Anda di halaman 1dari 115

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Mode tidak hanya membahas busana. Mode merupakan sebuah cerminan


dari suatu kebudayaan yang tumbuh di dalam masyarakat yang senantiasa
dipengaruhi kondisi-kondisi yang sedang berlangsung.1 Hal ini dikarenakan apa
yang menjadi bagian dalam mode merupakan bagian terdekat dalam hidup
manusia, salah satunya adalah busana. Untuk busana sendiri, seperti yang dikutip
oleh Idi Subandi Ibrahim (peneliti media dan kebudayaan pop dalam pengantar
buku Malcolm Bernard, fashion dan komunikasi: 2007), Thomas Carlyle
mengatakan, “Pakaian adalah perlambang jiwa”. Masih menurut Idi: “Pakaian tak
bisa dipisahkan dari perkembangan sejarah kehidupan dan budaya manusia”.
Industri fashion berkembang di seluruh dunia. Begitupula di Indonesia,
industri fashion terus menanjak dari masa ke masa. Pada awalnya busana
dikenakan hanya sebagai penutup dan pelindung, fungsi tersebut kemudian
berkembang. Busana tidak lagi hanya sebagai penutup dan pelindung saja,
melainkan juga sebagai “kulit sosial” karena apa yang dikenakan seseorang
mendeskripsikan gaya hidup dan status di tengah masyarakat.
Maraknya mode di Indonesia dapat dilihat dari semakin banyaknya bisnis
fashion baik online maupun offline. Menjamurnya bisnis ini merupakan reaksi
dari banyaknya permintaan produk fashion di masyarakat. Dasar peningkatan
permintaan tersebut adalah keinginan untuk berpenampilan lebih menarik dan
diakui secara sosial. Namun masih terdapat kesulitan bagi sebagian orang untuk
dapat mencapai tujuan tersebut sehingga diperlukan referensi dalam
berpenampilan. Sehubungan dengan itu, maka peran media baik media elektronik
maupun cetak seperti televisi dan majalah dengan fashion sebagai ulasan utama

1
Moh. Alim Zaman. 2001. Kostum Barat dari Masa ke Masa. Jakarta: Meutia Cipta Sarana, hal. 1

1
pun semakin bertambah. Begitu pula blog-blog, situs internet atau media sosial
yang mengetengahkan isu fashion yang sedang diikuti masyarakat.
Perubahan mode begitu dinamis, perubahan yang begitu cepat seiring
dengan perkembangan pengetahuan dan teknologi. Sifat manusia yang mudah
jenuh dan keinginan untuk tampil beda memancing kreativitas para pencipta mode
untuk menciptakan inovasi. Didukung dengan berkembangnya bidang
pengetahuan dan teknologi, kebutuhan ini pun dapat terpenuhi. Namun kreativitas
dan inovasi tetap harus mengacu pada trend. Hal ini dilakukan untuk mencegah
terjadinya simpang siur dalam dunia mode yang akhirnya menyebabkan kerugian
besar dalam industri fashion seperti yang terjadi pada tahun 1960-1970an di Paris.
Trend yang terus berubah mendorong peminat fashion untuk
memperbaharui penampilan berbusana karena tidak ingin terlihat ketinggalan
zaman. Adanya inovasi yang membentuk trend menjadi kekuatan dalam fashion
dan telah menghipnotis jutaan manusia. Di Indonesia sendiri, peminatan dan
permintaan fashion semakin meningkat. Melihat realitas tersebut, tidak
mengherankan apabila bidang pendidikan fashion pun semakin diminati dan
fashion designer muda terus bermunculan.
Pendidikan Fashion di Indonesia semakin bertambah dari tahun ke tahun.
Mulai dari penjurusan mode dan busana yang sudah ada di SMK, sekolah mode
dan tekstil dengan titel sarjana, kursus tata busana, dan kursus menjahit. Ini
membuktikan bahwa industri fashion mengalami peningkatan pesat di Indonesia.
Peningkatan tersebut dapat pula dilihat dari adanya agenda-agenda rutin yang
diadakan oleh lembaga tertentu di Indonesia yang dapat menginspirasi dan
menambah kecintaan masyarakat Indonesia akan fashion, seperti Indonesia
Fashion Week (IFW), Jakarta Fashion and Food Festival (JFFF), serta Jakarta
Fashion Week (JFW) dan sebagainya. Event seperti ini sangat baik dalam
perannya mengembangkan industri fashion Indonesia. Selain memperkenalkan
dan mengembangkan kecintaan akan dunia fashion, event seperti ini juga dapat
memancing kreativitas, terutama bagi mereka yang telah berkecimpung dalam
dunia mode.
Kreativitas merupakan hal penting yang harus dimiliki oleh pencipta
mode. Kreativitas dapat diperkaya dengan inspirasi. Melalui inspirasi, ide dapat

2
dengan mudah dicapai. Ide yang didorong oleh kreativitas tinggi kemudian dapat
diolah menjadi sesuatu yang mengagumkan. Untuk memperoleh inspirasi sendiri
ada banyak cara yang dapat dilakukan. Ada banyak pula yang dapat dijadikan
sebagai inspirasi. Salah satunya adalah sejarah.
Sebuah kisah menjadi suatu sejarah tentu karena ada nilai penting di
dalamnya. Sejarah memiliki daya tarik di dalam setiap penggalan kisahnya dan
menarik untuk diangkat sebagai inspirasi. Sejarah sendiri merupakan awal dari
segala sesuatu yang ada saat ini. Tanpa masa lalu, tidak akan ada masa sekarang,
esok, maupun masa depan. Kita akan senantiasa berpijak pada masa lalu untuk
menciptakan hidup yang lebih baik.
Sejarah perlu untuk dijaga dan dipelihara karena dengan sejarah kita dapat
memperkirakan dan mengetahui dari mana kita berasal. Kita juga dituntun ke
masa lalu untuk mengetahui apa saja yang telah terjadi di masa lalu, bagaimana
generasi manusia sebelumnya, bagaimana perkembangan yang terjadi dari dulu
hingga sekarang, dan masih banyak lagi. Di samping itu semua, yang terpenting
dan patut kita serap adalah nilai-nilai penting yang terkandung di dalamnya.
Indonesia memiliki banyak sekali sejarah, dimulai dari zaman pra sejarah,
hingga zaman reformasi seperti saat ini. Dari Sabang sampai Merauke dengan
budaya yang juga beragam mempunyai sejarahnya masing-masing. Ada begitu
banyak sehingga tidak sedikit pula yang akhirnya terlupakan.
Pada penciptaan karya Tugas Akhir ini, penulis mengangkat sejarah ritual
Kayau sebagai inspirasi. Kayau merupakan salah satu ritual adat yang pernah
berlangsung lama di tanah Kalimantan. Ritual yang jauh dari prikemanusiaan,
walau dengan alasan sebagai proteksi dari ancaman luar, namun akhirnya
memberi kesadaran yang mendalam akan arti perdamaian. Kayau telah banyak
memakan banyak korban jiwa dengan cara yang mengenaskan. Maka musyawarah
akbar diadakan di Tumbang Anoi demi persatuan Suku Dayak yang sekaligus
pada waktu itu mengakhiri perang saudara ritual Kayau
Sayangnya, sejarah Kayau dan bagaimana perjuangan yang terkandung di
dalamnya sebagai usaha menyatukan dan menciptakan perdamaian mulai pudar
dari ingatan kita. Tidak sedikit pula yang bahkan tidak mengetahui perjalanan
sejarah ini terutama bagi Suku Dayak sendiri. Tidak heran jika peristiwa ritual

3
Kayau kembali terjadi pada tahun 2001 di Sampit dan di berbagai daerah di
Kalimantan. Kurangnya kesadaran menjaga nilai luhur sejarahlah yang
mengakibatkan pecahnya kerusuhan ini.
Dari penjelasan di atas, sejarah ritual Kayau merupakan topik yang sangat
menarik untuk diangkat. Sepenggal kisah yang patut dijaga sebagai pengingat dan
media introspeksi agar nilai perdamaian terus melekat di hati. Suasana perang
yang terkesan kejam, namun diselubungi oleh niat baik untuk melindungi sesama
warga desanya memberi beragam inspirasi dalam pengkreasian busana.
Tema ini diusung oleh penulis dengan judul Savage Charm, merupakan
koleksi busana dengan bertitik fokus pada suasana pergolakan yang terjadi selama
perang dengan ritual Kayau sebagai bentuk perlawanan dari ancaman luar
terhadap sukunya. Kejadian yang sangat dramatis dari ritual Suku Dayak ini
mengarahkan penulis untuk merancang dengan elegant style dan urban look untuk
wanita berusia 25-33 tahun yang tinggal di perkotaan. Diharapkan dengan
diangkatnya sejarah Kayau dapat dihasilkan koleksi busana yang menarik
sebagaimana menariknya sejarah ini dan tetap mengacu pada trend yang berlaku.

1.2 Rumusan Masalah

Perumusan Masalah dalam pewujudan koleksi busana adalah sebagai berikut:


1. Bagaimana membuat koleksi busana yang terinspirasi dari Sejarah Kayau
menjadi inspirasi dalam penciptaan koleksi busana bergaya elegant dengan
urban look?
2. Bagaimana membuat koleksi yang terinpirasi dari Sejarah Kayau dengan target
market perempuan berusia 25-33 tahun yang tinggal di perkotaan dengan kelas
menengah ke atas?

1.3 Tujuan Penelitian

Dalam penelitian ini tentu terdapat beberapa tujuan yang ingin dicapai. Tujuan
tersebut adalah:

4
1. Membuat koleksi busana yang terinspirasi dari Sejarah Kayau menjadi inspirasi
dalam penciptaan koleksi busana bergaya elegant dengan urban look.
2. Membuat koleksi yang terinpirasi dari Sejarah Kayau dengan target market
perempuan berusia 25-33 tahun yang tinggal di perkotaan dengan kelas
menengah ke atas.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Bagi Peneliti


Dengan adanya penelitian ini maka penulis dapat menerapkan dan
mengembangkan ilmu yang telah dipelajari pada saat kuliah, menambah
pengetahuan terutama mengenai sejarah ritual adat Kayau Suku Dayak, dan
memperoleh pengalaman belajar dan pengetahuan dalam melakukan penelitian.

1.4.2 Manfaat Bagi Perguruan Tinggi


Manfaat yang diperoleh perguruan tinggi dari penelitian ini adalah dapat
mengamalkan Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam melaksanakan fungsi atau
tugas perguruan tinggi sebagai lembaga yang menyelenggarakan pendidikan,
penelitian dan pengabdian bagi masyarakat serta mewujudkan kampus sebagai
masyarakat ilmiah dalam peran sertanya di bidang fashion.

1.4.3 Manfaat Bagi Masyarakat


Penelitian dan pembuatan koleksi busana ini dapat memberikan beberapa
manfaat bagi masyarakat, yaitu dapat dipenuhinya kebutuhan akan busana elegant
dan menciptakan penampilan yang stylish bagi pemakai busana dengan inspirasi
Sejarah Kayau.

1.5 Ruang Lingkup


Koleksi yang ingin diwujudkan terbatas pada kontras perubahan
pandangan Suku Dayak terhadap ritual Kayau dengan adanya perjanjian Tumbang
Anoi yang membawa perdamaian sesama maupun antar suku. Koleksi ini
ditujukan untuk perempuan berusia 25-33 tahun yang berjiwa mandiri dan

5
memiliki kecendrungan gaya yang khas dan orisinil. Selain itu juga memiliki
kepercayaan diri yang tinggi, anggun, dan berkelas, sesuai dengan kepribadian
wanita bergaya elegant.

Elegant Style
Wanita dengan elegant style senantiasa mengutamakan kerapian dalam
berbusana. Mereka tidak menggunakan busana yang terlalu banyak mengekspos
tubuh. Minimalis adalah kunci berbusananya. Apabila menggunakan bahan
bermotif, maka motif pilihannya bukanlah motif yang terkesan mencolok, apalagi
motif yang bertabrakan. Mereka akan menggunakan motif yang simple dengan
bentuk atau siluet busana yang sederhana pula.
Sosok wanita dalam balutan busana bergaya elegant ini harus diimbangi
dengan pribadi yang sesuai dengan citra busana tersebut. Pribadi yang dimaksud
adalah pribadi yang elegant, yang menonjolkan sifat anggun seorang wanita.
Pembawaannya tenang, namun membawa kesan wanita cerdas dan berkelas.
Selain busana, wanita tipe ini juga sangat memperhatikan posisi tubuh. Ketika
duduk dan berdiri mereka akan menjaga agar punggung tetap dalam keadaan
lurus. Ketika berjalan dan berbicara, aura elegan sangat kental dalam pribadi
wanita ini.

Koleksi busana dalam karya Tugas Akhir ini dirancang dengan segmentasi
sebagai berikut :

Faktor Demografi
a. Kependudukan : Indonesia
b. Usia : Wanita 25 – 33 tahun
c. Gender : Perempuan
d. Ekonomi : Menengah ke atas
e. Pendidikan : Perguruan Tinggi
f. Kebangsaan : WNI dan WNA

6
Faktor Psikografis
a. Gaya Hidup : Senang mengikuti fashion trend.
b. Rutinitas : Kuliah, bekerja, berkumpul dalam komunitas.
c. Prilaku : Senang bersosialisasi.

Faktor Geografis
a. Domisili : Perkotaan
b. Daerah : Pusat Kota
c. Iklim : Tropis

Target Spesifik :
-Mahasiswa, wanita karier, dan artis.

1.6 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang penulis ambil adalah deskriptif kualitatif


yaitu mengumpulkan data-data tentang objek penelitian dengan cara observasi dan
mengambil kesimpulan dari observasi yang dijalani. Metode ini dapat diperoleh
dari:

1. Penelitian Kepustakaan
Sumber data dan referensi yang digunakan sebagai acuan atau landasan
teori proposal karya diperoleh dengan cara menggunakan beberapa literatur
seperti modul, diktat dosen, dan sumber bacaan lainnya.

2. Penelusuran Media Online


Mengumpulkan data yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademis
dengan cara melakukan penelusuran data melalui media online. Dengan demikian
data maupun informasi teori dapat secara cepat dan mudah diperoleh.

7
3. Wawancara
Mengumpulkan informasi dengan melakukan wawancara terhadap orang-
orang yang mempunyai wawasan luas mengenai Suku Dayak terutama ritual adat
Kayau seperti para pemangku adat dan tetua-tetua Suku Dayak.

4. Studi Dokumentasi
Mengumpulkan arsip, video dokumenter, dan foto-foto yang berhubungan
dengan Suku Dayak dan Tradisi Kayau.

1.7 Kerangka Penciptaan

Kerangka penciptaan sangat penting dalam proses perancangan suatu


koleksi busana. Koleksi busana akan dibuat berdasarkan kerangka yang telah
disusun. Di dalam kerangka tersebut terdapat beberapa hal yaitu judul koleksi,
style, look, suasana yang muncul dari konsep yang dipilih, sifat-sifat yang muncul
dari konsep, warna, material, motif, detail, tekstur, serta siluet busana yang akan
diwujudkan.
Karya Tugas Akhir yang penulis susun merupakan sebuah karya yang
diwujudnyatakan berdasarkan kerangka penciptaan. Pada kerangka penciptaan,
penulis memilih elegant style dan urban look dengan inspirasi ritual adat Kayau
yang terjadi di Pulau Kalimantan. Dari suasana ritual tersebut terdapat dua sifat.
Sifat yang pertama adalah berani. Sifat berani diambil dari keberanian pelaku
kayau (Suku Dayak) dalam menghadapi musuh. Mereka berani mati dan berani
melawan demi melindungi sukunya dari ancaman luar. Sifat yang kedua adalah
tradisional. Sifat ini muncul dari ritual Kayau sendiri yang pada zamannya
merupakan tradisi leluhur dan dilakukan secara turun temurun.
Sifat berani dan sifat tradisional masing-masing menghasilkan warna,
material, motif, tekstur, detail, dan siluet yang berbeda sesuai dengan karakter dari
sifat tersebut. Sifat berani memunculkan warna yang melambangkan keberanian
itu sendiri yaitu warna merah (primer). Bahan yang digunakan sesuai dengan sifat
ini adalah silk sateen di mana terdapat motif Dayak (pakis) pada bahan tersebut
dengan efek percikan darah dan silk organza yang kaku, sedangkan untuk sifat

8
tradisional material yang digunakan adalah georgette dan lace perancis yang
memiliki tekstur kasar. Detail yang dipilih penulis adalah fringes dan patchwork
dengan busana bersiluet sheath.

9
Kerangka Penciptaan

Berani

Suku Dayak menghadapi musuh


Style : Elegant Style tanpa mengenal rasa takut.
Mereka berani mati dan berani
melawan demi melindungi
sukunya dari ancaman luar

The Savage Colours : Primer (merah) dan


warna netral
Charm Material : Silk Sateen dan Silk
Organza
Motif : Blood
Texture : Kasar
Look : Urban Look Detail : Digital Print
Silhouette : Loose

Adat Kayau terjadi di Pulau Tradisional


Kalimantan yang dilakukan oleh
Suku Dayak di zaman dahulu. Ritual Kayau pada zamannya
merupakan tradisi leluhur dan
Bagi yang tidak mendalami dilakukan secara turun temurun
sejarahnya, ritual ini terkesan
tidak berperikemanusiaan, padahal Colours : Warna netral
Material : Georgette dan lace
sebenarnya Suku Dayak Motif : Motif Dayak (Pakis)
mempunyai tujuan positif yaitu Texture : Kasar
untuk melindungi sukunya dari Detail : Fringes, patchwork
ancaman luar yang Silhouette : Sheath
menghancurkan kesatuan dan
keseimbangan hidup mereka.
Suku Dayak sendiri mempunyai
aturan untuk tidak membunuh
manusia tanpa alasan yang kuat
dan hukuman yang sangat berat
akan dijatuhkan kepada mereka
yang melanggar.

Bagan 1.1 Kerangka Penciptaan

10
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Tinjauan Umum

2.1.1 Desain Mode


Kata desain berasal dari bahasa Inggris yaitu design yang artinya adalah
rancangan, rencana dan mereka-reka rupa. Desain dapat pula diartikan sebagai
merancang, menciptakan susunan garis-garis, warna, bidang, dan tekstur serta
memilih unsur-unsur tersebut yang kemudian digunakan untuk menggarap,
mengelola, membentuk, dan mewujudkan suatu bentuk ciptaan yang mengandung
kaidah rasa nilai estetika dari wujud yang dimaksud.2
Mode atau dalam bahasa Inggris disebut fashion merupakan gaya
berpakaian yang populer dalam suatu budaya tertentu. Menurut Rusbani Wasia,
mode adalah gaya penampilan yang dianggap indah pada suatu masa, digemari
dan diikuti oleh orang banyak. Mode akan berubah dari masa ke masa. Apabila
mode baru muncul, maka mode yang sebelumnya dianggap kuno dan lambat laun
akan ditinggalkan. Mode baru bertitik tolak pada mode sebelumnya dan tampil
kembali dengan variasi baru.3 Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, mode
merupakan betuk nomina yang bermakna ragam cara atau bentuk terbaru pada
suatu waktu tertentu (tata pakaian, potongan rambut, corak hiasan, dan
sebagainya).
Berdasarkan pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa desain
mode adalah merancang dengan memperhatikan unsur dan prinsip desain untuk
menggarap, mengelola, membentuk, dan mewujudkan suatu bentuk terbaru dari
gaya busana sebelumnya dengan nilai estetika yang diaplikasikan dalam tata

2
Yusuf Affendi. 1976. Dasar-dasar Desain. Bandung : Fakultas Teknik Seni Budaya ITB. hal. 5
3
Rusbani Wasia. 1985. Pengetahuan Busana II. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
hal. 3

11
busana, potongan rambut, corak hiasan, aksesoris, dan hal-hal lain yang berkaitan
dengan fashion.

2.1.2 Koleksi Busana

Koleksi adalah kumpulan, baik berupa gambar, benda bersejarah, lukisan


dan sebagaimya. Biasanya koleksi dikaitkan dengan minat atau hobi.4 Pada karya
Tugas Akhir ini, penulis membuat suatu koleksi atau kumpulan busana dengan
satu tema, yaitu tradisi Kayau yang dilakukan oleh Suku Dayak.
Busana secara etimologi berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu “bhusana”.
Namun dalam bahasa Indonesia terjadi pergeseran arti “busana” menjadi
“padanan pakaian”. Meskipun demikian, pengertian busana dan pakaian
merupakan dua hal yang berbeda. Busana merupakan segala sesuatu yang kita
pakai mulai dari ujung rambut sampai ke ujung kaki yang mencakup busana
pokok, pelengkap seperti milineris dan aksesoris serta tata riasnya, sedangkan
pakaian merupakan bagian dari busana yang tergolong busana pokok. Jadi,
pakaian merupakan busana pokok yang digunakan untuk menutupi bagian-bagian
tubuh.5
Berdasarkan gender, busana dibagi menjadi dua, yaitu busana pria dan
busana wanita. Busana kemudian diklasifikasikan lagi berdasarkan fungsi yang
disesuaikan dengan keadaan dan karakter penampilan. Pembagian tersebut dapat
dijelaskan sebagai berikut:

 Ready To Wear
Busana ready to wear atau Pret a Porter dalam bahasa Perancis, adalah
suatu jenis busana yang dapat selalu dikenakan sesuai dengan fungsi dan
kegunaannya. Pada umumnya busana ready to wear dibuat dengan ketahanan
(durability) yang baik dan proses perawatan dan pemeliharaan yang tidak rumit.
Jenis busana ini terbagi lagi menjadi dua yaitu busana ready to wear yang dibuat

4
Kamus.cektkp.com/koleksi/ (Diakses 10 September 2015)
5
Okrek.blogspot.co.id/2009/11/pengertian-busana-tata-busana-dari-buku.html?m=1 (Diakses 10
September 2015)

12
secara terbatas oleh desainer atau rumah mode tertentu dan mass ready to wear
yang diproduksi secara massal. Busana mass ready to wear hanya diproduksi oleh
perusahaan garmen.
 Artwear
Busana artwear adalah busana yang lebih menonjolkan aspek estetika
daripada fungsionalnya. Ada dua jenis artwear, yaitu avantgarde dan radical
wear. Avantgarde artwear adalah busana yang ekperimental dan inovatif,
sedangkan radical artwear adalah busana eksperimental yang cenderung tidak
dapat dipakai. Tujuannya hanya sebagai pemuas kreativitas si perancang saja.
Artwear pada umumnya dihasilkan dengan pengerjaan tangan, bukan mesin. Pada
umumnya, proses produksi busana artwear dan pengerjaannya rumit, dengan
material terpilih, berkualitas tinggi, perhatian dan perlakuan khusus terhadap
aspek detail, jahitan busana serta ketepatan dengan bentuk tubuh dan eksklusif
yang sangat terbatas. Busana dengan teknik pengerjaan yang rumit ini biasa
disebut juga dengan high fashion atau adibusana dalam bahasa Indonesia dan
haute couture dalam bahasa Perancis. Dalam hal pemeliharaan busana dibutuhkan
perawatan khusus dan ekstra.6
Pada koleksi ini, penulis akan merancang busana wanita dengan jenis
busana ready to wear dan artwear. Busana ready to wear terdiri lima buah busana
dan satu buah busana artwear.7

2.1.3 Tren Mode

Salah satu proses yang harus dilakuan dalam proses penciptaan busana
adalah dengan mengamati tren yang sedang berkembang. Tren mode sendiri
adalah tolak ukur kecendrungan perkembangan mode yang sudah merupakan
norma (kaidah yang mutlak).8 Apa yang menjadi tren di saat ini belum tentu

6
http://www.desainbusana.com/2012/06/desain-busana-dan-teori.html. Diakses tanggal: 4 Juli
2015
7
http://www.desainbusana.com/2012/06/desain-busana-dan-teori.html?m=1 Diakses tanggal 10
September 2015
8
Dra. Porrie Muliawan.2003. Menggambar Mode dan Mencipta Busana, Jakarta, BPK Gunung
Mulia, hal:3
13
menjadi tren diwaktu mendatang karena perubahannya berlangsung cepat. Untuk
itu para pencipta mode harus terus memperbaharui informasi sehingga karya yang
dihasilkan tidak dianggap ketinggalan jaman.
Saat ini masih banyak pencipta mode yang takut berinovasi dan berfokus
pada permintaan pasar saja. Para pelaku banyak yang ragu untuk berinovasi lebih
lanjut karena khawatir produk kreasinya tidak akan digemari masyarakat pada
masa mendatang.9 Akibatnya apa yang dihasilkan cenderung terkesan pasaran.
Padahal preferensi masyarakat dalam berbusana senantiasa berubah dari waktu ke
waktu. Oleh sebab itu, maka dibutuhkan suatu market research agency sebagai
dasar berkarya agar dapat berjalan seiring dengan dinamisnya selera dan
pergerakan pasar, seperti yang dikutip dari buku Fashion Design oleh Kathryn
McKelvey & Janine Munslow, “..., design teams use market research agencies to
provide qualitative research to understand patterns in consumer profiles and
purchasing”.10 Market research agencies yang dimaksud di sini adalah Trend
forcasting.
Buku trend 2016/2017 yang berjudul resistence merupakan buku yang
berisi prediksi tren yang terinpirasi dari repon pola pikir masyarakat yang
berupaya melindungi diri karena kehidupan yang terlalu didominasi kemajuan
teknologi dan bagaimana hubungan teknologi dengan alam, kemanusiaan, dan
pola hidup masyarakat urban pada zaman modern seperti saat ini. 11 Terdapat
empat tema besar dalam buku tersebut yaitu Biopop, Humane, Colony, dan
refugium. Namun yang dipakai oleh penulis sebagai acuan mendesain adalah
Colony.
Colony merupakan salah satu tema besar dalam buku tren 2016/2017 yang
diambil dari pemikiran-pemikiran mengenai sebuah ruang hidup alternatif dari
ruang hidup konvensional ‘on the ground’ yang didasari oleh konsep untuk
melindungi habitat manusia yang diramalkan akan mengalami perubahan iklim

9
ICC & APPMI. 2015. Trend Forcasting 2016/2017 Decoding Fashion Resistence. Jakarta :
BDA Design. hal: 5
10
Kathryn McKelvey and Janine Munslow. 2006. Fashion Design: Process, Innovation &
practice, Second Edition. United Kingdom : John Wiley&Sons Ltd. hal: 29
11
ICC&APPMI.2015. Trend Forcasting 2016/2017 Decoding Fashion Resistance. Jakarta : BD+A
Design hal 4&3.
14
yang lebih keras dan sumber daya alam yang semakin menyusut. Terinspirasi oleh
sistem bangunan serangga seperti anai-anai dan lebah, atau sarang dari benang
tipis namun memiliki kekuatan dan ketahanan yang tinggi seperti salah satunya
buatan laba-laba.12
Tren colony diambil oleh penulis karena kesamaan dasar pemikiran pada
konsep karya, yaitu ritual kayau dimana ritual ini dilakukan sebagai perlindungan
dan pertahanan bagi kehidupan masyarakat Suku Dayak dari ancaman luar. Tren
ini dibagi menjadi tiga, yaitu termite, nestwork, dan molecule. Dari ketiga itu,
yang penulis ambil adalah termite karena rongga pada rumah anai-anai yang
menjadi inspirasi dalam tren ini menyerupai rongga yang terdapat pada tengkorak
korban ritual kayau dalam kolase tema. Tren ini diwujudkan penggunaan bahan
lace perancis yang bercorak rongga-rongga sesuai dengan konsep tren ini.

2.2 Tinjauan Khusus

2.2.1 Judul “Savage Charm”

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), judul adalah nama yang
dipakai untuk buku atau bab di buku yang dapat menyiratkan secara pendek isi
atau maksud buku atau bab itu; kepala karangan (cerita drama,dan sebagainya);
tajuk.13 Sebuah koleksi juga membutuhkan judul yang dapat menyiratkan konsep
ataupun maksud dari koleksi tersebut. Berdasarkan hal ini maka penulis memberi
koleksi Tugas Akhir ini judul The Savage Charm.
Savage Charm merupakan judul yang diambil dari Bahasa Inggris di mana
Savage sebagai adjective atau kata sifat berarti liar, buas, ganas, kejam, dan
biadab. Kata ini sesuai dengan kesan yang muncul dari ritual Kayau yang
merupakan inspirasi pilihan penulis dalam pembuatan koleksi busana Tugas
Akhir. Untuk kata charm yang merupakan bentuk noun dari judul tersebut berarti
pesona, daya tarik, daya penarik, kecantikan, daya pemikat, keluwesan, dan
keelokan. Kata ini diambil dari keinginan sang penulis untuk mewujudkan sosok

12
ICC & APPMI. 2015. Trend 2016/2017 Resistence. Jakarta : BDA Design. hal: 69
13
http://kbbi.web.id/judul. (Diakses tanggal: 17 Juni 2015)
15
wanita yang terlihat mempesona dan memiliki daya tarik yang muncul dalam
balutan busana koleksi penulis.
Koleksi yang berjudul Savage Charm ini ditujukan bagi wanita yang ingin
tampil cantik dan mempesona tanpa kesan wanita lemah. Kesan yang ingin
ditonjolkan adalah sosok wanita anggun namun tegas dan mempunyai kepriadian
yang kuat.

2.2.2 Tema “Suasana Ritual Kayau”

Tema adalah gagasan, ide, atau pokok pikiran yang ada di dalam sebuah
karya seni. Tema dalam karya seni rupa adalah gagasan, ide, ataupun isi yang
terkandung di dalam karya seni rupa, baik karya seni rupa dua dimensi, tiga
dimensi, maupun relief.14
Penentuan tema merupakan hal penting dan merupakan langkah awal
dalam proses penciptaan karya. Tema memberi kita petunjuk untuk dapat
mengetahui dari titik mana kita harus bertolak dan ke mana arah tujuan suatu
karya. Sifatnya yang menjadi pusat atau pokok membatasi lingkup sehingga
proses dan hasil tetap fokus.
Adanya tema tidak muncul secara serta merta. Tema terbentuk dari
inspirasi. Inspirasi dapat muncul dari mana saja, seperti yang tertulis dalam buku
the Fashion Designer’s Directory of Shape and Detail, dikatakan bahwa:
Inspiration can come from anywhere. Look aroud your environtment to analyze,
explore, and borrow ideas, colours, textures and shapes that stand out for you.15
Inspirasi dapat muncul dari lingkungan sekitar kita dengan cara menganalisa,
mengeksplorasi dan meminjam ide, warna, tekstur dan bentuk yang menarik
menurut kita. Dari situ kemudian dapat ditentukan tema yang sesuai dengan
inspirasi hasil analisis dan eksplorasi. Inspirasi juga dapat diperoleh dengan
mengamati gaya hidup suatu kelompok masyarakat, sejarah, fenomena yang
terjadi, dan sebagainya.

14
Yoyok Rm & Siswandi.2006. Seni Budaya. Sidoarjo, Yudhistira Galia Indonesia, hal:3
15
Simon Travers Spencer & Zarida Zaman.2008. The Fashion Designer’s directory of Shape and
Style, London , Quarto Publishing plc, hal 14

16
Pada koleksi berjudul The Savage Charm ini, tema yang diambil adalah
sejarah salah satu suku yang ada di Indonesia, yaitu Suku Dayak dengan ritual
adatnya yang dikenal dengan nama Ngayau atau Kayau. Ngayau atau Kayau
merupakan ritual adat yang dilakukan oleh Suku Dayak di Kalimantan. Ngayau
mempunyai arti turun berperang. Ritual ini terjadi dan terus berkembang hingga
mencapai puncaknya di tahun 1894.
Berdasarkan hasil wawancara dengan para tetua adat suku Dayak di
Kalimantan dapat diperoleh informasi bahwa dalam berperang dengan ritual
Kayau mereka menggunakan perlengkapan perang tradisional berupa perisai,
tombak, sampit, dan mandau (nama pedang suku Dayak). Sebelum melakukan
Kayau, mereka melakukan ritual khusus untuk memanggil roh dan merasuki
tubuh mereka. Setelah itu kayau pun dilakukan dengan cara memotong kepala
musuh. Walau terdengar kejam dan terkesan jauh dari perikemanusiaan,
sebenarnya suku Dayak melakukan kayau sebagai proteksi. Suku Dayak sendiri
mempunyai aturan untuk tidak membunuh sesama manusia tanpa alasan yang
kuat. Hukuman yang sangat berat akan ditimpakan bagi mereka yang melanggar
aturan adat ini. Namun jika mereka mempunyai alasan yang sangat kuat untuk
membunuh, maka cara membunuh yang paling baik adalah dengan memotong
kepala. Dengan memotong bagian kepala musuh itu berarti mereka telah
membantu jiwa korban naik ke langit ke tujuh (surga). Hal ini diyakini oleh Suku
Dayak yang pada masa itu masih memeluk kepercayaan Kahayangan.
Ritual ini berakhir pada tahun 1894 dengan adanya Perjanjian Tumbang
Anoi yang diadakan di desa Tumbang Anoi, Kalimantan Tengah. Perjanjian ini
diikuti oleh seluruh kepala suku Dayak yang ada di seluruh pulau Kalimantan.
Adanya perjanjian ini sebagai reaksi dari adanya perang besar antara kedua sub
suku Dayak yang memakan banyak korban jiwa dimana perang tersebut juga
mengancam kehidupan warga yang tidak terlibat peperangan. Masuknya agama
Kristen yang dibawa oleh Belanda juga membawa peran besar dalam
dihentikannya praktek ritual Kayau ini.

17
2.2.3 Style ( Elegant Style)

Style dapat disebut juga sebagai gaya berbusana seseorang. Gaya


berbusana dipengaruhi oleh kepribadian, gaya hidup, kegemaran, dan tingkah pola
mereka dalam suatu masyarakat atau lingkungan. Gaya berbusana mencerminkan
tipe orang yang mengenakannya.
Dunia fashion mengenal enam style yang dapat dipakai dalam proses
perancangan yang juga merupakan tipe kepribadian wanita. Style tersebut adalah
classic elegant, sporty casual, feminine romantic, arty of beat, exotic dramatic,
dan sexy alluring. Gaya berbusana tersebut dapat dipadukan dengan style yang
lainnya, misalnya casual feminine, exotic feminine, dan sebagainya. Bisa pula
berdiri sendiri tanpa pencampuran dengan style lain seperti elegant style, casual
style, feminine style, dan sebagainya.
Pada koleksi busana karya Tugas Akhir ini penulis memilih elegant style.
Elegant style dipilih karena kesesuaiannya dengan pribadi wanita dewasa berusia
25 hingga 33 tahun. Warna pada kolase tema yang digunakan sebagai warna
bahan dan motif pun merujuk pada warna-warna elegan yang menunjukkan
kedewasaan. Warna-warna tersebut adalah warna-warna netral yang sesuai bagi
wanita berusia dewasa. Penggunaan warna primer, yaitu merah tidak terlalu
mencolok karena hanya merupakan efek percikan darah pada motif.
Elegan atau elegant dalam bahasa Inggris adalah graceful and attractive
(of people or their behaviour). Dapat didefinisikan juga sebagai attractive and
designed well (of clothes, places, and things).16 Sedangkan menurut KBBI elegan
adalah elok, rapi, anggun, lemah gemulai, luwes.17 Dari penjelasan di atas dapat
ditarik kesimpulan bahwa elegant tidaklah selalu dinilai dari apa yang dikenakan
melainkan juga bagaimana membawa diri terutama di dalam pergaulan atau
kehidupan sosial. Hal ini pernah disinggung oleh seorang designer Amerika
ternama kelahiran Venezuela, Carolina Herrera dengan mengungkapkan bahwa

16
A S Hornby. 2000. Oxford Advanced Learner’s Dictionary. New York. Oxford Unuversity
Press
17
http://kbbi.web.id/elegan. (Diakses tanggal: 25 Juli 2015)
18
“Elegance isn’t solely defined by what you wear. It’s how you carry yourself, how
you speak, what you read”.18
Penampilan yang elegant tidak berarti tampil glamour dengan detail yang
serba blink. Penampilan ini justru terlihat dari gaya berbusana yang simple, siluet
yang sederhana namun tetap stylish dan tidak menggunakan terlalu banyak motif
maupun tabrak motif. Gaya berbusananya rapi dan tidak mengungkapkan tubuh
telalu banyak (tidak terbuka). Warna pilihan dalam berbusana adalah warna-warna
yang tidak mencolok mata seperti warna-warna netral. Warna-warna tersebut di
antaranya adalah hitam, creme, broken white, aneka cokelat, dan lain sebagainya.
Cara berbusananya bersifat tetap dan tidak berubah. Hal ini juga menjelaskan
pernyataan Coco Chanel yang mengungkapkan bahwa, “Elegance is refusal”,
dimana penolakan yang dimaksud adalah keengganan untuk banyak
bereksperimen dalam berpenampilan busana.
Aksesoris sebagai pendukung penampilan yang menjadi pilihan adalah
aksesoris yang simple, tidak tabrak warna dan tidak berlebihan. Kebanyakan
wanita menggunakan banyak aksesoris seperti jam tangan, gelang, kalung, cincin,
anting, bando, dan lainnya dalam waktu bersamaan. Tidak demikian pada wanita
elegant. Mereka akan meminimalisasi penggunaan aksesoris. Misalnya mereka
hanya akan mengenakan kalung dan jam tangan saja, atau anting-anting dan
cincin saja. Tujuannya hanyalah sebagai pelengkap atau pemanis penampilan.
Makeup yang digemari wanita elegant bukanlah makeup yang dipakai
secara berlebihan. Wanita elegant ber-makeup secara minimalis yaitu makeup
yang tidak memberikan kesan menor pada wajahnya. Kesan yang ditimbulkan
adalah kesan kecantikan natural.
Wanita elegant selalu menggunakan sepatu yang memberikan kesan
minimalis tanpa meninggalkan kesan anggun. Sepatu yang menjadi pilihannya
adalah sepatu-sepatu bertumit (heels). Mereka senang menggunakan sepatu
dengan high heels maupun medium heels.
Gaya berbusana yang elegant tidak lengkap apabila tidak ditunjang dengan
pembawaan diri yang memberikan kesan elegant itu sendiri. Tanpa pembawaan
diri yang tepat, busana tersebut justru akan terlihat aneh. Oleh sebab itu perlu

18
http://www.brainyquote.com/quotes/keywords/elegance.html. (Diakses tanggal 25 Juli 2015)
19
diperhatikan beberapa hal seperti tidak terlalu banyak berbicara melainkan lebih
banyak mendengarkan. Wanita elegant tidak memberikan tanggapan yang
berlebihan atas ucapan orang lain karena sikap kekanak-kanakan seperti berteriak,
banyak berbicara, menyindir, dan lain sebagainya membuat wanita tidak terlihat
dewasa dan tidak berkelas.
Wanita elegant yang sesungguhnya akan senantiasa peduli dan
memperhatikan sikap. Selain itu mereka juga sangat memperhatikan postur tubuh.
Mereka tidak akan berdiri ataupun duduk dengan posisi yang membungkuk
melainkan tetap menjaga punggung pada posisi lurus dan tegap. Pada waktu
duduk mereka akan menjaga kedua kaki tetap rapat ataupun menyilang sehingga
tetap terlihat anggun.

2.2.4 Look (Urban Look)

Look merupakan acuan yang digunakan oleh designer untuk menentukan


akan seperti apa pemakai busana yang diciptakannya tersebut terlihat. Look dapat
diambil dari cara kelompok atau individu tertentu dalam berpakaian. Beberapa
look diadopsi dari gaya kelompok profesi tertentu seperti army look dan sailor
look. Dapat juga dari kelompok sosial atau komunitas tertentu seperti punkers
look, skeaters look, grunge look dan street look. Dari kelompok budaya tertentu
seperti Gipsy look, Indian look, dan Oriental look, atau dari cara penampilan
public figure tertentu seperti bintang film, penyanyi, model, dan sebagainya.
Urban adalah daerah yang penduduknya bergaya hidup modern.19
Menurut Oxford Advanced Learner’s Dictionary, pengertian urban adalah
connected with a town or city.20 Dapat ditarik kesimpulan bahwa urban adalah
kawasan perkotaan itu sendiri. Masih dari sumber yang sama, secara harafiah,
kata “look” berarti the way somebody or something looks atau the appearance of
somebody or something.21 Dari pengertian kedua kata tersebut dalam konteks

19
http://www.organisasi.org/1970/01/pembagian-wilayah-dari-pusat-kota-ke-daerah-pedesaan-city-
suburban-fringe-urban-fringe-rural-urban-ringe-urban.html?m=1. Diakses:25 Juli 2015
20
A.S Hornby. 2000. Oxford Advanced Learner’s Dictionary. New York. Oxford Unuversity
Press. Hal. 1489
21
A.S Hornby. 2000. Oxford Advanced Learner’s Dictionary. New York. Oxford Unuversity
Press. Hal. 792
20
fashion dapat kita definisikan urban look sebagai cara atau penampilan seseorang
yang dipengaruhi oleh budaya dari wilayah perkotaan yang cenderung diterima
dan digemari oleh mayoritas masyarakat.
Berdasarkan sejarahnya, urban look muncul dari budaya hip hop yang
menyebar kepada anak-anak muda dan para seniman yang banyak berpengaruh
pada masyarakat. Berdasarkan sejarahnya, pada tahun 90an hip hop berada pada
puncaknya sehingga cara berbusana layaknya bintang hip hop ini berkembang
terutama pada para pecinta musik. Busana tersebut terdiri dari label-label ternama
seperti Gucci dan Burberry. Perusahaan clothing besar menjadi pihak yang
bertanggung jawab dalam pemenuhan kebutuhan akan gaya berbusana ini
termasuk di antaranya adalah perusahaan Phat Farm, Marc Ecko, dan Nike.
Produk-produk yang dihasilkan diantaranya adalah busana dengan loose fitting,
basic colors, sneakers, heavy jewelry dengan beragam bentuk, dan sebagainya.
Look ini terus diminati dan mengalami perkembangan selama bertahun-tahun
hingga akhirnya menjadi gaya yang berbeda seperti yang kita ketahui pada masa
kini.
Urban look yang kita kenal saat ini terlihat berbeda dan telah
dikombinasikan dengan faktor individualitas. Urban look saat ini selalu
didefinisikan sebagai gaya berbusana yang menarik yang selalu dihubungkan
dengan high end fashion brands yang digabungkan dengan musik, budaya, dan
perbedaan-perbedaan yang bersifat unik.
Urban look adalah lebih dari sekedar busana, yaitu merupakan ungkapan
dari mobilitas hidup terutama dalam style dan pandangan sosial. Urban look
bukan lagi berupa baggy jeans dan XXL shirts, melainkan berupa produk fashion
yang bermerk, meluas, dan dikagumi baik dari jalanan hingga perkantoran, dari
perkotaan hingga pinggiran kota, dari masyarakat berkulit hitam hingga putih.
Dalam perkembangannya, urban look banyak dipengaruhi oleh media informasi
seperti majalah, televisi, dan yang paling utama adalah jaringan social media.

2.2.5 Target Market

Pelaku kreatif dalam bidang mode perlu memutuskan siapa yang menjadi
sasaran pasar atau target market. Menurut Nila Palacious dalam bukunya yang

21
berjudul Fashion with Passion, definisi target market adalah a specific group of
consumers at which the company aims its products and services. Your target
costumers are those who are likely to buy from you.22 Sebelum proses
perancangan busana, diperlukan penentuan segmentasi yang hendak dituju, yaitu
kelompok masyarakat yang akan membeli dan menggunakan produk yang
dihasilkan. Produk yang tepat sasaran akan membentuk minat yang besar dari
pelanggan.
Jose Hauer dalam bukunya mengatakan bahwa, “You will need to
understand who and where your target market is and what drives them”.23 Untuk
itu maka dibagi beberapa segmentasi pasar. Ada empat variabel utama yang bisa
digunakan sebagai dasar-dasar pengelompokan pasar, yaitu variabel demografi,
geografi, psikografi, dan perilaku.24
Pada karya Tugas Akhir ini, koleksi busana secara demografi ditujukan
bagi perempuan remaja Indonesia dengan kisaran usia 25-33 tahun. Secara
pskologis, pada usia ini wanita mengalami ketidakstabilan yaitu peningkatan
kemudian penurunan dalam sifat yang berkaitan dengan feminitas seperti rasa
simpati, rasa iba yang dikombinasikan dengan perasaan rapuh, kritik diri, dan
kurangnya rasa percaya diri dan inisiatif. Dimulai pada usia 27 tahun, wanita
mengembangkan lebih banyak disiplin diri dan keterampilan mengadapi masalah
(Helson & Moane, 1987). Selain itu seorang wanita yang teridentifikasi sebagai
seorang keras kepala atau terlalu terpaku pada pikiran sendiri akan menjadi lebih
sosial serta lebih percaya diri pada usia ini.25 Penelitian ini dilakukan terhadap
kalangan wanita berkelas menengah ke atas dan berpendidikan.
Pada umumnya wanita pada umur tersebut memiliki energi terarah kepada
pembelajaran untuk berkarier, menikah, membesarkan anak, dan mencari jalan

22
Nila Palacious.2014.Fashion with Passion. Kuala Lumpur:Trafford Publishing. hal:64
23
Jose Hauer.2014. How to Start a Fashion Business (Beginners Guide). United Kingdom. Sam
Enrico Williams. hal:4
24
Bilson Simamora. 2001. Memenangkan Pasar dengan Pemasaran Efektif dan Profitabel. Jakarta.
Gramedia Pustaka Utama. hal:128
25
Diane E. Papalia, et. al. 2008. Human Development (Psikologi Perkembangan). Hal 693

22
untuk berhubungan dengan kehidupan komunitas. Selama tahap inilah individu
cenderung pergi ke tempat-tempat lain, energetik, impulsif.26
Dalam hal pertemanan pada masa dewasa awal cenderung bepusat pada
pekerjaan dan aktivitas parenting serta berbagi kepercayaan diri dan masukan
(Hartup & Stevens, 1999). Tentu saja dalam kelompok pertemanan tersebut
terdapat kualitas dan karakter yang beragam. Sebagian sangat intim dan suportif,
sedangkan yang lain ditandai dengan konflik yang kerap terjadi. Sebagian teman
mungkin memiliki ketertarikan yang sama, sedangkan yang lain tidak sama.
Sebagian pertemanan berlangsung seumur hidup sedangkan yang lain cepat
berlalu (Hartup & Stevens 1999). Beberapa “pertemanan terbaik” lebih stabil
ketimbang ketertarikan kepada kekasih atau pasangan.
Seorang dewasa awal yang masih lajang amat bergantung kepada
pertemanan untuk memenuhi kebutuhan sosial mereka dibandingkan orang
dewasa awal yang telah menikah atau telah menjadi orangtua (Carbey &
Buhrmester, 1998), tetapi pengantin baru memiliki jumlah teman yang banyak.
Jumlah tersebut akan terus mengalami penurunan ketika memasuki masa dewasa
akhir atau paruh baya.27
Wanita yang menjadi target market adalah wanita perkotaan yang tinggal
di pusat kota. Wanita yang hidup di pusat kota tentu akan lebih dulu mengetahui
trend terutama dalam hal fashion daripada kalangan yang tinggal di daerah. Ini
disebabkan banyaknya tawaran produk terutama produk fashion di perkotaan.
Masing-masing produk dirancang dengan mengedepankan kualitas yang dapat
bersaing sehingga pihak produsen terus berinovasi untuk menghasilkan produk
yang menarik dan tidak ketinggalan jaman. Dapat dikatakan bahwa semua proses
pembaharuan dimulai dari pusat kota sehingga mereka yang tinggal di
perkotaanlah yang akan terlebih dahulu menerima atau mengenal hal-hal tersebut.
Secara psikografi, pasar yang ditargetkan oleh penulis adalah wanita
berusia dewasa muda di mana pada awal-awal kedewasaannya masih terdapat sisa
sifat-sifat remaja yang memiliki keinginan untuk mencari jati diri. Pada masa ini
wanita mempunyai kebebasan yang berbeda dalam menunjukkannya. Hal tersebut

26
Yustinus Semiun OFM. 2013. Teori-teori Kepribadian Psikoanalitik Kontemporer-1. Hal 144
27
Diane E. Papalia, et. al. 2008. Human Development (Psikologi Perkembangan). Hal 693
23
disebabkan adanya kebebasan dalam pengaturan finansial yang sudah secara
mandiri dihasilkan.
Pada usia 25-33 tahun ini pada umumnya wanita sudah berkarir atau
memulai karier. Masa-masa ini adalah masa di mana seorang wanita mulai
mengenal hidup mandiri dan bebas. Mereka mulai menentukan jalan hidupnya
sendiri termasuk menentukan akan dialokasikan ke mana penghasilan yang
mereka peroleh dari pekerjaan mereka.
Ketika masuk dalam dunia kerja, kebanyakan wanita mulai memikirkan
penampilan. Dunia kerja akan membuka kesadaran akan pentingnya penampilan
terutama bagi wanita yang bekerja kantoran. Mereka akan menggunakan
penghasilan mereka untuk memenuhi tuntutan ini. Pada umumnya, dimasa awal
karier, mereka akan menggunakan hasil kerja untuk menikmati hidup mereka
sendiri. Mereka mulai mempergunakannya untuk berlibur maupun membeli
barang-barang yang telah lama mereka inginkan. Hal ini berlaku terutama bagi
para wanita yang masih lajang.
Dunia kerja dengan kesibukannya membatasi tingkat sosial dalam
keseharian wanita dewasa awal. Walau demikian hal tersebut tidak mengurangi
dorongan hati untuk bersosial bersama komunitasnya. Mereka akan selalu mencari
jalan agar selalu dapat memenuhi dorongan sosial tersebut. Keinginan untuk
menyatu kembali dalam komunitas pertemanannya ini disertai pula dengan
keinginan untuk diakui. Status “telah bekerja” mendorong mereka untuk
memperlihatkan “status aman” terutama dalam hal finansial. Salah satu caranya
adalah dengan mengubah penampilan menjadi lebih menarik berdasarkan
standarnya. Inilah yang menjadi pertimbangan penulis dalam memilih wanita
dewasa awal sebagai target market secara prilaku, yaitu dorongan untuk lebih
memperhatikan penampilan yang didukung dengan kematangan finansial. Namun
pada perkembangannya kebiasaan ini lambat laun akan memudar seiring dengan
pertambahan usia. Pada usia mendekati 30 seorang wanita akan mulai memikirkan
pentingnya keluarga dan semakin lama semakin memfokuskan diri pada rumah
tangga, parenting, serta karier. Mereka perlahan-lahan akan menyisihkan
pendapatan mereka untuk ditabung demi masa depan keluarga dan anak.

24
Kebutuhan wanita dewasa awal ini akan busana yang dapat menunjukkan
jati dirinya sebagai wanita karier yang mandiri mengarahkan penulis untuk
merancang suatu koleksi busana yang up-to-date dan sesuai dengan citra wanita
karier dimana pada umumnya wanita karier selalu ingin menonjolkan taraf hidup
melalui busana. Bagi wanita dengan usia ini elegant style adalah style yang tepat
dan sesuai terhadap citra wanita dewasa. Beberapa cara yang dapat dilakukan oleh
penulis untuk mengembangkan ide rancangan adalah dengan melihat gaya busana
terbaru di majalah-majalah, di butik-butik, browsing internet, dan melihat buku
trend forcasting.
Selain faktor-faktor di atas, wilayah, ukuran kota, iklim, dan pemukiman
merupakan beberapa faktor yang harus dipertimbangkan sebagai penentu
kelayakan suatu produk dijual di suatu wilayah. Faktor ini termasuk dalam faktor
geografi yang dapat menjadi batasan dalam penawaran produk tertentu.
Mengingat hal tersebut maka penulis memperhatikan ketebalan dan jenis bahan,
berat busana, bentuk, corak, warna, dan ukuran sehingga kita dapat menilai
apakah produk tersebut pantas ditawarkan di daerah yang dituju.
Indonesia merupakan negara dengan iklim tropis dengan suhu udara 25°
hingga 33° celcius. Suhu udara ini membuat penduduknya membutuhkan busana
yang longgar atau memungkinkan untuk memperoleh banyak sirkulasi udara,
tidak terlalu tebal, dan dapat menyerap keringat. Menyesuaikan kebutuhan pasar,
maka penulis memilih bahan yang tidak terlalu tebal dan ringan yaitu georgette,
silk organza dan silk sateen. Siluet yang digunakan pun merupakan siluet H, A,
dan loose yang memungkinkan udara untuk lebih leluasa bersirkulasi sehingga
pemakai busana tidak merasa gerah.

25
BAB III

GAGASAN KONSEPTUAL

3.1 Gagasan Umum

Desain merupakan kata yang identik dengan suatu karya seni. Kata
tersebut dapat digunakan sebagai kata kerja maupun kata benda. Dalam pengertian
sebagai kata kerja, desain berarti proses merancang atau penciptaan suatu obyek
baru, sedangkan sebagai kata benda desain berarti hasil akhir dari proses
penciptaan tersebut.
Proses mendesain tidak dapat dilepaskan dari pelaku desain. Pelaku dari
kegiatan mendesain disebut desainer. Desainer merupakan keutamaan dari proses
mendesain karena perannya yang menciptakan ide dan pengkreasian obyek baru.
Pada industri fashion, fashion designer merupakan bagian terpenting. Untuk
menjadi fashion designer, hal utama yang harus dimiliki adalah daya cipta atau
kreativitas yang tinggi. Kreativita adalah suatu kemampuan umum untuk
menciptakan suatu yang baru, sebagai kemampuan untuk memberikan gagasan-
gagasan baru yang dapat diterapkan dalam pemecahan masalah, atau sebagai
kemampuan untuk melihat hubungan-hubungan baru antara unsur-unsur yang
sudah ada sebelumnya.28
Ketika melakukan proses desain, yang harus diperhatikan oleh seorang
desainer adalah aspek fungsi, estetik, dan berbagai aspek lainnya. Pembuatannya
juga harus sesuai dengan konsep yang telah ditentukan. Rangkuman informasi
terkait hal tersebut dapat diperoleh dari riset, pemikiran, brainstorming, maupun
dari desain yang sudah ada sebelumnya. Ada beberapa hal yang dapat menjadi
dasar dalam pembuatan suatu desain. Beberapa hal tersebut adalah elemen desain,
prinsip desain, dan unsur penunjang desain.

28
Utami Munandar.2004. Pengembangan Emosi dan Kreativitas. Jakarta. Rineka Cipta

26
3.1.1 Elemen Desain

Elemen desain merupakan salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam proses
merancang suatu karya. Terdapat beberapa poin penting dalam elemen desain
yang dirangkum sebagai berikut:

Size (Ukuran)
Ukuran adalah unsur dalam desain yang mendefinisikan besar kecilnya
suatu objek. Dalam pewujudnyataan rancangan, ukuran yang digunakan
adalah ukuran standar perempuan yaitu M.

Warna
Warna merupakan unsur penting dalam objek desain karena dengan warna
orang bisa menampilkan identitas, menyampaikan pesan atau
membedakan sifat dari bentuk-bentuk visual secara jelas.
Warna yang digunakan oleh penulis adalah warna-warna yang terdapat
dalam kolase tema yakni hitam, abu-abu, broken white yang mengesankan
“tempo dulu” dalam kolase tema serta warna merah yang diperoleh dari
warna darah.

Tekstur
Tekstur adalah tampilan permukaan (corak) dari suatu benda yang dapat
dinilai dengan menggunakan indra peraba dan penglihatan. Sifat
tradisional dan berani yang muncul dari gejolak yang terjadi pada ritual
Kayau mengarahkan penulis untuk memilih bahan dengan tekstur kasar
seperti georgette. Tekstur kasar ini juga dapat diperoleh dari teknik
pengolahan benang yang membentuk fringes. Bentuk ini menggantikan
bentuk bulu-bulu binatang yang digunakan oleh suku Dayak pada kostum
mereka. Selain itu tekstur kasar juga diwujudkan dengan penggunaan
bahan lace.

27
Garis
Sebuah garis adalah unsur desain yang menghubungkan antara satu titik
point dengan titik poin yang lain sehingga bisa berbentuk gambar garis
lurus dan garis lengkung. Unsur garis yang diambil penulis muncul dari
bentuk lengkungan motif Dayak juga garis lurus yang diperoleh dari garis
lurus bulu-bulu hewan dan persenjataan perang Suku Dayak.

Bentuk (shape)
Bentuk adalah segala hal yang memiliki panjang dan lebar. Bentuk dasar
yang dikenal orang adalah circle, rectangle, dan triangle. Untuk unsur
bentuk yang diambil oleh penulis adalah circle yang diperoleh dari bentuk
tengkorak dan rongga-rongga yang ada pada tengkorak dan potongan-
potongan berbentuk triangle dengan sudut lancip yang memberikan kesan
tajam layaknya senjata mandau dan tombak yang digunakan Suku Dayak
dalam ritual Kayau.

Bidang
Bidang merupakan jarak antara satu bentuk dengan bentuk lainnya yang
dapat dijadikan untuk memberikan efek estetika dan dinamika. Pada
beberapa busana dalam koleksi ini terdapat beberapa bidang yang
dihasilkan oleh potongan busana dengan penggunaan bahan yang berbeda
warna.

Siluet
Siluet dipahami sebagai garis luar dari suatu busana tanpa detail seperti
bordir, lipit, kelim, kup, kerut, dan lain-lain. Beberapa siluet yang lazim
ditemui adalah siluet A, sheath, tent, S, fit and flare, dan princess line.
Siluet yang dipakai penulis dalam penyusunan koleksi ini adalah sheath.

28
3.1.2 Prinsip Desain

Selain elemen desain, seorang desainer juga harus memperhatikan prinsip-


prinsip desain. Prinsip-prinsip tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:

Balance : Merupakan keadaan atau kesamaan antara kekuatan yang


saling berhadapan yang menimbulkan adanya kesan
seimbang secara visual. Prinsip keseimbangan ada dua
yaitu keseimbangan formal (simetris) dan keseimbangan
informal (tidak simetris). Beberapa busana dalam koleksi
ini didesain dengan berdasarkan prinsip balance yaitu
formal yang berarti simetris dan informal yang tidak
simetris.

Unity : Unity atau kesatuan merupakan kesinambungan,


konsistensi, atau keutuhan bentuk satu dengan yang
lainnya pada suatu koleksi. Pada koleksi ini penulis
menggunakan bahan yang sama, baik dari jenis bahan
kombinasi hingga motif. Warna yang digunakan dan
potongan yang tajam pun secara konsisten digunakan
sehingga terdapat benang merah antar satu baju dengan
yang lainnya.

Harmony : Bentuk satu dengan lainnya harus memiliki keselarasan


dan saling berkorelasi. Keharmonisan bentuk dapat terlihat
dari siluet yang sama serta penggunaan warna netral yang
memberikan kesan harmoni.

Contrast : Perbedaan yang terjadi antara bentuk satu dengan yang


lainnya, baik dari warna, kombinasi bahan, ukuran, dan
sebagainya.

29
Pada koleksi ini, kontras dapat dilihat dari penggunaan
bahan yang sifatnya berbeda yaitu kombinasi bahan
transparan dan tidak transparan serta bahan kaku dan
bahan lemas.

Repetition : Adanya repetisi atau pengulangan yang terjadi untuk


mendapatkan bentuk tertentu. Prinsip ini dapat dilihat
pada busana artwear yang menggunakan pengulangan
pada aplikasi fringes.

Radiation : Radiation atau radiasi merupakan garis, titik, atau


berupa apapun yang merupakan pergerakan memancar
ke titik pusat.

Rhythm : Rhythm atau irama dapat dilihat dari kesan gerak yang
menyambung dari bagian satu ke bagian yang lain, dapat
diciptakan dari pengulangan yang mengalami perubahan
atau peralihan ukuran.

Gradation : Percampuran dari perbedaan yang disatukan, biasanya


dalam hal warna.

Proportion : Perbandingan antara bagian yang satu dengan bagian lain


yang dipadukan.

3.1.3 Unsur Penunjang Desain

Selain elemen dan prinsip desain, ada enam unsur pokok penunjang dalam
mendesain yang harus diperhatikan. Enam unsur tersebut adalah:

Estetis atau keindahan, menitik beratkan kaidah emphasis ke dalam


proses mendesain yang diharapkan menjadi fundamental dan dapat

30
dirasakan oleh orang lain atau klien. Unsur estetis pada koleksi dapat
dilihat dari penggunaan motif Dayak dan penggunaan berbagai potongan
tajam pada busana.

Fungsional, yaitu dapat menunjukan sifat desain fungsional atau sesuai


dengan tujuan awal dari konsep perancangan desain, yang maksudnya
desain dapat digunakan pada kesempatan yang tepat serta fungsi yang
benar sesuai dengan kebutuhan lingkungan masyarakat pengguna. Unsur
penunjang desain secara fungsional ini dapat dilihat dari koleksi busana
ready to wear yang tepat secara fungsi, yaitu sebagai busana yang
digunakan pada kesempatan yang santai atau tidak formal.

Fleksibel, yaitu dapat dikatakan multifungsi atau memiliki lebih dari satu
fungsi. Sesuai dengan kondisi masyarakatnya, desain yang mendukung
gerak kerja bagi penggunanya berkaitan dengan kemajuan peradaban.
Busana dalam koleksi berjudul The Savage Charm ini merupakan busana
yang dapat digunakan dalam berbagai kesempatan informal. Beberapa
busana juga dapat dipadupadankan dengan busana yang lain.

Realized, maksudnya karya desain harus memikirkan :


- Tehnik pengerjaan
- Kemudahan pengerjaan
- Kemudahan material
Pada koleksi ini, tehnik pengerjaan yang digunakan adalah digital printing
untuk mengaplikasikan motif Dayak pada bahan, sedangkan penjahitannya
menggunakan tehnik penyelesaian stik balik. Tingkat pengerjaannya dapat
dikatakan mudah karena siluet yang digunakan adalah H dan loose. Selain
itu material yang digunakan juga mudah diperoleh karena merupakan
bahan yang ringan dan lazim digunakan sehari-hari.

31
Ekonomi, yakni karya desain diharapkan disesuaikan dengan keadaan
ekonomi masyarakat dan di sesuaikan dengan kondisi pasar. Pangsa pasar
itu sendiri dibagi menjadi dua kategori yaitu :

- Desain yang bersifat eksklusif , yang disesuaikan dengan selera


target market tertentu.
- Desain yang bersifat produksi massal, yang dikenal dengan istilah
repeat design, yaitu rancangan desain yang dapat dibuat secara
berulang-ulang karena permintaan pasar.

Market atau pasar, rancangan desain selalu berorientasi pada hasil


penelitian kebutuhan pasar pada saat itu. Kondisi geografi perlu pula di
29
perhatikan . Mengingat pentingnya hal ini maka penulis menentukan
target pasar yaitu wanita Indonesia berusia 25-33 tahun dengan segmentasi
pasar menengah ke atas yang berdomisili di perkotaan.

3.2 Gagasan Khusus

3.2.1 Kolase

Kolase atau yang biasa dalam bahasa Inggirs disebut Collage berasal dari
bahasa Perancis yaitu “Coller” yang berarti “lem”. Istilah ini diciptakan pertama
kali pada awal abad ke-20 oleh seniman ternama bernama Pablo Picasso dan
Georges Braque. Ada dua jenis kolase yang dibuat dalam penyusunan karya
Tugas Akhir ini, yaitu kolase tema dan kolase bahan. Jenis-jenis kolase tersebut
dapat dijelaskan sebagai berikut:

Kolase Tema
Kolase tema terdiri dari potongan kumpulan gambar, teks, sampel, dan objek
pilihan lainnya yang berhubungan dan mendukung konsep yang diangkat. Dari

29
Dra. Tris Neddy Santo.MA .1991. Metodologi Desain. Hal 11-13.

32
kolase tersebut kemudian muncul bentuk-bentuk baru dan suasana dapat
divisualisasikan secara jelas. Suasana dan bentuk-bentuk baru tersebutlah yang
kemudian memberikan inspirasi bagi desainer untuk dapat lebih mengembangkan
konsep desainnya.
Kolase tema yang dibuat oleh penulis terinspirasi dari suasana ritual kayau
yang terjadi hingga tahun 1890-an. Gambar-gambar yang dapat dihimpun
sebagian besar merupakan foto nyata yang terjadi di masanya sehingga kolase
didominasi oleh warna hitam dan putih.
Bentuk yang dapat ditangkap dari kolase adalah bentuk melengkung dan
melingkar yang ada pada bentuk motif Dayak dan tengkorak, serta bentuk garis
dan sudut lancip yang ada pada senjata-senjata perang Suku Dayak.
Suasana yang terdapat pada gambar-gambar yang dipilih oleh penulis
memunculkan kesan tradisional. Kesan tersebut dapat dilihat dari tata kostum
perang Suku Dayak, motif yang terdapat pada perisai, kulit, serta bulu binatang
yang mereka gunakan. Dalam kolase juga dapat terlihat raut wajah dan gerak
tubuh yang berani dari Suku Dayak ketika menunjukkan gaya berperang dengan
ritual Kayau. Dari suasana tersebut muncul dua sifat yang dapat digunakan
sebagai acuan dalam mendesain. Kedua sifat tersebut adalah berani dan
tradisional.
Ada beberapa gambar pilihan yang diambil oleh penulis untuk melengkapi
kolase tema. Gambar-gambar tersebut dipilih, digunting dan ditempelkan pada
board berukuran A2. Gambar-gambar yang terdapat pada kolase tema tersebut
dapat dilihat dan dijelaskan pada halaman selanjutnya.

33
Gambar 3.1 Panglima dan Kepala Korban Ritual Kayau

Gambar di atas adalah gambar salah seorang bersuku Dayak yang


memegang kepala musuh. Kepala tersebut merupakan hasil dari ritual adat dalam
rangka perlawanan terhadap musuh dengan cara memenggal kepala yang disebut
dengan ritual Kayau. Di tangan kanan, ia memegang sebilah pedang Suku Dayak
yang disebut dengan Mandau. Mandau digunakan sebagai salah satu peralatan
perang yang digunakan pelaku Kayau dalam memburu kepala musuh.
Mendapatkan kepala musuh merupakan suatu kebanggaan bagi para lelaki
Suku Dayak. Siapa saja yang berhasil mendapatkan kepala musuh akan disegani
dan dihormati oleh penduduk desa berusuku Dayak tersebut. Gambar tersebut di
atas mewakili sifat berani yang diambil oleh penulis untuk ditonjolkan dalam
koleksi busana.

34
Gambar 3.2 Gerakan Ritual Kayau

Gambar di atas merupakan gambar dua orang laki-laki suku Dayak yang
memperlihatkan gaya saat melakukan ritual Kayau. Di tangan kanan, mereka
memegang Mandau, sedangkan laki-laki di sebelah kanan memegang perisai
dimana kedua benda tajam tersebut merupakan senjata yang digunakan oleh suku
Dayak untuk berperang melawan musuh.
Kepala kedua laki-laki tersebut menggunakan hiasan yang terdiri dari bulu
burung Enggang berwarna hitam dan putih. Kostumnya terbuat dari bulu binatang,
dan pada pingganngnya terdapat sarung mandau yang diikatkan pada cawat, yaitu
kain yang dililitkan pada pinggul mereka sebagai pengganti celana.
Sifat berani dapat kita tangkap dari gambar di atas yang memperlihatkan
gaya para pelaku Kayau dalam melakukan ritual tersebut. Sifat tersebut diambil
oleh penulis untuk ditonjolkan dalam pewujudnyataan koleksi busana.

35
Gambar 3.3 Panglima Dayak

Seorang panglima perang Suku Dayak berfoto dengan memegang


perlengkapan perang di tangan kanan dan kirinya yang berupa tombak dan perisai
yang diukir dengan motif Dayak pada permukaannya. Kepalanya menggunakan
ikat kepala berhiaskan bulu burung enggang. Kostum busananya terbuat dari kulit
hewan dan terdapat ikatan mandau pada sisi kiri cawat yang dikenakannya. Dari
gambar tersebut, penulis mengambil sifat tradisional yang terlihat dari ukiran
motif Dayak dan kostum yang digunakan oleh panglima tersebut.

36
Gambar 3.4 Senjata Perang Suku Dayak

Gambar di atas merupakan alat perang yang digunakan oleh suku Dayak
dalam melakukan ritual Kayau. Alat tersebut berupa pedang khas suku Dayak
yang disebut dengan mandau beserta dengan sarung pembungkus pedang tersebut.

Gambar 3.5 Bercak Merah

Ritual Kayau tidak pernah lepas dari darah karena inti dari perlawanan
dengan ritual ini adalah memenggal kepala yang dilakukan oleh suku Dayak
terhadap musuh. Adanya detail darah yang diaplikasikan dalam rancangan busana
mewakili sifat berani. Warna merah pada darah juga merupakan simbol dari
keberanian.

37
Gambar 3.6 Perjanjian Tumbang Anoi

Gambar di atas adalah rapat akbar yang dipimpin oleh pemerintah Hindia
Belanda dengan mengundang seluruh kepala suku Dayak yang tersebar di Pulau
Kalimantan dalam usaha menghentikan atau mengakhiri dilakukannya praktek
ritual Kayau di Kalimantan. Persiapan diadakannya rapat tersebut hingga
selesainya membutuhkan waktu tiga bulan karena pada waktu tersebut
transportasi masih sangatlah sulit sehingga pada umumnya para kepala suku
menjangkau daerah tersebut dengan menggunakan jalur air. Perjalanan
membutuhkan waktu berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Rapat ini
menghasilkan kesepakatan untuk berdamai antar sub-suku Dayak maupun antar
suku yang ada di tanah Kalimantan.
Pada gambar tersebut dapat diambil sifat tradisional di mana berdasarkan
tradisi keputusan yang berkaitan dengan adat selalu dihasilkan melalui proses
musyawarah.

38
Gambar 3.7 Acuan Fashion (Label Lug Von Siga)

Gambar di atas adalah busana ready to wear berlabel Lug Von Siga yang
didirikan oleh seorang fashion designer berkebangsaan Turki bernama Gul Agis.
Busana di atas merupakan koleksi spring/summer 2014.30
Penulis mengambil busana tersebut sebagai acuan dalam mendesain
koleksi karena sesuai dengan style dan look yang diinginkan oleh penulis. Bahan
yang digunakan juga sesuai dengan bahan yang dipilih yaitu bahan chiffon,
organza, georgette dengan aplikasi fringes yang memberikan sentuhan tradisional
pada busana tersebut. Warna yang digunakan juga sesuai dengan warna yang
diperoleh dari kolase tema yaitu warna hitam dan putih yang merupakan warna
netral dengan salah satu warna primer yaitu merah. Penggunaan teknik digital
printing pada motif tribal pada busana tersebut merupakan teknik yang juga
digunakan oleh penulis untuk mengaplikasikan motif Dayak pada busana.

30
http://www.dashmagazine.net/?p=1939 Diakses 10 September 2015

39
Kolase Bahan (material plan)

Kolase bahan merupakan kumpulan bahan yang digunakan dalam


pewujudnyataan rancangan busana. Di dalamnya terdapat juga sampel olah bahan
dan detail yang akan diaplikasikan pada karya. Material yang terdapat dalam
kolase merupakan material yang sudah mendapatkan persetujuan dari dosen
pembimbing dengan mengacu pada konsep dan moodboard untuk penentuan
warna dan tekstur yang tepat.

3.3 Visualisasi

3.3.1 Koleksi Busana Siap Pakai 1

Koleksi busana yang pertama merupakan busana two pieces yang terdiri
dari blouse dan rok span. Bahan yang digunakan adalah gerogette, lace dan
pengaplikasian olah bahan digital print pada bahan silk sateen berupa motif
Dayak dan darah.
Terdapat pula detail fringes yang terbuat dari olahan benang pada bagian
bawah blouse. Kombinasi garis lengkung dan garis tajam memenuhi busana ini
yang menggambarkan tajamnya senjata yang digunakan oleh Suku Dayak dalam
berperang.

Elemen Desain:

-Warna : Busana ini menggunakan warna netral yaitu hitam dan


putih serta detail yang menggunakan salah satu warna
primer yaitu merah. Pemilihan warna ini sesuai dengan
warna-warna yang terdapat pada kolase tema.

- Garis : Potongan-potongan busana membentuk garis tajam baik


pada blouse maupun pada skirt.

40
- Bidang : Penggunaan kombinasi bahan dengan warna
yang berbeda menghasilkan bidang.

- Tekstur : Tekstur dihasilkan dari penggunaan lace prancis


yang berongga.

Prinsip Desain:

- Balance (formal) : Terlihat keseimbangan yang simetris antara sisi


kanan dan sisi kiri busana walaupun terdapat
banyak potongan.

- Contrast : Penggunaan bahan dengan tekstur dan jenis yang


berbeda yaitu georgette yang dikombinasikan
dengan bahan lace perancis yang berongga.

Unsur Penunjang:

- Estetis : Desain busana ini memiliki nilai estetis dengan


kombinasi warna dan detail seperti fringes dan
motif dengan permainan potongan busana.

- Fungsional : Merupakan busana ready to wear yang dapat


dipakai pada berbagai kesempatan non formal.

- Fleksibel : Busana dapat dipadankan dengan busana lain, baik


blouse maupun skirt.

- Ekonomis : Merupakan desain yang bersifat produksi masal


yang dapat diproduksi sebanyak 1 lusin dengan
harga yang sesuai dengan kelas sosial yang
ditargetkan.

41
- Market : Rancangan busana ini ditujukan bagi perempuan
bergaya elegant yang tinggal di perkotaan
dengan status ekonomi menengah ke atas dan
termasuk dalam range usia 25-33 tahun.

3.3.2 Koleksi Busana Siap Pakai 2

Merupakan sleevles dress bersiluet H dengan panjang selutut. Bahan yang


digunakan adalah georgette, silk organza dan silk sateen. Penggunaan silk
organza transparan memperlihatkan bahan silk sateen di lapisan dalam yang
bermotif Dayak dan darah. Silk organza putih yang melapisi silk sateen bermotif
Dayak dan darah ini menggambarkan niat baik sebagai upaya proteksi Suku
Dayak terhadap suku dan desanya dengan ritual kayau. Terdapat potongan-
potongan segitiga pada bagian badan yang menggunakan kombinasi warna hitam
dan broken white.

Elemen Desain:

-Warna : Busana ini menggunakan warna netral yaitu hitam


dan putih serta detail yang menggunakan salah satu
warna primer yaitu merah pada motif. Pemilihan
warna ini sesuai dengan warna-warna yang
terdapat pada kolase tema.

- Bidang : Penggunaan kombinasi bahan dengan warna yang


berbeda menghasilkan bidang pada busana.

Prinsip Desain:

- Balance (formal) : Terlihat keseimbangan yang simetris antara sisi


kanan dan sisi kiri busana walaupun terdapat
banyak potongan.

42
- Contrast : Penggunaan bahan dengan perbedaan warna yang
kontras yaitu hitam dan putih, juga kombinasi
bahan bermotif dan polos serta bahan organza
yang transparan dengan bahan georgette dan silk
sateen yang sifatnya tidak transparan.

Unsur Penunjang:

- Estetis : Desain busana ini memiliki nilai estetis dengan


kombinasi warna netral dan penggunaan bahan
bermotif serta permainan potongan busana dan
kombinasi dengan bahan transparan.

- Fungsional : Merupakan busana ready to wear yang dapat


dikenakan pada berbagai kesempatan non formal.

- Ekonomis : Merupakan desain yang bersifat produksi masal


yang dapat diproduksi sebanyak 1 lusin dengan
harga yang sesuai dengan kelas sosial yang
ditargetkan.

- Market : Rancangan busana ini ditujukan bagi perempuan


bergaya elegan yang tingal di perkotaan dengan
status ekonomi menengah ke atas dan termasuk
dalam range usia 25-33 tahun.

3.3.3 Koleksi Busana Siap Pakai 3

Merupakan asymmetric dress dengan potongan bersudut lancip di bagian


kanan bawah dress. Berbahan georgette dengan kombinasi bahan silk sateen yang
diolah dengan teknik digital print pada bidang bagian kanan badan dan potongan

43
lancip berbahan lace di kedua sisi kanan dan kiri badan baik depan maupun
belakang. Kerung lengan berbentuk lancip dan detail fringes pada bagian leher.

Elemen Desain:

-Warna : Busana ini menggunakan warna netral yaitu hitam dan


putih serta detail yang menggunakan salah satu warna
primer yaitu merah. Pemilihan warna ini sesuai dengan
warna-warna yang terdapat pada kolase tema.

- Bidang : Penggunaan kombinasi bahan bermotif dan bahan polos

dengan warna-warna yang berbeda menghasilkan bidang.

- Tekstur : Tekstur dihasilkan dari penggunaan lace prancis yang


berongga.

Prinsip Desain:

- Balance (informal) : Terlihat keseimbangan yang informal (tidak


simetris) antara sisi kanan dan kiri busana di
mana sisi kanan memanjang hingga mencapai
lutut dan membentuk sudut lancip, sementara
pada sisi kanan rata hingga tengah belakang
busana.

- Contrast : Penggunaan bahan dengan tekstur dan jenis yang


berbeda yaitu georgette yang dikombinasikan
dengan bahan lace perancis yang berongga.

44
Unsur Penunjang:

- Estetis : Desain busana ini memiliki nilai estetis dengan


kombinasi warna pada bahan polos dan bahan
motif serta permainan potongan busana.

- Fungsional : Merupakan busana ready to wear yang dapat


dipakai pada berbagai kesempatan non formal.

- Ekonomis : Merupakan desain yang bersifat produksi masal


yang dapat diproduksi sebanyak 1 lusin dengan
harga yang sesuai dengan kelas sosial yang
ditargetkan.

- Market : Rancangan busana ini ditujukan bagi perempuan


bergaya elegan yang tingal di perkotaan dengan
status ekonomi menengah ke atas dan termasuk
dalam range usia 25-33 tahun.

3.3.4 Koleksi Busana Siap Pakai 4

Merupakan koleksi three pieces terdiri dari potongan blouse dan rok span.
Bahan yang digunakan adalah georgette, silk sateen, dan silk organza. Blouse
dengan potongan bertumpuk yang merupakan kombinasi dari semua bahan di atas,
tetap dengan potongan yang memberi kesan tajam. Blouse dengan panjang
sepinggang dilengkapi dengan sleeveless asymmetric blouse berbahan silk
organza yang dikenakan sebagai inner dari blouse tersebut. sedangkan bahan silk
sateen dibentuk seperti perisai di bagian dada.

45
Elemen Desain:

-Warna : Busana ini menggunakan warna netral yaitu hitam dan


putih serta detail yang menggunakan salah satu warna
primer yaitu merah. Pemilihan warna ini sesuai dengan
warna-warna yang terdapat pada kolase tema.

-Garis : Potongan-potongan busana membentuk garis silang pada


bagian dada blouse.

- Bidang : Penggunaan kombinasi bahan dengan warna yang


berbeda menghasilkan bidang.

- Tekstur : Tekstur dihasilkan dari penggunaan lace prancis yang


berongga pada bagian lengan.

Prinsip Desain:

- Balance (in/formal) : Terlihat keseimbangan formal (simetris) pada


blouse dan skirt, sedangkan tanktop menggunakan
prinsip keseimbangan informal (asimetris) dimana
sisi kiri tanktop lebih panjang daripada sisi kanan.

- Contrast : Penggunaan bahan dengan tekstur dan jenis yang


berbeda yaitu georgette yang dikombinasikan
dengan bahan lace perancis yang berongga dan
kombinasi bahan transparan dan tidak transparan.

Unsur Penunjang:

- Estetis : Desain busana ini memiliki nilai estetis dengan


kombinasi warna dan penggunaan bahan
transparan yang dikenakan sebagai tanktop.
46
- Fungsional : Merupakan busana ready to wear yang dapat
dipakai pada berbagai kesempatan non formal.

- Fleksibel : Busana dapat dipadankan dengan busana lain, baik


blouse, tanktop, maupun skirt.

- Ekonomis : Merupakan desain yang bersifat produksi masal


yang dapat diproduksi sebanyak 1 lusin dengan
harga yang sesuai dengan kelas sosial yang
ditargetkan.

- Market : Rancangan busana ini ditujukan bagi perempuan


bergaya elegan yang tingal di perkotaan dengan
status ekonomi menengah ke atas dan termasuk
dalam range usia 25-33 tahun.

3.3.5 Koleksi Busana Siap Pakai 5

Merupakan busana bersiluet H, dengan potongan yang menyiku dan


lancip. Dress dengan panjang di selutut dengan material silk organza pada bagian
bawah depan busana. Bahan yang digunakan adalah silk organza, silk sateen,
georgette, dan lace yang dijahit di sepanjang pinggang dengan sudut menyiku
pada bagian depan dress. Silk sateen dengan olahan digital print diaplikasikan
pada bagian kanan dan kiri lengan.

Elemen Desain:

-Warna : Busana ini menggunakan warna netral yaitu hitam dan


putih serta detail yang menggunakan salah satu warna
primer yaitu merah. Pemilihan warna ini sesuai dengan
warna-warna yang terdapat pada kolase tema.

47
- Garis : Potongan-potongan busana menghasilkan garis.

- Bidang : Penggunaan kombinasi bahan dengan sifat yang berbeda


yaitu transparan dan tidak transparan menghasilkan
bidang.
- Tekstur : Tekstur dihasilkan dari penggunaan bahan cotton yang
berongga.

Prinsip Desain:

- Balance (formal) : Terlihat keseimbangan yang simetris antara sisi


kanan dan sisi kiri busana walaupun terdapat
banyak potongan.

- Contrast : Penggunaan bahan dengan tekstur dan jenis yang


berbeda yaitu georgette yang dikombinasikan
dengan bahan cotton yang berongga dan organza.

Unsur Penunjang:

- Estetis : Desain busana ini memiliki nilai estetis dengan


kombinasi warna dan detail seperti fringes dan
motif dengan permainan potongan busana.

- Fungsional : Merupakan busana ready to wear yang dapat


dipakai pada berbagai kesempatan non formal.

- Ekonomis : Merupakan desain yang bersifat produksi masal


yang dapat diproduksi sebanyak 1 lusin dengan
harga yang sesuai dengan kelas sosial yang
ditargetkan.

48
- Market : Rancangan busana ini ditujukan bagi perempuan
bergaya elegan yang tinggal di perkotaan dengan
status ekonomi menengah ke atas dan termasuk
dalam range usia 25-33 tahun.

3.3.6 Koleksi Busana Art Fashion

Merupakan assymetric long dress berbahan georgette berwarna hitam


berbentuk lancip dan saling menyilang di depan dada dan di punggung atas.
Bagian badan menggunakan bahan georgette dengan kombinasi bahan silk sateen
yang diolah dengan digital print. Kemudian di bagian bawahnya menggunakan
fringes yang dijahit bertingkat secara diagonal dari pinggul ke bawah.

Elemen Desain:

-Warna : Busana ini menggunakan warna netral yaitu hitam yang


dikombinasikan dengan bahan bermotif netral dan salah
. satu warna primer yaitu merah

- Garis : Potongan-potongan busana membentuk garis tajam baik

- Bidang : Penggunaan kombinasi bahan dengan warna yang berbeda


menghasilkan bidang.

Prinsip Desain:

- Balance (informal) : Terlihat keseimbangan yang asimetris antara sisi


kanan dan sisi kiri busana yang dihasilkan dari
potongan-potongan busana.

- Contrast : Penggunaan bahan dengan warna yang berbeda


yaitu bahan polos dan bahan bermotif.

49
Unsur Penunjang:

- Estetis : Desain busana ini memiliki nilai estetis dengan


penggunaan kombinasi bahan polos dan bahan
bermotif juga potongan-potongan yang bertingkat
pada bagian bawah dress.

- Fungsional : Merupakan artwear yang dapat digunakan pada


kesempatan tertentu karena bentuknya yang tidak
biasa dan rumit.

- Market : Rancangan busana ini ditujukan bagi perempuan


bergaya elegan yang tingal di perkotaan dengan
status ekonomi menengah ke atas dan termasuk
dalam range usia 25-33 tahun.

50
BAB IV

PROSES PERANCANGAN

Segala sesuatunya ada pasti diawali oleh sebuah proses. Begitupula


dengan suatu karya, pasti melalui berbagai tahapan sampai akhirnya dapat
terselesaikan. Tiap tahap penciptaan merupakan sumber pengetahuan dan langkah
pembelajaran yang dapat menjadi bekal dalam mengolah inspirasi menjadi suatu
karya. Dengan adanya proses, suatu karya akan menjadi lebih baik karena hasil
yang terbentuk bukanlah hasil yang tanpa dasar, melainkan hasil yang mempunyai
dasar yang kuat dari pembelajaran yang mendalam disetiap tahapannya.
Proses mendesain koleksi busana Tugas Akhir ini melalui beberapa
tahapan hingga akhirnya rancangan busana dapat terealisasikan. Proses tersebut
diawali dengan penentuan konsep. Pada tahap ini, penulis memilih konsep dengan
menyesuaikan tema, look dan style yang ingin diwujudkan.
Setelah menentukan konsep, penulis membuat kolase tema yang
merupakan kumpulan gambar yang berhubungan dengan konsep. Kolase tema
tersebut menjadi dasar dalam penyusunan kerangka penciptaan.
Kerangka penciptaan merupakan garis besar ide atau pola pikir yang
muncul dari konsep terpilih. Tahap ini membantu penulis dalam merancang
busana agar busana dalam koleksi tetap konsisten dan saling memiliki benang
merah antara satu dengan yang lainnya. Ide-ide tersebut kemudian disusun dengan
berdasarkan suasana objek yang dipilih sebagai inspirasi desain. Susunan ide yang
terdapat dalam kerangka penciptaan terdiri dari style, look, suasana, judul koleksi,
dan dua sifat yang muncul dari sumber inspirasi. Dua sifat tersebut memberikan
gambaran mengenai material, warna, tekstur, detail, motif, dan siluet yang sesuai
dengan konsep.
Setelah kerangka penciptaan disusun, maka tahap berikutnya adalah
membuat kolase bahan (material plan). Kolase bahan ini terdiri dari bahan-bahan
dan seluruh material yang akan digunakan dalam realisasi koleksi. Bahan yang
digunakan disesuaikan dengan sifat-sifat yang muncul dari kerangka penciptaan.

51
Tahap berikutnya adalah pembuatan alternatif desain. Alternatif desain
yang telah dipilih menjadi inspirasi dalam pembuatan gambar teknik yang terdiri
dari busana basic, contemporary, dan avantgarde. Sementara itu, alternatif desain
terpilih direalisasikan menjadi suatu koleksi yang terdiri dari 5 busana ready to
wear dan 1 artwear. Adapun tahap-tahap tersebut dapat dilihat dalam bagan
berikut ini:
Tema

Penentuan Konsep Style

Look

Pembuatan Kolase Tema

Penyusunan Kerangka
Penciptaan

Pembuatan Kolase Bahan

Pembuatan Alternatif Desain

Pembuatan Gambar Teknik

Pemilihan 5 desain ready to


wear dan 1 artwear Gambar
Teknik

Realisasi Pola

Harga

Bagan 4.1 Tahapan Perancangan


52
4.1 Penentuan Konsep

Proses perancangan diawali dengan penentuan konsep. Konsep yang


penulis ambil adalah suasana ritual Kayau yang dilakukan oleh Suku Dayak di
Kalimantan. Untuk lebih mendalami konsep ini, penulis melakukan observasi
yang dilakukan dengan mengumpulkan informasi melalui buku maupun artikel
terkait, mewawancarai pihak-pihak yang mengetahui mengenai ritual tersebut
seperti tetua-tetua dan pemimpin adat di Kalimantan, dan menyaksikan video-
video dokumenter yang berkaitan dengan ritual Kayau. Proses ini sangat penting
untuk menentukan bagian yang menarik dari ritual tersebut yang dapat diangkat
sebagai karya.

4.2 Pembuatan Kolase Tema

Gambar 4.1 Kolase Tema

53
Kolase tema merupakan kumpulan foto atau gambar yang terkait dengan
konsep yang diangkat dalam pembuatan karya yaitu ritual Kayau. Kumpulan
gambar tersebut disusun sedemikian rupa dan ditempel pada board berukuran A2.
Dari potongan-potongan gambar tesebut dapat terlihat warna yang ada pada
kolase. Warna tersebut kemudian dijadikan color chip yang dapat diambil sebagai
warna busana. Di dalamnya dapat pula diperoleh potongan-potongan baru dari
penyusunan potongan-potongan gambar. Ini dapat menjadi inspirasi terutama
dalam penentuan potongan dan siluet busana.

4.3 Penyusunan Kerangka Penciptaan

Kerangka penciptaan disusun berdasarkan konsep yang sudah dipilih dan


telah mendapat persetujuan dari dosen pembimbing karya. Kerangka ini terdiri
dari style, look¸suasana, judul, dan dua sifat yang muncul dari suasana. Semuanya
disusun dengana tetap mengacu pada kolase tema, terutama dalam penentuan
warna, motif, siluet, bahan, dan detail.
Penulis dalam koleksi berjudul Savage Charm ini memilih exotic dramatic
sebagai style dan ethnic look sebagai look sebagai acuan perancangan busana.
Dalam kolom suasana, penulis menjabarkan suasana yang terjadi dalam ritual
Kayau yang dilakukan oleh Suku Dayak di Kalimantan. Dari penjabaran tersebut
muncul dua sifat yaitu berani dan tradisional. Sifat berani muncul dari keberanian
para pelaku Kayau dalam melaksanakan ritualnya dan sifat tradisional muncul
dari ritual tersebut yang merupakan tradisi leluhur yang dilaksanakan secara turun
temurun.
Dari masing-masing sifat berani dan tradisional dapat ditentukan beberapa
hal terkait pewujudnyataan karya, yaitu material atau bahan, warna, siluet, detail
dan motif yang akan digunakan. Material atau bahan, warna, siluet, detail dan
motif tersebut ditentukan dengan memperhatikan hubungannya terhadap sifat
yang diambil dari suasana. Hal ini dilakukan untuk menjaga agar karya tetap
terfokus pada konsep.

54
4.4 Kolase Bahan (Material Plan)

Kolase bahan atau yang biasa disebut dengan material plan adalah
kumpulan material yang digunakan dalam pembuatan busana. Material tersebut
ditempelkan pada board berukuran A2 dan disusun dengan tetap memperhatikan
nilai estetis.

Gambar 4.2 Kolase Bahan

Adapun bahan yang dipilih oleh penulis dengan persetujuan pembimbing


karya adalah georgette, silk sateen dengan motif Dayak yang diaplikasikan
dengan digital print dan silk organza, lace perancis, dan cotton. Kolase material
ini dibuat dengan tujuan agar khalayak dapat memperoleh gambaran jelas
mengenai koleksi busana ini.

55
4.5 Alternatif Desain

Langkah selanjutnya adalah mendesain sebanyak-banyaknya alternatif


desain. Alternatif desain ini berupa busana ready to wear bertolak dari konsep
yang telah ditentukan. Proses perancangan desain dilakukan berdasarkan style,
look, dan sifat-sifat yang telah disusun dalam kerangka berpikir. Kolase tema juga
digunakan sebagai sumber inspirasi dalam membuat bentuk dan potongan-
potongan dalam busana.
Dari sekian banyak busana yang dirancang akan dipilih 40 ilustrasi busana
oleh dosen pembimbing yang harus digambar dan diwarnai secara manual.
Setelah itu ilustrasi yang sama digambarkan lagi dengan menggunakan aplikasi
photoshop untuk diwarnai dan dimasukkan gambar tekstil asli yang telah di-scan
pada ilustrasi busana. Dari 40 ilustrasi terpilih, dipilih lagi 5 busana yang akan
diwujudnyatakan menjadi busana ready to wear. 5 busana terpilih tersebut
kemudian digambar dan diwarnai lagi masing-masing secara manual pada kertas
berukuran A3.
Setelah mendesain busana ready to wear, berikutnya adalah mendesain
busana artwear. Pada tahapan ini, penulis diminta untuk mendesain 20 ilustrasi
busana artwear. Dari 20 ilustrasi tersebut dipilih 1 busana untuk
diwujudnyatakan. Ilustrasi terpilih digambar lagi secara manual pada kertas
dengan ukuran A3.

56
Gambar 4.3 Alternatif Desain 1 (doc. Penulis)

Gambar 4.4 Alternatif Desain 2 (doc. Penulis)

57
Gambar 4.5 Alternatif Desain 3 (doc. Penulis)

Gambar 4.6 Alternatif Desain 4 (doc. Penulis)

58
Gambar 4.7 Alternatif Desain 5 (doc. Penulis)

Gambar 4.8 Alternatif Desain 6 (doc. Penulis)

59
Gambar 4.9 Alternatif Desain 7 (doc. Penulis)

Gambar 4.10 Alternatif Desain 8 (doc. Penulis)

60
4.6 Gambar Teknik

Pembuatan gambar teknik busana dilakukan dengan aplikasi corel draw.


Terdiri dari tops, bottoms dan dresses, masing-masing dirancang dengan tiga
kategori yaitu basic, contemporary dan avantgarde. Gambar teknik ini dibuat
dengan artpaper berukuran A3 dalam bentuk tabel. Gambar teknik terdiri dari dua
tabel yang dirancang berdasarkan sifat yang muncul dari kolase tema yaitu berani
dan etnik. Pada sifat berani, penulis menggunakan potongan dan detail garis
tajam, sedangkan pada sifat tradisional, penulis menggunakan detail fringes pada
busana. Kedua tabel berukuran A3 tersebut kemudian ditempelkan pada board
berukuran A2.

61
62
63
Proses terakhir dalam perancangan adalah realisasi desain. Tahap realisasi
desain dimulai dengan pembuatan gambar tehnik busana, pembuatan busana
sesuai dengan desain, dan penentuan harga.
Pada tahap realisasi desain, hal yang paling penting adalah pemahaman
akan desain itu sendiri. Pemahaman yang benar akan menghasilkan busana yang
tepat dan sesuai dengan bentuk yang telah dirancang. Agar suatu rancangan dapat
dimengerti dengan mudah, penulis membuat gambar tehnik busana yang akan
direalisasikan. Gambar tehnik busana sangat membantu dalam proses pembuatan
pola dan penyatuan pola. Setelah pola busana disatukan dan busana telah
direalisasikan, penentuan harga busana dapat dilakukan.

64
a. Desain 1

Gambar 4.13 Gambar Desain Busana Siap Pakai 1

65
Realisasi Desain 1

Tampak Depan

Gambar 4.14 Realisasi Busana Tampak Depan

66
Tampak Belakang

Gambar 4.15 Realisasi Busana Tampak Belakang

67
Skala 1/6

Gambar 4.16 Pola Desain 1

68
MENENTUKAN HARGA JUAL BLOUSE

HARGA
TOTAL
NO KETERANGAN SATUAN JUMLAH
(RP)
PENGELUARAN (RP) BARANG
TOTAL
Direct Material (Bahan Mentah)
HARGA
1 Kain Georgette Hitam (meter) 15.000 0,5 7.500
BARANG
2 Kain Georgette Putih (meter) 15.000 0,5 7.500
MENTAH
3 Kain Silk Sateen 80.000 0,5 20.000
(RP)
4 Zipper 500 1 500
5 Fringes 50.000 1,5 45.000
6 Benang 200 1 200
130.700
Manufacturing Overhead (Proses Produksi)
TOTAL
1 CMT (Cut, Make, Trim) 50.000 1 50.000
BIAYA
PRODUKSI
(RP)

50.000

Harga Jual : (Direct Material + Manufacturing Overhead) x 400% 722.800

Tabel 4.1 Penentuan Harga Jual Blouse


Desain 1

69
URAIAN HARGA JUAL
JUMLAH
No
KETERANGAN PRESENTASE (RP)
1 Direct Material + Manufacturing Overhead 25% 180.700
General operating expense (pemasaran,
2 penjualan,amerchandising,adesign,apengembangan 10%
produk, distribusi, administrasi) 72.280
3 PPN (Pajak Pertambahan Nilai) 10% 72.280
4 Margin Gerai (Konsinyasi) 40% 289.120
5 Profit (Keuntungan) 15% 108.420
Harga Jual 722.800

Tabel 4.2 Uraian Harga Jual Blouse Desain 1

70
MENENTUKAN HARGA JUAL ROK

HARGA
TOTAL
NO KETERANGAN SATUAN JUMLAH
(RP)
PENGELUARAN (RP) BARANG TOTAL
Direct Material (Bahan Mentah) HARGA
1 Kain Georgette Hitam (meter) 15.000 0,5 7.500 BARANG
2 Kain Georgette Putih (meter) 15.000 0,25 3.750 MENTAH
3 Zipper 500 1 500 (RP)
4 Lace Perancis 100.000 1,5 75.000
5 Benang 200 1 200
161.950
Manufacturing Overhead (Proses Produksi)
TOTAL
1 CMT (Cut, Make, Trim) 50.000 1 50.000
BIAYA
PRODUKSI
(RP)

50.000

Harga Jual : (Direct Material + Manufacturing Overhead) x 400% 847.800

Tabel 4.3 Penentuan Harga Jual Ro k


Desain 1

71
URAIAN HARGA JUAL ROK
JUMLAH
ok
KETERANGAN PRESENTASE (RP)
1 Direct Material + Manufacturing Overhead 25% 211.950
Generalaoperatingaexpensea(pemasaran,
2 penjualan,amerchandising,adesign,apengembangan 10%
produk, distribusi, administrasi) 84.780
3 PPN (Pajak Pertambahan Nilai) 10% 84.780
4 Margin Gerai (Konsinyasi) 40% 339.120
5 Profit (Keuntungan) 15% 127.170
Harga Jual 847.800

Tabel 4.4 Uraian Harga Jual Rok Desain 1

72
b. Desain 2

Gambar 4.17 Desain Busana Siap Pakai 2

73
Realisasi Desain 2
Tampak Depan

Gambar 4.18 Realisasi Busana Tampak Depan

74
Tampak Belakang

Gambar 4.19 Realisasi Busana Tampak Belakang

75
Skala 1/6

Gambar 4.20 Pola Desain 2

76
TABEL HARGA DESAIN 2

MENENTUKAN HARGA JUAL DRESS

HARGA
TOTAL
NO KETERANGAN SATUAN JUMLAH
(RP)
PENGELUARAN (RP) BARANG
TOTAL
Direct Material (Bahan Mentah)
HARGA
1 Kain Georgette Hitam (meter) 15.000 0,5 7.500
BARANG
2 Kain Georgette Putih (meter) 15.000 1 15.000
MENTAH
3 Kain Silk Sateen 40.000 1 40.000
(RP)
4 Kain Silk Organza 80.000 1 40.000
5 Zipper 700 1 700
6 Benang 200 1 200
143400
Manufacturing Overhead (Proses Produksi)
TOTAL
1 CMT (Cut, Make, Trim) 50.000 1 50.000
BIAYA
PRODUKSI
(RP)

50.000

Harga Jual : (Direct Material + Manufacturing Overhead) x 400% 733.600

Tabel 4.5 Penentuan Harga Jual Dress

77
URAIAN HARGA JUAL DRESS

JUMLAH
No
KETERANGAN PRESENTASE (RP)
1 Direct Material + Manufacturing Overhead 25% 193.400
Generalboperatingbexpenseb(pemasaran,
2 penjualan,amerchandising,adesign,apengembangan 10%
produk, distribusi, administrasi) 77.360
3 PPN (Pajak Pertambahan Nilai) 10% 77.360
4 Margin Gerai (Konsinyasi) 40% 309.440
5 Profit (Keuntungan) 15% 116.040
Harga Jual 773.600

Tabel 4.6 Uraian Harga Jual Dress

78
c. Desain 3

Gambar 4.21 Desain Busana Siap Pakai 3

79
Realisasi Desain 3

Tampak Depan

Gambar 4.22 Realisasi Busana Tampak Depan

80
Tampak Belakang

Gambar 4.23 Realisasi Busana Tampak Belakang

81
Skala 1/6

Gambar 4.24 Pola Desain 3

82
TABEL HARGA DESAIN 3

MENENTUKAN HARGA JUAL DRESS

HARGA
TOTAL
NO KETERANGAN SATUAN JUMLAH
(RP)
PENGELUARAN (RP) BARANG
TOTAL
Direct Material (Bahan Mentah)
HARGA
1 Kain Georgette Hitam (meter) 15.000 1 15.000
BARANG
2 Kain Georgette Putih (meter) 15.000 1 15.000
MENTAH
3 Kain Silk Sateen 40.000 0,5 20.000
(RP)
4 Kain Lace Perancis 100.000 0,25 12.500
5 Zipper 700 1 700
6 Benang 200 1 200
75.900
Manufacturing Overhead (Proses Produksi)
TOTAL
1 CMT (Cut, Make, Trim) 50.000 1 50.000
BIAYA
PRODUKSI
(RP)

50.000

Harga Jual : (Direct Material + Manufacturing Overhead) x 400% 503.600

Tabel 4.7 Penentuan Harga Jual Dress

83
URAIAN HARGA JUAL DRESS

JUMLAH
No
KETERANGAN PRESENTASE (RP)
1 Direct Material + Manufacturing Overhead 25% 125.900
General operating expense (pemasaran,
2 penjualan,amerchandising,adesign,apengembangan 10%
produk, distribusi, administrasi) 50.360
3 PPN (Pajak Pertambahan Nilai) 10% 50.360
4 Margin Gerai (Konsinyasi) 40% 201.440
5 Profit (Keuntungan) 15% 75.540
Harga Jual 503.600

Tabel 4.8 Uraian Harga Jual Dress

84
d. Desain 4

Gambar 4.25 Desain Busana Siap Pakai 4

85
Realisasi Desain 4

Tampak Depan

Gambar 4.26 Realisasi Busana Tampak Depan

86
Tampak Belakang

Gambar 4.27 Realisasi Busana Tampak Belakang

87
Skala 1/6

Gambar 4.28 Pola Desain 4

88
Skala 1/6

Gambar 4.29 Pola Desain 4

89
TABEL HARGA DESAIN 4

MENENTUKAN HARGA JUAL BLOUSE

HARGA
TOTAL
NO KETERANGAN SATUAN JUMLAH
(RP)
PENGELUARAN (RP) BARANG
TOTAL
Direct Material (Bahan Mentah)
HARGA
1 Kain Georgette Hitam (meter) 15.000 0,25 37.50
BARANG
2 Kain Georgette Putih (meter) 15.000 1 15.000
MENTAH
3 Kain Silk Sateen 40.000 0,5 20.000
(RP)
4 Kain Lace Perancis 100.000 0,25 12.500
5 Zipper 700 1 700
6 Benang 200 1 200
75.900
Manufacturing Overhead (Proses Produksi)
TOTAL
1 CMT (Cut, Make, Trim) 50.000 1 50.000
BIAYA
PRODUKSI
(RP)

50.000

Harga Jual : (Direct Material + Manufacturing Overhead) x 400% 458.600

Tabel 4.9 Penentuan Harga Jual Blouse

90
URAIAN HARGA JUAL BLOUSE

JUMLAH
No
KETERANGAN PRESENTASE (RP)
1 Direct Material + Manufacturing Overhead 25% 114.650
General operating expense (pemasaran,
2 penjualan,amerchandising,adesign,apengembangan 10%
produk, distribusi, administrasi) 45.860
3 PPN (Pajak Pertambahan Nilai) 10% 45.860
4 Margin Gerai (Konsinyasi) 40% 183.440
5 Profit (Keuntungan) 15% 68.790
Harga Jual 458.600

Tabel 4.10 Uraian Harga Jual Blouse

91
MENENTUKAN HARGA JUAL TANKTOP

HARGA
TOTAL TOTAL
NO KETERANGAN SATUAN JUMLAH
(RP) HARGA
PENGELUARAN (RP) BARANG
BARANG
Direct Material (Bahan Mentah)
MENTAH
1 Kain Silk Organza (meter) 100.000 1,5 150.000
(RP)
2 Benang 200 1 200
60.200
Manufacturing Overhead (Proses Produksi)
TOTAL
1 CMT (Cut, Make, Trim) 50.000 1 50.000
BIAYA
PRODUKSI
(RP)

50.000

Harga Jual : (Direct Material + Manufacturing Overhead) x 400% 800.800

Tabel 4.11 Penentuan Harga Jual Tanktop

92
URAIAN HARGA JUAL TANKTOP

No KETERANGAN PRESENTASE JUMLAH (RP)


1 Direct Material + Manufacturing Overhead 25% 200.200
General operating expense (pemasaran,
2 penjualan,amerchandising,adesign,apengembangan 10%
produk, distribusi, administrasi) 80.080
3 PPN (Pajak Pertambahan Nilai) 10% 80.080
4 Margin Gerai (Konsinyasi) 40% 320.320
5 Profit (Keuntungan) 15% 120.120
Harga Jual 800.800

Tabel 4.12 Uraian Harga Jual Tanktop

93
MENENTUKAN HARGA JUAL ROK

HARGA
TOTAL
NO KETERANGAN SATUAN JUMLAH
(RP) TOTAL
PENGELUARAN (RP) BARANG
HARGA
Direct Material (Bahan Mentah)
BARANG
1 Kain Georgette Hitam 15.000 2 30.000
MENTAH (RP)
2 Zipper 500 2 1.000
3 Benang 200 1 200
31.200
Manufacturing Overhead (Proses Produksi)
TOTAL
1 CMT (Cut, Make, Trim) 50.000 1 50.000
BIAYA
PRODUKSI
(RP)

50.000

Harga Jual : (Direct Material + Manufacturing Overhead) x 400% 324.800

Tabel 4.13 Penentuan Harga Jual Rok

94
URAIAN HARGA JUAL

No KETERANGAN PRESENTASE JUMLAH (RP)


1 Direct Material + Manufacturing Overhead 25% 81.200
General operating expense (pemasaran,
2 penjualan,amerchandising,adesign,apengembangan 10%
produk, distribusi, administrasi) 32.480
3 PPN (Pajak Pertambahan Nilai) 10% 32.480
4 Margin Gerai (Konsinyasi) 40% 129.920
5 Profit (Keuntungan) 15% 48.720
Harga Jual 324.800

Tabel 4.14 Uraian Harga Jual Rok

95
e. Desain 5

Gambar 4.30 Desain Busana Siap Pakai 5

96
Realisasi Desain 5

Tampak Depan

Gambar 4.31 Realisasi Busana Tampak Depan

97
Tampak Belakang

Gambar 4.32 Realisasi Busana Tampak Belakang

98
Skala 1/6

Gambar 4.33 Pola Desain 5

99
DAFTAR HARGA DESAIN 5

MENENTUKAN HARGA JUAL DRESS

HARGA
TOTAL
NO KETERANGAN SATUAN JUMLAH
(RP)
PENGELUARAN (RP) BARANG
Direct Material (Bahan Mentah)
TOTAL
1 Kain Georgette Putih 15.000 1,5 22.500
HARGA
2 Kain Cotton Hitam 10.000 0,25 2.500
BARANG
3 Kain Organza 80.000 0,5 40.000
MENTAH (RP)
4 Kain Silk Sateen 40.000 0,25 10.000
5 Fringes 50.000 0,25 12.500
6 Zipper 500 1 500
7 Benang 200 1 200
88.200
Manufacturing Overhead (Proses Produksi)
TOTAL
1 CMT (Cut, Make, Trim) 50.000 1 50.000
BIAYA
PRODUKSI
(RP)

50.000

Harga Jual : (Direct Material + Manufacturing Overhead) x 400% 552.800

Tabel 4.15 Penentuan Harga Jual Dress

100
URAIAN HARGA JUAL

No KETERANGAN PRESENTASE JUMLAH (RP)


1 Direct Material + Manufacturing Overhead 25% 138.200
General operating expense (pemasaran,
2 penjualan,amerchandising,adesign,apengembangan 10%
produk, distribusi, administrasi) 55.280
3 PPN (Pajak Pertambahan Nilai) 10% 55.280
4 Margin Gerai (Konsinyasi) 40% 221.120
5 Profit (Keuntungan) 15% 82.920
Harga Jual 552.800

Tabel 4.16 Uraian Harga Jual Dress

101
f. Desain 6

Gambar 4.34 Desain Busana Siap

102
Realisasi Desain 6

Tampak Depan

Gambar 4.35 Realisasi Busana Tampak Depan

103
Tampak Belakang

Gambar 4.36 Realisasi Busana Tampak Belakng

104
Skala 1/6

Gambar 4.37 Pola Desain 6

105
TABEL HARGA DESAIN 6

MENENTUKAN HARGA JUAL ARTWEAR

HARGA
TOTAL
NO KETERANGAN SATUAN JUMLAH
(RP)
PENGELUARAN (RP) BARANG TOTAL
Direct Material (Bahan Mentah) HARGA
1 Kain Georgette Hitam 15.000 1 15.000 BARANG
MENTAH
2 Kain Silk Sateen 40.000 0,5 20.000 (RP)
3 Fringes 50.000 13 390.000
4 Benang 200 1 200
425.200
Manufacturing Overhead (Proses Produksi) TOTAL
BIAYA
PRODUKSI
1 CMT (Cut, Make, Trim) 50.000 1 50.000 (RP)
50.000

Harga Jual : (Direct Material + Manufacturing Overhead) x 400% 2.940.800

Tabel 4.17 Uraian Harga Jual Artwear

106
URAIAN HARGA JUAL ARTWEAR

No KETERANGAN PRESENTASE JUMLAH (RP)


1 Direct Material + Manufacturing Overhead 25% 735.200
General operating expense (pemasaran,
2 penjualan,amerchandising,adesign,apengembangan 10%
produk, distribusi, administrasi) 294.080
3 PPN (Pajak Pertambahan Nilai) 10% 294.080
4 Margin Gerai (Konsinyasi) 40% 1.176.320
5 Profit (Keuntungan) 15% 441.120
Harga Jual 2.940.800

Tabel 4.18 Uraian Harga Artwear

107
BAB V

PENUTUP

5.1 Evaluasi

Dari tahap awal hingga realisasi desain, dapat disimpulkan bahwa suatu
sejarah dapat dijadikan inspirasi dalam merancang busana. Untuk menghasilkan
sesuatu yang indah tidak harus selalu mengambil inspirasi dari hal yang indah
juga. Hal-hal lain yang terkesan negatif pun ternyata dapat menghasilkan suatu
karya seni yang indah.
Ada banyak cara untuk mengubah inspirasi yang terkesan negatif menjadi
karya yang bernilai positif, salah satunya yaitu dengan mengubah sudut pandang.
Contohnya pada sejarah ritual Kayau yang diangkat oleh penulis. Sejarah ini
terkesan menyeramkan. Namun dengan mendalami sejarah ini dan mengubah
sudut pandang dari sisi pelaku ritual tersebut, ternyata banyak hal positif yang
melatarbelakangi terjadinya tradisi turun temurun ini. Dengan demikian, sejarah
ini pun akhirnya dapat menjadi inspirasi dalam menghasilkan busana yang
menarik dan layak pakai.
Koleksi ready to wear dan artfashion berjudul The Savage Charm ini
adalah koleksi yang terinspirasi dari ritual adat Suku Dayak di Kalimantan.
Tujuan pemilihan ritual ini sebagai tema adalah untuk menambah wawasan
mengenai budaya Suku Dayak. Selain itu ritual adat ini juga belum pernah
diangkat sebagai inspirasi dalam mendesain busana dan belum dikenal oleh
masyarakat secara luas sehingga dapat menjadi wawasan baru bagi pihak tertentu.
Pada saat penyusunan penulisan pengantar karya dan proses realisasi
koleksi busana terdapat beberapa hal yang menjadi kendala. Pada proses
penulisan pengantar karya, yang menjadi kendala adalah dalam mengumpulkan
data mengenai sejarah ritual Kayau. Buku yang membahas ritual ini sangat
terbatas. Selain itu banyak masyarakat Suku Dayak sendiri yang tidak terlalu
mengetahui tentang ritual Kayau ini sehingga informasi yang didapatkan harus
disaring dengan baik. Pada proses realisasi koleksi busana yang menjadi kendala
108
adalah waktu yang sangat terbatas dan penyesuaian rancangan busana dengan
konsep yang dipilih.
Dunia fashion sangat dinamis, perubahannya sangat cepat seiring dengan
perkembangan pengetahuan dan teknologi. Pergerakan yang begitu cepat tersebut
seiring dengan tren busana yang terus berubah. Maka wawasan mengenai trend
perlu untuk terus diperbaharui agar tidak ketinggalan zaman. Koleksi yang
dirancang oleh penulis ini dibuat dengan mengacu pada tren 2016/2017 dengan
judul resistance. Tema besar tren yang dipilih penulis adalah Colony, yang terbagi
lagi menjadi tiga. Dari ketiga tersebut yang dipilih penulis adalah termite, yaitu
tren yang terinpirasi dari rumah anai-anai.
Koleksi berjudul The Savage Charm ini terdiri dari lima ready to wear dan
satu artfashion. Dilengkapi dengan aksesoris berupa tas, sepatu, dan anting-
anting. Busana dan aksesoris didominasi oleh warna black dan broken white.
menggunakan kombinasi warna merah berupa detail dan efek darah pada motif.

5.2 Saran

Pada proses pembuatan suatu karya ada banyak hal yang harus
dipersiapkan dan menjadi perhatian. Begitu pula dalam pembuatan koleksi ini.
Pemahaman terhadap tema begitu penting agar terdapat kesinambungan antara
karya dengan konsep yang diangkat. Untuk memperdalam pemahaman
dibutuhkan riset dan observasi. Adanya riset dan observasi akan memperbanyak
hal baru yang akan diperoleh dan tentunya sangat berguna dalam pengembangan
desain.
Setelah melakukan observasi, hal penting lainnya dalam pembuatan suatu
karya adalah sense of fashion dan sense of colour yang baik. Pemahaman tema
yang mendalam namun tanpa hal tersebut akan menciptakan karya yang tidak
harmoni dan tidak menarik. Sedangkan dalam pembuatan busana, terutama
busana ready to wear, menarik atau tidaknya suatu busana harus diperhatikan
karena faktor tersebut juga yang menjadi pertimbangan seseorang mau
mengenakan suatu busana atau tidak. Sense of fashion and colour tersebut dapat

109
ditunjang pula dengan teori-teori desain. Dengan adanya teori-teori tersebut dasar
penyusunan sebuah karya akan menjadi lebih kuat.
Konsep yang matang serta desain semenarik apapun tidak akan dapat
direalisasikan tanpa kemampuan pola dan jahit yang baik. Diperlukan kemampuan
dalam memahami dan menganalisa suatu gambar agar dapat membuat pola yang
benar sehingga wujud busana sesuai dengan yang digambarkan. Pola yang sudah
tepat pun tidak akan dapat diwujudkan dengan baik apabila tidak mempunyai
keterampilan khusus dalam menjahit. Selain pola yang tepat, jahitan dan finishing
harus dibuat dengan rapi dan bersih.
Mengingat ada banyak hal yang harus dikerjakan dalam pembuatan
koleksi, maka waktu harus dimanfaatkan dengan sebaik mungkin. Manajemen
waktu dan kemampuan menentukan prioritas sangat diperlukan. Hal ini
dimaksudkan untuk meminimalisasi resiko kegagalan dari awal hingga akhir
produksi.
Melalui karya, ini saran utama yang penulis ingin sampaikan adalah untuk
mengajak masyarakat, khususnya yang berkecimpung dalam dunia fashion, agar
mengangkat kebudayaan Indonesia dalam berkarya. Indonesia memiliki
bermacam ragam kebudayaan yang unik dan menarik serta dapat diangkat sebagai
inspirasi dalam berkarya. Banyak pula dari kebudayaan tersebut yang belum
diketahui oleh khalayak luas sehingga dapat memberikan warna serta wawasan
baru bagi masyarakat.
Harapan penulis ditujukan juga kepada insitusi agar dapat memotivasi
mahasiswa untuk lebih peduli dan mencintai kebudayaan Indonesia mengingat
generasi muda dewasa ini yang cenderung terbawa arus globalisasi dan
modernisasi. Kecenderungan ini perlahan dapat mengikis preferensi generasi
muda terhadap kebudayaan Indonesia. Padahal sebagai penerus bangsa,
kebudayaan nusantara yang merupakan salah satu kekayaan negeri ini harus tetap
dijaga agar tidak hilang dan terlupakan. Pemerintah juga memegang peranan
penting dalam memperkenalkan hingga akhirnya menumbuhkan kecintaan
masyarakat akan kebudayaan Indonesia. Ada banyak cara yang dapat dilakukan
untuk mencapai tujuan tersebut. Salah satunya adalah dengan mengadakan event
secara konsisten yang mengangkat kebudayaan Indonesia.

110
GLOSSARIUM

A
 Artwear : Busana seni yang menonjolkan nilai estetis, biasanya
digunakan pada saat-saat tertentu dan tidak diproduksi
dalam jumlah massal.

 Asimetris : Desain dalam busana yang menggunakan potongan tidak


simetris dalam bentuknya.

 Avantgarde : Gaya busana yang bersifat eksperimental dan inovatif.

B
Basic : Bentuk busana yang biasa digunakan pada umumnya tidak

C menggunakan pecah pola yang rumit.

 Casual : Berpakaian santai dan lebih mementingkan kenyamanan.

 Cutting : Potongan busana

D
 Dress : Blouse yang menyatu dengan rok atau yang biasa disebut
terusan

E
 Elegant style : Gaya berbusana yang elegan dan anggun

F
 Fashion : Istilah yang merujuk pada gaya atau cara berpakaian yang
berlaku di suatu masa.

111
I
 Item : Pengelompokan jenis busana

R
 Ready to wear : Busana siap pakai.

S
 Style : Gaya berbusana seseorang

T
 Tren : Gaya yang diterima masyarakat dalam masa dan waktu
yang terbatas.

 Trend Forcasting : Perkiraan tren untuk musim selanjutnya.

 Trend Reader : Seseorang atau sekelompok orang yang dapat


memperkirakan atau membaca tren yang akan
berlangsung.

U
 Urban Look :Cara berpenampilan yang mengadaptasi gaya perkotaan.

112
DAFTAR PUSTAKA

Affendi. Yusuf. 1976. Dasar-dasar Desain. Bandung : Fakultas Teknik Seni


Budaya ITB
Wasia. Rusbani. 1985. Pengetahuan Busana II. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan
Muliawan. Dra. Porrie. 2003.Menggambar Mode dan Mencipta Busana.
Jakarta: BPK Gunung Mulia
Munandar. Utami. 2004. Pengembangan Emosi dan Kreativitas. Jakarta.
Rineka Cipta
Nusi . Hj. Sonny & Moch. Alim Zaman. 2001. Jas Wanita Sejarah –Gaya &
Cara Praktis Pembuatan Jas. Jakarta: Meutia Cipta Sarana
Hauer. Jose. 2014. How to Start a Fashion Business (Beginners Guide).
United Kingdom. Sam Enrico Williams.
Hornby. A S. 2000. Oxford Advanced Learner’s Dictionary. New York.
Oxford Unuversity Press
ICC & APPMI. 2015. Trend Forcasting 2016/2017 Decoding Fashion
Resistence. Jakarta : BDA Design
McKelvey. Kathryn and Janine Munslow. 2006. Fashion Design: Process,
Innovation & Practice, Second Edition. United Kingdom : John Wiley&Sons Ltd
Palacious. Nila. 2014.Fashion with Passion. Kuala Lumpur: Trafford
Publishing.
Papalia, Diane. E., et. al. 2008. Human Development (Psikologi
Perkembangan). Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Poerwadarminta. W J S. 1976. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Pusat
Pembinaan dan Pengembangan Bangsa Deparemen P dan K. Jakarta: PN Balai
Pustaka.
Semiun, Yustinus OFM. 2013. Teori-teori Kepribadian Psikoanalitik
Kontemporer-1. Yogyakarta: Kanisius (Anggota IKAPI)

Simamora. Bilson. 2001. Memenangkan Pasar dengan Pemasaran Efektif


dan Profitabel. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

113
Siswandi & Yoyok Rm. 2006. Seni Budaya. Sidoarjo, Yudhistira Galia
Indonesia
Spencer. Simon Travers & Zarida Zaman.2008. The Fashion Designer’s
directory of Shape and Style. London: Quarto Publishing plc
Zaman. Moh. Alim. 2001. Kostum Barat dari Masa ke Masa. Jakarta: Meutia
Cipta Sarana

Sumber Lain:
http://kbbi.web.id/judul.
http://www.desainbusana.com/2012/06/desain-busana-dan-teori.html
http://www.brainyquote.com/quotes/keywords/elegance.html
http://www.organisasi.org/1970/01/pembagian-wilayah-dari-pusat-kota-ke-
daerah-pedesaan-city-suburban-fringe-urban-fringe-rural-urban-ringe-
urban.html?m=1
http://www.dashmagazine.net/?p=1939
http://www.desainbusana.com/2012/06/desain-busana-dan-teori.html?m=1

114
RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama Silvia Katharina adalah anak


keempat dari 6 bersaudara. Ia lahir di Sanggau, 25 September
1991 dan mengenyam pendidikan TK hingga SMP di
Sanggau. Pada waktu SMA, ia melanjutkan pendidikan di
Pontianak dan setelah meluluskan pendidikan di SMA, ia
melanjutkan ke perguruan tinggi di Institut Kesenian Jakarta
dengan mengambil jurusan Desain Mode dan Busana.
Selama mengenyam pendidikan, penulis aktif dalam berbagai organisasi
seperti OSIS, misdinar, dan OMK. Ia juga aktif dalam kepengurusan organisasi
tersebut diantaranya menjadi ketua OSIS di SMP Sugiyopranoto, Ketua
Komunitas Misdinar, dan pengurus inti OSIS di SMA Gembala Baik Pontianak.
Sejak kecil hingga saat ini, penulis juga aktif dalam berbagai bidang
kesenian dengan bergabung dan tampil mewakili sanggar tari daerah. Penulis juga
membentuk grup modern dance dan grup band, bergabung dalam komunitas
teater, serta tampil dalam berbagai acara. Beberapa prestasi yang pernah diraih
dalam bidang seni adalah juara 1 vocal group tingkat Kabupaten Sanggau, juara 1
menyanyi solo tingkat kota, juara 1 menyanyi solo puteri tingkat Kabupaten
Sanggau, Juara 1 Cheerleaders tingkat Kabupaten Sanggau, Juara 1 paduan suara
tingkat Provinsi Kalimantan Barat, Juara 2 menyanyi solo tingkat Provinsi
Kalimantan Barat, Juara 1 Band Rohani tingkat Provinsi Kalimantan Barat, dan
lain sebagainya.
Pada saat ini, penulis aktif dalam komunitas lektor-lektris dan beberapa
kesempatan mengikuti berbagai perlombaan yang berkaitan dengan kegiatan di
komunitas tersebut. Dalam bidang fashion, penulis beberapa kali menghadiri
seminar trend forcasting yang diselenggarakan oleh APPMI dan mengikuti
beberapa pameran yang berkaitan dengan bidang fashion.

115