Anda di halaman 1dari 30

Askep MORBILI

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Penyakit Campak sering menyerang anak anak balita. Penyakit ini mudah

menular kepada anak anak sekitarnya, oleh karena itu, anak yang menderita

Campak harus diisolasi untuk mencegah penularan. Campak disebabkan oleh

kuman yang disebut Virus Morbili. Anak yang terserang campak kelihatan sangat

menderita, suhu badan panas, bercak bercak seluruh tubuh terkadang sampai borok

bernanah. Biasanya penyakit ini timbul pada masa anak dan kemudian

menyebabkan kekebalan seumur hidup. Bayi yang dilahirkan oleh ibu yang pernah

menderita morbili akan mendapat kekebalan secara pasif (melalui plasenta) sampai

umur 4-6 bulan dan setelah umur tersebut kekebalan akan mengurang sehingga si

bayi dapat menderita morbili. Bila seseorang wanita menderita morbili ketika ia

hamil 1 atau 2 bulan, maka 50% kemungkinan akan mengalami abortus, bila ia

menderita morbili pada trimester I, II, atau III maka ia akan mungkin melahirkan

seorang anak dengan kelainan bawaan atau seorang anak dengan BBLR, atau lahir

mati atau anak yang kemudian meninggal sebelum usia 1 tahun.


Morbili / campak adalah penyakit akut yang disebabkan virus campak

yang sangat menular pada umumnya menyerang anak-anak. Menurut kriteria

diagnostiknya, ada 4 stadium campak meliputi stadium tunas, stadium

prodormal / kataral, stadium erupsi, dan stadium konvalesensi. Gejala klinis

morbili meliputi demam mencapai 400C, pilek, batuk, konjungtivitis, ruam

erupsi makulopapular, dan koplik’s spot (merupakan tanda pathognomonis

penyakit campak, bentuk bintik tidak teratur dan kecil berwarna merah terang,

pada pertengahan di dapat noda putih keabuan, mula-mula 2-6 bintik). Pada

pasien ini masih di observasi febris hari ke-2 dengan suspek morbili. Untuk

terapi medikamentosa diberikan infus KAEN 3A, antipiretik (parasetamol),

ambroxol, vitamin A dan C. Sedangkan untuk Supportifnya, pasien diminta

untuk istirahat, dan pasien dirawat di bangsal isolasi untuk mencegah penularan

ke pasien lain.

1.2. Rumusan Masalah

1.Mengapa morbili dapat menular?

1.3.Tujuan Penulisan

a.Tujuan Umum

Mahasiswa mampu memahami dan mengetahui bagaimana cara membuat

Asuhan Keperawatan pada Pasien Anak dengan Morbili.

b.Tujuan Khusus

Mahasiswa akan mampu:


a. Memahami definisi Morbili

b.Mengetahui etiologi terjadinya Morbili

c.Mengetahui manifestasi klinis dari Morbili

d.Mengetahui cara penularan dari Morbili

e.Mengetahui patofisiologi terjadinya Morbili

f.Mengetahui komplikasi dari Morbili

g.Mengetahui pemeriksaan penunjang untuk Morbili

h.Mengidentifikasi penatalaksanaan klien anak dengan Morbili

i.Mengetahui bagaimana pencegahan Morbili

j.Merumuskan asuhan keperawatan pada klien anak dengan Morbili


meliputi pengkajian, diagnosis keperawatan, dan intervensi keperawatan.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
2.1 Definisi
Morbili ialah penyakit infeksi virus akut, menular yang ditandai dengan 3
stadium yaitu : stadium inkubasi, stadium prodromal dan stadium erupsi
(Rampengan, 1997: 90)
Campak adalah organisme yang sangat menular ditularkan melalui rute
udara dari seseorang yang terinfeksi pada orang lain yang rentan (Smeltzer,
2001:2443)
Morbili ialah penyakit infeksi virus akut, menular yang ditandai dengan 3
stadium, yaitu : stadium kataral, stadium erupsi dan stadirum konvelensi.
(Rusepno, 2002:624)
Morbili ialah penyakit infeksi virus akut, menular yang ditandai dengan 3
stadium, yaitu stadium kataral, stadium erupsi dan stadirum konvelensi.
(Ngastiyah, 1997:351)

2.2 Etiologi

Penyebab penyakit ini adalah sejenis virus yang tergolong dalam famili
paramyxovirus yaitu genus virus morbili. Virus ini sangat sensitif terhadap
panas dan dingin, dan dapat diinaktifkan pada suhu 30oC dan -20oC, sinar
matahari, eter, tripsin, dan beta propiolakton. Sedang formalin dapat
memusnahkan daya infeksinya tetapi tidak mengganggu aktivitas komplemen.
(Rampengan, 1997 : 90-91)
Penyebab morbili adalah virus morbili yang terdapat dalam sekret
nasofaring dan darah selama masa prodromal sampai 24 jam setelah timbul
bercak-bercak, cara penularan dengan droplet dan kontak (Ngastiyah, 1997:351)
Campak adalah suatu virus RNA, yang termasuk famili Paramiksoviridae,
genus Morbilivirus. Dikenal hanya 1 tipe antigen saja; yang strukturnya mirip
dengan virus penyebab parotitis epidemis dan parainfluenza. Virus tersebut
ditemukan di dalam sekresi nasofaring, darah dan air kemih, paling tidak selama
periode prodromal dan untuk waktu singkat setelah munculnya ruam kulit. Pada
suhu ruangan, virus tersebut dapat tetap aktif selama 34 jam. (Nelson, 1992 :
198).

2.3.Patofisiolgi
Gejala awal ditunjukkan dengan adanya kemerahan yang mulai timbul
pada bagian belakang telinga, dahi, dan menjalar ke wajah dan anggota badan.
Selain itu, timbul gejala seperti flu disertai mata berair dan kemerahan
(konjungtivis). Setelah 3-4 hari, kemerahan mulai hilang dan berubah menjadi
kehitaman yang akan tampak bertambah dalam 1-2 minggu dan apabila sembuh,
kulit akan tampak seperti bersisik. (Supartini, 2002 : 179). Penularannya sangat
efektif, dengan sedikit virus yang infeksius sudah dapat menimbulkan infeksi
pada seseorang.
Penularan campak terjadi melalui droplet melalui udara, terjadi antara 1-
2 hari sebelum timbul gejala klinis sampai 4 hari setelah timbul ruam. Di tempat
awal infeksi, penggadaan virus sangat minimal dan jarang dapat ditemukan
virusnya. Virus masuk kedalam limfatik lokal, bebas maupun berhubungan
dengan sel mononuklear mencapai kelenjar getah bening lokal. Di tempat ini
virus memperbanyak diri dengan sangat perlahan dan dari tempat ini mulailah
penyebaran ke sel jaringan limforetikular seperti limpa.
Sel mononuklear yang terinfeksi menyebabkan terbentuknya sel raksasa
berinti banyak Sedangkan limfosit T meliputi klas penekanan dan penolong
yang rentan terhadap infeksi, aktif membelah. Gambaran kejadian awal di
jaringan limfoid masih belum diketahui secara lengkap, tetapi 5-6 hari setelah
infeksi awal, fokus infeksi terwujud yaitu ketika virus masuk kedalam
pembuluh darah dan menyebar ke permukaan epitel orofaring, konjungtiva,
saluran napas, kulit, kandung kemih, usus.Pada hari ke 9-10 fokus infeksi yang
berada di epitel aluran nafas dan konjungtiva, 1-2 lapisan mengalami nekrosis.
Pada saat itu virus dalam jumlah banyak masuk kembali ke pembuluh darah dan
menimbulkan manifestasi klinik dari sistem saluran napas diawali dengan
keluhan batuk pilek disertai selaput konjungtiva yang tampak merah.
Respon imun yang terjadi adalah proses peradangan epitel pada sistem
saluran pernapasan diikuti dengan manifestasi klinis berupa demam tinggi, anak
tampak sakit berat dan ruam yang menyebar ke seluruh tubuh, tanpa suatu
ulsera kecil pada mukosa pipi yang disebut bercak koplik. Muncul ruam
makulopapular pada hari ke-14 sesudah awal infeksi dan pada saat itu antibody
humoral dapat dideteksi. Selanjutnya daya tahan tubuh menurun, sebagai akibat
respon delayed hypersensitivity terhadap antigen virus terjadilah ruam pada
kulit, kejadian ini tidak tampak pada kasus yang mengalami defisit sel-T. Fokus
infeksi tidak menyebar jauh ke pembuluh darah. Vesikel tampak secara
mikroskopik di epidermis tetapi virus tidak berhasil tumbuh di kulit. Daerah
epitel yang nekrotik di nasofaring dan saluran pernapasan memberikan
kesempatan serangan infeksi bakteri sekunder berupa bronkopneumonia, otitis
media dan lain-lain. Dalam keadaan tertentu adenovirus dan herpes virus
pneumonia dapat terjadi pada kasus campak.

2.4 Manifestasi klinis

Masa tunas 10-20 hari dan kemudian timbul gejala-gejala yang dibagi

dalam 3 stadium :

A .Stadium kataral (prodiomal) berlangsung 4-5 hari, gejala menyerupai

influenza yaitu demam, malaise, batuk, fotofobia, konjungtiva. Gejala khas

(photognomonik) adalah timbulnya bercak komplik menjelang akhir stadium

kataral dan 24 jam sebelum timbul erantem. Bercak komplik berwarna putih
kelabu sebesar ujung jarum dikelilingi dieritema dan berlokalisasi gukalis

dengan molar bawah.

B .Stadium erupsi gejala pada stadium kataral bertambah dan timbulnya

enantem dipalatum durum dan palatum mole. Kemudian terjadi ruam

eritomatosa yang berbentuk macula disertai meningkatnya suhu badan, ruam

mula-mula timbul dibelakang telinga, dibagian atas lateral tengkuk, sepanjang

rambut dan bagian belakang bawah, dapat terjadi perdarahan dingan, rasa gatal

dan muka bengkak. Ruam mencapai bagian bawah pada hari ketiga dan

menghilang sesuai urutan terjadinya dapat terjadi pembesaran kelenjar getah

bening mandibula dan leher bagian belakang, splenomegali, diare dan

muntah,variasi mulut, yaitu measlek yaitu morbili yang disertai perdarahan pada

kulit mulut,hidung dan traktus dingestivus.

C .Stadium kovalensi : gejala-gejala pada stadium kataral mulai menghilang,

erupsi menghilang dan meninggalakan bekas dikulit berupa hiperpigmentasi dan

kulit bersisik yang bersifat patogenik.

(Arief Mansjoer, 2000 :418)

2.5 Komplikasi

 Otitis media

 Pneumonia

 Bronkhitis
 Ensefaliotis

 Laringngitis obstruksi

2.6.Pemeriksaan Diagnostik ( Rampengan,T.H., 1993


A . Pemeriksaan laboratorium
Pada pemeriksaan darah tepi hanya ditemukan adanya lekopenia.Dalam
sputum , sekresi nasal, sediment urin dapat ditemukan adanya multinucleated
giant cells yang khas
B . Pada pemeriksaan serologis
dengan cara Hemaglutination inhibition test dan Complemen fixation test
akan ditemukan adanya antibody yang spesifik dalam 1 – 3 hari setelah
timbulnya rashdan mencapai puncaknya pada 2 – 4 minggu kemudian.tes ini
cukup praktis dan spesifik untuk mendiagnosis morbili atipik atau subklinik.

2.7.Penatalaksanaan / Pengobatan

a.Medik

pemberian suplemsi vitamin A, tirah baring selama periode demam,


pengobatan simtomatik dengan anti piretika bila suhu badan tinggi, sedativum
obat batuk dan memperbaiki keadaan umum. Tindakan lain adalah pencegahan /
pengobatan segera terhadap komplikasi yang timbul anti piretik antibody untuk
mencegah infeksi bakteri sekunderpada anak beresiko tinggi.
b.Keperawatan
Isolasi sampai ruam hari ke-5 ; bila dihospitalisasi, lakukan kewaspadaan
pernafasan, perhatikan tirah baring selama prodromal, berikan aktivitas tenang.
 Demam : - anjurkan orangtua memberikan anti piretik
- hindari menggigil
- bila cenderung kejang, lakukan kewaspadaan yang tepat
(puncak demam dapat mencapai 400C hari ke-5 dan ke-
5)
 Perawatan mata : - beri cahaya redup bila terjadi fotofogia
- bersihakan kelopaka mata dengan larutan salin
hangat untuk menghilangkan secret.
- jaga anak tidak menggosok mata
- periksa mata (kornea) untuk tanda ulserasi

 Koriza / batuk : - gunakan vaporizer embun dingin


- lindungi kulit sekitar hidung dengan lapisan
petroleum
- anjurkan agar mngkonsumsi makanan dan cairan
 Perawatan kulit : - jaga agar kulit tetap bersih
- gunakan mandi air hangat bila perlu

2.8 Konsep Asuhan Keperawatan

A . Pengkajian
Observasi umum :
• Kaji kemampuan anak untuk berpartisipasi dalam pemeriksaan.
• Inspeksi penampilan umum anak.
• Perhatikan :
1) Bernapas anak : sesak, batuk, coryza.
2) Ruam pada kulit, konjungtivitis dan fotofobia.
3) Suhu tubuh anak.
4) Pola tidur anak.
5) Pola eliminasi.
Pemeriksaan Fisik :
• Mata : terdapat konjungtivitis, fotophobia.
• Kepala : sakit kepala .
• Hidung : Banyak terdapat secret, influenza, rhinitis/koriza, perdarahan
hidung (pada stadium erupsi ).
• Mulut & bibir : Mukosa bibir kering, stomatitis, batuk, mulut terasa pahit.
• Kulit : Permukaan kulit ( kering ), turgor kulit, rasa gatal, ruam makuler
pada leher, muka, lengan dan kaki (pada stad. Konvalensi), evitema, panas
(demam).
• Pernafasan : Pola nafas, RR, batuk, sesak nafas, wheezing, ronchi, sputum.
• Tumbuh Kembang : BB, TB, BB Lahir, Tumbuh kembang R/ imunisasi.
• Pola Defekasi : BAK, BAB, Diare.
• Keadaan Umum : Kesadaran, TTV.

A. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan


1) Riwayat ibu hamil yang menderita morbili.
2) Riwayat imunisasi.
3) Riwayat kontak dengan penderita morbili.
4) Riwayat pengobatan/upaya pengobatan.
5) Makan makanan kurang gizi.
6) Kurangnya hygiene personal dan lingkungan.
B. Pola nutrisi metabolik
1) Apakah terjadi penurunan berat badan.
2) Apakah ada alergi makanan.
3) Apakah anoreksia.
4) Mual, muntah.
5) Kaji makanan kesukaan untuk memodifikasi diet.

C. Pola eliminasi
1) Diare
2) BAK : volume, berapa kali sehari, kepekatan urin.

D. Pola aktivitas dan latihan


1) Kelemahan, letih, lesu
2) Kebutuhan harian.

E. Pola tidur dan istirahat


1) Jumlah jam tidur
2) Pemakaian obat tidur
3) Lingkungan nyaman/tidak.
4) Kebiasaan sebelum tidur.

F. Pola persepsi dan kognitif


1) Apakah anak rewel/cengeng/cemas.
2) Penerimaan anak terhadap tindakan perawatan/medis.
3) Konjungtivitis
4) Nyeri edema
5) Kejang
6) gatal

G. Pola peran dan hubungan sosial.


1) Hubungan dengan orangtua dan saudara.
2) Peran anak dalam keluarga.
3) Kecemasan orangtua.

B .Diagnosa Keperawatan

1.Resiko penyebaran infeksi berhubungan dengan organisme viruler


2. Tidak efektifnya bersihan jalan napas berhubungan dengan adanya batuk
3. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan rash
4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake
yang tidak adekuat.
5. Intoleransi aktivitas diversional berhubungan dengan isolasi dini kelompok
sebaya
6. gangguan suhu tubuh (peningkatan suhu tubuh) berhubungan dengan proses
infeksi
7. gangguan rasa aman dan nyaman berhubungan dengan daya tahan tubuh
yang menurun
8. Resiko terjadi komplikasi berhubungan dengan daya tahan tubuh yang
menurun.
9. Kurang pengetahuan orang tua mengenai penyakit berhubungan dengan
kurang informasi mengenai penyakit dan komplikasinya
C. INTERVENSI KEPERAWATAN

DIAGNOSA I
INTERVENSI RASIONAL
1. menempatkan anak pada rauang khusus 1. Menghindari resiko penyebaran infeksi

2. Gunakan prosedur perlindungan infeksi 2. Menghindari resiko penyebaran infeksi

jika melakukan kontak dengan anak

3. Pertahankan istirahat selama periode 3. Mengurangi dan menghindari

pedromal penyebaran infeksi

4. Berikan antibiotik sesuai order 4. Mengurangi resiko penyebaran infeksi


DIAGNOSA II
1. Kaji status pernapasan (irama, kedalaman, 1. Mempengaruhi status kesehatan umum

suara napas, penggunaan otot bantu

pernapasan, bernapas melalui mulut).

2. Kaji TTV 2. Mengetahui status kesehatan umum

3. Berikan posisi semi fowler / fowler 3. Memudahkan klien untuk bernapas

4. Bantu klien untuk melakukan aktivitas 4. Membantu klien beraktivitas

sehari-hari sesuai dengan kemampuannya.

5. Anjurkan anak untuk banyak minum 5. Mengurangi batuk

6. Berikan O2 sesuai indikasi 6. Memudahkan pernapasan

7. Berikan obat-obatan yang dapat 7. Mengurangi batuk sehingga


meningkatkan efektifnya jalan napas. memudahkan pernapasan.
DIANGNOSA III
1. Pertahankan kuku anak tetap pendek, 1 . Menghindari kerusakan integritas kulit

jelaskan anak untuk tidak menggaruk rash

2. Berikan obat antihistamin sesuai order 2. Mengurangi rasa gatal

dan monitor efek sampingnya.

3. Berikan obat antihistamin sesuai order 3. Mencegah alergi


4. memandikan klien dengan menggunakan 4. Mencegah infeksi dan iritasi

sabun yang lembut

5. Bersihkan bulumata dengan air hangat. 5. Mengangkat sekret/krusta


DIAGNOSA IV
1 .Kaji ketidakmampuan anak untuk makan 1 Mengkaji kemampuan makan anak

2. Berikan makanan disertai suplemen 2. Meningkatkan kualitas intake nutrisi

nutrisi 3. Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan

3. Kolaborasi pemberian nutrisi parentral cairan

jika kebutuhan nutrisi melalui oral tidak

mencukupi kebutuhan giji anak. 4. Mengetahui tumbuh-kembang anak

4. Nilai indikator terpenuhinya kebutuhan

nutrisi (BB, lingkar lengan, membran 5. Mencegah mual muntah

mukosa)

5. Anjurkan orangtua untuk memberikan 6. Meningkatkan nafsu makan

makanan porsi kecil tapi sering

6. Sajikan makanan yang menarik dan


pertahankan kebersihan mulut anak.
DIANGNOSA V

1. Berikan aktivitas ringan yang sesuai 1. Supaya anak tidak lelah dan tidak terjadi

dengan usia anak komplikasi lebih berat

2. Libatkan anak dalam mengatur jadwal 2. Supaya anak tidak merasa bosan berada

harian dan memilih aktivitas yang diinginkan di rumah sakit

DIANGNOSA VI

1. Observasi TTV 1. Mengetahui keadaan umum anak

2. Berikan kompres hangat 2. Menurunkan suhu tubuh

3. kolaborasi pemberian antibiotik dan anti 3. Menurunkan suhu tubuh

peritik

4. berikan obat sedative jika perlu 4. Mencegah terjadinya kejang

DIANGNOSA VII

1. Berikan bedak salisil 1 % jika anak gatal 1. Mengurangi rasa gatal

2. Berikan kompres hangat pada saat anak 2. Supaya tidak terbangun kerena dingin

tidak tidur

3. Memandikan anak dengan air hangat jika 3. Mengurangi rasa gatal

suhu badan anak sudah turun


DIANGNOSA VII

1. Ubah sikap baring anak beberapa kali 1. Mencegah timbul iritasi

sehari

2. Berikan bantal untuk meninggikan 2. Untuk mencegah sesak dan memudahkan

kepalanya pernapasan

3. jangan membaringkan anak didepan 3. Menghindari anak terkena angin kerena

jendela atau membawa keruangan selama batuk akan lebih parah.

masih demam

DIANGNOSA IX

1. Berikan Pen-Kes tentang imunisasi 1. Mencegah terjadinya penyakit campak

campak

2. Berikan penyuluhan tentang pentingnya 2. Agar anak tidak mudah mendapat infeksi

gizi yang baik bagi anak. atau timbulnya komplikasi yang berat

BAB III
TINJAUAN KASUS
3.1 Pengkajian
I.DENTITAS DATA
Nama : An.T
Tempat/Tgl Lahir : Medan, 18 Februari 2010
Umur : 5 Tahun
Nama Ayah : Tn.B
Nama Ibu : Ny.A
Pekerjaan Ayah : Pengacara
Pekerjaan Ibu : Ibu Rumah Tangga
Alamat : JL.Pondok Kelapa No.26 Medan
Agama : Katolik
Suku/Bangsa : Batak
Pendidkan Ayah : Sarjana Hukum
Pendidikan Ibu : DIII komputer

II. KELUHAN UTAMA


Pada tanggal 20 Maret 2014 dilakukan pengkajian dengan keluhan utama
gatal dan timbul binti-bintik merah (rash) pada bagian hampir seluruh tubuh
III. RIWAYAT KEHAMILAN DAN KELAHIRAN
1. Prenatal : Ibu mengatakan pada saat hamil mengalami mual, muntah dan badan terasa
lemas.
2. Intranatal : Ibu mengatakan pada saat melahirkan pendarahan masih dalam batas normal.
3. Postnatal : Ibu mengatakan BB baru lahir 3.4 kg dan TB 50 cm, lingkar kepala 35 cm, lingkar
lengan atas 12 cm, lingkar dada 31 cm.

IV. RIWAYAT MASA LALU


1. Penyakit waktu kecil : Demam, Flu, Batuk
2. Pernah di Rawat di RS : Tidak pernah dirawat di RS
3. Obat-Obatan Yang di gunakan : Bodrexin,Paracetamol
4. Tindakan Operasi : Tidak pernah operasi
5. Alergi : Tidak ada alergi
6. Kecelakaan : Tidak mengalami kecelakaan
7. Imunisasi : Imunisasi dasar lengkap
V. RIWAYAT KELUARGA (GENOGRAM)

Keterangan
: Laki-laki
: Perempuan
: Pasien
: Serumah

VI. RIWAYAT SOSIAL


1. Yang mengasuh : Kedua orang tua dan pengasuhnya
2. Hubungan dengan anggota keluarga
Baik,banyak keluarga yang mengunjunginnya saat anak itu sakit
3. Hubungan dengan teman sebaya
Kurang bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya
4. Pembawaan secara umum : Anak sangat aktif
5. Lingkungan rumah : Daerah sekitar rumah bersih

VII. KEBUTUHAN DASAR


A. Makanan yang di sukai
Selera : Ayam goreng, mie goreng, sop ayam
Alat makan yang dipakai : Menggunakan sendok dan piring
Pola makanan : Pola makan belum teratur
B. Kebiasaan sebelum tidur
Tidur siang : Setiap hari tidur siang, tetapi belum teratur
Mandi : 2x sehari
Eliminasi : Teratur 1x sehari

VIII. KEADAAN KESEHATAN SAAT INI


1. Diagnosa Medis : Morbili
2. Tindakan Operasi : Tidak ada tindakan operasi
3. Status Nutrisi : Nafsu makan anak menurun, hanya menghabiskan 4

sendok bubur setiap kali makan


4. Status Cairan : Cairan infus Ring as 10 tts/ menit
5. Obat-Obatan
sanmol 10 ml 3x/hari via oral

IX. PEMERIKSAAN FISIK


Keadaan Umum : Compos Mentis
TB/BB : 80cm
BB : 16 kg
Lingkar kepala :tidak dilakukan
- Mata (simetris KA/KI),konjungtivitis,fotofobia
Sekresi : Dalam batas normal
Purulen : Tidak terdapat purulen
Strabismus : Tidak ada strabismus
Joundice : Tidak ada joundice
Gerakan Bola Mata : Tidak ada kelainan pada gerakan bola mata
- Hidung
Bentuk : Simetris
Cuping Hidung : Tidak ada kelainan
- Mulut,Gusi,Gigi
Bentuk Mulut : Tidak ada kelainan, Mukosa bibir kering,

Saliva : mulut terasa pahit


Palatum : Tampak kering
Lidah : Tampak kering, kotor,merah bagian belakang

- Telinga
Bentuk : Simetris kanan dan kiri
Cairan : Masih di batas normal
-Tengkuk : Normal (Tidak ada kelainan)
Dada : Normal (Tidak ada kelainan)
- Jantung : Dalam batas normal

- Genetalia :Tidak ada kelainan pada genetalia

- Ekstremitas :Tidak ada kelainan

- Kulit : Banyak bintik merah pada kulit (rash)

X.PEMERIKSAAN TINGKAT PERKEMBANGAN


1.Kemandirian dan pergaulan : Anak bergantung pada orang tuannya
Halus : menggambar dan memegang pensil (Tidak ada kelainan)
Motorik Kasar : Mulai berlari,main
ompat lompatan (Tidak ada kelainan)

3.2. Analisa data

No Tanggal Symtom Etiologi Problem


1 Jumat, DS : pasien mengungkapkan rasa Kulit menonjol sekitar sebasea
dan folikel rambut
21-03-2014 ketidaknyamanan terhadap bintik yang
timbul pada kulit tubuhnya.
Kulit eritema membentuk Gangguan integr
DO : Banyak terdapat rash pada tubuh
macula papula di kulit normal
dan terasa gatal.
Nadi 80 x per menit,
Rash pada balik telinga, leher,
Pernafasan 18 x per menit, pipi, muka, seluruh tubuh dan
terasa gatal
Suhu tubuh 390 C,
TD 100/60 mmHg.

2 Jumat, DS : pasien mengatakan pahit pada saat Saluran cerna


21-03-2014 makan dan kurang nafsu makan
DO : Terdapat bercak koplik warna
kelabu pada mukosa bukalis,
BB anak 15 Kg,
molar, palatum durum, mole
Porsi makan 4 sendok makan (bubur)
Nadi 80 x per menit,
Mulut pahit timbul anoreksia
Pernafasan 18 x per menit, Gangguan keb
Suhu tubuh 390 C. nutrisi
TD 100/60 mmHg

3 Jumat, DS : pasien mengeluh panas pada


20-03-2014 seluruh tubuhnya
DO : Droplet infection

Hipertermi
Akral terasa hangat Produksi eksudat berlebih Gangguan rasa
Nadi 80 x per menit,
Pernafasan 18 x per menit, Reaksi inflamasi : hiperemi ,
RR naik
Suhu tubuh 390 C.
TD 100/60 mmHg
3.3 Prioritas masalah
1. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan adanya rash (erupsi kulit )
2. Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia
3. Gangguan rasa nyaman : peningkatan suhu tubuh bd proses inflamasi / infeksi virus.
3.4 Intervensi dan Rasional

Perencanaan
No Tanggal Diagnosa
Intervensi
Tujuan Rasion

1 Jumat , Gangguan integritas Setelah dilakukan tindakan  -Pertahankan kuku anak  -Untuk mencega
20-032014 kulit berhubungan keperawatan selama 2 x 24 tetap pendek, terjadinya luka
dengan adanya rash jam bintik-bintik merah pada menjelaskan kepada anak anak menggaru
kulit akan hilang. untuk tidak menggaruk
rash
Kriteria hasil :
 Pasien tidak merasakan  -Berikan obat antipruritus
gatal dan nyaman dengan topikal, dan anestesi
keadaannya topikal -Agar tidak me
 Rash pada kulit berkurang  gatal dan sakit
Mandikan klien dengan
- pasien
menggunakan sabun 
yang tidak perih

 Kolaborasi: Untuk menceg


-

-Pemberian antihistamin Untuk mencega


terjadinya luka
anak menggaru

Agar tidak me
-

gatal dan sakit

2 Jumat, Gangguan kebutuhan Setelah dilakukan askep 2x  Berikan banyak minum  -Untuk mengko
-

20-03-2014 nutrisi kurang dari 24 jam diharapakan pasien (sari buah-buahan, sirup adanya peningk
kebutuhan tubuh menunjukkan peningkatan yang tidak memakai es). tubuh dan mera
berhubungan dengan nafsu makan dengan. nafsu makan
anoreksia 
Kriteria Hasil : ----Untuk
 BB meningkat - Berikan susu porsi kebutuhan nutr
 Nafsu makan meningkat. sedikit tetapi sering (susu cairan bernutris
(dapat menghabiskan 1 porsi dibuat encer dan tidak
untuk anak) terlalu manis.

 - Berikan makanan lunak, -Untuk memud


misalnya bubur yang mencerna maka
memakai kuah, dengan meningkatkan
porsi sedikir tetapi makanan.
dengan kuantitas yang
sering.

3 Jumat, Gangguan rasa nyaman Setelah dilakukan askep  - Libatkan keluarga  - Agar keluarga
20-03-2014
: peningkatan suhu selama 2 x 24 jam dalam perawatan serta kooperatif dala
tubuh bd proses diharapkan suhu badan ajari cara menurunkan
inflamasi / infeksi virus pasien berkurang suhu tubuh

Kriteria hasil :  - Berikan kompres


hangat.  - untuk memba
 Suhu tubuh 36,5 – 37,50 C
penurunan suhu
 Nadi normal
pada pasien.
 Badan tidak terasa panas
  - suhu ruangan
 Akral Normal
Pantau suhu lingkungan,
- selimut harus d
batasi / tambahkan linen untuk mempert
tempat tidur sesuai
indikasi.  untuk mengeta
-

 Monitor perubahan suhu


- merencanakan
tubuh selanjutnya
3.5 Implementasi dan Evaluasi

No Tanggal Diagnosa Implementasi Evaluas


1. 1 Jumat,20 Gangguan  -Mempertahankan kuku anak tetap pendek, menjelaskan
S : S;Pasien mengatakan

maret 2014 integritas kulit kepada anak untuk tidak menggaruk rasa gatalnya masih ada
berhubungan  -Memberikan obat antipruritus topikal, dan anestesi
O :O: ditandai dengan jar
08.00 wib
dengan adanya topikal pasien menggaruk ku
rash  -Memandikan klien dengan menggunakan sabun yang
A : A:Masalah belum ter
tidak perih P : Intervensi dilanju
 -Memberikan antihistamin
2. 2 Jumat,20 maret Gangguan  -Memberikan banyak minum (sari buah-buahan, sirup
S : S :Pasien mengatakan
2014 kebutuhan yang tidak memakai es). merasakan pahit pada

11.30 wib nutrisi kurang  -Memberikan susu porsi sedikit tetapi sering (susu sewaktu makan
dari kebutuhan dibuat encer dan tidak terlalu manis, dan berikan susu
O : O :ditandai dengan ku
tubuh tersebut dalam keadaan yang hangat ketika diminum). makan pada anak
berhubungan  -Memberikan makanan lunak, misalnya bubur yang
A : A:Masalah belum ter
dengan memakai kuah, sup atau bubur santan memakai gula P : Intervensi dilanju
anoreksia dengan porsi sedikir tetapi dengan kuantitas yang sering.

3. 3 Jumat,20 maret Gangguan rasa  -Melibatkan keluarga dalam perawatan serta ajari cara
S : S : pasien mengataka
2014 nyaman : menurunkan suhu tubuh sudah tidak panas lag

09.00 wib peningkatan  Memberikan kompres hangat. O :O : ditandai dengan pe


suhu tubuh bd  Memantau suhu lingkungan, batasi / tambahkan linen suhu tubuh normal 37
proses tempat tidur sesuai indikasi. A : Masalah teratasi
inflamasi /  Monitor perubahan suhu tubuh P : Intervensi dihent
infeksi virus

3.6 Catatan Perkembangan

No Tanggal Diagnosa Implementasi Evaluasi


1. 1 sabtu,21 Gangguan  -Mempertahankan kuku anak tetap pendek,
S : S;Pasien mengatakan b

maret 2014 integritas kulit menjelaskan kepada anak untuk tidak menggaruk rasa gatalnya
berhubungan rash O: ditandai dengan jara
08.00 wib dengan adanya  -Memberikan obat antipruritus topikal, dan O:pasien menggaruk ku
rash anestesi topikal A : A:Masalah teratasi
 -Memandikan klien dengan menggunakan sebagian
sabun yang tidak perih P : Intervensi dilanjut
 -Memberikan antihistamin
2. 2 Sabtu,21 maret Gangguan  -Memberikan banyak minum (sari buah-buahan,
S : S :Pasien mengatakan s
2014 kebutuhan nutrisi sirup yang tidak memakai es). merasakan tidak pahit p

11.30 wib kurang dari  -Memberikan susu porsi sedikit tetapi sering mulutnya sewaktu mak
kebutuhan tubuh (susu dibuat encer dan tidak terlalu manis, dan
O : O :ditandai dengan
berhubungan berikan susu tersebut dalam keadaan yang hangat meningkatnya nafsu ma
dengan anoreksia ketika diminum). pada anak
 -Memberikan makanan lunak, misalnya bubur
A : A:Masalah teratasi seba
yang memakai kuah, sup atau bubur santan P : Intervensi dilanjut
memakai gula dengan porsi sedikir tetapi dengan
kuantitas yang sering.

Minggu 21 Gangguan Mmempertahankan kuku anak tetap


- S; S:Pasien mengatakan berkurang rasa
maret 2014 integritas kulit pendek, menjelaskan kepada anak gatalnya
berhubungan untuk tidak menggaruk rash O :O: ditandai dengan jarangnya
08.00 wib
dengan adanya  Memberikan
- obat
antipruritus pasien menggaruk kulit
rash topikal, dan anestesi topikal A : A:Masalah teratasi sebagian
 --Memandikan klien
dengan P : Intervensi dilanjutkan
menggunakan sabun yang tidak perih
Memberikan antihistamin
-

Minggu 21 Gangguan - Memberikan banyak minum (sari


maret 2014
kebutuhan nutrisi buah-buahan, sirup yang tidak
S : S:pasien mengatakan sudah merasakan
12.00 wib kurang dari memakai es). tidak pahit pada mulutnya sewaktu maka
kebutuhan tubuh  Memberikan susu porsi sedikit
-
O : O :ditandai dengan meningkatnya nafsu
berhubungan tetapi sering (susu dibuat encer dan makan pada anak
dengan anoreksia tidak terlalu manis, dan berikan susu
A : A:Masalah teratasi sebagian
tersebut dalam keadaan yang hangat P : Intervensi dilanjutkan
ketika diminum).
 Memberikan
- makanan lunak,
misalnya bubur yang memakai kuah,
sup atau bubur santan memakai gula
dengan porsi sedikir tetapi dengan
kuantitas yang sering.
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Pengobatan campak dilakukan dengan mengobati gejala yang timbul. Demam yang
terjadi akan ditangani dengan obat penurun demam. Jika anak mengalami diare maka diberi
obat untuk mengatasi diarenya. Batuk akan diatasi dengan mengobati batuknya. Dokter pun
akan menyiapkan obat antikejang bila anak punya bakat kejang.
Intinya, segala gejala yang muncul harus diobati karena jika tidak, maka campak bisa
berbahaya. Dampaknya bisa bermacam-macam, bahkan bisa terjadi komplikasi. Perlu
diketahui, penyakit campak dikategorikan sebagai penyakit campak ringan dan yang berat.
Disebut ringan, bila setelah 1-2 hari pengobatan, gejala-gejala yang timbul membaik. Disebut
berat bila pengobatan yang diberikan sudah tak mempan karena mungkin sudah ada
komplikasi.
Komplikasi dapat terjadi karena virus campak menyebar melalui aliran darah ke
jaringan tubuh lainnya. Yang paling sering menimbulkan kematian pada anak adalah
kompilkasi radang paru-paru (broncho pneumonia) dan radang otak (ensefalitis). Komplikasi
ini bisa terjadi cepat selama berlangsung penyakitnya.
Gejala ensefalitis yaitu kejang satu kali atau berulang, kesadaran anak menurun, dan
panasnya susah turun karena sudah terjadi infeksi “tumpangan” yang sampai ke otak. Lain
halnya, komplikasi radang paru-paru ditandai dengan batuk berdahak, pilek, dan sesak napas.
Jadi, kematian yang ditimbulkan biasanya bukan karena penyakit campak itu sendiri,
melainkan karena komplikasi. Umumnya campak yang berat terjadi pada anak yang kurang
gizi.
4.2 Saran
Penyakit Campak dapat dicegah dengan melakukan pemberian imunisasi pada anak
yang masih bayi.
1. Imunusasi aktif
Hal ini dapat dicapai dengan menggunakan vaksin campak hidup yang telah dilemahkan.
Vaksin hidup yang pertama kali digunakan adalah Strain Edmonston B. Pelemahan
berikutnya dari Strain Edmonston B. Tersbut membawa perkembangan dan pemakaian Strain
Schwartz dan Moraten secara luas. Vaksin tersebut diberikan secara subkutan dan
menyebabkan imunitas yang berlangsung lama.
Pada penyelidikan serulogis ternyata bahwa imunitas tersebut mulai mengurang 8-10
tahun setelah vaksinasi. Dianjurkan agar vaksinasi campak rutin tidak dapat dilakukan
sebelum bayi berusia 15 bulan karena sebelum umur 15 bulan diperkirakan anak tidak dapat
membentuk antibodi secara baik karena masih ada antibodi dari ibu. Pada suatu komunitas
dimana campak terdapat secara endemis, imunisasi dapat diberikan ketika bayi berusia 12
bulan.

2. Imunusasi pasif
Imunusasi pasif dengan serum oarng dewasa yang dikumpulkan, serum stadium
penyembuhan yang dikumpulkan, globulin placenta (gama globulin plasma) yang
dikumpulkan dapat memberikan hasil yang efektif untuk pencegahan atau melemahkan
campak. Campak dapat dicegah dengan serum imunoglobulin dengan dosis 0,25 ml/kg BB
secara IM dan diberikan selama 5 hari setelah pemaparan atau sesegera mungkin.
Terdapat indikasi pemberian obat sedatif, antipiretik untuk mengatasi demam tinggi.
Istirahat ditempat tidur dan pemasukan cairan yang adekuat. Mungkin diperlukan humidikasi
ruangan bagi penderita laringitis atau batuk mengganggu dan lebih baik mempertahanakan
suhu ruangan yang hangat.

DAFTAR PUSTAKA
 Doengoes Marilyn. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan,
Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian
Perawatan Pasien. Jakarta : EGC
 Carpenito, Lynda Juall. 2001. Diagnosa Keperawatan. Alih
Bahasa : Yasmin Asih, Editor : Tim Editor EGC Edisi 26.
Jakarta: EGC