Anda di halaman 1dari 8

A.

PENGERTIAN HADIS SECARA ETIMOLOGIS DAN TERMINOLOGIS


1. Pengertian Hadis secara Etimologis
Menurut Ibn Manzhur, kata ‘hadis’ berasal dari bahasa arab yaitu al-hadits, jamaknya
al-ahadits, al-haditsan. Secara etimologis kata ini memiliki banyak arti diantaranya al-jadid
(yang baru) lawan dari al-qadim (yang lama) dan al-khabar yang berarti kabar atau berita.
Disamping pengertian tersebut, M.M. Azami mendefinisikan bahwa kata ‘hadis’
(Arab : al-hadits), secara etimologi (lughawiyah) berarti komunikasi, kisah, percakapan, :
religius atau sekular, historis atau kontemporer.1
Kata ilmu hadis berasal dari bahasa Arab ‘ilm al-hadist, yang terdiri atas kata ‘ilm dan
al-hadits. Secara etimologis, ‘ilm betrarti pengetahuan’ jamaknya ‘ulum, yang berarti al-yaqin
(keyakinan) dan al-ma’rifah (pengetahuan). Menurut para ahli kalam (mutakallimun), ilmu
berarti keadaan tersingkapnya sesuatu yang diketahui (objek pengetahuan). Tradisi di
kalangan sebagian ulama, ilmu diartikan sebagai sesuatu yang menancap dalam-dalam pada
diri seseorang yang dengannya ia dapat menemukan atau mengetahui sesuatu.2
Dalam Al-Qur’an kata hadis ini digunakan sebanyak 23 kali. Berikut ini beberapa
contohnya.3
a. komunikasi religius : risalah atau Al-Qur’an.
Allah SWT. Berfirman’
     
     
     
        
         
Artinya :
Allah telah menurunkan Perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-
ayatnya) lagi berulang-ulang [1312], gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada
Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah
petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. dan
Barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun. (Q.S Az-
Zumar [39]:23)

Firman-Nya lagi,
     
     
Artinya :

1 Drs. M. Agus Solahudin, M.Ag. & Agus Suyadi, Lc. M.Ag. Ulumul Hadis. Bandung: CV. Pustaka Setia. 2011. Hlm.
13.
2 Dr. Indri, M.Ag. Studi Hadis. Jakarta: Prenada Media Groub. 2010. Hlm. 53.

3 Drs. M. Agus Solahudin, M.Ag. & Agus Suyadi, Lc. M.Ag. Ulumul Hadis. Bandung: CV. Pustaka Setia. 2011. Hlm.
13.
Maka serahkanlah (ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang
mendustakan Perkataan ini (Al Quran). nanti Kami akan menarik mereka
dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak
mereka ketahui. (Q.S Al-Qalam [68]:44)

b. kisah tentang suatu watak sekular atau umum


Allah SWT. Berfirman,
     
     
     
    
 
Artinya :
dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, Maka
tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. dan jika
syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), Maka janganlah kamu duduk bersama
orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu). (Q.S Al-An’am [6]:68)

c. kisah historis
Allah SWT. Berfirman,
    
Artinya :
Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa? (Q.S Thaha [20]:9)4

d. kisah kontemporer atau percakapan


Allah SWT. Berfirman,
     
     
      
       
    
Artinya :
dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang isterinya
(Hafsah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafsah) menceritakan Peristiwa itu (kepada Aisyah)
dan Allah memberitahukan hal itu (pembicaraan Hafsah dan Aisyah) kepada Muhammad lalu
Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan
Menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafsah). Maka tatkala (Muhammad)
memberitahukan pembicaraan (antara Hafsah dan Aisyah) lalu (Hafsah) bertanya: "Siapakah
yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?" Nabi menjawab: "Telah diberitahukan
kepadaku oleh Allah yang Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (Q.S At-Tahrim [66]:3)

4 Drs. M. Agus Solahudin, M.Ag. & Agus Suyadi, Lc. M.Ag.. Ulumul Hadis. Bandung: Pusaka Setia. 2011. Hlm. 14.
Dari ayat-ayat tersebut kita bisa menyimpulkan bahwa kata hadis telah digunakan
dalam Al-Qur’an dalam arti kisah, komunikasi atau risalah, religius maupun sekular, dari
suatu masa lampau ataupun masa kini.5

2. Pngertian Hadis secara Terminologis


Secara terminologis para ulama baik muhaditsin, fuqaha, ataupun ulama ushul,
merumuskan hadis secara berbeda-beda. Perbedaan pandangan tersebut lebih disebabkan oleh
terbatas dan luasnya objek tinjauan masing-masing, yang tentu saja mengandung
kecenderungan pada aliran ilmu yang didalaminya.6 hadis oleh para ulama’diartikan sebagai
sgala yang disandarkan pada NABI baik berupa perkataan, perbuatan,persetujuan ataupun
sifat-sifatnya.7
Dari pengertian diatas, ilmu hadis dapat diartikan sebagai ilmu yang mengkaji dan membahas
tentang sgala yang disandarkan kepada Nabi baik perkataan maupun ucapan
persetujuanataupun sifat-sifatnya, tabi’at, dan tingkah lakunya atau yang disandarkan kepada
sahabat dan tabiin.

Ulama hadis mendefinisikan hadis sebagai berikut,


“segala sesuatu yang diberitakan dari Nabi Saw. Baik berupa sabda, perbuatan, taqrir, sifat-
sifat maupun hal ihwal Nabi.”8
Menurut istilah ahli ushul fiqh, pengertian hadis adalah,

“hadis adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Saw. Selain Al-Qur’an Al-Karim
baik berupa perkataan, perbuatan, maupun taqrir Nabi yang bersangkut paut dengan hukum
syara.”

Adapun menurut istilah para fuqaha, hadis adalah,

“segala sesuatu yang ditetapkan Nabi Saw. Yang tidak bersangkut-paut dengan masalah-
masalah fardhu atau wajib.”

Perbedaan pandangan tersebut kemudian melahirkan dua macam pengertian hadis


yakni pengertian terbatas dan pengertian luas. Pengertian hadis secara terbatas sebagaimana
dikemukakan oleh fumhur Al-Muhaditsin adalah,

5 Drs. M. Agus Solahudin, M.Ag. & Agus Suyadi, Lc. M.Ag. Ulumul Hadis. Bandung: CV. Pustaka Setia. 2011. Hlm.
15.
6 Drs. M. Agus Solahudin, M.Ag. & Agus Suyadi, Lc. M.Ag. Ulumul Hadis. Bandung: CV. Pustaka Setia. 2011. Hlm.
15.

7 Dr. Indri, M.Ag. Studi Hadis. Jakarta: Prenada Media Groub. 2010. Hlm. 54.

8 Drs. M. Agus Solahudin, M.Ag. & Agus Suyadi, Lc. M.Ag. Ulumul Hadis. Bandung: CV. Pustaka Setia. 2011. Hlm.
15.
“sesuatu yang dinisbatkan kepada Nabi Saw. Baik berupa perkataan, perbuatan, pernyataan
(taqrir) dan sebagainya.”9

Dengan demikian, menurut ulama hadis esensi hadis adalah segala berita yang
berkenaan dengan sabda, perbuatan, taqrir, dan hal ikhwal Nabi Muhammad Saw. Yang
dimaksud hal ikhwal adalah segala sifat dan keadaan pribadi Nabi Saw.

Adapun pengertian hadis secara luas sebagaimana dikatakan muhammad mahfudz At-
Tirmidzi adalah,

“sesungguhnya hadis bukan hanya yang dimarfukan kepada Nabi Muhammad Saw.,
melainkan dapat pula disebutkan pada yang mauquf (dinisbatkan pada perkataan dan
sebagainya dari sahabat) dan maqthu (dinisbatkan pada perkataan dan sebagainyadari
tabiin).”

Hal ini jelas bahwa para ulama beragam dalam mendefinisikan hadis karena mereka
berbeda dalam meninjau objek hadis itu sendiri.
10

3. PENGERTIAN HADIS : ARGUMEN DAN PERSPEKTIFNYA

Terdapat perbedaan pendapat para ulama dalam memberikan definisi hadis. Perbedaan
dapat dilihat dari definisi yang dimajukan para ahli hadis (muhadditsun), para ulama ushlul
fiqih (ushuliyyun) dan para ulama fiqh (fuqaha). Perbedaan dalam memberikan definisi
tersebut disebabkan adanya perbedaan disiplin keilmuan, fokus perhatian serta perspektif
yang digunakan dalam memandang diri Rasulullah Saw dalam posisi sumber hadis itu
sendiri. Dengan kata lain, munculnya perbedaan definisi tersebut terjadi karna adanya
perbedaan tinjauan dan objek kajian sesuai dengan latar belakang keilmuan masing-masing. 11
a. Hadis menurut Muhadditsun
Para ulam hadis mensinonimkanpengertian hadis dengan sunnah. Bagi mereka sunnah
didefinisikan sebagai berikut :

“Sunnah dalam pengertian para ahli hadis adalah segala riwayat yang berasal
rasulullah baik berupa perkataan, perbuatan, ketetapan (taqrir), sifat fisik dan
tingkah laku, beliau baik dingakat menjadi rosul (seperti tahannuts beliau di gua
Hira’) maauoun sesudahnya.”

Ulama hadis melihat Rasulullah sebagai manusia yang sempurna (insan kamil) atau
pribadi pilihan Allah yang tidak saja perkataan, perbuatanatau ketetapan beliau dapat
dicontoh, akan tetapi seluruh perilaku dan perjalanan hidup beliau adalah pantas untuk
dijadikan teladan utama. Rasulullah adalah figur sentral dan model terbaik (uswah hasanah)

9 Drs. M. Agus Solahudin, M.Ag. & Agus Suyadi, Lc. M.Ag.. Ulumul Hadis. Bandung: Pusaka Setia. 2011. Hlm. 16.
10 Drs. M. Agus Solahudin, M.Ag. & Agus Suyadi, Lc. M.Ag.. Ulumul Hadis. Bandung: Pusaka Setia. 2011. Hlm.
17.
11 Dr. Hj. Umi Sumbulah, M.Ag. Kajian Kritis Ilmu Hadis. Malang: Uin Maliki Press. 2010. Hlm. 5.
yang harus diteladani oleh seluruh umat islam. Karena itu dalam kerangka menjadikan nabi
sebagai uswah hasanah ini, mauhadditsun juga mengikutkan segala perilaku Muhammad
Saw, sejak sebelum beliau diangkat menjadi Nabi/Rosul. Oleh karena itu, ulama hadits
berusaha meliputisebanyak mungkin riwayat yang berkenaan dengan Rasulullah, tidak saja
berkenaan dengan aspek hukum, akan tetapi juga menceritakan keadaan beliau, sifat-sifat dan
kebiasaan, bahkan hingga gambaran dan performa fisik beliau sekalipun.12

2. Hadis menurut Ushuliyyun


Para ulama ahli ushul fiqh (ushuliyyun), juga mensinonimkan pengertian hadis dan
sunnah. Mereka mendefinisikan hadis dan sunnah sebagai berikut :
“Al-Sunnah menurut pengertian ulama Ushlul Fiqh adalah segala sesuatu yang
disandarkan kepada Nabi Saw selain Al-Qur’an, berupa perkataan, perbuatan maupun
ketetapan (taqrir) beliau, yang dapat dijadikan sebagai dalil hukum syari’ah.”

Berbeda dengan muhadditsunyang memandang Rasulullah sebagai figur sentral,


ulama ushul yang berkonsentrasi pada dalil-dalil hukum memandang Rasulullah sebagai
Musyarri (pembuat undang-undang). Oleh karena itu, istilah sunnah dibatasi pengertiannya
pada perkataan, perbuatan dan ketetapan beliau sepanjang yang dapat dijadikan dalil syara.
Meskipun demikian, dengan pembatasan ini para ulama ushul tidak berarti menolak cakupan
makna hadis atau sunnah yang didefinisikan oleh kalangan muhadditsun.
3. Hadis menurut Fuqaha
Para ulama fiqh (fuqaha) tidak memberikan definisi sunnah yang dipergunakan untuk
menunjuk salah satu bentuk atau sifat hukum yang lima (al-ahkam al-khamsah)13

“para fuqaha mendefinisikan sunnah sebagai segala perbuatan yang ditetapkan oleh
Rasulullah, namun pelaksanaannya tidak sampai kepada tingkat wajib.”

Dengan kata lain, para ahli fiqih (fuqaha) mendefinisikan sunnah sebagai segala
sesuatu yang pelaksanaannya dapat ditinggalkan namun dipandang lebih baik dan lebih
utama (afdhal) untuk diamalkan. Adapun ulama fiqih (fuqaha) yang mengkaji masalah
bentuk atau sifat hukum mengenai perbuatan manusia, menggunakan istilah sunnahuntuk
menyatakan salah satu dari sifat hukum dari perbuatan manusia tersebut. Sunnah adalah salah
satu dari sifat hukum yang lain yakni wajib, mubah, makruh dan haram. Dengan kata lain,
sunnah merupakan salah satu dari hukum yang lima (al-ahkam al-khamsah).
14

B. UNSUR-UNSUR HADIS

12 Dr. Hj. Umi Sumbulah, M.Ag. Kajian Kritis Ilmu Hadis. Malang: Uin Maliki Press. 2010. Hlm. 6.
13 Dr. Hj. Umi Sumbulah, M.Ag. Kajian Kritis Ilmu Hadis. Malang: Uin Maliki Press. 2010. Hlm. 7.
14 Dr. Hj. Umi Sumbulah, M.Ag. Kajian Kritis Ilmu Hadis. Malang: Uin Maliki Press. 2010. Hlm. 8.
Unsur hadis terdiri dari tiga hal, yakni sanad, matan dsan parawi terkhir (mukharrij al-
hadits). Suatu teks tidak pernah dinyatakan sebagai hadis jika hanya terdiri dari matan saja,
meskipun isinya baik dan tidak bertentangan dengan Al-Qur’an. Demikian demikian pula jika
hanya terdiri dari sanad atau mukahrrij al-hadits saja, maka tidak pernah dinyatakan sebagi
hadis. Oleh karena itu tiga aspek ini harus ada dalam setiap hadis.
1. Sanad
Kata sanad sering disebut pula dengan isnad. Sanad didefinisikan sebagai berikut,

“secara bahasa sanad diartikan sebagai sesuatu yang dijadikan sandaran, sedangkan dalam
pengertian istilah sanad adalah rangkain parawi hadis yang menghubungkan kepada matan
(teks/isi hadis)”.

Dalam istilah ilmu hadis sanad dan isnad sering disinonimkan penggunaannya meskipun
makna asal keduanya berbeda. Secara terminologis terdapat beberapa definisi sanad. Pada
dasarnya beberapa definisi tersebut hanya berbeda pada tingkatan redaksi, tetapi secara
substansi tidak terdapat perbedaan.

Beberapa pengertian terma sanad dapat dilihat sebagai berikut :


 Ahli hadis, yang mendefinisikan sanad sebagai jalan yang menyampaikan kita kepada
matan hadis.
 Ajjaj a-Khathib mendefinisikan sanad sebagai penjelasan tentang jalan yang
menyampaikan kita kepada materi hadis.
 Syuhudi Ismail mendefinisikan sanad dengan rangkain para periwayat yang
menyampaikan riwayat hadis.

Menurut data perjalanan sejarah, sistim sanad sesungguhnya tidak berasal dari tradisi khas
Islam. Ditemukan bukti kuat bahwa penggunaan metode sanad telah ada dan eksis dalam
rentangan waktu yang cukup lama sebelum kehadiran Islam. Dapat disebutkan misalnya
sistim sanad telah digunakan dalam kitab Yunani Kuno, Mishna yang dipakai secara luas
dalam periwayatan puisi-puisi jahiliyah dari tradisi Arab klasik. Akan tetapi penggunaan
sanad pada saat itu sekedar merupakan keharusan sejarah dan adat kebiasaan, yang tidak
terkait dengan urgensi dan kepentingan bagi eksistensi dari sistim sanad itu sendiri.
Penggunaan sanad dalam proses seleksi hadis di masa Islam sudah mulai sejak masa
Nabi Muhammad SAW. Dan sahabatnya, meskipun masih sangat sederhana (oral
transmition). Transformasi sanad di era ini dilakukan dengan cara menyebarkan informasi
dari mulut ke mulut (musyafahah) dan berlangsung serta merta sebagai sarana dalam
penyampaian hadis.
Terdapat komitmen moral dikalangan para sahabat tentang transformasi hadis ini.
Para sahabat yang mengikuti halaqah bersama nabi, memiliki kewajiban moral untuk
menyampaikannya keoada sahabat lain yang tidak mengikutinya. Mereka menyampaikan
hadis kepada sahabat lain setiap kali mereka bertemu. Sahabat yang mendengar hadis dari
sahabat lain ini kemudian juga melakukan pengecekan terhadap validasi hadis yang
diterimanya tersebut, baik kepada sahabat lain, maupun kepada Nabi SAW. Sehingga dengan
demikian senantiasa terdapat ruang dan kesempatan dalam transformasi hadis. Hal ini
dilakukan demi menjaga otentisitas dan orisinalitas hadis sebagai sumber hukum Islam.
Bahkan terdapat tradisi bahwa ketika mereka berada dalam suatu majelis bersama Nabi pun,
mereka saling bertukar informasi prihal apa yang mereka dengar dan lihat dalam majelis Nabi
tersebut.
Proses transformasi hadis dengan cara seperti ini dilakukan pada masa Nabi saat hadis
baru mulai berkembang disekitar lingkungan Nabi. Hal ini berlangsung terus hingga setelah
beliau wafat. Akan tetapi pada tahun 40 H, saat timbulnya fitnah kubra akibat “perseteruan”
politik antara Ali dan Mu’awiyah, tradisi ini tidak dapat dipertahankan lagi sebagai model
periwayatan sanad. Pada masa selanjutnya periwayatan hadis sangat dipengaruhi oleh setting
budaya dan bahkan perkembangan politik. Oleh karena itu, pada fase ini dimulailah sistim
sanad hingga sekarang ini. Dengan kata lain, pasca fitnah kubra, sistim sanad dalam
transformasi hadis menjadi penting adanya dan demikian nyata urgensinya. Para ahli hadis
menjadi sangat berhati-hati dalam mengisnadkan hadis. Karena itu, untuk menerima sebuah
riwayat hadis diperlukan seleksi demikian ketat.15

2. Matan
Para ulama mendefinisikan matan secara bahasa maupun istilah, sebagai berikut :
“ secara bahasa matan adalah sesuatu yang terangkat dari bumi, sedangfkan secara istilah
pembicaraan (kalam) atau materi berita yang disampaikan setelah sanad yang terakhir.
Dengan kata lain, matan adalah isi/materi/teks hadis itu sendiri”.16
Kata matan atau al-matn menurut bahasa berarti ma irtafa’a min al-ardhi (tanah yang
meninggi). Sedangkan menurut istilah adalah suatu kalimat tempat berakhirnya sanad. Atau
dalam redaksi lain ialah lafaz-lafaz hadis yang didalamnya mengandung makna-makna
tertentu. Ada juga redaksi yang lebih simple lagi yang menyebutkan bahwa matan adalah
ujung sanad (gayah as-sanad). Dari semua pengertian diatas menunjukan bahwa yang
dimaksud dengan matan ialah materi atau lafaz hadis itu sendiri.17

3. Perawi (Mukharrij al-Hadits)


Struktur hadis yang berikutnya adalah mukharraj al-Hadits atau yang dikenal dengan
sebutan populer, periwayat hadis (rawi). Sesungguhnya terdapat perbedaan antara pengertian
mukharrij al-Hadits dengan parawi. Jika parawi adalah orang yang meriwayatkan hadis maka
mukharrij al-Hadits digunakan untuk menunjukan orang yang disamping meriwayatkan
hadis, juga menuliskan hadis-hadis tersebut dalam kumpulan tulisan atau kitab mereka.
Karena itu pula, maka al-Bukhori, Muslim dan parawi ashab al-sunan lebih tepat disebut
sebagai mukharrij al-hadits daripada sekedar ruwat al-hadits (periwayat hadis).18
Parawi juga biasa disebut Rawi. Kata rawi atau al-rawi berarti yang meriwayatkan
atau memberikan hadis (naqil al-hadits). Sebenarnya antara sanad dan rawi itu merupakan
dua istilah yang tidak dapat dipisahkan. Sanad-sanad hadis pada tiap-tiap tabaqahnya juga
disebut rawi, jika yang dimaksud dengan rawi adalah orang yang meriwayatkan dan

15 Dr. Hj. Umi Sumbulah, M.Ag. Kajian Kritis Ilmu Hadis. Malang: Uin Maliki Press. 2010. Hlm. 16.

16 Dr. Hj. Umi Sumbulah, M.Ag. Kajian Kritis Ilmu Hadis. Malang: Uin Maliki Press. 2010. Hlm. 19.
17 Dr. H. Munzier Suparta, M.A. Ilmu Hadis. Jakarta:PT. Rajagrafindo Persada. 2011. 46.
18 Dr. Hj. Umi Sumbulah, M.Ag. Kajian Kritis Ilmu Hadis. Malang: Uin Maliki Press. 2010. Hlm. 19.
memindahkan hadis. Akan tetapi yang membedakan antara rawi dan sanad adalah terletak
pada pembukuan atau pentadwinan hadis. Orang yang menerima hadis dan kemudian
menghimpunnya dalam suatu kitab tadwin, disebut dengan perawi. Dengan demikian, maka
perawi dapat disebut muddawin (orang yang membukukan dan menghimpun hadis).
Untuk lebih jelas membedakan antara sanad, rawi dan matan. Sebagaimana yang
diuraikan diatas ada baiknya melihat contoh hadis dibawah ini,19
“telah menceritakan kepada ku Muhammad bin Ma’mur bin Rabi’i al-Qaisi, katanya : telah
menceritakan kepadaku Abu Hisyam al-Mahzumi dari Abu al-Wahid, yaitu ibn ziyad,
katanya: telah menceritakan kepada ku Muhammad bin al-Munkadir dari Amran, dari Ustman
bin affan ra., ia berkata : barang siapa yang berwudhu dengan sempurna (sebaik-baiknya
wudhu), keluarlah dosa-dosanya dari seluruh badannya bahkan dari bawah kukunya”. (H.R
Muslim)
Dari mana Muhammad bin Ma’mur bin Rabi’i Al-Qaisi sampai dengan usman bin
affan ra., adalah sanad dari hadisn tersebut. Mulai kata man tawaddha’a sampai dengan kata
tahta azhfarih adalah matannya. Sedang imam muslim yang dicatat di ujung hadis adalah
perawinya yang juga disebut mudawwin. 20

19 Dr. H. Munzier Suparta, M.A. Ilmu Hadis. Jakarta:PT. Rajagrafindo Persada. 2011. 47
20 Dr. H. Munzier Suparta, M.A. Ilmu Hadis. Jakarta:PT. Rajagrafindo Persada. 2011. 48.