Anda di halaman 1dari 42

WRAP UP SKENARIO 2 BLOK PANCA INDERA

TELINGA SAKIT

Kelompok B-12
Ketua : Rossalia Visser 1102015209
Sekretaris : Shafira Imaniari 1102015221
Anggota :
Nanda Nurdara Tahara 1102012189
Naraswari Ramadhiastuti A. 1102014188
Zahra Faras Sukma 1102014291
Mashitta Safira Putri 1102015127
Mochamad Deya Najmuddin 1102015137
Nadilla Yasinta 1102015154
Nisa Austriana Nuridha 1102015167
Rizky Alif Ahmad Damiri 1102015205
Yudha Ayatullah Khumaini 1102015248

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI


Jl. Letjen Suprapto, Cempaka Putih, Jakarta 10510
Telp. 021-4244574 Fax. 021-4244574
Daftar Isi

Daftar isi ...................................................................................................................1


Skenario....................................................................................................................2
Kata sulit ..................................................................................................................2
Pertanyaan ................................................................................................................2
Jawaban ....................................................................................................................2
Hipotesis...................................................................................................................3
Sasaran belajar
1. Memahami dan menjelaskan anatomi telinga ...................................................4
1.1 Makroskopis ...............................................................................................4
1.2 Mikroskopis .............................................................................................10
2. Memahami dan menjelaskan fisiologi pendengaran .......................................16
3. Memahami dan menjelaskan otitis media akut ...............................................23
3.1 Definisi .....................................................................................................22
3.2 Etiologi .....................................................................................................22
3.3 Patofisiologi .............................................................................................23
3.4 Manifestasi klinis .....................................................................................24
3.5 Diagnosis dan diagnosis banding .............................................................24
3.6 Tatalaksana ..............................................................................................32
3.7 Komplikasi ...............................................................................................35
3.8 Pencegahan ..............................................................................................37
3.9 Prognosis ..................................................................................................37
4. Memahami dan menjelaskan menjaga pendengaran dalam pandangan
Islam ................................................................................................................37
Daftar pustaka ........................................................................................................40

1
Skenario

Seorang anak usia 3 tahun pilek batuk dan demam sudah 3 hari yang lalu. Keluhan
telinganya kanan sakit, mengeluarkan sedikit cairan seperti air susu dan
bercampur sedikit warna merah seperti darah. Lalu dibawa ibunya ke UGD.
Setelah liang telinga dibersihkan, diperiksa kendang telinga tampak merah dan
mengeluarkan cairan. Ibu pasien bertanya pada dokter, apakah penyakit anaknya
bisa sembuh.

Kata Sulit

Kendang telinga: lapisan yang elastis terdapat pada telinga tengah untuk
menghantarkan gelombang suara

Pertanyaan

1. Apa hubungannya pilek dan batuk dengan kondisi pasien?


2. Apakah fungsi pendengaran terganggu?
3. Apakah terdapat hubungan antara usia dengan penyakit pasien?
4. Apakah diagnosis sementara pasien?
5. Apa pemeriksaan yang dapat dilakukan?
6. Mengapa telinga yang sakit hanya pada telinga kanan saja?
7. Mengapa telinga mengeluarkan cairan putih seperti susu?
8. Apakah penyakit tersebut memengaruhi keseimbangan tubuh?
9. Apa komplikasi yang dapat terjadi?
10. Bagaimana cara menjaga kebersihan telinga menurut pandangan Islam?
11. Apa tatalaksana awal pada pasien ini?
12. Apakah penyakit ini dapat disembuhkan?
13. Apa penyebab awal penyakit ini?

Jawaban

1. Kuman yang berasal dari tenggorokan dan hidung masuk ke telinga melalui
tuba eustachius.
2. Terganggu karena gendang telinga (membrane tymphani) sedang mengalami
inflamasi sehingga fungsinya sebagai amplifier suara menurun.
3. Tuba eustachius pada anak-anak masih pendek dan horizontal sehingga
kuman lebih mudah masuk.
4. Otitis media akut, efusi telinga tengah dan gejala inflamasi.
5. Otoskop untuk memeriksa membrana tymphani, warna sekret.
Rhinne, Schwabach, weber untuk memeriksa fungsi pendengaran
6. Karena infeksi hanya menyebar ke telinga kanan.
7. ISPA perubahan tekanan membrana tymphani ruptur reflux

2
8. Bisa.
9. Mastoiditis meningitis abses otak.
10. Menjaga pendengaran yang baik-baik.
11. Asam asetat untuk membersihkan telinga, antibiotik dan antipiretik.
12. Bisa, apabila ditangani dengan baik dan tidak terlambat.
13. Bakteri: Haemophillus influenzae, Streptococcus pneumoniae, Moraxella
cataralis
Virus: Coronavirus, Adenovirus, Parainfluenzae

Hipotesis

Bakteri dan virus dapat menyebabkan ISPA yang akan menyebabkan otitis media
akut yang menyebar melalui tuba eustachius. Pemeriksaan yang dapat dilakukan
adalah otoskop dan rhinne, schwabach dan weber. Tatalaksana awal yang dapat
diberikan adalah asam asetat untuk membersihkan telinga, antibiotik dan
antipiretik. Dalam pandangan Islam cara untuk menjaga pendangaran adalah
mendengarkan hal yang baik-baik.

3
Sasaran Belajar

1. Memahami dan menjelaskan anatomi telinga


1.1 Makroskopis

A. Telinga Luar
Auricular (daun telinga)
Auricular mempunyai bentuk yang khas dan berfungsi
mengumpilkan getaran udara. Auricular terdiri atas lempeng tulang
rawan elastic tipis yang ditutupi kulit. Auricular mempunyai otot
intrinsic dan ekstrinsik, keduanya disarafi oleh n. facialis.

Meatus acusticus externus


Adalah tabung berkelok yang menghubungkan auricular dengan
membrana timpani. Tabung ini berfungsi menghantarkan gelombang
suara dari auricular ke membrana timpani. Pada orang dewasa
panjangnya lebih kurang 1 inci (2,5 cm). Rangka 1/3 bagian luar
meatus adalah cartilage elastic dan 2/3 bagian dalam adalah tulang
yang dibentuk oleh lempeng timpani. Meatus dilapisi oleh kulit dan
1/3 bagian luarnya mempunyai rambut, kelenjar sebasea dan
glandula ceruminosa.
Saraf sensorik yang melapisi kulit pelapis meatus berasal dari
nervus auricular temporalis dan ramus auricularis nervus vagus.
Aliran limfe menuju nodi parotidei superfisialis, mastoidei dan
cervicales superfisialis.

4
B. Telinga Tengah
Adalah ruang berisi udara didalam pars petrosa ossis temporalis yang
dilapisi oleh membrana mucosa. Ruang ini berisi tulang-tulang
pendengaran yang berfungsi meneruskan getaran membrana timpani
ke perilympha telinga dalam. Telinga tengah mempunyai atap, lantai,
dinding anterior, dinding posterior, dinding lateral dan dinding
medial.
Atap dibentuk oleh lempeng tipis tulang yang disebut tegmen
timpani yang merupakan bagian dari pars petrosa ossis temporalis.
Lempeng ini memisahkan cavum timpani dari meniges dan lobus
temporalis otak di dalam fossa crania media.
Lantai dibentuk oleh lempeng tipis tulang. Lempeng ini
memisahkan cavum timpani dari bulbus superior vena jugularis
interna.
Bagian bawah dinding anterior dibentuk oleh lempeng tipis
tulang yang memisahkan cavum timpani dari arteri carotis interna.
Pada bagian atas dinding anterior terdapat muara dari dua buah
saluran. Dibagian atas dinding posterior terdapat aditus ad antrum.
Dibawah ini terdapat penonjolan yang berbentuk kerucut, sempit,
kecil disebut pyramis. Dari puncak pyramis ini dibetuk tendo
muskulus stapedius.
Sebagian besar dinding lateral dibentuk oleh membrana timpani.
Dinding medial dibentuk oleh dinding lateral telinga dala. Bagian
terbesar dari dinding terdapat penonjolan bulat (promontorium) yang
disebabkan oleh lengkung pertama cochlea yang ada dibawahnya.

Membran Timpani
Membran timpani dibentuk dari dinding lateral kavum timpani dan
memisahkan liang telinga luar dari kavum timpani. Membrana ini
panjang vertikal rata-rata 9-10 mm dan diameter antero-posterior
kira -kira 8-9 mm, ketebalannya rata-rata 0,1 mm .Letak membrana
timpani tidak tegak lurus terhadap liang telinga akan tetapi miring
yang arahnya dari belakang luar kemuka dalam dan membuat sudut

5
450 dari dataran sagital dan horizontal. Membrana timpani
merupakan kerucut, dimana bagian puncak dari kerucut menonjol
kearah kavum timpani, puncak ini dinamakan umbo. Dari umbo
kemuka bawah tampak refleks cahaya cone of light).

Ossicula Auditus
a. Malleus
Adalah pendengaran terbesar dan terdiri dari caput, collum dan
processus longum/ manubrium, sebuah processus anterior dan
processus lateralis.
b. Incus
Mempunyai corpus yang besar dan 2 crus yaitu crus longum,
yang berjalan ke bawah di belakang dan sejajar dengan
manubrium mallei; dan crus breve, menonjol ke belakang dan
dilekatkan pada dinding posterior cavum timpani oleh sebuah
ligamentum.
c. Stapes
Mempunyai caput, collum, 2 lengan dan sebuah basis.

Prosesus longus maleus melekat pada membran timpani, maleus


melekat pada inkus dan inkus melekat pada stapes. Stapes terletak
pada tingkap lonjong yang berhubungan dengan koklea. Tulang-
tulang ini mengarahkan getaran dari membran timpani ke fenestra
vestibulii yang memisahkan telinga tengah dari telinga dalam.

6
Tuba Auditiva
Terbentang dari dinding anterior cavum tympani ke bawah, depan
dan medial sampai nasopharing. 1/3 bagian posterior adalah tulang
dan 2/3 bagian anterior adalah cartilage. Tuba berhubungan dengan
nasopharing dengan bejalan melalui pinggir atas M. constrictor
pharinges superior. Tuba berfungsi menyeimbangkan tekanan udara
di dalam cavum tympani dngan nasopharing.

Antrum Mastoideum
Terletak dibelakang cavum tympani di dalam pars petrosa ossis
temporalis dan berhubungan dengan telinga tengah melalui aditus.
a. Dinding anterior berhubungan dengan telinga tengah dan berisi
aditus ad antrum.
b. Dinding posterior memisahkan antrum dari sinus sigmoideus
dan cerebellum.
c. Dinding lateral tebalnya 1,5 cm dan membentuk dasar trigonum
suprameatus.
d. Dinding medial berhubungan dengan canalis semisirkularis
posterior.
e. Dinding superior berhubungan dengan meninges pada f ossa
crania media dan lobus temporalis cerebri.
f. Dinding inferior berlubang-lubang, menghubungkan antrum
dengan cellulae mastodeae.

Cellulae Mastoideae
Adalah suatu seri rongga yang saling berhubungan di dalam
processus mastoideus, yang diatas berhubungan dengan antrum dan
cavum tympani. Rongga ini dilapisi oleh membrana mucosa.
Nervus fasialis
Pada dinding medial telinga tengah membesar membentuk ganglion
geniculatum. Cabang-cabang penting pars intrapetrosa nervus

7
fasialis yaitu nervus petrosus major, saraf ke M. stapedius dan
chorda tympani.
Nervus Tympanicus
Berasal dari nervus glossopharingeus dan berjalan melalui dasar
cavum tympani dan pada permukaan promontorium. Lalu
bercabang-cabang membentuk plexus tympanicus (mempersarafi
lapisan cavum tympani dan mempercabangkan nervus petrosus
minor).

C. Telinga Dalam
Berisi cairan dan terletak dalam tulang temporal, di sisi medial
telinga tengah. Telinga tengah terdiri dari dua bagian:

Labirin tulang (ossea)


Merupakan ruang berliku berisi perilimfe, suatu cairan yang
menyerupai cairan serebrospinalis. Bagian ini melubangi bagian
petrosus tulang temporal dan terbagi menjadi tiga bagian:
1) Vestibula
a. Dinding lateral vestibula mengandung fenestra vestibuli dan
venestra cochleae, yang berhubungan dengan telinga
tengah.
b. Membran melapisi fenestra untuk mencegah keluarnya
cairan perilimfe.
2) Saluran Semisirkularis
a. Menonjol dari bagian posterior vestibula.
b. Saluran semisirkular anterior dan posterior mengarah pada
bidang vertikal di setiap sudut kanannya.
c. Saluran semisirkular lateral terletak horizontal dan pada
sudut kanan kedua saluran di atas.
d. Pada irisan melintang koklea tampak skala vestibuli sebelah
atas, skala timpani di sebelah bawah dan skala media
(duktus koklearis) di antaranya.
e. Skala vestibuli berisi perilimfa, sedangkan skala media
berisi endolimfa.
f. Dasar skala vestibuli disebut membran vestibuli (Reissner’s
membrana) sedangkan skala media adalah membran basalis.
g. Pada membran basalis terdapat organ corti.
h. Pada skala media terdapat bagian yang berbentuk lidah
yang disebut membran tektoria.
i. Pada membran basal melekat sel rambut dalam, sel rambut
luar dan canalis corti yang membentuk organ corti.
3) Koklea
a. Telinga dalam terdiri dari koklea (rumah siput) yang berupa
dua setengah lingkaran dan vestibuler yang terdiri dari 3
buah kanalis semisirkularis.

8
b. Ujung atau puncak koklea disebut helikotrema,
menghubungkan perilimfa skala timpani dengan skala
vestibuli.
c. Koklea mengandung reseptor pendengaran.

Labyrinthus Membranaceus
Terletak didalam labyrinthus osseus dan berisi endolympha dan
dikelilingi oleh perilympha. Labyrinthus ini terdiri atas utriculus dan
sacculus, yang terdapat didalam vestibulum osseus; 3 ductus
semisirkularis, yang teletak didalam canalis semisirkularis osseus;
dan ductus cochlearis, yang terletak didalam cochlea.
a. Utriculus
Adalah yang terbesar dari dua buah saccus vestibuli yang ada
dan dihubungkan tidak langsung dengan sacculus dn ductus
endolymphaticus oleh ductus utriculosaccularis.
b. Sacculus
Berbentuk bulat dan berhubungan dengan uticulus. Ductus
endolymphaticus setelah bergabung dengan ductus
utriculosaccularis akan berakhir didalam kantung buntu kecil
yaitu saccus endolymphaticus.
c. Ductus Semisirkularis
Diameternya lebih kecil dari canalisnya. Ketiganya tersusun
tegak lurus satu dengan lainnya.
d. Ductus Cochlearis
Berbentuk segitiga pada potongan melintang dan berhubungan
dengan sacculus melalui ductus reunions.

9
Perdarahan
Telinga dalam memperoleh perdarahan dari a. auditori interna (a.
labirintin) yang berasal dari a. serebelli inferior anterior atau
langsung dari a. basilaris yang merupakan suatu end arteri dan tidak
mempunyai pembuluh darah anastomosis. Setelah memasuki meatus
akustikus internus, arteri ini bercabang 3 yaitu:
a. Arteri vestibularis anterior yang mendarahi makula utrikuli,
sebagian makula sakuli, krista ampularis, kanalis semisirkularis
superior dan lateral serta sebagian dari utrikulus dan sakulus.
b. Arteri vestibulokoklearis, mendarahi makula sakuli, kanalis
semisirkularis posterior, bagian inferior utrikulus dan sakulus
serta putaran basal dari koklea.
c. Arteri koklearis yang memasuki modiolus dan menjadi
pembuluh-pembuluh arteri spiral yang mendarahi organ Corti,
skala vestibuli, skala timpani sebelum berakhir pada stria
vaskularis.

Aliran vena pada telinga dalam melalui 3 jalur utama. Vena


auditori interna mendarahi putaran tengah dan apikal koklea. Vena
akuaduktus koklearis mendarahi putaran basiler koklea, sakulus dan
utrikulus dan berakhir pada sinus petrosus inferior. Vena akuaduktus
vestibularis mendarahi kanalis semisirkularis sampai utrikulus. Vena
ini mengikuti duktus endolimfatikus dan masuk ke sinus
1.2 Mikroskopis
Telinga merupakan salah satu indera yang penting bagi tubuh, karena di
dalam telinga terdapat dua macam mechanoreceptor untuk pendengaran
dan keseimbangan tubuh.
Secara garis besar telinga dapat dibagi menjadi:
1) Telinga luar

10
Daun Telinga
a. Kerangka terdiri dari tulang rawan elastis dan bentuk tak teratur.
b. Perikondrium mengandung banyak serat elastis.
c. Kulit yang menutupi tulang rawan tipis.
d. Jaringan subkutan tipis.
e. Didalam kulit terdapat rambut halus, kelenjar sebasea, kelenjar
keringat sedikit dan jaringan lemak pada lobules auricular.

Meatus Acusticus Externus


a. Berupa berupa saluran ± 25 cm, arah medioinferior. Bagian luar
kerangka dinding terdiri dari tulang rawan elastin. Sedangkan
pada bagian dalam berkerangka os temporal.
b. Dilapisi kulit tipis, tanpa subkutis dan berhubungan erat dengan
perichondrium atau periosteum yang ada di bawahnya.
c. Pada kulit bagian sepertiga luar terdapat:
i. Rambut pendek mencegah masuknya benda asing
ii. Kelenjar sebasea bermuara di folikel rambut
iii. Kelenjar seruminosa tubulosa apokrin (modifikasi
kelenjar keringat) bermuara pada permukaan atau pada
ductus kelenjar sebasea
d. Campuran sekret kelenjar ceruminosa dan sebasea disebut
cerumen, bersifat bakterisid, berwarna kecoklatan
e. Kelenjar keringat biasa tidak ditemukan
f. Pada kulit bagian dua pertiga dalam, kelenjar ceruminosa
terbatas hanya pada dinding bagian superior

Membran Tympani
a. Bentuk oval, semi transparan.
b. Terdiri dari dua lapisan jaringan penyambung:

11
i.Lapisan luar, mengandung serat-serat kolagen tersusun radial.
ii.Lapisan dalam, mengandung serat-serat kolagen tersusun
sirkular.
c. Serat elastin terutama dibagian sentral dan perifer.
d. Bagian superior tidak mengandung serat kolagen, merupakan
bagian lunak dan tipis, disebut pars flaccida (membrana
Schrapnell)
e. Permukaan luar diliputi kulit, tanpa rambut, kelenjar sebasea
dan kelenjar keringat.
f. Permukaan dalam dilapisi mucosa yang terdiri dari epitel selapis
cuboid dan lamina propia yang tipis.

2) Telinga tengah

Cavum Tymphani
a. Berisi udara
b. Posterior berhubungan dengan ruang-ruang dalam processus
mastoideus.
c. Anterior berhubungan dengan tuba faringotympani.
d. Lateral dibatasi oleh membrana tympani.
e. Medial dipisahkan dari telinga dalam oleh tulang. Pada tulang
tersebut terdapat fenestra ovalis dan fenestra rotundum.

12
f. Di dalam cavum tymphani terdapat tulang-tulang pendengaran
(malleus, incus, stapes yang menghubungkan membrana
tymphani dengan fenestra ovalis), nervus dan musculi yang
dilapisi oleh mucosa yang terdiri dari epitel selapis cuboid dan
lamina propia tipis.
g. Epitel cavum tympani sekitar muara tuba faringotympani terdiri
dari selapis cuboid atau silindris dengan silia.

Tuba Faringotympani
a. Menghubungkan bagian anterior cavum tymphani dengan
bagian lateroposterior nasopharyng
b. Lumen sempit, gepeng dalam bidang vertical.
c. Mucosa membentuk rugae terdiri dari epitel selapis/ bertingkat
silindris dengan silis dan lamina propia tipis.
d. Mucosa dekat nasofaryng mengandung kelenjar tubuloalveolar
dan pada epitelnya terdapat sel goblet.
e. Sepanjang mucosa terdapat limfosit.
f. Sekitar muara di nasofaryng terdapat tonsila tuba

3) Telinga dalam
Telinga dalam mempunyai struktur yang kompleks, karena itu
disebut labyrinth. Labyrinth terdiri dari:
a. Labyrinth ossea
b. Labyrinth membranosa
c. Sistem perilymphatic

Labyrinth ossea terdiri dari saluran-saluran dan ruangan-ruangan


yang terdapat di dalam Os. Petrosum. Dalam labyrinth ossea terdapat
kantung-kantung dan saluran-saluran yang bentuknya kurang lebih
sesuai dengan labyrinth ossea. Kantung-kantung dan saluran-saluran
ini disebut labyrinth membranosa.
Labyrinth membranosa dindingnya dilapisi epitel. Labyrinth
membranosa berisi cairan yang disebut endolymph. Antara labyrinth
ossea dan labyrinth membranosa terdapat sistem perilymphatic.

Labyrinth Ossea

13
Labyrinth ossea terdiri dari tiga bagian yang saling berhubungan,
yaitu:
a. Vestibulum
b. Canalis semicircularis tulang
c. Cochlea

Vestibulum
Vestibulum merupakan ruangan yang berbentuk oval, letaknya
sebelah medial cavum tymphani.

Canalis semicircularis tulang


Terdapat tiga bagian, yaitu canalis semicircularis lateral, anterior dan
posterior.

Cochlea (rumah siput)


Cochlea dibagi menjadi tiga buah saluran oleh lamina spiralis dan
membrana vestibularis (membrana Reissner) yaitu scala vestibuli,
scala media (ductus cochlearis membranosa) dan scala tymphani.
Lamina spiralis terbentang sepanjang cochlea antara modiolus dan
ligamentum spiralis (merupakan penebalan periosteum dinding
lateral cochlea). Membrana vestibularis membentang oblik
sepanjang cochlea antara lamina spiralis ossea dan dinding lateral
cochlea.

14
Telinga dalam: duktus koklearis (skala media)

Dinding luar duktus koklearis dibentuk oleh area vascular yang


disebut stria vaskularis. Epitel berlapis yang menutupi stria ini unik
karena mangandung jalinan kapiler intraepithelial yang dibentuk oleh
pembuluh yang memasok jaringan ikat ligamen spiralis. Lamina propia
daerah ini adalah ligamen spiralis yang terdiri atas serat kolagen,
fibroblas berpigmen dan banyak pembuluh darah.
Membran basilar terdiri atas jaringan ikat bervaskular di bawah
lempeng yang lebih tipis serat basilar. Organ corti yang berada di atas
serat basilar ini, meluas dari limbus spiralis ke ligmen spiralis. Sel-sel
rambut sensoris yang sangat khusus, beberapa jenis sel penyokong dan
celah dan terowongan pembentuk organ corti. Cabang perifer dari sel-sel
bipolar ganglion spriralis berjalan melalui saluran-saluran di dalam
lamina spiralis oseosa dan bersinaps dengan sel-sel rambut di dalam
organ corti

Organ Corti
a. Suatu struktur epitel mengisi duktus koklearis
b. Terletak diatas membran basilaris
c. Dibentuk oleh sel pilar (tongkat)
d. Fungsi: reseptor getaran yg diinduksi oleh gelombang suara
e. Bagian luar dan dalam ada sel rambut yaitu: sel rambut luar tdd 1
baris, sel rambut dalam tdd 3-4 baris
f. Serabut saraf (n.auditorius) berhubungan dgn sel rambut ini
g. Ada struktur terapung pada endolimph disebut membrana tektoria,
yaitu mulai dari lamina spiralis dekat membrana Reissner

15
2. Memahami dan menjelaskan fisiologi pendengaran
Tiap-tiap telinga terdiri dari tiga bagian: telinga luar, tengah, dan dalam.
Bagian luar dan tengah telinga menyalurkan gelombang suara dari udara ke
telinga dalam yang berisi cairan, mengamplifikasi energi suara dalam proses
ini. Telinga dalam berisi dua sistem sensorik: koklea, yang mengandung
reseptor untuk mengubah gelombang suara menjadi impuls saraf sehingga

16
kita dapat mendengar, dan aparatus vestibularis, yang penting bagi sensasi
keseimbangan.

Pendengaran adalah persepsi energi suara oleh saraf. Pendengaran


melibatkan dua aspek: identifikasi suara (apa) dan lokalisasinya (di mana).
Gelombang suara adalah getaran udara yang merambat. Gelombang suara
terdiri dari daerah-daerah bertekanan tinggi akibat kompresi molekul udara
dan bergantian dengan daerah-daerah bertekanan rendah akibat peregangan
molekul.
Gelombang suara dapat merambat melalui media selain udara, misalnya
air. Namun, perambatan ini kurang efisien; diperlukan tekanan lebih besar
untuk menimbulkan pergerakan cairan dibandingkan dengan pergerakan
udara karena inersia (resistensi terhadap perubahan) cairan yang lebih besar.
Suara ditandai oleh nadanya (pitch), intensitasnya (kekuatan), dan warna
suaranya (timbre):
a. Nada suatu suara (misalnya nada C atau G) ditentukan oleh frekuensi
getaran. Semakin besar frekuensi getaran, semakin tinggi nada. Telinga
manusia dapat mendeteksi gelombang suara dengan frekuensi dari 20
hingga 20.000 siklus per detik, atau hertz (Hz), tetapi paling peka untuk
frekuensi antara 1000 dan 4000 Hz.
b. Intensitas, atau kekuatan, suara bergantung pada amplitudo gelombang
suara, atau perbedaan tekanan antara daerah pemadatan bertekanan tinggi
dan daerah peregangan bertekanan rendah. Dalam rentang pendengaran,
semakin besar amplitudo, semakin keras suara. Telinga manusia dapat
mendengar intensitas suara dengan kisaran yang lebar, dari bisikan paling
lemah hingga bunyi pesawat lepas landas yang memekakkan telinga.
Kekuatan suara diukur dalam desibel (dB),yaitu ukuran logaritmik
intensitas dibandingkan dengan suara paling lemah yang masih

17
terdengar-ambang pendengaran. Karena hubungannya yang logaritmik,
setiap 10 dB menunjukkan peningkatan 10 kali lipat kekuatan suara.
c. Warna suara, atau kualitas, suatu suara bergantung pada overtone, yaitu
frekuensi tambahan yang mengenai nada dasar. Garpu tala memiliki nada
murni, tetapi sebagian besar suara tidaklah murni. Sebagai contoh,
campuran kompleks overtone menimbulkan suara yang berbeda pada
berbagai alat musik yang memainkan nada yang sama (nada C dalam
bunyi terompet terdengar berbeda dengan nada C di piano). Overtone
juga berperan menyebabkan perbedaan karakteristik suara orang.

Sel-sel reseptor khusus untuk pendengaran terletak di telinga dalam yang


berisi cairan. Karena itu, gelombang suara di udara harus dapat disalurkan ke
arah dan dipindahkan ke telinga dalam, dengan mengompensasi pengurangan
energi suara yang terjadi secara alami dalam proses ketika gelombang suara
berpindah dari udara ke air. Fungsi ini dilaksanakan oleh telinga luar dan
telinga tengah.
Telinga luar terdiri dari pinna (daun telinga), meatus auditarius eksternus
(saluran telinga), dan membran timpani (gendang telinga). Pinna, lipatan
menonjol tulang rawan berlapis kulit, mengumpulkan gelombang suara dan
menyalurkannya ke saluran telinga. Saluran telinga melalui tulang temporal
dari bagian luar ke membran timpani, yaitu membran tipis yang memisahkan
telinga luar dan telinga tengah.
Membran timpani, yang membentang merintangi pintu masuk ke telinga
tengah, bergetar ketika terkena gelombang suara.
Agar membran bebas bergerak ketika terkena suara, tekanan udara
istirahat di kedua sisi membran timpani harus sama. Bagian luar gendang

18
telinga terpajan ke tekanan atmosfer yang mencapainya melalui saluran
telinga. Bagian dalam gendang telinga yang menghadap ke rongga telinga
tengah juga terpajan ke tekanan atmosfer melalui tuba eustachius (auditorius)
yang menghubungkan telinga tengah ke faring (bagian belakang
tenggorokan). Tuba eustachius dalam keadaan normal tertutup, tetapi dapat
membuka oleh gerakan menguap, mengunyah, dan menelan. Pembukaan ini
memungkinkan tekanan udara di telinga tengah menyamai tekanan atmosfer
sehingga tekanan di kedua sisi membran timpani setara.
Telinga tengah memindahkan gerakan bergetar membran timpani ke
cairan telinga dalam. Pemindahan ini dipermudah oleh adanya rantai tiga
tulang kecil, atau osikulus (maleus, inkus, dan stapes) yang membentang di
telinga tengah.
Tulang pertama, maleus, melekat ke membran timpani, dan tulang
terakhir, stapes, melekat ke jendela oval, pintu masuk ke dalam koklea yang
berisi cairan. Sewaktu membran timpani bergetar sebagai respons terhadap
gelombang suara, rangkaian tulangtulang tersebut ikut bergerak dengan
frekuensi yang sama, memindahkan frekuensi getaran ini dari membran
timpani ke jendela oval. Tekanan yang terjadi di jendela oval yang
ditimbulkan oleh setiap getaran akan menimbulkan gerakan mirip-gelombang
di cairan telinga dalam dengan frekuensi yang sama seperti gelombang suara
asal. Ingat kembali bahwa diperlukan tekanan yang lebih besar untuk
menggerakan cairan daripada menggerakan udara, tetapi sistem osikulus
memperkuat tekanan yang ditimbulkan oleh gelombang suara di udara
melalui dua mekanisme agar cairan di koklea bergetar. Pertama, karena luas
permukaan membran timpani jauh lebih besar daripada luas jendela oval,
terjadi peningkatan tekanan ketika gaya yang bekerja pada membran timpani
disalurkan oleh osikulus ke jendela oval (tekanan = gaya/luas permukaan).
Kedua, efek tuas osikulus juga menimbulkan keuntungan mekanik tambahan.
Bersama-sama, kedua mekanisme ini meningkatkan gaya yang bekerja pada
jendela oval sebesar 20 kali dibandingkan dengan jika gelombang suara
langsung mengenai jendela oval. Tekanan tambahan ini sudah cukup untuk
menggetarkan cairan di koklea.
Koklea adalah sistem tubulus bergelung yang terletak jauh di dalam
tulang temporal. Koklea dibagi di seluruh panjangnya menjadi tiga
kompartemen longitudinal berisi cairan. Duktus koklearis yang buntu, yang
juga dikenal sebagai skala media, membentuk kompartemen tengah. Bagian
ini membentuk terowongan di seluruh panjang bagian tengah koklea, hampir
mencapai ujung. Kompartemen atas, skala vestibuli, mengikuti kontur bagian
dalam spiral, dan skala timpani, kompartemen bawah, mengikuti kontur luar.
Skala vestibuli dan skala timpani mengandung cairan yang disebut perilimfe.
Duktus koklearis mengandung cairan yang sedikit berbeda, endolimfe.
Daerah di luar ujung duktus koklearis tempat cairan di kompartemen atas dan
bawah berhubungan disebut helikotrema. Skala vestibuli dipisahkan dari

19
rongga telinga tengah oleh jendela oval, tempat melekatnya stapes. Lubang
kecil lain yang ditutupi oleh membran, jendela bundar, menutup skala timpani
dari telinga tengah. Membran vestibularis yang tipis membentuk atap duktus
koklearis dan memisahkannya dari skala vestibuli. Membran basilaris
membentuk lantai duktus koklearis, memisahkannya dari skala timpani.
Membran basilaris sangat penting karena mengandung organ Corti, organ
indera untuk pendengaran.
Organ Corti, yang terletak di atas membran basilaris di seluruh
panjangnya, mengandung sel rambut auditorik yang merupakan reseptor
suara. Sel rambut merupakan mekanoreseptor: menghasilkan sinyal saraf jika
rambut permukaannya mengalami perubahan bentuk secara mekanis akibat
gerakan cairan di telinga dalam.
Gerakan stapes yang mirip-piston terhadap jendela oval memicu
gelombang tekanan di kompartemen atas. Karena cairan tidak dapat
terkompresi, tekanan disebarkan melalui dua cara ketika stapes menyebabkan
jendela oval menonjol ke dalam: (1) penekanan jendela oval dan (2) defleksi
membran basilaris. Pada bagian-bagian awal jalur ini, gelombang tekanan
mendorong perilimfe maju di kompar temen atas, kemudian mengelilingi
helikotrema, dan masuk ke dalam kompartemen bawah, tempat gelombang
tersebut menyebabkan jendela bundar menonjol keluar mengarah ke rongga
telinga tengah untuk mengompensasi peningkatan tekanan. Sewaktu stapes
bergerak mundur dan menarik jendela oval ke arah luar ke telinga tengah,
perilimfe mengalir ke arah berlawanan, menyebabkan jendela bundar
menonjol ke dalam. Jalur ini tidak menyebabkan penerimaan suara, tetapi
hanya menghilangkan tekanan.

20
Gelombang tekanan frekuensi-frekuensi yang berkaitan dengan
penerimaan suara mengambil "jalan pintas". Gelombang tekanan di
kompartemen atas disalurkan melalui membran vestibularis yang tipis,
menuju duktus koklearis, dan kemudian melalui membran basilaris ke
kompartemen bawah. Transmisi gelombang tekanan melalui membran
basilaris menyebabkan membran ini bergerak naikturun, atau bergetar, sesuai
gelombang tekanan. Karena rambut-rambut dari sel reseptor terbenam di

21
dalam membrana tektorial yang kaku dan stasioner, rambut-rambut tersebut
akan membengkok ke depan dan belakang sewaktu membrana basilaris
menggeser posisinya terhadap membrana tektorial. Perubahan bentuk
mekanis rambut yang maju-mundur ini menyebabkan saluran-saluran ion
gerbang-mekanis di sel-sel rambut terbuka dan tertutup secara bergantian. Hal
ini menyebabkan perubahan potensial depolarisasi dan hiperpolarisasi yang
bergantian potensial reseptor—dengan frekuensi yang sama dengan
rangsangan suara semula.
Pada bagian apikal sel rambut sangat kaku dan terdapat penahan yang
kuat antara satu bundel dengan bundel lainnya, sehingga bila mendapat
stimulus akustik akan terjadi gerakan yang kaku bersamaan. Pada bagian
puncak stereosillia terdapat rantai pengikat yang menghubungkan stereosilia
yang tinggi dengan stereosilia yang lebih rendah, sehingga pada saat terjadi
defleksi gabungan stereosilia akan mendorong gabungan-gabungan yang lain,
sehingga akan menimbulkan regangan pada rantai yang menghubungkan
stereosilia tersebut. Keadaan tersebut akan mengakibatkan terbukanya kanal
ion pada membran sel, maka terjadilah depolarisasi. Gerakan yang
berlawanan arah akan mengakibatkan regangan pada rantai tersebut
berkurang dan kanal ion akan menutup. Terdapat perbedaan potensial antara
intra sel, perilimfa dan endolimfa yang menunjang terjadinya proses tersebut.
Potensial listrik koklea disebut koklea mikrofonik, berupa perubahan
potensial listrik endolimfa yang berfungsi sebagai pembangkit pembesaran
gelombang energi akustik dan sepenuhnya diproduksi oleh sel rambut luar.
Depolarisasi sel-sel rambut (sewaktu membrana basilaris bergeser ke atas)
meningkatkan kecepatan pengeluaran zat perantara mereka, yang menaikkan
kecepatan potensial aksi di serat-serat aferen. Sebaliknya, kecepatan
pembentukan potensial aksi berkurang ketika sel-sel rambut mengeluarkan
sedikit zat perantara karena mengalami hiperpolarisasi (sewaktu membrana
basilaris bergerak ke bawah).
Pola pergeseran membran basilaris membentuk gelombang berjalan
dengan amplitudo maksimum yang berbeda sesuai dengan besar frekuensi
stimulus yang diterima. Gerak gelombang membran basilaris yang timbul
oleh bunyi berfrekuensi tinggi (10 kHz) mempunyai pergeseran maksimum
pada bagian basal koklea, sedangkan stimulus berfrekuensi rendah (125 kHz)
mempunyai pergeseran maksimum lebih kearah apeks. Gelombang yang
timbul oleh bunyi berfrekuensi sangat tinggi tidak dapat mencapai bagian
apeks, sedangkan bunyi berfrekuensi sangat rendah dapat melalui bagian
basal maupun bagian apeks membran basilaris. Sel rambut luar dapat
meningkatkan atau mempertajam puncak gelombang berjalan dengan
meningkatkan gerakan membran basilaris pada frekuensi tertentu. Keadaan
ini disebut sebagai cochlear amplifier.
Perubahan bentuk mekanis rambut-rambut tersebut menyebabkan pem-
bukaan dan penutupan (secara bergantian) saluran di sel, reseptor, yang
menimbulkan perubahan potensial berjenjang di reseptor, sehingga
mengakibatkan perubahan kecepatan pembentukan potensial aksi yang
merambat ke otak. Dengan cara ini, gelombang suara diterjemahkan menjadi

22
sinyal saraf yang dapat dipersepsikan oleh otak sebagai sensasi suara
(Sherwood, 2014).
3. Memahami dan menjelaskan otitis media akut
3.1 Definisi
Otitis Media adalah infeksi pada telinga tengah yang kebanyakan
menginfeksi bayi dan anak-anak terutama pada usia 3 tahun saat
serangan pertama. Otitis Media Akut berkaitan dengan sakit telinga,
demam, inflamasi pada membrana tympani, dan cairan di telinga tengah
(Efiaty A Soepandi, 2013).
3.2 Etiologi
Otitis media akut (OMA) terjadi karena faktor pertahanan tubuh
terganggu. Sumbatan tuba eustachius merupakan faktor penyebab utama
dari otitis media. Karena fungsi tuba eustachius terganggu, pencegahan
invasi kuman ke dalam telinga tengah juga terganggu, sehingga kuman
masuk ke dalam telinga tengah dan terjadi peradangan.
Dikatakan juga, bahwa pencetus terjadinya OMA ialah infeksi
saluran napas atas. Pada anak, makin sering anak terserang infeksi
saluran napas, makin besar kemungkinan terjadinya OMA. Pada bayi
terjadinya OMA dipermudah oleh karena tuba eustachius-nya pendek,
lebar dan letaknya agak horizontal (Efiaty A Soepandi, 2013).
3.3 Patofisiologi
Kuman penyebab utama pada OMA ialah bakteri piogenik, seperti
Streptokokus hemolitikus, Stafilokokus aureus, Pneumokokus. Selain itu
kadang-kadang ditemukan juga Hemofilus influenza, Escherichia colli,
Streptokokus anhemolitikus, Proteus vulgaris dan Pseudomonas
aerugenosa. Hemofilus influenza sering ditemukan pada anak yang
berusia di bawah 5 tahun.
Perubahan mukosa telinga tengah sebagai akibat infeksi dapat dibagi
atas 5 stadium: (1) stadium oklusi tuba eustachius, (2) stadium hiperemis,
(3) stadium supurasi, (4) stadium perforasi dan (5) stadium resolusi.
Keadaan ini berdasarkan pada gambaran membrana timpani yang diamati
melalui liang telinga luar.

Stadium Oklusi Tuba Eustachius


Tanda adanya oklusi tuba eustachius adalah gambaran retraksi membrana
timpani akibat terjadinya tekanan negatif di dalam telinga tengah, akibat
absorpsi udara. Kadang-kadang membrana timpani tampang normal
(tidak ada kelainan) atau berwarna keruh pucat. Efusi mungkin telah
terjadi, tetapi tidak dapat dideteksi. Stadium ini sukar dibedakan dengan
otitis media serosa yang disebabkan oleh virus atau alergi.

Stadium Hiperemis (Stadium Pre-supurasi)

23
Pada stadium hiperemis, tampak pembuluh darah yang melebar di
membran timpani atau seluruh membran timpani tampak hiperemis serta
edem. Sekret yang telah terbentuk mungkin masih bersifat eksudat yang
serosa sehingga sukar terlihat.

Stadium Supurasi
Edema yang hebat pada mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel
superfisial serta terbentuknya eksudat yang purulent di kavum timpani
menonjol (bulging) kea rah liang telinga luar.
Pada keadaan ini pasien tampak sangat sakit, nadi dan suhu
meningkat, serta rasa nyeri di telinga bertambah hebat.
Apabila tekanan nanah di kavum timpani tidak berkurang, maka
terjadi iskemi, akibat tekanan pada kapiler-kapiler, serta timbul
tromboflebitis pada vena-vena kecil dan nekrosis mukosa dan
submucosa. Nekrosis ini pada membran timpani terlihat sebagai daerah
yang lebih lembek dan berwarna kekuningan. Di tempat ini akan terjadi
ruptur.
Bila tidak dilakukan insisi membran timpani (miringitomi) pada
stadium ini, maka kemungkinan besar membran timpani akan ruptur dan
nanah keluar ke liang telinga luar.
Dengan melakukan miringitomi, luka insisi akan menutup kembali,
sedangkan apabila terjadi ruptur, maka lubang tempat ruptur (perforasi)
tidak mudah menutup kembali.

Stadium Perforasi
Karena beberapa sebat seperti terlambatnya pemberian antibiotika atau
virulensi kuman yang tinggi, maka dapat terjadi ruptur membran timpani
dan nanah keluar mengalir dari telinga tengah ke liang telinga luar. Anak
yang tadinya gelisah sekarang menjadi tenang, suhu badan turun dan
anak dapat tertidur nyenyak. Keadaan ini disebut dengan otitis media
akut stadium perforasi.

Stadium Resolusi
Bila membran timpani tetap utuh, maka keadaan membran timpani
perlahan-lahan akan normal kembali. Bila sudah terjadi perforasi, maka
sekret akan berkurang dan akhirnya kering. Bila daya tahan tubuh baik
atau virulensi kuman rendah, maka resolusi dapat terjadi walaupun tanpa
pengobatan. OMA berubah menjadi OMSK bila perforasi menetap
dengan sekret yang keluar terus-menerus atau hilang.
3.4 Manifestasi klinis
Gejala klinik OMA bergantung pada stadium penyakit serta umur pasien.
Pada anak yang sudah dapat berbicara keluhan utama adalah rasa nyeri di

24
dalam telinga, keluhan samping suhu tubuh yang tinggi. Biasanya
terdapat riwayat batuk pilek sebelumnya.
Pada anak yang lebih besar atau pada orang dewasa, selain rasa nyeri
terdapat pula gangguan pendengaran berupa rasa penuh di telinga atau
rasa kurang dengar. Pada bayi dan anak kecil gejala khas OMA ialah
suhu tubuh tinggi sampai 39,5℃ (pada stadium supurasi), anak gelisah
dan sukar tidur, tiba-tiba anak menjerit waktu tidur, diare, kejang-kejang
dan kadang-kadang anak memegang telinga yang sakit. Bila terjadi
ruptur membran timpani, maka sekret mengalir ke liang telinga, suhu
tubuh turun dan anak tertidur tenang (Efiaty A Soepandi, 2013).
3.5 Diagnosis dan diagnosis banding
Anamnesis
Diagnosis OMA harus memenuhi tiga hal berikut.
1) Penyakitnya muncul mendadak (akut)
2) Ditemukannya tanda efusi (efusi: pengumpulan cairan di suatu
rongga tubuh) di telinga tengah. Efusi dibuktikan dengan adanya
salah satu di antara tanda berikut:
a. Menggembungnya gendang telinga
b. Terbatas/tidak adanya gerakan gendang telinga
c. Adanya bayangan cairan di belakang gendang telinga
d. Cairan yang keluar dari telinga
3) Adanya tanda/gejala peradangan telinga tengah, yang dibuktikan
dengan adanya salah satu di antara tanda berikut:
a. Kemerahan pada gendang telinga
b. Nyeri telinga yang mengganggu tidur dan aktivitas normal

Pemeriksaan Fisik
Tes Bisik
Syarat:
a. Tempat: ruangan sunyi dan tidak ada echo (dinding dibuat rata atau
dilapisi ”soft board” / gorden) serta ada ajarak sepanjang 6 meter
b. Penderita (yang diperiksa)
c. Mata ditutup atau dihalangi agar tidak membaca gerak bibir
d. Telinga yang diperiksa dihadapkan ke arah pemeriksa
e. Telinga yang tidak diperiksa ditutup (bisa ditutupi kapas yang
dibasahi gliserin)
f. Mengulang dengan keras dan jelas kata-kata yang dibisikkan
g. Pemeriksa
h. Kata-kata dibisikkan dengan udara cadangan paru-paru, sesudah
ekspirasi biasa
Kata-kata yang dibisikkan terdiri dari 1 atau 2 suku kata yang
dikenal penderita, biasanya kata-kata benda yang ada di sekeliling
kita.
Teknik Pemeriksaan

25
a. Mula-mula penderita pada jarak 6 m dibisiki beberapa kata. Bila
tidak menyahut pemeriksa maju 1 m (5 m dari penderita) dan tes ini
dimulai lagi. Bila masih belum menyahut pemeriksa maju 1 m,
demikian seterusnya sampai penderita dapat mengulangi 8 kata-kata
dari 10 kata-kata yang dibisikkan. Jarak dimana penderita dapat
menyahut 8 dari 10 kata disebut sebagai jarak pendengaran.
b. Cara pemeriksaan yang sama dilakukan untuk telinga yang lain
sampai ditemukan satu jarak pendengaran.
Hasil tes
Pendengaran dapat dinilai secara kuantitatif (tajam pendengaran) dan
secara kualitatif (jenis ketulian)

Kuantitatif
Kualitatif
Fungsi Pendengaran Suara Bisik
Normal 6m TULI SENSORINEURAL
Dalam batas normal 5m Sukar mendengar huruf desis (frekuensi
Tuli ringan 4m tinggi), seperti huruf s – sy – c
Tuli sedang 3-2m TULI KONDUKTIF
Tuli berat ≤ 1m Sukar mendengar huruf lunak
(frekuensi rendah), seperti huruf m – n
–w

Tes Garputala
Tes Batas Atas Dan Batas Bawah
a. Tujuan: Menentukan frekuensi garpu tala yang dapat didengar
penderita melalui hantaran udara bila dibunyikan pada intensitas
normal.
b. Cara: Semua garpu tala (128 Hz, 256 Hz, 512 Hz, 1024 Hz, 2048
Hz), dapat dimulai dari frekuensi terendah berurutan sampai
frekuensi tertinggi atau sebaliknya, dibunyikan satu persatu, dengan
cara dipegang tangkainya kemudian kedua ujung kakinya dibunyikan
dengan lunak (dipetik dengan jari/kuku, didengarkan lebih dulu oleh
pemeriksa sampai bunyi hampir hilang untuk mencapai intrensitas
bunyi yang terendah bagi orang normal / nilai ambang normal),
kemudian diperdengarkan pada penderita dengan meletakkan garpu
tala di dekat MAE pada jarak 1 – 2 cm dalam posisi tegak dan 2 kaki
pada garis yang menghubungkan MAE kanan dan kiri.
c. Interpretasi:
i. Normal: mendengar garpu tala pada semua frekuensi
ii. Tuli konduksi: batas bawah naik (frekuensi rendah tak
terdengar)
iii. Tuli sensori neural: batas atas turun (frekuensi tinggi tak
terdengar)

26
iv. Kesalahan: garpu tala dibunyikan terlalu keras sehingga tidak
dapat mendeteksi pada frekuensi mana penderita tidak
mendengar

Tes Rinne
a. Tujuan: Membandingkan hantaran udara dan hantaran tulang pada
satu telinga penderita.
b. Cara: Bunyikan garpu tala frekuensi 512 Hz, letakkan tangkainya
tegak lurus pada planum mastoid penderita (posterior dari MAE)
sampai penderita tak mendengar, kemudian cepat pindahkan ke
depan MAE penderita. Apabila penderita masih mendengar garpu
tala di depan MAE disebut Rinne positif, bila tidak mendengar
disebut Rinne negatif.
c. Interpretasi:
i. Normal: Rinne positif
ii. Tuli konduksi: Rinne negatif
iii. Tuli sendori neural: Rinne positif

Tes Weber
a. Tujuan: Membandingkan hantaran tulang antara kedua telinga
penderita.
b. Cara:
i. Garpu tala frekuensi 512 Hz dibunyikan, kemudian tangkainya
diletakkan tegak lurus di garis median, biasanya di dahi (dapat
pula pada vertex, dagu, atau pada gigi insisivus) dengan kedua
kaki pada garis horisontal.
ii. Penderita diminta untuk menunjukkan telinga mana yg
mendengar atau mendengar lebih keras.
iii. Bila mendengar pada satu telinga disebut lateralisasi ke sisi
tellinga tersebut. Bila kedua telinga tak mendengar atau sama-
sama mendengar berarti tak ada lateralisasi.
c. Interpretasi:
i. Normal: tidak ada lateralisasi
ii. Tuli konduksi: mendengar lebih keras di telinga yang sakit
iii. Tuli sensori neural: mendengar lebih keras pada telinga yang
sehat
Karena menilai kedua telinga sekaligus maka kemungkinannya
dapat lebih dari satu.
Contoh lateralisasi ke kanan dapat diinterpretasikan:
 Tuli konduksi kanan, telinga kiri normal
 Tuli konduksi kanan dan kiri, tetapi kanan lebih berat
 Tuli sensori neural kiri, telinga kanan normal
 Tuli sensori neural kanan dan kiri, tetapi kiri lebih berat
 Tuli konduksi kanan dan sensori neural kiri

Tes Schwabach

27
a. Tujuan: Membandingkan hantaran lewat tulang antara penderita
dengan pemeriksa
b. Cara: Garpu tala frekuensi 512 Hz dibunyikan kemudian tangkainya
diletakkan tegak lurus pada mastoid pemeriksa, bila pemeriksa sudah
tidak mendengar, secepatnya garpu tala dipindahkan ke mastoid
penderita. Bila penderita masih mendengar maka Schwabach
memanjang, tetapi bila penderita tidak mendengar, terdapat dua
kemungkinan yaitu Scwabach memendek atau normal.
Untuk membedakan kedua kemungkinan ini maka tes dibalik,
yaitu tes pada penderita dulu baru ke pemeriksa. Garpu tala 512 Hz
dibunyikan kemudian diletakkan tegak lurus pada mastoid penderita,
bila penderita sudah tidak mendengar maka seceptnya garpu tala
dipindahkan pada mastoid pemeriksa, bila pemeriksa tidak
mendengar berarti sama-sama normal, bila pemeriksa masih
mendengar berarti Schwabach penderita memendek.
c. Interpretasi:
i. Normal: Schwabach normal
ii. Tuli konduksi: Schwabach memanjang
iii. Tuli sensori neural: Schwabach memendek

Pemeriksaan Penunjang
a. Immunoglobulin: defisiensi IgA dan IgG
b. Otoskopi
Tujuan: Memeriksa Meatus Akustikus Externus dan Membran
Timpani dengan meneranginya memakai cahaya lampu.
Alat:
i. Otoskop (dengan baterai)
ii. Lampu kepala Van Hasselt (dengan listrik)
iii. Speculum telinga
iv. Alat penghisap
v. Hak tajam
vi. Pemilin kapas
vii. Forsep telinga
viii. Balon politzer
ix. Semprit telinga

28
Pneumatik otoscopy biasanya dilakukan untuk melihat efusi
telinga tengah dan imobilitas membran timpani. Penggunaan
otoscope pneumatik memungkinkan pengenalan udara ke dalam
liang telinga untuk tujuan menentukan fleksibilitas membran
timpani. Pergerakan membran timpani menurun dalam beberapa
kasus AOM dan tidak ada infeksi telinga tengah kronis.
Timpanometri atau reflectometry akustik. Sebuah tympanogram
diperoleh dengan menggunakan probe kecil yang ditempatkan pas ke
dalam saluran telinga eksternal. Sebuah generator stimulus suara
kemudian mengirimkan energi akustik ke kanal, sementara pompa
vakum memperkenalkan tekanan positif dan negatif ke dalam liang
telinga. Sebuah mikrofon di instrumen mendeteksi kembali energi
suara. Tympanogram menyediakan penentuan tingkat ini tekanan
negatif di telinga tengah. Mendeteksi penyakit ketika hadir tetapi
kurang dapat diandalkan ketika penyakit tidak ada. Reflectometry
akustik mendeteksi gelombang suara yang tercermin dari telinga
tengah dan menyediakan informasi mengenai apakah efusi tidak ada
atau hadir. Peningkatan suara yang dipantulkan berkorelasi dengan

29
kemungkinan peningkatan efusi. Teknik ini sangat berguna pada
anak-anak lebih dari 3 bulan.
Tympanocentesis (tusukan dari membran timpani dengan jarum)
dapat dilakukan untuk mengurangi rasa sakit dari efusi atau untuk
mendapatkan spesimen cairan telinga tengah dan pengujian
sensitivitas. Dalam kasus di mana membran timpani telah perforasi
dengan drainase yang dihasilkan ke dalam telinga eksternal,
spesimen dapat diperoleh dan studi mikrobiologis dapat dilakukan
untuk mengidentifikasi organisme.

Deteksi Dini OMA


Audiometri Nada Murni
Suatu sisitem uji pendengaran dengan menggunakan alat listrik yang
dapat menghasilkan bunyi nada-nada murni dari berbagai frekuensi 250-
500, 1000-2000, 4000-8000 dan dapat diatur intensitasnya dalam satuan
(dB). Bunyi yang dihasilkan disalurkan melalui telepon kepala dan
vibrator tulang ketelinga orang yang diperiksa pendengarannya. Masing-
masing untuk menukur ketajaman pendengaran melalui hntaran udara
dan hantran tulang pada tingkat intensitas nilai ambang, sehingga akan
didapatkankurva hantaran tulang dan hantaran udara. Dengan membaca
audiogram ini kita dapat mengtahui jenis dan derajat kurang pendengaran
seseorang. Gambaran audiogram rata-rata sejumlah orang yang
berpendengaran normal dan berusia sekitar 20-29 tahun merupakan nilai
ambang baku pendengaran untuk nada muri.
Telinga manusia normal mampu mendengar suara dengan kisaran
frekwuensi 20-20.000 Hz. Frekwensi dari 500-2000 Hz yang paling
penting untuk memahami percakapan sehari-hari.

Tabel berikut memperlihatkan klasifikasi kehilangan pendengaran


Kehilangan dalam Desibel Klasifikasi
0-15 Pendengaran normal
>15-25 Kehilangan pendengaran kecil
>25-40 Kehilangan pendengaran ringan
>40-55 Kehilangan pendengaran sedang
>55-70 Kehilangan pendenngaran sedang sampai
berat
>70-90 Kehilangan pendengaran berat
>90 Kehilangan pendengaran berat sekali

Pemeriksaan ini menghasilkan grafik nilai ambang pendengaran


psien pada stimulus nada murni. Nilai ambang diukur dengan frekuensi
yang berbeda-beda. Secara kasar bahwa pendengaran yang normal grafik
berada diatas. Grafiknya terdiri dari skala decibel, suara dipresentasikan
dengan aerphon (air kondution) dan skala skull vibrator (bone
conduction). Bila terjadi air bone gap maka mengindikasikan adanya

30
CHL. Turunnya nilai ambang pendengaran oleh bone conduction
menggambarkan SNHL.

Audiometri Tutur
Audiometri tutur adalah system uji pendengaran yang menggunakan
kata-kata terpilih yang telah dibakukan, dituturkan melalui suatu alat
yang telah dikaliberasi, untuk mrngukur beberapa aspek kemampuan
pendengaran. Prinsip audiometri tutur hampir sama dengan audiometri
nada murni, hanya disni sebagai alat uji pendengaran digunakan daftar
kata terpuilih yang dituturkan pada penderita. Kata-kata tersebut dapat
dituturkan langsung oleh pemeriksa melalui mikropon yang dihubungkan
dengan audiometri tutur, kemudian disalurkan melalui telepon kepala ke
telinga yang diperiksa pendengarannya, atau kata-kata rekam lebih
dahulu pada piringan hitam atau pita rekaman, kemudian baru diputar
kembali dan disalurkan melalui audiometer tutur. Penderita diminta
untuk menirukan dengan jelas setip kata yang didengar, dan apabila kata-
kata yang didengar makin tidak jelas karena intensitasnya makin
dilemahkan, pendengar diminta untuk mnebaknya. Pemeriksa mencatata
presentase kata-kata yang ditirukan dengan benar dari tiap denah pada
tiap intensitas.
Hasil ini dapat digambarkan pada suatu diagram yang absisnya
adalah intensitas suara kata-kata yang didengar, sedangkan ordinatnya
adalah presentasi kata-kata yanag diturunkan dengan benar. Dari
audiogram tutur dapat diketahui dua dimensi kemampuan pendengaran
yaitu :
a. Kemampuan pendengaran dalam menangkap 50% dari sejumlah
kata-kata yang dituturkan pada suatu intensitas minimal dengan
benar, yang lazimnya disebut persepsi tutur atau NPT, dan
dinyatakan dengan satuan de-sibel (dB).
b. Kemamuan maksimal perndengaran untuk mendiskriminasikan tiap
satuan bunyi (fonem) dalam kata-kata yang dituturkan yang
dinyatakan dengan nilai diskriminasi tutur atau NDT. Satuan
pengukuran NDT itu adalah persentasi maksimal kata-kata yang
ditirukan dengan benar, sedangkan intensitas suara barapa saja.
Dengan demikian, berbeda dengan audiometri nada murni pada
audiometri tutur intensitas pengukuran pendengaran tidak saja pada
tingkat nilai ambang (NPT), tetapi juga jauh diatasnya.

Audiometri tutur pada prinsipnya pasien disuruh mendengar kata-


kata yang jelas artinya pada intensitas mana mulai terjadi gangguan
sampai 50% tidak dapat menirukan kata-kata dengan tepat.
Kriteria orang tuli :
a. Ringan masih bisa mendengar pada intensitas 20-40 dB
b. Sedang masih bisa mendengar pada intensitas 40-60 dB
c. Berat sudah tidak dapat mendengar pada intensitas 60-80 dB
d. Berat sekali tidak dapat mendengar pada intensitas >80 dB

31
Pada dasarnya tuli mengakibatkan gangguan komunikasi, apabila
seseorang masih memiliki sisa pendengaran diharapkan dengan bantuan
alat bantu dengar (ABD/hearing AID) suara yang ada diamplifikasi,
dikeraskan oleh ABD sehingga bisa terdengar. Prinsipnya semua tes
pendengaran agar akurat hasilnya, tetap harus pada ruang kedap suara
minimal sunyi. Karena kita memberikan tes paa frekuensi tertetu dengan
intensitas lemah, kalau ada gangguan suara pasti akan mengganggu
penilaian. Pada audiometri tutur, memng kata-kata tertentu dengan vocal
dan konsonan tertentu yang dipaparkan kependrita. Intensitas pad
pemerriksaan audiomatri bisa dimulai dari 20 dB bila tidak mendengar
40 dB dan seterusnya, bila mendengar intensitas bisa diturunkan 0 dB,
berarti pendengaran baik. Tes sebelum dilakukan audiometri tentu saja
perlu pemeriksaan telinga : apakah congok atau tidak (ada cairan dalam
telinga), apakah ada kotoran telinga (serumen), apakah ada lubang
gendang telinga, untuk menentukan penyabab kurang pendengaran.

Audiometer Skrinning Medan Bebas


Keunggulan: harga terjangkau, sederhana, ringkas, mudah, waktu
pemeriksaan 15-20 menit, sensitivitas 90,9% dan spesifisitas 68,4% pada
balita.
Cara pemeriksaan: posisi subjek berhadapan dengan pemeriksa dan
posisi kursi subjek satu meter dari speaker kanan dan speaker kiri. Subjek
diberikan instruksi untuk mengangkat tangan kiri apabila mendengar
suara dari pengeras suara kiri atau mengangkat tangan kanan bila
mendengar suara dari pengeras suara kanan. Orangtua diminta agar tidak
memberikan reaksi pada saat anak diberikan stimulus suara. Pemeriksa
akan menekan tombol pada modul utama alat tersembunyi yang berada di
bawah meja dan juga mengamati serta mencatat reaksi dari subjek.
Stimulus (percakapan, warble, atau bising pita sempit) bernada diberikan,
yang pertama dites adalah frekuensi 500 Hz dan 2.000 Hz. Jika anak
masih kooperatif, tes dilanjutkan dengan frekuensi 1.000 Hz dan 4.000
Hz.
Pada hasil uji diagnostik didapatkan tingkat ketepatan audiometer
skrining medan bebas yang divalidasi dengan hasil pemeriksaan
audiometri nada murni menunjukkan angka yang memenuhi syarat untuk
kepentingan skrining. Hasil uji diagnostik dikatakan positif kuat bila nilai
rasio kemungkinan >1 dan negatif kuat bila nilai rasio kemungkinan
mendekati 0. Dari hasil penelitian berdasarkan nilai rasio kemungkinan
positif hasil uji diagnostik yang positif kuat tetapi belum memberikan
nilai diagnostik yang baik.

Diagnosis Banding
Perbedaan Gejala dan Tanda antara OMA dan OME
Gejala dan Tanda Otitis Media Akut Otitis Media Efusi
(OMA) (OME)

32
Nyeri telinga (otalgia),
+ -
menarik telinga (tugging)
Inflamasi akut, demam + -
Efusi telinga tengah + +
Membran timpani
membengkak (bulging), +/- -
rasa penuh di telinga
Gerakan membrane
timpani berkurang atau + +
tidak ada
Warna membrane timpani
abnormal seperti menjadi + +
putih, kuning dan biru
Gangguan pendengaran + +
Otore purulent akut + -
Kemerahan membrane
+ -
timpani, erythema

3.6 Tatalaksana
Penatalaksanaan OMA tergantung pada stadium penyakitnya.
Pengobatan pada stadium awal ditujukan untuk mengobati infeksi saluran
napas, dengan pemberian antibiotik, dekongestan lokal atau sistemik, dan
antipiretik. Tujuan pengobatan pada otitis media adalah untuk
menghindari komplikasi intrakrania dan ekstrakrania yang mungkin
terjadi, mengobati gejala, memperbaiki fungsi tuba Eustachius,
menghindari perforasi membran timpani, dan memperbaiki sistem imum
lokal dan sistemik.
Terapi otitis media supuratif akut (OMA) tergantung stadium
penyakit, yaitu :
a. Stadium oklusi
Tujuan terapi dikhususkan untuk membuka kembali tuba eustachius.
Sehingga tekanan negative di telinga tengah hilang. Diberikan obat
tetes hidung HCl efedrin 0,5% dalam larutan fisiologik untuk anak <
12 tahun dan HCl efedrin 1% dalam larutan fisiolofik untuk anak
yang berumur > 12 tahun atau dewasa. Selain itu, sumber infeksi
juga harus diobati dengan memberikan antibiotic.
b. Stadium hiperemis (presupurasi)
Diberikan antibiotic, obat tetes hidung, dan analgesic. Bila
membrane timpani sudah hiperemi difus, sebaiknya dilakukan
miringotomi. Antibiotic yang diberikan ialah penisilin atau
eritromisin. Jika terdapat resistensi, dapat diberikan kombinasi
dengan asam klavunalat atau sefalosoprin. Untuk terapi awal
diberikan penisilin IM agar konsentrasinya adekuat di dalam darah.
Antibiotic diberikan minimal selama 7 hari. Pada anak diberikan

33
ampisilin 4×50-100 mg/kgBB, amoksisilin 4×40 mg/kgBB/hari, atau
eritromisin 4×40 mg/kgBB/hari
c. Stadium supurasi
Selain antibiotic, pasien harus dirujuk untuk dilakukan miringotomi
bila membrane timpani masih utuh. Selain itu, analgesic juga perlu
diberikan agar nyeri dapat berkurang.
d. Stadium perforasi
Diberikan obat cuci telinga H2O2 3% selama 3-5 hari serta antibiotic
yang adekuat sampai 3 minggu. Biasanya sekret akan hilang dan
perforasi akan menutup kembali dalam 7 sampai dengan 10 hari.
e. Stadium resolusi
Biasanya akan tampak secret mengalir keluar. Pada keadaan ini
dapat dilanjutkan antibiotic sampai 3 minggu, namun bila masih
keluar secret diduga telah terjadi mastoiditis.

Diagnosis pasti OMA harus memiliki tiga kriteria, yaitu bersifat


akut, terdapat efusi telinga tengah, dan terdapat tanda serta gejala
inflamasi telinga tengah. Gejala ringan adalah nyeri telinga ringan dan
demam kurang dari 39°C dalam 24 jam terakhir. Sedangkan gejala berat
adalah nyeri telinga sedang-berat atau demam 39°C. Pilihan observasi
selama 48-72 jam hanya dapat dilakukan pada anak usia enam bulan
sampai dengan dua tahun, dengan gejala ringan saat pemeriksaan, atau
diagnosis meragukan pada anak di atas dua tahun. Follow-up
dilaksanakan dan pemberian analgesia seperti asetaminofen dan
ibuprofen tetap diberikan pada masa observasi.

Usia Diagnosis Pasti Diagnosis Meragukan


Kurang dari 6 bulan Antibiotic Antibiotic
6 bulan-2 tahun Antibiotic Antibiotic jika gejala
berat, observasi jika
gejala ringan
Lebih dari 2 tahun Antibiotic jika gejala Observasi
berat, observasi jika
gejala ringan

Menurut American Academic of Pediatric (2004), amoksisilin


merupakan first-line terapi dengan pemberian 80mg/kgBB/hari sebagai
terapi antibiotik awal selama lima hari. Amoksisilin efektif terhadap
Streptococcus penumoniae. Jika pasien alergi ringan terhadap
amoksisilin, dapat diberikan sefalosporin seperti cefdinir. Second-line
terapi seperti amoksisilin-klavulanat efektif terhadap Haemophilus
influenzae dan Moraxella catarrhalis, termasuk Streptococcus
pneumonia. Pneumococcal 7-valent conjugate vaccine dapat dianjurkan
untuk menurunkan prevalensi otitis media.

Pembedahan

34
Terdapat beberapa tindakan pembedahan yang dapat menangani OMA
rekuren, seperti miringotomi dengan insersi tuba timpanosintesis, dan
adenoidektomi
a. Miringotomi
Miringotomi ialah tindakan insisi pada pars tensa membran timpani,
supaya terjadi drainase sekret dari telinga tengah ke liang telinga
luar. Syaratnya adalah harus dilakukan secara dapat dilihat langsung,
anak harus tenang sehingga membran timpani dapat dilihat dengan
baik. Lokasi miringotomi ialah di kuadran posterior-inferior. Bila
terapi yang diberikan sudah adekuat, miringotomi tidak perlu
dilakukan, kecuali jika terdapat pus di telinga tengah.
Indikasi miringostomi pada anak dengan OMA adalah nyeri
berat, demam, komplikasi OMA seperti paresis nervus fasialis,
mastoiditis, labirinitis, dan infeksi sistem saraf pusat. Miringotomi
merupakan terapi third-line pada pasien yang mengalami kegagalan
terhadap dua kali terapi antibiotik pada satu episode OMA. Salah
satu tindakan miringotomi atau timpanosintesis dijalankan terhadap
anak OMA yang respon kurang memuaskan terhadap terapi second-
line, untuk menidentifikasi mikroorganisme melalui kultur
 Stadium hiperemis (pre supurasi): Bisa kita lakukan bila terlihat
hiperemis difusi.
 Stadium supurasi: Lakukan jika membran timpani masih utuh.
Keuntungannya yaitu gejala klinik lebih cepat hilang dan ruptur
membran timpani dapat kita hindari.
b. Timpanosintesis
Timpanosintesis merupakan pungsi pada membran timpani, dengan
analgesia lokal supaya mendapatkan sekret untuk tujuan
pemeriksaan. Indikasi timpanosintesis adalah terapi antibiotik tidak
memuaskan, terdapat komplikasi supuratif, pada bayi baru lahir atau
pasien yang sistem imun tubuh rendah. Pipa timpanostomi dapat
menurun morbiditas OMA seperti otalgia, efusi telinga tengah,
gangguan pendengaran secara signifikan dibanding dengan plasebo
dalam tiga penelitian prospertif, randomized trial yang telah
dijalankan.
c. Adenoidektomi
Adenoidektomi efektif dalam menurunkan risiko terjadi otitis media
dengan efusi dan OMA rekuren, pada anak yang pernah menjalankan
miringotomi dan insersi tuba timpanosintesis, tetapi hasil masih tidak
memuaskan. Pada anak kecil dengan OMA rekuren yang tidak
pernah didahului dengan insersi tuba, tidak dianjurkan
adenoidektomi, kecuali jika terjadi obstruksi jalan napas dan
rinosinusitis rekuren.Terdapat beberapa tindakan pembedahan yang
dapat menangani OMA rekuren, seperti miringotomi dengan insersi
tuba timpanosintesis, dan adenoidektomi.
3.7 Komplikasi

35
Komplikasi Intra temporal
a. Otitis media supuratif kronik
Dapat terjadi karena penanganan OMA yang terlambat, penanganan
yang tidak adekuat, daya tahantubuh yang lemah dan virulensi
kuman yang tinggi. Secara klinis ada 2 stadium yaoitu stadium aktif
dimana dijumpai sekret pada liang telingadan stadium nonaktif
dimana tidak ditemukan sekret di liang telinga.
b. Mastoiditis Akut
Adanya jumlah pus yang berlebihan akan masuk mendesak selulae
mastoid dan terjadi nekrosis pada dinding selule dengan bentuk
empiema, mastoidkapsul akan terisi sel peradangan sehingga bentuk
anatomi akan hilang. Dan infeksi dapat melanjut menembus tulang
korteks sehingga terjadi abses subperiosteal.
Pada beberapa kasus dimana drainase cukup baik akan terjadi
keadaan kronik dimana didapat retensi pus di dalam selule mastoid
yang disebut sebagai mastoid reservoir dengan gejala utama otore
profus.
Klinis: panas tinggi, rasa sakit bertambah hebat, gangguan
pendengaran bertambah, sekret bertambah, bengkak dan rasa sakit di
daerah mastoid.
c. Petrositis
Terjadi karena pneumotisasi di daerah os petrosus umumnya kurang
baik.Walau demikian, petrositis jarang terjadi pada OMA.
d. Fasial paralisis
Adanya pembengkakan pada selubung saraf di dalam kanalis
falopian akan terjadi penekanan pada saraf fasial. Pada OMA jarang
terjadi kecuali bial ada kelainan kongenital di mana terdapat hiatus
pada kanal falopian.
Klinis: gejala pertama adalah klemahan pada sudut mulut yanng
cenderung menjadi berat. Paralisis terjadi pada stadium hiperemi
atau supurasi. Kelumpuhan ini akan sembuh sempurna bila otitis
medianya sembuh.

36
e. Labirintitis
Meskipun jarang terjadi perlu diketahui bahwa infeksi disini adalah
kelanjutan dari petrositis atau karena masuknya kuman melaui
foramen ovale dan rotundum.Peradangan ini dapat mengenai koklea,
vestibulum dan kanalis semi sirkularis. Klinis: mual, tumpah, vertigo
dan kurang pendengaran tipe sensorineural.
f. Ketulian
g. Proses adhesi atau perlengketan
Dapat terjadi pada otitis media yanbg berlngsung 6 minggu.Sekret
mukoid yang kental dapat menyebabkan kerusakan tulang
pendengaran atau menyebabkan perleketan tulang pendengaran
dengan dinding cavum timpani.

Komplikasi Intrakranial
a. Abses extradural
Terjadi penimbunan pus antara duramater dan tegmen timpani.
Seringkali tegmen timpani mengalami erosi dan kuman masuk ke
dalam epitimpani, antrum, adn celulae mastoid. Penyebaran infeksi
dapat pula melalui pembuluh darah kecil yang terdapat pada mukosa
periosteum menuju bulbus jugularis, nervus facialis, dan labirin.
Klinis : otalgia, sakit kepala, tampak lemah.
b. Abses subdural
Jarang terjadi penimbunan pus di ruang antara duramater dan
arachnoid.Penyebaran kuman melalui pembuluh darah. Klinis: sakit
kepala, rangsang meningeal, kadang-kadang hemiplegi.
c. Abses otak
Terjadi melalui trombophlebitis karena ada hubunganb antara vena -
vena daerah mastoid dan vena-vena kecil sekitar duramater ke
substansia alba. Klinis: sakit kepala hebat, apatis, suhu tinggi,
tumpah, kesadaran menurun, kejang, papil edema.
d. Meningitis otogenik
Terjadi secara hematogen, erosi tulang atau melalui jalan anatomi
yang telah ada.Pada anakkomplikasi ini sering terjadi karena pada
anak jarak antara ruang telinga tengah dan fossa media relatif pendek
dan dipisahkan oleh tegmen timpani yang tipis. Klinis: gelisah,
iritabel, panas tinggi, nyeri kepala, rangsang meningeal (+).
e. Otitic Hodrocephalus
Jarang terjadi. Infeksi ini terjadi melalui patent sutura
petrosquamosa. Klinis: sakit kepala terus -menerus, diplopia, paresis
N VI sisi lesi, mual, tumpah, papil edem.

3.8 Pencegahan
Terdapat beberapa hal yang dapat mencegah terjadinya OMA. Mecegah
ISPA pada bayi dan anak-anak, menangani ISPA dengan pengobatan

37
adekuat, menganjurkan pemberian ASI minimal enam bulan,
menghindarkan pajanan terhadap lingkungan merokok, dll
a. Memberi air susu ibu (ASI) buat anak sekurang-kurangnya 6 bulan
untuk membantu mencegah daripada pembentukan awal infeksi
telinga. Jika anak diberi susu dengan botol, peganglah anak pada
satu sudut daripada membiarkan anak minum sambil baring.
b. Elakkan paparan pada asap rokok, yang dapat meningkatkan
frekuensi dan beratnya infeksi telinga.
c. Kurangkan paparan, jika boleh, kepada kelompok besar anak-anak
lain, seperti di pusat penjagaan anak. Karena infeksi saluran
pernafasan atas multipel boleh juga membawa kepada ikfeksi
telinga, mengehadkan paparan dapat megurangkan frekuensi pilek
awal dan seterusnya infeksi telinga.

Kedua orang tua dan anak-anak harus praktek pencucian tangan yang
benar. Ini adalah antara cara terbaik untuk mengurangkan transmisi
kuman individu-ke-individu yang dapat meyebabkan pilek dan
seterusnya infeksi telinga
3.9 Prognosis
Dengan pengobatan yang adekuat, prognosis OMA adalah baik untuk
pendengaran dan kesembuhan, khususnya bila dilakukan parasentesis
sebelum terjadi perforasi spontan membran timpani. Sebagian besar dari
OMA sembuh tanpa hasil yang merugikan.
Dalam beberapa kasus, nanah terselesaikan (sembuh), tapi efusi
telinga tengah harus steril terus. Jika efusi ini berlangsung selama lebih
dari 3 bulan, maka diagnosis OME harus dilakukan. Dalam kasus yang
parah yang tidak diobati, infeksi dapat menyebar, menyebabkan infeksi
pada tulang mastoid (mastoiditis) atau bahkan meningitis, tapi ini jarang
terjadi. Kesulitan mendengar dapat terjadi. Sementara mereka tidak
selalu permanen, mereka dapat mempengaruhi perkembangan bicara dan
bahasa anak-anak muda.
4. Memahami dan menjelaskan menjaga pendengaran dalam pandangan Islam
Dalam hal ini Allah berfirman; “Maka janganlah kamu duduk bersama
mereka sampai mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena
sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian) tentulah kamu serupa dengan
mereka”. [QS. An-Nisaa: 140]
Di bulan Ramadhan, kelompok ini juga menutup telinganya rapat-rapat
dari segala suara yang dapat mengganggu konsentrasinya dalam mengingat
Allah. Sebaliknya, mereka membuka telinganya lebar-lebar untuk mendengar
ayat-ayat suci al-Qur’an, mendengar majelis ta’lim, mendengar kalimat-
kalimat thayibah, dan mendengar nasehat-nasehat agama. Ketekunan dan
kesibukan menyimak kebaikan dengan sendirinya akan mengurangi
kecendrungan mendengar sesuatu yang sia-sia, apalagi yang merusak nilai
ibadahnya.

38
Allah ta’alaa ketika menyebutkan kata “pendengaran” dalam Al-Qur’an
selalu didahulukandaripadapenglihatan. Sungguh, ini merupakan satu
mu’jizat Al-Qur’an yang mulia. Allah telah mengutamakan dan
mendahulukan pendengaran daripada penglihatan. Sebab, pendengaran adalah
organ manusia yang pertama kali bekerja ketika di dunia, juga merupakan
organ yang pertama kali siap bekerja pada saat akhirat terjadi. Maka
pendengaran tidak pernah tidur sama sekali.
Sesunguhnya pendengaran adalah organ tubuh manusia yang pertama
kali bekerja ketika seorang manusia lahir di dunia. Maka, seorang bayi ketika
saat pertama kali lahir, ia bisa mendengar, berbeda dengan kedua mata. Maka,
seolah Allah ta’alaa ingin mengatakan kepada kita, “Sesungguhnya
pendengaran adalah organ yang pertama kali mempengaruhi organ lain
bekerja, maka apabila engkau datang disamping bayi tersebut beberapa saat
lalu terdengar bunyi kemudian, maka ia kaget dan menangis. Akan tetapi jika
engkau dekatkan kedua tanganmu ke depan mata bayi yang baru lahir, maka
bayi itu tidak bergerak sama sekali (tidak merespon), tidak merasa ada bahaya
yang mengancam. Ini yang pertama.
Kemudian, apabila manusia tidur, maka semua organ tubuhnya istirahat,
kecuali pendengarannya. Jika engkau ingin bangun dari tidurmu, dan engkau
letakkan tanganmu di dekat matamu, maka mata tersebut tidak akan
merasakannya. Akan tetapi jika ada suara berisik di dekat telingamu, maka
anda akan terbangun seketika. Ini yang kedua.
Adapun yang ketiga, telinga adalah penghubung antara manusia dengan
dunia luar. Allah ta’alaa ketika ingin menjadikan ashhabul kahfi tidur selama
309 tahun, Allah berfirman:

“Maka Kami tutup telinga-telinga mereka selama bertahun-tahun


(selama 309 tahun)”.(Q.S. Al-Kahfi: 11)
Dari sini, ketika telinga tutup sehingga tidak bisa mendengar, maka orang
akan tertidur selama beratus-ratus tahun tanpa ada gangguan. Hal ini karena
gerakan-gerakan manusia pada siang hari menghalangi manusia dari tidur
pulas, dan tenangnya manusia (tanpa ada aktivitas) pada malam hari
menyebabkan bisa tidur pulas, dan telinga tetap tidak tidur dan tidak lalai
sedikitpun.
Dan di sini ada satu hal yang perlu kami garis bawahi, yaitu
sesungguhnya Allah berfirman dalam surat Fushshilat:
“Dan kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian yang
dilakukan oleh pendengaranmu, mata-mata kalian, dan kulit-kulit kalian
terhadap kalian sendiri, bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak
mengetahui kebanyakan dari apa yang kalian kerjakan.” (Q.S. Fushshilat:
22)

39
Jadi, setiap kita memiliki mata, ia melihat apa saja yang ia mau lihat;
akan tetapi kita tidak mampu memilih hal yang mau kita dengarkan, kita
mendengarkan apa saja yang berbunyi, suka atau tidak suka, sehingga pantas
Allah ta’alaa menyebutkan kalimat “pandangan” dalam bentuk jamak, dan
kalimat “pendengaran” dalam bentuk tunggal, meskipun kalimat pendengaran
didahulukan daripada kalimat penglihatan. Maka pendengaran tidak pernah
tidur atau pun istirahat. Dan organ tubuh yang tidak pernah tidur maka lebih
tinggi (didahulukan) daripada makhluk atau organ yang bisa tidur atau
istirahat. Maka telinga tidak tidur selama-lamanya sejak awal kelahirannya, ia
bisa berfungsi sejak detik pertama lahirnya kehidupan yang pada saat organ-
organ lainnya baru bisa berfungsi setelah beberapa saat atau beberapa hari,
bahkan sebagian setelah beberapa tahun kemudian, atau pun 10 tahun lebih.

40
Daftar Pustaka

Hartanto, Widya W., Thaufiq S. Boesoirie, dan Ratna A. S. Poerwana. 2013.


Tingkat Ketepatan Audiometer Skrining Medan Bebas untuk Mendeteksi
Gangguan Dengar Anak pada MKB Vol. 45 No.1, tahun 2013
Lalwani, Anil K. 2012. CURRENT Diagnosis & Treatmentin Otolaryngology—
Head & Neck Surgery 3rd edition. USA: The McGraw-Hill Companies, Inc
McCance, Kathryn L dan Sue E Huether. 2014. Pathopysiology: The Biologic
Basis for Disease in Adults and Childern, 7th edtion. Canada: Elsevier
Porth, Carol Mattson. 2011. Essentials of Pathophysiology: Concepts of Altered
Health States 3rd edition. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.
Sherwood, Laurealee. 2010. Human Physiology: From Cells to Systems, 7th
Edition. Belmont, USA: Brooks/Cole
Soepandi, Efiaty A. 2013. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorokan Kepala Leher. Edisi ke-7. Jakarta: Balai Penerbit FK UI

41