Anda di halaman 1dari 11

PENDUAN CARING

DI RIMAH SAKIT MARTHA FRISKA MULTATULI

RUMAH SAKIT MARTHA FRISKA


MULTATULI
2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa Karena atas RahmatNya Buku Panduan
Caring dapat selesai disusun.

Buku Panduan ini disusun sebagai acuan kepada semua perawat yang memberikan pelayanan kepada
pasien di RS Martha Friska Multatuli. Panduan ini akan dievaluasi kembali dan akan dilakukan perbaikan
bila ada perkembangan keperawatan dan ditemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan kebijakan pelayanan
rumah sakit.

Kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada tim penyusun dan
semua pihak yang berkontribusi dalam membantu menyelesaikan penyusunan panduan ini.

Semoga Buku Panduan Caring ini dapat bermanfaat untuk meningkatkan mutu pelayanan keperawatan di
RS Martha Friska Multatuli
.

Medan, Februari 2015


Direktur Utama

dr. Harmoko

PANDUAN CARING PERAWAT RS MARTHA FRISKA MULTATULI 2015 Page 2


BAB I
CARING
A. DEFINISI
Caring merupakanesensi dari praktek keperawatan dalam memenuhi kebutuhan manusia. Perawat
sebagai caring profesional harus memahami secara eksplisit dan implisit tentang apa yang
terkandung dalam caring profesional. Caring dapat mempengaruhikehidupan seseorang dalam cara
bermakna dan memicu eksistensi yang lebih memuaskan. Caring merupakan suatu proses yang
memberikan kesempatan pada seseorang baik pemberi asuhan maupun penerima asuhan untuk
pertumbuhan pribadi (Morrison & Burnard, 2007/2009).
Caring atau care adalah fokus pelayanan atau asuhan keperawatan yang diberikan kepada manusia
atau pasien (Nursalam, 2011).Caring berarti mengandung tiga hal yang tidak dapat dipisahkan
yaitu perhatian, tanggung jawab dan dilakukan dengan ikhlas. Perawat yang care akan membantu
pasien mengerti masalahnya sehingga dapat mengatasinya, bersikap caring terhadap pasien
merupakan esensi keperawatan (Ratna & Rumondang, 2011).
Sobel mendefinisikan caring sebagai suatu rasa peduli, hormat dan menghargai orang lain. Artinya
memberi perhatian dan mempelajari kesukaan-kesukaan seseorang dan bagaimana seseorang
berpikir, bertindak dan berperasaan. Caring juga sebagai suatu "affect" yang digambarkan sebagai
suatu emosi atau perasaan kasihan. atau empati terhadap pasien yang mendorong perawat untuk
memberikan asuhan keperawatan bagi pasien. Caring juga sebagai suatu therapeutic intervention.
Watson dengan teori of human care mempertegas bahwa caring sebagai jenis hubungan dan
transaksi yang diperlukan antara pemberi dan penerima asuhan untuk meningkatkan dan
melindungi klien sebagai manusia. Bentuk hubungan perawat dan klien adalah hubungan yang
wajib dipertanggung jawabkan secara profesional (Tomey & Aligood, 2006)
Apabila perawat dalam perannya menempatkan caring sebagai pusat yang sangat mendasar, maka
perawat dapat membedakan caring dari curing tanpa mengabaikan kerja sama sebagai tim
pelayanan kesehatan dengan profesi kesehatan lainnya.
Menurut Watson, ada tujuh asumsi yang mendasari konsep caring. Ketujuh asumsi tersebut
adalah:
1. Caring hanya akan efektif bila diperlihatkan dan dipraktekkan secara interpersonal,
2. Caring terdiri dari faktor kuratif yang berasal dari kepuasan dalam membantu memenuhi
kebutuhan manusia atau klien,
3. Caring yang efektif dapat meningkatkan kesehatan individu dan keluarga,
4. Caring merupakan respon yang diterima oleh seseorang tidak hanya saat itu saja namun juga
mempengaruhi akan seperti apakah seseorang tersebut nantinya,
5. Lingkungan yang penuh caring sangat potensial untuk mendukung perkembangan seseorang
dan mempengaruhi seseorang dalam memilih tindakan yang terbaik untuk dirinya sendiri,
6. Caring lebih kompleks daripada curing, praktik caring memadukan antara pengetahuan
biofisik dengan pengetahuan mengenai perilaku manusia yang berguna dalam peningkatan
derajat kesehatan dan membantu klien yang sakit,
7. Caring merupakan inti dari keperawatan (Julia,1995).

PANDUAN CARING PERAWAT RS MARTHA FRISKA MULTATULI 2015 Page 3


B. KOMPONEN CARING
(Roach, 1984 ) menjelaskan beberapa komponen caring meliputi 5 C yaitu:
1. Compassion (bela rasa)
Compassion memiliki kepekaan terhadap kesulitan dan kepedihan orang lain, membantu
seseorang untuk tetap bertahan, memberikan kesempatan untuk berbagi perasaan,
memberikan dukungan secara penuh.
2. Competence (kemampuan)
Competence (kemampuan), memiliki ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman, energi dan
motivasi sebagai rasa tanggung jawab terhadap profesi.
3. Confidence (kepercayaan diri)
Confidence (kepercayaan diri) suatu keadaan untuk memelihara hubungan antar manusia
dengan penuh percaya diri.
4. Concience (suara hati)
Concience (suara hati) perawat memiliki standar moral yang tumbuh dari sistem nilai
humanistik – altruistik yang dianut dan direfleksikan pada tingkah lakunya.
5. Commitment
Komitmen dalam melakukan tugas secara konsekwen dan berkualitas terhadap karier yang
dipilih

C. MANFAAT CARING
1. Meningkatkan kepuasan pasien
Pemberian pelayanan keperawatan yang didasari oleh perilaku caring perawat mampu
meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Penerapan caring yang diintegrasikan dengan
pengetahuan biofisikal dan pengetahuan mengenai perilaku manusia akan dapatmeningkatkan
kesehatan individu dan memfasilitasi pemberian pelayanan kepada pasien.
Watson (1979 dalam Tomey & Alligod, 2006) menambahkan bahwa caring yang dilakukan
dengan efektif dapat mendorong kesehatan dan pertumbuhan individu.Selain itu, William
(1997) dalam penelitiannya, menemukan adanya hubungan yang signifikan antara persepsi
mengenai perilaku caring perawat dengan kepuasan pasien terhadap pelayanan keperawatan.
2. Meningkatkan pendapatan RS
Perilaku caring perawat tidak hanya mampu meningkatkan kepuasan klien, namun juga dapat
menghasilkan keuntungan bagi rumah sakit.Godkin dan Godkin (2004) menyampaikan bahwa
perilaku caring dapat mendatangkan manfaat finansial bagi industri pelayanan kesehatan.Issel
dan Khan (1998) menambahkan bahwa perilaku caring staf kesehatan mempunyai nilai
ekonomi bagi rumah sakit karena perilaku ini berdampak bagi kepuasan pasien.

PANDUAN CARING PERAWAT RS MARTHA FRISKA MULTATULI 2015 Page 4


BAB II

RUANG LINGKUP

Pembahasan dalam panduan ini difokuskan pada proses Pelaksanaan Caring keperawatan/
kebidanan di semua lini pelayanan keperawatan RS Martha FRiska Multatuli
Menurut Watson (2007), fokus umum dari keperawatan adalah faktor-faktor karatif yang bersumber
dari faktor humanistik yang dikombinasikan dengan dasar pengetahuan ilmiah. Watson kemudian
mengembangkan sepuluh faktor karatif tersebut untuk membantu kebutuhan tertentu dari pasien
dengan tujuan terwujudnya integritas fungsional secara utuh dengan terpenuhinya kebutuhan biofisik,
psikososial dengan kebutuhan interpersonal. Kesepuluh faktor karatif tersebut .
Ada sepuluh faktor kuratif caring (Watson,1988) sebagai nilai yang diterapkan dalam praktik
keperawatan meliputi :
1. Membentuk dan menghargai sistem nilai humanistik dan altruistik, merupakan sikap yang didasari
nilai-nilai kemanusiaan dengan menghargai otonomi dan kebebasan klien terhadap pilihan yang
terbaik menurutnya
2. Menanamkan sikap penuh pengharapan, membangun sikap klien yang positif terhadap pengobatan
yang diterimanya serta perilaku sehat
3. Menanamkan sensitifitas terhadap diri sendiri dan orang lain
4. Mengembangkan hubungan saling percaya dan saling membantu, meningkatkan penerimaan dan
perwujudan perasaan positif maupun negatif
5. Meningkatkan dan menerima ekpresi perasaan positif maupun negatif
6. Menggunakan metoda sistematis dalam penyelesaian masalah caring untuk pengambilan
keputusan secara kreatif dan individualistik
7. Meningkatkan proses belajar mengajar interpersonal
8. Menciptakan lingkungan fisik, mental sosial, dan spiritual yang suportif, protektif dan korektif
9. Memenuhi kebutuhan dasar manusia dengan penuh pengharapan dalam rangka mempertahankan
keutuhan dan martabat manusia
10. Mengijinkan untuk terbuka pada eksistensi fenomenologikal dan spiritual, cara penyembuhan yang
tidak dapat dijelaskan secara utuh & ilmiah melalui pemikiran masyarakat modern

A. HUBUNGAN INTERPERSONAL YANG MENUNJUKAN PERILAKU CARING


Hubungan interpersonal menunjukan perilaku caring yang dapat diaplikasikan dalam memberikan
asuhan keperawatan, meliputi :
1. Memberi salam/menyapa orang lain terlebih dahulu saat bertemu
2. Memberikan perhatian
3. Berbagi perasaan dengan orang lain
4. Membantu orang tanpa pamrih
5. Menjadi seorang pemaaf
6. Membeikan dukungan / harapan pada orang lain
7. Dapat dipercaya

PANDUAN CARING PERAWAT RS MARTHA FRISKA MULTATULI 2015 Page 5


8. Menjadi pendengar yang baik
9. Mendampingi seseorang saat berduka
10. Memberikan rasa nyaman terhadap orang lain

PANDUAN CARING PERAWAT RS MARTHA FRISKA MULTATULI 2015 Page 6


BAB III
PELAKSANAAN CARING
A. MEMBANGUN PRIBADI CARING
Untuk membangun pribadi Caring, perawat dituntut memiliki pengetahuan tentang manusia, aspek
tumbuh kembang, respon terhadap lingkungan yang terus berubah, keterbatasan dan kekuatan serta
kebutuhan-kebutuhan manusia.Caring dalam asuhan keperawatan merupakan bagian dari bentuk
kinerja perawat dalam merawat pasien. Secara teoritik ada tiga kelompok variabel yang
mempengaruhi kinerja tenaga kesehatan Menurut Gibson(1987) diantaranya:
1. Variabel Individu
2. Kemampuan dan ketrampilan, latar belakang dan demografi Variabel
3. Psikologis
4. Persepsi, sikap, kepribadian, belajar dan motivasi.
5. Variabel Organisasi.
6. Kepemimpinan, sumber daya, imbalan struktur dan desain pekerjaan.
Dengan demikian membangun pribadi Caring perawat harus menggunakan tiga
pendekatan.Pendekatan individu melalui pengetahuan dan ketrampilan caring.Pendekatan
organisasi dapat dilakukan melalui perencanaan pengembangan, imbalan atau yang terkait dengan
kepuasan kerja perawat dan serta adanya effektive leadership dalam keperawatan.
sPeran organisasi(rumah sakit) adalah menciptakan iklim kerja yang kondusif dalam keperawatan
melalui kepemimpinan yang efektif, perencanaan jenjang karir perawat yang terstruktur,
pengembangan system remunerasi yang seimbang dan berbagai bentuk pencapaian kepuasan kerja
perawat. Karena itu semua dapat berdampak pada meningkatnya motivasi dan kinerja perawat
dalam caring.
B. APLIKASI CARING SEBAGAI NILAI DALAM PRAKTIK KEPERAWATAN
Tiga aspek penting yang mendasari keharusan perawat untuk care terhadap orang lain. Aspek ini
adalah aspek kontrak, aspek etika, dan aspek spiritual dalam caring terhadap orang lain yang sakit.
1. Aspek kontrak
Telah diketahui bahwa, sebagai profesional, kita berada di bawah kewajiban kontrak untuk
care.Radsma (1994) mengatakan, “perawat memiliki tugas profesional untuk memberikan
care”.Untuk itu, kita sebagai perawat yang profesional diharuskan untuk bersikap care sebagai
kontrak kerja kita.
2. Aspek etika
Pertanyaan etika adalah pertanyaan tentang apa yang benar atau salah, bagaimana membuat
keputusan yang tepat, bagaimana bertindak dalam situasi tertentu. Jenis pertanyaan ini akan
memengaruhi cara perawat memberikan asuhan. Seorang perawat harus care karena hal itu
merupakan suatu tindakan yang benar dan sesuatu yang penting. Dengan care perawat dapat
memberikan kebahagiaan bagi orang lain.
3. Aspek spiritual
Di semua agama besar di dunia, ide untuk saling caring satu sama lain adalah ide utama. Oleh karena
itu, berarti bahwa perawat yang religious adalah orang yang care, bukan karena dia seorang perawat
tetapi lebih karena dia adalah anggota suatu agama atau kepercayaan, perawat harus care terhadap klien.

PANDUAN CARING PERAWAT RS MARTHA FRISKA MULTATULI 2015 Page 7


Caring dalam praktik keperawatan dapat dilakukan dengan mengembangkan hubungan saling
percaya antara perawat dan klien.Pengembangan hubungan saling percaya menerapkan bentuk
komunikasi untuk menjalin hubungan dalam keperawatan. Perawat bertindak dengan cara yang
terbuka dan jujur. Empati berarti perawat memahami apa yang dirasakan klien. Ramah berarti
penerimaan positif terhadap orang lain yang sering diekspresikan melalui bahasa tubuh, ucapan
tekanan suara, sikap terbuka, ekspresi wajah, dan lain-lain (Kozier & Erb, 1985 dalam Nurachmah,
2001).

C. CARA PENILAIAN CARING


Perilaku caring dapat diukur dengan beberapa alat ukur (tools) yang telah dikembangkan oleh para
peneliti yang membahas ilmu caring. Beberapa penelitian tentang caring bersifat kuantitatif
maupun kualitatif. Watson (2009) menyatakan bahwa pengukuran caring merupakan proses
mengurangi subyektifitas, fenomena manusia yang bersifat invisible (tidak terlihat) yang terkadang
bersifat pribadi, ke bentuk yang lebih obyektif. Oleh karena itu, penggunaan alat ukur formal dapat
mengurangi subyektifitas pengukuran perilaku caring.
Pengukuran perilaku caring perawat dapat dilakukan melalui pengukuran persepsi pasien terhadap
perilaku caring perawat.Penggunaan persepsi pasien dalam pengukuran perilaku caring perawat
dapat memberikan hasil yang lebih sensitif karena pasien adalah individu yang menerima langsung
perilaku dan tindakan perawat termasuk perilaku caring (Rego, Godinho, McQueen, 2008).
Beberapa alat ukur formal yang mengukur perilaku caring perawat berdasarkan persepsi pasien
antara lain caring behaviors assesment tool (digunakan oleh Cronin dan Harrison, 1988), caring
behavior checklist and client perception of caring (digunakan oleh McDaniel, 1990), caring
professional scale (digunakan oleh Swanson, 2000), caring assesment tools (digunakan oleh
Duffy, 1992, 2001), caring factor survey (digunakan oleh Nelson, Watson, dan Inovahelath, 2008).
Daftar dimensi caring (Caring Dimensions Inventory = CDI) yang didesain oleh Watson dan Lea
(1997) merupakan instrumen yang dikembangkan untuk meneliti perilaku perawat (perilaku
caring). Daftar dimensi caring tersebut antara lain:
1. CDI 1. Membantu klien dalam ADL.
2. CDI 2. Membuat catatan keperawatan mengenai klien.
3. CDI 3. Merasa bersalah /menyesal kepada klien
4. CDI 4. Memberikan pengetahuan kepada klien sebagai individu
5. CDI 5. Menjelaskan prosedur klinik
6. CDI 6. Berpakaian rapi ketika bekerja dengan klien
7. CDI 7. Duduk dengan klien
8. CDI 8. Mengidentifikasi gaya hidup klien
9. CDI 9. Melaporkan kondisi klien kepada perawat senior
10. CDI 10. Bersama klien selama prosedur klinik
11. CDI 11. Bersikap manis dengan klien
12. CDI 12. Mengorganisasi pekerjaan dengan perawat lain untuk klien
13. CDI 13. Mendengarkan klien
14. CDI 14. Konsultasi dengan dokter mengenai klien

PANDUAN CARING PERAWAT RS MARTHA FRISKA MULTATULI 2015 Page 8


15. CDI 15. Menganjurkan klien mengenai aspek self care
16. CDI 16. Melakukan sharing mengenai masalah pribadi dengan klien
17. CDI 17. Memberikan informasi mengenai klien
18. CDI 18. Mengukur tanda vital klien
19. CDI 19. Menempatkan kebutuhan klien sebelum kebutuhan pribadi
20. CDI 20. Bersikap kompeten dalam prosedur klinik
21. CDI 21. Melibatkan klien dalam perawatan
22. CDI 22. Memberikan jaminan mengenai prosedur klinik
23. CDI 23. Memberikan privacy kepada klien
24. CDI 24. Bersikap gembira dengan klien
25. CDI 25. Mengobservasi efek medikasi kepada klien
Hasil penelitian Lea Amanda et all (1998) menjelaskan bahwa semua item pada CDI mempunyai
korelasi positif dengan item lainnya kecuali CDI no. 3 dan 16. Untuk mengukur perilaku caring
perawat, kelompok IV menyusun instrumen berdasarkan CDI 1- 25.Instrumen tersebut meliputi
instrument observasi dan kuesioner.

PANDUAN CARING PERAWAT RS MARTHA FRISKA MULTATULI 2015 Page 9


BAB IV
DOKUMENTASI
Instrumen The Top Ten Caring Behaviours Menurut (Wolf, Miller, Devine, 2003) dalam CBI
(TheCaring Behaviors Inventory), dengan menggunakan skala likert dengan cara memberikan
pendapat dengan menggunakan kata-kata selalu (SL), hampir selalu (HS), kadang-kadang (KK),
hampir tidak pernah (HTP), tidak pernah (TP) terhadap pertanyaan tertentu. Menggunakan rentang
skala 1-5 dengan total skor ≥ 75 adalah caring dan total skor < 75 adalah tidak caring (Abi, 2008).
Penerapan Perilaku Caring Berdasarkan “ The Top Ten Caring Behaviours”
PERILAKU
NO PERILAKU YANG DILIHAT SL HS KK HTP TP
CARING
1 Mendengar dengan 1 Perawat tersenyum ramah
penuh perhatian
2 Bahasa tubuh : posisi menghadap
kepada pasien dengan jarak
terapeutik
3 Pandangan mata fokus kepada
pasien
4 Menampilkan ekspresi wajah siap
mendengar dan membantu
5 Memberi respon yang sesuai
6 Menganggukkan kepala dengan
wajar
7 Tidak menyela pembicaraan
pasien
2 Memberi rasa 1 Perawat memfasilitasi pemenuhan
nyaman rasa nyaman pasien secara
lingkungan
2 Perawat memfasilitasi pemenuhan
rasa nyaman pasien secara fisik
(personal hygiene, demam, gatal
dsb)
3 Membantu mengatur posisi tidur
4 Menjaga privasi pasien saat
melakukan tindakan khusus
(menutup tirai, mengecilkan
voleme suara)
5 Membantu mengurangi rasa nyeri
yang dialami pasien.
3. Berkata jujur 1 Perawat berkata jujur sesuai data
yang ada
2 Tidak memberi harapan yang
berlebihan terkait penyakit yang
diderita pasien
3 Berkata benar tentang rencana
tindakan dan manfaat tindakan
yang akan dilakukan
4 Konsisten dalam berbicara
4 Memiliki kesabaran 1 Perawat bersikap sabar / tidak
emosional
2 Berbicara dengan lemah lembut
3 Menunjukan kesiapan untuk
membantu
4 Menampilkan ekspresi wajah
barsahabat
5 Tidak mengeluh tentang sikap
pasien

PANDUAN CARING PERAWAT RS MARTHA FRISKA MULTATULI 2015 Page 10


6 Melayani pasien dengan sepenuh
hati
5 Bertanggung jawab 1 Perawat memperkenalkan diri
sebelum melaksanakan tindakan
2 Melaksanakan tindakan sesuai
dengan standar prosedur
operasional (SPO),
3 Melaksanakan tindakan sesuai
dengan kewenangan
4 Berespon cepat saat pasien
membutuhkan bantuan
5 Mendokumentasikan setiap
tindakan yang dilakukan dengan
singkat dan jelas pada dokumen
asuhan keperawatan
6 Membubuhkan nama jelas dan
tanda tangan dalam dokumen
asuhan keperawatan
6 Memberi informasi 1 Memberi informasi dengan benar
sehingga klien dapat
mengambil
keputusan
2 Menggunakan bahasa yang mudah
dipahami
3 Memberi informasi sesuai
kebutuhan pasien
4 Informasi yang disampaikan tidak
mengarahkan
7 Memberi sentuhan 1 Perawat menyentuh pasien
(Secara profesional dengan
memperhatikan nilai dan
keyakinan pasien)
8 Memajukan 1 Perawat peka terhadap keluhan
sensitifitas dan bahasa tubuh pasien / ekspresi
wajah pasien
9 Menunjukan rasa 1 Menunjukkan sikap rasa hormat
hormat pada klien pada pasien sebagai seorang yang
bermartabat
2 Menghormati / menghargai
pendapat pasien
3 Memberi kesempatan pada pasien
untuk berfikir dan berdiskusi
dengan keluarga dalam
mengambil keputusan
4 Memberi perhatian dan
meluangkan waktu yang cukup
pada saat pasien mengeluarkan
pendapat
10 Memanggil klien 1 Menyebut nama pasien dengan
dengan namanya benar

PANDUAN CARING PERAWAT RS MARTHA FRISKA MULTATULI 2015 Page 11