Anda di halaman 1dari 4

STUDI PENDIDIKAN ISLAM MULTIDISIPLINER,

INTERDISIPLINER DAN TRANSDISIPLINER: PERSPEKTIF FILSAFAT

Landasan filosofi pendidikan Islam di pascasarjana harus senafas dengan

pendekatan multidisipliner ilmu dan interdisipliner ilmu, bukan monodisipliner

ilmu. Karena menurut KKNI untuk pascasarjana adalah model multidisipliner dan

interdisipliner, atau bahkan transdisipliner.

A. Model-model Hubungan Antar Ilmu

Ada enam model hubungan antar ilmu menurut Prof. Dr. H. Nur Ahid,

M.Ag yaitu meliputi:

 Monodisipliner: Suatu disiplin ilmu tertentu dengan menggunakan

metode tertentu, dengan spesialis tertentu, disamping ilmu-ilmunya, baik

ilmu teoritis maupun ilmu praktis.

 Intradisipliner: Hubungan intradisiplin dalam satu jenis disiplin ilmu

tertentu.

 Antardisipliner: Hubungan kerjasama antara dua jenis disiplin ilmu.

 Multidisipliner: Suatu kerja sama di antara ilmu pengetahuan yang lebih

dari dua jenis ilmu, yang masing-masing tetap berdiri sendiri-sendiri dan

dengan metode sendiri-sendiri.

 Interdisipliner: Bentuk sistesis antara dua jenis ilmu yang berbeda, dan

berkembang menjadi suatu disiplin ilmu tersendiri.

1
 Transdisipliner: Bentuk sintesis yang melibatkan dari dua jenis disiplin

ilmu, dan akhirnya membentuk disiplin ilmu tersendiri.

B. Pendidikan Islam Multidisipliner, Interdisipliner dan Transdisipliner

Pendidikan multidisipliner, interdisipliner dan transdisipliner tetap ber-

azaskan pada pendidikan disiplin ilmu tetapi tidak dalam pengertian

pendidikan disiplin ilmu yang terpisah-pisah. Pendidikan Islam interdisipliner,

multidisipliner dan transdisipliner bukanlah suatu ilmu yang baru, akan tetapi

sudah ada sejak al-Qur’an diturunkan ribuan tahun yang lalu, seperti terdapat

pada QS. ‘Alaq ayat 1-5:

َ َ ُّ َ َ َ َ َ َ َ َ ‫َ َ ذ‬
َ
ۡۡ‫لكۡرم‬ ۡ ‫ۡۡٱقۡ َرأۡۡورب‬٢ۡۡ‫نۡمنۡۡ َعلق‬
ۡ ‫كۡٱ‬ َۡ ‫نس‬ َۡ ‫ۡۡخل‬١ۡ‫ق‬
ۡ ۡ‫قۡٱل‬ َۡ ‫كۡٱَّليۡخل‬
ۡ ‫ٱقۡ َرأۡۡبۡٱسۡمۡۡرب‬

َ َ َ َ ‫ذ‬ َ َ ‫ذ‬ ‫ذ‬


ۡ ۡ٥ۡۡ‫نۡ َماۡلمۡۡ َيعۡلم‬ ۡ ۡ‫ۡ َعل َۡمۡٱل‬٤ۡۡ‫ۡۡٱَّليۡ َعل َۡمۡبۡٱلۡقلم‬٣
ۡ ‫نس‬

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia

telah menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah, dan Tuhanmulah

Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia

mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

C. Kurikulum Pendidikan Islam Multidisipliner, Interdisipliner dan

Transdisipliner

Inti penyelenggara pendidikan terdapat dalam kurikulum yang

dikembangkannya. Berarti kurikulum dalah jantung suatu pendidikan. Oleh

2
karena itu kurikulum harus dikembangkan secara holistik, yaitu dibangun

dengan keseluruhan sistem sebagai suatu kesatuan dari tujuan, isi, metode dan

evaluasi. Dilihat dari prinsip pendidikan Islam, pengembangan kurikulum

yang holistik secara konseptual dan teoritik, masalah keimanan kepada Allah

SWT seharusnya menjadi inti (core) dan sumber nilai serta pedoman bagi

pengelola pendidikan. Nilai-nilai prinsipil pengembangan kurikulum holistik

dapat dilihat dari ciri-cirinya yaitu:

 Berorientasi pada pengembangan spiritual.

 Pembelajaran diarahkan agar peserta didik menyadari akan keunikan

dirinya dengan segala potensinya.

 Pembelajaran tidak hanya mengembangkan cara berfikir analitis/linier tapi

juga intuitif.

 Pembelajaran berkewajiban menumbuhkembangkan potensi kecerdasan

ganda/kompleks.

 Pembelajaran berkewajiban menyadarkan mahasiswa akan akan

keterkaitanya dengan komunitas.

 Pembelajaran berkewajiban mengajak peserta didik untuk menyadari

keterhubunganya dengan alam.

Agar kurikulum yang dirancang sesuai dengan sasaran maka perlu

diperhatikan beberapa landasan filosofis pendidikan Islam. Landasan filosofis

yang dapat dijadikan acuan dalam pengembangan kurikulum pendidikan

Islam terutama dalam aspek tujuan dan sasaranya adalah:

3
 Filsafat perenial-esensialis salafi: Tipologi filsafat ini menonjolkan

wawasan kependidikan Islam era ulama salaf, melestrikan dan

mempertahankan nilai-nilai (ilahiyah dan insaniyah).

 Filsafat perenial-esensialis madzhabi: Tipologi filsafat ini meninjolkan

wawasan kependidikan Islam tradisional dan kecenderungan mengikuti

aliran, pemahaman atau doktrin, serta pola pemikiran sebelumnya yang

sudah dianggap relatif mapan.

 Filsfat modern: Tipologi ini menonjolkan wawasan kependidikan Islam

yang bebas, modofikatif, progresif dan dinamis dalam merespon tuntutan

dan kebutuhan dari lingkungannya, pendidikan ini berfungsi sebagai upaya

melakukan rekontruksi pengalaman yang terus-menerus.

 Filsafat perenial-esensialis kontekstual-falsifikatif: Tipologi ini

mengambil jalan tengah antara kembali ke masa lalu dengan jalan

melakukan kontekstualisasi dan uji falsifikasi, serta mengembangkan

wawasan-wawasan kependidikan Islam masa sekarang selaran dengan

tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta perubahan

sosial yang ada.

 Filsafat rekonstruksi sosial berlandaskan tauhid: Tipologi ini

menjelaskan bahwa pendidikan Islam bertujuan untuk meningkatkan

kepedulian dan kesadaran peserta didik akan masalah-masalah yang

dihadapi oleh umat manusia.