Anda di halaman 1dari 12

Bab I

Pendahuluan

Infeksi jamur pada kulit menempati urutan nomor tiga pada infeksi kulit setelah
skabies dan pioderma.1 Peneltian secara sistematik tentang infeksi jamur superfisial
telah dimulai sejak dari kurang lebih 150 tahun yang lalu. Pada tahun 1934, Emmon
mengekelompokan golongan jamur dermaotifita adalah Epidermophyton,
Microsporum, dan Trichophyton.2

Dermatofita ialah golongan jamur yang memiliki kemampuan untuk membentuk


suatu ikatan secara molekular yang menempel pada keratin dan menggunakan keratin
sebagai sumber nutrisi jamur tersebut. Kemampuan jamur tersebut mampu
mengkolonisasi jaringan keratin termasuk epidermis, rambut, kuku, dan kulit hewan
yang tebal serta kasar. 2

Dermatofita yang menginfeksi secara superfisial disebut dengan istilah dermatofitosis


sedangkan jika infeksi terjadi secara profunda ataupun sistemik dapat digunakan
istilah dermatomikosis.2 Infeksi dermatofitosis ini dikenal sebagai Tinea ataupun
ringworn infection. Tinea kruris dan Tinea korporis merupakan contoh manifestasi
klinis dari dermatofitosis.1

1
Bab II
Tinea Kruris

Definisi
Tinea kruris adalah dermtaofitosis pada daerah lipantan paha, genetalia, daerah pubis,
perineum, dan kulit perianal.2

Epidemiologi
Suatu studi yang dilakukan di Sao Paulo, Brazil mendapatkan bahwa 13,9% dari
dermatofitosis adalah tinear kruris. 3 Penyebaran penyakit ini dapat memalui kontak
langsung ataupun melalui suatu material (seperti pakaian) yang dapat membawa
infeksi dan dapat terjadi ekserbasi karena lembab, udara panas. 2

Etiologi
Sebagian besar tinea kruris disebabkan oleh T. rubrum, T. mentagrophytes, and E.
floccosum (merupakan penyebab terjadi infeksi secara epidemi).2

Manifestasi Klinis
Tinea kruris biasanya ditandai dengan lesi berupa multipel papulovesikel eritematosa
dengan batas yang yang tegas, batas biasanya meninggi. Keluhan gatal merupakan
keluahan yang biasa muncul pada tinea kruris. Selain itu pasien juga dapat
mengeluhkan adanya rasa sakit yang ditandainya ada luka atau infeksi sekunder. E.
floccosum pada tinea kruris lebih menunjukkan adanya penyembuhan sentral ( central
clearing) dan lebih sering sebatas pada lipan genital-kruraln dan bagian paha atas
medial. Berbeda dengan T. rubrum pada tine kruris akan lebih sering membuat lesi
yang menyatu dari daerah pubis, perianal, glutea, dan daerah abdomen bagian bawah.
Infeksi tinea kruris ini biasanya tidak memeliki efek terhadap genetalia. 2
Lesi sekunder yang bisa muncul antara lain likenifikasi yang disebabkan oleh
garukkan, maserasi, dan pustulasi yang disebabkan oleh superinfeksi bakterail. Lesi
yang muncul juga bisa menjadi tidak jelas saat pasien melakukan pengobatan sendiri

2
secara topical, gejala klinis lebih menunjukkan lesi dari dermatitis alergika ataupun
dermatitis kontak iritan2

Gambar 1. Tinea Kruris

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan langsung dengan
menggunakan sediaan yang sudah diberikan KOH. Dari pemeriksaan lansung tersebut
dapat ditemukan hifa yang bersekat. Selain itu dapat dilakukan kultur pada agar
seboroud dekstrose (SDA) yang sudah diberikan antibiotik dan disimpan dalam
teratur ruangan dan akan tumbuh dalam waktu 2-4minggu.2

Diagnosis Banding
Penyakit yang memiliki klinis yang serupa yang terjadi pada daerah krusala adalah
psoriasum dermatitis seborik, kandidosis, eritrasma, liken simplek kronis, pemphigus,
dan Darie-White disease. Pada kandidosis memberikan klinis lesi satelit, berupa plak
berwarna eritematosa yang tepinya lebih berwarna lebih terang dan sering terdapat
pada skrotum dan pada pemeriksaan penujang didapatkan psuedohifa. Untuk
membedakan dengan eritrasma maka dapat digunakan lampu Wood dan akan
memberikan warna coral red berbeda dengan tinea kruris. Jika dengan pemeriksaan
langsung KOH dan kultur jamur tidak memberikan hasl yang pasti makan dapat
dilanjutkan dengan pemeriksaan biopsy untuk menyingkirkan diagnosis lainnya.2

3
Gambar 2. Sediaan KOH kandidosis didapatkan pseudohifa

Gambar 3. Coral red menggunakan lampu Wood pada eritrasma

Tatalaksana
Pada umumnya tinea kruris biasa berhadil dengan pengobatan topikal antijamur yang
digunakan untuk tinea kruris dalam bentuk bedak ataupun krim. Meminimalkan
penutupan dan kelembapan pada daerah yang terinfeksi juga mebantu proses
penyembuhan. Obat oral digunakan jika infeksi luas, rekuran, ataupun benyaknya lesi
inflamasi. Obat yang dapat aman dan efektif untuk orang dewasa adalah fluconazole
150mg selama 4-6mingu, itraconazole 100 mg/hari selama 15 hari, terbinafine
250/hari selama 2 minggu, dan griseofulvin 500 mg/hari selama 2-6 minggu.
Sedangkan untuk anak-anak griseofulvin 10-2-mg/kg/hari selama 6 minggu,
itraconazole 5mg/kg/hari selama 1 minggu, dan terbinafine 3-6mg/kg/hatti selama 2
minggu.2
Dari hasil peneltian terhadap pasien yang memiliki tinea kruris dilakukan
perbandingan hasil pengobatan dengan obat topikal terbinafine 1% dengan
klotrimazol 1%. Dari 18 pasien diberikan topikal terbinafine 1% pada akhir minggu
pertama dari didapatkan 6 pasien yang mengalami sedikit perbaikan klinis, 8 pasien

4
mengalami perbaikan klinis yang cukup, dan 4 orang megalami perbaikan yang nyata.
Dari 18 pasien didapatkan 6 pasien memiliki hasil KOH negative dan 4 pasien dengan
hasil kultur yang negative. Pada akhir minggu keempat dari 18 pasien, semua pasien
memiliki perbaikan klinis yang nyata. Dari 18 pasien semua hasil pemeriksaan KOH
negative dan kultur 15 pasien menjadi negative.1
Pada penggunaan clotrimazole 1% pada akhir minggu pertama didapatkan 4 pasien
dari 18 pasien perbaikan klinis dan dari pemeriksaan penunjang juga didapatkan
perbaikan ( hasil KOH negatif, hasil pemeriksaan kultur negatif), Pada minggu
keempat didapatkan 15 pasien dari 18 pasien mengalami perbaikan yang nyata dalam
klinis dan dari pemeriksaan penunjang ( hasil KOH negatif, hasil pemeriksaan kultur
negatif). Maka dari penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penggunan
terbinafine 1% dalam jangka waktu 1 minggu lebih memberikan hasil yang nyata jika
dibandingkan dengan penggunan cotrimazole1% selama 4 minggu.1

Komplikasi
Komplikasi yang paling tersering adalah infeksi sekunder.3

5
Bab III
Tinea Korporis

Definisi
Tinea korporis adalah semua dermotofitosis pada kulit galborusa kecuali bagian
telapak tangan, kaki dan lipatan paha. Tine korporsi juga disebut sebagai Tinea
circinata.1,2

Epidemiologi
Diperkirakan menyerang 20-25% populasi secara mendunia dan angka kejadian terus
meningkat.4 Penularan dari tinea korporis bisa secara langsung antar manusia, hewan,
benda atau inokulasi langsung dari reservoir, seperti T. rubrum yang berkolonisasi di
kaki. Anak-anak lebih sering kontak dengan pathogen yang zoophilic seperti M. canis
yang berasal dari anjing atau kucing. Pakaian yang tertutup dan panas, udara yang
lembab juga berhubungan dengan keparahan penyakitnya. Pakaian yang tertutup,
kontak kulit ke kulit yang sering dan trauma minor dapat membuat lingkungan yang
baik untuk bertumbuhnya dermatofita.2

Etiologi
Meskipun semua dermatofita dapat menjadi penyebab Tinea korporis tetapi penyebab
yang tersering adalah T. metagrophytes, T. rubrum, M.canis. Untuk T. rubrum dan T.
verrucosum adalah penyebab yang paling berpotensi jika ada keterlibatan folikel.2

Manifestasi Klinis
Manifetasi klinis klasik yang muncul adalah lesi anular dengan batas eritemtosa.
Batas biasanya berupa vesikel dan biasanya prosesnya berjalan secara sentifugal.
Bagian dari tengah lesi biasanya didapatkan skuama tetapai juga dapat bersih tanpa
skuama. Jika ditemukan concentric vesicular rings maka menunjukan Tinea Incognito
yang disebabkan oleh T, rubrum tetapi bisa juga memberikan manifestasi plak
psoriasisformis ataupun plak besar, konflueen, polisiklik.2

6
Gambar 4. Tinea Korporis

Gambar 5. Tinea Incognito

Pemeriksaan Penunjang
Setiap ada lesi eritematosa dengan adanya skuama seharusnya dilakukan pengerokkan
untuk dilakukan pemeriksaan sediaan langsung dengan KOH. Cara pengambilan
kerokkan yang ideal adalah dikerok ke arah luar dari tepi lesi yang aktif, jika
didapatkan vesikel ataupun bula maka bagian yang banyak mikroorganismenya
adalah atapnya.2

Gambar 6. Sediaan KOH menunjukan hifa M. canis

7
Patologi
Pada pemeriksaan dengan perwarnaan PAS tinea korporis akan menghasilkan hifa
yang berwarna merah dengan stratum korneum. Hifa akan basofilik jika dilakukan
pewarnaan dengan hematoxylin dan eosin dan hifa akan berwarna hitam dengan
pewarnaan methamine silver. Jika tidak didapatkan organisme maka pemeriksaan
histopatologi menjadi tidak spesifik dan menjadi mirip dengan akut ataupun kronik
dermatitis dengan atau tanpa spongiotik vesikulasi. Pada perifolikulitis nodular yang
disebabkan oleh T. rubrum menggambarkan reaksi granulomatosa perifolikuler yang
disertai dengan nekrosi dan superasi pada bagian tengahnya. Organisme dapat
ditemukan rambut, dermis, dan spora yang besar dapat ditemukan di dalam sel raksasa
multinuklasi.2

Gambar7. Perwarnaan metahimine silver menujukan percabangan dan sekat hifa di


dalam stratum korneum

Diagnosis Banding
Diagnosis banding dari lesi berbentuk anular dari tinea korporis termasuk erythema
annulare centrifugum, eczema nummular dan granuloma anular. Erythema annulare
centrifugum dapat dibedakan dari batas yang dibentuk oleh lesinya. Pada eczema
nummular akan lebih cenderung untuk menghasilkann lebih banyak lesi dan lesinya
simetrik dibandingkan tinea korporis dan tidak ada central clearing. Pada granuloma
anular terdapat papul intradermal tanpa adanya skuama.2
Lesi papuloskuamosa pada tinea korporis dapat dibandingkan dengan psoriasis, liken
planus, secondary syphilis, dermatitis seboroik, ptriasis rosea ataupun ptriasis rubra
pilaris. Biasanya dibedakan dari menifetasi klinisnya ataupun dari hasil pemeriksaan

8
biopsy. Inflamai yang terjadi pada tinea korporis harus juga dipikirkan kemungkinan
adanya infeksi lain yang terjadi seperti bakteri, candida, infek jamur profunda.2

Tatalaksana
Lesi pada tinea korporis dapat diberikan obat topikal seperti alilamin, imidazoles,
tolnaftat, butenafine, atau ciclopirox. Sebagian besar obat topikal digunakan dua kali
dalam sehari selama 2-4 minggu.2
Untuk penggunaan obat oral diindikasikan jika lesi luas atau benyak lesi yang
mengalama inflamasi. Pada orang dewasa dapat diberikan fluconazole 150mg/minggu
selama 4-6, itraconazole 100mg/hari selama 15 hari, terbinafine 250mg/hari selama 2
minggu sama efektifnya dengan penggunaan griseofulvin 500mg/hari selama 2-6
minggu.2
Penggunaan obat oral untuk anak-anak grseofulvin 10-20mg/kg.hari selama 6
minggu, itraconazole 5mg/kg/hari selama 1 minggu dan terbinafine 3-6 mg/kg/hari
selama 2 minggu.2
Dari hasil peneltian terhadap pasien yang memiliki tinea korporis dilakukan
perbandingan hasil pengobatan dengan obat topikal terbinafine 1% dengan
klotrimazol 1%. Pada penggunaan terbinafine 1% pada 12 pasien pada akhir minggu
pertama menunjukkan perbaikan dalam klinis dan pemeriksaan penunjang (hasil KOH
negatif, hasil kultur) pada 11 pasien. Pada minggu keempat menunjukkan perbaikan
dalam klinis dan pemeriksaan penunjang (hasil KOH negatif, hasil kultur) pada 11
pasien dari 12 pasien.1
Pada penggunaan klorimazol 1% pada akhir minggu pertama menunjukkan perbaikan
dalam klinis dan pemeriksaan penunjang (hasil KOH negatif, hasil kultur) pada 5
pasien dari 12 pasien. Pada minggu keempat menunjukkan perbaikan dalam klinis
dan pemeriksaan penunjang (hasil KOH negatif, hasil kultur) pada 11 pasien dari 12
pasien.1
Dari hasil peneltian didapatkan bahwa penggunaan obat topikal terbinafine lebih
adekuat dalam waktu satu minggu dibandingkan dengan klotrimazole 1% selama
empat minggu.1

Komplikasi
Tinea korporis memiliki komplikasi yang sama dengan tinea kruris yaitu infeksi
sekunder

9
Prognosis
Untuk tinea korporis yang terjadi secara lokalis saja memiliki prognosis yang baik,
dengan presentase 70-100% sembuh setelah diberikan pengobatan topikal ataupun
secara sistemik.2

10
Bab IV
Kesimpulan

Dermatofita adalah penyebab dari Tinea kruris dan korporis. Secara garis memilliki
gejala klinis yang sama antara tinea kruris dan tinea korporis yaitu memilki lesi yang
tepinya lebih aktif perbedaanya hanya lokasi dari infeksi saja. Baik tinea kruris dan
korporis memiliki beberapa diagnoss banding yang harus disingkirkan berdasarkan
manifetasi klinis dan pemeriksaan penunjang. Pengobatan tinea kruris dan korporis
dapat diberikan secara topikal ataupun oral. Lama pengobatan hampir sama
tergantung dari besar lesi dan keparahannya. Untuk komplikasi dari tinea kruris dan
korporis adalah infeksi sekunder.

11
Daftar Pustaka

1. Raman VLM. Comperative Study of 1% Terbinafine with 1% Clorimazole in


the Management of Localized Tinea Corporis and Tine Cruris Infection. Int J
Pharm Bio Sci 2014 April ; 5 (2) : (P) 417 – 423.
2. Nelson MM, Martin AG, Heffernan MP. Superficial Fungal Infections:
Dermatophytosis, Onychomycosis, Tinea Nigra, Piedra. In: Fitzpatrick's
Dermatology In General Medicine. 6th ed. Freedberg M, Eisen AZ, Wolff K,
Austen KF, Goldsmith LA, Katz S, editors. Philladelphia: McGraw-Hill
Professional. 2003. p.2209-17.
3. Ogba Om, Abla-Bassey LN. Tinea Crusis Resurgence in Male Genetalia: A
Case Report. IJBAIR; 2(3): 51-54.
4. Risdianto A, Kadir D, Amin S. Tinea Corporis and Tinea Cruris Caused by
Trychophytin Mentagrophytes Type Granular In Asthma Bronchiale Patient.
IJDV Vol.2 No.2 2013.

12