Anda di halaman 1dari 20

1

I. KONSEP TEORI KANKER PROSTAT


A. Anatomi dan fisiologi Prostat
Prostat adalah organ genitalia pria yang terletak di bawah dari buli-buli, di
depan rektum dan membungkus uretra posterior. Bentuknya seperti buah kemiri
dengan ukuran 4x3x2,5 cm dan beratnya kurang lebih 20 gram (Purnomo, 2012).
Prostat memiliki kapsula fibrosa yang padat dan dilapisi oleh jaringan ikat
prostat sebagai bagian fascia pelvis visceralis. Pada bagian superior dari prostat
berhubungan dengan vesika urinaria, sedangkan bagian inferior bersandar pada
diafragma urogenital. Permukaan ventral prostat terpisah dari simpisis pubis oleh
lemak retroperitoneal dalam spatium retropubicum dan permukaan dorsal berbatas
pada ampulla recti (Moore & Agur, 2002).
Kelenjar prostat terdiri atas jaringan kelenjar dinding uretra yang mulai
menonjol pada masa pubertas. Biasanya kelenjar prostat dapat tumbuh seumur
hidup. Secara anatomi, prostat berhubungan erat dengan kandung kemih, uretra, vas
deferens, dan vesikula seminalis. Prostat terletak di atas diafragma panggul
sehingga uretra terfiksasi pada diafragma tersebut, dapat terobek bersama
diafragma bila terjadi cedera. Prostat dapat diraba pada pemeriksaan colok dubur
(Sjamsuhidajat dkk., 2012).
Selain mengandung jaringan kelenjar, kelenjar prostat mengandung cukup
banyak jaringan fibrosa dan jaringan otot polos. Kelenjar ini ditembus oleh uretra
dan kedua duktus ejakulatorius, dan dikelilingi oleh suatu pleksus vena. Kelenjar
limfe regionalnya ialah kelenjar limfe hipogastrik, sacral, obturator, dan iliaka
eksterna (Sjamsuhidajat dkk., 2012).
Arteri-arteri untuk prostat terutama berasal dari arteria vesicalis inferior
dan arteria rectalis media, cabang arteria iliaca interna. Vena-vena bergabung
membentuk plexus venosus prostaticus sekeliling sisi-sisi dan alas prostat. Plexus
venosus prostaticus yang terletak antara kapsula fibrosa dan sarung prostat,
ditampung oleh vena iliaka interna. Plexus venosus prostaticus juga berhubungan
dengan plexus venosus vesicalis dan plexus venosi vertebrales. Pembuluh limfe
terutama berakhir pada nodi lymphoidei iliaci interni dan nodi lymphoidei externi
(Moore & Agur, 2002).
2

Kelenjar prostat menyekresi cairan encer, seperti susu, yang mengandung


kalsium, ion sitrat, ion fosfat, enzim pembekuan, dan profibrinolisin. Selama
pengisian, simpai kelenjar prostat berkontraksi sejalan dengan kontraksi vas
deferens sehingga cairan encer seperti susu yang dikeluarkan oleh kelenjar prostat
menambah jumlah semen lebih banyak lagi. Sifat cairan prostat yang sedikit basa
mungkin penting untuk keberhasilan fertilisasi ovum, karena cairan vas deferens
relatif asam akibat adanya asam sitrat dan hasil akhir metabolisme sperma, dan
sebagai akibatnya, akan menghambat fertilisasi sperma. Selain itu, sekret vagina
bersifat asam (pH 3,5−4). Sperma tidak dapat bergerak optimal sampai pH
sekitarnya meningkat menjadi 6−6,5. Akibatnya, cairan prostat yang sedikit basa
mungkin dapat menetralkan sifat asam cairan seminalis lainnya selama ejakulasi,
dan juga meningkatkan motilitas dan fertilitas sperma (Guyton & Hall, 2008;
Sherwood, 2011).

B. Definisi Kanker Prostat

Kelenjar prostat adalah organ yang ditemukan hanya pada pria, yang berarti
bahwa orang hanya pria yang dapat terkena kanker prostat. Kanker terjadi ketika
sel-sel normal mulai tumbuh dan berkembang tanpa kontrol normal mereka. Setelah
sel-sel mengalami konversi, mereka berkembang biak dan membentuk suatu
massa/benjolan yang disebut tumor. Karena pertumbuhan yang tidak terkendali
mereka, tumor dapat menyerang jaringan sekitarnya dan mencapai organ-organ lain
melalui aliran darah. Inilah yang disebut tumor ganas ( kanker). Jaringan kanker
menginvasi jaringan sekitar mereka dan mengambil oksigen dan nutrisi yang
mereka butuhkan untuk bertahan. Hampir semua kanker prostat adalah
adenokarsinoma dari prostat, yang berarti bahwa mereka berasal dari sel sekresi
kelenjar prostat.

Kanker prostat adalah tumor ganas yang tumbuh pada prostat, kelenjar
seukuran kacang walnut dibawah kandung kemih pria yang fungsinya
memproduksi sperma. Sebagian besar kanker prostat tumbuh sangat lambat namun
merupakan kanker ganas, dan kanker dapat menyebar ke bagian tubuh lain,
khususnya tulang dan kelenjar getah bening.Menurut laporan interim Singapore
Cancer Registry, periode 2006-2010, kanker prostat merupakan kanker paling
3

umum ke-3 untuk pria di Singapura, dengan lebih dari 500 kasus terdiagnosa setiap
tahun dalam kurun waktu lima tahun belakangan ini.

C. Stadium dan Klasifikasi

1. Derajat keganasan
Derajat Adenokarsinoma prostat dengan sistem skor Gleason (modifikasi).
Skor Gleason adalah salah satu parameter yang memperkirakan adanya risiko
rekurensi setelah prostatektomi. Skor Gleason adalah penjumlahan dari derajat
Gleason (Gleason grade) yang paling dominan dan kedua yang paling dominan.
Pengelompokan skor Gleason terdiri dari Diferensiasi baik ≤ 6, sedang/moderat 7
dan buruk (8-10).

2. Stadium
Sistem staging yang digunakan untuk Kanker prostat adalah menurut
AJCC(American Joint Committee on Cancer)2010 / sistem TNM 2009.

Tumor primer (T)


Tx Tumor primer tidak dapat dinilai T0 Tumor primer tak dapat
ditemukan
T1 Tumor yang tak dapat dipalpasi atau dilihat pada pemeriksaan pencitraan
(tidak terdeteksi secara klinis)
T1a Tumor ditemukan secara kebetulan (PA), < 5 % dari jaringan yang
direseksi T1b Tumor ditemukan secara kebetulan (PA), > 5 % dari jaringan
yang direseksi T1c Tumor diidentifikasi dengan pemeriksaan biopsi jarum
T2 Tumor terbatas di prostat *
T2a Tumor mengenai setengah atau kurang dari satu lobus
T2b Tumor mengenai lebih setengah dari satu lobus, tetapi tidak
mengenai kedua lobus
T2c Tumor mengenai kedua lobus T3 Tumor menembus kapsul **
T3a Ekstensi ekstrakapsuler (unilateral atau bilateral)
T3b Tumor mengenai vesicula seminalis
T4 Tumor terfiksasi atau mengenai struktur yang berdekatan, selain vesicula
seminalis, seperti leher kandung kemih, sfingter eksterna rektum dan atau
dinding pelvis.
Kelenjar Gatah Bening (KGB) regional (N)
Nx KGB regional tak dapat dinilai
N0 Tak ada penyebaran KGB regional N1 Terdapat penyebaran KGB
regional
4

Metastasis Jauh (M)***


Mx Metastasis jauh tak dapat dinilai M0 Tak ada metastasis jauh
M1 Terdapat Metastasis jauh
M1a Metastasis KGB Non Regional M1b Metastasis ke tulang
M1c Metastasis ke organ lain

Catatan :

* Tumor ditemukan pada satu atau dua lobus dengan biopsi jarum akan
tetapi tidak teraba atau terlihat dengan pencitraan yang ada
diklasifikasikan sebagai T1c.

** Tumor yang menginvasi apeks prostat atau ke kapsul akan


tetapi tidak menembus, tidak diklasifikasikan sebagai T3 akan tetapi T2.

*** Bila lebih dari satu tempat metastasis, dikategorikan sebagai


metastasis paling tinggi stadiumnya; M1c adalah tingkatan tertinggi.

3. Pengelompokan Stadium (AJCC 2010)2


Stadium I T1a-c N0 N0 M0 PSA < 10 Skor Gleason ≤ 6 Skor Gleason ≤
Stadium IIA T2a T1- N0 N0 M0 PSA < 10 PSA 6 Skor Gleason X Skor Gleason
2a N0 N0 M0 X PSA < 20 7 Skor Gleason ≤ 6 Skor Gleason
T1a-c N0 N0 M0 PSA ≥ 10 < 20 ≤ 7 Skor Gleason ≤ 7 Skor
T1a-c M0 PSA < 20 Gleason X
T2a M0 PSA < 20 PSA
T2b M0 X
T2b M0
Stadium IIB T2c N0 N0 M0 Semua PSA Semua Skor Gleason Semua Skor
T1-2 N0 M0 PSA ≥ 20 Gleason Skor Gleason ≥ 8
T1-2 N0 M0 Semua PSA Semua Skor Gleason
Stadium III T3a-b M0 Semua PSA
Stadium IV T4 N0 N1 M0 Semua PSA Semua Skor Gleason
Tiap T Tiap N M0 Semua PSA Semua Skor Gleason Semua
Tiap T M1 Semua PSA Skor Gleason
5

Penjelasan

a. Stadium T
Penentuan stadium klinis cT dapat ditentukan dengan colok dubur.3 Bila
diperlukan dapat dilakukan pemeriksaan CT/MRI.

b. Stadium N
Penentuan stadium N hanya dikerjakan bila akan berpengaruh terhadap
keputusan terapi. Hal ini biasanya pada kasus penderita yang direncanakan terapi
kuratif. Cara terbaik untuk menentukan stadium N adalah dengan limfadenektomi,
teknik yang digunakan adalah operasi terbuka ataupun laparoskopik.

c. Stadium M
Metode sidik tulang paling sensitif untuk mendiagnosis metastasis tulang,
bila tidak ada fasilitas pemerikaan tsb dapat dicari dengan penilaian klinis, CT Scan,
alkali fosfatase serum dan bone survey. Peningkatan kadar alkali fosfatase
mengindikasikan adanya metastasis tulang pada 70% penderita. Pengukuran alkali
fosfatase dan PSA secara bersamaan akan meningkatkan efektivitas penilaian
klinis sebesar 98%. Selain ke tulang, Kanker prostat dapat bermetastasis ke organ
lain umumnya ke KGB jauh, paru-paru, hepar, otak dan kulit. Pemeriksaan fisik,
foto thoraks, ultrasonografi, CT dan MRI adalah metode yang digunakan, terutama
bila gejala menunjukkan adanya kemungkinan metastasis ke jaringan lunak.
Pemeriksaan sidik tulang tidak perlu pada penderita asimptomatik, PSA kurang
dari 20 ng/mL dan berdiferensiasi baik atau moderat.

Simpulan penentuan stadium


6

Stadium lokal (stadium T) dari Kanker prostat didasarkan pada penemuan colok dubur dan
mungkin CT/MRI. Informasi selanjutnya didapatkan dari jumlah dan lokasi positif pada biopsi
prostat, derajat tumor dan kadar PSA.
MRI menunjukkan tingkat akurasi yang lebih baik.
Stadium N hanya penting diketahui bila akan direncanakan terapi kuratif. Limfadenektomi
merupakan baku emas untuk penentuan stadium N.
Penentuan metastasis ke tulang (stadium M) paling baik dengan sidik tulang. Hal ini tidak
diindikasikan pada penderita yang asimtomatik dengan PSA < 20 ng/mL pada tumor yang
berdiferensiasi baik atau moderat dengan asumsi penderita tidak ada metastasis tulang.

D. Epidemiologi Kanker Prostat

Di Amerika Serikat, kanker prostat merupakan keganasan pada pria dan


menduduki peringkat kedua setelah kanker paru-paru. Setiap tahun sekitar
200.000 kasus baru yang didiagnosis dan sekitar 30.000 orang meninggal akibat
Kanker Prostat. Kanker prostat juga merupakan penyebab kematian kedua akibat
kanker pada pria setelah kanker paru-paru. Kanker prostat terjadi pada 1 dari
6 orang. Kasus meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir dan tingkat
kematian menurun, yang mungkin karena skrining meningkat dan deteksi dini.
Risiko terkena kanker prostat meningkat secara signifikan dengan usia, dan 60%
dari kasus baru didiagnosa terjadi pada pria di atas usia 70.

E. Etiologi Kanker Prostat


Sebagian besar kanker prostat terjadi tanpa penyebab yang jelas. Riwayat
keluarga, paparan radiasi, dan polutan lingkungan diduga dapat berperan dalam
penyakit ini,(Davery,2002).
Penelitian menunjukkan bahwa, seperti kanker lainnya, kanker prostat
adalah penyakit multifaktorial yang merupakan kombinasi keturunan, etnis,
hormon, diet dan lingkungan. Tidak dapat dipastikan penyebabnya namun ada
beberapa hal yang dapat menjadi factor risiko seseorang terkena kanker prostat.
Faktor-faktor risiko tersebut adalah :
1. Umur –> risiko terkena kanker prostat meningkat di usia > 50 tahun
7

2. Etnis –> pria Amerika-Afrika berisiko 1,5 – 2 kali lebih besar untuk terkena
kanker prostat dibandingkan ras kulit putih
3. Faktor keturunan –>Pria dengan riwayat kanker prostat dalam keluarga
mereka, berisiko 2 – 3 kali lebih besar
4. Kebiasaan Makan –> diet tinggi lemak telah dikaitkan dengan peningkatan
risiko kanker prostat.
5. Agen kimia –>paparan terhadap bahan kimia seperti cadmium telah terlibat
dalam perkembangan kanker prostat.

F. Tanda dan Gejala Kanker Prostat

Kebanyakan pria dengan kanker prostat tidak memiliki gejala dan hal ini
terutama terjadi pada tahap awal penyakit ini. Ini berarti bahwa kanker prostat
banyak yang tidak terdeteksi sampai kanker telah menyebar ke luar prostat. Di mana
terdapat tanda-tanda dan gejala, karakteristik mereka tergantung pada seberapa
berat kanker dan penyebaran kanker . Jika kanker terdeteksi dalam tahap awal,
kebanyakan pria tidak akan mengalami gejala apapun.

Gejala biasanya muncul ketika tumor penyebabkan obstruksi


(penyumbatan) kemih di leher kandung kemih atau uretra. Tanda dan gejalanya
adalah :

1. Sering BAK terutama pada malam hari


2. Kesulitan dalam memulai dan menghentikan aliran kemih
3. Nyeri buang air kecil
4. lemah atau terganggu aliran urin (retensi urin)
5. perasaan tidak lampias ketika berkemih. Biasanya keluhan ini juga ditemui
pada pembesaran prostat jinak atau infeksi prostat.

Tanda dan gejala saat mencapai stadium lanjut yaitu :


1. Adanya darah dalam urine
2. Sakit saat ejakulasi
3. Rasa terbakar atau nyeri buang air kecil
8

4. Disfungsi ereksi.
5. Jika kanker prostat telah menyebar ke kelenjar getah bening yang terletak
di panggul, dapat menyebabkan rasa sakit atau kekakuan pada punggung
bawah, pinggul atau paha atas dan tidak nyaman di daerah panggul.
6. Fungsi kandung kemih atas akan rusak.
7. Sering mengalami infeksi kemih berulang.
8. Kanker prostat lanjut yang telah menyebar ke tulang dapat menyebabkan
nyeri tulang, terutama di pinggul dan tulang belakang, patah tulang,
melemahnya tulang dan kompresi tulang belakang.

G. Patofisiologi Kanker Prostat


Penyebab kanker prostat tidak diketahui. Sama dengan hiperplasia prostat nodular,
androgen dipercaya memainkan peranan dalam patogenesis. Sembilan puluh lima
persen dari seluruh kanker prostat adalah adenokarsinoma, neoplasma sisanya
adalah karsinoma sel transisional, karsinoma sel skuamosa, dan sarkoma.
Adenokarsinoma prostat seringkali tumbuh dalam organ perifer atau dalam jaringan
periuretra tempat hipertrofi prostat jinak terjadi. Tidak ada hubungan antara
hiperlasia dengan perkembangan ke arah keganasan dalam prostat.
Dengan berkembangnya tumor dapat terjadi perluasan langsung ke uretra, leher
kandung kemih, dan vesikula seminalis. Kanker prostat dapat juga menyebabr
melalui jalur limfatik atau hematogen. Bagian yang paling sering terkena metastasis
adalah kelenjar limfe pelvis dan kerangka. Metastasis kerangka secara berurut
adalah tulang-tulang pelvis , vertebrae lumbalis, femur, vertebrae torasika, dan
kosta. Metastasis organ timbil setelahnya dan seringkali pada hati dan paru-paru.
Perjalanan penyakit kanker prostat tidak dapat diperkirakan. Kanker dapat
berkembang sangat lambat pada beberapa laki-laki dan dapat tumbuh dan
bermetastasis secara cepat dan menyebabkan kematian dalam perjalan penyakit
pada laki-laki lain. Oleh karena itu kebanyakan dokter mengobati pasien-pasien
dengan kanker prostat secara agresif.
Gejala awal tidak muncul atau tidak spesifik pada perjalanan penyakit, dan pria
dngan penyakit yang sudah lanjut dapat juga tanpa gejala. Gejala yang paling sering
adalah disuria, kesulitan dalam menahan kemih, sering berkemih, retensio urine,
9

nyeri pinggang dan hematuria, dengan obstruksi yang meningkat pada pasien dapat
timbl uremia. Tanda-tanda keadaan patologis paling sering ditemukan dalam
pemeriksaan rutin rektal toucher.
Skrining kanker prostat menggunakan pemeriksaan rektal toucher (DRE) dan
antigen spesifik prostat (PSA) serum, kombinasi keduanya digunakan untuk
mendeteksi lebih dari 60% kasus saat timor tersebut masih terbatas. PSA adalah
suatu protease serin yang dihasilkan oleh epitel prostat dan kelenjar periuretra pada
pria. PSA adalah tes tunggal untuk kanker yang mempunyai nilai prediksi yang
paling tinggi. Nilai normal PSSA adalah <4 ng/ml; kadar 4 hingga 10 ng/ml adalah
samar-samar dan dapat timbul pada keadaan normal atau seringkali timbul pada
keadaan prostatis hiperplasia prostat jinak; nilai >10 ng/ml sangat berkaitan dengan
diagnosis adenokarsinoma prostat. The american cancer society menyarankan DRE
setiap tahun untuk semua pria yang berusia di atas 40 tahun. Pengukuran kadar PSA
tahunan juga disarankan dimulai pada pria usia 40 tahun keturunan Afrika amerika
atau degan keluarga uang memiliki riwayat kanker prostat, dan semua pria yang
berisa lebih dari 50 tahun. Bila DRE ternyata abnormal (palpasi keras, nodul
iregular) atau bila PSA meningkat (>10 ng/ml) diduga terdapat kanker prostat,
ultrasonografi transrektal (TRUS) digunakan untuk mendeteksi area yang dicurigai
dan untuk mengarahkan biopsi jarum. Biopsi prostat penting untuk menentukan
diagnosis.

H. WOC
I. Pemeriksaan Penunjang

Kanker prostat stadium awal hampir selalu tanpa gejala. Kecurigaan


akan meningkat dengan adanya gejala lain seperti: nyeri tulang, fraktur
patologis ataupun penekanan sumsum tulang.
Untuk itu dianjurkan pemeriksaan PSA usia 50 tahun, sedangkan yang
mempunyai riwayat keluarga dianjurkan untuk pemeriksaan PSA lebih awal
yaitu 40 tahun.
Pemeriksaan utama dalam menegakkan Kanker prostat adalah
anamnesis perjalanan penyakit, pemeriksaan colok dubur, PSA serum serta
10

ultrasonografi transrektal/ transabdominal. Diagnosa pasti didapatkan


dari hasil biopsi prostat atau spesimen operasi berupa adenokarsinoma.

Selain itu pemeriksaan histopatologis akan menentukan derajat dan


penyebaran tumor.

2.1 Pemeriksaan colok dubur


Kebanyakan Kanker prostat terletak di zona perifer prostat dan dapat
dideteksi dengan colok dubur jika volumenya sudah > 0.2 ml. Jika terdapat
kecurigaan dari colok dubur berupa: nodul keras, asimetrik, berbenjol-
benjol, maka kecurigaan tersebut dapat menjadi indikasi biopsi prostat.
Delapan belas persen dari seluruh penderita Kanker prostat terdeteksi hanya
dari colok dubur saja, dibandingkan dengan kadar PSA. Penderita dengan
kecurigaan pada colok dubur dengan disertai kadar PSA > 2ng/ml mempunyai
nilai prediksi 5-30%.1,2

2.2 Prostate-specific antigen (PSA)


Pemeriksaan kadar PSA telah mengubah kriteria diagnosis dari Kanker
prostat.3 PSA adalah serine-kalikrein protease yang hampir seluruhnya
diproduksi oleh sel epitel prostat. Pada prakteknya PSA adalah organ spesifik
namun bukan kanker spesifik. Maka itu peningkatan kadar PSA juga
dijumpai pada BPH, prostatitis, dan keadaan non-maligna lainnya. Kadar
PSA secara tunggal adalah variabel yang paling bermakna dibandingkan
colok dubur atau TRUS.4 Sampai saat ini belum ada persetujuan mengenai
nilai standar secara internasional. Kadar PSA adalah parameter berkelanjutan
semakin tinggi kadarnya, semakin tinggi pula kecurigaan adanya Kanker
prostat. Nilai baku PSA di Indonesia saat ini yang dipakai adalah 4ng/ml.

2.3 Transrectal ultrasonography (TRUS) dan biopi prostat


Gambaran klasik hipoekhoik adanya zona peripheral prostat tidak akan selalu
terlihat.5 Gray- scale dari TRUS tidak dapat mendeteksi area Kanker prostat
secara adekuat. Maka itu biopsi sistematis tidak perlu digantikan dengan
biopsi area yang dicurigai. Namun biopsi daerah yang dicurigai sebagai
11

tambahan dapat menjadi informasi yang berguna.

2.3.1 Indikasi biopsi


Tindakan biopsi prostat sebaiknya ditentukan berdasarkan kadar PSA,
kecurigaan pada pemeriksaan colok dubur atau temuan metastasis yang
diduga dari Kanker prostat.

Sangat dianjurkan bila biopsi prostat dengan guided TRUS,6,7 bila


tidak mempunyai TRUS dapat dilakukan biopsi transrektal menggunakan
jarum trucut dengan bimbingan jari. Untuk melakukan biopsi, lokasi untuk
mengambil sampel harus diarahkan ke lateral.
Jumlah Core dianjurkan sebanyak 10-12.8,9,10 Core tambahan dapat diambil
dari daerah yang dicurigai pada colok dubur atau TRUS.
Tingkat komplikasi biopsi prostat rendah. Komplikasi minor termasuk
makrohematuria dan hematospermia. Infeksi berat setelah prosedur
dilaporkan <1 % kasus.11

2.3.2 Biopsi Ulang


Indikasi Biopsi Ulang :
 PSA yang meningkat dan atau menetap pada pemeriksaan ulang
setelah 6 bulan12
 Kecurigaan dari colok dubur
 Proliferasi sel asinar kecil yang atipik (ASAP)
 High Grade Prostatic intraepithelial (PIN) lebih dari satu core13
Penentuan waktu yang optimal untuk biopsi ulang adalah 3-6 bulan.14

2.3.3 TURP Diagnostik


Penggunaan TURP diagnostik untuk biopsi adalah tidak dianjurkan.
Tingkat deteksinya tidak lebih baik dari 8% dan merupakan prosedur yang
tidak adekuat untuk mendeteksi kanker.
12

2.3.4 Antibiotik
Penggunaan antibiotik oral atau intravena pra-biopsi merupakan
keharusan dengan menggunakkan golongan Kuinolon atau Sefalosporin.

2.3.5 Anestesi
Pemberian anestesi sangat dianjurkan. Pemilihan jenis anestesi berupa
obat oral, supposutoria, anestesi umum ataupun anestesi blok peri-prostatik
dengan guided TRUS tergantung dari pilihan operator, fasilitas dan
pilihan/kondisi penderita.
Pemberian gel Lidokain 2% sebelum dimasukkannya probe akan
menurunkan rasa nyeri di daerah sfingter ani penderita.

2.4 Simpulan panduan diagnosis Kanker prostat

Temuan colok dubur yang tidak normal atau peningkatan serum PSA dapat mengindikasikan
Kanker prostat.
Diagnosis dari Kanker prostat bergantung pada konfirmasi histopatologi.
Biopsi guided Ultrasonografi transrektal (TRUS) adalah metode yang direkomendasikan,
minimal 10-12 core, diarahkan ke lateral.
Biopsi ulang dikerjakan pada kasus yang tetap dicurigai Kanker prostat (colok dubur tidak
normal, peningkatan PSA atau penemuan histopatologi yang diduga keganasan pada biopsi
awal).
Anastesi dalam berbagai cara sangat dianjurkan.

J. Penatalaksanaan Kanker Prostat

Pengobatan Kanker prostat ditentukan berdasarkan beberapa faktor


yaitu grading tumor, staging, ko-morbiditas, preferensi penderita, usia
harapan hidup saat diagnosis.
Mengingat data untuk menentukkan usia harapan hidup saat diagnosis belum
13

ada di Indonesia, maka digunakan batasan usia sebagai salah satu parameter
untuk menentukan pilihan terapi.

4.1 Penatalaksanaan kanker terlokalisir atau locally advanced.

Usia
Risiko
>80 tahun 71-80 tahun ≤ 70 tahun
Rendah: 1. Monitoring aktif 1. Monitoring aktif 1. Prostatektomi rad
T: 1a atau 1c dan 2. EBRT atau Brakhiterapi 2. EBRT atau Brakh
Gleason:2-5 dan permanen permanen
PSA: <10 dan 3. Terapi investigasional 3. Monitoring aktif
Temuan biopsi: 4. Terapi investigas
Unilateral <50%
Sedang: 1. Monitoring aktif 1. EBRT, Brakhiterapi 1. Prostatektomi rad
T: 1b, 2a atau 2. EBRT, permanen atau kombinasi 2. EBRT, Brakhiter
Gleason: 6, atau Brakhiterapi 2. Prostatektomi radikal permanen atau k
3+4 atau permanen atau 3. Terapi investigasional 3. Terapi investigas
PSA: < 10 atau kombinasi
Temuan biopsi: 3. Terapi
Bilateral, <50% investigasional
Tinggi: 1. Terapi hormonal 1. EBRT+terapi hormonal 1. EBRT+ terapi ho
T: 2b, 3a, 3b atau 2. EBRT+terapi (2-3 thn) (2-3 thn)
Gleason: ≥ 4+3 hormonal 2. Terapi hormonal 2. Prostatektomi rad
atau PSA: 10-20 3. Terapi 3. Prostatektomi radikal + diseksi KGB pelv
atau Temuan diseksi KGB pelvis 3. Terapi investigas
investigasional
biopsi: > 50% 4. Terapi investigasional 4. Terapi hormonal
perineural, duktal
Sangat tinggi: 1. Terapi hormonal 1. Terapi hormonal 1. EBRT+ terapi ho
T: 4 atau Gleason: 2. EBRT+ terapi 2. EBRT+ terapi hormonal 2. Terapi hormonal
≥ 8, atau PSA: > hormonal 3. Sistemik terapi non 3. Terapi sistemik+t
20, atau Temuan 3. Terapi hormonal (kemoterapi) hormonal
biopsi: investigasional 4. Terapi multimoda
14

limfovaskuler, investigasional
neuroendokrin

Keterangan :
1. Monitoring aktif dikontraindikasikan pada pasien yang memiliki gejala.
Juga tidak direkomendasikan pada pasien dengan risiko sedang dan
tinggi dengan usia ≤ 70 tahun.
2. Diseksi KGB pelvis tidak dilakukan bila probabilitas adanya keterlibatan
kelenjar (staging nomogram) < 3%.
3. Terdapat perubahan untuk rekomendasi radikal prostatektomi untuk
pasien risiko tinggi dan sangat tinggi sebagai bagian program terapi
multimodalitas termasuk terapi hormonal, radioterapi pasca operasi dan
bila memungkinkan kemoterapi
15

4.2 Penatalaksanaan kanker yang telah metastasis

Androgen Deprivation Therapy(ADT) merupakan baku emas terapi Kanker


prostat lanjut setelah penemuan Huggins dan Hodges di tahun 1941.Terapi ini dapat
berupa kastrasi dengan obat atau pembedahan (orkhidektomi).2 Tingkat kastrasi
yang diinginkan adalah kadar testosteron < 20ng/dL.
Pemberian Lutenising Hormone Releasing-Hormone(LHRH) agonis seharusnya
disertai

pemberian anti-androgen untuk mencegah flare-up sedikitnya 14 hari.


Bermacam-macam strategi yang digunakan dalam penggunaan ADT ini,
menurut jenis blokadenya dapat komplit (Complete Androgen Blokade/CAB)
LHRH agonis ditambah anti-androgen ataupun tunggal (hanya LHRH agonis saja).
Menurut lama waktu pemberian terbagi atas: kontinyu dan intermiten. Menurut
awal waktu pemberian: segera (immediate) atau ditunda (deferred).

Berdasarkan hasil studi review maupun meta-analisis keuntungan blokade


komplit (CAB) terhadap terapi tunggal hanya < 5%.3,4,5,6,7 Pemberian CAB jangka
panjang akan menginduksi terjadinya sel independen androgen, dalam jangka waktu
rata-rata 2 tahun.8 Oleh karena itu disarankan penghentian pemberian obat secara
berkala (intermiten) yang dibuktikan dari beberapa penelitian penting bahwa
hasilnya tidak berbeda.9,10,11,12
Pemberian ADT segera akan menurunkan progresi penyakit dan komplikasi
secara bermakna dibandingkan ditunda. Tetapi hal ini tidak meningkatkan
cancer-specific survival.13,14,15,16,17

4.3 Kanker Prostat dengan Kastrasi dan Hormon Refrakter (Castration and
Hormone Refractory Prostate Cancer / CRPC-HRPC)

Timbulnya resistensi terhadap terapi hormonal merupakan isu yang penting


pada pemberian terapi hormonal. Mekanisme resistensi terhadap terapi hormonal
masih belum diketahui secara pasti. Kanker prostat saat ini memiliki sel-sel yang
bersifat heterogen (androgen dependen dan androgen independen).
Berbagai istilah yang berbeda telah digunakan untuk menggambarkan
16

Kanker prostat yang kambuh setelah terapi ablasi hormonal awal, termasuk HRPC,
androgen-independen kanker dan hormon-independen kanker.18
Adalah penting untuk membedakan CRPC dari HRPC. CRPC masih responsif
terhadap terapi hormon lini kedua, termasuk penghentian anti-androgen,
estrogen dan kortikosteroid. Sedangkan HRPC adalah resisten terhadap semua
tindakan hormonal.

Untuk menegakkan diagnosis kanker prostat refrakter hormon, harus


memenuhi kriteria di bawah ini:
Peningkatan PSA atau peningkatan lesi tulang atau jaringan lunak
walaupun sudah diberikan terapi hormonal sekunder dan Antiandrogen
withdrawal minimal 4 minggu dimana kadar testosteron serum telah
mencapai ambang kastrasi (< 20ng/dL).
17

Penatalaksanaan Kemoterapi (Cytotoxic Therapy)

1. Pada penderita yang hanya mengalami peningkatan PSA, maka 2 kali


peningkatan PSA berturut-turut di atas batas kadar nadir yang sebelumnya harus
diketahui.
2. Sebelum pengobatan, kadar PSA serum harus di atas > 5 ng/mL untuk
memastikan interpretasi efek pengobatan secara pasti.
3. Keuntungan dan efek samping pengobatan sitotoksik harus didiskusikan dengan
setiap individu penderita.
4. Pada penderita dengen metastasis HRPC, dan kandidat untuk terapi sitotoksik,
docetaxel 75 mg/m2 + Prednison 3x 10mg/hari dengan interval 3 minggu sampai
6 siklus. Terapi ini memberikan keuntungan survival yang bermakna.19,20
18
19

K. Komplikasi Kanker Prostat


Komplikasi dari kanker prostat dapat terjadi dan biasanya disebabkan oleh
kanker itu sendiri atau karena pengobatan. Inkontinensia urin dan
disfungsi ereksi adalah yang paling ditakuti orang yang memiliki kanker
prostat. Namun ada terapi untuk membantu meringankan atau mengobati
kondisi ini. Komplikasi dari kanker prostat:
1. Kanker menyebar (metastasis), kanker prostat dapat bermetastasis ke
organ di dekatnya, tulang, paru-paru atau kelenjar getah bening.
Pengobatan untuk kanker prostat yang telah menyebar dapat dilakukan
dengan terapi hormon, terapi radiasi dan kemoterapi.
2. Nyeri sekali. kanker telah mencapai tulang, Pengobatan ditujukan
untuk terapikanker sering dapat menghilangkan rasa nyeri yang
signifikan.
3. Kencing ngompol (inkontinensia), baik kanker prostat dan
perawatannya dapat menyebabkan inkontinensia. Pengobatan tergantung
pada jenis inkontinensia, Perawatan termasuk modifikasi perilaku, latihan
untuk memperkuat otot panggul, obat-obatan dan kateter.
4. Disfungsi ereksi atau impotensi, disfungsi ereksi dapat diakibatkan
kanker prostat atau terapinya , termasuk perawatan bedah, radiasi atau
hormon. Beberapa obat dengan alat vakum yang akan membantu
mengatasi disfungsi ereksi ini.
5. Depresi,banyak orang mungkin merasa tertekan setelah didiagnosa
menderita kanker prostat atau setelah mencoba untuk mengatasi efek
samping pengobatan. Perawatan seperti konseling atau antidepresan dapat
membuat perbedaan yang signifikan.

II. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA KANKER PROSTAT


20

Daftar Pustaka

1. Umbas, Rainy, dkk. 2011. Panduan Penanganan Kanker Prostat. Jakarta


2. Davey, Patrick.2002.At A Glance Medicine.Jakarta:Penerbit Erlangga.
3. Dharmais.2016.Kanker Prostat.tersedia online di
http://dharmais.co.id/kanker-prostat/ diakses pada 26 Maret 2018 pada
07.30 Wita
4. PCC.apa itu kanker prostat ?. tersedia online di
https://id.parkwaycancercentre.com/informasi-kanker/jenis-kanker/apa-itu-
kanker-prostat/ diakses pada 26 Maret 2018, Pukul 08.30 Wita
5. Djuwantoro,Dwi.Kanker Prostat. Tersedia online di
http://pantirapih.or.id/index.php/artikel/penyakit-dalam/237-kanker-prostat
diakses pada 26 Maret 2018, Pukul 08.45 Wita
6.