Anda di halaman 1dari 25

Laporan Kasus

Autism Spectrum Disorder (ASD)

Oleh:

Arief Budiman, S.Ked 04054821820093

Putra Reza Sikam, S.Ked 04054821820144

Pembimbing:

dr. Haidar Nasution

DEPARTEMEN ILMU KEDOKTERAN REHABILITASI MEDIK


RSUP DR. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2018
1
HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Kasus

Judul

Autism Spectrum Disorder (ASD)

Oleh:

Arief Budiman, S.Ked 04054821820093

Putra Reza Sikam, S.Ked 04054821820144

Telah diterima dan disetujui sebagai salah satu syarat dalam mengikuti
Kepaniteraan Klinik di Bagian Rehabilitasi Medik Fakultas Kedokteran Univesitas
Sriwijaya Rumah Sakit Mohammad Hoesin Palembang.

Palembang, Februari 2018

dr. Haidar Nasition

2
KATA PENGANTAR

Penulis mengucapkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena
atas rahmat dan ridho-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan kasus yang
berjudul ‘Autism Spectrum Disorder (ASD)’ ini sebagai salah satu syarat mengikuti
Kepaniteraan Klinik Senior (KKS) di bagian Rehabilitasi Medik RSUP Dr.
Mohammad Hoesin Palembang/ FK Universitas Sriwijaya.

Penulis menyampaikan terima kasih kepada dr. Haidar Nasution selaku


pembimbing yang telah memberikan bimbingan selama penulisan dan penyusunan
telaah ilmiah ini, serta semua pihak yang telah membantu hingga selesainya telaah
ilmiah ini.

Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan telaah


ilmiah ini disebabkan keterbatasan kemampuan penulis. Oleh karena itu, penulis
mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak untuk
perbaikan di masa yang akan datang. Semoga telaah ilmiah ini dapat memberi
manfaat bagi yang membacanya.

Palembang, Februari 2018

Penulis

3
BAB I
PENDAHULUAN

Autisme berasal dari bahasa Yunani, auto yang berarti “sendiri”, anak
Autisme seolah-olah hidup di dunianya sendiri, mereka menghindari / tidak
merespon terhadap kontak sosial dan lebih senang menyendiri.Walaupun penderita
Autisme sudah ada sejak dahulu, istilah Autisme baru diperkenalkan oleh Lee
Kanner pada tahun 1943.8
Autisme atau autisme infantil ( Early Infantile Autism) pertama kali
dikemukakan oleh Dr. Leo Kanner 1943 seorang psikiatris Amerika. Istilah autisme
dipergunakan untuk menunjukkan suatu gejala psikosis pada anak-anak yang unik
dan menonjol yang sering disebut Sindrom Kanner. Ciri yang menonjol pada
sindrom Kanner antara lain ekspresi wajah yang kosong seolaholah sedang
melamun, kehilangan pikiran dan sulit sekali bagi orang lain untuk menarik
perhatian mereka atau mengajak mereka berkomunikasi.8
Pada tahun 1943, dokter Amerika Leo Kanner mempublikasikan
makalahnya, di mana ia menggambarkan 11 anak-anak yang secara sosial terisolasi,
dengan "gangguan autistik kontak afektif," komunikasi terganggu, dan perilaku
yang kaku. Dia menciptakan istilah "autisme infantil" dan membahas penyebab
dalam hal proses biologis, meskipun pada waktu itu, perhatian paling ilmiah
difokuskan pada teori analisis tentang gangguan tersebut. Makalah Kanner awalnya
tidak menerima pengakuan secara ilmiah, dan anak-anak dengan gejala autis terus
salah didiagnosis dengan skizofrenia masa kanak-kanak. Pilihannya pada istilah
"autisme" mungkin telah menciptakan kebingungan, karena kata itu pertama kali
digunakan untuk menggambarkan keadaan mental fantastis, proses berpikir yang
egois, yang mirip dengan gejala skizofrenia.2
Selama masa-masa sekolah, kelainan anak dalam perkembangan bahasa
(termasuk kebisuan atau penggunaan kata-kata aneh atau tidak tepat), penarikan diri
dari lingkungan sosial, ketidakmampuan untuk bergabung dengan permainan anak-
anak lain, atau perilaku yang tidak sesuai saat bermain, sering membuat guru dan
orang lain menilai adanya kemungkinan jenis gangguan autis. Manifestasi autisme
4
juga dapat berubah selama masa kanak-kanak, tergantung pada gangguan
perkembangan lain, kepribadian, dan adanya masalah kesehatan medis atau mental
lainnya.2
Selama perkembangan gangguan ini, pada tahun pertama kehidupan
biasanya ditandai dengan tidak adanya fitur diskriminatif jelas. Antara dua dan tiga
tahun, anak-anak menunjukkan gangguan dalam perkembangan bahasa, khususnya
pemahaman, penggunaan bahasa yang tidak biasa, respon yang buruk terhadap
panggilan, komunikasi non-verbal yang kurang baik, kurang tanggap terhadap
kebahagiaan orang lain atau tekanan, dan berbagai keterbatasan imajinatif bermain
atau kepura-puraan, terutama imajinasi sosial.2
Laporan kasus pasien dengan ASD (Autism Spectrum Disorder) dianggap
penting untuk dibahas guna menambah ilmu pengetahuan baik bagi dokter maupun
masyarakat luas.

5
BAB II
STATUS PASIEN

1.1 Identifikasi Pasien


Nama : Abqoriyyin Hissan Al Fawwaz
Umur : 3 tahun (25-05-14)
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Status : Belum menikah
Pendidikan Terakhir :-
Alamat : jalan keramasan, rt 05/03, Kertapati
Kebangsaan : Indonesia
Pekerjaan :-
MRS : 22-2-2018
No Medrec : 965324

1.2 Anamnesis
a. Keluhan Utama:
Belum bisa bicara

b. Keluhan Tambahan:
Ibu menyadari anak terlambat bicara seja usia 3 tahun, baru bisa
mengucapkan kata “papa-mama” menyatakan keinginannya dengan
menunjuk ke arah, tidak menggunakan bahasa isyarat. Penderita dapat
berinteraksi sosial dengan teman sebaya. Penderita belum dapat diperiksa
karena menangis terus menerus. Penderita mengeluarkan kata kata yang
tidak dapat dimengerti. Takut terhadap petugas medis. Pernah dilakukan
pemeriksaan tes BERA  normal

6
c. Riwayat Perjalanan Penyakit:
i. Riwayat perkembangan anak
Lahir cukup bulan dan mengaku normal. Lahir di rumah sakit dan
persalinan dibantu oleh dokter spesialis kandungan, namun sang ibu
bercerita ketika persalinan ibu tidak kuat mengejan hingga pingsan
yang akhirnya melakukan tindakan vakum, setelah bayi lahir (tidak
menangis). Selama kehamilan ibu pasien mengaku tidak pernah
mengkonsumsi obat-obatan atau jamu. Pasien mendapatkan ASI
hingga umur 2 tahun. Pasien mulai diajarkan toilet training pada
umur 3 tahun. Pasien dapat duduk, berjalan, bicara terlambat dari
teman sebayanya.
ii. Riwayat sakit sebelumnya
Tidak ditemukan.
iii. Riwayat sekolah
Pasien belum bersekolah.
iv. Riwayat Keluarga
Pasien diasuh oleh ibu kandung.
Pasien merupakan anak tunggal.

d. Riwayat Sosial Ekonomi


Sosial ekonomi pasien menengah ke bawah

1.3. PEMERIKSAAN

Pemeriksaan Generalis:
Tensi : - mmhg Nadi : 100 x/menit
Respirasi : 18 x/menit suhu : 36,5’C

Keadaan Umum : Compos Mentis


Kepala/Leher : a/i/c/d -/-/-/-
7
Thorax : Cor : S1 S2 tunggal Reguler
Murmur (-)
Pulmo :Vesiculer +/+, Rh -/-, Wh -/-
Abdomen : Supel, Bising usus (+), meteorismus (-)

Ekstremitas : akral hangat ekstrimitas atas : +/+


ektrimitas bawah :+/+
Edema ekstrimitas atas : -/-
ekstrimitas bawah: -/-

Pemeriksaan Saraf
GCS : 4-5-6
Meningeal Sign : kaku kuduk (-)
Refleks Fisiologik : BPR +2/+2 APR +2/+2 KPR +2/+2
TPR +2/+2
Refleks Patologik : Babinski (-) / (-)
Tromer (-) / (-)
Chaddock (-) / (-)
Pemeriksaan Psikiatri:
Kesan Umum : Pasien berpakaian rapi, roman wajah sesuai dengan
usianya, pasien tidak berbau, pasien hiperaktif dan
Tidak kooperatif, tidak ada kontak mata, pandangan
kosong
Kontak : Verbal (-)
Non verbal (-)
Kesadaran : E4V5M6 (GCS 15)
Orientasi : W/T/O +/+/+
Daya ingat : Tidak ditemukan kelainan
Persepsi : Halusinasi visual (-) auditorik (-)
Proses berpikir : Bentuk: sulit dievaluasi, Arus : sulit dievaluasi,
Isi : sulit dievaluasi
8
Afek/emosi : tidak ada gangguan
Kemauan : ADL (+) Social (-) pekerjaan (-)
Psikomotor : Meningkat

I. DIAGNOSIS MULTIAKSIAL
Axis I : (F. Autism)
Axis II : Ciri kepribadian: pasien seorang anak yang hiperaktif
Axis III :-
Axis IV :-
Axis V : GAF saat ini 20 – 11

II. TATA LAKSANA


Obat terapi :
Psikoterapi
 Memotivasi pasien agar dapat menjalani pengobatan sesuai yang
dianjurkan
 Memotivasi pasien untuk kembali tenang dan memperhatikan
sekitarnya

Sosial Terapi
 Menjelaskan kepada keluarga pasien mengenai keadaan pasien,
mengenai faktor pencetus,perjalan penyakit dan pengobatan
 Menjelaskan dan memberi pengarahan tentang sikap yang harus
dilakukan kepada pasien
Monitoring
 Keluhan pasien
 Observasi vital sign dan keadaan umum
 Efek samping obat

9
III. PROGNOSIS
Dubia at malam

10
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1. Definisi
Autisme berasal dari bahasa Yunani “autos” yang berarti segala
sesuatu yang mengarah pada diri sendiri. Autisme pertama kali
dikemukakan oleh Dr. Leo Kanner 1943, seorang psikiatri Amerika. Istilah
autisme dipergunakan untuk menunjukkan suatu gejala psikosis pada anak-
anak yang unik dan menonjol yang sering disebut dengan sindroma
Kanner.8
Autisme adalah salah satu gangguan perilaku pada awal kehidupan
anak yang disebabkan oleh gangguan perkembangan otak yang ditandai
dengan ciri pokok yaitu terganggunya perkembangan komunikasi sosial,
interaksi sosial, dan imajinasi sosial. Mereka dengan gejala autisme
menampilkan perilaku yang bersifat repetitive.2
Autisme adalah suatu kondisi mengenai seseorang sejak lahir
ataupun saat masa balita, yang membuat dirinya tidak dapat membentuk
hubungan sosial atau komunikasi yang normal. Akibatnya anak tersebut
terisolasi dari manusia lain dan masuk dalam dunia repetitive, aktivitas dan
minat yang obsesif. (Baron-Cohen, 1993).3
Pada awalnya istilah “autisme” diambilnya dari gangguan
schizophrenia, dimana Bleuer memakai autisme ini untuk menggambarkan
perilaku pasien skizofrenia yang menarik diri dari dunia luar dan
menciptakan dunia fantasinya sendiri. Namun ada perbedaan yang jelas
antara penyebab dari autisme pada penderita skizofrenia dengan
penyandang autisme infantile. Pada skizofrenia, autisme disebabkan
dampak area gangguan jiwa yang didalamnya terkandung halusinasi dan
delusi yang berlansung minimal selama 1 bulan, sedangkan pada anak-anak
dengan autisme infantile terdapat kegagalan dalam perkembangan yang
tergolong dalam kriteria Gangguan Pervasif dengan kehidupan autistic yang
tidak disertai dengan halusinasi dan delusi ( DSM IV, 1995 ).8
1

3.2. Epidemiologi
Autisme mempengaruhi sekitar 0,5 -1 dalam 1000 anak dengan
dengan rasio antara laki-laki dan wanita 4:1. Menurut suatu studi, autisme
meningkat di populasi kanak-kanak. Pada tahun 1966, 4-5 bayi per 10.000
kelahiran dikembangkan autisme, sedangkan pada tahun 2003, dua studi
menunjukkan bahwa antara 14-39 bayi per 10.000 mengembangkan
gangguan tersebut. Meskipun tidak ada pertanyaan yang lebih banyak kasus
klinis yang terdeteksi, peningkatan prevalensi autisme di perdebatkan
sebagai praktek diagnostik telah berubah selama bertahun-tahun dan telah
berubah evaluasi kasus yang sebelumnya tidak dikenal.2

3.3. Etiologi dan Patofisiologi


Saat ini penyebab dan patofisiologi tepat autisme tidak diketahui,
namun tampaknya bahwa setidaknya ada beberapa kasus faktor genetik
yang terlibat. Teori penyebab yang paling kontemporer sangat menyarankan
gangguan genetik atau gangguan neuro developmental awal dengan
manifestasi klinis yang berpotensi untuk dimodifikasi oleh kondisi sosial
atau pengalaman lingkungan.4
Disfungsi serotonin telah terlibat sebagai faktor dalam asal-usul
gangguan autis sejak ditemukan kenaikan signifikan kadar 5-HT pada
pemeriksaan darah. Hyperserotonemia adalah sebuah temuan yang kuat
dalam gangguan autis. Pada anak-anak nonautistic, kapasitas serotonin,
diukur dengan tomografi emisi positron (PET), lebih dari 200% meningkat
sampai usia 5, dan mulai menurun saat menuju dewasa; pada anak autis,
sintesis serotonin telah terbukti meningkatkan secara bertahap antara usia 2
hingga 15, dan mencapai 1,5 kali pada tingkat dewasa yang normal. Dalam
studi lain yang terkait, telah menunjukkan bahwa kadar serotonin tampak
stabil setelah usia 12 tahun.
Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa seluruh kadar
serotonin darah memiliki korelasi positif antara autis dan orang tua mereka
dan saudara-saudara. Hal ini jelas bahwa serotonin dalam trombosit yang
bertanggung jawab. Lebih dari 99% dari seluruh darah serotonin yang

1
2

terkandung dalam trombosit. Hal ini menunjukkan bahwa pasien dengan


autisme menunjukkan peningkatan penyerapan serotonergik atau penurunan
pelepasan serotonergik. Ada bukti untuk korelasi positif antara kadar
serotonin dan tingkat transportasi serotonin.4

3.4. Gambaran Klinis


Perkembangan abnormal terlihat sebelum usia 3 tahun dengan
konstelasi gangguan dalam interaksi sosial dan komunikasi, terbatas dan
berulang kepentingan dan perilaku.6
a. Terganggu interaksi sosial
Ada ketidakmampuan untuk membentuk hubungan dengan teman
sebaya usia, dan kurang mengembangkan keterampilan empati (kemampuan
untuk memahami bagaimana orang lain merasa dan berpikir). Bermain
imitasi kurang dan biasanya kontak mata dihindari. Selain itu pada kualitas
tatapan berbeda, menjadi lebih tetap ("kaku") dan lebih tahan lama
dibandingkan non-autistik individu. Banyak anak yang menolak dipegang
atau disentuh, meskipun mereka bisa menikmati kontak tubuh jika mereka
memulainya. Kesulitan anak-anak ini dalam berinteraksi sering membuat
sulit bagi orang lain untuk hangat dengan mereka. Orang tua mungkin
merasa bersalah tentang kurangnya kehangatan yang mereka hadirkan
sendiri. Kelainan komunikasi pembangunan dari usia dini adalah masalah
memahami isyarat dan pidato, dengan penundaan yang pasti dalam
pengembangan dan pemahaman bahasa lisan. Satu dari dua anak dengan
autis gagal untuk mengembangkan bahasa lisan yang bermanfaat, dan
melakukannya dalam bentuk yang normal. Tidak memiliki komunikasi
sosial ke sana kemari, seringkali diulang-ulang atau mengambil bentuk
monolog. Sebagai hasil dari ketidakmampuan mereka untuk berkomunikasi
dengan "dunia batin" orang lain, mereka belajar melalui menyalin apa yang
mereka lihat dan dengar. Mereka mungkin mengacu pada diri mereka
sebagai "Anda" atau "dia", ulangi kata-kata dalam arti cara (echolalia), atau
mengambil pada pidato stereotip terdengar di lain dan digunakan dalam
konteks yang salah. Kelainan pada intonasi, ritme dan lapangan juga dapat

2
3

hadir (Dysprosidy). Pemahaman bahasa lisan dikompromikan. Meskipun


banyak memahami kata-kata individu, masalah yang timbul saat ini
diurutkan bersama-sama. Tidak ada pemahaman metafora, sarkasme ironi,
dan berlebihan, namun penggunaan ujaran orang dewasa dan tidak adanya
ekspresi perasaan dapat memberikan kualitas pseudomature atau bahkan
pseudoprofound untuk pidato. Masalah komunikasi non-verbal termasuk
kurangnya penilaian jarak interpersonal, tatapan mata yang lama, atau tidak
pantas melihat mulut daripada mata. Mungkin ada sesuatu dari tubuh
dibatasi untuk hadir dan gerakan wajah. Obyek berbagi dan menunjuk ini
terutama terbatas. Orangtua dan guru mungkin mengalami kesulitan
komunikasi sebagai ketidakmampuan untuk "melewati mereka" atau
pengalaman menjadi "dikunci".6
b. Terbatas dan berulang kepentingan dan perilaku
Anak-anak autis menunjukkan perilaku stereotip dan kepentingan
mereka mungkin menjadi disibukkan oleh bagian tertentu dari mainan, atau
tertarik dalam properti sensorik tertentu dari objek seperti rasa, tekstur,
warna, atau bau. Mungkin mainan berbaris selama berjam-jam. Bermain
biasanya tidak simbolik atau imajinatif dengan kekakuan dan membatasi
bermain pola dan kepentingan. Anak mungkin mengalami diet yang sangat
terbatas dan dari waktu ke waktu berhenti makan sepenuhnya tanpa alasan
yang jelas. Rutinitas tertentu ditaati dengan cara yang kaku dengan
perubahan kecil menyebabkan ekstrim reaksi. Sebaliknya, peristiwa besar
dalam hidup mungkin tidak terdaftar. Selama keasyikan tahun sekolah atau
minat khusus seperti peta, laporan cuaca dan jadwal kereta api dapat
berkembang. Stereotypies sederhana seperti tangan mengepak, berjingkat
berjalan, jari berputar, berputar dan sering goyang dipamerkan. Orangtua
sering bingung mengenai apakah mereka harus mengakomodasi perilaku ini
atau mencoba untuk memodifikasi mereka.6
c. Abnormal terhadap respon rangsangan sensorik
Dari usia yang sangat muda respon abnormal sensorik stimulus
dapat hadir, kadang-kadang menyesatkan klinisi ke mencurigai bahwa anak
ini baik buta atau tuli. Ekstrim respon dan kepekaan terhadap suara dapat

3
4

dilihat, seperti mengabaikan ledakan untuk menutupi telinga ketika


pembungkus dari manis dihapus. Meskipun sentuhan ringan atau stroke
dapat mengakibatkan penarikan, anak sengaja dapat menggigit dan
membakar bagian tubuh atau Bang kepala mereka. Jika nuansa kotoran
terutama yang menarik bagi anak, mengolesi feses mungkin ketegangan
yang menonjol atau bahkan melegakan. Tanggapan terhadap rangsangan
visual yang mungkin termasuk pesona dengan kontras cahaya dan
mengintip pada objek dalam cara yang tidak biasa dan dengan visi perifer.
Hiperaktif bersamaan dan mode makanan yang umum. Fitur mencolok
adalah hilangnya commensurability dari menanggapi rangsangan-
kehilangan "fine tuning".6
d. Intelijen
Sekitar tiga perempat dari individu autis memiliki IQ di bawah ini
70, dengan IQ sebagai prediktor yang paling kuat hasil. Terlepas dari IQ ada
profil kognitif yang berbeda dengan kemampuan visuospatial kuat dan
symbolisation miskin, pemahaman tentang ide-ide abstrak dan keterampilan
kreatif. Sebuah minoritas menunjukkan pulau kemampuan khusus ("autistik
sarjana"), seperti keterampilan numerik, kalender dan keterampilan di
bidang musik dan seni.6

3.5. Diagnosis
Kriteria diagnostik untuk gangguan autistik9
a. Total enam atau lebih hal dari 1, 2 dan 3 dengan sekurangnya dua dari 1 dan
masing-masing satu dari 2 dan 3.
1. Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial seperti ditujukan oleh
sekurangkurangnya dua dari berikut:
a) Gangguan jelas dalam penggunaan perilaku nonverbal multipel seperti
tatapan mata, ekspresi wajah, postur tubuh dan gerak-gerik untuk
mengatur interaksi sosial.
b) Gagal untuk mengembangkan hubungan dengan teman sebaya yang
sesuai menurut tingkat perkembangan.

4
5

c) Tidak adanya keinginan spontan untuk berbagi kesenangan, minat, atau


pencapaian dengan orang lain (misalnya tidak memamerkan,
membawa, atau menunjukkan benda yang menarik minat).
d) Tidak ada timbal balik sosial atau emosional.
2. Gangguan kualitatif dalam komunikasi seperti yang ditujukkan oleh
sekurangnya satu dari berikut:
a) Keterlambatan dalam atau sama sekali tidak ada, perkembangan bahasa
ucapan (tidak disertai oleh usaha untuk berkompensasi melalui cara
komunikasi lain seperti gerak-gerik atau mimik).
b) Pada individu dengan bicara yang adekuat gangguan jelas dalam
kemampuan untuk memulai atau mempertahankan percakapan dengan
orang lain.
c) Pemakaian bahasa atau bahasa idiosinkratik secara stereotipik dan
berulang.
d) Tidak adanya berbagai permainan khayalan atau permainan pura-pura
sosial yang spontan yang sesuai menurut tingkat perkembangan.
3. Pola perilaku, minat, dan aktivitas yang terbatas, berulang, dan stereotipik,
seperti ditunjukkan oleh sekurangnya satu dari berikut :
a) Preokupasi dengan satu atau lebih pola minat yang stereotipik dan
terbatas, yang abnormal baik dalam intensitas maupun fokusnya.
b) Ketaatan yang tampaknya tidak fleksibel terhadap rutinitas atau ritual
yang spesifik dan nonfungsional.
c) Manerisme motorik stereotipik dan berulang (misalnya menjentikkan,
atau memuntirkan tangan atau jari atau gerakan kompleks seluruh
tubuh).
b. Keterlambatan atau fungsi abnormal pada sekurangnya satu bidang berikut
dengan onset sebelum usia 3 tahun :
1. Interaksi sosial.
2. Bahasa yang digunakan dalam komunikasi sosial.
3. Permainan simbolik atau imaginatif.
c. Gangguan tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan Rett atau gangguan
disintegratif masa anak-anak.

5
6

3.6. Diagnosis Banding


1. Skizofrenia dengan onset masa anak-anak
Skizofrenia jarang pada anak-anak di bawah 5 tahun. Skizofrenia
disertai dengan halusinasi atau waham, dengan insidensi kejang dan
retardasi mental yang lebih rendah dan dengan I.Q yang lebih tinggi
dibandingkan dengan anak autistik.9

Kriteria Gangguan Autistik Skizofrenia dengan


onset
masa anak-anak
Usia onset <38 bulan >5 tahun
Insidensi 2-5 dalam 10.000 Tidak diketahui,
kemungkinan sama atau
bahkan lebih jarang
Rasio jenis kelamin 3-4:1 1,67:1
(L:P)
Riwayat keluarga Tidak naik atau Naik
skizofrenia kemungkinan tidak naik
Status sosioekonomi Terlalu mewakili Lebih sering pada SSE
kelompok SSE tinggi Rendah
(artefak)
Penyulit prenatal dan Lebih sering pada Lebih jarang pada
perinatal dan gangguan autistik skizofrenia
disfungsi otak
karakteristik perilaku Gagal untuk Halusinasi dan waham,
mengembangkan gangguan pikiran
hubungan
: tidak ada bicara
(ekolalia);
frasa stereotipik; tidak ada

6
7

atau buruknya
pemahaman
bahasa; kegigihan atas
kesamaan dan stereotipik.
fungsi adaptif Biasanya selalu terganggu Pemburukan fungsi
Tingkat inteligensi Pada sebagian besar kasus Dalam rentang normal,
subnormal, sering sebagian besar normal
terganggu parah (70%) bodoh (15%-70%)
Pola I.Q. Jelas tidak rata Lebih rata
Kejang Grand mal 4-32% Tidak ada atau insidensi
Rendah
2. Retardasi mental dengan gangguan emosional/perilaku
Kira-kira 40% anak autistik adalah teretardasi sedang, berat atau
sangat berat, dan anak yang teretardasi mungkin memiliki gejala perilaku
yang termasuk ciri autistik. Ciri utama yang membedakan antara
gangguan autistik dan retardasi mental adalah :9
1. Anak teretardasi mental biasanya berhubungan dengan orang tua atau
anak-anak lain dengan cara yang sesuai dengan umur mentalnya.
2. Mereka menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan orang
lain.
3. Mereka memilki sifat gangguan yang relatif tetap tanpa pembelahan
fungsi.9
3. Gangguan bahasa reseptif /ekspresif campuran
Sekelompok anak dengan gangguan bahasa reseptif/ekspresif
memiliki ciri mirip autistik.9

Kriteria Gangguan autistik Gangguan bahasa


reseptif/ekspresif
campuran
Insidensi 2-5 dalam 10.000 5 dalam 10.000
Ratio jenis kelamin 3-4 : 1 sama atau hampir sama
(L:P)
7
8

Riwayat keluarga 25 % kasus 25 % kasus


adanya
keterlambatan bicara /
gangguan bahasa
Ketulian yang sangat jarang tidak jarang
Berhubungan
Komunikasi nonverbal tidak ada/rudimenter Ada
(gerak gerik, dll)
Kelainan bahasa lebih sering lebih jarang
(misalnya ekolalia, frasa
stereotipik diluar
konteks)
Gangguan artikulasi lebih jarang lebih sering
Tingkat intelegensia sering terganggu parah Walaupun mungkin
terganggu, seringkali
kurang parah
Pola test IQ tidak rata, rendah pada lebih rata, walaupun IQ
skor verbal, rendah pada verbal lebih rendah dari
sub test pemahaman IQ kinerja
Perilaku autistik, lebih sering dan lebih tidak ada atau jika ada,
gangguan kehuidupan parah kurang parah
sosial, aktivitas
stereotipik dan ritualistik
Permainan imaginatif tidak ada/rudimenter biasanya ada

4. Afasia didapat dengan kejang


Afasia didapat dengan kejang adalah kondisi yang jarang yang
kadang sulit dibedakan dari gangguan autistik dan gangguan disintegratif
masa anak-anak. Anak-anak dengan kondisi ini normal untuk beberapa
tahun sebelum kehilangan bahasa reseptif dan ekspresifnya selama
periode beberapa minggu atau beberapa bulan. Sebagian akan mengalami
kejang dan kelainan EEG menyeluruh pada saat onset, tetapi tanda
8
9

tersebut biasanya tidak menetap. Suatu gangguan yang jelas dalam


pemahaman bahasa yang terjadi kemudian, ditandai oleh pola berbicara
yang menyimpang dan gangguan bicara. Beberapa anak pulih tetapi
dengan gangguan bahasa residual yang cukup besar.9
5. Ketulian kongenital atau gangguan pendengaraan parah
Anak-anak autistik sering kali dianggap tuli oleh karena anak-anak
tersebut sering membisu atau menunjukkan tidak adanya minat secara
selektif terhadap bahasa ucapan. Ciri-ciri yang membedakan yaitu bayi
autistik mungkin jarang berceloteh sedangkan bayi yang tuli memiliki
riwayat celoteh yang relatif normal dan selanjutnya secara bertahap
menghilang dan berhenti pada usia 6 bulan – 1 tahun. Anak yang tuli
berespon hanya terhadap suara yang keras, sedangkan anak autistik
mungkin mengabaikan suara keras atau normal dan berespon hanya
terhadap suara lunak atau lemah. Hal yang terpenting, audiogram atau
potensial cetusan auditorik menyatakan kehilangan yang bermakna pada
anak yang tuli. Tidak seperti anak-anak autistik, anak-anak tuli biasanya
dekat dengan orang tuanya, mencari kasih sayang orang tua dan sebagai
bayi senang digendong.9
6. Pemutusan psikososial
Gangguan parah dalam lingkungan fisik dan emosional (seperti
pemisahan dari ibu, kekerdilan psikososial, perawatan di rumah sakit,
dan gagal tumbuh) dapat menyebabkan anak tampak apatis, menarik diri,
dan terasing. Keterampilan bahasa dan motorik dapat terlambat. Anak-
anak dengan tanda tersebut hamper selalu membaik dengan cepat jika
ditempatkan dalam lingkungan psikososial yang menyenangkan dan
diperkaya, yang tidak terjadi pada anak autistik.9

3.7. Penanganan Autisme


Penanganan anak-anak autisme sangat sukar untuk disembuhkan.
Bukan saja oleh karena isolasi mentalnya sudah merupakan dunia anak yang
sudah mantap dan yang disenangi, akan tetapi semua anggota rumah tangga
harus ikut serta dalam terapi kelompok.7 Gangguan autisme tidak bisa

9
10

disembuhkan secara total tetapi gejala-gejala yang timbul dapat dikurangi


semaksimal mungkin agar anak tersebut dapat berbaur dalam lingkungan
yang normal. 8
Penanganan yang baik untuk gangguan autisme adalah dengan terapi
terpadu. Terapi terpadu ini melibatkan keluarga , psikiater, psikolog,
neurolog, dokter anak, terapis bicara dan pendidik.8 Beberapa terapi yang
dapat dijalankan antara lain: terapi medikamentos, terapi psikolog, terapi
wicara, dll.
a. Terapi medikamentosa
Pemberian obat pada anak harus didasarkan pada diagnosis yang
tepat, pemakaian obat yang tepat, pemantauan ketat terhadap efek
samping dan mengenali cara kerja obat. Perlu diingat bahwa setiap anak
memiliki ketahanan yang berbeda-beda terhadap efek obat, dosis obat
dan efek samping. Oleh karena itu perlu ada kehati-hatian dari orang tua
dalam pemberian obat yang umumnya berlangsung jangka panjang. Saat
ini pemakaian obat diarahkan untuk memperbaiki respon anak sehingga
diberikan obat-obat psikotropika jenis baru seperti obat-obat
antidepressan SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitor) yang bisa
memberikan keseimbangan antara neurotransmitter serotonin dan
dopamin. Yang diinginkan dalam pemberian obat ini adalah dosis yang
paling minimal namun paling efektif dan tanpa efek samping. Pemakaian
obat akan sangat membantu untuk memperbaiki respon anak terhadap
lingkungan sehingga ia lebih mudah menerima tata laksana terapi
lainnya. Bila kemajuan yang dicapai cukup baik, maka pemberian obat
dapat dikurangi bahkan dihentikan.
b. Terapi psikolog
Pada umumnya pengobatan difokus pada inti dari gangguan.
Penyandang autisme biasanya kurang motivasi untuk menanggapi
rangsangan yang kompleks, ini merupakan inti masalah dan intervensi
yang diberikan harus ditujukan untuk memotivasi agar dapat memulai
berinteraksi sosial.1

10
11

Beberapa pendekatan yang komprehensif dalam intervensi autisme


memiliki tujuan :8
1. Membantu perkembangan kognitif, bahasa dan sosial yang normal.
2. Meningkatkan kemampuan belajar anak autistik.
3. Mengurangi kekakuan dan perilaku stereotype dengan
meningkatkan interaksi penyandang autis dengan orang lain dan
tidak membiarkannya “hidup sendiri” . Interaksi yang kurang justru
akan menyebabkan munculnya perilaku-perilaku yang tidak
dikehendaki. Dalam hal ini pemberian mainan yang bervariasi juga
dapat mengurangi kekakuan ini.
4. Mengurangi perilaku maladaptive seperti temper tantrum dan
melukai diri sendiri.
5. Mengurangi stress pada keluarga penderita autisme
Setelah seorang anak didiagnosa autisme, orang tua perlu diberikan
pengertian mengenai kondisi anak dan mampu menerima anak mereka
yang menderita autis. Mereka juga dilibatkan dalam proses terapi ( Home
training ). Konsep yang ada dalam home training ini adalah orang tua
belajar dan dilatih untuk dapat melakukan sendiri terapi yang dilakukan
psikolog/terapis. Terapi tidak hanya dilakukan oleh terapis tetapi juga
oleh keluarga di rumah. Terapi yang intensif akan meminimalisir
kemungkinan hilangnya kemampuan yang telah dilatih dan dikuasai
anak.
c. Terapi wicara
Umumnya hampir semua penyandang autisme menderita gangguan
bicara dan berbahasa. Oleh karena itu terapi wicara pada penyandang
autisme merupakan keharusan. Penanganannya berbeda dengan penderita
gangguan bicara oleh sebab lain. Terapi wicara ini diberikan agar
kemampuan berkomunikasi pada penyandang autis dapat bertambah
begitu pula agar terciptanya interaksi dengan orang lain.8

11
12

3.8. Prognosis
Prognosa untuk penyandang autis tidak selalu buruk. Bagi banyak
anak, gejala autisme membaik dengan pengobatan dan tergantung pada
umur. Beberapa anak autis tumbuh dengan menjalani kehidupan normal
atau mendekati normal. Anak-anak dengan kemunduran kemampuan bahasa
di awal kehidupan, biasanya sebelum usia 3 tahun, mempunyai resiko
epilepsi atau aktivitas kejang otak. Selama masa remaja, beberapa anak
dengan autisme dapat menjadi depresi atau mengalami masalah perilaku.
Dukungan dan layanan tetap dibutuhkan oleh penderita autis walaupun
umur bertambah, tetapi ada pula yang dapat bekerja degan sukses dan hidup
mandiri dalam lingkungan yang juga mendukung.5

12
BAB IV
PENUTUP

4.1. Kesimpulan
Mengingat beragamanya faktor etiologi, kompleksnya gejala, dan
prognosis yang dapat bervariasi pada autisme, perlu kiranya penanganan
yang komprehensif dari suatu tim terpadu yang yang berasal dari
berbagai disiplin ilmu-dokter (psikiater, dokter anak, neurolog),
pendidik, psikolog, ahli terapi wicara, terapi okupasi, pekerja sosial, juga
perawat. Diharapkan dengan deteksi dini dan penanganan yang tepat,
serta pesatnya kemajuan dibidang teknologi kedokteran, akan didapat
hasil yang optimal bagi perkembangan anak-anak ini.
1

DAFTAR PUSTAKA

Campbell JM,Morgan SB, Jackson JN. 2004. Autism Spectrum Disorder and
Mental Retardation.
Chamberlin, Stacey;Narins, Brigham.2005. The Gale Encyclopedia of
Neurological Disorders volume 1.USA; p 122-26
http://id.wikipedia.org/wiki/Autisme [diakses 4 Oktober 2011]
Jerald Kay;Allan Tasman.2006.Essentials of Psychiatry.John Wiley & Sons, Ltd.
ISBN: 0-470-01854-2
National institute of Neurological Disorder and Stroke. Autism Fact Sheet.
http://www.ninds.nih.gov
Practical Child Psychiatry: The clinician’s guide; John M Leventhal, MD
Sidharta P. 1994.Neurologi Klinis dalam Praktek Umum. Dian Rakyat.
Yusuf, EA.2003.Autisme: Masa Kanak.Universitas Sumatra Utara:Sumatra Utara.
Sadock, Benjamin James; Sadock, Virginia Alcott.2007. Kaplan & Sadock's
Synopsis of Psychiatry: Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry, 10th
Edition. New york; p 1192-99.