Anda di halaman 1dari 26

PENDAHULUAN

Salah satu kriteria dalam perancangan balok baja adalah tekuk torsi lateral.
Tekuk torsi lateral adalah gejala dimana pada suatu balok yang dibebani secara
transversal, pada suatu level pembebanan tertentu tiba tiba balok tersebut mengalami
perpindahan lateral disertai puntir sebelum tercapainya momen plastis. Besarnya
momen lentur saat terjadinya tekuk torsi lateral tersebut disebut momen kritis. Momen
kritis inilah yang dijadikan limit state dalam perancangan balok baja.
Momen kritis dibedakan menjadi momen kritis elastis dan momen kritis
inelastis. Bila akibat momen kritis tegangan yang terjadi pada balok besarnya lebih
kecil dari tegangan leleh maka momen kritis tersebut disebut momen kritis elastis,
tetapi bila akibat momen kritis tegangan pada balok sudah ada yang mencapai tegangan
leleh, momen kritisnya disebut momen kritis inelastis. Dalam metode disain yang ada
sekarang, kurva momen kritis yang digunakan untuk disain diperoleh dari kurva
momen kritis elastis yang kemudian dipetakan menjadi kurva momen kritis untuk
disain yang mencakup momen kritis elastis dan inelastis. Oleh karena itu studi tentang
momen kritis biasanya dilakukan untuk momen kritis elastis.
Besarnya momen kritis elastis ditentukan oleh parameter besaran elastis
(modulus elastisitas dan modulus geser), besaran penampang (momen inersia terhadap
sumbu lemah, konstanta torsi, konstanta warping), panjang balok, kondisi batas dan
distribusi momen lentur. Dalam AISC Specification for Structural Steel Building 2010
maupun sebelumnya persamaan untuk menghitung momen kritis diperoleh dengan
menganggap kondisi batas adalah pada ujung balok perpindahan lateral dan rotasi
puntir ditahan, rotasi lentur diarah sumbu lemah tidak ditahan, dan warping tidak
ditahan. Kondisi batas ini bila diperhitungkan akan mempengaruhi besarnya momen
kritis elastic secara cukup signifikan. Dalam kenyataan, kondisi ujung tersebut memang
rotasi terhadap sumbu lemah dan warping tidak sungguh sungguh bebas sehingga
sebenarnya momen kritis akan lebih besar dari pada momen kritis yang dihitung.

1
Kadang kadang dapat juga kondisi batas secara sengaja dibuat (direkayasa) misalnya
warping dikekang dengan menggunakan pengaku.
1. TORSI MURNI PADA PENAMPANG HOMOGEN

Momen torsi, T yang bekerja pada batang pejal homogen. Asumsikan tak ada pemilinan
keluar bidang.

Kelengkungan torsi, , diekspresikan sebagai: (1)

Dan regangan geser, , dari suatu elemen sejarak r dari pusat adalah: (2)

(3)
Dari hukum Hooke, tegangan geser akibat rorsi:

Torsi T adalah sedemikian sehingga: (4)

Mengintegralkan persamaan 4 maka akan diperoleh:

Dengan :

G adalah Modulus Geser =

J adalah konstanta torsi, atau momen inersia polar (untuk penampang lingkaran)

2
Tegangan geser, dari persamaan 2 dan 3 adalah: (6)

Dari persamaan 6 dapat disimpulkan bahwa tegangan geser akibat torsi sebanding
dengan jarak titik dari titik pusat torsi.

PENAMPANG LINGKARAN

Perhatikan gambar lingkaran di bawah memiliki jari-jari dan dimana <

Sehingga rumus konstanta torsi ( , atau momen inersia polar untuk penampang
lingkaran adalah :

Jika maka

Maka

Untuk , maka:

Sehingga tegangan geser, adalah

Untuk maka :

3
PENAMPANG PERSEGI

Perhatikan penampang persegi yang mengalami geser akibat torsi, pada gambar
8.2

• Regangan geser,

• Berdasarkan hukum hooke, tegangan geser( ) :

Dari teori elastisitas, terjadi ditengah dari sisi panjang penampang


persegi dan bekerja sejajar sisi panjang tersebut. Besarnya merupakan fungsi dari rasio
b/t dan dirumuskan sebagai berikut :

Dan konstanta torsi penampang persegi adalah :


4
J=

• Besarnya dan tergantung dari rasio dan ditampilkan dalam tabel:

2. PUSAT GESER (SHEAR CENTER)

Gambar dibawah ini adalah ilustrasi pusat geser (shear centre) pada balok. Pada
penampang tak simetrik, pemberian beban dapat meyebabkan terjadinya puntiran.
Dengan menerapkan beban melalui ‘pusat geser’ balok, maka hanya akan
terjadi lentur, tanpa adanya puntir. Pusat geser penampang tak simetris seringkali
terletak diluar penampang.

5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
3. TEGANGAN PUNTIR PADA PROFIL I

Pembebanan pada bidang yangtak melalui pusat geser akan mengakibatkan batang
terpuntir jika tak ditahan oleh pengekang luar. Tegangan puntir akibat torsi terdiri dari
tegangan lentur dan geser yang bukan disebabkan oleh torsi.

Torsi sapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu torsi murni (pure torsion/saintvenant’s
torsion) dan torsi terpilin (warping torsion). Torsi murni mengasumsikan bahwa
penampang melintang yang datar akan tetap datar setelah mengalami torsi dan hanya
terjadi rotasi saja. Penampang bulat adalah satu-satunya keadaan torsi murni. Torsi
terpilin timbul bila flens berpindah secara lateral selama terjadi torsi.

Gambar 8.4 Penampang dengan beban torsi

Torsi Murni (Pure Torsion/Saint-Venant’s Torsion)

Seperti halnya kelengkungan lentur (perubahan kemiringan per satuan panjang) dapat
diekspresikan sebagai M/EI = , yakni momen dibagi kekakuan lentur sama
dengan kelengkungan,makan dalam torsi murni momen M dibagi kekakuan torsi GJ
sama dengan kelengkungan torsi (perubahan sudut puntir per satuan panjang).

15
Torsi Terpilin (Warping)

Sebuah balok yang memikul torsi , maka bagian flens tekan akan melengkung ke
salah satu sisi lateral, sedang flens tarik melengkung ke sisi lateral lainnya. Penampang
pada gambar di bawah ini memperlihatkan balok yang puntirannya ditahan di ujung-
ujung, namun flens bagian atas berdeformasi ke samping (arah lateral) sebesar
Lenturan ini menimbulkan tegangan normal lentur (tarik dan tekan) serta tegangan
geser sepanjang flens.

Secara umum torsi pada balok dianggap sebagai gabungan antara torsi murni dan torsi
terpilin.

Gambar 8.5 Torsi pada profil I

Persamaan differensial untuk torsi pada profil I

8.21

8.22

8.33

16
Contoh soal :

17
18
Tegangan Torsi

19
20
8.37

8.38

Secara ringkas, 3 macam tegangan yang timbul pada profil I akibat torsi adalah:

Contoh soal

21
22
23
24
4. ANALOGI TORSI DENGAN LENTUR

Penyelesaian masalah torsi dengan menggunakan persamaan diferensial,


memakan waktu yang cukup banyak, dan cukup digunakan dalam analisa saja. Untuk
keperluan praktis disain, digunakan analogi antara torsi dan lentur biasa. Misalkan
beban torsi T dalam Gambar 1 dikonversikan menjadi momen kopel PH kali h, maka
gaya PH dapat dianggap sebagai beban lateral yang bekeria pada flens balok.

Gambar 1. Analogi Torsi dan Lentur

Sistem struktur pengganti mempunyai gaya geser konsta sepanjang setengah


bentang balok, padahal distribusi gaya geser yang menimbulkan lenturan lateral
hanyalah akibat warping/pemilinan saja. sehingga struktur pengganti ini akan
menimbulkan gaya lateral yang lebih besar dan akibatnya momen lentur Mf yang
menimbulkan tegangan normal juga lebih besar dari keadaan sebenarnya.

Hasil hitungan dengan memakai metoda analogi lentur memberikan hasil yang
lebih besar, untuk itu dilakukan suatu modifikasi sebagai berikut:

Dari persamaan

dapat dituliskan dalam bentuk:

25
Dengan T/h merupakan beban lateral, dan T/2h adalah gaya geser akibat lentur lateral.
Momen lentur lateral dapat diekspresikan sebagai :

dengan

Persamaan diatas dapat dimodifikasi lagi menjadi bentuk:

Di mana TL/4 mirip dengan momen lentur biasa untuk beban terpusat pada balok
tertumpu sederhana.

Untuk keperluan disain, maka dengan menggunakan persamaan lentur


biaksial dan mengkonversikan momen torsi menjadi sepasang momen lentur lateral
yang bekerja pada masing-masing flens, harus dipenuhi persamaan berikut :

Dengan Mux adalah momen lentur vertikal

Muy adalah momen lentur lateral (akibat torsi) Sx,

Sy adalah tahanan momen terhadap sumbu x dan y

adalah faktor reduksi = 0,90 fy

adalah kuat leleh material

26