Anda di halaman 1dari 24

PerMen LH No.

16 Tahun 2012

BAB II
RENCANA USAHA DAN / ATAU KEGIATAN

2.1 Nama Rencana Usaha dan / Kegiatan : RUKO DAN GUDANG AIR MINERAL.
Berdasarkan Lampiran I Peraturan Bupati Lamongan No. 15 Tahun 2013, bagian J
(Bidang Perdagangan), No. 4 disebutkan bahwa kegiatan jasa pergudangan dengan luas
lahan lebih besar dari atau sama dengan 0,1 ha sampai 5 ha, atau luas bangunan lebih
besar dari atau sama dengan 600 m 2 sampai 10.000 m2, merupakan suatu kegiatan yang
wajib dilengkapi Dokumen Upaya Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan
Hidup (UKL-UPL).

2.2 Lokasi Rencana Usaha dan / Kegiatan


Rencana pembangunan Ruko dan Gudang Air Mineral terletak di Jl. Raya Deket-
Lamongan, Desa Rejosari, Kecamatan Deket, Kabupaten Lamongan. Berada
tepat disebelah timur PT. Buildyet Indonesia dan + 100 m di sebelah barat PT.
Smart Teak Industries. Tepatnya berada diantara 4 titik koordinat sebagai
berikut : (Gambar 1)
A. 7°7'5.65" LS C. 7°7'3.64" LS
112°26'47.29" BT 112°26'49.49" BT
B. 7°7'5.98" LS D. 7°7'3.51" LS
112°26'48.89" BT 112°26'48.22" BT

Kondisi Rona Sekitar Lokasi Rencana Kegiatan


Rona lingkungan merupakan gambaran keadaan lingkungan di tempat proyek yang
akan dibangun di daerah sekitarnya. Kegunaan rona lingkungan :
o Pendugaan keadaan lingkungan di masa yang akan datang tanpa proyek
o Keadaan lingkungan di masa yang akan datang dengan proyek
Kondisi rona sekitar lokasi kegiatan berupa : (Gambar2)
 Batas Utara : Bangunan Industri PT. Buildyet Indonesia
 Batas Timur : Bangunan Penggilingan Padi / Huller
 Batas Barat : Bangunan Industri PT. Buildyet Indonesia
 Batas Selatan: Jl. Raya Deket-Lamongan (Jalan Nasional)

2.3 Skala / Besaran Rencana Usaha dan / atau Kegiatan


Rencana usaha dan atau kegiatan adalah RUKO DAN GUDANG AIR MINERAL.
Ruko (singkatan dari rumah toko) adalah sebutan bagi bangunan – bangunan di
Indonesia yang umumnya bertingkat antara dua hingga lima lantai, dimana lantai –
lantai bawahnya digunakan sebagai tempat berusaha ataupun semacam kantor,
sementara lantai atas dimanfaatkan sebagai tempat tinggal.
Gudang Air Mineral adalah Bangunan tertutup yang tidak menggunakan sistem
pendingin, berfungsi sebagai tempat penyimpanan produk – produk air mineral dalam
segala kemasan.
Skala / besaran rencana kegiatan ditabulasikan pada Tabel 1.

2|Re n ca n a U s a h a d a n / ata u Ke g i ata n


Ruko dan Gudang Air Mineral
PerMen LH No. 16 Tahun 2012

Gambar 1 Koordinat

3|Re n ca n a U s a h a d a n / ata u Ke g i ata n


Ruko dan Gudang Air Mineral
PerMen LH No. 16 Tahun 2012

Gambar 2 Batas

4|Re n ca n a U s a h a d a n / ata u Ke g i ata n


Ruko dan Gudang Air Mineral
PerMen LH No. 16 Tahun 2012

Tabel 1. Skala Besaran Rencana Kegitan


Kriteria Usaha Skala / Besaran
8 unit Ruko dengan Luas @ 60 m2
Terdiri dari 2 Lantai
Disewakan pada segmen : Retail Distribution
Ruko
Center (Produk ritel dan barang konsumen.
Menyediakan pelayanan bagi produk ritel
sebelum didistribusikan ke toko eceran)
1 unit dengan luas 420 m2
Penyimpanan air mineral dalam kemasan :
- Botol 330 ml
- Botol 600 ml
Gudang Air Mineral
- Botol 1500 ml
- Gelas 240 ml
- Gallon 19 Liter
- Ukuran kemasan lainnya
Sumber : PEMRAKARSA, 2018

2.3.1 Penggunaan Lahan


Rencana pembangunan RUKO DAN GUDANG AIR MINERAL berada pada lahan
seluas 3.022 m2 dengan status Lahan : Milik Sendiri (Sertipikat Hak Milik No. 66 Desa
Rejosari ; NIB 12.19.13.03.00847). Pembagian penggunaan lahan berdasarkan fungsi
kegiatan didetailkan pada Tabel 2 dan Layout mengenai rencana kegiatan dapat dilihat
pada Gambar 3.

Tabel 2. Penggunaan Lahan


Ukuran Luas
Fungsi Lahan
(m x m) (m2)
Gudang Air Mineral 12 x 35 420
Ruko J1 (4 unit) 4 x 15 240
Area
Ruko J2 (4 unit) 5 x 12 240
Tertutup
Pos Jaga 3x3 9
Total Luas Area Tertutup 909 m2
Area Bongkar Muat 5 x 35 175
Area Parkir Kendaraan 36 x 10 360
Area Area Parkir Truk - 250
Terbuka Akses Jalan - 878
RTH - 450
Total luas Area Terbuka 2.113
Total Luas lahan (Area tertutup + Area Terbuka) 3.022
Sumber: PEMRAKARSA, 2018

5|Re n ca n a U s a h a d a n / ata u Ke g i ata n


Ruko dan Gudang Air Mineral
PerMen LH No. 16 Tahun 2012

Gambar 3. Layout

6|Re n ca n a U s a h a d a n / ata u Ke g i ata n


Ruko dan Gudang Air Mineral
PerMen LH No. 16 Tahun 2012

2.3.2 Penggunaan Sumber Daya


Dalam melaksanakan kegiatannya, Pemrakarsa memanfaatkan sumber daya yang
meliputi sumber daya manusia, sumber daya energi dan sumber daya air bersih yang
dijelaskan sebagai berikut :

a) Sumber Daya Manusia


Sumber daya manusia pada kegiatan ini dibedakan menjadi 2 tahap, yakni tahap
konstruksi dan tahap operasioal dengan rincian jenis pekerjaan dan jumlah pekerja
pada Tabel 3. Perekrutan tenaga kerja mengutamakan warga sekitar lokasi kegiatan.

Tabel 3. Jenis Pekerjaan dan Jumlah Pekerja


Jumlah
Jenis Pekerjaan
Pekerja
Konstruksi
Pengawas Pekerjaan 1 orang
Pekerja Sipil 8 orang
Pekerja Mechanical
4 orang
Electrical
Total Pekerja Tahap
13 orang
Konstruksi
Operasional
Petugas Keamanan 2 orang
Pekerja Gudang 8 orang
Pekerja Ruko 40 orang
Total Pekerja Tahap
50 orang
Operasional
Sumber : PEMRAKARSA, 2018

b) Sumber Daya Energi


Kebutuhan tenaga listrik harus disesuaikan dengan keadaan kegiatan itu sendiri, yang
paling penting adalah kontinuitas dan keandalan yang tinggi dalam pelayanannya.
Mengingat bahwa tenaga listrik sangat penting, maka sumber tenaga listrik ini harus
dijaga dari adanya berbagai macam gangguan. Tenaga listrik yang digunakan :

 Tahap Konstruksi
Kebutuhan energi pada tahap konstruksi (untuk peralatan proyek) dipenuhi dengan
Genset Silent Type kapasitas 250 kVa.
 Tahap Operasional
Kebutuhan energi direncanakan :
- Dipenuhi secara tetap oleh PLN dengan kapasitas : 41.000 Watt
Tidak disediakan Genset.

c) Sumber Daya Air Bersih


Air bersih diperlukan pada tahap konstruksi dan pada tahap operasional. Kebutuhan
air pada tahap konstruksi meliputi MCK pekerja konstruksi serta kebutuhan
konstruksi. Sumber air bersih pada tahap konstruksi direncanakan berasal dari
perusahaan supplier air bersih dengan besaran ± 3,5 m3 (penyediaan setiap 3 hari
sekali ; distribusi menggunakan mobil tangki).

7|Re n ca n a U s a h a d a n / ata u Ke g i ata n


Ruko dan Gudang Air Mineral
PerMen LH No. 16 Tahun 2012

Pada tahap operasional, sumber air bersih direncanakan diperoleh dari PDAM
Kabupaten Lamongan untuk keperluan domestik.
Analisa perkiraan kebutuhan air bersih didasarkan pada beberapa asumsi :
(1)
SNI 03-7065-2005 tentang Tata Cara Perencanaan Sistem Plumbing
(2)
Handayani, Dwi (2010) tentang Kajian Pustaka Potensi Pemanfaatan Grey Water
Sebagai Air Siram WC dan Air Siram Tanaman di Rumah Tangga.
-
Luas lahan terbuka / RTH (penyiraman) = 450 m2
Rincian kebutuhan air bersih pada tahap konstruksi dan operasional kegiatan RUKO
DAN GUDANG AIR MINERAL dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Analisa Kebutuhan Air


Tahapan Kebutuhan air
Pengguna Asumsi Perhitungan
Kegiatan (m3/hari)
50 50 L/orang/hari
MCK Pekerja Konstruksi 0,65 m3/hari
Konstruksi L/orang/hari (1) x 13 orang
Kebutuhan Konstruksi 100 L/hari - 0,1 m3/hari
Total Kebutuhan Air Bersih Tahap Konstruksi 0,75 m3/hari
50 50 L/orang/hari
MCK Karyawan 2,5 m3/hari
Operasional L/orang/hari (1) x 50 orang
Domestik 10 L/20 m2 10L/20m2 x
Penyiraman Lahan (RTH) 0,26 m3/hari
lahan/hari (2) 450 m2
Total Kebutuhan Air Bersih Tahap Operasional 2,76 m3/hari
Sumber : Analisis Konsultan, 2018

2.3.3 Rencana Pengelolaan Limbah Cair


Pada umumnya, kuantitas air limbah yang dihasilkan dari suatu kegiatan adalah 60-
80% dari total kebutuhan air bersih pada kegiatan tersebut (Duncan, 2003), sehingga
perkiraan mengenai kuantitas air limbah yang dihasilkan kegiatan RUKO DAN
GUDANG AIR MINERAL ini adalah sebagai berikut (Tabel 5).

Tabel 5. Analisa Air Limbah


Tahapan Kebutuhan air Air Limbah
Penggunan
Kegiatan (m3/hari) (m3/hari)
MCK Pekerja 80% x 0,65 m3/hari
0,65 m3
Konstruksi = 0,52 m3/hari
Kebutuhan
Konstruksi Konstruksi
(penyiraman 0,1 m3 Habis terpakai
lahan, campuran
semen, dll)
80% x 2,5 m3/hari
MCK Karyawan 2,5 m3
Operasional = 2 m3/hari
Domestik Penyiraman
0,26 m3 Habis terpakai
Lahan (RTH)
Sumber : Analisis Konsultan, 2018
Air limbah domestik (MCK Karyawan) terdiri atas :
1. Black Water, yaitu Tinja (faeces) yang mengandung mikroba pathogen.
2. Grey Water, yaitu Air seni (urine) yang pada umumnya mengandung Nitrogen dan
Posfor, air bekas cucian dapur, mesin cuci dan air sabun (sisa bilas).

8|Re n ca n a U s a h a d a n / ata u Ke g i ata n


Ruko dan Gudang Air Mineral
PerMen LH No. 16 Tahun 2012

Prosentase air limbah untuk Black Water adalah 20% & Grey Water adalah 80% (Tilley
et al, 2008).

Rencana pengolahan air limbah pada kegitatan RUKO DAN GUDANG AIR
MINERAL baik pada tahap konstruksi maupun tahap operasional dijelaskan
menggunakan diagram alir seperti pada Gambar 4 dan Gambar 5.

Air Tangki : MCK Pekerja : Limbah : Black Septic


0,75 m3/hari 0,65 m3/hari 0,52 m3/hari water : 0,1 Tank
m3/hari

Grey water : Saluran


0,42 m3/hari Kota

Kebutuhan Konstruksi Habis


: 0,1 m3/hari Terpakai

Gambar 5. Neraca Air Bersih dan Air Limbah Tahap Konstruksi

Air PDAM : MCK Karyawan Limbah : 2 Black Septic


2,76 m3/hari : 2,5 m3/hari m3/hari water : 0,4 Tank
m3/hari

Grey water : Saluran


1,6 m3/hari Kota

Penyiraman Lahan : Habis


Gambar 6. 0,26 m3/hari
Neraca Air Bersih dan Air Limbah
Terpakai Tahap Operasional

Septic Tank adalah salah satu cara pengolahan air limbah domestik yang menggunakan
proses pengolahan secara anaerobik. Proses ini dapat memisahkan padatan dan cairan
di dalam air limbah. Padatan dan cairan harus diolah lebih lanjut karena banyak
mengandung bibit penyakit atau bakteri patogen yang berasal dari kotoran (feces)
manusia. Jika tidak diolah, maka dikhawatirkan air limbah dapat menularkan penyakit
kepada manusia terutama melalui air tanah.
Septic Tank terdiri dari 2 bagian, yaitu bak tampung dan resapan air. Bak tampung
harus dibuat agar kedap air yang gunanya untuk menampung limbah kasar dari
toilet/wc. Limbah kasar tersebut akan terkumpul dan bercampur air siraman yang
kemudian akan dimakan bakteri pembusuk. Ketika wc disiram air, limpahan air
permukaan bak tampung akan mengalir melalui saluran pipa PVC ke ruang resapan
yang dibuat dengan lapisan batu, krikil dan ijuk. Air dari bak tampung akan terfilter
oleh lapisan tersebut dan akan meresap ke dalam tanah tanpa membawa limbah kasar.

9|Re n ca n a U s a h a d a n / ata u Ke g i ata n


Ruko dan Gudang Air Mineral
PerMen LH No. 16 Tahun 2012

Gambar 7. Ilustrasi Septic Tank

2.3.4 Rencana Pengelolaan Limbah Padat / Sampah


Berdasarkan SNI 19-2454 tahun 2002, sampah adalah limbah yang bersifat padat terdiri
dari bahan organik dan bahan anorganik yang dianggap tidak berguna lagi dan harus
dikelola agar tidak membahayakan lingkungan dan melindungi investasi pembangunan.
Pada setiap tahap baik konstruksi maupun operasional, hakekatnya selalu dihasilkan
sampah yang bersifat domestik dan non-domestik.
Limbah padat / sampah domestik adalah limbah yang dihasilkan oleh aktivitas manusia,
sedangkan non-domestik merupakan sampah dari suatu proses / kegiatan yang
dilakukan. Besaran timbulan sampah domestik yang dihasilkan, diperkirakan berdasar
SNI Nomor 3242 Tahun 2008 adalah 2 L/orang/hari.

ORGANIK Tempat Sampah


Kordinasi
SAMPAH DOMESTIK
dengan Desa
ANORGANIK Tempat Sampah
TAHAP KONSTRUKSI Pengangkutan

Kordinasi dengan Pemanfaatan TPS -- TPA


SAMPAH NON-DOMESTIK
Pihak ke-3 kembali
Gambar 8. Bagan Alir Pengolahan Limbah Padat Tahap Konstruksi

ORGANIK Tempat Sampah


Kordinasi
SAMPAH DOMESTIK
dengan Desa
ANORGANIK Tempat Sampah
TAHAP OPERASIONAL Pengangkutan
TPS -- TPA
Gambar 9. Bagan Alir Pengolahan Limbah Padat Tahap Operasional
Tabel 7. Analisa Limbah Padat
Tahapan
Limbah yang dihasilkan Analisa
Kegiatan
Sampah organik & anorganik 13 orang x 2
Konstruksi dari aktivitas pekerja konstruksi L/hari = 26 L/hari
Material sisa konstruksi ± 4m3/hari
Operasional Sampah organik & anorganik 50 orang x 2
dari aktivitas karyawan L/hari = 100
L/hari

10 | R e n c a n a U s a h a d a n / a t a u K e g i a t a n
Ruko dan Gudang Air Mineral
PerMen LH No. 16 Tahun 2012

Sampah taman (organik –


± 10 L/hari
ranting, daun, dll)
Sumber : Analisis Konsultan, 2017

2.3.5 Analisa Area Parkir


Dengan berdasar Keputusan Direktur Jendral Perhubungan Darat Nomor
272/HK.105/DRJD/96 Tentang Pedoman Teknis Penyelenggaraan Fasilitas Parkir,
ditentukan satuan ruang parkir (SRP) kendaraan sebagai berikut :
-
1 SRP kendaraan R4 : 22,5 m2,
-
1 SRP kendaraan Truk : 42,5 m2
Area pakir yang direncanakan untuk kendaraan R4 adalah seluas 360 m2, dengan pola
parkir yang direncanakan adalah pola parkir pulau dengan membentuk sudut 90˚ (untuk
kendaraan R4, dari segi efektifitas ruang posisi sudut 90˚ adalah yang paling
menguntungkan) dan berdasarkan analisa diperkirakan dapat menampung :
-
± 16 kendaraan R4 (360 m2 : 22,5 m2)
Selain itu, untuk kendaraan pengangkut (tronton, pick-up, colt diesel) telah disediakan
ruang khusus seluas 250 m2 yang berdasarkan analisa terhadap SRP truk diperkirakan
dapat menampung + 5 Truk pada saat yang bersamaan.

2.3.6 Rencana Sistem Proteksi Terhadap Potensi Kebakaran


Penyebab terjadinya kebakaran antara lain :
- Peristiwa listrik.
- Spontanious (bahan yang dapat terbakar sendiri).
- Merokok tidak pada tempatnya.
- Gesekan atau benturan.
- Housekeeping yang tidak baik.
 Perencanaan kebutuhan Tabung Alat Pemadam Api Ringan (APAR), mengacu pada
National Fire Protection Association (NFPA), NFPA 10 : Standard for Portable
Fire Extinguishers, 2013 Edition. Pertimbangan dalam melakukan analisa :
- Bangunan termasuk dalam Kebakaran Kelas C, yaitu kebakaran yang disebabkan
arus listrik pada peralatan seperti permesinan, panel listrik dan lain-lain.
- Kebutuhan APAR pada setiap area (berdasarkan fungsi lahan) dianalisa
berdasarkan maximum luas area yang dapat diproteksi APAR yaitu 11250 ft 2 atau
1045 m2 ; maka direncanakan 1 unit APAR pada masing – masing fungsing
bangunan (Ruko dan Gudang Air Mineral).
- Total 9 unit APAR (8 unit pada Ruko dan 1 unit pada Gudang Air Mineral)

11 | R e n c a n a U s a h a d a n / a t a u K e g i a t a n
Ruko dan Gudang Air Mineral
PerMen LH No. 16 Tahun 2012

Sumber : National Fire Protection Association (NFPA), NFPA 10 : Standard for Portable
Fire Extinguishers, 2013 Edition

2.4 Garis Besar Komponen Rencana Usaha dan / atau Kegiatan


2.4.1 Kesesuaian Lokasi Rencana Kegiatan Dengan Tata Ruang
Berdasarkan Perda Kabupaten Lamongan No. 15 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata
Ruang Wilayah Kabupaten Lamongan Tahun 2011 – 2031, Kecamatan Lamongan
masuk kedalam Wilayah Pengembangan (WP) I - Lamongan (Gambar 10) dengan
fungsi dan perananan perkotaan sebagai pusat WP ini adalah sebagai :
- pusat pemerintahan kabupaten
- pusat perdagangan dan jasa skala kabupaten
- pusat kesehatan skala kabupaten
- pusat pendidikan
- pusat olahraga dan kesenian skala kabupaten
- pusat peribadatan kabupaten
- pusat perlindungan sumber daya air (Sungai Bengawan Solo)
Sehingga rencana kegiatan ini sesuai dengan salah satu fungsi dan perananan perkotaan
pada WP I Lamongan, yakni merupakan kegiatan perdagangan dan jasa.

2.4.2 Penjelasan Mengenai Persetujuan Prinsip


Rencana pembangunan dan operasional RUKO DAN GUDANG AIR MINERAL ini
secara prinsip dapat dilaksanakan karena :
- Telah memiliki bukti formal berupa Informasi Kesesuaian Tata Ruang Nomor:
050/938/413.204/2017 dari Bappeda Kabupaten Lamongan tanggal 28 Oktober
2017 (terlampir).
- Telah sesuai dengan RTRW Kabupaten Lamongan Tahun 2011 – 2031 (masuk WP I
– Lamongan, yang dimana salah satu fungsinya adalah sebagai pusat perdagangan
dan jasa skala kabupaten.
Sehingga secara prinsip dapaat dilaksanakan.

Gambar 10 rtrw

12 | R e n c a n a U s a h a d a n / a t a u K e g i a t a n
Ruko dan Gudang Air Mineral
PerMen LH No. 16 Tahun 2012

13 | R e n c a n a U s a h a d a n / a t a u K e g i a t a n
Ruko dan Gudang Air Mineral
PerMen LH No. 16 Tahun 2012

2.4.3 Komponen Rencana Kegiatan yang Menimbulkan Dampak


Komponen rencana kegiatan yang menimbulkan dampak diperkirakan bersumber dari 3
tahapan kegiatan, yakni tahap prakonstruksi, tahap konstruksi dan tahap operasional.

Tahap Pra-Konstruksi
Merupakan suatu tahapan kegiatan sebelum kegiatan pembangunan dilaksanakan. Pada
tahap ini kegiatan yang dilakukan meliputi kegiatan survey pendahuluan, pembebasan
lahan dan pengurusan perizinan yang diuraikan sebagai berikut:

a. Survey Pendahuluan
Merupakan tahap awal pada kegiatan pra konstruksi dimana pemrakarsa melakukan
pengamatan dan penilaian terhadap kondisi lahan yang akan direncanakan untuk lokasi
kegiatan. Langkah selanjutnya adalah pengambilan keputusan apakah lokasi yang
dimaksud telah memenuhi kriteria lahan untuk operasional kegiatan perusahaan. Tahap
ini telah terlampaui dan diperoleh data rona lingkungan yang dapat menggambarkan
lokasi rencana kegiatan, secara sederhana ditabulasikan pada Tabel 8 dibawah ini :

Tabel 8. Data Rona Lingkungan Hidup

14 | R e n c a n a U s a h a d a n / a t a u K e g i a t a n
Ruko dan Gudang Air Mineral
PerMen LH No. 16 Tahun 2012

Rona Lingkungan Hidup Deskripsi


Komponen lingkungan
Komponen geo-fisik kimia  Geologi : Wilayah lokasi kegiatan di Jl. Raya Deket,
Desa Rejosari, Kecamatan Deket dilalui jalan utama
yang menghubungkan wilayah perbatasan timur, tengah,
dan barat antar Kabupaten Lamongan dengan daerah lain
yang terletak di timur kabupaten Lamongan, sehingga
boleh dibilang merupakan pintu gerbang timur
Kabupaten Lamongan. Jika dilihat dari tingkat
kemiringan tanahnya, wilayah kegiatan merupakan
wilayah yang relatif datar atau dengan tingkat
kemiringan 0-2%

 Air permukaan : Di lokasi kegiatan (Desa Rejosari)


terdapat sungai “Kali Bucu” dan “Kali Kaputren”
sebagai badan air.

 Air bawah tanah : Air bawah tanah bebas ini pada


umumnya dimanfaatkan oleh penduduk dengan cara
membuat sumur gali. Akuifer pada umumnya terdapat
pada kedalaman 30 – 90m.

 Udara : Wilayah Desa Rejosari, Kecamatan Lamongan


tergolong beriklim tropis. Musim penghujan terjadi
antara bulan Nopember sampai dengan April, sedangkan
musin kemarau terjadi antara bulan Mei sampai dengan
Oktober. Temperatur / suhu udara rata rata 20 – 32 ºC.
Komponen biologi  Vegetasi / Flora : didominasi oleh kelompok rumput-
rumputan (Cyperus sp.), bambu (Bambusa sp.),
glodokan pecut, pohon pisang (Mussa sp.), jati (Tectona
grandis), dll yang bukan merupakan spesies tumbuhan
yang dilindungi.

 Fauna : didominasi oleh kelompok hewan tanah,


serangga dan spesies burung yang seluruhnya tidak
masuk dalam kategori fauna yang dilindungi

 Keberadaan spesies langka/endemik : tidak terdapat


spesies langka / endemik pada lokasi rencana kegiatan di
Jl. Raya Deket, Desa Rejosari, Kecamatan Deket,
Kabupaten Lamongan

Usaha dan/atau kegiatan Eksisting rencana lokasi tersebut adalah lahan pertanian dan
disekitar lokasi rencana kegiatan berdasarkan arahan Dokumen Rencana Detail Tata Ruang
(RDTR) Perkotaan Deket tahun 2009 – 2029 berada diluar
kawasan Ibu Kota Kecamatan Deket (belum ada arahan
spesifik peruntukan lahannya).

15 | R e n c a n a U s a h a d a n / a t a u K e g i a t a n
Ruko dan Gudang Air Mineral
PerMen LH No. 16 Tahun 2012

Sumber : Analisis Konsultan, 2018

b. Pembebasan Lahan
Kegiatan pembebasan lahan dalam hal ini suatu upaya pengambil alihan hak atas lahan
yang akan dikuasai yang nantinya akan dibangun sebagai tempat berlangsungnya
kegiatan usaha. Dalam hal ini kegiatan pembebasan lahan dilakukan pada lahan seluas
3.022 m2 yang berlokasi di Jl. Raya Deket, Desa Rejosari, Kecamatan Deket,
Kabupaten Lamongan. Proyek pembangunan ini memerlukan area lahan yang cukup
luas. Dengan demikian, masalah pembebasan tanah merupakan suatu permasalahan
yang menyangkut banyak kepentingan. Dalam proses pembebasan lahan terdapat risiko
tidak tercapainya kesepakatan harga tanah antara pemrakarsa dengan pemilik tanah.
Risiko tersebut muncul bila lahan pada lokasi yang telah dijadwalkan sebagai tahapan
pembangunan belum dapat dibebaskan yang berarti akan menjadi hambatan dalam
tahapan pembangunan.

c. Perizinan Kegiatan
Merupakan kegiatan pengurusan perizinan sebelum melakukan kegiatan konstruksi.
Perizinan yang harus dilengkapi sebelum konstruksi, meliputi perizinan formal dan
non-formal. Perizinan formal antara lain Informasi Kesesuaian Tata Ruang, Izin
Lingkungan (UKL-UPL), Izin Mendirikan Bangunan (IMB) serta Izin Operasional
(Izin Gangguan / HO) supaya kegiatan menjadi legal dan memiliki kekuatan hukum
yang sah. Sedangkan perijinan non-formal seperti koordinasi dengan perangkat desa,
aparat, muspika dan masyarakat setempat. Pada kegiatan ini diperkirakan menimbulkan
dampak munculnya persepsi masyarakat.

Tahap Konstruksi
Tahap konstruksi adalah kegiatan yang bersifat sementara / waktu terbatas
(diperkirakan memerlukan waktu 2 bulan), tidak berulang, tidak bersifat rutin,
mempunyai waktu awal dan waktu akhir, sumber daya terbatas/tertentu dan
dimaksudkan untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan, dalam hal ini adalah
pembangunan struktur fisik bangunan dan fasilitas penunjang pada RUKO DAN
GUDANG AIR MINERAL. Detail mengenai setiap urutan kerja diuraikan sebagai
berikut :

16 | R e n c a n a U s a h a d a n / a t a u K e g i a t a n
Ruko dan Gudang Air Mineral
PerMen LH No. 16 Tahun 2012

a. Penyediaan dan Pendayagunaan Tenaga Kerja


Jumlah tenaga kerja yang akan dipekerjakan pada tahap konstruksi ini adalah sebanyak
± 13 orang. Pada tahap kegiatan ini diperkirakan menimbulkan dampak peningkatan
kesempatan kerja, khususnya bagi warga sekitar lokasi kegiatan. Selain itu, pada tahap
ini juga diperkirakan timbul dampak keresahan masyarakat akibat keluar masuk
kendaraan tenaga kerja dari dan menuju lokasi proyek.

b. Penyediaan Material, Peralatan, Sarana dan Prasarana


Pekerjaan ini meliputi :
 Penyediaan air bersih domestik dan non domestik (kerja)
Air untuk bekerja disediakan dengan menyediakan tangki penyimpanan / tandon
air ditapak proyek. Air bersih didapatkan dari perusahaan penyedia / supplier air
bersih tangki, dikarenakan akses pipa PDAM belum sampai pada lokasi
kegiatan. Pada tahap konstruksi, selain digunakan untuk kegiatan domestik, air
bersih juga digunakan untuk pelaksanaan pekerjaan. Menurut (PUBI 1970/N1-
3), untuk pelaksanaan pekerjaan, dipakai air yang tidak mengandung minyak,
asam, alkali, garam, bahan-bahan organik atau bahan-bahan lain yang dapat
merusak bangunan.
 Penyediaan daya listrik
Listrik untuk bekerja akan disediakan dan diperoleh dari sambungan sementara
PLN setempat selama masa pelaksanaan pembangunan dengan daya minimal
300 watt. Selain itu, juga disediakan Genset Diesel untuk backup dengan
kapasitas 250kVa yang disediakan oleh kontraktor.

 Pembuatan gudang dan direksi keet


Gudang dan direksi keet di lapangan dibuat di area proyek yang letaknya
ditentukan oleh Direksi Pekerjaan. Bahan-bahan utama atau bahan-bahan
tambahan yang seharusnya mendapat perlindungan, harus disimpan di dalam
gudang yang cukup menjamin perlindungan terhadap bahan-bahan tersebut.
 Pemasangan bowplank
Papan patok ukur (bowplank) dipasang pada patok kayu yang kuat, sehingga
tidak bisa digerak-gerakkan. Papan patok ukur dibuat dari kayu kelas-III,
dengan ukuran tebal 2,5 cm, lebar 20 cm, lurus pada sisi sebelah atasnya.
 Bahan yang digunakan antara lain :
- Material struktur baja mempunyai profil yang berbeda sesuai
pemanfaatanya sebagai kolom, kuda-kuda, rangka balok, dan gording.
Adapun Profil baja yang digunakan adalah sebagai berikut :
IWF(300.150.6,5.9) sebagai kolom.
IWF (200.100.5,5.8) sebagai kuda-kuda.
IWF (150.75.5,7) sebagai rangka balok
Plat Pengaku Rangka Kuda-Kuda T=8 mm.
Gording Slip Canal “C” (100.50.20.2,3).
Baut penyambung yang digunakan adalah Ø1 inchi ( 25,40 mm).
Elektoda las yang digunakan adalah RD-460.
Angkur

17 | R e n c a n a U s a h a d a n / a t a u K e g i a t a n
Ruko dan Gudang Air Mineral
PerMen LH No. 16 Tahun 2012

Cat dasar yang digunakan adalah jenis cat dasar Zinc Chromate
- Pasir Pasang, Pasir untuk adukan pasangan, adukan plesteran dan beton
bitumen.
- Agregat Kasar dapat berupa kerikil atau batu pecah yang diperoleh dari
pemecahan batu (Stone Chruser) dengan besar butiran lebih besar dari 5
mm (split).
- Pasir Beton, Pasir untuk pekerjaan beton.
- Portland Cement (PC) yang digunakan harus PC jenis (NI-8) dengan type I.
- Jenis kayu yang digunakan adalah harus sudah cukup tua, dipilih dan mutu
yang terbaik, kering, lurus dan dihindarkan adanya cacat kayu antara lain
yang berupa putih kayu, pecah-pecah, mata kayu, melinting basah dan
lapuk. Untuk kayu balok, kelembaban tidak dibenarkan melebihi 19% dan
kayu papan (kayu yang ketebalannya kurang dari 2,5 cm) disyaratkan
kelembabannya tidak lebih dari 12%.
- Jenis baja besi tulangan harus dihasilkan dari pabrik-pabrik baja yang
dikenal dan bentuk belahan-belahan polos. Mutu baja besi tulangan dipakai
U-24. Kawat pengikat yang digunakan juga terbuat dari besi baja lunak
dengan diameter minimum 1 mm yang telah dipijarkan terlebih dahulu dan
tidak bersepuh seng.
- Beton yang dipakai untuk pekerjaan ini pada umumnya dapat dipakai /
diperkirakan dengan campuran 1 PC : 2 Pasir : 3 Kerikil / Spilit atau
dipakai 1 PC : 3 Pasir: 5 Kerikil / Split perbandingan berat. Kekentalan
adukan beton harus diperiksa dengan pengujian slump dengan sebuah
kerucut terpancung Abram.
- Batu Bata merah didapatkan dari satu Pabrik di wilayah lamongan, satu
ukuran, satu warna atau satu kualitas. Ukuran yang digunakan adalah
Panjang 240 mm, lebar 115 mm dan tebal 52 mm.
 Peralatan yang direncanakan digunakan pada tahap konstruksi, antara lain :
Lift crane 1 unit
Backhoe 1 unit
Concrete mixer 2 unit
Compactor 1 unit
Mesin pemotong besi
Mesin bor Magnet
Mesin Las listrik
Las karbit (Otogen)
Mobile Crane
Tali tambang & Tali baja
Peralatan Las
Kunci momen
Pada tahap Penyediaan Material, Peralatan, Sarana dan Prasarana diperkirakan
menimbulkan dampak terhadap lingkungan terutama dari aktivitas pengangkutan
(mobilisasi & demobilisasi). Material dan peralatan yang digunakan didatangkan
langsung dari dalam Kabupaten Lamongan secara khusus, dan beberapa dari wilayah
diluar Lamongan.
Perkiraan jumlah ritasi sebanyak 4 kali/hari selama kegiatan pemenuhan material
bangunan berlangsung. Sedangkan untuk alat berat yang akan digunakan, dikirim

18 | R e n c a n a U s a h a d a n / a t a u K e g i a t a n
Ruko dan Gudang Air Mineral
PerMen LH No. 16 Tahun 2012

sesuai jadwal dan kebutuhan proyek. Pada tahap awal, alat Backhoe & compactor
didatangkan terlebih dahulu untuk proses pembersihan lahan. Teknis pengangkutan
dilakukan pada malam hari, di luar jam sibuk.

c. Penyiapan lahan dan Pengurugan lahan


Pada tahap ini, dilakukan persiapan lokasi pembangunan RUKO DAN GUDANG AIR
MINERAL agar mencapai elevasi yang telah direncanakan dalam gambar rencana.
Pekerjaan tanah meliputi :
 Pekerjaan pembersihan & galian tanah
Tipe tanah dilokasi kegiatan adalah tanah keras / cadas (merupakan tanah
berbatu). Pada saat melakukan proses penggalian, diberi penguat dan dibuat
agak miring agar tidak terjadi longsor.
 Pekerjaan pengurugan tanah
Proses pengurugan dilakukan untuk menutup dan pemerataan permukaan lahan
sebelum dibangun pondasi. Kegiatan yang dilakukan antara lain pemerataan
lahan seluas 3.022 m2 dengan tebal urukan + 50 cm (diperkirakan volume
urukan sebanyak 1.500 m3) dan pemadatan tanah kembali menggunakan
stamper / compactor.
Perubahan penggunaan lahan menyebabkan adanya perubahan kondisi debit banjir,
dimana pada area yang mengalami alih fungsi lahan, air hujan yang jatuh akan lebih
berpotensi untuk menjadi aliran permukaan daripada terserap oleh permukaan tanah.
Pada rencana pembangunan, terjadi alih fungsi lahan dari lahan kosong yang banyak
ditumbuhi oleh tanaman (area terbuka) menjadi area RUKO DAN GUDANG AIR
MINERAL (tertutup bangunan), sehingga menimbulkan dampak peningkatan potensi
banjir di wilayah tersebut. Oleh karena itu direncanakan pembuatan saluran
pembuangan air yang mengarah ke Utara, serta penggunaan pompa untuk membantu
proses pembuangan air.
Selain itu, direncanakan juga penempatan sementara tanah galian yang masih
diperlukan untuk pengurugan kembali. Tanah / bahan galian yang tidak dapat
digunakan kembali sebagai urugan, akan dikeluarkan dari lokasi proyek dengan dump
truk kapasitas ± 4m3/hari. Tanah / bahan yang tidak digunakan direncanakan
dikeluarkan dari lokasi proyek untuk digunakan kembali di lokasi lain. Dalam hal ini,
pemrakarsa akan bekerja sama dengan pihak ke-3 sebagai pemanfaatan tanah galian.
Tanah galian tidak dibuang di TPA ataupun TPS.

d. Tahap Pelaksanaan (Pekerjaan konstruksi)


Pembangunan Industri Arang terbuat dari gabungan bahan baja dan beton. Fungsi dari
bahan profil baja kuat untuk menahan gaya tarik dan tekan sedangkan bahan beton kuat
untuk menahan gaya tekan. Data teknis rencana pembangunan :
 Struktur Bangunan : Beton dan Baja.
 Struktur Bawah : Pondasi Telapak

Tabel 9. Penulangan Sloof, Kolom dan Ring Balok

19 | R e n c a n a U s a h a d a n / a t a u K e g i a t a n
Ruko dan Gudang Air Mineral
PerMen LH No. 16 Tahun 2012

Sumber : PEMRAKARSA, 2018

Aktivitas pekerjaan konstruksi antara lain :


- Pelaksanaan Struktur Bawah (Pondasi Telapak)
Pondasi telapak (Foot Plat) direncanakan menggunakan pondasi telapak beton
setempat. Pondasi telapak beton diletakkan dengan kedalaman seperti yang ditunjukan
pada gambar rencana. Proses pelaksanaan pondasi foot plat ini dilakukan secara
bersamaan dengan pekerjaan sloop. Pada pondasi setempat (Foot Plat) menggunakan
mutu beton K-350 dan mutu baja tulangan D-16.

Gambar 11. Potongan Poor Pelat & Detail Penulangan Sloof

- Pelaksanaan Struktur Bangungan


Aktivitas pada tahap ini, antara lain Fabrikasi Struktur Baja, Pengecatan, Perakitan,
Erection (Penyetelan & Pemasangan). Namun, pada perncanaan konstruksi RUKO
DAN GUDANG AIR MINERAL, proses Fabrikasi dan Pengecatan dilakukan di luar
lokasi kegiatan (di lokasi Workshop penyedia struktur baja). Setelah proses fabrikasi
dan pengecatan selesai dilakukan, maka dilakukan Perakitan dan Erection (Penyetelan
& Pemasangan) di lokasi kegiatan.
 Perakitan
Rangka batang yang telah di Pabrikasi sebelumnya, kemudian dilakukan
perakitan terhadap elemen rangkaian struktur portal rangka baja. Rangka batang
terlebih dahulu ditandai dengan penamaan pada batangnya. Pada Kolom

20 | R e n c a n a U s a h a d a n / a t a u K e g i a t a n
Ruko dan Gudang Air Mineral
PerMen LH No. 16 Tahun 2012

Pedestal Plat Tumpu di letakkan diatas kemudian dilakukan kontrol Horizontal.


Penyetingan/Kontrol Horizontal Pada Plat Tumpu Kolom. Penyetingan
Kelurusan (Lot) Pada Kolom Dengan Waterpass.
 Erection
Dilakukan dengan menggunakan alat bantu Mobile Crane untuk lebih
memudahkan dan mempercepat proses kerja. Sebelum dilakukan Erection
terlebih dahulu disediakan Erection Schedule agar lebih mudah dipahami daerah
mana yang akan dilakukan erection. Erection dilakukan sesuai dengan gambar
kerja. Proses Erection :
 Perencanaan arah erection, penempatan bahan hasil fabrikasi
 Kolom dirangkai di bawah. Pemeriksaan awal terhadap panjang dan
hasil pengelasan.
 Tahap pertama kolom pada bagian atas diikat dengan tali baja yang
ditarik dengan Liyer.
 Selanjutnya kuda-kuda yang telah dirangkai dibawah dan telah dicheck
panjang dan pengelasan segera diangkat dan dipasang.
 Pengelasan pertemuan antara kolom dan plat tumpu.
 Untuk membantu kekakuan kolom dipasang plat kopel.
 Untuk membantu kekakuan segera dipasang ikatan angin antara kolom
ke kolom yang lainnya sebagai penyangga kolom agar tidak mengalami
keruntuhan.

Gambar 12. Potongan A-A Gudang Air Mineral

Gambar 13. Tampak Samping Gudang Air Mineral

- Bangunan Permanen

21 | R e n c a n a U s a h a d a n / a t a u K e g i a t a n
Ruko dan Gudang Air Mineral
PerMen LH No. 16 Tahun 2012

Setelah semua pondasi dan tiang pancang serta pekerjaan erection telah selesai, maka
pendirian bangunan permanen dapat dilakukan. Bangunan permanen ini antara lain
berupa bangunan Ruko 8 unit beserta kelengkapannya dan pos satpam.

Gambar 14. Potongan A-A Bangunan Ruko

Gambar 15. Potongan B-B Bangunan Ruko (2 Lantai)

- Pekerjaan Landscaping
Penyediaan RTH berpedoman pada pasal 7 Peraturan Bupati Lamongan Nomor 32
Tahun 2013 tentang Peyediaan Ruang Terbuka Hijau dan Sumber Daya Air di
Kabupaten Lamongan, yakni jumlah pohon yang disediakan dihitung berdasarkan
ketentuan bahwa setiap 200 m2 harus terdapat 1 pohon. Luas lokasi kegiatan adalah
3.022 m2, maka jumlah pohon yang harus ditanam adalah + 15 pohon. Pohon yang
ditanam dapat berupa pohon peneduh dan tanaman hias, yang berfungsi sebagai
penyerap polutan, antara lain :
o Tanaman peneduh : pohon bungur, mahoni, trembesi, dll
o Tanaman hias : peace lily, sanseviera, kembang sepatu, dll

22 | R e n c a n a U s a h a d a n / a t a u K e g i a t a n
Ruko dan Gudang Air Mineral
PerMen LH No. 16 Tahun 2012

Gambar 16. Alternatif Tanaman Penyerap Polutan


Sedangkan untuk area RTH yang tidak ditanami pohon / tanaman hias direncanakan
ditanami rumput.
Selain itu, sebagai upaya mengkonservasi air hujan direncanakan pembuatan sumur
resapan dangkal dengan desain dan ketentuan teknis mengacu pada Lampiran PerMen
LH No. 12 Tahun 2009, sebagai berikut : (Gambar 17).

Gambar 17. Desain Sumur Resapan Dangkal

Keterangan :
- Dibuat dalam bentuk bundar / empat persegi menggunakan batako / bata
merah / bis beton
- Dibuat pada kedalaman diatas muka air tanah atau kedalaman antara 0,5 – 10
m diatas muka air tanah dangkal
- Dilengkapi dengan memasangang ijuk, koral dan pasir sebesar 25%

23 | R e n c a n a U s a h a d a n / a t a u K e g i a t a n
Ruko dan Gudang Air Mineral
PerMen LH No. 16 Tahun 2012

- Dilengkapi dengan bak kontrol (+ 50 cm dari sumur resapan dangkal)


- Jumlah sumur resapan ditentukan berdasarkan tutupan luas bangunan, dimana
pada setiap tutupan bangunan seluas 50 m 2 diperlukan sumur resapan dengan
volume 1 m3, dan untuk setiap tambahan luas tutupan bangunan 25-50 m2
diperlukan tambahan 1 m3. Sehingga pada lokasi kegiatan diperlukan
penyediaan sumur resapan dangkal sebanyak 18m3.

e. Pembongkaran base camp tenaga kerja dan direksi keet


Base camp dan direksi keet dibongkar setelah kegiatan konstruksi selesai dilaksanakan
mengingat tidak diperlukannya lagi ruangan penyimpanan ataupun fasilitas istirahat
bagi pekerja.

Tahap Operasional
Operasional RUKO
Ruko direncanakan berjumlah 8 unit. Keseluruhan unit akan disewakan oleh Pemrakarsa.
Aktivitas pada ruko terbatas sebagai bangunan penunjang perdagangan serta perkantoran.
Segmentasi unit Ruko adalah : Retail Distribution Center (Produk ritel dan barang konsumen).
Menyediakan pelayanan bagi produk ritel sebelum didistribusikan ke toko eceran.

Operasional GUDANG AIR MINERAL


Aktivitas yang dilakukan pada lokasi kegiatan antara lain :
 Bongkar Muat
Aktivitas bongkar muat dilakukan pada 2 tahap, yakni pada saat barang datang (bongkar
produk dari kendaraan menuju ke gudang penyimpanan) dan pada saat akan dilakukan
distribusi produk (dari gudang dimuat kedalam kendaraan pengangkut). Periode
pendatangan produk direncankan setiap 2 hari sekali.
 Penyimpanan
Penyimpanan produk dilakukan didalam gudang. Penyimpanan produk didalam gudang
dilakukan dengan metode FIFO (First In First Out) (Gambar 18). Prinsip kerja dari
metode ini adalah barang yang masuk pertama akan keluar pertama. Hal ini perlu
menjadi perhatian karena waktu juga akan mempengaruhi kualitas produk (semakin lama
umur produk, kualitasnya akan menurun)

24 | R e n c a n a U s a h a d a n / a t a u K e g i a t a n
Ruko dan Gudang Air Mineral
PerMen LH No. 16 Tahun 2012

Gambar 18. Ilustrasi Sistem Manajemen Gudang secara FIFO

 Pengangkutan produk
Proses pengangkutan harus sesuai dengan Keputusan Direktur Jendral Perhubungan
Darat Nomor : SK.727/AJ.307/DRJD/2004 tentang Pedoman Teknis Penyelenggaraan
Angkutan Barang Umum di Jalan untuk menjamin bahwa pegangkutan barang
dilaksaanakan dengan memperhatikan aspek keselamatan baik manusia, kendaraan,
maupun barang dan kelestarian lingkungan sehingga potensi kecelakaan dan kerusakan
jalan akibat pengangkutan dapat dihindari.

Aktivitas Karyawan dan Tamu


Pada lokasi kegiatan disediakan fasilitas penunjang bagi karyawan seperti tempat
istirahat karyawan (didalam gudang dan ruko) serta kamar mandi. Dari aktivitas
karyawan ini menghasilkan limbah cair domestik, limbah padat domestik, potensi
gangguan keamanan.

25 | R e n c a n a U s a h a d a n / a t a u K e g i a t a n
Ruko dan Gudang Air Mineral