Anda di halaman 1dari 3

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Manusia merupakan makhluk yang paling istimewa yang diciptakan oleh

Allah Ta’ala di muka bumi ini. Dalam sudut pandang Islam, manusia mempunyai

potensi-potensi dasar yang sangat mendukung dalam kemajuan pendidikan terutama

pendidikan Agama Islam. Manusia dilahirkan dalam keadaan lemah, fisik maupun

psikis, walaupun dalam keadaan yang demikian ia telah memiliki kemampuan


bawaan yang bersifat laten.1 Hal tersebut sebagaimana firman allah swt. dalam QS ar-

Ru>m/30: 30

  


   
  
   
   
 
   
 
Terjemahnya:

Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas)
fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada
peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan
manusia tidak mengetahui

Pengertian di atas, bahwa manusia terlahir dalam keadaan bernaluri ke-

Tuhanan Yang Mahaesa lebih jelas dapat disimak dalam surat menyatakan bahwa

semua manusia itu diciptakan berdasarkan fitrahnya, yaitu naluri beragama/tauhid.

Sebagaimana disebutkan dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Adim, al-Hafidz Ibn Katsir

1
Jalaluddin, Psikologi Agama: Memahami Perilaku dengan Mengaplikasikan Prinsip-prinsip Psikologi
(Cet. XVIII: Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2016), h. 55.
mengatakan: sesungguhnya Allah swt. menciptakan manusia dalam keadaan ma’rifat

kepada-Nya, mentauhidkanNya dan bahwasanya tidak ada tuhan selain Dia,

sebagaimana firmanNya: “Dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka

(seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhamu?, mereka menjawab: Benar (Engkau

tuhan kami)”.2

Dalam kerangka psikoanalisis Eric Fromm menyatakan, bahwa manusia itu

selalu ditarik oleh unsur jasmaniah dan rohaniahnya sekaligus. Dengan kata lain, dua
unsur kehidupan manusia, jasmani dan rohani selalu tarik menarik. Inilah yang

menimbulkan ketimpangan (disharmoni).

Salah satu kelebihan manusia sebagai makhluk Allah swt adalah dianugerahi

fitrah (potensi) untuk mengenal Allah swt dan melakukan ajaran-Nya. Dalam kata

lain, manusia dikaruniani insting religius (naluri keagamaan). Fitrah agama ini

merupakan disposisi (kemampuan dasar) yang mengandung kemungkinan atau

berpeluang untuk berkembang. Namun, mengenal arah dan kualitas perkembangan

anak sangat tergantung kepada proses pembinaan dan pendidikan yang diterimanya

maupun lingkungan pergaulan serta pengalaman hidup yang dilaluinya.

Hal ini sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi Muhammad saw. dalam
hadis berikut:

‫ع ْن أ َ ِبي‬
َ ‫ع ْن َه َّم ٍام‬ َ ‫ق أ َ ْخ َب َرنَا َم ْع َم ٌر‬ َّ ُ ‫يم أ َ ْخبَ َرنَا َع ْبد‬
ِ ‫الر َّزا‬ ُ ‫َحدَّثَنِي إِ ْس َح‬
َ ‫اق ب ُْن إِب َْرا ِه‬
ْ ‫ع َلى ْال ِف‬
ِ‫ط َرة‬ َ ُ ‫سلَّ َم َما ِم ْن َم ْولُو ٍد إِ ََّّل يُولَد‬
َ ‫علَ ْي ِه َو‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ُ‫َّللا‬ َ ِ‫َّللا‬َّ ‫سو ُل‬ ُ ‫ُه َري َْرة َ قَا َل قَا َل َر‬
‫عا َء َحتَّى ت َ ُكونُوا‬ َ ‫َص َرانِ ِه َك َما ت ُ ْن ِت ُجونَ ْالبَ ِهي َمةَ ه َْل ت َ ِجدُونَ ِفي َها ِم ْن َج ْد‬
ِ ‫فَأَبَ َواهُ يُ َه ِودَانِ ِه َويُن‬
‫َّللاُ أ َ ْعلَ ُم بِ َما‬
َّ ‫ير قَا َل‬ ٌ ‫ص ِغ‬َ ‫ْت َم ْن َي ُموتُ َو ُه َو‬ َ ‫َّللاِ أَفَ َرأَي‬
َّ ‫سو َل‬ ُ ‫عونَ َها قَالُوا يَا َر‬ ُ َ‫أ َ ْنت ُ ْم ت َ ْجد‬
3
)‫املِينَ (رواه البخاري‬ ِ ‫ع‬ َ ‫َكانُوا‬
2
Imaduddin Ibn Kasir, Tafsir al-Qur’an al-‘Adim, Jilid I (Beirut : Dar al-Fikr, 1970), 358.
3
Faathul bari 6599 kitab kadar bab alla tahu ap yg kamu kerjakan
Artinya:

Telah menceritakan kepadaku [Ishaq bin Ibrahim] Telah memberitakan ekpada


kami [Abdurrazaq] telah mengabarkan kepada kami [Ma'mar] dari [Hammam]
dari [Abu Hurairah] mengatakan, Rasulullah saw. bersabda: "Tak ada bayi yang
dilahirkan selain dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orangtuanyalah
yang menjadikannya yahudi atau nashrani, sebagaimana kalian memperanakkan
hewan, adakah kalian dapatkan diantaranya ada yang terpotong hidungnya
hingga kalian yang memotongnya sendiri?" Mereka bertanya; "Wahai
Rasulullah, bagaimana pendapatmu perihal mereka yang mati saat masih
kecil?" Nabi menjawab; "Allah lebih tahu yang mereka kerjakan."
Hadis tersebut mengisyaratkan bahwa faktor lingkungan dan pendidikan,

terutama orang tua, sangat berperan dalam mempengaruhi perkembangan fitrah

keberagamaan anak. Jadi untuk itu dalam makalah ini akan membahas tentang sifat

dan proses perkembangan jiwa agama pada anak.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan diatas dapat
dirumuskan masalahnya adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana Timbulnya jiwa keagamaan pada anak?
2. Bagaimana perkembangan jiwa agama pada anak?
3. Bagaimana sifat-sifat agama pada anak?
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah:
1. Mengetahui bagaimana timbulnya jiwa keagamaan pada anak.
2. Mengetahui bagaimana perkembangan jiwa agama pada anak.
3. Mengetahui bagaimana sifat-sifat agama pada anak.