Anda di halaman 1dari 25

PENGGUNAAN INDEKS ANTROPOMETRI GIZI

Disusun Oleh Kelompok 6:


1. Andrian Arif Fujianto
2. Annisa Caesarya Oktaviani
3. Aulia Reza Nur Fitriani
4. Meyseila Putri Zuldia
5. Murni Yunitasari
6. Nesa Adella

Akademi Keperawatan Serulingmas Cilacap


Tahun Akademik 2018/2019

i
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Kami panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa, berkat rahmat dan karunia-
Nya kami dapat menyelesaikan tugas mata kuliah Gizi dan Diet makalah yang
berjudul “Penggunaan Indeks Antropometri Gizi ”.
Dalam makalah ini kami menjelaskan tentang Penggunaan Indeks
Antropometri Gizi. Adapun tujuan kami menulis makalah ini yang utama untuk
memenuhi tugas dari dosen mata kuliah Gizi dan Diet. Di sisi lain, kami menulis
makalah ini untuk mengetahui lebih rinci mengenai Penggunaan Indeks Antropometri
Gizi. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada semua pihak.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Cilacap, 21 Maret 2018

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL……………………………………………………………...….. i
KATA PENGANTAR……………………………………………………………..… ii
DAFTAR ISI………………………………………………………………………... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Konsep dasar oksigenasi…………………………………………………. 1
B. Sistem tubuh yang berperan dalam kebutuhan oksigenasi………………. 1
C. Proses oksigenasi…………………………..…………………………..… 4
D. Faktor-faktor yang mempengaruhi oksigenasi……………….………….. 6
E. Jenis pernafasan…………….……………………………………………. 7
F. Pengukuran fungsi paru……………………………………………..…… 9
G. Masalah kebutuhan oksigen…………………………………………….. 12
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan…………………………………………………………………. 17
B. Saran…………………….………………………………………………….. 17
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Antropometri adalah ilmu yang mempelajari berbagai ukuran tubuh
manusia.Dalam bidang ilmu gizi digunakan untuk menilai status gizi. Ukuran
yang sering digunakan adalah berat badan dan tinggi badan. Selain itu juga
ukuran tubuhlainnya seperti lingkar lengan atas, lapisan lemak bawah kulit,
tinggi lutut,lingkaran perut, lingkaran pinggul. Ukuran-ukuran antropometri
tersebut bisaberdiri sendiri untuk menentukan status gizi dibanding baku atau
berupa indeksdengan membandingkan ukuran lainnyaseperti BB/U, BB/TB.
TB/U (Sandjaja,dkk., 2010).
Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh manusia. Ditinjau
darisudut pandang gizi, maka antropometri gizi berhubungan berbagai
macampengukuran dimensi tubuh dan komposisi dari berbagai tingkat umur
dan tingkatgizi (Supariasa, dkk., 2001).
Antropometri merupakan bidang ilmu yang berhubungan dengan
dimensitubuh manusia. Dimensi-dimensi ini dibagi menjadi kelompok
statistika danukuran persentil. Jika seratus orang berdiri berjajar dari yang
terkecil sampaiterbesar dalam suatu urutan, hal ini akan dapat diklasifikasikan
dari 1 percentilesampai 100 persentil. Data dimensi manusia ini sangat
berguna dalamperancangan produk dengan tujuan mencari keserasian produk
dengan manusiayang memakainya (Nugroho, 2002).
Di masyarakat, cara pengukuran status gizi yang paling sering
digunakanadalah antropometri gizi. Dewasa ini dalam program gizi
masyarakat, pemantauanstatus gizi anak balita menggunakan metode
antropometri,sebagai cara untuk menilai status gizi. Di samping itu pula
dalam kegiatan penapisan status gizimasyarakat selalu menggunakan metode
tersebut (Supariasa, dkk., 2001).
Penyakit infeksi dan kekurangan gizi terlihat kurang, kemakmuran
ternyatadiikuti oleh perubahan gaya hidup. Pola makan terutama di perkotaan

iv
bergeserdari pola makan tradisional yang banyak mengkonsumsi karbohidrat,
sayuran makanan berserat ke pola makan masyarakat barat yang
komposisinya terlalubanyak mengandung lemak, protein, gula, garam tetapi
miskin serat. Sejalandengan itu setahun terakhir ini mulai terlihat peningkatan
angka prevalensikegemukan/obesitas pada sebagian penduduk perkotaan,
yang diikuti pula padaakhir-akhir ini di pedesaan (Asmayuni, 2007).
Perhatian utama adalah mempersiapkan dan meningkatkan kualitas
penduduk usia kerja agar benar-benar memperoleh kesempatan serta turut
berperan danmemiliki kemmpuan untuk ikut dalam upaya pembangunan.
Salah satu upayapenting untuk mewujudkan hal tersebut adalah pembangunan
di idang kesehatandan gizi. Antropometri sebagai teknik yang mula-mula
dikembangkan dikalanganantropolog biologis, kini aplikasinya menyentuh
berbagai bidang antara lainkedokteran, olahraga, antropologigizi,
keperawatan, dan pediatric dalam ilmupertumbuhan anak. Antropolog seperti
Tanner, Bogin, Boucher, Malina, danUlijaszek mengembangkan teknik
antropometri yang dihubungkan dengan teoripertumbuhan manusia dari intra-
uterine sampai adolesentia akhir (sekitar 20tahun) (Barasi, 2008).
Aplikasi antropometri sebagai metode bioantropologi ke dalam
kedokteranmanjadi bermakna apabila disertai latar belakang teori yang
adekuat tentangpertumbuhan. Berdasarkan tujuan penelitian pengukuran
antropometri, setidak -tidaknya ada lima hal penting yang mewakili tujuan
pengukuran yaitu mengetahuikekern otot, kekekaran tualng, ukuran tubuh
secara umum, panjang tungkai danlengan, serta kandungan lemak tubuh di
ekstremitas dan di torso. Dalampemakaian untuk penilaian status gizi,
antropometri disajikan dalam bentuk indeks, misalnya berat badan menurut
umur (BB/U), tinggi badan menurut umur(TB/U) atau berat badan menurut
tinggi badan (BB/TB), lingkar lengan atasmenurut umur (LLA/U) dan
sebagainya (Barasi, 2008).Karena antropometri sebagai indikator penilaian
status gizi yang palingmudah yang dapat dilakukan dengan mengukur
beberapa parameter, antara lain:umur, berat badan, tinggi badan, lingkar
lengan atas, lingkar kepala, lingkar dada,lingkar pinggul dan tebal lemak di

v
bawah kulit. Oleh karena itu, untuk mengetahuistatus gizi seseorang, maka
dilakukan pengukuran antropometri ini
B. Tujuan Praktikum
1. TujuanUmum
a. Untuk mengetahui Penilaian status gizi secara antropometri
2. TujuanKhusus
a. Untuk mengetahui pengukuran Indeks Massa tubuh (IMT)
b. Untuk mengetahui pengukuran Rasio Lingkar Pinggang dan Panggul
(WHR)
c. Untuk mengetahui pengukuran Rasio lingkar perut
d. Untukmengetahuiestimasitinggibadanberdasarkantinggilutut.
e. Untuk mengetahui pengukuran Tebal lipatan kulit (% body fat)
f. Untuk mengetahui pengukuran lingkar lengan atas (LILA).
C. Prinsip Percobaan
1. Untuk pengukuran berat badan dan tinggi badan dilakukan tanpa
mengenakan alas kaki
2. Timbangan berada pada penunjukan skala 0,0
3. Membuka pakaian ketika pengukuran LILA, Tricep, dan Bisep

vi
BAB II
PEMBAHASAN

A. Penentuan Status Gizi


Status gizi adalah ekspresi dari keseimbangan dalam bentuk variabel-
variabel tertentu. Status gizi juga merupakan akibat dari keseimbangan antara
konsumsi dan penyerapan zat gizi dan penggunaan zat-zat gizi tersebut atau
keadaan fisiologik akibat dari tersedianya zat gizi dalam seluruh tubuh
(Supariasa, 2002).
Antropometri merupakan salah satu metode yang dapat digunakan
untukmenilai status gizi. Secara umum antropometri diartikan sebagai ukuran
tubuh,ditinjau dari sudut gizi maka antropometri ditinjau dari berbagai tingkat
umur dan tingkat gizi. Antropometri sangat umum digunakan untuk
mengukur status gizi untuk berbagai ketidak seimbangan antara asupan energi
dan protein (Gibson 2005).
Pertumbuhan dan perkembangan mencakup dua peristiwa yang
statusnya berbeda, tetapi saling berkaitan dan susah dipisahkan. Pertumbuhan
(growth) berkaitan dengan perubahan dalam besar, jumlah, ukuran dan fungsi
tingkatsel, organ maupun individu, yang diukur dengan ukuran berat (gram,
pound,kilogram), ukuran panjang (cm, meter), umur tulang dan
keseimbanganmetabolik (Suparasia, dkk., 2001).
Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam
struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan
dapatdiramalkan sebagai hasil proses pematangan. Pertumbuhan terbagi atas
duayaitu pertumbuhan linier dan massa jaringan dimana kedua jenis
pertumbuhantersebut merupakan ukuran antropometri gizi. Pertumbuhan
linier misalnyatinggi badan (TB), lingkar dada, dan lingkar kepala sedangkan
pertumbuhanmassa jaringan yaitu berat badan, lingkar lengan atas (LILA)
dan tebal lemak di bawah kulit (TLK). Antropometri sangat umum digunakan
utuk mengukur status gizi dari berbagai ketidak seimbangan antara asupan
protein dan energi.Gangguan ini biasanya terlihat dari pola pertumbuhan fisik

vii
dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot, dan jumlah air dalam tubuh.
Adapun beberapa syarat yang mendasari penggunaan antropometri ini
adalah(Suparasia, dkk., 2001) :
1. Alatnya mudah didapat dan digunakan, seperti dacin, pita lingkar
lenganatas, mikrotoa, dan alat pengukur panjang bayi yang dapat dibuat
sendiri dirumah.
2. Pengukuran dapat dilakukan berulang-ulang dengan mudah dan
objektif.Contohnya apabila terjadi kesalahan pada pengukuran lingkar
lengan atas pada anak balita maka dapat dilakukan pengukuran kembali
tanpa harus persiapan alat yang rumit.
3. Pengukuran bukan hanya dilakukan dengan tenaga khusus
professional, juga oleh tenaga lain setelah dilatih untuk itu.
4. Biaya relatife murah, karena alat mudah didapat dan tidak
memerlukan bahan-bahan lainnya.
5. Hasilnya mudah disimpulkan karena mempunyai ambang batas (cut
off points) dan baku rujukan yang sudah pasti.
6. Secara ilmiah diakui kebenaraya. Hampir semua negara
mengguakanantropometri sebagai metode untuk mengukur status gizi
masyarakat,khususnya untuk penapisan ( screening ) status gizi.
Hal ini dikarenakanantropometri diakui kebearanya secara
ilmiah.Memperhatikan faktor di atas, maka di bawah ini akan
diuraikankeunggulan antropometri yaitu :
1. Prosedurnya sederhana, aman dan dapat dilakukan dalam jumlah
sampelyang besar.
2. Relative tidak membutuhkan tenaga ahli, tetapi cukup dilakukan
dengantenaga yang sudah dilatih dalam waktu singkat dapat
melakukan pengukuran antropometri.
3. Alatnya murah, mudah dibawa, tahan lama, dapat dipesan, dibuat didaerah
setempat.
4. Metode ini tepat dan akurat karena dapat dibakukan.
5. Dapat mendeteksi atau menggambarkan riwayat gizi masa lampau.

viii
6. Umumnya dapat mengidentifikasi status gizi.
7. Dapat mengevaluasi perubahan status gizi pada periode tertentu.
8. Digunakan untuk penapisan kelompok yang rawan terhadap gizi.
Di samping keunggulan metode antropometri tersebut, terdapat
pula beberapa kelemahan seperti :
1. Tidak sensitif Metode ini tidak dapat mendeteksi status gizi dalam waktu
singkat dan tidak dapat membedakan kekurangan zat gizi tertentu seperti
zinc dan fe.
2. Faktor diluar gizi (penyakit, genetik, dan penurunan penggunaan energi)
dapat menurukan spesifitas dan sensifitas pengukuran antropometri.
3. Kesalahan yang terjadi pada saat pengukuran dapat
mempungaruhi presisi, akurasi, dan validitas pengukuran antropometri
gizi.
4. Kesalahan terjadi karena:
a. Pengukuran
b. Perubahan hasil pengukuran baik fisik maupun komposisi jaringan.
c. Analisis dan asumsi yang keliru.
5. Sumber kesalahan, biasanya berhubungan dengan:
a. Latihan petugas yang tidak cukup.
b. Kesalahan alat atau alat tidak diterapkan.
c. Kesulitan pengukuran.

B. Indeks Mata Tubuh ( IMT )


Penilaian status gizi terbagi atas dua yakni penilaian status gizi secara
langsung yang dibagi menjadi empat penilaian yaitu antropometri, klinis,
biokimia, dan biofisik. Dan penilaian status gizi secara tidak langsung yakni,
survey konsumsi makanan, statistik vital, dan faktor ekologi. Pengukuran
antropometri relatif mudah dilaksanakan. Akan tetapi untuk berbagai cara,
pengukuran antropometri ini membutuhkan keterampilan, peralatan dan
keterangan untuk pelaksananya.[1][6]

ix
Parameter antropometri merupakan dasar dari penilaian status gizi.
Kombinasi antara beberapa parameter disebut Indeks Antropometri. Dalam
pengukuran indeks antropometri sering terjadi kerancuan, hal ini akan
mempengaruhi interpretasi status gizi yang keliru. Beberapa indeks
antropometri yang sering digunakan yaitu BB/U, TB/U, BB/TB. Perbedaan
penggunaan indeks tersebut akan memberikan gambaran prevalensi status
gizi yang berbeda.
Perlu ditekankan bahwa pengukuran antropometri hanyalah satu dari
sejumlah teknik-teknik yang dapat untuk menilai status gizi. Pengukuran
dengan cara-cara yang baku dilakukan beberapa kali secara berkala pada
berat dan tinggi badan, lingkaran lengan atas, lingkaran kepala, tebal lipatan
kulit (skinfold) diperlukan untuk penilaian pertumbuhan dan status gizi pada
bayi dan anak.1
Istilah Antropometri berasal dari kata “Anthro” yang berarti manusia dan
“metri” yang berarti ukuran. Secara definitif antropometri dapat dinyatakan
sebagai suatu studi yang berkaitan dengan pengukuran bentuk, ukuran (tinggi,
lebar) berat dan lain-lain yang berbeda satu dengan lainnya
(Sutalaksana,1996).
Menurut Nurmianto (1991), antropometri adalah satu kumpulan data
numerik yang berhubungan dengan karakteristik fisik tubuh manusia, ukuran,
bentuk dan kekuatan serta penerapan dari data tersebut untuk penanganan
masalah desain. Antropometri secara lebih luas digunakan sebagai
pertimbangan ergonomis proses perencanaan produk maupun sistem kerja
yang memerlukan interaksi manusia (Sutalaksana,1996).
Data antropometri yang berhasil diperoleh akan diaplikasikan secara lebih
luas antara lain dalam hal perancangan areal kerja (work
station), perancangan alat kerja seperti mesin, equipment,
perkakas (tools), perancangan produk-produk konsumtif seperti pakaian,
kursi, meja, dan perancangan lingkungan fisik. Berdasarkan hal tersebut,
maka dapat disimpulkan bahwa data antropometri akan menentukan bentuk,
ukuran, dan dimensi yang tepat berkaitan dengan produk yang akan dirancang

x
sesuai dengan manusia yang akan mengoperasikan atau menggunakan produk
tersebut (Sutalaksana,1996).
Secara umum, antropometri artinya ukuran tubuh manusia. Penilaian
secara antropometri adalah suatu pengukuran dimensi tubuh dan komposisi
dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Antropometri digunakan untuk
melihat ketidakseimbangan asupan protein dan energi. Pengertian
istilah Nutritional Anthropometry mula-mula muncul dalamBody
Measurements and Human Nutrition yang ditulis oleh Brozek pada tahun
1966 yang telah didefinisikan oleh Jelliffe (1966) sebagai pengukuran pada
variasi dimensi fisik dan komposisi besaran tubuh manusia pada tingkat usia
dan derajat nutrisi yang berbeda. Pengukuran antropometri ada 2 tipe yaitu:
pertumbuhan dan ukuran komposisi tubuh yang dibagi menjadi pengukuran
lemak tubuh dan massa tubuh yang bebas lemak. Pengukuran berat badan
menurut umur pada umumnya untuk anak merupakan cara standar yang
digunakan untuk menilai pertumbuhan. Kurang berat tidak hanya
menunjukkan konsumsi pangan yang tidak cukup tetapi dapat pula
mencerminkan keadaan sakit yang baru dialamiJelliffe (1966).
Antropometri merupakan bidang ilmu yang berhubungan dengan dimensi
tubuh manusia. Dimensi-dimensi ini dibagi menjadi kelompok statistika dan
ukuran persentil. Kenyamanan menggunakan alat bergantung pada kesesuaian
ukuran alat dengan ukuran manusia. Jika tidak sesuai, maka dalam jangka
waktu tertentu akan mengakibatkan stress tubuh antara lain dapat berupa
lelah, nyeri, pusing. Penelitian yang dilakukan Chang terhadap 30 orang laki-
laki sebegai operator pneumatic screwdriver usia 22 tahun panjang
lengannnya rata-rata 18,2 cm dan tinggi tubuh rata-rata 168,5 cm, ternyata
yang melakukan kerja pada posisi duduk lebih menerima getaran pneumatic
screwdriver dan otot lengan depannya mengalami stress dibanding yang
posisi kerja berdiri.
Penggunaan IMT hanya berlaku untuk orang dewasa berumur diatas 18
tahun. IMT tidak dapat diterapkan pada bayi, anak-anak, remaja, ibu hamil,
dan olahragawan. Disamping itu, IMT tidak bisa diterapkan pada keadaan

xi
khusus lainnya seperti edema, asites, dll. IMT/U merupakan yang terutama
bermanfaat untuk penapisan kelebihan berat badan dan kegemukan. Biasanya
IMT tidak meningkat dengan bertambahnya umur.

Rumus perhitungan IMT:


IMT merupakan alat yang sangat sederhana untuk memantau status gizi
orang khususnya yang berkaitan kekurangan dan kelebihan berat badan,
maka mempertahankan berat badan normal memungkinkan seseorang dapat
mencapai usia harapan hidup lebih panjang. Indikator IMT/U hampir sama
dengan BB/PB atau BB/TB. Ketika melakukan interpretasi resiko
kelebihan berat badan, perlu mempertimbangkan berat badan orang tua.
Tabel 1. Ketegori IMT (WHO 2000)
Klasifikasi BMI (kg/m2)
Underweight <18,50
- Severe thinness <16,00
- Moderate thinness 16,00-16,99
- Mild thinness 17,00-18,49
Normal 18,50-24,49
Overweight >25,00
- Pre-obesitas 25,00-29,99
Obesitas >30,00
- Obesitas kelas I 30,00-34,99
- Obesitas kelas II 35,00-39,99
- Obesitas kelas III >40,00
Sumber: WHO, 1995, WHO, 2000 dan 2004, www.andeka.com

Tabel 2. Kategori IMT (IOTF, WHO 2000, Penduduk Asia Dewasa)


Kategori BMI (kg/m2) Risk Of Co-morbidities
Underweight <18,50 Rendah (tetapi risiko
terhadap masalah-masalah

xii
klinis lain meningkat
Normal 18,50-22,99 Rata-rata
Overweight >23,00
At Risk 23,00-24,99 Meningkat
Obese I 25,00-29,99 Sedang
Obese II >30,00 Berbahaya
Sumber: IOTF,WHO 2000,Penduduk Asia Dewasa

Tabel 3. Kategori IMT (Riskesdas 2007)


Kategori BMI (kg/m2)
Kurus <18,50
Normal 18,50-24,99
Berat Badan Lebih 25,00-27,00
Obese >27,00
Sumber: Rise Kesehatan Dasar 2007
Berat badan normal adalah idaman bagi setiap orang agar mencapai
tingkat kesehatan yang optimal. Beberapa keuntungan yang diberikan adalah
penampilan baik, lincah dan risiko sakit rendah.(Arisman, 2002).
Indeks massa tubuh telah digunakan dalam beberapa penelitian populasi
internasional untuk menilai risiko penyakit di antara orang dewasa. BMI
meningkat jelas terkait dengan risiko yang lebih tinggi dari tekanan darah
tinggi, diabetes mellitus tipe 2, faktor risiko kardiovaskular penyakit lainnya,
dan mortalitas meningkat. Memang, risiko relatif untuk faktor risiko penyakit
kardiovaskular kejadian penyakit kardiovaskular meningkat dinilai dengan
peningkatan BMI pada semua kelompok populasi. Selain itu, asosiasi antara
gangguan muskuloskeletal, gangguan dalam fungsi pernapasan dan fisik, dan
kualitas hidup. Akibatnya, dalam studi epidemiologi, BMI digunakan untuk
mengetahui kelebihan berat badan atau obesitas pada orang dewasa dan untuk
memperkirakan risiko terkena penyakit. Perluh diketahui bahwa anak yang

xiii
pendekpun dapat mengalami kelebihan berat badan. Maka perluh
mempertahankan berat badan normal.
Badan menggambarkan jumlah protein, lemak, air dan mineral pada
tulang. Pada remaja, lemak cenderung meningkat dan protein otot menurun.
Pada klien edema dan asites, terjadi penambahan cairan dalam tubuh. Adanya
tumor dapat menurunkan jaringan lemak dan otot, khususnya terjadi pada
orang Berat badan merupakan ukuran antropometri terpenting dan paling
sering digunakan pada bayi baru lahir (neonatus).
Digunakan untuk mendiagnosa bayi normal atau BBLR (dibawah 2500
gram). Pada masa bayi atau balita, berat badan dapat dipergunakan untuk
melihat laju pertumbuhan fisik maupun status gizi, kecuali terdapat kelainan
klinis (dehidrasi, asites, edema, atau adanya tumor). Dapat digunakan sebagai
dasar perhitungan dosis obat dan makanan. Berat perkembangan tubuh yang
baik maupun yang buruk. Berat badan merupakan suatu pencerminan dari
kondisi yang kekurangan gizi.
Penimbangan (berat badan) adalah pengukuran antropometri yang umum
digunakan dan merupakan kunci yang memberi petunjuk nyata dari sedang
berlaku dan ukuran yang paling baik mengenai konsumsi kalori protein dan
karbohidrat.
Alasan mengapa pengukuran berat badan merupakan pilihan utama:
1. Parameter yang paling baik, mudah terlihat perubahan dalam waktu
singkat karena perubahan konsumsi makanan dan kesehatan.
2. Memberikan gambaran status gizi sekarang, jika dilakukan periodik
memberikan gambaran pertumbuhan.
3. Umum dan luas dipakai di Indonesia.
4. Ketelitian pengukuran tidak banyak dipengaruhi oleh keterampilan
pengukur.
5. KMS yang digunakan sebagai alat yang baik untuk pendidikan dan
memonitor kesehatan anak menggunakan juga berat badan sebagai dasar
pengisiannya.

xiv
6. Karena masalah umur merupakan faktor penting untuk penilaian status
gizi, berat badan terhadap tinggi badan sudah dibuktikan dimana-mana
sebagai indeks yang tidak tergantung pada umur.
7. Alat ukur dapat diperoleh di pedesaan dengan ketelitian tinggi dengan
menggunakan dacin yang juga sudah dikenal oleh masyarakat.

Penentuan berat badan dilakukan dengan cara menimbang. Alat yang


digunakan di lapangan sebaiknya memenuhi beberapa persyaratan:
1. Mudah digunakan dan dibawa dari suatu tempat ke tempat yang lain.
2. Mudah diperoleh dan relatife murah harganya.
3. Ketelitian penimbangan sebaiknya maksimum 0,1 kg.
4. Skalanya mudah dibaca.
5. Cukup aman untuk menimbang anak balita.

C. WHR (Rasio lingkar pinggang dan panggul)


Pengukuran rasio lingkar pinggang dan panggul yang menghasilkan indeks
tinggi harus memperhatikan penyebabnya karena simpanan lemak atau otot
torso yang berkembang. Jadi perlu diukur tebal lipatan kulit abdomen untuk
mengetahuinya. Tujuan pengukuran lingkar pinggang dan pinggul adalah
untuk mengetahui resiko tinggi terkena penyakit DM II, kolesterol, hipertensi,
dan jantung. Lingkar pinggang diukur di indentasi terkecil lingkar perut
antara tulang rusuk dan krista iliaka, subjek berdiri dan diukur pada akhir
ekspirasi normal dengan ketelitian 0,6 cm menggunakan pitameter. Lingkar
pinggul diukupenonjolan terbesar pantat, biasanya di sekitar pubic sympisis,
subjek berdiri diukur menggunakan pitameter dengan ketelitian 0,1 cm.
Banyaknya lemak dalam perut menunjukkan ada beberapa perubahan
metabolisme, termasuk terhadap insulin dan meningkatnya produksi asam
lemak bebas, dibanding dengan banyaknya lemak bawah kulit pada kaki dan
tangan. Perubahan metabolisme memberikan gambaran tentang pemeriksaan
penyakit yang berhubungan dengan perbedaan distribusi lemak tubuh ukuran
umur yang digunakan adalah rasio lingkar pinggal-pinggul. Pengukuran

xv
lingkar pinggang dan lingkar pinggul harus dilakukan oleh tenaga terlatih dan
posisi pengukuran harus tetap, karena perbedaan posisi pengukuran
memberikan hasil yang beerbeda. Suatu studi prospektif menunjukkan rasio
pinggang-pinggul berhubungan dengan penyakit kardiovaskular.7
Rumus Menghitung Nilai WHR:
Tabel 4: Standar resiko penyakit degeneratif berdasarkan pengukuran
WHR pada jenis kelamin dan kelompok umur:
Jenis Kelompok Resiko
kelamin umur Low Moderate High Very high
20-29 < 0,83 0,83-0,88 0,89-0,94 > 0,94
Pria 30-39 < 0,84 0,84-0,91 0,92-0,96 > 0,96
40-49 < 0,88 0,88-0,95 0,96-1,00 > 1,00
20-29 < 0,71 0,71-0,77 0,78-0,82 > 0,82
Wanita 30-39 < 0,72 0,72-0,78 0,79-0,84 > 0.84
40-49 < 0,73 0,73-0,79 0,80-0,87 > 0,87
Sumber. Sirajuddin 2012.

D. % BODY FAT
Semua pengukuran tebal lemak bawah kulit sebaiknya konsisten di sisi
kanan badan dan diukur tiga kali. Tebal lemak bawah kulit merupakan salah
satu indeks antropometri yang digunakan dalam pengukuran status indeks
antropometri untuk mengukur status gizi. Pengukuran tebal lemak bawah
kulit biasanya digunakan untuk memperkirakan jumlah lemak dalam tubuh.
Persentase kandungan lemak tubuh dapat dipakai untuk menilai status gizi
dengan pengukuran tebal lemak bawah kulit terdiri dari beberapa tempat,
yakni trisep, bisep, subskapular, suprailiaka, supraspinale, abdominal, paha
depan, betis medial, dan mid aksla. Persentase body fat dapat diestimasi dari
skinfold menggunakan persamaan secara umum atau kelompok tertentu.
Lemak dapat diukur secara absolut (dalam kg) dan secara relatif (%)
terhadap berat tubuh total. Jumlah lemak tubuh sangat bervariasi ditentukan

xvi
oleh jenis kelamin dan umur. Ketebalan lipatan kulit adalah suatu pengukuran
kandungan lemak tubuh karena sekitar separuh dari cadangan lemak tubuh
total terdapat langsung dibawah kulit. Pengukuran tebal lipatan kulit
merupakan salah satu metode penting untuk menentukan komposisi tubuh
serta presentase lemak tubuh dan tubuh untuk menentukan status gizi cara
antropometri.
Rumus menghitung tebal lemak bawah kulit:
Laki-laki 18-27 tahun
Db = 1,0913 – 0,00116 (trisep + scapula)
% BF = [(4,97/Db) – 4,52] x 100
Wanita 18-23 tahun
Db = 1,0897 – 0,00133 (trisep + scapula)
% BF = [(4,76/Db) – 4,28] x 100
Tabel 3: Klasifikasi Standar Pengukuran Tebal Lemak Bawah Kulit:
Klasifikasi Laki-laki Wanita
Lean <8% < 13 %
Optimal 8 – 15 % 14 – 23 %
Slightly overfat 16 – 20 % 24 – 27 %
Fat 21 – 24 % 28 – 32 %
Obesitas 25 % 33 %
Sumber. Sirajudin 2012.

E. LILA
Lingkar lengan atas merupakan salah satu pilihan untuk penentuan status
gizi, karena mudah, murah dan cepat. Tidak memerlukan data umur yang
terkadang susah diperoleh. Memberikan gambaran tentang keadaan jaringan
otot dan lapisan lemak bawah kulit.
Lingkar lengan bawah diukur pada bagian proksimal tidak lebih dari 6 cm
dari radial. Lingkar paha diukur di bagian paha, yaitu titik pertengahan antara
titik paling proksimal tulang patella dan titik pertengahan lipat paha. Titik

xvii
tengah lipat paha ditentukan dengan jalan menentukan terlebih dahulu letak
SIAS ketika (subjek masih berdiri), dan simfasis pubis. Lingkar betis dapat
diukur baik dalam keadaan berdiri maupun duduk. Jika subjek berdiri, berat
badan harus tertumpu pada kedua kaki secara merata, dan jarak kedua kaki
sekitar 25 cm. Jika subjeknya duduk, kedua kaki harus dijuntaikan. Pita
pengukur kemudian dilingkarkan ke betis (tegak lurus dengan aksis
memanjang betis), dan diturun-naikkan untuk mencari diameter terbesar.
Hasil pengukuran ulang tidak boleh berbeda lebih dari 2 mm (Arisman,
2007).
Tabel 1: Ambang Batas Pengukuran LiLA:7
Klasifikasi Batas Ukur
Wanita Usia Subur
KEK < 23,5 cm
Normal 23,5 cm
Bayi Usia 0-30 hari
KEP < 9,5 cm
Normal 9,5 cm
Balita
KEP < 12,5 cm
Normal 12,5 cm

Sumber: Sirajuddin, 2012.


LiLA mencerminkan cadangan energi, sehingga dapat mencerminkan:
1. Status KEP pada balita.
2. KEK pada ibu WUS dan ibu hamil: risiko lahir bayi BBLR
Kelemahan dari pengukuran LILA:
1. Baku LLA yang sekarang digunakan belum mendapat pengujian yang
memadai untuk digunakan di Indonesia.
2. Kesalahan pengukuran relatif lebih besar dibandingkan pada TB.
3. Sensitif untuk suatu golongan tertentu (prasekolah), tetapi kurang
sensitif untuk golongan dewasa.

xviii
BAB III
SOP PENGGUNAAN INDEKS ANTROPOMETRI GIZI

A. Alat dan bahan


Adapun alat yang digunakan pada praktikum ini adalah
timbangan digital, microtoice, pita LILA, alat ukur lutut, pita circumference,
dan skinfold caliper
B. Prosedur Kerja
1. Berat badan
a. Digunakan pakaian biasa (usahakan dengan pakaian minimal), subjek
tidak menggunakan alas kaki.
b. Dikalibrasi alat yang akan digunakan sebelum pengukuran.
c. Dipastikan timbangan berada pada penunjukkan skala dengan angka
0,0.
d. Subjek berdiri di atas timbangan dengan berat yang tersebar merata
pada kedua kaki dan posisi kepala dengan pandangan lurus ke depan
diusahakan tetap tenang.
e. Dibaca berat badan dengan tampilan skala 0,1 kg terdekat.
2. Tinggi badan
a. Diposisikan subjek tetap di bawah mikcrotoice denga tidak
mengenakan alas kaki.
b. Kaki rapat, lutut lurus, tumit, pantat, dan bahu menyentuh dinding
vertikal.
c. Subjek dengan pandangan lurus ke depan, kepala tidak perlu
menyentuh dinding vertikal. Tangan lepas ke samping badan dengan
telapak tangan mengahadap paha.
d. Diminta subjek untuk menarik nafas panjang dan berdiri tegak tanpa
mengangkat tumit untuk membantu menegakkan tulang belakang
usahakan bahu tetap santai.
e. Ditarik mikcrotoice hingga menyentuh ujung kepala, dipegang secara
horizontal. Pengukuran tinggi badan di ambil pada saat menarik nafas

xix
maksimum. Dengan mata pengukur sejajar dengan alat penunjuk
angka untuk menghindari kesalahan penglihatan . catatan tinggi badan
pada skala 0.1 cm terdekat.
3. Penentuan Rasio Lingkar Pinggang dan Lingkar Panggul (WHR)
a. Lingkar Pinggang
1) Subjek menggunakan pakaian yang longgar (tidak menekan)
sehingga alat ukur dapat di letakkan dengan sempurna. Sebaiknya
pita pengukur tidak berada di atas pakaian yang di gunakan.
2) Subjek berdiri tegak dengan perut dalam keadaan yang relaks
3) Diukur menghadap ke subjek dan diletakkan alat ukur melingkar
pinggang secara horizontal dimana merupakan bagian yang paling
kecil dari tubuh. Seorang pembantu di perlukan untuk meletakkan
alat ukur dengan tepat. Bagi mereka yang gemuk, dimana sukar
ditentukan bagian yang paling kecil, daerah yang harus di ukur
adalah antara tulang rusuk dan tonjolaniliaca.
4) Dilakukan pengukuran diakhir dari eksperesi yang normal, dan
alat ukur tidak menekan kulit.
5) Dibaca dengan teliti hasil pengukuran pada pita hingga 0,1 cm
terdekat.
b. Lingkar panggul
1) Subjek mengenakan pakaian yang tidak terlalu menekan
2) Subjek berdiri tegak dengan kedua lengan berada pada kedua sisi
tubuh dan kaki rapat
3) Pengukur jongkok di samping subjek sehingga tingkat maksimal
dari panggul terlihat
4) Dilingkarkan Alat pengukur secara horizontal tanpa menekan
kulit. Seorang pembantu di perlukan untuk mengatur posisi alat
ukur pada sisi lainnya.
5) Dibaca dengan teliti hasil pengukuran pada pita hingga 0,1 cm
terdekat
c. Pengukuran Lingkar Perut

xx
1) Pengukuran lingkar perut di lakukan untuk mengetahui ada
tidaknya obesitas abdominal/sentral. Jenis obesitas ini sangat
berpengaruh terhadap kejadian penyakit kardiovaskular dan
diabetes melllitus.
Cara Pengukuran Lingkar perut :
1) Untuk pengukuran ini responden di minta dengan cara yang satuan
untuk membuka pakaian bagian atas dan raba tulang rusuk
terakhir responden untuk ditetapkan titik pengukuran.
2) Ditetapkan titik batas tepi tulang rusuk paling bawah.
3) Ditetapkan titik ujung lengkung tulang pangkal paha /panggul.
4) Ditetapkan titik tengah diantara titik tulang rusuk terakhir titik
ujung lengkung tulang pangkal paha /panggul dan tandai titik
tengah tersebut dengan alat tulis.
5) Diminta responden untuk berdiri tegak dan bernafas dengan
normal (ekspirasi normal).
6) Dilakukan pengukuran lingkar perut dimulai/diambil dari titik
tengan kemudian secara sejajar horizontal melingkari pinggang
dan perut kembali menuju titik tengah di awal pengukuran.
7) Apabila responden mempunyai perut yang gendut kebawah ,
pengukuran mengambil bagian yang paling buncit lalu terakhir
pada titik tengah tersebut lagi.
d. Pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA)
1) Ditentukan titik mid point pada lengan
a) Subjek diminta untuk berdiri tegak
b) Diminta subjek untuk membuka lengan pakaian yang
menutupi lengan kiri atas (bagi yang kidal gunakan lengan
kanan).
c) Ditekukan subjek 90, dengan telapak tangan dihadap keatas.
Pengukur berdiri di belakang subjek dan ditentukan titik
tengah antara tulang atas pada bahu kiri dan siku .
d) Ditandai titik tengah tersebut dengan pena

xxi
2) Mengukur Lingkar Lengan Atas
a) Dengan tangan digantung lepas dan siku lurus di samping
badan, telapak tangan dihadapkan ke bawah
b) Diukur lingkar lengan atas pada posisi mid point dengan pita
LILA ditempel pada kulit . Diperhatikan jangan sampai pita
menekan kulit atau ada rongga antara kulit dan pita
c) Lingkar lengan atas di catat pada skala 0,1 cm terdekat.
3) Menentukan Tebal Lipatan Kulit ( TLK)
a) Ibu jari dan jari telunjuk dari tangan kiri digunakan untuk
mengangkat kedua sisi dari kulit lemak subkutan kurang lebih
1 cm proximal dari daerah yang diukur.
b) Dilipatan kulit di angkat pada jarak kurang lebih 1 cm yang
tegak lurus arah garis kulit.
c) Dilipatan kulit tetap di angkat sampai pengukuran selesai.
d) caliper di pegang oleh tangan kanan.
e) Dilakukan pengukuran dalam 4 detik setelah penekanan kulit
oleh kapiler di lepas
4) Mengukur TLK pada Tricep
a) Subjek berdiri dengan kedua lengan tergantung bebas pada
kedua sisi tubuh.
b) Dilakukan pengukuran pada mid point (sama seperti LILA).
c) Pengukur berdiri dibelakang subjek dan diletakkan telapak
tangan kirinya pada bagian lengan yang paling atas kearah
tanda yang telah di buat dimana ibu jari dan jari telunjuk
dihadapkan ke bawah. Triceptskinfold diambil dengan menarik
pada 1 cm dari proximal tanda titik tengah tadi.
d) Tricept skinfold di ukur dengan mendekati 0,1 mm.
5) Mengukur TLK pada subscapular
a) Subjek berdiri tegak dengan kedua lengan tergantung bebas
pada kedua sisi tubuh.
b) Diletakkan tangan kiri ke belakang.

xxii
c) Didapatkan tempat pengukuran, pemeriksa meraba scapula dan
mencarinya kearah bawah lateral sepanjang batas vertebrata
sampai menentukan sudut bawah scapula.
d) Subscapular skinfold di tarik dalam arah diagonal (infero-
lateral) kurang lebih 45 ke arah horizontal garis kulit.
Titik scapula terletak pada bagian bawah sudut scapula .
e) Capiler di letakkan 1 cm infero-lateral dari ibu jari dan jari
telunjuk yang mengangkat kulit dan subkutan kulit di ukur
mendekati 0,1 mm.

xxiii
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
Adapun saran yang dapat kami berikan yaitu sebagai berikut:
1. Diharapkan dalam memberikan pengarahan dalam pelaksanaan
praktiukum pengajar harus mengatur tempo pembicara.
2. Sebaiknya peralatan lebih diperbanyak lagi karena dibandingkan
dengan jumlah praktikum, alat yang disediakan sangat minim.
3. Sebaiknya asisten lebih menjelaskan secara rinci tentang mekanisme
pengukuran antropometri agar praktikan tidak kewalahan dalam
melakukanpengukuran.

xxiv
DAFTAR PUSTAKA

Supariasa, Nyoman. 2001. Penilaian Status Gizi. Jakarta: EGC


Sirajuddin, Saifuddin. 2011. Penuntun Praktikum Penilaian Status Gizi Secara
Biokimia dan Antropometri. Makassar: Laboratorium Terpada Fakultas kesehatan
Masyarakat Universitas hasanuddin.
Gibson 2005. Tinjauan Pustaka LILA.
(Online)http://www.scribd.com/doc/46253718/Tinjauan-Pustaka-Lila-Antropo-
Dsb (Diakses pada tanggal 2 Agustus 2012)
Supariasta Nyoman Dewa I. 2001. Penilaian Status Gizi. Penerbit Buku
Kedokteran EGC. Jakarta
Supariasa,2001. Penilaian Status Gizi Dalam Antropometri.
(Online)http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/25638/4/Chapter%20II.p
df (diakses pada tanggal 2 Agustus 2012)
Sutalaksana,1996. . Bio Kimia Harper. Buku Kedokteran EGC.Jakarta.
Chinue, 2009 Perhitungan Kebutuhan Gizi. Malang.
Supariasta Nyoman Dewa I. 2001. Penilaian Status Gizi. Penerbit Buku
Kedokteran EGC. Jakarta
Assefa, N,. Berhane, Y. & Worku, A. (2012). “Wealth Status, Mid Upper Arm
Circumference (MUAC) and Antenatal Care (ANC) Are Determinants for Low
Birth Weight
Goulding, A., Taylor, RW., Jones, IE., Barned, N.L., & Williams, SM. (2003).
Body composition of 4- and 5-year-old New Zealand girls: a DXA study of initial
adiposity and subsequent 4-year fat change International Journal of Obesity
(2003) 27, 410–415.

xxv