Anda di halaman 1dari 5

Rahman Imam Pratama

1706041444

Focus Group 01 MPKTA-15

KECERDASAN EMOSIONAL

Kecerdasan merupakan kemampuan seseorang untuk melakukan sesuatu. Pada umumya


pemahaman kemampuan manusia seringkali hanya diukur dari segi kognitif semata, yaitu hal-hal
yang dapat diukur dengan angka. Sebagai contoh adalah bagaimana ketika anak-anak menerima
buku rapor. Banyak orang yang mengambil kesimpulan bahwa anak tersebut cerdas, apabila
nilai-nilai yang diperoleh sangat membanggakan dan juga sebaliknya. Pemahaman lebih sempit,
pada anak usia dini kecerdasan hanya diukur dari kelancaran baca-tulis, kelancaran berbicara dan
berhitung.Namun dalam kenyataannya bahwa kecerdasan atau kemampuan manusia sebenarnya
sangat beragam. Kata emosi berasal dari bahasa latin, yaitu emovere, yang berarti bergerak
menjauh. Arti kata tersebut menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak
dalam emosi. Menurut Goleman (2002) emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran yang
khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak.
Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Biasanya emosi merupakan reaksi
terhadap rangsangan dari luar dan dalam diri individu. Sebagai contoh emosi gembira
mendorong perubahan suasana hati seseorang, sehingga secara fisiologi terlihat tertawa, emosi
sedih mendorong seseorang berperilaku menangis. Goleman (2000) mengemukakan beberapa
macam emosi, yaitu:

a. Amarah : beringas, mengamuk, benci, jengkel, kesal hati

b. Kesedihan : pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihi diri, putus asa

c. Rasa Takut : cemas, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali waspada, tidak tenang,
ngeri

d. Kenikmatan : bahagia, gembira, riang, puas, riang, senang, terhibur, bangga

e. Cinta : penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat,
kemesraan, kasih

f. Terkejut : terkesiap, terkejut g. Jengkel : hina, jijik, muak, mual, tidak suka

h. Malu : malu hati, kesal

Menurut Goleman (2002), kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang mengatur


kehidupan emosinya dengan inteligensi (to manage our emotional life with intelligence);
menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya (the appropriateness of emotion and its
expression) melalui keterampilan kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati dan
keterampilan sosial. Mengingat pentingnya kecerdasan emosional untuk menunjang hasil belajar
peserta didik, maka pengetahuan tentang kecerdasan emosional penting untuk dimiliki oleh
setiap guru agar mampu mengembangkan kecerdasan emosional peserta didik. Peserta didik
yang memiliki kecerdasan emosional dapat mengendalikan dirinya dengan baik dalam mengikuti
proses pembelajaran dan memiliki kesadaran yang tinggi untuk belajar. Hal inilah yang menjadi
modal besar bagi peserta didik untuk meraih hasil belajar dengan standar tinggi dalam berbagai
hal, baik akademik maupun non akademik. Kecerdasanemosi dapat menempatkan emosi
seseorangpadaporsi yang tepat,memilahkepuasandanmengatursuasanahati.Koordinasi suasana
hatiadalahintidari hubungan social yang baik.Apabila seseorang pandai menyesuaikan diri
dengan suasana hati individu yang lain atau dapat berempati, orang tersebut akan memiliki
tingkat emosionalitas yang baik dan akan lebih mudah menyesuaikan diri dalam pergaulan sosial
serta lingkungannya. Kecerdasan emosi sebagai suatu kecerdasan social yang berkaitan dengan
kemampuan individu dalam memantau baik emosi dirinya maupun emosi orang lain, dan juga
kemampuannya dalam membedakan emosi dirinya dengan emosi orang lain, dimana kemampuan
ini digunakan untuk mengarahkan pola piker dan perilakunya”. Sejalan dengan itu, Robert dan
Cooper (Ginanjar,2001) mengungkapkan bahwa kecerdasan emosi adalah kemampuan
merasakan, memahami dan secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber
energi, emosi, koneksi dan pengaruh yang manusiawi. Individu yang mampu memahami emosi
individu lain,dapat bersikap dan mengambil keputusan dengan tepat tanpa menimbulkan dampak
yang merugikan kedua belah pihak. Emosi dapat timbul setiap kali individu mendapatkan
rangsangan yang dapat mempengaruhi kondisi jiwa dan menimbulkan gejolak dari dalam. Emosi
yang dikelola dengan baik dapat dimanfaatkan untuk mendukung keberhasilan dalam berbagai
bidang karena pada waktu emosi muncul, individu memiliki energi lebih dan mampu
mempengaruhi individu lain. Segala sesuatu yang dihasilkan emosi tersebut bila dimanfaatkan
dengan benar dapat diterapkan sebagai sumber energy yang diperlukan untuk menyelesaikan
tugas mempengaruhi orang lain dan menciptakan hal-hal baru. Berdasarkan pendapat para ahli
diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud kecerdasan emosi adalah kemampuan merasakan
dan memahami secara lebih efektif terhadap daya kepekaan emosi yang mencakup kemampuan
memotivasi diri sendiri atau orang lain, pengendalian diri, mampu memahami perasaan orang
lain dengan efektif, dan mampu mengelola emosi yang dapat digunakan untuk membimbing
pikiran untuk mengambil keputusan yang terbaik. Seseorang yang mempunyai kecerdasan
emosional yang baik akan dapat dikenali melalui lima komponen dasar (Goleman, 1998), yaitu
sebagai berikut :

1) Selfawareness (pengenalan diri), yaitu mampu mengenali emosi dan penyebab dari pemicu
emosi tersebut.

2)Self-regulation (penguasaan diri), yaitu seseorang yang mempunyai pengenalan diri yang baik
dapat lebih terkontrol dalam membuat tindakan agar lebih hati-hati.

3) Self-motivation (motivasi diri), yaitu ketika sesuatu berjalan tidak sesuai dengan rencana,
seseorang yang mempunyai kecerdasan emosional tinggi tidak akan bertanya “Apa yang salah
dengan saya atau kita?”. Sebaliknya ia bertanya “Apa yang dapat kita lakukan agar kita dapat
memperbaiki masalah ini?”
4) Empathy (empati), yaitu kemampuan untuk mengenali perasaan orang lain dan merasakan apa
yang orang lain rasakan jika dirinya sendiri yang berada pada posisi tersebut.

5)Effective Relationship (hubungan yang efektif), yaitu dengan adanya empat kemampuan
tersebut, seseorang dapat berkomunikasi dengan orang lain secara efektif.

Kemampuan untuk memecahkan masalah bersama-sama lebih ditekankan dan bukan pada
konfrontasi yang tidak penting yang sebenarnya dapat dihindari. Orang yang mempunyai
kemampuan intelegensia emosional yang tinggi mempunyai tujuan yang konstruktif dalam
pikirannya.Seseorang yang tidak mempunyai kecerdasan emosional yang tinggi dapat ditandai
dengan hal-hal berikut: mempunyai emosi yang tinggi, cepat bertindak berdasarkan emosinya,
dan tidak sensitif dengan perasaan orang lain. Orang yang tidak mempunyai kecerdasan
emosional tinggi, biasanya mempunyai kecenderungan untuk menyakiti dan memusuhi orang
lain. Dalam kegiatan pembelajaran, siswa yang mempunyai kecerdasan emosional yang tinggi
sangat diperlukan, terlebih dalam kegiatan kelompok untuk mencapai tujuan yang sudah
ditetapkan. Oleh karenaitu, para orang tua dan para guru harus memupuk kecerdasan emosional
sejak dini. Orang-orang yang sering bertindak ceroboh, tanpa berfikir panjang, tidak memiliki
empati dan kurang bersabar merupakan orang-orang yang memiliki tingkat kecerdasan
emosional rendah. Rendahnya tingkat kecerdasan emosional, tidak hanya membawa petaka bagi
dirinya sendiri, tetapi juga sangat membahayakan orang lain dan lingkungannya. Tingkat emosi
sangat mempengaruhi kehidupan manusia, ketika dia mengambil keputusan tidak jarang
keputusan yang diambil melalui emosinya. Jarang terjadi keputusan yang diambil seseorang
murni dari pemikiran rasionya (akalnya), karena seluruh keputusannya memiliki warna
emosional. Jika diperhatikan keputusankeputusan yang diambil seseorang, ternyata keputusannya
lebih banyak ditentukan oleh emosinya daripada akal sehatnya. Kecerdasan Emosional diukur
dari kemampuan mengendalikan emosi dan menahan diri. Kemampuan mengendalikan emosi
dan menahan diri disebut sabar. Orang yang sabar adalah orang yang paling tinggi kecerdasan
emosionalnya, biasanya tabah dalam menghadapi kesulitan. Ketika belajar orang ini tekun,
memiliki empati yang tinggi, tanggap terhadap lingkungan sosialnya, berdisiplin dan
bertanggung jawab, berhasil mengatasi berbagi gangguan dan tidak memperturutkan emosinya
serta dapat mengendalikan perilakunya dan emosinya.
Melalui kecerdasan emosi diharapkan semua unsur yang terlibat dalam pendidikan dan
pembelajaran dapat memahami diri dan lingkungannyasecara tepat, memiliki rasa percaya diri,
tidak iri hati, tidak dengki, tidak cemas, tidak takut, murung, tidak mudah putus asa, dan tidak
mudah marah. Menurut Mulyasa (2007) manfaat kecerdasan emosi bagi peserta didik:

1. Jujur, disiplin, dan tulus pada diri sendiri, membangun kekuatan dan kesadaran diri,
mendengarkan suara hati, hormat dan tanggung jawab.

2. Memantapkan diri, maju terus, ulet, dan membangun inspirasi secara berkesinambungan.

3. Membangun watak dan kewibawaan, meningkatkan potensi, dan mengintegrasikan tujuan


belajar ke dalam tujuan hidupnya

4. Memanfaatkan peluang dan menciptakan masa depan yang lebih cerah. Sedangkan cara
mengembangkan kecerdasan emosi dalam pembelajaran:

1. Menyediakan lingkungan yang kondusif.

2. Menciptakan iklim pembelajaran yang demokratis.

3. Mengembangkan sikap empati, dan merasakan apa yang sedang dirasakan oleh peserta didik.

4. Membantu peserta didik menemukan solusi dalam setiap masalah yang dihadapinya.

5. Melibatkan pesrta didik secara optimal dalam pembelajaran, baik secara fisik, sosial maupun
emosional.

6. Merespon setiap perilaku peserta didik secxara positif dan menghindari respon yang negative.

7. Menjadi teladan dalam menegakkan aturan dan disiplin dalam pembelajaran