Anda di halaman 1dari 5

MAKALAH KASUS REPRODUKSI

HIPOFUNGSI OVARIUM

Disusun Oleh :
Dara Zata Ghassani, SKH (B94164111)
Igst Ag Ngr Arpan Eka Putra, SKH (B94164128)
Zulfikar Hizbul Islami, SKH (B94164150)

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2016
HIPOFUNGSI OVARIUM
Pengertian
Hipofungsi ovarium atau ovarium yang kurang aktif adalah suatu keadaan
dimana tidak terjadinya pertumbuhan folikel dan korpus luteum pada ovarium,
sehingga menyebabkan penurunan fungsi dari ovarium (Gambar 1). Salah satu
kondisi penurunan fungsi ovarium adalah tidak munculnya birahi karena folikel
tidak berkembang (anestrus). Perkembangan folikel yang menurun diakibatkan
oleh gagalnya kelenjar hipofise anterior untuk mensekresikan Follicle Stimulating
Hormone (FSH) dalam jumlah yang cukup. Keadaan ini sering terjadi pada sapi
dara menjelang pubertas dan sapi dewasa post partus atau setelah inseminasi tapi
tidak terjadi konsepsi (BALIVET Bukittinggi 2014).

Gambar 1 Perbedaan ovarium normal dan hipofungsi


(Sumber : Barton D 2014)

Perkembangan dan fungsi organ reproduksi setelah melahirkan tergantung


dari sekresi Luteinizing Hormone (LH) dan Follicle Stimulating Hormone (FSH)
di hipofisa anterior. Hormon tersebut dikontrol oleh Gonadotrophin Releasing
Hormone (GnRH) di hipothalamus. Status pakan setelah melahirkan sangat
berpengaruh terhadap aktivitas reproduksi ternak (Miller et al. 1998).
Hipofungsi ovarium postpartum adalah suatu keadaan tidak adanya
aktivitas ovarium pada hewan setelah melahirkan. Hipofungsi ovarium
menyebabkan hewan tidak menunjukkan gejala estrus atau sering disebut dengan
anestrus postpartum. Umumnya sapi yang mengalami hipofungsi ovarium tidak
menunjukkan gejala estrus lebih dari 60 hari setelah melahirkan (Hafez 2000 ;
Opsomer et al. 2000). Faktor penyebab tidak berkembangnya folikel ovarium
setelah melahirkan sering berhubungan dengan proses laktasi pada induk,
frekuensi pemerahan, produksi susu tinggi dan rendahnya effisiensi reproduksi
(Bastidas at al. 1990).
Penyebab
Faktor manajemen sangat erat hubungannya dengan faktor pakan/nutrisi.
Jumlah dan kualitas pakan/nutrisi merupakan penyebab umum terjadinya
hipofungsi ovarium (Achjadi 2013). Kekurangan pakan/nutrisi dalam jangka
waktu yang cukup lama akan mempengaruhi fungsi reproduksi. ATP yang kurang
akan menyebabkan penurunan produksi dan sekresi hormon FSH dan LH
sehingga fungsi reproduksi terganggu (Ratnawati et al. 2007).
Menurut Hafez (2000), anestrus yang diakibatkan oleh hipofungsi ovarium
sering berhubungan dengan gagalnya sel-sel folikel untuk merespon rangsangan
hormonal, adanya perubahan kuantitas maupun kualitas sekresi hormonal,
menurunnya rangsangan yang berhubungan dengan fungsi hipotalamus-pituitaria-
ovarium yang akan menyebabkan menurunnya sekresi gonadotropin sehingga
tidak ada aktivitas ovarium setelah melahirkan.
Hipofungsi ovarium pada ternak sapi periode postpartum disebabkan oleh
karena kekurangan dan ketidakseimbangan hormonal sehingga terjadi anestrus
atau birahi tenang (silent heat) dan estrus yang tidak disertai ovulasi. Pada
keadaan hipofungsi ovarium, ukuran ovarium nampak normal namun
permukaannya licin sewaktu dipalpasi per rektal. Kondisi semacam ini
menandakan bahwa pada ovarium tidak ada aktivitas pertumbuhan folikel maupun
korpus luteum. Untuk mengatasi kondisi ovarium ini perlu dilakukan penyuntikan
hormon gonadotropin (Toelihere 1997).

Diferensial Diagnosa
Gejala utama yang terlihat pada hipofungsi ovarium adalah anestrus yang
berkepanjangan. Fase anestrus pada siklus estrus normalnya terjadi selama 1 – 6
bulan. Ditandai dengan inaktivitas ovarium, involusi uterus dan perbaikan
endometrium. Kondisi ini juga terjadi pada sistik ovari, kebuntingan, korpus
luteum persisten, mumifikasi, hipoplasia ovari, pyometra dan endometritis
subklinis (Hafez 2000 ; Syarifudin 2015).

Diagnosa
Diagnosa hipofungsi ovarium didasarkan pada pengamatan gejala klinis,
pemeriksaan laboratoris dan eksplorasi rektal. Pemeriksaan laboratoris terdiri dari
pemeriksaan darah dan feses. Pemeriksaan atau analisa darah dilakukan terhadap
adanya hypocalcaemia, hypoproteinemia, hypoglicaemia dan ketonemia.
Pemeriksaan feses dilakukan terhadap adanya telur cacing fasciola dan telur
parasit cacing lainnya yang berasal dari lambung dan usus (Toelihere 1981).
Menurut Partodiharjo (1980) ovarium yang ukurannya sangat kecil pada
kasus hipofungsi sulit untuk dilokalisir. Pada palpasi perektal terasa pipih, licin
dan keras atau dalam kasus yang parah hanya berupa suatu penebalan seperti tali
di tepi kranial ligamentum ovarii. Bentuk yang paling besar mungkin sama
dengan biji kacang tanah. Hal ini diperkuat dengan pendapat Toelihere (1981),
bahwa ovarium yang mengalami hipofungsi berbentuk agak bulat, berukuran
normal atau agak kecil jika dibandingkan dengan keadaan normal.
Hewan betina yang anestrus tidak tertarik ataupun menerima hewan jantan.
Tidak ada leleran vulva, ukuran vulva kecil. Sitologi vaginal didominasi oleh sel
parabasal kecil, terkadang disertai neutrofil dan sedikit bakteri. Pemeriksaan
endoskopi, memperlihatkan lipatan mukosa vagina terlihat datar, tipis dan
kemerahan (Syarifuddin 2005).

Terapi
Sapi yang menderita hipofungsi ovarium dapat dikembalikan pada
keadaan normal, apabila kualitas dan kuantitas makanannya diperbaiki. Makanan
yang diberikan hendaknya berkadar protein tinggi serta mengandung unsur
mineral yang cukup memadai, khususnya fosfor (Toelihere 1981). Prihatno (2004).
Mengatakan bahwa ketidakseimbangan energi dalam pakan (intake) dengan
energi untuk pertumbuhan akan menurunkan birahi pada ternak muda yang
sedang tumbuh dan pada sapi perah dewasa pasca beranak .
Rumput kering yang jelek biasanya akan menyebabkan defisiensi vitamin
yang kompleks, defisiensi cobalt (Co), yang dapat menyebabkan rendahnya nafsu
makan sehingga intake energi dan nilai gizi dan vitamin pakan berkurang,
akibatnya pubertas pada sapi dara akan terlambat dan kegagalan estrus pada
induk. Kendala tersebut diatas dapat diatasi dengan pemberian Biosuplemen
probiotik kedalam pakan konsentrat. Probiotik adalah mikroba hidup dalam media
pembawa yang menguntungkan ternak karena dapat menciptakan keseimbangan
mikroflora dalam saluran pencernaan sehingga menciptakan kondisi yang
optimum untuk pencernaan pakan dan meningkatkan efisinesi konversi pakan
sehingga memudahkan dala proses penyerapan zat nutrisi ternak, menigkatkan
kesehatan ternak, mempercepat pertumbuhan. Nutrisi yang sangat menunjang
untuk saluran reproduksi adalah protein, vitamin A, mineral/vitamin (P, kopper,
kobalt, mangan, lodine, selenium) (Prihatno 2004).
Asupan pakan/nutrisi yang kurang dapat menyebabkan sekresi hormon
menurun, sehingga untuk terapi hipofungsi ovari diperlukan terapi hormon untuk
mengembalikkan fungsi ovarium. Preparat hormon yang dapat digunakan sebagai
terapi antara lain Gonadotropin Releasing Hormon (GnRH), Pregnant Mare
Serum Gonadotropin (PMSG) (Hafez 2000). Gabungan hormon estrogen dengan
progesteron juga pernah dicoba pada sapi perah yang mengalami anestrus
postpartum, namun kurang berhasil dibandingkan hormon gonadotropin dan
penanganan yang paling efektif pada kasus hipofungsi adalah pemberian FSH
yang diikuti dengan pemeberian LH (McDougall and Compton 2005).
GnRH dari hipotalamus mengontrol fungsi hipofisis anterior (pituitary
anterior). Transportasi Gonadotropin dari hipotalamus ke pituitary anterior
melalui hipofhyseal portal vessel. Mekanisme kerja hormon intraseluler bermula
dari rangsangan gonadotropin terhadap produksi hormon steroid. Hormon
gonadotropin (first messenger) berikatan dengan reseptor membran sel yang
mengaktifkan adenylate cyclase. Enzim yang menjadi aktif ini selanjutnya
merangsang konversi Adenosin Triphosphate (ATP) menjadi Cyclic
Monophosphate (cAMP) selaku second messenger. Mekanisme ini melewati
serangkaian proses biokimia dan terjadi di sitoplasma sel.
Selanjutnya, cAMP merangsang reaksi pengaktifan enzim-enzim yang
memproduksi hormon steroid sehingga menghasilkan produksi estradiol dan
progesteron (Ratnawati et al 2007).
DAFTAR PUSTAKA

Achjadi K. 2013. Manajemen Kesehatan Reproduksi dan Biosekuriti. Makalah


Pertemuan Swasembada Persusuan di Indonesia. Yogyakarta (ID). Juni
2013.
[BALIVET] Balai Veteriner Bukittinggi. 2014. Laporan Pelaksanaan Kegiatan :
Penanggulangan Penyakit Gangguan Reproduksi Pada Sapi Potong.
Kementrian Pertanian Direktorat Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan.
No. 530/2014.
Barton D. 2014. Understanding Premature Ovarian Failure. Natural Fertility Info
[Internet]. [diunduh 2016 November 30] Tersedia pada : http://natural-
fertility-info.com/premature-ovarian-failure.html
Bastidas P, DW Forrest, RPD Veccio, RD Randel. 1990. Biological and
immunological luteinizing hormone activity and blood metabolities in
postpartum Brahman cows. Journal of Animal Science. 68
Hafez SE. 2000. Reproduction in Farm Animals 7th Edition. Philadelphia (US) :
Lea and Febiger.
Partodiharjo S. 1980. Ilmu Reproduksi Hewan. Jakarta (ID) : Mutiara.
Prihatno SA. 2004. Infertilitas dan Sterilitas. Yogyakarta (ID) : Fakultas
Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada.
Opsomer G, YT Grohn, J Hertl, M Coryn, H Deluyker, and A de Kruif. 2000.
Risk factors for post partum ovarian dysfunction in high producing cows in
Belgium: A field study. Theriogenology 53:841–857.
McDougall S, C Compton. 2005. Reproductive Performance of Anestrous Dairy
Cows Treated with Progesterone and Estradiol Benzoate. Journal of Dairy
Science. 88:2388
Miller DW, Blanche D, Boukhliq R, Curlewis JD, Martin GB. 1998. Central
metabolic messengers and the effects of nutrition on gonadotrophin
secretion in sheep. Journal of Reproduction and Fertility. 112 : 347-356.
Ratnawati D, Pratiwi WC, Affandhy L. 2007. Petunjuk Teknis Penanganan
Gangguan Reproduksi Pada Sapi Potong. Pasuruan (ID) : Pusat Penelitian
dan Pengembangan Peternakan.
Syarifuddin, N. 2005. Laporan Kegiatan Aplikasi Teknologi Reproduksi Ternak
dan Kesehatan Ternak pada Program Pendayagunaan dan Pengembangan
Iptek Nuklir Bidang Peternakan Di Daerah Kalimantan Selatan Tahun 2005.
Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru.
Tolihere MR. 1981. Ilmu Kemajiran pada Ternak Sapi Edisi Pertama. Bogor
(ID) : FKH IPB.
Teolihere MR. 1997. Peran Bioteknologi reproduksi dalam pembinaan produksi
peternakan di Indonesia. Makalah disampaikan pada pertemuan teknis dan
koordinasin Produksi Peternakan Nasional. Cisarua, 4-6 Agustus 1997.