Anda di halaman 1dari 44

1

I. KONSEP TEORI KANKER PROSTAT


A. Anatomi dan fisiologi Prostat
Prostat adalah organ genitalia pria yang terletak di bawah dari buli-buli, di
depan rektum dan membungkus uretra posterior. Bentuknya seperti buah kemiri
dengan ukuran 4x3x2,5 cm dan beratnya kurang lebih 20 gram (Purnomo, 2012).
Prostat memiliki kapsula fibrosa yang padat dan dilapisi oleh jaringan ikat
prostat sebagai bagian fascia pelvis visceralis. Pada bagian superior dari prostat
berhubungan dengan vesika urinaria, sedangkan bagian inferior bersandar pada
diafragma urogenital. Permukaan ventral prostat terpisah dari simpisis pubis oleh
lemak retroperitoneal dalam spatium retropubicum dan permukaan dorsal berbatas
pada ampulla recti (Moore & Agur, 2002).
Kelenjar prostat terdiri atas jaringan kelenjar dinding uretra yang mulai
menonjol pada masa pubertas. Biasanya kelenjar prostat dapat tumbuh seumur
hidup. Secara anatomi, prostat berhubungan erat dengan kandung kemih, uretra,
vas deferens, dan vesikula seminalis. Prostat terletak di atas diafragma panggul
sehingga uretra terfiksasi pada diafragma tersebut, dapat terobek bersama
diafragma bila terjadi cedera. Prostat dapat diraba pada pemeriksaan colok dubur
(Sjamsuhidajat dkk., 2012).
Selain mengandung jaringan kelenjar, kelenjar prostat mengandung cukup
banyak jaringan fibrosa dan jaringan otot polos. Kelenjar ini ditembus oleh uretra
dan kedua duktus ejakulatorius, dan dikelilingi oleh suatu pleksus vena. Kelenjar
limfe regionalnya ialah kelenjar limfe hipogastrik, sacral, obturator, dan iliaka
eksterna (Sjamsuhidajat dkk., 2012).
Arteri-arteri untuk prostat terutama berasal dari arteria vesicalis inferior
dan arteria rectalis media, cabang arteria iliaca interna. Vena-vena bergabung
membentuk plexus venosus prostaticus sekeliling sisi-sisi dan alas prostat. Plexus
venosus prostaticus yang terletak antara kapsula fibrosa dan sarung prostat,
ditampung oleh vena iliaka interna. Plexus venosus prostaticus juga berhubungan
dengan plexus venosus vesicalis dan plexus venosi vertebrales. Pembuluh limfe
terutama berakhir pada nodi lymphoidei iliaci interni dan nodi lymphoidei externi
(Moore & Agur, 2002).
2

Kelenjar prostat menyekresi cairan encer, seperti susu, yang mengandung


kalsium, ion sitrat, ion fosfat, enzim pembekuan, dan profibrinolisin. Selama
pengisian, simpai kelenjar prostat berkontraksi sejalan dengan kontraksi vas
deferens sehingga cairan encer seperti susu yang dikeluarkan oleh kelenjar prostat
menambah jumlah semen lebih banyak lagi. Sifat cairan prostat yang sedikit basa
mungkin penting untuk keberhasilan fertilisasi ovum, karena cairan vas deferens
relatif asam akibat adanya asam sitrat dan hasil akhir metabolisme sperma, dan
sebagai akibatnya, akan menghambat fertilisasi sperma. Selain itu, sekret vagina
bersifat asam (pH 3,5−4). Sperma tidak dapat bergerak optimal sampai pH
sekitarnya meningkat menjadi 6−6,5. Akibatnya, cairan prostat yang sedikit basa
mungkin dapat menetralkan sifat asam cairan seminalis lainnya selama ejakulasi,
dan juga meningkatkan motilitas dan fertilitas sperma (Guyton & Hall, 2008;
Sherwood, 2011).

B. Definisi Kanker Prostat

Carsinoma prostat atau kanker prostat adalah pertumbuhan dan


pembelahan sel khususnya sel pada jaringan prostat yang tidak normal/abnormal
yang merupakan kelainan atau suatu keganasan pada saluran perkemihan
khususnya prostat pada bagian lobus perifer sehingga timbul nodul-nodul yang
dapat diraba.

Kelenjar prostat adalah organ yang ditemukan hanya pada pria, yang berarti
bahwa orang hanya pria yang dapat terkena kanker prostat. Kanker terjadi ketika
sel-sel normal mulai tumbuh dan berkembang tanpa kontrol normal mereka.
Setelah sel-sel mengalami konversi, mereka berkembang biak dan membentuk
suatu massa/benjolan yang disebut tumor. Karena pertumbuhan yang tidak
terkendali mereka, tumor dapat menyerang jaringan sekitarnya dan mencapai
organ-organ lain melalui aliran darah. Inilah yang disebut tumor ganas ( kanker).
Jaringan kanker menginvasi jaringan sekitar mereka dan mengambil oksigen dan
nutrisi yang mereka butuhkan untuk bertahan. Hampir semua kanker prostat
adalah adenokarsinoma dari prostat, yang berarti bahwa mereka berasal dari sel
sekresi kelenjar prostat.
3

Kanker prostat adalah tumor ganas yang tumbuh pada prostat, kelenjar
seukuran kacang walnut dibawah kandung kemih pria yang fungsinya
memproduksi sperma. Sebagian besar kanker prostat tumbuh sangat lambat
namun merupakan kanker ganas, dan kanker dapat menyebar ke bagian tubuh lain,
khususnya tulang dan kelenjar getah bening.Menurut laporan interim Singapore
Cancer Registry, periode 2006-2010, kanker prostat merupakan kanker paling
umum ke-3 untuk pria di Singapura, dengan lebih dari 500 kasus terdiagnosa
setiap tahun dalam kurun waktu lima tahun belakangan ini.

C. Stadium dan Klasifikasi

1. Derajat keganasan
Derajat Adenokarsinoma prostat dengan sistem skor Gleason (modifikasi).
Skor Gleason adalah salah satu parameter yang memperkirakan adanya risiko
rekurensi setelah prostatektomi. Skor Gleason adalah penjumlahan dari derajat
Gleason (Gleason grade) yang paling dominan dan kedua yang paling dominan.
Pengelompokan skor Gleason terdiri dari Diferensiasi baik ≤ 6, sedang/moderat 7
dan buruk (8-10).

2. Stadium
Sistem staging yang digunakan untuk Kanker prostat adalah menurut
AJCC(American Joint Committee on Cancer)2010 / sistem TNM 2009.

Tumor primer (T)


Tx Tumor primer tidak dapat dinilai T0 Tumor primer tak dapat
ditemukan
T1 Tumor yang tak dapat dipalpasi atau dilihat pada pemeriksaan pencitraan
(tidak terdeteksi secara klinis)
T1a Tumor ditemukan secara kebetulan (PA), < 5 % dari jaringan yang
direseksi T1b Tumor ditemukan secara kebetulan (PA), > 5 % dari jaringan
yang direseksi T1c Tumor diidentifikasi dengan pemeriksaan biopsi jarum
T2 Tumor terbatas di prostat *
T2a Tumor mengenai setengah atau kurang dari satu lobus
T2b Tumor mengenai lebih setengah dari satu lobus, tetapi tidak
4

mengenai kedua lobus


T2c Tumor mengenai kedua lobus T3 Tumor menembus kapsul **
T3a Ekstensi ekstrakapsuler (unilateral atau bilateral)
T3b Tumor mengenai vesicula seminalis
T4 Tumor terfiksasi atau mengenai struktur yang berdekatan, selain vesicula
seminalis, seperti leher kandung kemih, sfingter eksterna rektum dan atau
dinding pelvis.
Kelenjar Gatah Bening (KGB) regional (N)
Nx KGB regional tak dapat dinilai
N0 Tak ada penyebaran KGB regional N1 Terdapat penyebaran KGB
regional
Metastasis Jauh (M)***
Mx Metastasis jauh tak dapat dinilai M0 Tak ada metastasis jauh
M1 Terdapat Metastasis jauh
M1a Metastasis KGB Non Regional M1b Metastasis ke tulang
M1c Metastasis ke organ lain

Catatan :

* Tumor ditemukan pada satu atau dua lobus dengan biopsi jarum akan tetapi
tidak teraba atau terlihat dengan pencitraan yang ada diklasifikasikan
sebagai T1c.

** Tumor yang menginvasi apeks prostat atau ke kapsul akan tetapi tidak
menembus, tidak diklasifikasikan sebagai T3 akan tetapi T2.

*** Bila lebih dari satu tempat metastasis, dikategorikan sebagai metastasis
paling tinggi stadiumnya; M1c adalah tingkatan tertinggi.

3. Pengelompokan Stadium (AJCC 2010)


5

Stadium I T1a-c N0 N0 M0 PSA < 10 Skor Gleason ≤ 6 Skor Gleason ≤


Stadium IIA T2a T1- N0 N0 M0 PSA < 10 PSA 6 Skor Gleason X Skor Gleason
2a N0 N0 M0 X PSA < 20 7 Skor Gleason ≤ 6 Skor Gleason
T1a-c N0 N0 M0 PSA ≥ 10 < 20 ≤ 7 Skor Gleason ≤ 7 Skor
T1a-c M0 PSA < 20 Gleason X
T2a M0 PSA < 20 PSA
T2b M0 X
T2b M0
Stadium IIB T2c N0 M0 Semua PSA Semua Skor Gleason Semua
T1-2 N0 N0 M0 PSA ≥ 20 Skor Gleason Skor Gleason ≥ 8
T1-2 N0 M0 Semua PSA Semua Skor Gleason
Stadium III T3a-b M0 Semua PSA
Stadium IV T4 N0 N1 M0 Semua PSA Semua Skor Gleason
Tiap T Tiap N M0 Semua PSA Semua Skor Gleason Semua
Tiap T M1 Semua PSA Skor Gleason

Penjelasan

a. Stadium T
Penentuan stadium klinis cT dapat ditentukan dengan colok dubur.3 Bila
diperlukan dapat dilakukan pemeriksaan CT/MRI.
b. Stadium N
Penentuan stadium N hanya dikerjakan bila akan berpengaruh terhadap
keputusan terapi. Hal ini biasanya pada kasus penderita yang direncanakan terapi
kuratif. Cara terbaik untuk menentukan stadium N adalah dengan limfadenektomi,
teknik yang digunakan adalah operasi terbuka ataupun laparoskopik.

c. Stadium M
Metode sidik tulang paling sensitif untuk mendiagnosis metastasis tulang,
bila tidak ada fasilitas pemerikaan tsb dapat dicari dengan penilaian klinis, CT
Scan, alkali fosfatase serum dan bone survey. Peningkatan kadar alkali fosfatase
mengindikasikan adanya metastasis tulang pada 70% penderita. Pengukuran alkali
6

fosfatase dan PSA secara bersamaan akan meningkatkan efektivitas penilaian


klinis sebesar 98%. Selain ke tulang, Kanker prostat dapat bermetastasis ke organ
lain umumnya ke KGB jauh, paru-paru, hepar, otak dan kulit. Pemeriksaan fisik,
foto thoraks, ultrasonografi, CT dan MRI adalah metode yang digunakan,
terutama bila gejala menunjukkan adanya kemungkinan metastasis ke jaringan
lunak. Pemeriksaan sidik tulang tidak perlu pada penderita asimptomatik, PSA
kurang dari 20 ng/mL dan berdiferensiasi baik atau moderat.

D. Epidemiologi Kanker Prostat

Di Amerika Serikat, kanker prostat merupakan keganasan pada pria dan


menduduki peringkat kedua setelah kanker paru-paru. Setiap tahun sekitar
200.000 kasus baru yang didiagnosis dan sekitar 30.000 orang meninggal akibat
Kanker Prostat. Kanker prostat juga merupakan penyebab kematian kedua akibat
kanker pada pria setelah kanker paru-paru. Kanker prostat terjadi pada 1 dari
6 orang. Kasus meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir dan tingkat
kematian menurun, yang mungkin karena skrining meningkat dan deteksi dini.
Risiko terkena kanker prostat meningkat secara signifikan dengan usia, dan 60%
dari kasus baru didiagnosa terjadi pada pria di atas usia 70.

Secara nasional prevalensi penyakit kanker pada penduduk semua umur di


Indonesia tahun 2013 sebesar 1,4‰ atau diperkirakan sekitar 347.792 orang.
Provinsi D.I. Yogyakarta memiliki prevalensi tertinggi untuk penyakit kanker,
yaitu sebesar 4,1‰. Berdasarkan estimasi jumlah penderita kanker Provinsi Jawa
Tengah dan Provinsi Jawa Timur merupakan provinsi dengan estimasi penderita
kanker terbanyak, yaitu sekitar 68.638 dan 61.230 orang.

Prevalensi kanker prostat di Indonesia tahun 2013 adalah sebesar 0,2‰


atau diperkirakan sebanyak 25.012 penderita. Provinsi yang memiliki prevalensi
kanker prostat tertinggi adalah D.I. Yogyakarta, Bali, Sulawesi Utara, dan
Sulawesi Selatan yaitu sebesar 0,5‰, sedangkan berdasarkan estimasi jumlah
penderita penyakit kanker prostat terbanyak berada pada Provinsi Jawa Timur dan
Provinsi Jawa Tengah. Sedangkan di Bali sebanyak o,5% yaitu sebanyak 1.043
kasus.
7

E. Etiologi Kanker Prostat


Sebagian besar kanker prostat terjadi tanpa penyebab yang jelas. Riwayat
keluarga, paparan radiasi, dan polutan lingkungan diduga dapat berperan dalam
penyakit ini,(Davery,2002).
Penelitian menunjukkan bahwa, seperti kanker lainnya, kanker prostat
adalah penyakit multifaktorial yang merupakan kombinasi keturunan, etnis,
hormon, diet dan lingkungan. Tidak dapat dipastikan penyebabnya namun ada
beberapa hal yang dapat menjadi factor risiko seseorang terkena kanker prostat.
Faktor-faktor risiko tersebut adalah :
1. Umur –> risiko terkena kanker prostat meningkat di usia > 50 tahun
2. Etnis –> pria Amerika-Afrika berisiko 1,5 – 2 kali lebih besar untuk
terkena kanker prostat dibandingkan ras kulit putih
3. Faktor keturunan –>Pria dengan riwayat kanker prostat dalam keluarga
mereka, berisiko 2 – 3 kali lebih besar
4. Kebiasaan Makan –> diet tinggi lemak telah dikaitkan dengan peningkatan
risiko kanker prostat.
5. Agen kimia –>paparan terhadap bahan kimia seperti cadmium telah
terlibat dalam perkembangan kanker prostat.

Faktor perilaku dan pola makan memiliki peran penting terhadap


timbulnya kanker. Diketahui bahwa kelompok umur 25-34 tahun, 35-44 tahun,
dan 45-54 tahun merupakan kelompok umur dengan prevalensi kanker yang
cukup tinggi. Kelompok umur tersebut lebih berisiko terhadap kanker karena
faktor perilaku dan pola makan yang tidak sehat. Gambar 4 di atas menunjukkan
bahwa secara umum kurangnya konsumsi sayur dan buah merupakan faktor risiko
tertinggi pada semua kelompok umur. Proporsi penduduk yang merokok, obesitas,
dan sering mengonsumsi makanan berlemak tertinggi pada kelompok umur 25-34
tahun, 35-44 tahun, dan 45-54 tahun. Sementara itu, kebiasaan mengonsumsi
makanan dibakar/dipanggang dan mengonsumsi makanan hewani berpengawet
cenderung lebih tinggi pada kelompok umur yang lebih muda. Oleh karena itu,
karena terdapat perbedaan perilaku dan pola makan pada tiap kelompok umur,
maka diperlukan upaya pencegahan dan promosi kesehatan yang tepat (Kemenkes
RI, 2015).
8

F. Manifestasi Klinis Kanker Prostat

Kebanyakan pria dengan kanker prostat tidak memiliki gejala dan hal ini
terutama terjadi pada tahap awal penyakit ini. Ini berarti bahwa kanker prostat
banyak yang tidak terdeteksi sampai kanker telah menyebar ke luar prostat. Di
mana terdapat tanda-tanda dan gejala, karakteristik mereka tergantung pada
seberapa berat kanker dan penyebaran kanker . Jika kanker terdeteksi dalam tahap
awal, kebanyakan pria tidak akan mengalami gejala apapun.

Gejala biasanya muncul ketika tumor penyebabkan obstruksi


(penyumbatan) kemih di leher kandung kemih atau uretra. Tanda dan gejalanya
adalah :

1. Sering BAK terutama pada malam hari


2. Kesulitan dalam memulai dan menghentikan aliran kemih
3. Nyeri buang air kecil
4. lemah atau terganggu aliran urin (retensi urin)
5. perasaan tidak lampias ketika berkemih. Biasanya keluhan ini juga ditemui
pada pembesaran prostat jinak atau infeksi prostat.

Tanda dan gejala saat mencapai stadium lanjut yaitu :


1. Adanya darah dalam urine
2. Sakit saat ejakulasi
3. Rasa terbakar atau nyeri buang air kecil
4. Disfungsi ereksi.
5. Jika kanker prostat telah menyebar ke kelenjar getah bening yang terletak
di panggul, dapat menyebabkan rasa sakit atau kekakuan pada punggung
bawah, pinggul atau paha atas dan tidak nyaman di daerah panggul.
6. Fungsi kandung kemih atas akan rusak.
7. Sering mengalami infeksi kemih berulang.
8. Kanker prostat lanjut yang telah menyebar ke tulang dapat menyebabkan
nyeri tulang, terutama di pinggul dan tulang belakang, patah tulang,
melemahnya tulang dan kompresi tulang belakang.
9

G. Patofisiologi Kanker Prostat


Kanker adalah proses penyakit yang bermula ketika sel abnormal diubah
oleh mutasi genetik dari DNA seluler. Sel abnormal ini membentuk klon dan
mulai berproliferasi secara abnormal, mengabaikan sinyal mengatur pertumbuhan
dalam lingkungan sekitar sel tersebut. Kemudian dicapai suatu tahap dimana sel
mendapatkan ciri-ciri invasif, dan terjadi perubahan pada jaringan sekitarnya. Sel-
sel tersebut menginfiltrasi jaringan sekitar dan memperoleh akses ke limfe dan
pembuluh-pembuluh darah, melalui pembuluh tersebut sel-sel dapat terbawa ke
area lain dalam tubuh untuk membentuk metastase (penyebaran kanker) pada
bagian tubuh yang lain (Brunner & Suddarth, 2002).
Penyebab kanker prostat tidak diketahui. Sama dengan hiperplasia prostat
nodular, androgen dipercaya memainkan peranan dalam patogenesis. Sembilan
puluh lima persen dari seluruh kanker prostat adalah adenokarsinoma, neoplasma
sisanya adalah karsinoma sel transisional, karsinoma sel skuamosa, dan sarkoma.
Adenokarsinoma prostat seringkali tumbuh dalam organ perifer atau dalam
jaringan periuretra tempat hipertrofi prostat jinak terjadi. Tidak ada hubungan
antara hiperlasia dengan perkembangan ke arah keganasan dalam prostat.
Dengan berkembangnya tumor dapat terjadi perluasan langsung ke uretra,
leher kandung kemih, dan vesikula seminalis. Kanker prostat dapat juga
menyebabr melalui jalur limfatik atau hematogen. Bagian yang paling sering
terkena metastasis adalah kelenjar limfe pelvis dan kerangka. Metastasis kerangka
secara berurut adalah tulang-tulang pelvis , vertebrae lumbalis, femur, vertebrae
torasika, dan kosta. Metastasis organ timbil setelahnya dan seringkali pada hati
dan paru-paru. Perjalanan penyakit kanker prostat tidak dapat diperkirakan.
Kanker dapat berkembang sangat lambat pada beberapa laki-laki dan dapat
tumbuh dan bermetastasis secara cepat dan menyebabkan kematian dalam perjalan
penyakit pada laki-laki lain. Oleh karena itu kebanyakan dokter mengobati pasien-
pasien dengan kanker prostat secara agresif.
Gejala awal tidak muncul atau tidak spesifik pada perjalanan penyakit, dan
pria dngan penyakit yang sudah lanjut dapat juga tanpa gejala. Gejala yang paling
sering adalah disuria, kesulitan dalam menahan kemih, sering berkemih, retensio
10

urine, nyeri pinggang dan hematuria, dengan obstruksi yang meningkat pada
pasien dapat timbl uremia. Tanda-tanda keadaan patologis paling sering
ditemukan dalam pemeriksaan rutin rektal toucher.
Skrining kanker prostat menggunakan pemeriksaan rektal toucher (DRE)
dan antigen spesifik prostat (PSA) serum, kombinasi keduanya digunakan untuk
mendeteksi lebih dari 60% kasus saat timor tersebut masih terbatas. PSA adalah
suatu protease serin yang dihasilkan oleh epitel prostat dan kelenjar periuretra
pada pria. PSA adalah tes tunggal untuk kanker yang mempunyai nilai prediksi
yang paling tinggi. Nilai normal PSSA adalah <4 ng/ml; kadar 4 hingga 10 ng/ml
adalah samar-samar dan dapat timbul pada keadaan normal atau seringkali timbul
pada keadaan prostatis hiperplasia prostat jinak; nilai >10 ng/ml sangat berkaitan
dengan diagnosis adenokarsinoma prostat. The american cancer society
menyarankan DRE setiap tahun untuk semua pria yang berusia di atas 40 tahun.
Pengukuran kadar PSA tahunan juga disarankan dimulai pada pria usia 40 tahun
keturunan Afrika amerika atau degan keluarga uang memiliki riwayat kanker
prostat, dan semua pria yang berisa lebih dari 50 tahun. Bila DRE ternyata
abnormal (palpasi keras, nodul iregular) atau bila PSA meningkat (>10 ng/ml)
diduga terdapat kanker prostat, ultrasonografi transrektal (TRUS) digunakan
untuk mendeteksi area yang dicurigai dan untuk mengarahkan biopsi jarum.
Biopsi prostat penting untuk menentukan diagnosis.
Penyebab Ca Prostat hingga kini belum diketahui secara pasti, tetapi
beberapa hipotesa menyatakan bahwa Ca Prostat erat hubungannya dengan
hipotesis yang diduga sebagai penyebab timbulnya adalah adanya perubahan
keseimbangan antara hormon testosteron dan estrogen pada usia lanjut, hal ini
akan mengganggu proses diferensiasidan proliferasi sel. Difsreniasi sel yang
terganggu ini menyebabkan sel kanker, penyebab lain yaitu adanya faktor
pertumbuhan yang stroma yang berlebihan serta meningkatnya lama hidup sel-sel
prostat karena berkurangnya sel-sel yang mati sehingga menyebabkan terjadinya
perubahan materi genetik. Perubahan prolife sehingga menyebabkan produksi sel
stroma dan sel epitel kelenjar prostat menjadi berlebihan sehingga terjadi Ca
Prostat (Price, 1995).
11

Kanker akan menyebakan penyempitan lumen uretra pars prostatika dan


akan menghambat aliran urin,. Keadaan ini menybabkan penekanan intraavesikal,
untuk dapat mengeluarkan urin buli-buli harus dapat berkontraksi kuat guna
melawan tahanan itu. Kontraksi yang terus-menerus menyebabkan perubahan
anatomik dari buli-buli berupa hipertrofi detrusor, trabekulasi, terbentuknya
selula, sakula, dan divetikel buli-buli. Fase penebalan ototdetrusor ini disebut fase
kompensasi (Purnomo,2000).
Perubahan struktur pada buli-buli dirasakan oleh pasien sebagai keluhan
pada saluran kemih sebelah bawah atau lower urinary track symptom (LUTS)
yang dahulu dikenal dengan gejal-gejal prostatismus, dengan semakin
meningkatnya retensi uretra, otot detrusor masuk ke dalam fase dekompensaasi
dan akhirnya tidak mampu lagi untuk berkontraksi sehingga terjadi retensi urin.
Tekanan intravesikal yang semakin tinggi akan diteruskan ke seluruh bagian buli-
buli ke ureter atau terjadi refluk vesico-ureter. Keadaan ini jika berlangsung terus
akan mengakibatkan hidroureter, hidronefrosis,bahkan akhirnya akan dapat jatuh
kedalam gagal ginjal (Price, 1995).
Berkembangangnya tumor yang terus menerus dapat terjadi perluasan
langsung ke uretra, leher kandung kemih dan vesika semmininalis. Ca Prostat
dapat juga menyebar melalui jalur hematogen yaitu tulang – tulang pelvis vertebra
lumbalis, femur dan kosta. Metastasis organ adalah pada hati dan paru
(Purnomo,2000).
Proses patologis lainnya adalah penimbunan jaringan kolagen dan elastin
diantara otot polos yang berakibat melemahnya kontraksi otot. Selain itu terdapat
degenerasi sel syaraf yang mempersarafi otot polos. Hal ini dapat mengakibatkan
terjadinya hipersensitivitas pasca fungsional, ketidakseimbangan neurotransmiter,
dan penurunan input sensorik, sehingga otot detrusor tidak stabil. Karena fungsi
otot vesika tidak normal, maka terjadi peningkatan residu urin yang menyebabkan
hidronefrosis dan disfungsi saluran kemih atas. (Purnomo,2000).
12

H. WOC
13

I. Pemeriksaan Penunjang

1. Inspeksi buli-buli: ada/ tidaknya penonjolan perut di daerah supra pubik (


buli-buli penuh / kosong )
2. Palpasi buli-buli: Tekanan didaerah supra pubik menimbulkan rangsangan
ingin kencing bila buli-buli berisi atau penuh.Terasa massa yang kontraktil
dan “Ballottement”.
3. Perkusi: Buli-buli yang penuh berisi urin memberi suara redup.
4. Colok dubur.

Pemeriksaan colok dubur dapat memberi kesan keadaan tonus sfingter


anus, mukosa rektum, kelainan lain seperti benjolan di dalam rektum dan prostat.
Pada perabaan melalui colok dubur harus di perhatikan konsistensi prostat (pada
pembesaran prostat jinak konsistensinya kenyal), adakah asimetris adakah nodul
pada prostat , apa batas atas dapat diraba.

Dengan colok dubur besarnya prostat dibedakan :

a. Grade 1 : Perkiraan beratnya sampai dengan 20 gram


b. Grade 2 : Perkiraan beratnya antara 20-40 gram
c. Grade 3 : Perkiraan beratnya lebih dari 40 gram

5. Laboratorium
a. Darah lengkap sebagai data dasar keadaan umum penderita .
b. Gula darah dimak sudkan untuk mencari kemungkinan adanya penyakit
diabetus militus yang dapat menimbulkan kelainan persarafan pada buli-
buli (buli-buli nerogen).
c. Faal ginjal (BUN, kreatinin serum) diperiksa untuk mengetahui
kemungkinan adanya penyulit yang mengenai saluran kemih bagian atas .
d. Analisis urine diperiksa untuk melihat adanya sel leukosit, bakteri, dan
infeksi atau inflamasi pada saluran kemih.
e. Pemeriksaan kultur urine berguna dalam mencari jenis kuman yang
menyebadkan infeksi dan sekligus menentukan sensitifitas kuman terhadap
beberapa anti mikroba yang diujikan.
14

6. Flowmetri.

Flowmetri adalah alat kusus untuk mengukur pancaran urin dengan satuan
ml/detik. Penderita dengan sindroma protalisme perlu di periksa dengan
flowmetri sebelum dan sesudah terapi.

7. Radiologi.

a. Foto polos abdomen, dapat dilihat adanya batu pada traktus urinarius,
pembesaran ginjal atau buli-buli, adanya batu atau kalkulosa prostat dan
kadang kadang dapat menunjukkan bayangan buli-buli yang penuh terisi
urine, yang merupakan tanda dari suatu retensi urine.
b. Pielografi intra vena, dapat dilihat supresi komplit dari fungsi renal,
hidronefrosis, dan hidroureter, fish hook appearance ( gambaran ureter
berkelok kelok di vesikula ) inclentasi pada dasar buli-buli, divertikel,
residu urine atau filling defect divesikula.
c. Ultrasonografi (USG), dapat dilakukan secara transabdominal atau
trasrektal (trasrektal ultrasonografi = TRUS) Selain untuk mengetahui
pembesaran prostat < pemeriksaan USG dapatpula menentukan volume
buli-buli, meng ukur sisa urine dan keadaan patologi lain seperti divertikel,
tumor dan batu .Dengan TRUS dapat diukur besar prostat untuk
menentukan jenis terapi yang tepat. Perkiraan besar prostat dapat pula
dilakukan dengan USG suprapubik.
d. Cystoscopy (sistoskopi) pemeriksaan dengan alat yang disebut dengan
cystoscop. Pemeriksaan ini untuk memberi gambaran kemungkinan tumor
dalam kandung kemih atau sumber perdarahan dari atas bila darah datang
dari muara ureter, atau batu radiolusen didalam vesika. Selain itu dapat
juga memberi keterangan mengenahi besarprostat dengan mengukur
panjang uretra pars prostatika dan melihat penonjalan prostat kedalam
uretra.
15

8. Kateterisasi

Mengukur “rest urine “ Yaitu mengukur jumlah sisa urine setelah miksi
sepontan dengan cara kateterisasi . Sisa urine lebih dari 100 cc biasanya
dianggap sebagai batas indikasi untuk melakukan intervensi pada hiper
tropi prostat.

J. Penatalaksanaan Kanker Prostat


1. Penatalaksanaan kanker terlokalisir atau locally advanced
USIA
Risiko
>80 tahun 71-80 tahun ≤ 70 tahun
Rendah: 1. Monitoring 1. Monitoring aktif 1. Prostatektomi radikal
T: 1a atau 1c aktif 2. EBRT atau 2. EBRT atau
dan Brakhiterapi Brakhiterapi
Gleason:2-5 permanen permanen
dan PSA: 3. Terapi 3. Monitoring aktif
<10 dan investigasional 4. Terapi investigasional
Temuan
biopsi:
Unilateral
<50%
Sedang: 1. Monitoring aktif 1. EBRT, 1. Prostatektomi radikal
T: 1b, 2a atau 2. EBRT, Brakhiterapi 2. EBRT,

Gleason: 6, atau Brakhiterapi permanen atau Brakhiterapi


3+4 atau permanen kombinasi permanen atau
PSA: < 10 atau 2. Prostatektomi radikal kombinasi
atau kombinasi 3. Terapi 3. Terapi investigasional
Temuan 3. Terapi investigasional
biopsi: investigasional
Bilateral,
<50%
16

Tinggi: 1. Terapi hormonal 1. EBRT+terapi 1. EBRT+ terapi


T: 2b, 3a, 3b atau 2. EBRT+terapi hormonal (2-3 hormonal (2-3
Gleason: ≥ 4+3 hormonal thn) thn)
atau PSA: 10-20 3. Terapi 2. Terapi hormonal 2. Prostatektomi

atau Temuan investigasional 3. Prostatektomi radikal + diseksi


biopsi: > 50% radikal + diseksi KGB pelvis
perineural, duktal KGB pelvis 3. Terapi investigasional
4. Terapi 4. Terapi hormonal
investigasional
Sangat tinggi: 1. Terapi hormonal 1. Terapi hormonal 1. EBRT+ terapi
T: 4 atau 2. EBRT+ 2. EBRT+ terapi hormonal
Gleason: ≥ 8, terapi hormonal 2. Terapi hormonal
atau PSA: > hormon 3. Sistemik terapi 3. Terapi
20, atau al non hormonal sistemik+tera
Temuan 3. Terapi (kemoterapi) pi hormonal
biopsi: investigasional 4. Terapi
limfovaskuler multimod
, al
neuroendokrin investigas
ional

2. Penatalaksanaan kanker yang telah metastasis

Androgen Deprivation Therapy(ADT) merupakan baku emas terapi


Kanker prostat lanjut setelah penemuan Huggins dan Hodges di tahun
1941.Terapi ini dapat berupa kastrasi dengan obat atau pembedahan
(orkhidektomi). Tingkat kastrasi yang diinginkan adalah kadar testosteron <
20ng/dL.

Pemberian Lutenising Hormone Releasing-Hormone(LHRH) agonis


seharusnya disertai pemberian anti-androgen untuk mencegah flare-up sedikitnya
14 hari. Bermacam-macam strategi yang digunakan dalam penggunaan ADT ini,
menurut jenis blokadenya dapat komplit (Complete Androgen Blokade/CAB)
17

LHRH agonis ditambah anti-androgen ataupun tunggal (hanya LHRH agonis


saja). Menurut lama waktu pemberian terbagi atas: kontinyu dan intermiten.
Menurut awal waktu pemberian: segera (immediate) atau ditunda (deferred).
Berdasarkan hasil studi review maupun meta-analisis keuntungan blokade
komplit (CAB) terhadap terapi tunggal hanya < 5%. Pemberian CAB jangka
panjang akan menginduksi terjadinya sel independen androgen, dalam jangka
waktu rata-rata 2 tahun. Oleh karena itu disarankan penghentian pemberian obat
secara berkala (intermiten) yang dibuktikan dari beberapa penelitian penting
bahwa hasilnya tidak berbeda.Pemberian ADT segera akan menurunkan progresi
penyakit dan komplikasi secara bermakna dibandingkan ditunda. Tetapi hal ini
tidak meningkatkan cancer-specific survival.

1. Kanker Prostat dengan Kastrasi dan Hormon Refrakter (Castration and


Hormone Refractory Prostate Cancer / CRPC-HRPC)
Timbulnya resistensi terhadap terapi hormonal merupakan isu yang
penting pada pemberian terapi hormonal. Mekanisme resistensi terhadap terapi
hormonal masih belum diketahui secara pasti. Kanker prostat saat ini memiliki
sel-sel yang bersifat heterogen (androgen dependen dan androgen independen).
Berbagai istilah yang berbeda telah digunakan untuk menggambarkan
Kanker prostat yang kambuh setelah terapi ablasi hormonal awal, termasuk
HRPC, androgen-independen kanker dan hormon-independen kanker. Adalah
penting untuk membedakan CRPC dari HRPC. CRPC masih responsif terhadap
terapi hormon lini kedua, termasuk penghentian anti-androgen, estrogen dan
kortikosteroid. Sedangkan HRPC adalah resisten terhadap semua tindakan
hormonal. Untuk menegakkan diagnosis kanker prostat refrakter hormon, harus
memenuhi kriteria di bawah ini: Peningkatan PSA atau peningkatan lesi tulang
atau jaringan lunak walaupun sudah diberikan terapi hormonal sekunder dan
Antiandrogen withdrawal minimal 4 minggu dimana kadar testosteron serum telah
mencapai ambang kastrasi (< 20ng/dL).
18

2. Penatalaksanaan Kemoterapi (Cytotoxic Therapy)


a. Pada penderita yang hanya mengalami peningkatan PSA, maka 2 kali
peningkatan PSA berturut-turut di atas batas kadar nadir yang sebelumnya
harus diketahui.
b. Sebelum pengobatan, kadar PSA serum harus di atas > 5 ng/mL untuk
memastikan interpretasi efek pengobatan secara pasti.
c. Keuntungan dan efek samping pengobatan sitotoksik harus didiskusikan
dengan setiap individu penderita.
a. Pada penderita dengen metastasis HRPC, dan kandidat untuk terapi
sitotoksik, docetaxel 75 mg/m2 + Prednison 3x 10mg/hari dengan interval
3 minggu sampai 6 siklus. Terapi ini memberikan keuntungan survival
yang bermakna.

K. Komplikasi Kanker Prostat

Komplikasi dari kanker prostat dapat terjadi dan biasanya disebabkan oleh
kanker itu sendiri atau karena pengobatan. Inkontinensia urin dan disfungsi ereksi
adalah yang paling ditakuti orang yang memiliki kanker prostat. Namun ada
terapi untuk membantu meringankan atau mengobati kondisi ini. Komplikasi dari
kanker prostat:

1. Kanker menyebar (metastasis), kanker prostat dapat bermetastasis ke


organ di dekatnya, tulang, paru-paru atau kelenjar getah bening.
Pengobatan untuk kanker prostat yang telah menyebar dapat dilakukan
dengan terapi hormon, terapi radiasi dan kemoterapi.
2. Nyeri sekali. kanker telah mencapai tulang, Pengobatan ditujukan untuk
terapikanker sering dapat menghilangkan rasa nyeri yang signifikan.
3. Kencing ngompol (inkontinensia), baik kanker prostat dan perawatannya
dapat menyebabkan inkontinensia. Pengobatan tergantung pada jenis
inkontinensia, Perawatan termasuk modifikasi perilaku, latihan untuk
memperkuat otot panggul, obat-obatan dan kateter.
4. Disfungsi ereksi atau impotensi, disfungsi ereksi dapat diakibatkan kanker
prostat atau terapinya , termasuk perawatan bedah, radiasi atau hormon.
19

Beberapa obat dengan alat vakum yang akan membantu mengatasi


disfungsi ereksi ini.
5. Depresi,banyak orang mungkin merasa tertekan setelah didiagnosa
menderita kanker prostat atau setelah mencoba untuk mengatasi efek
samping pengobatan. Perawatan seperti konseling atau antidepresan dapat
membuat perbedaan yang signifikan.

II. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA KANKER PROSTAT


A. PENGKAJIAN
Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan proses keperawatan.
pengumpulan data yang akurat dan sistematis akan membantu penentuan status
kesehatan dan pola pertahanan klien, mengidentifikasi kekuatan dan kebutuhan
klien, serta merumuskan diagnosis keperawatan. Pengkajian dibagi menjadi 2
tahap, yaitu pengkajian pre operasi prostektomi dan penkajian post operasi
prostatektomi
1. Pengkajian pre operasi prostatektomi
Pengkajian ini dilakukan sejak klien ini MRS sampai saat operasinya, yang
meliputi :
a. Identitas klien
Meliputi nama, jenis kelamin, umur, agama / kepercayaan, status
perkawinan, pendidikan, pekerjaan, suku/ Bangsa, alamat, no. rigester dan
diagnosa medis.
b. Riwayat penyakit sekarang
Pada klien ca prostat keluhan keluhan yang ada adalah frekuensi ,
nokturia, urgensi, disuria, pancaran melemah, rasa tidak lampias/ puas
sehabis miksi, hesistensi, intermitency, dan waktu miksi memenjang dan
akirnya menjadi retensio urine.
c. Riwayat penyakit dahulu .
Adanya penyakit yang berhubungan dengan saluran perkemihan, misalnya
ISK (Infeksi Saluran Kencing ) yang berulang. Penyakit kronis yang
pernah di derita. Operasi yang pernah di jalani kecelakaan yang pernah
dialami adanya riwayat penyakit DM dan hipertensi.
20

d. Riwayat penyakit keluarga.


Adanya riwayat keturunan dari salah satu anggota keluarga yang
menderita penyakit ca prostat Anggota keluargayang menderita DM, asma,
atau hipertensi.
e. Riwayat psikososial
Intra personal
Kebanyakan klien yang akan menjalani operasi akan muncul kecemasan.
Kecemasan ini muncul karena ketidaktahuan tentang prosedur
pembedahan. Tingkat kecemasan dapat dilihat dari perilaku klien,
tanggapan klien tentang sakitnya.
Inter personal
Meliputi peran klien dalam keluarga dan peran klien dalam masyarakat.
f. Pola fungsi kesehatan
Pola persepsi dan tatalaksana hidup sehat
Klien ditanya tentang kebiasaan merokok, penggunaan tembakau,
penggunaan obat-obatan, penggunaan alkhohol dan upaya yang biasa
dilakukan dalam mempertahankan kesehatan diri (pemeriksaan kesehatan
berkala, gizi makanan yang adekuat
g. Pola nutrisi dan metabolisme
Klien ditanya frekuensi makan, jenis makanan, makanan pantangan,
jumlah minum tiap hari, jenis minuman, kesulitan menelan atau keadaan
yang mengganggu nutrisi seperti nause, stomatitis, anoreksia dan
vomiting. Pada pola ini umumnya tidak mengalami gangguan atau
masalah.
h. Pola eliminasi
Klien ditanya tentang pola berkemih, termasuk frekuensinya, ragu ragu,
menetes – netes, jumlah klien harus bangun pada malam hari untuk
berkemih, kekuatan system perkemihan. Klien juga ditanya
apakah mengedan untuk mulai atau mempertahankan aliran kemih. Klien
ditanya tentang defikasi, apakah ada kesulitan seperti konstipasi akibat dari
prostrusi prostat kedalam rectum.
i. Pola tidur dan istirahat
21

Klien ditanya lamanya tidur, adanya waktu tidur yang berkurang karena
frekuensi miksi yang sering pada malam hari ( nokturia ). Kebiasaan tidur
memekai bantal atau situasi lingkungan waktu tidur juga perlu ditanyakan.
Upaya mengatasi kesulitan tidur.
j. Pola aktifitas.
Klien ditanya aktifitasnya sehari – hari, aktifitas penggunaan waktu
senggang, kebiasaan berolah raga. Apakah ada perubahan sebelum sakit
dan selama sakit. Pada umumnya aktifitas sebelum operasi tidak
mengalami gangguan, dimana klien masih mampu memenuhi kebutuhan
sehari – hari sendiri.
k. Pola hubungan dan peran
Klien ditanya bagaimana hubungannya dengan anggota keluarga, pasien
lain, perawat atau dokter. Bagai mana peran klien dalam keluarga. Apakah
klien dapat berperan sebagai mana seharusnya.
l. Pola persepsi dan konsep diri
Meliputi informasi tentang perasaan atau emosi yang dialami atau
dirasakan klien sebelum pembedahan . Biasanya muncul kecemasan dalam
menunggu acara operasinya. Tanggapan klien tentang sakitnya dan
dampaknya pada dirinya. Koping klien dalam menghadapi sakitnya,
apakah ada perasaan malu dan merasa tidak berdaya.
m. Pola sensori dan kognitif
Pola sensori meliputi daya penciuman, rasa, raba, lihat dan pendengaran
dari klien. Pola kognitif berisi tentang proses berpikir, isi pikiran, daya
ingat dan waham. Pada klien biasanya tidak terdapat gangguan atau
masalah pada pola ini.
n. Pola reproduksi seksual
Klien ditanya jumlah anak, hubungannya dengan pasangannya,
pengetahuannya tantangsek sualitas. Perlu dikaji pula keadaan seksual
yang terjadi sekarang, masalah seksual yang dialami sekarang ( masalah
kepuasan, ejakulasi dan ereksi ) dan pola perilaku seksual.
o. Pola penanggulangan stress
22

p. Menanyakan apa klien merasakan stress, apa penyebab stress, mekanisme


penanggulangan terhadap stress yang dialami. Pemecahan masalah
biasanya dilakukan klien bersama siapa. Apakah mekanisme
penanggulangan stressor positif atau negatif.
q. Pola tata nilai dan kepercayaan
Klien menganut agama apa, bagaimana dengan aktifitas keagamaannya.
Kebiasaan klien dalam menjalankan ibadah.

2. Pemeriksaan fisik
a. Status kesehatan umum
Keadaan penyakit, kesadaran, suara bicara, status/ habitus, pernafasan,
tekanan darah, suhu tubuh, nadi.
b. Kulit
Apakah tampak pucat, bagaimana permukaannya, adakah kelainan
pigmentasi, bagaimana keadaan rambut dan kuku klien.
c. Kepala
Bentuk bagaimana, simetris atau tidak, adakah penonjolan, nyeri kepala
atau trauma pada kepala.
d. Muka
Bentuk simetris atau tidak adakah odema, otot rahang bagaimana
keadaannya, begitu pula bagaimana otot mukanya.
e. Mata
Bagainama keadaan alis mata, kelopak mata odema atau tidak. Pada
konjungtiva terdapat atau tidak hiperemi dan perdarahan. Slera tampak
ikterus atau tidak.
f. Telinga
Ada atau tidak keluar secret, serumen atau benda asing. Bagaimana
bentuknya, apa ada gangguan pendengaran.
g. Hidung
Bentuknya bagaimana, adakah pengeluaran secret, apa ada obstruksi atau
polip, apakah hidung berbau dan adakah pernafasan cuping hidung.
h. Mulut dan faring
23

Adakah caries gigi, bagaimana keadaan gusi apakah ada perdarahan atau
ulkus. Lidah tremor ,parese atau tidak. Adakah pembesaran tonsil.
i. Leher
Bentuknya bagaimana, adakah kaku kuduk, pembesaran kelenjar limphe.
j. Thoraks
Betuknya bagaimana, adakah gynecomasti.
k. Paru
Bentuk bagaimana, apakah ada pencembungan atau penarikan. Pergerakan
bagaimana, suara nafasnya. Apakah ada suara nafas tambahan seperti
ronchi , wheezing atau egofoni.
l. Jantung
Bagaimana pulsasi jantung (tampak atau tidak).Bagaimana dengan iktus
atau getarannya.
m. Abdomen
Bagaimana bentuk abdomen. Pada klien dengan keluhan
retensi umumnya ada penonjolan kandung kemih pada supra pubik.
Apakah ada nyeri tekan, turgornya bagaimana. Pada klien biasanya
terdapat hernia atau hemoroid. Hepar, lien, ginjal teraba atau tidak.
Peristaklit usus menurun atau meningkat.
n. Genitalia dan anus
Pada klien biasanya terdapat hernia. Pembesaran prostat dapat teraba pada
saat rectal touché. Pada klien yang terjadi retensi urine, apakah trpasang
kateter, Bagaimana bentuk scrotum dan testisnya. Pada anus biasanya ada
haemorhoid.
o. Ekstrimitas dan tulang belakang
Apakah ada pembengkakan pada sendi. Jari – jari tremor apa tidak.
Apakah ada infus pada tangan. Pada sekitar pemasangan infus ada tanda –
tanda infeksi seperti merah atau bengkak atau nyeri tekan. Bentuk tulang
belakang bagaimana.

3. Pemeriksaan diagnostik
24

Untuk pemeriksaan diagnostik sudah dijabarkan penulis pada konsep


dasar. Pengkajian post operasi prostatektomi. Pengkajian ini dilakukan setelah
klien menjalani operasi, yang meliputi:
a. Keluhan utama
Keluhan pada klien berbeda – beda antara klien yang satu dengan yang
lain. Kemungkinan keluhan yang bisa timbul pada klien post operasi
prostektomi adalah keluhan rasa tidak nyaman, nyeri karena spasme
kandung kemih atau karena adanya bekas insisi pada waktu pembedahan.
Hal ini ditunjukkan dari ekspresi klien dan ungkapan dari klien sendiri.
b. Keadaan umum
Kesadaran, GCS, ekspresi wajah klien, suara bicara.
c. Sistem respirasi
Bagaimana pernafasan klien, apa ada sumbatan pada jalan nafas atau tidak.
Apakah perlu dipasang O2. Frekuensi nafas , irama nafas, suara nafas. Ada
wheezing dan ronchi atau tidak. Gerakan otot Bantu nafas seperti gerakan
cuping hidung, gerakan dada dan perut. Tanda – tanda cyanosis ada atau
tidak.
d. Sistem sirkulasi
Yang dikaji: nadi ( takikardi/bradikardi, irama ), tekanan darah, suhu
tubuh, monitor jantung ( EKG ).
e. Sistem gastrointestinal
Hal yang dikaji: Frekuensi defekasi, inkontinensia alvi, konstipasi /
obstipasi, bagaimana dengan bising usus, sudah flatus apa belum, apakah
ada mual dan muntah.
f. Sistem neurology
Hal yang dikaji : keadaan atau kesan umum, GCS, adanya nyeri kepala.
g. Sistem muskuloskleletal
Bagaimana aktifitas klien sehari – hari setelah operasi. Bagaimana
memenuhi kebutuhannya. Apakah terpasang infus dan dibagian mana
dipasang serta keadaan disekitar daerah yang terpasang infus. Keadaan
ekstrimitas.
h. Sistem eliminasi
25

Apa ada ketidaknyamanan pada supra pubik, kandung kemih penuh .


Masih ada gangguan miksi seperti retensi. Kaji apakah ada tanda – tanda
perdarahan, infeksi. Memakai kateter jenis apa. Irigasi kandung kemih.
Warna urine dan jumlah produksi urine tiap hari. Bagaimana keadaan
sekitar daerah pemasangan kateter.
i. Terapi yang diberikan setelah operasi
Infus yang terpasang, obat – obatan seperti antibiotika, analgetika, cairan
irigasi kandung kemih.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Diagnosa sebelum operasi

a. Perubahan eliminasi urine: frekuensi, urgensi, hesistancy, inkontinensi,


retensi, nokturia atau perasaan tidak puas setelah miksi berhubungan
dengan obstruksi mekanik : pembesaran prostat.
b. Nyeri berhubungan dengan penyumbatan saluran kencing sekunder
terhadap pelebaran
c. Gangguan tidur dan istirahat berhubungan dengan sering terbangun
sekunder terhadap kerusakan eliminasi: retensi disuria, frekuensi,
nokturia.

2. Diagnosa setelah operasi

a. Nyeri berhubungan dengan spasme kandung kemih dan insisi sekunder


pada prostatektomi
b. Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan obstruksi sekunder dari
prostatektomi bekuan darah odema .
c. Risiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif : alat selama
pembedahan, kateter, irigasi kandung kemih sering.
26

d. Kurang pengetahuan: tentang prostatektomi sehubungan dengan kurang


informasi
e. Gangguan tidur dan istirahat berhubungan dengan nyeri.
27

C. Rencana Keperawatan

NO DIAGNOSA TUJUAN  INTERVENSI  RASIONAL

1 Perubahan eliminasi Tujuan: Pola eliminasi  Jelaskan pada klien tentang  Meningkatkan pengetahuan
urine: frekuensi, normal . perubahan dari pola eliminasi. klien sehingga klien kooperatif dalam
urgensi, hesistancy, Kriteria hasil : tindakan keperawatan.
inkontinensi, retensi, Klien dapat berkemih  Dorong klien untuk berkemih tiap 2  Meminimalkan retensi urine, distensi
nokturia atau dalam jumlah normal, tidak – 4 jam dan bila dirasakan . yang berlebihan pada kandung kemih
perasaan tidak puas teraba distensi kandung  Anjurkan klien minum sampai 3000  Peningkatan aliran cairan,
setelah miksi kemih ml sehari, dalam toleransi jantung mempertahankan perfusi ginjal dan
berhubungan dengan Residu pasca berkemih bila diindikasikan membersihkan ginjal dan kandung
obstruksi mekanik : kurang dari 50 ml kemih dari pertumbuhan bakteri.
pembesaran prostat. Klien dapat berkemih  Perkusi / palpasi area supra pubik.  Distensi kandung kemih dapat
volunter dirasakan di area supra pubik.
Urinalisa dan kultur
hasilnya negatif  5. Observasi aliran dan kekuatan  5. Observasi aliran dan
Hasil laboratorium urine, ukur residu urine pasca kekuatan urine untuk
fungsi ginjal normal berkemih. Jika volume residu urine mengevaluasi adanya obstruksi
lebih besar dari 100 cc maka
jadwalkan program kateterisasi
28

intermiten.
2. Nyeri berhubungan Tujuan : Klien  Kaji nyeri, perhatikan lokasi,  1. Memberi informasi untuk
dengan penyumbatan menunjukan bebas dari intensitas ( skala 1-10 ), dan membantu dalam menentukan
saluran kencing ketidaknyamanan lamanya. pilihan Intervensi
sekunder terhadap Kriteria hasil :  Beri tindakan kenyamanan, contoh:  Meningkatkan relaksasi, memfokuskan
pelebaran - Klien melaporkan nyeri membantu klien melakukan posisi kembali perhatian dan dapat
hilang / terkontrol yang nyaman, mendorong meningkatkan kemampuan koping.
- Ekspresi wajah klien rileks penggunaan relaksasi / latihan nafas
- Klien mampu untuk dalam.
istirahat dengan cukup  Beri kateter jika diinstruksikan  Retensi urine menyebabkan infeksi
- Tanda-tanda vital dalam untuk retensi urine yang akut : saluran kemih, hidro ureter dan hidro
batas normal mengeluh ingin kencing tapi tidak nefrosis
bisa.
 Observasi tanda – tanda vital.  Mengetahui perkembangan lebih lanjut
 5. Kolaborasi dengan dokter  5. Untuk menghilangkan nyeri hebat
untuk memberi obat sesuai indikasi, / berat, memberikan relaksasi mental
contoh: eperidin ( Dumerol ) dan fisik.
3. Gangguan tidur Tujuan: Kebutuhan tidur dan  Jelaskan pada klien dan keluarga  Meningkatkan pengetahuan klien
dan istirahat istirahat terpenuhi. penyebab gangguan tidur / istirahat sehingga klien mau kooperatif terhadap
berhubungan dengan Kriteria hasil: dan kemungkinan cara untuk tindakan keperawatan.
29

sering terbangun Klien mampu istirahat / menghindarinya.


sekunder terhadap tidur dengan waktu yang  Ciptakan suasana yang mendukung  Suasana yang tenang akan mendukung
kerusakan eliminasi: cukup. dengan mengurangi kebisingan. istirahat klien.
retensi disuria, Klien mengungkapkan  3. Batasi masukan minuman  3. Menentukan rencana untuk
frekuensi, nokturia. sudah bisa tidur. yang mengandung kafein. mengatasi gangguan.
Klien mampu
menjelaskan faktor
penghambat tidur.
4. Nyeri berhubungan Tujuan: Nyeri berkurang  Jelaskan pada klien tentang gejala  Kien dapat mendeteksi gajala dini
dengan spasme atau hilang. dini spasmus kandung kemih. spasmus kandung kemih.
kandung kemih dan Kriteria hasil :
insisi sekunder pada Klien mengatakan nyeri  Pemantauan klien pada interval  sehingga obat – obatan bisa diberikan.
prostatektomi berkurang / hilang. yang teratur selama 48 jam, untuk
Ekspresi wajah klien mengenal gejala – gejala dini dari
tenang. spasmus kandung kemih.
Klien akan menunjukkan  Jelaskan pada klien bahwa  klien bahwa ketidaknyamanan hanya
ketrampilan relaksasi. intensitas dan frekuensi akan temporer
Klien akan tidur / berkurang dalam 24 sampai 48 jam.
istirahat dengan tepat.
Tanda – tanda vital  Beri penyuluhan pada klien agar  Mengurang kemungkinan spasmus.
30

dalam batas normal. tidak berkemih ke seputar kateter.


Keluarnya urine melalui  Anjurkan pada klien untuk tidak  Mengurangi tekanan pada luka insisi
sekitar kateter sedikit. duduk dalam waktu yang lama
sesudah tindakan TUR-P.
 Ajarkan penggunaan teknik  Menurunkan tegangan otot,
relaksasi, termasuk latihan nafas memfokuskan kembali perhatian dan
dalam, visualisasi. dapat meningkatkan kemampuan
koping.
 Jagalah selang drainase urine tetap  Sumbatan pada selang kateter oleh
aman dipaha untuk mencegah bekuan darah dapat menyebabkan
peningkatan tekanan pada kandung distensi kandung kemih dengan
kemih. Irigasi kateter jika terlihat peningkatan spasme.
bekuan pada selang.
 Observasi tanda – tanda vital.  Mengetahui perkembangan lebih lanjut
 9. Kolaborasi dengan dokter  9. nyeri dan mencegah spasmus
untuk memberi obat – obatan ( kandung kemih.
analgesik atau anti spasmodik )
5. Perubahan eliminasi Tujuan: Eliminasi urine  Pertahankan irigasi kandung kemih  Mencegah retensi pada saat dini.
urine berhubungan normal dan tidak terjadi yang konstan selama 24
dengan obstruksi retensi urine. jam pertama
31

sekunder dari Kriteria hasil:  Pertahankan posisi dower kateter  dapat menghambat aliran urine.
prostatektomi bekuan Klien akan berkemih dan irigasi kateter.
darah odema . dalam jumlah normal tanpa  Anjurkan intake cairan 2500-3000  Mencegah bekuan darah menyumbat
retensi. ml sesuai toleransi. aliran urine.
Klien akan menunjukan
perilaku yang meningkatkan  4. Setalah kateter diangkat,  4. Melancarkan aliran urine.
kontrol kandung kemih. pantau waktu, jumlah urine dan
Tidak terdapat bekuan ukuran aliran. Perhatikan keluhan
darah sehingga urine lancar rasa penuh kandung kemih,
lewat kateter. ketidakmampuan berkemih, urgensi
atau gejala – gejala retensi.
6. Potensial infeksi Tujuan: Klien tidak  Pertahankan sistem kateter steril,  Mencegah pemasukan bakteri dan
berhubungan dengan menunjukkan tanda – tanda berikan perawatan kateter dengan infeksi.
prosedur invasif : alat infeksi . steril.
selama pembedahan, Kriteria hasil:  Anjurkan intake cairan yang cukup  Meningkatkan output urine sehingga
kateter, irigasi Klien tidak mengalami ( 2500 – 3000 ) sehingga dapat resiko terjadi ISK dikurangi dan
kandung kemih infeksi. menurunkan potensial infeksi. mempertahankan fungsi ginjal.
sering. Dapat mencapai waktu  Pertahankan posisi urobag dibawah.  Menghindari refleks balik urine yang
penyembuhan. dapat memasukkan bakteri ke kandung
Tanda – tanda vital kemih.
32

dalam batas normal dan  Observasi tanda – tanda vital,  Mencegah sebelum terjadi shock.
tidak ada tanda – tanda laporkan tanda – tanda shock dan
shock. demam.
 Observasi urine: warna, jumlah,  Mengidentifikasi adanya infeksi.
bau.
 6. Kolaborasi dengan dokter  6. Untuk mencegah infeksi dan
untuk memberi obat antibiotik. membantu proses penyembuhan
7. Kurang pengetahuan: Tujuan: Klien dapat  Beri penjelasan untuk mencegah  Dapat menimbulkan perdarahan .
tentang prostatektomi menguraikan pantangan aktifitas berat selama 3-4 minggu .
sehubungan dengan kegiatan serta kebutuhan  Pemasukan cairan sekurang–  Mengedan bisa menimbulkan
kurang informasi . berobat lanjutan . kurangnya 2500-3000 ml/hari. perdarahan, pelunak tinja bisa
Kriteria hasil: mengurangi kebutuhan mengedan pada
Klien akan melakukan waktu BAB
perubahan perilaku.  3. Kosongkan kandung kemih  3. Mengurangi potensial infeksi dan
Klien berpartisipasi apabila kandung kemih sudah gumpalan darah .
dalam program pengobatan. penuh .
Klien akan mengatakan
pemahaman pada pantangan
kegiatan dan kebutuhan
berobat lanjutan .
33

8. Gangguan tidur Tujuan: Kebutuhan tidur dan  Jelaskan pada klien dan keluarga  meningkatkan pengetahuan klien
dan istirahat istirahat terpenuhi. penyebab gangguan tidur dan sehingga mau kooperatif dalam tindakan
berhubungan dengan Kriteria hasil: kemungkinan cara untuk perawatan .
nyeri. - Klien mampu beristirahat / menghindari.
tidur dalam waktu yang  Ciptakan suasana yang mendukung,  Suasana tenang akan mendukung
cukup. suasana tenang dengan mengurangi istirahat .
- Klien mengungkapan kebisingan .
sudah bisa tidur .  Beri kesempatan klien untuk  Menentukan rencana mengatasi
- Klien mampu menjelaskan mengungkapkan penyebab gangguan .
faktor penghambat tidur . gangguan tidur.
 Kolaborasi dengan dokter untuk  4. Mengurangi nyeri sehingga klien
pemberian obat yang dapat bisa istirahat dengan cukup .
mengurangi nyeri ( analgesik ).
34

Pengkajian

1. Biodata
Data yang di peroleh penulis saat pengkajiaan pada tanggal 09 Mei 2012
pukul 18.00 WIB yaitu nama Tn.A, nomor regristrasi 223283, tempat tanggal
lahir Wonogiri 30 Desember 1949 ,usia 63 tahun, pendidikan SD, alamat Dung
Pelem RT 02/IV Wonogiri, agama Islam, suku bangsa Jawa, pekerjaan petani.
Nama penanggung jawab Ny. S, pekerjaan wiraswasta, agama Islam, alamat Dung
Pelem RT 02/IV Wonogiri, suku bangsa Jawa, hubungan dengan pasien adalah
anak. Tn.A masuk rumah sakit pada tanggal 06 Mei 2012, dengan diagnosa ca
prostat.

1. Keluhan utama
Sulit buang air kecil
2. Anamnesis

Dialami sejak 1 bulan yang lalu, pasien kadang harus menunggu lama dan mengejan saat
ingin kencng. Saat buang air kecil pancaran urine melemah dan terputus-putus serta menetes
saat akhri buang air kecil dan rasa tidak selesai kecing. Pasien juga mengeluh sering kencing
setiap dua sampai sempat kali dalam dua jam, pasien kadang sulit menahan kencing, pasien
juga mengaku sering terbangun saat tengah malam hanya untuk buang air kecil sebanyak tiga
kali pasien merasa terganggu untuk melakukan aktifitas sehari-hari karena keluhan sulit
buang air kecil. Kondisi pasien pada saat ini terjadi penurunan berat badan 5 Kg dalam 2
bulan.

Riwayat buang air kecil berpassir tidak ada, riwayat buang air kecil bercampur darah tidak
ada. Riwayat nyeri pinggang tidak ada. Riwayat mual-muntah tidak ada, riwayat demam
tidak ada.

Riwayat penyakit sebelumnya penyakit gula disangkal, riwayat penyakit tekanan darah tinggi
tidak ada, riwayat penyakit asma tidak ada, riwayat penyakit usus turun atau wasir tidak ada.

Pemeriksaan fisik

Status generalisata, kesadaran komposmentis

BB : 50 Kg

TB : 160 Cm
35

IMT :

Status/vital sign

Tekanan darah :

Suhu :

Respirasi :

Denyut Nadi :

Status Lokalis

1. Kepala
Bentuk : Normosefal
Rambut : hitam, lurus, sukar dicabut

2. Mata
Konjungtiva : tidak Nampak anemis
Sklera : tidak Nampak anemis
Pupil : isokor
3. Mulut
Bibir : tidak tampak
Gusi :
Palatum :
4. Leher
Pembesaran kelenjar tidak ada
Tenggorokan laring tidak hiperemis
5. Thorak (paru-paru )
Inspeksi : simetris kanan dan kiri, tidak ada retraksi intercostal
Palpasi : nyeri tekan tidak ada, massa tumor tidak teraba
Perkusi : sonor kanan sama dengan kiri
Auskultasi : bunyi pernafasan vesicular dan kiri bunyi tambahan ronkhi dan
wheezing
6. Thorak (Jantung)
Inspeksi : iktus kordis tidak Nampak
Palpasi : iktus kordis teraba
Perkusi : batas jantung dalam batas normal
36

Auskultasi : bunyi jantung 1,2 bising tidak ada


7. Abdomen
Inspeksi : cekung, warna kulit sama dengan sekitar, ikut gerak nafas
Auskultasi : peristalik 8x/menit kesan normal
Palpasi : massa tumor tidak teraba, tidak ada nyeri tekan hati dan limpa
tidak teraba
Perkusi : timpani, nyeri tekan tidak ada
8. Ekstremitas : akral hangat,CRT < 2 detik, edema tidak ada

4. Analisa data
Analisa data dilakukan pada tanggal 9 Mei 2010 pada pukul 18.00 WIB.
No Data fokus Problem Etiologi

1. DS: pasien mengatakan bahwa perut Nyeri akut Agen-agens


bag.bawah tengah dan skrotum post cidera fisik
operasinya masih terasa nyeri.
DO: KU pasien sedang, tampak luka yang
di perban pada skrotum dan bagian
perut bawah. Pengkajian nyeri yaitu
paliatif provokatif: luka sayatan
post operasi, qualitas: tersayat,
2. region: perut bagian bawah dan Intoleransi Kelemahan umum
aktivitas
skrotum, severity:
4, time: terus menerus lebih
37

3. terasa bila akan BAK. Risiko infeksi Kerusakan


DS: Pasien mengatakan kalau jaringan dan
badannya terasa lemah dan peningkatan
dalam kegiatan sehari-hari paparan
masih dibantu keluarga. lingkungan
Padahal ia ingin cepat sembuh
dan melakukan aktifitas seperti
biasanya.
DO: pasien tampak lemah berbaring
di tempat tidur
DS: pasien mengatakan bahwa luka
post operasinya masih terasa
nyeri.
DO: terdapat luka yang diperban
di bagian perut bawah
tengah luka jahitan panjang
kurang lebih 7 cm dan lebar 1
cm. Terdapat juga luka
jahitan di skrotum panjang
kurang lebih 10cm dan lebar
kurang lebih 2cm.

a. Diagnosa keperawatan yang muncul di kasus yang pertama adalah nyeri


akut berhubungan dengan agen-agens cidera fisik.
Intervensi untuk diagnosa tersebut adalah kaji karakteristik nyeri dan
ketidaknyamanan: lokasi, kualitas, frekuensi, durasi dst yang ke dua tenangkan
pasien bahwa anda mengetahui bahwa nyeri yang dirasakannya adalah nyata
dan bahwa anda akan membantu pasien dalam mengurangi nyeri tesebut.
Intervensi ketiga kaji faktor lain yang menunjang nyeri, keletihan, marah
pasien. Intervensi ke empat ajarkan pasien strategi baru untuk mengurangi
nyeri dan ketidaknyamanan; distraksi, imajinasi, relaksasi, stimulasi kutan.
Lalu yang ke lima berikan analgesik untuk meningkatkan peredaan nyeri
optimal dalam batas resep dokter.
38

Sedangkan implementasinya yang sudah dilakukan mengkaji


karakteristik nyeri dan ketidaknyamanan: lokasi, kualitas, frekuensi, durasi
dilakukan pada tanggal 9 Mei 2012 jam 18.00 WIB secara subyektif pasien
mengatakan bahwa perut post operasi terasa nyeri. Sedangkan secara obyektif
pengkajian TTV: TD = 140/60mmHg, N = 88x/menit, S = 37˚C, RR =
20x/menit kemudian pengkajian nyeri: P = luka sayatan post operasi, Q =
tersayat, R = bagian perut bawah tengah dan skrotum, S = 4,T = terus menerus
lebih terasa bila akan BAK. Pada tanggal 11 Mei 2012 jam 11.00 WIB secara
subyektif pasien mengatakan nyeri post operasinya sudah berkurang.
Sedangkan secara obyektif pengkajian TTV: TD = 120/80mmHg,
N=82x/menit, S = 36˚C, RR = 20x/menit kemudian pengkajian nyeri: P : luka
sayatan post operasi, Q : tersayat, R: bagian perut bawah tengah dan skrotum,
S: 4 menjadi 2 dan T: terus menerus lebih terasa bila akan BAK. Pada tanggal
12 Mei 2012 jam 14.00 WIB secara subyektif pasien mengatakan nyeri post
operasinya sudang berkurang. Sedangkan secara obyektif pengkajian TTV:
TD= 130/80mmHg, N = 84x/menit, S = 36˚C, RR = 20x/menit, kemudian
pengkajian nyeri: P : luka sayatan post operasi, Q : tersayat, R: bagian perut
bawah tengah dan skrotum, S: 4 menjadi 2 dan T: terus menerus lebih terasa
bila akan BAK.
Implementasi ke dua mengajarkan pasien strategi baru untuk mengurangi
nyeri dan ketidaknyamanan; distraksi, imajinasi, relaksasi, stimulasi kutan
dilakukan pada tanggal 10 Mei 2012 jam 10.00 WIB secara subyektif pasien
mengatakan nyerinya berkurang jika pada saat BAK melakukan nafas panjang.
Sedangkan secara obyektif terlihat pasien merasa senang dan mencoba cara
mengurangi nyeri dengan melakukan nafas panjang.
b. Diagnosa kedua yang muncul yaitu intoleransi aktivitas berhubungan
dengan kelemahan umum.
Intervensi untuk diagnosa tersebut adalah kaji terhadap faktor-faktor
yang menyebabkan keletihan. Kedua ajarkan tentang pengaturan aktivitas
dan teknik managemen waktu untuk mencegah kelelahan. Ketiga ajarkan
pasien bagaimana menggunakan postur dan mekanika tubuh yang benar saat
39

melakukan aktivitas. Keempat ajarkan pada pasien dan keluarga tehnik


perawatan diri yang akan meminimalkan konsumsi oksigen. Terakhir puji
pasien saat ia berhasil menyelesaikan hal-hal yang kecil.
Implementasi yang sudah dilakukan yaitu mengajarkan dalam
menggunakan postur dan mekanika tubuh yang benar saat melakukan aktivitas.
dilakukan pada tanggal 11 Mei 2012 jam 08.00 WIB secara subyektif pasien
mengatakan masih agak nyeri kalau dipakai duduk dan kakinya terasa kaku.
Sedangkan secara obyektif pasien terlihat berhati-hati saat berlatih duduk di
tempat tidur. Sedangkan implementasi yang kedua mengajarkan dan keluarga
tehnik perawatan diri yang akan meminimalkan konsumsi oksigen dilakukan
pada tanggal 12 Mei 2012 jam 13.00 WIB secara subyektif pasien mengatakan
pasien mengatakan senang karena telah dilatih melakukan aktivitas sedikit
demi sedikit. Sedangkan secara objektif pasien terlihat senang dan mau
mencoba melakukan aktivitas sedikit demi sedikit di tempat tidur.
c. Diagnosa ketiga yang muncul adalah risiko infeksi berhubungan dengan
kerusakan jaringan dan peningkatan paparan lingkungan.
Intervensi untuk diagnosa tersebut yaitu pantau tanda atau gejala infeksi
(misalnya suhu tubuh, denyut jantung, pembuangan, penampilan luka, sekresi
dll). Intervensi yang kedua jelaskan kepada pasien/ keluarga mengapa sakit dan
pengobatan meningkatkan risiko terhadap infeksi. Intervensi yang ketiga
lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik. Intervensi selanjutnya berikan
terapi antibiotik, bila diperlukan.
Implementasi yang sudah dilakukan yaitu melakukan perawatan luka
dengan teknik aseptik dilakukan pada tanggal 10 Mei 2012 jam 09.00 WIB
secara subyektif pasien mengatakan nyeri pada saat medikasi (luka post
operasi) Sedangkan secara obyektif terlihat luka masih agak basah, tidak ada
pus, panjang jahitan kurang lebih 7cm dan lebar 1cm di bagian perut bawah
tengah dan panjang kurang lebih 10cm dan lebar 2cm di skrotum. Pada tanggal
11 Mei 2012 jam 09.00 WIB secara subyektif pasien mengatakan merasa
senang karena pada saat medikasi sudah tidak merasa nyeri, sedangkan secara
obyektif terlihat luka di bagian bawah perutnya sudah kering dan skrotum
40

sudah agak basah. Pada tanggal 12 Mei 2012 jam 09.00 WIB secara subyektif
pasien mengatakan merasa senang karena pada saat medikasi sudah tidak
merasa nyeri, sedangkan secara obyektif terlihat luka di bagian bawah perutnya
sudah kering dan luka bagian skrotum sudah agak kering.
Implementasi yang ke dua berkolaborasi dengan tim kesehatan lain
dalam pemberian antibiotik socef 1g/12jam dan kalnex 500g/12jam dilakukan
pada tanggal 10 Mei 2012 jam 10.20 WIB secara subyektif pasien mengatakan
takut bila terkena infeksi, sedangkan secara obyektif obat socef dan kalnex
masuk melalui selang infus. Pada tanggal 11 Mei 2012 jam 10.00 WIB secara
subyektif pasien mengatakan tidak merasa kemeng saat obat dimasukkan,
sedangkan secara obyektif obat socef dan kalnex masuk melalui selang infus.
Pada tanggal 12 Mei 2012 jam 10.00 WIB secara subyektif mengatakan tidak
merasa kemeng saat obat dimasukkan, sedangkan secara obyektif obat socef
dan kalnex masuk melalui selang infus.
Implementasi yang ke tiga menjelaskan kepada pasien/ keluarga
mengapa sakit dan pengobatan meningkatkan risiko terhadap infeksi dilakukan
pada tanggal 10 Mei 2012 jam 13.00 WIB secara subyektif pasien dan keluarga
mengatakan paham setelah diberikan pendidikan kesehatan tentang tanda-tanda
infeksi. Sedangkan secara obyektif pasien dan keluarga terlihat mengerti,
mereka mau bertanya dan saat diberi evaluasi mampu menjawab .

5. Evaluasi Hasil
Evaluasi dilakukan pada pasien, pada tanggal 12 Mei 2012. Evaluasi
dilakukan untuk tiap diagnosa keperawatan yang muncul. Evaluasi untuk
diagnosa keperawatan yang pertama yaitu nyeri akut berhubungan dengan agen-
agens cidera fisik secara subyektif pasien mengatakan nyeri post orchiectomy
sudah berkurang, sedangkan secara obyektif penkajian TTV: TD = 130/80mmHg,
N = 84x/menit, S = 36˚C, RR = 20x/menit, kemudian pengkajian nyerinya
yaitu P : luka sayatan post operasi, Q : tersayat, R: bagian perut bawah tengah dan
bagian skrotum, S: 4 menjadi 2 dan T: terus menerus lebih terasa bila akan BAK.
Sesuai dengan kriteria hasil berarti masalah teratasi sebagian lalu intervensi
dilanjutkan yaitu kaji karakteristik nyeri dan ketidaknyamanan: lokasi, kualitas,
41

frekuensi, durasi. Evaluasi tindakan kedua pada diagnosa yang pertama adalah
secara subyektif pasien mengatakan nyerinya berkurang jika pada saat BAK
melakukan nafas panjang sedangkan secara obyektif terlihat pasien merasa senang
dan mencoba cara mengurangi nyeri dengan melakukan nafas panjang. Sesuai
dengan kriteria hasil berarti masalah teratasi sebagian. Kemudian intervensi
dilanjutkan yaitu dengan mengajarkan pasien strategi baru untuk mengurangi
nyeri dan ketidaknyamanan; distraksi, imajinasi, relaksasi, stimulasi kutan.
Evaluasi untuk diagnosa kedua yaitu intoleransi aktivitas berhubungan
dengan kelemahan umum. Evaluasi untuk tindakannya secara subyektif pasien
mengatakan masih agak nyeri kalau dipakai duduk dan kakinya terasa kaku.
Sedangkan secara obyektif pasien terlihat berhati-hati saat berlatih duduk di
tempat tidur. Sesuai dengan kriteria hasil berarti masalah teratasi sebagian.
Kemudian intervensi dilanjutkan yaitu ajarkan pasien dalam menggunakan postur
dan mekanika tubuh yang benar saat melakukan aktivitas. Evaluasi untuk tindakan
kedua pada diagnosa kedua adalah secara subyektif pasien mengatakan senang
karena telah dilatih melakukan pasien mengatakan senang karena telah dilatih
melakukan aktivitas sedikit demi sedikit. Sedangkan secara obyektif pasien
terlihat senang dan mempraktekan cara melakukan dan mau mencoba melakukan
aktivitas sedikit demi sedikit di tempat tidur. Sesuai dengan kriteria hasil berarti
masalah teratasi sebagian. Kemudian intervensi dilanjutkan yaitu Mengajarkan
pada pasien dan keluarga tehnik perawatan diri yang akan meminimalkan
konsumsi oksigen.
Evaluasi untuk diagnosa yang ketiga yaitu risiko infeksi berhubungan
dengan kerusakan jaringan dan peningkatan paparan lingkungan. Evaluasi untuk
tindakan yang pertama secara subyektif pasien mengatakan luka post operasinya
sudah tidak sakit saat dimedikasi. Sedangkan secara obyektif terlihat luka di
bagian bawah perutnya sudah kering dan bagian skrotum agak basah. Sesuai
dengan kriteria hasil berarti masalah teratasi sebagian. Kemudian intervensi
dilanjutkan yaitu dengan melakukan perawatan luka dengan teknik aseptik.
Evaluasi untuk tindakan yang kedua secara subyektif pasien dan keluarga
mengatakan paham setelah diberikan pendidikan kesehatan tentang tanda-tanda
42

infeksi. Sedangkan secara obyektif pasien dan keluarga terlihat mengerti, mereka mau
bertanya dan saat diberi evaluasi mampu menjawab. Sesuai dengan kriteria hasil
masalah teratasi lalu intervensi dihentikan. Evaluasi tindakan ketiga secara subyektif
pasien mengatakan tidak merasa kemeng saat obat dimasukkan (IV). Sedangkan secara
obyektif obat socef dan kalnex masuk melalui selang infus. Sesuai dengan kriteria hasil
berarti masalah teratasi sebagian.
43

Daftar Pustaka

Carpenito, Lynda Juall. 2010. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan,


Diagnosa Keperawatan dan Masalah Kolaboratif, edisi 2. Jakarta: Penerbit
buku kedokteran, EGC.

Carpenito, Lynda Juall. 2010. Buku Saku Diagnosa Keperawatan, edisi 6. Jakarta:
Penerbit buku kedokteran, EGC.
Davey, Patrick.2002.At A Glance Medicine.Jakarta:Penerbit Erlangga.
Dharmais.2016.Kanker Prostat.tersedia online di http://dharmais.co.id/kanker-
prostat/ diakses pada 26 Maret 2018 pada 07.30 Wita
Djuwantoro,Dwi.Kanker Prostat. Tersedia online di
http://pantirapih.or.id/index.php/artikel/penyakit-dalam/237-kanker-prostat
diakses pada 26 Maret 2018, Pukul 08.45 Wita

Doenges, Marilyn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan, Pedoman untuk


Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, edisi 3.Jakarta:
Penerbit buku kedokteran, EGC.

Engram, Barbara. 2009. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah,volume


3. Jakarta: Penerbit buku kedokteran, EGC.

Lap / UPF Ilmu Bedah. 2009. Pedoman Diagnosa dan Terapi. Surabaya: Fakultas
Kedokteran Airlangga.

Long, Barbara C. 2006. Pendekatan Medikal Bedah 3, Suatu pendekatan proses


keperawatan. Bandung: Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan
Padjajaran.

Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran, edisi 3 jilid kedua. Jakarta: Media
Aesculapius FKUI.
PCC.apa itu kanker prostat ?. tersedia online di
https://id.parkwaycancercentre.com/informasi-kanker/jenis-kanker/apa-itu-
kanker-prostat/ diakses pada 26 Maret 2018, Pukul 08.30 Wita
44

Price, S.2003. Patofisiologi. Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Edisi 4. Jakarta:


EGC

Purnomo, Basuki B. 2000. Dasar – dasar urologi. Malang: CV Infomedika.

Sjamsuhidayat, R (et.al). 2009. Buku Ajar Bedah. Jakarta: Penerbit buku kedokteran,
EGC.

Smelzer, C Susanne. Keperawatan Medikal Bedah Brunner &Suddarth; alih bahasa,


Agung Waluyo; editor bahasa Indonesia, Monica Ester. edisi VIII, Volume
3, Jakarta: EGC, 2002.
Umbas, Rainy, dkk. 2011. Panduan Penanganan Kanker Prostat. Jakarta