Anda di halaman 1dari 2

DEBUS DI BANTEN.

Atraksi Debus di Banten


Kamu pasti gak asing lagi dengan Superman, pahlawan super yang punya kekuatan
dahsyat dan kebal terhadap serangan senjata tajam maupun peluru. Di Indonesia,
Superman itu, bukan sekadar fiksi. Gak percaya? Saksikan aja atraksi Debus yang ada di
provinsi Banten.
Mereka memperlihatkan kemampuan super mereka dengan atraksi-atraksi seperti menyayat
atau mengoleskan api di kulit sendiri, berguling di atas serpihan beling, menginjak paku atau
bara api menyala, bahkan sampai menyiram tubuh dengan air keras. Hebatnya, mereka
sama sekali gak terluka atau merasakan sakit. Praktisi debus ini gak cuma terdiri dari orang-
orang dewasa, ada remaja dan anak-anaknya juga, lho. Hiii, mereka memang gak terluka,
tapi atraksinya bikin ngilu yang lihat.

TRADISI ADU BETIS UNTUK MENSYUKURI HASIL PANEN.

Malanca, tradisi adu betis di Bone


Masyarakat Dusun Paroto, Desa Samaelo, Barebbo, Bone, Sulawesi Selatan, ini juga punya
tradisi menarik untuk mengungkapkan rasa syukur setelah memanen padi. Gak kalah brutal
dengan Tawur Nasi di Rembang, mereka saling mengadu kekuatan betis lewat permainan
Malanca. Tradisi turun-temurun ini diikuti oleh sejumlah pemuda kampung dan disaksikan
oleh ratusan warga lainnya.
Setelah aba-aba, pesertanya akan saling adu kuat menendang betis lawan. Tak jarang,
mereka akan meringis kesakitan, bahkan sampai keseleo karena kekuatan tendangan
lawan. Tapi, gak ada yang mendendam, mereka tetap bersuka cita karena hasil panen yang
melimpah. Hayo, beranikah kamu mencoba mengadu kekuatan dengan mereka?
TRADISI POTONG JARI, BUKTI KEHILANGAN TINGKAT TINGGI YANG DILAKUKAN
OLEH SUKU DANI.

Seorang sesepuh memperlihatkan jarinya yang tidak utuh


Kamu mungkin pernah menonton film Denias, Senandung di Atas Awan karya sutradara
John de Rantau. Kalau iya, kamu pasti gak asing lagi dengan tradisi yang satu ini. Potong
Jari adalah tradisi berkabung yang dimiliki suku Dani untuk mengungkapkan kesedihan
karena ditinggalkan oleh anggota keluarga.
Kenapa potong jari? Bagi Suku Dani, jari bisa diartikan sebagai symbol kerukunan,
kebersatuan dan kekuatan dalam diri manusia maupun sebuah keluarga. Kehilangan salah
satu ruasnya saja, tangan kita tidak lagi berfungsi optimal. Itulah nilai filosofi dari tradisi ini.
Zaman sekarang, tradisi ini sudah mulai ditinggalkan, tapi kamu masih bisa menjumpai
sesepuh suku Dani yang jemarinya sudah tidak utuh lagi.

MASYARAKAT TENGGER MENGADAKAN UPACARA YADNYA KASADA.- BROMO

Prosesi upacara Yadnya Kasada.


Pemandangan yang disuguhkan Gunung Boromo selalu memikat untuk disambangi. Tapi,
kamu tahu gak kalau Bromo juga menjadi tempat masyarakat Tengger menggelar ritual adat
Yadnya Kasada? Upacara Yadnya Kasada atau Kasodo ini digelar setiap bulan Kasada
hari-14 dalam penanggalan kalender tradisional Hindu Tengger. Masyarakat Tengger
memang memegang teguh adat Hindu lama dan mengadakan upacara ini untuk
mempersembahkan sesajen pada Sang Hyang Widhi.
Upacara Kasada ini tak lepas dari kisah Rara Anteng dan Jaka Seger yang menjadi cikal
bakal penduduk Tengger. Ritual ini bertujuan untuk menghormati putra bungsu mereka yang
mengorbankan diri untuk meredakan murka Sang Hyang Widhi. Jika kamu ingin
menyaksikan jalannya ritual ini, kamu bisa bersiap dari malam hari saat upacara hendak
digelar, karena tempat ini akan dibanjiri oleh penduduk Tengger serta pengunjung dari
segala penjuru. Yang menarik, kamu bisa melihat ternyata banyak orang yang sudah
bersiap dengan jala di bibir kawah untuk menangkap sesajen yang dilemparkan ke dalam
kawah. Wah, berani juga, ya.