Anda di halaman 1dari 7

Hipersensitivitas Tipe I

Puspa Dewi, 1006658410, FKUI 2010


Modul Infeksi Imunologi 2013

Reaksi imun pada umumnya berguna bagi tubuh karena memiliki fungsi proteksi terhadap infeksi atau
pertumbuhan kanker, namun dapat pula menyebabkan hal yang tidak menguntungkan seperti reaksi
hipersensitivitas. Reaksi hipersensitivitas merupakan peningkatan reaktivitas atau sensitivitas terhadap
antigen yang pernah dipajankan sebelumnya. Reaksi hipersensitivitas dapat berupa reaksi cepat yang
muncul dalam hitungan detik dan menghilang dalam dua jam, reaksi intermediet yang terjadi setelah
beberapa jam dan menghilang dalam 24 jam, dan reaksi lambat yang muncul sekitar 48 jam setelah
pajanan.1,2

Gell dan Coombs membagi reaksi hipersensitivitas berdasarkan tipe respon imun dan efektor yang
“bertanggungjawab” ke dalam empat tipe reaksi, yaitu hipersensitivtias tipe I, II, III, dan IV. 1,2

HIPERSENSITIVITAS TIPE I

Penyakit yang terdapat pada manusia dapat disebabkan


oleh respon imun terhadap antigen atau alergen. Respon
imun ini melibatkan sel TH2, IgE, sel mast, dan eosinofil.
Pada respon ini, antigen menginduksi CD4+ sel TH2, yang
kemudian memicu sel B memproduksi antibodi IgE spesifik
yang kemudian berikatan dengan reseptor Fc pada sel mast
dan basofil. Ketika sel mast dan basofil berikatan dengan IgE
yang cross-linked dengan antigen, sel-sel tersebut akan
teraktivasi dan melepaskan berbagai mediator yang dapat
menyebabkan berbagai efek seperti peningkatan
permeabilitas vaskular, vasodilatasi, kontraksi bronkus dan
otot polos viseral. Reaksi tersebut dikenal dengan reaksi
cepat karena muncul beberapa menit setelah pajanan
antigen. Setelah terjadi respon cepat, akan terjadi
perkembangan lanjut komponen inflamatori yang disebut
late-phase reaction dengan gambaran khas berupa
akumulasi neutrofil, eosinofil, makrofag, dan CD4+ TH2.
Reaksi lambat ini dipicu oleh sitokin dan mediator lipid yang
diproduksi sel TH2 dan sel mast. Istilah immediate
hypersensitivity atau hipersensitivitas reaksi cepat atau
hipersensitivitas tipe I dipakai dalam menggambarkan
reaksi cepat/immediate reaction dan reaksi lanjutan/late-
phase reaction, reaksi ini disebut juga reaksi alergi/atopi. 1,2

Proses terjadinya reaksi tipe I tersebut adalah sebagai


berikut: 1,2
1. Fase sensitisasi : waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan IgE hingga diikat silang oleh
reseptor spesifik (Fcԑ-R) pada permukaan sel mast/basofil
2. Fase aktivasi : waktu yang dibutuhkan antara pajanan ulang dengan antigen spesifik dan sel
mast/ basofil menglamai degranulasi yang akan menimbulkan reaksi. Hal ini dapat terjadi akibat
adanya ikatan silang antara antigen dan IgE.
3. Fase efektor : waktu saat terjadinya respon kompleks sebagai efek mediator-mediator yang
dilepaskan sel mast/basofil. 1,2

Reaksi cepat dalam hipersensitivitas memiliki manifestasi yang bervariasi, dari lokal, tingan, hingga berat
bahkan keadaan yang dapat menyancam nyawa seperti reaksi anafilaksis dan asma berat. 1,2

1. Reaksi lokal : reaksi lokal terbatas pada jaringan atau organ spesifik yang biasanya melibatkan
permukaan epitel tempat masuk alergen. Kecenderungan untuk menunjukkan reaksi tipe I
adalah diturunkan dan disebut dengan atopi. 50-70% populasi membentuk IgE terhadap antigen
yang masuk ke tubuh melalui mukosa, namun hanya 10-20% yang menderita rhinitis alergi, dan
hanya 3-10% yang menderita asma bronkial.
2. Reaksi sistemik – anafilaksis : reaksi ini dapat terjadi dalam beberapa menit dan bersifat fatal.
Reaksi ini ditimbulkan oleh IgE yang berikatan dengan sel mast dan basofil dan melepaskan
berbagai mediator. Reaksi biasanya dipicu oleh alergen seperti makanan, obat, gigitan serangga,
lateks, dan bahan lainnya.

Produksi IgE

Individu atopi memproduksi kadar IgE yang tinggi dalam merespon alergen, sedangkan individu normal
pada umumnya memproduksi Ig lain seperti IgM dan IgG, serta memproduksi IgE dalam jumlah kecil.
Regulasi sintesis IgE bergantung pada kecenderungan individu menghasilkan respon TH2 terhadap
alergen karena sitokin sel TH2 menstimulasi switching rantai berat isotype menjadi IgE pada sel B.
Kecenderungan ini dipengaruhi berbagai faktor seperti genetik, nature of antigen, dan riwayat pajanan
terhadap alergen. 1,2

Alergen tipikal yang menginduksi reaksi alergi ini termasuk protein polen, tungau debu rumah, kulit
binatang, makanan, antibiotik penisilin. Hingga saat ini belum diketahui mengapa beberapa antigen
menginduksi sel TH2 secara kuat sedangkan antigen lainnya tidak. Terdapat dua karakteristik penting
dari alergen, yaitu individu terpajanan berulang oleh alergen tersebut, dan alergen tersebut tidak
menstimulasi respon imun innate yang berhubungan dengan makrofag dan sel TH-1 & sel TH-17. 1,2

Aktivasi Sel TH2 : Sintesis IgE bergantung pada aktivasi CD4+ sel T helper dan sekresinya berupa IL-4 &
IL-13. Alergen dipresentasikan sel dendritik kepada sel T, sel T kemudian berdiferensiasi menjadi sel
TH2 dan sel TFH (follicular helper) yang mensekresikan sitokin TH2, terutama IL-4 & IL-13. Proses
diferensiasi tersebut dipengaruhi oleh sitokin IL-4 yang juga dihasilkan berbagai sel lainnya, seperti sel
mast dan basofil. TH2 dan TFH kemudian menginduksi sel B untuk switching ke IgE melalui sitokin IL-4
dan IL-13 serta ligan CD40. Selain menghasilkan IL-4 dan IL-13, sel TH2 juga menghasilkan IL-5 yang
berperan dalam aktivasi eosinophil, sel yang banyak terdapat saat terjadi reaksi hipersensitivas. IL-13
juga berperan dalam stimulasi epithelial dalam peningkatan produksi mukus. 1,2

Aktivasi Sel B dan switching menjadi IgE : Di bawah pengaruh ligand CD40 dan sitokin IL-4, sel B
mengalami proses switching rantai berat dan memproduksi IgE. IgE kemudian memasuki sirkulasi dan
berikatan dengan reseptor FC pada sel mast sehingga sel mast tersensitisasi terhadap alergen tertentu.
1,2

PERAN SEL MAST & BASOFIL PADA HIPERSENSITIVITAS TIPE I

Sel mast, basofil, dan eosinofil merupakan sel efektor pada reaksi hipersensitivitas tipe I. Ketiga sel
tersebut memiliki granul sitoplasma yang berisi mediator utama pada reaksi alergi. Ketiga sel tersebut
juga memproduksi mediator lipid dan sitokin yang dapat menginduksi inflamasi. 1,2

Sel mast dan basofil mengekspresikan reseptor Fcԑ yang memiliki afinitas tinggi terhadap rantai berat ԑ.
Reseptor ini disebut FcԑRi, dimana reseptor ini berikatan dengan IgE. Molekul FcԑRi tersusun atas rantai
α yang berikatan dengan region Fc dari IgE, dan rantai  & 2 rantai ɣ yang berfungsi dalam proses
signaling. 1,2
Aktivasi sel mast : sel mast teraktivasi akibat adanya cross-linking (ikatan silang) molekul FcԑRi dengan
antigen yang terikat pada molekul IgE yang menempel pada reseptor Fc. Pajanan terhadap antigen
tertentu akan menyebabkan ikatan silang molekul IgE yang sufisien sehingga dapat memicu aktivasi sel
mast. Sel mast yang teraktivasi menghasilkan tiga jenis respon biologis, yaitu: 1) degranulasi molekul
preformed (biogenic amin & granul makromolekul) 2) sintesis dan sekresi mediator lipid, dan 3)
sintesis dan sekresi sitokin. 1,2

1. Biogenic amines dan granul enzim & proteoglikan

Biogenik amin, & enzim granul merupakan mediator primer (preformed). Histamin adalah suatu
biogenik amin yang merupakan komponen utama dari granul pada sel mast. Histamin yang dilepas akan
diikat oleh reseptor yang dapat berupa H1, H2, H3, H4 dengan distribusi yang berbeda dalam jaringan
dan menghasilkan berbagai efek yang berbeda pula. 1,2

Tipe Lokasi Fungsi


H1 Otot polos, epitel, CNS Vasodilation,bronchoconstriction muscle
activation,↑vascular permeability, pain,
itching, allergic rhinitis symptoms& motion
sickness.
H2 Gastric parietal cell, cardiac muscles, CNS ↑Gastric acid secretion
H3 NS : presynaptic, myenteric plexus ↓Neurotransmitter release
H4 Eosinophil, neutrophil, CD4 sel T Efek kemotaktik, alergi, inflamasi
Saat fase aktivasi, terjadi metilasi fosfolipid yang diikuti influx Ca2+ yang menimbulkan aktivasi
fosfolipase pada membran sel mast. Dalam fase tersebut terjadi pelepasan energi akibat glikolisis dan
pengaktifan enzim untuk menggerakkan granul-granul ke permukaan sel. Proses degranulasi
dipengaruhi kadar cAMP dan cGMP dalam sel, dimana peningkatan cAMP bersifat inhibisi, sedangkan
peningkatan cGMP bersifat memacu degranulasi. Proses pelepasan granul adalah sautu proses fisiologik
yang tidak menimbulkan lisis sel. 1

Protease serin netral (triptase & kimase) adalah konstituen protein yang paling banyak pada granul sel
mast dan berperan pada kerusakan jaringan pada reaksi hipersensitivitas. 2

2. Mediator lipid : PG & LT

Mediator lipid merupakan mediator sekunder (newly generated). Sel mast yang teraktivasi akan
mensintesis mediator lipid antara lain Prostaglandin D2 (PGD2), Leukotrienes (LT), dan Platelet
Activating Factor (PAF). PGD2, LT, dan PAF berperan pada fase lanjut reaksi Tipe I. Fase lanjut umumnya
timbul setelah fase cepat hilang (6-8jam). PG & LT dibentuk dari metabolisme asam arakidonat atas
pengaruh fosfolipase A2. Efek biologisnya pun timbul lebih lambat namun lebih menonjol dan lebih lama
dibandingkan histamine. LT berperan pada bronkokonstriksi, peningkatan permeabilitas vaskular dan
produksi mukus, sedangkan PGD2 menimbulkan bronkokonstriksi dan vasodilatasi. PAF memiliki efek
bronkokonstriksi, retraksi sel endotel, dan relaksasi vaskular otot polos. 1,2

3. Sitokin

Sitokin merupakan mediator sekunder (newly generated). Berbagai macam sitokin dilepaskan sel mast
dan basofil (IL-3, IL-4, IL-5, IL-6, IL-10, IL-13, GM-CSF, dan TNF-α). Sitokin-sitokin tersebut mengubah
lingkungan mikro dan memicu sel inflamasi (neutrofil dan eosinofil). IL-4 dan IL-3 dapat meningkatkan
produksi IgE oleh sel B. IL-5 berperan dalam pengerahan dan aktivasi eosinofil. Sedangkan TNF-α dalam
kadar tinggi berperan dalam renjatan anafilaksis. 1,2
PERAN EOSINOFIL DALAM HIPERSENSITIVITAS TIPE I

Eosinofil adalah granulosit yang banyak terdapat pada reaksi fase lanjut inflamasi dan terlibat dalam
berbagai proses patologis pada penyakit alergi. Eosinofil diaktivasi oleh sitokin yang dihasilkan sel TH2,
terutama IL-5. Eosinofil memiliki granul protein yang bersifat toksik pada organisme parasit dan dapat
melukai jaringan normal. 2

IMMEDIATE REACTION & LATE-PHASE REACTION

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, reaksi hipersensitivitas tipe I terdiri dari reaksi cepat
(immediate reaction) dan reaksi fase lanjut (late-phase). 2

Reaksi cepat : perubahan vaskular awal yang terjadi pada reaksi cepat ditandai dengan pembengkakan
dan kemerahan (wheal and flare) pada injeksi intradermal oleh alergen. Dapat pula ditandai dengan
terjadinya vasodilatasi, kebocoran vaskular, sekresi glandular, dan spasme otot polos. Penampakan ini
terjadi sekitar 5-10 menit setelah pajanan antigen dan biasanya mulai menghlang kurang dari satu jam.
Wheal and flare reaction bergantung pada IgE dan sel mast. 2

Reaksi fase lanjut: reaksi ini terjadi dalam 2-4 jam yang ditandai oleh akumulasi leukosit (neutrofil,
eosinofil, basofil, dan sel TH2). Reaksi dapat terjadi hingga 24 jam, kemudian menghilang. 2

KESIMPULAN

Reaksi hipersensitivitas tipe I disebut juga reaksi alergi. Reaksi ini timbul setelah pajanan berulang oleh
suatu alergen pada individu atopi. Respon imun ini melibatkan sel TH2, IgE, sel mast, dan eosinophil
yang pada akhirnya bermanifestasi sebagai suatu penyakit alergi misalnya rhinitis alergi, asma bronkial,
renjatan anafilaktik, dan berbagai penyakit alergi lainnya.

SUMBER

1. Baratawidjaja KG, Rengganis I. Imunologi Dasar. Edisi 9. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia; 2010. p.369-380
2. Abbas AK, Lichtman AH, Pillai S. Cellular and Molecular Immunology. Edisi 7. Philadelphia:
Elsevier Saunder; 2012. p.425-443