Anda di halaman 1dari 12

.

Hukum Ketenagakerjaan di Indonesia

Hukum ketenagakerjaan kalau dipelajari lebih jauh cakupannya cukup luas. Hukum ketenagakerjaan
bukan hanya mengatur hubungan antara pekerja/buruh dengan pengusaha dalam pelaksanaan
hubungan kerja tetapi juga termasuk seorang yang akan mencari kerja melalui proses yang benar
ataupun lembaga-lembaga pelaksana yang terkait.

Hukum ketenagakerjaan adalah merupakan suatu peraturan-peraturan tertulis atau tidak tertulis yang
mengatur seseorang mulai dari sebelum, selama, dan sesudah tenaga kerja berhubungan dalam ruang
lingkup di bidang ketenagakerjaan dan apabila di langgar dapat terkena sanksi perdata atau pidana
termasuk lembaga-lembaga penyelenggara swasta yang terkait di bidang tenaga kerja.

Pengertian ketenagakerjan berdasarkan ketentuan UU NO 13 tahun 2003 tentang adalah sebagai berikut:

Pasal 1(1) Ketenagakerjaan adalah segala hal yang berhubungan dengan tenaga kerja pada waktu
sebelum, selama dan sesudah masa kerja.

Pasal 1(2) Tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan
barang dan/atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat.

Pengertian tenaga kerja menurut UU NO 3 tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja : Tenaga
kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan baik di dalam maupun di luar hubungan
kerja, guna menghasilkan jasa atau barang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat

Undang-undang lainnya yang masih berhubungan dengan ketenagakerjaan dalam arti selama bekerja
adalah UU NO 3 tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja. Defenisi Jaminan sosial tenaga kerja
menurut Pasal 1 (1) Undang-undang ini : Jaminan Sosial Tenaga Kerja adalah suatu perlindungan bagi
tenaga kerja dalam bentuk santunan berupa uang sebagai pengganti sebagian dari penghasilan yang
hilang atau berkurang dan pelayanan akibat peristiwa atau keadaan yang dialami oleh tenaga kerja
berupa kecelakaan kerja, sakit, hamil, hari tua dan meninggal dunia.

Undang-undang yang berhubungan dengan ketenagakerjaan dalan arti sesudah bekerja diatur dalam
UU NO 2 tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial. Pengertian menurut
ketentuan Pasal 1 (1) perselisihan hubungan industrial adalah perbedaan pendapat yang mengakibatkan
pertentangan pendapat antara pengusaha atau gabungan pengusaha dengan pekerja/buruh atau serikat
pekerja/serikat buruh karena adanya perselisihan mengenai hak, perselisihan kepentingan, perselisihan
pemutusan hubungan kerja dan perselisihan antara serikat pekerja / serikat buruh dalam satu
perusahaan. Sebagai peraturan pelaksana dari Undang-undang terebut diatas diatur dalam Peraturan
pemerintah (PP), Peraturan Menteri Tenaga Kerja (Permenaker) dan Keputusan menteri tenaga kerja
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penyusun panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat
taufik dan hidayah-Nya sehingga makalah ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.

Penyusun makalah yang berjudul “Ketenagakerjaan Indonesia Studi Kasus MEA 2015” ini, bertujuan
untuk mengetahui pengaruh dan dampak dari Permasalahan ketenagakerjaan masyarakat Indonesia
pada umumnya.

Penyusun menyadari banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini, itu dikarenakan kemampuan
penyusun yang terbatas. Namun berkat bantuan dan dorongan serta bimbingan dari Dosen mata Kuliah
Demografi, serta berbagai bantuan dari berbagai pihak, akhirnya pembuatan makalah ini dapat
terselesaikan tepat pada waktunya.

Penyusun berharap dengan penulisan makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi penyusun sendiri
dan bagi para pembaca umumnya serta semoga dapat menjadi bahan pertimbangan untuk
mengembangkan dan meningkatkan prestasi di masa yang akan datang.

Jatinangor, 09 November 2015

Penyusun

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Perekonomian Indonesia sejak krisis ekonomi pada pertengahan 1997 membuat kondisi ketenagakerjaan
Indonesia ikut memburuk. Sejak itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga tidak pernah mencapai 7- 8
persen. Padahal, masalah pengangguran erat kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi. Jika
pertumbuhan ekonomi ada, otomatis penyerapan tenaga kerja juga ada. Setiap pertumbuhan ekonomi
satu persen, tenaga kerja yang terserap bisa mencapai 400 ribu orang. Jika pertumbuhan ekonomi
Indonesia hanya 3-4 persen, tentunya hanya akan menyerap 1,6 juta tenaga kerja, sementara
pencarikerja mencapai rata-rata 2,5 juta pertahun. Sehingga, setiap tahun pasti ada sisa pencari kerja
yang tidak memperoleh pekerjaan dan menimbulkan jumlah pengangguran diIndonesia bertambah.

Bayangkan, pada 1997, jumlah penganggur terbuka mencapai 4,18 juta. Selanjutnya, pada 1999 (6,03
juta), 2000 (5,81 juta), 2001 (8,005 juta), 2002 (9,13 juta) dan 2003 (11,35 juta). Sementara itu, data
pekerja dan pengangguran menunjukkan, pada 2001: usia kerja (144,033 juta), angkatan kerja (98,812
juta), penduduk yang kerja (90,807 juta), penganggur terbuka (8,005 juta), setengah penganggur
terpaksa (6,010 juta), setengah penganggur sukarela (24,422 juta). Pada 2002: usia kerja (148,730 juta),
angkatan kerja (100,779 juta), penduduk yang kerja (91,647 juta), penganggur terbuka (9,132 juta),
setengah penganggur terpaksa (28,869 juta), setengah penganggur sukarela tidak diketahui jumlah
pastinya. Hingga tahun 2002 saja telah banyak pengangguran, apalagi di tahun 2003 hingga 2015 pasti
jumlah penggangguran semakin bertambah dan mengakibatkan kacaunya stabilitas perkembangan
ekonomi Indonesia.

Dalam hal data di atas, indonesia juga akang menghadapi MEA 2015 yang banayk kalangan mengatakan
Indonesia belum siap dalam menghadapinya dikarenakan ketenagakerjaan Indonesia yang belum
mampu bersaing secara optimal dengan negara-negara lain.

Atas dasar di atas penyusun akan mencoba mejelaskan secara ilmiah dengan data-data yang ada dan
menjawab apakah ketenagakerjaan Indonesia perlu mendapatkan perhatian yang lebih lagi.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimanakah Konsep Ketenagakerjaan itu?

2. Bagaimanakah Teori Ketenagakerjaan Menjelaskan Masalah Ketenagakerjaan?

3. Bagaimana Kondisi Ketenagakerjaan Indonesia Terutama dalam Menghadapi MEA 2015?

4. Bagaimana Solusi Masalah Ketenagakerjaan di Indonesia?

C. Tujuan

1. Mengetahui Bagaimanakah Konsep Ketenagakerjaan itu?


2. Mengetahui Bagaimanakah Teori Ketenagakerjaan Menjelaskan Masalah Ketenagakerjaan?

3. Mengetahui Bagaimana Kondisi Ketenagakerjaan Indonesia Terutama dalam Menghadapi MEA


2015?

4. Mengetahui Bagaimana Solusi Masalah Ketenagakerjaan di Indonesia?

BAB II

PEMBAHASAN

A. Konsep Ketenagakerjaan

Salah satu persoalan mendasar dalam aspek ketenagakerjaan adalah pengangguran. Pengangguran
terbuka (open unemployment) adalah orang yang masuk dalam angkatan kerja (15 tahun keatas) yang
sedang mencari pekerjaan, yang mempersiapkan usaha, yang tidak mencari pekerjaan karena mesara
tidak mungkin mendapatkan pekerjaan karena merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan
(sebelumnya dikatagorikan sebagai bukan angkatan kerja), dan yang sudah punya pekerjaan tetapi belum
mulai bekerja (sebelumnya dikatagorikan pekerjaan bekerja), dan pada waktu yang bersamaan mereka
tak bekerja. Selain pengangguran terbuka, juga dikenal istilah Setengah Pengangguran (Under
Unemployment) yaitu tenaga kerja yang tidak bekerja secara optimal yang bekrja kurang dari 35 jam
selama seminggu. Permasalahan pengangguran dan setengah pengguran ini merupakan persoalan serius
karena dapat menyebabkan tingkat pendapatan Nasional dan tingkat kemakmuran masyarakat tidak
mencapai potensi maksimal. Diilihat dari penyebabnya, pengangguran dapat dikelompokkan menjadi
beberapa bagian :

1. Pengangguran struktural yaitu : pengangguran yang terjadi karena adanya perubahan dalam struktur
perekonomian. Penduduk tidak mempunyai keahlian yang cukup untuk memesuki sektor baru sehingga
mereka menganggur. Contoh para petani kehilangan pekerjaan karena adanya berubahan dari daerah
agraris menjadi daerah industri.
Pengangguran siklus adalah pengangguran yang terjadi karena menurunnya kegiatan perekonomian
(misal terjadi resesi) sehingga menyebabkan berkurangnya permintaan masyarakat (aggrerat demand).

Pengangguran musiman adalah pengangguran yang terjadi karena adanya pergantian musin misalnya
pergantian musim tanam ke musim panen.

Pengangguran friksional adalah Pengangguran yang muncul akibat adanya ketidaksesuaian antara
pemberi kerja dan pencari kerja.

Pengangguran teknologi adalah Pengangguran yang terjadi karena adanya penggunaan alat-alat
teknologi yang semakin modern yang menggantikan tenaga krja manusia.

Data tentang situasi ketenaga kerjaan merupakan salah satu data pokok yang dapat mengambarkan
kondisi perekonomian, sosial, bahkan tingkat kesejahteraan penduduk di suatu wilayah dalam suatu
kurun waktu tertentu. Salah satu isu penting dalam ketenagakerjaan, disamping keadaan angkatan kerja
(economically active population) dan struktur ketenagakerjaan adalah isu pengangguran. Pengangguran
dari sisi ekonomi merupakan produk dari ketidakmampuan pasar kerja dalam menyerap angkatan kerja
yang tersedia. Ketersediaan lapangan kerja yang relatif terbatas tidak mampu menyerap ‘para pencari
kerja’ yang senantiasa bertambah setiap tahun seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk.
Tingginya angka pengangguran tidak hanya menimbulkan masalah-masalah di bidang ekonomi saja
melainkan juga menimbulkan berbagi masalah di bidang sosial seperti kemiskinan dan kerawanan sosial.

Untuk memenuhi kebutuhan data ketenagakerjaan, Badan Pusat Statistk (BPS) melaksanakan
pengumpulan data ketenagakerjaan melalui berbagai kegiatan sensus dan suevei antara lain Sensus
Penduduk (SP), Survei Penduduk Antar Sensus (Supas), Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) dan
Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas). Sakernas merupakan survei yang dirancang khusus untuk
mengumpulkan data ketenagakerjaan dengan pendekatan rumah tangga.

Dalam mengumpulkan data menyajikan data ketenagakerjaan, BPS selalu menggunakan konsep/definisi
yang direkomendasikan oleh Internasional Labor Organization (ILO). Hal ini dimaksudkan terutama agar
data ketenagakerjaan yang dihasilkan dari berbagai survei di Indonesia dapat dibandingkan secara
Internasional, tanpa mengesampingkan kondisi ketenaga kerjaan spesifik Indonesia. Menurut Konsep
Labor Ferce Framework, penduduk dibagi dalam beberapa kelompok.

Beberapa konsep/definisi yang digunakan dalam ketenagakerjaan adalah sbb:

1. Penduduk

Semua orang yang berdomisili di wilayah geografis Republik Indonesia selama enam bulan atau lebih dan
atau mereka yang berdomisili kurang dari enam bulan tetapi bertujuan untuk menetap.

2. Usia kerja

Indonesia menggunakan batas bawah usia kerja (economically active population) 15 tahun (meskipun
dalam survei dikumpulkan informasi mulai dari usia 10 tahun) dan tanpa batas atas usia kerja.
3. Angkatan Kerja

Konsep angkatan kerja merujuk pada kegiatan utama yang dilakukan oleh penduduk usia kerja selama
periode tertentu. Angkatan Kerja adalah penduduk usia kerja yang bekerja, atau punya pekerjaan namun
sementara tidak bekerja, dan pengangguran.

4. Bukan angkatan kerja

Penduduk usia kerja tidak termasuk angkatan kerja mencakup penduduk yang bersekolah, mengurus
rumah tangga atau melaksanakan kegiatan lainya.

5. Bekerja

Kegiatan ekonomi yang dilakukan seseorang dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh
pendapatan atau keuntingan paling sedikit 1(satu) jam secara tidak terputus selama seminggu yang lalu.
Kegiatan bekerja ini mencakup, baik yang sedang bekerja maupun yang punya pekerjaan tetapi dalam
seminggu yang lalu sementara tidak bekerja, misal karena cuti, sakit dan sejenisnya.

Kriteria satu jam (the one-hour criterion) digunakan dengan pertimbangan untuk mencakup semua jenis
pekerjaan yang mungkin ada pada suatu negara, termasuk didalamnya adalah pekerja dengan waktu
singkat (short-time work), pekerja bebas, stand-by work dan pekerja yang tak beraturah lainnya.

Kriteria satu jam juga dikaitkan dengan definisi bekerja dan pengangguran yang digunakan, dimana
pengangguran adalah situasi dari ketiadaan pekerja secra total, sehingga jika batas minimum dari jumlah
jam kerja dinaikkan maka akan mengubah definisi pengangguran yaitu bukan lagi ketiadaan pekerjaan
secara total.

Di samping itu, juga untuk memastikan bahwa pada suatu tingkat agregasi tertentu input tenaga kerja
total berkaitan langsung dengan produksi total. Hal ini diperlukan terutama ketika dilakukan join analysis
antara statistik ketenagakerjaan dan statistik produksi. Kriteria satu jam ini bisa berarti satu jam per
minggu maupun satu jam per hari.

Berdasarkan sktivitas/kegiatan ekonomi yang merujuk pada the United National System of National
Accounts (SNA), penduduk usia kerja dikatagorikan sebagai bekerja/memepunyai pekerjaan jika yang
bersangkutan bekerja (meskipun hanya bekerja satu jam dalam periode referensi) atau mempunyai
pekerjaan tetapi sementara tidak bekerja. Sejalan dengan the labour force framework, definisi
internasional untuk bekerja didasarkan pada periode referensi yang pendek (satu minggu atau satu hari).

Bekerja dibedakan menjadi :

1. Bekerja dengan jam kerja normal (≥35jam)

2. Setengah pengangguran

Penduduk yang bekerja kurang dari jam kerja norma l( dalam hal ini 35 jam seminggu, tidak termasuk
yang sementara tidak bekerja) dikatagorikan sebagai setengah pengangguran.
Setengah pengangguran dibedakan menjadi dua yaitu :

· Setengah pengangguran terpaksa

Mereka yang bekerja di bawah jam kerja normak (kurang dari 35 jam seminggu), dan masih mencari
pekerjaan atau masih bersedia menerima pekerjaan.

· Setengah pengangguran sukarela

Mereka yang bekerja di bawah jam kerja normal (kurang dari 35 jam seminggu), tetapi tidak mencari
pekerjaan tau tidak bersedia menerima pekerjaan lain.

6. Pengangguran

Definisi untuk pengangguran adalah mereka yang tidak mempunyai pekerjaan, bersedia untuk bekerja,
dan sedang mencari pekerjaan. Definisi ini digunakan pada pelaksanaan Sakernas 1986 sampai dengan
2000, sedangkan sejak tahun 2001 definisi pengangguran mengalami penyesuaian/perluasan menjadi
sebagai berikut ;

Pengangguran adalah mereka yang tidak mencari pekerjaan karena merasa tidak mungkin mendapatkan
pekerjaan (sebelumnya dikatagorikan sebagai bukan angkatan kerja), yang sudak punya pekerjaan tetapi
belum mulai bekerja (sebelumnya dikatagorikan sebagai bekerja), dan pada waktu yang bersamaan
mereka tak bekerja (jobless). Pengangguran dengan konsep/definisi tersebut biasanya disebut sebagai
pengangguran terbuka (open unemployment).

Secara spesifik, pengangguran terbuka dalam Sakernas, terdiri dari:

· Mereka yang tidak bekerja dan mencari pekerjaan,

· Mereka yang tidak bekerja dan mempersiapkan usaha,

· Mereka yang tidak bekerja dan tidak mencari pekerjaan, karena merasa tidak mungkin
mendapatkan pekerjaan, dan

· Mereka yang tidak bekerja dan tidak mencari pekerjaan karena sudah diterima bekerja, tetapi
belum mulai bekerja.

Tingkat Pengangguran Terbuka dihitung sbb;

TPT = (UE/AK) * 100


Dimana :

TPT = Tingkat Pengangguran Terbuka

UE = Peduduk 15+ mencari pekerjaan, yang mempersiapkan usaha, yang tidak mencari pekerjaan karena
merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan, yang sudah punya pekerjaan, tetapi belum mulai
bekerja.

AK = Angkatan Kerja

B. Teori-teori Ketenagakerjaan

1. Teori Klasik Adam Smith

Adam smith (1729-1790) merupakan tokoh utama dari aliran ekonomi yang kemudian dikenal sebagai
aliran klasik. Dalam hal ini teori klasik Adam Smith juga melihat bahwa alokasi sumber daya manusia
yang efektif adalah pemula pertumbuhan ekonomi. Setelah ekonomi tumbuh, akumulasi modal (fisik)
baru mulai dibutuhkan untuk menjaga agar ekonomi tumbuh. Dengan kata lain, alokasi sumber daya
manusia yang efektif merupakan syarat perlu (necessary condition) bagi pertumbuhan ekonomi.

2. Teori Malthus

Sesudah Adam Smith, Thomas Robert Malthus (1766-1834) dianggap sebagai pemikir klasik yang sangat
berjasa dalam pengembangan pemikiran-pemikiran ekonomi. Thomas Robert Malthus mengungkapkan
bahwa manusia berkembang jauh lebih cepat dibandingkan dengan produksi hasil pertanian untuk
memenuhi kebutuhan manusia. Manusia berkembang sesuai dengan deret ukur, sedangkan produksi
makanan hanya meningkat sesuai dengan deret hitung.

Jika hal ini tidak dilakukan maka pengurangan penduduk akan diselesaikan secara alamiah antara lain
akan timbul perang, epidemi, kekurangan pangan dan sebagainya.

3. Teori Keynes

John Maynard Keynes (1883-1946) berpendapat bahwa dalam kenyataan pasar tenaga kerja tidak
bekerja sesuai dengan pandangan klasik. Dimanapun para pekerja mempunyai semacam serikat kerja
(labor union) yang akan berusaha memperjuangkan kepentingan buruh dari penurunan tingkat upah.

Kalaupun tingkat upah diturunkan tetapi kemungkinan ini dinilai keynes kecil sekali, tingkat pendapatan
masyarakat tentu akan turun. Turunnya pendapatan sebagian anggota masyarakat akan menyebabkan
turunnya daya beli masyarakat, yang pada gilirannya akan menyebabkan konsumsi secara keseluruhan
berkurang. Berkurangnya daya beli masyarakat akan mendorong turunya harga-harga.

Kalau harga-harga turun, maka kurva nilai produktivitas marjinal labor ( marginal value of productivity of
labor) yang dijadikan sebagai patokan oleh pengusaha dalam mempekerjakan labor akan turun. Jika
penurunan harga tidak begitu besar maka kurva nilai produktivitas hanya turun sedikit. Meskipun
demikian jumlah tenaga kerja yang bertambah tetap saja lebih kecil dari jumlah tenaga kerja yang
ditawarkan. Lebih parah lagi kalau harga-harga turun drastis, ini menyebabkan kurva nilai produktivitas
marjinal labor turun drastis pula, dan jumlah tenaga kerja yang tertampung menjadi semakin kecil dan
pengangguran menjadi semakin luas.

4. Teori Harrod-domar

Teori Harod-domar (1946) dikenal sebagai teori pertumbuhan. Menurut teori ini investasi tidak hanya
menciptakan permintaan, tapi juga memperbesar kapasitas produksi. Kapasitas produksi yang membesar
membutuhkan permintaan yang lebih besar pula agar produksi tidak menurun. Jika kapasitas yang
membesar tidak diikuti dengan permintaan yang besar, surplus akan muncul dan disusul penurunan
jumlah produksi.

5. Teori Tentang Tenaga Kerja

Salah satu masalah yang biasa muncul dalam bidang angkatan kerja seperti yang sudah dibukakan dalam
Latar belakang dari pemelihan judul ini adalah ketidak seimbangan akan permintaan tenaga kerja
(demand for labor) dan penawaran tenaga kerja (supply of labor), pada suatu tingkat upah.
Ketidakseimbangan tersebut penawaran yang lebih besar dari permintaan terhadap tenaga kerja (excess
supply of labor) atau lebih besarnya permintaan dibanding penawaran tenaga kerja (excess demand for
labor) dalam pasar tenaga kerja.

C. Kondisi Tenaga Kerja Di Indonesia

Tiga masalah ketenagakerjaan Indonesia dalam menghadapi MEA 2015:

1. Kesempatan kerja yang terbatas,

Terbatasnya kesempatan kerja membuat belum tertampungnya seluruh pencari kerja yang ada, baik yang
baru menyelesaikan pendidikan, pengangguran dan yang ingin bekerja kembali.

2. Rendahnya kualitas angkatan kerja,

Rendahnya kualitas angkatan kerja terlihat dari sensus yang dilakukan Badan Pusat Statistik pada 2014
dimana tenaga kerja yang pendidikan terakhirnya Sekolah Dasar masih dominan mencapai mencapai
46,9%

3. Tingginya tingkat pengangguran

Tingginya tingkat penggangguran berdasarkan data BPS mencapai 7,4%

(Wakil Ketua Umum Bidang Tenaga Kerja Kamar Dagang dan Industri Indonesia Benny Soetrisno)

D. Solusi masalah ketenagakerjaan di Indonesia


Secara umum kita dapat mengatasi berbagai masalah ketenagakerjaan melalui berbagai upaya praktis
seperti berikut:

1. Peta Perencanaan dan Pengelolaan Ketenagakerjaan

Pemerintah diharapkan untuk menyusun peta perencanaan dan pengelolaan ketenagakerjaan di Tanah
Air sebagai upaya mempersiapkan diri menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean.

2. Mendorong Investasi

Mengharapkan investasi dari luar negeri kenyataannya belum menunjukkan hasil yang berarti selama
tahun 2006 lalu. Para investor asing mungkin masih menunggu adanya perbaikan iklim investasi dan
beberapa peraturan yang menyangkut aspek perburuhan. Kalau upaya terobosan lain tidak dilakukan,
khawatir masalah pengangguran ini akan bertambah terus pada tahun-tahun mendatang.

Beberapa produk perikanan dan kelautan juga sangat potensial untuk dikembangkan seperti udang, ikan
kerapu dan rumput laut dan beberapa jenis budidaya perikanan dan kelautan lainnya. Sektor industri
manufaktur dan kerajinan, khususnya untuk industri penunjang - supporting industries seperti
komponen otomotif, elektronika, furnitur, garmen dan produk alas kaki juga memberikan kontribusi
besar dalam pertumbuhan dan penyerapan tenaga kerja. Penulis juga mencermati banyak sekali
produkproduk IT dan industri manufaktur yang sangat dibutuhkan, baik untuk pasar domestik, maupun
untuk pasar ekspor. Di samping kedua sektor tersebut, sector jasa keuangan, persewaan, jasa konsultasi
bisnis dan jasa lainnya juga memiliki prospek baik untuk dikembangkan.

3. Memperbaiki daya saing

Daya saing ekspor Indonesia bergantung pada kebijakan perdagangan yang terus menjaga keterbukaan,
disamping menciptakan fasilitasi bagi pembentukan struktur ekspor yang sesuai dengan ketatnya
kompetisi dunia. Dalam jangka pendek, Indonesia dapat mendorong ekspor dengan mengurangi
berbagai biaya yang terkait dengan ekspor itu sendiri serta meningkatkan akses kepada pasar
internasional. Kebijakan yang dapat dipakai untuk mengontrol biaya-biaya tersebut diantaranya i)
Menjaga kestabilan dan daya saing nilai tukar ii) Memastikan peningkatan tingkat upah yang moderat
sejalan dengan peningkatan produktifitas iii) Akselerasi proses restitusi PPn dan restitusi bea masuk
impor bagi para eksportir dan iv) Meningkatkan kemampuan fasilitas pelabuhan dan bandara dan
infrastruktur jalan untuk mengurangi biaya transportasi.

Pemerintah dapat berupaya lebih keras lagi dalam menegosiasikan akses yang lebih besar ke pasar
internasional pada pembicaraan perdagangan multilateral Putaran Doha terbaru. Karena Indonesia telah
mempunyai kebijakan rezim perdagangan yang sangat terbuka, pemerintah dapat meminta pemotongan
bea masuk dan pembebasan atas berbagai pengenaan bea masuk bukan ad-valorem oleh negara-negara
maju, dengan dampak yang kecil bagi kebijakan proteksi Indonesia sendiri.

4. Meningkatkan Fleksibilitas tenaga kerja


Indonesia memiliki aturan ketenagakerjaan yang paling kaku serta menimbulkan biaya paling tinggi di
Asia Timur. Sebagai contoh, biaya untuk mengeluarkan pekerja sangatlah tinggi; pesangon yang harus
dibayarkan mencapai 9 bulan gaji. Tentunya kebijakan pasar tenaga kerja harus berimbang antara
penciptaan pasar tenaga kerja yang fleksibel dengan kebutuhan untuk memberikan perlindungan dan
keamanan bagi tenaga kerja.

Langkah-langkah praktis yang dapat dilakukan pemerintah untuk meningkatkan fleksibilitas tenaga kerja
antara lain:

· Menyelesaikan pelaksanaan perundang-undangan tenaga kerja dan berkonsentrasi pada dua isu
utama yang mendapat perhatian para pengusaha yaitu: i) keleluasaan dalam mempekerjakan pekerja
kontrak dan ii) keleluasaan dalam melakukan outsourcing, dengan menekankan para sub-kontraktor
untuk memenuhi hak-hak pekerja mereka.

· Menciptakan peradilan tenaga kerja, sebagaimana yang diatur dalam undang-undang perselisihan
hubungan industrial. Hal ini dimaksudkan untuk mempercepat proses penyelesaian perselisihan tenaga
kerja.

· Membentuk tim ahli dalam menentukan tingkat upah minimum. Pemerintah pusat dapat
menjalankan kewenangan untuk membatasi peningkatan upah minimum di daerah.

· Jika diperlukan, merevisi Undang-undang mengenai Sistem Kesejahteraan Sosial Nasional yang
baru disahkan dan membentuk komisi tingkat tinggi yang bertugas mendesain sistem kesejahteraan
nasional. Sistem ini harus dapat dilaksanakan dan mendukung penciptaan lapangan pekerjaan.

5. Peningkatan Keahlian Pekerja

Pemerintah seharusnya dapat meningkatkan kemampuan angkatan kerja. Lemahnya kemampuan


pekerja Indonesia dirasakan sebagai kendala utama bagi investor. Rendahnya keahlian ini akan
mempersempit ruang bagi kebijakan Indonesia untuk meningkatkan struktur produksinya. Walaupun
pada saat sebelum krisis pendidikan di Indonesia mencapai kemajuan yang luar biasa, dalam segi
kuantitas, kualitas pendidikan masih tertinggal dibandingkan dengan negara-negara pesaing lainnya.
Pemerintah harus lebih menekankan pencapaian tujuan di bidang pendidikan formal dengan
mereformasi sistem pendidikan, sesuai dengan prinsip dan manfaat dari proses desentralisasi.
BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Kondisi ketenagakerjaan di indonesia amatlah kurang dari harapan. Angka pengangguran masih sangat
tinggi, kualitas pekerja yang kurang memadai dan berbagai factor lain yang turut memburuk kondisi
tenaga kerja di Indonesia. Kebijakan pemerintah berkenaan dengan ketenagakerjaan Indonesia belumlah
cukup untuk mengentaskan para pekerja dari kemiskinan