Anda di halaman 1dari 16

ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DENGAN KRISIS

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Kuliah Keperawatan Gerontik


Dosen Pengampu: Ns. Alfeus Manuntung ,S.Kep., M.Kep.

Disusun oleh: Kelompok III


Ika Ulya Cahyani Putri : NIM. PO.62.20.16.145
Irda Ayu Sundah : NIM. PO.62.20.16.147
Julyanto Putra Atmadja : NIM. PO.62.20.16.148
Krisdayanti : NIM. PO.62.20.16.149
Kristanti Monika Sari : NIM. PO.62.20.16.150
Luter King James : NIM. PO.62.20.16.151
M. Dilah Rasit : NIM. PO.62.20.16.152
Monika Yayu : NIM. PO.62.20.16.153
Muhammad Sidik : NIM. PO.62.20.16.154
Nurul Fitria Oktaviani : NIM. PO.62.20.16.155
Ratih Emasia Putri : NIM. PO.62.20.16.156
Raupini : NIM. PO.62.20.16.157

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PALANGKA RAYA


DIV KEPERAWATAN REGULER III
2018

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas Kasih dan KaruniaNya
sehingga saya dapat menyelesaikan laporan tentang “Asuhan Keperawatan Pada
Lansia Dengan Krisis”.
Laporan ini telah saya susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan
dari berbagai pihak dan buku sehingga dapat memperlancar pembuatan laporan
ini. Untuk itu saya menyampaikan banyak terima kasih untuk semua yang telah
berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, saya menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena
itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca
agar saya dapat memperbaiki laporan ini.
Akhir kata saya berharap laporan ini dapat memberikan sumbangan
pikiran, manfaat maupun inspirasi terhadap pembaca.

Palangka Raya, Maret 2018

Kelompok III

ii
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN DEPAN
KATA PENGANTAR ........................................................................................... ii
DAFTAR ISI ......................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................1


1. Latar Belakang .........................................................................................1
2. Tujuan ......................................................................................................1
a. Tujuan Umum ...........................................................................1
b. Tujuan khusus ...........................................................................2

BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................3


1. Pengertian ...............................................................................................3
2. Klasifikasi ..............................................................................................4
3. Etiologi ...................................................................................................4
4. Tanda dan Gejala....................................................................................5
5. Asuhan Keperawatan .............................................................................7
a. Pengkajian .................................................................................7
b. Diagnosa .................................................................................10
c. Intervensi.................................................................................10
d. implementasi ...........................................................................11
e. Evaluasi ...................................................................................12
Daftar pustaka

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Dalam kehidupan, manusia harus mengatasi masalah terus menerus untuk
menjaga keseimbangan atau balance antara stress dan mekanisme koping.
Jika hal ini tidak bisa seimbang maka akan bisa terjadi krisis. Krisis
merupakan bagian dari kehidupan yang dapat terjadi dalam bentuk yang
berbeda–beda, dengan penyebab yang berbeda, dan bisa eksternal atau
internal.
Dalam ilmu keperawatan jiwa masalah krisis yang dimaksud yaitu suatu
kejadian atau peristiwa yang terjadi secara tiba – tiba dalam kehidupan
seseorang yang mengganggu keseimbangan selama mekanisme koping
individu tersebut tidak dapat memecahkan masalah. Mekanisme koping yang
biasa digunakan individu sudah tidak efektif lagi untuk mengatasi ancaman
dan individu tersebut mengalami suatu keadaan tidak seimbang disertai
peningkatan ansietas. Ancaman atau peristiwa pemicu, biasanya dapat di
identifikasikan.
Krisis mempunyai keterbatasan waktu dan konflik berat yang ditunjukkan
menyebabkan peningkatan ansietas. Konflik berat yang ditunjukkan dapat
merupakan perode peningkatan kerentanan yang dapat menstimulasi
pertumbuhan personal. Konsep krisis di asosisasikan dengan respon potensi
yang adaptif, dan basanya tidak berkaitan dengan sakit, disisi lain konsep
stress sering di hubungkan dengan konotasi negatif atau resko tinggi untuk
sakit.
Dalam hal ini intervensi krisis merupakan pendekatan yang relatif baru dalam
mencegah gangguan jiwa dengan fokus pada penemuan kasus secara dini dan
mencegah dampak lebih jauh dari stress, hal ini dilaksanakan dengan kerja
sama dan interdisiplin dalam mencegah dan meningkatkan kesehatan mental.
Oleh karena itu diperlukan tenaga keperawatan yang memiliki kemampuan
dalam membuat asuhan keperawatan lansia dengan krisis.

1
2. Tujuan
1. Tujuan Umum
Tujuan umum dalam penulisan laporan ini adalah untuk
mengetahui teori tentang Lansia dengan Krisis serta Asuhan
Keperawatan Pada Lansia Dengan Krisis.

2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui pengertian Lansia dengan Krisis
b. Mengetahui klasifikasi Lansia dengan Krisis
c. Mengetahui Etiologi Lansia dengan Krisis
d. Mengetahui Tanda dan Gejala Lansia dengan Krisis
e. Mengetahui Asuhan Keperawatan Lansia dengan Krisis

2
BAB II
PEMBAHASAN

1. Pengertian
Lansia menurut Setianto, 2004 adalah Seseorang dikatakan lanjut usia (lansia)
apabila usianya 65 tahun keatas.
Lansia (Pudjiastuti, 2003) merupakan tahap lanjut dari suatu proses kehidupan
yang ditandai dengan penurunan kemampuan tubuh untuk beradaptasi dengan
stres lingkungan.
Lansia menurut BKKBN, 1995 yaitu Individu yang berusia diatas 60 tahun, pada
umumnya memiliki tanda-tanda terjadinya penurunan fungsi-fungsi biologis,
psikologis, sosial, ekonomi.
Krisis perkembangan terjadi sebagai respons terhadap transisi dari satu tahap
maturasi ke tahap lain dalam siklus kehidupan (misalnya., beranjak dari manja ke
dewasa). .
Krisis situasional terjadi sebagai respons terhadap kejadian yang tiba-tiba dan tidak
terduga dalam kehidupan seseorang. Kejadian tersebut biasanya berkaitan dengan
pengalaman kehilangan (misalnya., kematian orang yang dicintai).
Krisis adventisius terjadi sebagai respons terhadap trauma berat atau bencana alam.
Krisis ini dapat memengaruhi individu, masyarakat, bahkan negara.
“Krisis adalah gangguan internal yang diakibatkan oleh peristiwa menegangkan
atau ancaman yang dirasakan pada diri individu. Mekanisme yang biasa
digunakan individu sudah tidak efektif lagi untuk mengatasi ancaman dan
individu tersebut mengalami suatu keadan tidak seimbang disertai peningkatan
ansietas.” (Iyus Yosep, 2013) Krisis adalah gangguan internal yang diakibatkan
oleh suatu keadaan yang dapat menimbulkan stres, dan dirasakan sebagai
ancaman bagi individu. Krisis terjadi jika seseorang mengalami hambatan dalam
mencapai tujuan hidup yang penting dan tidak dapat diatasi dengan penggunaan
metode pemecahan masalah (koping) yang biasa digunakan.
Banyak orang menyebut krisis tahap ini dengan puber kedua. Apa
maksudnya, kalau secara fisik ini salah kapra karena istilah puber berasal
dari kata latin “pubescere” yang berarti seseorang mulai mendapatkan
pubes atau rambut kemaluan sebagai tanda kelamin sekunder yang
memungkinkan perkembangan seksual, (usia 12-16 tahun). (Siti Rahayu
Haditomo, Moules Knours, 1992:256). Namun bila Secara emosional ya

3
karena berbagai gelombang emosi dialami oleh pria maupun wanita yang
berusia tengah baya walaupun tidak sederas krisis tahap pertama ketika
berusia 14 tahun.
Krisis adalah masa gawat, genting dan kemelut (Kamus Inggris-
Indonesia). Wright dan Davis segala sesuatu yang memaksa adanya
perubahan, dan mengalami titik balik dalam sesuatu. (1993:11).
Jadi, dapat disimpulkan bahwa krisis merupakan goncangan atau gejolak
sebagai akibat perubahan yang terjadi, baik yang berdampak pada pikiran,
emosi maupun tingkahlakunya, aspek spiritual dan fisiknya. Pria maupun
wanita akan mengalami krisis bila memasuki usia tengah baya karena
perubahan yang terjadi, dari usia pemuda ke usia lanjut. Goncangan-
goncangan ini seringkali drastis, sering juga halus tergantung pada
pengalaman-pengalaman sebelumnya. Hammer mengatakan bahwa setiap
tujuh tahun, kita mengalami perubahan disertai dengan krisis-krisis
kehidupan, usia 1-7 tahun, 8-14 tahun dan 15-22tahun. (1988:10).
Rentang usia tengah baya berkisar 35 thn-55 thn. Dewasa lanjut usia 55-
70 tahun.

2. Klasifikasi
Krisis terjadi melalui empat fase, yaitu sebagai berikut:

a. Fase I : Ansietas meningkat sehngga muncul stimulus


individu untuk menggunakan koping yang biasa dipakai.
b. Fase II : Ansietas lebih meningkat karena koping yang
digunakan gagal
c. Fase III : Individu berusaha mencari koping baru,
memerlukan bantuan orang lain
d. Fase IV : Terjadi ansietas/ panik yang menunjukkan adanya
disorganisasi psikologis

3. Etiologi
Faktor Presipitasi

Faktor pencetus terjadinya krisis adalah sebagai berikut:

4
1. Kehilangan : kehlngan orang yang penting, perceraian,
pekerjaan
2. Transisi: pindah rumah, lulus sekolah, perkawinan, melahirkan
3. Tantangan: promosi, perubahan karir
4. Kualitas dan matuirtas ego dinilai berdasarkan (G. Caplan
1961) hal-hal sebagai berikut
a. Kemampuan seseorang unruk menahan stres dan ansietas serta
mempertahankan keseimbangan
b. Kemampuan mengenal kenyataan yang dihadapi serta
memecahkan masalah
c. Kemampuan untuk mengatasi masalah: serta mempertahankan
keseimbangan sosial.

4. Penyebab dan Gejala Krisis


a. Perubahan fisik
Baik pria maupun wanita sama mengalami perubahan fisik: Wajah
mengkerut, ubanan, pinggang mengembang perut membesar, otot
paha terasa sakit, tekanan darah tinggi, tenaga berkurang, penglihatan
dan pendengaran berkurang.

b. Perubahan psikologis
Bagi seorang pria yang memasuki fase ini mengalami ketidakstabilan
emosi. Kadang gembira, bersemangat, kadang murung, tidak mau
diajak bicara, keadaan diseputarnya seakan tawar, sehingga mereka
mengeluh dalam banyak hal, masalah anak, pekerjaan, dll. Bagi
seorang wanita tengah baya sering mengalami kecemasan dan
ketakutan kehilangan suaminya, kesepian dan kadang-kadang
kemarahan. Keduanya bisa mengalami depresi, bagi wanita yang
tidak siap akan mengalami depresi yang berat ketika memasuki masa
menopause. Paling berat bagi mereka yang tidak menikah atau ibu
janda yang rentan.

c. Perubahan penampilan
Bagi seorang wanita tengah baya, panampilan merupakan nomor satu
penyebab krisis. Oleh karena itu Cecil Osborn pernah melukiskan
fase-fase kehidupan seorang wanita sbb: Pada masa bayi, ia
membutuhkan cinta dan perhatian. Pada masa anak-anak ia
menginginkan kesenangan. Pada usia duapuluhan ia menginginkan
percintaan. Pada usia tiga puluhan ia menginginkan sanjungan. Pada
usia empat puluhan ia menginginkan simpatik dan pada usia lima
puluhan ia menginginkan uang. Bagi seorang pria, panampilan

5
berada pada urutan bagian akhir. Usia dan karir yang lebih
menentukan harga diri seorang pria.

d. Perubahan perilaku
Bagi pria: mulai bertanya-tanya mengapa saya bekerja, apa yang
sudah saya kerjakan, bagaimana saya dapat menata pekerjaan supaya
pekerjaanku lebih berarti? Dan bagi wanita: ingin belajar ulang, lebih
sering mengikuti seminar-seminar, ingin meningkatkan aspirasi
karirnya. Conway mengatakan bahwa seorang pria setengah baya
bagaikan balon yang mulai kempis, sementara wanita seperti
manuver sebuah roket, usia 41 thn. berlaku seperti usia 31 tahun.

e. Perubahan hubungan dalam keluarga


Pria tengah baya mulai memikirkan hubungan yang telah hilang
selama mengejar karir, kini saatnya ia mulai memikirkan anak-anak.
Sedangkan bagi wanita ini saatnya untuk menyibukkan dirinya di luar
rumah. Sekian tahun telah membesarkan anak-anak, sekarang ia siap
menghadapi tantangan baru di luar rumah. Masalah keintiman: Pria
ingin agar isterinya berperilaku sebagai seorang pacar yang mesra
bukan hanya pengelola rumah tangga. Bagi wanita ketegasannya
sebagai bukti kemesraan. Dan apabila isteri sibuk di luar rumah
sepanjang hari, maka bila malam tiba sudah kecapean dan suami
terbaikan

1. Tahap-tahap Krisis.
Krisis yang dialami oleh usia tengah baya berlangsung 3-5 tahun, dengan
melalui dua tahap.
1. Fase pertama, ia akan mengalami kekecewaan secara umum, suhu
meningkat dan mungkin akan terjadi perubahan gaya hidup.
2. Fase kedua, ia akan mengalami depresi, traumatis, melarikan diri
secara drastis, daya kerja berubah. Ia akan berusaha mencapai nilai
atau apa yang diharapkan. Dan bila tercapai maka suhunya akan
menurun. Bila terhambat akan lebih besar tekanan dan gelombang
krisisnya. Setiap orang harus melewati tahap ini, namun beberapa
orang tidak menyadarinya atau sengaja mengalihkan tekanan tersebut
kepada bekerja keras untuk mengaktualisasikan nilai mereka,
sehingga seolah-olah tidak ada perubahan apapun dalam hidup mereka
sejak kecil hingga dewasa. Mereka tidak menyadari bila mereka telah
ditekan oleh dua masa peralihan (puber I dan puber II), bila usia lansia
mereka akan masuk ke dalam pengalaman krisis yang serius.

2. Tipe – tipe krisis


a. Krisis maturasi
Perkembangan kepribadian merupakan suatu rentang dimana
setiap tahap mempuyai tugas dan masalah yang harus diselesaikan

6
untuk menuju kematangan pribadi individu. Keberhasilan
seseorang dalam menyelesaikan masalah pada tiap tahap
dipengaruhi kemampuan individu mengatasi stres yang terjadi
dalam kehidupannya.
Krisis maturasi terjadi dalam satu periode transisi masa
perkembangan yang dapat mengganggu perkembangan psikologis,
seperti pada masa pubertas, masa perkawinan , menjadi orang tua ,
menopause, dan usia lanjut. Krisis maturasi memerlukan
perubahan peran yang dipengaruhi oleh peran yang memadai,
sumber – sumber interpersonal, dan tingkat penerimaan orang lain
terhadap peran baru.
b. Krisis situasi
Krisis situasi terjadi apabila keseimbangan psikologis terganggu
akibat dari suatu kejadian yang spesifik, seperti : kehilangan
pekerjaan, kehamilan yang tidak diinginkan atau kehamilan di luar
nikah, penyakit akut, kehilangan orang yang dicintai, serta
kegagalan disekolah.
c. Krisis malapetaka
Krisis ini disebabkan oleh suatu kejadian yang tidak diharapkan
serta menyebabkan kehilanganganda dan sejumlah perubahan
dilingkungan seperti: gunung meletus, kebakaran, dan banjir.
Krisis ini tidak dialami oleh setiap orang seperti halnya pada krisis
maturasi.

5. Konsep Asuhan Keperawatan


A. Pengkajian
Selama pengkajian perawat harus mengumpulkan data tantang sifat dari
krisis dan pengaruhnya. Mengingat batas waktu krisis dan
penyelesaiaannya sangat singkat yaitu paling lama 6 minggu, maka
pengkajian harus dilaksanakan secara spesifik dan berorientasi pada
masalah yang actual. Aspek-aspek yang perlu dikaji:
1. Faktor Predisposisi
a. Keberhasilan seseorang dalam menyelesaikan masalahnya pada fase-
fase tumbuh kembang akan mempengaruhi kemampuan individu

7
mengatasi stress yang trejadi dalam hidupnya. Setiap fase individu
mengalami krisis yang lazim yang disebut krisis maturasi.
b. Pembagian fase tumbuh kembang menurut Sigmund Freud dari fase
oral, anal, falik, laten dan pubertas
c. Krisis maturasi terjadi dalam satu periode transisi yang dapat
mengganggu keseimbangan psikologis seperti pada masa p[ubertas,
masa perkawinan, menjadi orang tua, menopause, lanjut usia
d. Krisis maturasi memerlukan perubahan peran yang dipengaruhi oleh
contoh peran yang memadai, sumber-sumber interpersonal dan tingkat
penerimaan orang lain terhadap peran baru

2. Faktor Presipitasi
a. Mengidentifikasi factor pencetus, termasuk kebutuhan yang terancam,
misalnya:
1. Kehilangan orang yang dicintai, baik perpisahan maupun kematian yang
lazim disebut krisis situasi
2. Kehilangan biopsikososial, seperti: kehilangan salah satu bagian tubuh
karena operasi, sakit, kehilangan pekerjaan, kehilangan peran social,
kehilangan kemampuan melihat dan sebagainya
3. Kehilangan milik pribadi, misalnya: kehilangan harta benda, kehilangan
kewarganegaraan, rumah kena gusur dan sebaagainya
4. Ancaman kehilangan,, misalnya: anggota keluarga yang sakit,
perselisihan yang hebat dengan pasangan hidup

b. Mengidentifikasi persepsi klien terhadap kejadian


Persepsi terhadap kejadian yang menimbulan krisis, termasuk poko
pikiran dan ingatanyang berkaitan dengan kejadian tersebut.
1. Apa arti/makna kejadian terhadap individu
2. Pengaruh kejadian terhadap masa depan
3. Apakah individu memandang kejadian tersebut secara realistik

8
c. Mengidentifikasi sifat dan kekuatan system pendukung
Meliputi keluarga, sahabat dan orang-orang yang penting bagi klien
yang mungki dapat membantu:
1. Dengan siapa klien tingga, tinggal sendiri, dengan keluarga, dengan
teman
2. Apakah punya teman tempat mengeluh
3. Apakah bias menceritakan masalah yang dihadapi bersama keluarga
4. Apakah ada orang atau lembaga yang memberikan bantuan
5. Apakah mempunyai keterampilan intuk mengganti fungsi orang
yang hilang

d. Mengidentifikasikan kekuatan dan mekanisme koping yang lalu


termasuk strategi koping yang berhasil dan tidak berhasil
1. Apakah yang bias dilakukan dalam mengatasi masalah yang dihadapi
2. Cara apa yang pernah berhasil dan tidak berhasil, serta apa saja yang
dapat menyebabkan kegagalan tersebut
3. Apa saja yang sudah dilakukan untuk mengatasi masalah sekarang
4. Apakah suka mengikuti latihan olahraga untuk mengatasi ketegangan
5. Apakah mencetuskan perasaannya dengan menangis

3. Perilaku
Beberapa gejala yang sering ditunjukkan oleh individu dalam keadaan
krisis;
a. Perasaan tidak berdaya, kebingungan, depresi, menarik diri.
Keinginan merusak diri sendiri/orang lain
b. Perasaan diasingkan oleh lingkungannya
c. Kadang-kadang menunjukkan gejala somatik

Data yang dikumpulkan berkaitan dengan koping individu tak efektif,


sebagai berikut:
1. Mengungkapkan tentang kesulitan dengan stress kehidupan.
2. Perasaan tidak berdaya, kebingungan, putus asa.

9
3. Perasaan diasingkan oleh lingkungan.
4. Mengungkapkan ketidakmampuan mengatasi masalah atau meminta
bantuan.
5. Mengungkapkan ketidakpastian terhadap pilihan – pilihan.
6. Mengungkapkan kurangnya dukungan dari orang yang berarti.
7. Ketidakmampuan memenuhi peran yang diharapkan.
8. Perasaan khawatir, ansietas.
9. Perubahan dalam partisipasi social.
10. Tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar.
11. Tampak pasif, ekspresi wajah tegang.
12. Perhatian menurun

B. Diagnosa Keperawatan

1. Gangguan penyesuaian
2. Ansietas
3. Koping keluarga inefektif
4. Koping indivisu inefektif
5. Perubahan proses keluarga
6. Perubahan pertumbuhan dan perkembangan
7. Perubahan pemeliharaan kesehatan
8. Deficit pengetahuan
9. Resiko terhadap perubahan kedekatan orangtua/bayi/anak
10. Perubahan peran asuh orangtua
11. Respons pasca trauma
12. Sindroma trauma perkosaan
13. Gannguan harga diri: harga diri rendah
14. Isolasi social
15. Distress spiritual

C. Intervensi

1. Koping individual yang tidak efektif berhubungan dengan perpisahan


dengan orang lain yang dicintai, yang dimanifestasikan dengan menangis,
perasaan tidak berharga dan bersalah.

10
Tujuan:
Pasien dapat mengungkapkan perasaan secara bebas.
Intervensi:
a. Membina hubungan saling percaya dengan lebih banyak memakai
komunikasi non verbal.
b. Mengizinkan pasien untuk menangis.
c. Menunjukkan sikap empati.
d. Menyediakan kertas dan alat tulis jika pasien belum mau berbicara.
e. Mengatakan kepada pasien bahwa perawat dapat mengerti apabila dia
belum siap untuk membicarakan perasaannya dan mungkin pasien merasa
bahwa nanti perawat akan mendengarkan jika dia sudah bersedia berbicara.
f. Membantu pasien menggali perasaan serta gejala – gejala yang berkaitan
dengan perasaan kehilangan.

2. Perubahan proses interaksi keluarga berhubungan dengan anggota


keluarga yang dirawat di rumah sakit, ditandai dengan perasaan khawatir,
takut, dan bersalah.
Tujuan:
Keluarga dapat mengungkapkan perasaannya kepada perawat atau orang lain.
Intervensi:
a. Melakukan pendekatan kepada anggota keluarga dengan sikap yang hangat,
empati dan memberi dukungan.
b. Menanyakan kepada keluarga tentang penyakit yang diderita oleh anggota
keluarganya, seperti timbulnya penyakit, beban yang dirasakan, akibat yang
diduga timbul karena penyakit yang didertita oleh anggota keluarga
tersebut.
c. Menanyakan tentang perilaku keluarga yang sakit.
d. Menanyakan tentang sikap keluarga secara keseluruhan dalam menghadapi
keluarga yang sakit.
e. Mendiskusikan dengan keluarga apa yang sudah dilakukan untuk mengatasi
perasan cemas, takut, dan rasa bersalah.

D. Implementasi
Implementasi disesuaikan dengan intervensi

11
E. Evaluasi

Beberapa hal yang perlu dievaluasi antara lain:


1. Klien dapat menalankan fungsinya kembali seperti sebelum terjadi krisis
2. Perilaku maladaptive atau gejala yang ditunjukkan oleh klien berkurang
3. Klien dapat mengunakan mekanisme koping yang adaptif
4. Klien mempunyai system pendukung untuk membantu koping terhadap
krisis yang akan datang.

12
DAFTAR PUSTAKA

http://railgunn.blogspot.co.id/2014/05/asuhan-keperawatan-pasien-dengan-
krisis.html

https://kedaibunga.wordpress.com/2010/04/23/masa-transisi-krisis-pada-usia-
tengah-baya-psikologi-perkembangan/amp/

http://ilmu-ilmukeperawatan.blogspot.co.id/2010/09/krisis-pada-lansia.html

13