Anda di halaman 1dari 12

Definisi Perangkat Pembelajaran

Perangkat adalah sejumlah bahan, alat, media, petunjuk dan pedoman


yang akan digunakan dalam proses pencapaian kegiatan yang diinginkan. Dan
pembelajaran adalah proses kerjasama antara Guru dan Siswa dalam
memanfaatkan segala potensi dan sumber yang ada baik potensi yang
bersumber dari dalam diri sisiwa itu sendiri seperti minat, bakat dan
kemampuan dasar yang dimiliki termasuk gaya belajar maupun potensi yang
ada di luar diri siswa seperti lingkungan, sarana dan sumber belajar sebagai
upaya untuk mencapai tujuan belajar tententu.[1]
Jadi perangkat pembelajaran adalah serangkaian media atau sarana
yang digunakan dan dipersiapkan oleh guru dan siswa dalam proses
pembelajaran di kelas. Sedangkan Pengembangan perangkat pembelajaran
adalah serangkaian proses atau kegiatan yang dilakukan untuk menghasilkan
suatu perangkat pembelajaran berdasarkan teori pengembangan yang telah
ada.

B. Jenis-Jenis Perangkat Pembelajaran dan Cara Mengembangkannya


Diantara jenis-jenis perangkat pembelajaran yang harus diperhatikan
dalam pembelajaran adalah :
1. Silabus
Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan atau kelompok
mata pelajaran atau tema tertentu yang mencakup standar kompetensi,
kompetensi dasar, materi pokok atau pembelajaran, kegiatan pembelajaran,
indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber atau bahan atau alat
belajar. Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi
dasar kedalam materi pokok atau pembelajaran, kegiatan pembelajaran dan
indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian.[2]
Silabus merupakan seperangkat rencana serta pengaturan pelaksanaan
pembelajaran dan penilaian yang disusun secara sistematis memuat
komponen-komponen yang saling berkaitan untuk mencapai penguasaan
kompetensi dasar.
Silabus juga dapat diartikan sebagai rancangan pembelajaran yang
berisi rencana bahan ajar mata pelajaran tertentu pada jenjang dan kelas
tertentu, sebagai hasil dari seleksi, pengelompokkan, pengurutan, dan
penyajian materi kurikulum, yang dipertimbangkan berdasarkan ciri dan
kebutuhan daerah setempat.
Silabus digunakan untuk menyebut suatu produk pengembangan
kurikulum berupa penjabaran lebih lanjut dari standar kompetensi dan
kemampuan dasar yang ingin dicapai, dan pokok-pokok serta uraian yang
ingin dicapai dan dipelajari siswa dalam mencapai standar kompetensi dan
kompetensi dasar.
a. Pada umumnya silabus paling sedikit harus mencakup unsur-unsur
yaitu :
1) Tujuan mata pelajaran yang akan diajarkan
2) Sasaran-sasaran mata pelajaran
3) Keterampilan yang diperlukan agar dapat menguasai mata
pelajaran tersebut dengan baik
4) Urutan topik-topik yang diajarkan
5) Aktifitas dan sumber-sumber belajar pendukung keberhasilan
pengajaran
6) Berbagai teknik evaluasi yang digunakan.[3]
b. Langkah-langkah pengembangan perangkat kurikulum dalam bentuk
silabus adalah sebagai berikut :
1) Penentuan format dan sistematika Silabus
2) Penentuan kemasan silabus
3) Penentuan kemampuan dasar
4) Penentuan materi pembelajaran dan uraianya
5) Penentuan pengalaman belajar siswa
6) Penentuan alokasi waktu
7) Penentuan sumber acuan
8) Pengembangan satuan pelajaran (SP).[4]

c. Dalam kaitannya dalam pembuatan silabus, ada beberapa prinsip yang


mendasari pengembangan silabus, yaitu antara lain:
1) Ilmiah artinya Keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi
muatan dalam silabus harus benar dan dapat
dipertanggungjawabkan secara keilmuan.
2) Relevan artinya Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan
urutan penyajian materi dalam silabus sesuai dengan tingkat
perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional dan spiritual
peserta didik.
3) Sistematis artinya Komponen- komponen silabus saling
berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi
4) Konsisten artinya Adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat
asas) antara kompetensi dasar, indikator, materi pokok,
pengalaman belajar, sumber belajar dan sistem penilaian.
5) Memadai artinya Cakupan indikator, materi pokok, pengalaman
belajar, sumber belajar dan sistem penilaian cukup untuk
menunjang pencapaian kompetensi dasar.
6) Aktual dan konstektual artinya Cakupan indikator, materi pokok,
kegiatan pembelajaran, sumber belajar dan sistem penilaian
memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir
dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi.
7) Fleksibel artinya Kesuluruhan komponen silabus dapat
mengakomodasi keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika
perubahan yang terjadi di madrasah dan tuntutan masyarakat.
8) Menyeluruh artinya Komponen silabus mencakup keseluruhan
ranah kompotensi (Kognitif, Afektif dan Psikomotor).[5]
d. Komponen-komponen silabus yaitu :
1) Standar Kompetensi (SK).
Merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh siswa
dalam suatu mata pelajaran. Penempatan SK pada silabus di
maksudkan untuk memandu guru dalam menjabarkan kompetensi
dasar menjadi pengalaman belajar sehingga rangkaian
pembelajaran tidak menyimpang dari koridor kemampuan siswa
yang ingin dicapai.
2) Kompetensi Dasar (KD).
Merupakan kemampuan minimal dalam mata pelajaran yang harus
dimiliki oleh lulusan yang harus dapat di tampilkan atau dilakukan
oleh siswa. Penempatan KD dalam silabus sangat penting, karena
untuk meningkatkan para guru seberapa jauh tuntutan target
kompetensi yang harus di capai. Dalam KD juga dimuat hasil
belajar, yaitu : pernyataan unjuk kerja yang di harapkan setelah
peserta didik mengalami pembelajaran dalam kompetensi
pembelajaran tertentu.
3) Indikator.
Merupakan karakteristik, ciri-ciri, tanda-tanda, perbuatan atau
respon yang harus dapat dilakukan atau ditampilkan siswa, untuk
menunjukan bahwa siswa itu telah memiliki kompetensi dasar
tertentu. Indikator juga meripakan KD yang lebih spesifik, apabila
serangkaian indikator dalam suatu KD sudah dapat di capai siswa,
berarti target KD tersebut sedah terpenuhi.
4) Materi Pokok.
Adalah bagian dari struktur keilmuan suatu bahan kajian yang
dapat berupa pengertian konseptual, gugus isi atau kontek, proses,
bidang ajar dan ketrampilan.
5) Pengalaman Belajar.
Memuat rangkaian kegiatan yang harus dilaukan oleh peserta didik
secara berurutan untuk mencapai KD.
6) Alokasi Waktu.
Untuk merencanakan pembelajaran, lamanya waktu yang
diperlukan untuk menguasai KD yang ingin di capai perlu
ditentukan alokasi waktunya. Penentuan alokasi waktu tergantung
jumlah minggu efektif dengan mempertimbangkan jumlah,
keluasan dan kedalaman KD serta tingkat kepentingan dengan
keadaan dan kebutuhan setempat.

7) Sumber / Bahan / Alat.


Sumber belejar yang strategis bagi guru adalah buku, brosur,
majalah, surat kabar, poster, lembar informasi lepas, naskah brosur,
peta, foto dan lingkungan sekitar. Bahan yang dimaksud adalah
bahan- bahan yang di perlukan dalam praktikum atau proses
pembelajaran lainnya, yang harus sesuai dengan karakteristik mata
pelajaran. Alat Bantu belajar memudahkan terjadinya proses
pembelajaran.
8) Penilaian.
Merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis
dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar siswa yang
dilakikan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga
menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan.
Penilaian dapat berbentuk tertulis, produk, unjuk kerja, proyek dan
porto folio.
9) Skenario pembelajaran.
Merupakan rencana dalam bentuk langkah-langkah yang akan di
lakukan oleh guru dan siswa selama kegiatan berlangsung.
Scenario pembelajaran mengacu kepada pendekatan pembelajaran
yang direncanakan dalam kegiatan pembelajaran. Skenario
pembelajaran yang dibuat meliputi langkah-langkah pembelajaran
di dalam kelas ketika proses belajar mengajar berlangsung, tetapi
harus dilakukan setelah proses pembelajaran berlangsung
khususnya siswa.
10) Analisis hasil belajar dan program tindak lanjut
Merupakan kegiatan membangdingkan hasil belajar siswa dengan
standar ketuntasan belajar minimum (SKBM) yang telah di
tetepkan.[6]
2. Program Tahunan
Program tahunan adalah rencana penetapan alokasi waktu satu tahun
ajaran untuk mencapai tujuan (standar kompetensi dan kompetensi dasar)
yang telah ditetapkan. Penetapan alokasi waktu diperlukan agar seluruh
kompetensi dasar yang ada dalam kurikulum seluruhnya dapat dicapai oleh
siswa.
Dalam program tahunan inilah disusun program perencanaan
penetapan alokasi waktu untuk setiap kompetensi dasar yang harus
dicapai. Penyusunan program tahunan pada dasarnya adalah menetapkan
jumlah waktu yang tersedia untuk setiap kompetensi dasar. Adapun
langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengembangkan program
tahunan adalah:
a. Lihat berapa jam alokasi waktu setiap mata pelajaran dalam seminggu
dalam struktur kurikulum seperti yang telah ditetapkan pemerintah.
b. Analisis berapa minggu efektif dalam setiap semester, seperti yang
telah kita tetapkan dalam gambaran alokasi efektif. Melalui analisis
tersebut kita dapat menentukan berapa minggu waktu yang tersedia
untuk pelaksanaan proses pembelajaran,
Penentuan alokasi waktu didasarkan kepada jumlah jam pelajaran
sesuai dengan struktur kurikulum yang berlaku serta keluasan materi yang
harus dikuasai oleh siswa.[7]
3. Program Semester
Rencana program semester merupakan penjabaran dari program
tahunan. Program tahunan disusun untuk menentukan jumlah jam yang
diperlukan untuk mencapai kompetensi dasar, sedangkan program
semester diarahkan untuk menjawab minggu keberapa atau kapan
pembelajaran untuk mencapai kompetensi dasar itu dilakukan.[8]
Cara mengembangkan progam semester yaitu :
a. Tentukan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang ingin
dicapai. Dalam hal ini guru tidak perlu merumuskan SK dan KD,
sebab semuanya sudah ditentukan dalam Standar Isi yakni pada
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang sudah kita kenal,
kecuali kalau kita memang diharuskan merumuskan SK dan KD,
misalnya dalam merumuskan kurikulum muatan lokal.
b. Lihat program tahunan yang telah kita susun untuk menentukan
alokasi waktu atau jumlah jam pelajaran setiap SK dan KD itu.
c. Tentukan pada bulan dan minggu keberapa proses pembelajaran KD
itu akan dilaksanakan.
4. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) adalah rancangan
pembelajaran mata pelajaran per unit yang akan ditetapkan guru dalam
pembelajaran di kelas. RPP pada hakekatnya merupakan perencanaan
untuk memperkirakan atau memproyeksikan apa yang akan dilakukan
dalam pembelajaran. Dengan demikian, RPP merupakan upaya untuk
memperkirakan tindakan yang akan dilakukan dalam kegiatan
pembelajaran. RPP perlu dikembangkan untuk menkoordinasikan
komponen pembelajaran, yakni: kompetensi dasar, materi standar,
indikator hasil belajar, dan penilaian.
Kompetensi dasar berfungsi mengembangkan potensi peserta didik,
materi standar berfungsi memberi makna terhadap kompetensi dasar,
indikator hasil belajar berfungsi menunjukan keberhasilan pembentukan
kompetensi peserta didik, sedangkan penilaian berfungsi mengukur
pembentukan kompetensi dan menentukan tindakan yang harus dilakukan
apabila kompetensi standar belum terbentuk atau belum tercapai.[9]
a. Komponen-komponen RPP
Pembelajaran merupakan suatu sistem yang terdiri atas
komponen-komponen yang satu sama lain saling berkaitan, dengan
demikian maka merencanakan pelaksanaaan pembelajaran adalah
merencanakan setiap komponen yang saling berkaitan.
Adapun komponen RPP adalah sebagai berikut:
1) Kolom Identitas Mata Pelajaran
2) Standar Kompetensi
3) Kompetensi Dasar
4) Indikator Pencapaian Kompetensi
5) Tujuan Pembelajaran
6) Materi Ajar (Materi Pokok)
7) Materi/Kompetensi Prasyarat
8) Alokasi Waktu
9) Metode Pembelajaran
10) Kegiatan Pembelajaran
11) Penilaian
12) Sumber Belajar.[10]
Sedangkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005
Bab IV Pasal 20 yang menyatakan bahwa perencanaan proses
pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran
yang memuat sekurang-kurangnya beberapa hal, diantaranya:
1) Tujuan pembelajaran
Dalam Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan Tujuan
pembelajaran dirumuskan dalam bentuk kompetensi yang harus
dicapai atau dikuasai oleh siswa. Melalui rumusan tujuan, guru
dapat memproyeksikan apa yang harus dicapai oleh siswa setelah
berakhir suatu proses pembelajaran.
2) Materi/isi
Materi/isi pelajaran yang berkenaan dengan bahan pelajaran yang
harus dikuasai siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran. Materi
pelajaran harus digali dari berbagai sumber belajar sesuai dengan
kompetensi yang harus dicapai.
3) Strategi dan Metode Pembelajaran
Strategi adalah rancangan serangkaian kegiatan untuk mencapai
tujuan tertentu, sedangkan metode adalah cara yang digunakan
untuk mengimplementasikan strategi. Dengan demikian strategi
dan metode itu tidak bisa dipisahkan. Strategi dan metode
pembelajaran harus dirancang sesuai dengan tujuan yang ingin
dicapai.
4) Media dan Sumber Belajar
Media dalam proses pembelajaran dapat diartikan sebagai alat
bantu untuk mempermudah pencapaian tujuan pembelajaran.
Sedangkan sumber belajar adalah segala sesuatu yang mengandung
pesan yang harus dipelajari sesuai dengan materi pelajaran.
5) Evaluasi
Evaluasi dalam KTSP diarahkan bukan hanya sekedar untuk
mengukur keberhasilan setiap siswa dalm pencapaian hasil belajar,
tetapi juga untuk mengumpulkan informasi tentang proses
pembelajaran yang dilakukan setiap siswa. Oleh sebab itu, dalam
perencanaan pelaksanaan pembelajaran setiap guru tidak hanya
menetnukan tes sebagai alat evaluasi akan tetapi juga
menggunakan nontes dalam bentuk tugas, wawancara, dan lain
sebagainya.
Pembelajaran merupakan suatu sistem yang terdiri atas
komponen-komponen yang satu sama lain saling berkaitan, dengan
demikian maka merencanakan pelaksanaaan pembelajaran adalah
merencanakan setiap komponen yang saling berkaitan.
b. Cara Menyusun RPP
Cara penyusunan RPP dalam garis besarnya dapat mengikuti
langkah- langkah sebagai berikut :
1) Mengisi kolom identitas
2) Menentukan alokasi waktu yang dibutuhkan untuk pertemuan
yang telah ditetapkan
3) Menentukan SK dan KD, serta Indikator yang akan digunakan
yang terdapat pada Silabus yang telah disusun
4) Merumuskan tujuan pembelajaran bedasarkan standar kompetensi
dasar, serta indikator yang telah ditentukan
5) Mengidentifikasi materi standar berdasarkan materi pokok
pembelajaran yang terdapat dalam silabus. Materi standar
merupakan uraian dari materi pokok
6) Menentukan metode pembelajaran yang akan digunakan
7) Merumuskan langkah- langkah pembelajaran yang terdiri dari
kegiatan awal, inti, dan akhir
8) Menentukan sumber belajar yang digunakan
9) Menyusun kriteria penilaian, lembar pengamatan, contoh soal, dan
teknik penskoran.[11]
c. Langkah- langkah pengembangan RPP
Berikut adalah langkah- langkah pengembangan RPP :
1) Mengidentifikasi dan mengelompokkan kompetensi yang ingin
dicapai setelah proses pembelajaran
2) Mengembangkan materi standar yaitu isi kurikulum yang
diberikan kepada peserta didik dalam proses pembelajaran, dan
pembentukan kompetensi
3) Menentukan metode yaitu dalam setiap pembelajaran dan
pembentujkan kompetensi, guru dapat menggunakan berbagai
variasi metode dan berbagai variasi media untuk mencapai tujuan
pembelajaran
4) Mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran adalah
merencanakan penilaian.

C. Pentingnya Perangkat Pembelajaran Bagi Seorang Guru


Berikut ini akan dijelaskan pentingnya perangkat pembelajaran yang
perlu dipersiapkan oleh seorang guru, antara lain :
1. Perangkat pembelajaran sebagai panduan
Perangkat pembelajaran adalah sebagai panduan atau pemberi arah
bagi seorang guru. Hal tersebut penting karena proses pembelajaran adalah
sesuatu yang sistematis dan terpola. Masih banyak guru yang hilang arah
atau bingung ditengah-tengah proses pembelajaran hanya karena tidak
memiliki perangkat pembelajaran. Oleh karena itu, perangkat
pembelajaran memberi panduan apa yang harus dilakukan seorang guru di
dalam kelas. Selain itu, perangkat pembelajaran memberi panduan dalam
mengembangkan teknik mengajar dan memberi panduan untuk merancang
perangkat yang lebih baik.
2. Perangkat pembelajaran sebagai tolak ukur
Seorang guru yang profesional tentu mengevaluasi setiap hasil
mengajarnya. Begitu pula dengan perangkat pembelajaran. Guru dapat
mengevaluasi diri nya sendiri sejauh mana perangkat pembelajaran yang
telah dirancang teraplikasi di dalam kelas. Evaluasi tersebut penting untuk
terus meningkatkan profesionalime seorang guru. Kegiatan evaluasi bisa
dimulai dengan membandingkan dari berbagai aktivitas di kelas, strategi,
metode atau bahkan langkah pembelajaran dengan data yang ada di
perangkat pembelajaran.
3. Perangkat pembelajaran sebagai peningkatan profesionalisme
Profesionalisme seorang guru dapat ditingkatkan dengan perangkat
pembelajaran. Dengan kata lain, bahwa perangkat pembelajaran tidak
hanya sebagai kelengkapan administrasi. tetapi juga sebagai media
peningkatan profesionalisme. Seorang guru harus menggunakan dan
mengembangkan perangkat pembelajarannya semaksimal mungkin.
Memperbaiki segala yang terkait dengan proses pembelajaran lewat
perangkatnya. Jika tidak demikian, maka kemampuan sang guru tidak akan
berkembang bahkan mungkin menurun.
4. Mempermudah
Perangkat pembelajaran mempermudah seorang guru dalam membantu
proses fasilitasi pembelajaran. Dengan perangkat pembelajaran, seorang
guru mudah menyampaikan materi hanya dengan melihat perangkatnya
tanpa harus banyak berpikir dan mengingat.[12]

IV. KESIMPULAN
Perangkat pembelajaran adalah serangkaian media atau sarana yang digunakan
dan dipersiapkan oleh guru dan siswa dalam proses pembelajaran di kelas.
Silabus merupakan seperangkat rencana serta pengaturan pelaksanaan
pembelajaran dan penilaian yang disusun secara sistematis memuat komponen-
komponen yang saling berkaitan untuk mencapai penguasaan kompetensi dasar.
Program tahunan adalah rencana penetapan alokasi waktu satu tahun ajaran
untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Rencana program semester merupakan penjabaran dari program tahunan.
Tetapi program semester diarahkan untuk menjawab minggu keberapa atau kapan
pembelajaran untuk mencapai kompetensi dasar itu dilakukan.
Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) adalah rancangan pembelajaran
mata pelajaran per unit yang akan ditetapkan guru dalam pembelajaran di kelas.

V. PENUTUP
Demikian makalah yang dapat kami susun dengan semaksimal mungkin,
semoga dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan kita. Kami sadar bahwa
dalam penyusunan makalah ini masih banyak kesalahan dan jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu, kami sangat mengharap kritik dan saran yang
bersifat membangun dari para pembaca demi kesempurnaan makalah yang akan
kami buat selanjutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Khaeruddin, dkk, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Jogjakarta: Nuansa Aksara,
Cet II, 2007.
Majid, Abdul, dkk, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi, Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2005.
Sanjaya, Wina, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran, Jakarta: Kencana, 2010.
Sunaryo, dkk, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Jakarta: LAPIS. Tht.
Supinah, Penyusunan Silabus dan RPP Matematika SD dalam rangka Pengembangan KTSP,
Yogyakarta:Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidikan dan Tenaga
Kependidikan Matematika, 2008.
Susilo, Muhammad Joko, KTSP, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008.
http://abdaziiz.blogspot.com/2013/10/makalah-perangkat-pembelajaran.html diakses pada 1
Mei 2015, pukul 09.00

[1] Wina sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran (Jakarta: Kencana, 2010), Cet
III, Hlm. 26.
[2] Khaeruddin dkk, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Jogjakarta: Nuansa Aksara, 2007), cet. II,
Hlm. 127

[3] Abdul Majid, dkk., Pendidikan Agama Islam Berbasisi Kompetensi (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2005), Hlm. 39
[4] Muhammad Joko Susilo, KTSP (Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR, 2008), Hlm. 138 .
[5] Khaeruddin dkk, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Jogjakarta: Nuansa Aksara, 2007), cet. II,
Hlm. 127
[6] Sunaryo, dkk, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) (Jakarta: LAPIS, Tht), Hlm. 254

[7] Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran (Jakarta: Kencana, 2010 ), Cet. III,
Hlm. 52
[8] Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran (Jakarta: Kencana, 2010), Cet III,
Hlm. 53
[9] Khaeruddin dkk, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Jogjakarta: Nuansa Aksara, 2007), cet. II,
Hlm. 145
[10] Supinah, Penyusunan Silabus dan RPP Matematika SD dalam rangka Pengembangan
KTSP (Yogyakarta:Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Matematika,
2008), Hlm. 26.

[11] Khaeruddin dkk, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Jogjakarta: Nuansa Aksara, 2007), cet. II,
Hlm. 148
[12] http://abdaziiz.blogspot.com/2013/10/makalah-perangkat-pembelajaran.htmldiakses pada 1 Mei
2015, pukul 09.00
Bimbingan dan Konseling dalam Undang-undang Sistim Pendidikan Nasional (UUSPN)

By konselor | 19/10/2010
0 Comment
Perkembangan bimbingan dan konseling tidak akan terlepas dari Undang-undang Sistim
Pendidikan Nasional (UUSPN). Legal atau tidaknya suatu profesi di tentukan dengan
Undang-undang tersebut. Apabila suatu profesi tidak memiliki dan atau tidak tercantum
dalam UUSPN maka profesi tersebut di nilai tidak legal namu apabila tercantum maka di
nilai legal dan memiliki dasar hukum.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk menyusun makalah ini untuk
mengetahui perkembangan bimbingan dan konseling dalam Undang-undang Sistim
Pendidikan Nasional (UUSPN) dan sebagai upaya untuk memenuhi syarat tugas mata kuliah
Profesi Bimbingan dan Konseling . Adapun judul makalah yang penulis susun adalah,
“Bimbingan dan Konseling dalam Undang-undang Sistim Pendidikan Nasional (UUSPN)”.

1. Bimbingan dan Konseling dalam Undang-undang Sistim Pendidikan Nasional


(UUSPN) tempo dahulu.
UU No.2/1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) disahkan bulan Maret 1989 di
lingkungan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan (PPB). Timbul berbagai kegusaran dan rasa
was-was mengenai status tenaga bimbingan dalam UUSPN, juga kekhawatiran mengenai
implikasi dari pernyataan dalam UUSPN terhadap masa depan jurussan PPB, nasib para
lulusannya dan profesi bimbingan secara keseluruhan. Hal ini disebabkan karena ada
inkonsistensi antara Pasal 1 ayat 8 dengan Pasal 27 ayat 1, 2 dan 3.
Pasal 1 (8): “Tenaga pendidik adalah anggota masyarakat yang bertugas membimbing,
mengajar, dan atau melatih peserta didik”. (catatan: disini kata membimbing disebut
lebih dahulu).
Pasal 27 (1): “Tenaga kependidikan bertugas menyelenggarakan kegiatan mengajar,
melatih, meneliti, mengembangkan, mengelola dan atau memberikan layanan teknis
dalam bidang pendidikan”.
Pasal 27 (2): “Tenaga kependidikan meliputi tenaga pendidik pengelola satuan
pendidikan, penilik, pengawas, peneliti dan pengembang di bidang pendidikan,
pustakawan, laboran, serta teknisi sumber belajar”.
Pasal 27 (3): “Tenaga pengajar merupakan tenaga pendidik yang khusus diangkat
dengan tugas utama mengajar yang pada jenjang pendidikan dasar dan menengah
disebut guru dan pada jenjang pendidikan tinggi disebut dosen”.
Berbagai dugaan dan tafsiran muncul, ada yang mengatakan bahwa tidak dicantumkannya
pembimbing dalam UUSPN semata-mata karena terlupakan dan bukan kesengajaan. Tetapi
berdasarkan pengakuan anggota DPR RI, keterlupaan itu sangat kecil kemungkinannya sebab
setiap kata, kalimat, istilah, bahkan sampai titik dan koma serta huruf besar atau kecil dibahas
secara rinci beserta implikasi dan kemungkinan tafsirannya yang bisa timbul. Lagi pula tidak
mungkin ada keterlupaan massal.
Namun ada tafsiran yang lebih optimistik yaitu bahwa tenaga bimbingan secara implisit
masuk dalam pengertian tenaga kependidikan (Pasal 27) menurut rincian Pasal 1 ayat 8.
Secara logika memang harus demikian tafsirannya sebaliknya jika tidak, maka ada
inkonsistensi antar kedua Pasal ini.
Ada juga tafsiran bahwa pengertian Pasal 1 ayat 8, kata membimbing tidak mengacu kepada
tenaga pembimbing, melainkan menunjuk pada pekerjaan bimbingan sebagai fungsi dari
tugas-tugas keguruan. Dalam hal ini disebut guru pembimbing (teacher counselor),
pembimbing guru (counselor teacher) dan pembimbing penuh (full counselor).
Guru-pembimbing (teacher counselor) adalah tenaga kependidikan yang tugas utamanya
mengajar (guru) tetapi melakukan fungsi-fungsi bimbingan. Selama menempuh preservice
training mereka disiapkan menjadi untuk guru, tetapi juga secara minimal dibekali oleh
keterampilan membimbing, Bisa juga mereka pernah mengikuti penataran bimbingan
sehingga dipercaya oleh kepala sekolah untuk melaksanakan bimbingan. Dalam hierarki
penguasaan keprofesian bimbingan dan dilihat dari latar belakang pendidikan akademiknya,
guru pembimbing termasuk klasifikasi “unprofessional”.
Pembimbing-guru (counselor teacher) adalah pembimbing yang melaksanakan tugas
keguruan, namun secara akademik mereka disiapkan sebagai tenaga bimbingan tapi mereka
berdwifungsi dengan mengajar sebagai tugas lain dari membimbing. Tenaga macam ini
adalah lulusan PPB atau BP jenjang S1 atau D3.
Pembimbing penuh (full counselor) adalah mereka yang secara khusus disiapkan menjadi
tenaga bimbingan dan memang di sekolah bertugas secara penuh dalam layanan bimbingan.
Mereka itulah yang disiapkan oleh jurusan PPB atau BP yang disebutkan secara eksplisit
dalam UUSPN.
Apa pun yang dikatakan UUSPN, bagaimana pun tafsiran orang kepadanya dan sebanyak apa
pun kritik yang dilontarkan kepada petugas BP, namun sesungguhnya sumbangan yang telah
diberikan dalam bidang pendidikan cukup banyak. Sumbangan itu menyangkut hal-hal yang
berkaitan dengan kesulitan siswa baik dari segi belajar, emosional, dan faktor lingkungan
lainnya. Pada siswa, masalah seperti ini perlu penanganan khusus oleh tenaga khusus
(pembimbing) dan bekerjasama dengan guru.
Diakui bahwa selama ini banyak petugas bimbingan yang belum mampu menjalankan
tugasnya dengan baik, namun hal ini tidak bisa digeneralisasikan sebagai kelemahan korps
pembimbing secara keseluruhan karena jika kita fair menilai kelemahan yang ditemukan
dalm bimbingan juga dihadapi oleh tenaga kependidikan yang lain.
2. Bimbingan dan Konseling dalam Undang-undang Sistim Pendidikan Nasional
(UUSPN) tempo sekarang.
Dengan disahkannya UU NO 2/1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, memberikan
makna tersendiri bagi pengembangan profesi bimbingan dan konseling, dan melahirkan
berbagai Peraturan Pemerintah sebagai peletakan dasar pelaksanaan Undang-undang
tersebut. PP no 27, 28, 29, dan 30 tahun 1990 mengatur tata laksana pendidikan pra-
sekolah, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi serta mengakui
sepenuhnya tenaga guru dan tenaga lain yang berperan dalam dunia pendidikan, selain guru.
Peluang lain yang memberikan angin baru badi pengembangan bimbingan dan konseling
adalah SK. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No. 026/1989, yang menyatakan,
“adanya pekerjaan bimbingan dan konseling yang berkedudukan seimbang dan sejajar
dengan kegiatan belajar”. PP tersebut memberikan legalisasi yang cukup mantap bagi
keberadaan layanan bimbingan dan konseling di sekolah.
Aspek legal keberadaan konselor juga dipeyung UURI No. 20 tahun 2003 tentang Sistim
Pendidikan Nasional, pasal 1 ayat 6 yang menyatakan, “Pendidik adalah tenaga
kepandidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar,
widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan ke
khususannya, serta bepartisipasi dalam penyelenggaraan pendidikan” (PB ABKIN, 2005: 3-
4)