Anda di halaman 1dari 184

BAHAN AJAR

PPh PEMOTONGAN/PEMUNGUTAN

PROGRAM DIPLOMA III KEUANGAN


SPESIALISASI PAJAK

Wahyu Santosa, Ak., M.Si.


Sadimin, S.S.T.

SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA


TAHUN 2012
KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirabbil ‘alamin, dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah


subhanahu wa ta’ala, bahan ajar Pemotongan/Pemungutan PPh bagi Program Diploma I
Keuangan Spesialisasi Pajak Sekolah Tinggi Akuntansi Negara dapat diselesaikan.
Bahan Ajar Pemotongan/Pemungutan PPh ini tidak semata-mata disusun bagi
mahasiswa/i Program Diploma I Keuangan Spesialisasi Pajak STAN, mengingat
luasnya cakupan materi Pemotongan/Pemungutan PPh dan kekhawatiran terjadinya
bias dalam pemahaman Pemotongan/Pemungutan PPh akibat tidak disampaikannya
ketentuan tertentu dalam peraturan perundang-undangan perpajakan. Oleh karena itu,
cakupan dan kedalaman materi Pemotongan/Pemungutan PPh yang akan
disampaikan di kelas, diserahkan sepenuhnya bagi para Dosen Pengajar untuk
memilah dan memilihnya.
Mengingat materi pemotongan/pemungutan PPh sangat luas dan selalu mengalami
perkembangan dari waktu ke waktu sesuai dengan perubahan peraturan perpajakan di
bidang Pajak Penghasilan, sangat dimungkinkan banyak aspek pemotongan/pemungutan
PPh dalam Bahan Ajar ini yang tidak terbahas secara mendalam dan memadai.
Penyajian dan cakupan Bahan Ajar ini diharapkan dapat membantu mahasiswa/i
Diploma I Keuangan Spesialisasi Pajak STAN khususnya dan para pembaca pada
umumnya dalam memahami ketentuan tentang pemotongan/pemungutan PPh yang berlaku
di Indonesia.
Kami menyampaikan terima kasih kepada Bapak A. Sjarifudin Alsah selaku Direktur
Peraturan Perpajakan II, Direktorat Jenderal Pajak dan Bapak Erhamsyah Noor selaku
Kepala Subdit Harmonisasi Peraturan Perpajakan, Direktorat Peraturan Perpajakan II yang
telah memberikan penugasan kepada penulis untuk ikut terlibat dalam kegiatan penyusunan
kurikulum Diploma I Keuangan Spesialisasi Pajak STAN, yang salah satunya adalah
penyusunan Bahan Ajar ini.
Terakhir, tiada gading yang tak retak, tiada capaian kesempurnaan tanpa perbaikan
yang berkesinambungan, sehingga segala saran dan masukan pembaca dan pengguna
bagi perbaikan dan penyempurnaan Bahan Ajar ini senantiasa Penulis harapkan.

Jakarta, April 2012

Wahyu Santosa, Ak., M.Si.


Sadimin, S.S.T.

i|P a g e
DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Daftar Isi
Daftar Tabel
Daftar Gambar
Daftar Lampiran

BAB 1 PENDAHULUAN
A. Peta Konsep Pajak Penghasilan
B. Peta Konsep Pemotongan/Pemungutan PPh
C. Pengertian Pemotongan Pajak Penghasilan
D. Pengertian Pemungutan Pajak Penghasilan
E. Kredit Pajak PPh
1. Kredit Pajak Dalam negeri
1. Pemotongan/Pemungutan oleh Pihak Lain
 PPh Pasal 21, 22, 23, 26 (5)
2. Pembayaran Pajak oleh Wajib Pajak Sendiri
 PPh Pasal 25
2. Kredit Pajak Luar Negeri
 PPh Pasal 24
F. Pelaporan dalam SPT Masa

BAB 2 PPh PASAL 21


A. Pemotong PPh Pasal 21
B. Penerima Penghasilan yang Dipotong PPh Pasal 21
1. Hak & Kewajiban Penerima Penghasilan yang Dipotong PPh Pasal 21
2. Tidak termasuk dalam pengertian Penerima Penghasilan yang Dipotong PPh
Pasal 21
C. Penghasilan yang Dipotong PPh Pasal 21
D. Dasar Pengenaan dan Pemotongan PPh Pasal 21
E. Tarif Pemotongan PPh Pasal 21
F. Saat Terutang PPh Pasal 21
G. Sifat Pemotongan PPh Pasal 21
1. Kredit Pajak PPh Pasal 21
2. PPh Pasal 21 bersifat Final

ii | P a g e
a. Uang Pesangon, Uang Manfaat Pensiun, Tunjangan Hari Tua, atau Jaminan
Hari Tua yang dibayarkan sekaligus
b. Honorarium atau imbalan lain dengan nama apapun yang menjadi beban
APBN atau APBD
H. SPT Masa PPh Pasal 21/26

BAB 3 PPh PASAL 22


A. Pemungut PPh Pasal 22
B. Besarnya Pungutan PPh Pasal 22
C. Dikecualikan dari Pemungutan PPh Pasal 22
D. Saat Terutang PPh Pasal 22
E. Sifat Pemungutan PPh Pasal 22
F. Studi Kasus PPh Pasal 22
G. SPT Masa PPh Pasal 22

BAB 4 PPh PASAL 23


A. Pemotong PPh Pasal 23
B. Tarif Pemotongan PPh Pasal 23
C. Tidak Dilakukan Pemotongan PPh Pasal 23
D. Studi Kasus PPh Pasal 23
E. SPT Masa PPh Pasal 23

BAB 5 PPh PASAL 24


A. Konsep World Wide Income
B. Tata Cara Penghitungan KPLN (Kredit Pajak Luar Negeri)
C. Studi Kasus PPh Pasal 24
D. Saat Diperolehnya Dividen oleh Wajib Pajak Dalam Negeri atas Penyertaan Modal
pada Badan Usaha di Luar Negeri Selain Badan Usaha yang Menjual Sahamnya di
Bursa Efek

BAB 6 PPh PASAL 26


A. Pemotong PPh Pasal 26
B. Penghasilan yang Dipotong PPh Pasal 26
C. Tarif Pemotongan PPh Pasal 26
D. Sifat Pemotongan PPh Pasal 26
E. Branch Profit Tax
F. Studi Kasus PPh Pasal 26

iii | P a g e
G. SPT Masa PPh Pasal 21/26

BAB 7 PPh PASAL 4 AYAT (2)


A. Bunga Deposito dan Tabungan serta Diskonto Sertifikat Bank Indonesia
B. Bunga Obligasi
C. Diskonto Surat Perbendaharaan Negara
D. Bunga Simpanan yang Dibayarkan oleh Koperasi kepada Anggota Koperasi Orang
Pribadi
E. Hadiah Undian
F. Penghasilan dari Transaksi Penjualan Saham di Bursa Efek
G. Penghasilan Perusahaan Modal Ventura dari Transaksi Penjualan Saham atau
Pengalihan Penyertaan Modal pada Perusahaan Pasangan Usaha
H. Dividen yang diterima atau diperoleh WP OP Dalam Negeri
I. Penghasilan dari Persewaan Tanah dan/atau Bangunan
J. Penghasilan dari Pengalihan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan
K. Jasa Konstruksi
L. Selisih Lebih Revaluasi Aktiva Tetap
M. Transaksi Derivatif Berupa Kontrak Berjangka yang Diperdagangkan di Bursa
N. Studi Kasus PPh Pasal 4 ayat (2)
O. SPT Masa PPh Pasal 4 ayat (2)

BAB 8 PPh PASAL 15


A. Pengertian Norma Penghitungan Khusus
B. Norma Penghitungan Khusus Penghasilan Neto Bagi Wajib Pajak Perusahaan
Penerbangan Dalam Negeri
C. Norma Penghitungan Khusus Penghasilan Neto Bagi Wajib Pajak Perusahaan
Pelayaran Dalam Negeri
D. Norma Penghitungan Khusus Penghasilan Neto Bagi Wajib Pajak Perusahaan
Pelayaran dan/atau Penerbangan Luar Negeri
E. Norma Penghitungan Khusus Penghasilan Neto Bagi Wajib Pajak Luar Negeri Yang
Mempunyai Kantor Perwakilan Dagang Di Indonesia
F. Studi Kasus PPh Pasal 15
G. SPT Masa PPh Pasal 15

iv | P a g e
DAFTAR TABEL

v|P a g e
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1: Peta Konsep Pajak Penghasilan

vi | P a g e
DAFTAR LAMPIRAN

vii | P a g e
BAB
PENDAHULUAN

1
Tujuan Instruksional Khusus:
1. Mampu menguraikan tentang konsep Pajak Penghasilan dan konsep PPh
Pemotongan/Pemungutan.
2. Mampu menjelaskan tentang pengertian Pemotongan/Pemungutan PPh.
3. Mampu menguraikan tentang Kredit Pajak Pajak Penghasilan.

A. Peta Konsep Pajak Penghasilan


Gambar 1: Peta Konsep Pajak Penghasilan

1|P a g e
B. Peta Konsep PPh Pemotongan/Pemungutan
Gambar 2. Peta Konsep PPh Pemotongan/Pemungutan
INDONESIA

PEMBERI PENERIMA PEMBERI


PPh 24
PENGHASILAN PENGHASILAN PENGHASILAN

PEMOTONGAN PPh PEMUNGUTAN PPh

PPh 21 PPh 23 PPh 4 (2) PPh 22

KREDIT PAJAK
BBM, Gas, Pelumas*

Perub.
Perub.STATUS
STATUS
PNS, TNI/POLRI FINAL

PPh 26

PENERIMA
PENGHASILAN
LUAR INDONESIA

C. Pengertian Pemotongan dan Pemungutan Pajak Penghasilan


Pasal 20 ayat (1) UU PPh mengatur bahwa pajak yang diperkirakan akan terutang
dalam suatu tahun pajak, dilunasi oleh Wajib Pajak dalam tahun pajak berjalan melalui:
a. Pemotongan pajak oleh pihak lain dalam hal diperoleh penghasilan oleh Wajib Pajak
dari pekerjaan, jasa atau kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 UU PPh.
b. Pemungutan pajak atas penghasilan dari usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal
22 UU PPh.
c. Pemotongan pajak atas penghasilan dari modal, jasa dan kegiatan tertentu
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 UU PPh.
d. Pembayaran oleh Wajib Pajak sendiri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 UU
PPh.
Menurut (Mansury, 1999) pemotongan oleh pihak lain atau lazim disebut juga
pemotongan pajak pada sumbernya (withholding at source) dibedakan dari pemungutan
oleh pihak lain (collection by another party), berdasarkan perbedaan:
 Pada pemotongan, pemotong pajak membayarkan penghasilan kepada Wajib Pajak
dan pemotong pajak (tax withholder) diwajibkan untuk menahan jumlah pajak yang

2|P a g e
terutang dari jumlah penghasilan yang dibayarkan kepada Wajib Pajak dan
membayarkan jumlah PPh yang dipotong dari penghasilan Wajib Pajak tersebut ke
kas negara.
 Pada pemungutan, pemungut pajak (tax collector) tidak melakukan pembayaran
penghasilan, melainkan hanya sekedar mempunyai hubungan dengan Wajib Pajak
dalam Wajib Pajak melakukan kegiatan usahanya.
Contoh-contoh pemungutan pajak adalah bank devisa yang memungut pajak
importir, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai memungut pajak atas pengusaha yang
membawa barang impor, dan bendahara pemerintah yang memungut PPh dari
pemasok barang kebutuhan kantor pemerintah.
Mengenai contoh pemungut pajak yang terakhir, yaitu bendahara pemerintah, agak
kabur. Kekaburan tersebut disebabkan oleh karena bendahara sebagai pemungut
pajak juga melakukan pembayaran, namun pembayaran itu bukan pembayaran
penghasilan, melainkan pembayaran pembelian barang yang dipasok oleh Wajib
Pajak. Dalam pembayaran harga barang yang dipasok memang mengandung
penghasilan, yaitu sebesar laba dari penjualan barang yang bersangkutan, namun
hanya sejumlah persen tertentu dari seluruh harga, sehingga tidak dapat dikatakan,
bahwa pembayaran itu seluruhnya merupakan penghasilan.
D. Kredit Pajak PPh
1. Peta Konsep Kredit Pajak PPh

PPh PASAL 21
PPh TERUTANG

PEMOTONGAN

PPh PASAL 23
MELALUI
PIHAK KETIGA

KREDIT PAJAK PEMUNGUTAN PPh PASAL 22

Ph DARI PPh YANG DIBAYAR


LUAR NEGERI PPh PASAL 24
DI LUAR NEGERI

PPh YANG DIBAYAR SENDIRI OLEH WAJIB PAJAK PPh PASAL 25


PADA TAHUN PAJAK BERJALAN

PPh KURANG BAYAR NIHIL PPh LEBIH BAYAR


(PPh TERUTANG > KREDIT (PPh TERUTANG = KREDIT (PPh TERUTANG < KREDIT
PAJAK) PAJAK) PAJAK)

3|P a g e
Gambar 3: Peta Konsep Kredit Pajak PPh
2. Kredit Pajak Dalam Negeri
a. Pemotongan/Pemungutan oleh Pihak Lain
1) PPh Pasal 21
PPh Pasal 21 merupakan cara pelunasan PPh dalam tahun berjalan melalui
pemotongan pajak atas penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib
Pajak Orang Pribadi dalam negeri sehubungan dengan pekerjaan, jasa, atau
kegiatan. Pasal 21 UU PPh mengatur hanya penghasilan WP orang pribadi
dalam negeri, sedang mengenai WP orang pribadi luar negeri diatur dalam
Pasal 26 UU PPh.
2) PPh Pasal 22
PPh Pasal 22 merupakan cara pelunasan pembayaran pajak dalam tahun
berjalan oleh Wajib Pajak atas penghasilan sehubungan dengan pembayaran
atas penyerahan barang, kegiatan di bidang impor atau kegiatan usaha di
bidang lain (seperti kegiatan usaha produksi barang tertentu antara lain
otomotif dan semen), dan penjualan barang yang tergolong sangat mewah.
3) PPh Pasal 23
PPh Pasal 23 merupakan cara pelunasan pajak dalam tahun berjalan melalui
pemotongan pajak antara lain atas penghasilan berupa dividen, bunga,
royalti, hadiah dan penghargaan, sewa, jasa teknik, jasa manajemen, jasa
konsultan, dan jasa lainnya.
4) PPh Pasal 26 ayat (5)
Pada prinsipnya pemotongan pajak atas WP luar negeri adalah bersifat final,
tetapi atas penghasilan WP orang pribadi atau badan luar negeri yang
berubah status menjadi WP dalam negeri atau bentuk usaha tetap,
pemotongan pajaknya tidak bersifat final sehingga potongan pajak tersebut
dapat dikreditkan dalam SPT Tahunan Pajak Penghasilan.
Contoh:
Brian Adam (tenaga asing orang pribadi) membuat perjanjian kerja dengan
PT B (WP dalam negeri) untuk bekerja di Indonesia untuk jangka waktu 5
bulan terhitung mulai tanggal 1 Januari 2009. Pada tanggal 20 April 2009
perjanjian kerja tersebut diperpanjang menjadi 8 bulan sehingga akan
berakhir pada tanggal 31 Agustus 2009.

4|P a g e
 Jika perjanjian kerja tersebut tidak diperpanjang, status Brian Adam
adalah tetap sebagai WP luar negeri. Dengan diperpanjangnya perjanjian
kerja tersebut, status Brian Adam berubah dari WP luar negeri menjadi
WP dalam negeri terhitung sejak tanggal 1 Januari 2009. Selama bulan
Januari s.d. Maret 2009 atas penghasilan bruto Brian Adam telah
dipotong PPh Pasal 26 oleh PT B.
 Berdasarkan ketentuan Pasal 26 ayat (5) UU PPh, maka untuk
menghitung PPh yang terutang atas penghasilan Brian Adam untuk masa
Januari s.d. Agustus 2009, PPh Pasal 26 yang telah dipotong dan disetor
PT B atas penghasilan Brian Adam s.d. Maret tersebut, dapat dikreditkan
terhadap pajak Brian Adam sebagai WP dalam negeri.
b. Pembayaran Pajak oleh Wajib Pajak Sendiri (PPh Pasal 25)
3. Kredit Pajak Luar Negeri (PPh Pasal 24)
Pada dasarnya Wajib Pajak dalam negeri terutang pajak atas seluruh penghasilan,
termasuk penghasilan yang diterima atau diperoleh dari luar negeri. Untuk
meringankan beban pajak ganda yang dapat terjadi karena pengenaan pajak atas
penghasilan yang diterima atau diperoleh di luar negeri, ketentuan Pasal 24 UU PPh
mengatur tentang perhitungan besarnya pajak atas penghasilan yang dibayar atau
terutang di luar negeri yang dapat dikreditkan terhadap pajak yang terutang atas
seluruh penghasilan Wajib Pajak dalam negeri.
E. Pembayaran/Penyetoran dan Pelaporan PPh yang Dipotong/Dipungut
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 184/PMK.03/2007 sebagaimana telah diubah
dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 80/PMK.03/2010, mengatur antara lain:
PPh Tanggal Jatuh Tempo Batas Akhir
Pemotongan/Pemungutan Pembayaran/Penyetoran Pelaporan
PPh Dipotong oleh 10
Wajib menyampaikan SPT Masa paling
bulan berikutnya setelah Masa Pajak

Pasal 4 Pemotong PPh


lama 20 hari setelah Masa Pajak

ayat (2) Dibayar sendiri oleh 15


WP
paling lama tanggal

PPh Dipotong oleh 10


Pasal Pemotong PPh
berakhir.
berakhir

15 Dibayar sendiri oleh 15


WP
PPh Dipotong oleh 10
Pasal Pemotong PPh
21
PPh Dipotong oleh 10
Pasal Pemotong PPh
23/26

5|P a g e
PPh 15
Pasal
25
PPh Dalam hal Bea Masuk pada saat penyelesaian
Pasal ditunda/ dibebaskan dokumen pemberitahuan
22 atas pabean impor.
Impor Dipungut oleh Ditjen harus disetor dalam wajib melaporkan
Bea dan Cukai jangka waktu 1 hari kerja hasil
setelah dilakukan pemungutannya
pemungutan pajak. secara mingguan
paling lama pada hari
kerja terakhir minggu
berikutnya
PPh Dipungut oleh harus disetor pada hari wajib melaporkan
Pasal bendahara yang sama dengan hasil pemungutannya
22 pelaksanaan pembayaran paling lama 14 hari
atas penyerahan barang setelah Masa Pajak
yang dibiayai dari belanja berakhir.
Negara atau belanja
Daerah, dengan
menggunakan SSP atas
nama rekanan dan
ditandatangani oleh
bendahara.
Penyerahan BBM, gas, 10 Wajib menyampaikan
bulan berikutnya
Pajak berakhir

dan pelumas kepada SPT Masa paling


setelah Masa
paling lama

penyalur/agen atau lama 20 hari setelah


tanggal

industri Masa Pajak berakhir.


Pemungutannya 10
dilakukan oleh WP
badan tertentu
Dalam hal tanggal jatuh tempo pembayaran/penyetoran pajak dan batas akhir
pelaporan bertepatan dengan hari libur termasuk hari Sabtu atau hari libur nasional1,
pembayaran/penyetoran pajak dan pelaporan dapat dilakukan pada hari kerja
berikutnya.

 Pembayaran dan penyetoran pajak dilakukan di Kantor Pos atau bank yang ditunjuk
oleh Menteri Keuangan.
 Pembayaran dan penyetoran pajak harus dilakukan dengan menggunakan Surat
Setoran Pajak atau sarana administrasi lain yang disamakan dengan Surat Setoran
Pajak.

1
Hari libur nasional termasuk hari yang diliburkan untuk penyelenggaraan Pemilihan Umum yang
ditetapkan oleh Pemerintah dan cuti bersama secara nasional yang ditetapkan oleh Pemerintah.

6|P a g e
 Surat Setoran Pajak atau sarana administrasi lain berfungsi sebagai bukti
pembayaran pajak apabila telah disahkan oleh pejabat kantor penerima pembayaran
yang berwenang atau apabila telah mendapatkan validasi.
 Surat Setoran Pajak atau sarana administrasi lain dianggap sah apabila telah
divalidasi dengan Nomor Transaksi Penerimaan Pajak (NTPN).
 Pemotong atau Pemungut PPh memberikan tanda bukti pemotongan atau tanda
bukti pemungutan kepada orang pribadi atau badan yang dipotong atau dipungut
PPh setiap melakukan pemotongan atau pemungutan.

7|P a g e
BAB
PPh PASAL 21

2
Tujuan Instruksional Khusus:
1. Mampu menguraikan konsep PPh Pasal 21.
2. Mampu menjelaskan tentang Pemotong PPh Pasal 21 dan kewajiban Pemotong
PPh Pasal 21.
3. Mampu menjelaskan tentang Penerima Penghasilan yang Dipotong PPh Pasal 21.
4. Mampu menjelaskan tentang Penghasilan yang Dipotong PPh Pasal 21.
5. Mampu menguraikan tentang Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) dalam
Penghitungan PPh Pasal 21.
6. Mampu menguraikan tentang Tarif PPh Pasal 21.
7. Mampu menguraikan tentang Dasar Pengenaan dan Pemotongan PPh Pasal 21.
8. Mampu menjelaskan tentang Saat Terutang PPh Pasal 21.
9. Mampu menjelaskan tentang sifat pemotongan PPh Pasal 21.
10. Mampu menjelaskan tentang saat penyetoran dan pelaporan PPh Pasal 21.

PPh Pasal 21 merupakan cara pelunasan PPh dalam tahun berjalan melalui
pemotongan pajak atas penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak Orang Pribadi
dalam negeri sehubungan dengan pekerjaan, jasa, atau kegiatan.
Menurut (Mansury, 1999) penghasilan dari pekerjaan (income from employment atau
employment income) mencakup semua penghasilan yang merupakan imbalan atas
pekerjaan (employment). Employment income merupakan bagian dari penghasilan orang
pribadi yang didapat dari melakukan kegiatan, yaitu earned income. Earned income yang
diperoleh karena melakukan kegiatan dibagi 2, yaitu penghasilan dari melakukan kegiatan
pekerjaan dan penghasilan dari melakukan kegiatan usaha (business income). Penghasilan
dari pekerjaan hanya dapat diperoleh oleh orang pribadi.
Penghasilan dari pekerjaan dalam arti luas lazimnya dibagi menjadi 2 jenis penghasilan
lagi, yaitu:
a. Penghasilan yang diperoleh sebagai karyawan (labor income) dalam hubungan kerja
dengan pemberi kerja.
b. Penghasilan dari pekerjaan bebas (self-employed income atau professional income).

Penghasilan dari
KEGIATAN USAHA
(Business Income)

Penghasilan dari
Kegiatan Penghasilan sebagai
PEGAWAI
(Earned Income)
(Labor Income)

8|P a g e
Penghasilan dari
PEKERJAAN Penghasilan dari
(Employment Income) PEKERJAAN BEBAS
(Self-employed Income)
A. Peta Konsep PPh Pasal 21
Gambar 4. Peta Konsep Pemotongan PPh Pasal 21

TETAP Penghasilan Neto – PTKP

PEGAWAI BULANAN Penghasilan Bruto – PTKP

TIDAK TETAP Penghasilan Bruto – Rp150.000

Penghasilan Bruto – PTKP Sehari


HARIAN
( Rp1.320.000 < Ph Bruto < Rp6.000.000)

Penghasilan Bruto – PTKP


(Ph Bruto > Rp6.000.000)

PENERIMA
BERKALA Penghasilan Neto – PTKP
PENSIUN

BERKESINAMBUNGAN (50% x Penghasilan Bruto – PTKP per


(TIDAK mempunyai penghasilan lain) Bulan), Kumulatif

BUKAN BERKESINAMBUNGAN
(50% x Penghasilan Bruto), Kumulatif
PEGAWAI (MEMPUNYAI penghasilan lain)

TIDAK BERKESINAMBUNGAN 50% x Penghasilan Bruto

KOMISARIS, Mantan PEG,


Penarikan Dana Pensiun oleh PEG Penghasilan Bruto, Kumulatif

PESERTA KEGIATAN Penghasilan Bruto

PENERIMA UANG MANFAAT


SEKALIGUS Penghasilan Bruto
PENSIUN, THT, atau JHT

Ketentuan mengenai pemotongan PPh Pasal 21 diatur dalam Peraturan Menteri


Keuangan Nomor 252/PMK.03/2008 dan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-
31/PJ/2009 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor
PER-57/PJ/2009.
B. Pemotong PPh Pasal 21
1. Pemotong PPh Pasal 21

9|P a g e
Pemotong PPh Pasal 21 adalah WP orang pribadi atau WP badan, termasuk
bentuk usaha tetap, yang mempunyai kewajiban untuk melakukan pemotongan pajak
atas penghasilan sehubungan dengan pekerjaan, jasa, dan kegiatan orang pribadi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 UU PPh.
Pemotong PPh Pasal 21, meliputi:
a. Pemberi kerja yang terdiri dari orang pribadi dan badan, baik merupakan pusat
maupun cabang, perwakilan atau unit yang membayar gaji, upah, honorarium,
tunjangan, dan pembayaran lain dengan nama dan dalam bentuk apapun,
sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang dilakukan oleh
pegawai atau bukan pegawai.
Tidak termasuk sebagai pemberi kerja yang mempunyai kewajiban untuk
melakukan pemotongan PPh Pasal 21 adalah:
1) Kantor perwakilan negara asing.
2) Organisasi-organisasi internasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3
ayat (1) huruf c UU PPh, yang telah ditetapkan oleh Menteri Keuangan2.
3) Pemberi kerja orang pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha atau
pekerjaan bebas yang semata-mata mempekerjakan orang pribadi untuk
melakukan pekerjaan rumah tangga atau pekerjaan bukan dalam rangka
melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas.
b. Bendahara atau pemegang kas pemerintah, termasuk bendahara atau
pemegang kas pada Pemerintah Pusat termasuk institusi TNI/POLRI, Pemerintah
Daerah, instansi atau lembaga pemerintah, lembaga-lembaga negara lainnya,
dan Kedutaan Besar RI di luar negeri, yang membayarkan gaji, upah,
honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain dengan nama dan dalam bentuk
apapun sehubungan dengan pekerjaan atau jabatan, jasa, dan kegiatan.
c. Dana pensiun, badan penyelenggara jaminan sosial tenaga kerja, dan badan-
badan lain yang membayar uang pensiun dan tunjangan hari tua atau jaminan
hari tua.
d. Orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas serta
badan yang membayar:
1) Honorarium atau pembayaran lain sebagai imbalan sehubungan dengan jasa
dan/atau kegiatan yang dilakukan oleh orang pribadai dengan status Subjek
Pajak dalam negeri, termasuk jasa tenaga ahli yang melakukan pekerjaan

2
Dalam hal organisasi internasional tidak memenuhi ketentuan, organisasi internasional dimaksud merupakan
pemberi kerja yang berkewajiban melakukan pemotongan pajak.

10 | P a g e
bebas dan bertindak untuk dan atas namanya sendiri, bukan untuk dan atas
nama persekutuannya.
2) Honorarium atau pembayaran lain sebagai imbalan sehubungan dengan
kegiatan dan jasa yang dilakukan oleh orang pribadi dengan status Subjek
Pajak luar negeri.
3) Honorarium atau imbalan lain kepada peserta pendidikan, pelatihan, dan
magang.
e. Penyelenggara kegiatan, termasuk badan pemerintah, organisasi yang bersifat
nasional dan internasional, perkumpulan, orang pribadi serta lembaga lainnya
yang menyelenggarakan kegiatan, yang membayar honorarium, hadiah, atau
penghargaan dalam bentuk apapun kepada Wajib pajak orang pribadi dalam
negeri berkenaan dengan suatu kegiatan.
2. Kewajiban Pemotong PPh Pasal 21
a. Wajib mendaftarkan diri ke KPP sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Menurut (Mansury, 1999) kewajiban mendaftarkan diri tersebut berlaku juga bagi
organisasi internasional yang tidak dikecualikan oleh Menteri Keuangan.
b. Wajib menghitung, memotong, menyetorkan dan melaporkan PPh Pasal 21 yang
terutang untuk setiap bulan kalender.
c. PPh Pasal 21 yang dipotong wajib disetor ke kas negara paling lama 10 hari
setelah Masa Pajak berakhir.
d. Kewajiban untuk melaporkan pemotongan PPh Pasal 21 untuk setiap bulan
kalender tetap berlaku, dalam hal jumlah pajak yang dipotong pada bulan yang
bersangkutan nihil.
e. Wajib membuat catatan atau kertas kerja perhitungan PPh Pasal 21 untuk
masing-masing penerima penghasilan, yang menjadi dasar pelaporan PPh Pasal
21 yang terutang untuk setiap masa pajak dan wajib menyimpan catatan atau
kertas kerja perhitungan tersebut sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
f. Wajib membuat bukti pemotongan PPh Pasal 21 dan memberikannya kepada
penerima penghasilan.
Bukti pemotongan PPh Pasal 21:
 Untuk Pegawai Tetap atau Penerima Pensiun Berkala (Form 1721-A1 atau
1721-A2):
1). Diberikan paling lama 1 bulan setelah tahun kalender berakhir.
2). Dalam hal pegawai tetap berhenti bekerja sebelum bulan Desember, bukti
pemotongan PPh Pasal 21 harus diberikan paling lama 1 bulan setelah
yang bersangkutan berhenti bekerja.

11 | P a g e
 Untuk selain Pegawai Tetap atau Penerima Pensiun Berkala:
1). Pemotong PPh Pasal 21 harus memberikan bukti pemotongan PPh Pasal
21 atas pemotongan PPh Pasal 21 selain pegawai tetap dan penerima
pensiun berkala setiap kali melakukan pemotongan PPh Pasal 21.
2). Dalam hal dalam 1 bulan kalender, kepada satu penerima penghasilan
dilakukan lebih dari 1 kali pembayaran penghasilan, bukti pemotongan
PPh Pasal 21 dapat dibuat sekali untuk 1 bulan kalender.
C. Penerima Penghasilan yang Dipotong PPh Pasal 21
1. Penerima Penghasilan yang Dipotong PPh Pasal 21
Penerima Penghasilan yang dipotong PPh Pasal 21 adalah orang pribadi dengan
status sebagai Subjek Pajak dalam negeri yang menerima atau memperoleh
penghasilan dengan nama dan dalam bentuk apapun dari Pemotong PPh Pasal 21
sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan, jasa atau kegiatan yang dilakukan
baik dalam hubungannya sebagai pegawai maupun bukan pegawai, termasuk
penerima pensiun.
Penerima penghasilan yang dipotong PPh Pasal 21 adalah orang pribadi yang
merupakan:
a. Pegawai.
b. Penerima uang pesangon, pensiun atau uang manfaat pensiun, tunjangan hari
tua, atau jaminan hari tua, termasuk ahli warisnya.
c. Bukan pegawai yang menerima atau memperoleh penghasilan sehubungan
dengan pekerjaan, jasa, atau kegiatan, antara lain meliputi :
1) Tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas, yang terdiri dari pengacara,
akuntan, arsitek, dokter, konsultan, notaris, penilai, dan aktuaris.
2) Pemain musik, pembawa acara, penyanyi, pelawak, bintang film, bintang
sinetron, bintang iklan, sutradara, kru film, foto model, peragawan/peragawati,
pemain drama, penari, pemahat, pelukis, dan seniman lainnya.
3) Olahragawan.
4) Penasihat, pengajar, pelatih, penceramah, penyuluh, dan moderator.
5) Pengarang, peneliti, dan penerjemah.
6) Pemberi jasa dalam segala bidang termasuk teknik komputer dan sistem
aplikasinya, telekomunikasi, elektronika, fotografi, ekonomi, dan sosial serta
pemberi jasa kepada suatu kepanitiaan.
7) Agen iklan.
8) Pengawas atau pengelola proyek.

12 | P a g e
9) Pembawa pesanan atau yang menemukan langganan atau yang menjadi
perantara.
10) Petugas penjaja barang dagangan.
11) Petugas dinas luar asuransi.
12) Distributor perusahaan multilevel marketing (MLM) atau direct selling dan
kegiatan sejenis lainnya.
d. Peserta kegiatan yang menerima atau memperoleh penghasilan sehubungan
dengan keikutsertaannya dalam suatu kegiatan, antara lain meliputi:
1) Peserta perlombaan dalam segala bidang, antara lain perlombaan olahraga,
seni, ketangkasan, ilmu pengetahuan, teknologi dan perlombaan lainnya.
2) Peserta rapat, konferensi, sidang, pertemuan, atau kunjungan kerja.
3) Peserta atau anggota dalam suatu kepanitiaan sebagai penyelenggara
kegiatan tertentu.
4) Peserta pendidikan, pelatihan, dan magang.
5) Peserta kegiatan lainnya.
2. Tidak termasuk dalam pengertian Penerima Penghasilan yang Dipotong PPh
Pasal 21
Tidak termasuk dalam pengertian penerima penghasilan yang dipotong PPh
Pasal 21 adalah:
a. Pejabat perwakilan diplomatik dan konsulat atau pejabat lain dari negara asing,
dan orang-orang yang diperbantukan kepada mereka yang bekerja pada dan
bertempat tinggal bersama mereka, dengan syarat:
1). Bukan warga negara Indonesia.
2). Di Indonesia tidak menerima atau memperoleh penghasilan lain di luar
jabatan atau pekerjaannya tersebut.
3). Negara yang bersangkutan memberikan perlakuan timbal balik.
b. Pejabat perwakilan organisasi internasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal
3 ayat (1) huruf c UU PPh, yang telah ditetapkan oleh Menteri Keuangan, dengan
syarat:
1). Bukan warga negara Indonesia.
2). Tidak menjalankan usaha atau kegiatan atau pekerjaan lain untuk
memperoleh penghasilan dari Indonesia.
3. Kewajiban Penerima Penghasilan yang Dipotong PPh Pasal 21
a. Wajib mendaftarkan diri ke KPP sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
b. Pegawai, penerima pensiun berkala, serta bukan pegawai wajib membuat surat
pernyataan yang berisi jumlah tanggungan keluarga pada awal tahun kalender

13 | P a g e
atau pada saat mulai menjadi Subjek Pajak dalam negeri sebagai dasar
penentuan PTKP dan wajib menyerahkannya kepada Pemotong PPh Pasal 21
pada saat mulai bekerja atau mulai pensiun.
c. Dalam hal terjadi perubahan tanggungan keluarga bagi pegawai, penerima
pensiun berkala dan bukan pegawai wajib membuat surat pernyataan baru dan
menyerahkannya kepada Pemotong PPh Pasal 21 paling lama sebelum mulai
tahun kalender berikutnya.
d. Melaporkan pemotongan PPh Pasal 21 dalam SPT Tahunan PPh Wajib Pajak
orang pribadi.
4. Perlakuan PPh atas WNI yang Bekerja Sebagai Official pada Badan-Badan
Internasional PBB
Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-57/PJ/2009 menegaskan hal-hal
sebagai berikut:
a. Berdasarkan Section 18 (b) Convention on the Privileges and Immunities of the
United Nations, 1946, diatur bahwa official of the United Nations shall be exempt
from taxation on the salaries and emoluments paid to them by the United Nations.
b. Berdasarkan Convention on the Privileges and Immunities of the Specialized
Agencies, 1947, antara lain mengatur:
1). Section 1, the words "special agencies" mean:
1). The International Labour Organization;
2). The Food and Agriculture Organization of the United Nations;
3). The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization;
4). The International Civil Aviation Organization;
5). The International Monetary Fund;
6). The International Bank for Reconstruction and Development;
7). The World Health Organization;
8). The International Telecomunications Union; and
9). Any other agencies in any relation with the United Nations in accordance
with Articles 57 and 63 of the Charter.
2). Section 19 (b), official of the special agencies enjoy the same exemption from
taxation in respect of salaries and emoluments paid to them by specialized
agencies and on the same condition as are enjoyed by official of the United
Nations.
c. Indonesia sudah mengesahkan Convention on the Privileges and Immunities of
the United Nations, 1946 dan Convention on the Privileges and Immunities of the
Specialized Agencies, 1947 dengan Keputusan Presiden Nomor 51 Tahun 1969

14 | P a g e
tentang Pengesahan Convention on the Privileges and Immunities of the United
Nations, 1946; Convention on the Privileges and Immunities of the Specialized
Agencies, 1947; Agreement on the Privileges and Immunities of the International
Atomic Energy Agencies, 1959.
d. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas ditegaskan bahwa Warga Negara Indonesia
yang bekerja sebagai official pada dan hanya memperoleh penghasilan dari
badan-badan internasional dari Perserikatan Bangsa-Bangsa mendapat
perlakuan perpajakan yang sama sebagaimana dinikmati oleh official dari
Perserikatan Bangsa-Bangsa, yaitu atas penghasilan yang diterima bukan
merupakan objek pajak yang dikenakan Pajak Penghasilan.
D. Penghasilan yang Dipotong PPh Pasal 21
1. Penghasilan yang Dipotong PPh Pasal 21
Penghasilan yang dipotong PPh Pasal 21 adalah:
a. Penghasilan yang diterima atau diperoleh pegawai tetap, baik berupa
penghasilan yang bersifat teratur maupun tidak teratur.
b. Penghasilan yang diterima atau diperoleh penerima pensiun secara teratur
berupa uang pensiun atau penghasilan sejenisnya.
c. Penghasilan sehubungan dengan pemutusan hubungan kerja dan penghasilan
sehubungan dengan pensiun yang diterima secara sekaligus berupa uang
pesangon, uang manfaat pensiun, tunjangan hari tua atau jaminan hari tua, dan
pembayaran lain sejenis.
d. Penghasilan pegawai tidak tetap atau tenaga kerja lepas, berupa upah harian,
upah mingguan, upah satuan, upah borongan atau upah yang dibayarkan secara
bulanan.
e. Imbalan kepada bukan pegawai, antara lain berupa honorarium, komisi, fee, dan
imbalan sejenisnya dengan nama dan dalam bentuk apapun sebagai imbalan
sehubungan dengan pekerjaan, jasa, dan kegiatan yang dilakukan.
f. Imbalan kepada peserta kegiatan, antara lain berupa uang saku, uang
representasi, uang rapat, honorarium, hadiah atau penghargaan dengan nama
dan dalam bentuk apapun, dan imbalan sejenis dengan nama apapun.
g. Penerimaan dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan lainnya dengan nama
dan dalam bentuk apapun yang diberikan oleh:
1) Bukan Wajib pajak.
2) Wajib Pajak yang dikenakan Pajak Penghasilan yang bersifat final.
3) Wajib Pajak yang dikenakan Pajak Penghasilan berdasarkan norma
penghitungan khusus (deemed profit).

15 | P a g e
2. Penghasilan yang Tidak Dipotong PPh Pasal 21
Tidak termasuk dalam pengertian penghasilan yang dipotong PPh Pasal 21
adalah:
a. Pembayaran manfaat atau santunan asuransi dari perusahaan asuransi
sehubungan dengan asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa,
asuransi dwiguna, dan asuransi bea siswa.
b. Penerimaan dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan dalam bentuk apapun
diberikan oleh Wajib Pajak atau Pemerintah.
c. Iuran pensiun yang dibayarkan kepada dana pensiun yang pendiriannya telah
disahkan oleh Menteri Keuangan, iuran tunjangan hari tua atau iuran jaminan
hari tua kepada badan penyelenggara tunjangan hari tua atau badan
penyelenggara jaminan sosial tenaga kerja yang dibayar oleh pemberi kerja.
d. Zakat yang diterima oleh orang pribadi yang berhak dari badan atau lembaga
amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh Pemerintah, atau sumbangan
keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang diakui di Indonesia
yang diterima oleh orang pribadi yang berhak dari lembaga keagamaan yang
dibentuk atau disahkan oleh Pemerintah sepanjang tidak ada hubungan dengan
usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan di antara pihak-pihak yang
bersangkutan.
e. Beasiswa yang dikecualikan dari objek pajak sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 4 ayat (3) huruf l UU PPh.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 246/PMK.03/2008 sebagaimana telah
diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 154/PMK.03/2009, mengatur
antara lain:
 Atas penghasilan berupa beasiswa yang diterima atau diperoleh Warga
Negara Indonesia dari Wajib Pajak pemberi beasiswa dalam rangka
mengikuti pendidikan formal3 dan/atau pendididikan nonformal4 yang
dilaksanakan di dalam negeri dan/atau di luar negeri dikecualikan dari objek
Pajak Penghasilan.
 Komponen beasiswa yang dikecualikan dari objek Pajak Penghasilan terdiri
dari biaya pendidikan yang dibayarkan ke sekolah (tuition fee), biaya ujian,
biaya penelitian yang berkaitan dengan bidang studi yang diambil, biaya

3 Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas tingkat pendidikan
dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.
4 Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara

terstruktur dan berjenjang.

16 | P a g e
untuk pembelian buku, dan/atau biaya hidup yang wajar sesuai dengan
daerah lokasi tempat belajar.
 Ketentuan tentang beasiswa yang dikecualikan dari objek Pajak Penghasilan
tidak berlaku apabila penerima beasiswa mempunyai hubungan istimewa
dengan pemilik, komisaris, direksi, atau pengurus dari Wajib Pajak pemberi
beasiswa.
3. Penerimaan dalam Bentuk Natura dan/atau Kenikmatan
Gambar. Peta Konsep Perlakuan Perpajakan atas Natura/Kenikmatan

- BUKAN Wajib Pajak


Merupakan
- WP yang dikenai PPh yang bersifat
Penghasilan
FINAL
yang
- WP yang dikenai PPh berdasarkan
DIPOTONG
Norma Penghitungan Khusus
PPh Pasal 21
(deemed profit) Pasal 15 UU PPh
NATURA
Diberikan
dan/atau oleh:
KENIKMATAN
DIKECUALIKAN
dari OBJEK PPh
- Wajib Pajak
sehingga TIDAK
- Pemerintah DIPOTONG PPh
Pasal 21

4. Premi Asuransi dan Iuran Pensiun/THT/JHT yang Dibayar oleh Pemberi Kerja
Gambar. Peta Konsep Perlakuan Perpajakan atas Premi Asuransi dan Iuran
Pensiun/THT/JHT yang Dibayar oleh Pemberi Kerja

PROGRAM JAMSOSTEK
- JKK (Jaminan Kecelakaan Kerja)
- JKM (Jaminan Kematian) DIBAYAR oleh PENGHASILAN
- JPK (Jaminan Pemeliharaan Kesehatan) PEMBERI KERJA bagi
PEGAWAI TETAP

PREMI
ASURANSI
BUKAN sebagai
DIBAYAR oleh PENGURANGAN
Premi Asuransi: PEGAWAI TETAP dalam
KESEHATAN, KECELAKAAN, JIWA, Penghitungan
DWIGUNA, BEASISWA PPh Pasal 21

BUKAN
DIBAYAR oleh PENGHASILAN
PEMBERI KERJA bagi
PEGAWAI TETAP

IURAN PENSIUN,
THT, dan/atau JHT

PENGURANGAN
DIBAYAR oleh dalam
PEGAWAI TETAP Penghitungan
PPh Pasal 21 17 | P a g e
5. PPh Pasal 21 Ditanggung/Dibayar Pemberi Kerja dan Tunjangan PPh Pasal 21
Gambar. Peta Konsep Perlakuan Perpajakan
PPh Pasal 21 Ditanggung/Dibayar Pemberi Kerja dan Tunjangan PPh Pasal 21

BUKAN
PPh Pasal 21
Penghasilan yang
DITANGGUNG
DIPOTONG PPh
PEMBERI KERJA
Pasal 21

PPh Pasal 21

Penghasilan yang
TUNJANGAN
DIPOTONG PPh
PPh Pasal 21
Pasal 21

Menurut (Mansury, 1999) apabila PPh Pasal 21 atas gaji pegawai ditanggung
oleh pemberi kerja, maka pajak yang ditanggung oleh pemberi kerja tersebut dalam
dunia perpajakan lazim disebut kenikmatan atau fringe benefits atau benefit in kind.
Berdasarkan Pasal 4 ayat (3) huruf d dan Pasal 9 ayat (1) huruf e UU PPh, fringe
benefit semacam itu merupakan penghasilan yang dikecualikan dari objek PPh, jadi
tidak dikenakan pajak kepada yang memperoleh kenikmatan tersebut, melainkan
dikenakan pajak kepada pemberi kerja, melalui mekanisme yang tidak
memperbolehkan pemberi kerja untuk mengurangkannya sebagai biaya untuk
menentukan besarnya penghasilan kena pajak.
Menurut (Mansury, 1999) dalam hal kepada seorang pegawai diberikan
tunjangan pajak, agar pegawai yang bersangkutan tetap menerima gajinya
sepenuhnya, maka tunjangan pajak tersebut merupakan penghasilan bagi pegawai
yang bersangkutan yang dikenakan pajak. Oleh karena itu, dalam menghitung PPh
Pasal 21-nya, besarnya tunjangan pajak ditambahkan kepada gaji pegawai tersebut
untuk mendapatkan penghasilan bruto.
E. Penghasilan Tidak Kena Pajak
Pasal 6 ayat (3) UU PPh mengatur bahwa untuk menghitung besarnya Penghasilan
Kena Pajak Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri, penghasilan netonya dikurangi
dengan jumlah Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). Pasal 7 ayat (1) UU PPh
mengatur bahwa PTKP per tahun diberikan paling sedikit sebesar:

PENGHASILAN TIDAK KENA PAJAK (PTKP)

Rp15.840.000,00 Untuk diri Wajib Pajak orang pribadi


18 | P a g e

Rp1.320.000,00 Tambahan untuk Wajib Pajak yang kawin


Contoh penerapan PTKP:
Wajib Pajak Sam Yanuardi mempunyai seorang isteri dengan tanggungan 4 orang
anak. Apabila isterinya memperoleh penghasilan dari satu pemberi kerja yang sudah
dipotong PPh Pasal 21 dan pekerjaan tersebut tidak ada hubungannya dengan usaha
suami atau anggota keluarga lainnya, besarnya PTKP yang diberikan kepada Sam
Yanuardi adalah sebesar:
 untuk diri WP OP Rp15.840.000,00
 tambahan – Wajib Pajak yang kawin Rp 1.320.000,00
 tambahan – 3 anak yang menjadi tanggungan sepenuhnya
Rp 3.960.000,00
3 x Rp 1.320.000,00
PTKP Rp21.120.000,00
Pasal 7 ayat (2) UU PPh mengatur bahwa penghitungan besarnya PTKP ditentukan
menurut keadaan Wajib Pajak pada awal tahun pajak atau pada awal bagian tahun
pajak. Misalnya, pada tanggal 1 Januari 2009 Wajib Pajak Feri Wahyudi berstatus kawin
dengan tanggungan 1 orang anak. Apabila anak yang kedua lahir setelah tanggal 1
Januari 2009, besarnya PTKP yang diberikan kepada Wajib Pajak Feri Wahyudi untuk
tahun pajak 2009 tetap dihitung berdasarkan status kawin dengan 1 anak.

STATUS PTKP

Tidak Kawin, ditambah dengan banyaknya tanggungan yang mendapat pengurangan


TK/…
PTKP

K/… Kawin, ditambah dengan banyaknya tanggungan yang mendapat pengurangan PTKP

Kawin, isteri mempunyai penghasilan yang digabungkan dengan penghasilan suami,


K/I/…
ditambah dengan banyaknya tanggungan yang mendapat pengurangan PTKP

PH/… Wajib Pajak kawin yang pisah harta dan penghasilan

19 | P a g e
Wajib Pajak kawin yang telah hidup berpisah ditambah banyaknya tanggungan
yang mendapat pengurangan PTKP
HB/…
F. Tarif PPh Pasal 21

TARIF Pasal 17 ayat (1) huruf a UU PPh

Lapisan PENGHASILAN KENA PAJAK TARIF PAJAK

s.d. Rp50.000.000,00 5%

diatas Rp50.000.000,00 s.d. Rp250.000.000,00 15%

diatas Rp250.000.000,00 s.d. Rp500.000.000,00 25%

diatas Rp500.000.000,00 30%

 Tarif berdasarkan Pasal 17 ayat (1) huruf a UU PPh diterapkan atas Penghasilan
Kena Pajak dari:
1. Pegawai tetap.
2. Penerima pensiun berkala yang dibayarkan secara bulanan.
3. Pegawai tidak tetap atau tenaga kerja lepas yang dibayarkan secara bulanan.
 Tarif berdasarkan Pasal 17 ayat (1) huruf a UU PPh diterapkan atas jumlah kumulatif
dalam satu tahun kalender dari:
a. Penghasilan Kena Pajak bagi bukan pegawai yang menerima imbalan yang
bersifat berkesinambungan yang memenuhi ketentuan sebagai berikut:
1). Hanya memperoleh penghasilan dari hubungan kerja dengan Pemotong PPh
Pasal 21.
2). Tidak memperoleh penghasilan lainnya.
b. 50% dari jumlah penghasilan bruto untuk setiap pembayaran imbalan bagi bukan
pegawai yang bersifat berkesinambungan yang tidak memenuhi ketentuan.

20 | P a g e
c. Jumlah penghasilan bruto berupa honorarium atau imbalan yang bersifat tidak
teratur yang diterima atau diperoleh anggota dewan komisaris atau dewan
pengawas yang tidak merangkap sebagai pegawai tetap pada perusahaan yang
sama.
d. Jumlah penghasilan bruto berupa jasa produksi , tantiem, gratifikasi, bonus atau
imbalan lain yang bersifat tidak teratur yang diterima atau diperoleh mantan
pegawai.
e. Jumlah penghasilan bruto berupa penarikan dana pensiun oleh peserta program
pensiun yang masih berstatus sebagai pegawai, dari dana pensiun yang
pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan.
 Tarif berdasarkan Pasal 17 ayat (1) huruf a UU PPh diterapkan atas:
a. 50% dari jumlah penghasilan bruto untuk setiap pembayaran imbalan kepada
bukan pegawai yang tidak bersifat berkesinambungan.
b. Jumlah penghasilan bruto untuk setiap kali pembayaran yang bersifat utuh dan
tidak dipecah, yang diterima oleh peserta kegiatan.
Peta konsep Tarif PPh Pasal 21

TARIF PPh Pasal 21

Diterapkan atas Bagi

PEGAWAI TETAP

Penghasilan
Kena Pajak PENERIMA PENSIUN BERKALA yang Dibayarkan secara Bulanan
(PhKP)
PEGAWAI TIDAK TETAP/Tenaga Kerja Lepas yang Dibayarkan
TARIF Pasal 17 Ayat (1) UU PPh

secara Bulanan

PhKP bagi BUKAN PEGAWAI yang menerima imbalan yang bersifat


berkesinambungan yang memenuhi ketentuan

50% dari JUMLAH Ph BRUTO bagi BUKAN PEGAWAI yang bersifat


berkesinambungan yang TIDAK memenuhi ketentuan
Jumlah
KUMULATIF JUMLAH Ph BRUTO honorarium/imbalan yang bersifat tidak teratur yang
dalam 1 Tahun diterima DEWAN KOMISARIS yang tidak merangkap sbg pegawai tetap
pada perusahaan yang sama
Kalender JUMLAH Ph BRUTO jasa produksi , tantiem, gratifikasi, bonus/imbalan lain
yang bersifat tidak teratur yang diterima/diperoleh MANTAN PEGAWAI

JUMLAH Ph BRUTO berupa penarikan dana pensiun oleh


PESERTA PROGRAM PENSIUN yang masih berstatus sebagai PEGAWAI

50% dari JUMLAH Ph BRUTO untuk setiap pembayaran imbalan kepada


BUKAN PEGAWAI YANG TIDAK BERSIFAT BERKESINAMBUNGAN

JUMLAH Ph BRUTO untuk setiap kali pembayaran yang bersifat utuh dan tidak dipecah,
yang diterima oleh PESERTA KEGIATAN

21 | P a g e
G. Dasar Pengenaan dan Pemotongan PPh Pasal 21
1. PPh Pasal 21 bagi PEGAWAI TETAP
a. Peta Konsep PPh Pasal 21 bagi Pegawai Tetap dan Penerima Pensiun
Berkala
Gambar. Peta Konsep PPh Pasal 21
bagi Pegawai Tetap dan Penerima Pensiun Berkala

PEGAWAI TETAP PENERIMA PENSIUN BERKALA

PENGHASILAN BRUTO PENGHASILAN BRUTO


- GAJI
- TUNJANGAN dan Pembayaran Teratur Lainnya,
termasuk Uang Lembur (overtime) dan
UANG PENSIUN BULANAN
pembayaran sejenisnya
- PREMI ASURANSI yang DIBAYAR oleh PEMBERI
KERJA

DIKURANGI DENGAN: DIKURANGI DENGAN:


- BIAYA JABATAN
- IURAN PENSIUN, JHT, dan/atau THT yang DIBAYAR BIAYA PENSIUN
oleh PEGAWAI TETAP

PENGHASILAN NETO (SETAHUN/DISETAHUNKAN)

DIKURANGI dengan: PTKP (PENGHASILAN TIDAK KENA PAJAK)

PENGHASILAN KENA PAJAK (PhKP) SETAHUN/DISETAHUNKAN

TARIF PPh Pasal 21: Tarif PPh Pasal 17 ayat (1) huruf a UU PPh

PPh Pasal 21 TERUTANG atas PhKP SETAHUN/DISETAHUNKAN

PPh Pasal 21 TERUTANG

PPh Pasal 21 TERUTANG SEBULAN (PPh Pasal 21 Terutang dibagi 12 atau banyaknya bulan)

b. Pengertian Pegawai Tetap dan Penerima Pensiun Berkala


Pegawai tetap adalah pegawai yang menerima atau memperoleh
penghasilan dalam jumlah tertentu secara teratur, termasuk anggota dewan
komisaris dan anggota dewan pengawas yang secara teratur terus menerus ikut
mengelola kegiatan perusahaan secara langsung, serta pegawai yang bekerja
berdasarkan kontrak untuk suatu jangka waktu tertentu sepanjang pegawai yang
bersangkutan bekerja penuh (full time) dalam pekerjaan tersebut.

22 | P a g e
Penerima pensiun adalah orang pribadi atau ahli warisnya yang menerima
atau memperoleh imbalan untuk pekerjaan yang dilakukan di masa lalu,
termasuk orang pribadi atau ahli warisnya yang menerima tunjangan hari tua
atau jaminan hari tua.
c. Pengurangan yang Diperbolehkan
1) Biaya Jabatan atau Biaya Pensiun
Gambar. Peta Konsep Biaya Jabatan/Biaya Pensiun

Maksimal
Rp6.000.000,00 setahun
atau
PEGAWAI TETAP BIAYA JABATAN Rp500.000,00 sebulan

5% x Penghasilan BRUTO

PENERIMA
PENSIUN BERKALA BIAYA PENSIUN
Maksimal
Rp2.400.000,00 setahun
atau
Rp200.000,00 sebulan

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 250/PMK.03/2008, mengatur antara lain:


 Besarnya biaya jabatan yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto
untuk penghitungan pemotongan Pajak Penghasilan bagi pegawai tetap
ditetapkan sebesar 5% dari penghasilan bruto, setinggi-tingginya
Rp6.000.000,00 setahun atau Rp500.000,00 sebulan.
 Besarnya biaya pensiun yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto
untuk penghitungan pemotongan Pajak Penghasilan bagi pensiunan
ditetapkan sebesar 5% dari penghasilan bruto, setinggi-tingginya
Rp2.400.000,00 setahun atau Rp200.000,00 sebulan.
2) Iuran yang Terkait dengan Gaji
Iuran yang terkait dengan gaji yang dibayar oleh Pegawai:
a. Iuran Pensiun
Iuran pensiun yang dibayar oleh pegawai kepada dana pensiun yang
pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan.
b. Iuran THT/JHT (Tunjangan Hari Tua/Jaminan Hari Tua)

23 | P a g e
Iuran THT/JHT yang dibayar oleh pegawai kepada badan penyelenggara
tunjangan hari tua atau jaminan hari tua yang dipersamakan dengan dana
pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan.
3) PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak)
a. Besarnya PTKP per tahun adalah:
 Rp15.840.000,00 untuk diri Wajib Pajak orang pribadi.
 Rp1.320.000,00 tambahan untuk Wajib Pajak yang kawin.
 Rp1.320.000,00 tambahan untuk setiap anggota keluarga sedarah
dan keluarga semenda dalam garis keturunan lurus serta anak
angkat, yang menjadi tanggungan sepenuhnya5, paling banyak 3
orang untuk setiap keluarga.
b. Besarnya PTKP bagi karyawati berlaku ketentuan sebagai berikut:
 Bagi karyawati kawin, sebesar PTKP untuk dirinya sendiri.
Dalam hal karyawati kawin dapat menunjukkan keterangan tertulis
dari Pemerintah Daerah setempat serendah-rendahnya kecamatan
yang menyatakan bahwa suaminya tidak menerima atau memperoleh
penghasilan, besarnya PTKP adalah PTKP untuk dirinya sendiri
ditambah PTKP untuk status kawin dan PTKP untuk keluarga yang
menjadi tanggungan sepenuhnya.
 Bagi karyawati tidak kawin, sebesar PTKP untuk dirinya sendiri
ditambah PTKP untuk keluarga yang menjadi tanggungan
sepenuhnya.
Gambar. Peta Konsep PTKP untuk Karyawati

PTKP untuk KARYAWATI

KARYAWATI KAWIN KARYAWATI TIDAK KAWIN

Suami TIDAK menerima/


memperoleh Penghasilan

 Untuk dirinya sendiri


HANYA untuk  Untuk dirinya sendiri
 Status Kawin
dirinya sendiri  Tanggungan, Maks 3 orang
 Tanggungan, Maks 3 orang

5 Yang dimaksud dengan "anggota keluarga yang menjadi tanggungan sepenuhnya" adalah anggota keluarga
yang tidak mempunyai penghasilan dan seluruh biaya hidupnya ditanggung oleh Wajib Pajak.

24 | P a g e
c. Besarnya PTKP ditentukan berdasarkan keadaan pada awal tahun
kalender, kecuali besarnya PTKP untuk pegawai yang baru datang dan
menetap di Indonesia dalam bagian tahun kalender ditentukan
berdasarkan keadaan pada awal bulan dari bagian tahun kalender yang
bersangkutan.
d. Peta Konsep Penghitungan PPh Pasal 21 yang Harus Dipotong Setiap
Bulan
Gambar.
Peta Konsep Penghitungan PPh Pasal 21 yang Harus Dipotong Setiap Bulan

PENGHITUNGAN PPh PASAL 21 yang HARUS DIPOTONG SETIAP BULAN

SETIAP MASA PAJAK, kecuali


MASA PAJAK TERAKHIR
Masa Pajak Terakhir

DIHITUNG dari

Selisih antara PPh Pasal 21 yang terutang


Perkiraan PENGHASILAN NETO yang akan
atas SELURUH PENGHASILAN KENA PAJAK
diperoleh selama SETAHUN
selama SETAHUN dengan PPh Pasal 21
 Penghasilan Teratur sebulan dikali 12
yang telah dipotong masa sebelumnya

e. Penghitungan Masa/Bulanan Selain Masa Pajak Desember/Masa Pajak


Dimana Pegawai Tetap Berhenti Bekerja
1) Penghitungan PPh Pasal 21 atas Penghasilan Teratur
a) Penghitungan PPh Pasal 21 atas Penghasilan Teratur bagi Pegawai
Tetap
(1) Penghitungan PPh Pasal 21 Pegawai Tetap dengan Gaji Bulanan
Dhio Oktoviano Dwi Koska pada tahun 2009 bekerja pada PT Zamrud
PPh Pasal 21
Abadi dengan memperoleh gaji sebulan Rp2.500.000,00 dan
1 membayar iuran pensiun sebesar Rp100.000,00. Dhio Oktoviano Dwi
Contoh
Koska menikah tetapi belum mempunyai anak.
Penghitungan PPh Pasal 21 adalah sebagai berikut:
Gaji sebulan Rp 2.500.000,00

25 | P a g e
Pengurangan :
1. Biaya Jabatan6
5% x Rp2.500.000,00 Rp 125.000,00
2. Iuran pensiun Rp 100.000,00 Rp 225.000,00
Penghasilan neto sebulan Rp 2.275.000,00
Penghasilan neto setahun
12 x Rp2.275.000,00 Rp27.300.000,00
PTKP
- untuk WP sendiri Rp15.840.000,00
- tambahan WP kawin Rp 1.320.000,00 Rp17.160.000,00
PhKP setahun Rp10.140.000,00
PPh Pasal 21 terutang
5% x Rp10.140.000,00 Rp 507.000,00
PPh Pasal 21 sebulan
Rp507.000,00 : 12 Rp 42.250,007

Erlangga Gilang Pradana pegawai pada PT Yasa Buana, menikah


PPh Pasal 21
tetapi belum mempunyai anak, memperoleh gaji sebulan
2 Rp2.000.000,00. PT Yasa Buana mengikuti program Jamsostek,
Contoh
premi Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Premi Jaminan Kematian
(JKM) dibayar oleh pemberi kerja dengan jumlah masing-masing
0,50% dan 0,30% dari gaji. PT Yasa Buana menanggung iuran
Jaminan Hari Tua (JHT) setiap bulan sebesar 3,70% dari gaji
sedangkan Erlangga Gilang Pradana membayar iuran JHT sebesar
2,00% dari gaji setiap bulan.
PT Yasa Buana membayar iuran pensiun untuk Erlangga Gilang
Pradana ke dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh
Menteri Keuangan, setiap bulan sebesar Rp100.000,00, sedangkan
Erlangga Gilang Pradana membayar iuran pensiun sebesar
Rp50.000,00.
Penghitungan PPh Pasal 21 adalah sebagai berikut:
Gaji sebulan Rp 2.000.000,00

6
Biaya Jabatan adalah biaya untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan yang dapat
dikurangkan dari penghasilan setiap orang yang bekerja sebagai pegawai tetap tanpa memandang
mempunyai jabatan ataupun tidak.
7
Dalam hal pegawai yang bersangkutan belum memiliki NPWP, maka jumlah PPh Pasal 21 yang
harus dipotong adalah sebesar: 120% x Rp 42.250,00 = Rp50.700,00.

26 | P a g e
Premi JKK Rp 10.000,00
Premi JKM Rp 6.000,00
Penghasilan bruto Rp 2.016.000,00
Pengurangan :
1. Biaya Jabatan
5% x Rp2.016.000,00 Rp 100.800,00
2. Iuran pensiun Rp 50.000,00
3. Iuran Jaminan Hari Tua Rp 40.000,00 Rp 190.800,00
Penghasilan neto sebulan Rp 1.825.200,00
Penghasilan neto setahun
12 x Rp1.825.200,00 Rp21.902.400,00
PTKP
- untuk WP sendiri Rp15.840.000,00
- tambahan WP kawin Rp 1.320.000,00 Rp17.160.000,00
PhKP setahun Rp 4.742.400,00
8
Pembulatan Rp 4.742.000,00
PPh Pasal 21 terutang
5% x Rp4.742.000,00 Rp 237.100,00
PPh Pasal 21 sebulan
Rp237.100,00 : 12 Rp 19.758,00

Endang Vidyawati adalah seorang karyawati dengan status menikah


PPh Pasal 21
tetapi belum mempunyai anak, bekerja pada PT Ventura Entiti dengan
3 gaji sebulan sebesar Rp2.500.000,00. Endang Vidyawati membayar
Contoh iuran pensiun ke dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh
Menteri Keuangan sebesar Rp50.000,00 sebulan. Berdasarkan surat
keterangan dari Pemda tempat Endang Vidyawati berdomisili yang
diserahkan kepada pemberi kerja, diketahui bahwa suaminya tidak
mempunyai penghasilan apapun.
Penghitungan PPh Pasal 21 adalah sebagai berikut:
Gaji sebulan Rp 2.500.000,00
Pengurangan:
1. Biaya Jabatan

8 Pasal 17 ayat (4) UU PPh: Untuk keperluan penerapan tarif pajak, jumlah Penghasilan Kena Pajak
dibulatkan ke bawah dalam ribuan rupiah penuh. Contoh: Penghasilan Kena Pajak sebesar
Rp5.050.900,00 untuk penerapan tarif dibulatkan ke bawah menjadi Rp5.050.000,00.

27 | P a g e
5% x Rp2.500.000,00 Rp 125.000,00
2. Iuran pensiun Rp 50.000,00 Rp 175.000,00
Penghasilan neto sebulan Rp 2.325.000,00
Penghasilan neto setahun
12 x Rp2.325.000,00 Rp27.900.000,00
PTKP
- untuk WP sendiri Rp15.840.000,00
- tambahan WP kawin Rp 1.320.000,00 Rp17.160.000,00
PhKP setahun Rp10.740.000,00
PPh Pasal 21 terutang
5% x Rp10.740.000,00 Rp 537.000,00
PPh Pasal 21 sebulan
Rp537.000,00 : 12 Rp 44.750,00

Firma Utami karyawati dengan status menikah tetapi belum


PPh Pasal 21
mempunyai anak bekerja pada PT Unggul Farmindo. Firma Utami
4
menerima gaji Rp3.000.000,00 sebulan. PT Unggul Farmindo
Contoh
mengikuti program pensiun dan jamsostek. Perusahaan membayar
iuran pensiun kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan
oleh Menteri Keuangan, sebesar Rp40.000,00 sebulan.
Firma Utami juga membayar iuran pensiun sebesar Rp30.000,00
sebulan, disamping itu perusahaan membayarkan iuran JHT
karyawannya setiap bulan sebesar 3,70% dar gaji, sedangkan Firma
Utami membayar iuran JHT setiap bulan sebasar 2,00% dari gaji.
Berdasarkan surat keterangan Pemda tempat Firma Utami bertempat
tinggal diketahui bahwa suami Firma Utami tidak mempunyai
penghasilan apapun. Premi JKK dan JKM dibayar oleh pemberi kerja
masing-masing sebesar 1,00% dan 0,30% dari gaji.
Penghitungan PPh Pasal 21 adalah sebagai berikut:
Gaji sebulan Rp 3.000.000,00
Premi JKK Rp 30.000,00
Premi JKM Rp 9.000,00
Penghasilan bruto Rp 3.039.000,00
Pengurangan :
1. Biaya Jabatan
5% x Rp3.039.000,00 Rp 151.950,00

28 | P a g e
2. Iuran pensiun Rp 30.000,00
3. Iuran Jaminan Hari Tua Rp 60.000,00 Rp 241.950,00
Penghasilan neto sebulan Rp 2.797.050,00
Penghasilan neto setahun
12 x Rp2.797.050,00 Rp33.564.600,00
PTKP
- untuk WP sendiri Rp15.840.000,00
9
- tambahan WP kawin Rp 1.320.000,00 Rp17.160.000,00
Penghasilan Kena Pajak Rp16.404.600,00
Pembulatan Rp16.404.000,00
PPh Pasal 21 terutang
5% x Rp16.404.000,00 Rp 820.200,00
PPh Pasal 21 sebulan
Rp820.200,00 : 12 Rp 68.350,00

(2) Penghitungan PPh Pasal 21 Pegawai Tetap dengan Gaji


Mingguan atau Gaji Harian10
Catur Sugiarto, menikah dengan satu anak, bekerja sebagai pegawai
PPh Pasal 21
tetap pada PT Teguh Gemilang menerima gaji yang dibayar mingguan
5
sebesar Rp600.000,00.
Contoh
Penghitungan PPh Pasal 21:
Gaji sebulan
4 x Rp600.000,00 Rp 2.400.000,00
Pengurangan :
1. Biaya Jabatan
5% x Rp2.400.000,00 Rp 120.000,00
Penghasilan neto sebulan Rp 2.280.000,00
Penghasilan neto setahun
12 x Rp2.280.000,00 Rp27.360.000,00
PTKP
- untuk WP sendiri Rp15.840.000,00
- tambahan WP kawin Rp 1.320.000,00

9
Apabila suami Firma Utami menerima/memperoleh penghasilan, besarnya PTKP Firma Utami
adalah PTKP untuk diri sendiri sebesar Rp15.840.000,00
10
Contoh-contoh perhitungan ini hanya berlaku bagi pegawai tetap (bukan pegawai tidak
tetap atau tenaga kerja lepas) yang gajinya dibayar mingguan atau harian.

29 | P a g e
- tambahan untuk 1 anak Rp 1.320.000,00 Rp18.480.000,00
Penghasilan Kena Pajak Rp 8.880.000,00
PPh Pasal 21 setahun
5% x Rp8.880.000,00 Rp 444.000,00
PPh Pasal 21 sebulan
Rp444.000,00 : 12 Rp 37.000,00
PPh 21 atas gaji mingguan
Rp37.000,00 : 4 Rp 9.250,00

Sunoto Adi Prasetyo pegawai pada PT Segara Hurip dengan


PPh Pasal 21
memperoleh gaji mingguan sebesar Rp500.000,00. Sunoto Adi
6 Prasetyo kawin dan mempunyai seorang anak. PT Segara Hurip
Contoh masuk program Jamsostek, premi JKK dan premi JKM dibayar oleh
pemberi kerja masing-masing sebesar 1,00% dan 0,30% dari gaji
setiap bulan. PT Segara Hurip membayar iuran JHT setiap bulan
sebesar 3,70% dari gaji dan Sunoto Adi Prasetyo membayar iuran
pensiun Rp10.000,00 dan JHT sebesar 2,00% dari gaji.
Penghitungan PPh Pasal 21:
Gaji sebulan
4 x Rp500.000,00 Rp 2.000.000,00
Premi JKK Rp 20.000,00
Premi JKM Rp 6.000,00
Penghasilan bruto Rp 2.026.000,00
Pengurangan :
1. Biaya Jabatan
5% x Rp2.026.000,00 Rp 101.300,00
2. Iuran pensiun Rp 10.000,00
3. Iuran JHT Rp 40.000,00 Rp 151.300,00
Penghasilan neto sebulan Rp 1.874.700,00
Penghasilan neto setahun
12 x Rp1.874.700,00 Rp22.496.400,00
PTKP
- untuk WP sendiri Rp15.840.000,00
- tambahan WP kawin Rp 1.320.000,00
- tambahan untuk 1 anak Rp 1.320.000,00 Rp18.480.000,00
Penghasilan Kena Pajak Rp 4.016.400,00

30 | P a g e
Pembulatan Rp 4.016.000,00
PPh Pasal 21 setahun
5% x Rp4.016.000,00 Rp 200.800,00
PPh Pasal 21 sebulan
Rp200.800,00 : 12 Rp 16.733,00
PPh 21 atas gaji mingguan
Rp16.733,00 : 4 Rp 4.183,00

PPh Pasal 21
Candra Ady Pamungkas pegawai tetap pada PT Rejo Indonusa
dengan memperoleh gaji yang dibayar harian sebesar Rp80.000,00.
7
Candra Ady Pamungkas kawin dan mempunyai seorang anak. PT
Contoh
Rejo Indonusa masuk program Jamsostek, premi JKK dan premi JKM
dibayar oleh pemberi kerja sebesar 1,00% dan 0,30% dari gaji setiap
bulan. PT Rejo Indonusa membayar iuran JHT setiap bulan sebesar
3,70% dari gaji dan Candra Ady Pamungkas membayar iuran pensiun
Rp15.000,00 dan JHT sebesar 2,00% dari gaji.
Penghitungan PPh Pasal 21:
Gaji sebulan
26 x Rp80.000,00 Rp 2.080.000,00
Premi JKK Rp 20.800,00
Premi JKM Rp 6.240,00
Penghasilan bruto Rp 2.107.040,00
Pengurangan :
1. Biaya Jabatan
5% x Rp2.107.040,00 Rp 105.352,00
2. Iuran pensiun Rp 15.000,00
3. Iuran Jaminan Hari Tua Rp 41.600,00 Rp 161.952,00
Penghasilan neto sebulan Rp 1.945.088,00
Penghasilan neto setahun
12 x Rp1.945.088,00 Rp23.341.056,00
PTKP
- untuk WP sendiri Rp15.840.000,00
- tambahan WP kawin Rp 1.320.000,00
- tambahan untuk 1 anak Rp 1.320.000,00 Rp18.480.000,00
Penghasilan Kena Pajak Rp 4.861.056,00
Pembulatan Rp 4.861.000,00

31 | P a g e
PPh Pasal 21 setahun
5% x Rp4.861.000,00 Rp 243.050,00
PPh Pasal 21 sebulan
Rp243.050,00 : 12 Rp 20.254,00
PPh Pasal 21 sehari
Rp20.254,00 : 26 Rp 779,00

b) Penghitungan PPh Pasal 21 atas Pembayaran Uang Rapel

PPh Pasal 21 Dhio Oktoviano Dwi Koska sebagaimana dimaksud dalam Contoh 1, pada
bulan Juni 2009 menerima kenaikan gaji menjadi Rp3.500.000,00 sebulan
8
dan berlaku surut sejak 1 Januari 2009.
Contoh
Dengan adanya kenaikan gaji yang berlaku surut tersebut maka Dhio
Oktoviano Dwi Koska menerima rapel sejumlah Rp5.000.000,00
(kekurangan gaji untuk masa Januari s.d. Mei 2009). Untuk menghitung
PPh Pasal 21 atas uang rapel tersebut, terlebih dahulu dihitung kembali
PPh Pasal 21 untuk masa Januari s.d. Mei 2009 atas dasar penghasilan
setelah ada kenaikan gaji.
Dengan demikian penghitungan PPh Pasal 21 terutangnya adalah
sebagai berikut:
Gaji sebulan Rp 3.500.000,00
Pengurangan :
1. Biaya Jabatan
5% x Rp3.500.000,00 Rp 175.000,00
2. Iuran pensiun Rp 100.000,00 Rp 275.000,00
Penghasilan neto sebulan Rp 3.225.000,00
Penghasilan neto setahun
12 x Rp3.225.000,00 Rp38.700.000,00
PTKP
- untuk WP sendiri Rp15.840.000,00
- tambahan WP kawin Rp 1.320.000,00 Rp17.160.000,00
PhKP setahun Rp21.540.000,00
PPh Pasal 21 setahun
5% x Rp21.540.000,00 Rp 1.077.000,00
PPh Pasal 21 sebulan
Rp1.077.000,00 : 12 Rp 89.750,00
PPh Pasal 21 Jan s.d. Mei 2009 seharusnya

32 | P a g e
5 x Rp89.750,00 Rp 448.750,00
PPh Pasal 21 sudah dipotong Jan s.d. Mei 200911
5 x Rp42.250,00 Rp 211.250,00
PPh Pasal 21 – Uang Rapel Rp 237.500,00

c) Penghitungan PPh Pasal 21 atas Penghasilan Pegawai yang


Dipindahtugaskan12 dalam Tahun Berjalan

PPh Pasal 21
Reza Krishnawardana yang berstatus belum menikah adalah pegawai PT
Nusantara Mandiri di Jakarta. Sejak 1 Juni 2009 dipindahtugaskan ke
9
kantor cabang di Bandung dan pada 1 Oktober 2009 dipindahtugaskan
Contoh
lagi ke kantor cabang di Purwokerto. Gaji Reza Krishnawardana sebesar
Rp3.500.000,00 dan pembayaran iuran pensiun yang dibayar sendiri
sebulan sejumlah Rp100.000,00.
Penghitungan PPh Pasal 21:
Kantor Pusat Jakarta
Gaji sebulan Rp 3.500.000,00
Pengurangan :
1. Biaya Jabatan
5% x Rp3.500.000,00 Rp 175.000,00
2. Iuran pensiun Rp 100.000,00 Rp 275.000,00
Penghasilan neto sebulan Rp 3.225.000,00
Penghasilan neto setahun
12 x Rp3.225.000,00 Rp38.700.000,00
PTKP
- untuk WP sendiri Rp15.840.000,00
Penghasilan Kena Pajak Rp22.860.000,00
PPh Pasal 21 setahun
5% x Rp22.860.000,00 Rp 1.143.000,00
PPh Pasal 21 sebulan
Rp1.143.000,00 : 12 Rp 95.250,00
PPh 21 terutang & harus dipotong Jan – Mei 2009:
5/12 x Rp1.143.000,00 Rp 476.250,00

11Lihat perhitungan dalam Contoh 1.


12Pada saat pegawai dipindahtugaskan, pegawai yang bersangkutan tidak berhenti bekerja dari perusahaan
tempat dia bekerja. Pegawai yang bersangkutan masih tetap bekerja pada perusahaan yang sama dan hanya
berubah lokasinya saja. Dengan demikian dalam penghitungan PPh Pasal 21 tetap menggunakan dasar
penghitungan selama setahun.

33 | P a g e
PPh 21 sudah dipotong masa Jan s.d. Mei 2009:
5 x Rp95.250,00 Rp 476.250,00
PPh Pasal 21 kurang (lebih) dipotong NIHIL

Pengisian Formulir 1721-A1 di Kantor Pusat Jakarta


Gaji Jan s.d. Mei 2009
5 x Rp3.500.000,00 Rp 17.500.000,00
Pengurangan :
1. Biaya Jabatan
5% x Rp17.500.000,00 Rp875.000,00
2. Iuran pensiun
5 x Rp100.000,00 Rp500.000,00 Rp 1.375.000,00
Penghasilan neto 5 bulan Rp16.125.000,00
Penghasilan neto disetahunkan
12/5 x Rp16.125.000,00 Rp38.700.000,00
PTKP
- untuk WP sendiri Rp15.840.000,00
Penghasilan Kena Pajak Rp22.860.000,00
PPh Pasal 21 disetahunkan
5% x Rp22.860.000,00 Rp 1.143.000,00
PPh Pasal 21 terutang
5/12 x Rp1.143.000,00 Rp 476.250,00
PPh Pasal 21 sudah dipotong Jan s.d. Mei 2009:
5 x Rp95.250,00 Rp 476.250,00
PPh Pasal 21 kurang (lebih) dipotong NIHIL

Kantor Cabang Bandung


a. Penghasilan Neto di Bandung
Gaji Juni s.d. Sept 2009
4 x Rp3.500.000,00 Rp14.000.000,00
Pengurangan :
1. Biaya Jabatan
5% x Rp14.000.000,00 Rp700.000,00
2. Iuran pensiun
4 x Rp100.000,00 Rp400.000,00 Rp 1.100.000,00
Penghasilan neto di Bandung Rp12.900.000,00

34 | P a g e
b. Penghasilan Neto di Jakarta Rp16.125.000,00
Jumlah Penghasilan Neto 9 bulan Rp29.025.000,00
Penghasilan neto disetahunkan
12/9 x Rp29.025.000,00 Rp38.700.000,00
PTKP
- untuk WP sendiri Rp15.840.000,00
Penghasilan Kena Pajak disetahunkan Rp22.860.000,00
PPh Pasal 21 disetahunkan
5% x Rp22.860.000,00 Rp 1.143.000,00
PPh Pasal 21 sebulan
Rp1.143.000,00 : 12 Rp 95.250,00
PPh Pasal 21 terutang & harus dipotong Jan s.d. Sept 2009
9/12 x Rp1.143.000,00 Rp 857.250,00
PPh 21 terutang di Jakarta sesuai Form 1721 - A1 Rp 476.250,00
PPh 21 dipotong Juni s.d. Sept 2009 di Bandung:
4 x Rp95.250,00 Rp 381.000,00
PPh Pasal 21 kurang (lebih) dipotong NIHIL

Pengisian Formulir 1721-A1 di Kantor Cabang Bandung


Penghasilan neto di Bandung
Gaji Juni s.d. Sept 2009
4 x Rp3.500.000,00 Rp 14.000.000,00
Pengurangan :
1. Biaya Jabatan
5% x Rp14.000.000,00 Rp700.000,00
2. Iuran pensiun
4 x Rp100.000,00 Rp400.000,00 Rp 1.100.000,00
Penghasilan neto di Bandung Rp12.900.000,00
Penghasilan neto di Jakarta Rp16.125.000,00
Jumlah Penghasilan Neto 9 bulan Rp29.025.000,00
Penghasilan neto disetahunkan
12/9 x Rp29.025.000,00 Rp38.700.000,00
PTKP
- untuk WP sendiri Rp15.840.000,00
Penghasilan Kena Pajak Rp22.860.000,00
PPh Pasal 21 disetahunkan

35 | P a g e
5% x Rp22.860.000,00 Rp 1.143.000,00
PPh Pasal 21 terutang
9/12 x Rp1.143.000,00 Rp 857.250,00
PPh Pasal 21 yang sudah dipotong dan dilunasi
Di Jakarta (sesuai Form 1721-A1) Rp 476.250,00
Di Bandung (4 x Rp95.250,00) Rp 381.000,00
PPh Pasal 21 kurang (lebih) dipotong NIHIL

Kantor Cabang Purwokerto


a. Penghasilan Neto di Purwokerto
Gaji Okt s.d. Des 2009
3 x Rp3.500.000,00 Rp10.500.000,00
Pengurangan:
1. Biaya Jabatan
5% x Rp10.500.000,00 Rp 525.000,00
2. Iuran pensiun
3 x Rp100.000,00 Rp300.000,00 Rp 825.000,00
Penghasilan neto di Purwokerto Rp 9.675.000,00
b. Penghasilan Neto di Jakarta Rp16.125.000,00
c. Penghasilan Neto di Bandung Rp12.900.000,00
Jumlah Penghasilan Neto Setahun Rp38.700.000,00
PTKP
- untuk WP sendiri Rp15.840.000,00
Penghasilan Kena Pajak disetahunkan Rp22.860.000,00
PPh Pasal 21 terutang setahun
5% x Rp22.860.000,00 Rp 1.143.000,00
PPh 21 Jakarta & Bandung (sesuai form 1721-A1) Rp 857.250,00
PPh Pasal 21 terutang di Purwokerto Rp 285.750,00
PPh Pasal 21 sebulan yang harus dipotong di Purwokerto
Rp285.750,00 : 3 Rp 95.250,00

Pengisian Formulir 1721-A1 di Kantor Cabang Purwokerto


Penghasilan neto di Purwokerto
Gaji Okt s.d. Des 2009
3 x Rp3.500.000,00 Rp 10.500.000,00
Pengurangan :

36 | P a g e
1. Biaya Jabatan
5% x Rp10.500.000,00 Rp525.000,00
2. Iuran pensiun
3 x Rp100.000,00 Rp300.000,00 Rp 825.000,00
Penghasilan neto di Purwokerto Rp 9.675.000,00
Penghasilan neto di Jakarta Rp16.125.000,00
Penghasilan neto di Bandung Rp12.900.000,00
Penghasilan neto setahun Rp38.700.000,00
PTKP
- untuk WP sendiri Rp15.840.000,00
Penghasilan Kena Pajak Rp22.860.000,00
PPh Pasal 21 setahun
5% x Rp22.860.000,00 Rp 1.143.000,00
PPh 21 Jakarta & Bandung (sesuai form 1721-A1) Rp 857.250,00
PPh Pasal 21 terutang di Purwokerto Rp 285.750,00
PPh Pasal 21 telah dipotong (3xRp 95.250,00) Rp 285.750,00
PPh Pasal 21 kurang (lebih) dipotong NIHIL

d) PPh Pasal 21 Sebagian atau Seluruh Ditanggung Pemberi Kerja


Dalam hal PPh Pasal 21 atas gaji pegawai ditanggung oleh pemberi kerja,
pajak yang ditanggung pemberi kerja tersebut termasuk dalam pengertian
kenikmatan dan bukan merupakan penghasilan pegawai yang
bersangkutan.
Sam Wahyudi Junaib adalah pegawai PT Lautan Otomata dengan status
PPh Pasal 21
menikah dan mempunyai 3 orang anak. Sam Wahyudi Junaib menerima
10 gaji Rp4.000.000,00 sebulan dan PPh ditanggung oleh pemberi kerja.
Contoh
Tiap bulan Sam Wahyudi Junaib membayar iuran pensiun ke dana
pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan
sebesar Rp150.000,00.
Penghitungan PPh Pasal 21:
Gaji sebulan Rp 4.000.000,00
Pengurangan :
1. Biaya Jabatan
5% x Rp4.000.000,00 Rp 200.000,00
2. Iuran pensiun Rp 150.000,00 Rp 350.000,00
Penghasilan neto sebulan Rp 3.650.000,00

37 | P a g e
Penghasilan neto setahun
12 x Rp3.650.000,00 Rp43.800.000,00
PTKP
- untuk WP sendiri Rp15.840.000,00
- tambahan karena menikah Rp 1.320.000,00
- tambahan 3 orang anak Rp 3.960.000,00 Rp 21.120.000,00
Penghasilan Kena Pajak Rp22.680.000,00
PPh Pasal 21 setahun
5% x Rp22.680.000,00 Rp 1.134.000,00
PPh Pasal 21 sebulan
Rp1.134.000,00 : 12 Rp 94.500,00

PPh Pasal 21 sebesar Rp 94.500,00 ini ditanggung dan dibayar oleh


pemberi kerja. Jumlah sebesar Rp94.500,00 tidak dapat dikurangkan dari
Penghasilan Bruto pemberi kerja dan bukan merupakan penghasilan yang
dikenakan pajak kepada Sam Wahyudi Junaib.
Namun apabila pemberi kerja adalah bukan Wajib Pajak selain
pemerintah atau Wajib Pajak yang pengenaan pajaknya berdasarkan PPh
Final atau berdasarkan norma penghitungan khusus (demeed profit),
maka kenikmatan berupa pajak yang ditanggung pemberi kerja
ditambahkan ke dalam penghasilan dari pegawai yang bersangkutan, dan
penghitungan pajaknya dilakukan sesuai Contoh 11.
e) Penghitungan PPh Pasal 21 Pegawai Tetap yang Menerima
Tunjangan Pajak
Dalam hal kepada pegawai diberikan tunjangan pajak, maka tunjangan
pajak tersebut merupakan penghasilan pegawai yang bersangkutan dan
ditambahkan pada penghasilan yang diterimanya.
Feri Safiqul Awab (status kawin dengan 3 orang anak) bekerja pada PT
PPh Pasal 21
Kartika Kawashima Pionirindo dengan memperoleh gaji Rp2.500.000,00
11
sebulan. Kepada Feri Safiqul Awab diberikan tunjangan pajak sebesar
Contoh
Rp25.000,00. Iuran pensiun yang dibayar oleh Feri Safiqul Awab adalah
sebesar Rp25.000,00 sebulan.
Gaji sebulan Rp 2.500.000,00
Tunjangan Pajak Rp 25.000,00
Penghasilan bruto sebulan Rp 2.525.000,00
Pengurangan :

38 | P a g e
1. Biaya Jabatan
5% x Rp2.525.000,00 Rp 126.250,00
2. Iuran pensiun Rp 25.000,00 Rp 151.250,00
Penghasilan neto sebulan Rp 2.373.750,00
Penghasilan neto setahun
12 x Rp2.373.250,00 Rp28.485.000,00
PTKP
- untuk WP sendiri Rp15.840.000,00
- tambahan karena menikah Rp 1.320.000,00
- tambahan 3 orang anak Rp 3.960.000,00 Rp 21.120.000,00
Penghasilan Kena Pajak Rp 7.365.000,00
PPh Pasal 21 setahun
5% x Rp7.365.000,00 Rp 368.250,00
PPh Pasal 21 sebulan
Rp368.250,00 : 12 Rp 30.688,00

Selisih pajak terutang dengan tunjangan pajak adalah Rp30.688,00 -


Rp25.000,00 = Rp5.688,00 dapat ditanggung oleh Feri Safiqul Awab yaitu
dengan dipotongkan dari penghasilan bulan yang bersangkutan atau
ditanggung oleh pemberi kerja/ pemotong pajak.
Apabila selisih sebesar Rp5.688,00 tersebut ditanggung oleh pemberi
kerja/pemotong pajak maka jumlah tersebut bukan merupakan biaya yang
dapat dikurangkan dalam menghitung Penghasilan Kena Pajak pemberi
kerja/pemotong pajak.
f) Penghitungan PPh Pasal 21 atas Penerimaan dalam Bentuk Natura/
Kenikmatan yang Diberikan oleh Wajib Pajak yang Pengenaan Pajak
Penghasilannya Bersifat Final atau Berdasarkan Norma
Penghitungan Khusus (Deemed Profit)

PPh Pasal 21
Brian Yanuardi adalah WNI yang bekerja pada suatu perwakilan dagang
asing yang pengenaan pajaknya menggunakan norma penghitungan
12
khusus (deemed profit), memperoleh gaji sebesar Rp1.500.000,00
Contoh
sebulan beserta beras 30kg dan gula 10kg. Brian Yanuardi berstatus
menikah dengan 1 orang anak. Nilai uang dihitung berdasarkan harga
pasar yaitu harga beras Rp10.000,00 per kg, sedangkan harga gula
Rp8.000,00 per kg.
Penghitungan PPh Pasal 21:

39 | P a g e
Gaji sebulan Rp 1.500.000,00
Beras : 30 x Rp10.000,00 Rp 300.000,00
Gula : 10 x Rp 8.000,00 Rp 80.000,00
Penghasilan bruto sebulan Rp 1.880.000,00
Pengurangan :
1. Biaya Jabatan: 5% x Rp1.880.000,00 Rp 94.000,00
Penghasilan neto sebulan Rp 1.786.000,00
Penghasilan neto setahun: 12 x Rp1.786.000,00 Rp21.432.000,00
PTKP
- untuk WP sendiri Rp15.840.000,00
- tambahan karena menikah Rp 1.320.000,00
- tambahan 1 orang anak Rp 1.320.000,00 Rp 18.480.000,00
Penghasilan Kena Pajak Rp 2.952.000,00
PPh Pasal 21 setahun: 5% x Rp2.952.000,00 Rp 147.600,00
PPh Pasal 21 sebulan: Rp147.600,00 : 12 Rp 12.300,00

g) Penghitungan PPh Pasal 21 atas Penghasilan Teratur bagi Penerima


Pensiun Berkala
(1) Penghitungan PPh Pasal 21 pada Tahun Pertama Dibayarkannya
Uang Pensiun Secara Bulanan
Penghitungan PPh Pasal 21 di Tempat Pemberi Kerja Sebelum
Pensiun
Apabila waktu pensiun sudah dapat diketahui dengan pasti pada awal
tahun, misalnya berdasarkan ketentuan yang berlaku di tempat
pemberi kerja yang dikaitkan dengan usia pegawai yang
bersangkutan, maka penghitungan PPh Pasal 21 terutang sebulan
dihitung berdasarkan penghasilan kena pajak yang akan diperoleh
dalam periode dimana pegawai yang bersangkutan akan bekerja
dalam tahun berjalan sebelum memasuki masa pensiun.
Namun, apabila waktu pensiun belum dapat diketahui dengan pasti
pada waktu menghitung PPh Pasal 21 yang terutang untuk setiap
bulan, maka penghitungan PPh Pasal 21 didasarkan pada perkiraan
penghasilan neto setahun seperti pada Contoh I.6.2.1. Penghitungan
Pemotongan PPh Pasal 21 atas Penghasilan Pegawai yang Masih
Memiliki Kewajiban Pajak Subjektif Berhenti Bekerja pada Tahun
Berjalan.

40 | P a g e
Raden Suryaman, berstatus kawin dengan 2 orang anak yang masih
PPh Pasal 21
menjadi tanggungan, bekerja sebagai pegawai tetap pada PT Indo
13
Rejo Abadi dengan gaji sebulan Rp5.000.000,00. Raden Suryaman
Contoh
setiap bulan membayar iuran pensiun Rp250.000,00 ke Dana Pensiun
“Swadhana Utama” yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri
Keuangan. Terhitung mulai 1 Juli 2009, Raden Suryawan akan
memasuki masa pensiun.
Penghitungan PPh Pasal 21 sebulan:
Gaji sebulan Rp 5.000.000,00
Pengurangan :
1. Biaya Jabatan
5% x Rp5.000.000,00 Rp 250.000,00
2. Iuran Pensiun Rp 250.000,00 Rp 500.000,00
Penghasilan neto sebulan Rp 4.500.000,00
Penghasilan neto 6 bulan (Jan-Juni 2009)
6 x Rp4.500.000 Rp27.000.000,00
PTKP
- untuk WP sendiri Rp15.840.000,00
- tambahan krn menikah Rp 1.320.000,00
- tambahan 2 orang anak Rp 2.640.000,00 Rp19.800.000,00
Penghasilan Kena Pajak Rp 7.200.000,00
PPh Pasal 21 terutang
5% x Rp7.200.000,00 Rp 360.000,00
PPh Pasal 21 sebulan
Rp360.000,00 : 6 Rp 60.000,00

Pada saat Raden Suryaman berhenti bekerja dan memasuki masa


pensiun, maka pemberi kerja memberikan bukti pemotongan PPh
Pasal 21 (Form 1721-A1) dengan data sebagai berikut:
Gaji 6 bulan: 6 x Rp5.000.000,00 Rp30.000.000,00
Pengurangan :
1. Biaya Jabatan
5% x Rp30.000.000,00 Rp 1.500.000,00
2. Iuran Pensiun
6 x Rp250.000,00 Rp 1.500.000,00 Rp 3.000.000,00
Penghasilan neto 6 bulan Rp27.000.000,00

41 | P a g e
PTKP
- untuk WP sendiri Rp15.840.000,00
- tambahan krn menikah Rp 1.320.000,00
- tambahan 2 anak Rp 2.640.000,00 Rp19.800.000,00
Penghasilan Kena Pajak Rp 7.200.000,00
PPh Pasal 21 terutang
5% x Rp7.200.000,00 Rp 360.000,00
PPh 21 telah dipotong
6 x Rp60.000,00 Rp 360.000,00
PPh Pasal 21 kurang (lebih) dipotong NIHIL

Apabila pemotongan PPh Pasal 21 setiap bulan didasarkan pada


penghasilan yang disetahunkan, karena pada saat perhitungan belum
diketahui secara pasti saat pensiun atau berhenti bekerja, maka pada
saat penghitungan PPh Pasal 21 terutang untuk masa terakhir (saat
pensiun atau berhenti bekerja), akan terjadi kelebihan pemotongan
PPh Pasal 21 atas penghasilan pegawai yang bersangkutan, yang
harus dikembalikan oleh pemotong pajak kepada pegawai yang
bersangkutan.

Penghitungan PPh Pasal 21 oleh Dana Pensiun yang


Membayarkan Uang Pensiun Bulanan.
Untuk kemudahan dan kesederhanaan bagi pegawai yang pensiun
dalam hal yang bersangkutan tidak mempunyai penghasilan selain
dari pekerjaan dari satu pemberi kerja dan uang pensiun, Dana
Pensiun menghitung pemotongan PPh Pasal 21 atas uang pensiun
pada tahun pertama pegawai menerima uang pensiun dengan
berdasarkan pada gunggungan penghasilan neto dari pemberi kerja
sampai dengan pensiun dan perkiraan uang pensiun yang akan
diterima dalam tahun kalender yang bersangkutan. Agar Dana
Pensiun dapat melakukan pemotongan PPh Pasal 21 seperti itu,
maka penerima pensiun harus segera menyerahkan bukti
pemotongan PPh Pasal 21 (Formulir 1721 A-1/1721 A-2) dari pemberi
kerja sebelumnya.
Melanjutkan contoh sebelumnya:
Selanjutnya, mulai bulan Juli 2009 Raden Suryaman memperoleh
uang pensiun dari Dana Pensiun Swadhana Utama sebesar

42 | P a g e
Rp3.000.000,00 sebulan. Penghitungan PPh Pasal 21 terutang atas
uang pensiun adalah sebagai berikut:
Pensiun sebulan Rp 3.000.000,00
Pengurangan :
1. Biaya Pensiun
5% x Rp3.000.000,00 Rp 150.000,00
Penghasilan neto sebulan Rp 2.850.000,00
Penghasilan neto Juli s.d. Des 2009: Rp17.100.000,00
6 x Rp2.850.000
Penghasilan neto dari PT Indo Rejo Abadi sesuai
form 1721-A1 Rp27.000.000,00
Jumlah penghasilan neto tahun 2009 Rp44.100.000,00
PTKP Rp19.800.000,00
Penghasilan Kena Pajak Rp24.300.000,00
PPh Pasal 21 terutang:
5% x Rp24.300.000,00 Rp 1.215.000,00
PPh 21 terutang di PT Indo Rejo Abadi sesuai
Form 1721-A1 Rp 360.000,00
PPh Pasal 21 terutang pada Dana Pensiun
“Swadhana Utama”, selama 6 bulan Rp 855.000,00
PPh Pasal 21 atas uang pensiun yang harus
dipotong tiap bulan adalah: Rp855.000,00 : 6 Rp 142.500,00

Penghitungan kembali PPh Pasal 21 oleh Dana Pensiun


Swadhana Utama untuk dicantumkan dalam Form 1721-A1:
Pensiun 6 bulan
6 x Rp3.000.000,00 Rp18.000.000,00
Pengurangan :
1. Biaya Pensiun
5% x Rp18.000.000,00 Rp 900.000,00
Penghasilan neto 6 bulan Rp17.100.000,00
Penghasilan neto dari PT Indo Rejo Abadi
sesuai Form 1721 A1 Rp27.000.000,00
Jumlah penghasilan neto tahun 2009 Rp44.100.000,00
PTKP Rp19.800.000,00
Penghasilan Kena Pajak Rp24.300.000,00

43 | P a g e
PPh Pasal 21 terutang:
5% x Rp24.300.000,00 Rp 1.215.000,00
PPh Pasal 21 terutang di PT Indo Rejo Abadi
sesuai Form 1721-A1 Rp 360.000,00
PPh Pasal 21 terutang pada Dana Pensiun
Swadhana Utama, selama 6 bulan adalah Rp 855.000,00
PPh Pasal 21 yang telah dipotong
6 x Rp142.500,00 Rp 855.000,00
PPh Pasal 21 kurang (lebih) dipotong NIHIL

(2) Penghitungan PPh Pasal 21 atas Pembayaran Uang Pensiun


Secara Bulanan pada Tahun Kedua dan Seterusnya
Dengan menggunakan contoh sebelumnya, penghitungan PPh Pasal
21 atas uang pensiun bulanan mulai Januari 2010 (tahun kedua yang
bersangkutan pensiun) adalah sebagai berikut:
Pensiun sebulan Rp 3.000.000,00
Pengurangan :
1. Biaya Pensiun
5% x Rp3.000.000,00 Rp 150.000,00
Penghasilan neto sebulan Rp 2.850.000,00
Penghasilan neto disetahunkan
12 x Rp2.850.000,00 Rp34.200.000,00
PTKP
- untuk WP sendiri Rp15.840.000,00
- tambahan krn menikah Rp 1.320.000,00
- tambahan 2 orang anak Rp 2.640.000,00 Rp19.800.000,00
Penghasilan Kena Pajak Rp14.400.000,00
PPh Pasal 21 terutang:
5% x Rp14.400.000,00 Rp 720.000,00
PPh Pasal 21 sebulan
Rp720.000,00 : 12 Rp 60.000,00

2) Penghitungan PPh Pasal 21 atas Penghasilan Tidak Teratur13 bagi


Pegawai Tetap

13Penghasilan berupa: jasa produksi, tantiem gratifikasi, tunjangan hari raya atau tahun baru, bonus,
premi, dan penghasilan sejenis lainnya yang sifatnya tidak tetap dan pada umumnya diberikan sekali
dalam setahun.

44 | P a g e
Contoh
Joko Qurnain (tidak kawin) bekerja pada PT Qolbu Jaya dengan memperoleh
PPh Pasal 21
gaji Rp2.000.000,00 sebulan. Dalam tahun yang bersangkutan Joko
14
menerima bonus sebesar Rp5.000.000,00. Setiap bulannya Joko membayar
Contoh
iuran pensiun ke dana Pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh
Menteri Keuangan sebesar Rp60.000,00.
Cara menghitung PPh Pasal 21 atas bonus adalah:
PPh Pasal 21 atas Gaji dan Bonus (Penghasilan Setahun)
Gaji setahun
12 x Rp2.000.000,00 Rp24.000.000,00
Bonus Rp 5.000.000,00
Penghasilan bruto setahun Rp29.000.000,00
Pengurangan :
1. Biaya Jabatan
5% x Rp29.000.000,00 Rp1.450.000,00
2. Iuran Pensiun
12 x Rp60.000,00 Rp 720.000,00 Rp 2.170.000,00
Penghasilan neto setahun Rp26.830.000,00
PTKP
- untuk WP sendiri Rp15.840.000,00
Penghasilan Kena Pajak Rp10.990.000,00
PPh Pasal 21 terutang atas Gaji dan Bonus
5% x Rp10.990.000,00 Rp 549.500,00

PPh Pasal 21 atas Gaji Setahun


Gaji setahun
12 x Rp2.000.000,00 Rp24.000.000,00
Pengurangan :
1. Biaya Jabatan
5% x Rp24.000.000,00 Rp1.200.000,00
2. Iuran Pensiun
12 x Rp60.000,00 Rp 720.000,00 Rp 1.920.000,00
Penghasilan neto setahun Rp22.080.000,00
PTKP
- untuk WP sendiri Rp15.840.000,00
Penghasilan Kena Pajak Rp 6.240.000,00

45 | P a g e
PPh Pasal 21 terutang atas Gaji
5% x Rp6.240.000,00 Rp 312.000,00

PPh Pasal 21 atas Bonus


PPh 21 terutang atas Gaji Setahun & Bonus Rp 549.500,00
PPh Pasal 21 terutang atas Gaji Setahun Rp 312.000,00
PPh Pasal 21 terutang atas Bonus Rp 237.500,00

PPh Pasal 21
Ken Prameswari (tidak kawin) bekerja pada PT Prabu Kedaton dengan
memperoleh gaji Rp2.750.000,00 sebulan. Perusahaan ikut dalam program
15
jamsostek. Premi JKK dan premi JKM dan Iuran JHT dibayar oleh pemberi
Contoh
kerja setiap bulan masing-masing sebesar 1,00%, 0,30% dan 3,70% dari gaji.
Prameswari membayar iuran Pensiun Rp50.000,00 dan iuran JHT sebesar
2,00% dari gaji untuk setiap bulan. Dalam tahun berjalan dia juga menerima
bonus sebesar Rp4.000.000,00
Cara menghitung PPh Pasal 21 atas bonus adalah sebagai berikut:
PPh Pasal 21 atas Gaji dan Bonus (penghasilan setahun)
Gaji setahun
12 x Rp2.750.000,00 Rp33.000.000,00
Premi Jaminan Kecelakaan Kerja
12 x Rp 27.500,00 Rp 330.000,00
Premi Jaminan Kematian
12 x Rp 8.250,00 Rp 99.000,00
Jumlah Penghasilan Teratur Rp33.429.000,00
Bonus Rp 4.000.000,00
Penghasilan bruto setahun Rp37.429.000,00
Pengurangan :
1. Biaya Jabatan
5% x Rp37.429.000,00 Rp1.871.450,00
2. Iuran Pensiun
12 x Rp50.000,00 Rp 600.000,00
3. Iuran Jaminan Hari Tua
12 x Rp55.000,00 Rp 660.000,00 Rp 3.131.450,00
Penghasilan neto setahun Rp34.297.550,00
PTKP
- untuk WP sendiri Rp15.840.000,00

46 | P a g e
Penghasilan Kena Pajak Rp18.457.550,00
Dibulatkan Rp18.457.000,00
PPh Pasal 21 terutang atas Gaji dan Bonus
5% x Rp18.457.000,00 Rp 922.850,00

PPh Pasal 21 atas Gaji Setahun


Gaji setahun
12 x Rp2.750.000,00 Rp33.000.000,00
Premi Jaminan Kecelakaan Kerja
12 x Rp 27.500,00 Rp 330.000,00
Premi Jaminan Kematian
12 x Rp 8.250,00 Rp 99.000,00
Penghasilan bruto setahun Rp33.429.000,00
Pengurangan :
1. Biaya Jabatan
5% x Rp33.429.000,00 Rp 1.671.450,00
2. Iuran Pensiun
12 x Rp50.000,00 Rp 600.000,00
3. Iuran Jaminan Hari Tua
12 x Rp55.000,00 Rp 660.000,00 Rp 2.931.450,00
Penghasilan neto setahun Rp30.497.550,00
PTKP
- untuk WP sendiri Rp15.840.000,00
Penghasilan Kena Pajak Rp14.657.550,00
Dibulatkan Rp14.657.000,00
PPh Pasal 21 terutang atas Gaji Setahun
5% x Rp14.657.000,00 Rp 732.850,00

PPh Pasal 21 atas Bonus


PPh 21 terutang atas Gaji Setahun dan Bonus Rp 922.850,00
PPh Pasal 21 terutang atas Gaji Setahun Rp 732.850,00
PPh Pasal 21 terutang atas Bonus Rp 190.000,00

3) Penghitungan PPh Pasal 21 atas Penghasilan Pegawai yang Berhenti


Bekerja atau Mulai Bekerja dalam Tahun Berjalan

MASA PEROLEHAN PENGHASILAN < 12 BULAN

DISETAHUNKAN TIDAK DISETAHUNKAN


47 | P a g e
 WP OP DN Meninggal Dunia  WP OP DN mulai bekerja di
atau meninggalkan Indonesia pertengahan tahun.
untuk selama-lamanya di  WP OP DN pindah kerja ke
pertengahan tahun. pemberi kerja lain.
a) Pegawai Baru Mulai Bekerja pada Tahun Berjalan
Penghitungan PPh Pasal 21 atas Penghasilan pegawai yang
kewajiban pajak subjektifnya sebagai Subjek Pajak dalam negeri
sudah ada sejak awal tahun kalender tetapi baru bekerja pada
pertengahan tahun

PPh Pasal 21
Budiyanta bekerja pada PT Xiang Malam sebagai pegawai tetap sejak 1
September 2009. Catur menikah tetapi belum punya anak. Gaji sebulan
16
adalah sebesar Rp6.000.000,00 dan iuran pensiun yang dibayar tiap
Contoh
bulan sebesar Rp150.000,00.
Penghitungan PPh Pasal 21 tahun 2009 adalah sebagai berikut:
Gaji sebulan Rp 6.000.000,00
Pengurangan :
1. Biaya Jabatan
5% x Rp6.000.000,00 Rp 300.000,00
2. Iuran Pensiun Rp 150.000,00 Rp 450.000,00
Penghasilan neto sebulan Rp 5.550.000,00
Penghasilan neto setahun
4 x Rp5.550.000,00 Rp22.200.000,00
PTKP
- untuk WP sendiri Rp15.840.000,00
- tambahan karena menikah Rp 1.320.000,00 Rp 17.160.000,00
Penghasilan Kena Pajak Rp 5.040.000,00
PPh Pasal 21 terutang
5% x Rp5.040.000,00 Rp 252.000,00
PPh Pasal 21 sebulan
Rp252.000,00 : 4 Rp 63.000,00

48 | P a g e
Penghitungan PPh Pasal 21 atas Penghasilan pegawai yang
kewajiban pajak subjektifnya sebagai Subjek Pajak dalam negeri
dimulai setelah permulaan tahun pajak, dan mulai bekerja pada
tahun berjalan.
David Raisita (K/3) mulai bekerja 1 September 2009. Ia bekerja di
PPh Pasal 21
Indonesia s.d. Agustus 2012. Selama Tahun 2009 menerima gaji per
17 bulan Rp20.000.000,00.
Contoh
Penghitungan PPh Pasal 21 Tahun 2009 adalah sebagai berikut:
Gaji sebulan Rp 20.000.000,00
Pengurangan :
1. Biaya Jabatan
5% x Rp20.000.000,00 Rp 1.000.000,00
Maksimum Diperkenankan Rp 500.000,00
Penghasilan neto sebulan Rp 19.500.000,00
Penghasilan neto 4 bulan
4 x Rp19.500.000 Rp 78.000.000,00
Penghasilan Neto Disetahunkan
12/4 x Rp78.000.000,00 Rp234.000.000,00
PTKP
- untuk WP sendiri Rp15.840.000,00
- tambahan karena menikah Rp 1.320.000,00
- tambahan 3 orang anak Rp 3.960.000,00 Rp 21.120.000,00
Penghasilan Kena Pajak Disetahunkan Rp212.880.000,00
PPh Pasal 21 Disetahunkan
5% x Rp 50.000.000,00 Rp 2.500.000,00
15% x Rp162.880.000,00 Rp24.432.000,00 Rp 26.932.000,00
PPh Pasal 21 Terutang untuk tahun 2009
4/12 x Rp26.932.000,00 Rp 8.977.333,00
PPh Pasal 21 terutang sebulan
Rp8.977.333,00 : 4 Rp 2.244.333,00

b) Pegawai Berhenti Bekerja pada Tahun Berjalan


Pegawai Yang Masih Memiliki Kewajiban Pajak Subjektif Berhenti
Bekerja Pada Tahun Berjalan

PPh Pasal 21
Arip Marwanto yang berstatus belum menikah adalah pegawai PT
Mahakam Utama di Yogyakarta. Sejak 1 Oktober 2009, Arip Marwanto
18
Contoh

49 | P a g e
berhenti bekerja di PT Mahakam Utama. Gaji Arip Marwanto setiap bulan
sebesar Rp3.500.000,00 dan yang bersangkutan membayar iuran
pensiun kepada Dana Pensiun yang pendiriannya telah mendapat
persetujuan Menteri Keuangan sejumlah Rp100.000,00 setiap bulan.
Penghitungan PPh Pasal 21 yang dipotong setiap bulan:
Gaji sebulan Rp 3.500.000,00
Pengurangan :
1. Biaya Jabatan
5% x Rp3.500.000,00 Rp175.000,00
2. Iuran Pensiun Rp100.000,00 Rp 275.000,00
Penghasilan neto sebulan Rp 3.225.000,00
Penghasilan neto setahun
12 x Rp3.225.000,00 Rp38.700.000,00
PTKP
- untuk WP sendiri Rp15.840.000,00
Penghasilan Kena Pajak Rp22.860.000,00
PPh Pasal 21 terutang
5% x Rp22.860.000,00 Rp 1.143.000,00
PPh Pasal 21 sebulan
Rp1.143.000,00 : 12 Rp 95.250,00
Penghitungan PPh Pasal 21 yang terutang selama bekerja pada PT
Mahakam Utama dalam tahun kalender 2009 (s.d. September 2009)
dilakukan pada saat berhenti bekerja:
Gaji 9 bulan (Jan s.d. Sept 2009) Rp31.500.000,00
9 x Rp3.500.000,00
Pengurangan :
1. Biaya Jabatan
5% x Rp31.500.000,00 Rp1.575.000,00
2. Iuran Pensiun
9 x Rp100.000,00 Rp 900.000,00 Rp 2.475.000,00
Penghasilan neto 9 bulan Rp29.025.000,00
PTKP
- untuk WP sendiri Rp15.840.000,00
Penghasilan Kena Pajak Rp13.185.000,00
PPh Pasal 21 terutang

50 | P a g e
5% x Rp13.185.000,00 Rp 659.250,00

PPh Pasal 21 terutang masa Jan s.d. Sept 2009 Rp 659.250,00


PPh Pasal 21 sudah dipotong s.d. Agustus 2009
8 x Rp95.250,00 Rp 762.000,00
PPh Pasal 21 lebih dipotong Rp 102.750,00
Catatan:
Kelebihan pemotongan PPh Pasal 21 sebesar Rp102.750,00
dikembalikan oleh PT Mahakam Utama kepada yang bersangkutan pada
saat pemberian bukti pemotongan PPh Pasal 21.

Pegawai Berhenti Bekerja Pada Tahun Berjalan dan Sekaligus


Kehilangan Kewajiban Pajak Subjektif

PPh Pasal 21
Lewis Oshea (K/3) mulai bekerja Mei 2004 dan berhenti bekerja sejak 1
Juni 2009 dan meninggalkan Indonesia ke negara asalnya (kehilangan
19
kewajiban pajak subjektif). Selama tahun 2009 menerima gaji perbulan
Contoh
sebesar Rp15.000.000,00 dan pada bulan April 2009 menerima bonus
sebesar Rp20.000.000,00.
A. Penghitungan PPh Pasal 21 atas gaji adalah:
Gaji sebulan Rp 15.000.000,00
Pengurangan :
1. Biaya Jabatan
5% x Rp15.000.000,00 Rp 750.000,00
Maksimum Diperkenankan Rp 500.000,00
Penghasilan neto sebulan Rp 14.500.000,00
Penghasilan neto setahun
12 x Rp14.500.000,00 Rp174.000.000,00
PTKP
- untuk WP sendiri Rp15.840.000,00
- tambahan WP kawin Rp 1.320.000,00
- tambahan 3 orang anak Rp 3.960.000,00 Rp 21.120.000,00
Penghasilan Kena Pajak Rp152.880.000,00
PPh Pasal 21 terutang atas gaji
5% x Rp50.000.000,00 Rp 2.500.000,00
15% x Rp102.880.000,00 Rp15.432.000,00 Rp 17.932.000,00
PPh Pasal 21 atas gaji sebulan

51 | P a g e
Rp17.932.000,00 : 12 Rp 1.494.333,00

B. Penghitungan PPh Pasal 21 atas gaji dan bonus:


Gaji disetahunkan
12 x Rp15.000.000,00 Rp180.000.000,00
Bonus Rp 20.000.000,00
Jumlah Penghasilan Bruto Rp200.000.000,00
Pengurangan :
1. Biaya Jabatan
5% x Rp200.000.000,00 Rp10.000.000,00
Maks. Diperkenankan Rp 6.000.000,00
Penghasilan neto atas gaji setahun dan bonus Rp194.000.000,00
PTKP
- untuk WP sendiri Rp15.840.000,00
- tambahan WP kawin Rp 1.320.000,00
- tambahan 3 orang anak Rp 3.960.000,00 Rp 21.120.000,00
Penghasilan Kena Pajak Rp172.880.000,00
PPh Pasal 21 atas gaji dan bonus
5% x Rp50.000.000,00 Rp 2.500.000,00
15% x Rp122.880.000,00 Rp18.432.000,00 Rp 20.932.000,00

C. Penghitungan PPh Pasal 21 atas Bonus:


PPh Psl 21 terutang atas Gaji Setahun & Bonus Rp 20.932.000,00
PPh Pasal 21 terutang atas Gaji Setahun Rp 17.932.000,00
PPh Pasal 21 terutang atas Bonus Rp 3.000.000,00

D. Penghitungan kembali PPh Pasal 21 terutang pada saat pegawai


yang bersangkutan berhenti dan meninggalkan Indonesia untuk
selama-lamanya, yang dicantumkan dalam Form 1721-A1:
Gaji 5 bulan
5 x Rp15.000.000,00 Rp 75.000.000,00
Bonus Rp 20.000.000,00
Jumlah Penghasilan 5 bulan Rp 95.000.000,00
Pengurangan :
1. Biaya Jabatan
5% x Rp95.000.000,00 Rp4.750.000,00
Maks. Diperkenankan

52 | P a g e
5 x Rp500.000,00 Rp 2.500.000,00
Penghasilan neto selama 5 bulan Rp 92.500.000,00
Jumlah seluruh penghasilan neto disetahunkan
12/5 x Rp 92.500.000,00 Rp222.000.000,00
PTKP
- untuk WP sendiri Rp15.840.000,00
- tambahan WP kawin Rp 1.320.000,00
- tambahan 3 orang anak Rp 3.960.000,00 Rp 21.120.000,00
Penghasilan Kena Pajak Rp200.880.000,00
PPh 21 atas gaji dan bonus
5% x Rp50.000.000,00 Rp 2.500.000,00
15% x Rp150.880.000,00 Rp22.632.000,00 Rp 25.132.000,00
PPh Pasal 21 terutang atas penghasilan 5 bulan:
5/12 x Rp 25.132.000,00 Rp 10.471.667,00
PPh Pasal 21 dipotong s.d. April 2009 atas gaji & bonus:
(4 x Rp1.494.333,00) + Rp 3.000.000,00 Rp 8.977.333,00
PPh 21 terutang dan harus dipotong Mei 2009 Rp 1.494.333,00
Catatan:
Cara penghitungan di atas berlaku juga bagi pegawai yang kehilangan
kewajiban subjektifnya pada tahun berjalan karena meninggal dunia.
4) Penghitungan PPh Pasal 21 atas Penghasilan yang Sebagian atau
Seluruhnya Diperoleh dalam Mata Uang Asing
Neill Mc Leary adalah seorang karyawan memperoleh gaji pada bulan
PPh Pasal 21
Januari 2009 dalam mata uang asing sebesar US$2,000 sebulan. Kurs yang
20
berlaku untuk bulan Januari 2009 berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan
Contoh
adalah Rp11.250,00 per US$1.00. Neill Mc Leary berstatus menikah dengan
1 anak.
Penghitungan PPh Pasal 21 adalah:
Gaji sebulan
US$2,000 x Rp11.250,00 Rp 22.500.000,00
Pengurangan :
1. Biaya Jabatan
5% x Rp22.500.000,00 Rp 1.125.000,00
Maksimum Diperkenankan Rp 500.000,00
Penghasilan neto sebulan Rp 22.000.000,00

53 | P a g e
Penghasilan neto setahun
12 x Rp22.000.000,00 Rp264.000.000,00
PTKP
- untuk WP sendiri Rp15.840.000,00
- tambahan WP kawin Rp 1.320.000,00
- tambahan 1 orang anak Rp 1.320.000,00 Rp 18.480.000,00
Penghasilan Kena Pajak Rp245.520.000,00
PPh Pasal 21 terutang atas gaji
5% x Rp50.000.000,00 Rp 2.500.000,00
15% x Rp195.520.000,00 Rp29.328.000,00 Rp 31.828.000,00
PPh Pasal 21 atas gaji sebulan
Rp31.828.000,00 : 12 Rp 2.652.333,00

5) Penghitungan PPh Pasal 21 bagi Pegawai Tetap yang Baru Memiliki


NPWP pada Tahun Berjalan
Wahyu Santosa, status belum menikah dan tidak memiliki tanggungan
PPh Pasal 21
keluarga, bekerja pada PT Fajar Sejahtera dengan memperoleh gaji dan
21
tunjangan setiap bulan sebesar Rp5.500.000,00, dan yang bersangkutan
Contoh
membayar iuran pensiun kepada perusahaan Dana Pensiun yang
pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan setiap bulan sebesar
Rp200.000,00. Wahyu Santosa baru memiliki NPWP pada bulan Juni 2009
dan menyerahkan fotokopi kartu NPWP kepada PT Fajar Sejahtera untuk
digunakan sebagai dasar pemotongan PPh Pasal 21 bulan Juni.
Perhitungan PPh Pasal 21 yang harus dipotong setiap bulan Januari - Mei
2009 adalah sebagai berikut:
Gaji dan tunjangan sebulan Rp 5.500.000,00
Pengurangan :
1. Biaya Jabatan
5% x Rp5.500.000,00 Rp 275.000,00
2. Iuran Pensiun Rp 200.000,00 Rp 475.000,00
Penghasilan neto sebulan Rp 5.025.000,00
Penghasilan neto setahun
12 x Rp5.025.000,00 Rp60.300.000,00
PTKP (TK/0)
- untuk WP sendiri Rp15.840.000,00
Penghasilan Kena Pajak Rp44.460.000,00

54 | P a g e
PPh Pasal 21 terutang atas gaji
5% x Rp44.460.000,00 Rp 2.223.000,00
PPh Pasal 21 atas gaji sebulan
Rp2.223.000,00 : 12 Rp 185.250,00
PPh Pasal 21 yang harus dipotong karena belum
ber-NPWP: Rp 222.300,00
120% x Rp 185.250,00
PPh Pasal 21 yang dipotong dari Jan s.d. Mei 2009
5 x Rp222.300,00 Rp 1.111.500,00
PPh Pasal 21 terutang apabila yang bersangkutan
ber- NPWP Rp 926.250,00
5 x Rp185.250,00
Selisih
20% x 5 x Rp185.250,00 Rp 185.250,00

Penghitungan PPh Pasal 21 terutang dan yang harus dipotong untuk bulan
Juni 2009, setelah yang bersangkutan memiliki NPWP dan menyerahkan
fotokopi kartu NPWP kepada pemberi kerja, dengan catatan gaji dan
tunjangan untuk bulan Juni 2009 tidak berubah, adalah sebagai berikut:
PPh Pasal 21 terutang sebulan (perhitungan sebelumnya) Rp185.250,00
Diperhitungkan dengan pemotongan atas tambahan 20%
sebelum memiliki NPWP (Jan s.d. Mei 2009)
20% x 5 x Rp185.250,00 Rp185.250,00
PPh Pasal 21 yang harus dipotong bulan Juni 2009 NIHIL

Apabila Wahyu Santosa baru memiliki NPWP pada akhir November 2009 dan
menyerahkan fotokopi kartu NPWP sebelum pemotongan PPh Pasal 21
untuk bulan Desember 2009, dengan asumsi penghasilan setiap bulan
besarnya sama dan tidak ada penghasilan lain selain penghasilan tetap dan
teratur setiap bulan tersebut, maka perhitungan PPh Pasal 21 yang harus
dipotong pada bulan Desember 2009 adalah sebagai berikut:
PPh Pasal 21 terutang sebulan (perhitungan Rp185.250,00
sebelumnya)
Diperhitungkan dengan pemotongan atas tambahan 20%
sebelum memiliki NPWP (Jan s.d. Nov 2009)
20% x 11 x Rp185.250,00 (Rp407.550,00)

55 | P a g e
PPh Pasal 21 yang harus dipotong bulan Desember 2009 (Rp222.300,00)

Karena jumlah yang diperhitungkan lebih besar daripada jumlah PPh Pasal
21 terutang untuk bulan Desember 2009, maka jumlah PPh Pasal 21 yang
harus dipotong untuk bulan tersebut adalah Nihil. Jumlah sebesar Rp
222.300,00 dapat diperhitungkan dengan PPh Pasal 21 untuk bulan-bulan
selanjutnya dalam tahun kalender berikutnya. Karena jumlah tersebut sudah
diperhitungkan dengan PPh Pasal 21 terutang untuk bulan-bulan berikutnya,
jumlah tersebut tidak termasuk dalam kredit pajak yang dapat diperhitungkan
oleh pegawai tetap dalam Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan
Wajib Pajak Orang Pribadi yang bersangkutan.
Perhitungan PPh Pasal 21 terutang untuk tahun 2009, dimana Wahyu
Santosa sudah memiliki NPWP pada akhir bulan November 2009 sebelum
pemotongan PPh Pasal 21 bulan Desember 2009 adalah sebagai berikut:
Gaji dan tunjangan setahun
12 x Rp5.500.000,00 Rp 66.000.000,00
Pengurangan :
1. Biaya Jabatan
5% x Rp66.000.000,00 Rp3.300.000,00
2. Iuran Pensiun
12 x Rp200.000,00 Rp2.400.000,00 Rp 5.700.000,00
Penghasilan neto setahun Rp60.300.000,00
PTKP (TK/0)
- untuk WP sendiri Rp15.840.000,00
Penghasilan Kena Pajak Rp44.460.000,00
PPh Pasal 21 terutang atas gaji
5% x Rp44.460.000,00 Rp 2.223.000,00
PPh 21 telah dipotong Jan-Nov 2009
11 x Rp222.300,00 Rp2.445.300,00
Desember 2009 Rp 0,00 Rp 2.445.300,00
PPh Pasal 21 lebih dipotong untuk diperhitungkan pada
bulan selanjutnya dalam tahun kalender berikutnya (Rp 222.300,00)

Karena jumlah sebesar Rp222.300,00 sudah diperhitungkan dengan PPh


Pasal 21 terutang bulan berikutnya oleh Pemotong PPh Pasal 21, maka
jumlah yang dapat dikreditkan dalam Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak

56 | P a g e
Penghasilan Wajib Pajak Orang Pribadi pegawai yang bersangkutan sebesar
Rp 2.223.000,00
f. Penghitungan PPh Pasal 21 Yang Harus Dipotong Pada Masa Pajak
Terakhir
1. Bulan Desember untuk Pegawai Tetap yang Bekerja sampai dengan
akhir tahun kalender.
a) Dalam Hal Penghasilan Tetap dan Teratur Setiap Bulan Sama/Tidak
Berubah
Jumlah PPh Pasal 21 yang harus dipotong pada bulan Desember
besarnya sama dengan yang dipotong pada bulan-bulan sebelumnya.
b) Dalam Hal Besarnya Penghasilan Tetap dan Teratur Setiap Bulan
Mengalami Perubahan.
Jaka Lelana, status belum menikah dan tidak memiliki tanggungan
PPh Pasal 21
keluarga, bekerja pada PT Lazuardi Internusa dengan memperoleh gaji
22 dan tunjangan setiap bulan sebesar Rp5.500.000,00, dan yang
Contoh
bersangkutan membayar iuran pensiun kepada perusahaan Dana
Pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan setiap
bulan sebesar Rp200.000,00. Mulai bulan Juli 2009, Jaka Lelana
memperoleh kenaikan penghasilan tetap setiap bulan menjadi sebesar
Rp7.000.000,00
Perhitungan PPh Pasal 21 yang harus dipotong setiap bulan untuk
bulan Januari-Juni 2009
Gaji dan tunjangan sebulan Rp 5.500.000,00
Pengurangan :
1. Biaya Jabatan
5% x Rp5.500.000,00 Rp 275.000,00
2. Iuran Pensiun Rp 200.000,00 Rp 475.000,00
Penghasilan neto sebulan Rp 5.025.000,00
Penghasilan neto setahun
12 x Rp5.025.000,00 Rp60.300.000,00
PTKP (TK/0)
- untuk WP sendiri Rp15.840.000,00
Penghasilan Kena Pajak Rp44.460.000,00
PPh Pasal 21 terutang atas gaji
5% x Rp44.460.000,00 Rp 2.223.000,00

57 | P a g e
PPh Pasal 21 atas gaji sebulan
Rp2.223.000,00 : 12 Rp 185.250,00

Perhitungan PPh Pasal 21 yang harus dipotong setiap bulan untuk


bulan Juli-November 2009
Gaji dan tunjangan sebulan Rp 7.000.000,00
Pengurangan :
1. Biaya Jabatan
5% x Rp7.000.000,00 Rp 350.000,00
2. Iuran Pensiun Rp 200.000,00 Rp 550.000,00
Penghasilan neto sebulan Rp 6.450.000,00
Penghasilan neto setahun
12 x Rp6.450.000,00 Rp77.400.000,00
PTKP (TK/0)
- untuk WP sendiri Rp15.840.000,00
Penghasilan Kena Pajak Rp61.560.000,00
PPh Pasal 21 terutang atas gaji
5% x Rp50.000.000,00 Rp2.500.000,00
15% x Rp11.560.000,00 Rp1.734.000,00 Rp 4.234.000,00
PPh Pasal 21 atas gaji sebulan
Rp4.234.000,00 : 12 Rp 352.833,00

Perhitungan PPh Pasal 21 yang harus dipotong pada bulan


Desember 2009
Penghasilan selama setahun
(6 x Rp5.500.000,00) + (6 x Rp7.000.000,00) Rp 75.000.000,00
Pengurangan :
1. Biaya Jabatan
5% x Rp75.000.000,00 Rp3.750.000,00
2. Iuran Pensiun
12 x Rp200.000,00 Rp2.400.000,00 Rp 6.150.000,00
Penghasilan neto setahun Rp68.850.000,00
PTKP (TK/0)
- untuk WP sendiri Rp15.840.000,00
Penghasilan Kena Pajak Rp53.010.000,00
PPh Pasal 21 terutang atas gaji

58 | P a g e
5% x Rp50.000.000,00 Rp2.500.000,00
15% x Rp3.010.000,00 Rp 451.500,00 Rp 2.951.500,00
PPh Pasal 21 yang telah dipotong s.d. Nov 2009:
(6 x Rp185.250,00) + ( 5 x Rp352.833,00) Rp 2.875.365,00
PPh Pasal 21 harus dipotong pada Des 2009 Rp 76.135,00

2. Bulan Terakhir Memperoleh Gaji atau Penghasilan Tetap dan Teratur


karena yang Bersangkutan Berhenti Bekerja.
Lihat Contoh Pegawai Berhenti Bekerja Pada Tahun Berjalan.
2. PPh Pasal 21 bagi Pegawai Tidak Tetap atau Tenaga Kerja Lepas

UPAH HARIAN/MINGGUAN/SATUAN/BORONGAN dan UANG SAKU HARIAN

DIBAYARKAN secara BULANAN atau


TIDAK DIBAYARKAN secara BULANAN Penghasilan KUMULATIF dalam 1 Bulan
Kalender telah melebihi Rp6.000.000,00

Ph Bruto Sehari ≤ Ph Bruto Sehari >


UPAH BRUTO dalam 1 Bulan DIKALI 12
Rp150.000,00 Rp150.000,00

Tidak Dipotong Dikurangi


DIKURANGI PTKP SETAHUN
PPh 21 Rp150.000,00

Dipotong PPh PENGHASILAN KENA PAJAK


Pasal 21 = 5%

Ph Kumulatif dalam 1 bulan > Rp1.320.000,00 TARIF Pasal 17 ayat (1) huruf a UU PPh

Upah Sehari DIKURANGI PTKP Sehari PPh Pasal 21 SETAHUN DIBAGI 12

Tarif PPh Pasal 21 = 5% PPh Pasal 21 SEBULAN

1). Dengan Upah Harian


Sentot dengan status belum menikah pada bulan Januari 2009 bekerja sebagai
PPh Pasal 21
buruh harian PT Harapan Sentosa. Ia bekerja selama 10 hari dan menerima
23
upah harian sebesar Rp 150.000,00.
Contoh
Penghitungan PPh Pasal 21 terutang:
Upah Sehari Rp150.000,00

59 | P a g e
Dikurangi batas upah harian tidak dilakukan pemotongan Rp150.000,00
PPh
Penghasilan Kena Pajak sehari Rp 0,00
PPh Pasal 21 dipotong atas Upah sehari Rp 0,00

Sampai dengan hari ke-8, karena jumlah kumulatif upah yang diterima belum
melebihi Rp1.320.000,00, maka tidak ada PPh Pasal 21 yang dipotong.
Pada hari ke-9 jumlah kumulatif upah yang diterima melebihi Rp 1.320.000,00,
maka PPh Pasal 21 terutang dihitung berdasarkan upah setelah dikurangi PTKP
yang sebenarnya.
Upah s.d hari ke-9
9 x Rp150.000,00 Rp1.350.000,00
PTKP sebenarnya:
9 x (Rp15.840.000,00 / 360) Rp 396.000,00
Penghasilan Kena Pajak s.d hari ke-9 Rp 954.000,00
PPh Pasal 21 terutang s.d hari ke-9
5% x Rp954.000,00 Rp 47.700,00
PPh Pasal 21 yang telah dipotong s.d hari ke-8 Rp 0,00
PPh Pasal 21 yang harus dipotong pada hari ke-9 Rp 47.700,00
Sehingga pada hari ke-9, upah bersih yang diterima Sentot sebesar:
Rp150.000,00 - Rp47.700,00 = Rp102.300,00

Misalkan Sentot bekerja selama 10 hari, maka penghitungan PPh Pasal 21 yang
harus dipotong pada hari ke - 10 adalah sebagai berikut:
Pada hari kerja ke-10, jumlah PPh Pasal 21 yang dipotong adalah:
Upah sehari Rp150.000,00
PTKP sehari
- untuk WP sendiri (Rp15.840.000,00 : 360) Rp 44.000,00
Penghasilan Kena Pajak Rp106.000,00
PPh Pasal 21 terutang
5% x Rp106.000,00 Rp 5.300,00
Sehingga pada hari ke-10, Sentot menerima upah bersih sebesar:
Rp150.000,00 - Rp5.300,00 = Rp144.700,00

Teguh Gunanto (belum menikah) pada bulan Maret 2009 bekerja pada PT
PPh Pasal 21
Gerbang Transindo, menerima upah sebesar Rp200.000,00 per hari.
24
Upah Sehari Rp200.000,00
Contoh

60 | P a g e
Dikurangi batas upah harian tidak dilakukan pemotongan Rp150.000,00
PPh
Upah sehari di atas Rp150.000,00 Rp 50.000,00
PPh Pasal 21 dipotong atas Upah sehari
5% x Rp50.000,00 Rp 2.500,00

Pada hari ke-7 dalam bulan kalender yang bersangkutan, Teguh Gunanto telah
menerima penghasilan sebesar Rp1.400.000,00, sehingga telah melebihi
Rp1.320.000,00. Dengan demikian PPh Pasal 21 atas penghasilan Teguh
Gunanto pada bulan Maret 2009 dihitung sebagai berikut:
Upah s.d hari ke-7
7 x Rp200.000,00 Rp1.400.000,00
PTKP sebenarnya:
7 x (Rp15.840.000,00 / 360) Rp 308.000,00
Penghasilan Kena Pajak s.d hari ke-7 Rp1.092.000,00
PPh Pasal 21 terutang s.d hari ke-7
5% x Rp1.092.000,00 Rp 54.600,00
PPh Pasal 21 yang telah dipotong s.d hari ke-6
6 x Rp2.500,00 Rp 15.000,00
PPh Pasal 21 yang harus dipotong pada hari ke-7 Rp 39.600,00
Sehingga pada hari ke-7, upah bersih yang diterima Teguh Gunanto sebesar:
Rp200.000,00 – Rp39.600,00 = Rp160.400,00

Pada hari kerja ke-8 dan seterusnya dalam bulan kalender yang bersangkutan,
jumlah PPh Pasal 21 per hari yang dipotong adalah:
Upah sehari Rp200.000,00
PTKP sehari
- untuk WP sendiri (Rp15.840.000,00 : 360) Rp 44.000,00
Penghasilan Kena Pajak Rp156.000,00
PPh Pasal 21 terutang
5% x Rp156.000,00 Rp 7.800,00

2). Dengan Upah Satuan


Urip Firmanto (belum menikah) adalah seorang karyawan yang bekerja sebagai
PPh Pasal 21
perakit TV pada suatu perusahaan elektronika. Upah yang dibayar berdasarkan
25
atas jumlah unit/satuan yang diselesaikan yaitu Rp50.000,00 per buah TV dan
Contoh

61 | P a g e
dibayarkan tiap minggu. Dalam waktu 1 minggu (6 hari kerja) dihasilkan
sebanyak 24 buah TV dengan upah Rp1.200.000,00.
Penghitungan PPh Pasal 21:
Upah sehari
Rp1.200.000,00 : 6 Rp200.000,00
Upah diatas Rp 150.000,00 sehari
Rp200.000,00 - Rp150.000,00 Rp 50.000,00
Upah seminggu terutang pajak
6 x Rp50.000,00 Rp300.000,00
PPh Pasal 21 terutang
5% x Rp300.000,00 Rp 15.000,00

3). Dengan Upah Borongan

PPh Pasal 21
Viko mengerjakan dekorasi sebuah rumah dengan upah borongan sebesar
Rp350.000,00, pekerjaan diselesaikan dalam 2 hari.
26
Upah borongan sehari
Contoh
Rp350.000,00 : 2 Rp175.000,00
Upah sehari diatas Rp 150.000,00
Rp175.000,00 - Rp150.000,00 Rp 25.000,00
Upah borongan terutang pajak
2 x Rp25.000,00 Rp 50.000,00
PPh Pasal 21 terutang
5% x Rp50.000,00 Rp 2.500,00

4). Upah Harian/Satuan/Borongan/Honorarium yang Diterima Tenaga Harian


Lepas tapi Dibayarkan Secara Bulanan
Wardi bekerja pada perusahaan elektronik dengan dasar upah harian yang
PPh Pasal 21
dibayarkan bulanan. Dalam bulan Januari 2009 Wardi hanya bekerja 20 hari
27
kerja dan upah sehari adalah Rp120.000,00. Wardi menikah tetapi belum
Contoh
memiliki anak.
Penghitungan PPh Pasal 21
Upah Januari 2009
20 x Rp120.000,00 Rp 2.400.000,00
Penghasilan neto setahun
12 x Rp2.400.000,00 Rp28.800,000,00
PTKP sehari

62 | P a g e
- untuk WP sendiri Rp15.840,000,00
- tambahan WP menikah Rp 1.320.000,00 Rp17.160.000,00
Penghasilan Kena Pajak Rp11.640.000,00
PPh Pasal 21 terutang setahun
5% x Rp11.640.000,00 Rp 582.000,00
PPh Pasal 21 terutang sebulan
Rp582.000,00 : 12 Rp 48.500,00

3. PPh Pasal 21 bagi Bukan Pegawai


1). Penghitungan PPh Pasal 21 atas Penghasilan yang Diterima oleh Tenaga
Ahli yang Melakukan Pekerjaan Bebas

2). Penghitungan PPh Pasal 21 atas Penghasilan yang Diterima oleh Bukan
Pegawai yang Menerima Penghasilan yang Bersifat Berkesinambungan
1). Contoh penghitungan PPh Pasal 21 atas jasa dokter yang praktik di rumah
sakit dan/atau klinik
dr. Dhio Dwi Koska, Sp.JP merupakan dokter spesialis jantung yang melakukan
praktik di Rumah Sakit “Harapan Jantung Sehat” dengan perjanjian bahwa atas
setiap jasa dokter yang dibayarkan oleh pasien akan dipotong 20% oleh pihak
rumah sakit sebagai bagian penghasilan rumah sakit dan sisanya sebesar 80%
akan dibayarkan kepada dr. Dhio Dwi Koska, Sp.JP pada setiap akhir bulan.
Selain praktik di Rumah Sakit “Harapan Jantung Sehat” dr. Dhio Dwi Koska,
Sp.JP juga melakukan praktik sendiri di klinik pribadinya. dr. Dhio Dwi Koska,
Sp.JP telah memiliki NPWP dan pada tahun 2009.
Jasa dokter yang dibayarkan pasien dari praktik dr. Dhio Dwi Koska, Sp.JP di
Rumah Sakit “Harapan Jantung Sehat” adalah sebagai berikut:
Jasa Dokter yang Jasa Dokter yang
Bulan Bulan
Dibayar Pasien Dibayar Pasien
Januari Rp45.000.000,00 Juli Rp40.000.000,00
Februari Rp49.000.000,00 Agustus Rp35.000.000,00
Maret Rp47.000.000,00 September Rp45.000.000,00
April Rp40.000.000,00 Oktober Rp44.000.000,00
Mei Rp44.000.000,00 November Rp43.000.000,00
Juni Rp52.000.000,00 Desember Rp40.000.000,00

Penghitungan PPh Pasal 21 untuk bulan Januari sampai dengan Desember


2009:

63 | P a g e
Dasar
Jasa Dokter Dasar Tarif Pasal PPh
Pemotongan
yang Dibayar Pemotongan 17 ayat (1) Pasal 21
Bulan PPh Pasal 21
Pasien PPh Pasal 21 huruf a UU Terutang
Kumulatif
(Rupiah) (Rupiah) PPh (Rupiah)
(Rupiah)
(1) (2) (3) = 50%x(2) (4) (5) (6) = (3)x(5)
Januari 45.000.000 22.500.000 22.500.000 5% 1.125.000
Februari 49.000.000 24.500.000 47.000.000 5% 1.225.000
Maret 47.000.000 3.000.000 50.000.000 5% 150.000
20.500.000 70.500.000 15% 3.075.000
April 40.000.000 20.000.000 90.500.000 15% 3.000.000
Mei 44.000.000 22.000.000 112.500.000 15% 3.300.000
Juni 52.000.000 26.000.000 138.500.000 15% 3.900.000
Juli 40.000.000 20.000.000 158.500.000 15% 3.000.000
Agustus 35.000.000 17.500.000 176.000.000 15% 2.625.000
September 45.000.000 22.500.000 198.500.000 15% 3.375.000
Oktober 44.000.000 22.000.000 220.500.000 15% 3.300.000
November 43.000.000 21.500.000 242.000.000 15% 3.225.000
Desember 40.000.000 8.000.000 250.000.000 15% 1.200.000
12.000.000 262.000.000 25% 3.000.000
Jumlah 524.000.000 262.000.000 35.500.000
Apabila dr. Dhio Dwi Koska Sp.JP tidak memiliki NPWP, maka PPh Pasal 21
terutang adalah sebesar 120% dari PPh Pasal 21 terutang.
2). Contoh perhitungan PPh Pasal 21 atas komisi yang dibayarkan kepada
petugas dinas luar asuransi (bukan sebagai pegawai perusahaan asuransi)
Neneng Hasanah adalah petugas dinas luar asuransi dari PT Tabarru Life.
Suami Neneng Hasanah telah terdaftar sebagai Wajib Pajak dan mempunyai
NPWP,dan yang bersangkutan bekerja pada PT Kersamanah. Neneng Hasanah
telah menyampaikan fotokopi kartu NPWP suami, fotokopi surat nikah dan
fotokopi kartu keluarga kepada pemotong pajak. Neneng Hasanah hanya
memperoleh penghasilan dari kegiatannya sebagai petugas dinas luar asuransi,
dan telah menyampaikan surat pernyataan yang menerangkan hal tersebut
kepada PT Tabarru Life. Pada tahun 2009, penghasilan yang diterima oleh
Neneng Hasanah sebagai petugas dinas luar asuransi dari PT. Tabarru Life
adalah sebagai berikut:
Bulan Komisi Agen Bulan Komisi Agen
Januari Rp38.000.000,00 Juli Rp45.000.000,00

64 | P a g e
Februari Rp38.000.000,00 Agustus Rp48.000.000,00
Maret Rp41.000.000,00 September Rp50.000.000,00
April Rp42.000.000,00 Oktober Rp52.000.000,00
Mei Rp44.000.000,00 November Rp55.000.000,00
Juni Rp45.000.000,00 Desember Rp56.000.000,00

Penghitungan PPh Pasal 21 untuk bulan Januari s.d. Desember 2009 adalah:
Tarif
Pasal
50% dari Penghasilan
Penghasilan Penghasilan 17 ayat PPh
Penghasilan PTKP Kena Pajak
Bulan Bruto Kena Pajak (1) Pasal 21
Bruto (Rupiah) Kumulatif
(Rupiah) (Rupiah) huruf a Terutang
(Rupiah) (Rupiah)
UU
PPh
(1) (2) (3)=50%x2 (4) (5)=(3)-(4) (6) (7) (8)=(5)x(7)
Jan 38.000.000 19.000.000 1.320.000 17.680.000 17.680.000 5% 884.000
Feb 38.000.000 19.000.000 1.320.000 17.680.000 35.360.000 5% 884.000
Mar 41.000.000 20.500.000 1.320.000 14.640.000 50.000.000 5% 732.000
4.540.000 54.540.000 15% 681.000
Apr 42.000.000 21.000.000 1.320.000 19.680.000 74.220.000 15% 2.952.000
Mei 44.000.000 22.000.000 1.320.000 20.680.000 94.900.000 15% 3.102.000
Jun 45.000.000 22.500.000 1.320.000 21.180.000 116.080.000 15% 3.177.000
Jul 45.000.000 22.500.000 1.320.000 21.180.000 137.260.000 15% 3.177.000
Ags 48.000.000 24.000.000 1.320.000 22.680.000 159.940.000 15% 3.402.000
Sep 50.000.000 25.000.000 1.320.000 23.680.000 183.620.000 15% 3.552.000
Okt 52.000.000 26.000.000 1.320.000 24.680.000 208.300.000 15% 3.702.000
Nov 55.000.000 27.500.000 1.320.000 26.180.000 234.480.000 15% 3.927.000
Des 56.000.000 28.000.000 1.320.000 15.520.000 250.000.000 15% 2.328.000
11.160.000 261.160.000 25% 2.790.000
554.000.000 277.000.000 35.290.000

Dalam hal Neneng Hasanah tidak dapat menunjukkan fotokopi kartu NPWP
suami, fotokopi surat nikah dan fotokopi kartu keluarga dan Neneng Hasanah
sendiri tidak memiliki NPWP, maka perhitungan PPh Pasal 21 dilakukan
sebagaimana contoh di atas namun tidak memperoleh pengurangan PTKP setiap
bulan, dan jumlah PPh Pasal 21 yang terutang adalah sebesar 120% dari PPh
Pasal 21 yang seharusnya terutang dari yang memiliki NPWP sebagaimana
penghitungan berikut ini:
Dasar Dasar Tarif
Penghasilan Tarif Tidak PPh
Pemotongan Pemotongan Pasal 17
Bulan Bruto Memiliki Pasal 21
PPh Pasal 21 = PPh Pasal 21 ayat (1)
(Rupiah) NPWP Terutang
50% dari Kumulatif huruf a

65 | P a g e
Penghasilan (Rupiah) UU PPh
Bruto
(Rupiah)
(1) (2) (3)=50%x2 (4) (5) (6) (7)=(3)x(5)x(6)
Jan 38.000.000 19.000.000 19.000.000 5% 120% 1.140.000
Feb 38.000.000 19.000.000 38.000.000 5% 120% 1.140.000
Mar 41.000.000 12.000.000 50.000.000 5% 120% 720.000
8.500.000 58.500.000 15% 120% 510.000
Apr 42.000.000 21.000.000 79.500.000 15% 120% 1.260.000
Mei 44.000.000 22.000.000 101.500.000 15% 120% 3.960.000
Jun 45.000.000 22.500.000 124.000.000 15% 120% 4.050.000
Jul 45.000.000 22.500.000 146.500.000 15% 120% 4.050.000
Ags 48.000.000 24.000.000 170.500.000 15% 120% 4.320.000
Sep 50.000.000 25.000.000 195.500.000 15% 120% 4.500.000
Okt 52.000.000 26.000.000 221.500.000 15% 120% 4.680.000
Nov 55.000.000 27.500.000 249.000.000 15% 120% 4.950.000
Des 56.000.000 1.000.000 250.000.000 15% 120% 180.000
27.000.000 277.000.000 25% 120% 8.100.000
554.000.000 277.000.000 43.560.000
Dalam hal suami Neneng Hasanah atau Neneng Hasanah sendiri telah memiliki
NPWP, tetapi Neneng Hasanah mempunyai penghasilan lain di luar kegiatannya
sebagai petugas dinas luar asuransi, maka perhitungan PPh Pasal 21 terutang
adalah sebagaimana contoh di atas, namun tidak dikenakan tarif 20% lebih tinggi
karena yang bersangkutan atau suaminya telah memiliki NPWP.
3). Penghitungan PPh Pasal 21 atas Penghasilan yang Diterima oleh Bukan
Pegawai yang Menerima Penghasilan yang Tidak Bersifat
Berkesinambungan
Nashrun Berlianto melakukan jasa perbaikan komputer kepada PT Cahaya
Kurnia dengan fee sebesar Rp5.000,000,00.
Besarnya PPh Pasal 21 yang terutang adalah sebesar:
5% x 50% Rp5.000.000,00 = Rp125.000,00

Dalam hal Nashrun Barlianto tidak memiliki NPWP maka besarnya PPh Pasal 21
yang terutang menjadi sebesar:
5% x 120% x 50% Rp5.000.000,00 = Rp150.000,00

4. PPh Pasal 21 lainnya


Contoh Penghitungan Pemotongan PPh Pasal 21 atas Penghasilan yang
Diterima oleh Bukan Pegawai, Sehubungan dengan Pemberian Jasa yang

66 | P a g e
dalam Pemberian Jasanya Mempekerjakan Orang Lain Sebagai Pegawainya
dan/atau Melakukan Penyerahan Material/Bahan
Arip Nugraha melakukan jasa perawatan AC kepada PT Wahana Jaya dengan
imbalan Rp10.000.000,00. Arip Nugraha mempergunakan tenaga 5 orang pekerja
dengan membayarkan upah harian masing-masing sebesar Rp180.000,00. Upah
harian yang dibayarkan untuk 5 orang selama melakukan pekerjaan sebesar
Rp4.500.000,00. selain itu, Arip Nugraha membeli spare part AC yang dipakai untuk
perawatan AC sebesar Rp1.000.000,00.
Penghitungan PPh Pasal 21 terutang adalah sebagai berikut:
a. Dalam hal berdasarkan perjanjian serta dokumen yang diberikan Arip Nugraha,
dapat diketahui bagian imbalan bruto yang merupakan upah yang harus
dibayarkan kepada pekerja harian yang dipekerjakan oleh Arip Nugraha dan
biaya untuk membeli spare part AC, maka jumlah imbalan bruto sebagai dasar
perhitungan PPh Pasal 21 yang harus dipotong oleh PT Wahana Jaya atas
imbalan yang diberikan kepada Arip Nugraha adalah sebesar imbalan bruto
dikurangi bagian upah tenaga kerja harian yang dipekerjakan Arip Nugraha dan
biaya spare part AC, sebagaimana dalam contoh adalah sebesar:
Rp10.000.000,00 - Rp4.500.000,00 - Rp1.000.000,00 = Rp4.500.000,00

PPh Pasal 21 yang harus dipotong PT Wahana Jaya atas penghasilan yang
diterima Arip Nugraha adalah sebesar:
5% x 50% x Rp4.500.000,00 = Rp112.500,00
Dalam hal Arip Nugraha tidak memiliki NPWP maka PPh Pasal 21 yang harus
dipotong oleh PT Wahana Jaya menjadi:
5% x 120% x 50% x Rp4.500.000,00 = Rp135.000,00
b. Dalam hal PT Wahana Jaya tidak memperoleh informasi berdasarkan perjanjian
yang dilakukan atau dokumen yang diberikan oleh Arip Nugraha mengenai upah
yang harus dikeluarkan Arip Nugraha atau pembelian material/bahan, PPh Pasal
21 yang harus dipotong PT Wahana Jaya adalah jumlah sebesar:
5% x 50% x Rp 10.000.000,00 = Rp250.000,00

Dalam hal Arip Nugraha tidak memiliki NPWP maka PPh Pasal 21 yang harus
dipotong oleh PT Wahana Jaya menjadi:
5% x 120% x 50% x Rp10.000.000,00 = Rp300.000,00
Catatan:

67 | P a g e
Untuk pembayaran upah harian kepada masing-masing pekerja wajib dipotong
PPh Pasal 21 oleh Arip Nugraha.
Penghitungan Pemotongan PPh Pasal 21 atas Penghasilan yang Diterima
Peserta Kegiatan.
Contoh Penghitungan PPh Pasal 21
Taufik Aprianto adalah seorang pemain bulutangkis professional yang bertempat
tinggal di Indonesia. Ia menjuarai turnamen Indonesia Terbuka dan memperoleh
hadiah sebesar Rp200.000.000,00.
PPh Pasal 21 yang terutang adalah:
5% x Rp 50.000.000,00 = Rp 2.500.000,00
15% x Rp150.000.000,00 = Rp 22.500.000,00
PPh Pasal 21 = Rp 25.000.000,00
Penghitungan Pemotongan PPh Pasal 21 atas Penghasilan Pegawai dengan
Status Wajib Pajak Luar Negeri yang Memperoleh Gaji Sebagian/Seluruhnya
dalam Mata Uang Asing
a. Dalam hal pegawai dengan status Wajib Pajak luar negeri memperoleh gaji
sebagian atau seluruhnya dalam mata uang asing sebelum PPh dihitung terlebih
dahulu harus dikonversi dalam mata uang rupiah.
b. PPh Pasal 26 yang terutang dihitung berdasarkan jumlah penghasilan bruto, dan
tidak boleh diperhitungkan pengurangan-pengurangan seperti biaya jabatan dan
PTKP.
Contoh:
William Bentley adalah pegawai asing yang berada di Indonesia kurang dari 183 hari.
Dia berstatus menikah dan mempunyai 2 orang anak. Ia memperoleh gaji pada bulan
Maret 2009 sebesar US$2,500 sebulan. Kurs Menteri Keuangan pada saat
pemotongan adalah Rp11.500,00 untuk US$ 1.00
Penghitungan PPh Pasal 26:
Penghasilan bruto berupa gaji sebulan adalah:
US$ 2,500 x Rp11.500,00 = Rp28.750.000,00
PPh Pasal 26 terutang adalah:
20% x Rp28.750.000,00 = Rp5.750.000,00
Penghitungan Pemotongan PPh Pasal 21 atas Jasa Produksi, Tantiem,
Gratifikasi yang Diterima Mantan Pegawai, Honorarium Komisaris yang Bukan
Sebagai Pegawai Tetap dan Penarikan Dana Pensiun oleh Peserta Program
Pensiun yang Masih Berstatus sebagai Pegawai

68 | P a g e
1). Contoh penghitungan PPh Pasal 21 atas pembayaran penghasilan kepada
mantan pegawai.
Victoria Endah bekerja pada PT Fajar Wisesa. Pada tanggal 1 Januari 2009 telah
berhenti bekerja pada PT Fajar Wisesa karena pensiun. Pada bulan Maret 2009
Victoria Endah menerima jasa produksi tahun 2008 dari PT Fajar Wisesa sebesar
Rp 55.000.000,00.
PPh Pasal 21 yang terutang adalah:
5% x Rp50.000.000,00 = Rp2.500.000,00
15% x Rp 5.000.000,00 = Rp 750.000,00
PPh Pasal 21 yang harus dipotong = Rp3.250.000,00
Apabila dalam tahun kalender yang bersangkutan, dibayarkan penghasilan
kepada mantan pegawai lebih dari 1 kali, maka PPh Pasal 21 atas pembayaran
penghasilan yang berikutnya dihitung dengan menerapkan tarif Pasal 17 ayat (1)
huruf a UU PPh atas jumlah penghasilan bruto kumulatif yang diterima dengan
memperhitungkan penghasilan yang telah diterima sebelumnya.
2). Contoh penghitungan PPh Pasal 21 atas honorarium komisaris yang tidak
merangkap sebagai pegawai tetap
Pandaya adalah seorang komisaris di PT Wahana Sejahtera, yang bukan
sebagai pegawai tetap. Dalam tahun 2009, yaitu bulan Desember 2009
menerima honorarium sebesar Rp60.000.000,00
PPh Pasal 21 yang terutang adalah:
5% x Rp50.000.000,00 = Rp2.500.000,00
15% x Rp10.000.000,00 = Rp1.500.000,00
PPh Pasal 21 yang harus dipotong = Rp4.000.000,00
Apabila dalam tahun kalender yang bersangkutan, dibayarkan penghasilan
kepada yang bersangkutan lebih dari 1 kali, maka PPh Pasal 21 atas
pembayaran penghasilan yang berikutnya dihitung dengan menerapkan tarif
Pasal 17 ayat (1) huruf a UU PPh atas jumlah penghasilan bruto kumulatif yang
diterima dengan memperhitungkan penghasilan yang telah diterima sebelumnya.
3). Contoh penghitungan PPh Pasal 21 penarikan dana pensiun oleh peserta
program pensiun yang masih berstatus sebagai pegawai
Zakarias Safaat adalah pegawai PT Sampurna Sejati menerima gaji
Rp2.000.000,00 sebulan. PT Sampurna Sejati mengikuti program pensiun untuk
para pegawainya. PT Sampurna Sejati membayar iuran dana pensiun untuk
Zakarias Safaat sebesar Rp100.000,00 sebulan ke Dana Pensiun Manfaat

69 | P a g e
Sejahtera, yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan. Zakarias
Safaat membayar iuran serupa ke dana pensiun yang sama sebesar
Rp50.000,00 sebulan.
Bulan April 2009 Zakarias Safaat memerlukan biaya untuk perbaikan rumahnya
maka ia mengambil iuran dana pensiun yang telah dibayar sendiri sebesar
Rp20.000.000,00. Kemudian pada bulan Juni 2009 ia menarik lagi dana sebesar
Rp15.000.000,00. Kemudian bulan Oktober 2009 untuk keperluan lainnya ia
menarik lagi dana sebesar Rp25.000.000,00.
PPh Pasal 21 yang terutang adalah:
Bulan Penarikan Dana PPh Pasal 21 Terutang
April Rp20.000.000,00 5% x Rp20.000.000,00 = Rp1.000.000,00
Juni Rp15.000.000,00 5% x Rp15.000.000,00 = Rp 750.000,00
Oktober Rp25.000.000,00 5% x Rp15.000.000,00 = Rp 750.000,00
15% x Rp10.000.000,00 = Rp1.500.000,00
Rp2.250.000,00

H. Saat Terutang PPh Pasal 21


1. PPh Pasal 21 terutang bagi Penerima Penghasilan pada saat dilakukan pembayaran
atau pada saat terutangnya penghasilan yang bersangkutan.
2. PPh Pasal 21 terutang bagi Pemotong PPh Pasal 21 untuk setiap masa pajak.
3. Saat terutang untuk setiap masa pajak adalah akhir bulan dilakukannya pembayaran
atau pada akhir bulan terutangnya penghasilan yang bersangkutan.
I. Sifat Pemotongan PPh Pasal 21
1. Kredit Pajak PPh Pasal 21
 Jumlah PPh Pasal 21 yang dipotong merupakan kredit pajak bagi penerima
penghasilan yang dikenakan pemotongan untuk tahun pajak yang bersangkutan,
kecuali PPh Pasal 21 yang bersifat final.
 Jumlah pemotongan PPh Pasal 21 atas selisih penerapan tarif sebesar 20%
lebih tinggi bagi pegawai tetap atau penerima pensiun berkala sebelum memiliki
NPWP yang telah diperhitungkan dengan PPh Pasal 21 terutang untuk bulan-
bulan selanjutnya pada tahun kalender berikutnya tidak termasuk kredit pajak.
 Dalam hal Wajib Pajak yang telah dipotong PPh Pasal 21 dengan tarif yang lebih
tinggi mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP maka PPh Pasal 21 yang
telah dipotong tersebut dapat dikreditkan dalam SPT Tahunan PPh WP Orang
Pribadi untuk tahun pajak yang bersangkutan.
2. PPh Pasal 21 bersifat Final

70 | P a g e
Pemotongan PPh Pasal 21 yang bersifat final adalah PPh Pasal 21 atas uang
pesangon, uang manfaat pensiun, tunjangan hari tua, atau jaminan hari tua yang
dibayarkan sekaligus dan PPh Pasal 21 atas honorarium atau imbalan lain dengan
nama apapun yang menjadi beban APBN atau APBD yang diterima atau diperoleh
Pejabat Negara, Pegawai Negeri Sipil (PNS), anggota TNI/POLRI dan
pensiunannya.
a. PPh Pasal 21 atas Uang Pesangon14, Uang Manfaat Pensiun15, Tunjangan
Hari Tua16, atau Jaminan Hari Tua17 yang dibayarkan sekaligus
Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 2009 dan Peraturan Menteri Keuangan
Nomor 16/PMK.03/2010, mengatur antara lain:
 Atas penghasilan yang diterima atau diperoleh pegawai berupa Uang
Pesangon, Uang Manfaat Pensiun, Tunjangan Hari Tua (THT), atau Jaminan
Hari Tua (JHT) yang dibayarkan sekaligus dikenai pemotongan PPh Pasal 21
yang bersifat final.
 Penghasilan berupa Uang Pesangon, Uang Manfaat Pensiun, THT, atau JHT
dianggap dibayarkan sekaligus dalam hal sebagian atau seluruh
pembayarannya dilakukan dalam jangka waktu paling lama 2 tahun kalender.
 Tarif PPh Pasal 21 atas penghasilan berupa Uang Pesangon adalah:

TARIF PPh Pasal 21 – UANG PESANGON

Lapisan PENGHASILAN TARIF

s.d. Rp50.000.000,00 0%

diatas Rp50.000.000,00 s.d. Rp100.000.000,00 5%

diatas Rp100.000.000,00 s.d. Rp500.000.000,00 15%

diatas Rp500.000.000,00 25%

14
Uang Pesangon adalah penghasilan yang dibayarkan oleh pemberi kerja termasuk Pengelola Dana
Pesangon Tenaga Kerja kepada pegawai, dengan nama dan dalam bentuk apapun, sehubungan
dengan berakhirnya masa kerja atau terjadi pemutusan hubungan kerja, termasuk uang penghargaan
masa kerja dan uang penggantian hak.
15
Uang Manfaat Pensiun adalah penghasilan dari manfaat pensiun yang dibayarkan kepada orang
pribadi peserta dana pensiun secara sekaligus sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan di
bidang dana pensiun oleh Dana Pensiun Pemberi Kerja atau Dana Pensiun Lembaga Keuangan yang
pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan.
16
Tunjangan Hari Tua adalah penghasilan yang dibayarkan sekaligus oleh badan penyelenggara
tunjangan hari tua kepada orang pribadi yang telah mencapai usia pensiun.
17
Jaminan Hari Tua adalah penghasilan yang dibayarkan sekaligus oleh badan penyelenggara
jaminan sosial tenaga kerja kepada orang pribadi yang berhak dalam jangka waktu yang telah
ditentukan atau keadaan lain yang ditentukan.

71 | P a g e
 Tarif PPh Pasal 21 atas penghasilan berupa Uang Manfaat Pensiun, THT,
atau JHT adalah:

TARIF PPh Pasal 21 – UANG MANFAAT PENSIUN, THT, JHT

Lapisan PENGHASILAN TARIF

s.d. Rp50.000.000,00 0%

diatas Rp50.000.000,00 5%

 Dalam hal terdapat bagian penghasilan berupa uang pesangon, uang


manfaat pensiun, THT, atau JHT yang terutang atau dibayarkan pada tahun
ketiga dan tahun-tahun berikutnya, pemotongan PPh Pasal 21 dilakukan
dengan menerapkan tarif Pasal 17 ayat (1) huruf a UU PPh atas jumlah bruto
seluruh penghasilan yang terutang atau dibayarkan kepada Pegawai pada
masing-masing tahun kalender yang bersangkutan, dan PPh Pasal 21 yang
dipotong tersebut tidak bersifat final dan dapat diperhitungkan sebagai
pembayaran pajak pendahuluan atau kredit pajak.
Contoh:
Rizaldi dan Sofyan Maliki merupakan pegawai PT Sabar Abadi. Pada akhir tahun
2010, perusahaan mengalami kesulitan keuangan dan melakukan pengurangan
pegawai. Pada 15 Januari 2011, Rizaldi dan Sofyan Maliki terkena Pemutusan
Hubungan Kerja (PHK) oleh PT Sabar Abadi.
Rizaldi memperoleh uang pesangon Rp40.000.000,00, sedangkan Sofyan Maliki
menerima uang pesangon Rp300.000.000,00. Pesangon tersebut dibayarkan
secara sekaligus kepada Rizaldi dan Sofyan Maliki pada 15 Januari 2011.
Bagaimana kewajiban pemotongan/pemungutan PPh Pasal 21 atas pembayaran
uang pesangon tersebut?
Penghitungan PPh Pasal 21 yang terutang atas Uang Pesangon yang
dibayarkan sekaligus yang diterima Rizaldi:
0% x Rp40.000.000,00 = Rp0,00
Penghitungan PPh Pasal 21 yang terutang atas Uang Pesangon yang
dibayarkan sekaligus yang diterima Sofyan Maliki:
0% x Rp 50.000.000,00 = Rp 0,00
5% x Rp 50.000.000,00 = Rp 2.500.000,00

72 | P a g e
15% x Rp200.000.000,00 = Rp30.500.000,00
Rp32.500.000,00
Kewajiban PT Sabar Abadi atas pembayaran uang pesangon yang dibayarkan
sekaligus tersebut:
a. Melakukan pemotongan PPh Pasal 21 atas pembayaran uang pesangon
yang dibayarkan sekaligus tersebut sebesar Rp32.500.000,00 dan
memberikan bukti pemotongan PPh Pasal 21 (final) atas uang pesangon
kepada Rizaldi meskipun dikenai tarif pemotongan 0% serta kepada Sofyan
Maliki.
b. Menyetorkan ke kas negara paling lambat tanggal 10 Februari 2011.
c. Melaporkan pemotongan PPh Pasal 21 tesebut dalam SPT Masa PPh Pasal
21 Masa Pajak Januari paling lambat tanggal 21 Februari 2010.
Contoh:
Said Rahmanto telah bekerja sejak tahun 1981 sebagai pegawai tetap pada PT
Pasifik Jaya. Pada bulan Januari 2010, Said Rahmanto terkena PHK. Ia berhak
menerima pembayaran Uang Pesangon sebesar Rp600.000.000,00 yang
dibayarkan secara bertahap oleh PT Pasifik Jaya dengan jadwal pembayaran
sebagai berikut:
a. Bulan Januari 2010 Rp 240.000.000,00
b. Bulan Januari 2011 Rp 120.000.000,00
c. Bulan Juli 2011 Rp 120.000.000,00
d. Bulan Januari 2012 Rp 120.000.000,00
Bagaimana kewajiban pemotongan/pemungutan PPh Pasal 21 atas pembayaran
uang pesangon tersebut?
Penghasilan berupa Uang Pesangon dianggap dibayarkan sekaligus dalam hal
sebagian atau seluruh pembayarannya dilakukan dalam jangka waktu paling
lama 2 tahun kalender.
Penghitungan PPh Pasal 21 atas uang pesangon yang diterima Said Rahmanto:
a. Bulan Januari 2010:
0% x Rp 50.000.000,00 = Rp 0,00
5% x Rp 50.000.000,00 = Rp 2.500.000,00
15% x Rp140.000.000,00 = Rp21.000.000,00
Rp23.500.000,00
b. Bulan Januari 2011:
15% x Rp120.000.000,00 = Rp 18.000.000,00

73 | P a g e
c. Bulan Juli 2011:
15% x Rp120.000.000,00 = Rp 18.000.000,00
d. Bulan Januari 2012:
Oleh karena pembayaran Uang Pesangon sudah melebihi 2 tahun kalender
maka tarif PPh Pasal 21 untuk Uang Pesangon yang dibayarkan pada bulan
Januari 2012 adalah Tarif Pasal 17 ayat (1) huruf a UU PPh dan PPh 21 yang
dipotong tidak bersifat final dan dapat diperhitungkan sebagai kredit pajak.
Penghitungan PPh Pasal 21 untuk Bulan Januari 2012:
5% x Rp 50.000.000,00 = Rp 2.500.000,00
15% x Rp 70.000.000,00 = Rp10.500.000,00
Jumlah Rp13.000.000,00
Kewajiban PT Pasifik Jaya atas pembayaran uang pesangon tersebut:
a. Melakukan pemotongan PPh Pasal 21 atas pembayaran uang pesangon
sebagai berikut:
 Bulan Januari 2010 sebesar Rp23.500.000,00
 Bulan Januari 2011 sebesar Rp18.000.000,00
 Bulan Juli 2011 sebesar Rp18.000.000,00
 Bulan Januari 2012 sebesar Rp13.000.000,00
b. Memberikan Bukti Pemotongan PPh Pasal 21 atas uang pesangon kepada
Said Rahmanto setiap kali melakukan pembayaran uang pesangon, sebagai
berikut;
 Bukti Pemotongan PPh Pasal 21 (Final) atas pembayaran uang pesangon
Bulan Januari 2010 sebesar Rp23.500.000,00.
 Bukti Pemotongan PPh Pasal 21 (Final) atas pembayaran uang pesangon
Bulan Januari 2011 sebesar Rp18.000.000,00.
 Bukti Pemotongan PPh Pasal 21 (Final) atas pembayaran uang pesangon
Bulan Juli 2011 sebesar Rp18.000.000,00.
 Bukti Pemotongan PPh Pasal 21 dan/atau Pasal 26 atas pembayaran
uang pesangon Bulan Januari 2012 sebesar Rp13.000.000,00.
c. Menyetorkan PPh Pasal 21 yang telah dipotong ke kas negara sebagai
berikut:
 Bulan Januari 2010, paling lambat tanggal 10 Februari 2010
 Bulan Januari 2011 paling lambat tanggal 10 Februari 2011
 Bulan Juli 2011 paling lambat tanggal 10 Agustus 2011
 Bulan Januari 2012 paling lambat tanggal 10 Februari 2012;

74 | P a g e
d. melaporkan pemotongan PPh Pasal 21 tesebut dalam SPT Masa PPh Pasal
21:
 Masa Pajak Januari 2010, paling lambat tanggal 22 Februari 2010.
 Masa Pajak Januari 2011, paling lambat tanggal 21 Februari 2011.
 Masa Pajak Juli 2011, paling lambat tanggal 22 Agustus 2011.
 Masa Pajak Januari 2012, paling lambat tanggal 20 Februari 2012.
b. PPh Pasal 21 atas Penghasilan yang Menjadi Beban APBN/APBD.
Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 2010, mengatur antara lain:
 PPh Pasal 21 yang terutang atas penghasilan tetap dan teratur setiap bulan
yang menjadi beban APBN atau APBD ditanggung oleh pemerintah atas
beban APBN atau APBD.
 Penghasilan tetap dan teratur setiap bulan yang menjadi beban APBN atau
APBD meliputi penghasilan tetap dan teratur bagi:
a. Pejabat Negara, untuk:
1). Gaji dan tunjangan lain yang sifatnya tetap dan teratur setiap bulan;
atau
2). imbalan tetap sejenisnya;
yang ditetapkan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.
b. PNS, Anggota TNI, dan Anggota POLRI, untuk gaji dan tunjangan lain
yang sifatnya tetap dan teratur setiap bulan yang ditetapkan
berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.
c. Pensiunan, untuk uang pensiun dan tunjangan lain yang sifatnya tetap
dan teratur setiap bulan yang ditetapkan berdasarkan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
 Besarnya PPh Pasal 21 dihitung dengan menerapkan tarif Pasal 17 ayat (1)
huruf a UU PPh atas jumlah penghasilan bruto setelah dikurangi dengan
biaya jabatan atau biaya pensiun, iuran pensiun, dan PTKP.
 PPh Pasal 21 yang terutang atas penghasilan berupa honorarium atau
imbalan lain dengan nama apapun yang menjadi beban APBN atau APBD,
dipotong oleh bendahara pemerintah yang membayarkan honorarium atau
imbalan lain tersebut.
 PPh Pasal 21 atas penghasilan berupa honorarium atau imbalan lain dengan
nama apapun yang menjadi beban APBN atau APBD bersifat final dengan
tarif:

75 | P a g e
a. sebesar 0% dari jumlah bruto honorarium atau imbalan lain bagi PNS
Golongan I dan Golongan II, Anggota TNI dan Anggota POLRI Golongan
Pangkat Tamtama dan Bintara, dan Pensiunannya;
b. sebesar 5% dari jumlah bruto honorarium atau imbalan lain bagi PNS
Golongan III, Anggota TNI dan Anggota POLRI Golongan Pangkat
Perwira Pertama, dan pensiunannya;
c. sebesar 15% dari jumlah bruto honorarium atau imbalan lain bagi pejabat
Negara, PNS Golongan IV, Anggota TNI dan Anggota POLRI Golongan
Pangkat perwira Menengah dan perwira Tinggi, dan Pensiunannya.

TARIF PPh PASAL 21 – PNS, ANGGOTA TNI/POLRI dan PENSIUNANNYA

OBJEK PAJAK SUBJEK PAJAK TARIF

DAPAT DIKREDITKAN
Penghasilan Pejabat Negara Tarif Pasal 17 ayat (1) huruf a
Tetap dan UU PPh atas jumlah
Teratur Setiap PNS, Anggota penghasilan bruto setelah
Bulan yang TNI/POLRI dikurangi dengan biaya
Menjadi Beban jabatan/biaya pensiun, iuran
APBN/APBD Pensiunan pensiun, dan PTKP

PNS Gol. I dan II, Anggota TNI/POLRI Pangkat


Honorarium atau Tamtama dan Bintara, dan Pensiunannya
0%
Imbalan Lain

FINAL
dengan Nama PNS Gol. III, Anggota TNI/POLRI Pangkat Perwira
Pertama, dan Pensiunannya
5%
Apapun yang
Menjadi Beban
Pejabat Negara, PNS Gol. IV, Anggota TNI/POLRI Pangkat
APBN/APBD Perwira Menengah dan Tinggi, dan Pensiunannya 15%

 Dalam hal PNS, Anggota TNI, Anggota POLRI, dan Pensiunannya diangkat
sebagai pimpinan dan/atau anggota pada lernbaga yang tidak termasuk
sebagai pejabat Negara, atas penghasilan yang menjadi beban APBN atau
APBD terkait dengan kedudukannya sebagai pimpinan dan/atau anggota
pada lembaga tersebut dikenai pemotongan PPh Pasal 21 sesuai dengan UU
PPh dan tidak ditanggung oleh Pemerintah.
 Dalam hal Pejabat Negara, PNS, Anggota TNI Anggota POLRI, dan
Pensiunannya, menerima atau memperoleh penghasilan lain yang tidak
dikenai Pajak penghasilan bersifat final di luar penghasilan tetap dan teratur
yang menjadi beban APBN atau APBD, penghasilan lain tersebut

76 | P a g e
digunggungkan dengan penghasilan tetap dan teratur setiap bulan dalam
SPT Tahunan PPh WP orang pribadi yang bersangkutan.
 PPh Pasal 21 yang ditanggung oleh Pemerintah dapat dikreditkan dengan
PPh yang terutang atas seluruh penghasilan yang telah dilaporkan dalam
SPT Tahunan PPh WP orang pribadi.
J. Studi Kasus PPh Pasal 21
Contoh
Sebuah stasiun televisi swasta nasional “Gemilang TV” yang dimiliki oleh PT Gemilang
Corp menyelenggarakan kuis berhadiah “Jadi Milyader”, sebuah kuis yang menuntut
pesertanya memiliki wawasan yang luas seputar pengetahuan umu. Sebagai pemenang
pada episode pertama pada 16 Juli 2011 adalah Rina Mulyani yang meraih uang
Rp185.000.000,00 dan sepeda motor senilai Rp15.000.000,00 (sesuai dengan harga
pasar). Rina Mulyani belum memiliki NPWP.
Bagaimana kewajiban pemotongan/pemungutan PPh atas pemberian hadiah tersebut?
Hadiah yang diterima oleh Rina Mulyani merupakan objek PPh Pasal 21 yang wajib
dilakukan pemotongan/pemungutan PPh Pasal 21 oleh penyelenggara kegiatan.
PPh Pasal 21 atas hadiah yang diterima peserta kuis berhadiah adalah jumlah
penghasilan bruto dikalikan tarif Pasal 17 ayat (1) huruf a UU PPh untuk setiap kali
pembayaran bersifat utuh dan tidak dipecah.
Nilai nominal hadiah uang = Rp185.000.000,00
Nilai pasar sepeda motor = Rp 15.000.000,00
Nilai total hadiah yang diterima = Rp200.000.000,00
Mengingat Rina Mulyani belum memiliki NPWP, maka PPh Pasal 21 yang harus
dipotong adalah sebesar:
5% x 120% x Rp50.000.000,00 = Rp 3.000.000,00
15% x 120% x Rp150.000.000,00 = Rp27.000.000,00
PPh Pasal 21 Rp30.000.000,00
Kewajiban PT Gemilang Corp selaku penyelenggara kegiatan:
a. Melakukan pemotongan PPh Pasal 21 sebesar Rp30.000.000,00 dan memberikan
Bukti Pemotongan PPh Pasal 21 kepada Rina Mulyani.
b. Menyetorkan ke kas Negara paling lambat tanggal 10 Agustus 2011.
c. Melaporkan pemotongan PPh Pasal 21 tersebut dalam SPT Masa PPh Pasal 21
Masa Pajak Juli 2011 paling lambat tanggal 22 Agustus 2011.
Contoh

77 | P a g e
PT Yummy Food yang merupakan perusahaan industry makanan ringan
menyelenggarakan “Kejuaraan Nasional Bulutangkis 2010”. Juara tunggal putri pada
pertandingan final yang dilaksanakan pada tanggal 30 Desember 2010 adalah Dewi
Arianti, dengan memperoleh hadiah berupa uang tunai Rp100.000.000,00.
Bagaimana kewajiban pemotongan/pemungutan PPh atas transaksi tersebut?
Hadiah yang diterima oleh Dewi Arianti dari PT Yummy Food merupakan penghasilan
yang diterima sehubungan dengan keikutsertaan sebagai peserta perlombaan, sehingga
atas hadiah tersebut wajib dilakukan pemotongan PPh Pasal 21 oleh PT Yummy Food
selaku penyelenggara kegiatan.
PPh Pasal 21 yang wajib dipotong adalah:
5% x Rp50.000.000,00 = Rp 2.500.000,00
15% x Rp50.000.000,00 = Rp 7.500.000,00
PPh Pasal 21 Rp10.000.000,00
Kewajiban PT Yummy Food selaku penyelenggara kegiatan:
a. Melakukan pemotongan PPh Pasal 21 sebesar Rp10.000.000,00 dan memberikan
Bukti Pemotongan PPh Pasal 21 kepada Dewi Arianti.
b. Menyetorkan ke kas negara paling lambat tanggal 10 Januari 2011.
c. Melaporkan pemotongan PPh Pasal 21 tersebut dalam SPT Masa PPh Pasal 21
Masa Pajak Desember 2010 paling lambat 20 Januari 2011
K. Penyetoran dan Pelaporan Pemotongan PPh Pasal 21

Penyetoran dan Pelaporan Pemotongan PPh Pasal 21

Tanggal Jatuh Tempo Penyetoran Batas Akhir Pelaporan


PPh
Wajib menyampaikan SPT Masa PPh
Pasal 21 Paling lama tanggal 10 bulan
Pasal 21/26 paling lama 20 hari setelah
berikutnya setelah Masa Pajak berakhir
Masa Pajak berakhir

78 | P a g e
BAB
PPh PASAL 22

3
Tujuan Instruksional Khusus:
1. Mampu menguraikan tentang konsep PPh Pasal 22.
2. Mampu menjelaskan tentang Pemungut PPh Pasal 22.
3. Mampu menjelaskan tentang yang dikecualikan dari pemungutan PPh Pasal 22.
4. Mampu menjelaskan tentang saat terutang PPh Pasal 22.
5. Mampu menjelaskan tentang cara pemungutan PPh Pasal 22.
6. Mampu menjelaskan tentang sifat pemungutan PPh Pasal 22.

PPh Pasal 22 merupakan cara pelunasan pembayaran pajak dalam tahun berjalan oleh
Wajib Pajak atas penghasilan sehubungan dengan pembayaran atas penyerahan barang,
kegiatan di bidang impor atau kegiatan usaha di bidang lain (seperti kegiatan usaha
produksi barang tertentu antara lain otomotif dan semen), dan penjualan barang yang
tergolong sangat mewah.
A. Peta Konsep PPh Pasal 22
Gambar. Peta Konsep Pemungutan PPh Pasal 22

2,5% - dengan API


7,5% - tanpa API NILAI IMPOR
IMPOR 0,5% - KEDELAI, GANDUM,
TEPUNG TERIGU

7,5% - YANG TIDAK DIKUASAI HARGA JUAL LELANG


BENDAHARA Pemerintah,
KPA, Pejabat Penerbit SPM,
Bendahara Pengeluaran
1,5%
HARGA PEMBELIAN
PEDAGANG PENGUMPUL
0,25%
PPh
PASAL 22 0,25% - BBM SPBU Pertamina
BAHAN BAKAR MINYAK, 0,3% - BBM SPBU Non Pertamina PENJUALAN,
GAS, dan PELUMAS 0,3% - BBG Tidak Termasuk PPN
0,3% - PELUMAS

0,25% - SEMEN
Industri SEMEN, KERTAS, 0,1% - KERTAS Dasar Pengenaan
BAJA, dan OTOMOTIF 0,3% - BAJA Pajak PPN
0,45% - OTOMOTIF

BARANG SANGAT MEWAH HARGA JUAL,


5% Tidak Termasuk PPN

79 | P a g e
B. Pemungut PPh Pasal 22
Pemungut PPh Pasal 22 Objek Pemungutan
1. Bank Devisa dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Impor barang
2. Bendahara pemerintah dan Kuasa Pengguna Pembayaran atas
Anggaran (KPA) sebagai pemungut pajak pada pembelian barang
Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Instansi atau
lembaga Pemerintah dan lembaga-lembaga negara
lainnya
3. Bendahara pengeluaran Pembayaran atas
pembelian barang yang
dilakukan dengan
mekanisme uang
persediaan (UP)
4. Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) atau pejabat Pembayaran atas
penerbit Surat Perintah Membayar yang diberi pembelian barang kepada
delegasi oleh KPA pihak ketiga yang
dilakukan dengan
mekanisme pembayaran
langsung (LS)
5. Badan usaha yang bergerak dalam bidang usaha Penjualan hasil
industri semen, industri kertas, industri baja, dan produksinya di dalam
industri otomotif, yang ditunjuk oleh Kepala Kantor negeri
Pelayanan Pajak
6. Produsen atau importir bahan bakar minyak, gas, dan Penjualan bahan bakar
pelumas minyak, gas, dan pelumas
7. Industri dan eksportir yang bergerak dalam sektor Pembelian bahan-bahan
kehutanan, perkebunan, pertanian, dan perikanan untuk keperluan industri
yang ditunjuk oleh Kepala Kantor Pelayanan Pajak atau ekspor mereka dari
pedagang pengumpul
8. WP Badan yang melakukan penjualan barang sangat Penjualan barang sangat
mewah: mewah
a. pesawat udara pribadi dengan harga jual lebih dari
Rp20.000.000.000,00.
b. kapal pesiar dan sejenisnya dengan harga jual
lebih dari Rp10.000.000.000,00.

80 | P a g e
c. rumah beserta tanahnya dengan harga jual atau
harga pengalihannya lebih dari
Rp10.000.000.000,00 dan luas bangunan lebih
dari 500m2.
d. apartemen, kondominium, dan sejenisnya dengan
harga jual atau pengalihannya lebih dari
Rp10.000.000.000,00 dan/atau luas bangunan
lebih dari 400m2 .
e. kendaraan bermotor roda empat pengangkutan
orang kurang dari 10 orang berupa sedan, jeep,
sport utility vehicle (suv), multi purpose vehicle
(mpv), minibus dan sejenisnya dengan harga jual
lebih dari Rp5.000.000.000,00 dan dengan
kapasitas silinder lebih dari 3.000 cc.

C. Dikecualikan dari Pemungutan PPh Pasal 22


Yang dikecualikan dari pemungutan PPh Pasal 22 sebagaimana diatur dalam
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 154/PMK.03/2010 adalah:
1. Diberikan dengan Surat Keterangan Bebas:
a. Impor barang dan/atau penyerahan barang yang berdasarkan ketentuan
peraturan perundang-undangan tidak terutang Pajak Penghasilan.
b. Emas batangan yang akan diproses untuk menghasilkan barang perhiasan dari
emas untuk tujuan ekspor.
2. Dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai:
a. Impor barang yang dibebaskan dari pungutan Bea Masuk18 dan/atau Pajak
Pertambahan Nilai:
1. barang perwakilan negara asing beserta para pejabatnya yang bertugas di
Indonesia berdasarkan asas timbal balik;
2. barang untuk keperluan badan internasional beserta pejabatnya yang
bertugas di Indonesia dan tidak memegang paspor Indonesia yang diakui dan
terdaftar dalam peraturan menteri keuangan yang mengatur tentang tata cara
pemberian pembebasan bea masuk dan cukai atas impor barang untuk
keperluan badan internasional beserta para pejabatanya yang bertugas di
Indonesia;

18
Pengecualian dari pemungutan PPh Pasal 22 atas barang impor tetap berlaku dalam hal barang impor
tersebut dikenakan tarif bea masuk sebesar 0%(nol persen).

81 | P a g e
3. barang kiriman hadiah untuk keperluan ibadah umum, amal, sosial,
kebudayaan atau untuk kepentingan penanggulangan bencana;
4. barang untuk keperluan museum, kebun binatang, konservasi alam dan
tempat lain semacam itu yang terbuka untuk umum;
5. barang untuk keperluan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan;
6. barang untuk keperluan khusus kaum tunanetra dan penyandang cacat
lainnya;
7. peti atau kemasan lain yang berisi jenazah atau abu jenazah;
8. barang pindahan;
9. barang pribadi penumpang, awak sarana pengangkut, pelintas batas, dan
barang kiriman sampai batas jumlah tertentu sesuai dengan ketentuan
perundang-undangan kepabeanan;
10. barang yang diimpor oleh Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah yang
ditujukan untuk kepentingan umum;
11. persenjataan, amunisi, dan perlengkapan militer, termasuk suku cadang yang
diperuntukkan bagi keperluan pertahanan dan keamanan negara;
12. barang dan bahan yang dipergunakan untuk menghasilkan barang bagi
keperluan pertahanan dan keamanan negara;
13. vaksin Polio dalam rangka pelaksanaan program Pekan Imunisasi Nasional
(PIN);
14. buku-buku pelajaran umum, kitab suci dan buku-buku pelajaran agama;
15. kapal laut, kapal angkutan sungai, kapal angkutan danau, kapal angkutan
penyeberangan, kapal pandu, kapal tunda, kapal penangkap ikan, kapal
tongkang, dan suku cadang serta alat keselamatan pelayaran atau alat
keselamatan manusia yang diimpor dan digunakan oleh Perusahaan
Pelayaran Niaga Nasional atau perusahaan penangkapan ikan nasional;
16. pesawat udara dan suku cadang serta alat keselamatan penerbangan atau
alat keselamatan manusia, peralatan untuk perbaikan atau pemeliharaan
yang diimpor dan digunakan oleh Perusahaan Angkutan Udara Niaga
Nasional;
17. kereta api dan suku cadang serta peralatan untuk perbaikan atau
pemeliharaan serta prasarana yang diimpor dan digunakan oleh PT Kereta
Api Indonesia;
18. peralatan yang digunakan untuk penyediaan data batas dan foto udara
wilayah Negara Republik Indonesia yang dilakukan oleh Tentara Nasional
Indonesia; dan/atau

82 | P a g e
19. barang untuk kegiatan hulu Minyak dan Gas Bumi yang importasinya
dilakukan oleh Kontraktor Kontrak Kerja Sama.
b. Impor sementara, jika pada waktu impornya nyata-nyata dimaksudkan untuk
diekspor kembali.
3. Dilaksanakan tanpa Surat Keterangan Bebas:
a. Pembayaran atas pembelian barang yang jumlahnya paling banyak Rp
2.000.000,00 dan tidak merupakan pembayaran yang terpecah-pecah.
b. Pembayaran untuk pembelian bahan bakar minyak, listrik, gas, pelumas, air
minum/PDAM dan benda-benda pos.
c. Pembayaran untuk pembelian gabah dan/atau beras oleh Perusahaan Umum
Badan Urusan Logistik (BULOG).
d. Pembayaran untuk pembelian barang sehubungan dengan penggunaan dana
Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
e. Pembayaran/pencairan dana Jaring Pengaman Sosial oleh Kantor
Perbendaharaan dan Kas Negara.
c. Impor kembali (re-impor), yang meliputi barang-barang yang telah diekspor
kemudian diimpor kembali dalam kualitas yang sama atau barang-barang yang
telah diekspor untuk keperluan perbaikan, pengerjaan dan pengujian, yang telah
memenuhi syarat yang ditentukan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.
D. Saat Terutang PPh Pasal 22
PPh Pasal 22 Saat Terutang
1. Impor barang  Terutang dan dilunasi bersamaan dengan
saat pembayaran Bea Masuk.
 Dalam hal pembayaran Bea Masuk ditunda
atau dibebaskan, maka PPh Pasal 22
terutang dan dilunasi pada saat
penyelesaian dokumen Pemberitahuan
Impor Barang (PIB).
2. Pembelian barang oleh: Terutang dan dipungut pada saat pembayaran
a. Bendahara Pemerintah dan
Kuasa Pengguna Anggaran
(KPA).
b. Bendahara pengeluaran.
c. KPA atau pejabat penerbit
Surat Perintah Membayar

83 | P a g e
yang diberi delegasi oleh
KPA.
3. Penjualan hasil produksi: Terutang dan dipungut pada saat penjualan
a. Industri semen,
b. Industri kertas,
c. Industri baja, dan
d. Industri otomotif
4. Penjualan hasil bahan bakar Terutang dan dipungut pada saat penerbitan
minyak, gas dan pelumas Surat Perintah Pengeluaran Barang (delivery
order)
5. Pembelian bahan-bahan dari Terutang dan dipungut pada saat pembelian
pedagang pengumpul
6. Penjualan barang sangat mewah Terutang dan dipungut pada saat melakukan
penjualan barang yang tergolong sangat
mewah

E. Cara Pemungutan PPh Pasal 22


PPh Pasal 22 Cara Pemungutan Bukti Pemungutan
1. Impor barang Dilaksanakan dengan cara Penyetoran PPh Pasal
penyetoran oleh: 22 menggunakan
a. importir yang formulir Surat Setoran
bersangkutan; atau Pajak yang berlaku
b. Direktorat Jenderal Bea sebagai Bukti
dan Cukai, Pemungutan Pajak.
ke kas negara melalui
Kantor Pos, bank devisa,
atau bank yang ditunjuk
oleh Menteri Keuangan.
2. Pembelian barang oleh: Disetor oleh pemungut ke
a. Bendahara kas negara melalui Kantor
Pemerintah dan Pos, bank devisa, atau
Kuasa Pengguna bank yang ditunjuk oleh
Anggaran (KPA). Menteri Keuangan, dengan
b. Bendahara menggunakan Surat
pengeluaran. Setoran Pajak yang telah
c. KPA atau pejabat diisi atas nama rekanan

84 | P a g e
penerbit Surat serta ditandatangani oleh
Perintah Membayar pemungut pajak.
yang diberi delegasi
oleh KPA.
3. Penjualan hasil produksi: Disetor oleh pemungut ke Pemungut pajak wajib
a. Industri semen, kas negara melalui Kantor menerbitkan Bukti
b. Industri kertas, Pos, bank devisa, atau Pemungutan PPh Pasal
c. Industri baja, dan bank yang ditunjuk oleh 22 dalam rangkap 3,
d. Industri otomotif Menteri Keuangan dengan yaitu :
4. Penjualan hasil bahan menggunakan Surat a. lembar kesatu untuk
bakar minyak, gas dan Setoran Pajak. WP (pembeli/
pelumas pedagang
5. Pembelian bahan-bahan pengumpul);
dari pedagang b. lembar kedua
pengumpul sebagai lampiran
6. Penjualan barang sangat laporan bulanan
mewah kepada KPP
(dilampirkan pada
SPT Masa PPh Pasal
22); dan
c. lembar ketiga
sebagai arsip
pemungut pajak.

F. Sifat Pemungutan PPh Pasal 22


PPh Pasal 22 Sifat Pemungutan
1. Impor barang  Bersifat tidak final
2. Pembelian barang oleh: (kredit pajak)
a. Bendahara Pemerintah dan Kuasa Pengguna  Dapat diperhitungkan
Anggaran (KPA). sebagai pembayaran
b. Bendahara pengeluaran. Pajak Penghasilan
c. KPA atau pejabat penerbit Surat Perintah dalam tahun berjalan
Membayar yang diberi delegasi oleh KPA. bagi Wajib Pajak yang
3. Penjualan hasil produksi: dipungut.
a. Industri semen,
b. Industri kertas,

85 | P a g e
c. Industri baja, dan
d. Industri otomotif
4. Pembelian bahan-bahan dari pedagang pengumpul
5. Penjualan barang sangat mewah
4. Penjualan hasil bahan bakar minyak, gas dan
pelumas kepada:
a. Penyalur/agen
b. Selain penyalur/agen Bersifat final

G. Studi Kasus PPh Pasal 22


Contoh

PPh Pasal 22
PT Rubber Jaya, eksportir karet yang telah ditunjuk oleh KPP sebagai pemungut PPh
Pasal 22, melakukan transaksi sebagai berikut:
1
Tanggal Transaksi
Contoh
Feb 9 Membeli bahan olah karet dari PT Perkebunan Nusantara yang menjual
2011 bahan olah karet hasil perkebunan sendiri senilai Rp600.000.000,00.
17 Membeli bahan olah karet dari Tn. Eko, seorang pedagang besar yang
membeli hasil karet dari petani karet di sekitar daerahnya, senilai
Rp100.000.000,00.
Bagaimana kewajiban pemotongan atau pemungutan PPh terkait transaksi tersebut?
PT Rubber Jaya melakukan pemungutan PPh Pasal 22 hanya atas transaksi dengan Tn.
Eko, karena PT Perkebunan Nusantara tidak termasuk dalam pengertian pedagang
pengumpul.
PPh Pasal 22 yang harus dipungut oleh PT Rubber Jaya adalah:
0,25% x Rp100.000.000,00 = Rp250.000,00
PT Rubber Jaya wajib:
a. Memungut PPh Pasal 22 sebesar Rp250.000,00 pada saat pembelian yaitu tanggal
17 Februari 2011 dan membuat bukti pemungutan PPh Pasal 22;
b. Menyetor PPh Pasal 22 yang telah dipungut atas pembelian dari pedagang
pengumpul selama bulan Februari 2011 paling lambat tanggal 10 Maret 2011;
c. Melaporkan pemungutan PPh Pasal 22 tersebut menggunakan SPT Masa PPh
Pasal 22 Masa Pajak Februari 2011 paling lambat tanggal 21 Maret 2011.
Contoh

PPh Pasal 22
PT Aviasi Tetuko yang merupakan Perusahaan Angkutan Udara Niaga Nasional pada
bulan Juni 2011 melakukan impor peralatan simulasi penerbangan pesawat terbaru
2
untuk keperluan para pilotnya. Nilai impor (termasuk Bea Masuk dan pungutan pabean
Contoh

86 | P a g e
lainnya) peralatan simulasi penerbangan tersebut adalah Rp1.200.000.000,00. PT Aviasi
Tetuko telah memiliki Angka Pengenal Impor (API).
Bagaimana kewajiban pemotongan atau pemungutan PPh terkait transaksi tersebut?
Peralatan simulasi penerbangan yang diimpor oleh PT Aviasi Tetuko tidak termasuk
dalam 19 kelompok barang yang atas impornya dikecualikan dari pemungutan PPh
Pasal 22. PPh Pasal 22 impor disetor sendiri oleh PT Aviasi Tetuko sebesar 2,5% dari
nilai impor.
Dengan demikian, PPh Pasal 22 yang wajib disetor oleh PT Aviasi Tetuko adalah:
2,5% x Rp1.200.000.000,00 = Rp30.000.000,00
PT Aviasi Tetuko wajib:
a. Menyetor PPh Pasal 22 sebesar Rp30.000.000,00 bersamaan dengan saat
pembayaran Bea Masuk.
b. SSP/SSPCP penyetoran PPh Pasal 22 impor tersebut berfungsi sebagai bukti
pemungutan PPh Pasal 22 impor bagi PT Aviasi Tetuko.
Contoh

PPh Pasal 22 PT Aviasi Tetuko juga melakukan impor pesawat terbang terbaru yang akan digunakan
sendiri untuk melayani pengangkutan penumpang rute domestik.
3
Bagaimana kewajiban pemotongan atau pemungutan PPh terkait transaksi tersebut?
Contoh
Pesawat udara yang diimpor dan digunakan oleh Perusahaan Angkutan Udara Niaga
Nasional dikecualikan dari pemungutan PPh Pasal 22. Dengan demikian, atas impor
pesawat yang akan digunakan oleh PT Aviasi Tetuko tidak dipungut PPh Pasal 22.
Pengecualian pemungutan PPh Pasal 22 tersebut tidak memerlukan Surat Keterangan
Bebas PPh Pasal 22 dari Direktorat Jenderal Pajak, teknis pelaksanaan ketentuan
pengecualian dilakukan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.
Contoh

PPh Pasal 22 PT Petro Industri, bergerak dalam bidang perdagangan umum berupa penjualan bahan
bakar minyak (BBM) dan gas. Sejak tahun 2009 resmi menjadi penyalur BBM non SPBU
4
Pertamina. Selama bulan Juli 2011 melakukan transaksi sebagai berikut:
Contoh
Tanggal Transaksi
Juli 4 Membeli BBM Pertamina senilai Rp300.000.000 (Surat Perintah
2011 Pengeluaran Barang atau delivery order tanggal 4 Juli 2011.
6 Mengimpor BBM senilai Rp200.000.000,00
11 Menjual BBM yang dibeli dari Pertamina kepada PT Fosil Fuel senilai
Rp60.000.000,00 (delivery order tanggal 11 Juli 2011)
13 Menjual BBM yang berasal dari impor sendiri kepada PT Daya Motor,

87 | P a g e
perusahaan otomotif, senilai Rp25.000.000,00 (delivery order tanggal 13
Juli 2011)
Bagaimana kewajiban pemotongan atau pemungutan PPh terkait transaksi tersebut?
 PT Petro Industri tidak memungut PPh Pasal 22 atas penjualan BBM kepada PT
Fosil Fuel karena dalam transaksi ini PT Petro Industri bukan bertindak sebagai
produsen atau importir BBM yang dijual.
 Sebaliknya, PT Petro Industri pada saat membeli BBM dari Pertamina dipungut PPh
Pasal 22 oleh Pertamina sebesar:
PPh Pasal 22 = 0,3% x Rp300.000.000,00 = Rp900.000,00
PPh Pasal 22 tersebut bersifat final karena PT Petro Industri adalah penyalur. PPh
Pasal 22 dipungut oleh Pertamina menggunakan bukti pemungutan pada tanggal 4
Juli 2011 yaitu pada saat penerbitan delivery order.
 PT Petro Industri sebagai importir BBM memungut PPh Pasal 22 atas penjualan
BBM kepada PT Daya Motor sebesar:
PPh Pasal 22 = 0,3% x Rp25.000.000,00 = Rp75.000,00
Kewajiban PT Petro Industri dalam melakukan pemungutan PPh Pasal 22 atas
penjualan BBM adalah:
a. Memungut PPh Pasal 22 sebesar Rp75.000,00 pada saat penerbitan delivery order
yaitu tanggal 13 Juli 2011 dan membuat bukti pemungutan PPh Pasal 22.
b. Menyetor PPh Pasal 22 yang telah dipungut atas penjualan BBM selama bulan Juli
2011 paling lambat 10 Agustus 2011;
c. Melaporkan PPh Pasal 22 menggunakan SPT Masa PPh Pasal 22 Masa Pajak Juli
2011 paling lambat tanggal 22 Agustus 2011.
Contoh

PPh Pasal 22
PT Metal Solid adalah perusahaan yang memproduksi baja baik dalam bentuk produk
hulu maupun hilir. Pada tanggal 27 Juni 2011, PT Metal Solid menjual tiang baja kepada
5
PT Karya Konstruktindo dalam rangka pembangunan jembatan antar pulau di Kepulauan
Contoh
Riau senilai Rp30.000.000.000,00.
Pada bulan September 2011 ternyata ditemukan ada sebagian tiang baja yang tidak
memenuhi spesifikasi yang diminta, sehingga PT Karya Konstruktindo mengembalikan
(retur) tiang-tiang baja tersebut senilai Rp5.000.000.000,00. PT Metal Solid telah
ditunjuk oleh KPP sebagai pemungut PPh Pasal 22.
Bagaimana kewajiban pemotongan atau pemungutan PPh terkait transaksi tersebut?
PT Metal Solid memungut PPh Pasal 22 atas penjualan baja tersebut sebagai berikut:
PPh Pasal 22 = 0,3% x Rp30.000.000.000,00 = Rp90.000.000,00

88 | P a g e
Kewajiban PT Metal Solid dalam melakukan pemungutan PPh Pasal 22 adalah:
a. Memungut PPh Pasal 22 sebesar Rp90.000.000,00 pada saat penjualan yaitu
tanggal 27 Juni 2011 dan membuat bukti pemungutan PPh Pasal 22.
b. Menyetor PPh Pasal 22 yang telah dipungut atas penjualan baja selama bulan Juni
2011 paling lambat 11 Juli 2011.
c. Melaporkan PPh Pasal 22 menggunakan SPT Masa PPh Pasal 22 Masa Pajak Juni
2011 paling lambat tanggal 20 Juli 2011.
Pada saat terjadi pengembalian barang hasil produksi yang dibeli dari PT Metal Solid
setelah bulan terjadinya pembelian, PT Karya Konstruktindo selaku pembeli membuat
dan menyampaikan nota retur kepada PT Metal Solid. Nota retur tersebut harus dibuat
dalam masa pajak terjadinya pengembalian barang hasil produksi.
Kewajiban PT Metal Solid atas retur tersebut adalah:
a. Mengurangkan PPh Pasal 22 yang harus dipungutnya dari total transaksi penjualan
baja di bulan September 2011 sebesar:
PPh Pasal 22 = 0,3% x Rp5.000.000.000,00 = Rp15.000.000,00
b. Dengan demikian, apabila total PPh Pasal 22 yang harus dipungut atas transaksi
selama bulan September 2011 adalah Rp700.000.000,00, maka PPh Pasal 22 yang
wajib disetor oleh PT Metal Solid untuk masa pajak September 2011 adalah
Rp685.000.000,00 (Rp700.000.000,00 – Rp15.000.000,00).
Contoh

PPh Pasal 22 PT Ageng Padajaya adalah perusahaan pengembang properti. Pada tanggal 23 Mei
2011, PT Ageng Padajaya menjual 1 unit apartemen senilai Rp10.500.000.000,00 (tidak
6
termasuk PPN dan PPnBM) kepada Tn. Nafis.
Contoh
Bagaimana kewajiban pemotongan atau pemungutan PPh atas transaksi tersebut?
PT Ageng Padajaya memungut PPh Pasal 22 atas penjualan apartemen tersebut
sebesar:
PPh Pasal 22 = 5% x Rp10.500.000.000,00 = Rp525.000.000,00
Kewajiban PT Ageng Padajaya dalam melakukan pemungutan PPh Pasal 22 adalah:
a. Memungut PPh Pasal 22 sebesar Rp525.000.000,00 pada saat penjualan yaitu
tanggal 23 Mei 2011 dan membuat bukti pemungutan PPh Pasal 22.
b. Menyetor PPh Pasal 22 yang telah dipungut atas penjualan apartemen sangat
mewah selama bulan Mei 2011 paling lambat 10 Juni 2011.
c. Melaporkan PPh Pasal 22 menggunakan SPT Masa PPh Pasal 22 Masa Pajak Mei
2011 paling lambat tanggal 20 Juni 2011.

89 | P a g e
H. Studi Kasus PPh Pasal 22 Bendahara Pemerintah atas Belanja Barang, Modal, dan
Jasa
Taufik Hidayat yang merupakan bendahara satker Madrasah Aliyah Negeri (MAN)
PPh Pasal 22
Purbalingga yang beralamatkan di Jl. Letnan Jenderal S. Parman, Purbalingga dengan
7
NPWP 00.321.675.3-529.000 melakukan transaksi sebagai berikut:
Contoh
Tanggal Transaksi
Feb 2 Membeli secara tunai makanan siap saji dari sebuah restoran untuk
2011 keperluan rapat seharga Rp800.000,00.
4 Membeli secara tunai alat tulis kantor Rp1.100.000,00 dan buku pelajaran
umum Rp1.500.000,00 dari toko buku “Perwira” yang dimiliki oleh Tn. Joko
yang mempunyai NPWP/NPPKP 06.325.456.3-529.000.
15 Membeli bensin dari SPBU Pertamina untuk keperluan kendaraan dinas
seharga Rp500.000,00, membayar tagihan rekening listrik sebesar
Rp1.000.000,00 kepada PLN, serta membeli benda-benda pos
Rp500.000,00 di kantor pos.
18 Membeli secara tunai buku pelajaran umum Rp2.500.000,00, pakaian
seragam jadi Rp3.000.000,00, pengadaan formulir dan kertas untuk ujian
sekolah Rp2.000.000,00 dari sebuah toko pedagang eceran milik Tn.
Bagus yang mempunyai NPWP/NPPKP 06.456.321.2-529.000.
Pembelian tersebut dananya bersumber dari Bantuan Operasional Sekolah
(BOS)
21 Membeli 4 buah printer dari CV “Susanto” (NPWP/NPPKP 01.222.355.5-
529.000) seharga Rp20.000.000,00. SP2D diterbitkan KPPN pada tanggal
23 Februari 2011.
22 Membeli komputer dari CV “Wijaya” (NPWP/NPPKP 01.562.358.3-529.000)
dengan harga pembelian Rp11.000.000,00 (sudah termasuk PPN). SP2D
diterbitkan oleh KPPN pada tanggal 28 Februari 2011.
Pembahasan:
Tanggal Pemungutan PPh Pasal 22
Feb 2 Pembelian makanan siap saji di restoran pada dasarnya harus dipungut
2011 PPh Pasal 22. Namun, karena nilai pembeliannya di bawah
Rp2.000.000,00 maka atas pembelian tersebut tidak dipungut PPh Pasal
22.
4 Pembelian alat-alat tulis kantor Rp1.100.000,00 dan buku pelajaran umum
Rp1.500.000,00 dari toko “Perwira” dipungut PPh Pasal 22 karena total

90 | P a g e
pembelian tersebut telah melebihi nilai Rp2.000.000,00.
PPh Pasal 22 = 1,5% x Rp2.600.000,00 = Rp39.000,00
Kewajiban selanjutnya yang harus dilakukan oleh Taufik Hidayat sebagai
Bendahara MAN Purbalingga adalah:
a. Menyetorkan PPh Pasal 22 tersebut pada tanggal 4 Februari 2011
dengan menggunakan SSP atas nama Tn. Joko dan ditandatangani
oleh Bendahara ke kas Negara melalui Bank Persepsi atau Kantor Pos
dan Giro.
b. Melaporkan SPT Masa PPh Pasal 22 selambat-lambatnya tanggal 14
Maret 2011 ke KPP Pratama Purbalingga.
c. Memberikan SSP PPh Pasal 22 kepada Tn. Joko (Toko “Perwira”)
15 Atas pembelian bahan bakar minyak, listrik, dan benda-benda pos tidak
dipungut PPh Pasal 22.
18 Atas pembelian barang sehubungan dengan penggunaan dana BOS
(Bantuan Operasional Sekolah) tidak dilakukan pemungutan PPh Pasal 22.
21 Atas pembayaran printer kepada CV “Susanto” sebesar Rp20.000.000,00
dipungut PPh Pasal 22 sebagai berikut:
PPh Pasal 22 = 1,5% x Rp20.000.000,00 = Rp300.000,00
22 Atas pembayaran komputer kepada CV “Wijaya” dipungut PPh Pasal 22
sebagai berikut:
PPh Pasal 22 = 1,5% x (100/110 x Rp11.000.000,00) = Rp150.000,00

I. Pembayaran/Penyetoran dan Pelaporan Pemungutan PPh Pasal 22

Pembayaran/Penyetoran dan Pelaporan Pemungutan PPh Pasal 22

PPh Pasal 22 Tanggal Jatuh Tempo Batas Akhir Pelaporan


Penyetoran
PPh Pasal 22
Harus dilunasi bersamaan dengan saat pembayaran Bea Masuk
atas Impor
I
Dalam hal Bea Masuk Harus dilunasi pada saat
M ditunda/dibebaskan penyelesaian dokumen pemberitahuan pabean impor
P
O Wajib melaporkan hasil
R Dipungut oleh 1 hari kerja setelah dilakukan pemungutannya secara
Ditjen Bea dan Cukai pemungutan pajak MINGGUAN paling lama pada hari
kerja terakhir minggu berikutnya

Harus disetor pada hari yang sama


dengan pelaksanaan pembayaran
atas penyerahan barang yang
Wajib melaporkan hasil
dibiayai dari belanja Negara atau
BENDAHARA belanja Daerah, dengan
pemungutannya paling lama 14
hari setelah Masa Pajak berakhir
menggunakan SSP atas nama
rekanan dan ditandatangani oleh
bendahara.
91 | P a g e
Penyerahan BBM, gas, dan
pelumas kepada
penyalur/agen atau industri Harus disetor paling lama Wajib menyampaikan SPT Masa
BAB
PPh PASAL 23

4
Tujuan Instruksional Khusus:
1. Mampu menguraikan tentang konsep PPh Pasal 23.
2. Mampu menjelaskan tentang Pemotong PPh Pasal 23.
3. Mampu menjelaskan tentang tarif pemotongan PPh Pasal 23.
4. Mampu menjelaskan tentang yang tidak dilakukan pemotongan PPh Pasal 23.
5. Mampu menjelaskan tentang perlakuan PPh atas dividen, sewa, bunga, dan hadiah.
6. Mampu menjelaskan tentang saat penyetoran dan pelaporan PPh Pasal 23.

PPh Pasal 23 merupakan cara pelunasan pajak dalam tahun berjalan melalui
pemotongan pajak antara lain atas penghasilan berupa dividen, royalti, jasa manajemen,
jasa teknik, dan jasa-jasa lainnya yang dibayarkan, disediakan untuk dibayarkan, atau telah
jatuh tempo pembayarannya kepada Wajib Pajak dalam negeri atau bentuk usaha tetap.

A. Peta Konsep PPh Pasal 23


Gambar. Peta Konsep Pemotongan PPh Pasal 23

DIVIDEN

BUNGA

15%
ROYALTI

PPh
Pasal 23 HADIAH, PENGHARGAAN,
BONUS, dan sejenisnya

SEWA dan Ph Lain sehubungan


dengan Penggunaan Harta
2% Jasa Teknik
Jasa Manajemen
Imbalan JASA
Jasa Konsultan
JASA LAIN

92 | P a g e
B. Pemotong PPh Pasal 23
Pemotong PPh Pasal 23 adalah:
a. Badan pemerintah.
b. Subjek pajak badan dalam negeri.
c. Penyelenggara kegiatan.
d. Bentuk usaha tetap.
e. Perwakilan perusahaan luar negeri lainnya

C. Tarif Pemotongan PPh Pasal 23


Objek PPh Pasal 23 Tarif
1. Dividen
2. Bunga, termasuk premium, diskonto, dan imbalan karena jaminan
pengembalian utang
15%
3. Royalti
4. Hadiah, penghargaan, bonus, dan sejenisnya selain yang telah dipotong
PPh Pasal 21
5. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta 2%
6. Imbalan sehubungan dengan jasa teknik, jasa manajemen, jasa konstruksi, 2%
jasa konsultan.
7. Jasa lain: 2%
a. Jasa penilai (appraisal);
b. Jasa aktuaris;
c. Jasa akuntansi, pembukuan, dan atestasi laporan keuangan;
d. Jasa perancang (design);
e. Jasa pengeboran (drilling) di bidang penambangan minyak dan gas bumi
(migas), kecuali yang dilakukan oleh bentuk usaha tetap (BUT);
f. Jasa penunjang di bidang penambangan migas;
g. Jasa penambangan dan jasa penunjang di bidang penambangan selain
migas;
h. Jasa penunjang di bidang penerbangan dan bandar udara;
i. Jasa penebangan hutan;
j. Jasa pengolahan limbah;
k. Jasa penyedia tenaga kerja (outsourcing services)
l. Jasa perantara dan/atau keagenan;
m. Jasa di bidang perdagangan surat-surat berharga, kecuali yang
dilakukan oleh Bursa Efek, KSEI dan KPEI;

93 | P a g e
n. Jasa kustodian/pemyimpanan /penitipan, kecuali yang dilakukan oleh
KSEI;
o. Jasa pengisian suara (dubbing) dan/atau sulih suara;
p. Jasa mixing film;
q. Jasa sehubungan dengan software computer, termasuk perawatan,
pemeliharaan dan perbaikan;
r. Jasa instalasi/pemasangan mesin, peralatan, listrik, telepon, air, gas,
AC, dan/atau TV kabel, selain yang dilakukan oleh Wajib Pajak yang
ruang lingkupnya di bidang konstruksi dan mempunyai izin dan/atau
sertifikasi sebagai pengusaha konstruksi;
s. Jasa perawatan/perbaikan/pemeliharaan mesin, peralatan, listrik,
telepon, air, gas, AC, TV kabel, alat transportasi/kendaraan dan/atau
bangunan, selain yang dilakukan oleh Wajib Pajak yang ruang
lingkupnya di bidang konstruksi dan mempunyai izin dan/atau sertifikasi
sebagai pengusaha konstruksi;
t. Jasa maklon;
u. Jasa penyelidikan dan keamanan;
v. Jasa penyelenggara kegiatan atau event organizer;
w. Jasa pengepakan;
x. Jasa penyediaan tempat dan/atau waktu dalam media masa, media luar
ruang atau media lain untuk penyampaian informasi;
y. Jasa pembasmian hama;
z. Jasa kebersihan atau cleaning service;
aa. Jasa catering atau tata boga.

D. Tidak Dilakukan Pemotongan PPh Pasal 23


Pemotongan PPh Pasal 23 tidak dilakukan atas:
a. Penghasilan yang dibayar atau terutang kepada bank;
b. Sewa yang dibayarkan atau terutang sehubungan dengan sewa guna usaha dengan
hak opsi;
c. Dividen yang diterima oleh WP orang pribadi dalam negeri19.
d. Dividen yang diterima atau diperoleh perseroan terbatas sebagai WP dalam negeri,
koperasi, BUMN, atau BUMD, dari penyertaan modal pada badan usaha yang
didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia dengan syarat:
1. dividen berasal dari cadangan laba yang ditahan; dan

19 Lihat Pasal 17 ayat (2c) UU PPh dan PP Nomor 19 Tahun 2009.

94 | P a g e
2. bagi perseroan terbatas, BUMN dan BUMD yang menerima dividen, kepemilikan
saham pada badan yang memberikan dividen paling rendah 25% dari jumlah
modal yang disetor20.
e. Bagian laba yang diterima atau diperoleh anggota dari perseroan komanditer yang
modalnya tidak terbagi atas saham-saham, persekutuan, perkumpulan, firma, dan
kongsi, termasuk pemegang unit penyertaan kontrak investasi kolektif21.
f. Sisa hasil usaha koperasi yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggotanya.
g. Penghasilan yang dibayar atau terutang kepada badan usaha atas jasa keuangan
yang berfungsi sebagai penyalur pinjaman dan/atau pembiayaan22.
E. Dividen

WP PPh
BADAN & BUT PASAL 23

WP DITERIMA
DALAM OLEH
NEGERI WP OP PPh PASAL
DALAM 17 ayat (2c)
DITERIMA NEGERI
OBJEK PPh
OLEH

WP PPh
DIVIDE LUAR NEGERI PASAL 26
N

PT sebagai
PERSYARATAN:
WP DALAM NEGERI
DIKECUALIKAN DITERIMA 1. DIVIDEN berasal dari
DARI OBJEK PPh OLEH CADANGAN LABA DITAHAN
2. Bagi PT, BUMN/BUMD yang
KOPERASI menerima dividen,
KEPEMILIKAN SAHAM pada
badan yang memberikan
dividen PALING RENDAH 25%
BUMN/BUMD dari jumlah modal disetor.

Gambar: Pengenaan Pajak Penghasilan atas Dividen


Dividen merupakan bagian laba yang diperoleh pemegang saham atau
pemegang polis asuransi atau pembagian sisa hasil usaha koperasi yang diperoleh
anggota koperasi.
Termasuk dalam pengertian dividen adalah:
1. Pembagian laba baik secara langsung ataupun tidak langsung, dengan nama
dan dalam bentuk apapun.

20 Lihat Pasal 4 ayat (3) huruf f UU PPh.


21 Lihat Pasal 4 ayat (3) huruf i UU PPh.
22 Lihat Peraturan Menteri Keuangan Nomor 251/PMK.03/2008.

95 | P a g e
Pasal 6 PP Nomor 94 Tahun 2010 mengatur bahwa pembagian laba secara
langsung dan/atau tidak langsung yang berasal dari saldo laba termasuk saldo
laba berdasarkan proyeksi laba tahun berjalan merupakan objek pajak, kecuali
bagian laba sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf f Undang-
Undang Pajak Penghasilan.
2. Pembayaran kembali karena likuidasi yang melebihi jumlah modal yang disetor.
3. Pemberian saham bonus yang dilakukan tanpa penyetoran termasuk saham
bonus yang berasal dari kapitalisasi agio saham23.
Apabila saham bonus diberikan kepada pemegang saham yang menjadikan
jumlah nilai nominal seluruh saham termasuk saham bonus yang diperolehnya
lebih besar dari jumlah setoran modalnya, pemberian saham bonus yang berasal
dari kapitalisasi agio saham tersebut termasuk dalam pengertian pembagian laba
atau dividen.
Namun demikian apabila saham bonus dimaksud diberikan kepada
pemegang saham sehingga pemberian tersebut tidak menjadikan jumlah nilai
seluruh saham (termasuk saham bonus) yang diperoleh atau dimilikinya lebih
besar dari jumlah setoran modalnya, pemberian saham bonus yang berasal dari
kapitalisasi agio saham tersebut tidak termasuk dalam pengertian pembagian
laba atau dividen.
Pasal 2 PP 94 Tahun 2010 mengatur bahwa tidak termasuk pengertian
dividen adalah pemberian saham bonus yang dilakukan tanpa penyetoran yang
berasal dari:
a. Kapitalisasi agio saham kepada pemegang saham yang telah menyetor
modal atau membeli saham di atas harga nominal, sepanjang jumlah nilai
nominal saham yang dimilikinya setelah pembagian saham bonus tidak
melebihi jumlah setoran modal; dan
b. Kapitalisasi selisih lebih penilaian kembali aktiva tetap sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) Undang-Undang Pajak Penghasilan.
4. Pembagian laba dalam bentuk saham.
5. Pencatatan tambahan modal yang dilakukan tanpa penyetoran.
6. Jumlah yang melebihi jumlah setoran sahamnya yang diterima atau diperoleh
pemegang saham karena pembelian kembali saham-saham oleh perseroan yang
bersangkutan.

23
Agio saham berasal dari setoran modal pemegang saham di atas nilai nominal saham yang diperolehnya.

96 | P a g e
7. Pembayaran kembali seluruhnya atau sebagian dari modal yang disetorkan, jika
dalam tahun-tahun yang lampau diperoleh keuntungan, kecuali jika pembayaran
kembali itu adalah akibat dari pengecilan modal dasar (statuter) yang dilakukan
secara sah.
8. Pembayaran sehubungan dengan tanda-tanda laba, termasuk yang diterima
sebagai penebusan tanda-tanda laba tersebut.
9. Bagian laba sehubungan dengan pemilikan obligasi.
10. Bagian laba yang diterima oleh pemegang polis.
11. Pembagian berupa sisa hasil usaha kepada anggota koperasi.
12. Pengeluaran perusahaan untuk keperluan pribadi pemegang saham yang
dibebankan sebagai biaya perusahaan.
Dalam praktek sering dijumpai pembagian atau pembayaran dividen secara terselubung,
misalnya dalam hal pemegang saham yang telah menyetor penuh modalnya dan
memberikan pinjaman kepada perseroan dengan imbalan bunga yang melebihi
kewajaran. Apabila terjadi hal yang demikian maka selisih lebih antara bunga yang
dibayarkan dan tingkat bunga yang berlaku di pasar, diperlakukan sebagai dividen.
Bagian bunga yang diperlakukan sebagai dividen tersebut tidak boleh dibebankan
sebagai biaya oleh perseroan yang bersangkutan.
F. Sewa
Gambar. Peta Konsep Aspek Pajak Penghasilan atas Sewa

SEWA Objek PPh


TANAH dan/atau Final Pasal 4
BANGUNAN ayat (2)

SEWA
OPERATING LEASE
Dipotong
SEWA dan (Sewa Guna Usaha
PPh Pasal 23
Penghasilan Lain TANPA Hak Opsi)
sehubungan dengan
PENGGUNAAN HARTA
FINANCE LEASE TIDAK
(Sewa Guna Usaha Dipotong
DENGANHak Opsi) PPh Pasal 23

G. Bunga
Gambar. Peta Konsep Aspek Pajak Penghasilan atas Bunga

Objek Bunga, termasuk premium, diskonto, dan imbalan


PPh Pasal 23 karena jaminan pengembalian utang

 Bunga yang dibayar atau terutang kepada Bank


TIDAK Dipotong  Bunga yang dibayar atau terutang kepada badan
BUNGA PPh Pasal 23 usaha atas jasa keuangan yang berfungsi sebagai
penyalur pinjaman dan/atau pembiayaan 97 | P a g e

 Bunga Deposito dan Tabungan serta Diskonto


Sertifikat Bank Indonesia
H. Hadiah
Gambar. Peta Konsep Aspek Pajak Penghasilan atas Hadiah

PPh FINAL
HADIAH UNDIAN
Pasal 4 ayat (2)

HADIAH sehubungan dengan Penerima:


PEKERJAAN, JASA, dan PPh Pasal 21
WP OP Dalam Negeri
KEGIATAN

HADIAH atau PENGHARGAAN Penerima:


PPh Pasal 23
PERLOMBAAN WP BADAN dan BUT
HADIAH dan
PENGHARGAAN
Penerima:
PENGHARGAAN PPh Pasal 26
WP Luar Negeri

HADIAH LANGSUNG dalam


PENJUALAN barang atau
jasa, dengan syarat:
 Diberikan kepada semua
pembeli atau konsumen
Dikecualikan
akhir tanpa diundi, dan
dari Objek PPh
 Hadiah tersebut diterima
langsung oleh konsumen
akhir pada saat
pembelian barang atau
jasa.

I. Penyetoran dan Pelaporan Pemotongan PPh Pasal 23

Penyetoran dan Pelaporan Pemotongan PPh Pasal 23

Tanggal Jatuh Tempo Penyetoran Batas Akhir Pelaporan


PPh
Wajib menyampaikan SPT Masa PPh
Pasal 23 Paling lama tanggal 10 bulan
Pasal 21/26 paling lama 20 hari setelah
berikutnya setelah Masa Pajak berakhir
Masa Pajak berakhir

98 | P a g e
J. Studi Kasus PPh Pasal 23
Contoh

PPh Pasal 23
Dalam rangka peningkatan pemahaman para pegawai tentang filosofi dan budaya
perusahaan, PT Gajah Makmur mengadakan pelatihan yang diikuti oleh 50 orang
1
pegawai dari bagian produksi selama 1 hari dengan menyewa meeting room Hotel
Contoh
Menara Jaya yang dimiliki oleh PT Tegal Arum dengan pola paket full board seharga
Rp300.000,00 per paket. Paket full board di Hotel Menara Jaya tersebut terdiri dari:
a. Room for 1 night g. Sound System
b. Meeting room h. Candies
c. Overhead & Screen i. 1x Breakfast
d. Flip Chart j. 2x Coffe Break
e. White Board & Marker Board k. 1x Lunch
f. Note Book & Ballpoint l. 1x Dinner
Bagaimanakah kewajiban pemotongan atau pemungutan PPh terkait transaksi tersebut?
Jasa perhotelan meliputi:
a. Jasa persewaan kamar termasuk tambahannya di hotel, rumah penginapan, motel,
losmen, hostel, serta fasilitas yang terkait dengan kegiatan perhotelan untuk tamu
yang menginap; dan
b. Jasa persewaan ruangan untuk kegiatan acara atau pertemuan di hotel, rumah
penginapan, motel, losmen, dan hostel;
sehingga penyewaan ruangan hotel dengan pola paket full board sebagaimana tersebut
di atas termasuk dalam pengertian jasa perhotelan.
Berdasarkan Pasal 1 ayat (2) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 244/PMK.03/2008,
jasa perhotelan tidak termasuk sebagai jenis jasa yang dikenai pemotongan PPh Pasal
23, sehingga atas pembayaran sebesar Rp15.000.000,00 (50 orang x Rp300.000,00)
kepada PT Tegal Arum tidak dilakukan pemotongan PPh Pasal 23.
Contoh

PPh Pasal 23
PT Bangun Pagi dalam rangka acara family gathering karyawannya di Malang, menyewa
3 buah bus dari PT Rahmat Lancar, sebuah perusahaan jasa transportasi darat untuk
2
jangka waktu 3 hari mulai tanggal 16 Juli s.d.18 Juli 2011. PT Bangun Pagi membayar
Contoh
biaya sewa bus tersebut sebesar Rp20.000.000,00 pada tanggal 18 Juli 2011.
Bagaimana kewajiban pemotongan atau pemungutan PPh terkait transaksi tersebut?
Besarnya pemotongan PPh Pasal 23 sebesar:
PPh Pasal 23 = 2% x Rp20.000.000,00 = Rp400.000,00

99 | P a g e
Kewajiban PT Bangun Pagi sebagai pemotong PPh Pasal 23 adalah:
a. Melakukan pemotongan PPh Pasal 23 sebesar Rp400.000,00 dan memberikan bukti
pemotongan PPh Pasal 23 kepada PT Rahmat Lancar.
b. Melakukan penyetoran PPh Pasal 23 paling lambat tanggal 10 Agustus 2011.
c. Melaporkan pemotongan PPh Pasal 23 atas transaksi tersebut dalam SPT Masa
PPh Pasal 23 Masa Pajak Juli 2011 paling lambat tanggal 22 Agustus 2011.
Contoh

PPh Pasal 23 PT Gedhe Toy yang bergerak di bidang produksi mainan anak-anak pada tanggal 1
November 2010 melakukan pinjaman kepada PT Berlian Adje yang bergerak di bidang
3
usaha pengolahan limbah plastik (Wajib Pajak badan usaha bukan bank dan bukan
Contoh
penyalur pinjaman), sebesar Rp200.000.000,00 dan kepada Tn. Tarno Sutarno sebesar
Rp100.000.000,00. Pinjaman tersebut direncanakan akan digunakan untuk melakukan
ekspansi usaha. Berdasarkan perjanjian antara PT Gedhe Toy dengan kreditor
disepakati bahwa bunga pinjaman masing-masing adalah sebesar Rp3.000.000,00 dan
Rp1.500.000,00 per bulan (suku bunga 18%) dan harus dilunasi dalam jangka waktu 2
tahun. Pembayaran angsuran dilakukan mulai tanggal 1 Desember 2010 dan
pembayaran selanjutnya dilakukan setiap tanggal 1 bulan berikutnya.
Bagaimana kewajiban pemotongan atau pemungutan PPh terkait transaksi tersebut?
Atas penghasilan berupa bunga pinjaman yang dibayarkan setiap bulan oleh PT Gedhe
Toy kepada PT Berlian Adje dan Tn. Tarno Sutarno merupakan objek pemotongan PPh
Pasal 23 yang wajib dilakukan pemotongan PPh Pasal 23 oleh PT Gedhe Toy.
Besarnya pemotongan PPh Pasal 23 untuk:
a. PT Berlian Adje adalah sebesar:
PPh Pasal 23 = 15% x Rp3.000.000,00 = Rp450.000,00
b. Tn. Tarno Sutarno adalah sebesar:
PPh Pasal 23 = 15% x Rp1.500.000,00 = Rp225.000,00
Kewajiban PT Gedhe Toy sebagai Pemotong PPh Pasal 23 adalah:
a. Melakukan pemotongan PPh Pasal 23 sebesar Rp450.000,00 atas pembayaran
bunga kepada PT Berlian Adje dan Rp225.000,00 atas pembayaran bunga kepada
Tn. Tarno Sutarno dan memberikan bukti pemotongan PPh Pasal 23 kepada PT
Berlian Adje dan Tn. Tarno Sutarno.
b. Melakukan penyetoran atas pemotongan PPh Pasal 23 tersebut paling lambat
tanggal 10 bulan berikutnya setelah bulan dilakukannya pemotongan;

100 | P a g e
c. melaporkan pemotongan PPh Pasal 23 atas transaksi tersebut dalam SPT Masa
PPh Pasal 23 masa pajak dilakukannya pemotongan paling lambat tanggal 20 bulan
berikut setelah dilakukannya pemotongan.
Contoh

PPh Pasal 23
PT Inyong Bae memiliki 100.000 lembar saham yang beredar dengan nilai nominal
Rp5.000,00 per lembar saham. Pada tanggal 15 Nopember 2010, berdasarkan RUPS,
4
direksi mengumumkan pembagian dividen dengan mekanisme sebagai berikut:
Contoh
 Pembagian dividen kas untuk pemegang saham dengan kepemilikan sampai dengan
10% sebesar @Rp50,00 per saham.
 Pembagian dividen saham sebesar 1% untuk pemegang saham dengan kepemilikan
sampai dengan 20%.
 Pembagian dividen dialokasikan dari cadangan laba yang ditahan yang dibentuk dari
tahun-tahun sebelumnya.
 Pembagian dividen akan didistribusikan pada tanggal 15 Januari 2011 kepada para
pemegang saham yang tercatat pada tanggal 15 Desember 2010.
Komposisi pemegang saham yang tercatat pada tanggal 15 Desember 2010 adalah
sebagai berikut:
 PT Adja Kelalen dengan kepemilikan 70%.
 PT Ricca Kepribhen dengan kepemilikan 20%.
 PT Medhang Jahe dengan kepemilikan 10%.
Ikhtisar ekuitas perusahaan pada tanggal 15 Nopember 2010 adalah:
Saham Biasa, nominal @ Rp5.000,00 (100.000 lembar beredar) Rp500.000.000,00
Agio Saham Biasa Rp100.000.000,00
Laba Ditahan Rp650.000.000,00
Bagaimana kewajiban pemotongan atau pemungutan PPh terkait transaksi tersebut?
 Besarnya pemotongan PPh Pasal 23 adalah:
a. PT Adja Kelalen (kepemilikan saham sebesar 70%) tidak dipotong PPh Pasal 23
karena kepemilikan sahamnya di PT Inyong Bae diatas 25% dan dividen berasal
dari cadangan laba yang ditahan.
b. PT Ricca Kepribhen (kepemilikan saham sebesar 20%) dipotong PPh Pasal 23
walaupun dividen tersebut diberikan dalam bentuk saham.
Kepemilikan saham PT Ricca Kepribhen adalah:
Kepemilikan Saham = 20% x 100.000 lembar = 20.000 lembar
Nilai dividen saham adalah:
Dividen Saham = 1% x 20.000 lembar x Rp5.000,00 = Rp1.000.000,00

101 | P a g e
PPh Pasal 23 yang dipotong adalah:
PPh Pasal 23 = 15% x Rp1.000.000,00 = Rp150.000,00
c. PT Medhang Jahe (kepemilikan saham sebesar 10%) dipotong PPh Pasal 23.
Kepemilikan saham PT Medhang Jahe adalah:
Kepemilikan saham = 10% x 100.000 lembar = 10.000 lembar
Nilai dividen kas adalah:
Dividen Kas = Rp50,00 x 10.000 lembar = Rp500.000,00
PPh Pasal 23 yang dipotong adalah:
PPh Pasal 23 = 15% x Rp500.000,00 = Rp75.000,00
 Kewajiban PT Inyong Bae sebagai Pemotong PPh Pasal 23 adalah:
a. Melakukan pemotongan PPh Pasal 23 sebesar Rp150.000,00 dan Rp75.000,00
dan memberikan Bukti Pemotongan PPh Pasal 23 kepada PT Ricca Kepribhen
dan PT Medhang Jahe.
b. Melakukan penyetoran atas pemotongan PPh Pasal 23 tersebut paling lambat
tanggal tanggal 10 Januari 2011.
c. Melaporkan pemotongan PPh Pasal 23 atas transaksi tersebut dalam SPT Masa
PPh Pasal 23 Masa Pajak Desember 2010 paling lambat tanggal 20 Januari
2011.
Contoh
PPh Pasal 23 PT Sundays Mart menjadi pemenang pertama lomba pelayanan konsumen terbaik yang
diadakan oleh Asosiasi Toko Retail Indonesia dengan hadiah sebesar Rp30.000.000,00
5
Contoh pada tanggal 23 Agustus 2011.
Bagaimana kewajiban pemotongan atau pemungutan PPh terkait transaksi tersebut?
Hadiah perlombaan yang diterima oleh PT Sundays Mart merupakan objek pemotongan
PPh Pasal 23 yang wajib dilakukan pemotongan oleh Asosiasi Toko Retail Indonesia.
Besarnya pemotongan PPh Pasal 23 adalah:
PPh Pasal 23 = 15% x Rp30.000.000,00 = Rp4.500.000,00
Kewajiban Asosiasi Toko Retail Indonesia sebagai Pemotong PPh Pasal 23 adalah:
a. Melakukan pemotongan PPh Pasal 23 sebesar Rp4.500.000,00 dan memberikan
Bukti Pemotongan PPh Pasal 23 kepada PT Sundays Mart.
b. Melakukan penyetoran atas pemotongan PPh Pasal 23 tersebut paling lambat
tanggal 12 September 2011.

102 | P a g e
c. Melaporkan pemotongan PPh Pasal 23 atas transaksi tersebut dalam SPT Masa
PPh Pasal 23 Masa Pajak Agustus 2011 paling lambat tanggal 20 September 2011.

103 | P a g e
BAB
PPh PASAL 24

5
Tujuan Instruksional Khusus:
1. Mampu menguraikan tentang konsep Kredit Pajak Luar Negeri (KPLN).
2. Mampu menjelaskan tentang konsep world wide income.
3. Mampu menguraikan tentang tata cara penghitungan KPLN.

UU PPh menentukan bahwa WP dalam Negeri dikenakan Pajak Penghasilan atas


seluruh penghasilan di manapun penghasilan tersebut diterima atau diperoleh, baik di
Indonesia maupun di luar Indonesia. Untuk menghindari pengenaan pajak ganda maka
sesuai dengan ketentuan Pasal 24 UU PPh, pajak yang dibayar atau yang terutang di luar
negeri boleh dikreditkan terhadap pajak yang terutang di Indonesia, tetapi tidak melebihi
penghitungan pajak yang terutang berdasarkan Undang-undang Pajak penghasilan. Metode
kredit pajak yang demikian disebut metode pengkreditan terbatas (ordinary credit Method).
A. Peta Konsep Kredit Pajak Luar Negeri
Gambar. Peta Konsep Kredit Pajak Luar Negeri

KREDIT PAJAK LUAR NEGERI

Pajak Dibayar/Terutang di LN Batas Maksimum KPLN

KPLN = Ph dari LN x PPh Terutang


Ph Kena Pajak

Mana yang Paling Kecil

Ordinary Credit per Country Basis

KERUGIAN yang diderita di LN TIDAK BOLEH DIGABUNGKAN dalam menghitung PhKP

B. Konsep World Wide Income


Pasal 4 ayat (1) UU PPh mengatur bahwa yang menjadi objek pajak adalah
penghasilan, yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh
Wajib Pajak, baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat

104 | P a g e
dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan Wajib Pajak yang
bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apapun.
Menurut (Mansury, 2002) dalam Pasal 4 ayat (1) UU PPh ditegaskan bahwa
penghasilan yang dikenakan pajak mempunyai unsur-unsur sebagai berikut:
a. Tambahan kemampuan ekonomis.
Bahwa yang termasuk penghasilan itu adalah setiap tambahan kemampuan untuk
menguasai barang dan jasa yang didapat oleh Wajib Pajak dalam tahun pajak yang
berkenaan. Penghasilan diberi arti sebagai uang atau segala sesuatu yang lain yang
bernilai uang yang mengalir menjadi hak seseorang yang dapat dipakainya untuk
menguasai barang dan jasa guna dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan orang
tersebut. Dengan memakai kata “tambahan”, maka dimaksudkan bahwa yang
dikenakan pajak itu adalah jumlah neto, yaitu jumlah penerimaan atau perolehan
bruto dikurangi dengan biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara
penghasilan itu.
b. Yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak.
Unsur ini membatasi pengenaan pajak atas setiap tambahan kemampuan ekonomis
itu, yaitu hanya kepada tambahan kemampuan ekonomis yang telah menjadi
realisasi. Pengertian realisasi dalam hal ini mengambil alih konsep akuntansi, yaitu
penghasilan yang telah dapat dibukukan, baik dengan memakai cash basis maupun
dengan yang memakai accrual basis. Dalam hal ini tambahan kemampuan yang
dihitung sebagai penghasilan bukan hanya karena adanya kenaikan harga pasar,
melainkan kenaikan harga itu sudah menjadi realisasi.
Mengenakan pajak hanya atas tambahan kemampuan ekonomis yang telah menjadi
realisasi tidak berarti bahwa tambahan kemampuan ekonomis yang belum menjadi
realisasi dibebaskan dari pajak. Hanya pengenaan pajaknya ditunda hingga saat
yang kemudian, yaitu pada saat pemungutan pajak dapat dilakukan dengan mudah.
c. Baik yang berasal dari Indonesia maupun yang berasal dari luar Indonesia.
Menunjukkan bahwa penghasilan yang dikenakan pajak itu meliputi penghasilan
yang didapat dari manapun juga, baik yang berasal dari sumber-sumber di Indonesia
maupun dari sumber-sumber di luar Indonesia.
Dari Pasal 26 UU PPh kita mengetahui bahwa Subjek Pajak luar negeri mempunyai
kewajiban pajak objektif yang terbatas. Dengan demikian, yang kewajiban pajak
objektifnya meliputi world wide income adalah Subjek Pajak dalam negeri.
d. Yang dipakai untuk konsumsi maupun yang dipakai untuk membeli tambahan
harta.

105 | P a g e
Merupakan cara menghitung atau mengukur besarnya penghasilan yang dikenakan
pajak itu, yaitu sebagai hasil penjumlahan seluruh pengeluaran untuk kebutuhan
konsumsi dan sisanya yang ditabung menjadi kekayaan Wajib Pajak, termasuk yang
dipakai membeli harta sebagai investasi (investasi disini adalah penggunaan
tabungan Wajib Pajak untuk mengembangkan harta Wajib Pajak, seperti dibelikan
saham untuk memperoleh dividend an capital gains atau dibelikan tanah yang dapat
memberikan sewa dan juga capital gains).
e. Dengan nama dan dalam bentuk apapun juga.
Unsur ini mensyaratkan, bahwa dalam penentuan ada tidaknya penghasilan yang
dikenakan pajak dan kalau ada berapa besarnya penghasilan itu, maka yang
menentukan bukan nama yang diberikan oleh Wajib Pajak dan juga bukan
bergantung kepada bentuk yuridis yang dipakai oleh Wajib Pajak, melainkan yang
paling menentukan adalah hakekat ekonomis yang sebenarnya (disebut the
Substance-Over-Form Principle, yang berarti bahwa hakekat ekonomis adalah lebih
penting daripada bentuk formal yang dipakai).
Menurut (Mansury, 2002) penghasilan yang dikenakan pajak adalah world wide
income, meliputi penghasilan yang didapat di manapun juga, baik yang berasal dari
sumber-sumber di Indonesia maupun dari sumber-sumber di luar Indonesia.
C. Tata Cara Penghitungan KPLN (Kredit Pajak Luar Negeri)
Pasal 24 UU PPh dan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 164/KMK.03/2002
tentang Kredit Pajak Luar Negeri, mengatur antara lain:
 Pajak yang dibayar atau terutang di luar negeri atas penghasilan dari luar negeri
yang diterima/diperoleh WP dalam negeri boleh dikreditkan terhadap pajak yang
terutang berdasarkan UU PPh dalam tahun pajak yang sama.
Pajak atas penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri yang dapat
dikreditkan terhadap pajak yang terutang di Indonesia hanyalah pajak yang langsung
dikenakan atas penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak.
Contoh:
PT A di Indonesia merupakan pemegang saham tunggal dari Z Inc. di Negara X. Z
Inc. tersebut dalam tahun 1995 memperoleh keuntungan sebesar US$100,000.00.
Pajak Penghasilan yang berlaku di negara X adalah 48% dan Pajak Dividen adalah
38%.
Penghitungan pajak atas dividen tersebut adalah sebagai berikut:
Keuntungan Z Inc US$ 100,000.00
PPh (Corporate income tax) atas Z Inc. : (48%) US$ 48,000.00 (-)

106 | P a g e
US$ 52,000.00
Pajak atas dividen (38%) US$ 19,760.00 (-)
Dividen yang dikirim ke Indonesia US$ 32,240.00
 Pajak Penghasilan yang dapat dikreditkan terhadap seluruh Pajak Penghasilan yang
terutang atas PT A adalah pajak yang langsung dikenakan atas penghasilan yang
diterima atau diperoleh di luar negeri, dalam contoh di atas yaitu jumlah sebesar
US$19,760.00.
 Pajak Penghasilan (Corporate income tax) atas Z Inc. sebesar US$48,000.00 tidak
dapat dikreditkan terhadap Pajak Penghasilan yang terutang atas PT A, karena pajak
sebesar US$48,000.00 tersebut tidak dikenakan langsung atas penghasilan yang
diterima atau diperoleh PT A dari luar negeri, melainkan pajak yang dikenakan atas
keuntungan Z Inc. di negara X.
 Besarnya KPLN adalah sebesar pajak penghasilan yang dibayar atau terutang di luar
negeri tetapi tidak boleh melebihi jumlah tertentu, yang dihitung menurut
perbandingan antara penghasilan dari luar negeri terhadap Penghasilan Kena
Pajak24 dikalikan dengan pajak yang terutang atas Penghasilan Kena Pajak, paling
tinggi sama dengan pajak yang terutang atas Penghasilan Kena Pajak dalam hal
Penghasilan Kena Pajak lebih kecil dari penghasilan luar negeri.
Rumus KPLN:
Penghasilan dari Luar Negeri
KPLN = x PPh Terutang
Penghasilan Kena Pajak

 Dalam hal penghasilan yang diterima/diperoleh di luar negeri berasal dari beberapa
negara, maka penghitungan KPLN berdasarkan formula tersebut dilakukan untuk
masing-masing negara (ordinary credit per country basis).
 Kerugian yang diderita di luar negeri tidak boleh digabungkan dalam menghitung
Penghasilan Kena Pajak.
 Dalam hal jumlah Pajak Penghasilan yang dibayar atau terutang di luar negeri
melebihi jumlah KPLN yang diperkenankan, maka kelebihan tersebut tidak dapat
diperhitungkan dengan Pajak Penghasilan yang terutang tahun berikutnya, tidak
boleh dibebankan sebagai biaya atau pengurang penghasilan, dan tidak dapat
dimintakan restitusi.
 Apabila terjadi pengurangan atau pengembalian pajak atas penghasilan yang
dibayar di luar negeri, sehingga besarnya pajak yang dapat dikreditkan di Indonesia

24Tidak termasuk Penghasilan yang dikenakan Pajak yang bersifat final sebagaimana dimaksud Pasal 4 ayat (2)
Undang-Undang Pajak Penghasilan dan/atau penghasilan yang dikenakan pajak tersendiri sebagaimana
dimaksud Pasal 8 ayat (1) Undang-Undang Pajak Penghasilan.

107 | P a g e
menjadi lebih kecil dari besarnya perhitungan semula, maka selisihnya ditambahkan
pada Pajak Penghasilan yang terutang menurut Undang-undang Pajak Penghasilan.
Misalnya, dalam tahun 2010, Wajib Pajak mendapat pengurangan pajak atas
penghasilan luar negeri tahun pajak 2009 sebesar Rp5.000.000,00 yang semula
telah termasuk dalam jumlah pajak yang dikreditkan terhadap pajak yang terutang
untuk tahun pajak 2009, maka jumlah sebesar Rp5.000.000,00 tersebut ditambahkan
pada Pajak Penghasilan yang terutang dalam tahun pajak 2010.
D. Studi Kasus KPLN
Contoh

PPh Pasal 24
PT A di Jakarta dalam tahun pajak 2001 menerima dan memperoleh penghasilan neto
dari sumber luar negeri sebagai berikut:
1
a. Hasil usaha di Singapura dalam tahun pajak 2001 sebesar Rp800.000.000,00;
Contoh
b. Dividen atas pemilikan saham pada "X Ltd." di Australia sebesar Rp200.000.000,00
yaitu berasal dari keuntungan tahun 1998 yang ditetapkan dalam rapat pemegang
saham tahun 2000 dan baru dibayar dalam tahun 2001;
c. Dividen atas penyertaan saham sebanyak 70% pada "Y Corporation" di Hongkong
yang sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek sebesar Rp75.000.000,00 yaitu
berasal dari keuntungan saham 1999 yang berdasarkan Keputusan Menteri
Keuangan ditetapkan diperoleh tahun 2001; Rp75.000.000,00 yaitu berasal dari
keuntungan saham 1999 yang berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan ditetapkan
diperoleh tahun 2001
d. Bunga kwartal IV tahun 2001 sebesar Rp100.000.000,00 dari "Z Sdn Bhd" di Kuala
Lumpur yang baru akan diterima bulan Juli 2002.
Penghasilan dari sumber luar negeri yang digabungkan dengan penghasilan dalam
negeri dalam tahun pajak 2001 adalah penghasilan pada huruf a, b, dan c, sedangkan
penghasilan pada huruf d digabungkan dengan penghasilan dalam negeri dalam tahun
pajak 2002.
Contoh

PPh Pasal 24
PT B di Jakarta memperoleh penghasilan neto dalam tahun 2001 sebagai berikut:
a. di negara X, memperoleh penghasilan (laba) Rp1.000.000.000,00, dengan tarif pajak
2
sebesar 40% (Rp400.000.000,00);
Contoh
b. di negara Y, memperoleh penghasilan (laba) Rp3.000.000.000,00, dengan tarif pajak
sebesar 25% (Rp750.000.000,00);
c. di negara Z, menderita kerugian Rp2.500.000.000,00,
d. Penghasilan usaha di dalam negeri Rp4.000.000.000,00.
Penghitungan kredit pajak luar negeri adalah sebagai berikut:

108 | P a g e
1. Penghasilan Luar negeri :
a. laba di negara X = Rp1.000.000.000,00
b. laba di negara Y = Rp3.000.000.000,00
c. laba di negara Z = Rp- - - - - - - - - - - - - (+)
d. Jumlah penghasilan luar negeri = Rp4.000.000.000,00
2. Penghasilan dalam negeri = Rp4.000.000.000,00
3. Jumlah penghasilan neto adalah : = Rp8.000.000.000,00
Rp4.000.000.000,00 + Rp4.000.000.000,00
4. PPh terutang (menurut tarif Pasal 17) = Rp2.382.500.000,00
5. Batas maksimum kredit pajak luar negeri untuk masing-masing negara adalah :
a. Untuk negara X =
Rp1.000.000.000,00 X Rp2.382.500.000,00 = Rp297.812.500,00
Rp8.000.000.000,00
Pajak yang terutang di negara X sebesar Rp400.000.000,00, namun maksimum
kredit pajak yang dapat dikreditkan adalah Rp297.812.500,00.
b. Untuk negara Y =
Rp3.000.000.000,00 X Rp2.382.500.000,00 = Rp893.437.500,00
Rp8.000.000.000,00
Pajak yang terutang di negara Y sebesar Rp750.000.000,00, maka maksimum
kredit pajak yang dapat dikreditkan adalah Rp50.000.000,00.
6. Jumlah kredit pajak luar negeri yang diperkenankan Rp1.047.812.500,00
adalah:
Rp297.812.500,00 + Rp750.000.000,00
Dari contoh diatas jelas bahwa dalam menghitung Penghasilan Kena Pajak, kerugian
yang diderita di luar negeri (di negara Z sebesar Rp2.500.000.000,00) tidak
dikompensasikan.
Contoh

PPh Pasal 24
PT A di Jakarta memperoleh penghasilan neto dalam tahun 2001 sebagai berikut:
- Penghasilan dalam negeri Rp1.000.000.000,00
3
- Penghasilan luar negeri (dengan tarif pajak 20%) Rp1.000.000.000,00
Contoh
Penghitungan jumlah maksimum KPLN adalah:
1. Penghasilan dalam negeri Rp1.000.000.000,00
Penghasilan luar negeri (tarif pajak 20%) Rp1.000.000.000,00 (+)
Jumlah penghasilan neto Rp2.000.000.000,00
2. Apabila jumlah Penghasilan neto sama dengan Penghasilan Kena Pajak, maka
sesuai tarif Pasal 17, Pajak Penghasilan yang terutang sebesar Rp582.500.000,00

109 | P a g e
3. Batas maksimum kredit pajak luar negeri adalah :
Rp1.000.000.000,00 X Rp582.500.000,00 = Rp291.250.000,00
Rp2.000.000.000,00
Oleh karena batas maksimum kredit pajak luar negeri sebesar Rp291.250.000,00 lebih
besar dari jumlah pajak luar negeri yang terutang atau dibayar di luar negeri yaitu
sebesar Rp200.000.000,00 maka jumlah kredit pajak luar negeri yang di perkenankan
adalah sebesar Rp200.000.000,00.

Contoh

PPh Pasal 24 PT B di Jakarta memperoleh penghasilan neto dalam tahun 2001 sebagai berikut:
- Penghasilan dari usaha di luar negeri Rp1.000.000.000,00
4
- Rugi usaha di dalam negeri (Rp 200.000.000,00)
Contoh
- Pajak atas Penghasilan di luar negeri misalnya 40% = Rp 400.000.000,00
Penghitungan maksimum KPLN serta pajak terutang adalah sebagai berikut:
1. Penghasilan dari usaha di luar negeri Rp1.000.000.000,00
Rugi usaha di dalam negeri (Rp 200.000.000,00) (+)
Jumlah penghasilan neto Rp 800.000.000,00
2. Apabila jumlah Penghasilan neto sama dengan Penghasilan Kena Pajak, maka
sesuai tarif Pasal 17, Pajak Penghasilan yang terutang sebesar Rp222.500.000,00
3. Batas maksimum kredit pajak luar negeri adalah:
Rp1.000.000.000,00 x Rp222.500.000,00 = Rp278.125.000,00
Rp 800.000.000,00
Oleh karena pajak yang dibayar diluar negeri dan batas maksimum kredit pajak luar
negeri yang dapat dikreditkan masih lebih besar dari jumlah pajak yang terutang, maka
kredit pajak luar negeri yang diperkenankan untuk dikreditkan dalam penghitungan
Pajak Penghasilan adalah sebesar Pajak Penghasilan yang terutang yaitu
Rp222.500.000,00

Contoh

PPh Pasal 24 PT C di Jakarta dalam tahun 2001 memperoleh penghasilan neto sebagai berikut:
- Penghasilan dalam negeri = Rp2.000.000.000,00
5
Contoh - Penghasilan dari negara X (tarif pajak 40%) = Rp1.000.000.000,00
- Penghasilan dari negara Y (tarif pajak 30%) = Rp2.000.000.000,00 (+)
Jumlah penghasilan neto = Rp5.000.000.000,00
Apabila penghasilan neto sama dengan Penghasilan Kena Pajak, maka Pajak

110 | P a g e
Penghasilan terutang menurut tarif Pasal 17 sebesar Rp1.482.500.000,00.

Batas maksimum KPLN setiap negara adalah:


Untuk negara X =
Rp1.000.000.000,00 x Rp1.482.500.000,00 = Rp296.500.000,00
Rp5.000.000.000,00
Pajak yang terutang diluar negeri sebesar Rp400.000.000,00 lebih besar dari batas
maksimum kredit pajak yang dapat dikreditkan, maka jumlah kredit yang diperkenankan
hanya sebesar Rp296.500.000,00.
Untuk negara Y =
Rp2.000.000.000,00 X Rp1.482.500.000,00 = Rp593.000.000,00
Rp5.000.000.000,00
Pajak yang terutang diluar negeri sebesar Rp600.000.000,00 lebih besar dari batas
maksimum kredit pajak yang dapat dikreditkan, maka jumlah kredit pajak yang
diperkenankan adalah Rp593.000.000,00.

Contoh

PPh Pasal 24
PT "D" di Jakarta dalam tahun 2001 memperoleh penghasilan sebagai berikut:
1. Penghasilan dari Negara Z (tarif pajak 30%) = Rp2.000.000.000,00
6
2. Penghasilan Dalam Negeri = Rp3.500.000.000,00
Contoh
(Penghasilan Dalam Negeri ini termasuk penghasilan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 4 ayat (2) UU PPh sebesar Rp500.000.000,00)
3. Penghasilan Kena Pajak PT "D" sebesar : = Rp5.000.000.000,00
Rp2.000.000.000 + (Rp3.500.000.000 - Rp500.000.000)
4. Sesuai tarif Pasal 17 UU PPh, Pajak Penghasilan yang terutang sebesar:
Rp1.482.500.000,00
5. Batas maksimum kredit pajak luar negeri adalah:
Rp2.000.000.000,00 x Rp1.482.500.000,00 = Rp593.000.000,00
Rp5.000.000.000,00
Pajak yang terutang di negara Z sebesar Rp600.000.000,00, namun maksimum kredit
pajak yang dapat dikreditkan sebesar Rp593.000.000,00.

E. Pembetulan SPT Tahunan karena Perubahan Penghasilan dari Luar Negeri


1. Dalam hal terjadi koreksi fiskal di luar negeri yang menyebabkan adanya tambahan
penghasilan yang mengakibatkan pajak atas penghasilan terutang di luar negeri
lebih besar dari yang dilaporkan dalam SPT Tahunan, sehingga pajak di luar negeri
kurang dibayar, maka terdapat kemungkinan Pajak Penghasilan di Indonesia juga

111 | P a g e
kurang dibayar. Sepanjang koreksi fiskal di luar negeri tersebut dilaporkan sendiri
oleh Wajib Pajak melalui pembetulan SPT Tahunan, maka bunga yang terutang atas
pajak yang kurang dibayar tersebut tidak ditagih.
Contoh
1. Penghasilan luar negeri (SPT) Rp1.000.000.000,00
PPh Pasal 24
2. Penghasilan dalam negeri Rp2.000.000.000,00
7
3. Penghasilan luar negeri (setelah dikoreksi di luar negeri) Rp2.000.000.000,00
Contoh
4. Pajak atas penghasilan yang terutang di luar negeri misalnya 40%
5. PPh Pasal 25 yang dibayar Rp500.000.000,00
PPh terutang sebelum dan sesudah koreksi fiskal di luar negeri adalah:
SPT SPT Pembetulan
Penghasilan luar negeri Rp1.000.000.000,00 Rp2.000.000.000,00
Penghasilan dalam negeri Rp2.000.000.000,00 Rp2.000.000.000,00
Penghasilan Kena Pajak Rp3.000.000.000,00 Rp4.000.000.000,00
PPh terutang Rp 882.500.000,00 Rp1.182.500.000,00
Kredit Pajak Luar Negeri: Rp 294.166.667,00
1.000.000.000 x 882.500.000
3.000.000.000
2.000.000.000 x 1.182.500.000 Rp 591.250.000,00
4.000.000.000
PPh harus dibayar Rp 588.333.333,00 Rp 591.250.000,00
PPh Pasal 25 Rp 500.000.000,00 Rp 500.000.000,00
PPh Pasal 29 Rp 88.333.333,00 Rp 88.333.333,00

Masih harus dibayar Rp 2.916.667,00


Terhadap PPh yang masih harus dibayar sebesar Rp 2.916.667,00 tidak ditagih bunga
2. Dalam hal terjadi koreksi fiskal di luar negeri berupa koreksi yang menyebabkan
penghasilan dan pajak atas penghasilan terutang di luar negeri lebih kecil dari yang
dilaporkan dalam SPT Tahunan, sehingga pajak di luar negeri lebih dibayar. Koreksi
fiskal di luar negeri tersebut akan mengakibatkan Pajak Penghasilan terutang di
Indonesia juga menjadi lebih kecil, sehingga Pajak Penghasilan menjadi lebih
dibayar. Kelebihan bayar pajak tersebut dapat dikembalikan kepada Wajib Pajak
setelah diperhitungkan dengan utang pajak yang lain.
Contoh

PPh Pasal 24 1. Penghasilan luar negeri (SPT) Rp1.000.000.000,00.


2. Penghasilan dalam negeri Rp2.000.000.000,00.
8
3. Penghasilan luar negeri (setelah dikoreksi di luar negeri) Rp500.000.000,00.
Contoh

112 | P a g e
4. Pajak atas penghasilan yang terutang di luar negeri misalnya 40%.
5. PPh Pasal 25 yang dibayar Rp500.000.000,00.
PPh terutang sebelum dan sesudah koreksi fiskal di luar negeri adalah:
SPT SPT Pembetulan
Penghasilan luar negeri Rp1.000.000.000,00 Rp 500.000.000,00
Penghasilan dalam negeri Rp2.000.000.000,00 Rp2.000.000.000,00
Penghasilan Kena Pajak Rp3.000.000.000,00 Rp2.500.000.000,00
PPh terutang Rp 882.500.000,00 Rp 732.500.000,00
Kredit Pajak Luar Negeri: Rp 294.166.667,00
1.000.000.000 x 882.500.000
3.000.000.000
500.000.000 x 732.500.000 Rp 146.500.000,00
2.500.000.000
PPh harus dibayar Rp 588.333.333,00 Rp 586.000.000,00
PPh Pasal 25 Rp 500.000.000,00 Rp 500.000.000,00
PPh Pasal 29 Rp 88.333.333,00

Kurang Bayar Rp 86.000.000,00


PPh Pasal 29 telah dibayar Rp 88.333.333,00
Lebih Bayar Rp 2.333.333,00
Pajak Penghasilan yang lebih dibayar sebesar Rp2.333.333,00 dapat diminta
kembali setelah diperhitungkan dengan utang pajak yang lain

F. Saat Diperolehnya Dividen oleh WP Dalam Negeri atas Penyertaan Modal pada
Badan Usaha di Luar Negeri Selain Badan Usaha yang Menjual Sahamnya di Bursa
Efek
Dengan makin berkembangnya ekonomi dan perdagangan internasional sejalan
dengan era globalisasi, dapat terjadi bahwa Wajib Pajak dalam negeri menanamkan
modalnya di luar negeri. Untuk mengurangi kemungkinan penghindaran pajak, terhadap
penanaman modal di luar negeri selain pada badan usaha yang menjual sahamnya di
bursa efek, Menteri Keuangan berwenang untuk menentukan saat diperolehnya dividen.
Pasal 18 ayat (2) UU PPh mengatur bahwa Menteri Keuangan berwenang
menetapkan saat diperolehnya dividen oleh Wajib Pajak dalam negeri atas penyertaan
modal pada badan usaha di luar negeri selain badan usaha yang menjual sahamnya di
bursa efek, dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Besarnya penyertaan modal Wajib Pajak dalam negeri tersebut paling rendah 50%
dari jumlah saham yang disetor; atau

113 | P a g e
b. Secara bersama-sama dengan Wajib Pajak dalam negeri lainnya memiliki
penyertaan modal paling rendah 50% dari jumlah saham yang disetor.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 256/PMK.03/2008 dan Peraturan Direktur
Jenderal Pajak Nomor PER-59/PJ/2010, mengatur antara lain:
 Saat diperolehnya dividen oleh Wajib Pajak dalam negeri atas penyertaan modal
pada badan usaha di luar negeri selain badan usaha yang menjual sahamnya di
bursa efek adalah:
a. Pada bulan keempat setelah berakhirnya batas waktu kewajiban penyampaian
SPT tahunan Pajak Penghasilan badan usaha di luar negeri tersebut untuk tahun
pajak yang bersangkutan.
b. Pada bulan ketujuh setelah tahun pajak berakhir apabila badan usaha di luar
negeri tersebut tidak memiliki kwajiban untuk menyampaikan SPT tahunan Pajak
Penghasilan atau tidak ada ketentuan batas waktu penyampaian SPT tahunan
Pajak Penghasilan.
 Wajib Pajak dalam negeri adalah Wajib Pajak dalam negeri yang:
a. Memiliki penyertaan modal paling rendah 50% dari jumlah saham yang disetor
pada badan usaha di luar negeri.
b. Secara bersama-sama dengan Wajib Pajak dalam negeri lainnya memiliki
penyertaan modal paling rendah 50% dari jumlah saham yang disetor pada
badan usaha di luar negeri.
 Besarnya dividen yang wajib dihitung oleh Wajib Pajak dalam negeri adalah sebesar
jumlah dividen yang menjadi haknya terhadap laba setelah pajak yang sebanding
dengan penyertaannya pada badan usaha di luar negeri selain badan usaha yang
menjual sahamnya di bursa efek.
 Dividen wajib dilaporkan dalam SPT Tahunan Pajak Penghasilan untuk tahun pajak
saat dividen tersebut dianggap diperoleh.
 Dalam hal Wajib Pajak dalam negeri menerima pembagian dividen dalam jumlah
yang melebihi jumlah dividen yang dilaporkan, atas kelebihan jumlah dividen tersebut
wajib dilaporkan dalam SPT Tahunan Pajak Penghasilan pada tahun pajak
dibagikannya dividen tersebut.
 Pajak atas dividen yang telah dibayar atau dipotong di luar negeri dapat dikreditkan
sesuai dengan ketentuan Pasal 24 UU PPh dan dilakukan pada tahun pajak
dibayarnya atau dipotongnya pajak tersebut.

Contoh

114 | P a g e
PPh Pasal 24
PT LE, Wajib Pajak dalam negeri Indonesia pada tahun 2010 memiliki penyertaan modal
sebesar 65% dari jumlah saham yang disetor pada atas BM Ltd di negara A yang tidak
9
menjual sahamnya di bursa efek.
Contoh
Atas penyertaan modal tersebut maka:
a. Saat Penetapan Diperolehnya Dividen
Apabila Tahun Pajak BM Ltd di negara A adalah 1 Januari s.d. 31 Desember dan
batas waktu kewajiban penyampaian SPT tahunan Pajak Penghasilan di negara A
paling lambat adalah 31 Mei, maka saat diperolehnya dividen adalah pada bulan
keempat setelah berakhirnya batas waktu kewajiban penyampaian SPT tahunan
Pajak Penghasilan di negara A yaitu 30 September 2011.
b. Besarnya Dividen yang Ditetapkan dan Pelaporan
Tahun pajak 2010, BM Ltd di negara A memperoleh laba setelah pajak sebesar US$
50.000,00 dan nilai tukar US$ terhadap Rupiah pada bulan September 2011
berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia adalah Rp9.200,00/US$, maka dividen
tahun 2010 yang ditetapkan telah diperoleh PT LE adalah 65% x US$ 50.000,00 =
US$32.500,00.
Penghasilan dividen tersebut dibukukan PT LE sebesar US$32.500,00 x
Rp9.200,00/US$ = Rp299.000.000,00. Jumlah tersebut diperhitungkan dalam
Penghasilan Kena Pajak tahun 2011 sesuai dengan ketentuan Pasal 16 UU PPh,
dan dilaporkan dalam SPT Tahunan PPh tahun pajak 2011.
c. Pengkreditan pajak luar negeri atas dividen yang dibayarkan
1). Apabila dividen tersebut belum dibayarkan oleh BM Ltd di negara A, maka tidak
ada kredit pajak PPh Pasal 24 yang dapat diperhitungkan dalam SPT Tahunan
PPh PT LE untuk tahun pajak 2011.
2). Apabila dividen tahun 2010 tersebut diterima Wajib Pajak pada bulan September
2014 dengan jumlah sebesar US$35.000,00, dan pembayaran dividen dalam
bentuk lain untuk tahun pajak 2010 sebesar US$5.000,00, dengan bukti
pemotongan Pajak Penghasilan atas dividen tersebut masing-masing sebesar
US$3.500,00 dan US$500,00 maka:
a) Atas selisih lebih dividen yang dibayarkan tersebut merupakan penghasilan
Wajib Pajak tahun 2014 yaitu US35.000,00 - US$32.500,00 = US$2.500,00
atau sebesar Rp22.875.000,00 (misalnya kurs tengah Bank Indonesia
Rp9.150,00/US$) dan dilaporkan pada SPT Tahunan PPh tahun pajak 2014.
b) Atas dividen lainnya sebesar US$5.000,00 juga merupakan penghasilan
tahun 2014 yaitu sebesar Rp45.750.000,00 (misalnya kurs tengah Bank

115 | P a g e
Indonesia Rp9.150,00/US$) dan dilaporkan pada SPT Tahunan PPh tahun
pajak 2014.
c) Pajak yang dibayar atau dipotong atas dividen di negara A tersebut sebesar
US$3.500,00 dan US$500,00 diperhitungkan sebagai kredit pajak luar negeri
untuk tahun pajak 2014 sesuai dengan ketentuan Pasal 24 ayat (6) UU PPh.
Contoh

PPh Pasal 24 PT DK, PT DS dan PT DT merupakan WP dalam negeri Indonesia yang pada tahun
2010 memiliki penyertaan modal secara bersama-sama pada badan usaha BE Ltd di
10
negara B yang tidak menjual sahamnya di bursa efek masing-masing sebesar 25%,
Contoh
20%, dan 15% dari jumlah saham yang disetor. Apabila Tahun Pajak BE Ltd di negara B
adalah 1 Januari s.d 31 Desember dan tidak memiliki kewajiban untuk menyampaikan
SPT Tahunan PPh atau tidak ada ketentuan batas waktu penyampaian SPT Tahunan,
maka atas penyertaan saham tersebut:
a. Saat Penetapan Diperolehnya Dividen
Karena jumlah penyertaan modal PT DK, PT DS dan PT DT pada BE di negara B
secara bersama-sama melebihi 50%, maka penetapan saat diperolehnya dividen
atas laba setelah pajak BE di negara B tahun 2010, adalah pada bulan ketujuh
setelah tahun pajak berakhir, yaitu Juli 2011.
b. Besarnya Dividen yang Ditetapkan dan Pelaporan
Besarnya dividen yang wajib dihitung oleh PT DK, PT DS dan PT DT adalah sebesar
jumlah dividen yang menjadi hak masing-masing perusahaan terhadap laba setelah
pajak yang sebanding dengan penyertaannya pada BE di negara B.
c. Kredit Pajak Luar Negeri atas Dividen mengikuti contoh pada butir 1 di atas.

116 | P a g e
BAB
PPh PASAL 26

6
Tujuan Instruksional Khusus:
1. Mampu menguraikan tentang konsep PPh Pasal 26.
2. Mampu menjelaskan tentang Pemotong PPh Pasal 26.
3. Mampu menjelaskan tentang tarif pemotongan PPh Pasal 26.
4. Mampu menjelaskan tentang sifat pemotongan PPh Pasal 26.
5. Mampu menguraikan tentang Branch Profit Tax.
6. Mampu menjelaskan tentang saat penyetoran dan pelaporan pemotongan PPh Pasal
26.

Atas penghasilan yang diterima atau diperoleh WP luar negeri dari Indonesia, UU PPh
menganut dua sistem pengenaan pajak, yaitu:
a. Pemenuhan sendiri kewajiban perpajakannya bagi WP luar negeri yang menjalankan
usaha atau melakukan kegiatan melalui suatu bentuk usaha tetap di Indonesia.
b. Pemotongan oleh pihak yang wajib membayar bagi Wajib Pajak luar negeri lainnya.
Ketentuan PPh Pasal 26 mengatur tentang pemotongan atas penghasilan yang
bersumber di Indonesia yang diterima atau diperoleh WP luar negeri selain bentuk usaha
tetap.

A. Peta Konsep PPh Pasal 26


Gambar. Peta Konsep PPh Pasal 26

PENGHASILAN

DIVIDEN, BUNGA, ROYALTI, SEWA,


IMBALAN sehubungan dengan
HADIAH dan PENGHARGAAN, PREMI
PEKERJAAN, JASA, dan KEGIATAN,
SWAP dan Transaksi LINDUNG NILAI
termasuk PENSIUN dan PEMBAYARAN
lainnya, KEUNTUNGAN karena
BERKALA lainnya
PEMBEBASAN UTANG

Diterima oleh: Diterima oleh:

WP LUAR NEGERI WP Dalam Negeri WP Dalam Negeri WP LUAR NEGERI

PPh Pasal 26 PPh Pasal 21 PPh Pasal 23 PPh Pasal 26

Pemotongan PPh Pasal 26 atas Penghasilan WP LUAR NEGERI yang BERUBAH STATUS menjadi
WP DALAM NEGERI atau BUT, pemotongan Pajaknya TIDAK BERSIFAT FINAL, sehingga
DAPAT DIKREDITKAN dalam SPT Tahunan PPh
117 | P a g e
B. Pemotong PPh Pasal 26
Pemotongan PPh Pasal 26 wajib dilakukan oleh:
a. badan pemerintah;
b. subjek pajak dalam negeri;
c. penyelenggara kegiatan;
d. bentuk usaha tetap; atau
e. perwakilan perusahaan luar negeri lainnya;
yang melakukan pembayaran kepada Wajib Pajak luar negeri selain bentuk usaha tetap
di Indonesia.
C. Tarif Pemotongan PPh Pasal 26
Penghasilan yang dipotong PPh Pasal 26 adalah penghasilan yang diterima atau
diperoleh Wajib Pajak luar negeri dari Indonesia berupa:
Objek PPh Pasal 26 Tarif
1. Dividen 20% x Penghasilan Bruto
2. Bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan
sehubungan dengan jaminan pengembalian utang
3. Royalti, sewa, dan penghasilan lain sehubungan
dengan penggunaan harta
4. Imbalan sehubungan dengan jasa, pekerjaan, dan
kegiatan
5. Hadiah dan penghargaan
6. Pensiun dan pembayaran berkala lainnya
7. Premi swap dan transaksi lindung nilai lainnya
8. Keuntungan karena pembebasan utang
9. Penghasilan dari penjualan atau pengalihan harta di 20% x Perkiraan
Indonesia, kecuali yang diatur dalam Pasal 4 ayat (2) Penghasilan Neto
UU PPh, yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak
luar negeri selain bentuk usaha tetap di Indonesia
10. Premi asuransi yang dibayarkan kepada perusahaan
asuransi luar negeri
11. Penghasilan dari penjualan atau pengalihan saham
perusahaan antara (conduit company atau special
purpose company) yang didirikan atau bertempat
kedudukan di negara yang memberikan perlindungan
pajak (tax haven country) yang mempunyai

118 | P a g e
hubungan istimewa dengan badan yang didirikan
atau bertempat kedudukan di Indonesia atau bentuk
usaha tetap di Indonesia
Catatan:
Apabila terdapat Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda/P3B (tax treaty) antara
Indonesia dengan negara mitra, maka pengenaan PPh Pasal 26 mengacu pada
ketentuan yang terdapat dalam P3B tersebut.

D. Sifat Pemotongan PPh Pasal 26


Pada prinsipnya pemotongan PPh Pasal 26 atas penghasilan yang diterima atau
diperoleh WP luar negeri bersifat final, kecuali:
a. Pemotongan atas:
1). Penghasilan kantor pusat dari usaha atau kegiatan, penjualan barang, atau
pemberian jasa di Indonesia yang sejenis dengan yang dijalankan atau yang
dilakukan oleh bentuk usaha tetap di Indonesia;
2). Penghasilan yang dikenai pemotongan PPh Pasal 26 yang diterima atau
diperoleh kantor pusat, sepanjang terdapat hubungan efektif antara bentuk usaha
tetap dengan harta atau kegiatan yang memberikan penghasilan dimaksud25.
b. Pemotongan atas penghasilan yang diterima atau diperoleh orang pribadi atau
badan luar negeri yang berubah status menjadi Wajib Pajak dalam negeri atau
bentuk usaha tetap.
Atas penghasilan WP orang pribadi atau badan luar negeri yang berubah status
menjadi WP dalam negeri atau bentuk usaha tetap, pemotongan pajaknya tidak
bersifat final sehingga potongan pajak tersebut dapat dikreditkan dalam SPT
Tahunan Pajak Penghasilan.
Contoh:

PPh Pasal 26 A sebagai tenaga asing orang pribadi membuat perjanjian kerja dengan PT B
sebagai WP dalam negeri untuk bekerja di Indonesia untuk jangka waktu 5 bulan
1
terhitung mulai tanggal 1 Januari 2009. Pada tanggal 20 April 2009 perjanjian kerja
Contoh
tersebut diperpanjang menjadi 8 bulan sehingga akan berakhir pada tanggal 31
Agustus 2009.
Jika perjanjian kerja tersebut tidak diperpanjang, status A adalah tetap sebagai WP
luar negeri. Dengan diperpanjangnya perjanjian kerja tersebut, status A berubah dari
WP luar negeri menjadi WP dalam negeri terhitung sejak tanggal 1 Januari 2009.

25 Lihat Pasal 5 ayat (1) huruf b dan huruf c UU PPh.

119 | P a g e
Selama bulan Januari sampai dengan Maret 2009 atas penghasilan bruto A telah
dipotong Pajak Penghasilan Pasal 26 oleh PT B.
Berdasarkan ketentuan Pasal 26 ayat (5) UU PPh, maka untuk menghitung Pajak
Penghasilan yang terutang atas penghasilan A untuk masa Januari sampai dengan
Agustus 2009, Pajak Penghasilan Pasal 26 yang telah dipotong dan disetor PT B
atas penghasilan A sampai dengan Maret tersebut, dapat dikreditkan terhadap pajak
A sebagai WP dalam negeri.
E. Pajak Penghasilan atas Penghasilan Kena Pajak Sesudah Dikurangi Pajak dari
Suatu Bentuk Usaha Tetap (Branch Profit Tax)
Ketentuan Pasal 26 ayat (4) UU PPh mengatur bahwa Penghasilan Kena Pajak
sesudah dikurangi pajak dari suatu BUT di Indonesia dikenai Pajak Penghasilan (branch
profit tax) sebesar 20%, kecuali penghasilan tersebut ditanamkan kembali di Indonesia.
 Dalam hal induk perusahaan dari WP BUT adalah WP dalam negeri dari negara
yang telah mempunyai Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda/P3B (tax treaty)
dengan Indonesia, besarnya tarif untuk menghitung branch profit tax adalah
sebagaimana ditentukan dalam P3B yang berlaku.
 Dalam hal penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh WP BUT dikenai
Pajak Penghasilan yang bersifat final, dasar pengenaan branch profit tax adalah
Penghasilan Kena Pajak yang dihitung berdasarkan pembukuan yang sudah
dilakukan koreksi fiskal, dikurangi dengan jumlah Pajak Penghasilan yang bersifat
final.
Pasal 22 Peraturan Pemerintah Nomor 94 Tahun 2010 mengatur bahwa dalam
menghitung Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (4) UU PPh
(branch profit tax), terhadap bentuk usaha tetap yang terutang Pajak Penghasilan pada
suatu tahun pajak, kerugian fiskal tidak dapat dikompensasikan lagi dengan Penghasilan
Kena Pajak setelah dikurangi dengan Pajak Penghasilan.

PPh Pasal 26
Contoh
Penghasilan Kena Pajak BUT di Indonesia tahun 2009 = Rp17.500.000.000,00
2
Pajak Penghasilan:
Contoh
28% x Rp17.500.000.000,00 = Rp 4.900.000.000,00
Penghasilan Kena Pajak setelah pajak = Rp12.600.000.000,00
Branch Profit Tax
20% x Rp12.600.000.000,00 = Rp 2.520.000.000,00
Apabila penghasilan setelah pajak sebesar Rp12.600.000.000,00 tersebut ditanamkan
kembali di Indonesia sesuai dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan,

120 | P a g e
atas penghasilan tersebut tidak dipotong pajak.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 14/PMK.03/2011 mengatur bahwa
pengecualian dari branch profit tax diberikan apabila seluruh Penghasilan Kena Pajak
sesudah dikurangi Pajak Penghasilan dari suatu BUT ditanamkan kembali di Indonesia
memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. Penyertaan modal pada perusahaan yang baru didirikan dan berkedudukan di
Indonesia sebagai pendiri atau peserta pendiri.
1). Perusahaan baru yang didirikan dan berkedudukan di Indonesia secara aktif
telah melakukan kegiatan usaha sesuai akta pendiriannya, paling lama 1 tahun
sejak perusahaan tersebut didirikan; dan
2). BUT yang bersangkutan tidak boleh melakukan pengalihan atas penyertaan
modal paling sedikit dalam jangka waktu 2 tahun sejak perusahaan baru
dimaksud berproduksi komersial.
b. Penyertaan modal pada perusahaan yang sudah didirikan dan berkedudukan di
Indonesia sebagai pemegang saham.
1). Perusahaan yang sudah didirikan dan berkedudukan di Indonesia mempunyai
kegiatan usaha aktif di Indonesia; dan
2). BUT yang bersangkutan tidak boleh melakukan pengalihan atas penyertaan
modal paling sedikit dalam jangka waktu 3 tahun sejak penyertaan modal.
c. Pembelian aktiva tetap/investasi berupa aktiva tidak berwujud oleh BUT untuk
menjalankan usaha atau melakukan kegiatan BUT di Indonesia.
BUT yang bersangkutan tidak boleh melakukan pengalihan atas pembelian aktiva
tetap atau pengalihan atas investasi berupa aktiva tidak berwujud, paling sedikit
dalam jangka waktu 3 tahun sejak perolehan aktiva tetap atau investasi aktiva tidak
berwujud yang bersangkutan.
d. Penanaman kembali di Indonesia harus dilakukan paling lama pada akhir Tahun
Pajak berikutnya, setelah Tahun Pajak diperolehnya penghasilan tersebut bagi BUT
yang bersangkutan.
e. BUT yang bersangkutan menyampaikan pemberitahuan secara tertulis mengenai
bentuk penanaman modal, realisasi penanaman kembali yang telah dilakukan
dan/atau saat mulai berproduksi komersial bagi perusahaan yang baru didirikan,
yang dilakukan kepada Kepala KPP tempat WP terdaftar.
 Pemberitahuan mengenai bentuk penanaman modal yang dilakukan, dengan
melampirkan pada SPT Tahunan untuk Tahun Pajak diterima atau diperolehnya
penghasilan yang bersangkutan.

121 | P a g e
 Pemberitahuan mengenai realisasi penanaman kembali yang telah dilakukan,
dengan melampirkan pada SPT Tahunan untuk Tahun Pajak saat dilakukan
realisasi penanaman kembali tersebut, paling sedikit meliputi hal-hal sebagai
berikut:
1). Jumlah Penghasilan Kena Pajak sesudah dikurangi Pajak Penghasilan dari
BUT dan Tahun Pajak yang bersangkutan; dan
2). Bentuk penanaman kembali, jumlah realisasi penanaman kembali, dan Tahun
Pajak dilakukan realisasi penanaman kembali.
 Saat berproduksi komersial adalah saat perusahaan yang baru didirikan tersebut
telah mulai memproduksi barang untuk dijual bagi perusahaan manufaktur atau
saat perusahaan mulai melakukan penjualan barang dan/atau jasa bagi
perusahaan selain manufaktur.
F. PPh Pasal 26 atas Penghasilan yang Diterima atau Diperoleh WPLN selain BUT
dari Penjualan Saham
Keputusan Menteri Keuangan Nomor 434/KMK.04/1999, mengatur antara lain:
 Atas penghasilan dari penjualan saham Perseroan26 yang diperoleh WPLN selain
Bentuk Usaha Tetap (BUT) dipotong pajak yang bersifat final sebesar 20% dari
perkiraan penghasilan netto.
 Terhadap WPLN berkedudukan di negara-negara yang telah mempunyai
Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda (P3B) dengan Indonesia, maka
pemotongan pajak hanya dilakukan apabila berdasarkan P3B yang berlaku, hak
pemajakannya ada pada pihak Indonesia.
 Besarnya perkiraan penghasilan neto adalah 25% dari harga jual, sehingga besarnya
PPh Pasal 26 adalah 20% x 25% atau 5% dari harga jual.
 Penghasilah dari penjualan saham di dalam negeri yang diperoleh atau diterima
WPLN, dipotong pajak oleh pembeli yang ditunjuk sebagai pemotong pajak dan
kepadanya diberikan bukti pemotongan PPh Pasal 26.
 Perseroan hanya mencatat akta pemindahan hak atas saham yang dijual apabila
kepadanya dibuktikan oleh WPLN bahwa PPh Pasal 26 yang terutang telah dibayar
lunas dengan menyerahkan fotokopi bukti pemotongan PPh Pasal 26 dengan
menunjukkan aslinya.

26 Perseroan adalah Perseroan Terbatas Dalam Negeri yang sahamnya diperjualbelikan oleh
pemegang saham Wajib Pajak Luar Negeri (WPLN) dan tidak berstatus sebagai Emiten atau
Perusahaan Publik sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang
Pasar Modal.

122 | P a g e
 Dalam hal pembelinya adalah WPLN, maka yang ditunjuk sebagai pemungut pajak
adalah Perseroan.
 Contoh:
Wow Way Co. (perusahaan di Cina) adalah salah satu pemegang saham PT
PPh Pasal 26
Indonat. Pada bulan Januari 2011 Wow Way Co. menjual saham yang dimilikinya di
3
PT Indonat kepada PT Holdindo (perusahaan di Indonesia) senilai
Contoh
Rp5.000.000.000,00 dan kepada Tematek Co. (perusahaan di Malaysia) senilai
Rp20.000.000.000,00.
Bagaimana kewajiban pemotongan atau pemungutan PPh terkait transaksi tersebut?
Penghasilan dari penjualan saham Perseroan Terbatas dalam negeri yang diperoleh
WPLN selain BUT dipotong pajak sebesar 20% x 25% atau 5% dari harga jual.
Perseroan Terbatas dalam negeri tersebut adalah Perseroan Terbatas yang:
 Sahamnya diperjualbelikan oleh pemegang saham yang berstatus WPLN; dan
 Tidak berstatus sebagai Emiten atau Perusahaan Publik.
Pemotong PPh Pasal 26 ini adalah pembeli yang ditunjuk sebagai pemotong pajak.
Dalam hal pembelinya adalah WPLN, maka yang ditunjuk sebagai pemungut pajak
adalah Perseroan.
Bagi pemegang saham WPLN yang berkedudukan di negara-negara yang telah
mempunyai P3B dengan Indonesia, maka pemotongan PPh Pasal 26 hanya
dilakukan apabila berdasarkan P3B yang berlaku, hak pemajakannya ada di
Indonesia.
Kewajiban pemotongan PPh Pasal 26 oleh PT Holdindo adalah:
a. PT Holdindo memotong PPh Pasal 26 sebesar Rp250.000.000,00 (20% x 25% x
Rp5.000.000.000,00) atas penghasilan dari penjualan saham yang dibayarkan
kepada Wow Way Co.
b. Menyetor PPh Pasal 26 yang telah dipotong atas pengalihan saham tersebut
paling lambat tanggal 10 Februari 2011.
c. Melaporkan PPh Pasal 26 menggunakan SPT Masa PPh Pasal 23/26 Masa
Pajak Januari 2011 paling lambat tanggal 21 Februari 2011.
Kewajiban pemungutan PPh Pasal 26 oleh PT Indonat adalah:
a. PT Indonat memungut PPh Pasal 26 sebesar Rp1.000.000.000,00 (20% x 25% x
Rp20.000.000.000,00) atas penghasilan dari penjualan saham yang dibayar oleh
Tematek Co. kepada Wow Way Co.
b. Menyetor PPh Pasal 26 yang telah dipungut atas pengalihan saham tersebut
paling lambat tanggal 10 Februari 2011.

123 | P a g e
c. Melaporkan PPh Pasal 26 menggunakan SPT Masa PPh Pasal 23/26 Masa
Pajak Januari 2011 paling lambat tanggal 21 Februari 2011.
G. Penyetoran dan Pelaporan Pemotongan PPh Pasal 26

Penyetoran dan Pelaporan Pemotongan PPh Pasal 26

Tanggal Jatuh Tempo Penyetoran Batas Akhir Pelaporan


PPh
Wajib menyampaikan SPT Masa PPh
Pasal 26 Paling lama tanggal 10 bulan
Pasal 21/26 paling lama 20 hari setelah
berikutnya setelah Masa Pajak berakhir
Masa Pajak berakhir

H. Studi Kasus PPh Pasal 26


Contoh

PPh Pasal 26 PT Flip Light Indonesia, sebuah perusahaan penanaman modal asing, pada tanggal 11
Mei 2011 mengumumkan pembagian dividen dari keuntungan tahun 2010, antara lain
4
kepada:
Contoh
 Mr. Sneijder, Subjek Pajak Luar Negeri yang berdomisili di Belanda (dibuktikan
dengan Surat Keterangan Domisili sesuai dengan format yang ditentukan yang
diserahkan kepada PT Flip Light Indonesia), sebesar Rp300.000.000,00.
 Spurs Vehicle Co., sebuah perusahaan yang berkedudukan di Mauritius, sebesar
Rp5.000.000.000,00.
Bagaimana kewajiban pemotongan atau pemungutan PPh terkait transaksi tersebut?
Kewajiban PT Flip Light Indonesia sebagai pemotong PPh Pasal 26 adalah:
a. Melakukan Pemotongan PPh Pasal 26
 Berdasarkan P3B Indonesia – Belanda, dividen tersebut dapat dipajaki di
Indonesia dengan tarif tidak lebih dari 10%. Oleh karena itu, atas pembayaran
dividen kepada Mr. Sneijder, PT Flip Light Indonesia memotong PPh Pasal 26
sebesar:
PPh Pasal 26 = 10% x Rp300.000.000,00 = Rp30.000.000,00
 Karena tidak ada P3B antara Indonesia – Mauritius, maka atas pembayaran
dividen kepada Spurs Vehicle Co. dipotong PPh Pasal 26 sebesar:
PPh Pasal 26 = 20% x Rp5.000.000.000,00 = Rp1.000.00.000,00
b. Melakukan penyetoran PPh Pasal 26 yang telah dipotong atas pembayaran dividen
tersebut paling lambat 10 Juni 2011.
c. Melaporkan pemotongan PPh Pasal 26 atas transaksi tersebut dalam SPT Masa
PPh Pasal 23/26 Masa Pajak Mei 2011 paling lambat tanggal 20 Juni 2011.
Contoh

124 | P a g e
PPh Pasal 26
PT Sistama Indonesia melakukan pembayaran kepada System International Co. atas
jasa manajemen senilai Rp500.000.000,00. System International Co. berkedudukan di
5
Inggris yang dibuktikan dengan Surat Keterangan Domisili (SKD). Penyerahan jasa oleh
Contoh
System International Co. tersebut dilakukan langsung tanpa melalui BUT di Indonesia.
Bagaimana kewajiban pemotongan atau pemungutan PPh terkait transaksi tersebut?
Inggris adalah salah satu negara mitra P3B Indonesia, sehingga perlakuan PPh bagi
Wajib Pajak luar negeri (resident) Inggris harus memperhatikan ketentuan dalam P3B.
Salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh System International Co. untuk dapat
menggunakan P3B dalam rangka pemotongan PPh adalah Surat Keterangan Domisili.
Jenis penghasilan yang dibayarkan oleh PT Sistama Indonesia kepada System
International Co. adalah penghasilan dari jasa. Dalam kasus ini, berdasarkan P3B
Indonesia – Inggris maka penghasilan dari jasa hanya dapat dikenai pajak di Inggris
karena System International Co. tidak mempunyai BUT di Indonesia.

125 | P a g e
BAB
PPh PASAL 4 AYAT (2)

7
Tujuan Instruksional Khusus:
1. Mampu menguraikan tentang konsep PPh Final Pasal 4 ayat (2).
2. Mampu menguraikan tentang perlakuan PPh atas penghasilan berupa:
a. Bunga deposito dan tabungan serta diskonto Sertifikat Bank Indonesia (SBI).
b. Bunga obligasi.
c. Diskonto Surat Perbendaharaan Negara (SPN).
d. Bunga simpanan yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggota koperasi
orang pribadi.
e. Hadiah undian.
f. Penghasilan dari transaksi penjualan saham di bursa efek.
g. Penghasilan Perusahaan Modal Ventura dari Transaksi Penjualan Saham atau
Pengalihan Penyertaan Modal pada Perusahaan Pasangan Usaha.
h. Dividen yang diterima atau diperoleh WP OP Dalam Negeri
i. Penghasilan dari Persewaan Tanah dan/atau Bangunan.
j. Penghasilan dari Pengalihan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan.
k. Jasa konstruksi.
l. Penilaian Kembali (Revaluasi) Aktiva Tetap.
m. Transaksi Derivatif Berupa Kontrak Berjangka yang Diperdagangkan di Bursa.
3. Mampu menjelaskan tentang saat penyetoran dan pelaporan pemotongan PPh
Pasal 4 ayat (2).

A. Peta Konsep PPh Pasal 4 ayat (2)


Gambar. Peta Konsep PPh Pasal 4 ayat (2)

BUNGA DEPOSITO dan


Penghasilan dari PERSEWAAN
Tabungan serta Diskonto JASA KONSTRUKSI
TANAH dan/atau BANGUNAN
Sertifikat Bank Indonesia

Selisih Lebih
BUNGA OBLIGASI
REVALUASI AKTIVA TETAP

DISKONTO
Surat Perbendaharaan
PPh Penghasilan dari
PENGALIHAN HAK ATAS
Negara FINAL TANAH dan/atau BANGUNAN

126 | P a g e

BUNGA SIMPANAN yang


DIVIDEN yang diterima atau
Dibayarkan oleh Koperasi
Pemungutan Pajak Penghasilan tersebut bersifat final dan oleh karena itu apabila Wajib
Pajak menerima atau memperoleh penghasilan yang berasal dari transaksi penjualan
saham di bursa efek, penghasilan tersebut tidak perlu digabung dengan penghasilan lainnya
dalam penghitungan Pajak Penghasilan yang terutang dalam pengisian Surat
Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan.
Demikian pula Pajak Penghasilan yang telah dipotong tidak dapat dikreditkan dengan Pajak
Penghasilan yang terutang menurut Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan.
Gambar. Peta Konsep Konsekuensi Pengenaan PPh Final

TIDAK BOLEH DIKURANGKAN TIDAK PERLU DIGABUNG


BIAYA untuk mendapatkan, PENGHASILAN yang telah dikenai
menagih, dan memelihara PPh pemotongan atau pemungutan PPh
penghasilan yang pengenaan yang bersifat final, TIDAK PERLU
pajaknya bersifat final TIDAK FINAL DIGABUNG dengan penghasilan
BOLEH DIKURANGKAN dalam lainnya dalam penghitungan PPh
menentukan besarnya yang terutang dalam pengisian
Penghasilan Kena Pajak SPT Tahunan PPh

TIDAK DAPAT DIKREDITKAN

PPh Final yang telah


dipotong/dipungut
TIDAK DAPAT DIKREDITKAN
dengan PPh yang terutang menurut
SPT Tahunan PPh

B. Bunga Deposito dan Tabungan serta Diskonto Sertifikat Bank Indonesia (SBI)

127 | P a g e
Peraturan Pemerintah Nomor 131 Tahun 2000 dan Keputusan Menteri Keuangan
Nomor 51/KMK.04/2001, mengatur antara lain:
 Yang dimaksud dengan:
a. Deposito adalah deposito dengan nama dan dalam bentuk apapun, termasuk
deposito berjangka, sertifikat deposito dan deposit on call baik dalam mata uang
rupiah maupun dalam mata uang asing (valuta asing) yang ditempatkan pada
atau diterbitkan oleh bank.
b. Tabungan adalah simpanan pada bank dengan nama apapun, termasuk giro,
yang penarikannya dilakukan menurut syarat-syarat tertentu yang ditetapkan
oleh masing-masing bank.
 Tarif Pemotongan PPh

TARIF PPh FINAL – BUNGA DEPOSITO dan TABUNGAN serta DISKONTO SBI

OBJEK PAJAK SUBJEK PAJAK TARIF

Bunga Deposito WP Dalam Negeri


20%
dan BUT
Bunga Tabungan
WP Luar Negeri 20% / sesuai
Diskonto Sertifikat Bank Indonesia tarif P3B

Catatan:
Pemotongan PPh tidak berlaku terhadap orang pribadi subjek pajak dalam negeri
yang seluruh penghasilannya dalam 1 tahun pajak, termasuk bunga dan diskonto,
tidak melebihi PTKP.

 Dikecualikan dari pemotongan PPh yang bersifat final:


a. Diberikan dengan Surat Keterangan Bebas (SKB)
1). Bunga deposito dan tabungan serta diskonto SBI yang diterima atau
diperoleh Dana Pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri
Keuangan sepanjang dananya diperoleh dari sumber pendapatan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 Undang-undang Nomor 11 Tahun
1992 tentang Dana Pensiun.
b. Dilaksanakan tanpa Surat Keterangan Bebas
1). Bunga deposito dan tabungan serta diskonto SBI, sepanjang jumlah deposito
dan tabungan serta SBI tersebut tidak melebihi Rp 7.500.000,00.
2). Bunga dan diskonto yang diterima atau diperoleh bank yang didirikan di
Indonesia atau cabang bank luar negeri di Indonesia.

128 | P a g e
3). Bunga tabungan pada bank yang ditunjuk Pemerintah dalam rangka
pemilikan rumah sederhana dan sangat sederhana, kaveling siap bangun
untuk rumah sederhana dan sangat sederhana, atau rumah susun sederhana
sesuai dengan ketentuan yang berlaku, untuk dihuni sendiri.
C. Bunga Obligasi
Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2009 dan Peraturan Menteri Keuangan
Nomor 85/PMK.03/2011 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri
Keuangan Nomor 07/PMK.011/2012, mengatur antara lain:
 Yang dimaksud dengan:
1. Obligasi adalah surat utang dan surat utang negara, yang berjangka waktu lebih
dari 12 bulan.
2. Bunga Obligasi adalah imbalan yang diterima dan/atau diperoleh pemegang
Obligasi dalam bentuk bunga dan/atau diskonto.
 Atas penghasilan yang diterima dan/atau diperoleh Wajib Pajak berupa Bunga
Obligasi dikenai pemotongan Pajak Penghasilan yang bersifat final.
 Tidak dilakukan Pemotongan PPh atas Bunga Obligasi yang diterima oleh:
a. Wajib Pajak dana pensiun yang pendirian atau pembentukannya telah disahkan
oleh Menteri Keuangan dan memenuhi persyaratan sebagaimana diatur dalam
Pasal 4 ayat (3) huruf h UU PPh.
b. Wajib Pajak bank yang didirikan di Indonesia atau cabang bank luar negeri di
Indonesia.
 Dalam hal terdapat diskonto negatif atau rugi pada saat penjualan Obligasi, diskonto
negatif atau rugi tersebut dapat diperhitungkan dengan penghasilan bunga berjalan.
 Tarif Pemotongan PPh atas bunga obligasi

BUNGA OBLIGASI
Surat Utang dan Surat Utang Negara, yang berjangka waktu lebih dari 12 bulan

DISKONTO dan/atau
BUNGA DISKONTO DISKONTO
BUNGA
DENGAN KUPON DENGAN KUPON TANPA BUNGA
WP REKSADANA

Jumlah bruto bunga Selisih lebih harga jual Selisih lebih harga jual Selisih lebih harga jual
sesuai dengan masa atau nilai nominal di atau nilai nominal di atau nilai nominal di
kepemilikan Obligasi atas harga perolehan atas harga perolehan atas harga perolehan
Obligasi, tidak Obligasi Obligasi dan/atau
termasuk bunga jumlah bruto bunga
berjalan sesuai dengan masa
kepemilikan obligasi

WP DN dan BUT WP LN selain BUT  0% Final untuk


Tahun 2009 s.d.
15%, Final 20% atau sesuai tarif 2010
P3B, Final  5% Final
129 | Puntuk
ag e
Tahun 2011 s.d.
2013
 15% Final untuk
Tahun 2014 dst.
 Pemotongan Pajak Penghasilan dilakukan oleh:
a. Penerbit Obligasi (emiten) atau kustodian selaku agen pembayaran yang
ditunjuk, atas:
1. Bunga dan/atau diskonto yang diterima atau diperoleh pemegang Obligasi
dengan kupon pada saat jatuh tempo Bunga Obligasi.
2. Diskonto yang diterima atau diperoleh pemegang Obligasi tanpa bunga pada
saat jatuh tempo Obligasi.
b. Perusahaan efek, dealer, atau bank, selaku perantara, atas bunga dan/atau
diskonto Obligasi yang diterima atau diperoleh penjual Obligasi pada saat
transaksi.
c. Perusahaan efek, dealer, bank, dana pensiun, dan reksadana, selaku pembeli
Obligasi langsung tanpa melalui perantara, atas bunga dan/atau diskonto
Obligasi yang diterima atau diperoleh penjual Obligasi pada saat transaksi.
 Dalam hal penjualan Obligasi dilakukan secara langsung tanpa melalui perantara
kepada pihak-pihak lain selain pemotong pajak tersebut, kustodian atau sub-registry
selaku pihak-pihak yang melakukan pencatatan mutasi hak kepemilikan Obligasi,
wajib melakukan pemotongan dengan cara memungut Pajak Penghasilan yang
bersifat final yang terutang dari penjual Obligasi sebelum mutasi hak kepemilikan
dilakukan.
 Dalam hal penjualan Obligasi tidak memerlukan pencatatan mutasi hak kepemilikan
Obligasi melainkan hanya atas unjuk, pemotongan Pajak Penghasilan yang bersifat
final dilakukan oleh penerbit Obligasi (emiten) atau kustodian yang ditunjuk selaku
agen pembayaran, dari pembeli/pemegang Obligasi pada saat:
a. Jatuh tempo bunga, untuk penghasilan bunga yang dihitung berdasarkan masa
kepemilikan penuh sejak tanggal jatuh tempo bunga terakhir.
b. Jatuh tempo Obligasi, untuk penghasilan diskonto yang dihitung berdasarkan
masa kepemilikan penuh sejak tanggal penerbitan perdana Obligasi.
 Dalam hal dapat dibuktikan bahwa penjual Obligasi atas unjuk adalah pihak yang
tidak diberlakukan pemotongan Pajak Penghasilan atau pihak lain yang telah
dikenakan pemotongan Pajak Penghasilan, pemotongan Pajak Penghasilan yang
bersifat final atas bunga pada saat jatuh tempo bunga atau diskonto pada saat jatuh

130 | P a g e
tempo Obligasi, dihitung berdasarkan masa kepemilikan penuh dikurangi dengan
masa kepemilikan penjual Obligasi tersebut.
 Contoh Penghitungan Mengenai Tata Cara Pemotongan Pajak Penghasilan
Atas Bunga Obligasi

PPh Pasal 4(2)


1. Pada tanggal 1 Juli 2011, PT ABC (emiten) menerbitkan Obligasi dengan kupon
(interest bearing bond) sebagai berikut:
1
 Nilai nominal Rp10.000.000,00 per lembar.
Contoh
 Jangka waktu Obligasi 5 tahun (jatuh tempo tanggal 1 Juli 2016).
 Bunga tetap (fixed rate) sebesar 16% per tahun, jatuh tempo bunga setiap
tanggal 30 Juni dan 31 Desember.
 Penerbitan perdana tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).
PT XYZ (investor) pada saat penerbitan perdana membeli 10 lembar Obligasi
dengan harga di bawah nilai nominal (at discount), yaitu sebesar Rp9.000.000,00
per lembar.
Penghitungan bunga dan PPh yang bersifat final yang terutang oleh PT XYZ
pada saat jatuh tempo bunga pada tanggal 31 Desember 2011 adalah:
Bunga = (6/12 x 16% x Rp10.000.000,00) x 10
= Rp8.000.000,00
PPh Final = 15% x Rp8.000.000,00
= Rp1.200.000,00
Dipotong oleh emiten atau kustodian yang ditunjuk sebagai agen pembayaran.
Keterangan:
Dalam kenyataannya, harga perolehan Obligasi dengan kupon (interest bearing
bond) pada saat penerbitan perdana tidak harus selalu sama dengan nilai
nominalnya. Pembeli dapat memperoleh Obligasi dengan harga di bawah nilai
nominal (at discount) atau di atas nilai nominal (at premium). Pada hakekatnya
selisih harga beli di bawah atau di atas nilai nominal tersebut merupakan
penyesuaian tingkat bunga Obligasi yang diperhitungkan ke dalam harga
perolehan.
Dalam hal investor atau pembeli Obligasi adalah WP Reksadana, maka
penghitungan PPh final atas bunga yang diperoleh pada saat jatuh tempo
tanggal 31 Desember 2011 adalah:
Bunga = (6/12 x 16% x Rp10.000.000,00) x 10
= Rp8.000.000,00
PPh Final = 5% x Rp8.000.000,00

131 | P a g e
= Rp400.000,00

PPh Pasal 4(2)


2. Pada tanggal 31 Maret 2012, PT XYZ menjual seluruh Obligasi yang dimilikinya
kepada PT PQR melalui perusahaan efek PT MNO di over the counter (OTC),
2
dengan harga jual Rp10.400.000,00 per lembar termasuk bunga berjalan.
Contoh
Penghitungan bunga berjalan, diskonto, dan PPh final yang terutang oleh PT
XYZ pada saat penjualan Obligasi tanggal 31 Maret 2012 adalah:
Bunga Berjalan = (3/12 x 16% x Rp10.000.000,00) x 10
= Rp4.000.000,00
Diskonto = [(Rp10.400.000,00 – Rp400.000,00) – Rp9.000.000,00] x 10
= Rp10.000.000,00
Mengingat Wajib Pajak PT XYZ dikenakan PPh final dengan tarif yang sama,
bunga berjalan dan diskonto dapat dihitung sekaligus yaitu:
Bunga berjalan dan diskonto = (Rp10.400.000,00 – Rp9.000.000,00) x 10
= Rp14.000.000,00
PPh final = 15% x Rp14.000.000,00
= Rp2.100.000,00
Dipotong oleh PT MNO selaku perantara.

PPh Pasal 4(2) 3. PT PQR memiliki Obligasi yang dibeli dari PT XYZ dengan masa kepemilikan
hingga tanggal 31 Desember 2014. Untuk itu, pada setiap tanggal jatuh tempo
3
bunga selama masa kepemilikan Obligasi tersebut, PT PQR terutang PPh final
Contoh
sebesar 15% atas bunga yang diterima atau diperolehnya (lihat contoh nomor 1),
yang dipotong oleh emiten atau kustodian yang ditunjuk sebagai agen
pembayaran.

PPh Pasal 4(2)


4. Pada tanggal 31 Desember 2014, PT PQR setelah menerima bunga dari emiten
menjual seluruh Obligasi yang dimilikinya kepada PT CDE melalui Bank “Pundi
4
Nasional” selaku perantara dengan harga jual Rp10.500.000,00 per lembar.
Contoh
Penghitungan bunga, diskonto, dan PPh final yang terutang oleh PT PQR pada
saat jatuh tempo bunga atau saat penjualan Obligasi tanggal 31 Desember 2014
adalah:
Bunga = (6/12 x 16% x Rp10.000.000,00) x 10
= Rp8.000.000,00
PPh final atas Bunga = 15% x Rp8.000.000,00
= Rp1.200.000,00
Dipotong oleh emiten atau kustodian yang ditunjuk sebagai agen pembayaran.
Diskonto = (Rp10.500.000,00 – Rp10.000.000,00) x 10

132 | P a g e
= Rp5.000.000,00
PPh final atas Diskonto = 15% x Rp5.000.000,00
= Rp750.000,00
Dipotong oleh Bank “Pundi Nasional” selaku perantara.
Keterangan:
Pengertian diskonto tidak hanya terbatas pada realisasi selisih harga perolehan
perdana di bawah (at discount) nilai nominal Obligasi, melainkan mencakup
selisih lebih harga jual di atas harga perolehan Obligasi.
PPh Pasal 4(2) 5. Pada tanggal 31 Mei 2016, PT CDE menjual seluruh Obligasi yang dimilikinya
kepada Dana Pensiun “Sejahtera Mandiri” (dana pensiun yang telah mendapat
5
Contoh persetujuan Menteri Keuangan) langsung tanpa melalui perantara dengan harga
jual Rp10.666.667,00 per lembar termasuk bunga.
Penghitungan bunga berjalan, diskonto, dan PPh yang terutang oleh PT CDE
pada saat penjualan Obligasi tanggal 31 Mei 2016 adalah:
Bunga berjalan = (5/12 x 16% Rp10.000.000,00) x 10
= Rp6.666.670,00
Diskonto = [(Rp10.666.667,00 – Rp666.667,00) – Rp10.500.000,00] x 10
= (Rp5.000.000,00)
Diskonto negatif atau rugi.
Perolehan diskonto negatif atau rugi dapat diperhitungkan dengan penghasilan
bunga berjalan. PPh terutang yang bersifat final karena penjualan Obligasi
adalah:
PPh final = 15% x (Rp6.666.670,00 – Rp5.000.000,00)
= Rp250.001,00
Keterangan:
Meskipun penjualan Obligasi tidak dilakukan melalui perantara dan tidak
dilaporkan ke bursa, dana pensiun sebagai pembeli wajib melakukan
pemotongan pajak. Ketentuan yang sama juga berlaku dalam hal pembelian
langsung dilakukan oleh perusahaan efek, bank, dan reksa dana selaku investor.

PPh Pasal 4(2)


6. Pada tanggal 1 Juli 2016 (jatuh tempo Obligasi), Dana Pensiun “Sejahtera
Mandiri” menerima pelunasan seluruh Obligasi yang dimilikinya beserta imbalan
6
bunga sesuai masa kepemilikan (1 bulan) dari PT ABC, yang merupakan emiten
Contoh
Obligasi tersebut. Penghitungan bunga, diskonto, dan PPh final yang terutang
oleh Dana Pensiun “Sejahtera Mandiri” pada saat jatuh tempo/pelunasan
Obligasi tanggal 1 Juli 2016 adalah:

133 | P a g e
Bunga = (1/12 x 16% x Rp10.000.000,00) x 10
= Rp1.333.330,00
Diskonto = (Rp10.000.000,00 – Rp10.000.000,00) x 10
= Nihil

PPh Pasal 4(2) 7. Pada tanggal 1 Januari 2011, PT ABC menerbitkan Obligasi tanpa bunga (non-
interest bearing debt securitiest) berjangka waktu 10 tahun (jatuh tempo tanggal
7
1 Januari 2021) dengan nilai nominal sebesar Rp10.000.000,00. Penerbitan
Contoh
perdana Obligasi tersebut tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).
PT GHI membeli 100 lembar Obligasi tanpa bunga tersebut dengan harga
perdana sebesar Rp6.000.000,00 per lembar.
Pada tanggal 31 Agustus 2014, PT GHI menjual 50 lembar Obligasi tersebut di
BE) melalui perusahaan efek PT MNO kepada PT JKL seharga Rp7.000.000,00
per lembar.
Penghitungan diskonto dan PPh Final yang terutang oleh PT GHI adalah:
Diskonto = (Rp7.000.000,00 - Rp6.000.000,00) x 50
= Rp50.000.000,00
PPh final = 15% x Rp50.000.000,00
= Rp7.500.000,00
Dipotong oleh PT MNO selaku perantara.
Keterangan:
Diskonto Obligasi tanpa bunga dikenakan pemotongan PPh final pada setiap kali
dilakukan penjualan, sepanjang:
 penjualan dilakukan melalui perantara atau pembeli langsung yang ditunjuk
sebagai pemotong pajak; dan
 penjual Obligasi tidak dikecualikan dari pemotongan Pajak Penghasilan.
Pada saat jatuh tempo/pelunasan Obligasi dimaksud, atas diskonto terakhir
dikenakan PPh final.
D. Diskonto Surat Perbendaharaan Negara
Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2008 dan Peraturan Menteri Keuangan
Nomor 63/PMK.03/2008, mengatur antara lain:
 Yang dimaksud dengan:
1. Surat Utang Negara adalah surat berharga yang berupa surat pengakuan utang
baik dalam mata uang rupiah maupun valuta asing yang dijamin pembayaran
bunga dan pokoknya oleh Negara Republik Indonesia sesuai dengan masa
berlakunya, yang terdiri atas Surat Perbendaharaan Negara dan Obligasi Negara

134 | P a g e
2. Surat Perbendaharaan Negara (SPN) adalah Surat Utang Negara yang
berjangka waktu paling lama 12 bulan dengan pembayaran bunga secara
diskonto.
3. Pasar Perdana adalah kegiatan penawaran dan penjualan Surat Utang Negara
untuk pertama kali.
4. Pasar Sekunder adalah kegiatan perdagangan Surat Utang Negara yang telah
dijual di Pasar Perdana.
5. Diskonto SPN adalah selisih lebih antara :
a. Nilai nominal pada saat jatuh tempo dengan harga perolehan di Pasar
Perdana atau di Pasar Sekunder; atau
b. Harga jual di Pasar Sekunder dengan harga perolehan di Pasar Perdana atau
di Pasar Sekunder,
tidak termasuk Pajak Penghasilan yang dipotong.
 Atas penghasilan tertentu dari Wajib Pajak berupa Diskonto SPN dikenakan
pemotongan27 Pajak Penghasilan yang bersifat final.
 Tarif Pemotongan PPh atas Diskonto Surat Perbendaharaan Negara

TARIF PPh FINAL – DISKONTO SPN (Surat Perbendaharaan Negara)

OBJEK PAJAK SUBJEK PAJAK TARIF

WP Dalam Negeri dan BUT 20%


Diskonto SPN
(Surat Perbendaharaan Negara)
WP Penduduk/berkedudukan 20% / sesuai
di Luar Negeri tarif P3B

Catatan:
Pemotongan PPh tidak dilakukan atas Diskonto SPN yang diterima atau diperoleh Wajib
Pajak:
a. Bank yang didirikan di Indonesia atau cabang bank luar negeri di Indonesia;
b. Dana Pensiun yang pendirian/pembentukannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan;
c. Reksadana yang terdaftar pada Badan pengawas Pasar Modal dan Lembaga, selama 5
tahun pertama sejak pendirian perusahaan atau pemberian izin usaha.

 Pemotongan PPh atas diskonto SPN dilakukan oleh:


a. Penerbit SPN (emiten) atau kustodian yang ditunjuk selaku agen pembayar, atas
Diskonto yang diterima pemegang SPN saat jatuh tempo;

27Pemotongan Pajak Penghasilan dilakukan pada tanggal transaksi saat penjualan SPN di Pasar
Sekunder atau pada tanggal saat jatuh tempo SPN.

135 | P a g e
b. Perusahaan efek (broker) atau bank selaku pedagang perantara (dealer), atas
Diskonto yang diterima atau diperoleh penjual SPN pada saat transaksi di Pasar
Sekunder;
c. Perusahaan efek (broker), bank, dana pensiun, dan reksadana selaku pembeli
SPN tanpa melalui pedagang perantara, atas Diskonto yang diterima atau
diperoleh penjual SPN pada saat transaksi di Pasar Sekunder.
E. Bunga Simpanan yang Dibayarkan oleh Koperasi kepada Anggota Koperasi Orang
Pribadi
Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2009 dan Peraturan Menteri Keuangan
Nomor 112/PMK.03/2010, mengatur antara lain:
 Penghasilan berupa bunga simpanan28 yang dibayarkan oleh koperasi yang didirikan
di Indonesia kepada anggota koperasi orang pribadi dikenai Pajak Penghasilan yang
bersifat final.
 Tarif pemotongan PPh atas Bunga Simpanan yang Dibayarkan oleh Koperasi
kepada Anggota Koperasi Orang Pribadi

TARIF PPh FINAL – BUNGA SIMPANAN KOPERASI

OBJEK PAJAK TARIF

s.d. Rp240.000,00
0%
Bunga Simpanan yang Dibayarkan oleh per bulan
Koperasi kepada Anggota Koperasi
Orang Pribadi > Rp240.000,00
10%
per bulan

 Tidak termasuk dalam pengertian ini adalah bunga simpanan yang diterima anggota
koperasi orang pribadi yang merupakan bagian dari sisa hasil usaha.
 Contoh
PPh Pasal 4(2)
1. Bunga dibayarkan pada bulan Februari Rp240.000,00 untuk masa Januari, maka
8
PPh terutang 0% x Rp240.000,00 = Rp0,00
Contoh
2. Bunga dibayarkan pada bulan Februari Rp245.000,00 untuk masa Januari, maka
PPh terutang 10% x Rp245.000,00 = Rp24.500,00
3. Bunga dibayarkan pada bulan April sebesar Rp500.000,00 dengan rincian bunga
bulan Januari Rp250.000,00, Februari Rp150.000,00, dan Maret Rp100.000,00,

28
Yang dimaksud dengan "penghasilan berupa bunga simpanan" adalah imbalan berupa bunga simpanan yang
diterima anggota koperasi orang pribadi dari dana yang disimpan anggota koperasi orang pribadi pada koperasi
tempat orang pribadi tersebut menjadi anggota.

136 | P a g e
maka yang dikenakan PPh 10% adalah bunga bulan Januari sebesar 10% x
Rp250.000,00 = Rp25.000,00 dan untuk bulan Februari dan Maret Rp0,00
F. Hadiah Undian
Peraturan Pemerintah Nomor 132 Tahun 2000 dan Keputusan Menteri Keuangan
Nomor 639/KMK.04/1994, mengatur antara lain:
 Atas penghasilan berupa hadiah undian29 dengan nama dan dalam bentuk apapun
dipotong atau dipungut Pajak Penghasilan yang bersifat final.
 Tarif pemotongan PPh atas Hadiah Undian

TARIF PPh FINAL – HADIAH UNDIAN

OBJEK PAJAK SUBJEK PAJAK TARIF

Orang Pribadi dan Badan 25% dari


Hadiah Undian baik Dalam Negeri Jumlah Bruto
maupun Luar Negeri Nilai Hadiah

Pengertian Nilai Hadiah adalah NILAI UANG atau NILAI PASAR apabila hadiah tersebut
diserahkan dalam bentuk natura (misalnya: mobil).

 Penyelenggara undian30 wajib memotong Pajak Penghasilan dalam hal hadiah


undian dibayarkan berupa uang dan memungut Pajak Penghasilan dalam hal hadiah
undian diserahkan dalam bentuk natura atau kenikmatan.
 Pajak Penghasilan dipotong atau dipungut oleh Penyelenggara undian sebelum
hadiah undian dibayarkan atau diserahkan kepada yang berhak.
G. Penghasilan dari Transaksi Penjualan Saham di Bursa Efek
Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1994 sebagaimana telah diubah dengan
Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1997 dan Keputusan Menteri Keuangan Nomor
282/KMK.04/1997, mengatur antara lain:
 Atas penghasilan yang diterima atau diperoleh orang pribadi atau badan dari
transaksi penjualan saham di bursa efek dipungut Pajak Penghasilan yang bersifat
final.
 Tarif Pemotongan PPh atas Penghasilan dari Transaksi Penjualan Saham di Bursa
Efek

TARIF PPh FINAL – PENJUALAN SAHAM di BURSA EFEK


29
Yang dimaksud dengan hadiah undian adalah hadiah dengan nama dan dalam bentuk apapun yang diberikan
melalui undian. OBJEK PAJAK SUBJEK PAJAK TARIF
30
Penyelenggara undian adalah orang pribadi, badan, kepanitiaan, organisasi (termasuk organisasi internasional)
atau penyelenggara lainnya termasuk pengusaha yang menjual barang 0,1%atau
darijasa
Jumlah
yang Bruto Nilai hadiah
memberikan
dengan cara diundi.
Penghasilan dari Transaksi Penjualan
Orang Pribadi
Transaksi
atau
Penjualan Saham 0,5% dari Nilai Jual Saham
Badan
di Bursa Efek  Tambahan PPh untuk Transaksi
137 | P a g e
Penjualan Saham Pendiri
 Yang dimaksud dengan "pendiri" adalah orang pribadi atau badan yang namanya
tercatat dalam Daftar Pemegang Saham Perseroan Terbatas atau tercantum dalam
Anggaran Dasar Perseroan Terbatas sebelum Pernyataan Pendaftaran yang
diajukan kepada Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) dalam rangka
penawaran umum perdana (initial public offering) menjadi efektif.
 Termasuk dalam pengertian "pendiri" adalah orang pribadi atau badan yang
menerima pengalihan saham dari pendiri karena:
a. Warisan.
b. Hibah yang memenuhi syarat Pasal 4 ayat (3) huruf a angka 2 UU PPh.
c. Cara lain yang tidak dikenakan Pajak Penghasilan pada saat pengalihan
tersebut.
 Yang dimaksud dengan "saham pendiri" adalah saham yang dimiliki oleh mereka
yang termasuk kategori "pendiri" sebagaimana dimaksud di atas.
 Termasuk dalam pengertian "saham pendiri" adalah:
a. Saham yang diperoleh pendiri yang berasal dari kapitalisasi agio yang
dikeluarkan setelah penawaran umum perdana (initial public offering).
b. Saham yang yang berasal dari pemecahan saham pendiri.
 Tidak Termasuk dalam pengertian "saham pendiri" adalah:
a. Saham yang diperoleh pendiri yang berasal dari pembagian dividen dalam
bentuk saham.
b. Saham yang diperoleh pendiri setelah penawaran umum perdana (initial public
offering) yang berasal dari pelaksanaan hak pemesanan efek terlebih dahulu
(right issue), waran, obligasi konversi dan efek konversi lainnya;
c. Saham yang diperoleh pendiri perusahaan Reksa Dana.
 Pengenaan Pajak Penghasilan dilakukan dengan cara pemotongan oleh
penyelenggaraan bursa efek melalui perantara pedagang efek pada saat pelunasan
transaksi penjualan saham.

138 | P a g e
H. Penghasilan Perusahaan Modal Ventura dari Transaksi Penjualan Saham atau
Pengalihan Penyertaan Modal pada Perusahaan Pasangan Usaha
Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 1995, mengatur antara lain:
 Atas penghasilan perusahaan modal ventura dari transaksi penjualan saham atau
pengalihan penyertaan modal pada perusahaan pasangan usahanya dikenakan
Pajak Penghasilan yang bersifat final sebesar 0,1% dari jumlah bruto nilai transaksi
penjualan saham atau pengalihan penyertaan modal.
 Perusahaan pasangan usaha adalah perusahaan yang memenuhi syarat sebagai
berikut:
a. Merupakan perusahaan kecil, menengah, atau yang melakukan kegiatan dalam
sektor-sektor usaha yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan; dan
b. Sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek di Indonesia.
 Dalam hal transaksi penjualan saham atau pengalihan penyertaan modal tersebut
dilakukan melalui bursa efek, maka pengenaan Pajak Penghasilannya dilakukan
sesuai dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan
tentang Pajak Penghasilan atas penghasilan dari transaksi penjualan saham di bursa
efek.
 Atas penghasilan perusahaan modal ventura dari transaksi penjualan saham atau
pengalihan penyertaan modal pada perusahaan pasangan usaha yang tidak
memenuhi ketentuan, dikenakan Pajak Penghasilan sesuai dengan ketentuan dalam
UU PPh.
I. Dividen yang diterima atau diperoleh WP OP Dalam Negeri
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2009 dan Peraturan Menteri Keuangan
Nomor 111/PMK.03/2010, mengatur antara lain:
 Penghasilan berupa dividen31 yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak orang pribadi
dalam negeri dikenai Pajak Penghasilan sebesar 10% dan bersifat final.

TARIF PPh FINAL – DIVIDEN WP OP DALAM NEGERI

OBJEK PAJAK SUBJEK PAJAK TARIF

Dividen yang Diterima


atau Diperoleh Orang Pribadi 10% dari Jumlah Bruto
WP Orang Pribadi Dividen yang Diterima
Dalam Negeri

31
Dividen, dengan nama dan dalam bentuk apapun, termasuk dividen dari perusahaan asuransi kepada
pemegang polis, dan pembagian sisa hasil usaha koperasi.

139 | P a g e
 Pengenaan Pajak Penghasilan dilakukan melalui pemotongan oleh pihak yang
membayar atau pihak lain yang ditunjuk selaku pembayar dividen.
J. Penghasilan dari Persewaan Tanah dan/atau Bangunan
Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1996 sebagaimana telah diubah dengan
Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2002, mengatur antara lain:
 Atas penghasilan yang diterima atau diperoleh orang pribadi atau badan dari
persewaan tanah dan/atau bangunan berupa tanah, rumah, rumah susun,
apartemen, kondominium, gedung perkantoran, rumah kantor, toko, rumah toko,
gudang dan industri, wajib dibayar Pajak Penghasilan.
 Atas penghasilan yang diterima atau diperoleh dari penyewa yang bertindak atau
ditunjuk sebagai Pemotong Pajak, wajib dipotong Pajak Penghasilan oleh penyewa.
 Dalam hal penyewa bukan sebagai Pemotong Pajak maka Pajak Penghasilan yang
terutang wajib dibayar sendiri oleh orang pribadi atau badan yang menerima atau
memperoleh penghasilan.
 Tarif PPh atas Penghasilan dari Persewaan Tanah dan/atau Bangunan

TARIF PPh FINAL – PERSEWAAN TANAH dan/atau BANGUNAN

OBJEK PAJAK SUBJEK PAJAK TARIF

Penghasilan dari
Orang Pribadi 10% dari Jumlah Bruto Nilai
Persewaan
atau Persewaan
Tanah dan/atau
Badan Tanah dan/atau Bangunan
Bangunan

Jumlah bruto nilai persewaan adalah semua jumlah yang dibayarkan atau terutang oleh
penyewa dengan nama dan dalam bentuk apapun juga yang berkaitan dengan tanah
dan/atau bangunan yang disewa termasuk biaya perawatan, biaya pemeliharaan, biaya
keamanan, biaya fasilitas lainnya dan service charge baik yang perjanjiannya dibuat secara
terpisah maupun yang disatukan.

 Apabila penyewa adalah badan pemerintah, Subjek Pajak badan dalam negeri,
penyelenggara kegiatan, bentuk usaha tetap, kerjasama operasi, perwakilan
perusahaan luar negeri lainnya, dan orang pribadi yang ditetapkan oleh Direktur
Jenderal Pajak, Pajak Penghasilan yang terutang wajib dipotong oleh penyewa.
 Apabila penyewa adalah orang pribadi atau bukan Subjek Pajak Penghasilan, Pajak
Penghasilan yang terutang wajib dibayar sendiri oleh pihak yang menyewakan.
Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-50/PJ./1996, mengatur antara lain:
 Orang pribadi yang ditunjuk sebagai pemotong Pajak Penghasilan atas penghasilan
dari persewaan tanah dan/atau bangunan adalah:

140 | P a g e
a. Akuntan, arsitek, dokter, Notaris, Pejabat Pembuat Akte Tanah (PPAT) kecuali
PPAT tersebut adalah Camat, pengacara, dan konsultan, yang melakukan
pekerjaan bebas;
b. Orang pribadi yang menjalankan usaha yang menyelenggarakan pembukuan;
yang telah terdaftar sebagai Wajib Pajak dalam negeri.
 Kepala KPP menerbitkan Surat Keputusan Penunjukan sebagai Pemotong Pajak
Penghasilan atas penghasilan dari persewaan tanah dan/atau bangunan kepada
Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri yang ditunjuk.
K. Penghasilan dari Pengalihan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan
Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 1994 sebagaimana telah beberapa kali
diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2008, mengatur antara
lain:
 Atas penghasilan yang diterima atau diperoleh orang pribadi atau badan dari
pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan wajib dibayar Pajak Penghasilan.
 Pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan adalah:
a. Penjualan, tukar-menukar, perjanjian pemindahan hak, pelepasan hak,
penyerahan hak, lelang, hibah, atau cara lain yang disepakati dengan pihak lain
selain pemerintah.
b. Penjualan, tukar-menukar, pelepasan hak, penyerahan hak, atau cara lain yang
disepakati dengan pemerintah guna pelaksanaan pembangunan, termasuk
pembangunan untuk kepentingan umum yang tidak memerlukan persyaratan
khusus misalnya penjualan atau pelepasan hak tanah kepada pemerintah untuk
proyek Rumah Sakit Umum dan untuk proyek kampus universitas.
c. Penjualan, tukar-menukar, pelepasan hak, penyerahan hak, atau cara lain
kepada pemerintah guna pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum
yang memerlukan persyaratan khusus yaitu pembebasan tanah oleh pemerintah
untuk proyek-proyek jalan umum, saluran pembuangan air, waduk, bendungan
dan bangunan pengairan lainnya, saluran irigasi, pelabuhan laut, bandar udara,
fasilitas keselamatan umum seperti tanggul penanggulangan bahaya banjir, lahar
dan bencana lainnya, dan fasilitas Angkatan Bersenjata Republik Indonesia.
 Bagi Wajib Pajak yang melakukan transaksi pengalihan hak atas tanah dan/atau
bangunan, pembayaran Pajak Penghasilan bersifat final.
 Besarnya Pajak Penghasilan adalah sebesar 5% dari jumlah bruto nilai pengalihan
hak atas tanah dan/atau bangunan, kecuali atas pengalihan hak atas Rumah
Sederhana dan Rumah Susun Sederhana yang dilakukan oleh Wajib Pajak yang

141 | P a g e
usaha pokoknya melakukan pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan
dikenakan Pajak Penghasilan sebesar 1% dari jumlah bruto nilai pengalihan.

TARIF PPh FINAL – PENGALIHAN HAK ATAS TANAH dan/atau BANGUNAN

OBJEK PAJAK SUBJEK PAJAK TARIF

BUKAN 5% dari Jumlah Bruto


Usaha Pokok Nilai Pengalihan
Penghasilan
USAHA 5% dari Jumlah Bruto
dari Pengalihan Orang Pribadi
POKOK Nilai Pengalihan untuk
Hak atas Tanah atau
Pengalihan RS dan RSS
dan/atau Badan
Hak atas
Bangunan Tanah 5% dari Jumlah Bruto
dan/atau Nilai Pengalihan untuk
Bangunan Pengalihan Lainnya

 Nilai pengalihan hak adalah nilai yang tertinggi antara nilai berdasarkan Akta
Pengalihan Hak dengan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) tanah dan/atau bangunan
yang bersangkutan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun
1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan sebagaimana telah diubah dengan Undang-
Undang Nomor 12 Tahun 1994 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 12
Tahun 1985 Tentang Pajak Bumi Dan Bangunan, kecuali:
a. Dalam hal pengalihan hak kepada pemerintah adalah nilai berdasarkan
keputusan pejabat yang bersangkutan;
b. Dalam hal pengalihan hak sesuai dengan peraturan lelang (Staatsblad Tahun
1908 Nomor 189 dengan segala perubahannya) adalah nilai menurut risalah
lelang tersebut.
 NJOP adalah NJOP menurut Surat Pemberitahuan Pajak Terutang Pajak Bumi dan
Bangunan (SPPT PBB) tahun yang bersangkutan atau dalam hal SPPT dimaksud
belum terbit, adalah NJOP menurut SPPT tahun pajak sebelumnya.
 Apabila tanah dan/atau bangunan tersebut belum terdaftar pada KPP, maka NJOP
yang dipakai adalah NJOP menurut surat keterangan yang diterbitkan Kepala Kantor
yang wilayah kerjanya meliputi lokasi tanah dan/atau bangunan yang bersangkutan
berada.
 Rumah Sederhana terdiri atas Rumah Sederhana Sehat dan Rumah Inti Tumbuh,
yang mendapat fasilitas dibebaskan dari pengenaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN)
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

142 | P a g e
 Rumah Susun Sederhana adalah bangunan bertingkat yang dibangun dalam suatu
lingkungan yang dipergunakan sebagai tempat hunian yang dilengkapi dengan
KM/WC dan dapur baik bersatu dengan unit hunian maupun terpisah dengan
penggunaan komunal termasuk Rumah Susun Sederhana Milik, yang mendapat
fasilitas dibebaskan dari pengenaan PPN sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan
 Dikecualikan dari kewajiban pembayaran atau pemungutan Pajak Penghasilan atas
penghasilan dari pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan adalah:
a. Orang pribadi yang mempunyai penghasilan di bawah Penghasilan Tidak Kena
Pajak yang melakukan pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan dengan
jumlah bruto pengalihannya kurang dari Rp60.000.000,00 dan bukan merupakan
jumlah yang dipecah-pecah.
b. Orang pribadi atau badan yang menerima atau memperoleh penghasilan dari
pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan kepada pemerintah guna
pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum yang memerlukan
persyaratan khusus.
c. Orang pribadi yang melakukan pengalihan tanah dan/atau bangunan dengan
cara hibah kepada keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat,
dan kepada badan keagamaan atau badan pendidikan atau badan sosial atau
pengusaha kecil termasuk koperasi yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan,
sepanjang hibah tersebut tidak ada hubungannya dengan usaha, pekerjaan,
kepemilikan, atau penguasaan antara pihak-pihak yang bersangkutan.
d. Badan yang melakukan pengalihan tanah dan/atau bangunan dengan cara hibah
kepada badan keagamaan atau badan pendidikan atau badan sosial atau
pengusaha kecil termasuk koperasi yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan,
sepanjang hibah tersebut tidak ada hubungannya dengan usaha, pekerjaan,
kepemilikan, atau penguasaan antara pihak-pihak yang bersangkutan; atau
e. Pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan karena warisan.
 Pejabat yang berwenang (Notaris, Pejabat Pembuat Akta Tanah, Camat, Pejabat
Lelang, atau pejabat lain yang diberi wewenang sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku) hanya menanda tangani akta, keputusan,
perjanjian, kesepakatan atau risalah lelang atas pengalihan hak atas tanah dan/atau
bangunan apabila kepadanya dibuktikan oleh Orang pribadi atau badan dimaksud
bahwa kewajiban telah dipenuhi dengan menyerahkan fotokopi Surat Setoran Pajak
yang bersangkutan dengan menunjukan aslinya.
L. Jasa Konstruksi

143 | P a g e
Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2008 sebagaimana telah diubah dengan
Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2009, mengatur antara lain:
 Yang dimaksud dengan:
a. Jasa konstruksi adalah layanan jasa konsultansi perencanaan pekerjaan
konstruksi, layanan jasa pelaksanaan pekerjaan konstruksi, dan layanan jasa
konsultansi pengawasan pekerjaan konstruksi.
b. Pekerjaan konstruksi adalah keseluruhan atau sebagian rangkaian kegiatan
perencanaan dan/atau pelaksanaan beserta pengawasan yang mencakup
pekerjaan arsitektural, sipil, mekanikal, elektrikal, dan tata lingkungan masing-
masing beserta kelengkapannya untuk mewujudkan suatu bangunan atau bentuk
fisik lain.
c. Perencanaan Konstruksi adalah pemberian jasa oleh orang pribadi atau badan
yang dinyatakan ahli yang profesional di bidang perencanaan jasa konstruksi
yang mampu mewujudkan pekerjaan dalam bentuk dokumen perencanaan
bangunan fisik lain.
d. Pelaksunaan Konstruksi adalah pemberian jasa oleh orang pribadi atau badan
yang dinyatakan ahli yang profesional di bidang pelaksanaan jasa konstruksi
yang mampu menyelenggarakan kegiatannya untuk mewujudkan suatu hasil
perencanaan menjadi bentuk bangunan atau bentuk fisik lain, termasuk di
dalamnya pekerjaan konstruksi terintegrasi yaitu penggabungan fungsi layanan
dalam model penggabungan perencanaan, pengadaan, dan pembangunan
(engineering, procurement and construction) serta model penggabungan
perencanaan dan pembangunan (design and build).
e. Pengawasan konstruksi adalah pemberian jasa oleh orang pribadi atau badan
yang dinyatakan ahli yang profesional di bidang pengawasan jasa konstruksi,
yang mampu melaksanakan pekerjaan pengawasan sejak awal pelaksanaan
pekerjaan konstruksi sampai selesai dan diserahterimakan.
 Atas penghasilan dari usaha Jasa Konstruksi dikenakan Pajak Penghasilan yang
bersifat final.
 Tarif Pajak Penghasilan untuk usaha Jasa Konstruksi adalah sebagai berikut:
a. 2% untuk Pelaksanaan Konstruksi yang dilakukan oleh Penyedia Jasa yang
memiliki kualifikasi usaha32 kecil;
b. 4% untuk Pelaksanaan Konstruksi yang dilakukan oleh Penyedia Jasa yang tidak
memiliki kualifikasi usaha;

32
Yang dimaksud dengan "Kualifikasi usaha" adalah stratifikasi yang ditentukan berdasarkan sertifikasi yang
dikeluarkan oleh Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi.

144 | P a g e
c. 3% untuk Pelaksanaan Konstruksi yang dilakukan oleh Penyedia Jasa selain
Penyedia Jasa sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b;
d. 4% untuk Perencanaan Konstruksi atau Pengawasan Konstruksi yang dilakukan
oleh Penyedia Jasa yang memiliki kualifikasi usaha; dan
e. 6% untuk Perencanaan Konstruksi atau Pengawasan Konstruksi yang dilakukan
oleh Penyedia Jasa yang tidak memiliki kualifikasi usaha.

JASA KONSTRUKSI
Dikenai PPh yang bersifat Final

PERENCANAAN / PENGAWASAN
PELAKSANAAN KONSTRUKSI
KONSTRUKSI

Memiliki TIDAK Memiliki Memiliki TIDAK Memiliki


Kualifikasi Usaha Kualifikasi Usaha Kualifikasi Usaha Kualifikasi Usaha

SELAIN
KECIL
KECIL

2% 3% 4% 4% 6%

Jumlah Pembayaran/Jumlah Penerimaan Pembayaran (yang merupakan bagian dari Nilai


Kontrak Jasa Konstruksi), tidak termasuk PPN

 Dalam hal Penyedia Jasa adalah bentuk usaha tetap, tarif Pajak Penghasilan tidak
termasuk Pajak Penghasilan atas sisa laba bentuk usaha tetap setelah Pajak
Penghasilan yang bersifat final.
 Sisa laba dari bentuk usaha tetap setelah Pajak Penghasilan yang bersifat final,
dikenakan pajak sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26
ayat (4) UU PPh (branch profit tax) atau sesuai dengan ketentuan dalam P3B.
 Pajak Penghasilan yang bersifat final:
a. Dipotong oleh Pengguna Jasa pada saat pembayaran, dalam hal Pengguna Jasa
merupakan pemotong pajak33; atau

33
Yang dimaksud dengan "pemotong pajak" adalah badan Pemerintah, Subjek Pajak badan dalam negeri,
bentuk usaha tetap, atau orang pribadi yang ditunjuk oleh Direktur Jenderal Pajak sebagai pemotong Pajak
Penghasilan.

145 | P a g e
b. Disetor sendiri oleh Penyedia Jasa, dalam hal pengguna jasa bukan merupakan
pemotong pajak34.
 Besarnya Pajak Penghasilan yang dipotong atau disetor sendiri adalah:
a. Jumlah pembayaran, tidak termasuk PPN, dikalikan tarif Pajak Penghasilan; atau
b. Jumlah penerimaan pembayaran, tidak termasuk PPN, dikalikan tarif Pajak
Penghasilan dalam hal Pajak Penghasilan disetor sendiri oleh Penyedia Jasa.
 Dalam hal terdapat selisih kekurangan Pajak Penghasilan yang terutang
berdasarkan Nilai Kontrak Jasa Konstruksi dengan Pajak Penghasilan berdasarkan
pembayaran yang telah dipotong atau disetor sendiri, selisih kekurangan tersebut
disetor sendiri oleh Penyedia Jasa.
 Dalam hal Nilai Kontrak Jasa Konstruksi tidak dibayar sepenuhnya oleh Pengguna
Jasa, atas Nilai Kontrak Jasa Konstruksi yang tidak dibayar tersebut tidak terutang
Pajak Penghasilan yang bersifat final, dengan syarat Nilai Kontrak Jasa Konstruksi
yang tidak dibayar tersebut dicatat sebagai piutang yang tidak dapat ditagih.
 Piutang yang tidak dapat ditagih merupakan piutang yang nyata-nyata tidak dapat
ditagih sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf h UU PPh.
 Dalam hal piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih dapat ditagih kembali, tetap
dikenakan Pajak Penghasilan yang bersifat final.
 Pajak yang dibayar atau terutang di luar negeri atas penghasilan dari luar negeri
yang diterima atau diperoleh Penyedia Jasa dapat dikreditkan terhadap pajak yang
terutang berdasarkan ketentuan Undang-Undang PPh.
 Penghasilan lain yang diterima atau diperoleh Penyedia Jasa dari luar usaha Jasa
Konstruksi dikenakan tarif berdasarkan ketentuan umum Undang-Undang PPh.
 Keuntungan atau kerugian selisih kurs dari kegiatan usaha Jasa Konstruksi termasuk
dalam perhitungan Nilai Kontrak Jasa konstruksi yang dikenakan Pajak Penghasilan
yang bersifat final.
 Penyedia Jasa wajib melakukan pencatatan yang terpisah atas biaya yang timbul
dari penghasilan yang diterima atau diperoleh dari kegiatan usaha selain usaha Jasa
Konstruksi.
M. Penilaian Kembali (Revaluasi) Aktiva Tetap
Pasal 19 Undang-undang Pajak Penghasilan mengatur bahwa Menteri Keuangan
berwenang menetapkan peraturan tentang penilaian kembali aktiva dan faktor
penyesuaian apabila terjadi ketidaksesuaian antara unsur-unsur biaya dengan
penghasilan karena perkembangan harga.

34
Yang dimaksud dengan "bukan merupakan pemotong pajak" antara lain badan internasional yang bukan
Subjek Pajak dan perwakilan negara asing.

146 | P a g e
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 79/PMK.03/2008, mengatur antara lain:
 Perusahaan dapat melakukan penilaian kembali aktiva tetap perusahaan untuk
tujuan perpajakan, dengan syarat telah memenuhi semua kewajiban pajaknya
sampai dengan masa pajak terakhir sebelum masa pajak dilakukannya penilaian
kembali.
 Perusahaan adalah Wajib Pajak badan dalam negeri dan bentuk usaha tetap (BUT),
tidak termasuk perusahaan yang memperoleh izin menyelenggarakan pembukuan
dalam bahasa Inggris dan mata uang Dollar Amerika Serikat.
 Untuk melakukan penilaian kembali aktiva tetap perusahaan, perusahaan
mengajukan permohonan kepada Direktur Jenderal Pajak.
 Direktur Jenderal Pajak diberi wewenang untuk menerbitkan surat keputusan
penilaian kembali aktiva tetap perusahaan atas permohonan yang diajukan oleh
perusahaan.
 Penilaian kembali aktiva tetap perusahaan dilakukan terhadap:
a. Seluruh aktiva tetap berwujud, termasuk tanah yang berstatus hak milik atau hak
guna bangunan; atau
b. Seluruh aktiva tetap berwujud tidak termasuk tanah, yang terletak atau berada di
Indonesia, dimiliki, dan dipergunakan untuk mendapatkan, menagih, dan
memelihara penghasilan yang merupakan Objek Pajak.
 Penilaian kembali aktiva tetap perusahaan tidak dapat dilakukan kembali sebelum
lewat jangka waktu 5 tahun terhitung sejak penilaian kembali aktiva tetap
perusahaan terakhir yang dilakukan.
 Penilaian kembali aktiva tetap perusahaan harus dilakukan berdasarkan nilai pasar
atau nilai wajar aktiva tetap tersebut yang berlaku pada saat penilaian kembali aktiva
tetap yang ditetapkan oleh perusahaan jasa penilai atau ahli penilai, yang
memperoleh izin dari Pemerintah.
 Dalam hal nilai pasar atau nilai wajar yang ditetapkan oleh perusahaan jasa penilai
atau ahli penilai ternyata tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya, Direktur
Jenderal Pajak menetapkan kembali nilai pasar atau nilai wajar aktiva yang
bersangkutan.
 Penilaian kembali aktiva tetap perusahaan dilakukan dalam jangka waktu paling
lama 1 tahun sejak tanggal laporan perusahaan jasa penilai atau ahli penilai.
 Atas selisih lebih penilaian kembali aktiva tetap perusahaan di atas nilai sisa buku
fiskal semula dikenakan Pajak Penghasilan yang bersifat final sebesar 10%.
 Perusahaan yang karena kondisi keuangannya tidak memungkinkan untuk melunasi
sekaligus Pajak Penghasilan yang terutang, dapat mengajukan permohonan

147 | P a g e
pembayaran secara angsuran paling lama 12 bulan sesuai ketentuan Pasal 9 ayat
(4) UU KUP.
 Sejak bulan dilakukannya penilaian kembali aktiva tetap perusahaan berlaku
ketentuan sebagai berikut:
a. Dasar penyusutan fiskal aktiva tetap yang telah memperoleh persetujuan
penilaian kembali adalah nilai pada saat penilaian kembali.
b. Masa manfaat fiskal aktiva tetap yang telah dilakukan penilaian kembali aktiva
tetap perusahaan disesuaikan kembali menjadi masa manfaat penuh untuk
kelompok aktiva tetap tersebut.
c. Perhitungan penyusutan dimulai sejak bulan dilakukannya penilaian kembali
aktiva tetap perusahaan.
 Untuk bagian tahun pajak sampai dengan bulan sebelum bulan dilakukannya
penilaian kembali aktiva tetap perusahaan berlaku ketentuan sebagai berikut:
a. Dasar penyusutan fiskal aktiva tetap adalah dasar penyusutan fiskal pada awal
tahun pajak yang bersangkutan.
b. Sisa masa manfaat fiskal aktiva tetap adalah sisa manfaat fiskal pada awal tahun
pajak yang bersangkutan.
c. Perhitungan penyusutannya dihitung secara prorata sesuai dengan banyaknya
bulan dalam bagian tahun pajak tersebut.
 Penyusutan fiskal aktiva tetap yang tidak memperoleh persetujuan penilaian kembali
aktiva tetap perusahaan, tetap menggunakan dasar penyusutan fiskal dan sisa
manfaat fiskal semula sebelum dilakukannya penilaian kembali aktiva tetap
perusahaan.
 Dalam hal Perusahaan melakukan pengalihan aktiva tetap berupa:
a. Aktiva tetap kelompok 1 dan kelompok 2 yang telah memperoleh persetujuan
penilaian kembali sebelum berakhirnya masa manfaat yang baru; atau
b. Aktiva tetap kelompok 3, kelompok 4, bangunan, dan tanah yang telah
memperoleh persetujuan penilaian kembali sebelum lewat jangka waktu 10
tahun,
maka atas selisih lebih penilaian kembali diatas nilai sisa buku fiskal semula,
dikenakan tambahan Pajak Penghasilan yang bersifat final dengan tarif sebesar tarif
tertinggi Pajak Penghasilan Wajib Pajak badan dalam negeri yang berlaku pada saat
penilaian kembali dikurangi 10%.
 Ketentuan tersebut tidak berlaku bagi:
a. Pengalihan aktiva tetap perusahaan yang bersifat force majeur berdasarkan
keputusan atau kebijakan Pemerintah atau keputusan Pengadilan;

148 | P a g e
b. Pengalihan aktiva tetap perusahaan dalam rangka penggabungan, peleburan,
atau pemekaran usaha yang mendapat persetujuan; atau
c. Penarikan aktiva tetap perusahaan dari penggunaan karena mengalami
kerusakan berat yang tidak dapat diperbaiki lagi.
 Selisih antara nilai pengalihan aktiva tetap perusahaan dengan nilai sisa buku fiskal
pada saat pengalihan merupakan keuntungan atau kerugian berdasarkan ketentuan
UU PPh.
 Selisih lebih penilaian kembali aktiva tetap perusahaan di atas nilai sisa buku
komersial semula setelah dikurangi dengan Pajak Penghasilan harus dibukukan
dalam neraca komersial pada perkiraan modal dengan nama "Selisih Lebih Penilaian
Kembali Aktiva Tetap Perusahaan Tanggal ........................".
 Pemberian saham bonus atau pencatatan tambahan nilai nominal saham tanpa
penyetoran yang berasal dari kapitalisasi selisih lebih penilaian kembali aktiva tetap
perusahaan, sampai dengan sebesar selisih lebih penilaian kembali secara fiskal,
bukan merupakan Objek Pajak Penghasilan.
 Dalam hal selisih lebih penilaian kembali secara fiskal lebih besar daripada selisih
lebih penilaian kembali secara komersial, pemberian saham bonus atau pencatatan
tambahan nilai nominal saham tanpa penyetoran yang bukan merupakan Objek
Pajak, hanya sampai dengan sebesar selisih penilaian kembali secara komersial.
N. Transaksi Derivatif Berupa Kontrak Berjangka yang Diperdagangkan di Bursa
Berdasarkan Putusan Mahkamah Agung RI Register Perkara Nomor 22P/HUM/2009
terkait dengan permohonan hak uji materiil terhadap PP Nomor 17 Tahun 2009 tentang
Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Transaksi Derivatif Berupa Kontrak Berjangka
yang Diperdagangkan di Bursa, dinyatakan bahwa Pasal 2, Pasal 3 ayat (1), ayat (2),
dan ayat (3), serta Pasal 5 PPNomor 17 Tahun 2009 bertentangan dengan peraturan
yang lebih tinggi in casu Pasal 4 ayat (1) dan ayat (2) huruf c Undang-Undang Nomor 36
Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983
tentang Pajak Penghasilan, oleh karena itu tidak sah dan tidak berlaku umum.
Berdasarkan hal tersebut diterbitkan PP Nomor 31 Tahun 2011 tentang Pencabutan
PP Nomor 17 Tahun 2009 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Transaksi
Derivatif Berupa Kontrak Berjangka yang Diperdagangkan di Bursa.
Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor: SE-82/PJ/2011 menyampaikan hal-hal
sebagai berikut:
1. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana
telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008
mengatur antara lain:

149 | P a g e
a. Pasal 4 ayat (1), yang menjadi objek pajak adalah penghasilan, yaitu setiap
tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik
yang berasal dari Indonesia maupun luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk
konsumsi atau untuk menambah kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan,
dengan nama dan dalam bentuk apapun.
b. Pasal 4 ayat (2) huruf c, atas penghasilan dari transaksi derivatif yang
diperdagangkan dibursa dapat dikenai pajak bersifat final yang diatur dengan
atau berdasarkan Peraturan Pemerintah.
2. Pasal 19 PP Nomor 94 Tahun 2010 tentang Penghitungan Penghasilan Kena Pajak
dan Pelunasan Pajak Penghasilan dalam Tahun Berjalan mengatur bahwa dalam hal
penghasilan tidak dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final dengan Peraturan
Pemerintah tersendiri, atas penghasilan tersebut dikenai Pajak Penghasilan
berdasarkan tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 UU PPh.
3. Materi pokok yang diatur dalam PP Nomor 31 Tahun 2011 tentang pencabutan PP
Nomor 17 Tahun 2009 adalah:
a. PP Nomor 17 Tahun 2009 dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
b. Terhadap Pajak Penghasilan yang bersifat final atas penghasilan dari transaksi
derivatif berupa kontrak berjangka yang diperdagangkan di bursa yang telah
dipungut berdasarkan PP Nomor 17 Tahun 2009 dikembalikan dengan
mekanisme pengembalian kelebihan pembayaran pajak yang seharusnya tidak
terutang.
4. Dengan memperhatikan ketentuan tentang pengembalian Pajak Penghasilan yang
bersifat final atas penghasilan dari transaksi derivatif berupa kontrak berjangka yang
diperdagangkan di bursa yang telah dipungut, maka atas penghasilan dari transaksi
derivatif berupa kontrak berjangka yang diperdagangkan di bursa yang diterima
dan/atau diperoleh WP sejak 1 Januari 2009 dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan
tarif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 UU PPh.
5. Dalam hal terhadap WP diberikan pengembalian atas Pajak Penghasilan yang
bersifat final atas penghasilan dari transaksi derivatif berupa kontrak berjangka yang
diperdagangkan di bursa maka penghasilan dari transaksi derivatif berupa kontrak
berjangka yang diperdagangkan di bursa tersebut wajib dilaporkan dalam SPT
Tahunan WP yang dikenai Pajak Penghasilan berdasarkan tarif sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 17 UU PPh.
6. Mekanisme pengembalian kelebihan pembayaran pajak yang seharusnya tidak
terutang adalah mengacu pada:

150 | P a g e
a. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 190/PMK.03/2007 tentang Tata Cara
Pengembalian Kelebihan Pembayaran Pajak yang Seharusnya Tidak Terutang;
dan
b. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-5/PJ/2011 tentang Tata Cara
Pengajuan dan Penelitian Permohonan Pengembalian Kelebihan Pembayaran
Pajak Penghasilan yang Seharusnya Tidak Terutang bagi Wajib Pajak Dalam
Negeri.
O. Penyetoran dan Pelaporan Pemotongan PPh Pasal 4 ayat (2)

Penyetoran dan Pelaporan Pemotongan PPh Pasal 4 ayat (2)

PPh Pasal 4 ayat (2) Tanggal Jatuh Tempo Penyetoran Batas Akhir Pelaporan

Dipotong oleh Paling lama tanggal 10 bulan berikutnya


Pemotong Pajak Wajib menyampaikan
setelah Masa Pajak berakhir
SPT Masa paling lama 20
hari setelah Masa Pajak
Harus Dibayar Paling lama tanggal 15 bulan berikutnya berakhir
P. StudiSendiri
Kasus olehPPh
WP Pasal 4 ayat (2) Masa Pajak berakhir
setelah
Contoh

PPh Pasal 4(2)


Pada tanggal 10 Agustus 2011 Rahmat menjual rumahnya di kawasan Palo Alto
Residence Bogor kepada Nasri Samirudin. NJOP atas tanah dan bangunan tersebut
9
yang sesuai SPPT PBB Tahun 2011 adalah Rp1.500.000.000,00. Harga transaksi yang
Contoh
disepakati adalah Rp1.700.000.000,00. Rahmat dan Nasri sepakat untuk melakukan
penandatanganan Akta Jual Beli pada tanggal 15 Agustus 2011 di hadapan PPAT Dhea
Tunggadewi, S.H., M.Kn.
Bagaimana kewajiban PPh atas transaksi penjualan tanah tersebut tersebut?
Atas penghasilan yang diterima oleh Rahmat dari pengalihan hak atas tanah dan/atau
bangunan wajib dibayar PPh Pasal 4 ayat (2) yang bersifat final sebesar:
PPh Pasal 4 ayat (2) = 5% x Rp1.700.000.000,00 = Rp85.000.000,00
Kewajiban Rahmat atas transaksi tersebut adalah:
a. Melakukan penyetoran PPh Pasal 4 ayat (2) dengan menggunakan SSP sebesar
Rp85.000.000,00 paling lambat tanggal 15 Agustus 2011 sebelum ditandatanganinya
Akta Jual Beli.
b. Mengajukan formulir penelitian SSP ke KPP yang wilayah kerjanya meliputi letak
tanah dan/atau bangunan yang dialihkan haknya.
c. Melaporkan penyetoran PPh Pasal 4 ayat (2) atas transaksi tersebut dalam SPT
Masa PPh Pasal 4 ayat (2) Masa Pajak Agustus 2011 paling lambat tanggal 20
September 2011.

151 | P a g e
Sebelum menandatangani Akta Jual Beli, Dhea Tunggadewi, S.H., M.Kn. selaku PPAT
wajib memastikan kewajiban PPh atas penghasilan dari pengalihan hak atas tanah
dan/atau bangunan oleh Rahmat dengan bukti SSP.
Contoh

PPh Pasal 4(2)


Dalam rangka proyek pembangunan bendungan baru, Dinas Pengairan dan Lingkungan
Hidup Pemda Gunung Kidul akan melakukan pembebasan tanah. Tanah milik Noorman
10
seluas 575 m2 merupakan salah satu tanah yang terkena pembebasan tersebut. Nilai
Contoh
ganti rugi per meter ditetapkan sebesar Rp700.000,00.
Bagaimana perlakuan PPh atas pembebasan tanah tersebut?
Penghasilan yang diterima oleh Noorman dari pembayaran ganti rugi tanah tersebut
dikecualikan dari pembayaran atau pemungutan PPh atas penghasilan dari pengalihan
hak atas tanah dan/atau bangunan. Pengecualian dari dari kewajiban pembayaran atau
pemungutan PPh atas penghasilan dari pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan
tersebut diberikan secara langsung tanpa Surat Keterangan Bebas.
Contoh

PPh Pasal 4(2)


Bambang Reksodipuro meninggal dunia pada tanggal 16 Juli 2011 dengan
meninggalkan seorang istri, Wenyi Rahayu dan 2 orang anak yaitu Haryo Reksodipuro
11
dan Bimo Reksodipuro. Warisan yang ditinggalkan oleh Bambang Reksodipuro antara
Contoh
lain berupa 3 unit rumah di Jakarta, Bogor, dan Tangerang dengan nilai masing-masing
sebesar Rp600.000.000,00, Rp500.000.000,00, dan Rp300.000.000,00.
Pembagian harta warisan berdasarkan Surat Keterangan Waris adalah sebagai berikut:
 Rumah di Jakarta diberikan kepada Wenyi Rahayu.
 Rumah di Bogor diberikan kepada Haryo Reksodipuro.
 Rumah di Tangerang diberikan kepada Bimo Reksodipuro.
Para ahli waris sepakat atas harta warisan berupa rumah tersebut akan diberikan
kepada Bimo Reksodipuro. Akta Hibah ditandatangani pada tanggal 10 Oktober 2011
dihadapan PPAT Siti Sinten Bumi, S.H., M.Kn.
Bagaimana kewajiban PPh atas serangkaian peristiwa pengalihan hak atas tanah
dan/atau bangunan tersebut?
Penghasilan dari pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan karena warisan
dikecualikan dari kewajiban pembayaran PPh. Mekanisme pengecualiannya diberikan
melalui penerbitan Surat Keterangan Bebas.
Setelah proses pewarisan selesai dan para ahli waris telah menerima haknya masing-
masing, pada saat rumah yang diterima oleh Wenyi Rahayu dan Haryo Reksodipuro
diberikan kepada Bimo Reksodipuro, maka:

152 | P a g e
 Pengalihan hak atas rumah di Jakarta dari Wenyi Rahayu kepada Bimo Reksodipuro
merupakan hibah yang diberikan kepada keluarga sedarah dalam garis keturunan
lurus satu derajat yang dikecualikan dari kewajiban pembayaran PPh atas
penghasilan dari pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan, yang mekanisme
pengecualiannya diberikan melalui penerbitan Surat Keterangan Bebas.
Wenyi Rahayu sebagai pihak yang mengalihkan tanah dan/atau bangunan harus
mengajukan permohonan Surat Keterangan Bebas ke KPP tempatnya terdaftar
dengan dilampiri Surat Pernyataan Hibah.
 Pengalihan hak atas rumah di Bogor dari Haryo Reksodipuro kepada Bimo
Reksodipuro merupakan hibah yang tidak dikecualikan dari kewajiban pembayaran
PPh atas penghasilan dari pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan, sehingga
Haryo Reksodipuro sebagai pihak yang mengalihkan wajib membayar PPh sebesar:
PPh Pasal 4 ayat (2) = 5% x Rp500.000.000,00 = Rp25.000.000,00
Kewajiban Haryo Reksodipuro atas pengalihan hak atas rumah di Bogor kepada Bimo
Reksodipuro adalah:
a. Melakukan penyetoran PPh Pasal 4 ayat (2) dengan menggunakan SSP sebesar
Rp25.000.000,00 paling lambat tanggal 10 Oktober 2011 sebelum ditandatanganinya
Akta Hibah.
b. Mengajukan formulir penelitian SSP ke KPP yang wilayah kerjanya meliputi letak
tanah dan/atau bangunan yang dialihkan haknya.
c. Melaporkan penyetoran PPh Pasal 4 ayat (2) atas transaksi tersebut dalam SPT
Masa PPh Pasal 4 ayat (2) Masa Pajak Oktober 2011 paling lambat tanggal 21
November 2011.
Sebelum menandatangani Akta Hibah, Siti Sinten Bumi, S.H., M.Kn. selaku PPAT wajib
memastikan terpenuhinya kewajiban PPh atas penghasilan dari pengalihan hak atas
tanah dan/atau bangunan tersebut dengan bukti:
a. SKB atas nama Wenyi Rahayu, untuk Akta Hibah dari Wenyi Rahayu kepada Bimo
Reksodipuro.
b. SSP sebesar Rp25.000.000,00 atas nama Haryo Reksodipuro, untuk Akta Hibah dari
Haryo Reksodipuro kepada Bimo Reksodipuro.
Contoh

PPh Pasal 4(2) PT Bangun Ruko Selalu menyewakan 1 unit ruko kepada Donna Natasha, pemilik salon
kecantikan “Bonndhing”. Harga sewa yang disepakati adalah Rp20.000.000,00 per
12
tahun. Donna Natasha menyewa ruko tersebut untuk jangka waktu 1 tahun mulai tanggal
Contoh
1 September 2011 s.d. 31 Agustus 2012. Pembayaran dilakukan tanggal 26 Agustus

153 | P a g e
2011. Donna Natasha tidak termasuk orang pribadi yang ditunjuk sebagai pemotong
PPh atas penghasilan dari persewaan tanah dan/atau bangunan.
Bagaimanakah pengenaan PPh atas transaksi tersebut?
Mengingat Donna Natasha tidak termasuk sebagai orang pribadi yang ditunjuk sebagai
pemotong pajak, maka PPh atas penghasilan yang diterima dari persewaan ruko
tersebut wajib dibayar sendiri oleh PT Bangun Ruko Selalu.
PPh yang wajib dibayar sendiri adalah:
PPh Pasal 4 ayat (2) = 10% x Rp20.000.000,00 = Rp2.000.000,00
Kewajiban PT Bangun Ruko Selalu adalah:
a. Melakukan penyetoran PPh Pasal 4 ayat (2) sebesar Rp2.000.000,00 paling lambat
tanggal 15 September 2011;
b. Melaporkan penyetoran PPh Pasal 4 ayat (2) atas transaksi tersebut dalam SPT
Masa PPh Pasal 4 ayat (2) Masa Pajak Agustus 2011 paling lambat tanggal 20
September 2011.
Contoh

PPh Pasal 4(2)


Wahyu adalah seorang dokter spesialis anak yang telah ditunjuk oleh Kepala KPP
sebagai pemotong PPh atas penghasilan dari persewaan tanah dan/atau bangunan.
13
Wahyu menyewa rumah toko dari Nanang untuk membuka apotik dengan biaya sewa
Contoh
sebesar Rp60.000.000,00 untuk jangka waktu 1 tahun. Pembayaran sewa dilakukan
pada tanggal 4 Januari 2011.
Bagaimana kewajiban pemotongan atau pemungutan PPh atas transaksi tersebut?
Dokter berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-50/PJ./1996
merupakan salah satu profesi orang pribadi yang ditunjuk sebagai pemotong PPh atas
penghasilan dari persewaan tanah dan/atau bangunan, sehingga Wahyu wajib
melakukan pemotongan PPh atas pembayaran sewa rumah toko tersebut.
PPh yang wajib dipotong oleh Wahyu adalah:
PPh Pasal 4 ayat (2) = 10% x Rp60.000.000,00 = Rp6.000.000,00
Kewajiban Wahyu sebagai pemotong PPh Pasal 4 ayat (2) adalah:
a. Melakukan pemotongan PPh Pasal 4 ayat (2) sebesar Rp6.000.000,00 dan
memberikan bukti pemotongan PPh Pasal 4 ayat (2) kepada Nanang.
b. Melakukan penyetoran atas PPh Pasal 4 ayat (2) tersebut paling lambat tanggal 10
Februari 2011.
c. Melaporkan pemotongan PPh Pasal 4 ayat (2) atas transaksi tersebut dalam SPT
Masa PPh Pasal 4 ayat (2) Masa Pajak Januari 2011 paling lambat tanggal 21
Februari 2011.

154 | P a g e
Contoh

PPh Pasal 4(2)


Rastri Sumantro memiliki tanah yang terletak di sebelah Universitas Maju Pemuda
Bangsa dengan luas 500 m2. Di atas tanah tersebut telah didirikan bangunan berupa
14
rumah kost 3 lantai yang terdiri dari 20 kamar. Pembayaran sewa kamar kost oleh para
Contoh
penghuni dilakukan paling lambat tanggal 5 setiap bulan.
Pada bulan Mei 2011 Rastri Sumantro menerima penghasilan dari sewa kamar kost
sebesar Rp18.000.000,00. Para penghuni kost tersebut adalah mahasiswi Universitas
Maju Pemuda Bangsa yang tidak ditunjuk oleh KPP sebagai pemotong PPh atas
penghasilan dari persewaan tanah dan/atau bangunan.
Bagaimana pengenaan PPh atas penghasilan yang diterima oleh Rastri Sumantro dari
persewaan kamar kost?
Penghasilan yang diterima oleh Rastri Sumantro dari persewaan kamar kost dikenai PPh
atas penghasilan dari persewaan tanah dan/atau bangunan dengan tarif sebesar 10%
dari jumlah bruto pembayaran.
Penyewa kamar kost adalah orang pribadi yang tidak termasuk sebagai orang pribadi
yang ditunjuk sebagai pemotong PPh, sehingga Rastri Sumantro wajib menyetorkan
sendiri PPh atas penghasilan dari persewaan tanah dan/atau bangunan tersebut dengan
menggunakan SSP.
PPh yang wajib dibayar sendiri adalah:
PPh Pasal 4 ayat (2) = 10% x Rp 18.000.000,00 = Rp 1.800.000,00
Kewajiban Rastri Sumantro adalah:
a. Melakukan penyetoran PPh Pasal 4 ayat (2) sebesar Rp1.800.000,00 paling lambat
tanggal 10 Juni 2011.
b. Melaporkan penyetoran PPh Pasal 4 ayat (2) atas transaksi tersebut dalam SPT
Masa PPh Pasal 4 ayat (2) Masa Pajak Mei 2011 paling lambat tanggal 20 Juni
2011.
Contoh

PPh Pasal 4(2)


Koperasi “Argo Makmur” membagikan bunga simpanan koperasi kepada anggotanya
setiap bukan yang dibayarkan setiap tanggal 25. Anggota koperasi yang menerima
15
bunga simpanan antara lain Yayuk Nuraeni dan Koperasi “Sumber Rezeki” (bukan
Contoh
merupakan koperasi simpan pinjam) sebagai berikut:
Bunga Simpanan Koperasi
Bulan
Yayuk Nuraeni Koperasi “Sumber Rejeki”
2011 Januari Rp350.000,00 Rp1.000.000,00
Februari Rp200.000,00 Rp 600.000,00

155 | P a g e
Maret Rp500.000,00 Rp1.300.000,00
April Rp240.000,00 Rp 650.000,00
Mei Rp250.000,00 Rp 700.000,00
Juni Rp300.000,00 Rp 850.000,00
Bagaimana kewajiban pemotongan atau pemungutan PPh atas bunga simpanan
koperasi tersebut?
Atas penghasilan berupa bunga simpanan koperasi yang diterima oleh Yayuk Nuraeni
wajib dipotong PPh yang bersifat final oleh koperasi “Argo Makmur”.
Sedangkan atas penghasilan berupa bunga simpanan koperasi yang diterima oleh
Koperasi “Sumber Rezeki” tidak termasuk yang dikenai PPh yang bersifat final. Namun
atas penghasilan bunga simpanan koperasi termasuk dalam pengertian bunga yang
wajib dipotong PPh Pasal 23 oleh koperasi “Argo Makmur”.
PPh atas Bunga Simpanan Koperasi
Bulan
Yayuk Nuraeni Koperasi “Sumber Rejeki”
PPh Final Pasal 4 ayat (2) PPh Pasal 23
2011 Jan 10% x Rp350.000,00 = Rp35.000,00 15% x Rp1.000.000,00 = Rp150.000,00

Feb 0% x Rp200.000,00 = Rp 0,00 15% x Rp 600.000,00 = Rp 90.000,00

Mar 10% x Rp500.000,00 = Rp50.000,00 15% x Rp1.300.000,00 = Rp195.000,00

Apr 0% x Rp240.000,00 = Rp 0,00 15% x Rp 650.000,00 = Rp 97.500,00

Mei 10% x Rp250.000,00 = Rp25.000,00 15% x Rp 700.000,00 = Rp105.000,00

Jun 10% x Rp300.000,00 = Rp30.000,00 15% x Rp 850.000,00 = Rp127.500,00

Contoh
PT Ubi Goreng merupakan perusahaan yang belum go public, pada tanggal 20 Oktober
PPh Pasal 4(2)
2011 telah diadakan RUPS yang memutuskan antara lain bahwa perusahaan akan
16
membagikan dividen kepada para pemegang saham. Dwi Kurniawati adalah salah satu
Contoh
pemegang saham PT Ubi Goreng. Dalam pembagian dividen tersebut Dwi Kurniawati
akan memperoleh dividen sebesar Rp30.000.000,00.
Bagaimana kewajiban pemotongan atau pemungutan PPh atas pembagian dividen
tersebut?
Atas penghasilan berupa dividen yang diterima atau diperoleh WP orang pribadi dalam
negeri dipotong PPh Pasal 4 ayat (2) yang bersifat final sebesar 10% dari jumlah bruto
oleh pihak yang membayarkan.
Besarnya PPh yang wajib dipotong adalah:
PPh Pasal 4 ayat (2) = 10% x Rp30.000.000,00 = Rp3.000.000,00
Kewajiban PT Ubi Goreng sebagai pemotong PPh Pasal 4 ayat (2) adalah:

156 | P a g e
a. Melakukan pemotongan PPh pasal 4 ayat (2) sebesar Rp3.000.000,00 dan
memberikan bukti pemotongan PPh Pasal 4 ayat (2) kepada Dwi Kurniawati.
b. Melakukan penyetoran PPh Pasal 4 ayat (2) tersebut paling lambat tanggal 10
November 2011;
c. Melaporkan pemotongan PPh Pasal 4 ayat (2) tersebut dalam SPT Masa PPh Pasal
4 ayat (2) Masa Pajak Oktober 2011 paling lambat tanggal 21 November 2011.
Contoh

PPh Pasal 4(2)


Alice Kein memiliki tabungan di PT Bank Moneytalk Indonesia Cabang Jakarta dengan
saldo rata-rata bulan September 2011 adalah Rp450.000.000,00. Bunga yang diberikan
17
oleh PT Bank Moneytalk Indonesia Cabang Jakarta adalah 9% per tahun. Pembayaran
Contoh
bunga dilakukan pada jatuh tempo yaitu tanggal 30 September 2011. Bunga yang
diterima oleh Alice Kein pada bulan September 2011 adalah sebesar Rp3.375.000,00.
Bagaimana kewajiban pemotongan atau pemungutan PPh terkait transaksi tersebut?
Bunga tabungan yang diterima oleh Alice Kein termasuk penghasilan yang dipotong PPh
Pasal 4 ayat (2) oleh PT Bank Moneytalk Indonesia Cabang Jakarta sebagai pihak yang
membayarkan penghasilan.
Besarnya pemotongan PPh Pasal 4 ayat (2) adalah:
PPh Pasal 4 ayat (2) = 20% x Rp3.375.000,00 = Rp675.000,00
Kewajiban PT Bank Moneytalk Indonesia Cabang Jakarta sebagai pemotong PPh Pasal
4 ayat (2) adalah:
a. Melakukan pemotongan PPh Pasal 4 ayat (2) sebesar Rp675.000,00 dan
memberikan bukti pemotongan PPh Pasal 4 ayat (2) kepada Alice Kein.
b. Melakukan penyetoran atas PPh Pasal 4 ayat (2) tersebut paling lambat 10 Oktober
2011.
c. Melaporkan pemotongan PPh Pasal 4 ayat (2) atas transaksi tersebut dalam SPT
Masa PPh Pasal 4 ayat (2) Masa Pajak September 2011 paling lambat tanggal 20
Oktober 2011.
Contoh

PPh Pasal 4(2)


PT Bank Berlian Tbk. menyeleggarakan program tabungan berhadiah “Berlian
Menjemput Impian”. Program hadiah tersebut diikuti oleh nasabah produk tabungan
18
“Berlian Investa”. Hadiah diberikan kepada nasabah yang terpilih melalui undian. Hadiah
Contoh
yang disediakan berupa hadiah tabungan Rp200.000.000,00 dengan ketentuan pajak
atas hadiah undian ditanggung oleh pemenang.
Penarikan undian “Berlian Menjemput Impian” dilakukan pada tanggal 12 Juli 2011
dengan pemenang adalah Tere Andraini. Hadiah dibayarkan pada tanggal 15 Juli 2011.
Bagaimana kewajiban pemotongan atau pemungutan PPh atas hadiah undian tersebut?

157 | P a g e
Atas penghasilan berupa hadiah undian dengan nama dan dalam bentuk apapun
dipotong atau dipungut PPh Pasal 4 ayat (2) yang bersifat final.
PT Bank Berlian, Tbk. wajib memotong PPh Pasal 4 ayat (2) atas penghasilan berupa
hadiah undian yang diterima oleh Tere Andraini sebesar:
PPh Pasal 4 ayat (2) = 25% x Rp200.000.000,00 = Rp50.000.000,00
Kewajiban PT Bank Berlian, Tbk. sebagai pemotong PPh Pasal 4 ayat (2) adalah:
a. Melakukan pemotongan PPh Pasal 4 ayat (2) sebesar Rp50.000.000,00 dan
memberikan bukti pemotongan PPh Pasal 4 ayat (2) kepada Tere Andraini.
b. Melakukan penyetoran atas PPh Pasal 4 ayat (2) tersebut paling lambat tanggal 10
Agustus 2011;
c. Melaporkan pemotongan PPh Pasal 4 ayat (2) atas transaksi tersebut dalam SPT
Masa PPh Pasal 4 ayat (2) Masa Pajak Juli 2011 paling lambat tanggal 22 Agustus
2011.
Contoh

PPh Pasal 4(2)


PT Signale Strong, sebuah perusahaan operator seluler, mengadakan program undian
“Telepon Terus Untung Terus” dengan hadiah sebuah rumah senilai Rp500.000.000,00
19
dengan ketentuan pajak atas hadiah undian ditanggung oleh pemenang. Berdasarkan
Contoh
hasil penarikan undian tanggal 16 Januari 2011 yang keluar sebagai pemenang adalah
Iwan Suriwan. Serah terima hadiah kepada Iwan dilaksanakan pada tanggal 24 Januari
2011.
Bagaimana kewajiban pemotongan atau pemungutan PPh atas hadiah undian berupa
rumah tersebut?
PT Signale Strong wajib memungut PPh Pasal 4 ayat (2) atas penghasilan berupa
hadiah undian yang diterima oleh Iwan Suriwan dengan tarif 25% dari jumlah bruto
hadiah undian yaitu sebesar nilai pasar hadiah undian berupa rumah.
PPh Pasal 4 ayat (2) = 25% x Rp500.000.000,00 = Rp125.000.000,00
Kewajiban PT Signale Strong sebagai pemungut PPh Pasal 4 ayat (2) adalah:
a. Melakukan pemungutan PPh Pasal 4 ayat (2) sebesar Rp125.000.000,00 dan
memberikan bukti pemungutan PPh Pasal 4 ayat (2) kepada Iwan Suriwan.
b. Melakukan penyetoran atas PPh Pasal 4 ayat (2) tersebut paling lambat 10 Februari
2011.
c. Melaporkan pemungutan PPh Pasal 4 ayat (2) atas transaksi tersebut dalam SPT
Masa PPh Pasal 4 ayat (2) Masa Pajak Januari 2011 paling lambat tanggal 21
Februari 2011.
Contoh

158 | P a g e
PPh Pasal 4(2)
Pada tanggal 1 Juli 2011, PT Mekar Sejahtera menerbitkan obligasi dengan kupon
(interest bearing bond) sebagai berikut:
20
 Nilai nominal Rp10.000.000,00 per lembar.
Contoh
 Jangka waktu obligasi 5 tahun (jatuh tempo tanggal 30 Juni 2016).
 Bunga tetap (fixed rate) sebesar 18% per tahun, jatuh tempo bunga setiap tanggal
30 Juni dan 31 Desember.
 Penerbitan perdana tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).
PT Bank Koes & Dian merupakan kustodian yang ditunjuk sebagai agen pembayaran.
PT Batavia Sentosa pada saat penerbitan perdana membeli 20 lembar obligasi tersebut
dengan harga di bawah nilai nominal (at discount) yaitu sebesar Rp9.000.000,00 per
lembar.
Bagaimana kewajiban pemotongan atau pemungutan PPh pada saat jatuh tempo bunga
tanggal 31 Desember 2011?
Penghitungan bunga yang diterima PT Batavia Sentosa pada saat jatuh tempo bunga
tanggal 31 Desember 2011 adalah:
Bunga Obligasi = (6/12 x 18% x Rp10.000.000,00) x 20 lembar = Rp18.000.000,00
PPh yang wajib dipotong adalah:
PPh Pasal 4 ayat (2) = 15% x Rp18.000.000,00 = Rp2.700.000,00
PT Bank Koes & Dian yang ditunjuk sebagai agen pembayaran wajib memotong PPh
atas bunga obligasi yang diterima oleh PT Batavia Sentosa.
Kewajiban PT Bank Koes & Dian sebagai pemotong PPh Pasal 4 ayat (2) adalah:
a. Melakukan pemotongan PPh Pasal 4 ayat (2) sebesar Rp2.700.000,00 dan
memberikan bukti pemotongan PPh Pasal 4 ayat (2) kepada PT Batavia Sentosa.
b. Melakukan penyetoran atas PPh Pasal 4 ayat (2) tersebut paling lambat tanggal 10
Januari 2012;
c. Melaporkan pemotongan PPh Pasal 4 ayat (2) atas transaksi tersebut dalam SPT
Masa PPh Pasal 4 ayat (2) Masa Pajak Desember 2011 paling lambat tanggal 20
Januari 2012.
Contoh

PPh Pasal 4(2)


Pada tanggal 1 April 2011, PT Botth Indonesia menerbitkan obligasi dengan kupon
(interest bearing debt securities) sebagai berikut:
22
 Nilai nominal Rp25.000.000,00 per lembar.
Contoh
 Jangka waktu obligasi 3 tahun (jatuh tempo tanggal 31 Maret 2014).
 Bunga tetap (fixed rate) sebesar 15% per tahun, jatuh tempo bunga setiap tanggal
31 Maret dan 31 Oktober.

159 | P a g e
 Penerbitan perdana tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).
PT Bank Candra merupakan kustodian yang ditunjuk sebagai agen pembayaran.
Reksadana “Tumbuh Kembang” yang berbentuk KIK (Kontrak Investasi Kolektif) yang
dikelola oleh PT Andalas Sekuritas sebagai Manajer Investasi, pada saat penerbitan
perdana membeli 10 lembar obligasi dengan harga di bawah nilai nominal (at discount)
yaitu sebesar Rp23.500.000,00 per lembar. Reksadana “Tumbuh Kembang” telah
mendapat pernyataan efektif dari BAPEPAM-LK.
Bagaimana kewajiban pemotongan atau pemungutan PPh pada saat jatuh tempo bunga
tanggal 31 Oktober 2011?
Penghitungan bunga yang diterima Reksa Dana Tumbuh Kembang pada saat jatuh
tempo bunga tanggal 31 Oktober 2011 adalah:
Bunga Obligasi = (6/12 x 15% x Rp25.000.000,00) x 10 lembar = Rp18.750.000,00
PPh yang wajib dipotong adalah:
PPh Pasal 4 ayat (2) = 5% x Rp18.750.000,00 = Rp937.500,00
Contoh

PPh Pasal 4(2)


PT Bumen Jaya Sentosa merupakan perusahaan yang mempunyai Sertifikat Badan
Usaha Jasa Pelaksanaan Konstruksi yang diterbitkan oleh Lembaga Pengembangan
23
Jasa Konstruksi (LPJK) sebagai Badan Usaha Jasa Pelaksanaan Konstruksi Bidang
Contoh
Sipil Sub Bidang Bangunan-bangunan non perumahan lainnya dengan kualifikasi besar
gred 6.
PT Bumen Jaya Sentosa pada tahun 2010 ditunjuk oleh CV Lukulo selaku pemilik
Rumah Sakit “Siti Khodijah” untuk membangun gedung baru yang akan digunakan
sebagai unit kesehatan ibu dan anak dengan nilai kontrak sebesar Rp25.000.000.000,00
(tidak termasuk PPN). PT Bumen Jaya Sentosa menerima uang muka kontrak pada saat
dimulai pembangunan yaitu pada tanggal 15 Juli 2010 sebesar Rp5.000.000.000,00.
Termin pembayaran akan dilakukan sesuai dengan tingkat penyelesaian, yaitu:
 Termin pertama Rp5.000.000.000,00 setelah pekerjaan selesai 25%.
 Termin kedua Rp5.000.000.000,00 setelah pekerjaan selesai 50%.
 Termin ketiga Rp5.000.000.000,00 setelah pekerjaan selesai 75%.
 Sisa Rp5.000.000.000,00 akan dibayarkan setelah pekerjaan dan masa
pemeliharaan selesai.
Pembangunan rumah sakit tersebut harus diselesaikan oleh PT Bumen Jaya Sentosa
paling lama tanggal 31 Desember 2012 dengan masa pemeliharaan selama 6 bulan.
Bagaimana kewajiban pemotongan atau pemungutan PPh yang dilakukan oleh CV
Lukulo terkait pembayaran:

160 | P a g e
 Uang muka kontrak.
 Termin pertama apabila pembayaran dilakukan pada tanggal 31 Desember 2010.
Atas penghasilan dari usaha jasa konstruksi dikenakan PPh yang bersifat final. Dalam
hal pengguna jasa merupakan pemotong pajak maka penghasilan dari usaha jasa
kontruksi tersebut dipotong oleh pemotong pada saat pembayaran bagian nilai kontrak
jasa konstruksi.
 Pembayaran uang muka kontrak.
Pemotongan PPh yang bersifat final atas penghasilan dari jasa kontruksi adalah:
PPh Pasal 4 ayat (2) = 3% x Rp5.000.000.000,00 = Rp150.000.000,00
Kewajiban CV Lukulo sebagai pengguna jasa adalah:
a. Melakukan pemotongan PPh yang bersifat final atas penghasilan dari usaha jasa
konstruksi sebesar Rp150.000.000,00 dan memberikan bukti pemotogan PPh
yang bersifat final atas penghasilan dari usaha jasa konstruksi kepada PT Bumen
Jaya Sentosa.
b. Melakukan penyetoran atas pemotongan PPh yang bersifat final atas
penghasilan dari usaha jasa kontruksi tersebut paling lambat tanggal 10 Agustus
2010.
c. Melaporkan pemotongan PPh yang bersifat final atas penghasilan dari usaha
jasa konstruksi tersebut dalam SPT Masa PPh Pasal 4 ayat (2) Masa Pajak Juli
2010 paling lambat tanggal 20 Agustus 2010.
 Pembayaran termin pertama
Pemotongan PPh yang bersifat final atas penghasilan dari jasa kontruksi adalah:
PPh Pasal 4 ayat (2) = 3% x Rp5.000.000.000,00 = Rp 150.000.000,00
Contoh

PPh Pasal 4(2)


Tuan Samidi Karsoutomo merupakan pengusaha yang bergerak dalam bidang
konstruksi. Tuan Samidi Karsoutomo memiliki sertifikasi yang diterbitkan oleh LPJK
24
sebagai pengusaha jasa pelaksanaan konstuksi gred 1. Tuan Samidi Karsoutomo pada
Contoh
tahun 2011 mendapat pekerjaan untuk membangun pos satpam di pintu depan dan pintu
belakang perumahan Ceger Permai senilai Rp50.000.000,00. Pembangunan dimulai
pada tanggal 15 Maret 2011 dan selesai pada tanggal 16 April 2011. Pembayaran atas
pekerjaan tersebut dilakukan oleh PT Jurangmangu Konstruksi selaku pengembang
perumahan Ceger Permai pada tanggal 17 April 2011.
Bagaimanakah kewajiban pemotongan atau pemungutan PPh PT Jurangmangu
Konstruksi terkait pembayaran pekerjaan pembangunan pos satpam kepada Tuan
Samidi Karsoutomo?

161 | P a g e
Tuan Samidi Karsoutomo merupakan Wajib Pajak orang pribadi yang menyerahkan jasa
kepada PT Jurangmangu Kontruksi. Atas penghasilan yang diterima atau diperoleh
Wajib Pajak orang pribadi dari penyerahan jasa merupakan objek pemotongan PPh
Pasal 21. Namun demikian, dalam hal penghasilan dari pemberian jasa tersebut
termasuk dalam objek PPh yang bersifat final yang diatur tersendiri dalam Peraturan
Pemerintah, maka atas penghasilan tersebut tidak dikenai pemotongan PPh Pasal 21
tetapi dikenai PPh yang bersifat final sesuai dengan pengaturan dalam Peraturan
Pemerintah yang mendasarinya.
Mengingat jasa yang dilakukan oleh Tuan Samidi Karsoutomo kepada PT Jurangmangu
Konstruksi merupakan jasa konstruksi, maka atas penghasilan yang diterima oleh Tuan
Samidi dikenai pemotongan PPh yang bersifat final atas penghasilan dari usaha jasa
konstruksi, bukan PPh Pasal 21.
Dalam Peraturan Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi, pengusaha jasa
pelaksanaan kontruksi orang pribadi (gred 1) dikelompokan sebagai pengusaha yang
memiliki kualifikasi usaha kecil. Dengan demikian atas penghasilan yang diterima oleh
Tuan Samidi Karsoutomo dari pekerjaan pembangunan dua pos satpam di perumahan
Ceger Permai tersebut dikenai pemotongan dengan tarif sebesar 2%.
PPh yang bersifat final atas penghasilan dari usaha jasa kontruksi:
PPh Pasal 4 ayat (2) = 2% x Rp50.000.000,00 = Rp1.000.000,00

162 | P a g e
BAB
PPh PASAL 15

8
Tujuan Instruksional Khusus:
1. Mampu menjelaskan tentang Norma Penghitungan Khusus.
2. Mampu menguraikan tentang Norma Penghitungan Khusus Penghasilan Neto Bagi
Wajib Pajak Perusahaan Penerbangan Dalam Negeri.
3. Mampu menguraikan tentang Norma Penghitungan Khusus Penghasilan Neto Bagi
Wajib Pajak Perusahaan Pelayaran Dalam Negeri.
4. Mampu menguraikan tentang Norma Penghitungan Khusus Penghasilan Neto Bagi
Wajib Pajak Perusahaan Pelayaran dan/atau Penerbangan Luar Negeri.
5. Mampu menguraikan tentang Norma Penghitungan Khusus Penghasilan Neto Bagi
Wajib Pajak Luar Negeri Yang Mempunyai Kantor Perwakilan Dagang Di Indonesia.
6. Mampu menjelaskan tentang penyetoran dan pelaporan PPh Pasal 15.

Ketentuan Pasal 15 UU PPh mengatur tentang Norma Penghitungan Khusus untuk


golongan Wajib Pajak tertentu, antara lain perusahaan pelayaran atau penerbangan
internasional, perusahaan asuransi luar negeri, perusahaan pengeboran minyak, gas dan
panas bumi, perusahaan dagang asing, perusahaan yang melakukan investasi dalam
bentuk bangun-guna-serah (build, operate, and transfer).
A. Pengertian Norma Penghitungan Khusus
Pasal 15 UU PPh: Norma Penghitungan Khusus untuk menghitung penghasilan netto
dari Wajib Pajak tertentu yang tidak dapat dihitung berdasarkan ketentuan Pasal 16 ayat
(1) atau ayat (3) ditetapkan Menteri Keuangan.
Untuk menghitung kesukaran dalam menghitung besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi
golongan Wajib Pajak tertentu tersebut, berdasarkan pertimbangan praktis atau sesuai
dengan kelaziman pengenaan pajak dalam bidang-bidang usaha tersebut, Menteri
Keuangan diberi wewenang untuk menetapkan Norma Penghitungan Khusus guna
menghitung besarnya penghasilan netto dari Wajib Pajak tertentu tersebut.

B. Norma Penghitungan Khusus Penghasilan Neto Bagi Wajib Pajak Perusahaan


Penerbangan Dalam Negeri
Keputusan Menteri Keuangan Nomor 475/KMK.04/1996, mengatur antara lain:
 Yang dimaksud dengan:

163 | P a g e
a. Wajib Pajak perusahaan penerbangan dalam negeri adalah perusahaan
penerbangan yang bertempat kedudukan di Indonesia yang memperoleh
penghasilan berdasarkan perjanjian charter;
b. Peredaran bruto bagi Wajib Pajak perusahaan penerbangan dalam negeri adalah
semua imbalan atau nilai pengganti berupa uang atau nilai uang yang diterima
atau diperoleh Wajib Pajak berdasarkan perjanjian charter dari pengangkutan
orang dan/atau barang yang dimuat dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain di
Indonesia dan/atau dari pelabuhan di Indonesia ke pelabuhan di luar negeri.
 Besarnya Pajak Penghasilan atas penghasilan dari pengangkutan orang dan/atau
barang bagi Wajib Pajak perusahaan penerbangan dalam negeri adalah sebesar
1,8% dari peredaran bruto.
 Pembayaran Pajak Penghasilan tersebut merupakan kredit pajak yang dapat
diperhitungkan dalam SPT Tahunan Pajak Penghasilan.

PPh PASAL 15 – PERUSAHAAN PENERBANGAN DALAM NEGERI

OBJEK PAJAK SUBJEK PAJAK TARIF

Penghasilan dari Perusahaan 1,8% dari


Merupakan
Pengangkutan Orang Penerbangan Peredaran
KREDIT PAJAK
dan/atau Barang Dalam Negeri Bruto

C. Norma Penghitungan Khusus Penghasilan Neto Bagi Wajib Pajak Perusahaan


Pelayaran Dalam Negeri
Keputusan Menteri Keuangan Nomor 416/KMK.04/1996, mengatur antara lain:
 Besarnya Pajak Penghasilan atas penghasilan dari pengangkutan orang dan/atau
barang bagi Wajib Pajak perusahaan pelayaran dalam negeri adalah sebesar 1,2%
dari peredaran bruto, dan bersifat final.
 Peredaran bruto adalah semua imbalan atau nilai pengganti berupa uang atau nilai
uang yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak perusahaan pelayaran dalam negeri
dari pengangkutan orang dan/atau barang yang dimuat dari satu pelabuhan ke
pelabuhan lain di Indonesia dan/atau dari pelabuhan di Indonesia ke pelabuhan luar
negeri dan/atau sebaliknya.

PPh PASAL 15 – PERUSAHAAN PELAYARAN DALAM NEGERI

OBJEK PAJAK SUBJEK PAJAK TARIF

Penghasilan dari Perusahaan 1,2% dari


Bersifat
Pengangkutan Orang PELAYARAN Peredaran
FINAL
dan/atau Barang Dalam Negeri Bruto
164 | P a g e
D. Norma Penghitungan Khusus Penghasilan Neto Bagi Wajib Pajak Perusahaan
Pelayaran dan/atau Penerbangan Luar Negeri
Keputusan Menteri Keuangan Nomor 417/KMK.04/1996, mengatur antara lain:
 Besarnya Pajak Penghasilan bagi Wajib Pajak Perusahaan Pelayaran dan/atau
Penerbangan luar negeri adalah sebesar 2,64% dari peredaran bruto.
 Yang dimaksud dengan peredaran bruto adalah semua imbalan atau nilai pengganti
berupa uang atau nilai uang yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak Perusahaan
Pelayaran dan/atau Penerbangan luar negeri dari pengangkutan orang dan/atau
barang yang dimuat dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain di Indonesia dan/atau
dari pelabuhan di Indonesia ke pelabuhan di luar negeri.

PPh PASAL 15 – PERUSAHAAN PELAYARAN dan/atau PENERBANGAN LUAR NEGERI

OBJEK PAJAK SUBJEK PAJAK TARIF

Perusahaan
Penghasilan dari PELAYARAN 2,64% dari
Bersifat
Pengangkutan Orang dan/atau Peredaran
FINAL
dan/atau Barang PENERBANGAN Bruto
Dalam Negeri

E. Norma Penghitungan Khusus Penghasilan Neto Bagi Wajib Pajak Luar Negeri
Yang Mempunyai Kantor Perwakilan Dagang Di Indonesia
Keputusan Menteri Keuangan Nomor 634/KMK.04/1994, mengatur antara lain:
 Pajak Penghasilan bagi Wajib Pajak luar negeri yang mempunyai kantor perwakilan
dagang di Indonesia adalah sebesar 0,44% dari nilai ekspor bruto dan bersifat final.
 Nilai ekspor bruto adalah semua nilai pengganti atau imbalan yang diterima atau
diperoleh Wajib Pajak luar negeri yang mempunyai kantor perwakilan dagang di
Indonesia dari penyerahan barang kepada orang pribadi atau badan yang berada
atau bertempat kedudukan di Indonesia.

PPh PASAL 15 – KANTOR PERWAKILAN DAGANG DI INDONESIA

OBJEK PAJAK SUBJEK PAJAK TARIF

Penyerahan Barang WP LUAR NEGERI


kepada Orang Pribadi yang Mempunyai
0,44% dari
atau Badan yang KANTOR Bersifat
165 | P a g e
Nilai Ekspor
Berada/Bertempat PERWAKILAN FINAL
Bruto
Kedudukan DAGANG DI
di Indonesia INDONESIA
F. Penyetoran dan Pelaporan Pemotongan PPh Pasal 15

Penyetoran dan Pelaporan Pemotongan PPh Pasal 15

PPh Pasal 15 Tanggal Jatuh Tempo Penyetoran Batas Akhir Pelaporan

Dipotong oleh Paling lama tanggal 10 bulan berikutnya


Pemotong Pajak Wajib menyampaikan
setelah Masa Pajak berakhir
SPT Masa paling lama 20
hari setelah Masa Pajak
Harus Dibayar Paling lama tanggal 15 bulan berikutnya berakhir
Sendiri oleh WP setelah Masa Pajak berakhir

G. Studi Kasus PPh Pasal 15


Contoh

PPh Pasal 15
PT Suka Berlayar merupakan perusahaan pelayaran dalam negeri yang melakukan
usaha jasa pelayaran termasuk penyewaan kapal. Pada tanggal 7 Oktober 2011 PT
1
Suka Berlayar melakukan kontrak dengan PT Jaya Pulp dalam rangka pengangkutan
Contoh
bahan setengah jadi untuk pembuatan kertas (pulp) dari Surabaya ke Jakarta sebesar
Rp200.000.000,00 dan dibayarkan pada tanggal 27 Oktober 2011.
Pada tanggal 15 Oktober 2011 PT Suka Berlayar melakukan kontrak dengan PT Daeng
Oil berupa persewaan kapal yang difungsikan sebagai kapal untuk penyimpanan minyak
dalam jangka waktu tertentu dan bersandar di rig, dengan nilai sewa sebesar
Rp2.500.000.000,00 dibayar pada tanggal 17 Oktober 2011.
Bagaimana perlakuan PPh atas penghasilan dari PT Suka Berlayar tersebut?
Penghasilan yang menjadi objek PPh perusahaan pelayaran dalam negeri meliputi
penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak dari pengangkutan orang
dan/atau barang, termasuk penghasilan penyewaan kapal yang dilakukan dari:
 pelabuhan di Indonesia ke pelabuhan lainnya di Indonesia;
 pelabuhan di Indonesia ke pelabuhan di luar Indonesia;
 pelabuhan di luar Indonesia ke pelabuhan di Indonesia; dan
 pelabuhan di luar Indonesia ke pelabuhan lainnya di luar Indonesia.
Dengan demikian atas penghasilan PT Suka Berlayar dari PT Jaya Pulp yaitu untuk jasa
pengangkutan bahan setengah jadi untuk pembuatan kertas (pulp) dari Surabaya ke
Jakarta terutang PPh sebesar 1,2% dari peredaran bruto dan bersifat final.

166 | P a g e
PPh yang terutang yang dipotong oleh PT Jaya Pulp adalah:
PPh Pasal 15 = 1,2% x Rp200.000.000,00 = Rp2.400.000,00
Atas penghasilan PT Suka Berlayar dari PT Daeng Oil dari penyewaan kapal yang
difungsikan sebagai kapal untuk penyimpanan minyak dalam jangka waktu tertentu dan
bersandar di rig (termasuk kategori kapal FSO) tidak termasuk dalam pengertian
penghasilan dari penyewaan kapal yang dilakukan dari satu pelabuhan ke pelabuhan
yang lain. Dengan demikian atas penghasilan tersebut termasuk dalam pengertian sewa
dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta yang dikenai pemotongan
PPh Pasal 23 sebesar 2% dan dipotong oleh PT Daeng Oil dengan penghitungan
sebagai berikut:
PPh Pasal 23 = 2% x Rp2.500.000.000,00 = Rp50.000.000,00
Kewajiban PT Jaya Pulp sebagai pemotong PPh Pasal 15 adalah:
a. Melakukan pemotongan PPh Pasal 15 atas pembayaran jasa pelayaran untuk
pengangkutan pulp sebesar Rp2.400.000,00 dan memberikan bukti pemotongan
tersebut kepada PT Suka Berlayar.
b. Menyetorkan PPh Pasal 15 yang telah dipotong tersebut ke kas negara melalui
kantor pos atau bank yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan paling lama tanggal 10
November 2011.
c. Menyampaikan SPT Masa PPh Pasal 15 Masa Pajak Oktober 2011 paling lama
tanggal 21 November 2011.
Kewajiban PT Daeng Oil sebagai pemotong PPh Pasal 23 adalah:
a. Melakukan pemotongan PPh Pasal 23 atas penyewaan kapal FSO tersebut sebesar
Rp50.000.000,00 dan memberikan bukti pemotongan tersebut kepada PT Suka
Berlayar.
b. Menyetorkan PPh Pasal 23 yang dipotong menggunakan SSP ke kas negara melalui
kantor pos atau bank yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan paling lama tanggal 10
November 2011.
c. Menyampaikan SPT Masa PPh Pasal 23 Masa Pajak Oktober 2011 paling lama
tanggal 20 November 2011.
Contoh

PPh Pasal 15
PT Bumi Nusantara menyewa pesawat dari PT Vidi Airlines, sebuah perusahaan
penerbangan dalam negeri, yang akan digunakan dalam penerbangan Jakarta – Papua.
2
Dalam perjanjian sewa/carter tersebut, telah disepakati harga dan cara pembayaran.
Contoh
Pada tanggal 5 Maret 2011 PT Bumi Nusantara telah membayar biaya carter sebesar
Rp500.000.000,00.

167 | P a g e
Bagaimana kewajiban pemotongan atau pemungutan PPh atas transaksi tersebut?
Atas penghasilan yang diperoleh PT Vidi Airlines yaitu carter pesawat yang akan
digunakan untuk penerbangan Jakarta – Papua, merupakan penghasilan berdasarkan
perjanjian carter yang terutang PPh sebesar 1,8% dari peredaran bruto dan dipotong
oleh PT Bumi Nusantara. Penghitungan PPh-nya adalah sebagai berikut:
PPh Pasal 15 = 1,8% x Rp500.000.000,00 = Rp9.000.000,00
PPh yang dipotong oleh PT Bumi Nusantara tersebut merupakan kredit pajak bagi PT
Vidi Airlines yang dapat dikreditkan terhadap PPh yang terutang dalam SPT Tahunan
PPh untuk tahun pajak yang bersangkutan.
Kewajiban PT Bumi Nusantara sebagai pemotong PPh Pasal 15 atas sewa pesawat
tersebut adalah:
a. Melakukan pemotongan PPh Pasal 15 atas pembayaran jasa penyewaan pesawat
tersebut sebesar Rp9.000.000,00 dan memberikan bukyi pemotongan kepada PT
Vidi Airlines.
b. Menyetorkan PPh Pasal 15 yang telah dipotong ke kas negara melalui kantor pos
atau bank yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan paling lama tanggal 11 April 2011.
c. Menyampaikan SPT Masa PPh Pasal 15 Masa Pajak Maret paling lama tanggal 20
April 2011.

168 | P a g e
GLOSSARIUM

169 | P a g e
DAFTAR PUSTAKA
Direktorat Jenderal Pajak. (2011). Oasis Pemotongan/Pemungutan PPh.
------. (2011). Bendahara Mahir Pajak.
Mansury, R., Ph.D. (1999). Penghitungan dan Pemotongan Pajak atas Penghasilan dari
Pekerjaan (PPh Pasal 21 dan Pasal 26). Jakarta: Yayasan Pengembangan dan
Penyebaran Pengetahuan Perpajakan (YP4).
------. (2002). Pajak Penghasilan Lanjutan Pasca Reformasi 2000. Jakarta: Yayasan
Pengembangan dan Penyebaran Pengetahuan Perpajakan (YP4).
Santosa, Wahyu, Ak., M.Si, dan Sadimin. (2011). Bahan Ajar Pajak Penghasilan untuk
Program Diploma I Keuangan Spesialisasi Pajak STAN.
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan
sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16
Tahun 2009.
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah
beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008.
Peraturan Pemerintah Nomor 131 Tahun 2000 tentang Pajak Penghasilan atas Bunga
Deposito dan Tabungan serta Diskonto Sertifikat Bank Indonesia.
Peraturan Pemerintah Nomor 132 Tahun 2000 tentang Pajak Penghasilan atas Hadiah
Undian.
Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1994 Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari
Transaksi Penjualan Saham di Bursa Efek sebagaimana telah diubah dengan Peraturan
Pemerintah Nomor 14 Tahun 1997.
Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 1994 Pembayaran Pajak Penghasilan atas
Penghasilan dari Pengalihan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan sebagaimana telah
beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2008
Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 1995 Pajak Penghasilan atas Penghasilan
Perusahaan Modal Ventura dari Transaksi Penjualan Saham atau Pengalihan
Penyertaan Modal Pada Perusahaan Pasangan Usahanya.
Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1996 Pembayaran Pajak Penghasilan atas
Penghasilan dari Persewaan Tanah dan/atau Bangunan sebagaimana telah diubah
dengan Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2002
Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan Atas Diskonto
Surat Perbendaharaan Negara.
Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan
dari Usaha Jasa Konstruksi sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah
Nomor 40 Tahun 2009
Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2009 tentang Pajak Penghasilan atas Bunga
Simpanan yang Dibayarkan oleh Koperasi kepada Anggota Koperasi Orang Pribadi.

170 | P a g e
Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2009 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan
Berupa Bunga Obligasi.
Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2009 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan
dari Transaksi Derivatif Berupa Kontrak Berjangka yang Diperdagangkan di Bursa
sebagaimana telah dicabut dengan Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2011.
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2009 tentang Pajak Penghasilan atas Dividen yang
Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri.
Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 2009 tentang Tarif Pajak Penghasilan Pasal 21 atas
Penghasilan Berupa Uang Pesangon, Uang Manfaat Pensiun, Tunjangan Hari Tua, dan
Jaminan Hari Tua yang Dibayarkan Sekaligus.
Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 2010 tentang Tarif Pemotongan dan Pengenaan
Pajak Penghasilan Pasal 21 atas Penghasilan yang Menjadi Beban Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.
Peraturan Pemerintah Nomor 94 Tahun 2010 tentang Penghitungan Penghasilan Kena
Pajak dan Pelunasan Pajak Penghasilan dalam Tahun Berjalan.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 184/PMK.03/2007 tentang Penentuan Tanggal Jatuh
Tempo Pembayaran dan Penyetoran Pajak, Penentuan Tempat Pembayaran Pajak, dan
Tata Cara Pembayaran Pajak, Penyetoran dan Pelaporan Pajak, serta Tata Cara
Pengangsuran dan Penundaan Pembayaran Pajak sebagaimana telah diubah dengan
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 80/PMK.03/2010.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 63/PMK.03/2008 tentang Tata Cara Pemotongan Pajak
Penghasilan atas Diskonto Surat Perbendaharaan Negara.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 79/PMK.03/2008 tentang Penilaian Kembali Aktiva
Tetap Perusahaan Untuk Tujuan Perpajakan.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 244/PMK.03/2008 tentang Jenis Jasa Lain
Sebagaimana Dimaksud dalam Pasal 23 Ayat (1) Huruf c Angka 2 Undang-Undang
Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah beberapa kali
diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 246/PMK.03/2008 tentang Beasiswa yang Dikecualikan
dari Objek Pajak Penghasilan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri
Keuangan Nomor 154/PMK.03/2009.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 250/PMK.03/2008 tentang Besarnya Biaya Jabatan
atau Biaya Pensiun Yang Dapat Dikurangkan dari Penghasilan Bruto Pegawai Tetap
atau Pensiunan.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 252/PMK.03/2008 tentang Petunjuk Pelaksanaan
Pemotongan Pajak atas Penghasilan Sehubungan dengan Pekerjaan, Jasa, dan
Kegiatan Orang Pribadi.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 256/PMK.03/2008 tentang Penetapan Saat
Diperolehnya Dividen oleh Wajib Pajak Dalam Negeri atas Penyertaan Modal pada
Badan Usaha di Luar Negeri selain Badan Usaha yang Menjual Sahamnya di Bursa
Efek.

171 | P a g e
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 16/PMK.03/2010 tentang Tata Cara Pemotongan Pajak
Penghasilan Pasal 21 Atas Penghasilan Berupa Uang Pesangon, Uang Manfaat
Pensiun, Tunjangan Hari Tua, Dan Jaminan Hari Tua Yang Dibayarkan Sekaligus.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 111/PMK.03/2010 tentang Tata Cara Pemotongan,
Penyetoran, dan Pelaporan Pajak Penghasilan atas Dividen yang Diterima atau
Diperoleh Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 112/PMK.03/2010 tentang Tata Cara Pemotongan,
Penyetoran, dan Pelaporan Pajak Penghasilan atas Bunga Simpanan yang Dibayarkan
oleh Koperasi kepada Anggota Koperasi Orang Pribadi.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 154/PMK.03/2010 tentang Pemungutan Pajak
Penghasilan Pasal 22 Sehubungan Dengan Pembayaran atas Penyerahan Barang dan
Kegiatan di Bidang Impor atau Kegiatan Usaha di Bidang Lain.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 14/PMK.03/2011 tentang Perlakuan Perpajakan atas
Penghasilan Kena Pajak Sesudah Dikurangi Pajak dari Suatu Bentuk Usaha Tetap.
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 85/PMK.03/2011 tentang Tata Cara Pemotongan,
Penyetoran, dan Pelaporan Pajak Penghasilan atas Bunga Obligasi sebagaimana telah
diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 07/PMK.011/2012.
Keputusan Menteri Keuangan Nomor 634/KMK.04/1994 tentang Norma Penghitungan
Khusus Penghasilan Neto bagi Wajib Pajak Luar Negeri yang Mempunyai Kantor
Perwakilan Dagang di Indonesia.
Keputusan Menteri Keuangan Nomor 639/KMK.04/1994 tentang Tata Cara Pemotongan
atau Pemungutan, Penyetoran, dan Pelaporan Pajak Penghasilan atas Hadiah Undian.
Keputusan Menteri Keuangan Nomor 416/KMK.04/1996 tentang Norma Penghitungan
Khusus Penghasilan Neto bagi Wajib Pajak Perusahaan Pelayaran Dalam Negeri.
Keputusan Menteri Keuangan Nomor 417/KMK.04/1996 tentang Norma Penghitungan
Khusus Penghasilan Neto bagi Wajib Pajak Perusahaan Pelayaran dan/atau
Penerbangan Luar Negeri.
Keputusan Menteri Keuangan Nomor 475/KMK.04/1996 tentang Norma Penghitungan
Khusus Penghasilan Neto bagi Wajib Pajak Perusahaan Penerbangan Dalam Negeri.
Keputusan Menteri Keuangan Nomor 282/KMK.04/1997 tentang Pelaksanaan Pemungutan
Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Transaksi Penjualan Saham di Bursa Efek.
Keputusan Menteri Keuangan Nomor 434/KMK.04/1999 tentang Pemotongan Pajak
Penghasilan Pasal 26 yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak Luar Negeri Selain
Bentuk Usaha Tetap atas Penghasilan Berupa Keuntungan dari Penjualan Saham.
Keputusan Menteri Keuangan Nomor 51/KMK.04/2001 tentang Pemotongan Pajak
Penghasilan atas Bunga Deposito dan Tabungan serta Diskonto Sertifikat Bank
Indonesia.
Keputusan Menteri Keuangan Nomor 164/KMK.03/2002 tentang Kredit Pajak Luar Negeri.
Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-31/PJ/2009 tentang Pedoman Teknis Tata
Cara Pemotongan, Penyetoran dan Pelaporan Pajak Penghasilan Pasal 21 dan/atau

172 | P a g e
Pajak Penghasilan Pasal 26 Sehubungan Dengan Pekerjaan, Jasa, dan Kegiatan Orang
Pribadisebagaimana telah diubah dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor
PER-57/PJ/2009.
Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-59/PJ/2010 tentang Tata Cara Pelaporan
Penerimaan Dividen, Penghitungan Besarnya Pajak yang Harus Dibayar, dan
Pengkreditan Pajak Sehubungan dengan Penetapan Saat Diperolehnya Dividen oleh
Wajib Pajak Dalam Negeri atas Penyertaan Modal pada Badan Usaha di Luar Negeri
Selain Badan Usaha yang Menjual Sahamnya di Bursa Efek.
Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-57/PJ/2009 tentang Perlakuan Pajak
Penghasilan atas Penghasilan Warga Negara Indonesia yang Bekerja Sebagai Official
Pada Badan-Badan Internasional dari Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor: SE-82/PJ/2011 tentang Pelaksanaan
Peraturan Pemerintah Nomor 31 Tahun 2011 tentang Pencabutan Peraturan Pemerintah
Nomor 17 Tahun 2009 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Transaksi
Derivatif Berupa Kontrak Berjangka yang Diperdagangkan di Bursa.

Disclaimer:
Sebagian dari isi Bahan Ajar PPh Pemotongan/Pemungutan ini menyadur dari beberapa
tulisan Penulis lain yang bahannya didapat dari file-file baik softcopy maupun hardcopy yang
tidak dapat diketahui dengan pasti siapa nama Penulis aslinya.

173 | P a g e
BIODATA PENULIS

Nama : Wahyu Santosa, Ak., M.Si.


Alamat korespondensi : Jl. Depsos XI No. 22, Komplek Depsos Bintaro, Jakarta Selatan
Unit Instansi : Direktorat Jenderal Pajak
Telp./Faks :-
HP : 081381944392
E-mail : whysantosa@gmail.com

Riwayat Pendidikan:
Tahun Lulus Perguruan Tinggi Bidang/Spesialisasi
1999 Diploma IV STAN Akuntansi
1999 S1 Universitas Indonesia Akuntansi
2005 S2 Universitas Indonesia Administrasi Perpajakan

Nama Mata Kuliah yang Diasuh:


No Nama Mata Kuliah
1 Lab Pajak Penghasilan
2 Seminar Perpajakan
3 Perpajakan I
4 Pembimbing Skripsi pada D IV STAN

174 | P a g e
BIODATA PENULIS

Nama : Sadimin, S.S.T.


Alamat korespondensi : Jl. Kolintang Blok N/8, Pondok Sawah Indah, Tangerang Selatan
Unit Instansi : Direktorat Jenderal Pajak
Telp./Faks :-
HP : 08176368425
E-mail : ary.lestari@gmail.com

Riwayat Pendidikan:
Tahun Lulus Perguruan Tinggi Bidang/Spesialisasi
2004 Diploma III STAN Perpajakan
2009 Diploma IV STAN Akuntansi

Nama Mata Kuliah yang Diasuh:


No Nama Mata Kuliah
1 Lab Pajak Penghasilan
2 Akuntansi Perpajakan
3 Pengantar Hukum Pajak

175 | P a g e
176 | P a g e