Anda di halaman 1dari 4

RUMUSAN SEMENTARA

RAPAT APRESIASI TEKNIS PETERNAKAN


DINAS PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN PROVINSI KALIMANTAN BARAT
DI HOTEL GAJAH MADA
IPONTIANAK, 25-26 FEBRUARI 2013

Rapat Apresiasi Teknis Peternakan Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2013 setelah
mendengarkan arahan Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi
Kalimantan Barat, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten/Kota dan paparan dari para
narasumber, yang didahului dengan penandatanganan penetapan Kinerja dan Kontrak
Kinerja antara Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan dengan Kepala Dinas Pertanian
Kab/Kota yang membidangi Fungsi Peternakan, maka tim panitia perumus bersepakat
merumuskan hal-hal sebagai berikut :

1. Pelaksanaan Program Swaesembada Daging Sapi/Kerbau 2014


a. Para peserta rapat apresiasi teknis peternakan Tahun 2013 Dinas Peternakan
dan Kesehatan Hewan sepakat untuk tetap melaksanakan target-target
pencapaian sebagaimana tercantum di dalam Blue Print dan Road Map PSDSK
Tahun 2014, yang telah diperbaharui dengan pendekatan System Modelling.
Sehubungan dengan hal tersebut, maka alokasi tersebut dapat ditindaklanjuti
masing-masing unit kerja di kabupaten/kota.
b. Untuk mencapai target sampai tahun 2014 maka populasi sapi potong tahun
2013 diprediksikan sebesar 171.184 ekor, sapi perah sebesar 247 ekor dan
kerbau sebesar. 3.194 ekor. Pada tahun 2014 ditargetkan jumlah populasi
tersebut meningkat menjadi 187.104 .ekor untuk Sapi potong, 310 ekor untuk
sapi perah dan 3.383 ekor untuk kerbau. Oleh karena itu waktu yang tersisa
selama satu setengah tahun dalam pencapaian target PSDSK pada akhir tahun
2014, harus dimanfaatkan untuk melaksanakan kegiatan yang mendorong
tercapainya target swasembada daging sapi dan kerbau dengan sebaik-baiknya.
c. Dalam kerangka kerjasama dengan PTPN untuk pengembangan integrasi sapi-
sawit telah disepakati penyediaan sapi potong untuk kawasan tersebut dengan
sapi bakalan dan sumber bibit dari NTB, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Susel.
Namun karena keterbatasan bibit dilokasi sentra bibit kedepanya PTPN XIII akan
mengambil bibit sapi petani setempat. Populasi awal pengembangan di Kalbar
500 ekor di Sanggau, dan perlunya MOU antara perusahaan dengan Kab/Kota
dengan Bupati/Walikota dan Gubernur untuk penyediaan dana CSR.
d. Kedepan kita harus sudah mewacanakan swasembada dagi yang yang berasal
dari beberapa komoditas, sehingga tidak fokus hanya ketersediaan/swasembada
daging sapi saja, sementara ini daging ayam sudah swasembada untuk di
Kalimantan Barat ( 63 %) pasokan berupa daging ayam.

2. Penetapan Kinerja (TAPKIN)


a. Peran Pimpinan Unit Kerja baik di Provinsi, dan Daerah Kabupaten/Kota sangat
menentukan dalam memantau implementasi kegiatan dan/atau program sehingga
penyerapan anggaran dapat dianggap salah satu representasi berjalannya kegiatan
sesuai dengan rencana. Oleh karena itu seluruh peserta sepakat terhadap target
serapan anggaran pada triwulan I sebesar 25%, triwulan ke-2 50% dan triwulan ke-
3 75% dan akhir triwulan ke-4 100%.
b. Oleh karena itu perlu review secepatnya terhadap POK Tahun 2013 pada masing-
masing satker untuk mencermati apabila terdapat alokasi anggaran yang perlu
dirubah, maka dapat segera dilaksanakan revisi secepatnya. Dengan demikian
pelaksanaan kegiatan terutama yang terkait pengadaan dapat segera
dilaksanakan.
3. Pelaksanaan APBN
a. Adanya perubahan akun belanja, yaitu dari belanja bantuan sosial menjadi
belanja barang perlu segera diikuti dengan persiapan proses pelelangan agar
dapat diantisipasi terjadinya kelambatan, karena mekanisme lelang.
Perubahan ini sebelumnya tidak pernah dilakukan.
b. Dalam rangka percepatan Reformasi Birokrasi, maka dilakukan melalui SAKIP
dan e-Proposal dilingkup Pertanian sebagai bagian dari e-Goverment. E-
Goverment adalah upaya besar pemerintah agar menjadikan proses
perencanaan menjadi lebih terbuka karena dari sejak penyusunan proposal,
budgeting, procurement, performance dan audit dapat diakses dengan
mudah karena berbasiskan website. Pengusulan kegiatan oleh daerah untuk
alokasi tahun 2014 akan dilakukan melalui e Proposal. Alokasi anggaran akan
didasarkan kepada Rencana Kinerja Tahunan (RKT) dan pengusulan kegiatan
yang dilakukan melalui e-Proposal.

4. Penyelesaian Peraturan Turunan Undang-Undang 18 /2009


Peserta sepakat dan meminta kepada Pusat (Ditjen Peternakan dan Kesehatan
Hewan) untuk segera menyelesaikan Peraturan Turunan Undang-Undang 18/2009
yang masih tersisa yaitu yang terkait dengan aspek kesehatan hewan yaitu
Peraturan Pemerintah tentang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit Hewan
dan Otoritas Veteriner yang terkait dengan Kelembagaan dan Tenaga. Selain itu
peserta meminta agar Permentan sebagai tindak lanjut Undang-Undang 18/2009
tersebut dapat segera diselesaikan sebagai payung hukum bagi pelaksanaan fungsi-
fungsi pembangunan peternakan, yaitu perbibitan, budidaya, pakan, kesehatan
hewan dan kesehatan masyarakat veteriner dan pascapanen.

5. Pengelolaan Barang Milik Negara (BMN)


Kepada BMN pada sumber APBN untuk menyelesaikan hal yang sangat mendesak
yaitu pengelolaan barang Milik Negara termasuk satker in-aktif, sebagai upaya
penyelesaian dan pembukuan dalam neraca khususnya untuk perbaikan substansi
laporan keuangan dari BMN sesuai dengan ketentuan dalam SAI dan SAP.

6. Pelatihan teknis dan fungsional SDM Peternakan dan Kesehatan Hewan


Pelatihan teknis baik bagi aparatur dan non-aparatur sangat penting dalam
pencapaian Target SDM bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan yang telah
ditetapkan. Oleh karena itu perencanaan, pelaksanaan dan monev pelatihan perlu
disingkronkan dengan lebih baik. Kerjasama antara unit kerja bidang Peternakan dan
Kesehatan Hewan, baik dengan UPT Pusat/Daerah, Dinas-Dinas perlu terus
ditingkatkan untuk menjamin bahwa personil yang dilatih dan kurikulum yang
digunakan sudah sesuai dengan kebutuhan daerah/pengguna.

7. Keterbukaan Informasi
Jajaran Peternakan dan Kesehatan Hewan diminta oleh para peserta rapat untuk
secara transparan mmemberikan penjelasan , data, dan informasi tentang alur
penerbitan rekomendasi dan penetapan alokasi impor, sesuai dengan mekanisme
yang diatur dalam Permentan No. 50/Permentan/OT.140/9/2011 tentang
Rekomendasi Persetujuan Pemasukan Karkas, Daging, Jeroan dan /atau Olahannya ke
dalam wilayah Negara RI. Rekomendasi Persetujuan dari dinas teknis nantinya
sebagai salah satu dukungan terbitnya ijin pemasukan dan pengeluaran
ternak/produk ternak/olahan dan rencananya provinsi akan dilayani oleh
PELAYANAN SATU ATAP

8. Pelaksanaan revitalisasi RPH lebih difokuskan untuk menghasilkan daging yang ASUH,
khusus untuk Kabupaten/Kota agar menjadi perhatian dan perlunya direvitalisasi
dengan kelengkapan yang sesuai ketentuan.

9. Tugas penyusunan PERDA Kawasan Usaha Peternakan merupakan tugas Kab/Kota


yang diharapkan dapat ditindaklanjuti.

10. PERSIAPAN FORUM SKPD KEDEPAN YANG AKAN DILAKSANAKAN DI PROVINSI


DENGAN KAB/KOTA DIHARAPAKAN SELURUH DOKUMEN PERENCANAAN DAN
PENDUKUNGNYA DISIAPKAN UNTUK PERENCANAAN TAHUN 2014.
Pontianak , 26 Februari 2013

Tim Perumus