Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Informasi merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari


kehidupan sehari-hari dan seolah-olah menjadi kebutuhan utama selain
sandang, pangan, dan papan.Melalui informasi, seseorang dapat memenuhi
suatu tugas atau pekerjaan, mengetahui tentang kehidupan sosial,
danmenambah wawasan atau ilmu pengetahuan.
Informasi sangat berkembang pesat seiring dengan perkembangan
zaman yang memudahkan semua orang dapat mengakses informasi secara
mudah, murah, serta cepat.Pada umumnya,setiap orang menginginkan
informasi yang berbeda-beda. Namun, seseorang yang memiliki daya
intelektual yang baik dan didukung dengan tingkat pencapaian pendidikan
yang tinggi, cenderung memiliki rasa ingin tahu yang lebih besar
dibandingkan dengan orang yang tingkat pendidikan dan daya intelektual
lebih rendah dari orang tersebut. Mereka akan terus memperbesar rasa ingin
tahu tersebut dan mencoba untuk terpenuhi hasrat informasi yang
diinginkannya.
Hal tersebut senada dengan pendapat Katz, Gurevich, dan Haas yang
menyatakan bahwa orang yang memiliki tingkat intelektual dan berpendidikan
2 tinggi cenderung memiliki pola pikir multipleks.1 Kata multipleks yang
dimaksud di sini adalah pola pikir yang terdiri dari banyak bagian, dimana
setiap informasi yang didapat oleh orang tersebut akan dihimpun dan
dikaitkan dengan informasi lain yang telah ditemukan sebelumnya untuk
kemudian diolah guna menghasilkan suatu pengetahuan yang baru. Informasi
yang ada di sekeliling kita sangat banyak dan beragam. Dikarenakan
keberagaman tersebut, maka tuntutan permintaan suatu informasi menjadi
sangat besar. Dari sini lahirlah perasaan seseorang mengenai kebutuhan akan
informasi, di mana merasa membutuhkan cara untuk mendapatkan informasi
secara tepat dan akurat sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan. Hal inilah

1
yang melatarbelakangi penulis dalam memilih masalah penelitian dan studi
pustaka.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengertian masalah dalam konteks penelitian?
2. Bagaimana karakteristik dan memilih masalah penelitian?
3. Bagaimana membatasi ruang lingkup masalah penelitian?
4. Bagaimana merumuskan masalah penelitian?
5. Bagaimana peran studi kepustakaan?
6. Bagaimana ragam sumber informasi?
7. Bagaimana isi dan cara mengorganisasikan hasil studi pustaka?

C. Tujuan Penulisan
Tujuan utama dari penyusunan makalah ini yaitu untuk :
1. Memahami pengertian masalah dalam konteks penelitian
2. Memahami karakteristik dan memilih masalah penelitian
3. Memahami dan mengetahui cara membatasi ruang lingkup masalah
penelitian
4. Memahami lebih rinci dalam merumuskan masalah penelitian
5. Memahami peran studi kepustakaan
6. Memahami ragam sumber informasi
7. Memahami isi dan cara mengorganisasikan hasil studi pustaka

D. Manfaat Penulisan
Manfaat penyusunan makalah ini adalah agar pembaca dapat
memperdalam dan memperluas wawasan mengenai materi makalah ini. Serta
makalh ini dapat dijadikan sebagi bahan rujukan dalam pembuatan atau
penyusunan makalah selanjutnya juga dalam melakukan penelitian.

2
BAB II

KERANGKA BERPIKIR DALAM PENULISAN

A. Metode Penulisan
Adapun penggunaan metode penulisan pada makalah ini adalah
menggunakan kajian pustaka.

B. Ruang Lingkup Kajian Dan Pembahasan


Ruang lingkup kajian dan pembahasan pada makalah ini mempunyai
batasan-batasan adalah sebagai berikut :
1. Pengertian Masalah Dalam Konteks Peneliltian
2. Karakteristik Dan Memilih Masalah Penelitian
3. Membatasi Ruang Lingkup Masalah Penelitian
4. Merumuskan Masalah Penelitian
5. Peran Studi Kepustakaan
6. Ragam Sumber Informasi
7. Isi Dan Cara Mengorganisasikan Hasil Studi Pustaka

C. Sumber Data dan Informasi


Sumber data dan informasi yang digunakan pada makalah ini adalah
menggunakan sumber buku dan searching dari internet.

D. Teknik Pengumpulan Dan Penyajian Data Dan Informasi


Pengumpulan data, penyajian data daninformasi dalam makalah
ini adalah dilakukan dengan cara searching internet dan beberapa dari
buku-buku.

3
E. Peta Konsep Kajian dan Pembahasan

Pengertian
Masalah dalam
Konteks
Penelitian

Karakteristik
dan Memilih
Masalah
Penelitian

Membatasi
Ruang Lingkup
Masalah
Penelitian
Memilih Masalah
Merumuskan
Penelitian Dan Masalah
Penelitian
Studi Pustaka
Peran Studi
Kepustakaan

Ragam Sumber
Informasi

Isi dan Cara


Mengorganisas
ikan Hasil
Studi Pustaka
Penelitian

4
BAB III

KAJIAN DAN PEMBAHASAN

A. Pengertian Masalah dalam Konteks Penelitian

Masalah adalah kesenjangan (discrepancy) antara apa yang seharusnya


(harapan) dengan apa yang ada dalam kenyataan sekarang. Kesenjangan
tersebut dapat mengacu keilmu pengetahuan dan teknologi, ekonomi, politik,
sosial budaya, pendidikan dan lain sebagainya. Masalah adalah pertanyaan
mengenai keterkaitan anatara dua atau lebih variabel yang penemuan
jawabannya dilakukan dengan menemukan bukti-bukti empirik. Masalah juga
dapat diartikan setiap situasi yang di dalamnya terdapat ketidaksesuaian
(discrepancy) antara aktual dan ideal yang diharapkan, atau antara apa yang
ada (what is) dan seharusnya ada (should be).
Masalah merupakan titik tolak terpenting dalam melakukan sebuah
penelitian. Karena tanpa adanya masalah, maka penelitian tidak akan terjadi
atau pun berjalan dengan lancar. Dalam penelitian, kedudukan masalah sangat
penting karena melalui masalah kita dapat menentukan tujuan penelitian,
metode penelitian, analisis data yang akan digunakan. Dengan kata lain tujuan
dari penelitian adalah untuk menyelesaikan permasalahan. Masalah penelitian
ini akan menentukan kwalitas penelitian yang akan dilakukan. Baik buruknya
penelitian seseorang tergantung bagaimana seorang peneliti tersebut dapat
mengidentifikasikan penelitian sebaik-baiknya. Sumber masalah tersebut bisa
berasal dari manusia, program, dan fenomena di sekitar.
Terkadang kesalahan yang terjadi dalam penelitian adalah berangkat
dari paradigma yang salah. Penelitian yang yang benar adalah dimulai dengan
mencari dan mengidentifikasi permasalahan yang ada. Barulah setelah
mendapatkan masalah yang jelas, penelitian di lakukan. Banyak di antara kita,
terutama mahasiswa- ketika melakukan penelitian ilmiah, memulai dengan
cara yang salah, yaitu menentukan judul baru kemudian menentukan
permasalahan. Sebenarnya hal itni bukan permasalahan pokok, tetapi

5
paradigm seperti ini perlu dibenarkan. Berikut adalah beberapa pengertian
masalah dalam penelitian menurut beberapa ahli
a. Stonner (1982) mengemukakan bahwa masalah-masalah dapat diketahui
atau dicari apabila terdapat penyimpangan antara pengalaman dengan
kenyataan, antara apa yang direncanakan dengan kenyataan, adanya
pengaduan, dan kompetisi.
b. Suryabrata (1994 : 60) masalah merupakan kesenjangan antara harapan
(das sollen) dengan kenyataan (das sein), antara kebutuhan dengan yang
tersedia, antara yang seharusnya (what should be) dengan yang ada (what
it is)
c. John Dewey dan Kerlinger secara terpisah memberikan penjelasan
mengenai masalah berupa kesulitan yang dirasakan oleh orang awam
maupun seorang peneliti. Kesulitan ini menghalangi tercapai sebuah
tujuan baik itu tujuan individu maupun sebuah kelompok. Masalah dalam
penelitian diekspresikan dalam bentuk kalimat tanya bukan kalimat
pernyataan. Masalah dalam ini selanjutnya dijawab melalui penelitian.

d. Menurut Arikunto (1992; 22), dalam bukunya Prosedur Penelitian: Suatu


Pendekatan Praktik, dikatakan bahwa masalah itu mesti merupakan bagian
dari “kebutuhan” seseorang untuk dipecahkan. Penyebab orang ingin
mengadakan penelitian adalah karena ia ingin mendapatkan jawaban dari
masalah yang dihadapi.
e. Sedarmayanti dan Hidayat (2011), dalam bukunya Metodologi Penelitian,
mengatakan bahwa masalah adalah peristiwa yang terjadi dalam
kehidupan kita sehari-hari. Sedangkan apa yang disebut dengan
permasalahan penelitian adalah suatu pembatasan fokus perhatian pada
ruang lingkupnya sampai menimbulkan pertanyaan dalam diri orang-orang
yang mencari permasalahan.
f. Sugiyono (2004:55), masalah diartikan sebagai suatu kesenjangan antara
apa yang diharapkan dengan apa yang terjadi.

6
Dari pendapat mengenai definisi masalah di atas, maka kami
menyimpulkan bahwa masalah dalam penelitian adalah rangkaian peristiwa
yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari yang menimbulkan pertanyaan
dalam setiap individu manusia, serta secara otomatis membutuhkan upaya
untuk mencari suatu jawaban atas masalah yang dihadapi tersebut.

B. Karakteristik dan Memillih Masalah Penelitian

Dalam membuat suatu rancangan penelitian tentu ada masalah yang


akan diangkat sebagai topik dan judul penelitian. Masalah atau persoalan
dalam penelitian dapat diartikan sebagai kesenjangan atau diskongruesi antara
kenyataan dengan harapan (Sudarwan Danim 2004: 52). Agar hasil penelitian
benar-benar berarti dan bermakna (fungsional) sesuai dengan jenis dan tujuan
penelitian itu sendiri.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih masalah
penelitian adalah sebagai berikut:

1. Memiliki nilai penelitian


Masalah yang akan dipecahkan akan berguna atau bermanfaat yang
positif. Terutama jika bermanfaat bagi masyarakat dan kepentingan
bersama.
2. Memiliki fisibilitas
Fisibilitas artinya masalah tersebut dapat dipecahkan atau dijawab.
Faktor yang perlu diperhatikan, antara lain:
a. Adanya data dan metode untuk memecahkan masalah tersebut
b. batas-batas masalah yang jelas
c. adanya alat atau instrumen untuk memecahkannya
d. adanya biaya yang diperlukan
e. tidak bertentangan dengan hukum.
3. Sesuai dengan kualitas peneliti

7
Sesuai dengan kualitas peneliti artinya tingkat kesulitan masalah
disesuaikan dengan tingkat kemampuan peneliti.
4. Aktual
Aktual atau Up to date, artinya permasalahan yang akan diteliti
adalah fakta perilaku yang sedang “hangat” terjadi di tengah masyarakat.
Tentu saja aktualitas sebuah fakta perilaku akan selalu dinamis dan
berubah setiap periode waktu tertentu. Permasalahan perilaku seks bebas
remaja saat ini terasa lebih aktual dibandingkan perilaku agresif.
5. Urgen
Urgen, artinya permasalahan yang diteliti haruslah sesuatu yang
“mendesak” untuk diteliti. Dengan kata lain jika tidak segera ditemukan
“jawabannya” akan dapat menimbulkan dampak-dampak negatif yang
dapat merugikan kehidupan manusia. Perilaku rendahnya kepatuhan
membayar pajak jika tidak segera diteliti akan menimbulkan dampak yang
negatif, misalnya menurunnya penerimaan kas negara yang berakibat pada
berkurangnya APBN untuk pembangunan sarana pendidikan, kesehatan
dan lain-lain.

Sementara menurut Tuckman (1972), kriteria masalah penelitian yaitu:


a. Bersifat kausalitas atau menghubungkan 2 variabel atau lebih ;
b. Dapat terukur secara empirik dan objektif;
c. Dinyatakan secara jelas dan tidak bermakna ganda (ambigu), lebih baik
dinyatakan dalam bentuk pertanyaan; dan
d. Tidak mencerminkan ambisi pribadi atau mensyaratkan jawaban dengan
pertimbangan moral atau etik.

Dengan mengacu pada ke-4 (empat) kriteria diatas, maka seorang


peneliti dapat mengidentifikasikan cakupan-cakupan/ruang lingkup
permasalahan. Identifikasi permasalahan dapat dilakukan dengan
memperhatikan beberapa hal berikut :

8
a. Source and Background of the Problem.
Sumber dan latar belakang dari permasalahan dapat dijelaskan secara
singkat sehingga didapatkan gambaran yang jelas dari inti suatu
permasalahan yang terjadi.
b. Reasons for Attention
Alasan suatu masalah untuk diperhatikan. Merupakan penjelasan mengapa
suatu situasi memerlukan perhatian dan kajian. Ini dapat membantu dalam
menentukan berapa banyak dan apa saja yang harus disiapkan oleh
peneliti.
c. Groups or Institutions Toward Which Corrective Activity Directed
Menggambarkan dengan jelas siapakah sasaran dari kebijakan atau
program yang akan dianalisis atau diteliti, apakah suatu instansi yang
terkait dengan permasalahan tersebut, ataukah pemerintah sebagai
pengeksekusi terakhir.
d. Beneficiaries and Losers
Peneliti harus dapat menentukan kebijakan dengan keuntungan terbesar
bagi orang banyak dan mengurangi kerugian di setiap elemen.
e. Related Programs and Activity
Peneliti harus dapat menemukan apakah sudah terdapat program terkait
dengan kebijakan tersebut, atau aturan baku mengenai permasalahan
tersebut.
f. Goals and Objectives
Jika suatu permasalahan digambarkan dengan jelas, tepat dan benar, maka
peneliti akan dapat mengarahkan solusi permasalahan tersebut sesuai
dengan tujuan yang akan dicapai dalam penelitian. Penetapan tujuan dan
sasaran penelitian karenanya akan merupakan sebuah solusi yang dapat
diterima dengan baik oleh setiap pelaksana kebijakan.
g. Criteria and Effectiveness
Permasalahan tersulit adalah menentukan pengukuran kriteria dan
kebijakan yang paling efektif bagi suatu permasalahan tersebut. Kriteria

9
dibutuhkan untuk menentukan alternatif-alternatif kebijakan untuk
penelitian lebih lanjut.
h. The Framework for Analysis
Jenis dan konsep penelitian harus dapat merangkum dengan jelas semua
permasalahan yang terjadi dan menggambarkannya secara terarah dan
detail agar tujuan yang diharapkan dapat tercapai.
Masalah yang telah dipilih sebaiknya dianalisis terlebih dahulu, agar
hasil penelitian dapat dilakukan dengan baik, dari segi proses ataupun
tujuannya. Analisis itu dapat dilihat dalam perspektif substansi, teori dan
metode juga proses penelitian dan manfaat penelitian.
Rumusan masalah penelitian yang baik, antara lain:
a. Bersifat orisinil, belum ada atau belum banyak orang lain yang meneliti
masalah tersebut.
b. Dapat berguna bagi kepentingan ilmu pengetahuan dan terhadap
masyarakat.
c. Dapat diperoleh dengan cara-cara ilmiah.
d. Jelas dan padat, jangan ada penafsiran yang lain terhadap masalah
tersebut.
e. Dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya.
f. Bersifat etis, artinya tidak bertentangan atau menyinggung adat istiadat,
ideologi, dan kepercayaan agama.
Agar masalah penelitian yang dipilih benar-benar tepat, biasanya
masalah perlu dievaluasi. Evaluasi masalah penelitian harus berdasarkan
beberapa parameter yaitu :
a. Menarik,
b. Bermanfaat,
c. Hal Yang Baru,
d. Dapat Diuji (Diukur),
e. Dapat Dilaksanakan,
f. Merupakan Masalah Yang Penting,
g. Tidak Melanggar Etika

10
C. Membatasi Ruang Lingkup Masalah Penelitian
Agar penelitian dapat mengarah ke inti masalah yang sesungguhnya
maka diperlukan pembatasan ruang lingkup masalah penelitian. Pembatasan
Masalah adalah usaha untuk menetapkan batasan dari masalah penelitian yang
akan diteliti. Dapat pula batasan masalah itu dalam arti batasan pengertian
masalah, yaitu menegaskan secara operasional (definisi operasional) masalah
tersebut yang akan memudahkan untuk melakukan penelitian (pengumpulan
data) tentangnya.
Batasan masalah ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor mana saja
yang termasuk dalam ruang lingkup masalah penelitian dan faktor mana saja
yang tidak termasuk dalam ruang lingkup masalah penelitian. Ini dilakukan
supaya pembahasan kita tidak terlampau melebar ke mana-mana atau jauh dari
kata relevan. Berarti dapat pula dikatakan, membatasi ruang lingkup masalah
sebagai pembatasan ruang lingkup penelitian. Sehingga dapat dikatakan fungsi
dari pembatasan masalah ini merupakan hal-hal yang nantinya akan
membatasi kita dalam melakukan penelitian, maksudnya batasan-batasan itu
nanti yang akan mengidentifikasikan hal-hal apa saja yang tidak termasuk
dalam ruang lingkup penelitian yang kita lakukan. Karena pembatasan
masalah berkaitan dengan pemilihan masalah dari berbagai masalah yang telah
diidentifikasikan (tahir, 2011:19).
Batasan masalah yang dibuat harus di dasarkan dengan alasan yang
tepat, jangan sampai batasan masalah dibuat hanya untuk mempersempit
ruang penelitian kita yang akhirnya penelitian yang kita lakukan menjadi
kurang informatif. Sebaiknya batasan tersebut harus memiliki alasan yang
sangat teoritis, sehingga tujuan penelitian kita juga bisa menjadi lebih jelas.
Pembatasan masalah juga menyebabkan fokus masalah menjadi semakin jelas,
lebih terarah dan tidak keluar jalur, sehingga masalah penelitiannya dapat
dibuat dengan jelas juga. Sampai sejauh mana masalah penelitian itu dibatasi
ditentukan oleh peneliti sendiri, pembimbing atau konsultan penelitian dan
pesan sponsor. Dalam praktiknya, batasan masalah penelitian sebagian besar
ditentukan oleh penelitinya sendiri.

11
Pembatasan masalah dilakukan karena keterbatasan waktu penelitian
yang diberikan sponsor dan atau peneliti, serta keterbatasan dari kemampuan
dan tenaga peneliti. Pembatasan masalah diambil dari identifikasi masalah.
Pembatasan masalah tidak boleh muncul tiba-tiba selain dari yang ada
diidentifikasi masalah. Batasan masalah ini dalam maksud lain bisa diartikan
sebagai penuntun kita agar tidak keluar dari jalur bahasan yang telah kita
tetapkan sejak awal. Sebagai ilustrasi, pembatasan masalah bagaikan
seseorang yang menghadapi hidangan berbagai makanan dan minuman di
warung makan, ia hanya memilih nasi, rendang dan air.
Pemilihan batasan masalah yang hendak diteliti haruslah didasarkan
pada alasan yang tepat, baik itu alasan teoritis maupun alasan praktis. Alasan
tersebut boleh saja bersifat projektif atau berorientasi ke masa depan. Dengan
alasan yang tepat tersebut, tujuan penelitian dapat dirumuskan dengan tepat
juga.
Sebelum menentukan batasan masalah, peneliti harus memperhatikan
hal-hal berikut ini.
a. Masalah hendaknya manageable, artinya masalah yang dibatasi hendaklah
masih dalam kemampuan peneliti.
b. Masalah hendaknya obtainable, artinya masalah yang dibatasi hendaklah
dapat diuji berdasarkan data-data yang mudah diperoleh di lapangan.
c. Masalah hendaknya signifikan, artinya masalah yang dibatasi hendaknya
cukup penting untuk diselidiki.
d. Masalah hendaknya interested, artinya masalah yang dibatasi hendaknya
cukup menarik minat peneliti.

Dalam hal membatasi masalah atau ruang lingkup penelitian, ada 4


tahap yang harus dilakukan, yaitu:
a. Dengan cara memeriksa atau mempelajari hasil-hasil penelitian atau kajian
yang telah dilakukan peneliti sebelumnya (examine the literature)

12
b. Membicarakan atau mendikusikan dengan kolega atau orang lain yang
berkompeten dengan harapan dapat memperoleh masukan yang
bermanfaat (talk over ideas with others).
c. Mencoba membatasi ruang lingkup dengan cara memperlakukan topik
yang hendak dikaji untuk konteks yang khusus, waktu yang lebih terbatas.
d. Membatasi ruang lingkup studi dengan cara terlebih dahulu menetapkan
tujuan atau manfaat studi yang diinginkan.
Adapun cara membatasi ruang lingkup masalah adalah tentukan fokus
utama sehingga tidak terlalu luas dengan cara :
a. Membatasi indikator yang paling berpotensi dalam memecahkan masalah
b. Membatasi populasi sebagai objek penelitian
c. Membatasi tempat pelaksanaan penelitian
d. Membatasi sampel penelitian
e. Membatasi waktu pelaksanaan penelitian
f. Membatasi biaya penelitian
g. Membatasi ruang lingkup aktivitas penelitian yang dapat dilakukan secara
mandiri
h. Tersedia sumber teori atau peraturan yang melandasi penelitian

Isi batasan masalah adalah sebagai berikut:


a. Kemukakan masalah-masalah yang sudah dipilih untuk dikaji dalam
penelitian
Contoh:
- Alternatif 1: Penelitian ini tidak mengkaji seluruh faktor yang
mempengaruhi permasalahan kinerja, namun hanya sebatas ruang
lingkup motivasi dan kemampuan karyawan saja (lihat identifikasi
masalah)
- Alternatif 2: Dari identifikasi masalah sebelumnya, hanya dua faktor
kinerja saja yang diteliti, yakni motivasi dan kemampuan karyawan.
Motivasi yang dimaksud hanya sebatas motivasi berprestasi, dan
kemampuan yang dimaksud hanya kemampuan intelektual saja.

13
b. Boleh mengemukakan batasan lain selain masalah itu sendiri, misalnya
membatasi responden, daerah penelitian, dan lain-lain
Contoh:
- Alternatif 1: Responden yang diteliti hanya difokuskan kepada
karyawan bagian umum dan karyawan personalia.
- Alternatif 2: Fokus penelitian ini tidak dilakukan pada kantor pusat,
namun hanya pada beberapa kantor cabang yang ada.
Kesimpulan, batasan masalah = scoupe of problem = ruang lingkup
masalah yaitu membatasi ruang lingkup masalah yang terlalu luas / lebar
sehingga penelitian lebih bisa fokus pada sesuatu yang harus dilakukan

D. Merumuskan Masalah Penelitian


Perumusan masalah atau research questions atau disebut juga sebagai
research problem, diartikan sebagai suatu rumusan yang mempertanyakan
suatu fenomena, baik dalam kedudukannya sebagai fenomena mandiri,
maupun dalam kedudukannya sebagai fenomena yang saling terkait di antara
fenomena yang satu dengan yang lainnya, baik sebagai penyebab maupun
sebagai akibat.
Menurut Sugiyono (2004:55), rumusan masalah merupakan suatu
pertanyaan yang akan dicarikan jawabannya melalui pengumpulan data.
Rumusan masalah juga merupakan hulu dari suatu penelitian, dan merupakan
langkah yang penting serta pekerjaan yang sulit dalam suatu penelitian (Nazir,
1999: 111). Dari beberapa pengertian masalah dan rumusan masalah
sebelumnya maka dapat disimpulkan bahwa rumusan masalah itu adalah suatu
pertanyaan-pertanyaan pemandu yang akan dijadikan dasar atau landasan bagi
seorang peneliti guna mendapatkan jawaban dari suatu masalah yang telah
diangkat sebelumnya dalam suatu penelitian.
1. Fungsi Perumusan Masalah
Perumusan masalah memiliki fungsi sebagai berikut yaitu

14
a. Sebagai pendorong suatu kegiatan penelitian menjadi diadakan atau
dengan kata lain berfungsi sebagai penyebab kegiatan penelitian itu
menjadi ada dan dapat dilakukan.
b. Sebagai pedoman, penentu arah atau fokus dari suatu penelitian.
Perumusan masalah ini tidak berharga mati, akan tetapi dapat
berkembang dan berubah setelah peneliti sampai di lapangan.
c. Sebagai penentu jenis data macam apa yang perlu dan harus
dikumpulkan oleh peneliti, serta jenis data apa yang tidak perlu dan
harus disisihkan oleh peneliti. Keputusan memilih data mana yang
perlu dan data mana yang tidak perlu dapat dilakukan peneliti, karena
melalui perumusan masalah peneliti menjadi tahu mengenai data yang
bagaimana yang relevan dan data yang bagaimana yang tidak relevan
bagi kegiatan penelitiannya.dengan adanya perumusan masalah
penelitian, maka para peneliti menjadi dapat dipermudah di dalam
menentukan siapa yang akan menjadi populasi dan sampel penelitian.

2. Tujuan Pemilihan dan Perumusan Masalah


Menurut Nazir (1999: 111), tujuan dari pemilihan dan perumusan
masalah itu sendiri adalah untuk:
a. Mencari sesuatu dalam rangka pemuasan akademis seseorang
b. Memuaskan perhatian serta keingintahuan seseorang akan hal-hal yang
baru;
c. Meletakkan dasar untuk memecahkan beberapa penemuan penelitian
sebelumnya ataupun dasar untuk penelitian selanjutnya;
d. Memenuhi keinginan sosial;
e. Menyediakan sesuatu yang bermanfaat.

Sedangkan Subana dan Sudarajat (2003:65) mengatakan bahwa


perumusan masalah juga bertujuan untuk mengetahui sejauh mana kualitas
penelitian itu sendiri, karena setiap penelitian selalu berangkat dari
masalah.

15
3. Kriteria Rumusan Masalah
Kriteria rumusan masalah adalah sebagai berikut.
a. Masalah hendaknya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan
b. Rumusan itu hendaknya padat dan jelas
c. Rumusan itu hendaknya memberi petunjuk tentang kemungkinan
mengumpulkan data guna menjawab pertanyaan-pertanyaan yang
terkandung dalam rumusan itu.

4. Hal-Hal yang Perlu Dipertimbangkan dalam Penentuan Masalah


Adapun hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam penentuan
masalah, adalah sebagai berikut.

a. Pertimbangan objektif
Peneliti mempertimbangkan:
(1) Apakah suatu masalah memiliki kualitas tertentu atau tidak untuk
dapat diteliti.
(2) Apakah masalah dapat dikonseptualisasikan atau tidak sehingga
memudahkan mendesain instrumen penelitian.
b. Masalah berkualitas, jika:
(1) Nilai penemuan yang tinggi
(2) Sedang dirasakan oleh kebanyakan orang disuatu masyarakat atau
sekelompok masyarakat
(3) Bukan merupakan pengulangan terhadap penelitian sebelumnya
(4) Masalah yang akan diteliti memiliki referensi teoritis yang jelas
c. Masalah dapat dikonseptualisasikan jika dapat menjawab pertanyaan
sbb: (khususnya pada penelitian kuantitatif)
(1) Apakah memiliki batasan-batasan yang jelas
(2) Bagaimana bobot dimensi operasionalnya
(3) Apakah dapat dihipotesiskan
(4) Apakah memiliki sumber data yang jelas
(5) Apakah dapat diukur sehingga dapat didesain alat ukur yang jelas

16
(6) Analisis statistika apa yang dapat digunakan
d. PertimbanganSubjektif
Pertimbanganmengenaikredibilitaspenelititerhadapapayang ditelitinya.
Hal yang dipertanyakan:
(1) Apakah benar-benar sesuai dengan minat peneliti
(2) Apakah sesuai dengan disiplin ilmu peneliti
(3) Apakah peneliti memiliki kemampuan penguasaan teoritis yang
memadai
(4) Apakah cukup banyak hasil penelitian sebelumnya tentang masalah
tersebut
(5) Apakah biaya tersedia
(6) Apakah alasan-alasan politik dan situasional masyarakat
menyambut baik masalah tersebut.

5. Bentuk Rumusan Masalah Penelitian


Bentuk masalah dapat dikelompokkan ke dalam bentuk masalah
deskriftif, komporatif, dan asosiatif
a. Rumusan masalah Deskriptif
Rumusan masalah deskriptif adalah suatu rumusan masalah yang
berkenaan dengan pertanyaan terhadap keberadaan variabel mandiri,
baik hanya pada satu variabel atau lebih (variabel yang berdiri sendiri.
Jadi dalam . penelitian ,ini peneliti tidak membuat perbandingan
variabel itu pada sampel yang lain, dan mencari hubungan variabel itu
dengan variabel yang lain. Penelitian semacam ini untuk selanjutnya
dinamakan penelitian deskriptif
b. Rumusan Masalah Komparatif
Rumusan komparatif adalah mmusan masalah penelitian yang
membandingkan keberadaan satu variabel atau lebih pada dua atau
lebih sampel yang berbeda, atau pada yang berbeda.
c. Rumusan Masaiah Asosiatif

17
Rumusan masalah asosiatif adalah rumusan masalah penelitian
yang bersifat menanyakan . hubungan antara dua variabel atau Iebih.
Terdapat tiga bentuk hùbungan yaitu: hubungan simetris, hubungan
kausal, dan interaktif/timbal balik.
 Hubungan simetris adalah suatu hubungan antara dua variabel atau
lebih yang kebetulan muncul bersamaan, jadi bukan hubungan
kasual atau interaktif.
 Hubungan kasual adalah hubungan yang bersifat sebab akibat jadi
ada variabel independen dan varialbel dependen.
 Hubungan interaktif adalah hubungan yang saling mempengaruhi ,
pada hubungan ini tidak di ketahui variabel independen dan
variabel dependen.

6. Cara Merumuskan Masalah


a. Masalah biasanya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan. Pertanyaan
tersebut dijadikan dasar untuk dicari jawabannya atau pemecahannya.
b. Rumusan masalah hendaknya jelas dan padat. Rumusan masalah tidak
bertele-tele, tetapi jelas mengandung makna tentang masalah yang
akan diteliti secara terfokus.
c. Rumusan masalah harus berisi implikasi adanya data untuk
memecahkan masalah. Data dilapangan sangat penting untuk
menjawab masalah yang sudah dirumuskan, sebab tidak semua
rumusan masalah atau pertanyaan penelitian dapat dijawab.
d. Rumusan masalah harus merupakan dasar dalam membuat hipotesis.
Rumusan masalah yang baik akan mengantar pada kemudahan dalam
merumuskan hipotesis penelitian.
e. Masalah harus menjadi dasar bagi judul penelitian, judul penelitian
harus mencerminkan dari masalah yang akan diteliti.

18
E. Peran Studi Kepustakaan
Studi kepustakaan dapat diartikan sebagai suatu langkah untuk
memperoleh informasi dari penelitian terdahulu yang harus dikerjakan, tanpa
memperdulikan apakah sebuah penelitian menggunakan data primer atau data
sekunder, apakah penelitian tersebut menggunakan penelitian lapangan
ataupun laboratorium atau didalam museum.
Jadi yang dimaksud dengan studi kepustakaan adalah segala usaha
yang dilakukan oleh peneliti untuk menghimpun informasi yang relevan
dengan topik atau masalah yang akan atau sedang diteliti. Studi kepustakaan
merupakan langkah yang penting sekali dalam metode ilmiah untuk mencari
sumber data sekunder yang akan mendukung penelitian dan untuk mengetahui
sampai ke mana ilmu yang berhubungan dengan penelitian telah berkembang.
Informasi itu dapat diperoleh dari buku-buku ilmiah, laporan
penelitian, karangan-karangan ilmiah, tesis dan disertasi, peraturan-peraturan,
ketetapan-ketetapan, buku tahunan, ensiklopedia dan sumber-sumber tertulis
baik tercetak maupun elektronik lain.
Studi kepustkaan merupakan suatu kegiatan yang tidak dapat
dipisahkan dari suatu penelitian. Teori-teori yang mendasari masalah dan
bidang yang akan diteliti dapat ditemukan dengan melakukan studi
kepustakan. Selain itu seorang penelitian dapat memperoleh informasi tentang
penelitian-penelitian sejenis atau yang ada kaitannya dengan penelitiannya.
Dan penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Dengan
melakukan studi kepustakan peneliti dapat memanfaatkan semua informasi
dan pemikiran-pemikiran yang relevan dengan penelitiannya.

1. Langkah-Langkah dalam Studi Kepustakaan


Ada dua langkah yang harus ditempuh oleh seorang peneliti dalam
melakukan penelitian studi pustaka yaitu:
a. Mendaftar semua variable yang perlu diteliti.
b. Mencari setiap variable pada "subject encyclopedia".

c. Memilih deskripsi bahan-bahan yang diperlukan dari sumber-sumber

19
yang tersedia.
d. Memeriksa indeks yang memuat variable-variabel dan topik masalah
yang diteliti.
e. Selanjutnya yang menjadi lebih khusus adalah mencari artikel-artikel,
buku-buku, dan biografi yang sangat membantu untuk mendapatkan
bahan-bahan yang relevan dengan masalah yang diteliti.

2. Tujuan Studi Kepustakan


Peneliti akan melakukan studi kepustakaan, baik sebelum maupun
selama dia melakukan penelitian. Studi kepustakaan memuat uraian
sitematis tentang kajian literatur dan hasil penelitian sebelumnya yang ada
hubungannya dengan penelitian yang akan dilakukan dan diusahakan
menunjukkan kondisi mutakhir dari bidang ilmu tersebut (the state of the
art). Studi kepustakaan yang dilakukan sebelum melakukan penelitian
bertujuan untuk:
a. Menemukan suatu masalah untuk diteliti.
b. Mencari informasi yang relevan dengan masalah yang akan diteliti.
c. Mengkaji beberapa teori dasar yang relevan dengan masalah yang akan
diteliti.
d. Untuk membuat uraian teoritik dan empirik yang berkaitan dengan faktor,
indikator, variable dan parameter penelitian yang tercermin di dalam
masalah-masalah yang ingin dipecahkan.
e. Memperdalam pengetahuan peneliti tentang masalah dan bidang yang
akan diteliti.
f. Mengkaji hasil-hasil penelitian terdahulu yang ada kaitannya dengan
penelitian yang akan dilakukan. Artinya hasil penelitian terdahulu
mengenai hal yang akan diteliti dan atau mengenai hal lain yang berkaitan
dengan hal yang akan diteliti.

20
g. Mendapat informasi tentang aspek-aspek mana dari suatu masalah yang
sudah pernah diteliti untuk menghindari agar tidak meneliti hal yang
sama. (Kasihani Kasbalah, 1992 , juga Bintarto, 1992).

3. Kriteria Studi Kepustakaan yang Baik.


a. Relevansi : kecocokan antara hal-hal (variabel-variabel) yang diteliti
dengan teori-teori yang dikemukakan.
b. Kelengkapan : banyaknya kepustakaan yang dibaca.
c. Kemutakhiran : berkenaan dengan dimensi waktu (baru atau lama)
kepustakaan yang digunakan. Makin baru kepustakaan yang
digunakan, makin mutakhir kepustakaan tersebut, makin baik studi
kepustakaan.

4. Fungsi Studi Kepustakaan


a. Untuk mempertajam permasalahan, artinya dengan adanya studi
kepustakaan itu, maka permasalahan yang dikemukan akan semakin
jelas arah dan bentuknya.
b. Untuk mencari dukungan fakta, informasi atau teori-teori dalam
menentukan landasan teori atau kerangka berpikir atau alasan bagi
penelitiannya.
c. Untuk mengetahui dengan pasti apakah permasalahan yang dipilih
belum pernah diteliti ataukah sudah pernah diteliti oleh peneliti-
peneliti terdahulu.
d. Untuk mengetahui, apakah terdapat masalah-masalah lain yang
mungkin lebih menarik dari masalah yang sedang diteliti.
e. Untuk memperlancar penyelesaian penelitian.
f. Untuk mengetahui kekurangan-kekurangan yang mungkin ada.

5. Manfaat Studi Kepustakaan


a. Menggali teori-teori dasar dan konsep yang telah ditemukan oleh para
ahli terdahulu;

21
b. Mengikuti perkembangan penelitian dalam bidang yang akan diteliti;
c. Memperoleh orientasi yang lebih luas mengenai topik yang dipilih
(mempertajam masalah /mengetahui apakah ada permasalahan yang
lebih menarik);
d. Memanfaatkan data sekunder;
e. Menghindarkan duplikasi penelitian(permasalahan pernah diteliti
sebelumnya);
f. Manfaat lain yang cukup penting adalah ‘dapat mempelajari
bagaimana cara mengungkapkan buah pikiran secara sistematis, kritis
dan ekonomis’.

6. Hambatan dalam melakukan studi kepustakaan.


Studi kepustakaan tidak selalu "mulus" pelaksanaannya. Beberapa
hambatan umum yang sering menyebabkan ketidak lancaran kegiatan ini
antara lain:
a. Kurangnya buku atau sumber kepustakaan lain, terutama yang bersifat
ilmiah. Sampai saat ini masih terasa sangat kurang bahan kepustakaan
ilmiah di Indonesia. Demikian pula bahan kepustakaan ilmiah dari luar
negeri juga sulit diperoleh.
b. Kelemahan peneliti untuk memahami tulisan-tulisan dalam bahasa
asing, terutama bahasa Inggris. Ketidakmampuan membaca buku
referensi dalam bahasa asing menyebabkan peneliti tidak dapat
memanfaatkan informasi ilmiah dari luar negeri. Penguasaan bahasa
asing, terutama bahasa Inggris, akan sangat membantu peneliti untuk
mengikuti perkembangan informasi ilmiah. Hasil-hasil penelitian dan
teori-teori yang sudah dikembangkan dan tertulis dalam bahasa Inggris
tidak dimanfaatkan oleh peneliti yang mau memperdalam pengetahuan
yang relevan dengan bidangnya bila dia tidak mampu membaca bahasa
asing.
c. Rendahnya minat pada banyak peneliti untuk membaca tulisan ilmiah
untuk dapat mengikuti perkembangan ilmu di bidangnya masing-

22
masing. Kelihatannya kegemaran membaca karya ilmiah masih perlu
digalakkan agar peneliti selalu dapat mengikuti perkembangan ilmu
yang ada.

7. Cara Melakukan Studi Kepustakaan


a. Mengetahui jenis pustaka, yang dibutuhkan yaitu:
(1) Berdasarkan bentuk pustaka, dibedakan atas:
(a) Sumber tertulis, seperti buku-buku pengetahuan, surat kabar,
majalah, dan lain- lain.
(b) Sumber tidak tertulis, seperti film, slide, manuskrip, relief, dan
sebagainya,
(2) Berdasarkan isi pustaka, dibedakan atas:
(a) sumber primer, merupakan sumber bahan yang dikemukakan
sendiri oleh orang/pihak pada waktu terjadinya
peristiwa/mengalami peristiwa itu sendiri, seperti buku harian,
notulen rapat, dan sebagainya,
(b) sumber sekunder, merupakan sumber bahan kajian yang
dikemukakan oleh orang atau pihak yang hadir pada saat
terjadinya peristiwa/tidak mengalami langsung peristiwa itu
sendiri, seperti buku-buku teks.

8. Mengkaji dan mengumpulkan bahan pustaka.


Menggunakan alat bantu yang disebut kartu bibliografi atau kartu
kutipan. Kartu ini, biasanya terbuat dari kertas manila warna-warni yang
berukuran kira-kira 10X15 cm. Pengelompokkan dilakukan sesuai dengan
jenis warna. Pengkajian dan pengumpulan hasil kajian dalam kartu
bibliografi minimal harus mencakup:
a. Nama variabel atau pokok masalah,
b. Nama pengarang atau pencetus ide tentang pokok masalah,
c. Nama sumber di mana dimuat penjelasan tentang variabel atau pokok
masalah,

23
d. Tahun yang menunjukkan pada waktu sumber tersebut dibuat atau
diterbitkan,
e. Nama instansi (lembaga, unit, penerbit dan sebagainya) yang
bertanggung-jawab atas penerbitan sumber kajian,
f. Nama kota tempat penulisan atau penerbitan sumber kajian,
g. Isi penjelasan tentang variabel atau pokok masalah.

9. Menyajikan Studi Kepustakaan.


Penyajian studi kepustakaan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu;
a. cara kutipan langsung, yaitu jika dalam menuangkan hasil kajian,
peneliti memindahkan hasil karya orang lain masih dalam bentuk asli,
baik utuh maupun sebagian, dan
b. cara kutipan tidak langsung, yaitu jika dalam menuangkan hasil
kajian, peneliti terlebih dahulu meramu atau mengambil intisari dari
beberapa sumber kajian.
10. Sumber Studi Kepustakaan
Ada beberapa macam sumber informasi yang dapat digunakan
peneliti sebagai bahan studi kepustakaan diantaranya sebagai berikut:
a. Jurnal Penelitian.
Dalam jurnal ini beberapa hasil penelitian terpilih diterbitkan sehingga
dapat digunakan sebagai acuan begi perkembangan ilmu pengetahuan
yang baru.
b. Buku
Buku merupakan sumber informasi yang sangat penting karena
sebagian bidang ilmu yang erat kaitannya dengan penelitian
diwujudkan dalam bentuk buku yang ditulis oleh seorang penulis yang
berkompeten di bidang ilmunya.
c. Surat kabar dan majalah media cetak ini merupakan sumber pustaka
yang cukup baik dan mudah diperoleh di mana-mana.
d. Internet
Kemajuan teknologi membawa dampak yang sangat signifikan di

24
bidang informasi, para peneliti dapat langsung mengakses intrernet dan
mendapatkan informasi yang diinginkan dari berbagai negara dengan
sangat cepat.

F. Ragam Sumber Informasi


Menurut Nazir (1999:116), sumber-sumber dimana masalah-masalah
penelitian itu mudah diperoleh adalah sebagai berikut:
a. Pengamatan terhadap kegiatan manusia, misalkan seorang ahli pertanian
dapat menemukan masalah ketika ia melihat cara petani merawat
tanamannya.
b. Pengamatan terhadap alam sekeliling, misalkan seorang peneliti ilmu
tanah akan menemukan masalah ketika ia melihatstuktur tanah di
sepanjang jalan ketika ia pulang.
c. Bacaan, misalkan masalah dapat diperoleh dari makalah-makalah
sebelumnya, maupun buku-buku sumber.
d. Ulangan serta perluasan penilaian, misalnya dengan mengulang
percobaan-percobaan yang pernah dilakukan jika hasil yang diperoleh
belum memuaskan.
e. Cabang studi yang sedang dikembangkan, misalnya ketika Pasteur
meneliti penyakit kolera dengan menyuntik ayamayam sehat dengan
penyakit kolera, namun ketika ia kehabisan ayam sehat ia menggunakan
ayam yang telah disuntik tadi. Tapi ternyata ayam itu tidak mati, dan ia
justru menemukan masalah tentang sistem kekebalan atau imunisasi.
f. Catatan atau pengalaman pribadi, misalnya dalam penelitian ilmu sosial
catatan atau pengalaman pribadi dapat menjadi sumber masalah untuk
penelitian.
g. Praktik serta keinginan masyarakat, misalnya adanya gejolak rasial yang
dapat menjadi sumber masalah.
h. Bidang spesialisasi, misalnya seorang spesialis yang telah menguasai ilmu
dibidangnya maka akan dengan mudah menemukan masalah dalam
penelitiannya.

25
i. Pelajaran yang sedang diikuti, misalnya diskusi kelas, hubungan guru
dengan siswanya dapat menjadi sumber masalah dalam penelitian kelas.
j. Diskusi-diskusi ilmiah, misalnya seminar, dan pertemuan-pertemuan
ilmiah, dan
k. Perasaan intuisi, misalkan perasaan yang timbul tiba-tiba bisa menjadi
sumber untuk dijadikan masalah dalam suatu penelitian.

G. Isi dan Cara Mengorganisasikan Hasil Studi Pustaka


1. Isi Mengorganisasikan Hasil Studi Pustaka
Isi kajian pustaka dapat berbentuk kajian teoritis yang
pembahasannya difokuskan pada informasi sekitar permasalahan
penelitian yang hendak dipecahlan. Maka seorang peneliti tahu persis
permasalahan apa yang dia teliti dan memahami segala permasalahan
yang berkaitan dengan hal tersebut. Misalnya apa latar belakangnya,
bagaimana rumusan masalahnya, apa tujuan peneliti dalam hal itu?
Dalam contoh misalnya, jika peneliti hendak mengungkapkkan
pengaruh prestasi belajar dilihat dari factor-faktor yaitu hubungan anak
dengan orang tua, Pekerjaan orang tua dan status orang tua. Maka peneliti
dapat melakukan studi yang berhubungan dengan teori sosiologi dan
psikologi pendidikan anak serta hubungan social serta kegiatan anak dalam
keluarga, peranan orang tua dan jenis pekerjaan.

2. Cara Mengorganisasikan Hasil Studi Putaka


Peniliti akan melaukan studi kepustakaan, baik sebelum dia
melakukan penelitian. Studi kepustakaan memuat uraian sistematis
tentang kajian leteratur dan hasil penelitian sebelumnya yang
adahubungannyadengan penelitian yang akan dilakukan dan diusahakan
menunjukkan kondisi mutakhir dari bidang ilmu tersebut (the state of the
art).

26
Cara yang dilakukan untuk mengorganisasikan hasil studi
pustaka yaitu:
a. Menemukan suatu masalah untuk diteliti. Dalam arti bukti-bukti atau
pernyataan bahwa masalah yang akan diteliti itu belum terjawab atau
belum terpecahkan secara memuaskan atau belum pernah diteliti
orang mengenai tujuan,data dan metode, analisa dan hasil untuk
waktu dan tempat yang sama.
b. Mencari informasi yang relevan dengan masalah yang akan diteliti.
c. Mengkaji beberapa teori dasar yang relevan dengan masalah yang
akan diteliti. Menggali teori-teori yang relevan dengan permasalahan
penelitian dan melakukan komparasi-komparasi dan menemukan
konsep-konsep yang relevan dengan pokok masalah yang dibahas
dalam penelitian.
d. Mencari landasan teori yang merupakan pedoman bagi pendekatan
pemecahan masalah dan pemikiran untuk perumusan hipotesis yang
akan diuji dalam penelitian. Sebab dalam ilmu pengetahuan pada
umumnya teori mempunyai dua fungsi pokok yaitu :
1) Menerangkan generalisasi empiris yang sudah diketahui.
2) Meramalkan generalisasi empiris yang belum diketahui . Untuk
jenis penelitian tertentu, misalnya penelitian eksploratif, mungkin
hipotesis tidak ada, namun demikian tidak akan membebaskan
peneliti dan menyajikan penelaahan kepustakaan.
3) Untuk membuat uraian teoritik dan empiric yang berkaitan
dengan faktor, indikator, variabel dan parameter penelitian yang
tercermindi dalam masalah-masalah yang ingin di pecahkan.
e. Memperdalam pengetahuan peneliti tentang masalah dan bidang
yang akan diteliti. Agar peneliti dapat pandai-pandai memanfaatkan
informasi dari suatu makala yang diperlukan bagi penelitiaanya,
terutama yang terkait dengan objek atau sasaran penelitiannya.
Sekurangg-kurangnya peneliti dapat menyadap tujuan, data dan
metode, analisis dan hasil utama penelitian.

27
f. Mengkaji hasil-hasil penelitian terdahulu yang ada kaitannya dengan
penelitian yang akan dilakukan. Artinya hasil penelitian terdahulu
mengenai hal yang akan diteliti dan atau mengenai hal lain yang
berkaitan dengan hal yang akan diteliti.
g. Menelaah hasil penelitian sebelumnya diarahkan pada sebagian atau
seluruh dari unsur-unsur penelitian yaitu : tujuan penelitian,metode
penelitian, analisis, hasil utama dan kesimpulan. Hasilnya berupa
ulasan tentang penelitian yang sama atau serupa dengan masalah yang
akan diteliti yang telah dilakukan ditempat lain atau tempat yang
sama dengan daerah penelitian. Dan untuk menunjukkan perbedaan
penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan dilakukan.
h. Mendapat informasi tentang aspek-aspek mana dari suatu masalah
yang sudah pernah diteliti untuk menghindari agar tidak meneliti hal
yang sama.

28
BAB IV

PENUTUP
A. Kesimpulan
Simpulan yang dapat diperoleh dari makalah ini adalah sebagai
berikut.
1. Masalah dalam penelitian adalah rangkaian peristiwa yang terjadi dalam
kehidupan sehari-hari yang menimbulkan pertanyaan dalam setiap individu
manusia, serta secara otomatis membutuhkan upaya untuk mencari suatu
jawaban atas masalah yang dihadapi tersebut.
2. Karakteristik dalam memilih masalah penelitian adalahmasalah yang dipilih
harus: memiliki nilai penelitian, memiliki fisibilitas, sesuai dengan kualitas
peneliti, aktual, dan urgen.
3. Agar penelitian dapat mengarah ke inti masalah yang sesungguhnya maka
diperlukan pembatasan ruang lingkup masalah penelitian.membatasi ruang
lingkup masalah adalah dengan menentukan fokus utama sehingga tidak
terlalu luas dengan cara : membatasi indikator yang paling berpotensi dalam
memecahkan masalah, membatasi populasi sebagai objek penelitian,
membatasi tempat pelaksanaan penelitian, membatasi sampel penelitian,
membatasi waktu pelaksanaan penelitian, membatasi biaya penelitian,
membatasi ruang lingkup aktivitas penelitian yang dapat dilakukan secara
mandiri.
4. Rumusan masalah itu adalah suatu pertanyaan-pertanyaan pemandu yang akan
dijadikan dasar atau landasan bagi seorang peneliti guna mendapatkan
jawaban dari suatu masalah yang telah diangkat sebelumnya dalam suatu
penelitian. Cara merumuskan masalah adalah biasanya dirumuskan dalam
bentuk pertanyaan, rumusan masalah hendaknya jelas dan padat, rumusan
masalah harus berisi implikasi adanya data untuk memecahkan masalah,
rumusan masalah harus merupakan dasar dalam membuat hipotesis dan
masalah harus menjadi dasar bagi judul penelitian.

29
5. Studi kepustakaan adalah segala usaha yang dilakukan oleh peneliti untuk
menghimpun informasi yang relevan dengan topik atau masalah yang akan
atau sedang diteliti dengan memegang peranan penting dan tidak dapat
dipisahkan dari suatu penelitian. Fungsi studi kepustakaan adalah untuk
mempertajam permasalahan, untuk mencari dukungan fakta, untuk
mengetahui dengan pasti apakah permasalahan yang dipilih belum pernah
diteliti ataukah sudah pernah diteliti oleh peneliti-peneliti terdahulu, untuk
mengetahui, apakah terdapat masalah-masalah lain yang mungkin lebih
menarik dari masalah yang sedang diteliti, untuk memperlancar penyelesaian
penelitian, dan untuk mengetahui kekurangan-kekurangan yang mungkin ada.
6. Menurut nazir (1999:116), sumber-sumber informasi penelitian dapat
diperoleh dari: pengamatan terhadap kegiatan manusia, pengamatan terhadap
alam sekeliling, bacaan, ulangan serta perluasan penilaian, cabang studi yang
sedang dikembangkan, catatan atau pengalaman pribadi, praktik serta
keinginan masyarakat, bidang spesialisasi, pelajaran yang sedang diikuti,
diskusi-diskusi ilmiah dan perasaan intuisi.
7. Isi kajian pustaka dapat berbentuk kajian teoritis yang pembahasannya
difokuskan pada informasi sekitar permasalahan penelitian yang hendak
dipecahlan. Cara untuk mengorganisasikan hasil studi pustaka, diantaranya
yaitu menemukan suatu masalah untuk diteliti, mencari informasi yang
relevan dengan masalah yang akan diteliti, mengkaji beberapa teori dasar yang
relevan dengan masalah yang akan diteliti, mencari landasan teori yang
merupakan pedoman bagi pendekatan pemecahan masalah dan pemikiran
untuk perumusan hipotesis yang akan diuji dalam penelitian, memperdalam
pengetahuan peneliti tentang masalah dan bidang yang akan diteliti, mengkaji
hasil-hasil penelitian terdahulu yang ada kaitannya dengan penelitian yang
akan dilakukan, menelaah hasil penelitian sebelumnya diarahkan pada
sebagian atau seluruh dari unsur-unsur penelitian serta mendapat informasi
tentang aspek-aspek mana dari suatu masalah yang sudah pernah diteliti untuk
menghindari agar tidak meneliti hal yang sama.

30
B. Saran
Saran untuk pembaca, bahwasanya makalah ini masih memiliki
kekurangan meskipun penyusun telah berusaha untuk meminimalisir
kekurangan tersebut. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun dari
pembaca sangat diharapkan.

31
DAFTAR PUTAKA

Istiawan, Stefanus Redhitya, ̳Pemanfaatan Koleksi Perpustakaan Pada


Mahasiswa Di Perpustakaan Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya‘, No.
2, Vol. 3 (2014), 1-15.

Kurniadi, Deni, ̳Kebutuhan Dan Perilaku Pencarian Informasi Peneliti Bidang


Ilmu Sosial Dan Kemanusiaan Di Perpustakaan Nasional RI‘(Universitas
Indonesia, 2004)

Mahardhini, Daturrisa, ̳Perilaku Pemanfaatan Informasi Oleh Penyandang Tuna


Rungu‘, No. 1, Vol. 2 (2013), 1-22.

Mulayani, Eko Sri, and Sulastuti Sophia, ̳Perpustakaan Masa Depan, Pusat
Perpustakaan Pertanian Dan Komunikasi Penelitian‘, Jurnal Perpustakaan
Pertanian, No. 2, Vol. VI (1997)

Nazir, Moh., Metode Penelitian (Bogor: Ghalia Indonesia, 2013)

32