Anda di halaman 1dari 34

PerMen LH No.

16 Tahun 2012

BAB II
RENCANA USAHA DAN / ATAU KEGIATAN

2.1 Nama Rencana Usaha dan / Kegiatan : INDUSTRI ARANG– PT. TUJU KUDA
HITAM SAKTI.
Berdasarkan Lampiran I Peraturan Bupati Lamongan No. 15 Tahun 2013, bagian I
(Bidang Industri), No. 57 disebutkan bahwa kegiatan Industri Arang Kayu (charcoal,
briket, arang tempurung kelapa), dengan Investasi semua besaran, merupakan kegiatan
yang wajib dilengkapi Upaya Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup
(UKL-UPL).

2.2 Lokasi Rencana Usaha dan / Kegiatan


Rencana pembangunan INDUSTRI ARANG– PT. TUJU KUDA HITAM SAKTI
terletak di Jl. Raya Lamongan-Gresik, Desa Pandanpancur, Kecamatan Deket,
Kabupaten Lamongan. Terletak + 230 m sebelah barat SPBU Deket dan + 850 m
sebelah timur lokasi pabrik PT. Cahaya Bintang Olympic (Gambar 1). Tepatnya
berada diantara 6 titik koordinat sebagai berikut : (Gambar 2)
A. 7°7'20.50" LS D. 7°7'9.68" LS
112°28'3.32" BT 112°27'59.51" BT
B. 7°7'19.81" LS E. 7°7'12.94" LS
112°28'5.79" BT 112°27'59.15" BT
C. 7°7'10.08" LS F. 7°7'13.64" LS
112°28'6.75" BT 112°28'3.86" BT

Kondisi Rona Sekitar Lokasi Kegiatan


Rona lingkungan merupakan gambaran keadaan lingkungan di tempat proyek yang
akan dibangun di daerah sekitarnya. Kegunaan rona lingkungan :
o Pendugaan keadaan lingkungan di masa yang akan datang tanpa proyek
o Keadaan lingkungan di masa yang akan datang dengan proyek
Kecamatan Deket adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa
Timur, Indonesia. Kecamatan ini dilalui jalan utama yang menghubungkan wilayah
perbatasan timur, tengah, dan barat antar kota Kabupaten Lamongan dengan Kota
Surabaya dan daerah lain yang terletak di timur kabupaten Lamongan, sehingga boleh
dibilang merupakan pintu gerbang timur Kabupaten Lamongan. Sebagian besar
penduduk di kecamatan ini bermata pencaharian sebagai petani. Area sawah dan
tambak mendominasi sebagian besar wilayah kecamatan Deket. Hasil pertanian dan
perikanan cukup melimpah bahkan,salah satu dusun di kecamatan ini, yakni dusun
Ngepung, menduduki peringkat ke dua nasional dalam bidang perikanan air tawar.
Kondisi rona sekitar lokasi kegiatan berupa : (Gambar 3)
 Batas Utara : Lahan Pertanian
 Batas Timur : Lahan Pertanian dan Bangunan Gudang Distributor Pupuk
 Batas Barat : Lahan Pertanian
 Batas Selatan: Jalan Raya Lamongan - Gresik

2|Re n ca n a U s a h a d a n / ata u Ke g i ata n


INDUSTRI ARANG– PT. TUJU KUDA HITAM SAKTI
PerMen LH No. 16 Tahun 2012

Gambar 1 peta

3|Re n ca n a U s a h a d a n / ata u Ke g i ata n


INDUSTRI ARANG– PT. TUJU KUDA HITAM SAKTI
PerMen LH No. 16 Tahun 2012

Gambar 2 Kordinat

4|Re n ca n a U s a h a d a n / ata u Ke g i ata n


INDUSTRI ARANG– PT. TUJU KUDA HITAM SAKTI
PerMen LH No. 16 Tahun 2012

Gambar 3 Batas

5|Re n ca n a U s a h a d a n / ata u Ke g i ata n


INDUSTRI ARANG– PT. TUJU KUDA HITAM SAKTI
PerMen LH No. 16 Tahun 2012

2.3 Skala / Besaran Rencana Usaha dan / atau Kegiatan


PT. TUJU KUDA HITAM SAKTI bergerak di bidang Industri Arang dengan bahan
baku serbuk gergajian kayu. Kapasitas produksi yang direncanakan 14.400 Ton/Tahun
dengan rencana pemasaran hasil produksi adalah 95% export dan 5% dalam negeri.
Produk utama yang dihasilkan adalah Sawdust Charcoal dan Sawdust Briquette.
- Sawdust Charcoal adalah adalah residu yang berbentuk padat dari pembakaran
biomass atau limbah biomass pada kondisi yang terkontrol. Pengontrolan ini
dilakukan agar asap yang keluar selama pembakaran tidak banyak dan biomass tidak
menjadi abu.
- Sawdust Briquette adalah arang yang diubah bentuk, ukuran dan kerapatannya dengan
cara mengempa serbuk arang yang dicampur dengan perekat. Pembuatan briket arang
ini dapat memberikan beberapa keuntungan, antara lain: kerapatan arang dapat
ditingkatkan, bentuk dan ukuran arang dapat disesuaikan dengan kebutuhan, mudah
dalam penyimpanan, nilai kalor lebih tinggi.

(a) (b)
Gambar 4a. Sawdust Charcoal 4b. Sawdust Briquette

2.3.1 Bahan Baku


PT. TUJU KUDA HITAM SAKTI menggunakan bahan baku utama dan penolong :

Tabel 1. Bahan Baku dan Penolong


No. Bahan Baku Utama Total Kebutuhan
1. Serbuk gergajian kayu 15.840 ton / tahun
Bahan Penolong Total Kebutuhan
1. Tali bending 1.800 roll / tahun
2. Karton Box 375.000 box / tahun
3. Lakban 3.600 roll / tahun
4. Solar 1.600 liter / bulan
5. Pelumas 4 Kg / bulan
6. Oli 60 liter / bulan
7. Kayu 1.000 m3 / bulan
Sumber : PT. TUJU KUDA HITAM SAKTI, 2017

- Serbuk Gergajian Kayu


Serbuk gergaji berbentuk butiran-butiran halus yang terbuang saat kayu dipotong
dengan gergaji. Jumlah serbuk gergaji yang dihasilkan dari pengrajin-pengrajin kayu
seperti produksi perabotan rumah tangga. Kayu yang digunakan dominan kayu lapis
(triplek). Di dalam kayu lapis tersebut berbagai jenis kayu yang ada di dalamnya. Balai
Penelitian Hasil Hutan (BPHH) pada kilang penggergajian di Sumatera dan Kalimantan
serta Perum Perhutani di Jawa menunjukkan bahwa rendemen rata-rata penggergajian

6|Re n ca n a U s a h a d a n / ata u Ke g i ata n


INDUSTRI ARANG– PT. TUJU KUDA HITAM SAKTI
PerMen LH No. 16 Tahun 2012

adalah 45 persen, sisanya 55 persen berupa limbah. Sebanyak 10 persen dari limbah
penggergajian tersebut merupakan serbuk gergaji. Diperkirakan jumlah limbah serbuk
kayu gergajian di Indonesia sebanyak 0,78 juta m3/tahun. Untuk industri besar dan
terpadu, limbah serbuk kayu gergajian sudah dimanfaatkan menjadi bentuk briket arang
dan dijual secara komersial. Limbah serbuk gergaji yang dihasilkan dari industri
penggergajian masih dapat dimanfaatkan untuk media tanam, bahan baku furniture.

Gambar 5. Serbuk gergaji kayu

- Tali Bending
Tali adalah kumpulan lapisan linear, benang atau helai yang bengkok atau dikepang
bersama dalam rangka untuk menggabungkan mereka ke dalam bentuk yang lebih besar
dan lebih kuat. Tali memiliki kekuatan tarik sehingga dapat digunakan untuk menyeret
dan mengangkat. Tali digunakan sebagai pengikat pada saat proses pengemasan.

Gambar 6. Tali Bending

- Karton Box
Adalah karton yang mudah dibentuk, dilipat tanpa merusak isi benda yang diletakan
didalamnya. Biasanya jika kita melihat irisan melintang karton box, akan ditemukan
sebuah lapisan bergelombang. Tujuannya adalah untuk memberikan kekuatan karton
agar tidak mudah rusak.

7|Re n ca n a U s a h a d a n / ata u Ke g i ata n


INDUSTRI ARANG– PT. TUJU KUDA HITAM SAKTI
PerMen LH No. 16 Tahun 2012

Gambar 7. Karton Box

- Lakban
Adalah salah satu alat perekat yang berbahan dasar karet yang biasa di gunakan hampir
semua perusahaan. Lakban banyak kategorinya diantaranya adalah lakban coklat dan
putih. Lakban berfungsi sebagai perekat pada karton box (pengemasan).

Gambar 8. Lakban

2.3.2 Alat Produksi


Jenis peralatan yang digunakan Industri Arang – PT. Tuju Kuda Hitam Sakti, antara lain :

Tabel 2. Peralatan Produksi


No Jumlah Energi
Jenis Alat Ilustrasi
. (unit) Penggerak

1. Mesin Hopper 2 Listrik

2. Rotary Screen 2 Listrik

8|Re n ca n a U s a h a d a n / ata u Ke g i ata n


INDUSTRI ARANG– PT. TUJU KUDA HITAM SAKTI
PerMen LH No. 16 Tahun 2012

3. Feeding Conveyor 2 Listrik

4. Dryer 2 Kayu

5. Cyclone 2 Listrik

6. Extruder / Firming 28 Listrik

7. Carbonizing Oven 400 Listrik

Sumber : PT. TUJU KUDA HITAM SAKTI, 2017

9|Re n ca n a U s a h a d a n / ata u Ke g i ata n


INDUSTRI ARANG– PT. TUJU KUDA HITAM SAKTI
PerMen LH No. 16 Tahun 2012

2.3.3 Penggunaan Lahan


Rencana pembangunan INDUSTRI ARANG - PT. TUJU KUDA HITAM SAKTI
berada pada lahan seluas 40.000 m2 / 4 Ha. Pembagian penggunaan lahan berdasarkan
fungsi kegiatan pada rencana kegiatan didetailkan pada Tabel 3 dan Layout mengenai
rencana kegiatan dapat dilihat pada Gambar 9.

Tabel 3. Penggunaan Lahan


Ukuran Luas
Fungsi Lahan
(m x m) (m2)
Pos Satpam 3x3 9
Kantor 5 x 10 50
Musholla 5x5 25
Kubikel dan Ruang Genset 8x3 24
Gudang Serbuk 17 x 46 782
Gudang Produksi 50 x 18 900
Area Tertutup Gudang Box 30,5 x 18 549
Gudang Barang Jadi 30,5 x 18 549
Carbonizing Oven 50 x 146 7.300
TPS Limbah B3 3x4 12
Ruang Makan 3x6 18
Kamar Mandi 3x4 12
Total Luas Area Tertutup 10.230
Area Parkir Kendaraan R4 10 x 7 70
Area Parkir Kendaraan R2 - 275
Akses Jalan - 22.130
Area Terbuka (96 x 10) +
Area Bongkar Muat 1.570
(61 x 10)
RTH - 5.725
Total luas Area Terbuka 29.770
Total Luas lahan (Area tertutup + Area Terbuka) 40.000
Sumber : PT. TUJU KUDA HITAM SAKTI, 2017

Tabel 4. Analisa Ketentuan Pembangunan Rencana Kegiatan


KDB
KDB =

KDB = (10.230 m2 / 40.000 m2) x 100%


KDB = 25,6%
Ruang
Terbuka R. Terbuka =

R. Terbuka = (29.770 m2 /40.000 m2) x 100%


R. Terbuka = 74,4%
RTH RTH =

RTH = (5.725 m2 / 40.000 m2) x 100%


RTH = 14,3%
Sumber : PT. TUJU KUDA HITAM SAKTI, 2017

10 | R e n c a n a U s a h a d a n / a t a u K e g i a t a n
INDUSTRI ARANG– PT. TUJU KUDA HITAM SAKTI
PerMen LH No. 16 Tahun 2012

Gambar 9. Layout

11 | R e n c a n a U s a h a d a n / a t a u K e g i a t a n
INDUSTRI ARANG– PT. TUJU KUDA HITAM SAKTI
PerMen LH No. 16 Tahun 2012

2.3.4 Penggunaan Sumber Daya


Dalam melaksanakan kegiatannya, INDUSTRI ARANG– PT. TUJU KUDA HITAM
SAKTI memanfaatkan sumber daya yang meliputi sumber daya manusia, sumber
daya energi dan sumber daya air bersih yang dijelaskan sebagai berikut :

a) Sumber Daya Manusia


Sumber daya manusia pada kegiatan ini dibedakan menjadi 2 tahap, yakni tahap
konstruksi dan tahap operasioal dengan rincian jenis pekerjaan dan jumlah pekerja
pada Tabel 5. Perekrutan tenaga kerja mengutamakan warga sekitar lokasi kegiatan.

Tabel 5. Jenis Pekerjaan dan Jumlah Pekerja


Jumlah Pekerja
Jenis Pekerjaan
Laki - Laki Perempuan
Tahap Konstruksi
Pengawas Pekerjaan 2 orang -
Tukang Kayu 6 orang -
Tukang Batu 12 orang -
Tukang Cat 6 orang -
Tukang Besi dan Pondasi 14 orang -
Tukang Listrik 10 orang -
Total Pekerja Tahap
50 orang -
Konstruksi
Tahap Operasional
Administrasi Kantor 8 orang 4 orang
Gudang (Bahan dan Produk
18 orang 4 orang
Jadi)
Bagian Produksi 54 orang -
Bagian Quality 25 orang 2 orang
Bagian Packing 27 orang 4 orang
Petugas Keamanan 2 orang 2 orang
Total Pekerja Tahap
134 orang 16 orang
Operasional
Sumber : PT. TUJU KUDA HITAM SAKTI, 2017

Jam Kerja adalah waktu untuk melakukan pekerjaan, direncanakan dilaksanakan di


siang harii. Jam Kerja telah diatur dalam Undang-Undang No.13 tahun 2003 tentang
Ketenagakerjaan, khususnya pasal 77 sampai dengan pasal 85. Pada Pasal 77 ayat 1,
UU No.13/2003 mewajibkan setiap pengusaha untuk melaksanakan ketentuan jam
kerja. PT. TUJU KUDA HITAM SAKTI telah menentukan jam kerja : 8 jam kerja
dalam 1 hari atau 40 jam kerja dalam 1 minggu untuk 5 hari kerja dalam 1 minggu.

b) Sumber Daya Energi


Kebutuhan tenaga listrik harus disesuaikan dengan keadaan kegiatan itu sendiri, yang
paling penting adalah kontinuitas dan keandalan yang tinggi dalam pelayanannya.
Mengingat bahwa tenaga listrik sangat penting, maka sumber tenaga listrik ini harus
dijaga dari adanya berbagai macam gangguan. Tenaga listrik yang digunakan :
 Tahap Konstruksi

12 | R e n c a n a U s a h a d a n / a t a u K e g i a t a n
INDUSTRI ARANG– PT. TUJU KUDA HITAM SAKTI
PerMen LH No. 16 Tahun 2012

Kebutuhan energi pada tahap konstruksi (untuk peralatan proyek) dipenuhi dengan
Genset Silent Type kapasitas 250.000 Watt (disediakan oleh kontraktor).
 Tahap Operasional
Kebutuhan energi direncanakan :
- Dipenuhi secara tetap oleh PLN dengan kapasitas : 345 kVA.
- Genset 500 kVa 1 unit ; Produk JERBINDO® dilengkapi dengan regulator Voltase
hingga 0,5% deviasi ; JERBINDO® Open Type dengan pemasangan yang dirancang
untuk mengurangi getaran hingga minimum ; Diproduksi dengan menggunakan bahan
berkualitas tinggi, sound proof internal silencing system memastikan tingkat
kebisingan terendah ; Sistem otomasi maju memungkinkan kontrol Genset yang
efektif melalui perangkat PC atau Mac Computers, Android dan iOS.

Gambar 10. Genset JERBINDO

c) Sumber Daya Air Bersih


Air bersih diperlukan pada tahap konstruksi dan pada tahap operasional. Kebutuhan
air pada tahap konstruksi meliputi MCK pekerja konstruksi serta kebutuhan
konstruksi. Sumber air bersih pada tahap konstruksi direncanakan berasal dari
perusahaan supplier air bersih. Pada tahap operasional, sumber air bersih juga
direncanakan menggunakan supplier air tangki.
Rincian kebutuhan air bersih pada tahap konstruksi dan operasional kegiatan
INDUSTRI ARANG– PT. TUJU KUDA HITAM SAKTI dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Analisa Kebutuhan Air


Kebutuh
Tahapan
Penggunan Asumsi Perhitungan an air
Kegiatan
(m3/hari)
MCK Pekerja 50 L/orang/hari x 2,5
50 L/orang/hari(1)
Konstruksi 50 orang m3/hari
Konstruksi
0,1
Kebutuhan Konstruksi 100 L/hari -
m3/hari
2,6
Total Kebutuhan Air Bersih Tahap Konstruksi
m3/hari
50 L/orang/hari x 7,5
MCK Karyawan 50 L/orang/hari(1)
150 orang m3/hari
Operasional
Penyiraman Lahan 10 L/20 m2 10L/20m2 x 5.725 0,3
(RTH) lahan/hari (2) m2 m3/hari
7,8
Total Kebutuhan Air Bersih Tahap Operasional
m3/hari

13 | R e n c a n a U s a h a d a n / a t a u K e g i a t a n
INDUSTRI ARANG– PT. TUJU KUDA HITAM SAKTI
PerMen LH No. 16 Tahun 2012

Sumber : Analisis Konsultan, 2017

Analisa perkiraan kebutuhan air bersih didasarkan pada beberapa asumsi :


(1)
SNI 03-7065-2005 tentang Tata Cara Perencanaan Sistem Plumbing
(2)
Handayani, Dwi (2010) tentang Kajian Pustaka Potensi Pemanfaatan Grey Water
Sebagai Air Siram WC dan Air Siram Tanaman di Rumah Tangga.
- Luas lahan terbuka / RTH (penyiraman) = 5.725 m2

2.3.5 Rencana Pengelolaan Limbah Cair


Limbah cair yang dihasilkan bersumber dari aktivitas domestik dan non domestik. Pada
umumnya, kuantitas air limbah yang dihasilkan dari suatu kegiatan adalah 60-80% dari
total kebutuhan air bersih pada kegiatan tersebut (Duncan, 2003), sehingga perkiraan
mengenai kuantitas air limbah yang dihasilkan INDUSTRI ARANG – PT. TUJU
KUDA HITAM SAKTI ini adalah sebagai berikut (Tabel 7).

Tabel 7. Analisa Air Limbah


Tahapan Kebutuhan air
Penggunan Air Limbah (m3/hari)
Kegiatan (m3/hari)
MCK Pekerja
2,5 m3/hari 80% x 2,5 m3/hari = 2 m3/hari
Konstruksi
Konstruksi
Kebutuhan
0,1 m3/hari Habis terpakai
Konstruksi
MCK
7,5 m3/hari 80% x 7,5 m3/hari = 6 m3/hari
Karyawan
Operasional
Penyiraman
0,3 m3/hari Habis terpakai
Lahan (RTH)
Sumber : Analisis Konsultan, 2017

Rencana pengolahan air limbah pada kegitatan INDUSTRI ARANG– PT. TUJU
KUDA HITAM SAKTI baik pada tahap konstruksi maupun tahap operasional
dijelaskan menggunakan diagram alir seperti pada Gambar 10 dan Gambar 15.

MCK Pekerja : Limbah : 2 Septic Tank


2,5 m3/hari m3/hari Portable
Air Tangki : 2,6
m3/hari
Kebutuhan Konstruksi : Habis
0,1 m3/hari Terpakai

Gambar 11. Neraca Air Bersih dan Air Limbah Tahap Konstruksi

Untuk efisiensi, maka pada tahap konstruksi disediakan toilet portable lengkap dengan
instalasi pengelolaan air limbah. Penyediaan ini dengan kerjasama pihak ke-3.
Direncanakan terdapat 1 toilet dengan ukuran panjang 1,2m x lebar 1,5m x tinggi 2,4m.

14 | R e n c a n a U s a h a d a n / a t a u K e g i a t a n
INDUSTRI ARANG– PT. TUJU KUDA HITAM SAKTI
Air limbah 6
m3/hari
PerMen LH No. 16 Tahun 2012

Gambar 12. Toilet Portable

Air limbah domestik (MCK Karyawan) pada tahap operasional terdiri atas :
1. Black Water, yaitu Tinja (faeces) yang mengandung mikroba pathogen.
2. Grey Water, yaitu Air seni (urine) yang pada umumnya mengandung Nitrogen dan
Posfor, air bekas cucian dapur, mesin cuci dan air sabun (sisa bilas).
Prosentase air limbah untuk Black Water adalah 20% & Grey Water adalah 80% (Tilley
et al, 2008).

MCK
Air Tangki : Black Water Septic Tank
Karyawan 7,5
7,8 m3/hari 1,2 m3/hari & Resapan
m3/hari

Grey Water
4,8 m3/hari Pemantauan
di Sumur
Pantau
Saluran
Bak Unit
drainase
Kontrol Biofilter
kabupaten

Pemantauan
kualitas effluent

Penyiraman
Habis
lahan 0,3
terpakai
m3/hari

Gambar 13. Neraca Air Bersih dan Air Limbah Tahap Operasional

Sistem pengolahan Black Water direncanakan dengan Septic Tank. Septic Tank adalah
salah satu cara pengolahan air limbah domestik yang menggunakan proses pengolahan
secara anaerobik. Terdiri dari 2 bagian, yaitu bak tampung dan resapan air. Bak
tampung harus dibuat agar kedap air yang gunanya untuk menampung limbah kasar
dari toilet/wc. Limbah kasar tersebut akan terkumpul dan bercampur air siraman yang
kemudian akan dimakan bakteri pembusuk. Ketika wc disiram air, limpahan air
permukaan bak tampung akan mengalir melalui saluran pipa PVC ke ruang resapan

15 | R e n c a n a U s a h a d a n / a t a u K e g i a t a n
INDUSTRI ARANG– PT. TUJU KUDA HITAM SAKTI
PerMen LH No. 16 Tahun 2012

yang dibuat dengan lapisan batu, krikil dan ijuk. Air dari bak tampung akan terfilter
oleh lapisan tersebut dan akan meresap ke dalam tanah tanpa membawa limbah kasar.

Gambar 14. Ilustrasi Septic Tank

Grey water adalah salah satu pencemar yang paling banyak masuk ke badan air.
Meskipun kandungan organik pencemar pada grey water tidak begitu tinggi, namun
apabila masuk ke badan air dan terakumulasi dapat menyebabkan penurunan kualitas
air permukaan yang cukup berarti. Rencana pengolahan limbah Grey Water adalah
dengan system Biofilter Anaerob. Proses pengolahan air limbah dengan proses biofilter
anaerob dilakukan dengan cara mengalirkan air limbah ke dalam reaktor biologis yang
telah diisi dengan media penyangga untuk pengembangbiakkan mikroorganisme tanpa
aerasi (dilakukan tanpa pemberian udara atau oksigen). Biofiler yang baik adalah
menggunakan prinsip biofiltrasi yang memiliki struktur menyerupai saringan dan
tersusun dari tumpukan media penyangga yang disusun baik secara teratur maupun
acak di dalam suatu reaktor. Adapun fungsi dari media penyangga yaitu sebagai tempat
tumbuh dan berkembangnya bakteri yang akan melapisi permukaan media membentuk
lapisan massa yang tipis / biofilm (Herlambang dan Marsidi, 2003). Telah cukup
banyak dikembangkan model reaktor untuk sistem pengolahan biofilter anaerob.
Sehingga, penyediaan biofilter anaerob direncanakan bekerjasama dengan pihak ke-3.

Gambar 15. Ilustrasi Reaktor Biofiler Anaerob

16 | R e n c a n a U s a h a d a n / a t a u K e g i a t a n
INDUSTRI ARANG– PT. TUJU KUDA HITAM SAKTI
PerMen LH No. 16 Tahun 2012

2.3.6 Rencana Pengelolaan Limbah Padat / Sampah


Berdasarkan SNI 19-2454 tahun 2002, sampah adalah limbah yang bersifat padat terdiri
dari bahan organik dan bahan anorganik yang dianggap tidak berguna lagi dan harus
dikelola agar tidak membahayakan lingkungan dan melindungi investasi pembangunan.
Limbah padat / sampah domestik adalah limbah yang dihasilkan oleh aktivitas manusia,
sedangkan non-domestik merupakan sampah dari suatu proses / kegiatan produksi yang
dilakukan. Besaran timbulan sampah domestik yang dihasilkan, diperkirakan berdasar
SNI Nomor 3242 Tahun 2008 adalah 2 L/orang.hari.

Tabel 8. Analisa Limbah Padat


Tahapan Limbah yang Jumlah Tempat
Asumsi Analisa
Kegiatan dihasilkan Sampah
Sampah dari 3 unit tempat
50 orang x 2
pekerja ± 100 L/hari sampah
L/orang.hari
Konstruksi konstruksi kapasitas @40 L
Material sisa
- ± 4 m3/hari -
konstruksi
Sampah dari 10 unit tempat
150 orang x 2
aktivitas ± 300 L/hari sampah
Operasional L/orang.hari
karyawan kapasitas @40 L
Sampah taman - ± 20 L/hari
Sumber : Analisis Konsultan, 2017

ORGANIK Tempat Sampah


Kordinasi
SAMPAH DOMESTIK
dengan Desa
ANORGANIK Tempat Sampah
TAHAP KONSTRUKSI Pengangkutan
(2 hari sekali)
Kordinasi dengan
SAMPAH NON-DOMESTIK TPS -- TPA
Pihak ke-3
Gambar 16. Bagan Alir Pengolahan Limbah Padat Tahap Konstruksi & Operasional

2.3.7 Analisa dan Rencana Pengelolaan Limbah B3


Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2014 Pasal 1 Ayat 11, yaitu
Pengelolaan Limbah B3 adalah kegiatan yang meliputi pengurangan, penyimpanan,
pengumpulan, pengangkutan,
Operasional Industri pemanfaatan, pengolahan dan/atau penimbunan, serta
Pasal 74 ayat 1 yaitu Dalam hal Setiap Orang yang menghasilkan Limbah B3 tidak
mampu melakukan sendiri Pemanfaatan Limbah B3 yang dihasilkannya, maka
Pemanfaatan Limbah B3 diserahkan kepada Pemanfaat Limbah B3. Sehingga hanya
Maintenance
diperlukan Tempat Penyimpahan Limbah B3. Limbah B3 yang dihasilkan dari aktivitas
Mesin, Alat, dll
Industri antara lain :
- B3 oli mesin (+ 0,5 liter/hari)
- Kemasan B3 (+ 0,5 liter/hari)
- APD dan Oli kain majun (+ 1 Kg/hari) Limbah B3
bekas,
Kemasan B3, (Bahan
APD dan Berbahaya dan
Kain majun Beracun)

17 | R e n c a n a U s a h a d a n / a t a u K e g i a t a n
INDUSTRI ARANG– PT. TUJU KUDA HITAM SAKTI
TPS Limbah Transporter Pengolah
B3 Limbah B3 Limbah B3
PerMen LH No. 16 Tahun 2012

Gambar 17. Diagram Alir Analisis & Pengelolaan Limbah B3

2.3.8 Analisa Area Parkir


Area parkir yang disediakan adalah seluas 1.915 m2 dengan alokasi pembagian untuk
area parkir kendaraan sebagai berikut :
- 275 m2 untuk kendaraan R2
- 70 m2 untuk kendaraan R4
- 1.570 m2 untuk Truk (pada area bongkar muat)
Dengan berdasar Keputusan Direktur Jendral Perhubungan Darat Nomor
272/HK.105/DRJD/96 Tentang Pedoman Teknis Penyelenggaraan Fasilitas Parkir,
ditentukan satuan ruang parkir / SRP (yang diartikan sebagai ukuran luas efektif untuk
meletakkan kendaraan seperti mobil penumpang, bus/truk, atau sepeda motor termasuk
ruang bebas dan lebar buka pintu) sebagai berikut :
-
1 SRP kendaraan R2 : 1,5 m2
-
1 SRP kendaraan R4 : 12,5 m2
-
1 SRP kendaraan Truk : 42,5 m2
Hasil analisa menunjukkan bahwa area parkir yang disediakan mampu menampung :
+ 150 kendaraan R2  dengan pola parkir pulau membentuk sudut 90º
+ 4 kendaraan R4  dengan pola parkir 1 sisi membentuk sudut 60º
+ 30 kendaraan Truk  dengan pola parkir 1 sisi membentuk sudut 60º
termasuk didalamnya ruang bebas, lebar bukaan pintu serta ruang manuver kendaraan.

Gambar 18. Pola Parkir Pulau Sudut 90º dan 1 Sisi Membentuk Sudut 60º
2.3.9 Rencana Sistem Proteksi Terhadap Potensi Kebakaran
Salah satu bahaya yang dapat terjadi di tempat kerja adalah terjadinya kebakaran.
Menurut Tarwaka (2012), bahaya kebakaran dapat terjadi setiap saat, kapan saja dan
dimana saja, karena terdapat banyak peluang yang dapat memicu terjadinya kebakaran.
Dengan terbitnya Keputusan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia Nomor 186
Tahun 1999 tentang Unit Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja dan Peraturan
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 4 Tahun 1980 tentang Syarat-

18 | R e n c a n a U s a h a d a n / a t a u K e g i a t a n
INDUSTRI ARANG– PT. TUJU KUDA HITAM SAKTI
PerMen LH No. 16 Tahun 2012

Syarat Pemasangan dan Pemeliharaan Alat Pemadam Api Ringan yang membuktikan
bahwa masalah kebakaran adalah masalah yang serius untuk ditanggulangi, terutama
untuk pengamanan tenaga kerja, gedung dan lingkungan sekitar terhadap bahaya
kebakaran.
Upaya pengelolaan bahaya kebakaran, antara lain :
 Hydrant Halaman / Pillar Hydrant adalah suatu sistem pencegah kebakaran yang
membutuhkan pasokan air dan dipasang di luar bangunan. Perencanaan sistem instalasi
akan dilakukan bekerjasama dengan pihak penyedia (pihak ke-3).
 Perencanaan kebutuhan Tabung Alat Pemadam Api Ringan (APAR) yang akan
diaplikasikan pada Industri Arang, mengacu pada National Fire Protection
Association (NFPA), NFPA 10 : Standard for Portable Fire Extinguishers, 2013
Edition. Pertimbangan dalam melakukan analisa :
- Industri Arang termasuk dalam Kebakaran Kelas A dan Kelas C, yaitu Kebakaran
dari bahan-bahan padat yang mudah terbakar seperti kayu, kertas, plastik, kain
serta kebakaran yang disebabkan arus listrik pada peralatan seperti permesinan,
panel listrik dan lain-lain.
- Estimasi jumlah APAR dan penyebaran berdasarkan seperti berikut :

Sumber : National Fire Protection Association (NFPA), NFPA 10 : Standard for Portable
Fire Extinguishers, 2013 Edition

Kebutuhan APAR pada setiap area (berdasarkan fungsi lahan) dianalisa berdasarkan
maximum luas area yang dapat diproteksi APAR yaitu 11250 ft 2 atau 1045 m2 ;
kebutuhan masing – masing area lebih detail pada Tabel 9 :
Tabel 9. Jumlah APAR
Fungsi Lahan Luas (m2) APAR (unit)
Pos Satpam 9 1
Kantor 50
1
Musholla 25
Kubikel dan Ruang Genset 24 1
Gudang Serbuk 782 1
Gudang Produksi 900 1
Gudang Box 549 1
Gudang Barang Jadi 549 1

19 | R e n c a n a U s a h a d a n / a t a u K e g i a t a n
INDUSTRI ARANG– PT. TUJU KUDA HITAM SAKTI
PerMen LH No. 16 Tahun 2012

Carbonizing Oven 7.300 7


TPS Limbah B3 12 1
Total APAR 15
Sumber : Analisis Konsultan, 2017

2.4 Garis Besar Komponen Rencana Usaha dan / atau Kegiatan


2.4.1 Kesesuaian Lokasi Rencana Kegiatan Dengan Tata Ruang
Lokasi rencana kegiatan pembangunan INDUSTRI ARANG – PT. TUJU KUDA
HITAM SAKTI di Jl. Raya Lamongan - Gresik, Desa Pandanpancur, Kecamatan Deket
Kabupaten Lamongan ini berdasarkan Perda Kabupaten Lamongan No. 15 Tahun 2011
Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Lamongan Tahun 2011 –
2031, masuk kedalam Wilayah Pengembangan (WP) I - Lamongan (Gambar 19).
Rencana kegiatan pembangunan dikatakan sesuai dengan peruntukan lahan karena telah
memiliki Izin Pemanfaatan Ruang Nomor : 650/3070/413.111/2017 dari Bupati
Lamongan, dengan pertimbangan sebagai berikut :
- Bahwa Pemerintah Kabupaten Lamongan menyambut baik terhadap semua
rencana investasi yang bermanfaat bagi masyarakat Kabupaten Lamongan.
- Rencana pembangunan INDUSTRI ARANG oleh PT. TUJU KUDA HITAM
SAKTI di Jl. Raya Lamongan - Gresik, Desa Pandanpancur, Kecamatan Deket
yang memanfaatkan tanah atau lahan dengan luas + 40.000 m2 (4 Ha),
berdasarkan arahan dokumen Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Perkotaan
Deket Tahun 2009 – 2029 berada diluar kawasan Ibu Kota Kecamatan Deket
(belum ada arahan spesifik peruntukan lahannya)
- Rencana pembangunan industri ini akan membuka kesempatan kerja sekaligus
peluang penciptaan lapangan kerja baru bagi masyarakat di wilayah Kecamatan
Deket dan sekitarnya yang pada akhirnya akan berdampak pada peningkatan
perekonomian di wilayah tersebut dan peningkatan penerimaan daerah.

2.4.2 Penjelasan Mengenai Persetujuan Prinsip


Kegiatan ini secara prinsip dapat dilaksanakan karena telah mendapatkan Surat Bupati
Lamongan Nomor : 650/3070/413.111/2017 tentang Persetujuan Pemanfaatan
Ruang Pembangunan INDUSTRI ARANG di Jl. Raya Lamongan - Gresik, Desa
Pandanpancur, Kecamatan Deket Kabupaten Lamongan oleh PT. TUJU KUDA HITAM
SAKTI tanggal 3 November 2017 (surat terlampir).
Gambar 19 - rtrw

20 | R e n c a n a U s a h a d a n / a t a u K e g i a t a n
INDUSTRI ARANG– PT. TUJU KUDA HITAM SAKTI
PerMen LH No. 16 Tahun 2012

2.4.3 Komponen Rencana Kegiatan yang Menimbulkan Dampak


Komponen rencana kegiatan yang menimbulkan dampak diperkirakan bersumber dari 3
tahapan kegiatan, yakni tahap prakonstruksi, tahap konstruksi dan tahap operasional.

I. Tahap Konstruksi
Merupakan suatu tahapan kegiatan sebelum kegiatan pembangunan dilaksanakan. Pada
tahap ini kegiatan yang dilakukan meliputi kegiatan survey pendahuluan, pembebasan
lahan dan pengurusan perizinan yang diuraikan sebagai berikut:

a. Survey Pendahuluan
Merupakan tahap awal pada kegiatan pra konstruksi dimana pemrakarsa melakukan
pengamatan dan penilaian terhadap kondisi lahan yang akan direncanakan untuk lokasi
kegiatan. Langkah selanjutnya adalah pengambilan keputusan apakah lokasi yang
dimaksud telah memenuhi kriteria lahan untuk operasional kegiatan perusahaan. Tahap
ini telah terlampaui dan diperoleh data rona lingkungan yang dapat menggambarkan
lokasi rencana kegiatan, secara sederhana ditabulasikan pada Tabel 10 dibawah ini :

Tabel 10. Data Rona Lingkungan Hidup

21 | R e n c a n a U s a h a d a n / a t a u K e g i a t a n
INDUSTRI ARANG– PT. TUJU KUDA HITAM SAKTI
PerMen LH No. 16 Tahun 2012

Rona Lingkungan Hidup Deskripsi


Komponen lingkungan
Komponen geo-fisik kimia  Geologi : Wilayah lokasi kegiatan di Jl. Raya
Lamongan-Gresik, Desa Pandanpancur, Kecamatan
Deket dilalui jalan utama yang menghubungkan
wilayah perbatasan timur, tengah, dan barat antar
Kabupaten Lamongan dengan daerah lain yang terletak
di timur kabupaten Lamongan, sehingga boleh dibilang
merupakan pintu gerbang timur Kabupaten Lamongan.
Jika dilihat dari tingkat kemiringan tanahnya, wilayah
kegiatan merupakan wilayah yang relatif datar atau
dengan tingkat kemiringan 0-2%

 Air permukaan : Di lokasi kegiatan (Desa


Pandanpancur) terdapat Kali Bucu jarak ± 3km sebelah
utara & Kali Kaputren jarak ± 3,2km sebelah barat dari
lokasi kegiatan.

 Air bawah tanah : Air bawah tanah bebas ini pada


umumnya dimanfaatkan oleh penduduk dengan cara
membuat sumur gali. Akuifer pada umumnya terdapat
pada kedalaman 30 – 90m.

 Udara : Lokasi kegiatan merupakan daerah yang


wilayahnya sebagai perlintasan transportasi, dengan
sumber pencemaran adalah kegiatan transportasi
kendaraan bermotor.
Komponen biologi  Vegetasi / Flora : didominasi oleh kelompok rumput-
rumputan (Cyperus sp.), bambu (Bambusa sp.),
glodokan pecut, pohon pisang (Mussa sp.), jati
(Tectona grandis), dll yang bukan merupakan spesies
tumbuhan yang dilindungi.

 Fauna : didominasi oleh kelompok hewan tanah,


serangga dan spesies burung yang seluruhnya tidak
masuk dalam kategori fauna yang dilindungi

 Keberadaan spesies langka/endemik : tidak terdapat


spesies langka / endemik pada lokasi rencana kegiatan
di Jl. Raya Lamongan-Gresik, Desa Pandanpancur,
Kecamatan Deket, Kabupaten Lamongan

Usaha dan/atau kegiatan disekitar Eksisting rencana lokasi tersebut adalah lahan pertanian dan
lokasi rencana kegiatan berdasarkan arahan Dokumen Rencana Detail Tata Ruang
(RDTR) Perkotaan Deket tahun 2009 – 2029 berada diluar
kawasan Ibu Kota Kecamatan Deket (belum ada arahan
spesifik peruntukan lahannya).

22 | R e n c a n a U s a h a d a n / a t a u K e g i a t a n
INDUSTRI ARANG– PT. TUJU KUDA HITAM SAKTI
PerMen LH No. 16 Tahun 2012

Sumber : Analisis Konsultan, 2017

b. Pembebasan Lahan
Kegiatan pembebasan lahan dalam hal ini suatu upaya pengambil alihan hak atas lahan
yang akan dikuasai yang nantinya akan dibangun sebagai tempat berlangsungnya
kegiatan usaha. Dalam hal ini kegiatan pembebasan lahan dilakukan pada lahan seluas
40.000 m2 yang berlokasi di Jl. Raya Lamongan-Gresik, Desa Pandanpancur,
Kecamatan Deket, Kabupaten Lamongan. Proyek pembangunan ini memerlukan area
lahan yang cukup luas. Dengan demikian, masalah pembebasan tanah merupakan suatu
permasalahan yang menyangkut banyak kepentingan. Dalam proses pembebasan lahan
terdapat risiko tidak tercapainya kesepakatan harga tanah antara pemrakarsa dengan
pemilik tanah. Risiko tersebut muncul bila lahan pada lokasi yang telah dijadwalkan
sebagai tahapan pembangunan belum dapat dibebaskan yang berarti akan menjadi
hambatan dalam tahapan pembangunan.

c. Perizinan Kegiatan
Merupakan kegiatan pengurusan perizinan sebelum melakukan kegiatan konstruksi.
Perizinan yang harus dilengkapi sebelum konstruksi, meliputi perizinan formal dan
non-formal. Perizinan formal antara lain Izin Pemanfaatan Ruang (IPR), Izin
Lingkungan (UKL-UPL), Izin Mendirikan Bangunan (IMB) serta Izin Operasional
(Izin Gangguan / HO) supaya kegiatan menjadi legal dan memiliki kekuatan hukum
yang sah. Sedangkan perijinan non-formal seperti koordinasi dengan perangkat desa,
aparat, muspika dan masyarakat setempat. Pada kegiatan ini diperkirakan menimbulkan
dampak munculnya persepsi masyarakat.

I. Tahap Konstruksi
Tahap konstruksi adalah kegiatan yang bersifat sementara / waktu terbatas
(diperkirakan memerlukan waktu 2 bulan), tidak berulang, tidak bersifat rutin,
mempunyai waktu awal dan waktu akhir, sumber daya terbatas/tertentu dan
dimaksudkan untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan, dalam hal ini adalah
pembangunan struktur fisik bangunan dan fasilitas penunjang pada INDUSTRI
ARANG - PT. TUJU KUDA HITAM SAKTI. Detail mengenai setiap urutan kerja
diuraikan sebagai berikut :

a. Penyediaan dan Pendayagunaan Tenaga Kerja

23 | R e n c a n a U s a h a d a n / a t a u K e g i a t a n
INDUSTRI ARANG– PT. TUJU KUDA HITAM SAKTI
PerMen LH No. 16 Tahun 2012

Jumlah tenaga kerja yang akan dipekerjakan pada tahap konstruksi ini adalah sebanyak
± 50 orang. Pada tahap kegiatan ini diperkirakan menimbulkan dampak peningkatan
kesempatan kerja, khususnya bagi warga sekitar lokasi kegiatan. Selain itu, pada tahap
ini juga diperkirakan timbul dampak keresahan masyarakat akibat keluar masuk
kendaraan tenaga kerja dari dan menuju lokasi proyek.

b. Penyediaan Material, Peralatan, Sarana dan Prasarana


Pekerjaan ini meliputi :
 Penyediaan air bersih domestik dan non domestik (kerja)
Air untuk bekerja disediakan dengan menyediakan tangki penyimpanan / tandon
air ditapak proyek. Air bersih didapatkan dari perusahaan penyedia / supplier air
bersih tangki, dikarenakan akses pipa PDAM belum sampai pada lokasi
kegiatan. Pada tahap konstruksi, selain digunakan untuk kegiatan domestik, air
bersih juga digunakan untuk pelaksanaan pekerjaan. Menurut (PUBI 1970/N1-
3), untuk pelaksanaan pekerjaan, dipakai air yang tidak mengandung minyak,
asam, alkali, garam, bahan-bahan organik atau bahan-bahan lain yang dapat
merusak bangunan.
 Penyediaan daya listrik
Listrik untuk bekerja akan disediakan dan diperoleh dari sambungan sementara
PLN setempat selama masa pelaksanaan pembangunan dengan daya minimal
300 watt. Selain itu, juga disediakan Genset Diesel untuk backup dengan
kapasitas 250.000 Watt yang disediakan oleh kontraktor.

 Pembuatan gudang dan direksi keet


Gudang dan direksi keet di lapangan dibuat di area proyek yang letaknya
ditentukan oleh Direksi Pekerjaan. Bahan-bahan utama atau bahan-bahan
tambahan yang seharusnya mendapat perlindungan, harus disimpan di dalam
gudang yang cukup menjamin perlindungan terhadap bahan-bahan tersebut.
 Pemasangan bowplank
Papan patok ukur (bowplank) dipasang pada patok kayu yang kuat, sehingga
tidak bisa digerak-gerakkan. Papan patok ukur dibuat dari kayu kelas-III,
dengan ukuran tebal 2,5 cm, lebar 20 cm, lurus pada sisi sebelah atasnya.
 Bahan yang digunakan antara lain :
- Material struktur baja mempunyai profil yang berbeda sesuai
pemanfaatanya sebagai kolom, kuda-kuda, rangka balok, dan gording.
Adapun Profil baja yang digunakan adalah sebagai berikut :
IWF(300.150.6,5.9) sebagai kolom.
IWF (200.100.5,5.8) sebagai kuda-kuda.
IWF (150.75.5,7) sebagai rangka balok
Plat Pengaku Rangka Kuda-Kuda T=8 mm.
Gording Slip Canal “C” (100.50.20.2,3).
Baut penyambung yang digunakan adalah Ø1 inchi ( 25,40 mm).
Elektoda las yang digunakan adalah RD-460.
Angkur
Cat dasar yang digunakan adalah jenis cat dasar Zinc Chromate

24 | R e n c a n a U s a h a d a n / a t a u K e g i a t a n
INDUSTRI ARANG– PT. TUJU KUDA HITAM SAKTI
PerMen LH No. 16 Tahun 2012

- Pasir Pasang, Pasir untuk adukan pasangan, adukan plesteran dan beton
bitumen.
- Agregat Kasar dapat berupa kerikil atau batu pecah yang diperoleh dari
pemecahan batu (Stone Chruser) dengan besar butiran lebih besar dari 5
mm (split).
- Pasir Beton, Pasir untuk pekerjaan beton.
- Portland Cement (PC) yang digunakan harus PC jenis (NI-8) dengan type I.
- Jenis kayu yang digunakan adalah harus sudah cukup tua, dipilih dan mutu
yang terbaik, kering, lurus dan dihindarkan adanya cacat kayu antara lain
yang berupa putih kayu, pecah-pecah, mata kayu, melinting basah dan
lapuk. Untuk kayu balok, kelembaban tidak dibenarkan melebihi 19% dan
kayu papan (kayu yang ketebalannya kurang dari 2,5 cm) disyaratkan
kelembabannya tidak lebih dari 12%.
- Jenis baja besi tulangan harus dihasilkan dari pabrik-pabrik baja yang
dikenal dan bentuk belahan-belahan polos. Mutu baja besi tulangan dipakai
U-24. Kawat pengikat yang digunakan juga terbuat dari besi baja lunak
dengan diameter minimum 1 mm yang telah dipijarkan terlebih dahulu dan
tidak bersepuh seng.
- Beton yang dipakai untuk pekerjaan ini pada umumnya dapat dipakai /
diperkirakan dengan campuran 1 PC : 2 Pasir : 3 Kerikil / Spilit atau
dipakai 1 PC : 3 Pasir: 5 Kerikil / Split perbandingan berat. Kekentalan
adukan beton harus diperiksa dengan pengujian slump dengan sebuah
kerucut terpancung Abram.
- Batu Bata merah didapatkan dari satu Pabrik di wilayah lamongan, satu
ukuran, satu warna atau satu kualitas. Ukuran yang digunakan adalah
Panjang 240 mm, lebar 115 mm dan tebal 52 mm.
 Peralatan yang direncanakan digunakan pada tahap konstruksi, antara lain :
Lift crane 1 unit
Backhoe 1 unit
Concrete mixer 2 unit
Compactor 1 unit
Mesin pemotong besi
Mesin bor Magnet
Mesin Las listrik
Las karbit (Otogen)
Mobile Crane
Tali tambang & Tali baja
Peralatan Las
Kunci momen
Pada tahap Penyediaan Material, Peralatan, Sarana dan Prasarana diperkirakan
menimbulkan dampak terhadap lingkungan terutama dari aktivitas pengangkutan
(mobilisasi & demobilisasi). Material dan peralatan yang digunakan didatangkan
langsung dari dalam Kabupaten Lamongan secara khusus, dan beberapa dari wilayah
diluar Lamongan.
Perkiraan jumlah ritasi sebanyak 4 kali/hari selama kegiatan pemenuhan material
bangunan berlangsung. Sedangkan untuk alat berat yang akan digunakan, dikirim

25 | R e n c a n a U s a h a d a n / a t a u K e g i a t a n
INDUSTRI ARANG– PT. TUJU KUDA HITAM SAKTI
PerMen LH No. 16 Tahun 2012

sesuai jadwal dan kebutuhan proyek. Pada tahap awal, alat Backhoe & compactor
didatangkan terlebih dahulu untuk proses pembersihan lahan. Teknis pengangkutan
dilakukan pada malam hari, di luar jam sibuk.

c. Penyiapan lahan dan Pengurugan lahan


Pada tahap ini, dilakukan persiapan lokasi pembangunan INDUSTRI ARANG agar
mencapai elevasi yang telah direncanakan dalam gambar rencana. Pekerjaan tanah
meliputi :
 Pekerjaan pembersihan & galian tanah
Tipe tanah dilokasi kegiatan adalah tanah keras / cadas (merupakan tanah
berbatu). Pada saat melakukan proses penggalian, diberi penguat dan dibuat
agak miring agar tidak terjadi longsor.
 Pekerjaan pengurugan tanah
Proses pengurugan dilakukan untuk menutup dan pemerataan permukaan lahan
sebelum dibangun pondasi. Kegiatan yang dilakukan antara lain pemerataan
lahan seluas 40.000 m2 dengan tebal urukan + 50 cm (diperkirakan volume
urukan sebanyak 20.000 m3) dan pemadatan tanah kembali menggunakan
stamper / compactor.
Perubahan penggunaan lahan menyebabkan adanya perubahan kondisi debit banjir,
dimana pada area yang mengalami alih fungsi lahan, air hujan yang jatuh akan lebih
berpotensi untuk menjadi aliran permukaan daripada terserap oleh permukaan tanah.
Pada rencana pembangunan, terjadi alih fungsi lahan dari lahan kosong yang banyak
ditumbuhi oleh tanaman (area terbuka) menjadi area Industri Arang (tertutup
bangunan), sehingga menimbulkan dampak peningkatan potensi banjir di wilayah
tersebut. Oleh karena itu direncanakan pembuatan saluran pembuangan air yang baik
dan bebas dari genangan air, serta penggunaan pompa untuk membantu proses
pembuangan air.
Lokasi rencana kegiatan berada di tepi jalan nasional (Jalan Raya Lamongan Gresik)
yang pada eksisting kegiatan belum terdapat saluran drainase perkotaan, sehingga PT.
TUJU KUDA HITAM SAKTI memiliki kewajiban untuk membuat saluran drainase
sepanjang lokasi kegiatan yang berbatasan langsung dengan jalan nasional. Terkait
desain dan dimensi saluran drainase perkotaan akan dikoordinasikan lebih lanjut
dengan instansi yang membidangi.
Sedangkan untuk pengelolaan air hujan di dalam lokasi kegiatan, karena saluran
drainase perkotaan belum dapat dimanfaatkan secara optimal (masih berupa saluran
drainase buntu dikedua ujungnya) sehingga pihak pemrakarsa akan membuat peresapan
air hujan dengan desain 1 talang bangunan dan 1 sumur resapan pada tiap kolom
bangunan. hal tersebut dimaksudkan agar air hujan yang turun tidak melimpas keluar
lokasi kegiatan. Selain itu, direncanakan juga penempatan sementara tanah galian yang
masih diperlukan untuk pengurugan kembali. Tanah / bahan galian yang tidak dapat
digunakan kembali sebagai urugan, akan dikeluarkan dari lokasi proyek dengan dump
truk kapasitas ± 4m3/hari. Tanah / bahan yang tidak digunakan direncanakan
dikeluarkan dari lokasi proyek untuk digunakan kembali di lokasi lain. Dalam hal ini,

26 | R e n c a n a U s a h a d a n / a t a u K e g i a t a n
INDUSTRI ARANG– PT. TUJU KUDA HITAM SAKTI
PerMen LH No. 16 Tahun 2012

pemrakarsa akan bekerja sama dengan pihak ke-3 sebagai pemanfaatan tanah galian.
Tanah galian tidak dibuang di TPA ataupun TPS.

d. Tahap Pelaksanaan (Pekerjaan konstruksi)


Pembangunan Industri Arang terbuat dari gabungan bahan baja dan beton. Fungsi dari
bahan profil baja kuat untuk menahan gaya tarik dan tekan sedangkan bahan beton kuat
untuk menahan gaya tekan. Data teknis rencana pembangunan :
 Struktur Bangunan : Beton dan Baja.
 Struktur Bawah : Pondasi Telapak
Aktivitas pekerjaan konstruksi antara lain :
- Pelaksanaan Pondasi Tiang Pancang
Proses pengerjaan tiang pancang dengan cara ditekan menggunakan alat pancang type
Hidraulic Static Pile Driver. Alat pancang Hydraulic Static Pile Driver (HSPD), yang
juga dikenal sebagai Alat Pancang Jacking atau Alat Inject merupakan salah satu solusi
terbaik untuk perkerjaan pemancangan, dikarenakan system kerja yang ramah
lingkungan, bersih, tanpa getaran, dan tanpa kebisingan. Selain itu, dengan penggunaan
Alat pancang Hydraulic Static Pile Driver (HSPD), maka juga akan memudahan proses
mobilisasi dan setting (system kaki in-out hidrolis, sehingga mengurangi kesulitan dan
waktu yang diperlukan untuk proses mobilisasi dan setting alat sampai siap untuk
pemancangan).

- Pelaksanaan Struktur Bawah (Pondasi Telapak)


Pondasi Foot Plat ini adalah sejenis pondasi setempat. Pada Pondasi Foot Plat ini tidak
dilakukan penggalian, karena pondasi ini berdiri diatas pondasi tiang pancang. Pondasi
telapak (Foot Plat) direncanakan menggunakan pondasi telapak beton setempat.
Pondasi telapak beton diletakkan pada permukaan pondasi tiang pancang, dengan
kedalaman seperti yang ditunjukan pada gambar rencana. Proses pelaksanaan pondasi
foot plat ini dilakukan secara bersamaan dengan pekerjaan sloop. Pada pondasi
setempat (Foot Plat) menggunakan mutu beton K-350 dan mutu baja tulangan D-16.
Jenis pondasi Foot Plat ini dibagi menjadi beberapa bagian menurut fungsi dan ukuran,
diantaranya adalah :
Pondasi Foot Plat type I sebanyak 12 titik dengan ukuran 80 cm x 80 cm yang
berfungsi sebagai penyangga kolom utama.
Pondasi Foot Plat type II sebanyak 44 titik dengan ukuran 130 cm x 50 cm yang
berfungsi sebagai penyangga kolom biasa.
Pondasi Foot Plat type III sebanyak 4 titik dengan ukuran 130 cm x 119 cm yang
berfungsi sebagai penyangga kolom tumpuan.
Pondasi Foot Plat type IV sebanyak 4 titik dengan ukuran 130 cm x 130 cm yang
berfungsi sebagai penyangga kolom utama.

- Pelaksanaan Struktur Bangungan


Aktivitas pada tahap ini, antara lain Fabrikasi Struktur Baja, Pengecatan, Perakitan,
Erection (Penyetelan & Pemasangan). Namun, pada perncanaan konstruksi Industri
Arang, proses Fabrikasi dan Pengecatan dilakukan di luar lokasi kegiatan (di lokasi
Workshop penyedia struktur baja). Setelah proses fabrikasi dan pengecatan selesai

27 | R e n c a n a U s a h a d a n / a t a u K e g i a t a n
INDUSTRI ARANG– PT. TUJU KUDA HITAM SAKTI
PerMen LH No. 16 Tahun 2012

dilakukan, maka dilakukan Perakitan dan Erection (Penyetelan & Pemasangan) di


lokasi kegiatan.
 Perakitan
Rangka batang yang telah di Pabrikasi sebelumnya, kemudian dilakukan
perakitan terhadap elemen rangkaian struktur portal rangka baja. Rangka batang
terlebih dahulu ditandai dengan penamaan pada batangnya. Pada Kolom
Pedestal Plat Tumpu di letakkan diatas kemudian dilakukan kontrol Horizontal.
Penyetingan/Kontrol Horizontal Pada Plat Tumpu Kolom. Penyetingan
Kelurusan (Lot) Pada Kolom Dengan Waterpass.
 Erection
Dilakukan dengan menggunakan alat bantu Mobile Crane untuk lebih
memudahkan dan mempercepat proses kerja. Sebelum dilakukan Erection
terlebih dahulu disediakan Erection Schedule agar lebih mudah dipahami daerah
mana yang akan dilakukan erection. Erection dilakukan sesuai dengan gambar
kerja. Proses Erection :

 Perencanaan arah erection, penempatan bahan hasil fabrikasi


 Kolom dirangkai di bawah. Pemeriksaan awal terhadap panjang dan
hasil pengelasan.
 Tahap pertama kolom pada bagian atas diikat dengan tali baja yang
ditarik dengan Liyer.
 Selanjutnya kuda-kuda yang telah dirangkai dibawah dan telah dicheck
panjang dan pengelasan segera diangkat dan dipasang.
 Kolom diletakkan pada plat tumpu yang telah dipasang pada kolom
pedestal.
 Pengelasan pertemuan antara kolom dan plat tumpu.
 Untuk membantu kekakuan kolom dipasang plat kopel.
 Untuk membantu kekakuan segera dipasang ikatan angin antara kolom
ke kolom yang lainnya sebagai penyangga kolom agar tidak mengalami
keruntuhan.

- Bangunan Permanen
Setelah semua pondasi dan tiang pancang serta pekerjaan erection telah selesai, maka
pendirian bangunan permanen dapat dilakukan. Bangunan permanen INDUSTRI
ARANG ini antara lain berupa bangunan ruang kontrol (control room), ruang untuk
steam boiler, trafo, dll. Selain itu bangunan permanen juga meliputi kantor, kantin,
musholla. Kantor dalam lingkungan pabrik menempati area yang terpisah secara fisik
dengan pabrik dan dibuat memenuhi standar perkantoran pada umumnya. Hal ini untuk
menjaga agar segala operasional administrasi pabrik dapat berjalan dengan lancar.
Selain itu juga dibangun gudang untuk menyimpan bahan baku dan juga barang jadi
(finish good). Bahan baku cair akan ditampung di area tersendiri (tank farm).

- Pekerjaan Landscaping
Penyediaan RTH berpedoman pada pasal 7 Peraturan Bupati Lamongan Nomor 32
Tahun 2013 tentang Peyediaan Ruang Terbuka Hijau dan Sumber Daya Air di

28 | R e n c a n a U s a h a d a n / a t a u K e g i a t a n
INDUSTRI ARANG– PT. TUJU KUDA HITAM SAKTI
PerMen LH No. 16 Tahun 2012

Kabupaten Lamongan, yakni jumlah pohon yang disediakan dihitung berdasarkan


ketentuan bahwa setiap 200 m2 harus terdapat 1 pohon. Luas lokasi kegiatan adalah
40.000 m2, maka jumlah pohon yang harus ditanam adalah + 200 pohon. Pohon yang
ditanam dapat berupa pohon peneduh dan tanaman hias, yang berfungsi sebagai
penyerap polutan, antara lain (Gambar 20) :
o Tanaman peneduh : pohon bungur, mahoni, trembesi, dll
o Tanaman hias : peace lily, sanseviera, kembang sepatu, dll

Sedangkan untuk area RTH yang tidak ditanami pohon / tanaman hias direncanakan
ditanami rumput.
Selain itu, sebagai upaya mengkonservasi air hujan direncanakan pembuatan sumur
resapan dangkal dengan desain dan ketentuan teknis mengacu pada Lampiran PerMen
LH No. 12 Tahun 2009, sebagai berikut : (Gambar 21).

Gambar 20. Alternatif Tanaman Penyerap Polutan

Gambar 21. Desain Sumur Resapan Dangkal

Keterangan :
- Dibuat dalam bentuk bundar / empat persegi menggunakan batako / bata
merah / bis beton

29 | R e n c a n a U s a h a d a n / a t a u K e g i a t a n
INDUSTRI ARANG– PT. TUJU KUDA HITAM SAKTI
PerMen LH No. 16 Tahun 2012

- Dibuat pada kedalaman diatas muka air tanah atau kedalaman antara 0,5 – 10
m diatas muka air tanah dangkal
- Dilengkapi dengan memasangang ijuk, koral dan pasir sebesar 25%
- Dilengkapi dengan bak kontrol (+ 50 cm dari sumur resapan dangkal)
- Jumlah sumur resapan ditentukan berdasarkan tutupan luas bangunan, dimana
pada setiap tutupan bangunan seluas 50 m 2 diperlukan sumur resapan dengan
volume 1 m3, dan untuk setiap tambahan luas tutupan bangunan 25-50 m2
diperlukan tambahan 1 m3. Sehingga pada lokasi kegiatan diperlukan
penyediaan sumur resapan dangkal sebanyak 204 m3.

e. Pembongkaran base camp tenaga kerja dan direksi keet


Base camp dan direksi keet dibongkar setelah kegiatan konstruksi selesai dilaksanakan
mengingat tidak diperlukannya lagi ruangan penyimpanan ataupun fasilitas istirahat
bagi pekerja.
II. Tahap Operasional
 Aktivitas Bongkar Muat dan Pengiriman Produk Jadi
Adalah suatu proses kegiatan memuat barang (bahan dan produk jadi) ke dalam alat
pengangkutan dari pemuatan ke tempat tujuan dan dan menurunkan barang dari alat
pengangkutan ke tempat yang ditentukan. Aktivitas bongkar muat dilakukan pada 2
tahap, yakni pada saat barang datang (bongkar material dari kendaraan menuju ke
gudang penyimpanan bahan baku) dan pada saat akan dilakukan distribusi produk (dari
gudang produk jadi dimuat kedalam kendaraan pengangkut). Proses bongkar muat
barang dilakukan dengan menggunakan bantuan alat forklift.
Pengiriman Produk Jadi adalah mempersiapkan pengiriman fisik barang dari gudang
ketempat tujuan yang disesuaikan dengan dokumen pemesanan dan pengiriman serta
dalam kondisi yang sesuai dengan persyaratan penanganan barangnya. Sebelum
melakukan pengiriman, aktifitas yang dilakukan setelah barang disiapkan adalah
pengepakan (pack) dan pemilahan (sortasi). Packaging dilakukan secara sendiri-sendiri
atau digabungkan untuk kenyamanan / keamanan barang. Sedangkan sortasi adalah
mengumpulan picking atau packaging ke route yang benar dan harus membandingkan
antara kapasitas truck dan route yang akan dilalui.
Kendaraan pengangkut yang digunakan :

Tabel 11. Jenis Kendaraan


No. Kendaraan Penggunaan Periode Keterangan
1. Trailer Box 20 Feet Pengangkutan
± 100
- Panjang 600 cm bahan baku dan
Rit/bulan
- Lebar 220 cm penolong
2. - Tinggi 230 cm
Hasil Produksi ± 20
- Dimensi 32 CBM
(Produk Jadi) Rit/bulan
- Berat Maksimal 10 Ton
Sumber : PT. TUJU KUDA HITAM SAKTI, 2017

Pada aktivitas ini diperkirakan timbul dampak :


1. Penurunan kualitas udara akibat debu

30 | R e n c a n a U s a h a d a n / a t a u K e g i a t a n
INDUSTRI ARANG– PT. TUJU KUDA HITAM SAKTI
PerMen LH No. 16 Tahun 2012

Debu adalah partikel padat yang berukuran sangat kecil. Pada aktivitas bongkar
muat, ditimbulkan debu yang berasal dari bahan baku (serbuk gergaji). Hal ini
disebabkan karena proses penurunan bahan baku dari kendaraan pengangkut.
Pengendalian yang dilakukan adalah dengan penyiraman lahan, pemagaran di
sekeliling lokasi bongkar muat dan penyediaan area terbuka (RTH) seluas + 5.725
m2 terutama disekeliling lokasi penyimpanan bahan baku (Gudang Serbuk). Hal ini
dilakukan agar debu tidak terbawa oleh udara keluar dari lokasi kegiatan. Selain
itu, untuk para pekerja dihimbau agar menggunakan alat pelindung diri seperti
masker pada saat aktivitas bongkar muat.

2. Potensi kerusakan jalan


Kerusakan pada struktur jalan terbagi menjadi dua kriteria besar : retak dan
deformasi permanen. Kerusakan retak adalah kerusakan struktur jalan yang terjadi
akibat pelepasan lapisan permukaan dari lapisan bawahnya. Kerusakan ini terjadi
akibat beban tarik yang terjadi di lapisan permukaan melebihi kapasitas tarik bahan
perkerasan. Sementara kerusakan deformasi permanen adalah kerusakan yang
terjadi akibat penurunan permukaan tanah.
Pengendalian yang dilakukan berdasar Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan
Darat No. SK.726/AJ.307/DRJD/2004, tentang Pedoman Teknis Penyelenggaraan
Angkutan Alat Berat di Jalan, Bab XI Kewajiban Pengangkut, meliputi :
 Melaksanakan pengangkutan sesuai tata cara pengangkutan yang ditentukan /
kelas jalan. Berdasar pada Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. 58/
KPTS/M/2012 tentang Penetapan Kelas Jalan, akses jalan di lokasi kegiatan
termasuk dalam Kelas Jalan 1, dengan ketentuan dapat dilalui kendaraan
bermotor dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.500 mm, ukuran panjang
tidak melebihi 18.000 mm, ukuran paling tinggi 4.200 mm, dan muatan
sumbu terberat adalah 10 ton.
 Memberikan pertanggungjawaban apabila terjadi kerusakan jalan, jembatan
dan gangguan lingkungan di sekitarnya yang diakibatkan pengoperasian
kendaraan pengangkut barang.

3. Penurunan kualitas udara akibat emisi kendaraan pengangkut


Emisi adalah zat –zat yang masuk ke dalam udara bebas yang mempunyai potensi
sebagai unsur pencemar. Gas buang kendaraan pengangkut merupakan sumber
polusi udara yang utama. Polusi yang dihasilkan kendaraan pengangkut adalah
exhaust gas dan hidrokarbon yang diakibatkan oleh penguapan bahan bakar.
Ambang batas emisi gas buang telah ditentukan berdasarkan Peraturan Menteri
Negara Lingkungan Hidup Nomor 05 Tahun 2006 tentang Ambang Batas Emisi
Gas Buang Kendaraan Bermotor Lama dan Peraturan Menteri Negara Lingkungan
Hidup Nomor 04 Tahun 2009 tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan
Bermotor Tipe Baru.
Pengendalian yang dilakukan adalah dengan melakukan perawatan rutin terhadap
kendaraan pengangkut, serta memastikan kepada pihak supplier agar menggunakan
kendaraan pengangkut yang telah lolos uji emisi. Sebagai upaya pemantauan, maka

31 | R e n c a n a U s a h a d a n / a t a u K e g i a t a n
INDUSTRI ARANG– PT. TUJU KUDA HITAM SAKTI
PerMen LH No. 16 Tahun 2012

dilakukan uji kualitas berkala terhadap kendaraan pengangkut, serta pengecekan


hasil uji emisi dari kendaraan pengangkut pihak supplier.

4. Bangkitan lalu lintas


Bangkitan lalu-lintas adalah banyaknya lalu-lintas yang ditimbulkan oleh suatu
zone atau daerah per satuan waktu. Bangkitan lalu lintas ini mencakup : Lalu lintas
yang meninggalkan suatu lokasi dan Lalu lintas yang menuju atau tiba ke suatu
lokasi.
Dalam upaya menangani gangguan keamanan, keselamatan, ketertiban dan
kelancaran lalu lintas, makan wajib dilakukan Analisa Dampak Lalu Lintas. Hal ini
juga diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan No. PM 75 Tahun 2015 tentang
Penyelenggaraan Analisis Dampak Lalu Lintas. Selain itu, juga memasang
Warning Lamp sebagai penanda lokasi kegiatan.
 Aktivitas Produksi (Industri)
Produksi adalah suatu proses mengubah input menjadi output sehingga nilai barang
tersebut bertambah. Uraian proses Industri Arang - PT. TUJU KUDA HITAM SAKTI
dapat dilihat pada Gambar 22.

Rotary Bahan Baku :


Screen serbuk Kayu

Pre-oven

Uap
Dryer Cyclone
panas

Asap
Silo Cerobong
produk

Ekstruder

Produk
Carbonization
Reject

Packing

Gambar 22. Diagram Alir Proses Produksi

Keterangan proses :
 Bahan baku berupa serbuk kayu yang telah sudah halus sesuai dengan spesifikasi.

32 | R e n c a n a U s a h a d a n / a t a u K e g i a t a n
INDUSTRI ARANG– PT. TUJU KUDA HITAM SAKTI
PerMen LH No. 16 Tahun 2012

 Bahan yang sudah halus diangkut dengan Screw Conveyor untuk disaring di mesin
Rotary Screen.
 Bahan yang lolos dari saringan, akan mendapat perlakuan awal di mesin pre-oven /
tungku pembakaran.
 Setelah dari proses pre-oven, bahan akan dimasukan ke mesin Dryer dengan Belt
Conveyor untuk menghilangkan kadar air
 Setelah kadar air sesuai dengan spesifikasi, maka bahan masuk ke mesin Briquette
Press / Extruder, untuk dicetak menjadi produk berbentuk “log”
 Produk yang terbentuk (Log), akan mendapat perlakuan panas untuk pengerasan di
mesin Carbonization Stove.
 Hasil dari mesin Carbonization Stove, merupakan produk akhir yang selanjutnya akan
dipacking sesuai standard.

Pada aktivitas produksi diperkirakan timbul dampak :


1. Produk reject / tidak sesuai spesifikasi
Ketidaksesuaian dapat diartikan sebagai suatu penyimpangan yang muncul dari
standar yang sudah ditetapkan. Ketidaksesuain terjadi karena tidak terpenuhinya
spesifikasi dan persyaratan yang telah ada. Persyaratan ini bisa datang dari
pelanggan, badan pengawas eksternal atau prosedur internal perusahaan sendiri.
Produk tidak sesuai (reject) yang belum sampai ke customer akan kembali diolah,
yaitu mendapat perlakuan pre-oven dan diproses kembali menjadi produk. Jumlah
produk reject diperkirakan 1% dari kapasitas produksi (+ 0,4 Ton / hari).

2. Uap panas dan debu dari proses pengeringan di Dryer Machine


Prinsip kerja Dryer Machine adalah dimana bahan yang basah akan masuk pada
ujung yang satu dan bahan kering akan keluar di ujung yang lain. Serbuk kayu
adalah material yang mudah terbakar. Untuk itu pengeringan serbuk kayu
menggunakan jenis aliran searah (co-current).
Pada proses pengeringan, berpotensi menghasilkan material yang sudah kering
(debu) dan uap panas. Dryer Machine yang direncanakan telah mengakomodir
dampak debu dan uap panas dengan sistem Cyclone yang sudah ter-install menjadi
satu paket dengan Dryer Machine. Dengan adanya unit Cyclone, maka debu yang
dihasilkan tidak terbawa keluar ke atmosfer, dan uap panas yang dikeluarkan
langsung mengarah ke udara bebas (mengingat tinggi outlet dari Cyclone ± 5m).

Uap panas
yang keluar

Gambar 23. Sistem Cyclone Pada Unit Dryer Machine

33 | R e n c a n a U s a h a d a n / a t a u K e g i a t a n
INDUSTRI ARANG– PT. TUJU KUDA HITAM SAKTI
PerMen LH No. 16 Tahun 2012

3. Asap pembakaran produk dari Dryer Machine di Silo


Asap adalah partikel kecil yang ada di udara yang berasal dari hasil pembakaran
yang tidak sempurna, yaitu dari hasil proses dryer. Bahan kayu mendapat perlakuan
panas, namun tidak sampai terbakar, sehingga menghasilkan asap.
Asap adalah efek samping yang tidak diharapkan dari api. Jika sebuah benda
dibakar dan kadar oksigen di tempat tersebut cukup, maka pembakaran tersebut
tidak akan mengeluarkan asap. Tapi kalau pembakaran yang terjadi mengalami
kekurangan kadar oksigen maka asap akan muncul sebagai produk samping
pembakaran.
Upaya pengendalian yang direncanakan adalah dengan penyediaan cerobong asap.
Cerobong asap memiliki fungsi utama menyalurkan asap dari dalam ruangan
menuju luar ruangan. Cerobong asap direncakana cukup tinggi (25 m), sehingga
asap dapat menembus lapisan inversi thermal agar tidak menambah polutan yang
tertangkap di atas suatu pemukiman.

4. Potensi kebakaran
Manajemen pencegahan dan penanggulangan kebakaran sangat berperan dalam
menihilkan risiko kebakaran dan mengendalikan kerugian yang diakibatkan oleh
peristiwa kebakaran. Tindakan atau prosedur yang dikeluarkan oleh pihak
perusahaan seperti manajemen dan organisasi penanggulangan kebakaran,
penyediaan sarana sistem proteksi kebakaran, inspeksi peralatan dan bahan yang
digunakan dalam proses produksi yang dapat menyebabkan kebakaran serta
pendidikan dan pelatihan bagi pekerja / karyawan.

5. Potensi kecelakaan kerja


Pasal 1 angka 6 Undang-Undang No. 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga
Kerja (UU JAMSOSTEK) yang berbunyi “Kecelakaan kerja adalah kecelakaan
yang terjadi berhubung dengan hubungan kerja, termasuk penyakit yang timbul
karena hubungan kerja, demikian pula kecelakaan yang terjadi dalam perjalanan
berangkat dari rumah menuju tempat kerja, dan pulang ke rumah melalui jalan
yang biasa atau wajar dilalui”. Jenis - jenis kecelakaan kerja dalam klasifikasi ini
bisa berupa terjatuh, terpeleset, tertimpa benda, tertumbuk, tertabrak, terjepit, gerak
yang melebihi batas wajar, efek dari suhu sekitar yang tidak wajar, tersengat arus
listrik tegangan tinggi, terjadinya kontak dengan bahan B3, dan lain-lain.
Tindakan pengendalian yang dilakukan meliputi kegiatan promotif dan preventif
berdasar pada Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No. 10/2016 tentang Tata Cara
Pemberian Program Kembali Kerja serta Kegiatan Promotif dan Preventif
Kecelakaan Kerja dan Penyakit Akibat Kerja, antara lain :
 Pembinaan keselamatan dan kesehatan kerja
 Peningkatan budaya keselamatan dan kesehatan kerja
 Pemeriksaan kesehatan / medical checkup pekerja
 Penyediaan alat pelindung diri dan sarana keselamatan & kesehatan kerja

 Aktivitas Pemeliharaan Mesin

34 | R e n c a n a U s a h a d a n / a t a u K e g i a t a n
INDUSTRI ARANG– PT. TUJU KUDA HITAM SAKTI
PerMen LH No. 16 Tahun 2012

Untuk menjaga kondisi mesin produksi dalam kondusi fungsional yang baik, maka
kegiatan perawatan / pemeliharaan mesin merupakan aktivitas vital. Perawatan
bertujuan untuk merawat berbagi macam peralatan mesin produksi guna menunjang
berlangsungnya sebuah pabrik. Jika mesin-mesin dirawat dengan baik, maka usia mesin
akan jauh lebih lama dan efektifitas kegiatan produksi semakin baik. Kegiatan
perawatan mesin industri diantaranya adalah : Perawatan alat, Pergantian dan
pendistribusian utilias, Pelumasan dan inspeksi. Dampak yang diperkirakan timbul dari
aktivitas ini adalah oli bekas. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 101 tahun 2014
dinyatakan bahwa oli bekas dikategorikan sebagai limbah Bahan Berbahaya dan
Beracun (B3) karena memiliki sifat beracun (toxic). Oli bekas adalah setiap oli yang
telah digunakan dan telah terkontaminasi oleh zat-zat pencemar. Pada dasarnya oli
bekas tidak dibenarkan tumpah di lantai atau tanah, jika terjadi tumpahan / kebocoran,
harus segera dibersihkan menggunakan penyerap (kain majun), dimana kain yang
terkontaminasi oleh oli bekas juga dikategorikan kedalam jenis limbah B3.

 Aktivitas Karyawan dan Tamu


Aktivitas karyawan dan tamu berkaitan dengan fasilitas penunjang yang disediakan,
seperti kegiatan perkantoran, MCK, musholla dan area parkir karyawan. Dampak yang
diperkirakan timbul dari aktivitas karyawan dan tamu antara lain peningkatan volume
limbah cair, timbulan limbah padat domestik serta gangguan keamanan pekerja.

35 | R e n c a n a U s a h a d a n / a t a u K e g i a t a n
INDUSTRI ARANG– PT. TUJU KUDA HITAM SAKTI