Anda di halaman 1dari 8

a.

Terapi yang diberikan dengan obat


Tujuan pengobatan ini dapat dicapai dengan 2 cara : melebarkan bronkus (
bronkodilator) dan menghentikan peradangan (antiinflamasi).
- Menyusun daftar kelompok obat yang manjur (P-group)
Obat – obat yang dapat digunakan untuk asma adalah agonis adrenergik, xanthine,
antikolinergik, kortikosteroid, mast cell stabilizer, antagonis reseptor leukotrien,
dan antihistamin.
P-group Bronkodilator Antiinflamasi
Agonis adrenergik + +
Xanthine + -
Antikolinergik + -
Kortikosteroid - +
Mast cell stabilizer + +
Antagonis leukotrien - +
Anti histamin + +

Dengan menggunakan kriteria keamanan yang meliputi efek samping obat dan
toksisitas obat, kemanjuran obat yang didasarkan atas efek farmakodinamik dan
farmakokinetik obat, serta kecocokan obat, seperti terlihat dalam tabel dibawah,
ketujuh kelompok obat tersebut dibandingkan untuk memilih kelompok utama
dari ketujuh kelompok obat tersebut.
Kelompok obat Kemanjuran Keamanan Kecocokan
β2 agonis Yang termasuk golongan β2 Efek samping Kontraindikasi :
agonis adalah Obat yang selektif Penggunaan Β2-
metaprotenerol Β2-agonis sangat agonis sebagai
(orsiprenalin), salbutamol minimal bronkodilator harus
(albuterol), terbutalin, menimbulkan hati – hati pada
fenoterol, formoterol, perubahan tekanan pasien dengan
prokaterol, salmeterol, darah atau stimulasi hipertensi, penyait
pirbuterol, jantung pada jantung koroner,
bitolterol,isotarin, dan pemberian inhalasi. gagal jantung
ritodrin Jika dosis terlalu kongestif,
tinggi terutama pada hipertiroid, dan
Farmakodinamik pemberian oral akan diabetes. Juga pada
 Β2-agonis menimbulkan timbul efek samping pasien yang
relaksasi otot polos berupa : gelisah, mendapat terapi beta
bronkus, uterus dan nyeri kepala, bloker non selektif
pembuluh darah otot berdenyut, tremor,
rangka melalui aktivitas palpitasi, aritmia
reseptor Β2 ventrikel.
 Aktivasi reseptor Β1 Dosis yang tinggi
menghasilkan stimulasi atau penyuntikan iv
jantung yang cepat dapat
 Menghambat menyebabkan
penglepasan mediator perdarahan otak.
inflamasi dari sel mast
 Mengurangi sekresi
bronkus dan kongesti
mukosa melalui reseptor
α1

Farmakokinetik
 Efektif pada pemberian
oral , dapat diabsorbsi
dengan baik dan cepat
pada pemberian aerosol.
 Pada inhalasi, efek
terbatas pada saluran
napas
 Efek sistemik dapat
terjadi bila inhalasi
dengan dosis tinggi.
 Pada pemberian oral
metabolisme tingkat
pertama tinggi, sehingga
tidak mencapai dosis
terapi.
 Absorbsi obat selektif
Β2-agonis per oral baik
dan tidak melalui
metabolisme oleh
COMT
 Terbutalin merupakan
satu-satunya Β2-agonis
yang mempunyai
sediaan parenteral untuk
pengobatan status
darurat asmatikus
 Formoterol dan
salmoterol mempunyai
masa kerja yang
panjang.
Xanthine Farmakodinamik Efek samping Kontraindikasi
 Xantin merangsang SSP, Takikardi, gelisah Penderita yang
menimbulkan diuresis, hebat, agitasi, hipersensitif
merangsang otot muntah, kejang terhadap xantin,
jantung, dan relaksasi umum atau fokal penderita tukak
otot polos terutama lambung atau tukak
bronkus usus dua belas jari,
 Intensitas efek samping diabetes, infark
xantin berbeda setiap miokard, hipertensi
jaringan berat, aritmia
 Efek yang paling takikardi,
penting adalah relaksasi kardiomiopati,
otot polos bronkus. hipertiroid, epilepsi,
 Teofilin paling efektif insufisiensi hati
berat.
menyebabkan
peningkatan kapasitas
vital, sehingga
bermanfaat untuk
pengobatan asma
bronkial

Farmakokinetik
 Metilxantin cepat
diabsorbsi setelah
pemberian oral, rektal,
atau parenteral
 Sediaan bentuk cair atau
tablet tidak bersalut akan
diabsorbsi secara cepat
dan lengkap.
 Absorbsi juga
berlangsung lengkap
untuk beberapa jenis
sediaan lepas lambat.
 Eliminasi metilxantin
terutama melalui
metabolisme dalam hati.
 Sebagian besar
diekskresikan bersama
urin dalam bentuk asam
metilurat atau
metilxantin
Antikolinergik Farmakodinamik Efek samping Kontraindikasi
Bronkodilator minimal Jarang menimbulkan Glaukoma
untuk saluran napas efek samping
sistemik, jika ada
Farmakokinetik contohnya adalah
 Diserap melalui mukosa mulut kering,
saluran napas gangguan miksi,
 Langsung bekerja pada memburuknya
otot bronkus penglihatan pada
 Timbul efek setelah 30- pasien glaukoma
90 menit, bertahan
selama 3-5 jam
Kortikosteroid Farmakodinamik Efek samping Kontraindikasi
Berfungsi dalam proses Pada pemakaian Tidak ada
glukoneogenesis dalam hati, lama yang kontraindikasi
lipolisis dan mobilisasi dihentikan tiba-tiba absolut,
asam amino. Juga sebagai dapat terjadi kontraindikasi relatif
antiinflamasi. Pada penyakit insufisiensi adrenal :
asma kortikosteroid akut dengan gejala Hiperglikemi, retensi
berfungsi menghambat demam, mialgia, natrium dengan
produksi sitokin dan atralgia, dan malaise. udem / hipertensi,
kemokin, menghambat Komplikasi akibat ulkus peptikus, gagal
peningkatan leukosit dalam pemakaian lama jantung kongesti,
paru, dan menurunkan dalam dosis besar glaukoma.
permeabilitas vaskuler antara lain :
gangguan cairan dan
Farmakokinetik elektrolit,
Kortisol dan analog hiperglikemia dan
sintetiknya pada pemberian glikosuria, mudah
oral diabsorbsi cukup baik. terkena infeksi
Untuk mencapai kadar terutama TB,
tinggi dengan cepat dalam osteoporosis,
cairan tubuh, ester kortiso miopati, psikosis,
dan derivat sintetiknya sindrom cushing,
diberikan secara iv. penyembuhan luka
Untuk mendapatkan kadar terganggu, kenaikan
yang lama kortisol dan berat badan, muscle
esternya diberikan wasting, ulkus
intramuskuler. Perubahan peptikus, supresi
struktur kimia sangat adrenal.
mempengaruhi kecepatan
absorbsi, mulai kerja dan
lama kerja karena juga
mempengaruhi afinitas
terhadap reseptor, dan
ikatan protein.
Glukokortikoid dapat
diabsorbsi melalui kulit,
sakus konjungtiva dan
ruang sinovial. Setelah
penyuntikan iv steroid
radioaktif sebagian besar
dalam waktu 72 jam
diekskresi dalam urin,
sedangkan di feses dan
empedu hampir tidak ada.
Paling sedikit 70% kortisol
diekskresikan melalui hati.
Masa paruh eliminasi
kortisol sekitar 1,5 jam.
Cell mas Farmakodinamik Efek samping Kontraindikasi
stabilizer Pra pengobatan dengan Efek berat yang Hipersensitivitas dan
cromolyn atau necrodomil merugikan jarang glaukoma sudut
menyekat terjadinya ditemukan, sempit. Jangan
bronkokonstriksi yang dermatitis, miositis, digunakan pada bayi
disebabkan inhalasi antigen, gastroenteritis yang baru lahir dan
olahraga, dan beragam berubah – ubah premature.
asma yang terjadi terjadi pada 2 %
berhubungan dengan pasien. Terdapat
pekerjaan. Efek protektif sedikit laporan untuk
akut dapat terjadi dengan kasus infiltrasi paru
pemberian cromolyn dengan eosinofilia
sebagai obat tunggal segera dan anafilaksis .
sebelum olahraga atau tidak terdapat
sebelum paparan yang tidak toksisitas pada
dapat dihindari pada suatu penggunaan
alergen. Jika digunakan cromolyn secara luas
secara teratur oleh pasien pada anak, khusus
asma menahun, kudua obat nya mereka dalam
tersebut dapat mengurangi pertumbuhan cepat.
beratnya gejala serta Bagi anak – anak
kebutuhan penggunaan yang kesulitan dalam
bronkodilator. penggunaan inhaler
dapat diberika
Farmakokinetik cromolyn dengan
Cromonyl sodium dan aerosol dalam
nedocromil sodium hanya larutan 1%
bermanfaat bila digunakan
sebagai profilaksis. Jika
digunakan sebagai aerosol
keduanya secara efektif
menghambat asma baik
yang disebabkan oleh
antigen atau olahraga pada
penggunaan kronis (4x
setiap hari) dapat
mengurangi reaktifitas
bronkial. Obat – obat
tersebut tidak memiliki efek
pada tonus otot polos jalan
napas dan tidak
memperbaiki spasme
bronkus pada asma secara
efektif. Mekanisme kerja
kedua obat tersebut
menghambat pengaktifan
seluler, efek tersebut pada
saraf – saraf jalan napas
diduga bertanggung jawab
terhadap terjadinya
hambatan batuk oleh
nedocromil pada sel mast,
untuk menghambat respon
awal yang disebabkan oleh
antigen pada eosinofil,
untuk menghambat respon
inflamasi pada inhalasi
alergen.
Antagonis Farmakodinamik Efek samping Kontraindikasi
leukotrien  Inhibitor leukotrien, Dapat menimbulkan Pasien alergi
yaitu komponen lemak gangguan GI, sakit terhadap obat
yang diproduksi sistem kepala, reaksi tersebut, pasien
imun yang hipersensitif, memiliki
menyebabkan inflamasi gangguan tidur, phenylketonuria,
pada asma dan resiko perdarahan, pasien yang
menghambat jalan sindrom churg- mendapat terapi
napas. strauss (vaskulitis tolbutamide.
 Kurang efektif eosinofil sistemik),
dibandingkan CS mengantuk
 Lebih dipakai untuk
asma kronik atau
profilaksis asma.

Farmakokinetik
 Obat diberikan secara
peroral
 Kerjanya sangan
spesifik, tidak
mengganggu kerja dari
obat asma lain yang
diberikan.
 Waktu paruh 1,5 -10 jam
Antihistamin Farmakodinamik Efek samping Kontraindikasi
 Inhibitor histamine Dapat Pasien dengan
dengan cara berikatan menimbulakan kerusakan fungsi
reseptor histamin atau sedasi, sakit kepala, hepar, pasien dengan
menginhibisi enzim retensi urin, mulut kerusakan fungsi
histidin decarboxilase, kering, pandangan ginjal, pasien yang
katalisator dari histamin. kabur, gangguan GI, alergi terhadap obat
 Histamin menyebabkan tinitus tersebut.
otot polos berkontraksi,
meningkatkan sekresi
mukus, meningkatkan
permeabilitas vaskuler
sehingga terjadi edema
mukosa, dan
menstimulasi saraf
parasimpatik.
 Histamin menyebabkan
bronkokonstriksi dan
reaksi infalamsi yang
terus meningkat.

Farmakokinetik
Obat diberikan secara
peroral, waktu paruh 8-27
jam

Memilih P-Drug
Dalam kasus ini yang terpilih adalah kelompok β2 agonis short acting
P-Drugs Kemanjuran Keamanan Kecocokan Biaya
Salbutamol
sulfat
Tablet 2mg Tablet : 3x Tidak ada Tidak ada Tablet 2mg
dan 4 mg sehari ½ - 1 perbedaan perbedaan Rp.198 ; 4mg
tab 4mg; 1-2 Rp297
tab 2mg
Botol 60ml
Sirup Sirup : 3x Rp 5940
2mg/5ml sehari 1-2
sendok takar
sirup

Inhaler 0,1 mg Inhaler : 1-2 1 puff


/ puff puff, 3-4 kali Rp.31.600
sehari
Terbutalin
Sulfat
Tablet 2,5 mg Tablet : 2-3 Tidak ada Tidak ada Tablet 2,5 mg
kali sehari 1-2 perbedaan perbedaan Rp 1900
tablet

Sirup Sirup : 2-3 kali Botol 100ml


1,5mg/5ml sehari 10-15 Rp44.000
ml

Injeksi Injeksi : ½ - 1 Injeksi Rp


0,5mg/ml amp maksimal 15.820
0,5mg dalam 4
jam

Inhaler Inhaler : BB> Inhaler Rp


2,5mg/ml 25kg , 5mg 85.968
larutan dihirup hingga
semprot 4x dalam 24
jam

Pemilihan P-drug menurut cara Multiatribut –utility analysis sheet :

P-drug Suitability (%) Efficacy (%) Safety (%) Cost total (%)
20% 30% 30% 20%
Salbutamol
sulfat
Tablet 2mg (8x20%) (7x30%) (8x30%) 198x20%
dan 4 mg 297x20%
5940x20%
Sirup 2mg/5ml (8x20%) (7x30%) (8x30%)
Inhaler 0,1 mg (9x20%) (9x30%) (8x30%) 31600x20%
/ puff

Terbutalin
sulfat
Tablet 2,5 mg (8x20%) (7x30%) (8x30%) 1900x20%

Sirup (8x20%) (8x30%) 44000x20%


1,5mg/5ml (7x30%)

Injeksi (8x20%) (8x30%) 15820x20%


0,5mg/ml (7x30%)

Inhaler (9x20%) (8x30%) 85968x20%


(9x30%)
2,5mg/ml
larutan
semprot

First choice P-drug : salbutamol sulfat Inhaler 0,1 mg / puff


Second choice P-drug : salbutamol sulfat Sirup 2mg/5ml
Third choice P-drug : salbutamol Tablet 4 mg

Macam sediaan Salbutamol sulfat dengan BSO inhaler

P-drug Suitability Efficacy (%) Safety (%) Cost total (%)


(%) 20% 30% 30% 20%
Ventolin (9x20%) (9x30%) (9x30%) 31600x20%
inhaler
100mcg/puff

Penulisan resep

Dokter : Kedokteran
SIP : 001/Kedokteran/2015
Alamat : Jalan prof.Soedharto Semarang Praktek : Senin-Jumat
Telp : 0271892015 16.00-20.00 wib

Semarang , 06 -11-2015
R/ Ventolin Inhaler 100mcg no.I
S . 4dd.Puff I.p.r.n.

Pro : Ny. Madison Bradley (29 th)