Anda di halaman 1dari 14

1.

Menjelaskan Proses Penyusunan Rencana dan Anggaran Kementrian Negara/


Lembaga
Adapun Proses Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga
(RKA-K/L) menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2004 adalah
sebagai berikut :
1. Kementerian Negara/Lembaga menyusun Rencana Kerja Kementerian Negara/Lembaga
(Renja-K/L) dengan mengacu pada prioritas pembagunan nasional dan pagu indikatif yang
ditetapkan sebelumnya dalam Surat Edaran Bersama Menteri Perencanaan dan Menteri
Keuangan. Penyusunan rencana kerja tersebut dilakukan pada sekitar bulan Januari hingga
bulan April. Rencana kerja tersebut memuat kebijakan, program dan kegiatan yang
dilengkapi sasaran kinerja dengan menggunakan pagu indikatif untuk tahun anggaran yang
sedang berlangsung/disusun dan prakiraan maju untuk tahun anggaran berikutnya. Rencana
Kerja Kementerian Negara/Lembaga tersebut disampaikan kepada Kementerian
Perencanaan.
2. Rencana Kerja Kementerian Negara/Lembaga ini ditelaah oleh Kementerian Perencanaan
yang berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan. Jika terdapat perubahan terhadap
Rencana Kerja Kementerian Negara/Lembaga yang sedang ditelaah tersebut maka dapat
disetujui oleh Kementerian Perencanaan yang berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan
atas usulan Kementerian Negara/Lembaga terkait.
3. Pada pertengahan bulan Juni, Menteri Keuangan memberikan Surat Edaran Menteri
Keuangan tentang Pagu sementara bagi masing-masing program yang ditetapkan dalam
Renja-K/L kepada Menteri/Pimpinan Lembaga untuk kemudian disusun Rencana Kerja dan
Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA-K/L) dengan menyesuaikan antara Renja-K/L
dengan pagu sementara tersebut. Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian
Negara/Lembaga (RKA-K/L) ini dirinci menurut unit organisasi dan kegiatan.
4. Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA-K/L) ini kemudian dibahas oleh
Kementerian/Lembaga bersama-sama dengan Komisi terkait di DPR. Hasil pembahasan
tersebut disampaikan kepada Kementerian Perencanaan paling lambat pertengahan bulan
Juli.
5. Kementerian Perencanaan selanjutnya menelaah kesesuaian antara Rencana Kerja dan
Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA-K/L) hasil pembahasan bersama DPR dengan

1
Rencana Kerja Pemerintah. Sementara Kementerian Keuangan menelaah kesesuaian RKA-
K/L hasil pembahasan tersebut dengan Surat Edaran Menteri Keuangan tentang pagu
sementara, prakiraan maju yang telah disetujui tahun anggaran sebelumnya dan standar biaya
yang telah ditetapkan.
6. Menteri Keuangan menghimpun RKA-K/L yang telah ditelaah untuk selanjutnya bersama-
sama dengan nota keuangan dan Rancangan APBN dibahas dalam Sidang Kabinet.
7. Setelah nota keuangan, Rancangan APBN beserta himpunan RKA-K/L telah dibahas maka
Pemerintah menyampaikannya kepada DPR selambat-lambatnya pertengahan bulan Agustus
untuk dibahas bersama dan lalu ditetapkan menjadi Undang-Undang APBN selambat-
lambatnya pada akhir bulan Oktober.
8. RKA-K/L yang telah disepakati DPR tersebut ditetapkan dalam Keputusan Presiden
(Keppres) tentang Rincian APBN selambat-lambatnya akhir bulan November. Keppres ini
lantas menjadi dasar bagi tiap-tiap Kementerian Negara/Lembaga untuk menyusun konsep
Dokumen Pelaksanaan Anggaran yang akan disampaikan kepada Menteri Keuangan salaku
Bendahara Umum Negara paling lambat minggu kedua bulan Desember. Dokumen
Pelaksanaan Anggaran ini lantas disahkan oleh Menteri Keuangan selambat-lambatnya
tanggal 31 Desember.

2. Siklus Pengelolaan Keuangan Negara ( APBN)


Pengelolaan keuangan negara mengikuti ketentuan dalam paket undang-undang di bidang
Keuangan Negara. Siklus pengelolaan keuangan negara tidak terlepas dengan fungsi-fungsi
manajemen yang dikenal selama ini. alam pengelolaan keuangan negara, fungsi manajemen
tersebut diwujudkan dalam siklus pengelolaan keuangan negara yang terdiri dari: perencanaan,
penganggaran, pelaksanaan anggaran/perbendaharaan, akuntansi, pemeriksaan dan
pertanggungjawaban.
1. Perencanaan

Ketentuan mengenai sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, yang mencakup


penyelenggaraan perencanaan makro atau perencanaan yang berada pada tataran kebijakan
nasional atas semua fungsi pemerintahan dan meliputi semua bidang kehidupan secara
terpadu dalam Wilayah Negara Republik Indonesia diatur dalam UU No. 25 Tahun 2004

2
tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Setidaknya terdapat dua arahan yang
tercakup dalam sistem perencanaan pembangunan nasional, yaitu: arahan dan bimbingan
bagi seluruh elemen bangsa untuk mencapai tujuan bernegara seperti tercantum dalam
Pembukaan UUD 1945 dan arahan bagi pemerintah dalam menjalankan fungsinya untuk
mencapai tujuan pembangunan nasional baik melalui intervensi langsung maupun melalui
pengaturan masyarakat/pasar, yang mana mencakup landasan hukum di bidang perencanaan
pembangunan baik pada Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah.
2. Penganggaran

Penganggaran merupakan suatu proses yang tidak terpisahkan dalam perencanaan.


Penganggaran dalam sistem pengelolaan keuangan negara tergambarkan pada penyusunan
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) atau Anggaran Pendapatan Belanja
Daerah (APBD).

3. Pelaksanaan Anggaran/Perbendaharaan

Pada pemerintah pusat, pelaksanaan APBN dimulai dengan diterbitkannya Daftar Isian
Pelaksanaan Anggaran/DIPA. Segera setelah suatu tahun anggaran dimulai (1 Januari), maka
DIPA harus segera diterbitkan untuk dibagikan kepada satuan-satuan kerja sebagai pengguna
anggaran pada kementerian/lembaga.

4. Pengawasan
Pada era reformasi ini berbagai peraturan perundang-undangan terkait dengan reformasi di
bidang pengelolaan keuangan negara dan otonomi daerah juga berimplikasi terhadap sistem
pengawasan atas pengelolaan keuangan negara. Misalnya dalam penjelasan UU No. 15
Tahun 2004 yang antara lain dinyatakan bahwa untuk mewujudkan perencanaan yang
komprehensif, BPK dapat memanfaatkan hasil pekerjaan Aparat Pengawasan Intern
Pemerintah (APIP).

5. Pemeriksaan
Sesuai dengan Undang-undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Tanggung Jawab
dan Pengelolaan Keuangan Negara, Lembaga yang berwenang untuk melakukan

3
pemeriksaan atas laporan pertanggungjawaban tersebut adalah Badan Pemeriksa Keuangan
(BPK).

6. Pertanggungjawaban
Pemerintah wajib mempertanggungjawabkan pelaksanaan APBN/APBD, baik dalam bentuk
laporan keuangan (financial accountability) maupun laporan kinerja (performance
accountability).

3. Mengklasifikasi dan Menganalisis Laporan Keuangan Pemerintah Pusat


Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (disingkat LKPP) adalah laporan pertanggung-
jawaban pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang terdiri dari Laporan
realisasi anggaran, Neraca, Laporan arus kas dan Catatan atas laporan keuangan yang disusun
sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintah. LKPP diterbitkan setiap tahun, dan pertama kali
diterbitkan pada tahun 2004 sejak Indonesia merdeka sebagai bentuk pertanggungjawaban
keuangan pemerintah. LKPP disusun oleh Direktorat Akuntansi dan Pelaporan Keuangan
Kementerian Keuangan Indonesia.
Komponen LKPP :
Saat ini laporan keuangan pemerintah pusat disusun berdasarkan penerapan akuntansi
basis kas menuju akrual. Pada tahun 2015 penerapan basis akrual akan diberlakukan di Indonesia
sehingga laporan keuangan yang diberi opini oleh Badan Pemeriksa Keuangan adalah yang
berbasis akrual. Komponen laporan keuangan pemerintah berbasis akrual terdiri dari:
1) Laporan Pelaksanaan Anggaran, yang terdiri dari Laporan Realisasi Anggaran dan Laporan
Perubahan Saldo Anggaran Lebih
2) Laporan Finansial, yang terdiri dari Neraca, Laporan Operasional, Laporan Perubahan
Ekuitas dan Laporan Arus Kas. Adapun Laporan Operasional (LO) disusun untuk
melengkapi pelaporan dan siklus akuntansi berbasis akrual sehingga penyusunan LO,
Laporan Perubahan Ekuitas dan Neraca mempunyai keterkaitan yang dapat
dipertanggungjawabkan.
4. Proses Penyusunan Rencana dan Anggaran Pemerintah Daerah (APBD)

1) Pengertian Standar Pelayanan Minimal (SPM)

4
Undang-Undang 32 tahun 2004 pasal 11 (4), menyatakan bahwa penyelenggaraan urusan
pemerintahan yang bersifat wajib yang berpedoman pada Standar Pelayanan Minimal
dilaksanakan secara bertahap dan ditetapkan oleh pemerintah. Di lain pihak Peraturan
Pemerintah (PP) Nomor 58 tahun 2003 pasal 39 ayat (2) menyebutkan bahwa Standar Pelayanan
Minimal merupakan tolok ukur kinerja dalam menentukan pencapaian jenis dan mutu pelayanan
dasar yang merupakan urusan wajib daerah.
Selain itu dalam Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Penyusunan dan
Penerapan Standar Pelayanan Minimal (SPM) ditegaskan bahwa SPM berisi ketentuan tentang
jenis dan mutu pelayanan dasar yang merupakan urusan wajib daerah yang berhak diperoleh
masyarakat secara minimal. Penetapan Standar Pelayanan Minimal (SPM) oleh pemerintah pusat
adalah cara untuk menjamin dan mendukung pelaksanaan urusan wajib oleh pemerintah
provinsi/kabupaten/kota, dan sekaligus merupakan akuntabilitas daerah kepada pemerintah pusat
dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah.
2) Manfaat Penerapan Standar Pelayanan Minimal
Berdasarkan ketentuan yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun
2005, tentang Penyusunan dan Penerapan SPM disebutkan bahwa SPM mempunyai beberapa
manfaat, antara lain:
1. Memberikan jaminan bahwa masyarakat akan menerima suatu pelayanan publik dari
pemerintah daerah sehingga akan meningkatkan kepercayaan masyarakat dan
terjaminnya hak masyarakat untuk menerima suatu pelayanan dasar dari pemerintah
daerah setempat dengan mutu tertentu.
2. Dengan ditetapkannya SPM akan dapat ditentukan jumlah anggaran yang dibutuhkan
untuk menyediakan suatu pelayanan publik, sehingga SPM dapat dijadikan dasar untuk
penentuan kebutuhan pembiayaan daerah;
3. Standar Pelayanan Minimal dapat dipakai sebagai landasan dalam menentukan
perimbangan keuangan dan/atau bantuan lain yang lebih adil dan transparan.
4. Menjadi dasar dalam menentukan anggaran berbasis kinerja. Dalam hal ini SPM dapat
dijadikan dasar dalam menentukan alokasi anggaran daerah dengan tujuan yang lebih
terukur. Di samping itu SPM dapat dijadikan sebagai alat untuk meningkatkan
akuntabilitas Pemerintah Daerah terhadap masyarakat, sebaliknya masyarakat dapat
mengukur sejauh mana pemerintah daerah memenuhi kewajibannya dalam menyediakan
pelayanan publik;

5
5. Sebagai alat ukur bagi kepala daerah dalam melakukan penilaian kinerja yang telah
dilaksanakan oleh unit kerja penyedia suatu pelayanan;
6. Sebagai benchmark untuk mengukur tingkat keberhasilan pemerintah daerah dalam
pelayanan publik;
7. Menjadi dasar bagi pelaksanaan pengawasan yang dilakukan oleh institusi pengawasan;
8. SPM akan dapat memperjelas tugas pokok Pemerintah Daerah dan mendorong
terwujudnya check and balances yang lebih efektif;
9. Mendorong transparansi dan partisipasi masyarakat dalam proses penyelenggaraan
pemerintahan daerah.
3) Prinsip-Prinsip Penerapan Standar Pelayanan Minimal
Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 menyebutkan bahwa prinsip-prinsip
penerapan standar pelayanan minimal sebagai berikut :
1. SPM disusun sebagai alat pemerintah pusat dan pemerintahan daerah untuk menjamin
akses dan mutu pelayanan dasar kepada masyarakat secara merata dalam rangka
penyelenggaraan urusan wajib.
2. SPM ditetapkan oleh Pemerintah Pusat dan diberlakukan untuk Pemerintah dan
Pemerintahan Daerah (provinsi, kabupaten /kota);
3. Penerapan Standar Pelayanan Minimal oleh Pemerintahan Daerah merupakan bagian dari
penyelenggaraan pelayanan dasar nasional;
4. SPM bersifat sederhana, konkrit, mudah diukur, terbuka, terjangkau dan dapat
dipertanggungjawabkan, serta mempunyai batas waktu pencapaian;
5. SPM harus dijadikan acuan dalam perencanaan daerah, penganggaran, pengawasan,
pelaporan dan sebagai alat untuk menilai pencapaian kinerja;
6. SPM harus fleksibel dan mudah disesuaikan dengan perkembangan kebutuhan, prioritas
dan kemampuan kelembagaan serta personil daerah dalam bidang yang bersangkutan.
3) Kebijakan Umum APBD serta Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS)

Suatu jembatan antara proses perumusan kebijakan dan penganggaran merupakan hal
penting dan mendasar agar kebijakan menjadi realitas dan bukannya hanya sekedar harapan.
Untuk tujuan ini harus ditetapkan setidaknya dua aturan yang jelas:
1. Implikasi dari perubahan kebijakan (kebijakan yang diusulkan) terhadap sumber daya harus
dapat diidentifikasi, meskipun dalam estimasi yang kasar, sebelum kebijakan ditetapkan.
Suatu entitas yang mengajukan kebijakan baru harus dapat menghitung pengaruhnya
terhadap pengeluaran publik, baik pengaruhnya terhadap pengeluaran sendiri maupun
terhadap departemen pemerintah yang lain.

6
2. Semua proposal harus dibicarakan/dikonsultasikan dan dikoordinasikan dengan para pihak
terkait: Ketua TAPD, Kepala Bappeda dan Kepala SKPD.
4) Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran SKPD (RKA-SKPD)
Menurut Pasal 89 ayat (3) Permendagri Nomor 13 Tahun 2006, setelah ada Nota
Kesepakatan tersebut di atas Tim Anggaran (TAPD) menyiapkan surat edaran kepala daerah
tentang Pedoman Penyusunan RKA-SKPD yang harus diterbitkan paling lambat awal bulan
Agustus tahun anggaran berjalan. Sementara itu, penyusunan anggaran dilakukan dengan tiga
pendekatan, yaitu pendekatan kerangka pengeluaran jangka menengah (KPJM), pendekatan
anggaran terpadu, dan pendekatan anggaran kinerja. Pendekatan penganggaran berdasarkan
prestasi kerja dilaksanakan dengan memperhatikan keterkaitan antara pendanaan dan keluaran
yang diharapkan dari kegiatan dengan hasil kerja dan manfaat yang diharapkan termasuk
efisiensi dalam pencapaian hasil dan keluaran tersebut. Anggaran Berbasis Kinerja ini disusun
berdasarkan pada: 1) Indikator kinerja; 2) Capaian atau target kinerja; 3) Analisis standar belanja
(ASB); 4) Standar satuan kerja; dan 5) Standar pelayanan minimal.
Dokumen penyusunan anggaran yang disampaikan oleh masing-masing satuan kerja
perangkat daerah (SKPD) yang disusun dalam format Rencana Kerja dan Anggaran (RKA)
SKPD harus betul-betul dapat menyajikan informasi yang jelas tentang tujuan, sasaran, serta
korelasi antara besaran anggaran (beban kerja dan harga satuan) dengan manfaat dan hasil yang
ingin dicapai atau diperoleh masyarakat dari suatu kegiatan yang dianggarkan.
Penyiapan Raperda APBD
RKA-SKPD yang telah disusun, dibahas, dan disepakati bersama antara Kepala SKPD dan
Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) digunakan sebagai dasar untuk penyiapan Raperda
APBD. Raperda ini disusun oleh pejabat pengelola keuangan daerah yang untuk selanjutnya
disampaikan kepada kepala daerah.
Raperda tentang APBD harus dilengkapi dengan lampiran-lampiran berikut ini:
1. ringkasan APBD menurut urusan wajib dan urusan pilihan;
2. ringkasan APBD menurut urusan pemerintahan daerah dan organisasi;
3. rincian APBD menurut urusan pemerintahan daerah, organisasi, pendapatan, belanja,
dan pembiayaan;
4. rekapitulasi belanja menurut urusan pemerintahan daerah, organisasi, program, dan
kegiatan;
5. rekapitulasi belanja daerah untuk keselarasan dan keterpaduan urusan pemerintahan
daerah dan fungsi dalam kerangka pengelolaan keuangan negara;

7
6. daftar jumlah pegawai per-golongan dan per-jabatan;
7. daftar piutang daerah;
8. daftar penyertaan modal (investasi) daerah;
9. daftar perkiraan penambahan dan pengurangan aset tetap daerah;
10. daftar perkiraan penambahan dan pengurangan aset-aset lain;
11. daftar kegiatan-kegiatan tahun anggaran sebelumnya yang belum diselesaikan dan
dianggarkan kembali dalam tahun anggaran ini;
12. dafar dana cadangan daerah; dan
13. daftar penjaman daerah.
Suatu hal penting yang harus diperhatikan adalah bahwa sebelum disampaikan dan dibahas
dengan DPRD, Raperda tersebut harus disosialisasikan terlebih dahulu kepada masyarakat yang
bersifat memberikan informasi tentang hak dan kewajiban pemerintah daerah serta masyarakat
dalam pelaksanaan APBD pada tahun anggaran yang direncanakan. Penyebarluasan dan/atau
sosialisasi tentang Raperda APBD ini dilaksanakan oleh Sekretaris Daerah selaku koordinator
pengelola keuangan daerah.

5. Siklus Pengelolaan Keuangan Daerah (APBD)


Proses Penyusunan APBD di pemerintah daerah
Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah selalu diatur dengan peraturan
perundang-undangan dalam pembuatannya. Dimulai dengan Undang-undang 17 Tahun 2003
tentang Keuangan Negara, kemudian diperjelas dengan Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun
2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, serta diarahkan pelaksanaannya dengan
Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Selain itu,
setiap Tahunnya Pemerintah melalui Menteri Dalam Negeri mengeluarkan Permendagri tentang
Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah untuk tahun anggaran
berikutnya.
Penyusunan anggaran di daerah telah diatur dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri
nomor 13 Tahun 2006 yang disajikan dalam bentuk tabel berikut (Lampiran). Pemerintah
Daerah mempunyai jadwal penyusunan anggaran yang disusun oleh Bappeda dengan tetap
berpedoman pada Permendagri tersebut. Namun dalam pelaksanaannya pemerintah daerah
sering kali mundur dari jadwal yang telah diatur oleh peraturan perundang-undangan.
Mundurnya jadwal penyusunan anggaran di pemerintah Daerah sering kali disebabkan oleh
pembahasan perubahan APBD Tahun berjalan yaitu APBD tahun sebelumnya sehingga melebihi

8
waktu yang telah diatur. Pembahasan perubahan APBD tersebut secara otomatis akan
mempengaruhi jadwal penyusunan APBD untuk tahun selanjutnya karena semua tahapan dalam
penyusunan anggaran akan mundur dari jadwal yang telah diatur dalam Permendagri 13 tahun
2006. Penyebab dari lamanya pembahasan perubahan APBD tahun sebelumnya ini adalah karena
setiap SKPD mengajukan perubahan kegiatan yang melebihi anggaran daerah yang tersedia,
selain itu adanya ketidaksesuaian antara program dan kegiatan perubahan yang tidak sesuai
dengan pos anggaran yang ada, apakah masuk di SiLPA, Dana Otonomi Khusus, Dana
Perimbangan, dll.
Salah satu fungsi dari anggaran adalah sebagai instrumen politik. Dengan anggaran akan
menunjukkan bargaining eksekutif dalam mengelola anggaran tersebut. Akan tetapi bargaining
eksekutif tersebut harus sesuai dengan tuntutan kebutuhan publik yang tentunya diawali oleh
legislatif. Hal tersebut akan terjadi pada saat pembahasan Raperda bersama DPRD.

Siklus pelaksanaan APBD (penatausahaan keuangan daerah)


Penyelenggara pemerintahan adalah Presiden dibartu oleh (satu) orang wakil Presiden, dan
oleh menteri negara. Penyelenggara pemerintahan daerah adalah pemerintah daerah dan DPRD.
Rancangan peraturan daerah tentang APBD dan rancangan peraturan daerah tentang penjabaran
APBD yang telah dievaluasi ditetapkan oleh kepala daerah menjadi peraturan daerah tentang
APBD dan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD. Penetapan rancangan peraturan
daerah tentang APBD dan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD dilakukan paling
lambat tanggal 31 Desember tahun anggaran sebelumnya.
PPKD paling lama 3 (tiga) hari kerja setelah peraturan daerah tentang APBD ditetapkan,
memberitahukan kepada semua kepala SKPD agar menyusun rancangan DPA-SKPD. Rancangan
DPA-SKPD merinci sasaran yang hendak dicapai, program, kegiatan, anggaran yang disediakan
untuk mencapai sasaran tersebut, dan rencana penarikan dana tiap-tiap SKPD serta pendapatan
yang diperkirakan. Kepala SKPD menyerahkan rancangan DPA-SKPD kepada PPKD paling
lama 6 (enam) hari kerja setelah pemberitahuan. TAPD melakukan verifikasi rancangan DPA-
SKPD bersama-sama dengan kepala SKPD paling lama 15 (lima belas) hari sejak ditetapkannya
peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD. Berdasarkan hasil verifikasi, PPKD
mengesahkan rancangan DPA-SKPD dengan persetujuan sekretaris daerah. DPA-SKPD yang
telah disahkan disampaikan kepada kepala SKPD, satuan kerja pengawasan daerah , dan Badan

9
Pemeriksa Keuangan paling lama 7 (tujuh) hari kerja sejak tanggal disahkan. DPA-SKPD
digunakan sebagai dasar pelaksanaan anggaran oleh kepala SKPD selaku pengguna
anggaran/pengguna barang.
Kepala SKPD berdasarkan rancangan DPA-SKPD menyusun rancangan anggaran SKPD.
Rancangan anggaran kas SKPD disampaikan kepada PPKD selaku BUD bersamaan dengan
rancangan DPA-SKPD. Pembahasan rancangan anggaran kas SKPD dilaksanakan bersamaan
dengan pembahasan DPA-SKPD. PPKD selaku BUD menyusun anggaran kas pemerintah daerah
guna mengatur ketersediaan dana yang cukup untuk mendanai pengeluaran-pengeluaran sesuai
dengan rencana penarikan dana yang tercantum dalam DPA-SKPD yang telah disahkan.
Anggaran kas memuat perkiraan arus kas masuk dan perrkiraan arus kas keluar yang digunakan
guna mendanai pelaksanaan kegiatan dalam setiap periode. Siklus penatausahaan penerimaan
keuangan daerah terdiri atas dua siklus yaitu siklus penatausahaan penerimaan keuangan daerah
dan siklus penatausahaan pengeluaran keuangan daerah.
1. Siklus Penatausahaan Penerimaan Keuangan Daerah
Penerimaan daerah dianggap sah jika penerimaan daerah disetor ke rekening kas umum daerah
pada bank pemerintah yang ditunjuk dan dianggap sah setelah kuasa BUD menerima nota kredit.
Penerimaan daerah yang disetor ke rekening kas umum daerah, dilakukan dengan cara:
a. Disetor langsung ke bank oleh pihak ketiga
b. Disetor melalui bank lain, badan, lembaga keuangan dan/atau kantor pos oleh pihak
ketiga
c. Disetor melalui bendahara penerimaan oleh pihak ketiga
2. Siklus Penatausahaan Pengeluaran Keuangan Daerah
Setelah penetapan anggaran kas, PPKD dalam rangka manajemen kas menerbitkan SPD. SPD
disiapkan oleh kuasa BUD untuk ditandatangani oleh PPKD. Pengeluaran kas atas beban APBD
dilakukan berdasarkan SPD atau dokumen lain yang dipersamakan dengan SPD. Berdasarkan
SPD atau dokumen lain yang dipersamakan dengan SPD, bendahara pengeluaran mengajukan
SPP kepada pengguna anggaran/ kuasa pengguna anggaran melalui PPK-SKPD. SPP terdiri dari:
SPP Uang Persediaan (SPP-UP), SPP Ganti Uang (SPP-GU), SPP Tambahan Uang (SPP-TU),
dan SPP Langsung (SPP-LS).
Siklus perubahan APBD

10
Faktor-faktor penyebab perubahan APBD antara lain perkembangan yang tidak sesuai
dengan asumsi KUA, keadaan yang menyebabkan harus dilakukan pergeseran anggaran antar
unit organisasi, antar kegiatan, dan antar jenis kegiatan, keadaan yang mengakibatkan saldo
anggaran lebih tahun sebelumnya harus digunakan dalam tahun berjalan, keadaan darurat dan
kondisi luar biasa. Tahapan perubahan APBD :
a. Penyiapan Raperda perubahan APBD RKA-SKPD yang memuat program dan kegiatan
baru dan DPA-SKPD yang akan dianggarkan dalam perubahan APBD yang telah disusun
oleh SKPD disampaikan kepada PPKD untuk dibahas lanjut oleh TAPD
b. Dalam hasil pembahasan RKA-SKPD dan DPA-SKPD yang memuat program dan
kegiatan yang akan dianggarkan dalam perubahan APBD terdapat ketidaksesuaian
ketentuan, SKPD melakukan penyempurnaan.

Siklus pelaporan dan pertanggungjawaban (akuntansi)


Terdapat empat sistem dan prosedur akuntansi yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah:
1. Sistem dan prosedur akuntansi penerimaan kas meliputi serangkaian proses mulai dari
pencatatan, pengikhtisaran, sampai dengan pelaporan keuangan yang berkaitan dengan
penerimaan kas dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD.

2. Sistem dan prosedur akuntansi pengeluaran kas meliputi serangkaian proses mulai dari
pencatatan, pengikhtisaran, sampai dengan pelaporan keuangan yang berkaitan dengan
penerimaan kas dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD.

3. Sistem dan prosedur akuntansi aset pada SKPD meliputi pencatatan dan pelaporan,
pemeliharaan, rehabilitasi, perubahan klasifikasi, dan penyusutan terhadap aset tetap yang
dikuasai/digunakan pemerintah daerah.

4. Sistem dan prosedur akuntansi selain kas meliputi serangkaian proses mulai dari
pencatatan, pengikhtisaran, sampai dengan pelaporan keuangan yang berkaitan dengan
semua transaksi atau kejadian selain kas.
Dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD, entitas pelaporan menyusun laporan
keuangan yang meliputi : laporan realisasi anggaran, neraca, laporan arus kas, dan catatan atas
laporan keuangan.

11
Laporan keuangan pemerintah daerah disampaikan kepada kepala daerah melalui
sekretaris daerah selaku koordinator pengelolaan keuangan daerah dalam rangka memenuhi
pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. Laporan keuangan diserahkan kepada BPK untuk
dilakukan pemeriksaan paling lambat 3 (tiga) bulan setelah tahun anggaran berakhir. Kepala
daerah melakukan tanggapan dan melaksanakan penyesuaian terhadap laporan keuangan
pemerintah daerah berdasarkan hasil pemeriksaan BPK.
Pemeriksaan BPK
UUD 1945 secara jelas menyatakan bahwa untuk memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab
keuangan negara diadakan satuBadan Pemeriksa Keuangan. Pemeriksaan tersebut mencakup
seluruh unsur keuangan negara sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 Undang-Undang Nomor 17
Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.

6. Mengklasifikasi dan Menganalisis Laporan Keuangan Pemerintah Daerah


Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 71 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan
(SAP), Komponen-komponen yang terdapat dalam satu set laporan keuangan berbasis akrual
terdiri dari laporan pelaksanaan anggaran (budgetary reports) dan laporan finansial, yang jika
diuraikan adalah laporan realisasi anggaran, laporan perubahan saldo anggaran lebih, laporan
operasional, laporan perubahan entitas, neraca, laporan arus kas dan catatan atas laporan
keuangan.
Laporan pelaksanaan anggaran adalah Laporan Realisasi Anggaran dan Laporan
Perubahan Saldo Anggaran Lebih, sedangkan yang termasuk laporan finansial adalah Laporan
Operasional, Laporan Perubahan Ekuitas, Neraca dan Laporan Arus Kas. Komponen-komponen
laporan keuangan tersebut disajikan oleh setiap entitas pelaporan, kecuali Laporan Arus Kas
yang hanya disajikan oleh entitas yang mempunyai fungsi perbendaharaan umum, dan Laporan
Perubahan Saldo Anggaran Lebih yang hanya disajikan oleh Bendahara Umum Negara dan
entitas pelaporan yang menyusun laporan keuangan konsolidasinya.
A. Laporan Realisasi Anggaran
Laporan Realisasi Anggaran (LRA) menyediakan informasi mengenai anggaran dan
realisasi pendapatan-LRA, belanja, transfer, surplus/defisit-LRA, dan pembiayaan dari suatu
entitas pelaporan. Informasi tersebut berguna bagi para pengguna laporan dalam mengevaluasi
keputusan mengenai alokasi sumber-sumber daya ekonomi, akuntabilitas dan ketaatan entitas

12
pelaporan terhadap anggaran. LRA menyediakan informasi yang berguna dalam memprediksi
sumber daya ekonomi yang akan diterima untuk mendanai kegiatan pemerintah pusat dan daerah
dalam periode mendatang dengan cara menyajikan laporan secara komparatif. Penyusunan dan
penyajian LRA didasarkan pada akuntansi anggaran, akuntansi pendapatan-LRA, akuntansi
belanja, akuntansi surplus/ defisit, akuntansi pembiayaan dan akuntansi sisa lebih/kurang
pembiayaan anggaran (SiLPA/SiKPA), yang mana berdasar pada basis kas.
B. Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih
Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih (LP-SAL) menyajikan pos-pos berikut, yaitu:
saldo anggaran lebih awal (saldo tahun sebelumnya), penggunaan saldo anggaran lebih, Sisa
Lebih/Kurang Pembiayaan Anggaran (SILPA/SIKPA) tahun berjalan, koreksi kesalahan
pembukuan tahun sebelumnya, lain-lain dan Saldo anggaran lebih akhir untuk periode berjalan.
Pos-pos tersebut disajikan secara komparatif dengan periode sebelumnya. LP-SAL dimaksudkan
untuk memberikan ringkasan atas pemanfaatan saldo anggaran dan pembiayaan pemerintah,
sehingga suatu entitas pelaporan harus menyajikan rincian lebih lanjut dari unsur-unsur yang
terdapat dalam LP-SAL dalam Catatan atas Laporan Keuangan. Struktur LP-SAL baik pada
Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota tidak memiliki
perbedaan.
C. Laporan Operasional
Laporan Operasional (LO) menyediakan informasi mengenai seluruh kegiatan
operasional keuangan entitas pelaporan yang tercerminkan dalam pendapatan-LO, beban, dan
surplus/defisit operasional dari suatu entitas pelaporan yang penyajiannya disandingkan dengan
periode sebelumnya. Pengguna laporan membutuhkan Laporan Operasional dalam mengevaluasi
pendapatan-LO dan beban untuk menjalankan suatu unit atau seluruh entitas pemerintahan.
Berkaitan dengan kebutuhan pengguna tersebut, Laporan Operasional menyediakan informasi
sebagai berikut:
1. Mengenai besarnya beban yang harus ditanggung oleh pemerintah untuk menjalankan
pelayanan;

2. Mengenai operasi keuangan secara menyeluruh yang berguna dalam mengevaluasi


kinerja pemerintah dalam hal efisiensi, efektivitas, dan kehematan perolehan dan
penggunaan sumber daya ekonomi;

13
3. Yang berguna dalam memprediksi pendapatan-LO yang akan diterima untuk mendanai
kegiatan pemerintah pusat dan daerah dalam periode mendatang dengan cara menyajikan
laporan secara komparatif;

4. Mengenai penurunan ekuitas (bila defisit operasional), dan peningkatan ekuitas (bila
surplus operasional).
D. Laporan Perubahan Ekuitas
Laporan Perubahan Ekuitas menyajikan sekurang-kurangnya pos-pos Ekuitas awal atau
ekuitas tahun sebelumnya, Surplus/defisit-LO pada periode bersangkutan dan koreksi-koreksi
yang langsung menambah/mengurangi ekuitas, yang antara lain berasal dari dampak kumulatif
yang disebabkan oleh perubahan kebijakan akuntansi dan koreksi kesalahan mendasar, misalnya:
1. Koreksi kesalahan mendasar dari persediaan yang terjadi pada periode-periode
sebelumnya;
2. Perubahan nilai aset tetap karena revaluasi aset tetap.
E. Neraca
Neraca menggambarkan posisi keuangan suatu entitas pelaporan mengenai aset, kewajiban,
dan ekuitas pada tanggal tertentu. Dalam neraca, setiap entitas mengklasifikasikan asetnya
dalam aset lancar dan nonlancar serta mengklasifikasikan kewajibannya menjadi kewajiban
jangka pendek dan jangka panjang.Apabila suatu entitas memiliki aset/barang yang akan
digunakan dalam menjalankan kegiatan pemerintahan, dengan adanya klasifikasi terpisah antara
aset lancar dan nonlancar dalam neraca maka akan memberikan informasi mengenai aset/barang
yang akan digunakan dalam periode akuntansi berikutnya (aset lancar) dan yang akan digunakan
untuk keperluan jangka panjang (aset nonlancar).Konsekuensi dari penggunaan sistem berbasis
akrual pada penyusunan neraca menyebabkan setiap entitas pelaporan harus mengungkapkan
setiap pos aset dan kewajiban yang mencakup jumlah-jumlah yang diharapkan akan diterima
atau dibayar dalam waktu 12 (dua belas) bulan setelah tanggal pelaporan dan jumlah-jumlah
yang diharapkan akan diterima atau dibayar dalam waktu lebih dari 12 (dua belas) bulan.

14