Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pemenuhan kebutuhan rasa nyaman “nyeri” adalah bagian dari
kebutuhan fisiologis menurut Hierzuki Maslow. Kebutuhan rasa nyman
“nyeri” diperlukan untuk proses kehidupan.
Nyeri adalah suatu mekanisme nyeri proteksi bagi penderita yang
timbul bilamana jaringan sedang dirusak dan menyebabkan individu tersebut
bereaksi untuk menghilangkan rasa nyeri.
Masalah yang mempengaruhi nyeri diantaranya arti nyeri bagi bagi
seseorang yang memiliki banyak perbedaan dan hampir sebagian arti nyeri
merupakan arti yang negatif, seperti membahayakan, merusak, dan lain-lain.
Keadaan ini mempengaruhi beberapa faktor seperti : usia, jenis kelamin, latar
belakang sosial budaya, lingkungan dan pengalaman, toleransi. Nyeri juga
berhubungan erat dengan intensitas nyeri yang apat mempengaruhi
kemampuan seseorang menahan nyeri. Faktor yang mempengaruhi antara lain
alkohol, obat-obatan, hipnotis, gesekan, pengalihan perhatian dan kepercayaan
yang kuat. Solusinya pemenuhan kebutuhan rasa nyaman ”nyeri” dalam
pelayanan kesehatan keperawatan dapat di lakukan dengan pemberian obat
analgesik dan sejenisnya.
B. Rumusan masalah
1. Apa itu nyeri?
2. Bagaimanakah sifat nyeri?
3. Bagaimanakah reflek nyeri
4. Apa saja faktor penyebab nyeri?
5. Bagaimana intensitas nyeri?

1
6. Pebedaan nyeri akut dan kronis?
7. Bagaimana askep proses pada pasien nyeri?
C. Tujuan Umum
Mahasiswa dapat melakukan asuhan keperawatan pada Tn. ”K” sesuai
dengan manajemen keperawatan.
D. Tujuan khusus
Setelah dilakukan pengkajian terhadap Tn. “K” diharapkan mahasiswa
dapat :
1. Melakukan pengkajian data
2. Intervensi data dasar
3. Merencanakan suatu tindakan yang komprehensif
4. Melakukan asuhan keperawatan sesuai rencana
5. mengevaluasi hasil pelaksanaan Asuhan keperawatan.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi
Nyeri didefinisikan sebagai suatu keadaan yang mempengaruhi
seseorang dan ekstensinya diketahui bila seseorang pernah
mengalaminya (Tamsuri, 2007).
Menurut International Association for Study of Pain (IASP), nyeri
adalah sensori subyektif dan emosional yang tidak menyenangkan
yang didapat terkait dengan kerusakan jaringan aktual maupun
potensial, atau menggambarkan kondisi terjadinya kerusakan.
Teori Specificity “suggest” menyatakan bahwa nyeri adalah
sensori spesifik yang muncul karena adanya injury dan informasi ini
didapat melalui sistem saraf perifer dan sentral melalui reseptor nyeri
di saraf nyeri perifer dan spesifik di spinal cord.

B. Sifat-Sifat Nyeri
1. Nyeri melelahkan dan membutuhkan banyak energi
2. Nyeri bersifat subyektif dan individual
3. Nyeri tak dapat dinilai secara objektif seperti sinar X atau lab darah
4. Perawat hanya dapat mengkaji nyeri pasien dengan melihat
perubahan fisiologis tingkah laku dan dari pernyataan klien
5. Hanya klien yang mengetahui kapan nyeri timbul dan seperti apa
rasanya
6. Nyeri merupakan mekanisme pertahanan fisiologis
7. Nyeri merupakan tanda peringatan adanya kerusakan jaringan
8. Nyeri mengawali ketidakmampuan
9. Persepsi yang salah tentang nyeri menyebabkan manajemen nyeri
jadi tidak optimal

3
Secara ringkas, Mahon mengemukakan atribut nyeri sebagai berikut :
1. Nyeri bersifat individu
2. Nyeri tidak menyenangkan
3. Merupakan suatu kekuatan yg mendominasi
4. Bersifat tidak berkesudahan

C. Reflek Nyeri
Banyak teori berusaha untuk menjelaskan dasar neurologis dari
nyeri, meskipun tidak ada satu teori yang menjelaskan secara
sempurna bagaimana nyeri ditransmisikan atau diserap.
1. Transduksi adalah proses dimana stimulus noksius àaktivitas
elektrik reseptor terkait.
2. Transmisi, dalam proses ini terlibat tiga komponen saraf yaitu saraf
sensorik perifer yang meneruskan impuls ke medulla spinalis,
kemudian jaringan saraf yang meneruskan impuls yang menuju ke
atas (ascendens), dari medulla spinalis ke batang otak dan
thalamus. Yang terakhir hubungan timbal balik antara thalamus dan
cortex.
3. Modulasi, yaitu aktivitas saraf utk mengontrol transmisi nyeri. Suatu
jaras tertentu telah diteruskan di sistem saran pusat yang secara
selektif menghambat transmisi nyeri di medulla spinalis.
4. Persepsi, Proses impuls nyeri yang ditransmisikan hingga
menimbulkan perasaan subyektif dari nyeri sama sekali belum jelas.
bahkan struktur otak yang menimbulkan persepsi tersebut juga
tidak jelas.

4
Berdasarkan letaknya, nosireseptor dapat dikelompokkan
dalam beberapa bagaian tubuh yaitu pada kulit (Kutaneus), somatik
dalam (deep somatic), dan pada daerah viseral, karena letaknya
yang berbeda-beda inilah, nyeri yang timbul juga memiliki sensasi
yang berbeda.
Nosireceptor kutaneus berasal dari kulit dan sub kutan, nyeri
yang berasal dari daerah ini biasanya mudah untuk dialokasi dan
didefinisikan. Reseptor jaringan kulit (kutaneus) terbagi dalam dua
komponen yaitu :
a) Reseptor A delta
Merupakan serabut komponen cepat (kecepatan tranmisi 6-
30 m/det) yang memungkinkan timbulnya nyeri tajam yang akan
cepat hilang apabila penyebab nyeri dihilangkan.
b) Serabut C
Merupakan serabut komponen lambat (kecepatan tranmisi
0,5 m/det) yang terdapat pada daerah yang lebih dalam, nyeri
biasanya bersifat tumpul dan sulit dilokalisasi.

D. Faktor Yang Mempengaruhi Nyeri


Faktor-faktor yang mempengaruhi nyeri antara lain:
1. Usia  Anak belum bisa mengungkapkan nyeri, sehingga perawat
harus mengkaji respon nyeri pada anak. Pada orang dewasa
kadang melaporkan nyeri jika sudah patologis dan mengalami
kerusakan fungsi. Pada lansia cenderung memendam nyeri yang
dialami, karena mereka mengangnggap nyeri adalah hal alamiah
yang harus dijalani dan mereka takut kalau mengalami penyakit
berat atau meninggal jika nyeri diperiksakan.

5
2. Jenis kelamin  Gill (1990) mengungkapkan laki-laki dan wnita
tidak berbeda secara signifikan dalam merespon nyeri, justru lebih
dipengaruhi faktor budaya (ex: tidak pantas kalo laki-laki mengeluh
nyeri, wanita boleh mengeluh nyeri).
3. Kultur  Orang belajar dari budayanya, bagaimana seharusnya
mereka berespon terhadap nyeri misalnya seperti suatu daerah
menganut kepercayaan bahwa nyeri adalah akibat yang harus
diterima karena mereka melakukan kesalahan, jadi mereka tidak
mengeluh jika ada nyeri.
4. Makna nyeri  Berhubungan dengan bagaimana pengalaman
seseorang terhadap nyeri dan dan bagaimana mengatasinya.
5. Perhatian  Tingkat seorang klien memfokuskan perhatiannya
pada nyeri dapat mempengaruhi persepsi nyeri. Menurut Gill
(1990), perhatian yang meningkat dihubungkan dengan nyeri yang
meningkat, sedangkan upaya distraksi dihubungkan dengan
respon nyeri yang menurun. Tehnik relaksasi, guided imagery
merupakan tehnik untuk mengatasi nyeri.
6. Ansietas  Cemas meningkatkan persepsi terhadap nyeri dan
nyeri bisa menyebabkan seseorang cemas.
7. Pengalaman masa lalu  Seseorang yang pernah berhasil
mengatasi nyeri dimasa lampau, dan saat ini nyeri yang sama
timbul, maka ia akan lebih mudah mengatasi nyerinya. Mudah
tidaknya seseorang mengatasi nyeri tergantung pengalaman di
masa lalu dalam mengatasi nyeri.
8. Pola koping  Pola koping adaptif akan mempermudah
seseorang mengatasi nyeri dan sebaliknya pola koping yang
maladaptive akan menyulitkan seseorang mengatasi nyeri.

6
9. Support keluarga dan sosial  Individu yang mengalami nyeri
seringkali bergantung kepada anggota keluarga atau teman dekat
untuk memperoleh dukungan dan perlindungan

 Faktor-faktor lain yang mempengaruhi nyeri :


1. Budaya (etnis, keluarga, jenis kelamin, usia)
2. Agama
3. Strategi menyelesaikan masalah (“coping strategy”)
4. Dukungan dari lingkungan
5. Kecemasan atau stressor lain
6. Pengalaman sakit yang lalu

E. Intensitas Nyeri
Intensitas nyeri adalah gambaran tentang seberapa parah nyeri
dirasakan oleh individu, pengukuran intensitas nyeri sangat subjektif
dan individual dan kemungkinan nyeri dalam intensitas yang sama
dirasakan sangat berbeda oleh dua orang yang berbeda oleh dua
orang yang berbeda.

Menurut smeltzer, S.C bare B.G (2002) adalah sebagai berikut :


1) Skala intensitas nyeri deskritif
2) Skala identitas nyeri numerik
3) Skala analog visual
4) Skala nyeri menurut bourbanis
Keterangan :
0 : Tidak nyeri
1-3 : Nyeri ringan : secara obyektif klien dapat berkomunikasi
dengan baik.

7
4-6 : Nyeri sedang : Secara obyektif klien mendesis, menyeringai,
dapat menunjukkan lokasi nyeri, dapat mendeskripsikannya,
dapat mengikuti perintah dengan baik.
7-9 : Nyeri berat : secara obyektif klien terkadang tidak dapat
mengikuti perintah tapi masih respon terhadap tindakan, dapat
menunjukkan lokasi nyeri, tidak dapat mendeskripsikannya,
tidak dapat diatasi
dengan alih posisi nafas panjang dan distraksi.
10 : Nyeri sangat berat : Pasien sudah tidak mampu lagi
berkomunikasi, memukul.

F. Komponen-Komponen Nyeri
Untuk memudahkan memahami fisiologi nyeri, maka perlu
mempelajari 3 (tiga) komponen fisiologis berikut ini:
1. Resepsi : proses perjalanan nyeri
2. Persepsi : kesadaran seseorang terhadap nyeri
3. Reaks : respon fisiologis & perilaku setelah mempersepsikan
Nyeri
G. Teori Pengontrolan Nyeri (Gate Control Theory)
Teori gate control dari Melzack dan Wall (1965) mengusulkan
bahwa impuls nyeri dapat diatur atau dihambat oleh mekanisme
pertahanan di sepanjang sistem saraf pusat. Teori ini mengatakan
bahwa impuls nyeri dihantarkan saat sebuah pertahanan dibuka dan
impuls dihambat saat sebuah pertahanan tertutup. Upaya menutup
pertahanan tersebut merupakan dasar teori menghilangkan nyeri.
Gate control theory :
1. Menjelaskan tentang transmisi nyeri
2. Transmisi impuls nyeri dapat dikendalikan dengan pintu gerbang
(gate mekanism) dimana saat terbuka impuls dapat transmisi

8
3. Tetapi bila sebagian / seluruhnya tertutup, transmisi dihambat
sebagian / seluruhnya

H. Nyeri Akut dan Nyeri Kronik (Acute and Chronic Pain)


1. Nyeri akut
Nyeri yang terjadi segera setelah tubuh terkena cidera, atau
intervensi bedah dan memiliki awitan yan cepat, dengan intensitas
bervariasi dari berat sampai ringan. Fungsi nyeri ini adalah sebagai
pemberi peringatan akan adanya cidera atau penyakit yang akan
datang.

2. Nyeri kronik
Adalah nyeri konstan atau intermiten yang menetap
sepanjang suatu periode tertentu, berlangsung lama, intensitas
bervariasi, dan biasanya berlangsung lebih dari enam bulan. Nyeri
ini disebabkan oleh kanker yang tidak terkontrol, karena
pengobatan kanker tersebut atau karena gangguan progresif lain.
Nyeri ini bisa berlangsung terus sampai kematian.

9
Perbedaan karakteristik nyeri akut dan kronik :
Nyeri Akut : Nyeri Kronik :
• Lamanya dalam hitungan menit • Lamanya sampai hitungan
bulan, > 6bln
• Ditandai peningkatan BP, nadi, • Fungsi fisiologi bersifat normal
dan respirasi
• Respon pasien: Fokus pada • Tidak ada keluhan nyeri
nyeri, menyetakan nyeri menangis
dan mengerang
• Tingkah laku menggosok bagian• Tidak ada aktifitas fisik sebagai
yang nyeri respon terhadap nyeri

I. Proses Keperawatan (ASKEP) Tentang Nyeri


Proses keperawatan adalah suatu metode sistematik untuk
mengkaji respon manusia terhadap masalah-masalah dan membuat
rencana keperawatan yang
bertujuan untuk mengatasi masalah – masalah tersebut.
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan langkah utama dan dasar utama dari
proses keperawatan.
a) Pengumpulan data
Pengumpulan data yang akurat dan sistematis akan
membantu dalam menentukan status kesehatan dan pola
pertahanan penderita, mengidentifikasikan, kekuatan dan
kebutuhan penderita yang dapt diperoleh melalui anamnese,
pemeriksaan fisik, pemerikasaan laboratorium serta pemeriksaan
penunjang lainnya.

10
b) Anamnese
Identitas penderita : Meliputi nama, umur, jenis kelamin,
agama, pendidikan, pekerjaan, alamat, status perkawinan, suku
bangsa, nomor register, tanggal masuk rumah sakit dan diagnosa
medis.
    Keluhan Utama / Alasan MRS
 Keluhan yang dirasakan paling mengganggu.
 Adanya rasa kesemutan pada kaki / tungkai bawah, rasa
raba yang menurun, adanya luka yang tidak sembuh –
sembuh dan berbau, adanya nyeri pada luka.
 Riwayat Penyakit Sekarang
Berisi tentang kapan terjadinya luka, penyebab
terjadinya luka serta upaya yang telah dilakukan oleh
penderita untuk mengatasinya.
 P (Provoking/Paliatif)
1. Apakah yang menyebabkan nyeri?
2. Apa saja yang dapat mengurangi & memperberat nyeri
itu?
3. Kejadian awal apakah yang Anda lakukan sewaktu
gangguan pertama kali dirasakan?
4. Apakah yang menyebabkan nyeri?
5. Posisinya bagaimana?
6. Aktivitas tertentu yang Anda lakukan?
7. Penjelasan lebih lanjut?
8. Untuk gangguan psikologis: Apakah nyeri terasa sewaktu
Anda merasa tidak beraktivitas?
9. Apakah yang menghilangkan gangguan?
10. Apakah yang memperburuk gejala?

11
 Q (Quality & Quantity / Kualitas & Kuantitas)
1. Bagaimana gangguan dirasakan, nampak / terdengar?
2. Sejauh mana Anda merasakan sekarang?
3. Kualitas ?
4. Bagaimana gangguan dirasakan, nampak / terdengar?
5. Kuantitas?
6. Sejauh mana gangguan dirasakan sekarang. Sangat
dirasakan hingga tidak bisa melakukan aktifitas?
7. Lebih parah atau lebih ringan dari yang dirasakan
sebelumnya?

 R (Regional/Area/Radiasi)
1. Dimana gangguan nyeri dirasakan?
2. Apakah nyerinya menyebar?
3. Apakah merambat pada punggung atau lengan,
merambat pada leher atau kaki?

 S (Severity/Skala Keparahan)
Seberapakah keparahan dirasakan dengan skala?
Perlengkapan yang dilakukan pada pasien, adalah:
1. Respiratory : bagaimana saluran pernapasan, jenis
pernapasan, bunyi pernapasan.
2. Sirkulasi : tensi, nadi, respirasi, dan suhu, warna kulit,
dan refill kapiler.
3. Persarafan : tingkat kesadaran.

12
4. Balutan :
 Apakah ada tube, drainage ?
 Apakah ada tanda-tanda infeksi?
 Bagaimana penyembuhan luka ?
5. Peralatan :
 Monitor yang terpasang.
 Cairan infus atau transfusi.
6. Rasa nyaman : rasa sakit, mual, muntah, posisi pasien,
dan fasilitas ventilasi.
7.Psikologis : kecemasan, suasana hati setelah operasi.
 T (Timing)
1. Kapan keluhan nyeri tersebut muali
ditemukan/dirasakan?
2. Seberapa sering keluhan nyeri dirasakan/terjadi?
3. Apakah terjadi secara mendadak/bertahap? Akut atau
kronis?
 Riwayat Kesehatan Dahulu
Adanya riwayat penyakit – penyakit lain yang ada
kaitannya dengan defisiensi insulin misalnya penyakit
pankreas. Adanya riwayat penyakit jantung, obesitas,
maupun arterosklerosis, tindakan medis yang pernah di
dapat maupun obat-obatan yang biasa digunakan oleh
penderita.
 Riwayat Kesehatan Keluarga
Dari genogram keluarga biasanya terdapat salah
satu anggota keluarga yang juga menderita nyeri atau
penyakit keturunan yang dapat menyebabkan terjadinya
defisiensi insulin misal hipertensi, jantung.

13
 Riwayat Psikososial
Meliputi informasi mengenai prilaku, perasaan dan
emosi yang dialami penderita sehubungan dengan
penyakitnya serta tanggapan keluarga terhadap penyakit
penderita.
 Pemeriksaan Fisik
    Status Kesehatan Umum
Meliputi keadaan penderita, kesadaran, suara
bicara, tinggi badan, berat badan dan tanda – tanda vital.
 Kepala dan Leher
Kaji bentuk kepala, keadaan rambut, adakah
pembesaran pada leher, telinga kadang-kadang berdenging,
adakah gangguan pendengaran, lidah sering terasa tebal, ludah
menjadi lebih kental, gigi mudah goyah, gusi mudah bengkak
dan berdarah, apakah penglihatan kabur / ganda, diplopia,
lensa mata keruh.
 Sistem Integumen
Turgor kulit menurun, adanya luka atau warna
kehitaman bekas luka, kelembaban dan shu kulit di
daerah sekitar ulkus dan gangren, kemerahan pada kulit sekitar
luka, tekstur rambut dan kuku.
 Sistem Pernafasan

14
c) Penatalaksanaan Perawatan
• Assesment
• Pengkajian ini meliputi obyektif dan subyektif.
1. Data subyektif meliputi :
 Nyeri yang sangat pada daerah perut.
2. Data obyektif meliputi :
 Napas dangkal
 Tensi turun
 Nadi lebih cepat
 Abdomen tegang
 Defense muskuler positif
 Berkeringat
 Bunyi usus hilang
 Pekak hati hilang
2. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan iskemik
jaringan.
2. Keterbatasan mobilitas fisik berhubungan dengan rasa nyeri
pada luka.
3. Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang
penyakitnya.
4. Ganguan pola tidur berhubungan dengan rasa nyeri pada luka.
5. Nyeri akut akibat fraktur panggul.
6. Nyeri kronis akibat arthritis.
7. Gangguan mobilitas akibat nyeri pada ekstrimitas.
8. Kurangnya perawatan diri akibat ketidakmampuan
menggerakkan tangan yang disebabkan oleh nyeri persendian.
9. Cemas akibat ancaman peningkatan nyeri

15
3. Perencanaan (Intervensi Keperawatan)
Tahapan ini disebut perencanaan keperawatan yang meliputi
penentuan prioritas, diagnosa keperawatan, menetapkan sasaran
dan tujuan, menetapkan kriteria evaluasi dan merumuskan
intervensi dan aktivitas keperawatan.

1. Kaji nyeri klien & karakteristiknya tiap 2 jam dan 30 menit setelah
manajemen nyeri.
2. Hindari faktor yang menimbulkan nyeri (seperti: bladder penuh,
posisi yang tidak nyaman, lingkungan yang tidak mendukung,
bising, isolasi sosial).
3. Ajak klien untuk menentukan teknik mana yang dipilih.
4. Memodifikasi stimulus nyeri (Manajemen nyeri).
5. Bantu dalam pemberian analgesik dan obat-obat tambahan /
kombinasi.
6. Rencanakan periode istirahat diantara aktivitas.
7. Yakinkan ke klien bahwa ada banyak cara untuk mengurangi
nyeri.
8. Bantu klien napas dalam, relaksasi otot.
9. Berikan kompres hangat / dingin.
10. Masase dengan perlahan area nyeri yang berlawanan.

16
 Intervensi secara rinci :
1) Diagnosa no. 1 : Ganguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan
dengan iskemik jaringan.
Tujuan : rasa nyeri hilang/berkurang
Kriteria Hasil :
a) Penderita secara verbal mengatakan nyeri berkurang/hilang
b) Penderita dapat melakukan metode atau tindakan untuk
mengatasi atau mengurangi nyeri .
c) Pergerakan penderita bertambah luas.
d) Tidak ada keringat dingin, tanda vital dalam batas normal.( S
: 36 – 37,5 0C, N: 60 – 80 x /menit, T : 100 – 130 mmHg, RR :
18 – 20 x /menit ).
Intervensi (Rencana Tindakan) Rasional
1. Kaji tingkat, frekuensi, dan reaksi 1. Untuk mengetahui berapa berat nyeri
nyeri yang dialami pasien. yang dialami pasien.

2. Jelaskan pada pasien tentang 2. Pemahaman pasien tentang


sebab-sebab timbulnya nyeri. penyebab nyeri yang terjadi akan
mengurangi ketegangan pasien dan
memudahkan pasien untuk diajak
bekerjasama dalam melakukan
tindakan.
3. Ciptakan lingkungan yang tenang. 3. Rangsangan yang berlebihan dari
lingkungan akan memperberat rasa
nyeri.
4. Ajarkan teknik distraksi dan 4. Teknik distraksi dan relaksasi dapat
relaksasi. mengurangi rasa nyeri yang
dirasakan pasien.

17
5. Atur posisi pasien senyaman 5. Posisi yang nyaman akan membantu
mungkin sesuai keinginan pasien. memberikan kesempatan pada otot
untuk relaksasi seoptimal mungkin.

6. Lakukan massase dan kompres 6. Massase dapat meningkatkan


luka dengan BWC saat rawat luka. vaskulerisasi dan pengeluaran pus
sedangkan BWC sebagai desinfektan
yang dapat memberikan rasa
nyaman.
7. Kolaborasi dengan dokter untuk 7. Obat–obat analgesik dapat
pemberian analgesik. membantu mengurangi nyeri pasien.

2. Diagnosa no. 2 : Keterbatasan mobilitas fisik berhubungan


dengan rasa nyeri pada luka.
Tujuan : Pasien dapat mencapai tingkat kemampuan aktivitas
yang optimal.
Kriteria Hasil :
a) Pergerakan paien bertambah luas
b) Pasien dapat melaksanakan aktivitas sesuai dengan
kemampuan (duduk, berdiri, berjalan).
c) Rasa nyeri berkurang.
d) Pasien dapat memenuhi kebutuhan sendiri secara bertahap
sesuai dengan kemampuan.

Intervensi (Rencana Tindakan) Rasional


1. Kaji dan identifikasi tingkat 1. Untuk mengetahui derajat kekuatan
kekuatan otot pada kaki pasien. otot-otot kaki pasien.
2. Beri penjelasan tentang 2. Pasien mengerti pentingnya aktivitas
pentingnya melakukan aktivitas sehingga dapat kooperatif dalam

18
untuk menjaga kadar gula darah tindakan keperawatan.
dalam keadaan normal.
3. Anjurkan pasien untuk 3. Untuk melatih otot – otot kaki
menggerakkan/mengangkat sehingg berfungsi dengan baik.
ekstrimitas bawah sesui
kemampuan.
4. Bantu pasien dalam memenuhi 4. Agar kebutuhan pasien tetap dapat
kebutuhannya. terpenuhi.
5. Kerja sama dengan tim kesehatan 5. Analgesik dapat membantu
lain : dokter (pemberian analgesik) mengurangi rasa nyeri, fisioterapi
dan tenaga fisioterapi. untuk melatih pasien melakukan
aktivitas secara bertahap dan benar.

3. Diagnosa no. 3 : Cemas berhubungan dengan kurangnya


pengetahuan tentang penyakitnya.
Tujuan : rasa cemas berkurang/hilang.
Kriteria Hasil :
a) Pasien dapat mengidentifikasikan sebab kecemasan.
b) Emosi stabil, pasien tenang.
c) Istirahat cukup.

Intervensi (Rencana Tindakan) Rasional


1. Kaji tingkat kecemasan yang 1. Untuk menentukan tingkat kecemasan
dialami oleh pasien. yang dialami pasien sehingga perawat
bisa memberikan intervensi yang cepat
dan tepat.
2. Beri kesempatan pada pasien 2. Dapat meringankan beban pikiran
untuk mengungkapkan rasa pasien.

19
cemasnya.
3. Gunakan komunikasi terapeutik. 3. Agar terbina rasa saling percaya antar
perawat-pasien sehingga pasien
kooperatif dalam tindakan keperawatan.
4. Beri informasi yang akurat tentang 4. Informasi yang akurat tentang
proses penyakit dan anjurkan penyakitnya dan keikutsertaan pasien
pasien untuk ikut serta dalam dalam melakukan tindakan dapat
tindakan keperawatan. mengurangi beban pikiran pasien.
5. Berikan keyakinan pada pasien 5. Rasional : Sikap positif dari timkesehatan
bahwa perawat, dokter, dan tim akan membantu menurunkan kecemasan
kesehatan lain selalu berusaha yang dirasakan pasien.
memberikan pertolongan yang
terbaik dan seoptimal mungkin.
6. Berikan kesempatan pada 6. Pasien akan merasa lebih tenang bila
keluarga untuk mendampingi ada anggota keluarga yang menunggu.
pasien secara bergantian.
7. Ciptakan lingkungan yang tenang 7. Lingkungan yang tenang dan nyaman
dan nyaman. dapat membantu mengurangi rasa cemas
pasien.

4. Diagnosa no.4 : Gangguan pola tidur berhubungan dengan


rasa nyeri pada luka.
Tujuan : Gangguan pola tidur pasien akan teratasi.
Kriteria hasil :
a) Pasien mudah tidur dalam waktu 30 – 40 menit.
b) Pasien tenang dan wajah segar.
c) Pasien mengungkapkan dapat beristirahat dengan cukup.

20
Intervensi (Rencana Tindakan) Rasional
1. Ciptakan lingkungan yang 1. Lingkungan yang nyaman dapat
nyaman dan tenang. membantu meningkatkan
tidur/istirahat.
2. Kaji tentang kebiasaan tidur 2. Mengetahui perubahan dari hal-
pasien di rumah. hal yang merupakan kebiasaan
pasien ketika tidur akan
mempengaruhi pola tidur pasien.
3. Kaji adanya faktor penyebab 3. Mengetahui faktor penyebab
gangguan pola tidur yang lain gangguan pola tidur yang lain
seperti cemas, efek obat-obatan dialami dan dirasakan pasien.
dan suasana ramai.
4. Anjurkan pasien untuk 4. Pengantar tidur akan
menggunakan pengantar tidur memudahkan pasien dalam
dan teknik relaksasi. jatuh dalam tidur, teknik
relaksasi akan mengurangi
ketegangan dan rasa nyeri.
5. Kaji tanda-tanda 5. Untuk mengetahui terpenuhi
kurangnya pemenuhan atau tidaknya kebutuhan tidur
kebutuhan tidur pasien. pasien akibat gangguan pola
tidur sehingga dapat diambil
tindakan yang tepat.

 Perencanaan keperawatan lain :


• Mengurangi / membatasi faktor-faktor yang menambah nyeri.
• Menggunakan berbagai teknik noninvasif untuk memodifikasi nyeri
yang dialami.

21
• Menggunakan cara-cara untuk mengurangi nyeri yang optimal,
seperti memberikan analgesik sesuai dengan program yang
ditentukan.

 Tindakan keperawatan (intevensi keperawatan) pre operatif :


1. Pertahankan pasien untuk bedrest sampai diagnosa benar-
benar sudah ditegakkan.
2. Tidak memberikan apapun melaui mulut dan beritahukan
pasien untuk tidak makan dan minum.
3. Monitoring cairan intra vena bila diberikan.
4. Mencatat intake dan output.
5. Posisi pasien seenak mungkin.
6. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat-obatan.
7. Ajarkan pasien hal-hal yang perlu dilakukan setelah operasi
selesai.
8. Monitoring tanda-tanda vital.

4. Pelaksanaan (Implementasi Keperawatan)


Pelaksanaan adalah tahap pelaksananan terhadap rencana
tindakan keperawatan yang telah ditetapkan untuk perawat
bersama pasien. Implementasi dilaksanakan sesuai dengan
rencana setelah dilakukan validasi, disamping itu juga dibutuhkan
ketrampilan interpersonal, intelektual, teknikal yang dilakukan
dengan cermat dan efisien pada situasi yang tepat dengan selalu
memperhatikan keamanan fisik dan psikologis. Setelah selesai
implementasi, dilakukan dokumentasi yang meliputi intervensi yang
sudah dilakukan dan bagaimana respon pasien.

22
 Tindakan keperawatannya meliputi :
a) Monitor kesadaran, tanda-tanda vital, CVP, intake dan output.
b) Observasi dan catat sifat darai drain (warna, jumlah) drainage.
c) Dalam mengatur dan menggerakan posisi pasien harus hati-
hati, jangan sampai drain tercabut.
d) Perawatan luka operasi secara steril.

5. Evaluasi
Evaluasi merupakan tahap terakhir dari proses keperawatan.
Kegiatan evaluasi ini adalah membandingkan hasil yang telah
dicapai setelah implementasi keperawatan dengan tujuan yang
diharapkan dalam perencanaan. Bentuk evaluasinya antara lain :

1. Menilai kemampuan dalam merespon rangsangan nyeri.


2. Koping klien efektif.
3. Klien mampu melakukan ADL.

Perawat mempunyai tiga alternatif dalam menentukan sejauh


mana tujuan tercapai:
 Berhasil : prilaku pasien sesuai pernyatan tujuan dalam waktu atau
tanggal yang ditetapkan di tujuan.
 Tercapai sebagian : pasien menunujukan prilaku tetapi tidak sebaik
yang ditentukan dalam pernyataan tujuan.
 Belum tercapai. : pasien tidak mampu sama sekali menunjukkan
prilaku yang diharapakan sesuai dengan pernyataan tujuan.

23
1. Tanda-tanda peritonitis menghilang yang meliputi :
– Suhu tubuh normal
– Nada normal
– Perut tidak kembung
– Peristaltik usus normal
– Flatus positif
– Bowel movement positif
2. Pasien terbebas dari rasa sakit dan dapat melakukan aktifitas.
3. Pasien terbebas dari adanya komplikasi.
4. Pasien dapat mempertahankan keseimbangan cairan dan
elektrolit dan mengembalikan pola makan dan minum seperti
biasa.
5. Luka operasi baik.

 Kriteria Evaluasi
Hasil yang diharapkan setelah perawatan pasien, meliputi;
1. Tidak timbul nyeri luka selama penyembuhan.
2. Luka insisi normal tanpa infeksi.
3. Tidak timbul komplikasi.
4. Pola eliminasi lancar.
5. Pasien tetap dalam tingkat optimal tanpa cacat.
6. Kehilangan berat badan minimal atau tetap normal.
7. Sebelum pulang, pasien mengetahui tentang :
– Pengobatan lanjutan.
– Jenis obat yang diberikan.
– Diet.
– Batas kegiatan dan rencana kegiatan di rumah.

24
 Hasil yang diharapkan
- Pasien akan tetap merasa nyaman.
- Pasien akan tetap mempertahankan kesterilan lukanya.
- Pasien akan mempertahankan keseimbangan cairan dan
elektrolit

25
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Setiap orang pasti pernah merasakan nyeri dan dapat pula
mengatakan bagaimana nyeri tersebut dirasakan. Namun hingga sampai kini,
para peneliti masih tetap belum memiliki pendapat yang baku tentang definisi
nyeri tersebut.
Bagi psikolog, nyeri adalah implus sensorik dasar. Bagi ahli
neurofisiologi, ahli syaraf dan ahli bedah syaraf, nyeri merupakan suatu pola
aktifitas neurofisiologi pada suatu pusat syaraf tertentu. Bagi ahli biologi,
nyeri merupakan suatu aktifitas yang penting artinya untuk mempertahankan
hidup. Untuk ahli jiwa, nyeri merupakan efek atau emosi, dan bagi orang
analis, nyeri merupakan produk konflik psikis internal. Secara obyektif, nyeri
adalah suatu ekspresi dari interpretasi berbagai macam input yang masuk ke
berbagai pusat otak.
B. Saran
Setelah melakukan asuhan keperawatan selama 3 kali 24 jam pada
pasien dengan cara memahami konsep nyeri dan proses askep nyeri
tersebut. agar nantinya hasil yang diharapkan setelah proses askep nyeri
dilakukan pasien merasa nyaman dan rasa nyeri pun
berkurang dan hilang.

26
DAFTAR PUSTAKA
Guyton & Hall. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC.
Potter & Perry. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Edisi 4. Jakarta: EGC.
Prasetyo, Sigit Nian. 2010. Konsep dan Proses Keperawatan Nyeri. Surakarta: Graha Ilmu.
Tucker, Susan Martin. 1998. Standar Perawatan Pasien. Jakarta: EGC.

27