Anda di halaman 1dari 101

LAPORAN KERJA PRAKTEK

PT. SEMEN PADANG


BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kerja praktek merupakan salah satu sarana bagi mahasiswa untuk
mengetahui penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi di lapangan secara
langsung serta untuk menyelaraskan aplikasi dan keilmuan dalam bidang
khususnya teknik kimia. Pemahaman proses dan operasi yang terjadi di pabrik
merupakan hal penting yang akan menambah wawasan mahasiswa tentang
industri. Kerjasama antara perusahaan dan institusi perguruan tinggi perlu terus
ditingkatkan agar dunia akademik dapat mengikuti perkembangan dunia industri
yang berkembang pada saat ini. Oleh karena itu, mahasiswa mempunyai tanggung
jawab besar untuk meningkatkan pemahaman baik dari segi keilmuan maupun
keterampilan dasar yang dituntut untuk menjadi seorang professional.
PT Semen Padang adalah salah satu perusahaan produsen dan distributor
semen yang dikenal memiliki reputasi yang baik dengan sistem produksi yang
sangat matang. PT Semen Padang berlokasi di Kelurahan Indarung, Kecamatan
Lubuk Kilangan, Kotamadya Padang, Sumatera Barat, berjarak 15 km kearah
timur pusat kota Padang. Sebagai perusahaan semen tentunya memiliki
keterkaitan dengan materi-materi yang di dapatkan di bangku kuliah khususnya di
Jurusan Teknik Kimia Universitas Riau sehingga dapat disimpulkan bahwa Kerja
Praktek di PT Semen Padang akan sangat menunjang perluasan wawasan dan
pengaplikasian ilmu Teknik Kimia di dunia Industri secara nyata.
Berdasarkan uraian di atas diharapkan melalui kerja praktek di PT Semen
ini, mahasiswa mampu menyerap pengetahuan yang didapat selama melakukan
kerja praktek serta dapat memecahkan masalah yang ada melalui tugas khusus
yang diberikan berjudul “Menghitung Neraca Massa dan Kebutuhan Udara
Primer, Sekunder Pada Unit Kiln di Pabrik Indarung V PT Semen Padang”.
Dengan demikian, mahasiswa diharapkan memiliki bekal yang cukup untuk terjun
di bidang profesi sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah ditempuh di bangku
kuliah.

|1
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

1.2. Tujuan Kerja Praktek


Adapun tujuan dari dilakukannya Kerja Praktek (KP) ini adalah sebagai
berikut:
1) Memenuhi salah satu mata kuliah yang diwajibkan bagi mahasiswa
Jurusan Teknik Kimia FT UR.
2) Mengenal dan memperluas wawasan di bidang teknologi, terutama di
bidang proses produksi semen di PT Semen Padang Indarung V.
3) Mendapatkan pengalaman langsung dan aplikatif di lapangan mengenai
unit-unit proses produksi semen di PT Semen Padang Indarung V.
4) Mengetahui permasalahan proses produksi semen di PT Semen Padang dan
cara mengatasi permasalahan tersebut.
5) Memahami Budaya Kerja di lingkungan PT. Semen Padang Indarung V.
6) Mempelajari prinsip kerja alat proses produksi semen di PT. Semen Padang
Indarung V
7) Meningkatkan kerja sama yang baik dan saling menguntungkan antara pihak
universitas dengan pihak industri untuk meningkatkan kualitas mahasiswa
sebagai tuntutan era globalisasi.

1.3. Manfaat Kerja Praktek


Manfaat yang diperoleh dari pelaksanaan kerja praktek yaitu:
1.3.1. Bagi Mahasiswa
1) Dapat mengetahui dan memahami berbagai aspek perusahaan seperti
aspek teknik, aspek pemasaran, organisasi, ekonomi, persediaan, dan lain-
lain.
2) Mahasiswa dapat berperan dalam mengatasi masalah-masalah yang
berkaitan dengan perusahaan.
3) Mahasiswa dapat menambah pengalaman kerja di bidang ilmu
pengetahuan dan teknologi di bidang teknik kimia.
4) Sebagai sarana pelatihan dalam penyusunan laporan dalam suatu
penugasan.

1.3.2. Bagi Universitas

|2
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

1) Dapat memperluas pengenalan Universitas Sriwijaya khususnya jurusan


Teknik Kimia kepada lingkungan masyarakat dan perusahaan.
2) Mempererat kerjasama antara universitas dengan instansi pemerintahan
maupun swasta.

1.3.3. Bagi Perusahaan


1) Laporan kerja praktek dapat diajdikan sebagai bahan evaluasi kerja,
usulan, ataupun masukan, sehingga dapat digunakan bila dibutuhkan
dalam pemecahan masalah-masalah di perusahaan.
2) Dapat melihat keadaan perusahaan dari sudut pandang mahasiswa yang
sedang kerja praktek.

3) Sebagai kontribusi perusahaan dalam memajukan pendidikan.

1.4. Waktu Pelaksanaan Kerja Praktek


Pelaksanaan kerja praktek ini dilakukan di :
Nama Perusahaan : PT Semen Padang
Alamat : Jalan Raya Indarung, Padang, Sumatera Barat
Bagian Penempatan : Unit Produksi Indarung V PT Semen Padang
Waktu Pelaksanaan : 5 Februari 2018 s.d. 16 Maret 2018

|3
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Semen


Semen merupakan bahan yang digunakan sebagai perekat bata untuk
mendirikan sebuah bangunan. Bahasa latin dari semen adalah caementum yang
artinya “memotong menjadi bagian-bagian kecil tak beraturan“. Selain itu semen
(cement) dikenal juga sebagai salah satu hasil industri dari campuran 4 bahan
baku utama yaitu batu kapur, batu silika, tanah liat dan pasir besi lalu
ditambahkan dengan bahan lainnya akhir berupa padatan berbentuk bubuk (bulk).
Bila semen dicampurkan dengan air, maka terbentuklah beton
Batu kapur/gamping merupakan bahan alam yang mengandung senyawa
kalsium oksida (CaO), sedangkan lempung/tanah liat adalah bahan alam yang
mengandung senyawa: silika oksida (SiO2), aluminium oksida (Al2O3), besi oksida
(Fe2O3) dan magnesium oksida (MgO). Untuk menghasilkan semen, bahan baku
tersebut dibakar sehingga berubah fasanya dari fasa padat menjadi fasa cair lalu
dilakukan proses pendinginan agar kembali berubah fasa menjadi fasa padat agar
terbentuk klinker yang berfasa padat, yang kemudian dihancurkan dan ditambah
dengan gips (Gypsum) dalam jumlah yang sesuai. Hasil akhir dari proses produksi
dikemas dalam kantong/zak dengan berat rata-rata 40 kg atau 50 kg.

2.1 Jenis-Jenis Semen

2.1.1 Portland Cement


Semen Portland adalah semen hidraulis yang dihasilkan dengan cara
menghaluskan klinker yang terdiri dari silikat-silikat kalsium yang bersifat
hidraulis, dengan bahan tambahan yang biasanya digunakan adalah Gypsum.
Klinker adalah penamaan untuk gabungan komponen utama bahan baku semen
yang belum diberikan tambahan bahan lain untuk memperbaiki sifat dari semen.
Tipe-tipe semen Portland adalah sebagai berikut :
1) Semen Portland Tipe I (Ordinary Portland Cement)
Digunakan untuk keperluan konstruksi umum yang tidak memerlukan
persyaratan khusus terhadap panas hidrasi dan kekuatan tekan awal. Tahan

|4
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

terhadap air tanah yang mengandung sulfat 0-0,1%. Cocok digunakan untuk
bangunan rumah pemukiman, gedung-gedung bertingkat dan lain-lain pada
daerah yang tidak mengandung kadar sulfat tinggi.
2) Semen Portland Tipe II (Moderate Heat Portland Cement)
Semen Portland Tipe II digunakan untuk konstruksi bangunan dari beton
yang memerlukan ketahanan sulfat (pada lokasi tanah dan air yang
mengandung sulfat antara 0,1-0,2%).
3) Semen Portland Tipe III (High Early Strength Portland Cement)
Konstruksi yang menuntut kuat tekan awal tinggi pada fasa permulaan
setelah pengikatan terjadi. Kegunaan semen ini untuk pembuatan jalan beton,
landasan lapangan udara, bangunan bertingkat yang tinggi, bangunan dalam
air yang tidak memerlukan ketahanan terhadap sulfat.
4) Semen Portland Tipe IV (Low Heat Portland Cement)
Semen Portland Tipe IV digunakan untuk konstruksi bangunan yang
memerlukan kekuatan tekan awal tinggi pada fase permulaan setelah
pengikatan terjadi, misalnya untuk pembuatan jalan beton, bangunan-
bangunan bertingkat, bangunan-bangunan dalam air.
5) Semen Portland Tipe V (Sulphato Resistance Portland Cement)
Dipakai untuk konstruksi bangunan-bangunan dengan ketahanan terhadap
air tanah yang mengandung sulfat melebihi 0,2% dan sangat cocok untuk
instalasi pengolahan limbah pabrik, konstruksi dalam air, jembatan,
terowongan, pelabuhan, dan pembangkit tenaga nuklir.
6) Super Masonry Cement
Semen ini dapat digunakan untuk konstruksi perumahan, gedung, jalan
dan irigasi yang struktur betonnya maksimal K-225. Semen ini dapat juga
digunakan sebagai bahan baku pembuatan genteng beton, hollow brick,
paving block, batako, dan bahan bangunan lainnya.
7) Oil Well Cement, Class G-HSR (High Sulfate Resistance)
Semen tersebut merupakan semen khusus yang digunakan untuk
pembuatan sumur minyak bumi dan gas alam dengan konstruksi sumur
minyak bawah permukaan laut dan bumi.
8) Portland Composite Cement (PCC)

|5
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

Semen Portland Komposit adalah bahan pengikat hidrolis hasil


penggilingan bersama-sama terak semen Portland dan Gypsum dengan satu
atau lebih bahan anorganik, atau hasil pencampuran bubuk semen Portland
dengan bubuk bahan anorganik lain. Reaksi antara C3A dan air adalah:

3CaO.Al2O3 + 3H2O 3CaO.Al2O3.H2O

Bahan Pozzolan tersusun atas 45–72% SiO2, 10–18% Al2O3, 1–6% Fe2O3,
0,5–3% MgO dan 0,3-1,6% SO3. Digunakan secara luas untuk konstruksi

umum, seperti struktur bangunan bertingkat, struktur jembatan, struktur jalan


beton, bahan bangunan, plesteran, panel beton, paving block, hollow brick,
batako, genteng dan ubin. Penggunaannya lebih mudah, suhu beton lebih
rendah sehingga tidak mudah retak, lebih tahan terhadap sulfat, lebih kedap
air, dan permukaannya lebih halus.
9) Portland Pozzolan Cement (PPC)
Semen Portland Pozzolan (SPP) atau Portland Pozzolan Cement (PPC)
adalah semen hidrolis yang terdiri dari campuran yang homogen antara semen
Portland dengan bahan Pozzolan halus, yang diproduksi dengan menggiling
klinker semen Portland dan bahan Pozzolan bersama-sama. Semen ini dapat
digunakan secara luas untuk konstruksi beton (bendungan, dam dan irigasi).

2.1.2 Non Portland Cement


Semen tipe Non Portland terdiri dari:
1) Semen Alam (Natural Cement)
Semen alam merupakan semen yang dihasilkan dari proses pembakaran
batu kapur dan tanah liat pada suhu 850-1000oC, kemudian tanah yang
dihasilkan digiling menjadi semen halus.
2) Semen Alumina Tinggi (High Alumina Cement)
Semen alumina tinggi pada dasarnya adalah suatu semen kalsium aluminat
yang dibuat dengan meleburkan canpuran batu gamping, bauksit. Bauksit ini
biasanya mengandung oksida besi, silika, magnesia, dan ketidakmurnian
lainnya. Ciri-cirinya yaitu kekuatan semen yang berkembang dengan cepat,
dan ketahanannya terhadap air laut dan air yang mengandung sulfat lebih baik.

|6
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

3) Semen Sorel
Semen sorel adalah semen yang dibuat melalui reaksi eksotermik larutan
magnesium klorida 20% terhadap suatu ramuan magnesia yang didapatkan
dari kalsinasi magnesit dan magnesia yang didapatkan dari larutan garam.
Semen sorel memiliki sifat keras dan kuat, tidak tahan air dan sangat korosif.
4) Portland Blast Furnace Slag Cement
Portland Blast Furnance Slag Cement adalah semen yang dibuat dengan
cara menggiling campuran klinker semen Portland dengan kerak dapur tinggi
(Blast Furnance Slag) secara homogen. Kerak (slag) adalah bahan non-metal
hasil samping dari pabrik pengecoran besi dalam kiln yang mengandung
campuran antara kapur (CaCO3), silika (SiO2) dan alumina (Al2O3).
2.2 Bahan Baku Pembuatan Semen
Dalam industri semen diperlukan bahan baku yang dibagi sesuai fungsinya
sebagai berikut:
2.2.1 Bahan Baku Utama
Komponen utama bahan baku dalam pembuatan semen adalah batu kapur
(lime stone), batu silika (silica stone), pasir besi (iron sand), dan tanah liat (clay)
yang akan dicampur menjadi raw mix sehingga nanti akan menjadi produk.
1) Batu Kapur (lime stone)

Gambar 2.1. Batu Kapur (Lime Stone)

Batu kapur digunakan sebagai sumber kalsium oksida (CaO) dan kalsium
karbonat(CaCO3). Batu kapur ini diambil dari penambangan di Bukit Karang
Putih. Jumlah batu kapur yang digunakan sebanyak ± 80 %. Limestone
berperan dalam reaksi hidrasi dan pembentuk kekuatan pada semen. Jika
berlebihan akan menyebabkan semen tidak lentur dan rapuh.
Tabel 2.1. Sifat Fisika Batu Kapur

|7
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

Parameter Sifat Fisika


Fase Solid
Warna Putih kekuning-kuningan
Kadar Air 3,80%
Ukuran Material > 60mm = 0%
Silica Modulus 3,21
Alumina Modulus 1,44
Bulk Density 1378 g/l (kasar), 1360 g/l (sedang), 1592 g/l (halus)
(Sumber: Laboratorium Proses Indarung V, 2018)
Tabel 2.2. Komposisi Kimia Batu Kapur
Komponen Persentase (%)
CaO 51,07
SiO2 3,82
Al2O3 0.99
Fe2O3 0,53
MgO 0,47
H2O 3,30
(Sumber: Laboratorium Proses Indarung V, 2018)

2) Batu Silika (Silica Stone)

Gambar 2.2. Batu Silika (Silica Stone)

Silika adalah senyawa kimia dengan rumus molekul SiO2 (silika dioksida)
yang dapat diperoleh dari silika mineral, nabati dan sintesis kristal. Batu silika
merupakan sumber utama silika oksida (SiO2), penambangan dilakukan di
Bukit Ngalau. Penggunaan batu silika sekitar 10% dari total kebutuhan dasar
semen yang diperlukan dalam pembuatan semen dengan kadar SiO2 minimal
60%, Al2O3 maksimal 15%, H2O maksimal 12%, MgO maksimal 1%, dan
mengandung CaO serta Fe2O3 dalam jumlah sedikit.

|8
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

Pasir silika berguna untuk meningkatkan kekuatan pada semen karena


pembentukan dikalsium silikat (C2S) dan trikalsium silikat (C3S). Jika silika
berlebih akan meningkatkan kekuatan semen namun pada saat bersamaan akan
memperlama setting time-nya. Pada umumnya batu silika terdapat bersama
oksida logam lainnya, semakin murni kadar SiO2 semakin putih warna batu
silikanya, semakin berkurang kadar SiO2 semakin berwarna merah atau coklat,
disamping itu semakin mudah menggumpal karena kadar airnya yang tinggi.
Batu silika yang baik untuk pembuatan semen adalah dengan kadar SiO 2 ±
90%.
Tabel 2.3.Sifat Fisika Batu Silika
Parameter Sifat Fisika
Fasa Solid
Warna Coklat kemerahan
Kadar Air 12%
Ukuran Material > 60mm = 0%
Sifat Fisika Silika
Silica Modulus 3,64
Alumina Modulus 2,073
Bulk Density 1210 g/l (kasar), 1216 g/l (halus)
(Sumber: Laboratorium Proses Indarung V, 2018)
Tabel 2.4. Komposisi Kimia Batu Silika
Komponen Persentase (%)
CaO 2,50
SiO2 76.84
Al2O3 8,90
Fe2O3 4,09
MgO 0,49
H2O 13,93
(Sumber: Laboratorium Proses Indarung V, 2018)

3) Pasir Besi (Iron Sand) dan Cooper Slag


Pasir besi sebagai sumber oksida besi (Fe2O3) digunakan 2% berfungsi
untuk kekerasan dan kekuatan semen, sebagai penyerap panas saat proses

pembakaran. Pasir besi didatangkan dari PT Aneka Tambang , Cilacap. Pasir


besi yang mengandung mineral-mineral magnetik banyak terdapat di daerah
pantai, sungai dan pegunungan vulkanik. Umumnya, pasir besi selalu

|9
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

tercampur dengan SiO2 dan TiO2 sebagai impuritiesnya. Kadar yang baik
dalam pembuatan semen yaitu Fe3O2 ± 75% – 80%.

Gambar 2.3. Pasir Besi (Iron Sand)

Tabel 2.5. Sifat Fisika Pasir Besi


Parameter Sifat Fisika
Fasa Solid
Warna Hitam
Kadar Air 10%
Sifat Fisika Pasir Besi
Silica Modulus -
Alumina Modulus -
Bulk Density 1.657 g/l
(Sumber: Laboratorium Proses Indarung V, 2018)

Tabel 2.6. Komposisi Kimia Pasir Besi


Komponen Persentase (%)
CaO 3,67
SiO2 18,59
Al2O3 5,40
Fe2O3 66,06
MgO 0,63
H2O 9,80
(Sumber: Laboratorium Proses Indarung V, 2018)
Copper slag adalah hasil limbah industri peleburan tembaga, berbentuk
pipih dan runcing (tajam) dan sebagian besar mengandung oksida besi dan
silikat serta mempunyai sifat kimia yang stabil dan sifat fisik yang sama
dengan pasir.
Beberapa keuntungan penggunaan copper slag dalam campuran beton
adalah sebagai berikut:
a) Meningkatkan kekuatan beton dan permukaan beton lebih halus dan rata.

| 10
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

b) Meningkatkan ketahanan terhadap sulfat dalam air laut.


c) Mengurangi panas hidrasi dan memperkecil porositas.
Adapun kekurangan dari cooper slag adalah:
a) Beton yang dihasilkan berwarna kehitaman.
b) Tidak semua daerah memiliki cooper slag sehingga bahan sulit didapat.
c) Butiran cooper slag harus dihaluskan terlebih dahulu

Tabel 2.7. Sifat Fisika Cooper Slag


Parameter Sifat Fisika
Fasa Padat
Warna Kehitam-hitaman
Bentuk Pipih dan runcing
( Sumber: Hengkie, 2007)

Tabel 2.8. Komposisi Kimia Cooper Slag


Komponen Persentase
AL2O3 3-6%
SiO2 30-36%
CaO 2-7%
FeO 45-55%
( Sumber: Hengkie, 2007)

4) Tanah Liat (Clay)


Rumus kimia tanah liat yang digunakan pada produksi semen
SiO2Al2O3.2H2O.Tanah liat digunakan sebanyak ±8%. Pada awalnya
penambangan tanah liat dilakukan di bukit Ngalau, namun karena depositnya
semakin sedikit maka tanah liat dibeli dari pihak ketiga yaitu PT Igasar dan PT
Yasiga Andalas di Gunung Sarik dengan kadar Al2O3 minimal 25%,
SiO2maksimal 45%. Tanah liat digunakan untuk memasok alumina dan silika
pada saat dipanaskan di kiln, dan menyeimbangkan kandungan CaCO3 yang
terlalu tinggi pada Limestone.

Gambar 2.4. Tanah Liat (Clay)

| 11
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

Tabel 2.9. Sifat Fisika Tanah Liat


Parameter Sifat Fisika
Fasa Solid
Warna Coklat kekuningan
Kadar Air 34,8%
Ukuran Material -
Sifat Fisika Tanah Liat
Silica Modulus 0,912
Alumina Modulus 3,017
Bulk Density 750 g/l
(Sumber: Laboratorium Proses Indarung V, 2018)

Tabel 2.10. Komposisi Kimia Tanah Liat


Komponen Persentase (%)
CaO 2,76
SiO2 46,20
Al2O3 24,20
Fe2O3 9,19
MgO 0,30
H2O 26,93
(Sumber: Laboratorium Proses Indarung V, 2018)
2.2.2 Bahan Tambahan (Aditif)
Bahan baku yang ditambahkan ke dalam raw mixuntuk mendapatkan sifat-
sifat tertentu yang diinginkan pada semen. Bahan tambahan antara lain:
1) Gypsum
Bahan aditif yang digunakan dalam proses pembuatan semen adalah
Gypsumdengan rumus CaSO4.nH2O. Gypsum terdiri 2 macam yaitu Gypsum
alam dan Gypsum sintetis. Gypsum alam yang diimpor dari Thailand,
sedangkan Gypsum sintesis dari PT Petrokimia, Gresik.Gypsum berfungsi
sebagai retarder atau memperlambat terjadinya proses pengerasan pada
semen. Apabila kristal air dalam Gypsum hilang maka sifat retarder pada
Gypsum akan berkurang. Adapun karakteristik dari Gypsum adalah lembab
dan tahan terhadap api.
Tabel 2.11. Sifat Fisika Gypsum
Parameter Sifat Fisika
Warna Putih, kuning, abu-abu, hitam (tidak murni)
Specific gravity 2,31 – 2, 35
Kekerasan Keras seperti mutiara teruma permukaan

| 12
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

Bentuk mineral Kristalis, serabut dan massif


Kilap Seperti sutera
Tingkat konduktivitas Rendah
Sistem kristalin Monoklinik
(Sumber: Laboratorium Proses Indarung V, 2018)

Tabel 2.12. Komposisi Kimia Gypsum


Komponen Persentase (%)
CaO 30,50
SiO2 3,67
Al2O3 0,22
Fe2O3 0,22
MgO 0,21
H2O 3,50
(Sumber: Laboratorium Proses Indarung V, 2018)

Sedangkan sifat kimia Gypsum adalah:


1. Pada umumnya mengandung 46,5%SO3, 32,4% CaO dan 20,9% H2O.
2. Kelarutan dalam air adalah 2,1 gram tiap liter pada suhu 40 0C; 1,8 gram
tiap liter air pada 00C; 1,9 gram tiap liter pada suhu 70-900C.

3. Kelarutan bertambah dengan penambahan HCl atau HNO3. Di alam,


Gypsum merupakan mineral hidrous sulfat yang mengandung dua molekul
air, atau dengan rumus kimia CaSO4.2H2O dengan berat molekul 172,17

gr. Warna Gypsum mulai dari putih, kekuning kuningan sampai abu-abu.

Gambar 2.5. Gypsum

2) Pozzolan

| 13
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

Gambar 2.6 Pozzolan

Pozzolan adalah bahan yang mengandung silika atau senyawanya dan


alumina, yang tidak mempunyai sifat mengikat seperti semen . Namun dalam

bentuknya yang halus dan dengan adanya air, senyawa tersebut akan bereaksi
secara kimia dengan kalsium hidroksida pada suhu kamar membentuk
senyawa yang mempunyai sifat seperti semen.

Tabel 2.13. Komposisi Kimia Pozzolan


Komponen Persentase(%)
SiO2 69,80
Al2O3 16,46
Fe2O3 1,33
MgO 0,18
CaO 2,97
(Sumber: Laboratorium Proses Indarung V, 2018)

3) Fly Ash
Fly ash adalah bagian dari sisa pembakaran batubara pada boiler
pembangkit listrik tenaga uap yang berbentuk partikel halus amorfdan bersifat
Pozzolan, berarti abu tersebut dapat bereaksi dengan kapur pada suhu kamar

dengan media air membentuk senyawa yang bersifat mengikat.

Tabel 2.14. Parameter dan Persyaratan Kandungan Fly Ash


Komponen Persentase(%)
SiO2 45,20
Al2O3 8,90
Fe2O3 21,20
MgO 0,70
CaO 9,10
H2O 0,50
(Sumber: Laboratorium Proses Indarung V,
2018)

| 14
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

Manfaat fly ash yaitu:


a. Tahan tehadap korosi, suhu tinggi, dan sebagai limbah yang bermanfaat
b. Koefisien pemuaian yang rendah
c. Memiliki sifat Pozzolan yang dapat digunakan untuk menghemat
penggunaan klinker sehingga biaya produksi semen bisa dikurangi
2.2.3 Bahan Korektif
Bahan korektif merupakan bahan mentah yang dipakai apabila terjadi
kekurangan salah satu komponen pada pencampuran bahan-bahan mentah
utama,misalnya kekurangan:
 CaO : bisa ditambahkan lime stone, marble (90% CaCO3)
 Al2O3 : bisa ditambahkan bauxite, laterite, koaline, dan lain-lain
 SiO2 : bisa ditambahkan quart dan sand
 Fe2O3 : bisa ditambahkan pasir besi dan pyrite.
Besar kecilnya penambahan tergantung kekurangan sesuai raw mix design
yang diinginkan.

2.3 Sifat Fisika dan Sifat Kimia Semen


2.3.1 Sifat Fisika Semen
1) Setting time (waktu pengikatan)
Setting dan hardening adalah pengikatan dan pengerasan semen setelah
terjadi reaksi hidrasi. Semen apabila dicampur dengan air akan menghasilkan
pasta yang plastis dan dapat dibentuk sampai beberapa waktu karakteristik
dari pasta tidak berubah dan periode ini sering disebut dorman period.
Pada tahapan berikutnya, pasta mulai menjadi kaku walaupun masih ada
yang lemah, namun suhu tidak dapat dibentuk (unworkable). Kondisi ini
disebut initial set, sedangkan waktu mulai dibentuk (ditambah air) sampai
kondisi initial set disebut initial setting time (waktu pengikatan awal).
Tahapan berikutnya pasta melanjutkan kekuatannya sehingga didapat padatan
yang utuh dan biasa disebut hardened cement pasta. Kondisi ini disebut final
set, sedangkan waktu yang diperlukan untuk mencapai kondisi ini disebut
final setting time (waktu pengikatan akhir). Proses pengerasan berjalan terus

| 15
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

berjalan seiring dengan waktu akan diperoleh kekuatan proses ini dikenal
dengan nama hardening.
2) Kelembaban
Kelembaban timbul karena semen menyerap uap air dan CO 2 dan dalam
jumlah yang cukup banyak sehingga terjadi penggumpalan. Semen yang
menggumpal kualitasnya akan menurun karena bertambahnya Loss On
Ignition (LOI) dan menurunnya spesific gravity sehingga kekuatan semen
menurun, waktu pengikatan dan pengerasan semakin lama, dan terjadinya
false set. Loss On Ignition (hilang pijar) dipersyaratkan untuk mencegah
adanya mineral-mineral yang terurai pada saat pemijaran, dimana proses ini
menimbulkan kerusakan pada batu setelah beberapa tahun kemudian.
3) Panas Hidrasi
Panas hidrasi adalah panas yang dilepaskan selama semen mengalami
proses hidrasi. Jumlah panas hidrasi yang terjadi tergantung pada tipe semen,
kehalusan semen, dan perbandingan antara air dengan semen. Kekerasan awal
semen yang tinggi dan panas hidrasi yang besar kemungkinan terajadi retak-
retak pada beton. Hal ini disebabkan oleh fosfor yang timbul sukar
dihilangkan sehingga terjadi pemuaian pada proses pendinginan.
4) Penyusutan
Ada tiga macam penyusutan yang terjadi di dalam semen yaitu:
a) Drying shringkage (penyusutan karean pengeringan)
b) Hidration shringkage (penyusutan karena hidrasi)
c) Carbonation shringkage (penyusutan karena karbonasi)
Yang paling berpengaruh pada permukaan beton adalah drying shringkage,
penyusutan ini terjadi karena penguapan selama proses setting dan hardening.
Bila besaran kelembabannya dapat dijaga, maka keretakan beton dapat
dihindari. Penyusutan ini dipengaruhi juga oleh kadar C3A yang terlalu tinggi.
5) Kuat Tekan
Kuat tekan adalah kemampuan material menahan suatu beban. Kuat tekan
dipengaruhi oleh kandungan senyawa C3S, C2S, C3A, C4AF dalam semen,
kadar SO2, dan tingkat kehalusan semen. C3S berpengaruh terhadap kekuatan
awal.C2S berpengaruh terhadap kuat tekan dalam jangka panjang, C 3A

| 16
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

berpengaruh terhadap kuat tekan hingga umur 28 hari, dan C4AF tidak
berpengaruh pada kuat tekan namun memberikan pengaruh terhadap
pembentukan liquid phase di dalam proses pembakaran di kiln.
Kuat tekan semen diuji dengan cara membuat mortar yang kemudian
ditekan sampai hancur. Contoh semen yang diuji dicampur dengan pasir silika

dengan perbandingan tertentu, kemudian dibentuk menjadi kubus-kubus


berukuran (5x5x5) cm. Setelah mengalami perawatan dengan perendaman
benda tersebut diuji kekuatan tekannya pada hari ke 3, 7, dan 28.
6) Hidrasi Semen
Hidrasi semen terjadi akibat adanya kontak antara mineral semen dengan
air. Faktor yang mempengaruhi hidrasi semen antara lain:
a. Jumlah air yang ditambahkan
b. Temperatur
c. Kehalusan semen
d. Bahan aditif
e. Kandungan senyawa C3S, C2S, C3A dan C4AF
Faktor-faktor tersebut mengakibatkan terbentuknya pasta semen yang pada
waktu tertentu akan mengalami pengerasan. Hidrasi adalah proses kristalisasi
yang dibagi menjadi 3 (tiga) tahap, yaitu:
a. Secara kimia, yaitu mineral semen beraksi dengan air membentuk
senyawa hidrat.
b. Secara fisika, yaitu pembentukan kristal karena kejenuhan larutan.
c. Secara mekanis, yaitu pengikatan secara adhesi dan kohesi kristal
sehingga membentuk struktur yang kokoh.
Hidrasi pada temperatur tinggi menyebabkan rendahnya kekuatan akhir
semen dan beton yang rentan retak.
7) Daya Tahan terhadap Asam dan Sulfat
Syarat ini hanya untuk semen dengan jenis HSRC (high sulfate resistance
cement).Daya tahan beton umumnya rendah terhadap asam, sehingga mudah
terdekomposisi oleh asam kuat.Asam dapat merubah senyawa semen yang
tidak larut dalam air menjadi senyawa yang larut dalam air.pH yang dapat
merusak yaitu dibawah 6, namun keasaman air akibat pelarutan CO 2, pH di
atas 6,5 juga dapat merusak, karena CO2 bereaksi dengan Ca(OH)2 dalam

| 17
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

semen membentuk CaCO3 yang bereaksi kembali dengan CO2 membentuk


Ca(HCO)3 yang larut dalam air, menurut reaksi:
Ca(OH)2 + CO2 CaCO3 + H2O
CaCO3 + CO2 Ca(HCO)3
Ca(HCO)3 yang terbentuk inilah yang akan mengurangi kekuatan semen
8) False Set
False set yaitu gejala terjadinya pengembangan sifat kekakuan dari adonan
semen, mortar, beton tanpa terjadinya pelepasan panas yang banyak. Gejala
tersebut akan hilang dan sifat plastis akan dicapai kembali bila dilakukan
pengadukan lebih lanjut tanpa penambahan air. False set terjadi karena pada
operasi penggilingan klinker dan Gypsum dilaksanakan pada suhu operasi
yang terlalu tinggi sehingga terjadi dehidrasi dari CaSO 4.2H2O menjadi
CaSO4.1,5H2O.CaSO4.0,5H2O. Inilah yang menyebabkan terjadinya false set.
9) Soundness
Selama proses hidrasi, akan terjadi ekspansi abnormal yang menyebabkan
keretakan beton. Ekspansi terjadi apabila kadar free lime, MgO, Na2O, dan
K2O terlalu tinggi atau Gypsum yang terlalu banyak.
10) Konsistensi
Konsistensi semen portland lebih banyak pengaruhnya pada saat
pencampuran awal, yaitu pada saat terjadi pengikatan sampai pada saat beton
mengeras. Konsistensi yang terjadi bergantung pada rasio antara semen dan air
serta aspek-aspek bahan semen seperti kehalusan dan kecepatan hidrasi.
Konsistensi mortar bergantung pada konsistensi semen dan agregat
pencampurnya.
11) Kehalusan
Kehalusan butir semen akan mempengaruhi proses hidrasi. Waktu
pengikatan (setting time) menjadi semakin lama apabila butir semen lebih
kasar. Kehalusan penggilingan semen disebut penampang spesifik, yaitu luas
butir permukaan semen. Jika permukaan penampang semen lebih besar, semen
akan memperbesar bidang kontak dengan air. Semakin halus butiran semen,
proses hidrasi semakin cepat sehingga kekuatan awal tinggi dan kekuatan
akhir akan berkurang. Namun jika semen terlalu halus, setting time akan turun
lalu mengakibatkan drying shrinkage dan mengakibatkan keretakan beton.

| 18
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

Selain itu, akan memudahkan penyerapan air dan CO2. Oleh karena itu,

ukuran partikel dijaga pada blaine ±3.500 cm2/gr.


Kehalusan butir semen yang tinggi dapat mengurangi terjadinya bleeding
atau naiknya air ke permukaan, tetapi menambah kecendrungan beton untuk
menyusut lebih banyak dan mempermudah terjadinya retak susut. Menurut
ASTM, butir semen yang lewat ayakan No. 200 harus lebih dari 78%. Untuk
mengukur kehalusan semen digunakan turbidimeter dari Wagner atau air
permeability dari blaine.
12) Perubahan Volume (kekalan)
Kekalan pasta semen yang telah mengeras merupakan suatu ukuran yang
menyatakan kemampuan pengembangan bahan-bahan campurannya dan
kemampuan untuk mempertahankan volume setalah pengikatan terjadi.
Ketidakkekalan semen disebabkan oleh terlalu banyaknya jumlah kapur bebas
yang pembakarannya tidak sempurna serta magnesia yang terdapat dalam
campuran tersebut. Kapur bebas itu mengikat air dan kemudian menimbulkan
gaya-gaya ekspansi. Alat uji untuk menentukan nilai kekalan semen
portlandadalah Autoclave Expansion of Portland Cement cara ASTM C-151
atau cara Inggris, BS, Expansion by Le Chatellier.
Sifat-sifat semen portland sangat dipengaruhi oleh susunan ikatan oksida-
oksida serta bahan-bahan pengotor lainnya. Pemeriksaan secara berkala perlu
dilakukan, baik pada saat pemrosesan, saat menjadi bubuk semen maupun

setelah menjadi pasta semen. Pemeriksaan semen dilakukan sesuai dengan

standar mutu.Standar yang paling umum dianut didunia adalah standar ASTM
(American Society for Testing and Material) C-150 dan British standard (BS-
12). Sedangkan di Indonesia menggunakan Standar Industri Indonesia (SII-
0013-81) yang mengadopsi ASTM C-150-80 yang kini telah diperbarui
menjadi SNI.

2.3.2 Sifat Kimia Semen


1) Insoluble Residue (Bagian Tak Larut)

| 19
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

Insoluble residue merupakan kotoran yang tetap tinggal setelah semen


direaksikan dengan asam klorida dan natrium karbonat. Kotoran ini berasal
dari senyawa di dalam Gypsum, dari SiO2 yang tidak terikat dalam klinker dan
dari senyawa organik seperti humus yang terkadang masih terbawa di
Limestone dan batuan lainnya. Jumlahnya yang kecil tidak mempengaruhi
mutu/kualitas semen.
2) Lost of Ignition (Hilang Pijar)
Hilang pijar digunakan untuk mencegah adanya mineral-mineral yang
dapat diuraikan pada pemijaran. Kristal mineral tersebut umunya bersifat
dapat mengalami metamorfosa dalam waktu yang lama, sehingga pada proses
tersebut dapat menimbulkan kerusakan. Lost of ignition (LOI) adalah
persentase berat CO2 dan H2O yang hilang pada waktu dipijarkan dengan suhu
dan waktu tertentu. LOI dihitung dengan rumus:

(3.1)

Hilang pijar disebabkan karena terjadinya penguapan air kristal dari


Gypsum serta penguapan CO2 dari MgCO3 dan CaCO3 saat terjadi reaksi
kalsinasi. Nilai LOI berkisar antara 0,5-0,8%.
3) Modulus Semen
Modulus semen merupakan bilangan yang menyatakan perbandingan
kuantitas senyawa CaO, SiO2, Fe2O3, dan Al2O3.Modulus semen sesuai untuk
jenis semen yang diproduksi. Modulus ini dapat digunakan untuk
perbandingan jumlah masing-masing bahan baku untuk menghasilkan klinker
dengan komposisi yang diinginkan.
a. Alumina Modulus (ALM)
Nilai ALM berkisar 1,5-2,5. Jika nilai ALM terlalu tinggi, maka nilai SIM
akan turun sehingga menurunkan setting time semen, namun jika nilai ALM
terlalu rendah akan menyebabkan viskositas fasa cair rendah, semen yang
dihasilkan tahan sulfat, namun kuat tekan awalnya rendah dan mudah dibakar.
ALM dihitung dengan menggunakan rumus:

| 20
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

(3.2)

b. Silika Modulus (SIM)


Nilai SIM berkisar antara 1,9-3,2 dan yang diinginkan itu antara 2,2-2,6.
Dicari menggunakan rumus:

(3.3)

Perubahan nilai SIM menyebabkan perubahan coating pada burning zone


dan burnability klinker. Jika nilainya terlalu tinggi, maka klinker sulit dibakar

hingga perlu temperatur bakar yang tinggi. Fase cair rendah, sehingga beban

panasnya tinggi, kadar abu dan CaO bebasnya tinggi . Coating menyebabkan
terjadinya penumpukan penyerapan panas pada bagian coating dan
mengakibatkan daerah coating tersebut lebih panas sehingga dapat merusak
batu bahan api.
c. Lime Saturated Factor (Faktor Penjenuhan Kapur)
LSF adalah jumlah bagian CaO yang diperlukan untuk mengikat satu
bagian oksida-oksida yang lain (SiO2, Al2O3 dan Fe2O3). Kelebihan CaO dari

LSF akan membentuk CaO bebas (free lime) didalam klinker. Akibat LSF
yang tinggi adalah CaO bebas akan semakin tinggi, burnability semakin tinggi

sehingga kuat tekan awal dan panas hidrasi semakin tinggi ,kebutuhan panas
dan temperatur kiln akan meningkat karena burnability yang semakin tinggi
dan coating sulit terbentuk sehingga panas radiasi akan meningkat.
d. Sulfur Trioksida (SO3)
Senyawa SO3 berasal dari Gypsum dan bahan bakar pada pembentukan
klinker. Kadar SiO3 klinker sebaiknya 0,6%, jika lebih maka klinker akan

susah digiling. Fungsi senyawa SO3 adalah menghambat hidrasi mineral C3A

dan pengatur setting time semen. Apabila penambahan Gypsum optimal, maka
senyawa SiO2 dapat membantu hidrasi C3S yang bermanfaat untuk menambah

| 21
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

kekuatan semen, mengurangi drying shrinkage dan meningkatkan kelenturan


(soundness) semen.
e. Magnesium Oksida
Senyawa MgO dalam semen berasal dari batu kapur setelah terjadinya
proses pembakaran klinker, senyawa MgO terdapat dalam bentuk glassy state.
Jika kadar MgO kurang dari 2% maka MgO akan berikatan dengan senyawa
klinker. Jika kadarnya lebih dari 2% maka akan membentuk MgO bebas
(periscale) yang akan berikatan dengan air membentuk Mg(OH) 2 yang
mengakibatkan keretakan pada beton
f. CaO Bebas (Free Lime)
Free lime merupakan senyawa kapur yang tidak ikut bereaksi dalam
pembuatan klinker. Kadar free lime yang baik adalah dibawah 1%. Jika
berlebih maka beton yang dihasilkan akan mudah retak dikarenakan pemuaian
volume yang besar selama reaksi hidrasi semen.
g. Komposisi Senyawa Mineral
Senyawa C3S adalah komponen yang berperan untuk pengerasan awal,
dan cepat mengeras pada umur 28 hari. Kadar C3S sebaiknya antara 52-62%.
C2S berperan sebagai kekuatan untuk waktu yang lebih lama. C2S berperan
untuk kekerasan setelah minggu pertama hingga beberapa minggu atau bulan.
C3A berfungsi dalam kekerasan awal dan kecepatan mengerasnya sangat
tinggi. Dalam semen tanpa Gypsum, C3A bereaksi cepat dengan air dan
menghasilkan panas yang besar. Kadar C3A optimum tergantung pada jenis
semen yang diproduksi. C4AF mempunyai sifat hidrasi yang lambat . Besi

dalam C4AF berperan sebagai fluxing agent (penurunan titik lebur).


h. Alkali (Na2O dan K2O)
Kadar alkali berlebih dapat mengakibatkan keretakan pada beton, apabila
digunakan agregat yang mengandung silika reaktif terhadap alkali akan terjadi
reaksi:
Df
Na2O + SiO2 2NaSiO3
K2O + SiO2 2KSiO3

| 22
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

Na2O dibatasi kadarnya 0,6%. Jika berlebih maka jumlah Gypsum yang
dibutuhkan akan lebih banyak. Sedangkan kelebihan K2O menjadikan klinker
mudah digiling.

2.4 Faktor Kualitas Semen


Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas semen adalah sebagai berikut:
1) Blaine (kehalusan semen)
Pengujian luas permukaan (specific surface) dilakukan dengan
menggunakan alat Blaine Air Permeability yang merupakan persyaratan fisika
utama yang harus dipenuhi semen Portland untuk semua tipe. Nilai kehalusan
(blaine) dihitung dari permeability udara terhadap sampel semen yang
dipadatkan tergantung dari permukaan spesifiknya. Semakin besar nilai
hambatannya maka semakin besar luas permukaan spesifik dari semen. Satuan
dari kehalusan semen Portland dinyatakan dalam cm2/gram atau m2/kg,
artinya setiap gram semen apabila ditebar di atas permukaan yang rata maka
akan membentuk luasan seluas 1 cm2. Syarat minimum: 2800 cm2/gram (280
m2/kg).
2) SO3
Senyawa SO3 berasal dari Gypsum dan bahan bakar pada pembentukan
klinker. Kadar SO3 klinker sebaiknya 0,6%, jika lebih maka klinker akan
susah digiling. Fungsi senyawa SO3 adalah menghambat hidrasi mineral C3A
dan pengatur setting time semen. Apabila penambahan Gypsum optimal, maka
senyawa SO2 dapat membantu hidrasi C3S yang bermanfaat untuk menambah
kekuatan semen, mengurangi drying shrinkage dan meningkatkan kelenturan
(soundness) semen.
3) 45µ
Kehalusan semen diisyarakan karena akan menentukan luas permukaan
partikel-partikel pada semen proses hidrasi. Untuk standar kehalusan semen
dipakai spesifikasi sisa ayakan 90µ (170 mesh/ sisa ayakan 45µ (325 mesh)
4) LOI (Lost Of Ignition)
LOI adalah persentase berat CO2 dan H2O yang hilang pada waktu
dipijarkan dengan suhu dan waktu tertentu. LOI dihitung dengan rumus:

| 23
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

(3.4)

Hilang pijar disebabkan karena terjadinya penguapan air kristal dari


Gypsum serta penguapan CO2 dari MgCO3 dan CaCO3 saat terjadi reaksi
kalsinasi. Nilai LOI berkisar antara 0,5-0,8%.
5) BTL (Bagian Tak Larut)
Bagian Tak Larut merupakan kotoran yang tetap tinggal setelah semen
direaksikan dengan asam klorida dan natrium karbonat. Kotoran ini berasal
dari senyawa di dalam Gypsum, dari SiO2 yang tidak terikat dalam klinker
dan dari senyawa organik seperti humus yang terkadang masih terbawa di
lime stone dan batuan lainnya. Jumlahnya yang kecil tidak mempengaruhi
mutu/kualitas semen.

| 24
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

BAB III
DESKRIPSI PROSES

3.1 Tahapan Proses Pembuatan Semen


Berikut di bawah ini adalah flowsheet pembuatan semen secara umum :

Gambar 3.1. Flowsheet Proses Pembuatan Semen (Semen Indonesia Group)

Secara umum proses pembuatan semen di PT Semen Padang terbagi atas 5


tahapan, yaitu:
1. Tahap penyediaan dan persiapan bahan baku
2. Tahap penggilingan awal bahan baku (pembentukan raw mix)
3. Tahap Pembakaran raw mix (pembentukan klinker)
4. Tahap penggilingan klinker (pembuatan semen)
5. Tahap pengantongan semen

3.1.1 Tahap Penyediaan dan Persiapan Bahan Baku serta Bahan Bakar

| 25
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

1. Quarry (Penambangan)
Bahan tambang yang berupa Limestone dan silica stone ditambang
langsung oleh PT Semen Padang yang didapat dari daerah sekitar PT Semen
Padang dan telah ditreatment terlebih dahulu hingga kemudian disimpan di dalam
storage Pabrik Indarung V PT Semen Padang.
2. Pengadaan dan Penyimpanan Bahan Baku
a. Batu Kapur (Lime Stone)
Limestone terbentuk di palung laut, kemudian karena adanya gaya tektonik
menyebabkan terangkat ke permukaan. Intrusi pada deposit ini berupa batu
lempung dan juga batu basalt. Lime stone yang digunakan sebagai bahan baku PT
Semen Padang diperoleh dari Bukit Karang Putih. Limestone yang telah
dikecilkan ukurannya menggunakan crusher secara langsung diangkut menuju ke
dalam storage atau tempat penyimpanan berupa bangunan seperti rumah yang
berada di pabrik dengan menggunakan belt conveyor.

Gambar 3.2. Belt Conveyor

Limestone yang ditransportasikan dengan belt conveyor menuju storage


dengan kapasitas 2x35.000 ton melalui tripper dengan menggunakan metode
penumpukan chevron stacking. Pada chevron stacking, lapisan material yang
membujur dijatuhkan oleh stacker yang bergerak maju dan mundur di atas
tumpukan material sampai tercapainya ketinggian tertentu. Material kemudian
diambil dalam irisan melintang oleh front reclaimer. Metode ini menyebabkan
pemisahan material dimana partikel yang halus menumpuk dibagian tengah dan
partikel kasar pada permukaan dan dasar pile.

| 26
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

Gambar 3.3. Metode Chevron Stacking (Holderbank, 2000).


Untuk mendapatkan pencampuran (blending) yang bagus, tumpukan
dengan metode ini harus ditarik dari depan (front reclaiming). Alat yang
digunakan untuk penarikannya adalah bridge scrapper. Pada alat ini material akan
diambil secara irisan melintang sehingga material yang mungkin berbeda
kualitasnya akan tercampur rata dan tidak mengurangi kualitas produksi semen
selanjutnya. Bridge scrapper bekerja dengan dua pile. Satu pile ditumpuk pada
saat pile yang lainnya ditarik. Material yang akan memasuki storage dengan belt
conveyor pada discharge dari stacker yang bergerak dengan kecepatan tertentu
sepanjang storage pada relnya. Material yang tertumpuk pada ketinggian tertentu
disisir menggunakan harrow yang kemudian ditarik oleh scrapper blade hingga
jatuh ke belt conveyor.
Keuntungan penggunaan bridge scrapper adalah cocok untuk material
yang kering sampai tingkat sticky sedang pengumpanan langsung pada free
flowing material penyetelan dapat dilakukan dengan efisiensi untuk bahan mentah
yang komposisi kimianya bervariasi dalam rentang waktu yang panjang kapasitas
storage dapat dinaikkan.

Gambar 3.4. Alat Penarikan Bridge Scrapper

b. Batu Silika (Silica Stone)

| 27
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

Bahan baku batu silika diambil dari penambangan Bukit Ngalau.


Penambangan batu silika dilakukan hampir sama dengan melakukan
penambangan batu kapur, namun perbedaannya pada penambangan batu silika
tidak dilakukannya proses blasting (peledakan) karena sifat batuan silica yang
merupakan butiran yang saling lepas dan tidak terikat kuat satu sama lain (loss
material) sehingga tidak menggunakan bahan peledak, tetapi diruntuhkan dengan
trackavator dan dibawa ke crusher dengan dump truck atau sheet loader lalu
dibawa menuju storage dengan menggunakan belt conveyor.
Batu silika yang telah dihancurkan dengan crusher di tambang,
ditransportasikan menggunakan belt conveyor J01 menuju storage dengan
kapasitas 2x6.500 ton. Batu silika dijatuhkan membentuk tumpukan dengan
tripper dengan metode penumpukan conical shell stacking. Metode conical shell
ini sering digunakan bila homogenisasi tidak terlalu diperlukan.Pada metode ini,
stacker bergerak secara bertahap dalam arah membujur. Gerakan stacker
dilakukan setelah menyelesaikan tumpukan awal sampai ketinggian maksimal.

Gambar 3.5. Metode Conical Shell Stacking (Holderbank, 2000).


Pada conical shell stacking, stacker bergerak secara bertahap dalam arah
membujur. Gerakan stacker selanjutnya hanya dilakukan setelah menyelesaikan
tumpukan sampai ketinggian maksimal. Penarikan umumnya dilakukan kemudian
oleh side reclaimer. Metode conical shell stacking sebaiknya tidak diaplikasikan
bersamaan dengan front reclaiming karena dengan metode ini hanya beberapa
lapisan material yang tercampur sehingga efisiensi homogenisasi yang dicapai
rendah.

| 28
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

Gambar 3.6. Alat Penarikan Side Reclaimer

Untuk metode pengambilan material dapat digunakan metode side


reclaiming yang bekerja di bagian samping tumpukan material yang akan diambil.
Side reclaimer ini dilengkapi dengan scrapper yang bisa dinaik-turunkan.Side
reclaimer dapat mengambil material dari bagian depan atau dari samping
tumpukan material.
c. Pengadaan Tanah Liat
Tanah liat merupakan sumber AlO dan FeO yang ditambang di sekitar
pabrik (bukit atas) dengan menggunakan excavator. Kebutuhan tanah liat ini
ditunjang oleh departemen pengadaan yang dibeli dari Gunung Sariak, Kuranji,
Kota Padang. Tahapan penambangan tanah liat hampir sama dengan penambangan
batu kapur hanya saja tanpa proses pengeboran dan peledakan. Tahapannya yaitu
land clearing, stripping, drigging, dan loading, serta hauling. Kapasitas storage
tanah liat sebesar 2x7.000 ton dengan menggunakan metode penarikan windrow
stacking.

Gambar 3.7. Metode Windrow Stacking (Holderbank,2000)

| 29
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

Pada metode ini, material ditumpuk melintang secara paralel selebar


tempat yang tersedia sehingga membentuk tumpukan bukit. Metode ini digunakan
untuk mencegah terjadinya pemisahan (segregation) dan menghasilkan distribusi
partikel halus dan kasar yang merata. Stacker ini bergerak secara membujur dan
melintang sehingga membentuk pola paralel serta barisan membujur yang
bertingkat. Alat yang digunakan untuk metode tersebut adalah bucket chain
excavator.

Gambar 3.8. Alat Penarikan Bucket Chain Excavator

d. Pengadaan Pasir Besi


Pasir besi didatangkan dari PT Aneka Tambang Cilacap. Pasir besi ini di
angkut dari Cilacap ke pelabuhan Teluk Bayur dengan menggunakan kapal untuk
selanjutnya diangkut dengan truk ke lokasi penyimpanan pabrik. Saat ini pasir
besi diganti dengan copper slag karena keterbatasan pasir besi. Copper slag
merupakan limbah dari PT. Krakatau Steel yang dapat diolah sehingga dapat
dijadikan pengganti pasir besi. Storage yang digunakan untuk pasir besi ini
bertipe open storage dengan kapasitas 7.000 ton. Dari storage ini pasir besi akan
diumpankan kedalam hopper menggunakan alat berat (loader).
Dari masing-masing storage, bahan baku akan dimasukkan kedalam
hopper menggunakan belt conveyor. Belt conveyor yang digunakan untuk
mentransportasikan Limestone, silica stone, dan pasir besi adalah belt conveyor
J02, sedangkan untuk clay menggunakan belt conveyor U01. Namun, untuk batu
silika dan pasir besi digunakan belt conveyor yang sama dan secara bergantian

| 30
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

dengan cara menggunakan belt carry pada bagian top hopper. Hal ini dilakukan
karena penggunaan material ini sedikit dalam komposisinya, sehingga
penggunaan 1 belt conveyor akan lebih ekonomis.
e. Pengadaan Gypsum
Bahan baku penunjang untuk pembuatan semen salah satunya adalah
Gypsum. Kebutuhan Gypsum didatangkan dari PT Petrokimia Gresik berupa
Gypsum sintesis, sedangkan Gypsum alami diimpor dari Thailand dan Australia.
Kualitas Gypsum diuji terlebih dahulu di Laboratorium Jaminan dan Kualitas PT
Semen Padang untuk menentukan kualitas dari Gypsum tersebut.

f. Pengadaan Pozzolan
Pozzolan merupakan bahan yang mengandung silika dan alumina yang
tidak memiliki sifat mengikat seperti semen, tetapi dalam bentuk yang halus
dengan adanya air dapat menjadi suatu massa padat yang bersifat tidak larut
dalam air. Pozzolan digunakan sebagai material tambahan untuk pembuatan
semen tipe I dan PCC pada pabrik Indarung V.

Tabel 3.1 Jenis Storage, Metode Stacking dan Penarikan Bahan Baku
Material Storage Stacking Alat Penarikan
Tipe Kapasitas (ton) Method
Batu Kapur Close Chevron Bridge Scraper
d
Batu Silika Close Cone Shell Side Reclaimer
d
Tanah Liat Close Winrow Bucket Chain
d Excavator
Pasir Besi Open - -
Batu Bara Close Chevron Bridge Scraper
d
Gypsum Close - - -
d
Pozzolan Close - - -
d
(Sumber: Laboratorium Proses Indarung V, 2018)

| 31
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

3. Pengadaaan dan Persiapan Bahan Bakar


a. Batubara (Fine Coal)

Gambar 3.9. Storage Raw Coal

Bahan bakar yang digunakan pada PT Semen Padang Pabrik Indarung V


adalah batubara yang didatangkan dari daerah Sawalunto. Raw coal disimpan di
dalam close storage dengan kapasitas 16000 ton. Sistem stacking dan reclaiming
didalam storage raw coal menggunakan sistem chevron dan front reclaiming.
Proses reclaiming raw coal menggunakan bridge scrapper adalah harrow
menyisir salah satu bagian dari pile batubara sehingga batubara akan
menggelinding menuju ke blade scrapper dan raw coal akan jatuh menuju belt
conveyor kemudian dibawa menuju raw coal feed bin. Pada belt conveyor
dilengkapi magnetic separator sehingga rawcoal akan terpisah dari logam. Dari
raw coal feed bin, batubara diumpankan ke coal mill yang memiliki tipe dan
prinsip kerja hampir sama dengan raw mill tetapi hanya menggunakan 3 buah
roller.

| 32
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

Gambar 3.10. Coal Mill

Coal mill terdiri dari meja berputar (grinding table) yang dilengkapi tiga
buah alat penggiling (roller) dengan sistem hidrolik dan gas nitrogen sebagai
pegasnya. Raw coal jatuh ke atas grinding table dan menuju tepi table akibat gaya
sentrifugal. Raw coal tersebut kemudian akan digiling oleh grinding roller dengan
tekanan hidrolik sebesar 90 kg/cm2. Selain penggilingan didalam coal mill, raw
coal juga mengalami proses pengeringan dengan memanfaatkan gas panas
pembuangan dari suspension preheater. Gas panas akan mengangkat raw coal
menuju ke classifier sehingga material yang masih kasar dan halus akan terpisah,
material kasar akan dikembalikan ke dalam mill untuk digiling kembali sedangkan
material halus akan masuk kedalam cyclone sehingga gas dan fine coal akan
terpisah. Fine coal akan disimpan didalam bin fine coal dan gas akan diteruskan
menuju ke electrostatic precipitator.
Proses pengumpanan fine coal ke pembakaran menggunakan sistem
pneumatic moving dengan menggunakan alat coriolis. Fine coal dari bin fine coal
masuk ke 3 buah coriolis yang masing-masing coriolis berfungsi untuk memfeed
ke ILC (In Line Calciner), SLC (Separate Line Calciner) dan untuk ke Burner

| 33
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

Gambar 3.11. Coriolis

b. Pengadaan Solar
Solar berguna sebagai bahan bakar untuk pembakaran pada rotary kiln.
Fungsi solar adalah sebagai bahan bakar dalam start up rotary kiln. Sumber solar
diperoleh dari Pertamina.
3.1.2 Tahap Penggilingan Bahan Baku (Pembentukan Raw Mix)
Tahap penggilingan bahan baku bertujuan untuk memperkecil atau
memperhalus ukuran bahan baku sehingga luas permukaannya akan semakin
besar. Tujuan lain adalah untuk mendapatkan campuran bahan baku yang
homogen dan untuk mempermudah terjadinya reaksi kimia pada saat klinkerisasi.
Bahan baku yang akan digiling terdiri dari batu kapur, batu silika, tanah
liat, dan pasir besi. Dari setiap storage bahan baku, material akan dimasukkan
kedalam masing-masing hopper bahan baku. Pengangkutan material ke dalam
hopper dari dalam storage menggunakan belt conveyor. Untuk pengisian pasir
besi dan silika, menggunakan belt conveyor yang sama untuk melakukan
pengisian ke dalam masing-masing hopper. Sehingga pengisian pasir besi dan
silika dilakukan secara bergantian yang diatur dengan menggunakan belt carry.
Hopper yang digunakan untuk pengumpanan ke dalam vertical mill berjumlah 5

| 34
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

buah hopper. Satu hopper untuk batu kapur, pasir silika, pasir besi dan dua lagi
untuk hopper tanah liat dan disetiap hopper ada dosimat feeder.

Gambar 3.12. Hopper

Untuk tanah liat digunakan 2 hopper karena menghindari terjadinya


penyumbatan dibagian oulethopper mengingat sifat tanah liat yang terlalu lengket.
Outlet dari tiap-tiap hopper tersambung dengan alat yang bernama dosimat feeder.
Alat ini digunakan untuk mengatur jumlah tiap-tiap bahan baku yang akan masuk
ke dalam vertical mill. Prinsip kerja dosimat feeder ini adalah mengatur kecepatan
dari scavenger conveyor yaitu alat yang digunakan untuk mengangkut material
dengan panjang tertentu dan mengatur jumlah bahan baku sehingga jumlah bahan
baku yang ada pada scavenger conveyor sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan
untuk membentuk raw mix sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan. Pengaturan
kecepatan ini dilakukan dari central control room Indarung V PT Semen Padang.

Gambar 3.13. Dosimat Feeder

| 35
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

Seluruh material yang keluar dari dosimat feeder dijatuhkan dan


digabungkan ke dalam belt conveyor dengan laju dan komposisi yang telah diatur.
Selanjutnya, material akan masuk ke dalam raw mill untuk digiling. Jenis raw
mill yang digunakan pada pabrik Indarung V adalah verticalmill dengan jumlah 2
buah. Material akan masuk pada bagian feedgate. Pada bagian ini, terdapat triple
gate yang berfungsi agar udara luar tidak masuk ke dalam mill (airlock). Jika
udara luar masuk kedalam mill, maka akan mengganggu operasi mill karena bisa
menyebabkan udara panas didalam mill menjadi dingin sehingga proses
pengeringan didalam mill tidak optimal.

Gambar 3.14. Vertical Mill dan Bagian-bagiannya (Sumber: Holderbank,


2000).
Proses yang terjadi didalam vertical mill terdiri dari proses pengeringan,
penggilingan, pemisahan, dan transport. Berikut penjelasan singkat mengenai
proses-proses yang terjadi dalam vertical mill:
1) Proses Pengeringan
Proses pengeringan terjadi saat terjadinya kontak langsung antara material
dengan gas panas. Tujuan dari proses ini adalah untuk mengurangi kadar air
dalam material. Target pengurangan kadar air adalah mencapai 93,2%.
Material keluaran vertical mill mempunyai suhu 80oC.
2) Proses Penggilingan

| 36
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

Proses penggilingan terjadi pada saat material dihancurkan dengan cara


digiling dengan roller. Table berputar sehingga material tergilas diantara table
dengan roller.
3) Proses Transport
Proses transport terjadi ketika material yang telah tergiling terbawa oleh
gas panas menuju classifier dan material halus hasil penyaringan classifier
terbawa bersama gas panas menuju bagian discharge karena hisapan fan.
4) Proses Pemisahan
Proses pemisahan terjadi pada bagian classifier, dimana material yang
kasar akan dipisahkan dengan material yang halus. Parameter yang digunakan
dalam pemisahan classifier adalah sieving residu, kecepatan classifier dan
kecepatan hisapan fan.

Gambar 3.15. Proses dalam Vertical Mill ( Holderbank, 2000)


Prinsip kerja vertical mill adalah menggunakan gaya tekan roller pada
grinding table , di mana material jatuh di tengah grinding table yang berputar
kemudian digiling dan ditekan oleh roller. Di dalam vertical mill tersebut
terdapat 4 buah roller yang berfungsi sebagai media penggilingan. Material
yang masuk dari feed gate akan jatuh ke bagian tengah grinding table.
Material akan bergerak ke arah tepi karena adanya gaya sentrifugal akibat
putaran grinding table. Saat material bergerak melewati roller karena
perputaran grinding table, roller juga akan ikut berputar karena gesekan
dengan material. Material akan tergiling karena adanya gaya tekan dari roller.
Jarak minimal antara roller dengan grinding table yaitu 12 mm, kondisi ini

| 37
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

disebut juga dengan zero position. Tujuan dari kondisi ini adalah untuk
meningkatkan efisiensi penggilingan dalam vertical mill.
Bersamaan dengan proses penggilingan di dalam raw mill, maka dialirkan
juga gas panas yang berasal dari suspension preheater di mana gas tersebut
ditarik oleh sebuah fan. Sudut-sudut pada louvre ring dibuat dengan
kemiringan tertentu sehingga gas yang masuk kedalam vertical mill berputar
mengikuti putaran louvre ring.
Material yang telah tergiling akan terbawa oleh gas panas menuju
classifier. Pada bagian classifier, material yang halus akan dipisahkan dengan
material yang masih kasar. Classifier ini berputar pada sumbunya dengan
bantuan sebuah rotor pada kecepatan tertentu. Material yang kasar akan jatuh
berbenturan dengan bagian rotor classifier ke tengah grinding table dan
selanjutnya akan digiling bersama fresh feed.
Material hasil penggilingan akan terbawa oleh gas panas menuju separator
berupa cyclone. Untuk tiap rawmill, terdiri dari 4 buah cyclone. Cyclone
berfungsi untuk memisahkan material dengan gas pembawanya.Udara dan
material masuk pada posisi inlet cyclone dengan kecepatan tertentu secara
tangensial dan membentuk aliran vortex. Akibat adanya gaya gravitasi
material dan momentum dengan dinding cyclone maka material kehilangan
kecepatan, sehingga material akan jatuh kebawah sedangkan udara akan
membentuk secondary vortex pada bagian tengah cyclone dan keluar melalui
center tubemenuju ke Gas Conditioning Tower (GCT).
Udara yang keluar dari cyclone mengandung partikel halus atau debu akan
diproses selanjutnya di Gas Conditioning Tower (GCT) dan berakhir di
Electrostatic Precipitator (EP). GCT digunakan untuk menurunkan temperatur
gas panas yang terlalu tinggi dari suspension preheater. Hal ini perlu
dilakukan karena EP dapat bekerja dengan baik pada rentang suhu 100oC dan
menghindari kerusakan pada collecting plate pada EP (Electrostatic
Precipitator). Raw meal dari air sluice cyclone selanjutnya akan dibawa
menuju Control Flow Silo (CF Silo) dengan menggunakan Bucket Elevator.

| 38
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

Gambar 3.16. Control Flow Silo (CF Silo) dan Bagian-bagiannya

Fungsi dari CF Silo adalah tempat penyimpanan rawmix yang nantinya


akan digunakan sebagai umpan kiln. Selain itu juga sebagai tempat
homogensasi rawmix. Homogenisasi terjadi karena adanya perbedaan waktu
tinggal saat penurunan material dari ketujuh cone yang berada di dalam CF
Silo. Tiap cone mempunyai segmen aerasi yang dibuka secara bergantian.
Tujuan dari aerasi adalah agar rawmix tidak terlalu padat sehingga dapat
mengalir dan ditarik oleh bottom gate pada CF silo. Material hasil penarikan
bottome gate akan dimasukkan ke dalam DLD tank menggunakan airslide.
Selanjutnya ditimbang dan kemudian diumpankan melalaui flow feed ke
suspension preheater menggunakan airslide dan bucket elevator.

Gambar 3.17. Sistem Penarikan Raw Mix dalam CF Silo (Holderbank,2000).

3.1.3 Tahap Pembakaran Raw Mix (Pembentukan Klinker)


Tahap pembentukan klinker terjadi pada unit kiln yang bertujuan untuk
mengubah raw mix menjadi klinker. Pada unit kiln dibagi menjadi tiga tahap
proses yaitu proses pemanasan awal (preheater), proses pembakaran dan proses
pendinginan (cooler). Sebelum terjadi proses pembakaran raw mix, hal yang perlu
dipersiapkan adalah pengadaan bahan bakar yang berupa batubara.

| 39
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

3.1.3.1 Proses Pemanasan Awal (Preheater)


Proses preheater terjadi pada suspension preheater yang bertujuan untuk
pemanasan awal dan kalsinasi awal raw mix sehingga pemanasan selanjutnya
dalam kiln lebih mudah. Suspension preheater yang digunakan di Pabrik Indarung
V PT Semen Padang adalah jenis separate line yang terdiri dari 4 stage cyclone
dan 2 calciner.
Dengan adanya peralatan calciner ini, maka proses kalsinasi yang
dahulunya terjadi di dalam kiln beralih ke dalam kalsiner sehingga proses
kalsinasi yang akan terjadi di klin tinggal sedikit. Keuntungan dari penggunaan
suspension preheater adalah :
1. Temperatur gas keluar cukup rendah, bisa < 350°C.
2. Perpindahan panas dari gas ke raw mix cukup baik (temperatur raw mix
mencapai > 90% dari temperatur gas dalam waktu <1 detik) untuk setiap
stagenya.

Gambar 3.18. Suspension Preheater

Tabel 3.2. Suhu Material Tiap Stage di Suspension Preheater


Stage Suhu
I 310-400 ºC
II 500-650 ºC
III 700-820 ºC
IV 850-900 ºC

(Sumber: CCR Indarung V,2018)


Suspension preheater terdiri dari dua string yaitu string A dan string B.
Masing-masing string ini terdiri dari 4 buah cyclone separator yang berfungsi
untuk memisahkan antara material dengan gasdan 2 buah kalsiner yang berfungsi

| 40
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

sebagai tempat kalsinasi awal yaitu ILC (in line calsiner) dan SLC (separated line
calsiner). Gas panas pada ILC dan SLC diperoleh dari gas panas grate cooler
yaitu pada aliran TAD (Tertier Air Duct) yang dihisap dengan menggunakan ID
Fan (T01 dan T03). Selain itu, panas juga dihasilkan dari pembakaran batubara
pada kalsiner.
Raw mix akan masuk dari bagian atas (riser duct) dan gas panas masuk dari
bagian bawah karena pengaruh dari arus udara pemanas, maka material tersebut
terbawa ke atas dan masuk pada bagian samping cyclone. Proses perpindahan
panas terjadi pada bagian riser duct secara co-current dan kemudian masuk ke
cyclone bersamaan dan terjadi pemisahan material dengan udara pemanas didalam
cyclone. Karena menyerap panas maka sebagian material akan terurai & menguap,
diantaranya akan melepaskan H2O dan CO2.
Material masuk dimulai dari A51 dan B51, kemudian menuju A52 dan B52
selanjutnya ke A53 dan B53, kedua keluarannya masuk ke SLC untuk kalsinasi
awal, dilanjutkan ke B54,kemudian material masuk ILC untuk kalsinasi lanjutan,
selanjutnya memasuki A54. Dari A54 material langsung masuk kedalam kiln.
Dengan adanya kalsiner ini, maka proses kalsinasi yang dahulunya terjadi di kiln
secara keseluruhan sekarang dibantu oleh kalsiner sehingga proses kalsinasi di
kiln tinggal sedikit. Pada calsiner terjadi proses kalsinasi sebesar 92-95%.
Sehingga dimensi kiln dirancang dengan dimensi yang lebih pendek. Tahapan
reaksi yang terjadi pada suspension preheater adalah sebagai berikut:
1) Pada temperatur 100°C terjadi penguapan air.
H2O(l) H2O(g)
T=100ºC
2) Pada temperatur 500°C terjadi pelepasan air hidrat pada tanah liat
Al2O3xH2O Al2O3 + xH2O
T=500ºC
SiO2xH2O SiO2 + xH2O
T=500ºC
3) Pada temperatur 700°C–900°C terjadi proses kalsinasi awal.
CaCO3 CaO + CO2
T=700ºC - 900ºC

| 41
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

MgCO3 MgO + CO2


T=700ºC - 900ºC
4) Pada temperatur 800°C – 900°C terjadi reaksi pembentukan C2S sebagian.
2CaO + SiO2 2CaO.SiO2
T=800ºC - 900ºC
Temperatur keluar suspension preheater dipertahankan pada 300-400°C.Pada
titik tersebut, derajat kalsinasi berkisar antara 90%-95%.Pada kondisi normal,
derajat kalsinasi ILC adalah 90-95%, sedangkan derajat kalsinasi SLC adalah 70-
80%.

3.1.3.2 Proses Pembakaran (Rotary Kiln)


Proses pembakaran dilakukan dalam sebuah alat , yaitu rotary kiln.
Rotary kiln ini berbentuk silinder dengan diameter 5,6 m dan panjang 84 m
dengan kemiringan 30. Bahan bakar yang digunakan adalah batu bara, sedangkan
untuk pemanasan awal (heating up) digunakan Industrial Diesel Oil (IDO). Untuk
pemanasan di burner, udara sekunder diperoleh dari grate cooler dan udara primer
yang diperoleh dari udara luar.Pada dasarnya batubara digunakan sebagai bahan
bakar utama karena:
1. Biaya produksinya lebih murah
2. Menghemat biaya untuk pembelian bahan bakar itu sendiri dibandingkan
menggunakan bahan bakar diesel.
Pada dinding kiln dilapisi oleh batu tahan api yang berfungsi untuk
melindungi dinding kiln dari panas dimaksudkan agar tidak meleleh pada saat
proses pembakaran berlangsung.

Gambar 3.19. Rotary Kiln

1. Daerah kalsinasi (Calsining Zone: 900°C-1100°C)

| 42
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

Kalsinasi akan sempurna di dalam kiln dengan naiknya suhu sehingga


dapat menguraikan CO2. Selain itu juga, Pada zona ini sebelumnya telah
terjadi proses kalsinasi didalam suspension preheater baik ILC maupun SLC.
Jadi, kerja rotary kiln dalam proses kalsinasi sudah berkurang dan tidak
memakan waktu yang lama dalam tahap ini, karena proses kalsinasi sudah
terjadi sekitar 80-90% di Suspension preheater tersebut.
2. Daerah Pembentukan Clinker (Sintering Zone)
Pada daerah ini terjadi pembentukan senyawa- senyawa: C2S, C3S, C4AF
dan C3A.
3. Daerah Pendinginan (Cooling Zone)
Daerah pendinginan terletak di ujung keluar material kiln. Di daerah ini
material mengalami pendinginan karena bercampur dengan udara sekunder
dari grate cooler yang masuk ke kiln.
Reaksi yang terjadi pada proses pembentukan clinker di dalam rotary kiln
sebagai berikut:
a. Kalsinasi dari CaCO3 dan MgCO3 atau pelepasan carbon dioxide (CO2)
dari bahan baku yang terjadi pada temperatur 900 - 1.100°C.
CaCO3 CaO + CO2
MgCO3 MgO + CO2
b. Pembentukan dicalsium silicate (C2S) pada temperatur 900 - 1.100°C.
2CaO +SiO2 2CaO.SiO2
Reaksi berlangsung sampai SiO2 habis.
c. Pembentukan tricalsium aluminat (C3A) dan tetracalsium aluminate
ferrite (C4AF) yang terjadi pada temperatur 1.100 – 1.250°C.
 Pembentukan C3A
3CaO + Al2O3 3CaO. Al2O3
 Pembentukan C4AF
4CaO + Al2O3 + FeCO3 4CaO.Al2O3.Fe2O3
d. Pembentukan tricalsium silicate (C3S) dan pengurangan kadarkalsium
monoksida (CaO) bebas yang terjadi pada temperatur 1.250-
1.400°C.Reaksinya yaitu:

| 43
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

2CaO.SiO2 + CaO + SiO2 3CaO.SiO2


Proses klinkerisasi dalam pembuatan semen adalah proses pengikatan antara
oksida-oksida yang terkandung dalam material untuk membentuk senyawa C 3S,
C2S, C3A, dan C4AF.

Tabel 3.3. Tahap Klinkerisasi


Reaksi Temperatur (0C)
Tahapan Kalsinasi 900 – 1100
Pembentukan C2S 900 – 1100
Pembentukan C3A dan C4AF 1100 – 1250
Pembentukan C3S 1250 – 1400
(Sumber: CCR Indarung V,2018)

Bagian-bagian dari kiln yang membantu mekanisme kerjanya adalah:


1) Main driver
Penggerak pada kiln yang menggunakan sistem gear rim dalam
konstruksinya dipasang didekat supporting yang tidak banyak mengalami
deformasi agar kontak antara pinion dan gear rim tidak mudah mengalami
perubahan.
2) Kiln shell
Kiln shell merupakan bagian utama dari rotary kiln yang terbuat dari
boiler plate dengan ketebalan yang bervariasi. Pada bagian tertentu dipasang
tyre (live ring) yang bertumpu pada supporting roller.
3) Supporting roller
Supporting roller merupakan tempat bertumpunya tyre sekaligus sebagai
penumpu dari kiln.Masing-masing tyre ditumpu oleh dua buah supporting
roller. Dalam konstruksinya titik sumbu dari supporting roller dan tyre
membentuk sudut 60o dan garis sumbunya diatur sejajar dengan sumbu kiln.
4) Trust roller
Trust roller dipasang dengan tujuan sebagai penahan dan indikator naik
turunnya kiln, pemasangan posisi outlet pada live ring dengan menggunakan
sistem hidrolik.
5) Refractory (Batu tahan api)
Refractory merupakan material yang tahan terhadap temperatur tinggi dan

| 44
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

perubahan yang drastis. Pengolahan semen yang terjadi pada reaktor kiln
dilapisi dengan batu tahan api (refractory) untuk melindungi shell kiln dari
panas yang tinggi, bahan kimia, dan abrasi mekanik. Fungsi dari refractory
(batu tahan api) dalam pembuatan semen antara lain sebagai proteksi
(pengaman operasi) kiln shell terhadap temperatur tinggi, sebagai bahan untuk
memperpanjang umur teknis shell kiln atau melindungi bagian metal agar
tidak langsung kontak dengan nyala api atau padatan yang sangat panas, dan
sebagai isolator panas (peredam panas).
6) Burner
Burner merupakan alat untuk membakar bahan bakar ke dalam area
pembakaran. Jenis burner yang digunakan adalah multi channel burner
dimana dapat digunakan bahan bakar yang berbeda secara bersamaan serta
bentuk api yang dihasilkan dapat diatur dengan mengatur laju udara radial dan
udara axial.

Gambar 3.20. Bagian-bagian Rotary Kiln (Wikipedia, 2018).


3.1.3.3 Proses Pendinginan (Grate Cooler)

Dalam proses pembuatan semen, klinker yang sudah diproses di rotary


kiln dengan temperatur 1.200 oC – 1.500 oC . Selanjutnya, akan diturunkan dari
suhu 1450oC sampai klinker bersuhu 150oC–180oC. Untuk keperluan
pendinginan klinker digunakan alat yang disebut cooler.

| 45
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

Gambar 3.21. Grate Cooler

Di Pabrik Indarung V PT Semen Padang jenis cooler yang dipakai yaitu grate
cooler yang dibagi menjadi 3 grate. Grate cooler banyak digunakan pada industri
semen karena dapat menurunkan temperatur klinker hingga mencapai 100oC.
Selain itu, udara panas dari grate cooler dapat dimanfaatkan kembali. Prinsip
kerja dari grate cooler yaitu clinker panas masuk dari kiln ke dalam grate 1 dan
laju udara pendinginan sangat diperhatikan karena sebagai titik pertama jatuhnya
klinker panas ke dalam grate cooler, udara dingin dihembuskan dengan
menggunakan fan yang berjumlah 18 buah menembus bed klinker diatas grate
plate sehingga terjadi perpindahan panas secara cross current. Klinker mengalir
diatas grate plate akibat gerakan grate plate yangterdiri atas fix plate dan movable
plate hingga menuju roller breaker yang berada di ujung grate cooler. Roller
breaker memiliki 5 roller dimana roller pada posisi 1,2,3 berfungsi sebagai
transport klinker menuju ke posisi roller 4 dan 5. Kemudian, posisi roller 4 dan 5
berfungsi sebagai grinder klinker di mana klinker yang telah halus akan keluar
menuju dome silo dengan bantuan appron conveyor.
Grate Cooler memiliki beberapa fungsi antara lain :
a) Memberikan pendinginan yang cepat pada klinker sehingga tidak terjadi
penguraian C3S menjadi C2S.
b) Mempehalus ukuran keluaran klinker dengan menggunakan roller breaker.
c) Mendinginkan klinker yang keluaran kiln dari temperatur 1200oC menjadi
< 200oC keluar cooler system, dengan cara mengalirkan udara dari cooling
fan secara proporsional.
d) Pendinginan klinker secara quenching atau secepat mungkin untuk
mendapatkan kualitas klinker yang terbaik (klinker mudah pecah).

| 46
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

e) Memanfaatkan udara panas hasil pendinginan klinker yang keluar dari kiln
dan diperoleh dua jenis udara, yaitu udara secondary untuk pembakaran
main burner dan udara tertiery untuk pembakaran dicalciner.

Gambar 3.22. Bagian Grate pada Grate Cooler (Holderbank, 2000)

Grate cooler sebagai pendingin dengan pendingin udara dilakukan dengan


jalan menghembuskan udara menggunakan fan melalui celah-celah dari landasan
(grate). Klinker yang masuk kedalam Grate Cooler mengalami proses Quenching
(pendinginan secara mendadak) dengan tujuan agar kandungan C3S yang terdapat
didalam klinker tidak terurai. Didalam Grate Cooler perpindahan klinker dari
Grate 1 hingga Grate 3 dilakukan oleh grate ducting yang movable¸ dan dibawah
grate ducting yang movable ada grate ducting yang statis dan diantara celah
kedua grate ducting tersebut, klinker yang halus akan jatuh ke drag chain
melewati dust suice yang berada dibawah Grate Cooler. Setelah sampai di Grate
3 klinker akan sampai di Rotary Breaker dan akan di hancurkan lalu jatuh
kebawah menuju Drag Chain.

| 47
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

Gambar 3.23. Proses pada Grate Cooler (Holderbank, 2000).


Untuk udara hasil pendinginan klinker tadi, udara tersebut akan masuk
kedalam kiln (secondary air) atau ruang bakar yang mana akan digunakan sebagai
udara sekunder untuk pada proses pembakaran. Selain itu juga akan dialirkan ke
calciner (tertiary air). Sebagian lagi dari udara hasil pendinginan akan dikirim ke
WHRPG (Waste Heat Recovery Power Generation).
Kebutuhan udara yang diperlukan untuk pendinginan pada setiap
kompartemen grate cooler akan berbeda sehingga jumlah fan serta besar daya fan
yang dibutuhkan juga berbeda. Untuk kompartemen pertama di mana klinker baru
keluar dari rotary kiln akan membutuhkan pendinginan yang lebih besar
dibandingkan dengan kompartemen lain sesudahnya. Oleh karena itu, dibutuhkan
suplai udara yang lebih besar sehingga jumlah fan yang digunakan lebih
banyak.Klinker yang didinginkan harus mendapatkan pendinginan secara merata
pada setiap section agar temperatur akhir yang diinginkan untuk setiap bongkahan
klinker dapat tercapai sehingga tidak merusak alat pada roller breaker.

3.1.3.4 Penyimpanan Klinker di dalam Silo


Klinker yang telah didinginkan di grate cooler dan dihancurkan oleh
roller breaker dengan ukuran yang hampir merata,dibawa menuju dome silo
menggunakan appron conveyor. Dome silo sebagai tempat penyimpanan klinker
yang akan diumpankan ke cement mill untuk digiling menjadi semen dengan
kapasitas penyimpanan 70.000 ton, sedangkan unburn silo digunakan untuk
penyimpanan klinker yang tidak terbakar sempurna selama proses pembakaran di
kiln dan bisa sebagai penyimpanan sementara klinker yang akan ekspor. Pada
bagian bawah unburn silo terdapat jalur truk kapsul yang akan membawa klinker,

| 48
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

sehingga pada unburn silo lebih mudah dalam transportasi untuk ekspor dan juga
mempermudah untuk pengosongannya

Gambar 3.24. Dome Silo (panah biru) &Unburn Silo (panah kuning)

3.1.4 Tahap Penggilingan Klinker (Pembuatan Semen)


Proses penggilingan klinker menjadi semen dilakukan pada unit cement
mill. Tahapan proses yang terjadi adalah proses penggilingan awal di roller press,
proses penggilingan didalam cement mill, proses pemisahan di sepax separator,
dan penyimpanan semen didalam silo semen.

3.1.4.1 Proses Pengumpanan Material


Bahan yang digunakan untuk membuat semen terdiri dari 3 jenis bahan
yaitu klinker, Gypsum, dan material ketiga (Pozzolan dan batu kapur). Jenis semen
yang dihasilkan berdasarkan persentase klinker, Gypsum serta material ketiga
yaitu Pozzolan dan Limestone High Grade. Klinker yang disimpan di dalam silo
akan diumpankan oleh appron feeder ke dalam unit cement mill. Setelah ditarik,
klinker melalui sector gate masuk dan diangkut dengan menggunakan appron
conveyor dan dilanjutkan dengan belt conveyor menuju bin feeder sebelum
diumpankan ke roller press. Untuk Gypsum dan material ketiga akan diangkut
menuju cement mill dengan menggunakan belt conveyor dan laju alir massanya
diatur oleh dosimat feeder. Total laju alir massa masuk ke dalam cement mill
diukur menggunakan belt weighter.

| 49
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

Gambar 3.25. Appron Conveyor

3.1.4.2 Proses Penggilingan Awal di Roller Press


Roller press adalah alat yang digunakan untuk proses penggilingan awal
pada klinker. Tujuannya untuk memipihkan klinker agar luas permukaannya
semakin besar, sehingga meningkatkan kapasitas penggilingan di dalam cement
mill. Kapasitas alat roller press sebesar 250 ton/jam dan produk klinker yang telah
digiling memiliki ketebalan sekitar 13-25 mm.
Prinsip kerja dari roller press adalah material masuk di celah diantara 2
buah roller, moveable roller bergerak dan akan menekan material sehingga
material akan memutar fixed roller akibat adanya gesekan antara material dengan
fixed roller sehingga material akan diberikan gaya tekan akibat adanya sistem
tekanan hidrolik akibat perputaran roller dengan arah yang berbeda.

Gambar 3.26. Roller Press dan Bagian-bagiannya (Sumber: Holderbank, 2000)

3.1.4.3 Proses Penggilingan di Cement Mill

| 50
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

Tipe mill yang digunakan di Indarung V untuk penggilingan semen adalah


horizontal mill atau sering dinamakan tube mill, walaupun ke depannya diprediksi
akan lebih banyak yang beralih ke vertical mill karena beberapa kelebihannya
seperti kapasitas lebih besar dan specific power consumption lebih rendah. Pada
cement mill, klinker digiling bersama dengan Gypsum (CaSO4.2H2O) serta bahan
aditif lain seperti Limestone dan Pozzolan tergantung dari tipe semen yang akan
diproduksi (Tipe I atau PCC). Tube mill sendiri adalah peralatan berbentuk
silinder yang di dalamnya terdapat steel ball sebagai media
grinding/penggilingan.

Gambar 3.27. Cement Mill (tube mill)

Klinker yang telah pipih hasil keluaran roller press diangkut dengan belt
conveyor menuju tube mill. Selain itu material tambahan dan material ketiga
seperti Gypsum, Pozzolan dan Limestone High Grade dari storage diumpankan ke
hoppernya masing-masing dan diatur oleh dosimat feeder berapa material yang
akan diumpankan ke belt conveyor sesuai dengan komposisi yang dibutuhkan dan
digabungkan dengan klinker tadi untuk bersama-sama diumpankan kedalam tube
mill. Tailing yang merupakan reject dari sepaxseparator akan masuk kembali
kedalam mill dan digabungkan dengan fresh feed untuk digiling kembali.
Penggilingan ketiga material tersebut dilakukan di dalam tube mill. Tube mill
yang digunakan bertipe tube mill UMS 5,4 x 14 dengan kapasitas 215 ton/jam.
Feed arrangement yang digunakan bertipe feed chute for airswept mills yang
terdapat penyemprot air (water injection) yang digunakan untuk menurunkan
temperatur kompartemen, sedangkan untuk discharge arrangement yang
digunakan berjenis end discharge yang memiliki dua keluaran yaitu gas
dikeluarkan melalui bagian atas ditarik oleh fan menuju electrostatic precipitator

| 51
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

dan semen hasil penggilingan dikeluarkan melalui bagian bawah untuk diteruskan
menuju sepaxseparator.

Gambar 3.28. Bagian-bagian Cement Mill (holderbank, 2000).


Pada cement mill terdapat dua kompartemen dimana proses penggilingan yang
terjadi pada kompartemen I yaitu coarse grinding yang menggunakan gaya
impact untuk proses penggilingannya dan pada kompartemen II yaitu fine
grinding dengan menggunakan gaya gesek sehingga material akan tergerus oleh
grinding ball. Kompartemen I dengan panjang 3,05 m sedangkan kompartemen II
memiliki panjang 10,16 m hal ini dikarenakan proses penggilingan di dalam
kompartemen II memerlukan waktu yang lebih lama.

Gambar 3.29. Bagian dalam Kompartemen I Cement Mill


Pada proses penggilingan di cement mill, temperaturdijaga pada 100oC -125oC
untuk menghindari dehidrasi dari Gypsum akibat temperatur terlalu tinggi akan
mempengaruhi kuat tekan semen yang dihasilkan. Proses penggilingan ini
digunakan grinding media yang berupa stell ball. Untuk kompartemen I ukuran
grinding ball yang digunakan berdiameter 50-80 mm dan untuk kompartemen II
diameternya 17-30 mm. Ukuran grinding ball tersebut tergantung dengan
beberapa faktor, seperti ukuran maksimal umpan yang akan digiling, kehalusan
produk serta diameter dan panjang mill.

| 52
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

(a) (b)
Gambar 3.30. Grinding Media di Kompartemen I (a) dan II (b)

Penggilingan pada tube mill disebabkan adanya tumbukan material dengan


grinding media. Rotasi tube mill mengakibatkan isi didalam mill yaitu material
dan grinding mediaakan terangkat karena adanya gaya sentrifugal serta gesekan
antara grinding media dan lining. Tinggi pengangkatan isi tube mill tergantung
kepada beberapa faktor, yaitu liner design, kecepatan putar mill, bentuk,
ukurandan berat grinding media, gesekan antara liner, dan grinding media serta
gesekan antara mill charge.

(a) (b)
Gambar 3.31. Pergerakan Grinding Media di Kompartemen I (a) dan II (b)
(Holderbank, 2000)

Gambar 3.31.(a) menunjukkan pergerakan grinding media padakompartemen I


yang menunjukkan cataracing motion dimana material dan grinding media akan
terangkat hampir mencapai 180o dan terjatuh sehingga akan terjadi penumbukan
material oleh grinding media. Proses ini terjadi karena rotasi mill cukup tinggi,
pemilihan persen loading yang tepat, diameter grinding media yang relatif besar
atau posisi lifting liner. Grinding media pada kompartemen I dapat terangkat
disebabkan adanya lifting liner dengan jenis step liner. Sedangkan pada gambar

| 53
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

3.31.(b) menunjukkan cascading motion pada grinding media,terlihat pergerakan


grinding media yang lebih rendah seolah mengalir dan berputar sehingga terjadi
gesekan antara grinding media dan material atau disebut proses penggerusan.
Jenis liner yang digunakan pada kompartemen II adalah classifying liner.
Diantara kompartemen I dan kompartemen II terdapat suatu pemisah yang
disebut center diafragma. Pada center diaphragmini terdapat slot plate
dikompartemen I yang berfungsi untuk lewatnya material halus untuk menuju ke
kompartemen II dan material akan keluar dari slot opening yang tersusun pada
center screen. Selain itu, pada center screen di kompartemen II juga terdapat
water injection yang berfungsi untuk menurunkan temperatur di kompartemen II.
Jenis center diafragma yang digunakan pada tube mill di Indarung V ini adalah
double diafragma jenis combi dan diafragma.

Gambar 3.32. Center Diaphragm dan Proses Perpindahan Material


(Holderbank, 2000)

Penurunan temperatur pada kompartemen cement mill dilakukan dengan


menyemprotkan water injection secara co-current. Selain itu pada nozzle tersebut
juga ditembakkan udara untuk membersihkan noozle dari coating. Udara yang
ditembakkan juga berfungsi untuk membuat penyemprotan air yang menyebar
keseluruh bagian mill, agar partikel-partikel debu yang berterbangan didalam mill
dapat ditangkap. Pengaturan suhu ini juga dilakukan untuk kondisi operasi
electrostatic precipitator (EP).

| 54
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

Gambar 3.33. Water Injection pada Cement Mill

Produk semen yang dihasilkan setelah digiling didalam cement mill


dikeluarkan dari bagian bawah mill dan dibawa oleh air slide dan bucket elevator
untuk selanjutnya dimasukkan kedalam sepax separator. Sedangkan, gas
keluaran mill akan ditarik oleh fan menuju electrostatic precipitator untuk
menangkap debu-debu yang terikut dan akan dikembalikan ke sistem dan gasnya
akan dibuang melalui cerobong (stack).
Tujuan dari penggilingan dan pencampuran Gypsum dan aditif lainnya
adalah sebagai berikut:

1) Kehalusan
2) Kehalusan semen memiliki kaitan yang sangat erat dengan kekuatan tekan
semen. Semakin tinggi kehalusan semen, maka kuat tekan yang dihasilkan
akan semakin tinggi karena tingkat kehalusan yang tinggi memperbesar
permukaan spesifik semen sehingga reaksi hidrasi berjalan cepat.
3) Penambahan Gypsum
Gypsum berfungsi sebagai retarder, memperlambat reaksi hidrasi semen
dengan air sehingga semen dapat dibentuk sebelum terjadi proses pengerasan
akan tetapi Gypsum yang dehidrasi akan membuat setting time pada semen.
4) Penambahan aditif
Penambahan aditif bergantung pada tipe semen yang diinginkan. Misalnya
penambahan senyawa Pozzolan dan fly ash yang mengandung silika reaktif
sehingga akan mengikat oksida-oksida bebas di dalam semen dan membuat
semen menjadi lebih tahan dalam lingkungan sulfat.

3.1.4.4 Proses Pemisahan pada Sepax Separator

| 55
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

Gambar 3.34. Bagian-bagian Sepax Separator

Pada sepax separator terjadi pemisahan antara material halus dan kasar yang
diakibatkan oleh perputaran rotor, dimana dihasilkan fine product dan reject
product. Sepax separatormerupakan separator dengan tipe dynamic separator.
Sepax separator dilengkapi dengan rotor yang berputar. Prinsip kerja dari sepax
separator yaitu material masuk dari bagian tengah separator dan akan jatuh
kebagian bawah, material yang terjatuh akan terdistribusi karena adanya spreader
plate, kemudian udara masuk dari bawah separator membawa material yang
ringan menuju ke classifier, didalam classifier material yang kasar akan terlempar
dan masuk ke reject cone sedangkan material yang halus dibawa oleh udara
masuk kedalam cyclone untuk dipisahkan antara material dengan gasnya untuk
selanjutnya akan ditransportasikan dengan air slide ke bucket elevator menuju
cementsilo, sedangkan material kasarnya (tailing) akan dikembalikan ke cement
mill dengan air slide untuk digiling kembali.

3.1.4.5 Penyimpanan Semen

Gambar 3.35. Cement Silo

| 56
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

Fine product dari sepax separator dan telah dipisahkan dengan gas di
cyclone selanjutnya akan dialirkan ke cement silo menggunakan air slide dan
dilanjutkan dengan bucket elevator untuk dialirkan ke silo berdasarkan tipenya.
Sedangkan, produk semen yang tertangkap oleh EP dibawa oleh screw conveyor
dan jatuh ke air slide yang sama dengan fine productdari sepax separator dan
dialirkan bersama menuju cement silo.
Pada pabrik Indarung V terdapat 4 silo semen dengan kapasitas sebesar
14.000 ton untuk tiap silonya dan masing-masing silo digunakan untuk
penyimpanan semen dengan tipe yang berbeda. Untuk mengatur masuknya semen
kedalam tiap-tiap silo, maka digunakan bottom gate yang digerakkan secara
pneumatic. Didalam silo terdapat satu cone besar yang akan mengatur keluaran
dari semen tersebut. Pada bagian dasar cone diberikan aerasi sehingga tidak
terjadi penyumbatan aliran semen dan dapat mengalir lancar kearah tengah silo.
Semen ditarik menuju truck, kereta api atau langsung menuju tempat
pengantongan semen di PPI.

3.1.5 Tahap Pengantongan Semen


Proses pengantongan semen dilakukan di PPI (Packing Plant Indarung),
Teluk Bayur dan beberapa daerah lainnya diluar Sumatera Barat. Semen dari
cement silo dibawa ke elevator melalui air slide menuju PPI. Selanjutnya elevator
mengangkut semen ke bagian kontrol semen untuk penyaringan sebelum
dimasukkan kedalam hoppernya.Semen kemudian ditransportasikan menuju
packer.Packer yang digunakan di PPI ini memiliki kapasitas pengemasan 40
zak/menit dengan jumlah 10 packer. Semen yang telah dipacking didalam kantong
zak akan dibersihkan dari debu menggunakan dust filter. Selanjutnya semen akan
ditransportasikan menggunakan belt conveyor menuju bowmer truck.
Sedangkan untuk pengantongan di Teluk Bayur, semen akan dibawa
menggunakan kereta api atau truck untuk nantinya akan dimasukkan kedalam silo
dan proses pengantongan akan dilakukan menggunakan packerdi Teluk Bayur.
Hal yang sama berlaku untuk pengantongan di luar Sumatera Barat. Semen akan
dibawa dengan truk ketempat pengantongan disana dan disimpan pada silo yang

| 57
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

terdapat disana. Proses pengantongan diluar Sumatera Barat dilakukan untuk


mempermudah pemasaran, sehingga dapat mengurangi resiko kerusakan bila
dikirim dengan jarak jauh.

3.2 Spesifikasi Alat Utama


Dalam proses pembuatan semen terdapat alat-alat utama dalam proses
pembuatan semen, yaitu :
3.2.1 Raw Mill
Type : Vertical Roller Mill Loesche LM 41.1
Feed Proportion :
 Lime Stone = 81%
 Silica Stone = 9%
 Clay = 9%
 Iron Sand = 9%
Feed Size :Max 20 mm
Feed Moisture : Max11%
Grindability : Loesche Grindability Factor 1,13 (1.10)
Abration : Loesche Wear Test 0.233
Product Rate :310 Ton/hour
Product Moisture :15% R 0,99mm
Spesific Power :16.6kWh/ton
 Mill LM 41.4
Fabrikasi : Loesche
Type : LM 41.4
Diameter Grinding Table : 4.100 mm
Jumlah Roller : 4 Buah
Kapasitas : 310 Ton/Jam
Feed Size : 0-120 mm
Product Finance : 15% R 0,99mm
Feed Moisture : 7%
LM Raw Mill : 2900 kW
Raw Mill Fan : 2900 kW
3.2.2 Coal Mill
Type : LM 26,3
Fabrikasi : Loesche
Diameter Grinding Table: 2.600 mm
Jumlah Roller : 3 Buah
Kapasitas : 55 Ton/Jam

| 58
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

Feed Size : 0 - 50 Mm
Product Moisture : 15%
LM Coal Mill : 750 kW
Coal Mill Fan : 750 kW
3.2.3 Unit Kiln
a) Rotary Kiln
Type : FLS –SLC- 1 (Separator Line Calciner)
Kapasitas : 7.800 ton/hari
Heat consumption : 750 kcal/kg klinker
Dimensi : 5,6 x 84 m
Inklinasi : 4º
Drive : 2 x 600 kW.rpm
Suspension preheater : Type LP
Kin string : (1m x 7,2m)+(3m x 7,5m)+calciner(5,7m x 28m)
Calciner string : (1m x 7,2m)+(3m x 7,5m)+calciner (5,7 m x 18 m)
Grate cooler : High Efficiency – Coolax Type ( Size 16114 )
Burner : duoflax burner (batubara dan minyak)
Putaran : 2.5 rpm

b) Cyclone Pre-heater
Type :SLC
Size :
STAGE SLC ILC NOMENCLATUR
I ɸ 7,2 M ɸ 7,2 M 5 W 1 A51/B51
II ɸ 7,5 M ɸ 7,5 M 5 W 1 A51/B52
III ɸ7,5 M ɸ7,5 M 5 W 1 A51/B53
IV ɸ 7,5 M ɸ 7,5 M 5 W 1 A51/B54
PRE-CALCINER ɸ 5,7 X 28 ɸ 5,7 X 28 5W 1 A51/B55

3.2.4 Grate Cooler


Type : Grate Cooler (coolax)
Nominal Production : 7.800 ton/hari
Diameter : 5,6 m
Grate Width : 4.800 mm
Grate Area : 180,6 m2
Grate Load : 43,2 (ton/m2)/hari
Speed : 25,3 stroke/ menit (maksimum)
3.2.5 Cement Mill
Type : UMS 5,4 x 14
Fabrikasi : PT – SP/FLS
Kapasitas : 215 ton/jam
Fineness : 3.120 cm2/g
Power Consumption : 31.5 kWh/ton
Kapasitas Alat Transport: 412 ton/jam

| 59
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

Kapasitas Separator : 215 ton/jam


Kapasitas Roller Press : 250 ton/jam
Power Mill Motor : 6.140 Kw

3.3 Alat Pendukung Operasi


3.3.1 Cyclone

Gambar 3.36.Cyclone
(Sumber: Holderbank, 2000)

Cyclone separator adalah alat yang menggunakan prinsip gaya sentrifugal


dan tekanan rendah karena adanya perputaran untuk memisahkan materi
berdasarkan perbedaan massa jenis dan ukuran.Adapun prinsip kerja

dari cyclone ini sebagai berikut:

1) Gas atau aliran fluida diinjeksikan melalui pipa input.


2) Bentuk kerucut cyclone menginduksikan aliran gas atau fluida untuk
berputar, menciptakan vortex.

3) Partikel dengan ukuran atau kerapatan yang lebih besar didorong ke arah
luar vortex.
4) Gaya gravitasi menyebabkan partikel-partikel tersebut jatuh ke sisi kerucut
menuju tempat pengeluaran.
5) Partikel dengan ukuran atau kerapatan yang lebih kecil keluar melalui
bagian atas dari cyclone melalui pusat yang bertekanan rendah.
6) Cyclone membuat suatu gaya sentrifugal yang berfungsi untuk
memisahkan partikulat dari udara kotor.

| 60
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

7) Gaya sentrifugal timbul saat partikulat di dalam udara masuk ke puncak


kolektor silindris pada suatu sudut dan diputar dengan cepat mengarah ke
bawah seperti pusaran air. Aliran udara mengalir secara melingkar dan
partikulat yang lebih berat mengarah ke bawah setelah menabrak ke arah
dinding cyclone dan meluncur ke bawah.
3.3.2 Gas Conditioning Tower (GCT)

Inlet
Spray
Lance

Outlet

Gambar 3.37. Gas Conditioning Tower dan Spray Lance

Prinsip kerja dari GCT adalah :


a) Berfungsi untuk mengkondisikan temperatur gas sebelum masuk EP
(110ºC-130ºC)
b) Gas didinginkan dengan water spray lance (campuran air dan udara tekan)
yang ditembakkan melalui nozzle yang terdapat pada spray lance yang
berjumlah 30 buah, sehingga terjadi directcooling secara co-current.
Lance tersebut terdiri dari 15 buah berukuran pendek , 10 buah berukuran

sedang dan 5 buah berukuran panjang.


c) Spray air yang terjadi dalam GCT akan membentuk kabut yang bertujuan
untuk meningkatkan luas permukaan total air sehingga kecepatan
perpindahan panasnya juga akan meningkat.
d) Sebagian debu akan tertangkap butiran air dan ditampung di dalam dust

hopper untuk ditransport kembali ke sistem.


3.3.3 Electrostatic Precipitator (EP)

| 61
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

Gambar 3.38. Electrostatic Precipitator dan Bagian-bagiannya

Electrostatic precipitator (EP) adalah salah satu alternatif penangkap debu


dengan efisiensi tinggi (diatas 90%) dan rentang partikel yang didapat cukup
besar. Dengan menggunakan electrostatic precipitator (EP) ini, jumlah limbah
debu yang keluar dari cerobong diharapkan hanya sekitar 0,16% (dimana
efektivitas penangkapan debu mencapai 99,84%).
Prinsip kerja dari alat ini yaitu :
1) Melewatkan gas buang (flue gas) melalui suatu medan listrik yang
terbentuk antara discharge elektroda dan collector plate, flue gas yang
mengandung butiran debu pada awalnya bermuatan netral dan pada saat
melewati medan listrik, partikel debu tersebut akan terionisasi sehingga
partikel debu tersebut menjadi bermuatan negatif (-).
2) Partikel debu yang bermuatan negatif (-) selanjutnya menempel pada
pelat-pelat pengumpul (collecting plate). Debu yang dikumpulkan
dicollecting platedipindahkan kembali secara periodik
dari collectorplate melalui suatu getaran (rapping) oleh hammer.

3.3.4 Cerobong (Stack)

| 62
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

Gambar 3.39. Cerobong

Cerobong asap (Stack) adalah alat yang digunakan untuk mentransfer gas
panas/udara buang dari EP ke atmosfer dengan suhu yang rendah.

3.3.5 Jet Pulse Filter (JPF)


Selain EP ada lagi alat penangkap debu yang digunakan, yaitu jet pulse
filter (JPF). Prinsipir kerjanya ialah udara yang ditarik oleh fan masuk
kedalam JPF dan melewati bag-bag yang tersusun sehingga debu-debu yang
ikut akan tertempel pada bag tersebut. Dalam kurun waktu tertentu akan ada
udara tekan yang dihembuskan untuk merontokkan debu-debu yang menempel
tersebut dan nantinya dialirkan menggunakan air slide kembali ke sistem.
Pada setiap alat transportasi material, tempat penampungan material (silo),
tempat jatuhan material dipasang jet pulse filter.

Gambar 3.40. Bagian-bagian Jet Pulse Filter

| 63
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

3.3.6 Bag House Filter (BHF)

Gambar 3.41. Bagian-bagian Bag House Filter

Baghouse filter merupakan alat pengendali dalam penyisihan partikulat


atau debu-debu berukuran kecil, berdiameter lebih besar dari 20 mikron,
dimana diinginkan efisiensi penyisihannya yang cukup tinggi. Bahan yang
digunakan pada baghouse filter ini biasanya berbentuk tabung atau kantung.
Baghouse filter adalah air pollutan control equipment (APC) yang didesain
untuk proses penangkapan, pemisahan atau penyaringan partikulat debu
dengan cara filtrasi. Baghouse bekerja dengan menjebak partikulat padat di
permukaan kain, dimana udara yang mengandung partikulat masuk dalam
baghouse filter dan melewati fabric bags yang berperan sebagai penyaring.

3.3.7 Hopper

Gambar 3.42. Hopper

| 64
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

Hopper adalah alat yang digunakan sebagai tempat penampungan


sementara material yang akan digunakan untuk pembuatan semen, seperti
Limestone, clay, silica stone, daniron sand. Prinsip kerja dari alat ini yaitu
sebagai penampung sebelum material masuk kedalam unit raw mill dan
didukung dengan alat dosimat feeder sebagai alat penimbang berapa banyak
material yang akan masuk kedalam raw mill dengan perbandingan yang telah
ditentukan pada set point di CCR.
3.3.8 Ducting
Ducting merupakan sistem pemipaan pada pabrik semen yang digunakan
untuk mengalirkan fluida gas panas.

Gambar 3.43 Ducting

3.4 Alat Penarikan Material


3.4.1 Bridge Scrapper

Gambar 3.44. Bridge Scrapper

| 65
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

Bridge scrapper adalah alat yang dilengkapi dengan rantai scrapper


penarik material di mana alat tersebut beroperasi dengan dua pile. Satu pile
ditumpuk sewaktu pile yang lainnya ditarik. Material yang memasuki storage
dengan belt conveyor di-discharge dari stacker yang bergerak dengan
kecepatan tertentu sepanjang storage pada relnya.Jaraknya di atas puncak pile
dijaga minimum untuk mengurangi emisi debu. Kapasitas alat ini cukup besar,
yaitu 500 m3/jam dan memerlukan luas daerah sekitar 50 meter.
Keuntungan bridge scrapper adalah:
a) Cocok untuk material yang kering sampai tingkat sticky sedang
b) Pengumpanan langsung pada free flowing material
c) Penyetelan dapat dilakukan dengan efisien untuk bahan mentah yang
komposisi kimianya bervariasi dalam rentang waktu yang panjang
d) Kapasitas storage dapat dinaikkan
e) Blending efek cukup baik, kerena pengambilan material melalui lapisan-
lapisan tipis di permukaan
f) Kecepatan penarikan (output) konstan dan mudah dikontrol
g) Penggunaan ruang samping storage kecil
h) Perubahan arah pengambilan mudah dilakukan

3.4.2 Side Reclaimer

Gambar 3.45. Side Reclaimer

Side reclaimer merupakan salah satu alat penarikan material yang biasa
digunakan di pabrik semen.Peralatan ini bergerak di jalur rel yang terletak di
sepanjang pile/tumpukan material.Side reclaimer dilengkapi oleh satu
scrapper chain yang digunakan untuk menarik tumpukan material untuk

| 66
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

selanjutnya ditransport oleh belt conveyor yang juga terletak sepanjang


tumpukan material tersebut.

3.4.3 Bucket Chain Excavator

Gambar 3.46. Bucket Chain Excavator

Bucket chain excavator didesain untuk sticky bulk material.Storage terdiri


dari dua atau lebih longitudinal stockpile yang ditumpuk dengan metode
windrow. Ketika satu pile sedang ditumpuk, pile yang lainnya ditarik dengan
kemiringan tertentu pada arah penumpukan .Storage biasanya memiliki dua
stacking bridge, masing-masing pada ujung storage.Material masuk ke
storage dengan belt conveyor pada satu sisi storage.Kemudian material di-
discharge ke upper conveyor pada stacking bridge dan dilanjutkan ke lower
conveyor yang bisa bergerak bolak-balik yang menumpuk material dalam arah
longitudinal sesuai dengan metode windrow. Sistem bucketchain, yang
dilengkapi dengan scrapper arm, ditahan pada kemiringan tertentu dari
bridgegirders. Mulai dari pit-wall, kedalaman potong material ditentukan
dengan menggerakkan reclaimer dalam arah longitudinal ke pile. Kemudian
material ditarik pada permukaan pile secara penuh ketika sistem scraperchain
bergerak ke pit-wall yang yang satu lagi. Potongan baru dalam arah
longitudinal telah dibuat dan sistem scrapper chainbergerak ke arah yang
berlawanan.

Keuntungan bucket chain excavator adalah:


a) Cocok untuk material yang sangat sticky

| 67
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

b) Sistem yang ekonomis untuk storage yang besar yang didisain


untukpengumpanan langsung pada mill
c) Penggunaan ruangan yang optimum dan atap mudah dipasang

3.5 Alat Transportasi


Conveyor yang berfungsi untuk mengangkut bahan -bahan industri yang
berbentuk padat. Pemilihan alat transportasi (conveying equipment) material
padatan antara lain tergantung pada: Kapasitas material yang ditangani, jarak
perpindahan material, kondisi pengangkutan: horizontal, vertikal atau inklinasi ,
ukuran (size), bentuk (shape), sifat material (properties), dan harga peralatan.
Pada pabrik Indarung V semen padang menggunakan beberapa
alattransport antara lain :

3.5.1 Belt Conveyor


Belt Conveyor menggunakan ban karet untuk menggerakkan bahan-bahan
darisatu lokasi ke lokasi lain. Bahan-bahan ditransfer langsung baik secara
teratur.Digunakan pada material yang berbentuk granular.Penggunaannya
lebih mudah untuk pemindahan material dengan jarak jauh serta
pemeliharaannya yang mudah, namun kelemahannya tidak bisa digunakan
pada material yang terlalu panas (>200oC).Prinsip kerjanya yaitu material
masuk melalui inlet chute dan diangkut dengan belt.Drive pulley digerakkan
oleh motor sehingga belt akan bergerak akibat adanya gaya gesek belt dengan
drive pulley.

Gambar 3.47. Belt Conveyor dan Bagian-bagiannya

3.5.2 Bucket Elevator

| 68
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

Bucket elevator merupakan alat transportasi yang dapat bekerja secara


vertikal dengan sudut 90odengan material yang dibawa dapat berbentuk
powder,butir granular ataumaterial yang lengket.Jenis bucket yang digunakan
tergantung sifat material yang akan ditransportasikan. Prinsip kerja bucket
elevator ini yaitu material masuk melalui bagian loading dan masuk ke dalam
bucket. Bucket bergerak keatas karena rantai atau beltyang dihubungkan
dengan motor. Pada bagian atas material akan terlempar keluar akibat ada
gaya sentrifugal ketika bucket berputar balik.

Gambar 3.48. Bagian-bagian Bucket Elevator

3.5.3 Appron Conveyor


Appron Conveyor merupakan alat transport material yang digunakan untuk
mengangkat material dengan kemiringan yang tinggi hingga 45o. Selain itu
biasanya material yang diangkut memiliki temperatur yang tinggi dan material
tersebut bersifat abrasif.Di Pabrik Indarung V, appron conveyor dipakai untuk
membawa klinker dari dome silo.

Gambar 3.49. Appron Conveyor dan Bagian-bagiannya

3.5.4 Air Slide/Fluxo Slide

| 69
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

Fluxo slide digunakan pada material halus untuk pengangkutan dari


ketinggian tertentu dengan pemasangan alat dengan kemiringan tertentu
(sekitar 6-12o). Fluxo slide terdiri dari box memanjang dengan sekat mendatar
oleh bahan porous yang terbuat dari canvas atau keramik.
Prinsip kerja alat tersebut adalah:
a) Material yang ditransport dalam bentuk powder kering dengan suhu
terbatas sesuai dengan bahan kanvas, maksimum sampai 340ºC. Material
yang ditransport diumpankan ke atas melalui sebuah inlet. Blower akan
meniupkan udara melalui kamar bagian bawah dan menembus kanvas
sehingga material akan terfluidisasi.
b) Dengan prinsip fluidization (bersifat fluida akibat hembusan udara dari
bawah kanvas), dimana material padat dalam bentuk sangat halus/ kecil
dapat mengalir atau mengembang seperti aliran air

Gambar 3.50. Bagian-bagian Air Side

3.5.5 Screw Conveyor


Screw conveyor paling tepat digunakan untuk mengangkut bahan padat
berbentuk halus atau bubur tanpa adanya kemiringan. Alat ini pada dasarnya
terbuat dari pisau yang berpilin mengelilingi suatu sumbu sehingga bentuknya
akan mirip dengan skrup. Pisau berpilin ini disebut flight.Prinsip kerjanya
yaitu material masuk pada bagian feedchute. Material terdorong kedepan
akibat adanya putaran pada screw flight, screw flight berputar dikarenakan
adanya putaran pada shaft yang berasal dari motor.

| 70
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

Gambar 3.51. Screw Conveyor dan Bagian-bagiannya

3.5.6 Drag Chain


Alat ini digunakan untuk mentransportasikan material baik powder
maupun granular.Penggunaannya pada jarak pendek dan tahan terhadap
material dengan temperatur tinggi hingga 650oC.Drag chain biasanya
dipasangkan casing tertutup sehingga lebih cocok untuk penggunaan material
berupa powder.Kelemahannya yaitu sifatnya yang mudah haus karena sering
terjadi gesekan baik antara material dengan chain, chain dengan bottom liner
dan wear block atau rail.Penggunaan chain biasanya pada material dengan

densitas yang lebih rendah.

3.6 Alat Sensor


Dalam dunia industri khususnya di industri semen, sistem pengukuran
merupakan salah satu hal penting yang harus diperhatikan khususnya di industri
kimia dan manufacturing.Sistem pengukuraan berkaitan erat dengan sistem
kontrol dalam suatu proses produksi sehingga hal ini sangat perlu diperhatikan.
Elemen terpenting dari sistem pengukuran adalah elemen sensing
(instrumentasinya sebuah sensor). Berikut alat sensor yang digunakan pada pabrik

Indarung V:
3.6.1 Sensor Proximity Switch
Sensor proximityswitch umumnya dipakai untuk memonitoring peralatan
yang berputar (speedmonitor) selain itu juga digunakan untuk tujuan safety

| 71
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

(proteksi) peralatan itu sendiri. Sensor proximity switch juga digunakan untuk
memonitoring posisi bukaan pada gate. Sensor proximity switch ini biasanya
digunakan untuk speed monitor pada belt conveyor, sensor posisi pada sebuah
gate dan masih banyak lagi aplikasi dari sensor proximityswitch ini.
3.6.2 Sensor Temperatur
Dalam proses pengukuran temperature di dunia industri khususnya di
industri semen terdapat beberapa jenis sensor temperature yang bisa digunakan
seperti sensor thermocouple dan sensor RTD. Sensor thermocouple digunakan
untuk memonitoring temperature dari proses produksi, biasanya yang memiliki
temperature yang sangat tinggi.Aplikasinya untuk monitoringtemperature di

dalam kiln.Sedangkan sensor temperature tipe RTD digunakan untuk


memonitoringtemperature dari peralatan atau mesin, tujuannya untuk melindungi
perlatan tersebut dari temperatur yang berlebihan, contoh aplikasinya
monitoringtemperaturebearingfan.
3.6.3 Sensor Pressure
Sensor pressure digunakan untuk mengukur dan memonitoring nilai
tekanan yang terdapat pada system proses produksi, contohnya tekanan didalam
cyclonepreheater. Ada juga yang digunakan untuk mengukur nilai tekanan yang
dihasilkan dari aliran fluida (misalnya udara), contohnya flowmeter pada
fancooler.Di industri semen, sensor pressure yang digunakan umumnya dari
pabrikan Honeywell dengan tipe ST3000 dan Endress& Hausser dengan tipe
PMD70. Meskipun terdapat juga sensor pressure dari pabrikan lain seperti
Danfoss dan beberapa merk China lainnya.
3.6.4 Sensor Level
Sensor level digunakan untuk mengetahui level material (solid ataupun
liquid) yang terdapat didalam tempat penyimpanan baik berupa silo, bin, storage
material ataupun tempat penyimpanan lainnya. Di industri semen, sensor level
untuk material solid digunakan di storage, CF silo, domesilo, dan cementsilo.

| 72
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

3.6.5 Sensor Vibrasi


Sensor vibrasi digunakan untuk memonitoring besarnya nilai vibrasi dari
suatu alat biasanya untuk tujuan safety dan proteksi terhadap peralatan itu
sendiri.Di pabrik semen, sensor vibrasi biasanya digunakan pada bearing fan (ID
fan, raw mill fan, EP cooler fan, EP raw mill fan).
3.6.6 Flame Detector
Flame detector merupakan peralatan instrumentasi yang digunakan untuk
mendeteksi nilai intensitas dan frekuensi api dalam suatu proses pembakaran
biasanya menggunakan sebuah sensor optik seperti ultraviolet (UV), infrared (IR)
spectroscopy, dan pencitraan visualflame untuk mendeteksi spektrum gelombang
yang dihasilkan dari api. Sensor ini digunakan untuk memonitoring panas dari
shellkiln, serta memonitor bentuk api dari burner.

| 73
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

BAB IV
UTILITAS DAN PENGOLAHAN LIMBAH

4.1 Utilitas
4.1.1 Penyediaan Air
PT Semen Padang menggunakan air yang berasal dari sungai didaerah
Rasak Bungo. Air ini kemudian diolah terlebih dahulu sebelum digunakan, baik
untuk keperluan proses ataupun keperluan rumah tangga dan kantor. Proses
pengolahannya meliputi proses sedimentasi, filtrasi, dan flokulasi. Tahapan
treatment air yang dilakukan yaitu, air disalurkan dari sungai memasuki kanal
untuk mengendapkan partikel besar yang dapat mengendap dengan sendirinya.
Selanjutnya, setelah mengalami proses tersebut, air akan disaring menggunakan
saringan microstainer guna menyaring partikel yang tidak mengendap dalam
proses sebelumnya. Saringan ini hanya mampu menyaring hingga ukuran mikro.
Sehingga air hasil saringan ini belum bisa langsung dimanfaatkan sebagai air
domestik karena belum bebas dari bakteri dan pengotor yang tersuspensi yang
masih mengotori air.
Setelah dilakukan proses penyaringan air ini kemudian dialirkan kedalam
bak penampungan yang kemudian air tersebut dipompakan ke dalam mixing
chamber yang berfungsi sebagai tempat pencampuran flokulator dengan air.
Flokulator yang digunakan adalah natrium karbonat dan alumunium sulfat.
Sehingga terbentuklah flok-flok akibat dari adanya proses flokulasi. Kemudian
ditambahkan senyawa klorin yang berfungsi sebagai desinfektan untuk
membunuh bakteri yang ada pada air. Setelah melewati mixing chamber ini. Air
kemudian dipompakan menuju bak sedimentasi. Hal ini memungkinkan senyawa
flokulator telah bekerja dengan baik sehingga setelah melewati proses ini air akan
melewati saringan pasir (sand filter) yang selanjutnya hasil akhir ini dapat
langsung dimanfaatkan sebagai air proses (water injection pada raw mill dan
cement mill) ataupun air domestik untuk keperluan kantor dan perumahan
karyawan semen padang.

4.1.2 Penyediaan Energi Listrik


Tenaga listrik yang besar sangat dibutuhkan di PT Semen Padang ini,
hampir seluruh alat produksi dan untuk penerangan membutuhkan energi listrik

| 74
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

(kecuali alat pembakaran). Dengan kebutuhan akan energi listrik yang amat
tinggi, PT Semen Padang mendapatkan supply energi listrik dari beberapa
pembangkit listrik. Pembangkit listrik yang berkontribusi antara lain
pembangkitlistrik mandiri dan pembangkit listrik dari PLN (Perusahaan Listrik
Negara). Pembangkit listrik mandiri terdiri atas:
1. PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air)
PLTA yang digunakan ada dua yaitu PLTA Kuranji dan PLTA Rasak
Bungo. PLTA Kuranji, berlokasi 5,2 km dari pabrik. Memiliki tiga unit generator
dan juga tiga unit turbin. Media air yang digunakan sebagai pembangkit adalah air
sungai Padang Jernih yang kemudian pada tahun 1929 dibendung dan pada tahun
1994 diperbaharui kembali. Hingga saat ini listrik yang dihasilkan masih
digunakan untuk membantu jalannya proses produksi.
PLTA Rasak Bungo merupakan PLTA yang dibangun untuk mencukupi
kebutuhan listrik Pabrik Indarung I yang dibangun sekitar tahun 1970 yang
membendung sungai Lubuk Peraku dan juga sungai Air Baling. Lokasi PLTA
sekitar 1,7 km dari lokasi pabrik. Sekarang daya listrik yang dihasilkan oleh
pembangkit ini digunakan untuk proses penambangan yang berada di kawasan
Bukit Ngalau.
2. PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel)
Pada kondisi saat ini penggunaan energi listrik yang berasal dari PLTD
sangatlah tidak menentu. Dengan naik turunnya harga bbm yang nantinya
menyebabkan mahalnya kebutuhan produksi. PLTD yang ada di PT Semen
Padang antara lainPLTD I dan PLTD II. Pembangkit listrik tenaga diesel I
memiliki dua buah pembangkit dengan daya yang dihasilkan sebesar 2 x 3000
kVA. Beroperasi sejak tahun 1929 hingga 1974. PLTD II, terletak pada pabrik
Indarung II yang memiliki tiga unit pembangkit yang memiliki daya sebesar 3 x
6250 kVA. Pada pembangkit ini energi yang dihasilkan sangatlah besar sehingga
dirasa mampu untuk memenuhi kebutuhan produksi dari pabrik Indarung I, II, III,
IV, serta V bahkan untuk perumahan. PLTD ini didirikan sejak tahun 1987.
3. WHRPG (Waste Heat Recovery Power Generation)
WHRPG merupakan pembangkit listrik yang menggunakan panas sisa
buangan dari cooler, kiln, serta gas panas dari suspension preheater. Kemudian
sisa panas ini dirubah menjadi energi listrik dengan teknologi pembangkitan

| 75
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

listrik. Pembangunan WHRPG dilakukan pada tahun 2011. Teknologi ini berasal
dari perusahaan Nedo, Jepang, maka dari itu pembangunan ini dilakukan atas
kerjasama antara Semen Indonesia dengan JFE Engineering Jepang. Biaya untuk
proyek WHRPG ini adalah 240 miliar rupiah. Kapasitas desain WHRPG ini
sebesar 8,5 Megawatt dan akan mensuplai kebutuhan listrik untuk peralatan yang
memerlukan energi yang cukup rendah, seperti suplai listrik kantor produksi dan
beberapa lampu.
Cara kerja pembangkit listrik WHRPG sama dengan PLTU, yang
membedakannya adalah tidak menggunakan batubara atau BBM untuk
menghasilkan panasnya tapi menggunakan gas buang operasional pabrik.
Kapasitas pembangkit WHRPG rata-rata baru mencapai 6,9 MW dan kapasitas
pembangkit yang dimanfaatkan 6,2 MW. Kapasitas desain pembangkit belum
tercapai, baru sekitar 81% yang tercapai dari kapasitas desain. Secara alat mampu
untuk dioperasikan mencapai kapasitas desainnya, namun belum ditemukan pola
operasi untuk mencapainya.
Sedangkan Pembangkit listrik dari PLN digunakan karena tenaga yang
dihasilkan oleh pembangkit listrik yang dimiliki oleh PT Semen Padang tidak
mencukupi, maka untuk kebutuhan pabrik dibantu dengan sumber tenaga oleh
PLN. Untuk PT Semen Padang sendiri, energi listrik tambahan disediakan oleh
PLN dari PLTA Danau Maninjau, yang kemudian di transmisikan menuju
Indarung.

4.2 Pengolahan Limbah


Limbah debu yang dihasilkan di PT. Semen Padang berupa limbah padat
(debu) dan limbah gas (CO2, N2, O2, SO2 dan uap air). Sebelum dibuang ke alam
bebas, limbah gas dilewatkan ke dalam Electrostatic Precipipator (EP) terlebih
dahulu, sehingga terpisah antara gas dan debu. Debu dikembalikan ke dalam raw
mill sedangkan udara yang sudah bersih dibuang ke atmosfer dengan cerobong
asap (chimney). Gas buang yang diperoleh mengandung debu maksimal 80 mg/m3
sesuai dengan keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 13
MENHL/1955.Alat penangkap debu selain EP yaitu jet pulse filter. Untuk limbah
padat pada proses pembuatan semen, dapat diolah dengan menjadikan limbah

| 76
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

tersebut bahan baku dan sebagian dimasukkan ke dalam sistem. PT. Semen
Padang menerima sertifikat ISO 9001:2000 atas keberhasilan dalam implementasi
Sistem Manajemen Mutu dan ISO 14001 atas keberhasilan dalam Sistem
Manajemen Lingkungan.

BAB V
ORGANISASI PERUSAHAAN

5.1 Organisasi Perusahaan


PT Semen Padang merupakan salah satu perusahaan yang berada dibawah
Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam bentuk Persero. Struktur organisasi

| 77
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

berbentuk line dan staf di lingkungan Direktorat Jendral Industri Kimia,


Departemen Perindustrian.Pada sistem ini, kekuasaan tertinggi berada pada
pemegang saham, yaitu pemerintah melalui Dewan Komisaris. Berikut merupakan
struktur organisasi dan manajemen di PT Semen Padang:

Gambar 5.1 Struktur Organisasi PT. Semen Padang

5.1.1 Direktorat Komersial


Direktorat komersial bertanggung jawab langsung kepada direktur utama
dan akan membawahi beberapa unit kerja, yaitu :
A. Departemen Penjualan
Departemen ini dibantu oleh beberapa biro, diantaranya :
1. Biro Penjualan Wilayah I
2. Biro Penjualan Wilayah II
3. Biro Penjualan Wilayah III
4. Biro Penjualan Luar Negeri
5. Biro Promosi dan Analisa Pasar

| 78
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

6. Bidang Administrasi Penjualan


B. Departemen Distribusi dan Transportasi
Departemen ini dibantu oleh beberapa biro, diantaranya :
1. Biro Pengatongan II
2. Biro Distribusi dan Transportasi I
3. Biro Distribusi dan Transportasi II
4. Biro Pabrik Kantong
5. Staf Evaluasi dan Perencanaan distrans
C. Departemen Pengadaan
Departemen ini dibantu oleh beberapa biro, diantaranya :
1. Biro Pengadaan Jasa
2. Biro Pengadaan Barang
3. Biro pengelolaan persediaan
4. Biro Perencanaan dan Pengendalian Pengadaan

5.1.2 Direktur Produksi


Direktorat produksi bertanggung jawab terhadap direktur utama dan
membawahi beberapa departemen, diantaranya :
A. Departemen Tambang
Departemen ini dibantu oleh beberapa biro, diantaranya :
1. Biro Penambangan
2. Biro Pemeliharaan Alat Tambang
3. Biro Pemeliharaan Alat Berat Tambang
4. Biro Perencanaan Pengembangan dan Evaluasi Tambang
5. Bidang SHE Tambang
B. Departemen Produksi II/III
Departemen ini dibantu oleh beberapa biro, diantaranya :
1. Biro Produksi II/III
2. Biro Pemeliharaan Mesin II/III
3. Biro Pemeliharaan Listrik dan Instrumen II/III
4. Biro Pengantongan I
C. Departemen Produksi IV

| 79
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

Departemen ini dibantu oleh beberapa biro, diantaranya :


1. Biro Produksi IV
2. Biro Pemeliharaan Mesin IV
3. Biro Pemeliharaa Listrik dan Intrumen IV
4. Biro Laboratorium Proses
5. Biro Produksi Semen dan Pengantongan Dumai
D. Departemen Produksi V
Departemen ini dibantu oleh beberapa biro, diantaranya :
1. Biro Produksi
2. Biro Pemeliharaan Mesin V
3. Biro Pemeliharaan Listrik dan Instrumen V
4. Biro Tenaga
E. Departemen Teknik Pabrik
Departemen ini dibantu oleh beberapa biro, diantaranya :
1. Biro Rendal Produksi dan Manajemen Energi
2. Biro Evaluasi dan Pengendalian Pemeliharaan
3. Biro Sistem Manajemen dan Informasi Pabrik
4. Staf pemantauan dan pengendalian emisi, pengelolahan limbah dan
Material Curah
5. Biro Rekayasa
6. Biro Workshop
7. Biro kostruksi dan pelayanan pabrik
F. Departemen Quality Assurance dan SHE
Departemen ini dibantu oleh beberapa biro, diantaranya :
1. Biro Quality Assurance dan Pelayanan Teknis
2. Biro SHE
3. Biro Inovasi dan AFR
4. Biro Capex
5. Staf Direktur Produksi
5.1.3 Direktur Keuangan

| 80
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

Direktorat produksi bertanggung jawab terhadap direktur utama dan


membawahi beberapa departemen, diantaranya :
A. Departemen Akutansi dan Keuangan
Departemen ini dibantu oleh beberapa biro, diantaranya :
1. Biro Bendahara
2. Biro Hutang Piutang
3. Biro Perpajakan dan Asuransi
4. Biro Akutansi Keuangan dan Aset Manajemen
5. Biro Akuntansi Manajemen
B. Departemen Sumber Daya Manusia
Departemen ini dibantu oleh beberapa biro, diantaranya :
1. Biro Pembinaan Pendidikan dan Latihan
2. Biro personalia
3. Biro perencanan dan pengembangan SDM
4. Staf Direktur Keuangan

Selain itu ada juga susunan struktur organisasi untuk pengerjaan Proyek
Indarung V yang sedang berlansung. Berikut susunan diagram struktur
organisasi Departemen Produksi V:

| 81
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

Gambar 5.2. Struktur Organisasi Departemen Produksi V PT Semen Padang


(Sumber: Semen Padang, 2018)

5.2 Ekonomi Perusahaan


Untuk produksi Semen Portland I, Super Masonry Cement (SMC) dan
Portland Pozzolan Cement (PPC), PT Semen Padang memiliki daerah pemasaran
yang meliputi seluruh wilayah provinsi di pulau Sumatera, DKI Jakarta, Banten,
Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan. Untuk
produk – produk lainnya dipasarkan ke daerah – daerah yang memerlukan. Selain
dipasarkan ke dalam negeri, PT Semen Padang juga mengekspor produknya ke
luar negeri antara lain ke Bangladesh, Myanmar, Srilangka, Maldives, Philipina,
Singapura, Brunai, Timor Timur, Madagaskar, Kuwait, dll.

| 82
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

PT Semen Padang mendistribusikan sekitar 63% produknya dalam kemasan


zak dan curah melalui jalur laut, sedangkan sisanya dalam kemasan zak, big bag,
dan curah didistribusikan melalui jalur darat. Produk yang di distribusikan melalui
jalur darat akan dipasarkan ke daerah Sumatera Barat, Tapanuli Selatan, Riau
Daratan, Bengkulu, dan Jambi. Proses pengantongan untuk pendistribusian jalur
darat dilakukan di Packing Plant Indarung (PPI), sedangkan untuk
pendistribusian jalur laut dilakukan pengantongan di Pengantongan Teluk Bayur.

| 83
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

BAB VI
TUGAS KHUSUS

6.1 Pendahuluan
6.1.1 Judul Tugas Khusus
Judul tugas khusus dalam penulisan laporan kerja praktek ini adalah
“Pengaruh Bahan Additif Terhadap Kualitas Semen“ dengan data pendukung
diperoleh dari lapangan, CCR (Central Control Room), Laboratorium serta
literatur-literatur pendukung seperti buku dan internet.

6.2 Dasar Teori


6.2.1 Bahan Additif
Bahan additif adalah bahan yang digunakan untuk menambah volume dari
produksi pembuatan semen. Bahan additif yang digunakan dalam
pembuatan semen ialah Limestone High Grade, Gypsum & Pozzolan.
Ketiga material tersebut memiliki pengaruh masing-masing terhadap
kualitas semen.

6.2.2 Faktor Kualitas Semen


Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas semen adalah sebagai berikut:
1) Kuat Tekan
Kuat tekan adalah kemampuan material menahan suatu beban. Kuat tekan
dipengaruhi oleh kandungan senyawa C3S, C2S, C3A, C4AF dalam semen,
kadar SO2, dan tingkat kehalusan semen. C3S berpengaruh terhadap kekuatan
awal.C2S berpengaruh terhadap kuat tekan dalam jangka panjang, C 3A
berpengaruh terhadap kuat tekan hingga umur 28 hari, dan C4AF tidak
berpengaruh pada kuat tekan namun memberikan pengaruh terhadap
pembentukan liquid phase di dalam proses pembakaran di kiln.
Kuat tekan semen diuji dengan cara membuat mortar yang kemudian
ditekan sampai hancur. Contoh semen yang diuji dicampur dengan pasir silika

dengan perbandingan tertentu, kemudian dibentuk menjadi kubus-kubus


berukuran (5x5x5) cm. Setelah mengalami perawatan dengan perendaman
benda tersebut diuji kekuatan tekannya pada hari ke 3, 7, dan 28.
2) Setting Time

| 84
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

Setting dan hardening adalah pengikatan dan pengerasan semen setelah


terjadi reaksi hidrasi. Semen apabila dicampur dengan air akan menghasilkan
pasta yang plastis dan dapat dibentuk sampai beberapa waktu karakteristik
dari pasta tidak berubah dan periode ini sering disebut dorman period.
Pada tahapan berikutnya, pasta mulai menjadi kaku walaupun masih ada
yang lemah, namun suhu tidak dapat dibentuk (unworkable). Kondisi ini
disebut initial set, sedangkan waktu mulai dibentuk (ditambah air) sampai
kondisi initial set disebut initial setting time (waktu pengikatan awal).
Tahapan berikutnya pasta melanjutkan kekuatannya sehingga didapat padatan
yang utuh dan biasa disebut hardened cement pasta. Kondisi ini disebut final
set, sedangkan waktu yang diperlukan untuk mencapai kondisi ini disebut
final setting time (waktu pengikatan akhir). Proses pengerasan berjalan terus
berjalan seiring dengan waktu akan diperoleh kekuatan proses ini dikenal
dengan nama hardening.

6.3 Metode Pelaksanaan Tugas Khusus


Adapun metode yang dilakukan dalam pelaksanaan tugas khusus ini yaitu
sebagai berikut:
1) Metode Diskusi.
Dalam metode ini, penulis, pembimbing lapangan, para karyawan, dan
rekan-rekan sesama kerja praktek saling berdiskusi mengenai berbagai hal
yang menyangkut tugas khusus ini.
2) Metode Literatur.
Penulis mencari referensi yang berhubungan dengan tugas khusus yang
diperoleh dari berbagai sumber seperti central control room, manual
operation, Lab. Quality Control dan sumber-sumber lain yang dianggap
relevan dari perpustakaan di PT Semen Padang.
3) Metode Survey Lapangan & Pemerolehan Data
Survey ke lapangan & pemerolehan data bertujuan untuk mengetahui
bagaimana kerja alat dan memahami proses produksi dengan data-data

| 85
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

yang diperoleh sehingga diharapkan penulis dapat lebih memahami &


menyelesaikan tentang tugas khusus tersebut.

6.4 Hasil dan Pembahasan

Dalam pembahasan kali ini, data yang digunakan yaitu data tonnase
pemakaian masing-masing bahan additif pada bulan Januari 2018. Data ini
diperoleh dari CCR (Central Control Room) dan data yang digunakan
ialah data pada 5Z2 sedangkan tipe semen yang ditinjau ialah tipe semen
PCC.

6.4.1 Pengaruh Limestone High Grade terhadap Kuat Tekan Akhir


Salah satu bahan additive pada pembuatan semen ialah Limestone High
Grade. Limestone High Grade memiliki kadar CaCO3 yang sedikit lebih
besar dari Limestone yang digunakan sebagai komposisi utama pembuatan
semen. Dalam pembuatan semen, Limestone High Grade memiliki
pengaruh terhadap Operasional pembuatan semen. Pengaruhnya yaitu
meningkatkan tingkat kehalusan (Blaine) semen, walau sebenarnya tingkat
kehalusan semen sejatinya dipengaruhi oleh efisiensi penggilingan pada
Cement Mill. Dan juga Limestone High Grade ini juga berfungsi untuk
meningkatkan volume produksi semen sehingga menekan cost produksi
pembuatan semen. Namun kali ini akan dibahas pengaruh Limestone
terhadap Kuat Tekan pada semen tipe PCC.
Tabel 6.1. Tonnase Limestone High Grade & Kuat Tekan Akhir
TANGGAL TONASE KUAT TEKAN AKHIR
STANDAR MINIMUM
(JANUARI) LIMESTONE (m2/kg)
1 350
2 10.43333333 370 350
3 11.4 407 350
4 350
5 17.225 346 350
6 350
7 350
8 13.79444444 340 350
9 14.45652174 362 350
10 350

| 86
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

11 21.19130435 350 350


12 13.41176471 321 350
13 16.625 343 350
14 350
15 15.9 364 350
16 350
17 350
18 350
19 15.65652174 339 350
20 16.16363636 351 350
21 350
22 15.25 344 350
23 350
24 15.68 312 350
25 350
26 15.7625 335 350
27 13.25 350 350
28 350
29 350
30 350

Pada tabel terlihat ada bagian yang kosong, hal ini terjadi karena
disebabkan oleh beberapa factor, bisa jadi karena pada hari itu pabrik
sedang stop memproduksi semen atau bisa jadi pada hari itu pabrik hanya
memproduksi OPC saja. Dan pada tabel terlihat terlihat ada angka yang
bewarna merah pada Kuat Tekan Akhir, hal ini disebabkan karena Kuat
Tekan Akhir yang diperoleh tidak mencapai standar yang telah ditentukan.
Analisa yang bisa dipaparkan ketika melihat tabel diatas ialah ketika pada
tanggal 2, tonnase Limestone hanya beriksar diangka 10,43 ton, namun
Kuat Tekan Akhir masih tercapai tapi pada tanggal 5 tonnase Limestone
yaitu sebesar 17,225 ton lebih besar dari tanggal 2 namun Kuat Tekan
Akhir yang dihasilkan tidak mencapai standar yang telah ditentukan.
Dapat disimpulkan bahwa Limestone High Grade tidak memiliki pengaruh
terhadap kuat tekan akhir.

| 87
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

Gambar 6.1 Grafik Pengaruh Limestone terhadap Kuat Tekan


Akhir
Pada grafik, analisa yang dapat dipaparkan ialah Kuat Tekan Akhir
mengalami fluktuasi. Terjadinya fluktuasi disebabkan oleh beberapa factor,
diantaranya karna jumlah C2S yang terbentuk di kiln, jumlah penambahan
Pozzolan pada klinker, dll. Secara teoritis, Limestone High Grade tidak
memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap kuat tekan akhir semen. Hal
ini dikarenakan penambahan Limestone pada klinker bertujuan untuk
memperbesar volume produksi semen dan memperkecil penggunaan
klinker karna klinker yang harganya lebih mahal dibandingkan Limestone
High Grade, karnanya cost pembuatan semen akan semakin kecil. Selain
itu juga Limestone High Grade ditambahkan juga berguna untuk
meningkatkan tingkat kehalusan (Blaine), namun Blaine dalam proses
pembuatan semen hanya sebagai parameter operasional pembuatan semen
saja bukan parameter kualitas hasil pembuatan semen. Jadi pengaruh
Limestone High Grade terhadap Kuat Tekan bisa dikatakan tidak ada, bisa
dilihat dari Grafik yang menunjukkan saat tonnase Limestone yang
cenderung stabil namun Kuat Tekan yang dihasilkan mengalami fluktuasi,

| 88
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

dan juga fluktuasi yang terjadi sering melewati standar minimum (garis
bewarna hitam) yang telah ditentukan sehingga dapat disimpulkan bahwa
teoritis Limestone High Grade yang tidak berpengaruh terhadap Kuat
Tekan Akhir sesuai dengan yang ada di lapangan.

6.4.2 Pengaruh Gypsum terhadap Setting Time


Gypsum adalah bahan tambahan yang dicampurkan kedalam semen.
Gypsum dalam pembuatan semen berfungsi untuk memperlambat semen
untuk mengeras/mengatur setting time pada semen. Tanpa Gypsum, semen
ketika ditambahkan air akan langsung mengeras tanpa ada jeda waktu dan
ini akan mempengaruhi kualitas semen yang dihasilkan. Oleh karena itu,
Gypsum sangat berperan dalam penentuan kualitas semen. Gypsum
memiliki standarnya sendiri, untuk standar dari SNI (Standar Nasional
Indonesia) PCC & OPC memiliki standar yang sama pada Waktu
Pengikatan Awal dan Waktu Pengikatan Akhir. Untuk Waktu Pengikatan
Awalnya 45 menit dan Waktu Pengikatan Akhirnya 375 menit. Untuk
Standar Internal Indarung V sendiri , OPC & PPC memiliki standar yang
berbeda. Untuk OPC, Waktu Pengikatan Awalnya ialah berada di range 90-
160 menit dan Waktu Pengikatan Akhirnya ialah 180-260 menit. Untuk
PCC sendiri Waktu Pengikatan Awalnya ialah 90-180 menit dan Waktu
Pengikatan Akhirnya 200-320 menit.
Tabel 6.2. Tonnase Gypsum, Waktu Pengikatan Awal dan Waktu
Pengikatan Akhir
TANGGAL TONNASE WAKTU PENGIKATAN WAKTU PENGIKATAN
(DESEMBER) GYPSUM AWAL (menit) AKHIR (menit)
1
2 6.457142857 170 223
3 6.55
4
5 4.74375
6
7
8 8.826315789 201 281
9 8.025
10

| 89
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

11 10.01333333
12 7.47 185 245
13 8.5625
14
15 10.09411765
16
17
18
19 9.760869565
20 8.708333333 186 247
21
22 9.36 206 26
23
24 14.45
25
26 13.3 165 235
27 16.74375
28
29
30
Pada tabel terlihat ada bagian yang kosong, hal ini terjadi karena
disebabkan oleh beberapa factor, bisa jadi karena pada hari itu pabrik
sedang stop memproduksi semen atau bisa jadi pada hari itu pabrik hanya
memproduksi OPC saja. Pada tabel dapat kita lihat pada tanggal 2, tonnase
Gypsum sebesar 6,45 menghasilkan waktu pengikatan awal sebesar 170
menit dan waktu pengikatan akhir sebesar 223 menit. Ketika tonnase
Gypsum meningkat pada tanggal 8 yaitu 8,82 ton, waktu pengikatan awal
juga ikut meningkat yaitu 201 menit dan waktu pengikatan akhir 281
menit. Ketika pada tanggal 12, tonnase Gypsum kembali diturunkan dan
saat diturunkan waktu pengikatan awal dan akhir juga mengalami
penurunan. Dapat disimpulkan bahwa jumlah feeding Gypsum
mempengaruhi waktu pengikatan awal dan waktu pengikatan akhir semen
dan hal ini sesuai dengan teoritis yang mengatakan bahwa semakin besar
penambahan Gypsum maka semakin semakin lama juga setting time yang
dihasilkan.

| 90
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

Gambar 6.2 Grafik Pengaruh Gypsum terhadap Setting Time


semen

Pada grafik terlihat terjadi fluktuasi pada waktu pengikatan awal


dan waktu pengikatan akhir namun kedua parameter tersebut sudah berada
jauh diatas standar yang telah ditentukan yaitu standar minimum waktu
pengikatan awal (garis bewarna oren) yaitu 90 menit dan waktu
pengikatan akhir (garis bewarna biru) yaitu 200 menit. Fluktuasi pada
waktu pengikatan awal dan akhir terjadi tegantung pada jumlah tonnase
Gypsum ke dalam klinker, semakin banyak Gypsum yang ditambahkan
kedalam klinker maka semakin banyak lama juga setting time yang
diperoleh. Namum penambahan Gypsum juga bergantung pada kadar SO3
yang dihasilkan setelah penambahan Gypsum, jika SO3 yang terkandung
didalam semen tinggi akibat penambahan Gypsum maka tonnase Gypsum
akan dikurangi. Kadar SO3 didalam semen diharapkan berada dibawa
2.1% agar kulitas semen tetap terjaga. Jadi tonnase Gypsum selain
mengacu kepada setting time semen, juga mengacu pada kadar SO 3
didalam semen, diusahakan kedua-duanya tercapai, setting time berada
diatas standar minimum yang telah ditentukan dan kadar SO3 berada
dibawah 2,1 %.

| 91
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

6.4.3 Pengaruh Pozzolan terhadap Kuat Tekan Akhir


Pozzolan adalah bahan yang mengandung silika atau senyawanya dan
alumina, yang tidak mempunyai sifat mengikat seperti semen. Namun

dalam bentuknya yang halus dan dengan adanya air, senyawa tersebut
akan bereaksi secara kimia dengan kalsium hidroksida pada suhu kamar
membentuk senyawa yang mempunyai sifat seperti semen.Pozzolan dalam
proses pembuatan semen adalah bahan yang ditambahkan kedalam klinker
sebagai bahan additif. Fungsinya ialah untuk menekan biaya produksi
(cost) pembuatan semen karna penambahan Pozzolan dapat mensubstitusi
klinker sehingga penggunaan klinker dalam pembuatan semen berkurang.
Selain itu, Pozzolan juga dapat mempengaruhi kualitas semen, yaitu pada
Kuat Tekan Akhir. Berikut ini adalah data dan grafik Pengaruh Pozzolan
terhadap Kuat Tekan Akhir.

Tabel 6.3. Tonnase Pozzolan & Kuat Tekan Akhir pada bulan Desember
2017
TANGGAL STANDAR
TONNASE POZZOLAN KUAT TEKAN AKHIR
(DESEMBER) MINIMUM
1
2 15.92857143 370 350
3 14.9125 407 350
4
5 15.51875 346 350
6
7
8 15.25263158 340 350
9 16.20416667 362 350
10
11 15.66 350 350
12 17.57 321 350
13 17.00588235 343 350
14
15 16.53333333 364 350
16
17
18
19 19.28333333 339 350

| 92
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

20 18.04545455 351 350


21
22 21.43 344 350
23
24 18.16666667 312 350
25
26 18.49333333 335 350
27 17.92857143 350 350
28
29
30

Pada tabel terlihat ada bagian yang kosong, hal ini terjadi karena
disebabkan oleh beberapa factor, bisa jadi karena pada hari itu pabrik
sedang stop memproduksi semen atau bisa jadi pada hari itu pabrik hanya
memproduksi OPC saja. Pada tanggal 2, tonnase Pozzolan sebesar 15,92
ton dan kuat tekan akhir sebesar 370 m2/kg. Namun pada tanggal 5,
tonnase Pozzolan sebesar 15,5 ton tetapi kuat tekan akhir menurun
menjadi 346 m2/kg, padahal tonnase tanggal 2 dan tanggal 5 hanya
berbeda 0,42 ton saja tetapi kuat tekan akhir berkurang begitu drastis.
Secara teoritis penambahan Pozzolan akan mempengaruhi kuat tekan
tetapi yg di lapangan tidak sesuai dengan teoritis . Namun
demikian,fungsi utama dari Pozzolan ialah mengikat CO2 sehingga
mengurangi emisi gas dan ini membantu pemerintah dalam mencapai
target yaitu emisi gas CO2 sebesar 5%.

| 93
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

Grafik 6.2 Pengaruh Pozzolan terhadap Kuat Tekan Akhir semen

Pada grafik terlihat kuat tekan akhir mengalami fluktuasi, hal ini
disebabkan oleh beberapa factor, secara teoritis salah satunya ialah Pozzolan. Pada
grafik terlihat tonnase Pozzolan cenderung stabil tetapi kuat tekan akhir
mengalami fluktuasi yang cukup besar. Jika hal seperti ini terjadi, kita kembali
kepada pengaruh terbesar kuat tekan akhir pada semen yaitu kadar C2S yang
dihasilkan saat klinkerisasi. Kuat Tekan Akhir sangat dipengaruhi oleh seberapa
besar C2S yang dihasilkan dan Pozzolan hanya sebagai additif yang secara teoritis
juga mampu meningkatkan kuat tekan, tapi jika kadar C 2S nya memang benar-
benar rendah otomatis kuat tekan akhir juga akan anjlok, apalagi jika Pozzolan
yang digunakan juga sedikit, maka kuat tekan akhir juga akan semakin anjlok
juga. Pozzolan sendiri fungsi utamanya ialah mensubstitusi pemakaian klinker
guna menekan biaya produksi pembuatan semen serta Pozzolan dapat mengikat
CaO bebas yang terdapat pada semen sehingga kualitas semen akan terjaga
dengan rendahnya kadar CaO bebas. Penambahan Pozzolan juga tidak mengacu
kepada kuat tekan, namun mengacu pada kualitas pozolanic activitynya. Jika

| 94
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

pozolanic activitynya Pozzolan saat itu besar, maka Pozzolan yang ditambahkan
hanya sedikit, begitu juga sebaliknya. Kesimpulan dari grafik diatas adalah
Pozzolan secara teoritis mempengaruhi kuat tekan akhir namun tidak bisa
dijadikan acuan semakin besar Pozzolan akan semakin besar juga kuat tekannya
karna kita juga harus melihat kadar C2S yang diperoleh dari hasil klinkerisasi.

| 95
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN

7.1 Kesimpulan
1) Bahan Additif adalah bahan tambahan yang digunakan untuk meningkatkan
volume produksi semen.
2) Bahan-bahan additif tersebut masing-masing memiliki pengaruh yang
berbeda terhadap kualitas semen
3) Limestone tidak berpengaruh terhadap Kuat Tekan Akhir namun
berpengaruh terhadap Blaine (secara teoritis) , Gypsum mempengaruhi
setting time semen dan Pozzolan sedikit mempengaruhi Kuat Tekan Akhir
semen.
4) Kuat Tekan Akhir sesungguhnya dipengaruhi oleh kadar C2S yang
terkandung setelah klinkerisasi, semakin besar C2S maka akan semakin
besar Kuat Tekan Akhirnya begitu sebaliknya.
5) Setting Time dipengaruhi oleh besarnya tonnase Gypsum yang
ditambahkan, semakin besar tonnase Gypsum makan semakin besar setting
time yang diperoleh, begitu jgua sebaliknya.
7.2 Saran
1) Untuk meningkatkan akurasi dalam menganalisa, sebaiknya dilakukan
dengan data aktual dilapangan untuk menghindari analisis yang salah.
2) Faktor yang mempengaruhi kualitas semen harus dibaca dahulu apa saja
yang mempengaruhinya sehingga dalam menganalisa pengaruh kualitas
semen sesuai dengan yang diharapkan pembaca.
3) Diskusi bersama pembimbing atau orang yang ahli dibidangnya juga sangat
penting agar mudah dalam memahami pengaruh kualitas semen.

DAFTAR PUSTAKA

| 96
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

Central Control Room Indarung V. 2018. Kondisi Operasi Pabrik. PT Semen


Padang.
Dani M., dan Elsa F.R. 2015. Analisa Energy Pada Rotary Kiln Indarung V.
Palembang: Teknik Kimia Universitas Sriwijaya.
Duda, W.H. 1980. Cement Data Book 3rdedition, vol. 1. Benverlag G.M.B.H.
Wesbeden and Berlin.
Holderbank. 2000. Cement Seminar Process Technology I. Holderbank
Management & Consulting.
Holderbank. 2000. Cement Seminar Process Technology II. Holderbank
Management & Consulting.
Laboratorium Proses Indarung V. 2018. Spesifikasi Standar Internal. PT Semen
Padang.
Perry, Robert. H and Don W. Green. 2008. Perry’s Chemical Engineer Handbook
Eight Edition. Mc Graw Hill Company.
Semen Padang. 2008. Sejarah Semen Padang. Slide Presentasi.
Semen Padang. 2016. Penyempurnaan Struktur Organisasi dan Alih Tugas
Karyawan Eselon 1,2 & 3 PT Semen Padang. Slide Presentasi.
Suharto. 2002. Diktat Training Operasi Pembakaran Di Kiln Indarung V. Padang:
Biro Produksi V PT. Semen Padang.

| 97
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

| 98
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

| 99
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
5 FEBRUARI 2018 – 16 MARET 2018

| 100
LAPORAN KERJA PRAKTEK
PT. SEMEN PADANG
BIRO PRODUKSI V
13 MARET – 28 APRIL 2017

| 101