Anda di halaman 1dari 4

Klasifikasi Sifat Magnet

Terdapat beberapa jenis sifat magnet yang terdapat pada material di bumi.
Menurut Buck & Hayt dlam bukunya Engineering Elektromagnetics, Seventh
Edition 2006, terdapat 6 klasifikasi sifat magnetik. Enam klasifikasi magnet
tersebut adalah:
Diamagnetik
Material dengan atom-atom didalamnya terdapat medan magnet yang
merupakan hsail dari peredaran elektron-elektron pada orbitnya dan medan magnet
yang dihasilkan oleh spin-spin elektron memberikan medan resultan internal
sebesar nol. Atau dapat juga didefinisikan sebagai material yang setiap atomnya
memiliki momen magnetik permanen m0 sebesar nol. Hal tersebut mengakibatkan
suatu medan magnet eksternal tidak akan menyebabkan timbulnya torsi pada atom-
atom, tidak juga perubahan arah medan dari dipol-dipol magnet, sehingga medan
magnet internal didalam material akan bernilai sama dengan medan magnet
eksternal. Contoh materila dengan sifat diamagnetik adalah logam bismuth,
tembaga, emas, silikon, belerang, grafit, germanium.
Paramagnetik
Material dengan atom yang didalamnya terdapat momen-momen magnetik
dari spin elektron dan gerakan orbital elektron tidak sepenuhnya saling meniadakan.
Secara partikel, atom semacam ini memiliki suatu nilai momen magnetik yang kecil
(bukan nol), namun jika diambil dalam satu volume sampel bahan, orientasi yang
acak dari atom-atom ini menghasilkan momen magnetik rata-rata sebesar nol.
Material ini tidak menunjukan sifat kemagnetan tanpa adanya medan magnet
eksternal. Akan tetapi, ketika sebuah medan eksternal dikenakan pada material,
sebuah torsi akan dihasilkan momen magnet setiap atom di dalamnya, dan momen-
momen atomik ini cenderung berbelok menjadi searah dengan medan eksternal.
Kesearahan ini meningkatkan nilai B didalam bahan melebihi nilai medan asli
diluar bahan. Apabila resultan netto dari medan B lebih kuat di dalam material,
maka material tersebut disebut sebagai material paramagnetik. Contoh material
paramagnetik adalah potassium, oksigen, tungten.
Feromagnetik
Didalam material feromagnetik,tiap-tiap atom memiliki momen dipol yang
relatif besar, terutama disebabkan oleh momen-momen spin elektron yang kurang
diimbangi oleh momen-momen lainnya. Gaya-gaya antar atom ini menyebabkan
momen-momen ini tertata dalam suatu konfigurasi yang slaing sejajar didalam
daerah-daerah yang memuat banyak atom. Daerah-daerah semacam ini disebut
sebagai domain. Ketika sebuah medan magnet eksternal diberikan pada material,
domain-domain yang memiliki momen searah medan eksternal akan membesar
ukurannya dan “memakan” daerah-daerah sekitarnya. Akibatnya, medan internal di
dalam bahan menjadi jauh lebih besar dari medan eksternal diluarnya. Ketika
medan magnet eksternal dihilangkan, domain-domain tersebut tidak dapat
sepenuhnya kembali ke orientasi awalnya yang relatif acak, dan sebuah medan
dipol residu akan tertinggal dalam skala makroskopik dalam material. Conteh
material feromagnetik adalah besi, nikel, dan kobalt.
Antiferomagnetik
Dalam material ini, gaya-gaya yang bekerja diantara atom-atom yang
bersbelahan menyebabkan momen-momen atomik tersusun dalam konfigurasi
yang tanti pararel. Momen magnetik netto pada tiap-tiap atom adalah nol, dan
material ini hanya terpengaruh sedikit oleh medan magnet eksternal. Contoh
material antiferomagnetik adalah NiO, FeS, dan CoCl2.
Ferimagnetik
Material ini memperlihatkan konfigurasi momen-momen atomik yang anti-
pararel, namun besar tiap-tiap momen tidak sama. Oleh karenanya, momen
magnetik tanggapan yang cukup besar akan timbul didalam material ferimagnetik,
meskipun tidak sebesar pada material feromagnetik. Kelompok terpenting dari
bahan ferimagnetik adalah ferit. Contoh material ferimagnetik adalah Fe3O4 dan
NiFe2O4.
Superparamagnetik
Material ini memiliki gugusan-gugusan partikel feromagnetik yang tersusun
dalam matriks non-feromagnetik. Meskipun terdapat domain pada struktur material
ini, dinding-dinding domain ini tidak dapat meluaskan wilayahnya ke partikel-
partikel yang bersebelahan. Contoh aplikasi material superparamagnetik adalah
pada pita magnetikdan kaset-video.

Metode Sintesis Nano Material


menurut Askari et.al 2014, terdapat 3 macam metode yang dapat
mempengaruhi sifat magnetik dari nnanomaterial. 3 mtode itu merupakan:
Combustion
Metode pembakaran adalah cara sintesa yang sederhana dan cepat
anopartikel yang mengarah ke produk berkualitas tinggi. Memvariasikan laju bahan
bakar untuk nitrat dapat sangat mempengaruhi ukuran, magnetisasi dan koersivitas
magnet dalam metode ini. .
Coprcipitation
Metode kopresipitasi merupakan metode sintesis bottom up yang digunakan untuk
mendapatkan ukuran partikel kecil berukuran nanometer (Sau, 2012). Metode ini
memiliki prinsip yaitu melepas ikatan kontinyu yang dimiliki oleh suatu senyawa
logam dalam bentuk cairan tanpa mempertimbangkan mekanisme spesifik yang
terjadi (http://ruby.colorado.edu). Dengan menggunakan metode kopresipitasi,
didapatkan material berbentuk padatan (solid) dari presipitatnya yang berbentuk
cairan (aqueous) (Zhu, 2005). Sehingga, metode ini sangat sesuai diterapkan pada
proses sintesis untuk mendapatkan material-material jenis logam seperti seng (Zn),
titanium (Ti) dan besi (Fe) (Ningtyas, 2010; Castro, 2008).

Sol-gel
Proses sol-gel melibatkan evolusi dari bahan jaringan anorganik melalui
formasi suspense koloid (sol) dan pembekuan sol untuk membentuk jaringan
dalam pase liquid (cair). Prekursor yang digunakan adalah koloid yang terdiri dari
elemen logam atau logamloid dengan berbagai ligands reaktif. Awalnya material
diproses untuk membentuk disperse oxide dan membentuk sol dalam air atau
larutan asam. Penghilangan cairan dari sol menghasilkan gel, dan transisi sol/gel
mengontrol ukuran dan bentuk partikel. Calcination dari gel membentuk oxide.

Precipitation
Presipitasi merupakan metode sintesis konvensional yang mampu menghasilkan
nanopartikel dalam skala besar, ekonomis dan sederhana. Penggunaan pelarut
campuran alkohol/air merupakan pendekatan baru dalam proses presipitasi.
Penambahan medium dengan konstanta dielektrik rendah dalam larutan dapat
mengubah termodinamika sistem reaksi dan kinetika nukleasi yang akan menghambat
aglomerasi dan menghasilkan partikel halus.

SPS

Aplikasi
Detecting Nucleic Acids
Detecting Proteins
Detecting Enzymes
Detecting Viruses
Detecting Small Molecules
Detecting Ions
Detecting Cells
Magnetic Nanomaterials as MRI Contrast Agents
Magnetic Nanomaterials for In Vivoand In VitroCancer Diagnostics
Magnetic Nanoparticles for Cancer Imaging and Therapy
Core–Shell Magnetic Nanomaterials in Medical Diagnosis and Therapy
Table 9.2 Common inorganic coatings for magnetic nanoparticles.
Studi kasus
bu. Poppy 4(pengaruh metode sintesis pada gaya magnetiknya)
bu. Poppy (BaC2O4 sebagai perkusor BaFe2O4)