Anda di halaman 1dari 19

PHARMACY, Vol.06 No.

03 Desember 2009 ISSN 1693-3591

PENGARUH KUALITAS PELAYANAN INFORMASI OBAT TERHADAP KEPUASAN PASIEN


PESERTA JAMINAN KESEHATAN MASYARAKAT RAWAT INAP
DI RUMAH SAKIT UMUM BANYUMAS

Desta Kurniawan, Moeslich Hasanmihardja, Didik Setiawan

Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Jl. Raya Dukuhwaluh,


PO Box 202, Purwokerto 53182

ABSTRAK

Perilaku penggunaan obat oleh pasien, sangat dipengaruhi oleh informasi yang
diterima pasien mengenai obat-obat yang digunakannya. Oleh karena itu kualitas
informasi yang mengiringi penggunaan suatu obat sama pentingnya dengan kualitas obat
itu sendiri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah pasien peserta
Jamkesmas rawat inap di RSU Banyumas merasa puas terhadap pelayanan informasi obat
yang diberikan. Penelitian ini merupakan deskriptif analitik dengan model pendekatan
secara observasional. Data yang digunakan adalah data primer yang diperoleh melalui
survey yaitu dengan penyebaran kuisioner kepada 88 reponden dengan cara mengambil
seluruh populasi peserta jamkesmas rawat inap dibangsal penyakit dalam RSU Banyumas
pada tanggal 1 April sampai dengan 20 Mei 2009. Data dianalisis menggunakan analisis
korelasi dan regresi linier. Hasil penelitian menunjukan adanya hubungan yang positif dan
signifikan antara kualitas pelayanan informasi obat terhadap kepuasan pasien peserta
jamkesmas rawat inap di RSU Banyumas dengan nilai korelasi sebesar 0,308. Hal ini berarti
semakin positif kualitas pelayanan informasi obat, maka akan diiringi dengan
meningkatnya kepuasan pasien peserta jamkesmas rawat inap.
Kata kunci : Kualitas pelayanan informasi obat, kepuasan pasien peserta jamkesmas rawat
inap, RSU Banyumas.

ABSTRACT

The behavior employed of drugs by patients are influenced by information


accepted patients about employed drugs. For the reason, the information quality of
accompany to employee a drugs is same important with this drugs quality. The aim of this
research was to know the patient of inpatient jamkesmas participant satisfaction in
Banyumas hospital to the information service of drugs. The research is a analytic
descriptive with approach model as a observational. The data of used is primer data
resulted by survey with distribution questioners to 88 respondents as a to take all
population jamkesmas participant in ward internist Banyumas Hospital to 01 April until 20
May 2009. The data analyzed by correlation analysis and regression analysis. Result of this
research of analyst shows positive correlation and significant between quality of drugs
information service to patients satisfaction inpatient jamkesmas in Banyumas hospital

45
PHARMACY, Vol.06 No. 03 Desember 2009 ISSN 1693-3591

with correlation value 0,308. It means positive progressively quality of drugs information
service, will increase patients satisfaction inpatient jamkesmas in Banyumas hospital.

Key words: Quality of drugs information service, satisfaction of jamkesmas inpatient


participant patient, Banyumas Hospital dimaksud dengan pengobatan yang
rasional adalah suatu tindakan pengobatan
Pendahuluan
terhadap penyakit berdasarkan
Pembangunan di bidang
interpretasi gejala penyakit dan
kesehatan yang dilakukan di Indonesia
pemahaman aksi fisiologik yang benar dari
pada hakekatnya adalah
penyakit. Obat yang digunakan harus tepat
penyelenggaraan upaya kesehatan oleh
dosis, tepat penderita, tepat cara
bangsa Indonesia untuk mencapai
pemakaian, tepat jumlah serta frekuensi
kemampuan hidup sehat secara jasmani
pemakaian, tepat untuk penyakitnya, tepat
maupun rohani bagi setiap penduduk
kombinasi dan tepat informasinya serta
agar dapat mewujudkan derajat
waspada terhadap efek sampingnya.
kesehatan yang optimal. Untuk mencapai
Ketidakrasionalan penggunaan obat oleh
tujuan pembangunan kesehatan
masyarakat dapat disebabkan oleh
tersebut, diselenggarakan upaya-upaya
berbagai faktor, seperti ketidaktahuan,
kesehatan yang menyeluruh dan
ketidaksengajaan ataupun kesengajaan
terpadu. Dalam upaya ini, obat
dalam bentuk penyalahgunaan obat.
merupakan salah satu unsur penting
Perilaku penggunaan obat oleh
diantara berbagai komponen yang harus
pasien, sangat dipengaruhi oleh tingkat
ada. Intervensi dengan menggunakan
informasi yang diterima oleh pasien
obat merupakan alternatif intervensi
mengenai obat-obat yang digunakannya.
yang paling banyak digunakan sebagai
Oleh karena itulah kualitas informasi yang
salah satu untuk mencapai derajat
mengiringi penggunaan suatu obat sama
kesehatan yang optimal bagi masyarakat.
pentingnya dengan kualitas obat itu sendiri.
Obat yang bermanfaat
Suatu obat yang penggunannya tidak
dan mencapai sasaran apabila
disertai dengan informasi yang 1 tepat,
digunakan secara tepat dan benar. Oleh
akan menyebabkan tidak tercapainya
karena itu diperkenalkan konsep
sasaran terapi bahkan sangat mungkin
penggunaan obat secara rasional. Yang

46
PHARMACY, Vol.06 No. 03 Desember 2009 ISSN 1693-3591

terjadi efek yang merugikan seperti 1333/Menkes/SK/XII/1999 tentang


keracunan dan timbulnya efek samping Standar Pelayanan Rumah Sakit yang
obat (Handoko, 1989). Informasi adalah menyebutkan bahwa pelayanan farmasi
data yang diolah menjadi bentuk yang rumah sakit adalah bagian yang tidak
lebih berguna dan lebih berarti bagi yang terpisahkan dari sistem pelayanan rumah
menerimanya. Informasi merupakan sakit yang berorientasi pada pelayanan
bagian dari komunikasi, dimana pasien, penyediaan obat yang bermutu,
komunikasi adalah suatu proses termasuk pelayanan farmasi klinik yang
penyampaian informasi dan pemberian terjangkau bagi semua lapisan
pengertian dari seseorang kepada orang masyarakat (Anonim, 2004).
lain. Hal ini sesuai dengan manfaat Tuntutan pasien dan masyarakat
informasi itu sendiri bahwa informasi akan mutu pelayanan farmasi,
dapat memberikan mengharuskan adanya perubahan
pengertianpengertian kepada pasien pelayanan dari paradigma lama drug
yang menerima informasi tersebut oriented ke paradigma baru patient
(Jogiyanto, 1995). oriented dengan filosofi pharmaceutical
Tugas sehari-hari dari rumah care (pelayanan kefarmasian). Praktek
sakit adalah melaksanakan berbagai pelayanan kefarmasian merupakan
fungsi kegiatan yaitu melayani keperluan kegiatan yang terpadu dengan tujuan
masyarakat seperti pelayanan resep untuk mengidentifikasi, mencegah dan
dokter, pelayanan obat bebas dan bebas menyelesaikan masalah obat dan
terbatas serta pelayanan kesehatan masalah yang berhubungan dengan
lainnya. Dan juga sebagai tempat kesehatan (Anonim, 2004).
pelayanan kefarmasian dalam Saat ini kenyataan sebagian besar
pemberian informasi tentang obat. rumah sakit di Indonesia belum melakukan
Pelayanan farmasi rumah sakit kegiatan pelayanan farmasi seperti yang
merupakan salah satu kegiatan di rumah diharapkan, mengingat beberapa
sakit yang menunjang pelayanan kendala antara lain kemampuan
kesehatan yang bermutu. Hal tersebut tenaga farmasi, terbatasnya pengetahuan
diperjelas dalam Keputusan Menteri manajemen rumah sakit akan fungsi
Kesehatan Nomor : farmasi rumah sakit, kebijakan manajemen

47
PHARMACY, Vol.06 No. 03 Desember 2009 ISSN 1693-3591

rumah sakit, terbatasnya pengetahuan kesehatan yang ramah mungkin akan


pihakpihak terkait tentang pelayanan menimbulkan kepuasan tersendiri bagi
farmasi rumah sakit. Akibat kondisi ini pasien sebagai pengguna layanan
maka pelayanan farmasi rumah sakit kesehatan tersebut. Dengan demikian bila
masih bersifat konvensional yang hanya tingkat kepuasan dapat terwujud dapat
berorientasi pada produk yaitu sebatas memberikan gambaran yang berarti
penyediaan dan pendistribusian terhadap tingkat kualitas pelayanan yang
(Anonim, 2004). diberikan kepada pengguna layanan.
Pelayanan obat sebagai bagian Apabila rumah sakit dalam
dari pelayanan kesehatan memiliki melayani pasien memberikan pelayanan
peranan yang sangat penting, terlebih yang terbaik dan optimal dengan tujuan
bagi pasien rawat inap yang kepuasan pasien secara
membutuhkan perhatian khusus dimana berkesinambungan, maka pasien akan
pelayanan kesehatan baginya selain merasa loyal kepada rumah sakit
dituntut untuk memberikan pelayanan tersebut dan dapat menciptakan citra
yang sesuai dengan standar dan kode rumah sakit yang baik. Analisis terhadap
etik, kenyamanan juga sangat diperlukan konsumen perlu dilakukan oleh pihak
dalam penentuan puas atau tidaknya RSU Banyumas, khususnya pelayanan
pasien rawat inap tersebut terhadap bagi peserta Jamkesmas rawat inap.
pelayanan kesehatan. Berdasarkan uraian diatas maka
Kepercayaan dan penulis tertarik untuk menganalisis lebih
kepuasan pasien adalah mutlak dan jauh tentang “Pengaruh Kualitas
penting bagi rumah sakit dalam Pelayanan Informasi Obat Terhadap
menghadapi persaingan yang Kepuasan Pasien Peserta Jamkesmas
semakin berat. Rawat Inap di RSU Banyumas. Sehingga
Kepuasan pasien sangat tergantung dari hal yang sebenarnya diinginkan pasien
persepsi dan sikap dari pasien tersebut peserta Jamkesmas di RSU Banyumas
dalam menilai suatu produk, produk untuk kepuasan dalam pelayanan
yang dimaksud disini adalah jasa. informasi obat dapat diketahui sebagai
Pelayanan yang cepat, sikap petugas bahan pertimbangan bagi peningkatan
kualitas pelayanan informasi obat.

48
PHARMACY, Vol.06 No. 03 Desember 2009 ISSN 1693-3591

terdapat skor nilai untuk jawaban yang


Metode Penelitian dipilih responden yaitu : sangat tidak setuju
Penelitian ini merupakan bernilai 1, tidak setuju bernilai 2, kurang
deskriptif analitik dengan model setuju bernilai 3, setuju bernilai 4 dan
pendekatan secara observasional. sangat setuju bernilai 5. Pada
Metode observasional merupakan Sisi diagnostik suatu proses
metode pengumpulan data yang pengukuran atribut psikologi adalah
dilakukan dengan mengamati dan pemberian makna atau interpretasi
meneliti secara langsung atau survey terhadap skor skala yang bersangkutan.
pada kondisi penelitian. Dalam hal ini Sebagai suatu hasil ukur berupa angka
peneliti secara langsung mengamati dan (kuantatif), skor skala memerlukan suatu
meneliti terhadap pasien rawat inap di norma pembanding agar dapat
bangsal penyakit dalam peserta jaminan diinterpretasikan secara kualitatif. Skor
kesehatan masyarakat Rumah Sakit mentah (raw score) yang dihasilkan suatu
Umum Banyumas. Penelitian dilakukan di skala merupakan penjumlahan dari skor
bangsal penyakit dalam Rumah Sakit item-item pertanyaan tiap variabel pada
Umum Banyumas, sedangkan waktu kuisioner (Azwar, 2006). Kemudian
penelitian mulai tanggal 01 April sampai dikelompokan ke dalam lima jenjang
20 Mei 2009. kategori tingkat kepuasan sebagaimana
Data yang diperoleh dalam terdapat pada tabel 2. Kategori ini
penelitian ini dilakukan dengan bersifat relatif, maka kita boleh
mengamati secara langsung kepada menetapkan secara subyektif luasnya
pasien menggunakan kuisioner. Dalam interval yang mencakup setiap kategori
penelitian ini model kuisioner mengacu yang kita inginkan selama penetapan itu
pada skala Likert dengan lima tingkat berada dalam batas kewajaran dan dapat
jawaban. Skala likert digunakan untuk diterima akal. Tujuan kategori ini adalah
mengukur sikap dan persepsi seseorang menempatkan individu ke dalam
terhadap sesuatu. Skala likert digunakan kelompok-kelompok yang terpisah
untuk mempermudah dalam melakukan secara berjenjang menurut suatu
transformasi data kualitatif menjadi kontinum berdasar atribut yang diukur.
kuantitatif. Dalam pertanyaan tersebut Kontinum dalam penelitian ini adalah

49
PHARMACY, Vol.06 No. 03 Desember 2009 ISSN 1693-3591

sangat tidak puas sampai sangat puas jumlah data minimal 30 buah diharapkan
Sebelum kuisioner yang berfungsi dapat menghindari kesalahan ini. Untuk
sebagai instrument pengambil data dapat menguji adanya korelasi antar
digunakan dalam penelitian ini, maka variabel dan tingkat signifikan hubungan
terlebih dahulu dilakukan uji validitas maka data dikuantifikasi melalui proses
dan reliabilitas kuisioner tersebut. Uji skoring yang diperoleh melalui pengukuran
validitas atau kesahihan digunakan dengan skala Likert (Supranto, 1997),
untuk mengetahui seberapa tepat dengan skor 1, 2, 3, 4 dan 5. Skor 5 untuk
suatu alat ukur mampu melakukan jawaban tertinggi dan skor 1 untuk nilai
fungsi. Alat ukur yang dapat digunakan terendah.
dalam pengujian validitas suatu Untuk mengetahui apakah alat ukur yang
kuisioner adalah angka hasil korelasi dipakai valid digunakan analisis product
antara skor pernyataan dan skor moment
keseluruhan pernyataan responden Karakteristik Responden yang
terhadap informasi dalam kuisioner. terdiri dari jenis kelamin, usia,
Hasil penelitian dikatakan valid apabila pendidikan terakhir, pekerjaan dan
r hitung lebih besar dari r tabel. diagnosa menurut penyakit dapat
Menurut Azwar (1997), pengujian dianalisis dengan menggunakan metode
tersebut harus dilakukan minimal deskriptif. Analisis deskriptif bertujuan
terhadap 30 orang responden, karena untuk memberikan deskripsi mengenai
untuk menghindari adanya spurious subyek penelitian. Penyajian hasil analisis
overlap, yaitu kesalahan atau didasarkan pada distribusi frekuensi.
kesimpulan yang biasa dikarenakan Frekuensi karakteristik pasien dinyatakan
pengukuran terhadap data itu sendiri. dalam persen dan menggunakan grafik
Pada dasarnya validitas jenis pie (lingkaran). Penyajian ini sangat
diterjemahkan menjadi korelasi antara membantu memahami keadaan data
masing-masing data terhadap yang disajikan secara visual.
keseluruhan data penelitian, dimana Dalam penelitian ini digunakan
data yang akan diuji termasuk dalam korelasi Pearson Product Moment. Pada
kelompok data keseluruhan yang penelitian ini, dilakukan uji regresi linear
dikorelasikan, sehingga ketentuan sederhana untuk mengetahui hubungan

50
PHARMACY, Vol.06 No. 03 Desember 2009 ISSN 1693-3591

antara variabel-variabel pada pasien berdasarkan jenis kelamin yang


kelompok pertanyaan tentang dijadikan sebagai responden dalam
penilaian kualitas pelayanan informasi penelitian ini.
obat dan kepuasan pasien peserta Usia pasien
jamkesmas rawat inap. Dari uji regresi Gambaran usia pasien yang
linear sederhana ini akan diketahui diperoleh pada penelitian ini, dimana
variabel yang paling berpengaruh terlihat persentase terbanyak dimiliki
pada penilaian responden tersebut oleh pasien yang berusia diatas 21-30
tahun yaitu berjumlah sebanyak 27%,
Hasil dan Pembahasan selanjutnya dari yang paling banyak
Jenis kelamin pasien sampai yang paling kecil berturut-turut
Terlihat antara jumlah pasien adalah sebagai berikut : usia 31-40 tahun
perempuan lebih banyak dari pada sebesar 22%, usia diatas 50 tahun
pasien laki-laki dimana pasien laki-laki sebesar 20%, usia 41-50 tahun sebesar
sebesar 42% dan pasien perempuan 16%, sedangkan persentase terkecil
sebesar 58%. Jenis kelamin dimiliki oleh usia dibawah 21 tahun yaitu
perlu diketahui untuk memperoleh sebesar 15%.
gambaran seberapa besar jumlah

Laki-Laki
42%
Perempuan
58%

Gambar 2. Distribusi pasien berdasarkan jenis kelamin

> 50 < 21 tahun tahun

51
PHARMACY, Vol.06 No. 03 Desember 2009 ISSN
1693-3591

15%

41 - 50
21 - 30
tahun
tahun
16%
27%

20%
31 - 40
tahun
22%

Gambar 3. Distribusi pasien berdasarkan usia

SMA/Sedera
jat Lainnya
16% 3%

38%

SMP/Sederaj SD/Sederajat
at
43%

Gambar 4. Distribusi pasien berdasarkan pendidikan terakhir pasien.

52
PHARMACY, Vol.06 No. 03 Desember 2009 ISSN 1693-3591

Usia sangat penting diketahui pasien dengan kategori lainnya (tidak


karena dapat menilai segala sesuatu pernah pendidikan) yaitu sebanyak 3%.
berdasarkan pengalaman yang pernah Tingkat pendidikan sangat penting
dijalaninya di masa lalu. Pengambilan diketahui karena kemungkinan akan
umur dalam penelitian ini didasarkan berpengaruh terhadap daya tanggap
pada usia produktif responden. pasien dalam memahami pertanyaan
Tingkat pendidikan pasien dalam kuisioner, informasi yang
Pendidikan merupakan faktor diberikan, pengetahuan, kemauan dan
yang berpengaruh dalam menilai kualitas kemampuan dalam menjawab kuisioner
pelayanan informasi obat terhadap yang diberikan, untuk itu tingkat
tingkat kepuasan pasien peserta pendidikan pasien perlu diketahui.
jamkesmas dirumah sakit. Untuk itu Pekerjaan pasien
tingkat pendidikan responden yang Jenis pekerjaan juga dianggap
dijadikan sampel dalam memberikan berpengaruh dalam menilai kualitas
penilaian kualitas pelayanan informasi pelayanan informasi obat
obat dengan tingkat kepuasan pasien terhadap kepuasan pasien peserta
peserta jamkesmas rawat inap perlu jamkesmas rawat inap.
diketahui. Distribusi responden menurut
Dari tabel diatas dapat dilihat jenis pekerjaan dapat dilihat pada
bahwa gambaran pasien menurut tingkat diagram berikut.
pendidikan adalah: tamat SD/Sederajat
sebanyak 38%, tamat
SMP/Sederajat sebanyak 43%, tamat
SMA/Sederajat sebanyak 16% sedangkan
persentase terkecil jumlah dimiliki oleh

53
PHARMACY, Vol.06 No. 03 Desember 2009 ISSN 1693-3591

Pegawai/Karyawa
n Swasta
8%

Wiraswasta
10%
Lainnya
20%
Pelajar/Mahasisw
a
13%
Buruh/Tani
49%

Gambar 5. Distribusi pasien berdasarkan pekerjaan pasien


pekerjaan pegawai dan karyawan swasta
Dari tabel diatas dapat dilihat sebesar 8%. Pekerjaan erat hubungannya
bahwa gambaran pasien menurut jenis dengan penghasilan, pendidikan pasien
pekerjaan yang dijadikan responden sehingga dapat berpengaruh terhadap
dalam penelitian ini cukup beragam. pemilihan rumah sakit dan kelas layanan
Bidang pekerjaan pasien yang paling rawat inap. Selain itu pekerjaan juga
banyak dari hasil penelitian ini dapat menggambarkan ilmu
didominasi oleh para buruh atau petani pengetahuan dan wawasan pasien.
dengan jumlah sebesar 49%, diikuti Diagnosa penyakit
berturut-turut ; Lainnya (ibu rumah Jumlah pasien berdasarkan
tangga) sebesar 20%, pelajar dan diagnosa penyakit cukup beragam yaitu
mahasiswa 13%, wiraswasta sebesar 10% untuk penyakit paling banyak ditemui
dan yang paling kecil adalah jenis adalah Dispepsia sebesar 21%,

54
PHARMACY, Vol.06 No. 03 Desember 2009 ISSN 1693-3591

LainnyaDispepsia
14%
Febris Tak 21%
Spesifik
8%

Gagal Ginjal
Kronik
8% CHF
(Congestive
DHF Heart Failure)
8% 17%
Anemia Aplastik
Thalasemia
Tak Spesifik
9% 15%

Gambar 6. Distribusi pasien berdasarkan diagnosa penyakit


Kualitas pelayanan informasi obat
Tabel 8. Perhitungan persentase kualitas pelayanan informasi obat
No Keterangan Skor Frekuensi Total Persentase (%)
1 Sangat setuju 5 166 830 25,11
2 Setuju 4 453 1812 54,80
3 Kurang setuju 3 144 432 13,08
4 Tidak setuju 2 115 230 6,95
5 Sangat tidak setuju 1 2 2 0,06
Total 3306 100
selanjutnya dari yang paling banyak paling kecil yaitu pasien penyakit Gagal
sampai yang paling kecil berturut-turut Ginjal Kronik, DHF, Febris Tak Spesifik
adalah sebagai berikut : CHF (Congestive sama-sama sebanyak 8%.
Heart Disease) sebanyak 17%,
Thalasemia sebanyak 15%, Lainnya Jumlah peserta jamkesmas rawat
sebanyak 14%, Anemia Aplastik Tak inap yang menjadi sampel sebanyak 88
Spesifik sebanyak 9%, sedangkan yang responden diambil dari seluruh populasi,

55
PHARMACY, Vol.06 No. 03 Desember 2009 ISSN 1693-3591

dengan instrument penelitian sebanyak


10 pertanyaaan dan interval skor mulai 1
sampai 5, atas dasar tersebut maka skor
kriteria maksimal yang didapat adalah 88
x 10 x 5 = 4400. Dari hasil penelitian
jumlah nilai variabel kualitas pelayanan
informasi obat sebanyak 3306. Dengan
demikian persentase kualitas pelayanan
informasi obat adalah 3306 : 4400 x 100%
= 75,14%. Jadi dapat disimpulkan bahwa
pasien merasa puas terhadap variabel
kualitas pelayanan informasi obat yang
diberikan.
Kepuasan konsumen peserta jamkesmas rawat inap
Tabel 9. Perhitungan persentase kepuasan konsumen peserta jamkesmas rawat inap
No Keterangan Skor Frekuensi Total Persentase (%)
1 Sangat setuju 5 271 1355 37,74
2 Setuju 4 446 1784 49,69
3 Kurang setuju 3 126 378 10,53
4 Tidak setuju 2 36 72 2,01
5 Sangat tidak setuju 1 1 1 0,03
Total 3590 100

Instrumen penelitian variabel

56
PHARMACY, Vol.06 No. 03 Desember 2009 ISSN 1693-3591

kepuasan pasien peserta jamkesmas demikian persentase kualitas pelayanan


rawat inap sebanyak 10 pertanyaan dari informasi obat adalah 3590 : 4400 x
interval skor mulai 1 sampai 5, atas dasar 100% = 81,59%. Jadi dapat disimpulkan
tersebut maka skor kriteria maksimal bahwa pasien sangat puas terhadap
yang didapat adalah 88 x 10 x 5 = 4400. variabel kepuasan pasien peserta
Dari hasil penelitian jumlah jamkesmas jamkesmas rawat inap.
nilai variabel kepuasan pasien peserta

Tabel 10. Uji korelasi antara kualitas pelayanan informasi obat dengan kepuasan pasien
peserta jamkesmas rawat inap
Kualitas Pelayanan Kepuasan Pasien
Informasi Obat Peserta
Jamkesmas
Kualitas Pearson 1 .308**
Pelayanan Correlation
Informasi Obat Sig. (2-tailed) .003
88 88

Kepuasan Pasien Pearson .308** 1


Peserta Correlation
Jamkesmas Sig. (2-tailed) .003
88 88

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2 tailed).


rawat inap sebanyak 3590. Dengan
penyakit dalam peserta jamkesmas
Dari tabel diatas dapat dilihat rawat inap. Dimana nilai korelasi yang
besarnya nilai koefisien korelasi sebesar didapat kemudian di interpretasikan
0,308 pada tingkat kepercaan 99% terhadap nilai koefisien korelasi, hasilnya
dengan jumlah reponden 88 pasien adalah nilai 0,308 berada pada range

57
PHARMACY, Vol.06 No. 03 Desember 2009 ISSN 1693-3591

0,20 sampai dengan 0,399 artinya nilai positif. Hal ini berarti bahwa
koefisien korelasinya memiliki tingkat kenaikan suatu variabel
hubungan yang rendah. Berdasarkan independen akan diikuti oleh kenaikan
hasil penelitian ada hubungan positif variabel dependennya sebesar 0,264.
sebesar 0,308 antara kualitas pelayanan Selanjutnya adalah uji koefisien
informasi obat dengan kepuasan pasien Determinan, yang besarnya adalah
peserta jamkesmas rawat inap di Rumah kuadrat dari koefisien korelasi (r2).
Sakit Umum Banyumas. Hal ini berarti Koefisien ini disebut koefisien penentu,
semakin tinggi nilai kualitas pelayanan karena varians yang terjadi pada
informasi obat, maka semakin tinggi nilai variabel dependen dapat dijelaskan
kepuasan pasien peserta jamkesmas melalui varians yang terjadi pada
rawat inap di Rumah Sakit Umum variabel independen. Dari hasil
Banyumas. perhitungan nilai r = 0,264. Koefisien
Untuk menguji apakah koefisien determinasi (r2) = 0,2642 = 0,095. Hal ini
korelasi hasil perhitungan signifikan atau berarti bahwa 9,5 persen varians dalam
tidak, maka nilai r hitung dibandingkan variabel kepuasan pasien dipengaruhi
dengan nilai r tabel dengan tingkat oleh variabel kualitas pelayanan
kepercayaan 99%. Untuk N = 88 harga r informasi obat.
tabel sebesar 0,270. Sehingga nilai r Untuk menguji tingkat
hitung lebih besar dari pada r tabel. signifikansi antara kualitas pelayanan
Artinya Ho ditolak dan Hi diterima, informasi obat terhadap kepuasan
berarti ada hubungan positif dan nilai pasien peserta jamkesmas rawat inap
koefisien korelasi antara kualitas digunakan uji F. Dari hasil perhitungan
pelayanan informasi obat dengan diperoleh nilai F hitung sebesar 9,040
kepuasan pasien peserta jamkesmas kemudian nilai dari F hitung
rawat inap di Rumah Sakit Umum dibandingkan dengan F tabel dengan
Banyumas sebesar 0,308. tingkat kepercayaan 95%. Untuk N = 88
Persamaan yang harga F tabel sebesar 3,96. Sehingga nilai
diperoleh menunjukkan bahwa koefisien F hitung lebih besar dari pada F tabel.
regresi variabel independen terhadap Artinya Ho ditolak atau Hi diterima,
variabel dependen mempunyai nilai

58
PHARMACY, Vol.06 No. 03 Desember 2009 ISSN 1693-3591

berarti kualitas pelayanan informasi obat Anogoro, P. TM. 1990. Psikologi Dalam
mempunyai pengaruh yang signifikan Perusahaan. Jakarta:
terhadap kepuasan pasien peserta Rineka
jamkesmas rawat inap di Rumah Sakit Cipta
Umum Banyumas. Anonim. 1992. Kesehatan, UU RI No. 23,
Direktorat jendral pengawasan
Kesimpulan
Berdasarkan hasil dari analisis obat dan makanan. Jakarta:

data dan pembahasan yang telah Depkes RI

dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan Anonim. 2004. Standar Pelayanan

bahwa ada hubungan positif dan Farmasi Di Rumah Sakit.

signifikan antara kualitas pelayanan Direktorat jendral pengawasan

informasi obat terhadap kepuasan obat dan makanan. Jakarta:

pasien peserta jamkesmas rawat inap di Depkes RI

RSU Banyumas. Semakin positif kualitas Anonim. 2007. Pengolahan

pelayanan informasi obat, maka akan Data Statistik dengan SPSS.

diiringi dengan meningkatnya kepuasan Yogyakarta: CV. Andi offset

pasien peserta jamkesmas rawat inap Anonim. 2008. Profil Rumah

yang ditunjukkan oleh kekuatan Sakit Umum (RSU)

hubungan antara variabel dengan nilai Banyumas.

koefisien korelasi r sebesar 0,308. Banyumas

Pasien peserta Ikawati. 1994. Pengobatan Rasional,

jamkesmas rawat inap puas terhadap majalah Farsigama. Yogyakarta:

kualitas pelayanan informasi obat di BEM Fakultas Farmasi

bangsal penyakit dalam RSU Banyumas Universitas Gajah Mada


Jogiyanto. 1990. Analisis dan desain

Daftar Pustaka system informasi. Yogyakarta:

Andayani. T. M. 2004. Manajemen Andi offset

Farmasi Rumah Sakit, Edisi 9. Martha, Hadi Anshary. 2005. Evaluasi

Yogyakarta: Gadjah Mada Pelaksanaan Pelayanan

Pharmacy Study Club

59
PHARMACY, Vol.06 No. 03 Desember 2009 ISSN 1693-3591

Informasi Obat Di ApotekApotek Sugiyono, S. 2006. Statistik


Di Kotamadya Padang [Skripsi]. Untuk Penelitian.
Yogyakarta: Fakultas Bandung: CV.
Farmasi Universitas Gajah Mada Alfabeta
Nawawi, H. 2006. Instrumen Penelitian Sugiarto, Siagian, D., Sunaryanto, L. T.,

Bidang Sosial. Yogyakarta: Oetomo, D.S. 2001.

Gajah Mada University Press Teknik Sampling. Jakarta: PT


Nawawi, H. 2007. Metode Penelitian Gramedia Pustaka Utama
Bidang Sosial. Yogyakarta: Supranto, J., 2006. Pengukuran Tingkat
Gajah Mada University Press Kepuasan Pelanggan
Riduwan. 2008. Metode dan Teknik Untuk Menaikkan Pangsa
Menyusun Tesis. Bandung: Pasar.
Alfabeta Jakarta: Rineka Cipta
Riwidikdo, Handoko. 2008. Statistik Tjiptono, F. 2002. Strategi Pemasaran
Kesehatan. Yogyakarta: Mitra Edisi II Cetakan 3. Yogyakarta:
Cendikia Press Andi offset
Sari, Endah Puspita. 2007. Analisis Umar, Husein. 2002. Riset Sumber Daya
Kepuasan Pasien Rawat Inap Manusia Dalam
Kelas I, II, III Organisasi. Jakarta: Gramedia
Terhadap Pelayanan Obat Umar, Husein. 2003. Metode Riset
Dibangsal Penyakit Dalam Bisnis. Jakarta: PT Gramedia
Badan Pelayanan Kesehatan Pustaka Utama
Rumah Sakit Umum Yulina Vita, Kristy. 2005. Pengaruh
Kabupaten Kualitas Pelayanan
Magelang [Skripsi]. Yogyakarta: Informasi Obat Terhadap
Fakultas Farmasi Universitas Kepuasan
Gajah Mada Konsumen Peserta Askes Rawat
Siregar, Charles. J.P. 2003. Farmasi Jalan Di Rumah Sakit Umum
Rumah Sakit Teori dan Terapan. Daerah Purbalingga [Skripsi].
Jakarta: Buku Kedokteran EGC Purwokerto: Fakultas Farmasi
Universitas Muhammadiyah

60
P
H
A
R
M
A
C
Y
,
V
o
l
.
0
6
N
o
.
0
3
D
e

6
1
P
H
A
R
M
A
C
Y
,
V
o
l
.
0
6
N
o
.
0
3
D
e

6
2
PHARMACY,
Vol.06 No.
03
Desember
2009
ISSN 1693-
3591

Purwokerto.

63