Anda di halaman 1dari 20

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa Atas Berkat dan
Rahmatnyalah saya dan kelompok 11 bisa menyelesaikan tugas Makalah ini dengan Tepat
waktu.

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas akademik Pendidikan Kewarganegaraan


Semester Ganjil. Adapun topik yang dibahas didalam makalah ini adalah mengenai “ Hukum dan
Ham Melalui pendekatan Konstitusi “ . Hak Asasi Manusia adalah Hak yang dibawa sejak lahir
dan merupakan karunia dari Yang Maha Kuasa yang tidak boleh direbut oleh siapapun. Dengan
keluarnya UU N0. 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia maka pemerintah sudah
manjamin tetap tegaknya Hak asasi manusia di Indonesia.

Kelompok kami menyadari bahwa Makalah ini masih jauh dari kata sempurna, hal itu
dikarenakan keterbatasan yang ada bagi penulis .Sehingga kami sebagai penulis sangat
mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca.

Kiranya makalah ini memberikan banyak manfaat bagi kehidupan kita semua.Sehingga
permasalahan penegakan Hukum dan Hak Asasi dapat terselesaikan. Atas perhatiannya,
kelompok kami ucapkan terima kasih.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Tatanan kehiupan poltik yang beradab dan demokratis harus dimulai dan di kontrusikan dalam
Konstitusi. Dalam kehidupan Ekonomi yang sehat dan mendorong kearah terciptanya kepastian hokum
keadlan dan kemakmuran rakyat harus dimulai pula dari konstitusi. Kehidupan sosialbudaya yang
harmoni dan pembentukan masyarakat madani harus termakstub dalam setiap huruf perubahan
konstitusi. Kehendak untuk hidup aman dan dapat bertahan dari seranganpasukan asing yang dapat
menghancurkan persatuan dan kesatuan bangsa juga harus di kontruksikan dalam butir pasal konstitusi.

Demikian pula dengan seluruh aspek perlindungan HAM, hak warga yang sudah semestinya
masuk kedalam elemen-elemen dasar konstitusi yang kita rekontruksi. Elemen HAM ini sangat penting
bagi konstitusi. Dari sinilah fungsi utama dari konstitusi sebagai ‘ pembatas kekuasaan’ itu diangkat.
Kekuasaan Negara konstitusi nasional tidak boleh mereduksi apalagi merampas HAM warga negaranya
bahkan konstitusi harus berfungsi sebagai tameng utama perlindungan HAM seluruh rakyat.

B. Rumusan Masalah
Dari sedikit gambaran diatas tentu akan memunculkan beberapa pertanyaan antara lain sebagai
berikut:
1. Apa itu Negara Hukum ?
2. Apa itu Hak asasi manusia (HAM) dan sejarahnya di Indonesia ?
3. Apa itu konstitusi ?
4. Bagaimana Negara hukum dalam konstitusi ?
5. Bagaimana Hak Asasi Manusia Dalam Konstitusi Indonesia ?
6. Dasar Hukum pemberlakuan, penegakan dan penghormatan HAM di Indonesia

C. Tujuan Masalah
1. Memahami tentang pengertian, maksud, tujuan, cirri-ciri dari Negara Hukum
2. Memahami apa sebenarnya Hak Asasi Manusia itu dan sejarah perkembangan dari HAM
3. Memahami konsep dasar dari konstitusi
4. Mengetahui tentang arti penting konstitusi dalam konstitusi yang berlaku di Indonesia
5. Memahami tentang arti HAM dalam Konstitusi NkRI
6. Mahsiswa dapat memahami tentang Dasar Hukum pemberlakuan, penegakan dan
penghormatan HAM di Indonesia
D. Sistematika Penulisan
1. BAB I/PENDAHULUAN
Bab ini berisi tentang uraian latar belakang masalah, indentifikasi, perumusan
masalah, maksud dan tujuan penulisan, serta sistematika penulisan.
2. BAB II/ PEMBAHASAN
Dalam bab ini diursiksn tentang hasil penelitian yang meliputi konsep dasar
konstitusi, subtansi konstitusi dan perubahan-perubahan konstitusi
3. BAB III/KESIMPULAN dan SARAN
Berisi uraian tentang pokok-pokok kesimpulan dan saran-saran yang perlu
disampaikan pada pihak pembaca.
BAB II
PEMBAHASAN

1. Negara HUKUM

Negara Hukum merupakan teremahan dari konsep Rule of Law yang bersumber
dari pengalaman demokrasi konstitusional di eropa pada abad ke 19 dan 20. Oleh
karena itu, Negara demokrasi pada dasarnya adalah Negara hokum. Cirri Negara
hukumantara lain adanya supermasi hokum, jaminan Ham dan legalitas Hukum, Perpu
yang berpuncak pada uud (konstitusi) merupakan suatu kesatuan system hokum sbagai
landasan bagi setiap penyelanggaraan kekuasaan (winarno2007).

Secara sederhana yang dimaksud dengan Negara hokum adalah Negara yang
penyelanggaraan kekuasaan pemerintahannya didasarkan atas hokum. Pemerintah dan
lembaga-lembaga lain dalam melaksanakan tindakan apapun harus dilandasi oleh
hokum dan dapat dipertanggungawabkan secara hokum. Dalam Negara hokum,
kekuasaan menjalankan pemerntahan berdasarkan kedaulatan hokum (supermasi
hokum) dan bertujuan untuk menjalankan ketertiban hokum dan Negara.

Negara Indonesia adalah Negara hokum. Dalam pasal 1 ayat 3 UUD 1945
sesuai perubahan ketiga menyatakan : Negara Indonesia adalah Negara hokum. Artinya
NKRI adalah Negara yang berdasarkan atas kekuasaan dan pemerintahan berdasarkan
konstitusi (hokum dasar) bukan absolutisme (kekuasaan tidak terbatas). Subtansinya
yaitu, setiap warga negaraindonesia senantiasa pada 3 prinsip yaitu, supermasi hokum,
kesetaraan dihadapkan hokum dan penegakan hokum dengan cara-cara yang tidak
bertentangan dengan hokum.
2. Hak Asasi Manusia (HAM)

Istilah Hak Asasi Manusia dalam beberapa bahasa asing dikenal dengan sebutan droit
de l’home (perancis), yang berarti hak manusia, Human Rights (Inggris) atau mensen rechten
(Belanda) yang dalam bahasa Indonesia disalin menjadi hak-hak kemanusian atau hak-hak asasi
manusia.

Hak asasi manusia adalah hak-hak dasar yang melekat pada diri manusia secara kodrati,
universal, dan abadi sebagai anugerah yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Hak-hak
seperti hak untuk hidup, hak berkeluarga, hak untuk mengembangkan diri, hak keadilan, hak
kemerdekaan, hak berkomunikasi, hak keamanan, dan hak kesejahteraan merupakan hak yang
tidak boleh diabaikan atau dirampas oleh siapapun, seperti yang tercantum pada rumusan hak
asasi manusia sebagaimana tertuang dalam Pembukaan Piagam Hak Asasi Manusia vide Tap
MPR No. XVII/MPR/1998.

Hak asasi manusia (HAM) pada hakekatnya merupakan hak kodrati yang secara inheren
melekat dalam setiap diri manusia sejak dilahirkan. Pengertian ini mnengandung arti bahwa
HAM merupakan karunia dari yang maha kuasa kepada

Hak Asasi Manusia (HAM) adalah hak-hak yang melekat pada diri manusia, dan tanpa
hak-hak itu manusia tidak dapat hidup layak sebagai manusia. Hak asasi manusia adalah hak
yang dimiliki manusia yang telah diperoleh dan dibawanya bersamaan dengan kelahirannya,
atau kehadirannya di dalam kehidupan masyarakat. Hak Asasi bersifat umum (universal),
karena diyakini beberapa hak dimiliki tanpa perbedaan atas bangsa, ras, agama, atau jenis
kelamin. Dasar dari hak asasi, bahwa manusia harus memperoleh kesempatan untuk
berkembang sesuai dengan bakat dan cita-citanya. Hak Asasi manusia bersifat supralegal,
artinya tidak bergantung kepada adanya suatu Negara atau undang-undang dasar, maupun
kekuasaan pemerintah, bahkan memiliki kewenangan lebih tinggi, karena hak asasi manusia
dimiliki manusia bukan karena kemurahan atau pemberian pemerintah, melainkan Karena
berasal dari sumber yang lebih tinggi. Disebut HAM karena melekat pada eksistensi manusia,
yang bersifat universal, merata dan tidak dapat dialihkan.

Karena HAM itu bersifat kodrati, sebenarnya ia tidak memrlukan legitimasi yuridis untuk
pemberlakuannya dalam suatu system hukum nasional maupun Internasional. Sekalipun tidak
ada perlindungan dan jaminan konstitusional terhadap HAM , hak itu tetap eksis dalam setiap
diri manusia. Gagasan HAM yang bersifat teistik ini diakui kebenarannya sebagai nilai yang
paling hakiki dalam diri manusia. Namun karena sebagian besar tata kehidupan manusia
bersifat sekuler dan positivistic, maka eksistensi HAM memerlukan landasan yuridis untuk
diberlakukan dalam mengatur kehidupan manusia.
Perjuangan dan perkembangan hak-hak asasi manusia di setiap negara mempunyai latar
belakang sejarah sendiri-sendiri sesuai dengan perjalanan hidup bangsanya, meskipun demikian
sifat dan hakikat HAM di mana-mana pada dasarnya sama juga

Atas dasar itulah maka tidak ada orang atau badan manapun yang dapat mencabut hak
itu dari tangan pemiliknya. Demikian pula tidak ada seorangpun diperkenankan untuk
merampasnya, serta tidak ada kekuasaan apapun untuk membelenggungnya.

INSTRUMEN HUKUM HAM INDONESIA

1. PANCASILA

1) Sila Pertama :Hak untuk memeluk agama

2) Sila Kedua :Diperlakukan secara pantas,sesuai dengan harkat,martabat dan


derajatnya

3) Sila Ketiga :Hak asasi agar mengutamakan kepentingan bangsa dan negara

4) Sila Keempat :Hak untuk berkumpul, berpendapat,serta ikut serta dalam


pemerintahan

5) Sila Kelima :Perimbangan hak milik dengan fungsi sosial

2. UUD 1945

1) Pembukaan UUD 1945

Alinia ke-1 : Hak Merdeka

Alinia ke-4 : Negara melindungi segenap rakyat Indonesia,memajukan kesejahteraan


umum,mencerdasakan kehidupan bangsa, dan ikut serta memilihara perdamaian dunia

2) Batang Tubuh (Pasal-Pasal) UUD 1945

BAB XA ** Hak Asasi Manusia

Pasal 28A – Pasal 28J

Ket : ** (Amandemen ke-2 di sahkan 18 agustus 2000)

Pasal 28 A
Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya

Pasal 28 B

1) Setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan
yang sah

2) Setiap orang berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas
perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi

Pasal 28 C

1) Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak
mendapatkan pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni
dan budaya demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia.

2) Setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya secara
kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa dan negaranya

Pasal 28 D

1) Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlidungan dan kepastian hukum yang adil
serta perlakuan yang sama dihadapan hukum

2) Setiap orang berhak untuk berkerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan
layak dalam hubungan kerja

3) Setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalm pemerintahan

4) Setiap orang berhak atas status kewarganegaraan

Pasal 28 E

1) Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadah menurut agamanya, memilih
pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat
tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya serta berhak kembali.

2) Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap
sesuai hati nuraninya.

3) Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat.

Pasal 28 F
Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan
pribadi dan lingkungan sosialnya serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki,
menyimpan, mengolah dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran
yang tersedia.

Pasal 28 G

1) Setiap orang berhak atas perlindung diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta
benda yang di bawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari
ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasinya.

2) Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan atau perlakuan yang merendahkan derajat
martabat manusia dan berhak memperoleh suaka politik dari negara lain.

Pasal 28 H

1) Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapat
lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.

2) Setiap orang berhak mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh
kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai persamaan dan keadilan

3) Setiap orang berhak atas imbalan jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan
dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat

4) Setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak boleh diambil
alih sewenang-wenang oleh siapapun.

Pasal 28 I

1) Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak
beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi dihadapan hukum, dan
hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang
tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun.

2) Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yanbg bersifat diskriminatif atas dasar apaun dan
berhak mendapat perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu.

3) Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan
zaman dan peradaban.

4) Perlindungan, pemajuan, penegakan dan pemenuhan hak asasi manusia adalah tanggung
jawab negara terutama pemerintah
5) Untuk menegakkan dan melindungi hak asaso manusia sesuai dengan prinsip negara hukum
yang demokrastis, maka pelaksanaan hak asasi manusia dijamin, diatur dan dituangkan dalam
peraturan perundang-undangan.

Pasal 28 J

1) Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

2) Dalam menajlan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan
yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin
pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi
tuntutan yang adil sesuai dengan pertimabangan moral, nilai-nilai agama, keamanan dan
ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokrastis.

3. TAP MPR No. XVII/MPR/1998

Terdiri dari 10 Bab dan 44 Pasal

4. Undang-Undang

1) UU RI No. 39 Th 1999 Tentang HAM

Terdiri dari 11 Bab dan 106 Pasal

2) UU RI No. 26 Th 2000 Tentang Pengadilan HAM Terdiri dari 10 Bab dan 51 Pasal

3) KEPPRES No 129 tentang rencana aksi nasional HAM Indonesia

4) PP No. 3 Th 1998 tentang kompensasi dan rehabilitasi terhadap korban pelanggaran


HAM.

5) PP No. 2 Th 2002 tentang tata cara perlindungan korban dan sanki dalam pelaggaran
HAM.
INSTRUMENT HUKUM HAM INTERNASIONAL

1. Hukum Kebiasaan

2. Piagam PBB

3. The International Bill Of Human Rights

1) Pernyataan sedunia mengenai HAM (The Universal Declaration Of Human Rights)

2) Kovenan internasional mengenai hak-hak sipil dan politik (The International Covenant
On Civil and Political Rights)

3) Protocol Opsi Pertama Pada ICCPR


3. Pengertian Konstitusi

Kata “Konstitusi” berarti “pembentukan”, berasal dari kata kerja yaitu “constituer” (Perancis)
atau membentuk. Pemakaian istilah konstitusi dimaksudkan untuk pembentukan suatu negara
atau menyusun dan menyatakan suatu negara. Istilah konstitusi bisa disamakan dengan hukum
dasar atau undang-undang dasar. Belanda menggunakan istilah “Grondwet” yaitu berarti suatu
undang-undang yang menjadi dasar (grond) dari segala hukum. Indonesia menggunakan istilah
Grondwet menjadi Undang-Undang Dasar .1

Konstitusi dalam pengertian luas adalah keseluruhan dari ketentuan-ketentuan dasar atau
hukum dasar. Dalam arti sempit konstitusi berarti piagam dasar atau undang-undang dasar (Loi
constitutionallle) ialah suatu dokumen lengkap mengenai peraturan dasar negara . Menurut EC
Wade konstitusi adalah naskah yang memaparkan rangka dan tugas pokok dari badan
pemerintahan suatu negara dan menentukan pokok-pokok cara kerja badan tersebut.
Sedangkan menurut Carl Schmitt dari mazhab politik adalah :

Konstitusi dalam arti absolut, mencakup seluruh keadaan dan struktur dalam negara. Hal ini
didasarkan bahwa negara adalah ikatan dari manusia yang mengorganisir dirinya dalam wilayah
tertentu. Konstitusi menentukan segala bentuk kerja sama dalam organisasi negara. Sehingga
konstitusi menentukan segala norma.

Konstitusi dalam arti relatif, naskah konstitusi merupakan naskah penting yang sulit untuk
diubah dan dengan sendirinya menjamin kepastian hukum. Konstitusi memuat hal-hal yang
fundamental saja sehingga tidak absolut.

Konstitusi dalam arti positif, konstitusi merupakan keputusan tertinggi dari pada rakyat.

Konstitusi dalam arti ideal, konstitusi dapat menampung ide yang dicantumkan satu persatu
sebagai isi konstitusi seperti pada konstitusi relatif.

Herman Heller membagi konstitusi dalam 3 tingkat:

Konstitusi sebagai pengertian politik, mencerminkan keadaan sosial politik suatu bangsa.

Konstitusi sebagai pengertian hukum, keputusan masyarakat dijadikan perumusan yang


normatif, yang harus berlaku. Dari pengertian ini timbul aliran kodifikasi menghendaki hukum
tertulis untuk terciptanya kesatuan hukum, kesederhanaan hukum dan kepastian hukum.
konstitusi sebagai peraturan hukum, peraturan hukum tertulis. Dengan demikian Undang-
Undang Dasar adalah bagian dari konstitusi tertulis.2

Pada umumnya hukum bertujuan untuk mengadakan tata tertib untuk keselamatan masyarakat
yang penuh dengan konflik antara berbagai kepentingan yang ada di tengah masyarakat. Tujuan
hukum tata negara pada dasarnya sama dan karena sumber utama dari hukum tata negara
adalah konstitusi atau Undang-Undang Dasar, akan lebih jelas dapat dikemukakan tujuan
konstitusi itu sendiri.

Konstitusi juga memiliki tujuan yang hampir sama dengan hukum, namun tujuan dari konstitusi
lebih terkait dengan:

Berbagai lembaga-lembaga kenegaraan dengan wewenang dan tugasnya masing-masing.

Hubungan antar lembaga negara

Hubungan antar lembaga negara (pemerintah) dengan warga negara (rakyat).

Adanya jaminan atas hak asasi manusia

Hal-hal lain yang sifatnya mendasar sesuai dengan tuntutan jaman.

Berlakunya suatu konstitusi sebagai hukum dasar yang mengikat didasarkan atas kekuasaan
tertinggi atau prinsip kedaulatan yang dianut dalam suatu negara. Jika negara itu menganut
paham kedaulatan rakyat, maka sumber legitimasi konstitusi itu adalah rakyat. Jika yang
berlaku adalah paham kedaulatan raja, maka raja yang menentukan berlaku tidaknya suatu
konstitusi. Hal inilah yang disebut oleh para ahli sebagai constituent power yang merupakan
kewenangan yang berada di luar dan sekaligus di atas sistem yang diaturnya. Karena itu, di
lingkungan negara-negara demokrasi, rakyatlah yang dianggap menentukan berlakunya suatu
konstitusi.
4. Perwujudan Negara Hukum di Indonesia

Menurut Pasal 1 ayat (3) UUD 1945 perubahan ketiga, negara Indonesia adalah negara
hukum. Dengan dimasukkannya pasal ini ke dalam bagian pasal UUD 1945 menunjukkan
semakin kuatnya dasar hukum serta menjadi amanat negara, bahwa negara Indonesia adalah
dan harus merupakan negara hukum.

Landasan negara hukum Indonesia dapat kita temukan dalam bagian penjelasan
Umum UUD 1945 tentang sistem pemerintahan negara, yaitu sebagai berikut:

1. Indonesia adalah negara yang berdasar atas negara hukum (Rechtsstaat). Negara
Indonesia berdasar atas hukum (Rechtsstaat), tidak berdasar atas kekuasaan
belaka (Machtsstaat)
2. Sistem Konstitusional
Pemerintah berdasar atas sistem konstitusi (hukum dasar), tidak bersifat absolutisme
(kekuasaan yang tidak terbatas).

Dalam pemakaian istilahRechtsstaatyang kemungkinan dipengaruhi oleh konsep


hukum Belanda yang termasuk dalam wilayah Eropa Kontinental. Konsepsi negara hukum
Indonesia dapat kita masukan dalam konsep negara hukum materiil atau negara hukum dalam
arti luas. Hal ini dapat kita ketahui dari perumusan mengenai tujuan bernegara sebagai mana
yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945 Alenia IV. Dasar lainyang menjadi dasar bahwa
Indonesia adalah negara hukum dalam arti materiil terdapat dalam pasal-pasal UUD 1945,
sebagai berikut :

1. Pada Bab XIV tentang Perekonomian Negara dan Kesejahteraan Sosial pasal 33 dan 34 UUD
1945, yang menegaskan bahwa negara turut aktif dan bertanggung jawab atas perekonomian
negara dan kesejahteraan rakyat.

2. Pada bagian Penjelasan Umum tentang Pokok-pokok Pikiran dalam Pembukaan juga
dinyatakan perlunya turut serta dalam kesejahteraan rakyat.Dengan demikian jelas bahwa
secara konstitusional, negara Indonesia adalah negara hukum yang dinamis (negara hukum
materiil) atau negara kesejahteraan(welfare state).

Dalam negara hukum yangdinamis dan luas ini para penyelenggara dituntut untuk
berperan luas demi kepentingan dan kesejahteraan rakyat.Oprasionalisasi dari konsep negara
hukumdi Indonesia dituangkan dalam konstitusi negara, yaitu UUD 1945. UUD 1945 merupakan
hukum dasar negar yang menempati posisi sebagai hukum negara tertinggi dalam tertib hukum
(legal order) Indonesia. Di bawah UUD 1945 terdapat berbagai aturan hukum/peraturan
perundang-undangan yang bersumber danberdasarkan pada UUD 1945. Sumber hukum dasar
nasional adalah Pancasila sebagaimana yang tertulis dalam Pembukaan UUD 1945, yaitu
Ketuhanan yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, dan
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan,
serta dengan mewujudkan suatu Keadilan sosialbagi seluruh Rakyat Indonesia, dan
Batangtubuh UUD 1945. Adapun tata urutan perundangan adalah sebagai berikut:

1. UUD 1945
2. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia
3. UU
4. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu)
5. Peraturan Pemerintah
6. Keputusan Presiden
7. Peraturan Daerah

Negara Hukum Indonesia menurut UUD 1945 mengandung prinsip-prinsip sebagai berikut:

1.Norma hukumya bersumber pada Pancasila sebagai hukum dasar nasionaldan adanya hierarki
jenjang norma hulum (Stufenbouwtheorie-nya Hans Kelsen)

2.Sistemnya, yaitu sistem konstitusi.UUD 1945 sebagai naskah keseluruhan terdiri dari
Pembukaan, Batang tubuh dan Penjelasan sebagai hukum dasar negara. UUD 1945 hanya
memuat aturan-aturan pokoknya saja, sedangkan peraturan lebih lanjut dibuat oleh organ
negara, sesuia dengan dinamika pembangunan dan perkembangan serta kebutuhan
masyarakat.

UUD 1945 dan peraturan perundang-undangan di bawahnya membentuk


kesatuan sistem hokum

1. Kedaulatan rakyat atau prinsip demokrasiDapat dilihat dari Pembukaan UUD 1945 yaitu
dasar Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan
perwakilan dan pasal 2 ayat (2) yaitu “kedaulatan berad di tangan rakyat dan
dilaksanakan menurut ketentuan UUD”.1.Prinsip persamaan kedudukan dalam hukum
dan pemerintah (Pasal 27 ayat (1)UUD 1945).
2. Adanya organ pembentuk undang-undang (Presiden dan DPR).
3. Sistem pemerintahan yang presidensiil
4. Kekuasaan kehakiman yang bebas dari kekuasaan lain (eksekutif)
5. Hukum bertujuan untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah
darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa,
dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian
abadi dan keadilan sosial.
6. 6.Adanya jaminan akan hak asasi dan kewajiban dasar manusia (Pasal 28 A-J UUD 1945)

5. Hak Asasi Manusia Dalam Konstitusi Indonesia

Pandangan bangsa Indonesia tentang HAM agak berbeda dengan HAM


universal, dimana HAM universal lebih mengutamakan hakindividu daripada kewajiban
individu. Dalam UUD 1945 tidak banyak membahas HAM universal kecuali dalam dua
hal yaitu, pernyataan sila keempat dan UUD 1945 membahas masalah Hak Asasi Warga
Negara (HAW). Alinea pertama pembukaan UUD 1945 menunjukan bahwa, Hak Asasi
Manusia Indonesia lebih mendekati Hak Asasi Warganegara.
Oleh karena itu bangsa Indonesia menyatakan bahwa, HAM merupakan hak dasar
secara kodrati melekat padadiri manusia dan selanjutnya manusia juga mempunyai
kewajiban dasar antara yang satu dengan yang lainnya dan terhadap masyarakat secara
keseluruhan dalam kehidupan bermasyarakat,berbangsa dan bernegara. Bangsa
Indonesia tetap mengemban tanggung jawab moral dan hokum untuk menjunjung
tnggidan melaksanakan deklarasi universal tentang HAM. Sesuai dengan amanat UUD
1945, kini Indonesia telah membuat UU no. 39 tahun 1999 tentang HAM.

Dalam UU tersebut selain memuat hak dasar manusia, memuat kewajiban


dasar manusia, kewajiban dan tanggung jawab pemerintah. Dalam UU nomor 39 tahun
1999 tersebut memuat pula hak dan kewajiban masyarakat, pengadilan bagi
pelanggaran HAM serta pembentukan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas
HAM) yang bertujuan antara lain, mengembangkan kondisi yang kondusif bagi
pelaksanaan HAM serta meningkatkan perlindungan dan penegakan HAM guna
perkembangan pribadinya.

Filosofi UU HAM Indonesia adalah:


1). Tuhan yang maha esa, adalah pencipta alam semesta dengan segalanya isinya
2). Manusia dianugerahi jiwa, bentuk,strukturkemampuan,kemauan, serta berbagai
kemudahan oleh penciptanya untuk melanjutkan kelasungan hidupnya
3). Untuk melindungi, mempertahankan, dan meningkatkan martabat manusia,
diperlukan pengakuan dan perlindungan HAM, karena tanpa hal itumanusia akan
kehilangan sifat dan martabatnya, sehingga mendorong manusia menjadi serigala bagi
manusia lain (Homo Homini Lupus)
4). Karena manusia adlah makhluk social maka HAM yang satu dibatasi oleh HAM lain,
sehingga kebebasan bukan tanpa batas
5). HAM tidak boleh dilenyapkan oleh siapapun dan dalam keadaan apapun
6). Setiap HAM mengandung kewajiban untuk menghormati HAM orang lainsehingga
didalam HAM terdapat kewajiban dasar
7). HAM manusia harus benar-benar dihormati,dilindungi, ditegakan, dan untuk itu
pemerintah, aparatur Negara, dan pejabat public lainnya mempunyai kewajiban dan
tanggung jawab emnjamin terselanggaraannya penghormatan, perlindungan, dan
penegakan HAM.

6. Dasar Hukum pemberlakuan, penegakan dan penghormatan HAM di


Indonesia
Istilah atau perkataan hak asasi manusia itu sendiri sebenarnya tidak dijumpai dalam
UUD 1945 baik dalam pembukaan, batang tubuh, maupun penjelasannya. Istilah yang dapat
ditemukan adalah pencantuman dengan tegas perkataan hak dan kewajiban warga negara, dan
hak-hak Dewan Perwakilan Rakyat. Baru setelah UUD 1945 mengalami perubahan atau
amandemen kedua, istilah hak asasi manusia dicantumkan secara tegas.
Guna lebih memantapkan perhatian atas perkembangan HAM di Indonesia, oleh berbagai
kalangan masyarakat (organisasi maupun lembaga), telah diusulkan agar dapat diterbitkannya
suatu Ketetapan MPR yang memuat piagam hak-hak asasi Manusia atau Ketetapan MPR
tentang GBHN yang didalamnya memuat operasionalisasi daripada hak-hak dan kewajiban-
kewajiban asasi manusia Indonesia yang ada dalam UUD 1945.

Akhirnya ketetapan MPR RI yang diharapkan memuat secara adanya HAM itu dapat
diwujudkan dalam masa Orde Reformasi, yaitu selama Sidang Istimewa MPR yangberlangsung
dari tanggal 10 sampai dengan 13 November 1988. Dalam rapat paripurna ke-4 tanggal 13
November 1988, telah diputuskan lahirnya Ketetapan MPR RI No. XVII/MPR/1988 tentang Hak
Asasi Manusia. Kemudian Ketetapan MPR tersebut menjadi salah satu acuan dasar bagi lahirnya
UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia yang disahkan pada tanggal 23 september
1999. Undang-Undang ini kemudian diikuti lahirnya Perpu No. 1 Tahun 1999 yang kemudian
disempurnakan dan ditetapkan menjadi UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi
Manusia.

Sebagai bagian dari HAM, sebelumnya telah pula lahir UU No. 9 Tahun 1998 tentang
Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat Di Muka Umum yang disahkan dan diundangkan di
Jakarta pada tanggal 26 oktober 1998, serta dimuat dalam LNRI Tahun 1999 No. 165.
Di samping itu, Indonesia telah merativikasi pula beberapa konvensi internasional yang
mengatur HAM, antara lain :

Deklarasi tentang Perlindungan dan Penyiksaan, melalui UU No. 5 Tahun 1998.

Konvensi mengenai Hak Politik Wanita 1979, melalui UU No. 68 Tahun 1958.

Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap wanita, melalui UU No. 7 Tahun
1984.

Konvensi Perlindungan Hak-Hak Anak, melalui Keppres No. 36 Tahun 1990.

Konvensi tentang Ketenagakerjaan, melalui UU No. 25 Tahun 1997, yang pelaksanaannya


ditangguhkan sementara.

Konvensi tentang Penghapusan Bentuk Diskriminasi Ras Tahun 1999, melalui UU No. 29 Tahun
1999.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Kata “Konstitusi” berarti “pembentukan”, berasal dari kata kerja yaitu
“constituer” (Perancis) atau membentuk. Pemakaian istilah konstitusi dimaksudkan
untuk pembentukan suatu negara atau menyusun dan menyatakan suatu negara. Istilah
konstitusi bisa disamakan dengan hukum dasar atau undang-undang dasar.

Menurut Pasal 1 ayat (3) UUD 1945 perubahan ketiga, negara Indonesia adalah
negara hukum. Dengan dimasukkannya pasal ini ke dalam bagian pasal UUD 1945 menunjukkan
semakin kuatnya dasar hukum serta menjadi amanat negara, bahwa negara Indonesia adalah
dan harus merupakan negara hukum.

Landasan negara hukum Indonesia dapat kita temukan dalam bagian penjelasan Umum
UUD 1945 tentang sistem pemerintahan negara, yaitu sebagai berikut:

1. Indonesia adalah negara yang berdasar atas negara hukum (Rechtsstaat). Negara
Indonesia berdasar atas hukum (Rechtsstaat), tidak berdasar atas kekuasaan belaka
(Machtsstaat)
2. Sistem Konstitusional
Pemerintah berdasar atas sistem konstitusi (hukum dasar), tidak bersifat absolutisme
(kekuasaan yang tidak terbatas).

Hak asasi manusia adalah hak-hak dasar yang melekat pada diri manusia secara kodrati,
universal, dan abadi sebagai anugerah yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Hak-hak
seperti hak untuk hidup, hak berkeluarga, hak untuk mengembangkan diri, hak keadilan, hak
kemerdekaan, hak berkomunikasi, hak keamanan, dan hak kesejahteraan merupakan hak yang
tidak boleh diabaikan atau dirampas oleh siapapun, seperti yang tercantum pada rumusan hak
asasi manusia
Negara Hukum, HAM serta konstitusi mempunyai hubungan yang saling berkaitan
yang tidak dapat dipisahkan. untuk hidup dalam Negara Indonesia kita sebagai warga Negara
harus memahami hak dan kewajiban warga Negara Indonesia menjelaskan tentang relasi antara
Negara dan warga Negara berdasarkan pendekatan teoritis ilmiah

B. SARAN
Pengawalan penegakkan HAM di Negara Hukum yang beralaskan konstitusi
kian berat. Tak semudah membalik telapak tangan. Buktinya di bangsa yang berumur 71
tahun ini belum bisa sepenuhnya menancapkannya. Walau masih bangsa muda
dibandingkan dengan Negara-negara barat, namun waktu seperti itu bukanlah sempit
bagi pemerintah kita untuk mewujudkannya. Namun mari kembali lagi pada
kenyataannya. Bangsa Indonesia belum menjamin HAM warganya dengan baik dan
benar tanpa mengikuti konstitusi yang berlaku.

C. PENUTUP
Kami sadar bahwa makalah kami ini masih banyak kekurangan dan
kesalahanya, maka dari itu kritik dan saran sangat kami tunggu agar bisa lebih baik
dalam pembuatan makalah kami berikutnya. Dan semoga makalah kami ini dapat
memberikan manfaat bagi kita semua.
DAFTAR PUSTAKA

Dr. Drs. Pieter Jacob Pelupessy, M.Si , PENDIDIKAN PANCASILA dan KEWARGANEGARAAN ,
AMBON 2016

http://rechtsvinding.bphn.go.id/jurnal_online/PENGATURAN%20HAM%20DALAM%20KONSTIT
USI%20%20%20INDONESIA%20DAN%20AS.pdf

http://www.academia.edu/11597932/HAM_Dalam_Konstitusi_Indonesia_dan_jaminan_Imple
mentasinya_dalam_Undang-Undang

http://lets-sekolah.blogspot.com/2014/09/pengaturan-ham-dalam-konstitusi-negara.html

https://meilabalwell.wordpress.com/negara-hukum-konsep-dasar-dan-implementasinya-di-
indonesia/?_e_pi_=7%2CPAGE_ID10%2C8707053239

http://imadekariada.blogspot.com/2008/08/ham-dalam-konstitusi-uud-1945-dan.html

http://www.kitapunya.net/2014/12/kedudukan-konstitusi-sebagai-hukum.html