Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH KEPERAWATAN ANAK

OBESITAS

DISUSUN OLEH :

Halidi Syahroni

Rahmat Sudirman

Sartika

Suwito Asisto

Titis Ayu EkaSaputri

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

UNIVERSITAS BATAM

TAHUN AJARAN 2013/2014


KATA PENGANTAR

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur Penulis Panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat limpahan
Rahmat dan Karunia-Nya sehingga penulis dapat menyusun makalah ini tepat pada waktunya Makalah ini
membahas Obesitas pada Anak.

Pada dasarnya makalah ini disusun dengan tujuan untuk memberikan pengetahuan dan
pemahaman kepada mahasiswa tentang Obesitas pada Anak.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari bentuk
penyusunan maupun materinya. Kritik konstruktif dari pembaca sangat penulis harapkan untuk
penyempurnaan makalah selanjutnya.

Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada kita sekalian.

Batam, Desember 2014

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.....................................................................................................................1

DAFTAR ISI....................................................................................................................................2

BAB I PENDAHULUAN................................................................................................................4

I.I Latar Belakang............................................................................................................................4

I.B. Rumusan Masalah.....................................................................................................................4

I.C Tujuan Penulisan........................................................................................................................4

BAB II PEMBAHASAN.................................................................................................................5

II.I Pengertian Obesitas....................................................................................................................5

II.II Klasifikasi.................................................................................................................................5

II.III Memahami Penyebab dan Penanganan Obesitas pada Anak.................................................6


II.IV Etiologi...................................................................................................................................7
II.V Manifestasi klinis.....................................................................................................................7
II.VI Patofisiologi pada obesitas......................................................................................................8

II.VII Tata Laksana Obesitas Anak.................................................................................................9

II.VIII Cara Mencegah Obesitas pada Anak..................................................................................11

BAB III KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK OBESITAS............................13

BAB IV PENUTUP.......................................................................................................................20

IV.I Kesimpulan.............................................................................................................................20

IV.II Saran......................................................................................................................................21

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................................22
BAB I
PENDAHULUAN

I. Latar Belakang
Pada awalnya obesitas di pandang sebagai tren atau gaya hidup sebagai tanda kesuksesan
seseorang, dengan memiliki badan yang gemuk menandakan seseorang hidup berkecukupn.
Namun sekarang obesitas telah menjadi masalah yang serius karena memicu timbulnya berbagai
komplikasi penyakit yang menyertainya. Masalah obesitas kini telah menjadi perhatian khusus
badan kesehatan dunia
Perhatian tidak hanya ditujukan kepada jumlah lemak yang ditimbun, tetapi juga kepada
lokasi penimbunan lemak tubuh.Pola penyebaran lemak tubuh pada pria dan wanita cenderung
berbeda.Wanita cenderung menimbun lemaknya di pinggul dan bokong, sehingga memberikan
gambaran seperti buah pir.Sedangkan pada pria biasanya lemak menimbun di sekitar perut,
sehingga memberikan gambaran seperti buah apel.Masalah ini yang menjadikan bahasan dalam
asuhan keperawatan dengan obesitas menjadi sangat menarik untuk di angkat dan di pelajari
kelompok kami, semoga apa yang kami tulis dalam karya kami dapat menjadi sesuatu yang
berguba bagi kami mahasiswa keperawatan khususnya dan khalayak ramai pada umunya.

II. Rumusan Masalah


Apa yang dimaksud dengan Obesitas?
Faktor apa saja yang bisa menyebabkan Obesitas ?
Bagaimana cara penanganan anak yang Obesitas?

III. Tujuan Penulisan


Adapun yang menjadi tujuan penulisan makalah ini, yaitu:
1. Memahami konsep dan karakterisitik Obesitas
2. Mengetahui faktor-faktor yang dapat mempengaruhi Obesitas
3. Mengetahui upaya-upaya apa saja yang harus dilakukan agar pertumbuhan anak bisa
berkembang dengan baik dan sehat.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Obesitas
Overweight adalah berat badan melebih standar berat badan menurut tinggi badan,
meningkatnya otot tubuh atau jaringan lemak atau keduanya.
Obesitas adalah akumulasi jaringan lemak dibawah kulit yang berlebihan dan terdapat di seluruh
tubuh.Obesitas seringkali dihubungkan dengan overweight, walaupun tidak selalu identik oleh
karena obesitas mempunyai ciri ciri tersendiri.
Secara klinis obesitas dengan mudah dapat dikenali karena mempunyai tanda dan gejala
yang khas, yaitu: wajah membulat, pipi tembem, dagu rangkap, leher relatif pendek, dada
mengembung dengan payudara yang membesar mengandung jaringan lemak, perut membuncit,
kedua tungkai pada umumnya berbentuk x. Pada anak laki laki penis tampak kecil karena
terkubur dalam jaringan lemak supra-pubik, pada anak perempuan indikasi menstruasi dini.
Kelebihan berat badan pada anak yang tidak wajar saat seumuran balita yang disebabkan
menumpuknya kadar lemak yang tidak sedikit.orang tua pasti tidak menyadari bahwa di tubuh
anak mereka yang gemuk sudah mengancam kesehatan anak tersebut. Namun tidak semua anak
yang gemuk dikategorikan sebagai anak yang memiliki obesitas.banyak juga anak yang memiliki
kerangka tubuh lebih besar dari rata-rata,selain itu juga memiliki kadar lemak yang lebih tinggi
pada masa pertunbuhanya. jadi akan kelihata seperti anak yang memiliki obesitas.perlu
diketahui obesitas pada anak tidak bisa dilihat dari ukuran badan anak tersebut.dalam hali ini
dokter berperan penting untuk memeriksa apakah anak itu termasuk anak yang memiliki
obesitas.

B. Klasifikasi

Obesitas digolongkan menjadi 3 kelompok:

1. Obesitas ringan : kelebihan berat badan 20-40%

2. Obesitas sedang : kelebihan berat badan 41-100%

3. Obesitas berat : kelebihan berat badan >100% (Obesitas berat ditemukan sebanyak 5% dari
antara orang-orang yang gemuk)
C. Memahami Penyebab dan Penanganan Obesitas pada Anak

Ada berbagai penyebab yang membuat seorang anak mengalami berat berlebih.
Mengetahui dan mengenal penyebab tersebut, dapat membantu kita untuk mencari solusi dan
cara penanganan yang tepat untuk masalah yang dihadapi anak.
Berikut beberapa penyebab dan penanganan obesitas untuk Anda pelajari :

1. Kebiasaan Makan yang Buruk


Anak yang tidak atau kurang suka mengkonsumsi buah, sayur dan biji-bijian (grains)
dan lebih memilih fast food, minuman manis maupun makanan kemasan, memiliki
kecenderungan untuk memiliki berat berlebih karena makanan tersebut merupakan
makanan yang tinggi lemak dan kalori tetapi memiliki nilai gizi yang rendah.

 Penanganan: Merubah pola makan menjadi pola makan yang sehat. Batasi tingkat
konsumsi fast food dan semacamnya.Perbanyak konsumsi sayur, buah dan menu
bergizi lainnya.

2. Faktor Keturunan
Obesitas bisa diturunkan oleh orang tua. Jadi seorang anak yang memiliki orang tua
atau keluarga yang mengalami obesitas juga berpotensi untuk mengalami hal sama.
Tetapi perlu Anda ketahui bahwa faktor keturunan tidak lantas membuat seseorang
memiliki berat berlebih. Hal ini akan muncul jika si anak mengkonsumsi kalori
berlebih dari jumlah yang seharusnya ia konsumsi.

 Penanganan: Melakukan diet makanan agar jumlah kalori, lemak maupun zat lain
yang dibutuhkan oleh tubuh terpenuhi setiap harinya dan tidak berlebihan.

3. Tidak Aktif Secara Fisik


Teknologi modern banyak memaksa anak-anak kita untuk lebih banyak duduk diam
menghabiskan waktu mereka di depan layar komputer maupun televisi sehingga
mereka tidak banyak bergerak. Jika konsumsi kalori dan lemak mereka berlebih,
padahal tubuh tidak membakarnya, maka obesitas pada anak akan terjadi pada
mereka.

 Penanganan: Latih anak untuk aktif bergerak. Kurangi jatah main game atau nonton
TV dan ganti dengan mengikutsertakan mereka dalam kegiatan olahraga yang mereka
sukai.

D. Etiologi

Obesitas dapat di sebabkan oleh beberapa faktor antara lain , keturunan,pola makan, obat-
obatan,psikososial ekonomi, aktivitas, pola pikir dan konsentrasi intake makanan.

E. Manifestasi klinis

Obesitas dapat terjadi pada semua golongan umur, akan tetapi pada anak biasanya timbul
menjelang remaja dan dalam masa remaja terutama anak wanita, selain berat badan meningkat
dengan pesat, juga pertumbuhan dan perkembangan lebih cepat (ternyata jika periksa usia
tulangnya), sehingga pada akhirnya remaja yang cepat tumbuh dan matang itu akan mempunyai
tinggi badan yang relative rendah dibandingkan dengan anak yang sebayanya. Bentuk tubuh,
penampilan dan raut muka penderita obesitas :

a. Paha tampak besar, terutama pada bagian proximal, tangan relatif kecil dengan jari –
jari yang berbentuk runcing.
b. Kelainan emosi raut muka, hidung dan mulut relatif tampak kecil dengan dagu yang
berbentuk ganda.
c. Dada dan payudara membesar, bentuk payudara mirip dengan payudara yang telah
tumbuh pada anak pria keadaan demikian menimbulkan perasaan yang kurang
menyenangkan.
d. Abdomen, membuncit dan menggantung serupa dengan bentuk bandul lonceng,
kadang – kadang terdapat strie putih atau ungu.
e. Lengan atas membesar, pada pembesaran lengan atas ditemukan biasanya pada biseb
dan trisebnya
Pada penderita sering ditemukan gejala gangguan emosi yang mungkin merupakan
penyebab atau keadaan dari obesitas. Penimbunan lemak yang berlebihan dibawah diafragma
dan di dalam dinding dada bisa menekan paru – paru, sehingga timbul gangguan pernafasan dan
sesak nafas, meskipun penderita hanya melakukan aktivitas yang ringan.Gangguan pernafasan
bisa terjadi pada saat tidur dan menyebabkan terhentinya pernafasan untuk sementara waktu
(tidur apneu), sehingga pada siang hari penderita sering merasa ngantuk.

Obesitas bisa menyebabkan berbagai masalah ortopedik, termasuk nyeri punggung bawah
dan memperburuk osteoartritis (terutama di daerah pinggul, lutut dan pergelangan kaki).Juga
kadang sering ditemukan kelainan kulit.Seseorang yang menderita obesitas memiliki permukaan
tubuh yang relatif lebih sempit dibandingkan dengan berat badannya, sehingga panas tubuh tidak
dapat dibuang secara efisien dan mengeluarkan keringat yang lebih banyak.Sering ditemukan
edema (pembengkakan akibat penimbunan sejumlah cairan) di daerah tungkai dan pergelangan
kaki.

F. Patofisiologi pada obesitas

Makanan yang adekuat, yang di sertai dengan ketidak seimbangan antara intake dan out
put yang keluar – masuk dalam tubuh akan menyebabkan akumulasi timbunan lemak pada
jaringan adiposa khususnya jaringan subkutan. Apabila hal ini terjadi akan timbul berbagai
masalah, diantaranya Timbunan lemak pada area abdomen yang emnyebabkan tekanan pada
otot-otot diagfragma meningkat sehingga menggagu jalan nafas , BB yang berlebihan
menyebabkan aktifitas yang terganggu sehingga mobilitas gerak terbatasi dan timbul perasaan
tidak nyaman, obat-obatan golongan steroid yang memicu nafsu makan tidak terkontrol
mengakibatkan perubahan nutrisi yang berlebih, dan krisis kepercayaan diri karena timbunan
lemak pada tubuh telah mengubah bentuk badannya.
G. Tata Laksana Obesitas Anak

1. Tujuan

Tujuan utama tata laksana obesitas pada anak dan remaja adalah menyadarkan tentang
pola makan yang berlebihan dan aktivitas yang kurang serta memberikan motivasi untuk
memodifikasi perilaku anak dan orang tua. Tujuan jangka panjang adalah perubahan gaya hidup
yang menetap.

2. Pengaturan Makanan

a. Pada bayi.

 Sebaiknya diberikan ASI eksklusif, bila menggunakan susu formula perhatikan


takaran dan volume pemberian susu.
 makanan padat tidak boleh diberikan kurang dari 4 bulan; bayi mulai diperkenalkan
minum dengan cangkir umur 7 -8 bulan, botol mulai dihilangkan umur 1 tahun.
 Pemberian sayur dan buah jangan sampai terputus.

b. Anak usia pra sekolah (1 - 3 th).

 Hindari makan gorengan (krupuk, keripik, dll) dan penambahan lemak untuk
memasak. (mi sal : santan, minyak, margarine)
 Pilih daging yang tidak berlemak.
 Lebih baik gunakan margarine, keju yang rendah lemak
 Hindari penambahan gula pada makanan dan minuman, pemanis buatan (mis :
aspartame) bisa digunakan bila perlu.
 Hindari coklat, permen, cake, biskuit, kue kue dan makanan lain sejenis.
 Berikan sayuran setiap makan dan buah untuk makanan selingan.
 Gunakan susu rendah lemak atau tanpa lemak.
Pada usia ini (0 - 3 th) tidak perlu diberikan pengurangan kalori dari kebutuhannya,
bayi/anak akan mengalami penurunan BB secara spontan sesuai dengan pertumbuhannnya.
Pengurangan kalori dibawah kebutuhan jika tidak dirancang dengan baik dapat menimbulkan
defisiensi zat gizi yang mungkin dapat menghambat tumbuh kembang anak yang masih pesat
terutama tumbuh kembang otak.

c. Anak usia sekolah (4 - 6 th).

Hal hal yang dianjurkan sama dengan anak usia pra sekolah. Energi diberikan sesuai
kebutuhan. Dalam keadaan yang terpaksa, misal pernafasan terganggu, susah bergerak diberikan
pengurangan kalori dengan pengawasan yang ketat.

d. Anak usia remaja

Target penurunan berat badan dapat direncanakan setiap kunjungan, biasanya 1 - 2 kg/
bulan. Penurunan asupan kalori diberikan bertahap sekitar 300 - 500 Kalori dari asupan makanan
sehari-hari .
Penurunan berat badan tidak perlu menghilangkan seluruh kelebihan berat abdan karena
pertumbuhan linier masih berlangsung, penurunan berat badan cukup sampai berat badan berada
20 % diatas berat badan ideal.

3. Modifikasi Perilaku

a) Monitor diri sendiri, anak dilatih untuk memonitor asupan makan dan aktivitas fisik, hal
ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran anak dan keluarga terhadap gizi dan
kegiatan fisik
b) Stimulus kontrol, bermacam macam kejadian yang memicu keinginan makan atau makan
berlebihan, contoh : makan sambil menonton TV, Makanan dihidangkan di meja.
Strategi: TV tidak dipasang di kamar makan, makanan disimpan di lemari untuk
meminimalkan penglihatan terhadap makanan.
c) Perubahan perilaku, contoh: kebiasaan makan cepat dirubah perlahan lahan, mengontrol
besar porsi sehingga merasa puas dengan besar porsi sedang dan meminimalkan snack.
d) Memberikan imbalan apabila anak berhasil menurunkan berat badan.
e) Tehnik perilaku kognitif, yaitu mengembangkan teknik pemecahan masalah, seperti
merencanakan untuk situasi dengan resiko tinggi, misal pada waktu liburan, atau pesta/
pertemuan untuk menekankan agar tidak makan berlebihan.

4. Aktifitas Fisik dan Olahraga

a. Frekuensi olah raga 3-5 kali per minggu.


b. Lama olah raga, pemanasan 15 menit, ditambah 30-40 menit.
c. jenis olah raga : jalan, berenang.
d. sesuai dengan hobi anak, tennis, menari, basket, dll.
e. menambah kegiatan/aktifitas fisik, misal berangkat sekolah jalan kaki, lebih baik naik
tanga dari pada menggunakan lift.
f. mengurangi aktifitas yang pasif, misal menonton TV, bermain videogame, membaca
buku, dll. (maksimal 2 jam sehari).

5. Partisipasi Orang Tua


Orang tua adalah contoh yang terbaik bagi anak.Sekurang kurangnya salah satu orang tua
ikut secara intesif dalam program perawatan anak.Penelitian menapatkan bahwa kelompok anak
yang orang tua ikut berpartisipasi, berat badannya turun lebih banyak dan tetap stabil.
H. Cara Mencegah Obesitas pada Anak

 Dengan membatasi minuman dan makan yang mengandung kadar kalori dan gula yang
tinggi,seperti coklat,minuman bersoda,biskuit,kue dan es krim.dengan mengganti buah-
buahan dan sayur-sayuran seperti jus buah,agar-agar,kripik sayur dan susu rendah lemak.
 Jika anda masak sendiri,usahakan untuk dibakar atau dikukus.ayam,ikan,sosis.dengan
cara ini makanan anda akan terlihat enak namun juga rendah lemak.
 Dengan perilaku makan orang tua dapat ditiru oleh anaknya,jadi biasakan memberi
contoh yang baik pada anak anda dengan cara makan anda sendiri.
 Mengajarkan anak untuk makan lebih lambat dan menikmatinya,karena makan dengan
pelan cenderung akan membuat anak akan merasa lebih cepat kenyang dan tidak akan
makan berlebihan.
 melakukan makan bersama secara keluarga sesering mungkin.
 Makanan cepat saji sangat tidak baik untuk di konsumsi secara berlebihan.jadi jangan
jadikan makanan cepat saji sebagai rutin mingguan.
 Makan sambil beraktifitas jangan biarkan anak anda makan makanan ringan
sambil,menonton tv,juga saat melakukan pekerjaan rumah.
 ingatkan pada anak anda untuk selalu memilih makan yang sehat,misalnya pada saat
membeli makanan diluar.contoh:lebih memilih gado-gado dari pada membeli sate
kambing.
 berikan batasan waktu anak anda untuk menonton tv dan bermain komputer.melatih anak
untuk melakukan kegiatan fisik selama 60 menit setiap hari.
 Melakukan acara olahraga keluarga seperti jalan kaki,bulu tangkis naik sepeda bisa juga
berenang.
 Mendorong anak untuk berjalan kaki atau bersepeda pada saat bersekolah ke toko.

.
BAB III

Konsep Asuhan keperawatan dengan obesitas

3.1 Pengkajian

1. Identitas Pasien

Identitas klien Nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama, suku/bangsa,
pendidikan, pekerjaan, pendapatan, alamat, dan nomor register.

2. Riwayat kesehatan

Riwayat Kesehatan sekarang : keluhan pasien saat ini

Riwayat Kesehatan masa lalu : kaji apakah ada keluarga dari pasien yang pernah menderita
obesitas

Riwayat kesehatan keluarga : kaji apakah ada ada di antara keluarga yang mengalami penyakit
serupa atau memicu

Riwayat psikososial,spiritual : kaji kemampuan interaksi sosial , ketaatan beribadah ,


kepercayaan

3. Pemerikasaan fisik :
 Sistem kardiovaskuler : Untuk mengetahui tanda-tanda vital, ada tidaknya distensi vena
jugularis, pucat, edema, dan kelainan bunyi jantung.
 Sistem respirasi : untuk mengetahui ada tidaknya gangguan kesulitan napas
 Sistem hematologi : Untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan leukosit yang
merupakan tanda adanya infeksi dan pendarahan, mimisan.
 Sistem urogenital : Ada tidaknya ketegangan kandung kemih dan keluhan sakit pinggang.
 Sistem muskuloskeletal : Untuk mengetahui ada tidaknya kesulitan dalam pergerakkan,
sakit pada tulang, sendi dan terdapat fraktur atau tidak.
 Sistem kekebalan tubuh : Untuk mengetahui ada tidaknya pembesaran kelenjar getah
bening

4. Pemeriksaan penunjang :

Pemeriksaan metabolik / endokrin dapat menyatakan tak normal, misal : hipotiroidisme,


hipopituitarisme, hipogonadisme, sindrom cushing (peningkatan kadar insulin).

5. Pola fungsi kesehatan

a) Aktivitas istirahat

Kelemahan dan cenderung mengantuk, ketidakmampuan / kurang keinginan untuk beraktifitas.

b) Sirkulasi

Pola hidup mempengaruhi pilihan makan, dengan makan akan dapat menghilangkan perasaan
tidak senang : frustasi

c) Makanan / cairan

Mencerna makanan berlebihan

d) Kenyamanan

Pasien obesitas akan merasakan ketidaknyamanan berupa nyeri dalam menopang berat badan
atau tulang belakang

e) Pernafasan

Pasien obesitas biasanya mengalami dipsnea

f) Seksualitas

Pasien dengan obesitas biasanya mengalami gangguan menstruasi dan amenouria


2 .Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul

1. Perubahan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan intake
makanan yang lebih
2. Gangguan pencitraan diri yang berhubungan dengan biofisika atau psikosial pandangan
px tehadap diri
3. Hambatan interaksi sosial yang berhubungan dengan ungkapan atau tampak tidak
nyaman dalam situasi social
4. Pola napas tak efektif yang berhubungan dengan penurunan ekspansi paru, nyeri ,
ansietas , kelemahan dan obstruksi trakeobronkial

3. Perencanaan

Setelah pengumpulan data, megelompokkan dan menentukan diagnosa keoerawatan yang


mungkin muncul, maka tahapan selanjutnya adalah menentukkan prioritas, tujuan dan rencana
tindakkan keperawatan.

Diagnosa 1

1. Perubahan nutrisi: lebih dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan intake makanan
yang lebih

Tujuan :

Kebutuhan nutrisi kembali normal

Kriteria hasil :

Perubahan pola makan dan keterlibatan individu dalam program latihan

Menunjukan penurunan berat badan

 Intervensi :
1. Kaji penyebab kegemukan dan buat rencana makan dengan pasien

2. Timbang berat badan secara periodik

3. Tentukan tingkat aktivitas dan rencana program latihan diet

4. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentujan keb kalori dan nutrisi untuk penurunan berat
badan

5. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat penekan nafsu makan (ex.dietilpropinion)

 Rasional :

1. Mengidentifikasi / mempengaruhi penentuan intervensi

2. Memberikan informasi tentang keefektifan program

3. Mendorong px untuk menyusun tujuan lebih nyata dan sesuai dg rencana

4. Kalori dan nurtisi terpenuhi secara normal

5. Penurunan berat badan

Diagnosa 2

2. Gangguan pencitraan diri b.d biofisika atau psikosial pandangan px tehadap diri

Tujuan :

Menyatakan gambaran diri lebih nyata

Kriterian hasil :

Menunjukkan beberapa penerimaan diri dari pandangan idealisme

Mengakui indiviu yang mempunyai tanggung jawab sendiri


 Intervensi :

Beri privasi kepada px selama perawatan

Diskusikan dengan px tentang pandangan menjadi gemuk dan apa artinya bagi px trsebut

Waspadai mitos px / orang terdekat

Tingkatkan komunikasi terbuka dengan px untuk menghondari kritik

Waspadai makan berlebih

Kolaborasi dengan kelompok terapi

 Rasional :

Individu biasanya sensitif terhadap tubuhnya sendiri

Pasien mengungkapkan beban psikologisnya

Keyakinan tentang seperti apa tubuh yang ideal atau motifasi dapat menjadi upaya penurunan
berat badan

Meningkatkan rasa kontrol dan meningkatkan rasa ingin menyelesaikan masalahnya

Pola makan terjaga

Kelompok terapi dapat memberikan teman dan motifasi


Diagnosa 3

1. Hambatan interaksi sosial b.d ungkapan atau tampak tidak nyaman dalam situasi sosial

Tujuan :

Mengungkapkan kesadaran adanya perasaan yang menyebabkan interaksi sosial yang buruk

Kriteria hasil :

Menunjikan peningkatan perubahan positif dalam perilaku sosial dan interpersonal

 Intervensi :

Kaji perilaku hubungan keluarga dan perilaku sosial

Kaji penggunaan ketrampilan koping pasien

Rujuk untuk terapi keluarga atau individu sesuai dengan indikas.

 Rasional :

Keluarga dapat membantu merubah perilaku sosial pasien

Mekanisme koping yang baik dapat melindungi pasien dari perasaan kesepian isolasi

Pasien mendapat keuntungan dari keterlibatan orang terdekat untuk memberi dukungan

Diagnosa 4

4. Pola napas tak efektif yang berhubungan dengan penurunan ekspansi paru, nyeri , ansietas ,
kelemahan dan obstruksi trakeobronkial

 Tujuan :

Mengembalikan pola napas normal


Kriteria hasil :

Mempertahankan ventilasi yang adekuat

Tidak mengalami sianosis atau tanda hipoksia lain

 Intervensi :

Awasi , auskultasi bunyi napas

Tinggikan kepala tempat tidur 30 derajat

Bantu lakukan napas dalam, batuk menekan insisi

Ubah posisi secara periodik

Berikan O2 tambahan / alat pernapasan lain

 Rasional :

Peranapasan mengorok/ pengaruh anastesi menurunkan ventilasi, potensial atelektasis, hipoksia

Mendorong pengembangan diafragma sehingga ekspansi paru optimal, pasien lebih nyaman

Ekspansi paru maksimal, pembersihan jalan napas, resiko atelektasis minimal

Memaksimalkan sediaan O2 untuk pertukaran dan penurunan kerja napas.


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pertumbuhan adalah setiap perubahan dari tubuh yang berhubungan dengan
bertambahnya ukuran tubuh baik fisik (anatomis) maupun struktural dalam arti sebagian atau
menyeluruh. Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan (skill), struktur, dan fungsi tubuh
yang lebih kompleks.
Pertumbuhan mempunyai dampak terhadap aspek fisik, sedangkan perkembangan
berkaitan dengan pematangan fungsi organ/individu. Walaupun demikian, kedua peristiwa itu
terjadi secara sinkron pada setiap individu.
Tumbuh kembang anak dipengaruhi oleh banyak faktor dimulai dari faktor internal (genetik),
prenatal, sampai postnatal. Untuk mendapatkan tumbuh kembang anak yang optimal maka
petugas kesehatan maupun orangtua anak diharapkan mengetahui faktor-faktor tersebut.
Penanggulangan obesitas pada anak lebih sulit dibandingkan obesitas dewasa, karena
penyebab obesitas yang multifaktorial dan anak yang masih dalam taraf tumbuh kembang.
Penurunan berat badan bukanlah tujuan yang utama dalam penanganan obesitas anak. Perubahan
pola makan dan peri laku hidup sehat lebih diutamakan untuk mendapatkan hasil yang menetap.
Penanggulangan obesitas anak sebaiknya dilakukan secara terapadu antara dokter anak, dietisien,
psikolog dan petugas kesehatan lain. Peran serta orang tua memegang peranan penting dalam
penangan anak obesitas.Pencegahan sebaiknya dilakukan sebelum anak menjadi obesitas karena
pencegahan lebih mudah daripada pengobatan.Pencegahan harus dimulai sejak dini dengan
menerapkan pola hidup sehat dalam keluarga.
Seringkali banyak orangtua menginginkan anaknya tumbuh dengan sehat, gemuk dan
terlihat lucu.Sekilas anak yang gemuk memang terlihat lucu dan menggemaskan, bahkan ada
ungkapan jikalau anak gemuk berarti sehat.Tak heran jika banyak produk kesehatan ataupun
makanan untuk anak atau balita lebih menekankan pada upaya menambah berat.
Pola pemahaman seperti itu mungkin tidak berlaku, karena anak gemuk mempunyai faktor risiko
bagi kesehatan.Indikator kesehatan bagi anak atau balita juga tidak hanya ditentukan melalui
berat badan.Berat badan yang berlebih biasa disebut dengan obesitas, obesitas dikhawatirkan
memberikan dampak yang kurang baik bagi kesehatan anak.
B. Saran

Jadikan kebiasaan yang sehat sebagai hal wajib bagi keluarga. Jika Anda melakukannya,
kebiasaan itu akan menjadi pola hidup bagi anak-anak Anda, yang akan terbawa hingga dewasa.
Apa yang dapat dilakukan Orang Tua ?
Beli dan sajikan lebih banyak buah dan sayuran daripada makanan yang siap olah.
Batasi minuman ringan, minuman yang manis-manis, dan camilan manis yang kaya lemak.
Sebaliknya, berikan air atau susu rendah lemak dan camilan yang sehat.
Memasaklah dengan metode rendah lemak, seperti memanggang dan mengukus, ketimbang
menggoreng.
Sajikan makanan dalam porsi yang lebih kecil. Jangan gunakan makanan sebagai upah
atau suap. Jangan sampai anak tidak sarapan, karena dapat membuat mereka makan berlebihan
setelah itu. Makanlah di meja makan. Makan di depan TV atau layar komputer membuat orang
tidak menyadari seberapa banyak yang dikonsumsi dan apakah ia sudah kenyang.
Anjurkan gerak badan, seperti bersepeda, main bola, dan lompat tali.
Batasi waktu untuk menonton televisi, menggunakan komputer, dan bermain video game.
Rencanakan kegiatan keluarga yang aktif di luar rumah, seperti pergi ke kebun binatang,
berenang, atau bermain di taman. Suruhlah anak-anak melakukan pekerjaan fisik.
Berilah contoh dalam pola makan yang sehat dan olahraga.
DAFTAR PUSTAKA

Dr.Soetjiningsih,SpAk.1995. Tumbuh Kembang Anak.Jakarta.EGC


http://dieyachsyam.blogspot.com/2013/09/obesitas-pada-anak.html
(diakses pada Tanggal 6 Desember 2014)
https://echyners.wordpress.com/2013/06/22/makalah-obesitas/
(diakses pada Tanggal 6 Desember 2014)
NANDA, Diagnosa Keperawatan : Definisi dan Klasifikasi 2005-2006