Anda di halaman 1dari 2

8.

Amine Corrosion
Korosi akibat senyawa amine (mengandung setidaknya satu atom nitrogen dengan ikatan
tunggal) umumnya pada proses treatment gas (pengurangan kandungan H2S dan CO2) yang
melibatkan baja karbon. Senyawa amine yang digunakan untuk treatment gas dibagi menjadi dua
kategori: pelarut kimia dan pelarut fisik. Korosi pada baja karbon akibat senyawa amine
dipengaruhi oleh tiga parameter utama yaitu konsentrasi senyawa amine, kandungan gas asam
pada senyawa tersebut, dan temperatur operasi. Semakin tinggi nilai dari parameter tersebut maka
laju korosi yang terjadi akan semakin meningkat. Faktor lain yang dapat mempengaruhi korosi
akibat amine adalah Heat Stable Amine Salts (HSAS). HSAS menyebabkan terjadinya degradasi
amine “aktif” yang mampu menyerap gas asam namun HSAS secara tersendirinya dapat bersifat
korosif. Saat kecepatan aliran fluida besar maka korosi yang disebabkan oleh senyawa amine akan
bersifat lokal, dengan bentuk fisik korosi seperti pitting atau groove. Salah satu solusi untuk
menghindari korosi akibat senyawa amine adalah dengan menggunakan material yang terbuat dari
baja stainless austenitic.
 Screening Awal
Saat alat/komponen terkeno senyawa amine (MEA, DEA, DIPA, atau MDEA) selama
proses maka perlu dilakukan analisis laju korosi akibat senyawa amine. Untuk senyawa amine
yang kaya maka korosi akan bersifat general saat laju fluida <1.5 m/s (5 ft/s) dan lokal saat laju
fluida >1.5 m/s (5 ft/s). Untuk senyawa amine yang miskin maka korosi akan bersifat general saat
laju fluida <6.1 m/s (20 ft/s) dan lokal saat laju fluida >6.1 m/s (20 ft/s).
 Data Awal
Data awal yang akan digunakan dalam menentukan besar laju korosi dapat diperoleh
melalui hasil inspeksi atau bedasarkan pendapat ahli. Data yang diperlukan untuk analisis laju
korosi dapat dilihat pada Tabel 2.B.8.1.
 Prosedur Penentuan Laju Korosi
Nilai dari laju korosi (baik dalam satuan mm/y maupun mpy) dapat ditentukan bedasarkan
jenis material alat, senyawa amine, dan konsentrasinya. Untuk material baja karbon; Tabel 2.B.8.2
untuk MEA dan DEA, Tabel 2.B.8.3 untuk MDEA. Saat menghitung laju korosi untuk alat dengan
material baja karbon maka hasil yang diperoleh baik dari Tabel 2.B.8.2 atau Tabel 2.8.B.3 harus
dikalikan dengan faktor pengali pada Tabel 2.B.8.4. Untuk alat dengan material stainless steel,
nilai laju korosi diperoleh dari Tabel 2.B.8.5 (untuk semua kondisi).
9. High Temperature Oxidation
Korosi akibat reaksi oksidasi pada temperatur tinggi terjadi saat temperatur mencapai
482°C (900°F) untuk alat dengan material baja karbon. Pengikisan material terjadi akibat reaksi
logam dengan oksigen dari lingkungan sekitar.
 Screening Awal
 Data Awal
Data awal yang akan digunakan dalam menentukan besar laju korosi dapat diperoleh
melalui hasil inspeksi atau bedasarkan pendapat ahli. Data yang diperlukan untuk analisis laju
korosi dapat dilihat pada Tabel 2.B.9.1.
 Prosedur Penentuan Laju Korosi
10. Acid Sour Water Corrosion
11. Cooling Water Corrosion
12. Soil Side Corrosion
13. CO2 Corrosion
14. Atmospheric Storage Tank Bottom Corrosion