Anda di halaman 1dari 4

MUNKAR AS DAN NAKIR AS

By: Dedi Saeful Anwar

Munkar dan Nakīr (‫ )منك يير و نكيي ي‬dalam eskatologi Islam adalah dua malaikat yang
menanyakan atau menguji keyakinan dari orang yang telah mati dialam barzakh.
Malaikat Munkar dan Nakir dalam Islam adalah malaikat yang menguji iman orang
mati di kuburan mereka, walaupun ada referensi tidak ditemukan dalam Al-Qur’an. Banyak
Muslim percaya bahwa, setelah kematian, jiwa seseorang melewati panggung bernama
Barzakh, di mana ia ada di kuburan (bahkan jika tubuh orang tersebut dihancurkan, jiwa
masih akan beristirahat di bumi di dekat tempat mereka kematian).
Menurut ajaran Islam, setelah ruh meninggalkan jasad (mati), ruh akan menuju alam
Barzakh atau alam kubur, ruh akan ditanya oleh kedua malaikat Munkar dan Nakir.
Pertanyaan akan dimulai ketika proses penguburan telah selesai dan 70 langkah orang
terakhir dari tempat dikuburnya mayat.
Munkar dan Nakir akan menanyakan beberapa hal berikut:
1. Siapakah Tuhan mu?
2. Siapa Nabi mu?
3. Apa agama mu?
4. Siapa saudaramu?
5. Apa kitabmu?
6. Apa kiblatmu?
Sedangkan ada pendapat lain yang mengatakan, jika yang mereka datangi adalah
orang mukmin yang diberi taufik, maka yang akan datang adalah para malaikat yang bernama
Mubassyar dan Basyir.
Dalam tanya-jawab inilah penentuan Nasib si Mayit ke depannya. Kalau di tahap ini
gagal, ia akan sengsara di kubur hingga hari Kiamat tiba. Ia akan mengalami pelbagai macam
siksa kubur yang dahsyat dan mengerikan. Lebih-lebih nanti pada hari Kiamat kelak.
Mengingat hebatnya tanya-jawab di kubur, setiap manusia perlu mempersiapkannya
sejak semasa hidup. Bahkan kalau perlu, manusia melakukan sesuatu agar ia terbilang orang-
orang yang dikecualikan dari pertanyaan dua malaikat yang hebat itu.
Demikian disebutkan Syekh Sa’id bin.Muhammad Ba’asyin dalam karyanya
Busyrol Karim.

‫ﻭﺍﻟﺴﺆﺍﻝ ﻟكﻞ مكﻠﻒ ﺇﻻ مﻦ ﺍﺳﺘﺜﻨ ﻛﺎﻷنﺒﻴﺎﺀ ﻭﺍﻟﺸﻬﺪﺍﺀﻭﺍﻟﺼﺪﻳﻖ ﻭﺍﻟرﺍﺑﻂ ﻭﺍﻟﺒﻄﻮﻥ ﻭمﻼﺯﻡ ﻗرﺍﺀﺓ ﺗﺒﺎﺭﻙ ﺃﻭﺣﻢ ﺍﻟﺴﺠﺪﺓ‬
‫ ﻭﻛﻞ مﺆمﻦ‬. ‫ ﻭمﻦ ﻻﻳﺴﺄﻝ ﻓﻗﺒﻩﺮ ﻻﻳﻌﺬﺏ ﻓﻴﻪ‬. ‫ﻛﻞ ﻟﻴﻠﺔ ﻭﺍﻟﻴﺖ ﺑﺎﻟﻄﺎﻋﻮﻥ ﺃﻭ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻤﻌﺔ ﻭﻛﺬﺍ ﻛﻞ ﺷﻬﻴﺪ ﻛﻤﺎ ﻗﺎﻟﻪ ﺍﻟﻘرﻃﺒ‬
. ‫ﻳﻮﻓﻖ ﻟﻠﺠﻮﺍﺏ ﻭﻟﻮ ﻋﺎﺻﻴﺎ ﻭﻟﻮ ﺑﻌﺪ ﺗﻠﺠﻠﺞ‬
Artinya: “Pertanyaan malaikat di kubur, berlaku bagi setiap mukallaf kecuali orang
yang dibebaskan. Mereka yang dibebaskan misalnya Para Nabi, Syuhada,
Siddiq, Penjaga di Perbatasan Daerah Musuh, Wafat Karena Sakit Perut,
Orang yang melazimkan bacaan surat “Tabarok” atau “Haa Miiim As-
1
Sajdah” setiap malam, mereka yang Mati diserang Penyakit Sampar, atau
mereka yang wafat hari Jum’at. Demikian berlaku bagi orang mati syahid
sebagaimana yang telah disebutkan Al-Qurthubi. Sementara orang yang
tidak ditanya Malaikat Munkar-Nakir, tidak akan disiksa di kuburnya.
Setiap orang beriman meskipun bermaksiat, akan diberi taufiq untuk
menjawab pertanyaan malaikat. Tetap diberi taufiq kendati setelah
tergagap-gagap saat ditanya.

Ibnu Mandah rahimahullah, meriwayatkan dari jalur Isa bin Al-Musyaib, dari Adi
bin Tsabit, dari Al-Barra bin Azib ra, dari Nabi saw, beliau menyebutkan mengenai orang
mukmin (di dalam kubur). Rasulullah SAW bersabda:
Artinya: “Kemudian malaikat Munkar dan Nakir mendatanginya dalam keadaan
gigi taring keduanya membajak tanah dan rambut-rambut mereka
keduanya menyapu bumi, lalu keduanya mendudukannya.”
Rasulullah SAW juga menyebutkan hal yang sama mengenai orang kafir dan beliau
SAW seraya menambahkan:
Artinya: “Suara keduanya (malaikat Munkar dan Nakir) bagaikan guntur yang
bergemuruh, mata keduanya laksana kilat yang menyambar." Beliau saw
melanjutkan: "Kemudian kedua malaikat itu memukulnya dengan palu
godam dari besi, seandainya berkumpul padanya seluruh makhluk yang
ada di antara barat dan timur (untuk mengangkatnya) niscaya mereka
tidak akan mampu mengangkatnya.”1

Wujud Malaikat Munkar dan Nakir


Malaikat Munkar dan Nakir digambarkan memiliki mata hitam solid, memiliki
rentang bahu diukur dalam mil, dan membawa palu “begitu besar, bahwa jika semua umat
manusia mencoba sekaligus untuk memindahkan mereka inci tunggal, mereka akan gagal”.
Ketika mereka berbicara, lidah-lidah api berasal dari mulut mereka. Jika salah satu jawaban
pertanyaan mereka salah, ada yang dipukuli setiap hari, selain hari Jumat, sampai Allah SWT
memberikan izin untuk pemukulan berhenti.
Muslim percaya bahwa seseorang benar akan menjawab pertanyaan tidak dengan
mengingat jawaban sebelum kematian (bandingkan dengan Kitab Mesir Orang Mati) tetapi
oleh iman dan perbuatan mereka seperti salat dan syahadat.

Proses Introgasi Malaikat Munkar dan Nakir


Setelah sendirian berada dalam kubur, maka dalam berbagai keterangan hadits
disebutkan bahwa mayat yang ditinggalkan oleh para pengantar kemudian hidup kembali
bahkan mendengar dengan jelas suara alas kaki dari para pengantarnya. Dan babak baru dari
perjalanan manusia yang amat panjang pun akhirnya dimulai.

1 Diriwayatkan oleh Abu Dawud, No. 4753-4754 Kitab Tentang Sunnah, Bab Tentang Pertanyaan Alam Kubur
dan Siksa Kubur, Ahmad dalam Al-Musnad (4/287), 295-296, Syarah as-Sunnan No. 1365 dan 1368; al-
Mushanaf No. 6737, Ibnu Mandah No 1064: Abu Nu’aim dalam Hilyah al-Auliyah (9/56); dan Al-Hakim (1/37-
40).
2
Dalam kitab Manazilul Akhirah, stasiun-stasiun perjalanan Akhirat, disebutkan
bahwa sakratul maut adalah stasiun yang pertama, dan alam kubur adalah stasiun yang kedua.
Di alam kubur terdapat tiga terjal yang harus dilalui oleh manusia dalam perjalanannya
menuju alam akhirat, yaitu: Kesepian di alam kubur, siksaan dan himpitan kubur, dan ketiga
adalah pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir. Dan ini adalah bagian yang terakhir dari
jalan-jalan terjal yang harus dihadapi oleh manusia. Selanjuntnya manusia akan memasuki
stasiun yang ketiga yaitu alam Barzakh.
Imam Ja’far Ash-Shadiq as berkata: “Barangsiapa yang mengingkari tiga hal, ia
bukan pengikutku: mi`raj Nabi saw, pertanyaan di alam kubur, dan syafaat.” (Biharul Anwar
6: 222, hadits ke 23)
Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa pasti akan datang pada seorang mayit dua
malaikat yang menakutkan, suaranya seperti halilintar, pandangan matanya seperti kilat petir
yang menyambar
Dua malaikat Munkar dan Nakir menanyakan mayit dalam dua keadaan:
1. Ketika mayit dibaringkan di kubur.
Yang utama saat membaringkan mayit, tangan kanan ditelakkan pada bahu kanan,
dan tangan kirinya pada bahu kiri.
2. Sesudah mayit dikuburkan.
Disunnahkan bagi walinya atau keluarga terdekatnya sesudah para pengantar
meninggalkan kuburnya, mereka duduk di dekat kepalanya dan men-talqin dengan
suara yang agak keras, meletakkan kedua tangannya ke kuburnya, dan mendekatkan
mulutnya ke kuburnya. (Al-Faqih 1:108) Hal ini juga dapat diwakilkan kepada orang
lain.
Dalam suatu riwayat dikatakan: Jika talqin itu dibacakan kepada sang mayit,
Malaikat Munkar dan Nakir berkata: telah selesailah tugas kami, karena telah ditalqinkan
padanya hujjahnya (jawabannya). (Al-Faqih 1:173)
Ketika putera Abu Dzar yaitu Dzar meninggal, Abu Dzar duduk di atas kuburnya,
kemudian ia mengusapkan tangannya ke kuburnya, lalu ia berkata:
“Semoga Allah SWT menyangimu wahai Dzar. Demi Allah SWT, jika kamu termasuk
anak yang berbakti kepadaku, engkau telah dipanggil oleh Tuhanmu dan aku ridha padamu.
Demi Allah SWT, aku ridha atas kepergianmu dan ridha kepada Yang Memanggilmu, aku
tidak mengharap hajatku kepada selain Allah; kalau sekiranya datang kepadamu hal yang
menakutkan, aku bahagia sekiranya Allah menggantikan keadaanmu padaku. Aku sedih
kalau engkau memperoleh kesedihan. Demi Allah SWT, aku tidak menangisi kepergianmu,
tetapi aku menangisi apa yang akan terjadi padamu. Aduhai apa yang telah kukatakan? Dan
apa yang dikatakan padamu? Ya Allah, aku telah memberikan kepadanya hakku yang Kau
wajibkan atasnya, maka karuniakan kepadanya hak-Mu yang Kau wajibkan atasnya, dan
Engkau lebih berhak dariku untuk mengkaruniakan kedermawanan dan kemuliaan.”
Dikatakan dalam sebuah riwayat lain: “Jika seorang hamba yang mukmin
meninggal, maka masuklah bersamannya ke kuburnya enam wujud makhluk. Pada wujud
makhluk itu nampaklah kebaikan wajahnya, keindahan keadaannya, keharuman baunya dan
kebersihan bentuknya. Satu wujud berdiri di sebelah kanannya, satu wujud lagi berdiri di
sebelah kirinya, satu wujud lagi di belakangnya, dan wujud yang lain di depannya, dan

3
wujud yang paling baik berada di atas kepalanya. Ketika wujud keburukan datang dari
sebelah kanan, maka wujud yang di sebelah kanan melindunginya dari arah kanan, demikian
juga wujud-wujud yang lain menyelamatkan dari enam arah. Lalu wujud yang paling baik
itu berkata kepada yang lain: “siapakah kamu, semoga Allah SWT membalas kebaikanmu”.
Yang di sebelah kanan menjawab: “aku adalah shalat”. Yang di sebelah kiri menjawab:
“aku adalah zakat”. Yang di depan menjawab: “aku adalah puasa”. Yang belakang
menjawab: “aku adalah haji dan umrah”. Yang di arah kaki menjawab: “aku adalah
kebajikan dari menyambungkan silaturrahim”.

Sifat Malaikat Munkar dan Nakir


Munkar dan Nakir seperti malaikat-malaikat yang lain dari sisi materi penciptaan.
Keduanya diciptakan dari cahaya, berdasarkan hadits yang diriwayatkan Al-Imam Muslim
dalam Ash-Shahih dari ‘Aisyah Ummul Mukminin, Rasulullah SAW bersabda :

‫ص ص‬ ‫ص‬ ‫ص‬ ‫ﺖ اﻟمﻤلﻼئصلكﺔك صمﻦ كنﻮر وخﻠصﻖ ا م ص‬


‫ص ص‬
‫ﻟﺎنن ممﻦ لمﺎصررج ممﻦ لنﺎر لوكخﻠلﻖ آلدكم ممﺎ كوﺻ ل‬
‫ﻒ ﻟلككمﻢ‬ ‫م لك ل ل‬ ‫كخﻠلﻘ ل‬

Artinya: “Malaikat diciptakan dari cahaya, Jin diciptakan dari api, dan Adam
diciptakan dari apa yang disifatkan bagi kalian.”2

Demikian pula mereka disifati dengan ketaatan yang penuh terhadap perintah Allah
SWT. Sebagaimana dalam firman Allah SWT:

Artinya: “… Tidak mendurhakai Allah SWT terhadap apa yang diperintahkan-Nya


kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS.
At-Tahrim: 6)
Di antara sifat Munkar dan Nakir yang tersebut dalam hadits ini adalah sabda
Rasulullah SAW:

‫ِ ألمزلرلﻗﺎصن‬،‫ألمﺳلﻮلداصن‬

Artinya: “Keduanya hitam dan biru.”

Penamaan Malaikat Munkar dan Nakir


Ibnul ‘Arabi mengatakan: “Dinamai Munkar dan Nakir yang bermakna umum
(karena cobaan keduanya) mengenai semua mayit yang ditanya, baik kafir atau mukmin
(semua tidak luput dari pertanyaan dua malaikat ini) dan (dinamai Munkar dan Nakir)
karena semua orang yang melihat keduanya akan mengingkari keduanya, karena apa yang
ada pada keduanya berupa pemandangan yang menyeramkan, bentuk yang menakutkan,
pembicaraan yang kasar, maqami’ (alat pukul) yang ada pada tangan-tangan keduanya yang
sangat mengerikan dan menyeramkan.” (‘Aridhatul Ahwadzi, 4/292)

2 Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam Shahih-Nya kitab Az-Zuhd wa Ar-Raqaiq (4/2294).
4