Anda di halaman 1dari 5

KHASIAT LATIHAN AKUATIK PADA PASIEN NYERI PUNGGUNG BAWAH

MAMORU ARIYOSHI, KYOSUKE SONODA, KENSEI NAGATA, TAKERU MASHIMA,


MICHIHISA ZENMYO, CHINSU PAKU, YOSHIAKI TAKAMIYA, HIROKI YOSHIMATSU,
YOSHIMASA HIRAI, HIDEKI YASUNAGA, HIDETOSHI AKASHI, HIROYASU IMAYAMA,
TOMOHISA SHIMOKOBE, AKIO INOUE AND YOSHITERU MUTOH
Department of Surgery, Kyoritsu Hospital, Kitakyusyu 804-0073,Department of Orthopaedic Surgery,
Kurume University School of Medicine, Kurume 830-0011 and Department of Physical and Health
Education, Graduate School of Education, University of Tokyo, Tokyo 113-0033, Japan

ABSTRAK

Kami telah mempelajari 35 pasien (25 perempuan dan 10 laki-laki) dengan nyeri punggung
bawah yang diterapi dengan latihan air setelah periode perawatan yang cukup untuk kondisi
mereka di institusi medis. Latihan yang digunakan terdiri dari latihan penguatan otot perut,
gluteal, dan otot kaki, peregangan punggung, pinggul, hamstring, dan otot betis, berjalan di air,
dan berenang. Semua pasien telah berpartisipasi dalam program latihan itu lebih dari 6 bulan.
Frekuensi melakukan latihan seminggu sekali untuk 7 pasien, dua kali seminggu 19, dan 3 kali
atau lebih dalam seminggu untuk pasien yang tersisa. Metode yang digunakan dalam penelitian
ini adalah sebuah survey menggunakan kuesioner yang terdiri dari pertanyaan tentang kondisi
fisik dan psikologis pasien. Pasien yang pernah melakukan latihan dua kali atau lebih dalam
seminggu menunjukkan sebuah peningkatan skor fisik lebih signifikan dibanding mereka yang
melakukan latihan hanya satu kali seminggu. Lebih dari 90% pasien merasa telah membaik
setelah 6 bulan berpartisipasi dalam program ini. Perbaikan nilai fisik tidak tergantung pada
kemampuan awal berenang. Hasil yang diperoleh menyarankan bahwa latihan dalam air
mungkin merupakan salah satu model yang paling berguna untuk pasien dengan nyeri punggung
bawah.
PENDAHULUAN

Pasien yang menderita nyeri punggung bawah tidak bisa mengabaikan waktu istirahat
saat gejalanya menjadi lebih buruk, yang menyebabkan atrofi otot ventral dan dorsal batang
tubuh dan menyebabkan berkurangnya fungsi tulang belakang. Disfungsi otot ventral dan dorsal
yang menstabilkan tulang belakang menyebabkan stres abnormal atau beban yang berlebihan
pada persendian atau ligament tulang belakang. Otot yang lemah ini tidak bisa menstabilkan
tulang belakang dan perkembangan kondisi otot punggung dan struktur terkait pada pasien
menjadi terus-memburuk.Pentingnya latihan penguatan dan kebugaran untuk stabilisasi otot
tulang belakang yang melemah kini telah diterima secara luas. Namun, kita tidak bisa
menghindari beban berat pada tulang belakang pada semua jenis latihan di darat. Di sisi lain, kita
bisa mengendalikannya saat melakukan latihan di air. Diakui bahwa olahraga di air bisa menjadi
pengobatan yang efektif dan bermanfaat terutama untuk penderita artritis atau disfungsi ortopedi
yang mengalami kesulitan menahan beban saat berolahraga di darat. Namun, masih sedikit
perhatian yang diberikan pada khasiat praktis berolahraga di air untuk pasien dengan nyeri
punggung bawah. Kita telah membuat serangkaian latihan dalam air untuk pasien dengan nyeri
punggung bawah dan telah mempelajari khasiatnya menggunakan metode kuesioner.
BAHAN DAN METODE

Tiga puluh lima pasien, 25 perempuan dan 10 laki-laki, dengan nyeri punggung bawah
berpartisipasi dalam program latihan akuatik yang sudah diatur untuk pasien ini sesudah masa
perawatannya yang memadai di rumah sakit. Usia rata-rata mereka adalah 49 (berkisar antara 23
- 72) tahun, tinggi rata-rata 159,2 (berkisar antara 147 - 173) cm, dan berat rata-rata 57,3
(berkisar antara 40 - 75) kg. Semua pasien dirawat di beberapa Rumah sakit ortopedi dan
penyebab nyeri punggung bawah adalah deformance spondilotik lumbar sebanyak 18, herniasi
diskus lumbarsebanyak 5, stenosis lumbalistulang belakang (LCS) sebanyak 2, dan gangguan
otot berulang sebanyak 10. Dua pasien dengan herniasi diskus lumbal dan satu dengan LCS
dilakukanterapi secara operative. Yang lainnya dengan non-operative. Semua mengikuti program
ini setelah dirawat di rumah sakit minimal 3 bulan

Program ini terdiri dari latihan yang dilakukan di luar atau di dalam kolam renang.
Latihan di luar kolam bertujuan untuk memperkuat otot perut dan glutealis. Latihan otot rektus
isometrik dan otot perut oblique pada posisi telentang dengan dianjurkan posisi pinggul dan lutut
ditekuk. Latihan sit-up sederhana dihindari, sit-up dengan posisi terlentang dengan pinggul dan
lutut ditekuk meningkatkan tekanan diskus lumbar. Peregangan otot secara static pada otot
punggung dan pinggul, pasien menarik lutut ke dada sejauh mungkin sambil mempertahankan
posisi telentang dan mengulanginya perlahan Ini bukan latihan curl terbalik yang mana adalah
latihan penguatan otot perut. Setiap hiperekstensi atau kecenderungan untuk hiperekstensi
sebaiknya dihindari saat kaki kembali ke lantai. Latihan akuatik adalah peregangan statis pada
paha belakang dan otot betis; 25 m ke depan, belakang dan berjalan kesamping; Jogging kedepan
25 m; 5 kali naikan kaki ke depan, naikan kaki ke belakang, dan naikan kaki ke samping; 5 kali
terayun dan melompat; dan 25 mberenangmerangkak atau gaya punggung. Setiap latihan diulang
3 atau 4 kali di setiap sesi. Seluruh sesi dibutuhkan sekitar 90 menit. Frekuensi partisipasi dalam
program ini seminggu sekali untuk 7 pasien, dua kali seminggu untuk 19 pasien, dan 3 kali atau
lebih untuk 9 pasien.Pasien-pasien ini telah berpartisipasi dalam program tersebut selama lebih
dari 6 bulan. Kolam renang dalam ruangan dengan kedalaman air 120 cm suhu air 29 derajat, dan
31 derajat suhu kamar digunakan untuk latihan ini.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah surveimenggunakan kuesioner.


Semua pasien yang disurvei mengisi kuesioner. Kuesioner terdiri dari dua bagian, satu tentang
kondisi fisik dan lainnya tentang kondisi psikologis. Yang pertama disertakan pertanyaan tentang
kondisi dalam kehidupan sehari - hari, derajat nyeri punggung bawah, kondisi nyeri punggung
bawah, kondisi pergerakan badan, kondisi berjalan. Yang terakhir adalah tentang kesan subjektif
dari pengalaman 6 bulan mengikuti program ini. Kuesioner diisi di bawah pengawasan sebelum
mengikuti program dan setelah 6 bulan atau lebih partisipasi dalam program ini. Setiap
pertanyaan memiliki 4 kemungkinan jawaban, sebagai berikut: Mengenai kondisi kehidupan
sehari-hari, A, normal, tidak ada batasan; B, hampir normal, keterbatasan kecil; C, keterbatasan
utama; D, tidak bisa lakukan apapun tanpa bantuan. Tentang derajat sakit punggung, A, tidak
sakit; B, sakit ringan; C, cukup sakit berat; D, sakit besar. Tentang durasi nyeri punggung bawah,
A, bebas dari rasa sakit; B, kadang sakit; C, sering sakit; D, selalu sakit. Tentang mobilitas
badan, A, rentang gerakan normal; B, keterbatasan ringan; C, keterbatasan yang sangat parah; D,
keterbatasan parah. Sehubungan dengan kondisi berjalan, A, normal; B, hampir normal; C,
pincang; D, tidak bisa berjalan tanpa bantuan. Hasil ini dinilai sebagai 1 poin untuk A, 2 poin
untuk B, 3 poin untuk C, dan sebagai 4 poin untuk D. Kami membandingkan total skor untuk
kondisi fisik sebelum dan sesudah program. Pertanyaan seputar kondisi psikologis menguji
penilaian subjektif tentang pengobatan menggunakan latihan sebagai berikut: A, sangat
memuaskan; B, memuaskan; C, tidak ada perubahan; D, bertentangan dengan
harapan.Kemampuan berenang dievaluasi dengan kuesionerterdiri dari 10 elemen; berjalan di air,
melompat masuk air, lari dalam air, rendam muka, terbenam seluruhnya, mengapung dengan
wajah ke atas, mengambang dengan wajah ke bawah, berenang gaya punggung, berenang gaya
dada, menyelam di air. Setiap elemen dinilai dan dibagi menjadi 2 kelas sebagai berikut: bias
dilakukan dengan baik (10 poin) atau tidak (0 poin).
HASIL

Kuesioner tersebut diselesaikan oleh semua peserta. Nilai rata-rata dari skor fisik setelah
berpartisipasi dalam program ini adalah 9.7 ± 4.7 (n = 35) yang secara signifikan (p <0,05) lebih
rendah dari skor awal yang diperoleh sebelum partisipasi (11,7 ± 3.3, n=35). Nilai rata-rata pada
skor fisik setelah mengikuti program yang diperoleh dari individu yang telah melakukan latihan
dua kali atau lebih dalam seminggu (7.3 ± 3.7, n = 9) secara signifikan (p <0,05) lebih rendah
dari skor awal (12,6 ± 4,6, n = 9) yang didapatkan dari individu sebelum berpartisipasi dalam
program ini. Di sisi lain, tidak ada yang perbedaan yang signifikan antara nilai rata-rata skor fisik
setelah (10,5 ± 4,8, n = 26) dan sebelum (11,4 ± 2,8, n = 26) berpartisipasi dalam program pada
individu yang mengikutinya seminggu sekali.

Kemampuan berenang peserta berkembang karena latihan ini. Nilai rata-rata skor
kemampuan berenang setelah berpartisipasi dalam program ini (70,6± 25,5, n = 35) secara
signifikan lebih tinggi dari skor awal (52,3 ± 31,7, n = 35). Awalnya, 13 peserta memiliki kurang
dari 40 poin kemampuan berenang dan 22 peserta memiliki lebih dari 41 poin skor kemampuan
berenang. Pada orang yang memiliki kurang dari 40 poin skor kemampuan berenang awal, nilai
rata –rata skor fisik setelah mengikuti program (9.2 ±3.1, n = 13) secara signifikan (p <0,05)
lebih rendah dari skor fisik awal (12,0 ± 2,9, n = 13). Pada orang yang memiliki poin awallebih
dari 41skor kemampuan berenang, nilai rata-rata skor fisik setelah mengikuti program (10.0
±5.5, n = 22) tidak berbeda nyata dengan skor awal (11,5± 3,5, n = 22) namun menunjukkan
kecenderungan untuk menurun.
Mengenai penilaian subyektif pada program ini, jawabannya sangat memuaskan pada 19
(54,3%) orang, memuaskan pada 13 orang (37,1%), dan tidak ada perubahan pada 3 orang
(8,6%). Tidak ada orang yang merasakan hasil latihan tersebut bertentangan dengan harapan
setelah mengikuti program. Empat (21,1%) dari 19 orang yang merasa sangat memuaskan dan 7
(53,8%) dari 13 orang yang merasa puas setelah berpartisipasi dalam program tersebut tidak
mengalami peningktan pada skor fisik.

Nilai rata-rata BMI (Body Mass Index) setelah mengikuti program (21,9± 1,9, n = 35)
tidak berbeda secara signifikan dari nilai awal (22,6 ± 2.3, n = 35).
DISKUSI

Kami merancang program ini dengan dasar sebagai berikut. Kekuatan dan fleksibilitas
otot sangat penting dalam menstabilkan tulang belakang dan beberapa jenis latihan untuk nyeri
punggung bawah belum diketahui. Istirahat jangka panjang untuk pengobatan nyeri punggung
bawah melemahkan otot-otot stabilisasi tulang belakang. Aktivitas otot perut berkurang saat
penjepit atau korset dipakai, karena perangkat ini mengasumsikan fungsiototnya. Otot perut dan
bagian vertebra otot psoas bagian vertebra dilibatkan dalam menghasilkan bentuk vertebra
normal. Panggul berperan dalam menjaga bentuk tulang belakang dalam posisi berdiri dan
memiringkan panggul mempengaruhi aktivitas otot postural dengan mempengaruhi beban statis
pada tulang belakang. Sejakotot perut dan glutealis melemah, setelah istirahat panjang,
menyebabkan tidak bisa mempertahankan kemiringan normal dari panggul yang meningkatkan
kejadian lordosis pada lumbar tulang belakang, sehingga kami mendorong penguatan otot perut
dan gluteus. Semua gerakan tulang belakang melibatkan aksi gabungan dari beberapa segmen,
sedangkan gerakan relatif antara dua vertebra yang berdekatan adalah kecil. Fleksi tulang
belakang pertama sebesar 50 sampai 60 derajat terjadi terutamapada tulang belakang lumbar
bagian bawah dan fleksi lebih lanjut perlu memiringkan panggul ke arah depan. Otot pinggul
posterior aktif dalam memiringkan panggul ke depan saat tulang belakang fleksi. Fleksibilitas
otot ini memungkinkan kelancaran gerak panggul dan tulang belakang lumbar, yang merupakan
alasan mengapa peregangan otot ini dianjurkan. Posisi tubuh merupakan faktor utama yang
mempengaruhi besarnya beban pada tulang belakang. Beban relatif pada diskuslumbal ketiga
secara in vivo di berbagai postur tubuh telah diperkirakan secara rinci. Badan fleksi dalam posisi
berdiri meningkatkan beban dengan meningkatkan gerakan membengkokan tulang belakang ke
depan. Penambahan gerak putar, dan beban torsi yang menyertainya, selanjutnya meningkatkan
tekanan pada tulang belakang.Efek yang tidak diinginkan ini pada tulang belakang membatasi
pasien gangguan punggung bawah dalam berolahraga di darat. Namun, pada posisi telentang,
beban yang dihasilkan oleh berat badan dieliminasi dan dengan demikian beban di tulang
belakang menjadi minimal. Selanjutnya, pada posisi terlentang, dengan pinggul dan lutut
ditekuk, maka lordosis lumbal melengkung keluar saat otot psoas rileks, dan bebannya menurun.
Hal ini memungkinkan latihan penguatan dan peregangan ini dilakukan di darat.
Telah diakui bahwa berolahraga di air bisa menjadi cara terapi terapeutik yang efektif dan
berguna, terutama bagi individu dengan arthritis atau berbagai disfungsi ortopedi yang
mengalami kesulitan dengan weight-bearing pada latihan darat. Saat berolahraga di air, daya
apung dan ketahanan gesekan air memiliki efek mekanis tertentu pada tubuh. Selanjutnya,
tekanan fluida diberikan sama pada semua daerah permukaan dari badan yang tenggelam secara
seimbang pada kedalaman tertentu. Karena beban benturan bekerja pada tulang belakang selama
latihan dapat dengan mudah dikendalikan dengan mengubah tingkat perendaman dalam air,
berolahraga di air mungkin cara latihan yang paling menguntungkan individu dengan nyeri
punggung bawah. Bagian utama dari latihan dalam air adalah berjalan; ke depan, ke belakang,
dan menyamping. Latihan lainnya kecuali berenang juga tampil dalam posisi berdiri. Efek dari
daya apung pada komponen vertikal pada gaya reaksi permukaan saat berjalan di air telah
diperiksa oleh Nakazawa dkk. 1994. Kekuatan benturan maksimum bekerja pada ekstremitas
bawah selama berjalan bisa diturunkan sampai di bawah 50% berat badan dengan berdiri di air
pada kedalaman 60% tinggi badan. Di sisi lain, di air yang dangkal impulsnya lebih besar
daripada berjalan di darat. Sekitar 120 cm kedalaman air dianggap sesuai untuk latihan air.
Latihan untukmemperkuat otot gluteus di darat sering menimbulkan rasa sakit bahkan saat
berada di posisi telentang. Di dalamkasus ini, berolahraga di darat dihindari dan hanyadianjurkan
dalam air. Otot gluteus dapat diperkuat dengan berjalan di air, seperti aktivitas EMG otot
ekstensor pinggul meningkat.

Sekitar 29 derajat suhu air dan suhu ruangan 30 derajat yang digunakan untuk latihan
dalam penelitian ini. Perendaman dalam air hangat memiliki kelebihan tertentu dan efek
menguntungkannya telah diketahui sejak peradaban Hellenic. Ini menyebabkan vasodiation dan
relaksasi ringan umum, selain penurunan berat badan relatif. Hidroterapi ini membutuhkan suhu
air lebih dari 30 derajat. Keadaan ini memiliki efek menguntungkan untuk pelepasan rasa sakit
namun kita tidak dapat melanjutkan latihan pada suhu air tinggi. Karena efek pemanasan tidak
menjadi fokus dalam program ini, sekitar 29 derajat suhu air digunakan. Ini berada di dekat suhu
air kritis dimana kita bisa tetap diam tanpa menggigil dan bisa terus melakukan latihan.

Seberapa sering sebaiknya pasien melakukan latihan untuk mendapatkan efek yang
diinginkan? Studi ini menemukan bahwa diperlukan melakukan latihan lebih dari dua kali
seminggu. Jumlah berolahraga tampaknya menjadi faktor penting untuk memperbaiki skor fisik.
Namun, mengejutkan bahwa 34,4% dari 32 orang yang menjawab sangat memuaskan atau
memuaskan dalam pertanyaan mengenai penilaian subjektif menunjukkan tidak ada perbaikan
nyata dalam skor fisik. Pasien nyeri punggung bawah di Jepang umumnya menjalani terapi
traksi, terapi panas, pijat, akupunktur, dll yang disebut terapi pasif. Latihan yang kami
rekomendasikan memiliki kelemahan bahwa pasien tidak dapat melakukannya dimanapun, perlu
pemasangan kolam renang yang sesuai dan juga membutuhkan semangat untuk melanjutkan
latihan. Kami berspekulasi bahwa semangat untuk kelanjutan bahkan dengan kerugian instalasi
mungkin peran penting dalam perbaikan nyeri punggung bawah.