Anda di halaman 1dari 9

Ruang :............................... Nama Mahasiswa :...............................

Tanggal :............................... NIM/Kelompok :...............................

Inisial Pasien :...............................

Umur/No.Reg :...............................

I. Masalah Keperawatan Dasar


II. Landasan Teori

1. Definisi Eliminasi Urine


Eliminasi urine adalah proses pembuangan sisa-sisa metabolisme. Eliminasi urine
normalnya adalah pengeluaran cairan. Proses pengeluaran ini sangat bergantung pada
fungsi-fungsi organ eliminasi seperti ginjal, ureter, bladder, dan uretra. (A.Aziz, 2008 :
62)

2. Etiologi
A. Intake cairan
Jumlah type makanan merupakan factor utama yang mempengaruhi 0utput
urine atau defekasi. Seperti protein dan sodium mempengaruhi jumlah urine yang
keluar, kopi meningkatkan pembentukan urine intake cairan dari kebutuhan,
akibatnya output urine lebih banyak.
B. Aktivitas
Aktivitas sangatdibutuhkanuntuk mempertahankan tonus ototkandung kemih
yang baik untuk tonus sfingter internal dan eksternal. Hilangnya tonus otot
kandung kemih terjadi pada masyarakta yang menggunakan kateter untuk priode
yang lama. Karena urine secara terus menerus dialirkan keluar kandung kemih,.
C. Obstruksi; batu ginjal, pertumbuhan jaringan abnormal, struktur uretra.
D. Infeksi
E. Kehamilan
F. Penyakit; pembesaran kelenjar prostat
G. Trauma sumsung tulang belakang
H. Operasi pada daerah abdomen bawah, pelviks, kandung kemih, uretra
I. Umur
J. Penggunaan obat-obatan

3. Anatomi Fisiologi
A. Ginjal
Ginjal adalah sepasang organ retroperitoneal yang integral dengan
homoestasis tubuh dalam mempertahankan keseimbangan cairan, termasuk
keseimbangan fisika dan kimia. Ginjal mensekresi hormon dan enzim yang
membantu pengaturan produksi eritrosit, tekanan darah, serta metabolisme
kalsium dan fosfor. Ginjal mengatur cairan tubuh, asiditas, dan elektrolit sehingga
mempertahankan komposisi cairan yang normal. (Mary Baradero, 2008 : 1)
Bentuknya seperti biji kacang, jumlahnya ada dua di kiri dan kanan. Ginjal
terletak di kedua sisi medula spinalis, dibalik rongga peritonium. Ginjal kiri lebih
besar dari ginjal kanan, dan pada umumnya ginjal laki-laki lebih panjang dari
pada ginjal perempuan (Syaifuddin, 1994). Ginjal terdiri atas satu juta unit
fungsional nefron yang bertuugas menyaring darah dan membuang limbah
metabolik. Selain itu,

B. Ureter
Ureter adalh tabung yang bersal dari ginjal dan bermuara di kandung kemih.
Panjangnya sekitar 25 cm dandiameterntya 1,25 cm. Bagian atas ureter berdilatasi
dan melekat pada hilus ginjal, sedangkan bagian bawahnya memasuki kandung
kemih pada sudut posterior dasar kandung kemih. Urine didorong melewati ureter
dengan gelombang peristalsis yang terjadi sampai 1-4 kali per menit. Pada
pertemuan antara ureter dan kandung kemih,terdapat lipatan membran mukosa
yang bertindak sebagai katup guna mencegah refluks urine kembali ke ureter
sehingga mencegah penyebaran infeksi dari kandung kemih ke atas.

C. Kandung kemih
Kandung kemih adalah kantung muskular tempat urine bermuara dari ureter.
Ketika kosong atau setengah terisi, kandung kemih terletak di belakang simfisis
pubis. Pada pria,kandung kemih terletak di antara kelenjar prostatdan rektum;
pada wanita, kandung kemihterletak diantara uterus dan vagina. Dinding kandung
kemih sangat elastis sehingga mampu menahan regangan yang sangat besar. saat
penuh,kandung kemih bisa melebihi simfisis pubis, bahkan bisa setinggi
umblikus.
Kandung kemih merupakan sebuah kantong yang terdiri atas otot halus yang
berfungsi sebagai penampung air seni (urine). Dalam kandung kemih, terdapat
lapisan jaringan otot yang memanjang ditengah dan melingkar disebut sebagai
detrusor dan berfungsi untuk mengeluarkan urine. Pada dasar kandung kemih,
terdapat lapisan tengah jaringan otot yang berbentuk lingkaran bagian dalam atau
disebut sebagai otot lingkar yang berfungsi menjaga saluran antara kandung
kemih dan uretra sehingga uretra dapat menyalurkan urine dari kandung kemih
keluar tubuh. (A.Aziz, 2008 : 62)
D. Uretra
Uretar membentang dari kandung kemih sampai meatus uretra.panjang uretra
pada pria sekitar 20 cm dan membentang dari kandung kemih sampai ujung penis.
Uretra pria terdiri atas tiga bagian, yaitu yaitu uretra pars prostatika, uretra
membranosa dan uretara spongiosa. Pada wanita, panjang uretra sekitar 3 cm dan
membentang dari kandung kemih sampai lubang diantara labia minora, 2,5 cm di
belakang klitoris. Karena uretranya yang pendek wanita lebih rentan mengalami
infeksi saluran kemih.

4. Faktor-faktor yang mempengaruhi eliminasi urine


A. Pertumbuhan dan perkembangan
Usia dan berat badan dapat mempengaruhi jumlah pengeluaran urine. Pada usia
lanjut, volum bladder berkurang, demikian juga wanita hamil sehingga frekuensi
berkemih juga akan lebih sering.
B. Sosiokultural
Budaya masyarakat dimana sebagian masyarakat hanya dapat miksi pada tempat
tertutup dan sebaliknya pada masyarakat yang dapat miksi pada lokasi terbuka.
C. Psikologis
Pada keadaan cemas dan stress akan meningkatkan stimulasi berkemih.
Kebiasaan Seseorang
Misalnya seseorang hanya bisa berkemih di toilet sehingga ia tidak dapat
berkemih menggunakan pot urin.
D. Tonus otot
Eliminasi urine membutuhkan tonus otot bladder, otot abdomen, dan pelvis
untuk berkontraksi. Jika ada gangguan tonus otot, dorongan untuk berkemih juga
akan kurang.
E. Intake cairan dan makanan
Alcohol menghambat antideuretik hormon (ADH) untuk meningkatkan
pembuangan urin. Kopi, teh, coklat, cola (mengandung Cafeine) dapat
meningkatkan pembuangan dan ekskresi urin.
F. Kondisi penyakit
Pada pasien yang demam terjadi penurunan produksi urin karena banyak cairan
yang dikeluarkan melalui kulit. Radangan dan iritasi organ kemih menimbulkan
retensi urin.
G. Pembedahan
Penggunaan anastesi menurunkan filtrasi glomerulus sehingga produksi urin
akan menurun.
H. Pengobatan
Penggunaan duritik meningkatkan output urin, anti kolinergik, dan anti
hipertensi menimbulkan retensi urin.
I. Pemriksaan diagnostik
Intravenus pyelogram dimana pasien dibatasi intak sebelum prosedur untuk
mengurangi output urine. Cystocospy dapat mnimbulkan edema lokal pada
uretra, spasme, dan spinter bladder sehingga dapat menimbulkan urine.
5. Konsep Gangguan Pemenuhan Kebutuahan
A. Inkontinensia urine stress
Adalah kondisi ketika dorongan berkemih tidak mampu dikontrol oleh sfingter
eksternal. Sifatnya bisa menyeluruh (inkontinensia komplet) atau sebagaian
(inkontinensia persial). Ada dua jenis inkontinensia, yakni inkontinensia stress dan
inkontinensia urgensi

B. Retensi urine
Retensi urine merupakan penumpukan urine dalam kandung kemih akibat
ketidakmampuan kandung kemih untuk mengosongkan kandung kemih. Hal ini
menyebabkan distensia vesika urinaria atau merupakan keadaan ketika seseorang
mengalami pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap. Dalam keadaan
distensi vesika urinaria dapat menampung urine sebanyak 3.000 – 4.000 ml urine.
(A.Aziz, 2008 : 66)
Retensi urine adalh kondisi tertahannya urine dikandung kemih akibat
terganggunya proses pengosongan kandung kemih sehingga kandung kemih
menjadi renggan. Kondisi ini diantara lain disebabkan obstruksi (mis, hipertrofi,
prostat) pembedahan, otot yang kuat, peningkatan tekanan uretra akibat
ototdetrusor yang lemah.

C. Enuresis.
Enuresis merupakan menahan kemih (mengompol) yang diakibatkan tidak
mampu mengontrol sphincter eksterna. Biasanya enurisis terjadi pada anak atau
orang jompo. Umumnya enurisis terjadi pada malam hari. (A.Aziz, 2008 : 67)
Enuresis adalah peristiwa berkemih yang tidak disadari pada anak yang usianya
melampaui batas usia normal kontrolkandung kemihseharusnya tercapai. Enuresis
lebih banyak terjadi pada anak-anak di malam hari (enuresis nocturnal). Factor
penyebabnya antara lain kapasitas kandung kemih yang kurang normal, infeksi
saluran kemih, konsumsi makanan yang banyak mengandung garam dan mineral,
takut keluar malam,dan gangguan pola miksi.

D. Sering berkemih
Adalah meningkatnya frekuensi berkemih tanpa disertai peningkatan asupan
cairan. Kondisi ini biasanya terjadi pada wanita hamil (tekanan rahim pada
kandung kemih), kondisistres, dan infeksi saluran kemih.

E. Urgensi.
J. Urgensi adalah perasaan seseorang yang takut mengalami inkontinensia
jika tidak berkemih. Pada umumnya anak kecil memiliki kemampuan
yang buruk dalm mengontrol sphincter eksternal. Biasanya perasaan
ingin segera berkemih terjadi pada anak karena kurangnya kemampuan
pengontrolan pada sphincter. (A.Aziz, 2008 : 67)
Urgensi adalah perasaan yang sangat kuat untuk berkemih. Ini biasa terjadi
pada anak-anak karena kemampuan control sfingter mereka yang lemah.
Gangguan ini biasanya muncul pada kondisi stress psikologis dari iritasi uretra

F. Disuria.
Disuria adalah rasa sakit dan kesulitan dalam berkemih. Hal ini sering
ditemukan pada penyakit infeksi saluran kemih, trauma, dan striktur uretra.
(A.Aziz, 2008:67).
Disuria adalah rasa nyeri dan kesulitan berkemih. Ini biasanya terjadi pada
kasus infeksi uretra, infeksi saluran kemih, trauma kandung kemih.

6. Tanda dan gejala klinis


A. Urine mangalir lambat.
B. Terjadi poliuria yang makin lamamakin parah karena pengosongan kandung
kemih tidak efisien.
C. Terjadi distensi abdomen akibat dilatasi kandung kemih
D. Terasa ada tekanan, kadang terasa nyeri dan merasa ingin BAK
E. Pada ritensi beratbisa mencapai 2000 cc-3000 cc.

7. Penatalaksanaan
0bat
1. Kotorolac
2. Batugin
3. Natrium bikarbonat
4. Tramsulosin
5. aspirin

III. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


1. Pengkajian
A. Riwayat keperawatan
1) Pola berkemih
2) Frekuensi berkemih
a. 5 kali /hari, tergantung kebiasaan seseorang.
b. 70% miksi pada siang hari sedangkan sisanya dilakukan pada malam hari,
menjelang dansesudah tidur.
c. Berkemih dilakukan saat bangun tidur dan sebelum tidur.
3) Volume berkemih
Kaji perubahan volume berkemih untuk mengetahui adanya ketidak
seimbangan cairan dengan membandingkannya dengan volume berkemih
normal.
4) Asupan dan haluaran cairan
a. Catat haluaran urine selama 24 jam
b. Kaji kebiasaan minum klien dsetiap hari (jenis dan jumlah cairan yang
diminum)
c. Catat asupan cairan per oral, lewat makanan, lewat cairan infus, atau NGT
(jika ada)

B. Pemeriksaan fisik
1). Abdomen
Kaji dengan cermat adanya pembesaran, distensi bladder, pembesaran ginjal,
nyeri tekan pada kandung kemih.
2). Genetalia
Kaji kebersihan genetalia. Amati adanya bengkak, rabas, atau radang pada
meatus uretara. Pada laki-laki, kaji adanya lesi, pembesaran skrotum, atau
nyeri tekan. Sedangkan pada wanita, kaji adanya lesi, nodul, dan adanya
radang pada labia minora maupun mayora.
3). Urine
Kaji karakteristik urine klien, bandingkan dengan karakteritik urine normal.

C. Pemeriksaan diagnostic
1) Pemeriksaan urine (urinalisis):
a. Warna (N : jernih kekuningan)
b. Penampilan (N: jernih)
c. Bau (N: beraroma)
d. pH (N:4,5-8,0)
e. Berat jenis (N: 1,005-1,030)
f. Glukosa (N: negatif)
g. Keton (N:negative
h. Kultur urine (N: kuman patogen negatif).
2. Diagnosa keperawatan
A. Gangguan pola eliminasi urine: inkontinensia
Definisi : kondisi dimana seseorang tidak mampu mengendalikan pengeluaran
urine.
1) Kemungkinan berhubungan dengan :
a. Gangguan neuromuskuler
b. Spasme bladder
c. Trauma pelvic
d. Infeksi saluran kemih
e. Trauma medulla spinalis
2) Kemungkinan data yang ditemukan :
a. Inkontinentia
b. Keinginan berkemih yang segera
c. Sering ke toilet
d. Menghidari minum
e. Spasme bladder
f. Setiap berkemih kuramg dari 100 ml atau lebih dari 550 ml.

3) Tujuan yang diharapkan :


a. Klien dapat mengontrol pengeluaran urine setiap 4 jam.
b. Tidak ada tanda-tanda retensi dan inkontinensia urine.
c. Klien berkemih dalam keadaan rileks.

Intervensi keperawatan

Intervensi Rasional
1. Monitor keadaan bladder 1. Membantu mencegah
setiap 2 jam distensi atau komplikasi
2. Tingkatkan aktivitas dengan 2. Meningkatkan kekuatan otot
kolaborasi dokter/fisioterapi ginjal dan fungsi bladder
3. Kolaborasi dalam bladder 3. Menguatkan otot dasar
training pelvis
4. Hindari faktor pencetus
4. Mengurangi/menghidari
inkontinensia urine seperti inkontinensia
cemas 5. Mengatasi faktor penyebab
5. Kolaborasi dengan dokter 6. Meningkatkan pengetahuan
dalam pengobatan dan dan diharapkan pasien lebih
keteterisasi kooperatif.
6. Jelaskan tentang:
Pengobatan
Kateter
Penyebab
Tindakan lainnya.

B. Retensi urine
Definisi : kondisi dimana seseorang tidak mampu mengosongkan bladder secara
tuntas.
1) Kemungkinan berhubungan dengan :
a. Obstruksi mekanis.
b. Pembesaran prostat.
c. Trauma.
d. Pembedahan.
e. Kehamilan.
2) Kemungkinan data yang ditemukan :
a. Tidak tuntasnya pengeluaran urine
b. Distensi bladder.
c. Hipertropi prostat.
d. Kanker.
e. Infeksi saluran kemih.
f. Pembedahan besar abdomen.

Intervensi keperawatan
Intervensi Rasional
1. Monitor keadaan bladder setiap1. Menentukan masalah
2 jam 2. Memonitor keseimbangan cairan
2. Ukur intake dan output cairan 3. Menjaga defisit cairan
setiap 4 jam 4. Mencegah nokturia
3. Berikan cairan 2000 ml/hari 5. Membantu memonitor
dengan kolaborasi keseimbangan cairan
4. Kurangi minum setelah jam 6. 6 Meningkatkan fungsi ginjal dan
malam bladder
5. Kaji dan monitor analisis urine
7. Relaksasi pikiran dapat
elektrolit dan berat badan meningkatkan kemampuaan
6. Lakukan latihan pergerakan berkemih
7. Lakukan relaksasi ketika duduk8. Menguatkan otot pelvis
berkemih 9. Mengeluarkan urine
8. Ajarkan tehniklatihan dengan
kolaborasi dokter/fisioterapi
9. Kolaborasi dalam pemasangan
kateter

Tujuan yang diharapkan :


a. Pasien dapat mengontrol pengeluaran bladder setiap 4 jam.
b. Tanda dan gejala retensi urine tidak ada.

Evaluasi
DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, A.Aziz, dkk. 2008. Keterampilan Dasar Praktek Klinik Untuk Kebidanan Edisi 2.
Jakarta: Salemba Medika
Wahit Iqbal Mubarak, Nurul Chayanti ; Eka Anisa Mardella. 2007. Kebutuhan Dasar
Manusia- Jakarta: EGC,