Secondary amines Desipiramine 100 – 300 c 100 – 300 Notriptyline 50 – 150 50 – 200 Monoamine
Oxidase Inhibitor Phenelzine Selegiline (Transdermal) 6 – 12 d Tranylcypromine 20 – 60 a Dosis
yang tercantum adalah dosis harian total, pasien lanjut usia biasanya diobati dengan separuh dosis yang
terdaftar. bParents drug plus matbolite c Telah dikemukakan kombinasi impiramin + desipiramine
sebaiknya berada diantara konsentrasi 150 – 240 µg/mL. d Sisten transdermaldirancang untuk
memeberikan dosis yang terus – menerus selama jangka waktu 24 jam.

Gambar 1. Algoritma untuk terapi depresi tanpa komplikasi (Teter et al.,2007).


D. Golongan lain-lain

Antidepresan tetrasiklik

Contoh : Maprotilin,mianserin, dan amoksapin

Trazodon

Amineptin HCL

Moklobemid

Fluoksamin Maleat

Sertalin HCL (Zoloft0

Fluoksetin (Prozac)

Paroksetin (Serovat)
DAFTAR PUSTAKA

Anda mungkin juga menyukai