Anda di halaman 1dari 26

PROPOSAL SKRIPSI

APLIKASI METODE SEISMIK DEKOMPOSISI SPEKTRAL DAN ATRIBUT


AMPLITUDO UNTUK DELINIASI FASIES DAN DISTRIBUSI RESERVOAR
BATUPASIR SERTA PEMODELAN 3D RESERVOAR UNTUK
PERHITUNGAN CADANGAN DI LAPANGAN “X”

Oleh :
REZA PUTRA PRATAMA
115.130.086

JURUSAN TEKNIK GEOFISIKA


FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
YOGYAKARTA
2017
PROPOSAL SKRIPSI
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan
Jurusan Teknik Geofisika
Fakultas Teknologi Mineral
UPN “Veteran“ Yogyakarta
PROPOSAL SKRIPSI
APLIKASI METODE SEISMIK DEKOMPOSISI SPEKTRAL DAN
ATRIBUT AMPLITUDO UNTUK DELINIASI FASIES DAN DISTRIBUSI
RESERVOAR BATUPASIR SERTA PEMODELAN 3D RESERVOAR
UNTUK PERHITUNGAN CADANGAN DI LAPANGAN “X”

1. Pendahuluan
1.1. Latar Belakang
Metode Seismik merupakan metode geofisika yang paling baik dalam
memberikan informasi geologi bawah permukaan dengan resolusi yang tinggi
dalam eksplorasi hidrokarbon. Metode Seismik mengalami perkembangan yang
pesat sejak abad ke-20. Metode seismik, khususnya seismik refleksi tidak hanya
digunakan dalam eksplorasi hidrokarbon melainkan dalam eklploitasi dan
pengembangan dikarenakan kompleksnya permasalahan dilapangan. Pada tahap
eksploitasi dan pengembangan dilakukan karakterisasi reservoar yang banyak
memanfaatkan evaluasi data seismik untuk mendukung usaha pencarian
hidrokarbon. Hal ini terkait erat dengan proses perolehan informasi geofisika
semaksimal mungkin untuk dapat menggambarkan model geologi bawah
permukaan. Oleh karena itu diperlukan suatu metode pemodelan sifat fisis bawah
permukaan bumi yang komprehensif dan mudah dipakai oleh ahli geofisika,
geologi, dan ahli perminyakan (reservoar) atau yang dikenal GGR.
Banyak penelitian telah dilakukan oleh berbagai perusahaan minyak untuk
meningkatkan produksinya, antara lain dengan melakukan analisa dan evaluasi
pada data seismik. Salah satu metoda analisa yang dilakukan adalah analisa
dekomposisi spektral dan atribut amplitudo. Data seismik pada dasarnya tidak
stastioner karena memiliki kandungan frekuensi dalam domain waktu, umumnya
antara 10 s/d 70 Hz, dengan frekuensi yang dominan 30 Hz. Dekomposisi spektral
dapat menggambarkan reservoar dengan resolusi yang lebih baik dari properti
reservoar daripada apa yang biasa kita lihat pada display seismik biasa
dikarenakan fitur geologi seperti fluida dalam hal ini hidrokarbon akan sensitif
ketika dilihat pada frekuensi yang sesuai. Metode ini akan menghasilkan gambar

REZA PUTRA PRATAMA|TEKNIK GEOFISIKA|UPN ”VETERAN” YOGYAKARTA 2


PROPOSAL SKRIPSI
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan
Jurusan Teknik Geofisika
Fakultas Teknologi Mineral
UPN “Veteran“ Yogyakarta
yang lebih detail dengan mengekstrak suite dari map amplitude pada
slice/potongan frekuensi di zona reservoar. Tiap peta yang dibuat dari metode ini
akan menonjolkan/memperjelas respon puncak amplitude pada ketebalan lapisan
yang berbeda.
Sedangkan atribut seismik merupakan sifat fisis yang dapat diturunkan
dari data seismik, baik pengukuran secara secara langsung maupun secara fungsi
logika dan matematis. Informasi dari atribut seismik yaitu waktu, amplitudo,
frekuensi dan atenuasi. Dari keempat jenis atribut tersebut merupakan klasifikasi
utama yang kemudian terdiri ratusan atribut lainnya. Atribut seismik dalam hal ini
atribut amplitudo yang sifatnya merata-ratakan amplitudo akan dapat membantu
dalam mengetahui pesebaran reservoar disuatu lapangan.
Setelah didapatkan zona interest berdasarkan dekomposisi spektral dan
atribut amplitudo, untuk mengidentifikasi kondisi bawah permukaan dalam aspek
ruang dan waktu geologi perlu dilakukan proses 3D modelling reservoar. 3D
modelling reservoar merupakan usaha dari berbagai disipin ilmu yang
memberikan gambaran komputasi dari bagian bawah permukaan bumi dengan
berdasarkan data geologi, geofisika, petrofisika serta reservoir produksi yang
terintegrasi. 3D modelling reservoar dapat meminimalisir tingkat uncertainty atau
ketidakpastian dari geometri reservoar dan penyebarannya dibawah permukaan
sehingga dapat diketahui besarnya cadangan atau OOIP (Original Oil In Place).

1.2. Rumusan Masalah


Beberapa poin utama yang ingin diteliti di dalam konteks topik ini adalah
1. Bagaimana tahapan alur kerja dekomposisi spektral dan atribut
amplitudo?
2. Bagaimana melakukan dekomposisi spektral dan atribut amplitudo
untuk memetakan penyebaran fasies dan distribusi reservoar batupasir?
3. Bagaimana memetakan penyebaran fasies dan distribusi reservoar
batupasir?
4. Bagaimana membuat model statis reservoar / 3D modelling reservoar?
5. Bagaimana menghitung cadangan reservoar atau OOIP (Original Oil
In Place)?

REZA PUTRA PRATAMA|TEKNIK GEOFISIKA|UPN ”VETERAN” YOGYAKARTA 3


PROPOSAL SKRIPSI
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan
Jurusan Teknik Geofisika
Fakultas Teknologi Mineral
UPN “Veteran“ Yogyakarta

1.3. Batasan Masalah


Dekomposisi spektral dan atribut seismik merupakan proses keseluruhan
dari berbagai data yang ada dan melibatkan multidisiplin ilmu sehingga dalam
penelitian ini perlu dibatasi pada beberapa hal:
1. Penelitian hanya dilakukan pada zona target yang ditentukan
kemudian.
2. Proses dekomposisi spektral dan atribut amplitudo hanya dilakukan
pada data post-stack dan volume data seismik daerah yang diteliti.
3. Data log yang digunakan adalah data log sumur yang diperlukan untuk
daerah yang diteliti.
4. Metode yang digunakan yaitu dekomposisi spektral dan atribut
amplitudo dan 3D modelling reservoar.
5. Perhitungan cadangan reservoar atauu OOIP (Original Oil In Place)
6. Penelitian ini menggunakan perangkat lunak yang ditentukan
kemudian.

I.4. Tujuan Penelitian


Tujuan penelitian yang dilakukan adalah:
1. Melakukan dekomposisi spektral dan atribut amplitudo pada volume
data seismik untuk mengetahui penyebaran fasies dan distribusi
reservoar batupasir dengan lebih baik dan lebih detail.
2. Menentukan penyebaran fasies dan distribusi reservoir batupasir
dengan menggunakan dekomposisi spektral dan atribut amplitudo yang
sesuai dengan konsep-konsep geologi.
3. Membuat 3D model statis reservoar berdasarkan data geologi,
geofisika dan petrofisika.
4. Menentukan besarnya cadangan atau OOIP (Original Oil In Place).

1.5. Manfaat Penelitian


1. P3GL Bandung
 Membangun hubungan kemitraan antara P3GL Bandung dengan UPN

REZA PUTRA PRATAMA|TEKNIK GEOFISIKA|UPN ”VETERAN” YOGYAKARTA 4


PROPOSAL SKRIPSI
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan
Jurusan Teknik Geofisika
Fakultas Teknologi Mineral
UPN “Veteran“ Yogyakarta
“Veteran” Yogyakarta.
 Memperoleh tenaga kerja tambahan dari mahasiswa yang melaksanakan
Tugas Akhir.
 Mempermudah perusahaan dalam merekrut calon pegawai atau
karyawan yang profesional dengan mahasiswa sebagai parameternya

2. UPN “Veteran” Yogyakarta


 Membina hubungan kemitraan antara UPN “Veteran” Yogyakarta dan
P3GL Bandung dalam sarana dan prasarana pendidikan
 Membekali kemampuan dasar kepada mahasiswa UPN “Veteran”
Yogyakarta untuk menyesuaikan diri dengan perubahan dalam dunia
kerja.

3. Mahasiswa
 Melengkapi ilmu teori yang didapatkan di bangku kuliah terutama
tentang dekomposisi spektral dan atribut seismik untuk deliniasi fasies
dan distribusi reservoar serta 3D modelling reservoar.
 Memperoleh kesempatan mencari pengalaman, wawasan dan promosi
pada perusahaan yang memanfaatkan penerapan ilmu geofisika.

II. Tinjauan Pustaka


2.1. Kompenen Seismik Refleksi
2.1.1 Impedansi Akustik (Accoustic Impedance) dan Koefisien Refleksi
Refleksi seismik awalnya berasal dari bidang batas yang menunjukkan
kontras densitas dan kecepatan (𝜌 dan 𝑉) yang cukup. Masing-masing lapisan
tersebut memiliki impedansi akustik yang dirumuskan sebagai berikut :
𝐴𝐼 = 𝜌. 𝑉 (2.1)
Sedangkan bidang batas antar lapisan umumnya berkaitan dengan bidang
sedimentasi, ketakselarasan dan lain-lain. Dalam penjalarannya, gelombang
seismik sering dituliskan dalam bentuk raypath, dan berlaku hukum Snell. Respon
seismik dari sebuah muka gelombang terpantul bergantung dari besarnya
perubahan 𝜌 dan 𝑉 nya, yang dinyatakan dalam nilai densitas dan kecepatan dari

REZA PUTRA PRATAMA|TEKNIK GEOFISIKA|UPN ”VETERAN” YOGYAKARTA 5


PROPOSAL SKRIPSI
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan
Jurusan Teknik Geofisika
Fakultas Teknologi Mineral
UPN “Veteran“ Yogyakarta
tiap-tiap lapisan pada interfacenya
Faktor kecepatan dari batuan lebih mempunyai arti penting dalam
mengontrol harga AI dibandingkan dengan densitas. Anstey (1977)
menganalogikan AI dengan acoustic hardness dimana batuan yang keras dan
susah dimampatkan mempunyai AI yang tinggi, sedangkan batuan lunak lebih
mudah dimampatkan dan mempunyai AI yang rendah.

Energi seismik yang terus menjalar ke dalam bumi akan diserap dalam tiga
bentuk berikut :
 Divergensi spherical dimana kekuatan gelombang (energi per unit
area dari muka gelombang) menurun sebanding dengan jarak akibat
adanya spreading geometris. Besar pengurangan densitas ini adalah
berbanding terbalik dengan kuadrat jarak penjalaran gelombang.
 Absorbsi atau Q dimana energi berkurang karena terserap oleh massa
batuan. Besar energi yang terserap ini meningkat dengan frekuensi.
 Terpantulkan yang merupakan dasar penggunaan metode seismik
refleksi. Perbandingan antara energi yang dipantulkan dengan energi
yang datang pada keadaan normal (Koefisien Refleksi) adalah:

𝐴𝐼2 −𝐴𝐼1
KR = (2.2)
𝐴𝐼2 +𝐴𝐼1

Keterangan : 𝐴𝐼1 : Accoustic Impedance Lapisan Satu


𝐴𝐼2 : Accoustic Impedance Lapisan Dua
KR : Koefisien Refleksi

2.1.2 Polaritas dan fase


Polaritas (gambar 2.1) merupakan suatu konvensi rekaman dan penampang
dari data seismik. SEG (Society Exploration of Geophysics) mendefinisikan
polaritas normal sebagai berikut:
 Sinyal seismik positif akan menghasilkan tekanan akustik positif
pada hidropon di air atau pergerakan awal ke atas pada geopon.

REZA PUTRA PRATAMA|TEKNIK GEOFISIKA|UPN ”VETERAN” YOGYAKARTA 6


PROPOSAL SKRIPSI
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan
Jurusan Teknik Geofisika
Fakultas Teknologi Mineral
UPN “Veteran“ Yogyakarta
 Sinyal seismik yang positif akan terekam sebagai nilai negatif pada
tape, defleksi negatif pada monitor dan trough pada penampang
seismik.
Polaritas mempunyai peranan sangat kritis dalam interpretasi dan oleh
karenanya harus dipahami pada awal interpretasi. Polaritas dapat ditentukan dari :
1. Keterangan penampang seismik
2. Menghitung jenis polaritas untuk batas impedansi akustik yang
pasti.
3. Membandingkan data seismik dengan data sumur pada saat
pengikatan data seismik dan sumur.

Gambar 2.1 Polaritas wavelet (a) fase nol, (b) fase minimum (Abdullah, 2007)
Gelombang seismik yang ditampilkan dalam rekaman seismik dapat
dikelompokan menjadi dua jenis yaitu fase minimum dan fase nol. Pada
gelombang fase minimum, energi yang berhubungan dengan batas AI

terkonsentrasi pada onset di bagian muka gelombang tersebut, sedangkan pada


fase nol batas AI akan terdapat pada peak bagian tengah. Dibandingkan dengan
fase minimum, fase nol mempunyai beberapa kelebihan:
 Untuk spektrum amplitudo yang sama, sinyal fase nol akan selalu
lebih pendek dan beramplitudo lebih besar daripada fase minimum,
sehingga rasio sinyal-noise-nya juga akan lebih besar.
 Amplitudo maksimum sinyal fase nol umumnya akan selalu berimpit
dengan spike refleksi, sedangkan pada kasus fase minimum amplitudo
maksimum tersebut terjadi setelah spike refleksi terkait.

REZA PUTRA PRATAMA|TEKNIK GEOFISIKA|UPN ”VETERAN” YOGYAKARTA 7


PROPOSAL SKRIPSI
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan
Jurusan Teknik Geofisika
Fakultas Teknologi Mineral
UPN “Veteran“ Yogyakarta
2.1.3 Well-Seismic Tie
Well-seismic tie atau pengikatan data seismik dan sumur dilakukan untuk
meletakkan horison seismik dalam skala waktu pada posisi kedalaman sebenarnya
dan agar data seismik dapat dikorelasikan dengan data geologi lainnya yang diplot
pada skala kedalaman.
a. Seismogram Sintetik
Seismogram sintetik dibuat dengan cara mengkonvolusikan wavelet
dengan data KR (Koefisien Refleksi). Data KR diperoleh dari data log
sonik dan densitas. Wavelet yang digunakan sebaiknya mempunyai
frekuensi dan bandwith yang sama dengan penampang seismik.
Seismogram sintetik final merupakan superposisi dari refleksi-refleksi
semua reflektor.

Gambar 2.2 Seismogram sintetik yang diperoleh dari konvolusi RC dan wavelet
(Sukmono, 1999a)
b. Check-Shot Survey
Check-shot survey dilakukan untuk mendapatkan Time-Depth curve
yang digunakan untuk pengikatan data seismik dan sumur, perhitungan
kecepatan interval, kecepatan rata-rata dan koreksi data sonik pada
pembuatan seismogram sintetik. Pada check-shot survey, kecepatan diukur
dalam lubang bor dengan sumber gelombang di atas permukaan.
Pengukurannya dilakukan pada horison-horison yang ditentukan
berdasarkan data log geologi dan waktu first-break rata-rata untuk tia
horison dilihat dari hasil pengukuran tersebut.

REZA PUTRA PRATAMA|TEKNIK GEOFISIKA|UPN ”VETERAN” YOGYAKARTA 8


PROPOSAL SKRIPSI
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan
Jurusan Teknik Geofisika
Fakultas Teknologi Mineral
UPN “Veteran“ Yogyakarta
c. Vertical Seismic Profile (VSP)
VSP hampir sama dengan check-shot survey. Perbedaannya adalah
pada VSP dipakai geopon yang lebih banyak dan interval pengamatannya
lebih tidak lebih dari 30 m, sehingga didapatkan rekaman penuh selama
beberapa detik. Gelombang ke bawah berasal dari refleksi first-
break/mutipel-nya dan pada rekamannya akan menentukkan waktu tempuh
yang meningkat terhadap kedalaman. VSP mempunyai beberapa
kelebihan, yaitu:
 Refleksi dapat diikat langsung dari rekaman seismik ke data sumur.
 Multipel dapat dengan mudah diidentifikasi.
 Refleksi dari reflektor di bawah TD masih dapat dievaluasi.
 Kecepatan interval dan KR dapat dihitung secara akurat.

2.2 Sekuen Pengendapan


Sekuen pengendapan adalah sebuah satuan stratigrafi yang terdiri atas
urutan yang relatif selaras dari lapisan batuan yang secara genetik berhubungan
dan dibatasi di bagian atas dan bawah oleh bidang ketidakselarasan atau korelasi
bidang selarasnya. Untuk sekuen seismik sendiri merupakan sekuen pengendapan
yang diidentifikasi dari penampang seismik.
Sekuen seismik mempunyai semua sifat dari sekuen pengendapan dengan
batasan kondisi bahwa sifat tesebut dapat dikenal dari data seismik. Ekspresi
seismik dari batas sekuen sangat tergantung pada kontras IA antara lapisan di atas
dan di bawah ketidakselarasan (Mitchum et al, 1977).

2.3 System Tract


System Tract adalah sebuah urutan sistem pengendapan yang terjadi pada
interval waktu yang sama dan masing-masing berhubungan dengan segmen
spesifik dari kurva perubahan muka laut relatif. Untuk mengenali system tract
diperlukan pemahaman mengenai empat faktor utama: eustasi, penurunan
cekungan, suplai sedimen, dan iklim. Eustasi adalah siklus perubahan muka air
laut global yang diukur dari pusat bumi dan telah teramati membentuk siklus
sinusoidal.
REZA PUTRA PRATAMA|TEKNIK GEOFISIKA|UPN ”VETERAN” YOGYAKARTA 9
PROPOSAL SKRIPSI
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan
Jurusan Teknik Geofisika
Fakultas Teknologi Mineral
UPN “Veteran“ Yogyakarta
Penurunan cekungan adalah proses turunnya dasar cekungan akibat proses
tektonik dan merupakan faktor yang paling memengaruhi terbentuknya ruang
akomodasi bagi pengendapan sedimen. Suplai sedimen meliputi faktor kecepatan
dan jumlah sedimen yang mengisi cekungan, kecepatan dan jumlah karbonat
biogenik serta endapan evaporit yang diproduksi in situ. Iklim akan memengaruhi
jenis endapan yang terjadi; silisiklastik, karbonat, evaporit, atau campurannya
(Sukmono. 1999b).

Macam-macam system tract adalah:


a. Highstand System Tract (HST)
HST terendapkan saat kenaikan muka air laut (m.a.l.) relatif
mendekati posisi maksimumnya secara lambat sehingga memungkingkan
tersedianya suplai sedimen yang cukup untuk progradasi dan downlap ke
permukaan marine-condensed section (MCS) di bawahnya. Pada fase
awal HST, set parasekuen (vertikal) yang agradasional dan sigmoidal
umumnya terbentuk karena pergeseran bayline ke arah daratan akan
mengakibatkan terjadinya kecepatan moderat dari kenaikan m.a.l. relatif
dan akibatnya juga kecepatan moderat dari penambahan ruang akomodasi
di pinggir paparan. Pada fasa selanjutnya saat kenaikan eustasi
menghilang dan eustasi mulai turun secara perlahan, bayline akan bergeser
secara menerus dan perlahan ke arah daratan. Akibatnya kenaikan m.a.l.
relatif dan kecepatan penambahan ruang akan semakin menghilang, dan
menghasilkan pengendapan set parasekuen yang progradasional atau oblik.

b. Lowstand System Tract (LST)


LST terendapkan di atas ketidakselarasan tipe-1 saat m.a.l relatif
(bayline) turun secara cepat dari level highstand karena pergeseran ke
arah cekungan dari titik kesetimbangan melampaui garis pantai atau offlap
break. Tergantung pada besar dan kecepatan penurunan m.a.l. dan
batimetri dari cekungan.

REZA PUTRA PRATAMA|TEKNIK GEOFISIKA|UPN ”VETERAN” YOGYAKARTA 10


PROPOSAL SKRIPSI
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan
Jurusan Teknik Geofisika
Fakultas Teknologi Mineral
UPN “Veteran“ Yogyakarta
c. Transgressive System Tract (TST)
System tract ini dicirikan oleh onlap pantai dari permukaan
transgresif atau first marine flooding surfaces di atas dari LST atau shelf-
margin system tract (SMST). Pengendapan TST ini terjadi sebagai respon
dari suplai sedimen yang berkurang akibat pengaruh parasiklus yang
periodik antara kenaikan dan stillstands m.a.l. relatif. Saat titik
kesetimbangan bergerak secara cepat ke arah daratan, kecepatan kenaikan
m.a.l. relatif meningkat, sehingga menambah ruang akomodasi baru. TST
pada dasarnya terdiri atas parasekuen progradasional yang terdiri atas pola
penipisan dan penghalusan ke atas dari susunan parasekuen retrogradasi
yang bergeser ke arah daratan. Susunan parasekuen ini diendapkan pada
saat pendalaman air, mundurnya garis pantai dan berkurangnya suplai
sedimen yang terjadi secara periodik.

d. Shelf-Margin System Tract (SMST)


SMST terendapkan di atas ketidakselarasan tipe-2 atau permukaan
konkordan ekivalennya setelah titik kesetimbangan (yang kebetulan sama
dengan bayline) mulai bergeser ke arah daratan tanpa mengalami
pergeseran shoreline break. Saat titik kesetimbangan dan bayline mulai
bergerak ke arah daratan, pengendapan highstand berhenti dan onlap
pantai (aluvial) secara cepat bergeser ke arah bayline. Karena titik
kesetimbangan tidak pernah bergeser ke arah cekungan melewati garis
pantai, erosi lokal dan sejumlah kecil sedimentasi air dalam terjadi.
Pelapukan dan diagenesa meteorik dapat berkembang di bagian
daratan dari paparan atau platform yang terekspos secara subaerial. Pada
saat ini SMST mulai menghasilkan onlap pantai pada ketidakselarasan
tipe-2. Percepatan naiknya m.a.l. relatif mengakibatkan di fasa awal
terjadi pengendapan parasekuen progradasional yang berevolusi ke arah
atas menjadi pengendapan fasa akhir dari parasekuen agradasional dan
mengakibatkan terbentuknya geometri sigmoidal. SMST yang tebal dapat
mengalami longsoran dan bergerak ke arah cekungan oleh pensesaran
tumbuh atau rayapan gravitasi.
REZA PUTRA PRATAMA|TEKNIK GEOFISIKA|UPN ”VETERAN” YOGYAKARTA 11
PROPOSAL SKRIPSI
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan
Jurusan Teknik Geofisika
Fakultas Teknologi Mineral
UPN “Veteran“ Yogyakarta

Gambar 2.3 Diagram Skuen Stratigrafi (Vail et al, 1977)

2.4 Analisa Fasies Seismik


Analisa fasies seismik merupakan usaha deskripsi dan interpretasi geologi
dari parameter-parameter pantulan seismik yang meliputi konfigurasi pantulan,
kontinuitas pantulan, amplitudo, frekuensi, kecepatan internal, dan geometri
eksternal. Setiap parameter pantulan seismik dapat memberikan informasi
mengenai kondisi geologi terkait. Parameter seismik yang dapat dianalisis secara
visual/langsung di sayatan seismik terutama adalah konfigurasi pantulan seismik.
Seperti pada batas sekuen, terdapat beberapa konsep berbeda yang digunakan
untuk menjelaskan karakter dari pantulan/ refleksinya. (Sukmono, 1999b).
Analisa fasies seismik dilakukan dengan memperhatikan parameter
parameter refleksi dalam sekuen yaitu:

- Geometri
- Kemenerusan
- Frekuensi dan amplitudo gross
- Kecepatan interval dan juga karakter dari refleksi individual seperti :
 Bentuk gelombang (waveform)
 Amplitudo
 Frekuensi

REZA PUTRA PRATAMA|TEKNIK GEOFISIKA|UPN ”VETERAN” YOGYAKARTA 12


PROPOSAL SKRIPSI
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan
Jurusan Teknik Geofisika
Fakultas Teknologi Mineral
UPN “Veteran“ Yogyakarta

Gambar 2.4 Atribut-atribut refleksi. (Vail dan Michtum, 1977 dalam Veeken, 2007)

2.5. Dekomposisi Spektral.


Dekomposisi spektral adalah metode tarasformasi data seismik menjadi
domain melalui sebuah Discrete Fourier Transform (DFT) atau melalui sebuah
metode transformasi maksimum entropi (Maximum Entropy Method
transfrorm/MEM). Transformasi amplitude spectra ini digunakan untuk
mendeliniasi sementara lapisan ketebalan yang bervariasi, sementara phase
spectra digunakan untuk mengindikasikan adanya ketidakmenerusan even
geologi secara lateral. Teknik ini telah terbukti menjadi pendekatan yang kuat
untuk memperkirakan ketebalan dan mendefinisikan keberadaan fault.

REZA PUTRA PRATAMA|TEKNIK GEOFISIKA|UPN ”VETERAN” YOGYAKARTA 13


PROPOSAL SKRIPSI
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan
Jurusan Teknik Geofisika
Fakultas Teknologi Mineral
UPN “Veteran“ Yogyakarta
Adapun pendekatan yang paling umum untuk mengkarakterisasi reservoar
dengan dekomposisi spektral adalah melalui ”zone of interest tuning cube”

Gambar 2.5. Zone of interest tuning cube (Partyka, dkk 1999)

Penggunaan metode ini dimulai dengan pembuatan peta batas sementara dan
vertikal dari zona yang diinginkan. Zona yang telah ditentukan tadi akan
ditransformasi dari domain waktu menjadi domain frekuensi pada window

tertentu. Dekomposisi spektral dapat digunakan untuk menentukan secara


kualitatif tubuh stratigrafi dan batas struktural sebagaimana juga
penebalan/penipisan lapisan secara relatif.

2.5.1 Tuning Cube


Konsep dasar dari analisa tuning cube ini adalah sebuah refleksi dari
sebuah lapisan tipis mempunyai sebuah ekspresi karakteristik dalam domain
frekuensi. Ekspresi karakteristik ini adalah indikasi ketebalan lapisan sementara
dan dapat ditentukan dibawah seperempat dari panjang gelombang. Berdasarkan
REZA PUTRA PRATAMA|TEKNIK GEOFISIKA|UPN ”VETERAN” YOGYAKARTA 14
PROPOSAL SKRIPSI
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan
Jurusan Teknik Geofisika
Fakultas Teknologi Mineral
UPN “Veteran“ Yogyakarta
pada pemisahan waktu dari peak dan trough wavelet, estimasi tradisional
ketebalan hanya dapat menentukan ketebalan jika lebih besar dari seperempat
panjang gelombang. Dapat dilihat dari ilustrasi gambar berikut ini :

Gambar 2.6. Efek ”thin bed” (Partyka dkk, 1999)

Pola interferensi spektral dari sebuah lapisan tipis akan muncul dengan
distribusi dari properti akustik didalam analisa window yang pendek. Sebelum
melakukan dekomposisi spektral kita harus memahami perbedaan di dalam
response amplitude spektra frekuensi antara window yang panjang dengan
window yang pendek. Transformasi dari window yang panjang lebih kurang dari
spektrum dari wavelet dan akan ditunjukkan dalam gambar berikut :

Gambar 2.7. Analisa window panjang (Partyka et al, 1999)

REZA PUTRA PRATAMA|TEKNIK GEOFISIKA|UPN ”VETERAN” YOGYAKARTA 15


PROPOSAL SKRIPSI
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan
Jurusan Teknik Geofisika
Fakultas Teknologi Mineral
UPN “Veteran“ Yogyakarta

Dikarenakan panjang window geologi tidak bisa diprediksi, maka


spektrum reflektivitasnya adalah putih/flat. Sedangkan tranformasi dari window
yang pendek, terdiri dari sebuah wavelet overprint dan pola lokal interferensi dari
properti akustik dan ketebalan rentang lapisan geologi oleh window.

Gambar 2.8. Analisa window pendek (Partyka et al, 1999)

Penyaringan geologi non-random wavelet refleksi menyebabkan spectrum


refleksi bukan putih/non-white. Reflektifitas spektrum ini menghasilkan pola
interferensi didalam analisa window pendek. Melalui analisia tuning cube, kita
dapat melihat beberapa kasus, diantaranya hilangnya frekuensi tinggi pada batuan
porus (atau batuan yang mengandung hidrokarbon) yang disebabkan oleh tuning
dan tidak hanya atenuasi.

2.5.2. Volume Recon


Volume Recon akan membuat suatu ”Discrete Frequency Volumes”
menggunakan pendekatan sebuah ”running-window” pada setiap trace seismic
pada suatu volum sesimik waktu. Parameter untuk Volume Recon ini biasanya
ditentukan dengan melakukan Tunning Cube pada zona yang diinginkan. Peta
Tunning akan menunjukkan problem tuning pada skala zona yang diinginkan
secara lokal. Karakterisasi seismik yang lebih besar membutuh pendekatan yang

REZA PUTRA PRATAMA|TEKNIK GEOFISIKA|UPN ”VETERAN” YOGYAKARTA 16


PROPOSAL SKRIPSI
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan
Jurusan Teknik Geofisika
Fakultas Teknologi Mineral
UPN “Veteran“ Yogyakarta
sedikit berbeda. Untuk dekomposisi diluar paket single reflektifitas atau zona
yang diinginkan direkomendasikan menggunakan ”Discrete Frequency Energy
Cubes” atau dengan organisasi data yang berbeda, ”Time Frequency 4-D Cube”.
Kedua tipe cube tersebut dapat dilihat dalam gambar 2.9 .

Gambar 2.9. Discrete Frequency Volumes (Partyka et al, 1999)


”Discrete frequency energy cubes” dilakukan dari sebuah volume input
single untuk kemudian menjadi ”multiple discrete frequency amplitude” dan
volume fasa. Komputasi dari tiap sample dapat dilakukan melalui analisa spectral
window yang mengkalkulasi amplitudo atau spektrum fasa. Metoda ini pada
umumnya dilakukan hanya setelah menganalisa dan membuat parameterisasi di
zona target.

2.6. Seismik Atribut


Berbagai metode dikembangkan untuk mempelajari penjalaran dan sifat
gelombang seismik dengan tujuan menggambarkan keadaan subsurface. Salah
satu metode yang kemudian berkembang adalah atribut seismik. Banyak ahli yang
mendefinisikan atribut seismik. Seismik atribut didefinisikan sebagai karakterisasi
secara kuantitatif dan deskriptif dari data seismik yang secara langsung dapat
ditampilkan dalam skala yang sama dengan data awal (Barnes, 1999). Dengan

REZA PUTRA PRATAMA|TEKNIK GEOFISIKA|UPN ”VETERAN” YOGYAKARTA 17


PROPOSAL SKRIPSI
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan
Jurusan Teknik Geofisika
Fakultas Teknologi Mineral
UPN “Veteran“ Yogyakarta
kata lain seismik atribut merupakan pengukuran spesifik dari geometri, dinamika,
kinematika dan juga analisis statistik yang diturunkan dari data seismik. Metode
seismik berguna untuk menganalisis fenomena geologi bawah permukaan seperti
struktur geologi. Atribut seismik dan Struktur Kedalaman Peta yang digunakan
untuk menentukan distribusi fasies asosiasi dan pemodelan struktural. Distribusi
fasies dan sifat batuan dikombinasikan dengan model struktural untuk
mendapatkan model fasies.
Informasi utama dari seismik atribut adalah amplitudo, frekuensi, dan
atenuasi yang selanjutnya akan digunakan sebagai dasar pengklasifikasian atribut
lainnya. Semua horison dan bentuk dari atribut-atribut ini tidak bersifat bebas
antara satu dengan yang lainnya, perbedaannya hanya pada analisis data pada
informasi dasar yang akan berpengaruh pada gelombang seismik dan juga hasil
yang ditampilkan (Sukmono, 2002). Informasi dasar yang dimaksud disini
adalah waktu, frekuensi, dan atenuasi yang selanjutnya akan digunakan sebagai
dasar klasifikasi attribut (Brown, 1996).

Gambar 3.0 Klasifikasi Atribut Seismik (Brown, 1996)

REZA PUTRA PRATAMA|TEKNIK GEOFISIKA|UPN ”VETERAN” YOGYAKARTA 18


PROPOSAL SKRIPSI
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan
Jurusan Teknik Geofisika
Fakultas Teknologi Mineral
UPN “Veteran“ Yogyakarta
Secara umum, atribut turunan waktu akan cenderung memberikan
informasi perihal struktur, sedangkan atribut turunan amplitudo lebih cenderung
memberikan informasi perihal stratigrafi dan reservoir. Peran atribut turunan
frekuensi sampai saat ini belum betul-betul dipahami, namun terdapat keyakinan
bahwa atribut ini akan menyediakan informasi tambahan yang berguna perihal
reservoir dan stratigrafi. Atribut atenuasi juga praktis belum dimanfaatkan saat
ini, namun dipercaya bahwa atribut ini dimasa datang akan berguna untuk lebih
memahami informasi mengenai permeabilitas.
Analisis seismik biasanya digunakan untuk memprediksi sifat reservoar
seperti porositas, vshale, water saturation, dll, berdasarkan masukan data atribut
seismik. Algoritma di dalam multiatribut analisis cukup beragam. Untuk
menampilkan zona-zona yang menarik secara langsung dari citra seismik,
diperlukan keahlian untuk memilih dan atribut menentukan atribut yang tepat.
Anomali brightspot merupakan contoh atribut seismik yang secara langsung
berhubungan dengan parameter yang menarik, karena biasanya terdapat
kandungan gas di dalamnya.
Salah satu sinyal seismik yang umummya digunakan untuk mendapatkan
informasi reservoar adalah amplitudo. Pendekatan interpretatif untuk
mengevaluasi reservoar dari atribut amplitudo menggunakan asumsi yang
sederhana, yaitu brightspot pada peta seismik yang didasarkan pada besar
kecilnya amplitudo yang akan lebih tinggi bila saturasi hidrokarbon tinggi,
porositas semakin besar, pay thickness lebih tebal (walaupun dengan beberapa
komplikasi tuning effect). Secara umum bahwa semakin terang brightspot
(semakin nyata kontras amplitudo) semakin bagus prospeknya.

2.8 Proses – Proses Pemodelan Geologi


Pemodelan reservoar merupakan salah satu hal yang penting sebelum
melakukan eksploitasi, karena pada proses pemodelan reservoar tersebut akan
menghasilkan sebuah model penyebaran porositas dan permeabilitas dari lapangan
produksi. Hasil dari pemodelan reservoar tersebut dapat digunakan sebagai acuan
maupun prediksi yang lebih akurat dalam memperkirakan jumlah cadangan

REZA PUTRA PRATAMA|TEKNIK GEOFISIKA|UPN ”VETERAN” YOGYAKARTA 19


PROPOSAL SKRIPSI
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan
Jurusan Teknik Geofisika
Fakultas Teknologi Mineral
UPN “Veteran“ Yogyakarta
minyak dan gasbumi dan peramalan produksi yang dapat menunjang optimalisasi
produksi seperti penentuan titik lokasi pemboran.
Proses pemodelan reservoar ini terdiri dari beberapa tahap yang saling
berlanjut satu sama lainnya. Secara garis besar pembuatan pemodelan geologi
reservoar ini terdiri dari beberapa langkah, yaitu:
1.) Korelasi Sumur (Well Corelation)
Tahapan korelasi sumur ini meliputi pembuatan alur sumur, well top, dan curve
filling. Proses ini dilakukan sebagai tahapan dasar dan untuk mengetahui
stratigrafi sikuen, stratigrafi serta struktur yang berkerja pada lapangan penelitian.
2.) Pemodelan Patahan (Fault Modeling)
Pemodelan patahan merupakan proses penyempurnaan patahan untuk diproses
lebih lanjut menjadi grid patahan dalam bentuk tiga dimensi. Letak key pillars
akan disesuaikan sesuai dengan letak patahan pada tiap lapisan pasir. Proses
pemodelan patahan ini berguna untuk menyempurnakan letak struktur yang
berkerja serta pembuatan horizon, zona, dan lapisan.
3.) Pillar Gridding
Pillar gridding merupakan proses pembuatan kerangka kerja. Semakin kecil
ukuran grid maka akan model yang dibuat akan semakin teliti.
4) Pembuatan Horison (Make Horizons)
Pembuatan horison stratigrafi merupakan langkah akhir dalam pemodelan
struktur. Jumlah horison yang dibuat disesuaikan berdasarkan jumlah lapisan pasir
yang akan dimodelkan.
5.) Pembuatan Zona (Make Zones)
Pembuatan zona dilakukan untuk memisahkan lapisan target pasir bagian atas
dengan lapisan target pasir bagian bawah, sehingga nantinya akan terbagi zonasi
bagian atas dan bawah lapisan pasir.
6.) Pembagian Lapisan Target (Layering)
Langkah akhir dalam pemodelan struktural adalah pembagian lapisan target
(layering) yang dimulai dari pemodelan patahan, pillar gridding, pembuatan
horison dan zona. Pembagian lapisan target pasir termasuk ke dalam proses
penting dalam pemodelan struktural pemodelan karena akan berkaitan dengan
perhitungan nilai porositas dan permeabilitas yang akan dimodelkan. Jumlah
REZA PUTRA PRATAMA|TEKNIK GEOFISIKA|UPN ”VETERAN” YOGYAKARTA 20
PROPOSAL SKRIPSI
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan
Jurusan Teknik Geofisika
Fakultas Teknologi Mineral
UPN “Veteran“ Yogyakarta
lapisan karbonat yang dibagi berbeda antara satu tubuh karbonat dengan yang
lain. Pembagian ini berdasarkan ketebalan antar ketebalan yang dimiliki dan
berfungsi untuk memisahkan bagian karbonat dalam tubuh itu sendiri.
7.) Variogram
Merupakan perangkat statistik untuk interpolasi antara dua atau lebih data yang
bersifat pembobotan. Dalam variogram ada beberapa hal yang perlu diperhatikan,
seperti metode yang akan digunakan, arah mayor dan minor, bentuk variogram
yang menunjukkan jenis reservoar homogen atau heterogen.
8.) Pemodelan Fasies (Facies Modelling)
Pemodelan fasies merupakan penggambaran atau ilustrasi dari fasies yang berada
pada lapangan penelitian sehingga nantinya akan diketahui penyebaran dan
hubungan porositas serta permeabilitasnya.
9.) Pemodelan Petrofisis (Petrophysical Modelling)
Pemodelan petrofisik ini terbagi menjadi pemodelan porositas, permeabilitas,
dankontak hidrokarbon. Pemodelan porositas akan mengacu kepada pemodelan
fasiesyang telah dilakukan dan membantu dalam mengenali daerah yang memiliki
porositas baik dan yang buruk. Daerah dengan porositas baik umumnya
merupakan refleksi dari penyebaran sand reservoir, dan daerah dengan porositas
buruk merupakan refleksi dari penyebaran sand non reservoir dan serpih.
Pemodelan porositas akan menjadi refleksi untuk penyebaran permeabilitas.
10.) Pembuatan Kontak (Make Contact)
Pembuatan kontak dilakukan sebagai input dasar dalam proses perhitungan
volume. Proses pembuatan kontak ini akan menunjukkan daerah penyebaran
minyak atau gasyang nantinya luas daerah tersbut dapat dihitung potensi
hidrokarbon di dalamnyaagar didapatkan jumlah cadangan hidrokarbon yang
tersimpan di dalamnya.
11.) Perhitungan Cadangan (Volume Calculation)
Tahap akhir merupakan perhitungan volume cadangan hidrokarbon yang
beradadalam reservoir. Hasil perhitungan volume hidrokarbon tiap horison akan
berbeda dikarenakan faktor penyebaran kontaknya.

REZA PUTRA PRATAMA|TEKNIK GEOFISIKA|UPN ”VETERAN” YOGYAKARTA 21


PROPOSAL SKRIPSI
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan
Jurusan Teknik Geofisika
Fakultas Teknologi Mineral
UPN “Veteran“ Yogyakarta
III. Metode Penelitian
3.1. Skema Penelitian
Pada gambar 3.1 dibawah dijelaskan proses penelitian yaitu :

Mulai

Geologi
Regional

Data Seismik Well Data


3D PSTM
Analisa Zona Target

Ekstraksi Wavelet Analisa Cross Plot

Log AI (Accoustic
Impedance)

Seismogram Sintetik

Tidak Well
Seismic
Tie

Ya

Picking Fault

Picking Horizon

Deliniasi Fasies Menggunakan


Dekomposisi Spektral

Map Fasies

Distribusi Reservoar Menggunakan


Atribut Seismik

3D Modelling Reservoar

Selesai

Gambar 3.1 Diagram Alir Penelitian

REZA PUTRA PRATAMA|TEKNIK GEOFISIKA|UPN ”VETERAN” YOGYAKARTA 22


PROPOSAL SKRIPSI
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan
Jurusan Teknik Geofisika
Fakultas Teknologi Mineral
UPN “Veteran“ Yogyakarta
3.2. Waktu Penelitian
Skripsi ini akan dilaksanakan dalam waktu 3 bulan, yang terdiri dari 14
minggu terhitung mulai minggu pertama bulan September sampai dengan minggu
keempat bulan November 2017 atau pada waktu lain yang telah ditentukan oleh
perusahaan.
Tanggal : 1 September 2017 s/d 30 November 2017
Tempat : P3GL BANDUNG (PUSAT PENELITIAN DAN
PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN)

RENCANA JADWAL PELAKSANAAN PENELITIAN


Minggu ke

September Oktober November


Jenis Kegiatan
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

Studi Literatur
Pengumpulan Data
Pengolahan Data
Interpretasi
Pembuatan Laporan
Evaluasi dan
Presentasi

 Studi Literatur dimulai pada minggu pertama bulan September hingga


minggu keempat bulan November.
 Pengumpulan Data dimulai dari minggu pertama bulan September
hingga minggu kedua bulan September.
 Pengolahan Data dimulai dari minggu ketiga bulan September hingga
minggu ketiga bulan Oktober.
 Interpretasi dimulai dari minggu ketiga bulan Oktober hingga minggu
kedua bulan November.
 Pembuatan Laporan dimulai dari minggu kedua bulan November
hingga minggu keempat bulan November.
 Evaluasi dan Presentasi di minggu kedua dan ketiga bulan November.

REZA PUTRA PRATAMA|TEKNIK GEOFISIKA|UPN ”VETERAN” YOGYAKARTA 23


PROPOSAL SKRIPSI
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan
Jurusan Teknik Geofisika
Fakultas Teknologi Mineral
UPN “Veteran“ Yogyakarta
3.3. Peserta Tugas Akhir
Peserta yang berencana melaksanakan Tugas Akhir di P3GL Bandung
(Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan) yaitu (cv terlampir) :
1. Reza Putra Pratama NPM 115.130.086

3.4. Aspek Kerja yang Diharapkan


Sebagai mahasiswa Jurusan Teknik Geofisika, aspek kerja yang
diharapkan meliputi :
1. Memahami proses dekomposisi spektral dan atribut seismik untuk deliniasi
fasies dan distribusi reservoir beserta segala perangkat instrumentsi yang
terlibat, seperti perangkat lunak pada sistem kerja yang ada.
2. Mampu melakukan evaluasi dari proses dekomposisi spectral dan atribut
seismik pada target yang diinginkan.

3.5. Bentuk Tugas Akhir


Selama pelaksanaanya, mahasiswa akan menyelesaikan tugas-tugas serta
pekerjaan-pekerjaan khusus yang diberikan oleh pihak P3GL BANDUNG
(PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN),
khususnya yang berkaitan dengan Bidang Teknik Geofisika.

3.6. Jurnal dan Laporan Tugas Akhir


Segala sesuatu yang diamati maupun dikerjakan oleh mahasiswa selama
Tugas Akhir akan dicatat dalam satu jurnal. Jurnal ini akan diparaf oleh
pembimbing lapangan. Sesuai dengan tuntutan yang diterapkan oleh Universitas
Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta dan ketentuan yang berlaku di
P3GL BANDUNG (PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
GEOLOGI KELAUTAN), mahasiswa diharuskan membuat laporan Tugas
Akhir sebagai bentuk timbal balik pertanggung jawaban penulis terhadap P3GL
BANDUNG (PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI
KELAUTAN) setelah pelaksanaan Tugas Akhir, dengan disertai Surat
Keterangan Hasil Tugas Akhir dari P3GL BANDUNG (PUSAT PENELITIAN
DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN). Pembuatan laporan ini

REZA PUTRA PRATAMA|TEKNIK GEOFISIKA|UPN ”VETERAN” YOGYAKARTA 24


PROPOSAL SKRIPSI
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan
Jurusan Teknik Geofisika
Fakultas Teknologi Mineral
UPN “Veteran“ Yogyakarta
merupakan syarat mutlak nilai mata kuliah Tugas Akhir di Universitas
Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta.

IV. Laporan
Semua hasil pengolahan data selama Tugas Akhir akan disusun dalam
bentuk laporan tertulis yang akan dilaporkan kepada P3GL BANDUNG (PUSAT
PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN) dan
kemudian diberikan pengesahan sebagai bukti telah menempuh mata kuliah Tugas
Akhir (Skripsi) sebanyak 5 sks. Sedangkan jadwal pengolahan data disesuaikan
dengan kesepakatan dan ketentuan dari P3GL BANDUNG (PUSAT
PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN).

V. Pembimbing
Untuk pembimbing di lapangan diharapkan dapat disediakan oleh
perusahaan sedangkan untuk pembimbing di kampus dari salah satu staf pengajar
pada Jurusan Teknik Geofisika Universitas Pembangunan Nasional ”Veteran”
Yogyakarta.

VI. Penutup
Demikian proposal “Skripsi” ini, kami menjadikan proposal kami ini
sebagai salah satu tambahan untuk melengkapi permohonan Skripsi kami, dan
semoga proposal Skirpsi kami dapat diterima dan dilaksanakan dengan baik sesuai
dengan rencana yang telah dibuat. Selain itu juga kami mengharapkan bantuan
dan kesempatan dari perusahaan yang Bapak/Ibu pimpin untuk mendapatkan
wawasan dan pengetahuan dengan sumberdaya yang ada.
Demikian proposal Skripsi ini, semoga dengan rencana dan rancangan
kegiatan kami, kami dapat diterima dan diperbolehkan untuk melakukan Skripsi
kami di perusahaan tersebut. Besar keinginan kami untuk diperbolehkan
mendapatkan pengetahuan dan wawasan di perusahaan Bapak/Ibu pimpin.
Terimakasih atas perhatian dan kerjasamanya.

REZA PUTRA PRATAMA|TEKNIK GEOFISIKA|UPN ”VETERAN” YOGYAKARTA 25


PROPOSAL SKRIPSI
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan
Jurusan Teknik Geofisika
Fakultas Teknologi Mineral
UPN “Veteran“ Yogyakarta
DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, A. 2007. Modul Ensiklopedi Seismik: Polaritas dan Fasa (tidak


dipublikasikan)

Badley, M.E.,1985, Practical Seismic Interpretation, Prentice Hall, USA.

Brown, A.R., 1996, Seismic attributes and their classification: The Leading Edge,
1090.

Barness. A. E. 1999. Seismic Attributes: Past, Present, and Future, Tulsa–USA:


Society of Exploration Geophysics.

Mitchum, R.M., Jr. and P.R. Vail,1977. The Depositional Sequence as a Basic
Unit for Stratigraphic Analysis,

Sukmono, S., 1999a, Interpretasi Seismik Refleksi, Departemen Teknik Geofisika,


FIKTM, Institut Teknologi Bandung.

Sukmono, S., 1999b, Interpretasi Seismik Stratigrafi, Departemen Teknik


Geofisika, FIKTM, Institut Teknologi Bandung.

Sukmono, S., 2002, Seismic Attributes for Reservoir Characterization,


Departement of Geophysical Engineering, FIKTM, Institut Teknologi
Bandung.

Sukmono, S., 2007, Post and Pre Stack Seismic Inversion for Hydrocarbon
Reservoir Characterization, FIKTM, Institut Teknologi Bandung.

Partyka, G., Gridley, J., Lopez, J., 1999, Interpretation Application of Spectral
Decomposition in Reservoir Characterization, The Leading Edge.

Schlumberger, 2007, Petrel Fundamentals, Petrel Introduction Course,


Schlumberger

Veeken, P.C.H. 2007. Seismic Stratigraphy, Basin Analysis and Reservoir


Characterisation, Elseveir Ltd : United Kingdom

REZA PUTRA PRATAMA|TEKNIK GEOFISIKA|UPN ”VETERAN” YOGYAKARTA 26