Anda di halaman 1dari 3

NUTRISI PADA PENDERITA KANKER

Penulis: Dr. Ririn Hariani MS.


Kanker terjadi akibat perubahan sel yang melepaskan diri mekanisme
Pengaturan normal. Kanker sendiri merupakan istilah yang menggambarkan
keadaaan Penyakit yang ditandai dengan pertumbuhan sel yang tidak
terkendali secara normal Yaitu multiplikasi dan menyebar. Multiplikasi
sel merupakan keadaan normal pada Masa pertumbuhan atau proses
regenerasi. Akan tetapi bila factor yang mengontrol Pembelahan sel
tidak lagi berfungsi dengan normal maka keadaan ini yang disebut
Penyakit kanker.
Pada penderita kanker sering disertai adanya kaheksia yaitu suatu
sindroma yang Ditandai dengan gejala klinik berupa anoreksia, perubahan
ambang rasa kecap, penurunan berat badan, anemia, gangguan metabolisme
karbohitdrat, protein dan lemak. Keadaan ini merupakan akibat dari
kanker baik local maupun sistemik dan juga merupakan komplikasi dari
penggunaan obat anti kanker. Anoreksia adalah hilangnya atau kurangnya
napsu makan yang merupakan factor utama dalm terjadinya anoreksia,
cepat kenyang dan meyebabkan peruabahan rasa kecap, stress psikologis
yang terjadi pada kanker juga menunjang peranan dalam terjadi nya
anoreksia.
Penurunan napsu makan oleh berbagai penyebab tampaknya merupakan factor
utama dalam terjadinya penurunan berat badan. Namun tidak jarang pada
penderita yang mendapatkan asupan makanan yang adekuat juga mengalami
penurunan berat badan. Penyebab lain selain beberapa hal tersebut
diatas yang menurunkan berat badan adalah terjadinya hipermetabolisme
pada penderita kanker. Pengobatan anti kanker seperti kemoterapi,
radiasi serta pembedahan dapat mempengaruhi status nutrisi penderita.
Status gizi yang baik dapat menurunkan komplikasi dari terapi anti
kanker dan membuat penderita merasa lebih baik. Dukungan nutrisi
merupakan bagian yang penting dalam menunjang terapi penderita kanker.
Beberapa pengaruh pengobatan anti kanker pada status nutrisi :
Kemoterapi.
Kemoterapi mempunyai kontribusi pada terjadinya malnutrisi dengan
berbagai sebab antara lain mual, muntah, stomatitis atau sariyawan,
gangguan saluran pencernaan dan penurunan napsu makan. Hal tersebut di
atas selain mempengaruhi status nutrisi juga dapat mempengaruhi hasil
dari pengobatan kemoterapi. Efek samping yang terjadi berhubungan
dengan dosis, lama terapi, jenis obat dan respon individual.
Radioterapi.
Radioterapi juga berkontribusi pada terjadinya malnutrisi pada
penderita kanker. Berat malnutrisi yang terjadi ditentukan oleh tempat
di lakukan radiasi, dosis dan lama radiasi.
Beberapa penyebab perubahan status nutrisi akibat radiasi :
- Radiasi di kepala : menyebabkan mual, muntah.
- Radiasi pada kepala / leher : menyebabkan mucositis,sulit menelan,
susah membuka mulut
- Radiasi thorax : susah menelan, oesofagitis.
- Radiasi abdomen / pelvis : menyebabkan diare, gastritis, mual,
muntah.
Pembedahan.
Tergantung dari operasi yang dilakukan. Pembedahan merupakan terapi
primer untuk penderita dengan kanker pada traktus gastro intestinal
atau saluran pencernaan yang mungkin dikombinasi dengan kemoterapi atau
radiasi.
Tumor yang berada di saluran pencernaan biasanya akan berpengaruh pada
masalah nutrisi. Beberapa contoh akibat pembedahan pada saluran cerna ;

- Operasi gaster : penurunan absorbsi vitamin B12


- Operasi pancreas : gangguan metabolisme glukosa.
- Operasi kolon : kehilangan air dan elektrolit.
Tujuan terapi nutrisi pada penderita kanker antara lain :
1. Mempertahankan status nutrisi.
2. mengurangi gejala sindroma kaheksia.
3. Mencegah komplikasi.
4. Memenuhi kecukupan mikronutrien Terapi nutrisi
Kebutuhan nutrisi penderita kanker sangat individual dan berubah-uabah
dari waktu ke waktu selama perjalanan penyakit serta tergantung dari
terapi yang di perjalankan. Kebutuhan energi dan protein penderita
kanker belum ada kesepakatan. Secara umum dianjurkan kebutuhan kalori
dianjurkan 25 - 35 kal / kg BB / hari, protein 1 - 1,5 gr / kg BB.
Suplementasi vitamin sesuai kebutuhan terutama bagi yang tidak dapat
mengkonsumsi dengan gizi seimbang.
Cara pemberian.
a. melalui mulut / peroral
Pemberian melalui mulut merupakan cara yang paling disukai. Namun pada
penderita kanker yang mengalami anoreksia dan perubahan rasa kecap maka
pemberian makanan peroral menjadi masalah dan perlu mendapatkan
perhatian khusus. Cara mengatasi beberapa masalah makan secara peroral
:
- Penyajian makanan harus dapat membangkitkan napsu makan. Pada
umumnya napsu makan lebih baik pagi hari.
- Makanan diberikan sedikit-sedikit tetapi sering. Cara ini terbukti
membawa hasil pada sebagian besar pasien karena jumlah dapat dipenuhi
dengan cara yang tidak memberatkan.
- Dengan sebaik nya tinggi kalori dan protein. - Pada penderita
gangguan rasa kecap : Pengolahan makanan sebaiknya di beri bumbu lebih
baik banyak, dan disajikan dengan bentuk dan aroma yang baik.
- Penderita dengan gangguan menelan : makanan diberikan dalam bentuk
yang mudah ditelan misalnya ditambah kuah, diberikan dengan lunak,
makanan dicincang / digiling / disaring. Rasa jenis makanan dan
penyajian harus sesuai dengan selera pasien.
- Penderita dengan sariawan : konsistensi makanan harus lembut agar
mudah ditelan, hindari makanan terlalu panas, berbumbu tajam, terlalu
asam.
b. Nutrisi enternal / melalui pipa
Bila pemberian makanan melalui mulut tidak dapat di terima / belum
adekuat maka dipertimbangkan pemberian makanan dengan cara lain.
- Pada penderita kanker dengan fungsi saluran cerna masih baik maka
makanan di Berikan melalui pipa. Pipa melalui hidung paling sering
digunakan karena lebih mudah.
- Selain itu pipa dapat juga bermuara di lambung maupun usus halus
tergantung Lokasi tumor.
- Pemilihan formula sama dengan penderita bukan kanker.
c. Nutrisi parenteral.
Pemberian nutrisi parenteral mempunya resiko tetapi pda keadaan
tertentu cara ini perlu dipertimbangkan. Misalnya pada penderita kanker
dengan gangguan fungsi saluran cerna, operasi pemotongan usus yang luas
atau obstruksi. Pada Penderita dengan nturisi parenteral ini perlu
dipantau dengan ketat karena selain mahal juga efek samping nutrisi ini
cukup besar. Pemantauan Evaluasi harus dilakukan secara rutin dan
teratur melalui perubahan status medis, status nutrisi dan pemeriksaan
laboratorium. Biala terjadi perubahan pada slah satu hasil tersebut
maka perencanaan nutrisi haru disesuaikan, penyesuaian dapat berupa
perubahan pilihan makanan, waktu pemberian makanan, komposisi nutrient
dan cara pemberian makan.