Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN KASUS

GEA D

Pembimbing :

dr. Arsi Widyastriastuti, Sp.A

Disusun Oleh :

Hendrian Novantiano

201710401011023

SMF ILMU KESEHATAN ANAK RUMAH SAKIT BHAYANGKARA KEDIRI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

FAKULTAS KEDOKTERAN

2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmatNya

penulis dapat menyelesaikan laporan kasus stase Ilmu Kesehatan Anak dengan topik

“Gastroenteritis Akut”.

Laporan ini disusun dalam rangka menjalani kepaniteraan klinik bagian Ilmu

Kesehatan Anak di Rumah Sakit Bhayangkara Kediri. Tidak lupa penulis ucapkan terima

kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan kasus ini,

terutama kepada dr. Arsi Widyastriastuti, Sp.A selaku dokter pembimbing yang telah

memberikan bimbingan kepada penulis dalam penyusunan dan penyempurnaan laporan

kasus ini. Tidak lupa pula, penulis juga mengucapkan terima kasih kepada dr.Nieken

Susanti, Sp.A, M.Biomed dan dr. Taufik Raffendi, Sp.A atas ilmu yang beliau berikan

kepada penulis.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa laporan kasus ini masih jauh dari

sempurna, untuk itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan.

Semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat dalam bidang kedokteran khususnya

Bagian Ilmu Kesehatan Anak.

Kediri, Februari 2018

Penyusun

2
DAFTAR ISI

Kata Pengantar.................................................................................................. 2

Daftar Isi ........................................................................................................... 3

BAB I Laporan Kasus ..................................................................................... 4

BAB II Pembahasan ......................................................................................... 20

Daftar Pustaka .................................................................................................. 34

3
BAB I
LAPORAN KASUS

IDENTITAS PASIEN
Nama : An. A Nama ibu : Ny. E
Usia : 8 bln Usia : 35 th
Jenis Kelamin : Perempuan Pekerjaan : IRT
BB : 7,5 kg Pendidikan : SMA
Masuk RS : 30-01-18 pukul 19.00
Alamat : Ngadisimo Utara I Gg. Wakaf II, Kec. Kediri Kota

ANAMNESIS (Heteroanamnesis)
1. Keluhan utama : Mencret
2. RPS : Ibu pasien mengatakan bahwa pasien mencret sejak Senin pagi. Pasien
mencret sebanyak 8 kali berwarna coklat dengan komposisi cair semua tanpa
ampas dan ada lendir. Tidak didapatkan darah pada BAB pasien. Ibu pasien
mengatakan jumlah mencret pasien sebanyak + 1 gelas kecil tiap mencretnya. Ibu
pasien juga mengatakan bahwa pasien muntah juga sejak hari Senin sebanyak 12
kali dengan komposisi cair dan sedikit sisa makanan bubur. Setiap muntahnya,
ibu pasien mengatakan sejumlah + 2 gelas kecil. Selain itu, ibu pasien juga
mengatakan bahwa pasien mengalami demam sejak hari Senin, dengan kondisi
suhu pada malam hari lebih tinggi daripada siang hari. Ibu pasien sempat
membawa pasien ke faskes terdekat dan pasien diberi obat racikan puyer dan
setelah pasien minum obat tersebut, suhu badannya menurun. Pasien tidak
batuk/pilek, nafsu makan dan minum menurun. BAK lancar.
3. RPD : Pasien baru pertama kali sakit seperti selama hidupnya, MRS saat ini
adalah yang pertama kali. Riwayat alergi makanan/obat (-). Riwayat sakit thypoid
(-), gastritis (-), DHF (-), malaria (-), asma (-), kejang demam(-).
4. RPK : Tidak ada keluarga dirumah yang sakit seperti pasien.
5. RPSos : Bapak dari pasien tidak merokok, lingkungan rumah tidak berpolusi jauh
dari jalan utama kendaraan.
6. Riwayat Pengobatan : (-)

4
7. Riwayat Kehamilan dan persalinan : Kontrol rutin ke bidan saat kehamilan,
riwayat muntah berlebihan (-), riwayat hipertensi (-), perdarahan (-) atau keadaan
patologi lainnya (-). Anak pertama, perempuan, cukup bulan, SptB, berat badan
lahir 3500 gram, panjang 48cm, langsung menangis.
8. Riwayat Gizi : Dari lahir minum ASI eksklusif sampai usia 6 bulan dan setelah
itu ditambah bubur Milna sampai usia sekarang ini. Usia 1-6 bulan hanya minum
ASI saja. Setelah itu hanya minum SuFor Lactogen saja karena ASI tidak keluar
lagi setelah usia 5 bulan. MPASI mulai diberikan saat usia 6 bulan.

9. Riwayat Imunisasi :
Imunisasi Frekuensi Usia
Hepatitis B 3 0, 1, 6 bulan
Polio 4 0, 2, 4, 6
BCG 1 2 bulan
DTP 3 2, 4, 6

10. Riwayat Tumbang :


Denver II:
Motorik Kasar : bangkit terus duduk
Motorik Halus : memegang dengan ibu jari dan jari
Verbal : papamama spesifik
Sosial : dada dengan tangan, menyatakan keinginan, tepuk tangan

5
PEMERIKSAAN FISIK

PEMERIKSAAN AWAL DI IGD (30 Januari 2018, jam 19.00)

Pemeriksaan Umum

- Keadaan umum : Lemah

- Kesadaran : Komposmentis

- Tanda vital :

 Nadi : 130x/ menit

 RR : 26 x/ menit

 Suhu : 38,3° C

 BB : 7,5 kg

Kepala/Leher

Mata : Anemis -/-, ikterus -/-, edema palpebral (-)

Cekung +/+, konjungtiva hiperemi (-/-)

Mulut : Pucat (-), sianosis (-), lidah kotor (-), mukosa bibir basah, faring

hiperemis (-), tonsil hiperemi -/-

Leher : Pembesaran KGB (-)

Thorax

Pulmo : Ronkhi (-/-), wheezing (-/-) , vesikuler +/+

Cor : S1/S2 tunggal, gallop (-), murmur (-)

Abdomen

Bising usus (+) meningkat, soefl, hepar dan lien tidak teraba, NT (-), timpani seluruh

lapangan abdomen

Ekstremitas Akral hangat, kering, merah, CRT < 2 detik, edema -/-

9
Riwayat terapi di IGD
 IVFD D5 ½ NS 1250cc/24jam
 Inj Santagesik 3 x 200mg
 Inj Ranitidin 2x10mg
 Inj Ceftriaxone 3x1/3 vial
 P.O Pamol syr 3xcth1

PEMERIKSAAN PENUNJANG YANG DILAKUKAN DI IGD (-)

10
PEMERIKSAAN SAAT PASIEN di R. Melati (31 Januari 2018 08.00)

PEMERIKSAAN FISIK

Pemeriksaan Umum

- Keadaan umum : Cukup

- Kesadaran : Komposmentis, GCS E4V5M6

- Tanda vital :

 Nadi : 100x/ menit

 RR : 26 x/ menit

 Suhu : 37,1° C

 BB : 15 kg

Kepala dan leher

Kulit dan wajah : wajah dalam batas normal

Mata : konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik

Hidung : pernafasan cuping hidung (-)

Lidah dan bibir : sianosis (-) bibir normal, lidah kotor (-), faring hiperemis (-), tonsil

hiperemi +/+, tonsil T3/T2, kripta (+), detritus (-)

Leher : tidak ada pembesaran KGB

Thorax Pulmo :

-Inspeksi : retraksi suprasternal (-)

-Palpasi : Pergerakan dinding dada simetris

-Perkusi : suara sonor lapang paru dextra dan sinistra

-Auskultasi : Ves +/+ Rh - - Wh - -


- - - -

11
Thorax Cor :

-Inspeksi : ictus kordis tidak tampak

-Palpasi : ictus kordis tidak kuat angkat, thrill (-)

-Perkusi : Batas jantung dbn

-Auskultasi : S1/S2 tunggal, murmur (-), gallop (-)

Abdomen :

Inspeksi : Perut datar

Auskultasi : Bising usus (+) normal

Palpasi : Soefl (+), nyeri tekan epigastrium (-), hepar dan lien tidak teraba

Perkusi : Timpani, turgor kulit normal

Ekstremitas : Akral hangat, kering, merah, CRT < 2 detik, edema -/-

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Darah Lengkap (..-01-18) Faeces Lengkap (..-01-18) Urine lengkap (..-01-18)


 RBC 3,97 x 106 ul
 Hb 10,3 g/dl Makroskopis - SG 1.010
- Warna kuning - pH 6.5
 Hct 29,9% - leu neg.
- Konsistensi lembek
 PLT 296 x 103 ul - Nit neg.
- Darah neg.
 WBC 8,3 x 103 ul - Lendir pos. - Pro neg.
 Neu 51,9 % - Glu norm.
 Lym 29,8 % Mikroskopis - Ket neg.
- Eritrosit neg. - Ubg norm.
 Mon 5,6 %
- Leukosit 1-2/lpb - Bil neg.
 Eos 0,6 % - Ery neg.
- Kista neg.
 Bas 1,7 % - Amuba neg. Sedimen
 LED 12 /jam - Telur cacing neg. - Eritrosit neg.
- Gist/jamur neg. - Leukosit 0-1/lpb
- Sisa makanan neg. - Kristal neg.
- Epithel neg.
Lain-lain - Silinder neg.
- lain-lain neg.

Diagnosis

Problem List

12
An. A, 8 bln

BAB cair

Vomiting

Febris

Dehidrasi ringan

Initial Diagnosis

 Gastroenteritis akut + dehidrasi ringan

Perencanaan/Planning

Planning Diagnosis:

DL (sudah dilakukan)

FL

UL

ASSESMENT :

SUSPECT GASTROENTERITIS AKUT DEHIDRASI RINGAN

PLANNING TERAPI:

 Infus RL 1250cc/24jam

 Injeksi Ranitidine 2x10mg

 Injeksi Cefadroxil 2x500mg

 P.O Paracetamol syr 3x 1 ½ cth p.r.n

Planning Monitoring

1. Monitoring keluhan (demam, nyeri tenggorokan, mual, pusing, hidung buntu)

2. Vital Sign (N, RR, t)

13
3. Pemeriksaan Fisik (Faring dan tonsil)

Planning Edukasi

1. Menjelaskan kepada keluarga tentang penyakit pasien, bahaya penyakit, pemeriksaan

penunjang yang akan dilakukan, terapi yang akan diberikan dan pencegahan penyakit.

2. Setelah KRS orang tua diminta kontrol, untuk mengetahui perkembangan kesembuhan dari

pasien, dan mencegah perburukan dari penyakitnya.

3. Langkah promotif/preventif: asupan nutrisi tetap diberikan sama seperti keadaan anak saat

sehat dan mengurangi makanan yang banyak mengandung pengawet, pemanis buatan, dan

pewarna makanan, kebersihan perorangan, kebersihan lingkungan, higiene mulut yang

baik, mengurangi jumlah polusi udara disekitar tempat tinggal. Mengajak anak untuk aktif

berolahraga seperti diajak berjalan saat pagi hari, untuk meningkatkan daya tahan tubuh

anak.

14
FOLLOW UP

TGL Subjektif Objektif Assessment Planning


22-11-17 Panas (+), nyeri Keadaan umum: cukup Tonsilitis Planning Tx :
tenggorokan (-), Kesadaran: Komposmentis, Kronis
Infus RL 1250cc/24jam
mual (+), muntah GCS E4V5M6
Injeksi Ranitidinie 2x10mg
(+), nyeri perut (-) Tanda vital :
 Nadi : 110x/ menit Injeksi Cefadroxil 2x500mg
 RR : 20x/ menit P.O Ondansentron syr
 Suhu : 38,0 ° C
4mg/5ml, 2 x ½ cth
Kepala/Leher: a/i/c/d -/-/-/-
Tonsil merah muda, Tonsil P.O Paracetamol syr 3x1,5
T3/T2 cth p.r.n
Thorax: retraksi dinding dada
(-), stridor (-)
vesikuler/vesikuler+,
ronchi, wheezing

- - - -

- - - -

Abdomen: flat ,soefl, NT (-)


hepar-lien tidak teraba besar
Ekstremitas: akral hangat (+),
CRT <2 detik , edema -/-
23-11-17 Panas (-), nyeri Keadaan umum: cukup Tonsilitis Planning Dx : FL, DL
tenggorokan (-), Kesadaran: Komposmentis, Kronis + Planning Tx :
mual (-), muntah (- GCS E4V5M6 GEA - Infus RL 1250cc/24jam
), nyeri perut (-), Tanda vital : - Injeksi Cefadroxil
BAB cair ±10x,  Nadi : 100x/ menit 2x500mg
ampas (-), nafsu  RR : 20x/ menit - Injeksi Ranitidinie 2x10mg
ma ↓

15
 Suhu : 36,6 ° C - Oralit 5-10ml tiap BAB
Kepala/Leher: a/i/c/d -/-/-/- cair
Tonsil merah muda, Tonsil - Zinc 1tab20mg/hari selama
T3/T2 10 hari
Thorax: retraksi dinding dada - L-Bio 250mg 3x1
(-), stridor (-) - P.O Paracetamol syr 3x1,5
vesikuler/vesikuler+, cth p.r.n
ronchi, wheezing - Edukasi

- - - -

- - - -

Abdomen: flat ,soefl, NT (-)


hepar-lien tidak teraba besar,
BU ↑
Ekstremitas: akral hangat (+),
CRT <2 detik , edema -/-
24-11-17 Panas (-), nyeri Keadaan umum: cukup Tonsilitis Planning Tx :
tenggorokan (-), Kesadaran: Komposmentis, Kronis + - Infus RL 1250cc/24jam
mual (-), muntah (- GCS E4V5M6 GEA - Injeksi Cefadroxil
), nyeri perut (-), Tanda vital : 2x500mg
BAB cair ±4-5x,  Nadi : 100x/ menit - Injeksi Ranitidinie 2x10mg
ampas (-), nafsu  RR : 20x/ menit - Oralit 5-10ml tiap BAB
ma ↓  Suhu : 36,6 ° C cair
Kepala/Leher: a/i/c/d -/-/-/- - Zinc 1tab20mg/hari selama
Tonsil merah muda, Tonsil 10 hari
T3/T2 - L-Bio 250mg 3x1
Thorax: retraksi dinding dada - P.O Paracetamol syr 3x1,5
(-), stridor (-) cth p.r.n
vesikuler/vesikuler+, rh-/-, - Edukasi
wh-/-

16
Abdomen: flat ,soefl, NT (-)
hepar-lien tidak teraba besar,
BU ↑
Ekstremitas: akral hangat (+),
CRT <2 detik , edema -/-
25-11-17 Panas (-), nyeri Keadaan umum: cukup Tonsilitis Planning Tx :
tenggorokan (-), Kesadaran: Komposmentis, Kronis + - Infus RL 1250cc/24jam
mual (-), muntah (- GCS E4V5M6 GEA - Injeksi Cefadroxil
), nyeri perut (-), Tanda vital : 2x500mg
BAB cair ±3-4x,  Nadi : 100x/ menit - Injeksi Ranitidinie 2x10mg
ampas (+), nafsu  RR : 22x/ menit - Oralit 5-10ml tiap BAB
ma ↓  Suhu : 36,8 ° C cair
Kepala/Leher: a/i/c/d -/-/-/- - Zinc 1tab20mg/hari selama
Tonsil merah muda, Tonsil 10 hari
T3/T2 - L-Bio 250mg 3x1
Thorax: retraksi dinding dada - P.O Paracetamol syr 3x1,5
(-), stridor (-) cth p.r.n
vesikuler/vesikuler+, rh-/-, - Edukasi
wh-/-
Abdomen: flat ,soefl, NT (-)
hepar-lien tidak teraba besar,
BU (+)
Ekstremitas: akral hangat (+),
CRT <2 detik , edema -/-
26-11-17 Panas (-), nyeri Keadaan umum: cukup Tonsilitis Planning Tx :
tenggorokan (-), Kesadaran: Komposmentis, Kronis + - Infus RL 1250cc/24jam
mual (-), muntah (- GCS E4V5M6 GEA - Injeksi Cefadroxil
), nyeri perut (-), Tanda vital : 2x500mg
BAB lembek ±3x,  Nadi : 100x/ menit - Injeksi Ranitidinie 2x10mg
nafsu ma (+)  RR : 22x/ menit - Oralit 5-10ml tiap BAB
cair

17
 Suhu : 36,2 ° C - Zinc 1tab20mg/hari selama
Kepala/Leher: a/i/c/d -/-/-/- 10 hari
Tonsil merah muda, Tonsil - L-Bio 250mg 3x1
T3/T2 - P.O Paracetamol syr 3x1,5
Thorax: retraksi dinding dada cth p.r.n
(-), stridor (-) - Edukasi
vesikuler/vesikuler+, rh-/-,
wh-/-
Abdomen: flat ,soefl, NT (-)
hepar-lien tidak teraba besar,
BU (+)
Ekstremitas: akral hangat (+),
CRT <2 detik , edema -/-
Laboratorium DL
 RBC 4,15 x 106 ul
 Hb 11,8 g/dl
 Hct 34,0%
 PLT 209 x 103 ul
 WBC 7,4 x 103 ul
 Neu 45,7 %
 Lym 41,1 %
 Mon 8,8 %
 Eos 1,5 %
 Bas 2,9 %
LED 45 /jam
27-11-12 Panas (-), nyeri Keadaan umum: cukup Tonsilitis  KRS
tenggorokan (-), Kesadaran: Komposmentis, Kronis + Obat pulang
mual (-), muntah (- GCS E4V5M6 GEA  Cefixime 45mg 3x1
), nyeri perut (-), Tanda vital :  L-Bio 250mg 3x1
BAB lembek 1x,  Nadi : 100x/ menit  Pulv. Asam mefenamat/
nafsu ma (+)  RR : 20x/ menit Pseudephedrine/
 Suhu : 36,5 ° C Cetirizine/

18
Kepala/Leher: a/i/c/d -/-/-/- Salbutamol/
Tonsil merah muda, Tonsil Metilprednisolone
T3/T2 3x1
Thorax: retraksi dinding dada  Sol Epinefrine
(-), stridor (-)
vesikuler/vesikuler+, rh-/-,
wh-/-
Abdomen: flat ,soefl, NT (-)
hepar-lien tidak teraba besar,
BU (+) N
Ekstremitas: akral hangat (+),
CRT <2 detik , edema -/-

19
BAB II

PEMBAHASAN

Melaporkan kasus An.A, perempuan, 8 bulan dengan keluhan panas badan tiba-tiba mulai
Sabtu pagi. Malam sebelumnya pasien makan jajan maklor, kemudian mengeluh tenggorokan sakit
dan nyeri saat menelan. Hidung pasien dirasa buntu, saat pasien tidur mulutnya terbuka dan
mengorok, sering terbangun saat tidur , juga mengeluhkan mual tanpa muntah, dan pusing. Pasien
tidak batuk/pilek, nafsu makan dan minum dbn. BAK dan BAB lancar, tidak ada mencret.
Saat ini adalah ke-4x pasien sakit serupa dalam 1 tahun ini. Pasien tidak mempunyai
riwayat alergi makanan/obat. Ibu dan kakak pasien mempunyai riwayat amandel. Bapak dari
pasien tidak merokok, lingkungan rumah tidak berpolusi jauh dari jalan utama lalu lalang
kendaraan, pasien suka beli jajanan di luar rumah seperti maklor, tahu krispi, chiki, dan es sirup.
Dari riwayat prenatal, pasien merupakan anak ke-2, berjenis kelamin laki-laki, lahir cukup
bulan, berat badan lahir 3900 gram, panjang badan 52cm, lahir secara normal pervaginam dan
langsung menangis. Dari lahir hingga usia 1 bulan pasien minum ASI + SuFor Lactogen karena
disuruh bidannya. ASI mulai tidak keluar setelah usia 5 bulan keatas, sehingga hanya minum
SuFor saja. MPASI mulai diberikan saat usia 6 bulan. Riwayat perkembangan dan pertumbuhan
baik. Menurut keterangan ibu pasien, pasien melakukan imunisasi lengkap dengan imunisasi
terakhir yang sudah dilakukan pasien adalah imunisasi campak.
Dari pemeriksaan fisik awal di IGD didapatkan suhu 38,6°C, tonsil hiperemis, tonsil
T3/T2, dan tidak tampak detritus. Pemeriksaan laboratorium menunjukan adanya leukositosis.
Hasil Foto Water’s menunjukan tak tampak kelainan pada sinus paranasalis.
Data Follow up mulai tanggal 22-11-17 menun jukan bahwa pasien juga mengalami BAB
cair ± 10x yang keluar sedikit-sedikit, tidak ada ampas, lendir, ataupun darah, sebelumnya pasien
juga mual, muntah, panas badan, tidak ada nyeri perut, serta nafsu makan menurun. Pemeriksaan
fisik awal didapatkan mata cekung, bising usus meningkat, tidak didapatkan nyeri tekan pada
perut, akral hangat, turgor kulit kembali cepat, dan CRT< 2 detik.

20
Penegakan Diagnosa

Dari data Follow up mulai tanggal 31-1-18 menyebutkan bahwa pasien mengeluh panas
badan, mual, muntah, dan diikuti BAB cair ±10x. Pemeriksaan fisik ditemukan BU meningkat,
tidak ada nyeri tekan pada perut, dan tidak ditemukan tanda-tanda dehidrasi. Berdasarkan hal ini
kemungkinan pasien mengalami infeksi sekunder Gastroenteritis akut (GEA).
Guarino et al (2014) mendefinisikan GEA sebagai penurunan konsistensi tinja (lembek
atau cair) dan / atau peningkatan frekuensi (biasanya 3 atau lebih dalam 24 jam), dengan atau
tanpa demam atau muntah. Namun, perubahan konsistensi tinja versus konsistensi tinja
sebelumnya lebih mengindikasikan diare daripada jumlah tinja, terutama pada bulan-bulan
pertama kehidupan. Diare akut biasanya berlangsung <7 hari dan tidak> 14 hari.
Patogenesis terjadinya GEA pada pasien ini mungkin dikarenakan oleh tonsilitis yang
dialami pasien. Scadding (1990) menjelaskan, tonsil yang merupakan salah satu jaringan limfa
yang terletak dibagian pintu masuk dari saluran pernafasan menjadikannya selalu terbombardir
dengan antigen, tidak seperti jaringan limfa lainnya. Ketika antigen kontak dengan permukaan
tonsil, antigen akan dibawa oleh sel micropore yang terdapat di dinding dan dasar kripta tonsil.
Antigen selanjutnya akan diambil alih oleh antigen presenting cell (APC) dan akan
dipresentasikan ke sel Th dan sel B. Kondisi ini akan menyebabkan sel B memproduksi antibodi,
yang dapat menyatu dengan determinan pada antigen. Mereka kemudian dapat bermigrasi secara
limfogen dan hematogen, dan berkolonisasi pada struktur sekretori lainnya seperti usus, saluran
pernafasan, kelenjar saliva, dan kelenjar mamae. Ketika hal ini terjadi pada usus, maka dapat
timbul gejala GEA.
Pasien dengan diare rentan mengalami dehidrasi. Beberapa gejala dapat menjadi penentu
derajat dehidrasi pada pasien menurut Departemen Kesehatan RI tahun 2011 adalah sebagai
berikut:

21
Pada pasien ini keadaan umumnya masih baik, pasien sadar, mata cekung, keinginan untuk
minumnya masih dalam batas normal, dan turgor kulitnya kembali cepat. Maka, dapat disimpulkan
pasien ini mengalami diare tanpa dehidrasi.

22
Penatalaksanaan GEA

Indikasi pemberian cairan intravena apabila :


- Pasien tidak dapat asupan yang adekuat untuk cairan per oral atau muntah

- Ancaman syok atau dalam keadaan syok

Planning terapi pada pasien ini didasarkan pada 5 pilar tatalaksana diare anak; rehidrasi,
nutrisi, zinc, antibiotik selektif, serta edukasi pada pasien.
- Rehidrasi. Pada pasien didapatkan diare tanpa dehidrasi, maka rehidrasi cairan
dengan oralit/ CRO (Cairan rehidrasi oral). CRO diberikan 5-10ml/kgbb tiap kali
BAB cair atau berdasarkan usia, yaitu umur < 1 tahun sebanyak 50-100 ml, umur
1-5 tahun sebanyak 100-200 ml, dan umur di atas 5 tahun semaunya.
- Nutrisi. Jika anak terbiasa minum susu maka diberikan susu rendah gula (low
lactose). Berikan makan yang biasa dimakan anak saat sehat, dan juga makanan
yang tinggi kalium seperti buah pisang, makanan yang tinggi kalori dan tinggi
protein pula. Beri makan dengan frekuensi lebih sering.
- Zinc. Pada anak usia >6 bulan diberikan 1tab (20mg) per hari selama 10 hari
berturur-turut. Zinc berguna untuk reepitelisasi vili usus.
- Antibiotik selektif. Antibiotika tidak diberikan secara rutin pada diare akut, karena
40% kasus diare infeksi sembuh kurang dari 3 hari tanpa pemberian antibiotik.
Pemberian antibiotika yang tidak tepat akan memperpanjang keadaan diare akibat
disregulasi mikroflora usus. Antibiotik diindikasikan pada pasien dengan gejala dan
tanda diare yang berdarah, curiga kolera, diare dengan penyakit lain (pneumonia),
dan diare pada pasien immunocompromise.
- Edukasi. Berikan edukasi dan cek pemahaman Ibu tentang cara pemberian oralit,
zinc, makanan, dan tanda-tanda untuk segera membawa anaknya ke petugas
kesehatan jika anak : BAB cair lebih sering, muntah berulang-ulang, mengalami
rasa haus yang nyata, makan atau minum sedikit, demam, tinjanya berdarah, atau
tidak membaik dalam 3 hari.
Pada pasien ini, maka tatalaksana GEA nya :
Rencana tatalaksana diare akut
- pemberian cairan intravena karena anak muntah, RL 1250cc/24jam

23
- oralit 5-10ml/kgbb tiap kali BAB cair
- zinc 1tab per hari selama 10 hari
- antibiotik yang diberikan pada pasien adalah antibiotik yang juga digunakan untuk
mengobati tonsilitisnya
- pemberian nutrisi dan edukasi
Rencana terapi suportif
- Antipiretik Paracetamol 10mg/kgbb/x
- Antiemetik. Muntah sering mengganggu terapi peroral. Muntah juga dapat
menyebabkan pasien kehilangan cairan dan elektrolit. Maka pemberian antiemetik
perlu dilakukan. Sebuah studi menyebutkan bahwa Ondansetron dianggap
alternatif sebanding yang aman terhadap Domperidone yang sering dipakai pada
anak dengan gastroenteritis akut yang disertai muntah. Walaupun memiliki efek
samping ekstrapiramidal yang lebih besar daripada Domperidone, tetapi efikasi
dalam mengatasi muntahnya lebih baik. Maka, antiemetik yang dianjurkan pada
pasien ini adalah Ondansetron 0,2mg/kgbb/x.

24
Bagan Rencana Terapi pada Anak Diare

25
Diagnosis Banding pada kasus ini adalah

Clue and Cue Problem List Initial Diagnosis Planning Dx

- An. MA, 4th 7bln - Nyeri - Tonsilitis Kronik DL

- Febris tenggorokan - Tonsilofaringitis

- Nyeri tenggorokan

- Nyeri telan

Nausea

- Pusing

- Hidung buntu

- Tidur mengorok

- Tonsil hiperemi,

T3/T2

- Sudah ke-4x sakit

seperti ini

- An. MA, 4th 7bln - BAB cair - GEA DL

- BAB cair ± 10 hari FL

- Sering flatus

- Nausea

- Vomit

- Febris

- Mata cekung

- Turgor kulit kembali

cepat

- CRT <2detik

26
DAFTAR PUSTAKA

American Academy of Otolaryngology - Head and Neck Surgery. 2017. Tonsilitis. [Internet][cited
2017 Dec 07] Available from: http://www.entnet.org/content/tonsillitis

American Academy of Pediatrics. 2007. Tonsilitis. [Internet][cited 2017 Dec 07 2017] Available
from: https://www.healthychildren.org/English/health-issues/conditions/ear-nose-
throat/Pages/Tonsillitis.aspx

American Academy of Pediatrics. 2017. Clinical Practice Guideline Diagnosis And Management
Of Childhood Obstructive Sleep Apnea Syndrome. [Internet][cited 2017 Dec 13]. Available
from: http://pediatrics.aappublications.org/content/130/3/576

Departemen Kesehatan RI. 2011. Lima Langkah Tuntas Diare. Dalam Buku Saku Petugas
Kesehatan. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan

Garetz, Susan L, et al. 2017. Adenotonsillectomy for obstructive sleep apnea in children.
[Internet][cited 2017 Dec 13]. Available from:
https://www.uptodate.com/contents/adenotonsillectomy-for-obstructive-sleep-apnea-in-
children

Guarino, et al. 2014. Evidence-Based Guidelines for the Management of Acute Gastroenteritis in
Children in Europe: Update 2014. European Society for Pediatric Gastroenterology,
Hepatology, and Nutrition/European Society for Pediatric Infectious Diseases, JPGN,
Volume 59, Number 1

Hammouda, Mostafa. 2009. Chronic Tonsillitis Bacteriology in Egyptian Children Including


Antimicrobial Susceptibility. Department of ENT, Department of Medical Microbiology and
Immunology, Faculty of Medicine, Cairo University and Department of Pediatrics, Research
Institute of Ophthalmology. Giza, Egypt, Australian Journal of Basic and Applied Sciences,
3(3): 1948-1953

Levine A, Bachur R. 2013. Pediatric Gastroenteritis. Medscape [Internet][cited 2017 Dec 08].
Available from: http://emedicine.medscape.com/article/801948-overview

Rerksuppaphol S, Rerksuppaphol L. 2013. Randomized study of ondansetron versus domperidone


in the treatment of children with acute gastroenteritis. J Clin Med Res. 2013 Dec;5(6):460-
6

Roggen, Inge, et al. 2013. Centor criteria in children in a paediatric emergency department: for
what it is worth. BMJ Open 2013;3:e002712

27
Scadding, Glenis K. 1990. Immunology of the tonsil: a review. Journal of the Royal Society of
Medicine Volume 83 February 1990 pp 104-107

Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak. 1985. Buku Kuliah 3 Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : Balai
Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

Stelter, Klaus. 2014. Tonsillitis and sore throat in children. GMS Current Topics in
Otorhinolaryngology - Head and Neck Surgery 2014,Vol.13, ISSN1865-1011

Udayan, et al. 2017. Tonsillitis and Peritonsillar Abscess. Medscape [Internet][cited 2017 Dec
08]. Available from: https://emedicine.medscape.com/article/871977-overview

28