Anda di halaman 1dari 5

TUGAS 1

PERAN TEKNIK PENYEHATAN LINGKUNGAN AHLI


PERTAMA DALAM MENINGKATKAN DAYA SAING
NASIONAL

EKI NOERFITRIYANI
30211233020140
TEKNIK PENYEHATAN LINGKUNGAN AHLI PERTAMA
KELOMPOK JUJUR

KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN


RAKYAT
JAKARTA
FEBRUARI, 2018
Pemenuhan Akses Air Bersih dan Sanitasi untuk Meningkatkan Daya Saing
Bangsa Indonesia

Oleh, Eki Noerfitriyani

Air merupakan sumber kehidupan, dan sanitasi adalah martabat dari manusia. Saat
ini, sekitar 663 juta orang di dunia tidak memiliki akses terhadap sumber air, serta
2.4 miliar orang tidak memiliki akses sanitasi yang baik. Sekitar 1,000 anak setiap
harinya meninggal dunia akibat penyakit-penyakit yang sebenarnya dapat dicegah
[1]. Setiap tahunnya, terjadi 842,000 kematian akibat penyakit yang disebabkan
oleh air minum yang tidak memadai, serta sanitasi dan kebersihan yang buruk [2].
Sanitasi dan perilaku hidup bersih yang buruk, serta ketersediaan air minum yang
tidak aman dapat berkontribusi terhadap 88 persen kematian anak akibat diare di
dunia [3]. Diare dapat berkontribusi terhadap masalah gizi, sehingga menghambat
anak-anak untuk mencapai potensi maksimal mereka. Kondisi tersebut
selanjutnya dapat menimbulkan dampak serius terhadap kualitas sumber daya
manusia serta pembangunan bangsa di masa depan.

Permasalahan Akses Air Bersih dan Sanitasi di Indonesia

Di Indonesia, diare masih merupakan penyebab utama terhadap kematian pada


balita. Diare menyebabkan 31 persen kematian pada anak usia 1 bulan hingga 1
tahun, serta 25 persen kematian pada anak usia 1 tahun hingga 4 tahun. Anak-
anak dari rumah tangga yang menggunakan sumur terbuka sebagai sumber air
minum mengalami diare 34 persen lebih tinggi dibandingkan dengan anak-anak
yang menggunakan air ledeng. Di sisi lain, anak-anak dari keluarga yang tidak
memiliki fasilitas sanitasi mengalami diare 66 persen lebih tinggi dibandingkan
dengan anak-anak yang berasal dari rumah tangga dengan fasilitas toilet pribadi
dan septic tank [4].

Indonesia merupakan negara berpenduduk paling banyak ke 4 di dunia dengan


255 juta orang, dan merupakan kekuatan perekonomian terbesar di Asia Tenggara.
Indonesia telah menunjukan kemajuan yang signifikan dalam meningkatkan akses
terhadap persediaan air bersih dan pelayanan sanitasi. Hal tersebut tercermin dari
meningkatnya cakupan pelayanan air minum layak dari 47.7 persen pada tahun
2009 menjadi 68.36 persen pada tahun 2014. Cakupan pelayanan infrastruktur
sanitasi yang layak juga mengalami peningkatan dari 51 persen pada tahun 2009
menjadi 61.04 persen pada tahun 2014 [5]. Pada tahun 2015, Indonesia mencapai
target Millenium Development Goals (MDGs) dengan 88 persen dari populasi
yang memiliki akses terhadap sumber air minum layak. Akan tetapi, hanya 61
persen dari populasi Indonesia yang memiliki akses terhadap fasilitas sanitasi
yang belum memenuhi target MDGs sebesar 77 persen. Berdasarkan data tersebut,
sekitar 100 juta masyarakat Indonesia tidak memiliki akses terhadap toilet yang
layak, serta 32 juta masyarakat tidak mendapatkan air bersih [6].

Pemenuhan Akses Air Bersih dan Sanitasi untuk Meningkatkan Daya Saing
Bangsa

Pada 25 September 2015, United Nations Sustainable Development Summit


menetapkan The 2030 Agenda for Sustainable Development yang mencakup 17
Sustainable Development Goals (SDGs). Terdapat 2 (dua) Global Goals yang
berkaitan langsung dengan pemenuhan akses air bersih dan sanitasi yang layak,
yaitu SDGs Goal 6 Menjamin ketersediaan dan pengelolaan berkelanjutan air dan
sanitasi bagi semua, dan SDGs Goal 11 Mewujudkan perkotaan dan kawasan
permukiman yang inklusif, aman, berketahanan, dan berkelanjutan.

Dalam mewujudkan Visi Pembangunan Jangka Panjang 2005-2025, yaitu


Indonesia yang Mandiri, Maju, Adil dan Makmur, Indonesia berada dalam
tahapan Rencana Pembangunan Jangka Menengah 2015-2019 (RPJMN Ke-3),
dengan sasaran memantapkan pembagunan secara menyeluruh dengan
menekankan pembangunan pada keunggulan kompetitif perekonomian yang
berbasis sumber daya alam (SDA) yang tersedia, sumber daya manusia (SDM)
yang berkualitas, serta kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK).
RPJM kali ini sangat penting untuk menguatkan fondasi agar bangsa Indonesia
keluar dari jebakan negara berpenghasilan menengah (Middle Income Trap) guna
menjadi bangsa yang sejahtera, makmur serta memiliki daya saing tinggi.
Peringkat daya saing Indonesia berada pada posisi 36 berdasarkan World
Economic Forum (WEF) dalam laporan Global Competitiveness Index 2017-2018
edition. Salah satu ciri bangsa yang maju adalah mempunyai derajat kesehatan
yang tinggi, karena derajat kesehatan mempunyai pengaruh yang besar terhadap
kualitas sumber daya manusia. Hanya dengan sumber daya yang sehat akan lebih
produktif dan meningkatkan daya saing bangsa.

Peran Ahli Teknik Penyehatan Lingkungan dalam Pemenuhan Akses Air


Bersih dan Sanitasi

Intervensi pemerintah terhadap kesehatan lingkungan berfokus pada masalah


penyediaan air bersih dan sanitasi yang layak. Dalam rangka memenuhi target
SDGs, pemerintah Indonesia mengusung Gerakan Nasional 100-0-100 sebagai
aktualisasi visi Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum
dan Perumahan Rakyat dalam mewujudkan permukiman layak huni dan
berkelanjutan. Target tersebut merupakan tantangan berat Indonesia di bidang
infrastruktur permukiman, yaitu memberikan akses air minum 100 pesen,
mengurangi kawasan kumuh hingga 0 persen, dan menyediakan akses sanitasi
layak 100 persen untuk masyarakat Indonesia.

Peningkatan daya saing nasional dapat dilakukan melalui percepatan


pembangunan infrastruktur. Infrastruktur Cipta Karya yang meliputi infrastruktur
lingkungan perumahan dan permukiman dapat mendukung kualitas kehidupan
bermasyarakat melalui pelayanan air minum, sanitasi lingkungan yang mencakup
penanganan persampahan, penyediaan drainase untuk mengatasi genangan dan
banjir, serta penanganan air limbah domestik.

Ahli teknik penyehatan lingkungan dapat berperan aktif dalam penyediaan akses
air bersih dan sanitasi yang layak melalui kompetensi yang dimiliki. Teknik
lingkungan merupakan cabang ilmu rekayasa dengan fokus utama dalam
perlindungan lingkungan dari kemungikinan terjadinya kerusakan sebagai akibat
dampak negatif aktivitas manusia. Ahli teknik lingkungan berperan dalam aspek
teknis dan perencanaan, serta aspek strategis dan kebijakan. Aspek teknis
perencanaan termasuk di dalamnya adalah konversi limbah menjadi bentuk yang
lebih ramah lingkungan, meminimalisasi limbah melalui teknologi reduce, reuse,
recycle, dan recovery, teknologi bersih, serta zero emission. Aspek strategis dan
kebijakan merupakan penilaian suatu kegiatan terhadap lingkungan dari aspek
solusi teknis yang dapat diterapkan. Kompetensi yang dimiliki ahli teknik
lingkungan diantaranya adalah kemampuan dalam identifikasi, perencanaan, serta
perancangan alat-alat pengendali lingkungan, berupa sistem pengelolaan air bersih
dan air limbah, serta sanitasi lingkungan. Melalui kompetensi yang dimiliki
tersebut, ahli teknik penyehatan lingkungan dapat berperan dalam mencapai target
Gerakan Nasional 100-0-100.

Pemenuhan terhadap akses terhadap air bersih serta sanitasi yang layak di
Indonesia dapat tercapai dengan dukungan seluruh pihak yang terkait. Ahli teknik
penyehatan lingkungan merupakan salah satu pihak yang berkompeten untuk
mewujudkan target pemerintah dengan tentu saja harus didukung dengan peran
serta dari masyarakat, ketersediaan sarana dan teknologi, serta pengembangan
kompetensi sumber daya manusia.

Referensi

[1] WHO/UNICEF, “Joint Monitoring Programme,” 2015.

[2] Pruss-Ustun A, et al, “Burden of disease from inadequate water, sanitation and
hygiene in low- and middle-income settings: a retrospective analysis of data
from 145 countries,” WHO/UNICEF, 2014.

[3] “Centres for Disease Control and Prevention”.


www.cdc.gov/healthywater/global/diarrhea-burden.html

[4] Kementerian Kesehatan, “Laporan Nasional: Riset Kesehatan Dasar


(Riskesdas) 2007,” Ministry of Health, National Institute of Health Research
and Development, Jakarta, 2008.

[5] Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan


Perumahan Rakyat, “Rencana Strategis Direktorat Jenderal Cipta Karya Tahun
2015-2019,” 2016.

[6] WHO/UNICEF, “Joint Monitoring Programme, op cit,” 2015.