Anda di halaman 1dari 5

BAB III

STUDI KASUS

Kegiatan industri pertambangan minyak bumi di Indonesia telah


menimbulkan banyak kasus pencemaran limbah berbahaya dan beracun (B3).
Selama kegiatan industri perminyakan umumnya terjadi tumpahan maupun
ceceran minyak bumi dan produk-produknya yang menyebabkan terjadinya
pencemaran. Meningkatnya frekuensi pencemaran lingkungan baik di daratan
maupun di perairan dapat menimbulkan dampak buruk bagi kualitas lingkungan
dan menurunkan daya dukung lingkungan.

Penanganan kondisi lingkungan yang tercemar dapat dilakukan dengan


metode fisika, kimia, dan biologi. Penanganan secara kimia dan fisika merupakan
cara penanganan pencemaran minyak bumi yang membutuhkan waktu relatif
singkat, tetapi metode ini relatif tidak ramah lingkungan. Penanganan metode
biologi relatif tidak merusak lingkungan dibandingkan dengan metode kimia dan
fisika. Salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk menanggulangi tanah
yang terkontaminasi oleh minyak bumi adalah teknik bioremediasi. Teknik
bioremediasi yang digunakan dalam pemulihan tersebut salah satunya adalah
teknik Bioventing.

Studi kasus yang akan dibahas pada bab ini berasal dari jurnal

Bioremediasi   Tanah   Yang   Terkontaminasi   Minyak   Bumi   Dengan   Metode

Bioventing Terhadap Penurunan Kadar Total Petroleum Hydrocarbon Dan BTEX

oleh Marsya Dyasthi Puri, Firdaus Ali, dan Zulkifliani dari Fakultas Teknik
Universitas Indonesia. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efisiensi kinerja
dari bakteri sebagai biodegradator dan juga asupan oksigen dari sumur injeksi
tersebut terhadap penurunan kadar TPH dan BTEX pada tanah yang
terkontaminasi minyak bumi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
pengaruh injeksi udara dan mikroorganisme yang berperan dalam proses
remediasi dan faktor- faktor yang mempengaruhi kinerja bioventing.

Tanah yang digunakan pada penelitian ini berasal dari PPPTMGB Lemigas
Jakarta yang kemudian ditambahkan dengan crude oil sebanyak 5% b/b. Agar
proses bioremediasi dapat berlangsung secara efektif, kondisi lingkungan harus
dimanipulasi agar dapat mendorong pertumbuhan dan aktivitas mikroba dalam
melakukan proses biodegradasi. Berikut ini adalah parameter-parameter
lingkungan yang diukur sebelum proses penelitian berlangsung beserta parameter
acuan untuk mendapatkan proses bioremediasi yang efektif.

Kondisi yang Dibutuhkan


Parameter Kondisi Penelitian
Untuk Aktivitas Mikroba

≤ 15% (KepMenLH No. 128


Konsentrasi TPH 4,61%
Tahun 2003)

10oC ≤ suhu tanah ≥ 45oC


Suhu 29oC
(EPA-Bioventing, 1994)

6-9 (KepMenLH No. 128


pH tanah 6,3
Tahun 2003)

Mikroorganisme yang digunakan dalam penelitian bioremediasi sebagai


pendegradasi hidrokarbon di tanah yang terkontaminasi crude oil berasal dari
Laboratorium Bioproses Badan Pusat Pengembangan dan Penelitian Teknologi
Minyak dan Gas Bumi (Lemigas) dan ditambah dengan kultur mikroorganisme
yang berasal dari luar (eksogenous) yaitu Bakteri Bacillus Subtilis yang berasal
dari kultur mikroba Institut Teknologi Bandung. Isolat bakteri Bacillus subtilis
diremajakan pada media cair Nutrient Broth (NB) sebanyak 5 liter dengan
persentase 10% v/v dan 15% v/v untuk dicampurkan ke tanah sebagai perlakuan.
Untuk meningkatkan pertumbuhan isolat bakteri pemecah minyak, maka sampel
ditambahkan urea dan NPK sebagai asupan nutrisi mikroorganisme. Urea dan
NPK merupakan jenis nutrisi yang dapat digunakan untuk meningkatkan aktivitas
mikroba dan bersifat biodegradable.

Sebelum proses bioremediasi berjalan, dilakukan pengukuran pH,


temperatur, kandungan TPH, dan kandungan BTEX tersebut untuk mengetahui
data awal. Dari data awal tersebut, dapat diketahui parameter-parameter yang
dapat disesuaikan dengan parameter- parameter acuan untuk mendapatkan kondisi
lingkungan yang optimum untuk proses bioremediasi.
Parameter Nilai Satuan
o
Temperatur 29 C

pH 6,3 -

TPH 4,61 %

C:N:P 100:10:1 -

Pengamatan TPC (Total Plate Count) dilakukan dua kali yaitu pada awal
dan akhir penelitian. Hal ini dimaksudkan agar dapat dilihat jumlah
mikroorganisme pada sampel tanah sebelum dilakukan perlakuan dan setelah
dilakukan perlakuan. Hasil pengamatan jumlah koloni pada setiap cawan untuk
sampel awal, yaitu berupa tanah yang terkontaminasi minyak bumi ditambahkan
kultur bakteri Bacillus subtilis adalah sebagai berikut:

Awal 6
(0,7 – 57) x 10 CFU/ml.

Control 1 6
0,05 x 10 CFU/ml

Konsentrasi bakteri 10% v/v 6


75,03 x 10 CFU/ml.

Control 2 6
18,5 x 10 CFU/ml

Konsentrasi bakteri 15% v/v 6


16 x 10 CFU/ml

Hasil akhir penelitian bioremediasi dengan metode bioventing skala


laboratorium ini ditunjukkan dalam bentuk data persen kandungan Total
Petroleum Hydrocarbon (TPH) dalam setiap perlakuan dengan konsentrasi awal
sebesar 4,61%. Berikut adalah tabel data % Total Petroleum Hydrocarbon (TPH)
sebagai hasil proses bioremediasi selama 5 minggu dengan 4 perlakuan yang
berbeda yaitu, kontrol 1 dan 2 tanpa penambahan bakteri atau pemanfaatan bakteri
indigenous, penambahan konsentrasi bakteri Bacillus subtilus 10% v/v, dan
penambahan konsentrasi bakteri Bacillus subtilus 15% v/v.

Perlakuan
Minggu Ke-
Control 1 Bakteri 10% Control 2 Bakteri 15%
0 4,61

1 2,36 1,14 3,05 1,68

2 1,90 1,11 2,29 1,36

3 1,75 0,97 2,09 1,25

4 1,41 0,85 2,05 1,23

5 1,26 0,51 1,90 1,21

%
67,15 82,21 54,25 68,12
penurunan

Selama 5 minggu penelitian, didapatkan penyisihan konsentrasi TPH


terbesar yaitu sebesar 82,21% yang terdapat pada sampel dengan konsentrasi
bakteri Bacillus Subtilis 10% v/v. Sedangkan pada sampel dengan konsentrasi
bakteri Bacillus Subtilis 15% v/v, dan tanpa penambahan bakteri (bakteri
indigenous) 1 dan 2 secara berurut adalah 67,15%, 54,25%, dan 68,12%.

Hasil akhir penelitian bioremediasi dengan metode bioventing skala

laboratorium ini ditunjukkan dalam bentuk data persen kandungan BTEX

(Benzene, Toluene, Ethylene, Xilene) setiap perlakuan. Berikut adalah tabel data

% BTEX  sebagai hasil proses bioremediasi pada awal penelitian dan akhir
penelitian. Penyisihan konsentrasi BTEX terbesar, yaitu sebesar 66,65% pada
kontrol 2. Sedangkan sampel dengan kontrol 1, konsentrasi bakteri Bacillus
Subtilis 10% v/v, dan bakteri Bacillus Subtilis 15% v/v secara berurut adalah
23,39%, 34,41%, dan 37,69%.
Berdasarkan pengolahan data dan analisis yang telah dilakukan maka
dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

 Metode bioventing dapat mempercepat proses degradasi hidrokarbon oleh


mikroba, injeksi udara terbukti dapat menstimulasikan kinerja
mikroorganisme di tanah baik indigenous maupun eksogenous. Dengan
adanya penambahan mikroba (eksogenous) maka jumlah dan biodiversitas
mikroba di lingkungan tersebut menjadi semakin besar. Hal ini semakin
dapat meningkatkan laju degradasi hidrokarbon.

 Penambahan bakteri Bacillus subtilis pada proses bioremediasi dapat


meningkatkan proses degradasi hidrokarbon pada tanah yang
terkontaminasi minyak bumi. Proses bioremediasi dengan metode
bioventing dapat menurunkan TPH dari 5% sampai 0,5% selama 5 minggu
untuk konsentrasi 10% v/v dan dari 5% sampai 1,21% selama 5 minggu
untuk konsentrasi 15% v/v. Hal tersebut sudah memenuhi baku mutu
berdasarkan Kepmen LH No. 128 Tahun 2003 yaitu kandungan TPH
sebesar 1%. Injeksi udara dan penambahan bakteri pada proses
bioremediasi dapat menurunkan kadar kontaminan hidrokarbon aromatik
berupa BTEX dengan kadar penurunan (% Biodegradasi) paling besar dari
perlakuan Control 2 sebesar 66,65%, Konsentrasi Bakteri 15% v/v sebesar
37,69%, Konsentrasi Bakteri 10% v/v sebesar 34,41%, dan Control 1
sebesar 23,40%.